DONALD HAROMUNTHE

For Those Whom I Can't Talk With

Month: May 2017

Enchilada

Encounter“-nya Schillebeeckx menjadi semakin jarang dirasakan pentingnya oleh generasi zaman sekarang. Perjumpaan personal secara face-to-face dirasakan banyak orang sebagai sesuatu yang tidak lagi begitu produktif, digantikan oleh komunikasi haha hihi dan chat tak berujung penuh emoticon dan sandiwara penuh humor basi di group-group Whatsapp, Blackberry Messenger, Facebook, Telegram, Line dan sebagainya, you name it. Tak jauh beda situasinya dengan japri alias jaringan pribadi (private channel).

Banyak psikolog menengarai gejala ketakutan dan kekurangcakapan generasi sekarang untuk membina relasi yang “material” (material dalam arti tangible, sensible dan personal sebagai antitesis dari yang digital) sebagai bentuk baru alienasi manusia terhadap dirinya. Orang tahan berjam-jam, bahkan melebihi durasi jam kerja sesuai UU Ketenagakerjaan (8 jam sehari, 5 hari seminggu) dengan jari-jemari tak henti-hentinya mengetak-ketuk atau mengusap layar sentuh di handphone atau gadget-ya, tetapi tidak lagi mampu berbicara secara sungguh-sungguh dengan mitranya dalam perjumpaan tersebut. Entah mengapa.

Begitulah kini kita pelan-pelan menciptakan dan menjadi bagian dari “masyarakat yang bungkuk menatap layar”, bukan lagi “masyarakat yang tegak dan tersenyum menatap wajah”. Jika saja Max Scheler atau Edmund Husserl masih hidup di zaman sekarang, mungkin mereka akan memaki-maki kita, manusia-manusia yang tak lagi efektif berkomunikasi interpersonal.

Tapi, benarkah orang memang semakin menghindari perjumpaan personal?

Ataukah memang perjumpaan antarpribadi sekarang semakin menurun kualitasnya?

Bahkan jika kita mengalah pada relasi transaksional, apakah perjumpaan secara personal tidak lagi mendatangkan keuntungan (profit) dan manfaat (benefit) bagi masing-masing pribadi?

Jika demikian, solusi yang sangat realistis perlu dicari untuk menyembuhkan penyakit “kekurangcakapan” ini adalah:

Bagaimana mencari profit bagi diri sendiri setiap kali bertemu dengan orang baru atau berada di tengah perkumpulan yang baru?

Masalah-masalah komunikasi interpersonal (yang kerap tak menyeruak keluar secara eksplisit tetapi agaknya diderita oleh masing-masing kita di zaman digital ini) saya coba inventarisir dari contoh-contoh konkret yang kita alami sehari-hari. Berikut beberapa hasilnya.

  • Kalau nanti pada pertemuan satu almamater, Saya bukan pembicara atau Pemrasaran, adakah untungnya buat saya?

 

  • Jika saya hanya menjadi pendengar budiman, layakkah saya menembus macet dan meninggalkan jadwal facebook-an saya hanya untuk melihat orang-orang baru di kopdar (“kopi darat” = meet up) yang akan datang ini, yang bentuk wajahnya saja tampaknya bukan tampang orang berduit?

 

  • Gimana ya caranya supaya saya bisa jualan produk-produk online atau dapet referral kalau saya hanya peserta biasa?

  • Saya maunya usaha kecil-kecilan yang saya mulai ini bisa dikenal oleh sebanyak mungkin teman pada acara reuni nanti. Tetapi, kalau sumbangan dana partisipasi Saya ke panitia acara hanya kecil saja, apakah teman-teman saya itu masih mau meladeni ajakan saya untuk bertemu mereka dan melakukan prospecting

  • Lama-kelamaan rasanya setiap kali Saya membuka sedikit tentang gagasan saya, atau menyinggung sedikit tentang unit usaha yang sekarang saya kembangkan, kok tatapan teman-teman yang tadinya hangat ke Saya tiba-tiba menatap Saya seperti mereka baru saja ditodong oleh seorang agen asuransi yang frustrasi demi mengejar target capaian premi sehingga tak sadar melakukan jual paksa?

