Saya baru saja menilik postingan di Facebook dan Twitter. Biasanya jam paling ramai untuk melihat apakah postingan kita direspon atau tidak adalah ya pada jam pulang kerja seperti ini. Kita pun rela terlambat pulang ke rumah bertemu dengan keluarga hanya untuk mengecek apakah si penulis posting membalas respon kita juga dengan pertanyaan atau malah tanda tanya dan tanda seru yang tidak tahu persis maksudnya apa. Barangkali sambil menunggu lewatnya jam macet, secara khusus bagi langganan jalur macet di kota-kota besar. (Iya. Termasuk Jakarta, tentu saja).

ūüôĀ

Dan begitulah aktivitas “berkomunikasi” di dunia maya terjadi di dunia maya saban hari. Ada sedikit gejolak rasa setiap kali muncul angka dalam lingkaran merah di notifikasi Facebook kita. Ada gelombang halus yang begitu saja mengalir setiap kali notifikasi biru muncul di akun Twitter kita. Begitu juga pada akun G+ atau ribuan sosial media lain, termasuk Kompasiana ini, yang masih mampu kita kelola dan masih didukung oleh kuatnya RAM dan spesifikasi setiap gadget yang kita gunakan.

Dan umumnya setiap komentator akan memberi kontribusinya masing-masing. Ada yang mendukung: “Mantap, gan”. Ada yang memancing respon berikutnya: “Saya awam dalam hal ini. Mungkin bawah ane bisa kasih pencerahan” Ada yang “ikut nyimak” saja. Ada yang sekedar meninggalkan jejak dengan emoticon yang hanya dia dan tuhannya yang tahu apa maksudnya. Dan hasilnya luar biasa. Kita betah berlama-lama di sana. Kita pun semakin semangat mengkonfirmasi setiap permintaan pertemanan di akun Facebook. Ada rasa riak senang kecil yang berbuih menculik perhatian kita setiap kali ada akun twitter yang mem-follow kita.

Meski seiring dengan hal itu pula ada resiko yang mengintai. Misalnya suatu kali kita membuat posting yang yang tidak berkenan di hati salah seorang dari mereka, terutama jika mereka menanggapinya dari isu SARA, meski kita tak punya tendensi ke arah itu: Mereka bisa bersekongkol di balik layar dan ramai-ramai me-rudal atau me-report akun kita. Jadilah kita harus menanggapi pemberitahuan untuk memverifikasi akun kita kembali ke otoritas yang bersangkutan.

Kerap kali suatu posting bertahan berhari-hari, baik itu di akun pribadi, di sebuah fanpage Facebook ataupun di group. Atau sebuah hashtag bisa menjadi trend di Twitter. Lepas dari fenomen “pasukan nasi bungkus” yang rela dibayar hanya untuk mem-viralkan suatu issue¬†meski mereka bisa saja sadar bahwa sebenarnya itu bertentangan dengan akal sehat mereka, mesti diakui bahwa tema politik dan agama adalah interest tertinggi yang bisa mencetak tread yang panjangnya melebihi jalan tol Sumatera (yang kita harapkan akan terwujud secepatnya).

Kalau mau lebih ajaib lagi, buatlah postingan yang berpotensi disalahtanggapi dan dipelintir ke isu kesukuan, bisa dijamin bahwa postingan kita akan siap-siap panen komentar. Panjangnya tread bisa mengimbangi daftar kasus korupsi yang sudah dan masih belum tuntas di republik ini. (Banyak pengguna sosial media bahkan mendapatkan uang dengan cara ini).

ūüôā

Sengaja saya menganalogikan panjangnya tread dengan tol Sumatera dengan litani kasus korupsi. Hemat saya, yang kedua cenderung lebih panjang.

Itu yang terjadi di banyak perbincangan dunia maya sejauh saya ikuti.

Hal menarik yang bisa kita amati dari setiap perdebatan antar akun (baik akun terverifikasi maupun akun kloningan) adalah terkonfirmasinya sifat Freudian kita. Bukan pada Id-Ego-Superego yang hingga kini tak henti diperbicangkan. Tapi terutama pada pernyataan bahwa perilaku manusia didasari pada hasrat seksualitas (eros) yang pada awalnya dirasakan oleh manusia semenjak kecil dari ibunya.

Semua mafhum bahwa yang dimaksud dengan seksualitas bukan sekedar kelamin, tetapi semua aspek yang membuat seorang Mars itu benar-benar laki-laki dan bahwa seorang Venus benar-benar perempuan. (Saya masih belum menemukan representasi yang tepat untuk teman-teman kita yang transgender).

Inilah kita.

Baik di kehidupan nyata maupun di dunia maya: Kita sangat seksual. Pola pandang kita pun sangat seksual. Dan itu menular pada pola komentar kita, sikap kita merespon suatu issue, postingan, atau trending issue di berbagai media sosial.

Negatifkah?

Apakah itu menjadi pertanda bahwa pola pikir kita masih taraf ABG yang terkaget-kaget sekaligus mengeksplorasi seksualitas dirinya?

Apakah setiap pandangan dan tulisan kita terhadap suatu kebijakan pemerintah, misalnya, juga terpengaruh oleh sikap Freudian kita?

Benarkah bahwa keheranan kita terhadap sikap ignorance yang diperlihatkan oleh para komentator imut (untuk tidak mengatakan bebal, bodoh dan rasis) pada setiap tread mirip dengan pengalaman seorang remaja SMP ketika pertama kali menemukan bahwa ketiaknya punya rambut atau seorang remaja putri yang bingung mengapa dadanya harus lebih membusung dibanding teman sebayanya yang laki-laki?

Mungkinkah cara kita mempersepsi lahirnya perundangan baru dari dewan legislatif kita yang terhormat mengikuti pola pemahaman seksualitas kita?

Sederhananya: Iya (menurut saya).

Sebelum tulisan ini dipelintir menjadi konten yang memprovokasi ke persoalan gender dan equalitas pria-wanita-transgender, saya ingin ulangi kembali: Kita masih sangat Freudian.

Itu saja.

Wassalam.

Donald Haromunthe,
A Boy Growing To Be A Man.

Facebook Comments