Membaca “Laudato Si”, ensklik Paus Fransiskus tentang Merawat Lingkungan Hidup

Ringkasan

Ensiklik Paus Fransiskus baru berjudul Laudato Si (Be Praised), On the Care of Our Common Home” atau dalam bahasa Indonesia: “Tentang Perawatan Rumah Kita Bersama” dirilis saat konferensi pers berlangsung di Vatikan, 18 Juni 2015.

Judul “Laudato Si” yang berarti “Pujian bagiMu” sendiri merupakan penggalan dan terinspirasi dari Kidung Saudara Matahari oleh Santo Fransiskus dari Asisi.

Dalam dokumen berjumlah 190 halaman itu Paus Fransiskus menuliskan argumen teologi tentang pentingnya mengatasi perubahan iklim dan melindungi lingkungan. Ia menjelaskan kerusakan yang terus-terusan dilakukan oleh manusia terhadap lingkungan sebagai “satu tanda kecil dari krisis etika, budaya dan spiritual modernitas. Solusinya, menurutnya membutuhkan pengorbanan dan “revolusi budaya” di seluruh dunia.

  1. Dalam konteks sains, Paus menjelaskan “sebuah sensus sains solid” yang menunjukkan bahwa pemanasan global itu nyata, dan fenomena ini akan mengurangi ketersediaan air minum, merusak pertanian, menyebabkan kepunahan hewan dan tumbuhan, meningkatkan keasaman laut dan menaikkan permukaan air laut yang menyebabkan kebanjiran di kota-kota besar dunia. Perubahan iklim terjadi secara alami, tetapi penelitian menunjukkan bahwa pemanasan global “terutama” disebabkan oleh aktivitas manusia.
  2. Dalam konteks ekonomi, Paus mengatakan negara-negara kaya mempunyai “utang ekologis” terhadap negara-negara berkembang, yang sumber daya alamnya diambil untuk produksi dan konsumsi bahan bakar bagi negara-negara industri. Ia menyebutkan hubungan ekonomi ini adalah hubungan dengan “struktur yang sesat” dan menolak argumen bahwa pertumbuhan ekonomi saja bisa memecahkan masalah kelaparan dan kemiskinan global serta memperbaiki keadaan lingkungan. Menurutnya pola pikir seperti itu sebagai sebuah “konsep pasar yang ajaib.”
  3. Dalam konteks kebijakan pemerintah, Paus mengatakan bahwa peraturan pemerintah mutlak diperlukan untuk mengurangi pemanasan global dan “penting untuk merancang lembaga internasional yang lebih kuat, lebih efisien dan terorganisir” dengan memanfatkan kewenangan untuk memberikan sanksi bagi mereka yang melanggar peraturan. “Konsensus global penting untuk menghadapi masalah yang lebih kompleks, yang tidak dapat diselesaikan secara sepihak dari masing-masing negara,” kata Paus. Namun, ia mengatakan peraturan saja tidak akan memecahkan masalah. Sebaliknya, pandangan untuk merubah etika secara menyeluruh mutlak diperlukan untuk memprioritaskan perawatan alam dan manusia.
  4. Perihal manusia, selaras dengan inti ajaran sosial Gereja yang selalu menggaungkan preferential option for the poor and marginalized, Paus mengatakan setiap aktivitas yang berdampak pada lingkungan juga harus “memperhitungkan hak-hak dasar kaum miskin dan mereka yang kurang mampu”. Baginya, “konsumerisme yang tidak beretika” telah menyebabkan tingkat konsumsi yang menyebabkan memperparah kerusakan lingkungan. Dia mengajak setiap orang untuk membentuk jaringan sosial dengan tujuan menekan pemimpin politik untuk melakukan perubahan dan membantu mereka yang kehilangan tempat tinggal atau pekerjaan akibat perubahan iklim. Ia juga mendesak agar masyarakat mengubah gaya hidup mereka, termasuk “menggunakan transportasi umum, atau naik mobil bersama-sama, dan menanam pohon serta mematikan lampu-lampu yang tidak digunakan.
  5. Menyinggung iman, Paus Fransiskus menyebutkan inti ajaran Katolik adalah menekankan kepedulian terhadap makhluk ciptaan Tuhan dan kaum miskin. Ia mendesak manusia bertanggungjawab secara moral untuk merawat lingkungan seperti yang tertulis di kitab Kejadian 2:15 bahwa kita memiliki tugas untuk “menjaga” dan “merawat” Bumi. Paus berdoa untuk diskusi tentang iklim yang diselenggarakan oleh PBB dan menulis dua doa tentang pelestarian lingkungan, dan meminta Tuhan untuk memberikan, “kesembuhan dalam hidup kita, agar kita dapat terus melindungi dan merawat bumi dan menggerakkan hati orang-orang yang hanya mencari keuntungan dan mengorbankan orang-orang miskin dan dunia.”

My Two Cents: Parafrase Proses Tobat Ekologis

“Laudato Si” adalah ajakan pertobatan ekologis untuk berbuat sesuatu untuk ibu bumi. Saat berbicara tentang Healing Earth kita tidak lagi bicara tentang manusia saja, atau alam saja tetapi justru hubungan saling ketergantungan satu dengan yang lainnya.

