DONALD HAROMUNTHE

For Those Whom I Can't Talk With

Author: Donald (Page 1 of 11)

Nusantara Mencari Ibu

“Nus, kok aku baca di timeline-nya temen2, nih pada ribut ngomongin soal Ibu? “, tanya Wongso.

“Ya iyalah. Yang mau dicari kan bukan sembarang Ibu, Wongso”, jawab Nusa sekenanya.

“Maksudnya?”, selidik Wongso.

“Dulu kita punya Ibu yang ramah bagi semua. Namanya Gaia. Tapi lalu anak-anaknya mau misah, mau cari Ibu-nya sendiri2. Ada yang milih London buat jadi Ibu. Ada lagi yang milih Moskwa, Washington, Sydney, Beijing, Seoul. Nah, dulu … waktu itu berhubung Ibu kita rambutnya pirang dan keringatnya masih bau bawang putih, namanya Batavia. Sekarang dibaptis jadi Jakarta. Ini kayaknya kita bakal dapet Ibu baru lagi”, jelas Nusa.

“Itu kok emak-emak namanya aneh-aneh. Kok bukan Endang, Markonah, Tumiyem, atau Tiurma gitu?”, tanya Wongso masih penasaran.

“Yo suka-suka kita donk. Termasuk Ibu kita yang sekarang. Denger-denger sih, Ibu kita yang sekarang, Bu Jakarta itu nggak ramah lagi, nggak ngemong lagi. Anaknya yang baik saja, si Ahok, dikurungnya. Entah salah apa dia. Makanya kita mau ganti Ibu ajalah”, timpal Nusa.

“Terus, nanti Ibu kita apa?”, susul Wongso.

Gue sih maunya Ibu RIS aja. Cuman nggak dibolehin sama Eyang Pancasila. Palingan gue ikut sama temen-temen lain aja: Palangkaraya”, ucap Nusa dengan mimik terharu biru, entah mengapa.

“Terus… Nanti Ibu baru kita si Palangkaraya itu ramah nggak?”, cecar Wongso.

“Ya tergantung. Kalau kita anak-anaknya baik, Ibu bakal ramah dan ngemong. Cuman kalau kita nakal berjamaah, ya paling kita digimbali terus dibalbali“, jelas Nusa sambil seruput kopi Khok Thong-nya yang baru saja diseduhnya.

Begitulah Diskusi singkat Nusa dan Bangsa (eh… Wongso) mencari Ibu baru.

Wizards stuck when being told to solve problems in Indonesia


Seperti dimuat di akun Facebook Saya.

Menabrak “Gunung Es”

Fenomena “Gunung Es” dalam konstelasi sosialitas masyarakat kita itu nyata.

Jika Anda pernah berlayar di lautan lalu melihat ada setumpuk tanah di permukaan dari kejauhan, kemungkinan besar ada bagian yang tak terlihat, yang jauh lebih raksasa dibanding yang Anda lihat. Jangan sekali-sekali mencoba menabrakkan perahu Anda kesana. Bisa fatal akibatnya.

Bagi yang kurang paham gunung es seperti apa, boleh kok bolak-balik lagi diktat Freud atau Freudiannya.

Kalau masih sulit juga, gampangnya, ya kayak api dalam sekam saja.

Jika Anda melihat tumpukan sekam, hangat dan mengeluarkan asap sepanjang waktu, kemungkinan besar di dalamnya ada nyala api yang sewaktu-waktu siap menunjukkan wujud aslinya jika sekam sudah dilalapnya habis: menjadi api yang merah membara.

Pelapor Kaesang yang – seperti diberitakan media antara lain Tribunnews – ternyata SUDAH ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus Hate Speech (Ujaran Kebencian).

Beberapa teman gendek.

“Kalau sebelumnya sudah tau tersangka, mengapa tidak langsung diproses? Kok membiarkan berlarut-larut hingga kasusnya membawa-bawa nama Kaesang, anak Pak Jokowi? Kalau yang dilaporkannya adalah anak pak Joko Z, tukang bakso tetangga sebelah rumah, apakah polisi juga akan menguak status tersangkanya?”

Lalu teman-teman aparat juga depressed.

“Tidak segampang itu. Memasukkan semua tersangka pasal hate speech dengan menggunakan UU ITE yang masih belum lepas dari pasal-pasal karet itu, lalu langsung memprosesnya, bisa penuh tuh register kasus di pengadilan.”

Yo wis. Berarti kelemahannya di situ: Kita kekurangan para professional di bidang penegakan hukum. Tinggal tambah saja. Tugas Negara untuk mengakomodasi proses dan prosedur dari program percepatan penambahan petugas penegakan hukum.

