Curhat Penulis Sukses yang Dulu Suka Menunda-nunda

I was a great procastinator.

Pertama kali Aku menulis, tepatnya berupaya menulis, itu Aku mulai sejak 15 tahun yang lalu. Sekarang 2021, berarti saat itu tahun 2006. Aku punya ide. Pakai komputer, Aku tulis halaman pertama. Habis itu, kusimpan. Tak pernah dilanjutkan lagi.

Habis itu, ada ide lagi, kucoba menulis lagi. “Oh, ini berbeda dengan yang sebelumnya”. Satu paragraf, kusimpan. Tidak kulanjutkan.

Terus, kemudian Aku ada ide lagi. “Bagus nih idenya”, pikirku waktu itu. Lalu, dua tiga tiga paragraf selesai. Tapi masih belum lengkap gagasannya. Jadi, belum selesai. Aku simpan lagi. Alhasil, Aku punya  beberapa folder yang isinya entah sudah berapa file Microsoft Word, Wordpad atau Notepad. Jumlahnya sudah tak bisa kuhitung lagi. Itu semua calon naskah buku yang tidak pernah selesai.

Pernah terjadi dengan kamu? Kalau iya, kamu sama denganku.

Komitmen Selesai

Itulah proses yang kita lalui saat kita belum punya sebuah komitmen kuat untuk menuntaskan. Kata yang paling penting disini ialah tuntas. Menuntaskan.

Semua orang punya ide menulis. Banyak orang mungkin sudah mulai menulis saat ini. Mungkin ada yang sedang menulis. Tapi kalau bicara menuntaskan, itu hal berbeda.

Pada akhirnya, pertama kali Aku menulis hingga selesai jadi buku, yang kulakukan waktu itu sebenarnya satu saja, yakni: mengkomitmenkan selesai.

Aku dibantu oleh seorang guru waktu itu. Aku dibimbing, diingetin, diajak ketemu. Diajak ngobrol, “sudah sampai dimana?” Terus begitu. Aku diikuti. Pelan-pelan. Hingga akhirnya selesai.

Kuingat-ingat sekarang, yang terjadi waktu itu adalah aku menulis sedikit saja tiap hari. Sedikit sedikit, lama-lama selesai. Dan itu baru bisa terjadi setelah dikomitmenkan selesai dari awal. Jadi, bukan hanya komitmen memulai ya, tapi komitmen selesai.

Tetapi komitmen selesai ini tidak bisa jalan kalau hanya di mulut. Karena ternyata saat kita mulai melakukan, banyak tantangan terjadi. Kita dituntut lebih mandiri karena situasi yang terjadi adalah: kita terkendala dengan yang namanya waktu. Maka, kutekadkan: Pantang tidur sebelum selesai. Pantang pulang dari tempat biasa ngopi sambil ngetik di laptop sebelum menyelesaikan apa yang ditargetkan hari itu. Akhirnya selesai. Terbit.

Aktifitas fisik yang kulakukan ini ternyata mempengaruhi pikiranku juga. “Tulis, tulis, tulis“, itu selalu yang terpaku dalam pikiran.

Menulis Itu Tidak Bisa Menggunakan Waktu Luang

Jadi, menulis itu memang tidak bisa menggunakan waktu luang. Salah kalau orang berkata: “Aku nulis hanya kalau ada waktu luang” (Kalaupun tak sepenuhnya salah, biasanya tulisannya tak akan pernah selesai. Atau selesai tapi tak pernah berani diterbitkannya karena gagasannya belum dituangkan secara utuh).

Atau, ada orang berkata, “nanti aja deh kalau misalnya kalau Aku sudah nggak sibuk. Kalau sudah selesai semua urusan.” Yang ada, kalau sudah selesai semua urusan, capek, lalu tidur. Kemudian ada bisikan-bisikan “besok aja deh“. Begitu tiba besok? Sama sibuknya.

Maka, menulis itu memang dikomitmenkan. Menulis setiap hari. Tidak menunggu waktu luang, tapi menyediakan waktu luang. Semua itu ada konsekuensinya, ada harga yang harus dibayar. Ada waktu yang dikorbankan. Mengorbankan waktu istirahat, waktu ketemu teman, bahkan mengorbankan waktu untuk sekedar duduk sejenak, minum kopi lalu menghisap sebatang rokok. Lebih efektif lagi, mengurung diri di ruang kerja. Yang tak ditinggalkan hanya makan, berdoa, dan kencing serta berak.

Jadi, komitmen dari awal bahwa ini harus selesai. Meluangkan waktu, menyediakan waktu, bukan menunggu waktu luang.

Disanalah terletak kunci paling dasar, dimana naskah kita akan selesai.


Ini curhat dari seorang penulis sukses, yang tak berkenan disebutkan namanya. Aku pun baru berani menarik gelas kopi dan menghisap rokok setelah menyelesaikan tulisan ini.

Facebook Comments

Published by

Donald

Penyanyi dan para pemusik itu tampil memukau di hadapan raja dan tamu undangan. Suguhan lagu mereka melengkapi jamuan makan dan minuman, omong kosong serta sopan santun sebagaimana layaknya perjamuan manusia. Raja puas. Ia tidak jadi memenggal kepala para seniman itu. Malah, ia menepati janjinya dan membayar mereka dengan upah yang lebih dari sekedar ongkos pulang dan dengan sumringah menemui istri dan anak yang menunggu di rumah. Demikianlah seniman melengkapi gizi rohani bagi para penguasa dan pekerja, yang seharian lelah dengan pekerjaan manusia. Kerap, seniman memang lain dari manusia biasa.

Komentar