Gong Xi Fa Cai

Di sebuah acara kumpul-kumpul menjelang Imlek …

Ko Ahai, Ko A Len, Ko A Wen dan Ko A Djo reuni makan-makan di restoran, sambil ngebir. Mereka ngobrol dari sandal jepit sampai bakiak pasar.

Karena kantung kemih sudah penuh Ko Ahai pamit untuk buang air! Saat itu terjadi pembicaraan yang serius.

Ko A Len: Bagaimana bisnis anakmu, Ko A Wen?

Ko A Wen: Sekarang anakku sudah jadi bos. Pabriknya ada 2 buah. Tapi, Saya bapaknya gak pernah dibelikan apa-apa. Eh, pas kemarin pacarnya ‘Kay’ ulang tahun dibeliin BMW seri 7 baru. Lagian No Polisi pakai namanya “K4Y”, coba Lu pikir ngeselin nggak?

Ko A Djo nyela: Lha anakku sekarang sudah jadi direktur perumahan. Rumah bapaknya sudah doyong dibiarkan aja. Tapi waktu kemarin pacarnya ulang tahun dibelikan rumah mewah di Kota Wisata.

Ko ALen: Anakku lebih parah lagi. Jadi pialang saham. Sekali dapat komisi saham Cepek Nopek Tiuw, tapi saya ini nggak pernah 1 sen pun dikasih duit, tapi waktu pacarnya ulang tahun, dikasih Deposito 500 juta.

Ko Ahai balik dari WC sambil benerin risluiting celana barunya, nyeletuk: Lagi nyeritain apa sih? Serius banget!

Ko A Len: Ini lho, pada nyeritain anak-anak kita. Anak Ko Ahai gimana?

Ko Ahai: Anakku satu satunya, tapi payah, berharap dia bisa jadi ABRI, eh malah jadi bencong. Tapi meskipun bencong, dia tetap anakku. Apalagi nasibnya bagus, anaknya baik dan pergaulannya luas, serta dicintai teman-temannya, diapun sayang bapaknya. Setiap dapat rejeki, saya pasti diberi. Kemarin pas di hari ulang tahun dia, ada temannya yang ngado BMW pakai No Pol K 4 Y seperti nama panggilannya, ada yang ngasi rumah di Kota Wisata, dan deposito 500 juta. Mengharukan. Katanya semua itu buat saya saja, dia tetap lebih senang bisnis restoran saja.

Geduaaabruuuuk !!!
Ko A Len, Ko A Wen, Ko A Djo jatuh pingsan …

Facebook Comments

Published by

Donald

Penyanyi dan para pemusik itu tampil memukau di hadapan raja dan tamu undangan. Suguhan lagu mereka melengkapi jamuan makan dan minuman, omong kosong serta sopan santun sebagaimana layaknya perjamuan manusia. Raja puas. Ia tidak jadi memenggal kepala para seniman itu. Malah, ia menepati janjinya dan membayar mereka dengan upah yang lebih dari sekedar ongkos pulang dan dengan sumringah menemui istri dan anak yang menunggu di rumah. Demikianlah seniman melengkapi gizi rohani bagi para penguasa dan pekerja, yang seharian lelah dengan pekerjaan manusia. Kerap, seniman memang lain dari manusia biasa.

Komentar