“Tapi masalah juga belum selesai, Bang.”

“Lho, kok?”

Kemaren saja ada tersangka yang diputus hakim dengan tuntutan melebihi tuntutan jaksa, para advokat nggak bisa buat apa-apa tuh. Sampai ada teman lulusan Hukum yang mau datang ke kampus asalnya buat unjuk rasa ke dosen pembimbing, gara-gara teori hukum yang dia pelajari tiba-tiba seperti tidak ada gunanya sama sekali.

Kalau begitu, gimana caranya memberantas kegilaan berliuk-liuk sirkuler bagai gurita penuh tentakel ini?

Ya, harus langsung ke akarnya Bang. Jika mau mencari seberapa tinggi gunung es-nya, selamilah hingga ke palung laut yang paling dalam. Moga-moga ketemu kaki gunung es-nya sebelum kamu kehabisan oksigen.

Kalau mau memadamkan api dalam sekam, siram air sebanyak-banyaknya Bang. Pastikan sampai ke bagian paling bawah dari alas tumpukan jerami itu. Kalau cuman percikin air ke rongga yang kelihatan berasap, kena jemur matahari sebentar, nanti berasap lagi. Soalnya, bara apinya masih di sana.

Owh… mai goat.

“Maksud Lo, masyarakat kita pada dasarnya memang sakit?”

Udah ah. Udah hampir jam 4 pagi. Ntar lagi Subuh, banyak syaiton berkeliaran. Kudu banyakin baca mantra buat ngusirnya.

Tolerance is Heaven for Pluralistic Society

 


As posted on my Facebook.

Lirik “Sai Anju Ma Ahu”

Aha do alana, dia do bossirna hasian
Umbahen sai muruk ho tu au ito
Molo tung adong na sala na hubaen
Denggan pasingot hasian

Molo hurimangi, pambahenanmi na tu au
Nga tung maniak ate atekki
Sipata bossir soada nama i
dibaen ho mangarsak au

Reff:

Molo adong na sala
manang na hurang pambahenan ki
Sai anju ma au, sai anju ma au
Ito hasian
Sai anju ma au, sai anju ma au
Ito nalagu

(Interlude)

Molo hurimangi, pambahenanmi na tu au
Nga tung maniak ate atekki
Sipata bossir soada nama i
dibaen ho mangarsak au

(back to Reff)


Sumber: MusikLib.Org

 

Lirik “Tabo Do Dekke Na Niura”

Tabo do dekke na niura.
Masak so pola ni loppa.
Ai tung tabo do dengke naniura.
Dengke ni Toba Holbung partobi tao i.
Ai tung tabo do dengke naniura.
Dengke ni Toba Holbung partobi tao i.

Asam hape pangaloppana.
Uram-uramna limut ni tao i.
Ai tung tabo do dengke naniura.
Dengke ni Toba Holbung partobi tao i.
Ai tung tabo do dengke naniura.
Dengke ni Toba Holbung partobi tao i.

Reff:
O Amang, o Inang.
Loas au, loas au.
Lao diririt parToba Holbung i.
Da ingkon saut na ma au maen ni Toba.
Maen ni Toba Holbung partopi tao i.
Da ingkon saut na ma au maen ni Toba.
Maen ni Toba Holbung partopi tao i.

(Interlude)

Asam hape pangaloppana.
Uram-uramna limut ni tao i.
Ai tung tabo do dengke naniura.
Dengke ni Toba Holbung partobi tao i.
Ai tung tabo do dengke naniura.
Dengke ni Toba Holbung partobi tao i.

(back to Reff)


Sumber: LirikLaguBatak.Com

Lirik “Luat Pahae”

Luat Pahae do huta hatubuan ku.
Laos disi do huta hagodanganhu.
Nungnga tung leleng hutinggalhon.
Hutakki sai huingot doi tong tong.

Tung godang pe luat na hudalani.
Sian Asia sahat ro di Junani.
Australia pe nungnga hudege.
Hutakki sai huingot doi tong tong.

Reff:

O … Luat Pahae sai tuho do lao pikkiranku.
Ro di nalao mate tung so boi tarhalupahon au.

Tung lelelng pe au diparjalangan.
Tung dao pe au dipangarottan.
Hutakki sai tong huhalungunhon.
Tu pahae sai masihol do au tontong.

(Interlude)

Tung godang pe luat na hudalani.
Sian asia sahat ro di junani.
Australia pe nungnga hudege.
Hutakki sai huingot doi tong tong.

