Mengapa Aku Masih Merindukannya?

 

Sebenarnya tulisan ini lebih tepat diberi judul "Mengapa Kita Merindukan Seseorang". Ini ubahsuai bahasa yang paling dekat dengan judul asli dari sumbernya. Hanya saja, kuperhatikan keseringan menggunakan kata "kita", orang bosan karena merasa digurui, dikotbahi, atau istilah gaulnya "patronized". Jadi, kupilih judul dengan menggunakan kata ganti orang pertama, yakni 'aku'.

Seperti kalian semua pembaca pada umumnya, aku juga pernah berada pada posisi dimana aku harus berpisah dengan seseorang yang dekat denganku.

Perpisahan ini bisa terjadi karena memang sudah menjadi konsekuensi dari lingkaran kehidupan dan kematian. Tetapi bisa juga karena putusnya hubungan dengan pacar, suami/isteri (breakup atau cerai). Atau terpisah dari seorang teman dekat alias bestie karena orangnya harus berangkat ke luar negeri melanjutkan kuliah atau demi karir yang lebih baik.

Yang menjadi masalah adalah: selama ini aku terlalu melekat dengannya. Sehingga ketika perpisahan terjadi, aku merasa sangat terluka. Sering juga dibumbui dengan perasaan nostalgia dan kesedihan.

Kubolak-balik buku filsafat. Kuingat kembali ternyata ada beberapa sudut pandang filsafat yang bisa membantuku menghadapi pengalaman yang kurang menyenangkan ini.

 

Renungkanlah ketidakpermanenan hidup.

Dipikir-pikir karo ngopi item lan ngudud, ternyata cukup banyak orang (atau malah semua) yang melakukan hal konyol, yakni: Merindukan sesuatu yang tetap di semesta yang secara kodrati memang tidak permanen ini.

Ini tampak sangat jelas dalam hal kemelekatan dengan orang lain.

Ketika sesuatu terasa menyenangkan, aku ingin tetap berada pada situasi itu selama mungkin. Maka ketika aku melekat dengan orang-orang yang kau cintai, tentu saja aku tidak ingin ikatan ini berakhir begitu saja secepat ini.

Nyatanya, semuanya datang dan pergi silih berganti, begitu juga dengan manusia dan orang di sekitarku.

Justru ketidaktetapan alias impermanensi inilah yang membuat kehidupan jadi masuk akal, menjadi mungkin. Lho kok?

Bayangkan kalau kehadiran mereka permanen; itu berarti mereka akan selalu ada disini dan tidak akan pernah berhenti ada disini. Mereka lahir dan tak pernah mati.  Apa akibatnya? Mereka akan menjadi makhluk yang statis, tidak berubah dan sepenuhnya bisa ditebak. Lantas, apa menariknya mereka jadinya?

Lalu kusadari, sebagai manusia, aku sering tidak tertarik pada apapun yang tidak berubah. Yang menarikku justru adalah ketidakpastian, dan dalam konteks relationship dengan seorang yang lain, kami menjalin ikatan dalam semesta yang sepenuhnya di luar kendali ini, termasuk aku dan dia. Maka, kodrat perubahan berarti manusia berubah; minat kami berubah, pilihan-pilihan hidup kami berubah, kami berpindah tempat tinggal, menua, sakit lalu mati.

Inilah pengorbanan yang kupikir tak hanya kami tapi kita semua harus persembahkan di gelanggang entropi kehidupan ini. Inilah alasan untuk sepenuhnya menikmati waktu brsama dengan orang yang kucintai selama mereka hidup dan berada di sekitarku, tetapi dengan kesadaran dan penerimaan bahwa, suatu hari nanti, perubahan yang tidak terelakkan ini akan mencabut mereka dari hidupku.

Tidak selalu mudah dalam pelaksanaanya, tetapi kutipan terkenal dari seorang pertapa Buddhis Thich Nhat Hanh ini patut kurenungkan:

Jika aku tidak kosong, maka aku akan menjadi sebuah bongkahan materi padat saja. Aku tidak bisa bernapas. Aku tidak bisa berpikir bahkan. Menjadi kosong berarti menjadi hidup, menarik napas ke dalam dan menghembuskan napas keluar. Aku tidak bisa hidup kalau aku tidak kosong dan mengosongkan diri. Maka aku seharusnya tidak mengeluh soal impermanensi, sebab tanpa impermanensi, tidak ada apapun yang bisa menjadi apapun.

Lepaskanlah Kemelekatan

Aku sudah terlanjur hidup. Terlempar dalam “nasib” yang tak ingin kutentang. Satu hal kusadari: kehidupan tidak menjanjikan apapun supaya aku menjalaninya.

Semesta ini telah memberikan padaku, itu yang aku punya sekarang ini. Aku tidak terikat kepada apapun selain dari apa yang datang padaku.

Kedua keniscayaan ini mungkin kedengaran kejam, tapi memang demikian faktanya. Tak ada janji dan jaminan bahwa aku akan menjalani perkawinan yang stabil atau berada pada lingkaran sosial yang luas. Memang benar, kerap masyarakat membuat aku percaya bahwa aku pantas memiliki banyak hal indah dan besar dalam hidupku yang singkat ini, termasuk bahwa aku berhak dicintai secara loyal dan konsisten oleh beberapa orang tertentu, tetapi realitas berkata: TIDAK.

Maka, ketika aku merindu pada seseorang, yang sebenarnya terjadi ialah: aku tidak puas dengan kenyataan bahwa orang itu tidak lagi hadir dalam hidupku.

Setelah sebuah perpisahan, putus pacaran misalnya, aku terkadang merasa bahwa aku punya hak untuk tetap bersama dengan si mantan, dan bahwa benar tidak adanya dia sungguh menggangguku.

