“Mati Yang Diulang” karya Femi Khirana

Malaikat Jubah Putih (MJP) bingung. Akhir-akhir ini banyak manusia yang mati bunuh diri. Ruang Rehabilitasi Akhirat yang dialokasikan untuk tempat manusia mati bunuh diri itu, sudah penuh sesak.

Seperti biasa MJP menginterogasi penyebab manusia mengambil jalan pintas sebelum manusia menghadap langsung kepada Yang Kuasa.

MJP : Apa alasan kalian bunuh diri?
Si Miskin : Gak bisa bayar hutang.
Si Patah : Patah hati.
Si Sakit : Cacat seumur hidup.
Si Bangkrut : Gak ada kerjaan dan usaha selalu bangkrut.
Si Kecil : (Manusia ini tercatat baru berusia 8 tahun) Gak naik kelas.

MJP menggelengkan kepala, ternyata alasan manusia bunuh diri dari zaman batu sampai sekarang selalu klise. Karena Ruang Rehabilitasi Akhirat makin sesak, beberapa manusia terpaksa dikembalikan ke dunia. Kesempatan hidup yang kedua ini diatur sedemikian rupa agar manusia tersebut tidak mati bunuh diri lagi.

Maka, 
Si miskin dijadikan konglomerat.
Si patah dijadikan berwajah rupawan.
Si sakit dijadikan atlet terkenal.
Si bangkrut dijadikan seorang pejabat.
Si kecil dijadikan murid pintar. Manusia pun bahagia ketika kembali ke dunia.

MJP lega dan berharap kelak mereka mati dengan cara wajar.


Hanya tiga bulan Ruang Rehabilitas Akhirat itu lengang. Bulan ke-4 kembali penuh sesak.

Lagi-lagi MJP harus menginterogasi dan terpaksa membuat program menduniakan manusia lagi. Dalam proses interograsi, MJP terkejut sangat, karena Si Miskin, Si Patah, Si Sakit, Si Bangkrut, dan Si Kecil ternyata mati bunuh diri lagi!

MJP sangat berang.

MJP : Kalian mati bunuh diri lagi!!! Kenapa???
Si Miskin: Harta saya habis gara-gara ditipu.
Si Patah: Saya dicerai karena sudah tidak laku jadi artis.
Si Sakit: Saya gagal meraih kejuaraan nasional.
Si Bangkrut: Saya divonis penjara karena dijebak koruptor.
Si Kecil: Saya pintar, tapi ndak bisa lanjutin sekolah.
MJP: (Pusing) Jadi kalau kalian hidup lagi, minta jadi apa??? 

Manusia pun saling memandang satu sama lain. Si Kecil pun didaulat jadi jurubicara,
“Kami tidak minta dijadikan apa-apa.. Kami hanya minta ada orang yang mau peduli dan memperhatikan kami ketika kami sudah tidak bisa berbuat apa-apa.”

MJP pun menghela nafas panjang dan sedih. Remedial terpaksa dibatalkan.
“Maaf, permintaan kalian terlalu sulit untuk direalisasikan hiks… hiks…”


Judul asli tulisan ini adalah "Remedial", sebagaimana ditulis Femi Khirana.

Tulisan ini dapat dikategorikan sebagai #flashfiction. Karakter tidak boleh lebih dari 1000. Berbeda dengan #fiksimini yang lebih ekstrem (hanya boleh mentok 140 karakter, mirip dengan Twitter dulu, yang mirip SMS jumlah karakternya). 

Ciri flashfiction atau fiksi mini: 1) langsung ke konflik, dan 2) ending twist
Facebook Comments

Published by

Donald

Penyanyi dan para pemusik itu tampil memukau di hadapan raja dan tamu undangan. Suguhan lagu mereka melengkapi jamuan makan dan minuman, omong kosong serta sopan santun sebagaimana layaknya perjamuan manusia. Raja puas. Ia tidak jadi memenggal kepala para seniman itu. Malah, ia menepati janjinya dan membayar mereka dengan upah yang lebih dari sekedar ongkos pulang dan dengan sumringah menemui istri dan anak yang menunggu di rumah. Demikianlah seniman melengkapi gizi rohani bagi para penguasa dan pekerja, yang seharian lelah dengan pekerjaan manusia. Kerap, seniman memang lain dari manusia biasa.

One thought on ““Mati Yang Diulang” karya Femi Khirana”

Komentar