Istilah Umum dalam Film dan Screenwriting

Dear warga BOEMI,

Pernah nggak sih saat saat ngomongin film dengan teman kamu, atau ketika mendengar ceramah dan celoteh alias penjelasan dari guru Seni Budaya, kamu tidak mengerti dengan istilah-istilahnya?

Pasti dalam hati kamu jadi malu. Apalagi kamu jadi tidak bisa mengikuti pembahasan topiknya. Belum lagi kalau ternyata nanti istilah itu masuk ujian, kebayang betapa repotnya kamu nanti.  Kalau kamu pernah mengalami hal tersebut, berarti istilah-istilah dalam dunia film dan penulisan skenario ini wajib kamu simak dan pahami.


1. Sekuel

Sekuel itu berarti kontinuitas cerita dari sebuah film yang pernah dibuat sebelumnya. Contoh: Transformer 2 merupakan sekuel cerita dari Transformer yang pertama; Dilan 1991 adalah sekuel dari Dilan 1990.

Meskipun demikian, sekuel tidak harus selalu merupakan kelanjutan dari film sebelumnya. Yang penting judul, tokoh dan asal usulnya masih satu benang merah dengan film pendahulunya. Untuk konteks Marvel, misalnya, sekuel ini bisa sangat banyak sampai harus dibagi lagi menjadi beberapa phase (fase).

Marvel sejak awal hingga sekarang sudah menyelesaikan deretan film berikut.

Captain America: The First Avenger (1942)
Captain Marvel (1995)
Iron Man (2010)
Iron Man 2 (2011)
The Incredible Hulk (2011)
Thor (2011)
The Avengers (2012)
Iron Man 3 (2012)
Thor: The Dark World (2013)
Captain America: The Winter Soldier (2014)
Guardians of the Galaxy (2014)
Guardians of the Galaxy 2 (2014)
Avengers: Age of Ultron (2015)
Ant-Man (2015)
Captain America: Civil War (2016)
Spider-Man: Homecoming (2016)
Doctor Strange (2016-2017)
Black Panther (2017)
Thor: Ragnarok (2017)
Ant-Man and the Wasp (2017)
Avengers: Infinity War (2017)
Avengers: Endgame (2018-2023)
Spider-Man: Far From Home (2023)

2. Prekuel

Berbeda dengan sekuel, prekuel adalah persis kebalikannya. Prekuel merupakan cerita asal usul yang melatarbelakangi kejadian film yang sebelumnya.

Contohnya: Monster University (terbit belakangan) yang menceritakan kejadian sebelum terjadinya Monster Inc. (terbit duluan).

Contoh lainnya: Trilogi The Hobbit (terbit belakangan) yang menceritakan kejadian di masa sebelum Lord of the Rings (terbit duluan).

3. Remake

Remake itu artinya dibuat ulang.  Jadi, sebuah film yang di-remake itu adalah penceritaan kembali sebuah film baik dirombak total atau masih menyerupai aslinya, namun tetap memiliki benang merah dengan film sebelumnya.

Contohnya: Internal Affairs, yang dibuat ulang menjadi The Departed. Contoh lainnya: Warkop DKI, di-remake menjadi Warkop DKI Reborn: Djangkrik Boss (part 1) dan Warkop DKI Reborn: Djangkrik Boss (part 2). Bahkan, karena antusiasme penonton sangat besar, versi remake ini dibuat lagi sekuelnya menjadi Warkop DKI Reborn: Djangkrik Boss (part 3) dan Warkop DKI Reborn: Djangkrik Boss (part 4).

4. Reboot

Istilah reboot sebetulnya tidak terlalu berbeda dengan remake dalam dunia perfilman. Umumnya disepakati bahwa reboot itu biasanya tidak berbeda cerita dalam pembuatan antara versi pertama dan versi kedua (versi reboot). Jadi, hanya diproduksi ulang untuk menghidupkan karakter dengan kondisi yang lebih fresh sesuai dengan perkembangan zaman.