(back to Reff)

Tung leleng pe au diparjalangan.
Tung dao pe au dipangarottan.
Hutakki sai tong huhalungunhon.
Tu Pahae sai masihol do au tongtong.


Sumber: LirikLaguBatak.Com

Lirik “My Way”

And now, the end is near
And so I face the final curtain
My friend, I’ll say it clear
I’ll state my case, of which I’m certain
I’ve lived a life that’s full
I traveled each and every highway
And more, much more than this, I did it my way

Regrets, I’ve had a few
But then again, too few to mention
I did what I had to do and saw it through without exemption
I planned each charted course, each careful step along the byway
And more, much more than this, I did it my way

Yes, there were times, I’m sure you knew
When I bit off more than I could chew
But through it all, when there was doubt
I ate it up and spit it out
I faced it all and I stood tall and did it my way

I’ve loved, I’ve laughed and cried
I’ve had my fill, my share of losing
And now, as tears subside, I find it all so amusing
To think I did all that
And may I say, not in a shy way
Oh, no, oh, no, not me, I did it my way

For what is a man, what has he got?
If not himself, then he has naught
To say the things he truly feels and not the words of one who kneels
The record shows I took the blows and did it my way

[instrumental]

Yes, it was my way.


 

Sumber: AZLyrics.Com

Lirik “Country Roads”

Almost heaven, West Virginia, Blue Ridge Mountains, Shenandoah River.
Life is old there, older than the trees, younger than the mountains, blowing like a breeze.

Country roads, take me home to the place I belong.
West Virginia, mountain mamma, take me home, country roads.

All my memories gather round her, miner’s lady, stranger to blue water.
Dark and dusty, painted on the sky, misty taste of moonshine, teardrop in my eye.

Country roads, take me home to the place I belong.
West Virginia, mountain mamma, take me home, country roads.

I hear her voice in the morning hour, she calls me, the radio reminds me of my home far away.
And driving down the road I get a feeling that I should have been home yesterday, yesterday.

Country roads, take me home to the place I belong.
West Virginia, mountain mamma, take me home, country roads.

Country roads, take me home to the place I belong.
West Virginia, mountain mamma, take me home, country roads

Take me home now, country roads,
Take me home now, country roads.


Sumber: AZLyrics.Com

Lirik “Cotton Field”

[Chorus 1:]
When I was a little bitty baby
My mama would rock me in the cradle,
In them old cotton fields back home;

[Chorus 2:]
It was down in Louisiana,
Just about a mile from Texarkana,
In them old cotton fields back home.

[Chorus 3:]
Oh, when them cotton bolls get rotten
You can’t pick very much cotton,
In them old cotton fields back home.

[Chorus 2]
[Chorus 1]
[Chorus 2]
[Chorus 3]
[Chorus 2]
[Chorus 1]
[Chorus 2]


Sumber: AZLyrics.Com

Lirik “Loving Her Was Easier”

I have seen the mornin’ burnin’ golden on the mountain in the skies
Achin’ with the feelin’ of the freedom of an eagle when she flies
Turnin’ on the world the way she smiled upon my soul as I lay dyin’
Healin’ as the colors in the sunshine and the shadows of her eyes

Wakin’ in the mornin’ to the feelin’ of her fingers on my skin
Wipin’ out the traces of the people and the places that I’ve been
Teachin’ me that yesterday was somethin’ that I’d never thought of trying’
Talkin’ of tomorrow and the money love and time we had to spend
Lovin’ her was easier than anything I’ll ever do again

Comin’ close together with a feelin’ that I’ve never known before in my time
She ain’t ashamed to be a woman or afraid to be a friend
I don’t know the answer to the easy way she opened every door in my mind
But dreamin’ was as easy as believin’ it was never gonna end

(Interlude)

Wakin’ in the mornin’ to the feelin’ of her fingers on my skin
Wipin’ out the traces of the people and the places that I’ve been
Teachin’ me that yesterday was somethin’ that I’d never thought of trying’
Talkin’ of tomorrow and the money love and time we had to spend
Lovin’ her was easier than anything I’ll ever do again

Comin’ close together with a feelin’ that I’ve never known before in my time
She ain’t ashamed to be a woman or afraid to be a friend
I don’t know the answer to the easy way she opened every door in my mind
But dreamin’ was as easy as believin’ it was never gonna end.
And lovin’ her was easier than anything I’ll ever do again.


Sumber: AZLyrics.Com

Setujukah Anda jika Gajah Mada diklaim Muslim?