  • Dengan segala kemudahan untuk mengakses informasi sekarang dari internet, masih perlukah saya membuang uang, energi dan waktu untuk datang ke live event, seminar atau workshop?

  • Kalau Saya datang ke suatu pelatihan atau seminar, masih perlukan saya membawa setumpuk kartu nama untuk Saya bagi-bagikan ke setiap orang disana? Apa saja yang sebaiknya Saya tampilkan di kartu nama tersebut, dan apa yang sebaiknya tidak?

  • Dengan puluhan atau ratusan kartu nama yang saya dapat hasil dari tukar kartu nama, artinya mereka adalah potential client atau prospect Saya, bagaimana cara follow up yang baik sehingga mereka tidak merasakan kehadiran sebagai sebagai penguntit?


 

Adakah teknik atau gaya komunikasi yang mesti Saya batinkan sehingga Saya bisa menyajikan hidangan enchilada penuh guna memuaskan selera mitra atau calon mitra Saya?

Saya mau supaya potongan tortilla jagung ini bisa saya tawarkan dan disukai oleh segala macam selera dan konteks situasi. Artinya, kalau si A suka daging, dia menemukannya pada saya. Untuk si B yang suka keju, dia melihatnya ada pada saya. Bagi si C yang suka kentang, juga didapatnya dari Saya.

Is there reallly a thing such whole thing that corresponds to every situation and style of interpersonal communications?

If it is somewhere there, where to find that specific whole enchilada?


 

Konon, dulu Dale Carnegie sudah menasihati ribuan kali:

Ketika bertemu dengan orang, perbanyaklah MENDENGARKAN.

So, the whole enchilada really exists. You just need to listen, understand every need, respond to it, and voila, you have just made another succesfull selling.

Entah barang atau jasa apapun yang Anda sedang jual.

 

Tirani Pelajaran Memperbudak Pembelajar

Apa itu Tirani Pelajaran

Hampir semua nilai-nilai modern –  terutama yang ditanamkan melalui sistem pendidikan kita – jika ditelusuri, merupakan ancaman serius terhadap kebebasan dan keagungan manusia, menghambat kita menjadi pribadi seperti yang diinginkan oleh Tuhan (atau Supernatural Being dalam sebutan apapun yang menjadi awal da pelabuhan terakhir kita). Bentuknya bisa beragam. Mulai dari imoralitas, filsafat atau pola pikir yang buruk, ketergantungan kimiawi dan teknologis; semuanya adalah bentuk-bentuk penjajahan atau perbudakan.

Pseudo-values (nilai-nilai semu) itu kita yakini sebagai nilai yang luhur, tetapi ternyata menjadi tirani yang membelenggu kita, lebih kerap malah semakin mengkonfirmasi alienasi diri terhadap diri sendiri.

Institusi pendidikan kita merasa diri sudah selesai dengan pemikiran klasik. Kurikulum dibuat dengan mengesampingkan Kebenaran, Keindahan dan Kebaikan, dan menggantinya dengan Relativisme, Kebodohan, dan Penyiksaan Diri sendiri. Para siswa tidak lagi dididik untuk memahami pelajaran sejati dari Sejarah, tidak dibina untuk berjuang meng-aku-kan keutamaan, dan tidak lagi menghormati Tuhan. Mereka belajar banyak “seni”, tetapi tidak belajar seni berfikir. Alhasil, tidak sedikit gagasan buruk tereksekusi di tingkat akademi dan kemudian memaksa kita untuk memberi tempat baginya dalam kesenian, hiburan dan media.

Maka tidak heran bahwa sebenarnya kita telah menciptakan masyarakat dimana para warganya tidak mampu berfikir untuk diri sendiri, tidak mampu menghibur diri sendiri, tidak mampu membela diri sendiri, benar-benar tidak mampu untuk menyediakan support bagi diri sendiri. Kita telah menciptakan masyarakat budak. Orang-orang menjadi cepat marah dan bingung, bahkan dalam situasi dimana mereka tidak tahu apa sebetulnya yang membuat mereka marah, apalagi mengungkapkan kemarahannya dengan cara yang tepat.