Contohnya:  Fantastic Four dan Hitman Agent 47.

5. Spin Off

Spin off merupakan film yang dibuat untuk secara khusus menceritakan suatu kejadian yang dialami sebuah karakter yang memiliki fanbase sendiri. Spin off ini adalah film pribadi seorang karakter yang memiliki perhatian yang besar dalam dunia perfilman.

Contohnya: X-Men Origins: Wolverine dan Minions.

6. Twist

Twist didalam sebuah film itu adalah sebuah ending atau alur cerita yang tidak terduga oleh penonton dan biasanya juga tidak mempunyai clue/hint (petunjuk)  sama sekali di cerita sebelumnya.

7. Trilogy

Trilogi merupakan film yang dibuat hanya sampai 3 bagian saja dan tidak ada kelanjutannya lagi Stars.

Contohnya: Batman, Spiderman, Lord of The Rings dan The Hobbit.

8. BCU (BIG CLOSE UP)

Pengambilan gambar dengan jarak yang sangat dekat. Biasanya, untuk gambar-gambar kecil agar lebih jelas dan detail, seperti anting tokoh.

9. CAMERA FOLLOW

Petunjuk pengambilan gambar dengan cara mengikuti pergerakan obyek.

10. CAMERA PAN TO

Petunjuk pengambilan gambar dengan cara mengalihkan kamera kepada obyek yang dituju dari obyek sebelumnya.

12. COMMERCIAL BREAK

Jeda iklan. Penulis skenario harus memperhitungkan jeda ini, dengan memberi kejutan atau suspense agar penonton tetap menunggu adegan berikutnya.

12. CREDIT TITLE

Penayangan nama tim kreatif dan orang yang terlibat dalam sebuah produksi.

13. CU (CLOSE UP)

Pengambilan gambar dengan jarak yang cukup dekat. Biasanya, untuk menegaskan detail sesuatu seperti ekspresi tokoh yang penting, seperti senyum manis atau lirikan mata. Tokoh biasanya muncul gambar wajah saja. Bisa juga untuk menyembunyikan detail pada seorang karakter, seekor hewan atau sebuah objek.

14. CUT BACK TO

Transisi perpindahan dalam waktu yang cepat untuk kembali ke tempat sebelumnya. Jadi, ada satu kejadian di satu tempat, lalu berpindah ke tempat lain, dan kembali ke tempat semula.

15. CUT TO FLASH BACK

Petunjuk untuk mengalihkan gambar ke adegan flash back. 

16. CUT TO

Mengakhiri adegan secara langsung tanpa proses transisi. Perpindahan untuk menggambarkan peristiwa yang terjadi bersamaan, tetapi di tempat yang berbeda atau kelanjutan adegan di hari yang sama. Transisi cut to kerap digunakan untuk menekankan lagi perubahan karakter atau  perpindahan/pergerakan emosi. Singkatnya, cut to menggambarkan perubahan adegan pada sebuah frame film.

17. DISSOLVE TO

Perpindahan dengan gambar yang semakin lama semakin kabur sebelum berpindah ke adegan berikutnya.

18. ESTABLISHING SHOT

Pengambilan gambar secara keseluruhan, biasa disingkat ESTABLISH saja.

19. EXT. (EXTERIOR)

Menunjukan tempat pengambilan gambar diluar ruangan.

20. FADE IN

Petunjuk transisi memasuki adegan secara perlahan dan smooth dari situasi gelap total menuju sebuah adegan.

21. FADE OUT

Petunjuk transisi mengakhiri adegan secara perlahan dan smooth dari layar menuju gelap total.

22. FLASH BACK CUT TO

Petunjuk untuk mengakhiri adegan flash back.

23. FLASHBACK

Ulangan atau kilas balik peristiwa. Biasanya, gambarnya dibedakan dengan gambar tayangan sekarang.

24. FLASHES

Penggambaran sesuatu yang belum terjadi dalam waktu cepat. Misalnya: momen orang melamun.

25. FREEZE

Aksi pada posisi terakhir. Harus diambil adegan yang terjadi pada tokoh utama dan dapat membuat penonton penasaran sehingga membuat penonton bersedia menunggu kelanjutannya.

26. INSERT

Sisipan adegan pendek, tetapi penting di dalam satu scene. Sering dimaksudkan sebagai petunjuk halus akan kejadian yang akan terjadi pada menit-menit berikutnya, entah secara langsung berurutan maupun acak dalam rangkaian film.

27. INT. (INTERIOR)

Pengambilan gambar pada jarak jauh. Biasanya untuk gambar yang terlihat secara keseluruhan.

28. INTERCUT

Perpindahan dengan cepat dari satu adegan ke adegan lain yang berbeda dalam satu kesatuan cerita.

29. LS (LONG SHOT)

Pengambilan gambar pada jarak jauh. Biasanya untuk gambar yang terlihat secara keseluruhan. Contohnya: pada tren saat ini, digunakan drone untuk menunjukkan keseluruhan kota (sky view) dimana lokasi-lokasi syuting film terjadi sehingga penonton menangkap kesan bahwa peristiwa itu benar-benar terjadi (sekalipun hanya dalam film).

30. MAIN TITLE

Judul cerita pada sinetron atau film.

31. MONTAGE

Beberapa gambar yang menunjukkan adegan berurutan dan mengalir. Bisa juga menunjukkan beberapa lokasi yang berbeda, tetapi merupakan satu rangkaian cerita.

32. OS (ONLY SOUND)

Suara orang yang terdengar dari tempat lain; berbeda tempat dengan tokoh yang mendengarnya.

33. PAUSE

Jeda sejenak dalam dialog, untuk memberi intonasi ataupun nada dialog.

 

34. SCENE

Berarti adegan atau bagian terkecil dari sebuah cerita.

35. SFX (SOUND EFFECT)

Untuk suara yang dihasilkan di luar suara manusia dan ilustrasi musik. Misalnya: suara telepon berdering, bel sekolah.

36. SLOW MOTION

Gerakan yang lebih lambat dari biasanya. Untuk menunjukkan hal yang dramatis.

37. SPLIT SCREEN

Adegan berbeda yang muncul pada satu frame atau layar.

38. TEASER

Adegan gebrakan di awal cerita untuk memancing rasa penasaran penonton agar terus mengikuti cerita.

39. VO (VOICE OVER)

Orang yang berbicara dalam hati. Suara yang terdengar dari pelakon namun bibir tidak bergerak. Disebut juga NARASI (NARRATION)

40. ZOOM IN

Petunjuk gerakan kamera dengan menyorot obyek dari jauh sampai dekat atau close-up

41. ZOOM OUT

Petunjuk gerakan kamera dengan menyorot obyek dari dekat sampai jauh.

42. ANGLE ON

Istilah ini digunakan untuk menyorot sebuah obyek spesifik. Tujuannya untuk menunjukkan bahwa sudut kamera yang berbeda akan dibuat dari bidikan sebelumnya.

43. BACK TO/BACK TO SCENE

Kamera kembali ke posisi syuting awal setelah sebelumnya menyorot posisi berbeda.

44. BEAT

Istilah ini digunakan untuk menunjukkan situasi dimana kalimat tertentu atau action tertentu yang dilakukan karakter tiba-tiba berhenti. Sering juga disebut sebagai “action dalam adegan atau “insiden dalam adegan.

45. CLOSE SHOT

Sorotan kamera hanya pada bagian kepala dan bahu sebuah karakter.

 

46. DOLLY IN/DOLLY OUT

Pergerakan kamera mendekat ke atau menjauh dari sebuah subjek, termasuk gerakan fisik kamera itu sendiri.

47. EXTREME CLOSEUP (E.C.U.)

Sorotan kamera yang secara ekstrem berfokus atau menyembunyikan detail pada seorang karakter, seekor hewan atau sebuah objek.

48. EXTREME LONG SHOT

Sorotan kamera yang diambil dari jarak yang sangat jauh dari sebuah subjek.

49. FOREGROUND (f.g.)

Area dari sebuah adegan (objek atau action) yang paling dekat ke kamera. Biasanya ditulis “f.g.” saja.

50. FREEZE FRAME

Arah pergerakan kamera dimana sebuah frame tunggal diulang pemutarannya selama beberapa kali secara terus-menerus untuk memberi ilusi bahwa semua action sudah berhenti.

51. INSERT

Sebuah sorotan dalam adegan yang mengajak penonton untuk memperhatikan kepingan informasi spesifik, biasanya sebuah objek yang tidak hidup.

 

52. ISOLATE

Fokus tinggi terhadap sebuah objek atau karakter.

53. JUMP CUT

Akselerasi berlebihan atas sebuah action natural yang menunjukkan kontinuitas sebuah action, posisi kamera atau perjalanan waktu.

Contoh jumpcut: Sorotan terhadap seorang karakter yang berawal dari frame kiri, dan dalam sekejap mata sudah sampai di frame kanan. Dia tampak ‘melompat’ (jump) ke sisi kanan.

54. LIGHTS UP

Transisi pada format Panggung (Stage) yang menunjukkan awal dan proses penjelajahan sebuah adegan panggung dengan memberi efek pencahayaan secara intens ke area tertentu.

 

55. MAGIC

Singkatan dari “Magic Hour,” yakni periode waktu yang singkat menjelang matahari terbenam (sunset).

56. MEDIUM SHOT (MED. SHOT)

Sorotan kamera ke seorang karakter mulai dari pinggang hingga ke atas.

57. MOVING / MOVING SHOT

Sorotan kamera yang mengikuti apapun objek yang sedang disorot.

 

58. OFFSCREEN (O.S.)

Menandakan karakter sedang berbicara tapi tidak terlihat di frame, hanya suara saja yang terdengar. Ditulis “O.S” saja.

59. PAN

Dari kata “panorama”, dimana kamera bergerak secara bertahap dari kanan ke kiri atau sebaliknya tanpa berhenti. Tujuannya supaya perhatian penonton beranjak ke objek atau setting lain tanpa memotong adegan.

60. POINT OF VIEW (P.O.V.)

Posisi kamera menggunakan sudut pandang karakter tertentu, dimana si karakter sedang terlibat dalam adegan yang sedang berlangsung. Ditulis “P.O.V” saja.

61. SUPER (SUPERIMPOSE)

Efek yang diciptakan dengan menumpuk sebuah gambar menimpa gambar yang lain.

62. TWO-SHOT

Sorotan kamera ke dua orang sekaligus, biasanya dari pinggang ke atas.

63. WIDE SHOT

(sama dengan Long Shot)

64. WIPE

Corak transisi yang dihasilkan dengan menunjukkan beberapa gambar (images)  tampak bergerak ke arah (atau mendorong) gambar lainnya keluar dari layar.

 


Sumber:

  1. Star Radio 1073 FM
  2. Radio Times
  3. Insider
  4. Final Draft
  5. Blog Asia Sekarsari
  6. Kreatif Production
  7. Video Youtube: From Script to Screen
  8. ScreenCraft

 

Facebook Comments

Published by

Donald

Penyanyi dan para pemusik itu tampil memukau di hadapan raja dan tamu undangan. Suguhan lagu mereka melengkapi jamuan makan dan minuman, omong kosong serta sopan santun sebagaimana layaknya perjamuan manusia. Raja puas. Ia tidak jadi memenggal kepala para seniman itu. Malah, ia menepati janjinya dan membayar mereka dengan upah yang lebih dari sekedar ongkos pulang dan dengan sumringah menemui istri dan anak yang menunggu di rumah. Demikianlah seniman melengkapi gizi rohani bagi para penguasa dan pekerja, yang seharian lelah dengan pekerjaan manusia. Kerap, seniman memang lain dari manusia biasa.

Komentar