Viral “GAJ Ahmada” Hoax Sejarah

Belakangan ini cukup banyak repost dan viral sebuah tulisan dengan judul MELURUSKAN SEJARAH!! (dengan tanda seru) yang justru berisi sebuah distorsi luar biasa, bahkan (jika kita cermat membaca dan membandingkan dengan manuskrip dan bentuk lain peninggalan historis Nusantara), akan kelihatan bahwa tulisan tersebut tak lebih dari dongeng menyesatkan. Tulisan tersebut berisi sebuah narasi yang pada intinya ingin mengatakan bahwa Mahapatih Gajah Mada adalah seorang sosok Muslim luar biasa yang sebenarnya bernama Gaj Ahmada.

Tak kurang dari portal-islam.id (dengan fanpage beranggotakan 210 ribuan akun menjadi konsumen dari hoax viral) yang menyebarkan hasil “penelitian” Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pengurus Daerah Muhammadiyah Yogyakarta tersebut. Silahkan dilihat di laman bersangkutan, sebelum dihapus oleh admin portal tersebut.

Dalam kaitan tersebut kita harus dapat dengan jernih melihat bahwa sejarah bukanlah dongeng yang cukup hanya dibuktikan dengan argumen otak atik matuk alias dengan nalar cocoklogi berdasarkan kemauan sendiri atau tujuan-tujuan tendensius. Masyarakat Nusantara harus cerdas dalam menangkap informasi yang tidak jelas latar kesejarahannya dengan berbagai bukti yang melingkupinya.

Viral tulisan tersebut sangat dimungkinkan didasarkan pada buku berjudul Kesultanan Majapahit ditulis oleh Herman Sinung Janutama, lulusan UMY Yogyakarta yang menulis buku tersebut tanpa didasari keilmuan selain otak-atik gathuk alias cocoklogi. Jika nama GAJAH MADA dipaksakan menjadi bahasa Arab Gaj Ahmada, pertanyaannya adalah memangnya hal tersebut dapat ditemui ada dalam prasasti, naskah kuno Negarakertagama? Atau ada dalam kitab Pararaton, Kidung Sunda, Usana Jawa? Apakah ada satu saja yg menulis Kosa Kata Jawa “Gaj” dan “Ahmada” ? Lalu apa arti kosa kata “Gaj” ? Ia merupakan kosa kata Jawa atau Arab?. Lalu apa arti dari kata Ahmada? Adakah orang Arab memakai nama Ahmada?

Dalam buku yang cenderung awur-awuran itu, penulis secara tegas menyatakan bahwa Raden Wijaya adalah dzuriyah (keturunan) Nabi Muhammad SAW dan beragama lslam. Pertanyaanya sederhana: Apa dasarnya?

Tidakkah penulis itu tahu bahwa Sanggrama Wijaya yang bergelar Kertarajasa Jayawarddhana itu saat mangkat jenazahnya dibakar dan abunya dicandikan di Simping dan Weleri? Adakah dzuriyah Rasulullah SAW yang muslim matinya dibakar?

Mari kita baca naskah-naskah Majapahit mulai Negara kretagama, Kutaramanawa Dharmasastra, Kidung Banawa Sekar, Kidung Ranggalawe, Kidung Panji Wijayakrama, Kidung Sudamala, Kakawin Sutasoma, dll, termasuk prasasti-prasasti. Adakah pengaruh bahasa Arab dalam naskah-naskah tersebut?

Tulisan Bodoh Yang Membodohkan Bangsa

Tulisan-tulisan bodoh yang tanpa dasar ilmu tentang sejarah bangsa, sepintas bisa dianggap sebagai tulisan picisan yg tidak memiliki pengaruh apa-apa terhadap sejarah mainstream bangsa lndonesia. Tapi jika tulisan “sampah” dalam keilmuan itu ditopang oleh organisasi besar dan institusi negara dan akademisi, bisa merubah eksistensi dan citra bangsa.

Jika Borobudur bikinan Nabi Sulaiman dan Majapahit didirikan orang Arab keturunan Nabi SAW, akan terdapat simpulan bahwa pribumi lndonesia itu kumpulan manusia primitif yang tidak memiliki peradaban dan kebudayaan. Bagaimana bangsa lndonesia disebut beradab jika membikin candi saja tidak becus, menunggu kedatangan Bani lsrael. Nah, jika Bani lsrael dapat membangun candi yg sangat megah di negeri seberang lautan, adakah situs bangunan candi seperti borobudur di lsrael?

Jika Majapahit didirikan oleh dzuriyah Rasul SAW, maka tentu terbukti bangsa ini primitif dan tolol sampai sampai untuk membangun sistem pemerintahan saja tidak mampu, dan harus menunggu kedatangan orang Arab yang lebih beradab dan memiliki iptek canggih.

