DONALD HAROMUNTHE

For Those Whom I Can't Talk With

Month: December 2015

MAIA vs MULAN: ACTIVE vs REACTIVE

Maia adalah pemusik dan penyanyi dengan latar belakang keluarga yang luar biasa. Dia juga keturunan pejuang kemerdekaan Indonesia, yakni Haji Omar Said Tjokroaminoto. Bapaknya, Haryono Sigit adalah mantan rektor ITS. Melihat latar belakang keluarga seperti ini, kita bisa menduga bahwa dia dididik dengan pola asuh yang benar, dimana riwayat kekerasan dan pelecehan minim digunakan dalam mendidik.

Anak yang lahir dengan pola pengasuhan demikian cenderung punya karakter dan prinsip mandiri.

Karena itu Maia dengan cepat bisa mengambil sikap dan tidak ada kompromi ketika indikasi bahwa dirinya dipoligami mantan suaminya, Ahmad Dhani, menguat.

Maia menolak poligami.

Maia keluar dari rumah.

Maia meninggalkan suaminya, kendati itu berarti ia juga harus meninggalkan anak-anak yang disayanginya.

Maia membangun kariernya kembali.

Bisa jadi Dhani berperan besar dalam karier menyanyinya, tapi tidak tergantung. Ia tidak melakukan sesuatu melulu sebagai konsekuensi atau piliahan yang ditawarkan si Dhani. Maia mampu memilih dan mengambil keputusan matang dalam waktu yang relatif cepat. Begitu seharusnya perempuan bersikap dan bertindak jika dia menjadi korban arogansi pasangan. Begitu seharusnya seorang Ibu bersikap dan bertindak jika dia menjadi korban arogansi suaminya. Tidak perlu terlalu lama dalam konflik batin.

Cepat bersikap dan bertindak untuk melanjutkan hidup yang layak dijalani. Pendidikan orangtua dengan tiadanya riwayat kekerasan merupakan modal yang sangat menentukan dalam bersikap dan bertindak di kemudian hari. Berbekal pertumbuhan diri yang dihidupinya dalam pola pengasuhan dan pendidikan yang menyehatkan, Maia terlihat cukup perduli pada penghapusan kekerasan dan urgensi dimilikinya inner power oleh setiap perempuan Indonesia, yang kelak juga menjadi Ibu bagi generasi anak Indonesia berikutnya.

 

Lain halnya dengan Mulan Jameela.

Anak bungsu dari 9 bersaudara dari orangtua sederhana di kota kecil. Dia perlu waktu lama untuk keluar dari situasinya. Punya anak dari laki-laki lain dan cerai. Mungkin saja ada riwayat kekerasan yang dia terima, barangkali bukan dari keluarga tetapi dari usaha untuk menjadi penyanyi di dunia industri musik ibukota yang kejam. Perempuan dari kota kecil dengan mimpi besar kalau tidak membekali diri dengan self defence komplit (fisik, psikis, spiritual dn sosial) maka mudah sekali jatuh ke dalam situasi kekerasan dan terpola meraih ambisi dengan pengorbanan diri. Harga yang tidak murah.

Klimaksnya ialah: Mulan memilih mengkhianati rekan kerjanya sendiri. Benar, kita tidak bisa jatuh pada Stockholm Syndrome, dimana kita seolah-olah kasihan kepada pelaku dan memperlakukannya seolah dia adalah korban. Tapi, dalam hal ini, Mulan adalah “korban” dari ekosistem yang membuatnya menjadi wanita yang hanya reaktif saja, hingga mampu memanfaatkan sahabatnya sekalipun demi kepentingan sendiri. Padahal, jika ia mau memilih, ia bisa saja tetap berkarir dengan Maia, memilih dan membiarkan diri didekati oleh lelaki lain selain Dhani, sembari memperluas network ke produser musik lain (kendati sulit dipungkiri bahwa manajemen MRC-nya Ahmad Dhani ini cukup apik pada zamannya).

Tentu Mulan tidak sedang mengigau atau sengaja tidak membodohi dirinya bahwa ketika ia merebut suami dari rekan karirnya di Duo Ratu, ia sedang masuk ke dalam permainan berbahaya. Alih-alih mensyukuri apa yang dia dapatkan dari Maia, ia malah ingin take over. Logikanya: “Kalau berduet dengan si Maia saja gue bisa tenar, pasti bisa lebih tenar lagi kalau gue langsung sama Dhani”. Ujungnya adalah kehancuran. Senang sebentar, menderitanya lama.

Buat saudari-saudari dan kaum ibu, didiklah anak menjadi wanita yang active.

Selamat Hari Ibu

Rasakan Sensasi Nano Nano di DPR

Pasca pengunduran diri Setya Novanto sebagai Ketua DPR dan diterimanya surat pengunduran diri tersebut oleh Mahkamah Kehormatan Dewan, kini netizen bisa bernafas lega. Betapa tidak, kasus indikasi pencatutan ini menyita banyak energi dan perhatian, meski hanya sekedar cuitan di media sosial ataupun berbalas komentar di forum publik macam Kompasiana ini.

