Maia adalah pemusik dan penyanyi dengan latar belakang keluarga yang luar biasa. Dia juga keturunan pejuang kemerdekaan Indonesia, yakni Haji Omar Said Tjokroaminoto. Bapaknya, Haryono Sigit adalah mantan rektor ITS. Melihat latar belakang keluarga seperti ini, kita bisa menduga bahwa dia dididik dengan pola asuh yang benar, dimana riwayat kekerasan dan pelecehan minim digunakan dalam mendidik.

Anak yang lahir dengan pola pengasuhan demikian cenderung punya karakter dan prinsip mandiri.

Karena itu Maia dengan cepat bisa mengambil sikap dan tidak ada kompromi ketika indikasi bahwa dirinya dipoligami mantan suaminya, Ahmad Dhani, menguat.

Maia menolak poligami.

Maia keluar dari rumah.

Maia meninggalkan suaminya, kendati itu berarti ia juga harus meninggalkan anak-anak yang disayanginya.

Maia membangun kariernya kembali.

Bisa jadi Dhani berperan besar dalam karier menyanyinya, tapi tidak tergantung. Ia tidak melakukan sesuatu melulu sebagai konsekuensi atau piliahan yang ditawarkan si Dhani. Maia mampu memilih dan mengambil keputusan matang dalam waktu yang relatif cepat. Begitu seharusnya perempuan bersikap dan bertindak jika dia menjadi korban arogansi pasangan. Begitu seharusnya seorang Ibu bersikap dan bertindak jika dia menjadi korban arogansi suaminya. Tidak perlu terlalu lama dalam konflik batin.

Cepat bersikap dan bertindak untuk melanjutkan hidup yang layak dijalani. Pendidikan orangtua dengan tiadanya riwayat kekerasan merupakan modal yang sangat menentukan dalam bersikap dan bertindak di kemudian hari. Berbekal pertumbuhan diri yang dihidupinya dalam pola pengasuhan dan pendidikan yang menyehatkan, Maia terlihat cukup perduli pada penghapusan kekerasan dan urgensi dimilikinya inner power oleh setiap perempuan Indonesia, yang kelak juga menjadi Ibu bagi generasi anak Indonesia berikutnya.

 

Lain halnya dengan Mulan Jameela.

Anak bungsu dari 9 bersaudara dari orangtua sederhana di kota kecil. Dia perlu waktu lama untuk keluar dari situasinya. Punya anak dari laki-laki lain dan cerai. Mungkin saja ada riwayat kekerasan yang dia terima, barangkali bukan dari keluarga tetapi dari usaha untuk menjadi penyanyi di dunia industri musik ibukota yang kejam. Perempuan dari kota kecil dengan mimpi besar kalau tidak membekali diri dengan self defence komplit (fisik, psikis, spiritual dn sosial) maka mudah sekali jatuh ke dalam situasi kekerasan dan terpola meraih ambisi dengan pengorbanan diri. Harga yang tidak murah.

Klimaksnya ialah: Mulan memilih mengkhianati rekan kerjanya sendiri. Benar, kita tidak bisa jatuh pada Stockholm Syndrome, dimana kita seolah-olah kasihan kepada pelaku dan memperlakukannya seolah dia adalah korban. Tapi, dalam hal ini, Mulan adalah “korban” dari ekosistem yang membuatnya menjadi wanita yang hanya reaktif saja, hingga mampu memanfaatkan sahabatnya sekalipun demi kepentingan sendiri. Padahal, jika ia mau memilih, ia bisa saja tetap berkarir dengan Maia, memilih dan membiarkan diri didekati oleh lelaki lain selain Dhani, sembari memperluas network ke produser musik lain (kendati sulit dipungkiri bahwa manajemen MRC-nya Ahmad Dhani ini cukup apik pada zamannya).

Tentu Mulan tidak sedang mengigau atau sengaja tidak membodohi dirinya bahwa ketika ia merebut suami dari rekan karirnya di Duo Ratu, ia sedang masuk ke dalam permainan berbahaya. Alih-alih mensyukuri apa yang dia dapatkan dari Maia, ia malah ingin take over. Logikanya: “Kalau berduet dengan si Maia saja gue bisa tenar, pasti bisa lebih tenar lagi kalau gue langsung sama Dhani”. Ujungnya adalah kehancuran. Senang sebentar, menderitanya lama.

Buat saudari-saudari dan kaum ibu, didiklah anak menjadi wanita yang active.

Selamat Hari Ibu

Facebook Comments