Anak muda tidak lagi belajar arti seni, literatur dan bahasa yang benar. Mereka sadar bahwa mereka tidak puas. Ada kehausan untuk mencari nilai-nilai yang sejatinya melekat dengan kodrat manusiawi mereka yang agung. Tetapi mereka tidak menemukannya. Alhasil, gerombolan dari orang-orang yang tidak puas ini kaget menghadapi conundrum mengerikan dimana mereka bahkan tidak mampu mengungkapkan ketidakpuasan mereka secara tepat.

Learn how to use brake, accelerator and pedal, and use them properly!

Learn how to use brake, accelerator and           pedal, and use them properly!

 


 

Catatan:

Tulisan ini saya buat tepat sesudah tayang berita bom panci meledak di Kampung Melayu dan sekelompok ABG yang tergabung dalam kelompok yang menyebut diri Gangster melakukan aksi brutal.

 

Andung ni Boru Siappudan

Nunga be hampir dua pulu taon lelengna au dang pajuppang dohot Amonghu. Di tikki dakdanak au pittor tibu do Inong pangitubu i lao. Sandok dang pola hutanda songon dia do tutu bohi ni Inong na manubuhon au on. Holan barita dohot turiturian sian halak nama binege.

Inna nasida:

“Jolma na burju jala na uli do inongmu”

Molo dang sala marumur lima taon ma au tikki toppu ro sahit ni Inong. Tung i ma berngit ni sitaononna alani sahit i, alai tong do dipaboan-boan songon i, asal ma boi husan-huson parmudumuda hami. Nunga songon i pe, so pittor diboan Among ibana marubat. Jempek ma i hutariashon, ala dang tartahan au manetek ilukku tikki manggurat on, dang piga leleng, marujung ngolu ma Inong.

Tading ma hami gellengna. Adong hami lima halak toropna. Opat hami boru, sada ma itokku. Ia kakak siakkangan kalas tolu SMA ma tikki i (Kalas XII molo di zaman saonari). Toho ma tutu. Dung mate Inong dang adong be iatturehon Among hami akka gellengna. Marserak ma hami na lima. Adong ma on na karejo di pabrik i Tangerang. Adong ma on na lanjut sikkola, alai alani ni hapogoson na toppu manoro (na uju i soppat do marmobil hami tikki akka dongan mar-tipi pe boi bilangon dope), godanganma hami putus sikkola.

Haccit situtu do di tikki i molo nipaingotingot. Maniak ateate.

“Boasa ikkon songonon taononnami?”

Au ma na unggelleng tikki i. Tikki mangolu Inong, sai jojot do Amonghon lalu tangan. Dang holan tu Inong, tu kakak dohot ito pe songon i do rimasna. Molo nungga jumpang borngin pittor mabiar ma hami sude. Ai di tikki songoni do parroni sahit rimasna i, olo ma berengon hira parkambuh ni sahit na so tarubatan i. Hape nian so na marsahit pamatangna, minar do nang bohina. Lumobi ma molo tikki minum, dang holan minar, nunga be marrara. Mabuk, i ma nian karejona tiap bodari on.

Molo nungga borngin minum ma. Tenggen ma. Sipata lungun sappur geok do nian molo niingot. Dang hinata tutu, sagalas pe diinum nungga mabuk, alai tong didatdati. Molo nunga tenggen hira Raja Padoha ma idaon bohina on (hea do tahe dibereng hamu Raja Padoha?). Molo di partenggenna i attong, so adong be dibereng on jolma na humaliang ibana, tarmasuk ma i parsinondukna dohot hami ianakkonna, anak dohot boru dipatiptip do sude. Holan hurang sikkap iba mangalean tes na, tor disampathon ma. Jotjot ma on hona tu bohi niba disampathon. Tamba ni i, disipak do muse. “Ue tahe, sibaran ni iba na maramong on”, inna roha molo tikki di sihabunian i. Sahat tu na marujung Among, dang muba pangalahona. Holan tikki di parsahitan si na piga-piga minggu i do.

