CINTA, PUISI, NADA, BUNGA

Tetralogi Agung: CINTA -PUISI – NADA – BUNGA

Cinta adalah sebuah perasaan yang unik. Setiap orang dengan jiwa yang sehat memilikinya, dan masing-masing memiliki cara untuk mengungkapkannya.

Ada yang mengungkapkannya berupa kata-kata lewat puisi. Tak cukup dengan kata-kata, digabungkannya dengan nada. Jadilah puisi digubah lagu. Jangan lupa, sejatinya lagu adalah puisi yang dinyanyikan.

Ada juga yang suka mengungkapkannya melalui bunga.

Bagaimana kalau ketiganya digabungkan?

Voila! Jadilah lagu tentang bunga.

Bagi si penggubah tentu saja ia berharap, alamat lagu tersebut memahami betapa dalamnya rasa cinta yang dimiliki. Bagaimana tidak, ia tidak mau menjadi perayu medioker (setengah-setengah) yang hanya memilih salah satu dari ketiga instrumen di atas. Ia menggabungkan ketiganya.

Simbologi bunga sangat padat. Seakan menjadi simpul dari sebuah tetralogi agung bagi jiwa-jiwa yang memuja romansa. Karena padatnya, kerap kata-kata dan uraian tak cukup menggambarkannya secara akurat. Namanya juga afeksi ya kan. Penjelasan ilmiah nan runtut tidak selalu jadi jawaban. Bahasa simbol yang sederhana dan mengena, lebih sering menjadi jawabannya. Konon itulah alasan mengapa simbologi dan ikonografi menjadi abadi dalam ingatan manusia.

Tampaknya hal ini disadari oleh banyak musikus sehingga bertebaran lagu tentang bunga.

Berikut ini beberapa lagu bagus dengan lirik Bahasa Indonesia. Masih ada banyak lagu lain tentang bunga, tapi Saya kurang suka.

Kok?

Ya tidak apa-apa. Namanya juga selera. Ya kan?

Oh, iya. Saya sendiri lebih suka dengan lagu dibanding bunga. Tidak tahu mengapa. Barangkali karena memang tidak terbiasa saja dengan bunga.


Rommy Sangka – Bunga

Setelah pertemuan itu
Perasaan hati beda
Tak sadar terpikat cintamu
Walau hanya bisa kusimpan

Mengingatmu tak ada habisnya
Memikirkanmu karena kusuka
Bayang wajahmu s’lalu kurindu
Mungkinkah ‘kan terulang kisah kita?

Belum sempat aku katakan
Sampai saat kita berpisah
Engkau bagaikan bunga
Menebarkan harummu

Baru sekali ku berjumpa
Dirimu yang terindah
Engkau bagaikan bunga
Meruntuhkan hatiku

Tak sadar terpikat cintamu
Walau hanya bisa kusimpan

Mengingatmu tak ada habisnya
Mungkinkah ‘kan terulang kisah kita?

Belum sempat aku katakan
Sampai saat kita berpisah
Engkau bagaikan bunga
Menebarkan harummu

Baru sekali ku berjumpa
Dirimu yang terindah
Engkau bagaikan bunga
Meruntuhkan hatiku

Huuu …
Huuu …


Thomas Arya – Bunga

Merana kini aku merana

Kekasih tercinta entah ke mana

Sendiri kini ‘ku dibalut sepi

Tiada tempat ‘tuk bercurah lagi

Di mana kini entah di mana

Bunga impian yang indah di mata

Kurindu tutur sapamu nan manja

Saat kau barada di sisiku

Kini tinggal aku sendiri

Hanya berteman dengan sepi

Menanti dirimu kembali

Di sini kuterus menanti

Akan kucoba untuk

Menanti dirimu, kekasih

Oh bunga

Di mana kini kau berada

Jangan biarkan diriku

Dalam keseorangan

Oh bunga

Jangan kau gores luka di dada

Sungguh diriku takkan kuasa

Campakkan kenangan

Ho ho ho …

O-oh bungaku

Ho ho ho …

O-oh bungaku

Merana kini aku merana

Kekasih tercinta entah ke mana

Sendiri kini ‘ku dibalut sepi

Tiada tempat ‘tuk bercurah lagi

Di mana kini entah di mana

Bunga impian yang indah di mata

Kurindu tutur sapamu nan manja

Saat kau barada di sisiku

Kini tinggal aku sendiri

Hanya berteman dengan sepi

Menanti dirimu kembali

Di sini kuterus menanti

Akan kucoba untuk

Menanti dirimu, kekasih

Oh bunga

Di mana kini kau berada

Jangan biarkan diriku

Dalam keseorangan

Oh bunga

Jangan kau gores luka di dada

Sungguh diriku takkan kuasa

Campakkan kenangan

Ho ho ho …

O-oh bungaku

Ho ho ho …

O-oh bungaku

Ho ho ho …

O-oh bungaku

Ho ho ho …

O-oh bungaku

 


Boomerang – Bungaku

Bungaku, kudengar panggilmu
Bungaku, aku pun rindu
Maafkan ‘ku harus pergi
Mengejar semua mimpi yang berarti

Cobalah ‘tuk hayati artimu
Tiada yang dapat menggantikan
Hadirmu

Jalani dan jangan bersedih
Hapuslah air matamu
Lepaskan risau hatimu
Pastikan semua mimpi ‘kan berarti

Hayati penting artimu bagiku
Bintang pun tak dapat menggantikan
Hadirmu

Kembali kudengar panggilmu
Bungaku, aku pun rindu
Maafkan ‘ku harus pergi
Bungaku, aku pun rindu

Bungaku, aku pun rindu
Bungaku, aku pun rindu


Koes Plus – Bunga di Tepi Jalan

Suatu kali kutemukan
Bunga di tepi jalan
Siapa yang menanamnya
Tak seorang pun mengira
Bunga di tepi jalan
Alangkah indahnya
Oh, kasihan
‘Kan kupetik sebelum layu

Di sekitar belukar
Dan rumput gersang
Seorang pun tak ‘kan mau
Memperhatikan
Biarlah ‘kan kuambil
Penghias rumahku
Oh, kasihan
‘Kan kupetik sebelum layu

Di sekitar belukar
Dan rumput gersang
Seorang pun tak ‘kan mau
Memperhatikan
Biarlah ‘kan kuambil
Penghias rumahku
Oh, kasihan
‘Kan kupetik sebelum layu

Meski lagu aslinya diciptakan oleh Koes Plus, tapi versi Sheila on 7 ini terdengar lebih merdu di telinga


Bebi Romeo – Bunga Terakhir

Kaulah yang pertama
Menjadi cinta tinggallah kenangan
Berakhir lewat bunga seluruh cintaku untuknya

Bunga terakhir
Ku persembahkan kepada yang terindah
Sebagai satu tanda cinta untuknya

Bunga terakhir
Menjadi satu kenangan yang tersimpan
Takkan pernah hilang ‘tuk selamanya
Ohh

Betapa cinta ini
Sungguh berarti tetaplah terjaga
Selamat tinggal kasih ‘ku telah pergi selamanya

Bunga terakhir
Ku persembahkan kepada yang terindah
Sebagai suatu tanda cinta untuknya

Bunga terakhir
Menjadi satu kenangan yang tersimpan
Takkan pernah hilang ‘tuk selamanya

Kaulah yang pertama
Menjadi cinta tinggallah kenangan
Berakhir lewat bunga seluruh cintaku untuknya
Ohh-uwo

Bunga terakhir
Ku persembahkan kepada yang terindah
Sebagai satu tanda cinta untuknya

Bunga terakhir
Menjadi satu kenangan yang tersimpan
Takkan pernah hilang ‘tuk selamanya


Dewa 19 – Bunga

Begitu banyak bunga ditamanku
Slalu menanti saat untuk dipetik
Ada yang merah dan ada yang putih
Kuning dan ungu
Beragam warnanya
Beragam warnanya

(Chorus):
Tuhan tolonglah aku
Beri satu petunjuk
Aku ingin bahagia
Berikanlah yang indah
Untuk diriku ini
Untuk slama – lamanya
Satu bunga yang indah
Satu bunga yang indah

Mama papa mohon nilai rangkaian
Rangkaian bunga aku mohon restumu
Bila nanti ada yang tak berkenan
Katakan saja aku slalu mendengar

(Chorus)

Banyak bunga layu sebelum berkembang
Ada yang terindah tapi wanginya tak slalu
Seindah bentuknya malah mungkin durinya
Menusuk hatiku lukai cintaku
Tapi kuyakin nanti ada satu untukku
Harumi hari mengharumi hari

(Chorus 2x)


Slank – Mawar Merah

Memang ku tak mampu belikan dia perhiasan … tak pernah
Atau memberi kemewahan

Tapi kuyakin dia bahagia
Tanpa itu semua…

Walau memang dirimu bernasib baik … bapak lo kaya
Yang selalu kau andalkan untuk mendapatkannya

Percuma kau dekati dia
Karena cintanya pasti untukku

Aya ya ya… simpan saja uangmu
Aya ya ya . …bawa pergi mercy mu
Aya ya ya … Enyahlah dari bunga mawarku
Aya ya ya… Enyahlah dari mawar merahku …
Karena dia milikku

Memang penampilanku, juga rupaku Slengean
Memang cara hidupku tak teratur pengangguran (kata orang sih!)

Tapi ku yakin dia bahagia

karena dia mawar merahkuuu

 


Bunga secara umum ternyata sudah menjadi simbol yang sudah tua untuk mengungkapkan cinta. Terutama mawar merah, bahkan sudah tercatat pada ikonografi Yunani Kuno dan Romawi Kuno.

Mawar Merah selalu diasosiasikan dengan Dewi Cinta yaitu Aphrodite (Yunani) atau Venus (Romawi).

Pada fase awal perkembangan Kekristenan, simbol bunga mawar merah melekat dengan keutamaan Bunda Maria.

Selanjutnya, si penyair Inggris zaman babon, yakni Shakespeare, ikut pula meneruskan kebiasaan itu. Bahkan menjadikannya sebagai standar puitis. Diikuti pula oleh penyair berikutnya semacamĀ Gertrude Stein.

Begitulah bunga mawar merah mewakili bunga-bunga lain sebagai simbol puncak untuk melukiskan perasaan cinta yang sungguh-sungguh.

Oh iya.

Kamu, pernahkah merasakan cinta yang sangat mendalam sampai tak mampu kamu curahkan dalam kata-kata?

Kalau iya, sudah saatnya kamu juga mencipta lagu tentang bunga.

 

Facebook Comments

Published by

Donald

Penyanyi dan para pemusik itu tampil memukau di hadapan raja dan tamu undangan. Suguhan lagu mereka melengkapi jamuan makan dan minuman, omong kosong serta sopan santun sebagaimana layaknya perjamuan manusia. Raja puas. Ia tidak jadi memenggal kepala para seniman itu. Malah, ia menepati janjinya dan membayar mereka dengan upah yang lebih dari sekedar ongkos pulang dan dengan sumringah menemui istri dan anak yang menunggu di rumah. Demikianlah seniman melengkapi gizi rohani bagi para penguasa dan pekerja, yang seharian lelah dengan pekerjaan manusia. Kerap, seniman memang lain dari manusia biasa.

Komentar