Tetapi dalam rancangan besar semesta ini: sebenarnya aku tidak memiliki siapapun – kebetulan saja untuk sementara waktu aku punya giliran untuk bersama dengan mereka.

Ada yang bertahan dan setia mendampingiku sampai hari ini, tetapi kebanyakan hanya numpang lewat.

Menyitir kata Epictetus, sang filsuf Stoa yang terkenal itu, seharusnya aku menganggap hidup itu seperti pesta jamuan makan saja. Menikmati apa yang tersedia, sekaligus menerima kenyataan bahwa ada juga yang sambil lalu. Seperti aku, kamu juga boleh bertanya:

Ada nggak yang ditawarkan padamu? Ulurkan tangan, ambil bagianmu sekadarnya. Kamu dilewatkan, tidak diladeni? Biarin aja, nggosah dihentikan.

Tidak perlu meluapkan keinginan untuk menikmatinya, tapi tunggu sampai datang sendiri padamu.

Lakukanlah hal ini, terapkan prinsip ini ketika kamu bersikap dan berlaku pada anak-anak, kepada seorang istri, atas postingan orang-orang, terhadap orang-orang kaya, maka kita – aku dan kamu – akan menjadi tamu yang pantas dan layak ikut dalam perjamuan para dewa.

Cintailah tanpa harus berada dekat secara fisik

Mencintai seseorang berarti membuat mereka bebas; dan benar-benar bebas tak hanya merasa bebas.

Ketika orang meninggalkanku atau karena alasan apapun terpisah dariku, alih-alih mengiba supaya mereka kembali, aku bisa mencintai mereka tanpa menjadi egois.

Kalau aku mencintai orang lain karena sesuatu yang orang itu bisa lakukan untukku, meskipun sekedar tindakan kecil seperti hadir menemani dan ngobrol bersama, kemungkinan aku merindukannya sebagian karena fungsi dan kegunaan mereka untuk hidupku dan untuk diriku. Dulu dia membuatku merasa senang, memasakkan makanan, mendengarkan keluhan dan curhat, membuatku terhibur. Dan sekarang, setelah semua itu tidak ada, aku kecewa.

Pada momen ini, patutlah aku bertanya: apa yang terbaik untuknya? Bagaimana kalau dengan perginya dia justru itu yang terbaik untuknya? Mungkin saja, misalnya, dia pergi ke pulau lain, ke negara lain, justru untuk mengejar mimpi dan mewujudkan ambisinya?

Maka, fokusnya adalah apa yang baik untuknya daripada apa yang baik untukku. Lebih sering terjadi, kemungkinan dia lebih baik sekarang setelah kami berpisah, dan tentu saja ini alasan yang tepat untuk turut merasa bahagia.

Bagaimana kalau sebaliknya, dia sekarang juga tidak bahagia? Tidak apa-apa. Aku masih bisa mengharap dan berdoa yang terbaik untuknya, sekalipun tetap kami tidak bersamanya dan tidak mendapatkan apapun darinya.

Dengan cara ini, sepertinya aku bakal bisa mengubah hasrat yang menyakitkan untuk tetap bersamanya, menjadi apa yang Buddha sebut sebagai kebaikan penuh cinta (loving kindness): sebuah harapan tanpa syarat agar semua makhluk berbahagia. Sabbe Satta Bhavantu Sukhitata.

Fokus pada Saat Ini

Cara terbaik dan paling praktis ketika mengalami galau akibat merindukan seseorang adalah mengalihkan perhatian ke masa sekarang.

Kalau aku, misalnya, berfokus pada tugas rumah atau pekerjaan kantor, atau benar-benar terlibat dalam percakapan dengan orang lain, perhatianku tidak akan lagi tertuju pada orang yang kurindukan itu.

Seperti kata oppung-nya Stoik, Marcus Aurelius ini:

Ingatlah, masa lalu dan masa depan tidak punya kuasa atasmu.

Hanya masa kini-dan bahkan inipun bisa diminimalisir. Tandai batasannya.

Jika pikiranku tergoda dan terus mencoba untuk mengklaim bahwa tak bisa tenang selain mengingat masa lalu dan berangan-angan akan masa depan, maka aku sepatutnya merasa malu.


Ketika aku menghabiskan banyak waktu dan energi dengan merindukan seseorang, maka aku sebenarnya sedang memberikan kendali kuasa atas perasaanku saat ini pada ingatan masa lalu, secara sukarela.

Tidak ada yang salah dengan kenangan, tetapi keinginan untuk memiliki lagi apa yang sudah pergi seharusnya tidak mendikte apa yang kulakukan hari ini.

Bila aku tidak bisa melepas dan terus mengharap atas sesuatu yang sudah tidak ada, maka momen sekarang yang kurasakan akan kelabu, tak hidup, dan kerap penuh keputusasaan. Mengapa begitu? Sederhana saja. Ketika aku membuka pintu supaya masa lalu kembali, yang tentu saja tidak akan pernah terjadi, maka aku sedang menutup pintu bagi masa sekarang.

Ini tentu saja membuat banyak kesempatan hilang. Kesempatan yang jelas-jelas ada sekarang.

Padahal, jika aku merindukan sosoknya, dan sungguh mencintainya, dan cinta ini timbal-balik; bukankah dia juga menginginkan yang terbaik untukku, yaitu hidup dengan bahagia di masa sekarang?

Facebook Comments

Published by

Donald

A great Big Bang and then it all starts, we have no idea where will it end to ...

2 thoughts on “Mengapa Aku Masih Merindukannya?”

Komentar