Mulak ma satokkin tu pudi. Dang leleng dope dunghon marujung Inong, pittor tibu do attong Among marmeammeam boru-boru. “Main perempuan”, molo istilah zaman saonari. Ra adong dope saotik lungun ni rohana, dang tarpaberengberengsa akka peninggalan ni Inong, gabe tibu ma ditutungi sude. Pahean, sipatu, dohot lan lan asing. Adong roha lao mangingil nian asa adong kenangkenangan sian Inong, alai dang adong be tinggal manang aha pe, nunga hona tutung sude. Diambolokkon akka na so tartutungna. Goarna pe dakdaknak, maramonghon Among parrimas, dang adong sada pe hami na barani mangalo. Sip ma hami sude, songon anak ni manuk na teokteok, naing nian manginsugut tu abarana, alai dipasombu do ngalian so marbulusan. Sandok, aha pe pinandokna, boha pe pangalahona, sitau sip ma hami. Hohom hira bangso na talu di parporangan.

Pola do pigapiga lelengna lam songon na kumat rumas ni Among dung parlao ni Inong. Gabe hami ma panombosanna. Tiap ari on ikkon hona pastap do hami. Hona tunjang. Jotjotan ma i dang alani bonsir manang aha pe. Gabe hira hasomalan ma i di Among.

(Situan Panjaha na huparsangapi, paima hamu satokkin da. Husesap jo ilukkon. Nunga martektekan sian nakkingan)

Lam marroha ma hami. Tung pe di parhassitan, hona gosagosa alani rimas ni Among, martumbur do hami sude ianakkona. Marsipapuasan ma sesama hami attong. Sian i, tubu ma habaranion laho borhat tu huta sada, tudia pe taho. Alana dang be jabu na mardongan dame bagas na huingani hami saonari on. Nunga be i, dang tartaon be na tiap ari hona tangan ni Among i.

Jei, hea do adong di sada tikki, naeng ma mangoli ma sakkap ni Among on. Dipasahat ma sakkap nai tu hami. Nunga mulai marroha attong hami disi. Dang setuju hami, ima jompokna. So sae dope ilu-ilu di partading ni Inong, so suda dope andung di panggosagosa ni Among, ikkon jaloon muse inna marina panoroni? Parlistip na tobal dohot parrok mini muse do gombarni boruboru ipatudu tu hami. Muruk ma muse attong Among. Suda ma hami muse dipastapi so pola marboa-boa, ditunjangi so marhasoan dang jolo mardongan aba-aba, ala so huoloi hami pangidoanna i. Ai nunga tahe di-lissoi-hon Among piga-piga galas bir dohot tuak andorang dipasahat sakkapna i tu hami, i ma na lao ma mangalap pangganti ni Inong naung mardame sonang di Surgo i.

“Inong, unang sai tangis ho mamereng hami sian ginjang i, mardame sonang ma ho da Inong di ampuan ni Tondi Porbadia i.  Hahomion do nuaeng na hudaopi hami on”, ima tangianghu na sai tong huboan molo tikki sasadasa au, masuk tu bilikku na sompit on.

Tep ma i. Dang huingot be tanggal piga, di sada manogot, rap ma hami marsakkap asa kabur dang mulak tu jabu sidung sikkola. Soppat do disusun kakak dohot ito strategi lao mamboan au kabur, alana lima taon dope au disi. Ale i ma, dang adong nanggo lipper bola pitu huboan hami tikki i. Sandok, dokdok hian ma. Mardongan hata elek, gabe boi ma hami dijalo tinggal di kontrakan ni namboru, apala iboto takkas ni Among on. Asa diboto Situan Panjaha, tu itona on pe, dang sahali be Among patuduhon rimasna. Modom ma hami borngin i disi.

Di naso panagaman, manogotna i tikki lao kakak dohot ito marsikkola, ro ma attong na gogo i, i ma Among. Tor disoro do attong tu kalas. Guru na mangajar disi pe sip ala ni biarna, dang iatturehon. Dijolo ni akka donganna, ditopari Among ma kakakku siakkangan (nuaeng nunga lima anak tinubuhonna, sai hipas ma ho tongtong, da Kakak hasian), dang tarberengbereng ni akka donganna, ai masa do hape anakboru naung bajarbajar hona topartopar ni amang parsianuanna, di jolo ni akka donganna. Hira sinetron ma, talu dope drama melankolis mengharu-biru ni Korean Film zaman saonari.  Marmudari do tikki i igung dohot pamanganna. Pola do durus mudar, gok ma di bohina i.

“Tudia dibaen ho kabur akka adekmu, hurang ajar?”, inna Amanta i ma gogo di kalas i, mangoga kakakhi. Nuaeng hupikkiri, ise do situtu na hurang ajar, inna rohakku.

Alai i pe, tong ma ho mardame sonang dohot Inong da Among. Dang boi be songgakonmu Inong di Banua Ginjang i, ai nunga adong Jesus mangampini. Dang tolapmu molo tusi“, ima tangianghu apala gomos hudokkon molo sai binege jamita ni Pastor manang Pandita di gareja.

Lanjut ma muse.

(Mangido tikki satokkin ate, Situan Panjaha, husesap ma jo muse ilukku da. Songon na dokdok hian huhilala, pojjot di roha manggurathon turiturian ni keluargakkon).

Mulak sikkola, tor hatop ma attong kakak on sahat di jabu ni namboru. Marsap mudar dope bohina i. Dang pola godang makkatai, tor dihaol namboru na burju i ma attong kakakhi. Diusap ma simanjujungna. Alai, dang so dope hape parmaraan i. Satokkin dope menak satokkin di jabu ni namboru i, tor ro ma attong Among marmboil, diboan ma donganna. Naing tutungonna inna jabu ni namborukki, jabu ni itona manakkas i. Ala dietong i gabe jabu partabunian nami.

“Tutung ma tutung, ito. Andorang so tioponmu akka maen dohot paramanhon, au ma parjolo”, inna namborukki tikki i. Dang adong biar ni namborukki hubereng tikki i alani holongna ma tu hami. Ikkon hatidanghononna do tutu na manghaholongi hami ianakkonni edana. Hape parbohi na lambok do nian namborukkon molo siganup ari, parroha na serep. Ra alani marnida habaranion ni namborukki, dang jadi dipasaut Among ogapogap na i. Salpu ma i holan hata. Mauliate ma di Debata.

Sabotulna, donganna binoan ni Among i pe dipatuduhon do alo ni rohana dung diboto na jabu ni ibtona manakkas do na naing situtungonni Among. Alai, goarna ma mardongan, huroha naung parjolo do digarari Among minumna di lapo, jadi alangalang ma donganna nai patuduhon alo ni rohana.

Salpu ma ari, jumpang ma bulan, digogohon kakak dohot ito ma rohana laho mangalualuhon sude na masa i tu keluarga. Sandok dipatolhas ma sude parmaraan i, boha pangalaho ni Amongnami on maradophon hami, tarmasuk ma ito sijujung baringinna. Pate ma i, dang na uhum be hape na binahen ni Among i tu hami, i ma unokna na sahat tu keluarga. Dang pola ganjang disulikkiti akka keluarga holan mambege sude holso dohot alu-alu i, huroha nasida pe otik godang ditanda do Amongnami on.

Dilului ma jalan keluar.

Dapot ma hasil ni runggu i: Ikkon penjarahonon do Amongnami on. Soppat do nian lao mulak roha, alai dung manimbang sude, ditolopi hami ma rencana i. Disusun ma laporan tu polisi. Dang pola huingot hona piga pasal, alai na takkas hubege inna sahalak sian keluarga na kebetulan pengacara haruar do hata “Penganiayaan”. Polisi pe dang pola leleng mamareso laporan i, ditangkup ma Among, diboan tu penjara. Pigapiga ari ditahan, pittor naik ma kasus i tu pengadilan, diattuk hakim ma tokkokna i: Vonis 5 tahun penjara. Alana metmet dope au tikki i, dang dipaloas au mamereng proses pengadilanna. Na hubege, soppat do inna tangis Among tikki mambege vonis i, alai alani dokdok ni parmaraan na ihilalahonni kakak tu ibana sandiri dohot tu hami akka anggi-ibotona, soppat do didok kakak tikki i tu natorop na ro tu pengadilan i: “Air mata buaya itu!!!” Hohom do inna Among umbege hata i, ai sude i na binahenna do, dang adong na tinambaan manang nihurangan.