Bumi memang rusak, tetapi kesadaran manusia juga bertransformasi sehingga memunculkan harapan-harapan. Kita berharap bahwa lewat pendidikan seutuhnya – tidak hanya sekolah formal – transformasi kesadaran itu terjadi dan harapan-harapan itu terbangun.

Ini pertobatan jenis baru. Semestinya sudah dari dulu. Tapi, telat lebih baik daripada tidak sama sekali.

Karena ini pertobatan, maka menyitir proses yang terjadi dalam sakramen pertobatan, kita patut melakukan kelima langkah ini dengan mulai dari masa sekarang, mulai dari diri sendiri, dan mulai dari sini (tempat berada saat ini).

Meng-aku-kan dimulai dari mengakui; dan sebaik-baiknya mengakui dimulai dengan menyebutkan seluruh dosa-dosa ekologis yang telah kuperbuat, baik itu dosa kecil maupun dosa besar. Dengan mengingat seluruh dosa yang kubuat, berarti Aku mengakui kesalahan dalam berbuat dosa dan siap memulai proses pertobatan yang panjang secara bertanggung jawab.

Maka, kita lakukan seluruh proses ini dengan menggunakan kata ganti “Aku”

Pertama, Menyebutkan seluruh dosa yang diperbuat.

Bersama dengan manusia lain di muka bumi ini, aku mengaku ikut berpartisipasi pada kesalahan ekologis yang menyebabkan …

  • Udara, air dan tanah tercemar (polusi)
  • Suhu lautan dan permukaan bumi meningkat, es di kutub mencair, air laut naik, pola alami musim dan curah hujan berubah, panen gagal dan kebakaran hutan sering terjadi akibat musim kering berkepanjangan (perubahan iklim atau pemanasan global)
  • Kualitas tanah dan kesehatan manusia menurun akibat pestisida yang terpaksa digunakan pada pertanian demi memastikan ketersediaan sumber makanan yang berbanding lurus dengan peningkatan penduduk (populasi)
  • Ikan-ikan mati, air tercemar, ekosistem sungai dan perairan lainnya hancur karena limbah plastik, makanan cepat saji, kemasan dan limbah elektronik yang dibuang sembarang (pembuangan limbah)
  • Perburuan membabi-buta, spesies punah, rusaknya terumbu karang (kepunahan keanekaragaman hayati)
  • Karbon yang lepas ke bumi semakin banyak akibat pembalakan liar dan mengubahnya menjadi kota, perkebunan atau industri (deforestasi atau penggundulan hutan)
  • Laut menjadi asam, kerang dan plankton punah, ikan kehilangan makanan (fenomena pengasaman laut)
  • Lapisan ozon menipis, hujan asam terjadi
  • Racun makanan meningkat, resiko penyakit manusia bertambah pula serta keseimbangan ekosistem terganggu (rekayasa genetika)

Kedua, Menyesali Setiap Dosa yang Diperbuat
Setelah Aku mengingat seluruh dosa yang telah kuperbuat, aku menyatakan menyesal.

Ketiga, Berjanji dan Bertekad untuk Tidak Berbuat Dosa
Aku berjanji tidak mengulangi dosa-dosa ekologis yang sama, dan tidak berbuat dosa ekologois untuk kedepannya. Aku bertekad untuk menghindari dosa dan kesalahan yang telah merusak lingkungan hidup bumi ini.

Keempat, Memohon Ampun pada Tuhan
Setelah Aku berjanji di hadapan Tuhan, maka dengan rendah hati Aku memohon ampun kepada Tuhan, agar seluruh dosa dihapuskan dan diberi kesempatan untuk menikmati berkat dan karunia Tuhan. 

Kelima, Melakukan Hukuman (Silih) dan Memulai Cara Hidup Baru
Aku bersedia dan menerima kualitas lingkungan hidup yang sudah menurun ini sebab aku terlibat di dalamnya, aku terima sebagai hukuman. Sesudahnya, Aku akan memulai cara hidup yang baru. Lakukan hal-hal yang disenangi oleh Tuhan serta hindari segala jenis dosa ekologis, mencintai bumi ini sebab bumi dan seluruh isinya kuyakini sebagai “bahasa kasih Allah”

 


Sumber:

  1. VoA Indonesia
  2. Ordo Fransiskan Sekular Indonesia
  3. Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma
Facebook Comments

Published by

Donald

Penyanyi dan para pemusik itu tampil memukau di hadapan raja dan tamu undangan. Suguhan lagu mereka melengkapi jamuan makan dan minuman, omong kosong serta sopan santun sebagaimana layaknya perjamuan manusia. Raja puas. Ia tidak jadi memenggal kepala para seniman itu. Malah, ia menepati janjinya dan membayar mereka dengan upah yang lebih dari sekedar ongkos pulang dan dengan sumringah menemui istri dan anak yang menunggu di rumah. Demikianlah seniman melengkapi gizi rohani bagi para penguasa dan pekerja, yang seharian lelah dengan pekerjaan manusia. Kerap, seniman memang lain dari manusia biasa.

Komentar