Menyaksikan semua itu, berbagai perasaan yang campur-baur timbul dalam hati. Jika kasus Setya Novanto, sang eks Ketua DPR ini diibaratkan permen, label Nano Nano barangkali pas menggambarkannya. Campur-aduk. Dan ternyata saya tidak sendirian, setidaknya begitu juga yang dirasakan oleh seorang teman yang saya sadur postingannya di sebuah media sosial sebagai berikut. banyak teman. Ada rasa senang, gembira, lucu, bingung, jijik, jengkel, marah, kecewa, sedih, galau, miris and so on, you name it.

Saya senang menyaksikan bahwa masih ada orang-orang yang berpikiran jernih, punya hati nurani, dan mempunyai akal sehat di negeri ini, baik dari kalangan elit politik, kalangan akademisi, kalangan penegak hukum, tokoh agama dan tokoh masyarakat. Mereka itu dapat melihat persoalan SN secara objektif dan adil. Mereka seakan-akan menyuarakan suara hati sebagian besar rakyat Indonesia menyangkut kasus SN

Saya senang kepada Menteri ESDM yang mengadukan kasus pelanggaran etik SN (yang adalah ketua DPR RI saat itu) ke MKD. Pengaduan itu butuh keberanian dan kekuatan mental. Saya juga senang kepada Maroef Syamsoeddin yang berani membuka kedok dan membongkar kejahatan segelintir elite politik negeri ini. Ini suatu sikap yang berani dari Maroef

Saya jengkel kepada elit-elit partai tertentu dan juga kepada sebagian pimpinan DPR karena memberi komentar-komentar yang menyepelekan bobot kasus dugaan pelanggaran etik ketua DPR RI. Saya marah kepada mereka karena mereka membela SN dan berusaha melindunginya tanpa melihat dan menilai kasusnya secara objektif.

Dari sikap mereka timbul pertanyaan dalam hati: “Jangan-jangan SN hanya ‘bidak’ yang tertangkap sedangkan elit-elit politik yang membela dan melindunginya sebenarnya punya keterlibatan lebih dalam kasus tersebut “aktor-aktor” di belakang layar. Bagaimana jika itulah big picture-nya?”

Saya gembira melihat sebagian anggota MKD, yang melihat kasus SN dengan cermat dan objektif, terutama dari Demokrat, Hanura, Nasdem, PKB, PDI-P dan PAN. Tetapi saya jengkel dan marah besar kepada sebagian anggota MKD, terutama dari Golkar, Gerindra, PPP dan PKS, karena dalam persidangan-persidangan mereka berlaku seperti orang-orang bodoh (atau memang benar-benar bodoh?). Pertanyaan-pertanyaan mereka kepada pengadu dan saksi tidak relevan, ngawur, dan tak nyambung dengan pokok persoalan. Entah apa yang membuat mereka itu diangkat menjadi anggota MKD. Memalukan dan menjijikkan

Saya kasihan kepada SN karena jadi bulan-bulanan cacian, cercaan, dan kemarahan rakyat. Selama sebulan lebih sejak kasusnya mencuat ke permukaan, publik langsung mengadili SN seakan-akan ia sudah menjadi orang “terhukum/terpidana” padahal kasusnya belum diproses di MKD. Di pihak lain, saya jengkel kepada SN karena dia ngotot tak bersalah sekalipun sudah ada bukti rekaman. SN tidak gentleman, tidak berani bertanggungjawab atas tindakannya. Makin menjengkelkan lagi ketika SN mencari-cari perlindungan ke Komnas HAM, dan mengadukan PemRed Metro-TV ke Bareskrim Polri.

Saya merasa jijik mendengar komentar-komentar berat sebelah dari orang-orang yang diwawancara di TV-One dan yang berusaha membelokkan persoalan pelanggaran etik SN ke persoalan lain. Jelas sekali TV-One pro SN. Saya mual dan muak mendengar komentar-komentar yang mencampur-adukkan persoalan pelanggaran etik dengan persoalan hukum.

Lucu, membingungkan dan tak masuk akal bagi saya bahwa anggota MKD bisa diganti setiap saat. Ada anggota MKD diganti ketika MKD sudah akan menyidangkan kasus SN. Bahkan masih ada anggota MKD yang diganti ketika proses pembahasan sudah berjalan. Yang lebih lucu lagi, yang harus menandatangani Keputusan penggantian anggota MKD adalah Ketua DPR, yang nota-bene adalah “pesakitan yang sedang diadili”.