Jika itu benar bahwa bangsa ini tolol primitif sehingga untuk membangun kerajaan saja musti menunggu kedatangan orang Arab, adakah data sejarah yg menunjuk bahwa di jazirah Arab pernah ada kerajaan nasional seluas Majapahit dengan administratif sangat canggih?

Prasasti di Gresik

Prasasti di makam Kyai Tumenggung Pusponegoro, Gresik, berangka tahun 1114 H/ 1719 M, yang dicatut dalam tulisan “Meluruskan Sejarah!!” tersebut. Disebutkan bahwa prasasti itu menunjuk Kyai Pusponegoro yang merupakan trah Majapahit tapi adalah seorang muslim yang hidup di jaman Mataram.

Bagaimana prasasti era Mataram lantas diklaim era Majapahit? Prasasti ini meski masih berbentuk Surya Majapahit yaitu logo negara Majapahit, tapi sudah mendapatkan penambahan. Menganggap prasasti ini sebagai data dan latar kesimpulan bahwa Majapahit adalah kesultanan Islam tentu merupakan kesimpulan sekenanya dan cenderung mengada-ada.

Prasasti peninggalan Kerajaan Mataram

Cocoklogi Tak Berbatas

Dasar logika “Otak-atik gathuk” sebenarnya bukan hal baru. Ia sudah digunakan misalnya dalam buku Serat Darmogandhul dan Suluk Gatoloco. Bedanya, di buku kolonial itu Bahasa Arab ditafsir menurut cocokologi bahasa Jawa, sementara dalam buku Kesultanan Majapahit bahasa Jawa ditafsir dengan bahasa Arab. Ini fenomena ilmu humor yang dapat memperkaya khazanah folklore lndonesia dan Arabia.

Kenapa ilmu cocokologi dengan nalar otak-atik gathtuk yang digunakan dalam buku Serat Darmogandhul dan Suluk Gatoloco serta Kesultanan Majapahit itu memperkaya khazanah folklore lndonesia dan Arabia? Karena logika umum dengan common sense tidak lagi digunakan, dimana logika semacam ini dapat dipandang sebagai logika alternatif khas Jawa yang muncul akibat tekanan kolonialisme Belanda yang secara sistematis membodohkan inlander.

Mari kita lihat contoh sewaktu penulis Serat Darmogandhul menafsir Al-Qur’an yang berbahasa Arab dengan nalar otak-atik manthuk bahasa Jawa:

  • “Dalikal” – Ono barang kang nyengkal.
  • “kitabula” – Kita buka.
  • “Laroibapi” – Pakaian kita kabeh.
  • “Huda” – Widi.
  • “Lilmutaqin” – Pel* kita den emutaken … ( dan seterusnya).

Begitulah tafsir cocokologi dengan nalar otak-atik gathuk yang dapat melenceng jauh maknanya dengan tafsir al-Qur’an mainstream yang disepakati. Artinya, ketika nalar otak-atik gathuk ala Salesmanship wal Gatoloco itu diterapkan dalam menafsir sejarah, kekeliruan fatal pasti terjadi karena dasar logika yang digunakan cenderung sak karepe dewe (semaunya sendiri).

Sekarang mari sejenak kita uji penafsiran nama Gajah Mada dengan ilmu cocokologi dengan nalar otak-atik gathuk yang menetapkan nama itu berasal dari kata Fatih Haji Ahmada yang berubah menjadi Patih Gaj Ahmada yang bermakna “Patih Haji Ahmada Sang Penakluk”

Sejak kapan nama Patih Gaj Ahmada digunakan? Dalam sumber prasasti, kronik, naskah kidung, atau dongeng lisan apa sekali pun nama superaneh itu digunakan?

Jawabnya:

Nama “Gaj Ahmada” untuk kali pertama digunakan oleh Herman Sinung Janutama dalam buku “Kesultanan Majapahit”.

Sebelum itu, belum pernah ada satu manusia pun yang menulis dan menafsirkan tokoh “Rakryan Mahpatih Amangkubhumi Pu Gajah Mada” dengan nama “Patih Gaj Ahmada”.

Gajah Mada yang patungnya dirias untuk memberi kesan seakan ia adalah ulama Muslim, tepat dengan nama pelintirannya Gaj Ahmada

Pertanyaan penting yang bisa kita jawab bersama ialah: Setujukah Anda jika Gajah Mada diklaim Muslim? Jika tidak setuju, bantu teman-teman yang lain untuk ikut menyuarakan versi yang benar.


Dikompilasi dan disunting seperlunya dari halaman LESBUMI

Page 1 of 11

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén