Legenda Sipirok – Si Bisuk Naoto dan Raja Naloak

 

Dia dipanggil si Bisuk Naoto, meskipun ayahnya memberikan namanya sebagai Mara Sonang. Dia lahir dari keluarga biasa-biasa saja, di perkampungan yang biasa-biasa saja, dan masa depannya pun, tampaknya, akan biasa-biasa saja. Cuma, dia memiliki kecerdasan luar biasa karena keluguannya.

Suatu hari si Bisuk Naoto kebelet ingin buang air besar. Dia terburu-buru berlari ke sebuah sungai. Di pinggir sungai itu, dia bertemu dengan sepasukan prajurit kerajaan. Dia tak sadar, para pajurit kerajaan berada di tempat itu bersama Sang Raja.

Saat itu, Sang Raja sedang buang air besar di sungai. Para prajurit membelakangi sungai, tak ingin melihat Sang Raja yang sedang buang hajat. Saat itulah Si Bisuk Naoto melangkah terburu-buru lewat belakang para prajurit, bergerak ke ulu sungai karena malu buang hajat dekat para prajurit.

Tiba di ulu, si Bisuk Naoto buang hajat. Malang, hajat si Bisuk Naoto melintas tepat di hadapan Sang Raja yang sedang buang hajat. Melihat kotoran manusia melintas di depannya, Sang Raja gusar bukan main. “Kurang hajar. Siapa yang berak di ulu. Cari tahu orang itu, tangkap dan hukum!” teriak Sang Raja.

Para prajurit tergopoh-gopoh ke ulu dan menemukan si Bisuk Naoto sedang buang hajat. Para prajurit menangkapnya, menyeretnya ke hadapan Sang Raja yang baru selesai buang hajat.

“Hukum orang ini!” titah Sang Raja.

Si Bisuk Naoto dipegangi dan hendak dihukum, tapi dia berhasil meyakinkan para prajurit agar menunda karena ada pesan terakhir yang ingin disampaikannya.

Salah seorang prajurit menyampaikan kepada Sang Raja bahwa si Bisuk Naoto ingin menyampaikan pesan terakhir. Sang Raja menerima, dan menyuruh prajurit membawa si Bisuk Naoto ke hadapannya.

“Apa pesan terakhirmu. Cepat katakan!” kata prajurit.

“Maaf, Baginda Raja,” kata si Bisuk Naoto. “Hamba tak merasa melakukan kesalahan apapun, kenapa Hamba dihukum.”

“Kurang hajar!” bentak Sang Raja. “Selama hidup saya, belum pernah ada orang yang berani melakukan penghinaan seperti yang kau lakukan.”

“Maaf, Baginda. Hamba yang daif ini tidak berani menghina Baginda.”

“Kau buang hajar di ulu padahal kau tahu saya ada di ilir. Apa maksudmu selain menghina saya.”

Si Bisuk Naoto mengangguk. “Oh, itu persoalannya, Baginda.” Si Bisuk Naoto menelan ludah yang terasa pahit. “Sebetulnya, Baginda, bukan maksud Hamba menghina Baginda. Sebaliknya, Hamba hanya ingin menunjukkan penghormatan Hamba. Sebagai seorang Raja, Hamba tahu kalau Baginda selalu mendapat pengawalan ekstra ketat ke mana-mana. Seluruh anggota keluarga kerajaan juga mendapat pengawalan ketat. Cuma, Hamba perhatikan, masih ada yang kurang dalam pengawalan itu.”

“Apa maksudmu?”

“Maaf, Baginda. Dalam pengamatan Hamba, kotoran Baginda yang mengalir di sungai itu belum dikawal. Makanya, Baginda, hamba berusaha bersikap baik dengan mengawal kotoran Bagianda. Hamba buang hajat di ulu agar hajat Baginda yang mengalir di sungai ada yang mengawalnya. Bukankah semua hal terkait Baginda harus mendapat pengawalan.”

Sang Raja tersenyum. “Kau benar juga.”


Dikutip sebagaimana aslinya dari tulisan Budi Hutasuhut.