Kongruensi Kecoa

Kapan terakhir kali kamu merasa dikucilkan dan dituduh “grammar nazi” karena mengomentari kesalahan ketik atau tata bahasa di group chatting? Anehnya lagi, tak ada satupun orang lain yang risih dengan situasi itu, cuma kamu. “Ada yang nggak beres nih”, pikirmu.

Atau merasa aneh sebab berbagai kesalahan ketik atau ejaan dipampang jelas-jelas di depan toko?

Atau berbagai kesalahan cetak lainnya.

Belum lagi kamu lagi enak-enak menikmati hidangan yang terasa lezat di sebuah rumah makan dengan lantai yang kelihatan bersih, tetapi lalu terganggu karena ternyata ada kecoak yang tiba-tiba melintas di bawah meja, entah datang dari mana? Kemudian kamu mulai khawatir bukan saja bahwa karena lantainya tidak benar-benar bersih, tapi standar higiene seperti apa yang diterapkan mereka kok segitu buruk.


Begitulah otak kita bekerja. Awalnya otak menangkap gambar atau teks pada persepsi awal, lalu kemudian mencari data tambahan yang mendukung atau melawan persepsi awal tadi. Maka, begitu ada hasil pengamatan yang inkongruen dengan pengamatan awal, tak soal sekecil atau sepele apapun, ini bisa mengubah keseluruhan persepsi.

Oleh Paul Rulkens, fenomena ini dikenal sebagai Kongruensi Kecoa (the cockroach congruency). Penjelasannya begini. Tidak mungkin ada seekor kecoa saja di suatu tempat. Pasti ada teman-teman, kalau bukan malah gerombolannya ngumpet entah dimana. Lanjutannya: jika kamu memperhatikan satu hal saja salah, kamu akan berfikir bahwa ada hal lain juga yang salah. Inilah sebabnya kasus fraud di sebuah korporasi sangat jarang sekali hanya melibatkan satu individu di perusahaan itu, tetapi biasanya menyangkut sebuah kultur yang penuh penipuan diantara berbagai pelaku.

Karena kita tidak selalu mawas terhadap petanda atau penanda yang inkongruen, selalu baik jika kita mengundang pihak luar untuk secara rutin menyampaikan pandangan mereka terhadap organisasi kita, entah itu instansi negara, tempat kerja, keluarga, sekolah atau sekedar klub sehobi.  Mengapa demikian? Karena untuk melihat “kecoa”-nya, kerap kita membutuhkan sudut pandang dan pendekatan yang berbeda dengan yang kita lakukan selama ini.

Menurutku, jika era media sosial memang kita maksudkan untuk menambah literasi, kita butuh orang lain untuk menemukan kecoa-kecoa yang selama ini luput dari perhatian kita.

Tentu, masalah belum selesai. Di tengah hiruk-pikuk media massa, situasi bisa sangat berbeda: terlalu banyak media yang tanpa malu menunjukkan kecoa-kecoa mereka. Lalu, media mana yang harus dipercayai?

 

Facebook Comments

Komentar