Alai goarna ma mudar, sipata lao do kakak dohot ito mandulo Among di penjara, alai molo au dohot kakak na pas di ginjanhu dua taon, dang hea dipaloas dohot. Au sandiri pe trauma do. Gabe tarboan do i tu siganup ari. Holan hubereng ama-ama na marjambang (alana marjambang do tikki i Among), tor hira na mamereng begeu manang pamangus sitakko dakdanak do au. Tor hatop do au manginsugut, tor sikkop do muse oppung na pabalgahon au  muse di jolona manghaol au. Jotjot do au manghitiri, olo sappe hir hodokhu alani biarhu. Goarna ma dakdanak boruoru, lima taon dope.

Godang ma na masa di si lima taon i. Boi hami marhosa manorushon ngolunami be. Dang marna sukkup hata mauliate dohononhu tu sude keluarga, tu Oppung Doli dohot Oppung Boru (hugoari do on mesra “Oi, boru Purba”, nikku), tu Tulang, Amanguda, sandok sude ma i naung hugoari. Mauliate. Ditambai Tuhan Debata ma pasupasuna di hamu sude.

Atik pe dang adong hepeng tikki i, alana lao Ujian Nasional kalas 3 SMA nama kakak siakkangan, marhoihoi ma hami boha ma asa sae sikkolana i. Ia itokku, ima sipaidua, kakak nomor tolu dohot kakak nomor opat, gotap ma sikkolana. Molo au tikki i dang dope sikola ai gelleng dope. Monmonon dope, olo do sipata ikkon diurupi molo lao martapian.

Ala nunga be sikkop sude akka urusan na menyangkut Among on, ro ma Oppung Doli sian huta Maranthi (Dolok Sanggul) mandulo hami. Holan dibereng hami mangan so mangan di Jakarta on, nunga marniang be sude on, pahean pe sipata so boi margatti tiap ari, dang tardokna be mangida dokdokni parngoluannami akka pahoppuna on. Hea do hubereng satokkin tangis Oppung Doli on, alai dang dipataridahon i di jolo nami. Na topet do nasopamotoanna tikki i, hubereng mangangguki ibana sasahalakna di dapur nami na 1 x 1 meter i.

Dipangidohon ma asa au dohot kakakku si nomor opat i olo mulak tu huta, asa pasikkolahonn. Soppat do nian dang olo au maninggalhon kakak dohot ito sinomor dua dohot kakak si nomor tolu, alai molo naing rap dohot nasida ikkon pamasukonna ma inna tu panti asuhan. Alai, dang huboto alani aha, biar do au tu Suster Pembina Panti Asuhan tikki i (adong dope sahat tu sadari on jongjong panti asuhan on, di Tangerang an). Alani i, huoloi ma. Mulak ma hami natolu tutu. Di huta ma au dohot kakak si nomor opat i marsikkola, goar ni sikkola i: SD Negeri 1 Sibuntuon.

Songoni ma jo. Molo adong tikki, hugorathon pe muse. Sattabi ma jolo di hamu Situan Panjaha na pinarsangapan, hubuat jolo sabukkus nai tissu. Nunga suda hupakke holan manggurathon turiturian na jempek on.

Papa, I Love You

Molo adong hamu na manjaha on partenggen, ingot hamu, asi rohamuna tu akka ito dohot edaniba i, unang pola nian taonon ni nasida na dokdok songon na hutaon on.

(Pinadenggan sian guratgurat ni Si Presta Simamora, sian kisah nyata pribadi)

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén