Insta-Famous

Apa itu Insta-Famous?

Insta-famous atau Selebgram bukanlah aktor, aktris, musikus(i), atau anak dari tokoh partai politik atau penguasa di pemerintahan. Mereka adalah remaja pengguna Instagram yang menangkap peluang untuk menjadi “famous” (terkenal), punya tempat tersendiri (fame) di hati para follower-nya.

Selain dari akun-akun Instagram yang nyerempet-nyerempet ke pertunjukan keindahan atau kejelekan tubuh dan aksi visual ekstrem (yang entah mengapa masih menjadi pemeringkat atas di antara akun-akun yang ada), akun-akun Insta-famous ini menyadari bahwa selain TV, Radio atau Suratkabar, media sosial terutama Instagram telah menyediakan panggung baru bagi mereka. Panggung yang selama ini hanya bisa dimiliki oleh para artis atau selebritis papan atas yang didapatkan dengan susah payah dan dedikasi bertahun-tahun.

Bahkan jebolan kontes seperti Indonesian Idol, Akademi Fantasi Indonesia, atau comic lulusan Stand Up Comedy saja belum tentu sampai di panggung serupa dan memperoleh fans loyal. Ratusan alumni dari tiga kontes TV terbesar tadi, coba saja cek sendiri, berapa persen yang hari ini masih mendapat tawaran untuk nongol di layar TV.

Tanyalah @dijjah_yelloww yang entah mendapat ilham dari mana, foto dan video singkatnya telah berhasil menjadikannya salah satu akun “dari tak dikenal menjadi tenar” di hati 182 ribu lebih pengguna Instagram Indonesia. Lebih dari separuh jumlah follower di akun Ahmad Dhani, bos Republic Cinta Management yang dulu musiknya mengisi masa-masa SMP dan SMA saya, tetapi kini harus berjuang menanggung konsekuensi dari lirik lagunya ” … Atas nama cinta saja, jangan bawa nama Tuhan …“. Akun dari sebuah band musik indie  barangkali memerlukan kampanye konsisten bertahun-tahun untuk mendapatkan jumlah follower serupa.

Camera dan Aplikasi Instagram – Dua Sejoli Tak Terpisahkan

Lantas apa yang didapat dari banyaknya jumlah follower itu? Jika Anda orang advertising (periklanan) atau setidaknya memahami prinsip dasar marketing, Anda akan segera tau bahwa jumlah follower itu berbanding lurus dengan kesempatan untuk mendapatkan tawaran iklan, endorsement, jual-beli akun, kampanye politik, brand campaign,  dan sejenisnya. Pundi-pundi uang pun mengalir sederas jumlah pesanan ke akun mereka.

Penting dicatat, kesempatan loh ya. Sebab kesempatan dan hoki (luck atau keberuntungan) adalah resep dasar dari kesuksesan menurut ukuran yang berlaku umum. Praktisnya, jika Anda punya teman yang mempunyai puluhan ribu pengikut di media sosial, dengan segmentasi yang baik, meminjam akun tersebut untuk memasarkan produk terbaru usaha Anda jauh lebih efektif dan hemat dibandingkan mencetak selebaran yang hanya akan dibuang di jalan raya begitu orang melihatnya sekejap, menimbulkan sampah di sepanjang jalan pula.

Insta-famous = Instant fame?

Smartphone, Creativity, Leisure Time, Extreme Selfie Mood adalah paduan sempurna bahan mentah bagi para wannabe-insta-famous ini.  Sempurna karena para penggila Instagram ini memiliki atau bisa mengusahakan keempatnya. Dengan bermodalkan kocek 700 ribu mereka sudah bisa membawa pulang sebuah Evercross baru yang sudah berteknologi android. Dengan beragam trik dan tips yang bisa mereka browsing dari Google dan Youtube, mereka bisa belajar menjepret foto atau merekam video berdurasi singkat yang bakal menarik mata orang. Dengan kesibukan mereka yang tergolong lebih ringan dibanding angkatan pekerja (umumnya mereka adalah para pelajar sekolah lanjutan atau sedang kuliah). Soal mood untuk ber-selfie-ria, rasanya tak perlu ditanya lagi. Bahkan saat berbuka puasa pun, durasi waktu untuk berswafoto lebih besar ketimbang silaturahmi yang umum dimengerti orang

Orangtua atau kaum dewasa yang masuk Generasi X (baby boomer) dan Y (millenial) awal barangkali adalah kaum yang paling jengkel dengan begitu banyaknya adegan selfie dan sesi fotografi tanpa henti yang dilakukan oleh kaum muda sekarang dengan konsistensi tanpa henti. Remaja usia belasan dan dua puluhan tahun yang lebih khawatir kalau foto terakhir acara makan bersama mereka tidak diposting di Instagram ketimbang tugas sekolah atau kuliah yang tidak sempat mereka kerjakan.

Jika demikian, benarkah nasihat lama “Instant Result isn’t the same as you play in ‘normal’ way” tidak berlaku lagi? Apakah “hasil tidak pernah menghianati proses” tidak relevan lagi? Singkatnya, apakah Insta-famous (selebgram) sama dengan Instant-famous (mendadak terkenal, tetapi cepat pula dilupakan)?

Tidak.

Insta-famous pada hemat Saya ada dua jenis.

Pertama, Insta-famous sejati. Mereka adalah pengguna Instagram yang justru melewati proses, meski tanpa dahi berkerut dan argumentasi panjang dan tumpukan kertas kerja di tong sampah. Ingat.

Mereka bukanlah aktor dan selebritis yang saban hari wajahnya nongol di layar televisi. Tanpa promosi yang konsisten baik secara online maupun dengan WoM (word of mouth), semenarik apapun postingan mereka tidak akan dilirik atau dikenal orang jika mereka tidak bergerak mencari follower. Mereka juga bukan anak konglomerat atau penguasa yang dengan uang dan pengaruh yang mereka miliki bisa saja “membeli” sejumah follower.

Mereka berlatih menjepret wajah yang fotogenik. Mereka mencoba berbagai sensasi gaya dalam berpose (sampai ada yang bela-belain berfoto di tepi jurang atau di depan mulut buaya yang menganga menunggu mangsa, oh mai goat). Tidak sedikit yang melatih kepekaan mata mereka terhadap estetika dari visualitas benda-benda di sekitar mereka, entah asli entah dengan editan, melalui proses yang juga tidak semudah dan secepat membalikkan telapak tangan.

Mereka juga ramah dan tidak pelit untuk singgah di akun sesama mereka.  Mereka belajar caranya memilih angle foto dan lighting yang benar. (Yang terakhir ini saya baru tahu sedikit-sedikit setelah ngopi bareng dengan @adi.belek, @elleanor,dan @thebridestory).

Pengguna akun dengan konsistensi seperti ini memang layak mendapatkan puluhan ribu follower setia, fans yang loyal. Mereka menjelma menjadi leader-leader baru. Lewat tulisan, foto dan video mereka menjadi influencer yang ampuh, penyampai nilai (value) dan opinionator yang suaranya (voice) pantas didengarkan.

Insta-famous “Parhuta-huta”

Ada lagi insta-famous jenis yang kedua. Saya menyebutnya Insta-famous “parhuta-huta” (kampungan). Golongan ini umumnya pemilik akun instagram yang memperoleh ribuan follower dalam sehari tetapi esoknya bisa di-unfollow oleh ribuan orang juga. Betapa tidak. Mereka ini menggunakan dan menghalalkan segala cara “hanya” demi meraup angka follower. Tentu saja dengan harapan mendapatkan kesempatan seperti di atas. Norak, kampungan, tidak punya etika dan etiket.

Akun-akun ini, selain menyerempet dengan visualitas seksualitas yang melampai norma yang berlaku umum, tidak segan pula mengedit tulisan, foto atau video dari figur publik dengan sengaja memelintir maksud asli dari tulisan, foto atau video tersebut. Tak jarang mereka mengadu domba para pengunjung Instagram yang iseng melihat apa yang baru. Selain gosip terhadap kaum celebrity, diskriminasi SARA (suku, agama, ras dan antargolongan) adalah favorit mereka. Mereka tahu benar bagaimana caranya menyulut kebencian tetapi tidak meredam amarah. Mereka sangat mengerti bagaimana caranya melebih-lebihkan kekurangan dari seorang figur publik, kadang bahkan teman dekat atau keluarga sendiri.

Memang tidak sedikit di antara mereka yang berhasil dari jerat kontrol sosial dari masyarakat pengguna media sosial Instagram yang meskipun tanpa rambu-rambu yang jelas tetapi toh tetap ada, “mengadili seseorang berdasarkan perilakunya”, akhirnya juga meraup rupiah dari sana.

Pengguna akun jenis ini sebenarnya tidak layak mendapatkan puluhan ribu follower. Tak heran, para follower mereka juga lama-kelamaan sadar bahwa mereka mencari display picture yang menarik, bukan disgusting picture yang membuat mereka muak.  Pada titik ini, perlahan tidak ada lagi yang mengikuti dan mengkonsumsi konten yang mereka suguhkan. Sebab sesungguhnya mereka bukanlah leader-leader, melainkan para oportunis rakus yang dengan licik mengeksploitasi para follower mereka secara pikologis. Mereka bukan influencer yang baik, mungkin masih opinionator yang didengarkan untuk sementara waktu, tetapi akan ditinggalkan orang, cepat atau lambat, karena hanya mengejar traffic, dan menimbulkan kebisingan (noise) saja.

Sick people post sick content on their Instagtam

Tak heran, tetapi tidak sedikit pula yang karena serakahnya, tetap nekat menggunakan cara kampungan (semacam black hat SEO untuk kalau di promosi website), mengunggah konten yang jelas-jelas bertentangan dengan hukum dan kesusilaan, akhirnya harus berhadapan dengan aparat penegak hukum. Mereka memang masih famous (terkenal), tetapi tidak dengan cara seperti yang mereka inginkan.

So, tidak perlu khawatir. Entah di Instagram atau media sosial lainnya, entah di dunia maya atau dunia nyata, stay calm saja: Hasil tidak pernah menghianati proses.


Oh iya. Bagi para pembaca yang juga wannabe-insta-famous seperti saya, tidak kalah pentingnya, tidak perlu malu untuk follow Instagram saya di @donaldharomunthe. Kalau mood saya lagi baik, yang sudah follow akan saya follow back. Hahaha.

Facebook Comments