Miris rasanya melihat bahwa sebagian besar anggota DPR (juga sebagian anggota MKD) tidak bebas bertindak atas dasar hati nuraninya tetapi hanya melakukan apa yang diinginkan partai/pemimpin partai. Hati nurani mereka-mereka itu sudah dibelenggu oleh partai/pemimpin partai. Telinga mereka hanya terbuka kepada suara partai/pemimpin partai, tetapi sudah tuli dan tertutup kepada suara rakyat. Apakah para anggota DPR yang disetir partai/pemimpin partai masih layak disebut “Wakil Rakyat” untuk menyuarakan dan memperjuangkan kepentingan rakyat? Atau tidakkah lebih tepat disebut “Bidak Partai” yang menyuarakan keinginan partai dan memperjuangkan kepentingan partai? Apabila mereka tidak menyuarakan dan memperjuangkan kepentingan rakyat mereka bukan lagi anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) melainkan anggota Dewan Penghianat Rakyat (memang singkatannya DPR juga).

Saya yakin kasus SN dibahas bersama oleh para elit partai baik dari partai asal SN sendiri maupun partai-partai yang membela dan melindunginya atau partai sekoalisinya. Hal itu tampak dari komentar-komentar elit partai ybs dan juga komentar dan pendapat anggota/pimpinan DPR dari partai ybs. Mereka masih mencari celah bagaimana meloloskan SN dari tuduhan pelanggaran etik.

Anggota MKD dari partai SN (dan dari partai koalisinya) berpendapat bahwa SN melakukan pelanggaran berat dan mengusulkan pembentukan panel untuk menanganinya. Sepintas mereka seakan-akan ingin menghukum SN seberat-beratnya. Tunggu dulu, itu tak benar. Kita jangan terkecoh. Itu adalah intrik dan siasat lain untuk meloloskan SN dari tuduhan. Sebab kalau dituduhkan melakukan pelanggaran berat, kasus itu akan ditangani oleh sebuah panel yang terdiri dari 7 orang (3 org dari MKD dan 4 org dari luar DPR).

Panel itu masih akan membuktikan ada tidaknya pelanggaran berat, dan panel itu bisa berpendapat tidak ada pelanggaran berat atau ada pelanggaran berat. Hasil temuan panel itu – yakni ada tidaknya pelanggaran – masih harus dibawa ke paripurna DPR dan keputusan akhir ada di tangan sidang paripurna DPR. Kalau itu terjadi, kemungkinan meloloskan SN semakin terbuka lebar dengan melobi anggota panel dan anggota paripurna DPR. Ini adalah trik-trik anggota MKD dari partai SN (dan partai sekoalisinya).

Allahualam.

Kita jangan kecewa melihat anggota MKD yang menjatuhkan vonis sanksi sedang. Itu lebih baik, sebab kalau sanksi sedang dijatuhkan, keputusan akhir ada pada MKD, tidak perlu ke paripurna DPR. Namun sebelum sanksi dijatuhkan oleh MKD, SN sudah membuat surat pengunduran diri sebagai Ketua DPR. Alhamdulillah.

(Sumber Foto: Konimex Store)

Para Pengecer Agama

Maaf jika ini menyinggung perasaan religius dari para pembaca.

Sebagai orang yang kebanyakan membaca daripada menulis dan menghasilkan karya, saya dan kebanyakan teman-teman lain merasa cemas dan waswas. Bagaimana tidak, kini kompetisi dagang ternyata bukan hanya diramaikan oleh startup dan situs-situs e-commerce seperti BukaLapak, Blibli, Rakuten, Blanja, Tokopedia dan seabrek nama lainnya. Mencoba ingin memenuhi selera dan kebutuhan para penikmat belanja online, alternatif yang bagus terutama jika tidak ingin bermacet-macetan menuju ke toko atau supermarket konvensional. Bagus dan cukup membantu. Apalagi macam dan jenis barang yang diperdagangkan pun kian beragam.

Sayangnya, efek dari dunia digital yang menjadi ekosistem belanja online yang mestinya cukup melegakan hati ini mesti dikacaukan dengan banyaknya komoditas yang salah kamar. Selain Google Ads, Facebook for Business, ataupun Twitter Ads, kini setiap portal dan website semakin gencar berlomba mencari clickers dan unique visitors dengan menjajakan konten yang menurut mereka menarik. Mesti bukan fenomena baru, tapi tampaknya dunia digital ini semakin menjadi tempat yang subur bagi yang mau berjualan apapun. Tentu saja ada disclaimer yang siap menjadi punggawa terdepan jika suatu saat website atau portal yang bersangkutan dikeluhkan atau diadukan netizen karena berjualan tidak pada tempatnya.

Selain wacana politik khususnya #MKD, #Freeportgate, dan #SetyaNovanto, bukan rahasia lagi bahwa kini komoditas sureal pun semakin menjamur dalam bentuk eceran kotbah, kutipan dan cyberwar atas nama agama. Selain belanja alat cukur dan bak mobil, kini internet pun sudah menjajakan dua komoditas sureal terbaiknya, yakni komoditas politik dan komoditas agama.

Setidaknya ini yang dialami oleh teman saya yang khawatir karena tidak menjumpai informasi yang penting dan sehat dari hampir semua media massa di Indonesia.

Kegeramannya diungkapkannya dalam salah satu postingan di media sosialnya sebagai berikut …

Sambil menunggu musim jualan “haram ucapan natal” di akhir tahun, sementara waktu jualan “sesatnya Syiah”. Pebruari nanti bisa jualan haram “Valentine’s Day” dan “Gong Xi Fa Cai”.

Barangkali yang terakhir ini punya market baru. Pedagang yang baik itu mampu menjual sesuatu yang sulit laku. Kalau setiap bulan ada yang diharamkan, lumayan bisa masuk media. Ceramah laris.

Kepada pemilik media sebisa mungkin berpikir ulang mendudukkan isu tersebut sebagai berita publik karena ini bagian dari perdagangan. Tetap dimuat tapi sebaiknya masuk kolom iklan. Lagian pengusung isu-isu anti Syiah anti Ahmadiyah itu punya anggaran dari sponsor.

Nanti di bagian kolom iklan itu bersanding antara iklan “Anti Loyo” bersanding dengan Anti Syiah. Iklan “Mujarab Basmi Tikus” bersanding dengan iklan “Mujarobat Pembasmi Ahmadiyah”. Atau iklan pelet menaklukkan Neng Sunni agar berjodoh dengan Kang Abi (Wahabi)…..hihi……

Situasi berita kok samangkingburemmmmm huhu …

Ini hanya satu contoh.
Masih banyak contoh lain. Di komunitas lain, dengan cap agama yang lain, atau komunitas lain yang tak henti-hentinya mempertontonkan akutnya inferioritas diri mereka. Sebab, bukankah mencari popularitas dengan menjelek-jelekkan komunitas lain adalah sifat dari pengemis di dunia digital yang haus dan lapar dengan perhatian, clicks, comments dan response dari pembaca? (Syukur-syukur setelahnya donasi mengalir ke salah satu rekening yang dicantumkan).

“Ya udah sih, kalau nggak suka, ya tinggal di-close saja, cari channel atau sumber lain”, begitu mungkin respon dari netizen yang super sabar dan terus mencoba bersikap arif. Bisa saja. Tapi jika hampir semua website dan media massa begitu, bukankah ini cerminan dari selera masyarakat kita juga? Kita akan dipasok dengan komoditas salah kamar sejenis hari demi hari, kemungkinan jumlahnya akan semakin banyak, lalu di-blast membabi buta (syukur-syukur bukan copy paste sesama rekan kuli tinta di lapangan). Kenapa? Karena rating tidak melihat isinya. Lalu lintas informasi tidak perduli apakah si pembaca senang dan puas karena memperoleh informasi baru atau malah makin cenat-cenut karena setiap media massa hanya menjual “barang-barang yang salah kamar” tersebut.

Moga-moga saja forum opini pubik seperti Kompasiana, Forum Detik, Kaskus atau forum lainnya tetap sehat dengan menjadi platform sharing opini dan ulasan yang membangun dan mengkiritik, bukan kebablasan lalu malah menjual “komoditas salah kamar” seperti yang barusan disebutkan.

Sekian.

Wassalam.

(Photo by Google Image)

Buat Pak Jokowi, Sang Penyanyi

Tak banyak yang perduli

Meski tenggorokanmu mulai perih,

mereka masih butuh gempita suaramu

“Tapi suaraku mulai parau”, pukasmu setengah membela

Tidak ada alasan,

Engkau harus terus bernyanyi.

 

Siapa suruh engkau unjuk gigi?

Padahal kau tahu ini bukan lagi panggung seni,

Sejak purba intrik busuk sudah merasuki.

Bukankah sejak awal kau sudah diwanti-wanti:

Jangan bernyanyi kalau tak berani sampai mati!!!

 

“Tapi khan aku tak perlu bernyanyi selama ini”, teriakmu beralibi

Ora urus, engkau harus tetap bernyanyi.

Sebab, mereka tak perduli nafasmu sepanjang apa,

Atau kamu bisa bertahan berapa lama.

Lagipula, mereka hanya pemandu sorak yang haus tawa

Para penonton yang tak kunjung lelah mencoba gembira.

Mereka rindu penyanyi sepertimu

Yang bisa memainkan nada-nada indah nurani mereka,

Yang mampu menyanyikan lagu serima dengan halusnya jiwa mereka.

 

Siapa suruh engkau berani melantunkan mimpi-mimpi mereka?

Lihatlah, kini mereka mendamba lirihnya suaramu.

Tak kasihankah kau mereka datang jauh-jauh hanya untuk mendengar suaramu?

Mulai dari tanah rencong hingga tembagapura,

Dari yang berbalut sutera hingga yang berani-beraninya datang tanpa pakaian pesta.

Maka, tidak ada alasan lagi, teruslah bernyanyi.

Kau boleh lelah sesekali, tapi mesti lekas bangkit lagi.

Ingatlah, sejak awal kau sudah kutitipkan pesan ini:

Jangan bernyanyi kalau tak berani sampai mati!!!

 

Tak perduli betapa lara menyesakkan dadamu

Dan vibra suaramu kerap kehilangan nada dasarnya,

seakan kau sendiri lupa kau sedang bernyanyi apa,

Akan semakin banyak yang memintamu bernyanyi.
Sejenak terdiam kasihan, tapi lantas riuh senang ketika kau bilang “Aku tidak apa-apa”.

Tentu, tidak semua sorak itu bermaksud memuji

Selalu ada serigala keji yang menyamar jadi domba dan onta di setiap tampilmu.

Bayangkan, ada dua ratus lima puluh juta jiwa

Tak mudah mengenali mana pengagum dan mana pembenci

 

Maka, ketika mereka berseru: “Jokowi!!! Jokowi!!!”,

Teruslah bernyanyi buat mereka.

Sebab, nyanyianmu harus tetap terdengar.

Jika tidak, riuh rendah mereka akan menggantikan panggungmu.

Bukan tidak mungkin mereka berbalik menyerangmu.

Tak ada jalan kembali, dari awal sudah kubilang:

Jangan bernyanyi kalau tak berani sampai mati!!!

 

Sebegitu sakitkah menjadi penyanyi?

Tidak juga.

Engkau bisa menipu mereka

Kau bisa lip sync dan komat-kamit saja.

Hanya saja, pemujamu akan gelisah dan mulai menggunjingkanmu

Sebab mereka tahu kini kau menyanyikan lagu yang berbeda.

Tidak ada rohmu disana.

Pembencimu tertawa senang dan mulai mencari penggantimu

Siapa suruh, kau lahir saat idola mereka sekarat.

 

“Tapi, siapa yang bisa menyanyikan lagu yang sama indahnya buat jutaan jiwa?”, kau mungkin bertanya.

Bukankah masing-masing punya selera yang berbeda?

Benar.

Belum ada yang sempurna.

Mungkin kau pun juga.

Tapi kau tidak disuruh bertanya,

Karena kau penyanyi.

Maaf kalau aku sedikit keji,

Ambil lagi pengeras suaranya, bernyanyilah lagi.

Bukankah sudah kubilang

sejak pertama kali kau berjanji memimpin negeri para penyanyi:

“Jangan bernyanyi kalau tak berani sampai mati!!!”

 

Jangan Menikah Sebelum Cabut Gigi

Saya belum menikah. Tentu saja, ingin menikah. Tetapi jangan ditanya kapan ingin menikah. Karena saya punya seribu jurus untuk ngeles. Mulai dari jurus amoeba, pura-pura lupa hingga “sudah ada rencana”.
(Bagi yang berminat mengetahui ketiga jurus tersebut, tidak perlu sungkan untuk bertanya ke saya.)

Tapi memang benar, tiga hari yang lalu saya cabut gigi geraham saya.
Untuk pertama kalinya setelah era gigi susu usai, kini aku harus melepasnya pergi. Iya, si gigi geraham itu.

Awalnya karena kesombongan.
Dicampur keteledoran, plus sedikit bumbu kemalasan.

Ketika gigi masih kuat, tak pernah ingat nasihat dokter untuk mengunyah makanan setidaknya dua puluh sampai tiga puluh kali.
Mungkin pernah juga, hanya saja tidak ingat. Soalnya tidak pernah kepikiran untuk menghitung berapa kali kunyahan. Apalagi kalau makanannya enak (haram pula … eh). Betapa teledornya saya, seandainya manual ini saya laksanakan, bukan tidak mungkin si geraham masih nangkring menghiasi rongga mulut ini.

Soal kesombongan, ah. Tidak perlu sebenarnya saya ceritakan disini. Namanya juga kesombongan. Tidak perlu diumbar.
Tapi sudah kadung ditulis. Ya begitulah. Dulu masih dengan bangganya pamerin kuatnya geraham yang selalu bisa diandalkan ketiga alat membuka tutupan botol bir tidak kelihatan, ngumpet entah dimana.

Baru-baru ini iklan Pepsodent yang diwakili oleh anak-anak yang lugu kembali menyadarkan saya bahwa semuanya memang berawal dari “lubang kecil, kalau dibiarkan jadi besar, terus sakit”. Begitulah lobang kecil kalau dipakai terus lama-lama bisa menjadi besar. Malas ternyata bisa berakibat naas.

Singkat cerita, geraham saya dengan cavity-nya sudah berhasil berkenalan dengan beberapa kali rintangan. Mulai dari tangan dokter gigi cantik di JMC Pejaten, dokter gigi yang lebih cantik lagi di Dent Smile Iskandar Muda, hampir saja tewas di tangan ibu perawat di Puskesmas Kebayoran Lama, dan tetap bertahan. Sebelum akhirnya si gigi geraham menyerah di tangan si dokter gigi yang sedikit lebih tua di RS Yadika. Akhirnya, mau tak mau, aku harus ikhlas melepasnya pergi.

RIP geraham.

Lantas, apa hubungannya dengan menikah?

Banyak orang yang belum menikah (tetapi berpotensi menikah) menyebut bahwa kami ini termasuk golongan yang terlalu teliti. Kalau difikir-fikir ini bagus juga untuk menekan laju ledakan populasi penduduk di Indonesia. Alasan mengapa belum menikah bisa beragam.

Terlalu perhitungan. Kami tidak merasa mapan dengan penghasilan pas-pasan lalu berani-beraninya memulai berumah-tangga. Ini mungkin berlaku buat saya dan mayoritas teman-teman lain yang pria. Ya, pria yang merasa bahwa mereka punya “kelas”, pun masih kekeuh menjadikannya prinsip yang mesti dibanggakan.

Tetapi, entahlah, seiring dengan kemajuan zaman, ternyata wanita pun semakin banyak yang menunda pernikahan. “Ingin mengejar karir dulu. Khan sayang, papa mama udah susah-susah sekolahin sampai ke Amerika, masak harus kembali lagi ikut-ikut teman yang menikah dini?”

Begitulah. Apalagi jika golongan pria yang tidak pernah merasa mapan bertemu dengan wanita yang masih ingin mengejar karir, barangkali sampai saya cabut gigi lagi, mereka masih akan begitu-begitu saja.

Sontak saya inget dengan sentilan kecil dari orang tua saya. Beberapa tahun yang lalu. Masih tersenyum mengingatnya bahkan sembari saya mengetik tulisan ini. Ayah saya bilang: “Jangan menikah sebelum cabut gigi”. Dibaca: Jangan menikah sebelum siap kehilangan kebanggaan.

Ah… ternyata begitu artinya.
Jangan menikah sebelum siap dengan situasi bahwa kamu harus minta maaf kepada sanak saudara atau keluarga untuk suatu kesalahan yang bahkan kamu tidak lakukan.
Jangan menikah sebelum siap untuk menyetor gaji bulanan yang tidak seberapa ke isteri, dan harus bersusah payah memintanya kembali bahkan hanya untuk minta jajan secangkir kopi.

Hal yang sama juga berlaku buat wanita.
Jangan menikah sebelum siap dengan situasi bahwa kamu tidak akan punya banyak waktu lagi bercengkerama di dunia maya. Tidak punya dana untuk hang-out ria atau bernostalgia
Jangan menikah sebelum siap untuk terima kenyataan bahwa kamu bukan lagi “a daddy’s daughter”, melainkah sudah menjadi anak yang harus memberi cucu.

Litani ini bisa ditambahkan sendiri.
Intinya, menikah itu berarti siap kehilangan kebanggaan, prinsip, pengakuan akan prestasi, “standar” kaku dan “kelas” dalam pergaulan.

Sebelum kehilangan kebanggaan dan prestasi yang besar, ada baiknya dimulai dengan yang kecil dulu.
Ya, seperti yang barusan saya alami.
Meski perih, tapi tetap bertahan disini, setelah pengalaman kehilangan sehabis cabut gigi.

By the way, ini bukan petuah dari yang sudah berpengalaman menikah. (Penulis masih bingung menentukan apakah dia single tanpa gigi atau jomblo tanpa calon isteri, pembaca silahkan tentukan sendiri).

Sekian.
Wassalam.

Semoga Beliau Tidak Sedang Jualan Agama

 

Baru saja saya buka Facebook dan menemukan bahwa ternyata saya sudah di-unfriend oleh seorang teman. Inisialnya EM. Sedikit history pertemanan kami: Saya yang terlebih dahulu mengajukan pertemanan dengan beliau dan diterima. Melihat bahwa profesi sebagai pemuka jemaat di sebuah denominasi pengikut Yesus di bilangan daerah Depok yang dia jalani, rasanya bisa jadi alasan untuk mengkonsumsi isi postingannya di timeline saya. Bagaimanapun, sebagai orang yang diikuti oleh banyak orang karena nasihat rohaninya, kemungkinan besar banyak nutrisi moralitas (atau … iman, mungkin?) yang bisa saya dapat dari tulisan-tulisannya.

Naasnya, begitulah kejadiannya. Beliau mem-posting suatu kejadian yang santer baru-baru ini dan mengundang simpati dan empati mendalam dari berbagai belahan dunia, yakni tragedi kemanusiaan yang dilakukan oleh sekelompok teroris di Perancis. Tapi, alih-alih ikut memberikan ungkapan simpati, doa-doa, penguatan atau solusi psikologis dan nasihat rohani bagi para follower dan temannya yang merasakan duka yang sama, malahan dia mencoba menyalahkan korban dengan dasar yang tidak relevan. Saya lalu komentari, tapi kemudian komentar saya dihapus, dan saya pun di un-friend dari friendlist-nya.

Mungkin memang begitulah hakikat pertemanan di Facebook, apalagi jika belum pernah bertemu muka. Padahal saya mengandalkan kesamaan kami sebagai penyandang marga yang sama dari sebuah sub-etnis Batak. Tapi ya memang sosilitas di Facebook memang sangat rentan dinodai oleh ego dan beberapa asumsi yang sebenarnya perlu direvisi kembali.

Sebenarnya, apa pentingnya buat saya?

Penting dan tidak penting.

Jika itu hanya menyangkut pribadi, jabatan atau expose lainnya tentang hal-ikhwal pribadinya lalu saya tiba-tiba masuk nyerocos dan mengotori komentar-komentar terdahulu yang tampaknya senang membebek dengan apa yang dia katakan, saya maklum. Namanya juga postingan di halamannya ialah propertinya (jangan lupa … properti Facebook juga). Wajar kalau dia bisa saja meng-hapus komentar, like, reply atau membatasi notifikasi apapun yang tidak diinginkannya.

Tetapi, ini berbeda.

Ini menyangkut tragedi kemanusiaan global, dan dia malah menyalahkan korban tragedi. Iya, tentang tragedi penembakan massal di Bataclan, Paris, beberapa waktu yang lalu.

Thread ini kemudian saya tinggalkan karena kemudian nge-lunjak dan hanya menjadi ajang pembodohan (atau hanya sekedar mencoba akrab dengan mengiyakan semua yang dikatakan si pemimpin agama seolah-olah setiap ucapannya ialah sabda penuh vitamin ).

Semestinya mereka tahu bahwa ini akan kedengaran sangat menyedihkan, apalagi jika sampai diketahui oleh para keluarga korban.

He must be more than fourteen by now.

Sontak saya tidak setuju dan mencoba (baginya saya hanya sok akrab … mungkin) memberikan argumentasi yang barangkali baginya hanya berupa dissenting opinion tanpa ada niat baik. Padahal, saya hanya memberikan komentar realistis saja. Tanpa endorsement dari pihak manapun, termasuk tidak dari orang yang mungkin menjadi rivalnya untuk tujuan meng-counter pendapatnya dan menjatuhkan namanya. Lagipula, sekali lagi, saya tidak kenal dengan beliau dan beliau juga tidak kenal dengan saya. Maka, jika saya memberi komentar tanpa niat baik, berarti saya hanya sedang buang-buang waktu saja.

“Atau, jangan-jangan saya memang hanya buang-buang waktu?”

Pertanyaan ini kemudian memenuhi benak saya beberapa saat lamanya.

Benar. Saya introspeksi diri. Belum tentu apa yang saya katakan benar.

Jika pun benar, belum tentu menyenangkan baginya, apalagi jika komentar itu terdengar seperti teguran padanya di tengah-tengah keramaian. (Mungkin lebih baik jika sebelumnya pendapat itu saya sampaikan lewat messaging dan bukan commenting … tapi, sekaligus saya merasa bahwa mereka yang membebek tadi pun adalah alamat dari komentar saya).

Ini postingannya …

Saat ini hampir seluruh media massa di dunia memberitakan kehebohan peristiwa teror ISIS di Paris Prancis, pada Jumat 13 November 2015 yang menewaskan sekitar 153 orang dan melukai 350 orang lainnya, Peristiwa teror ISIS tersebut dilakukan oleh hampir 20 orang teroris , dimana 8 orang diantaranya tewas dengan meledakkan diri mereka sendiri dengan bom setelah menembak mati ratusan orang dengan senjata AK 47. Peristiwa teror ISIS tersebut kini dikenal dengan nama ” Friday the 13th of November 2015 “. Istilah Friday the 13th sendiri adalah istilah yang sering dipakai di dunia sihir sebagai istilah yang menerangkan kejadian bahwa setiap tanggal 13 yang jatuh tepat pada hari jumat di suatu bulan tertentu, akan terjadi peristiwa yang menumbalkan manusia utk Iblis melalui peristiwa tertentu. Peristiwa teror ISIS di kota Paris 13 November 2015 itu sendiiri terjadi di sebuah gedung konser musik di kota Paris Prancis, dan terjadi saat penonton sedang menonton konser musik.

Namun yang tidak diceritakan dan tidak diungkapkan ke publik adalah konser musik apakah yang sedang berlangsung saat teroris ISIS itu membunuh para penonton konser tersebut

Konser yang diadakan di gedung tempat terjadinya pembunuhan teroris ISIS tersebut adalah KONSER DEATH METAL, dan Tepat sesaat atau beberapa menit sebelum para teroris ISIS menembakkan senjata AK47 nya kepada para penonton, para penonton konser tersebut sedang bersama sama dengan grup musik yang menyanyikannya yang bernama EAGLE OF DEATH ( ELANG KEMATIAN ). Dan lagu yang mereka nyanyikan bersama sama adalah lagu yang berjudul. ” KISS THE DEVIL” yang liriknya adalah sebagai berikut ;

“Siapa yang akan mencintai Iblis?

Siapa yang akan menyanyikan lagunya?

Siapa yang akan mencintai Iblis dan lagunya?

Aku akan mencintai Iblis

Aku akan menyanyikan lagunya

Aku akan mencintai Iblis dan lagunya

Siapa yang akan mencintai Iblis?

Siapa yang akan mencium lidahnya?

Siapa yang akan mencium Iblis di lidahnya?

Aku akan mencintai Iblis

Aku akan mencium lidahnya

Aku akan mencium Iblis di lidahnya “

Dan berdasarkan sebuah foto Para penonton tersebut menyanyikannya sambil mengangkat simbol simbol pemuja iblis seperti simbol 3 jari dan simbol illuminati

Dan tepat beberapa saat atau beberapa menit setelah mereka para penonton tersebut bernyanyi para teroris ISIS langsung menembak mati mereka dan langsung mengirim mereka bertemu dengan Iblis pujaan mereka, yang mereka puja puji dengan nyanyian mereka.

“Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya” (Ams 18:21).

Saya mengernyitkan dahi. Wow! Apakah para pemimpin religius sudah kehilangan kreatifitas untuk menciptakan gimmick marketing lainnya? Seakut itukah?

Hey!

Siapa yang mau ditembaki dengan rentetan besi panas usai merayakan kemanusiaan dengan menonton konser musik dan bergembira-ria dengan teman-teman?

Bagaimana bisa seorang pemimpin religius secara tidak langsung mengajak para teman dan jemaat untuk menyalahkan korban, bukannya melihat masalah secara menyeluruh malah mengambil celah untuk memvalidasi bahwa apa yang dialami para korban adalah murni akibat dari keinginan mereka sendiri.

Komentar dari orang sekelilingnya pun akhirnya menjadi kedengaran menjijikkan.
Seorang komentator berinisial KR merespon:

Berarti kali ini ISIS berlaku benar ya ito?

SS menimpali:  Segala sesuatunya mendatangkan kebaikan … Semoga org Prancis bisa lebih berkaca dr kejadian ini …

Kemudian empat orang lainnya: IU, LS, JM, JC pun men-share postingan dari orang yang si EM yang “semestinya lebih arif” tersebut.

Pity me, I can’t handle it. Finally propaganda run well.

Thread ini kemudian saya tinggalkan karena kemudian nge-lunjak dan hanya menjadi ajang pembodohan (atau hanya sekedar mencoba akrab dengan mengiyakan semua yang dikatakan si pemimpin agama seolah-olah setiap ucapannya ialah sabda penuh vitamin rohani).

Orang sederhana saja yang tidak pernah mengenyam pendidikan teologi pasti akan punya sedikit kebijaksanaan untuk menge-rem dan menahan diri memberi ulasan atas suatu tragedi kemanusiaan, terlebih pembunuhan massal yang mengerikan ini. Orang kecil akan merujuk pada filosofi sederhana dari Dalai Lama bahwa “Kalau tidak bisa membantu orang lain, setidaknya jangan menyakitinya”.

Dan komentar saya pun, barangkali tidak akurat, adalah ekspresi keheranan saya atas keanehan ini. Keanehan saya atas repetisi tragedi kemanusiaan oleh ulah para teroris belum selesai, tapi si kawan ini malah menambah keherenan saya menjadi lebih lagi. Belum lagi komentar senada yang seolah meng-aminkan pendapat si kawan ini. Sehingga bahasa yang saya gunakan pun, mungkin mencerminkan ketidaksetujuan yang spontan dan tidak diplomatis.

Komentar saya yang sudah dihapus di utasan beliau kira-kira begini:

Komentar artistiknya cacat, bang E.M.

Saya tidak tahu apakah Abang pernah suka atau tidak dengan musik metal. Tapi menjadi aneh ketika ekspresi seni ditanggapi seperti itu. Musik adalah ekspresi seni, ungkapan dan perayaan atas kemanusiaan. Pun dengan lirik lagu Kiss of Devil (Ciuman Setan) yang dinyanyikan oleh Eagle of Death.

Menyanyikan lirik Kiss of Devil tidak serta merta menjadi affirmasi bahwa yang menyanyikannya memang ingin mati atau menjemput maut.

Kita ambil contoh yang dekat-dekat saja.

Lirik Lonteku oleh Iwan Fals, misalnya. Orang yang mengetahui pesan perjuangan yang ingin disampaikan oleh Iwan Fals lewat lirik lagunya tahu bahwa mereka tidak sedang membicarakan bisnis lendir atau urusan syahwat.

Pun, kita mesti belajar dari konteks dan appetite satir a la Perancis.

Men-judge tanpa mengerti latar belakang kultur setempat bahkan menyalahkan korban will be unfair, even annoying.
N.B. Oh iya. Pembaca barangkali akan berkomentar dalam hati: “Ini khan masalah pribadi. Sebaiknya dikomunikasikan berdua saja. Tidak perlu dengan menulis halaman dan paragraf panjang-panjang begini”. Komentar saya: Benar. Tapi tetap sangat perlu dishare supaya semakin banyak kita sadar bahwa paradigma sempit yang kita gunakan, begitu menjadi viral, akan segera terendus dan menunjukkan niat tidak baik kita yang sebenarnya.

Saya hanya berharap: Semoga beliau tidak sedang jualan agama!!!

 

 

 

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén