Mangadar Situmorang: Badan Otorita Danau Toba

Ada tiga kata kunci yang diusung keputusan pemerintah untuk membentuk Badan Otorita Danau Toba.

Pertama, koordinasi. Melalui badan ini seluruh dimensi dari sebuah industri pariwisata dapat disinergikan menjadi sebuah paket yang terintegrasi. Kedua, akselerasi. Melalui badan ini pola kerja yang selama ini lambat dan sangat birokratis dicoba dipercepat dengan otorisasi yang tidak saja koordinatif, tetapi juga instruktif. Ketiga, eksekusi. Dengan otoritas tunggal ini, upaya-upaya kompromi antarsektor dan antarinstansi yang kerap membelenggu keputusan hanya sekadar keputusan akan dapat diatasi. Singkatnya, BODT dimaksudkan untuk sesegera mungkin mengeksekusi amanat- amanat konstitusi, Nawacita, atau janji-janji politik presiden.

Namun, penting untuk mempertanyakan seberapa jauh legitimasi dan efektivitas BODT? Pertanyaan ini sangat pantas dijawab untuk kemudian bisa mengatakan bahwa keberadaan BODT adalah sebuah keniscayaan yang patut diapresiasi.

Otoritas pariwisata

Sejumlah kalangan antusias menanggapi keputusan pemerintah membentuk BODT yang mengemban amanah menjadikan Danau Toba sebagai Monaco of Asia. Walau tidak banyak yang tahu seperti apa itu Monaco atau di mana letak quasi-negara itu, asosiasi instinktif mereka menggambarkannya sebagai sebuah tempat atau situasi yang luar biasa hebatnya, gemerlap, hidup, dan penuh daya pikat.

Itu artinya kawasan Danau Toba, yang selama ini dikenal remote, tertinggal, dan bahkan terancam, akan segera berubah menjadi sangat dekat, mudah dijangkau, dan tempat yang amat menyenangkan dan menghibur. Bersamaan dengan itu, terbayangkan pula kedatangan puluhan ribu wisatawan dari berbagai penjuru mata angin dengan membawa banyak uang untuk dibelanjakan. Pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan sosial sekitar 600.000 penduduk yang tersebar di tujuh kabupaten sekelilingnya akan meningkat. Antusiasme berjangka pendek, tetapi lebih realistis ditunjukkan oleh mereka yang memiliki naluri bisnis sangat tajam.

Mengetahui pemerintah akan menggelontorkan sekitar Rp 21 triliun untuk mengubah Danau Toba sebagai destinasi wisata internasional, mereka mulai menyusun strategi dan langkah-langkah taktis agar bisa mendapat bagian dari berbagai proyek pembangunan baik yang meliputi infrastruktur, seperti pembangunan Jalan Tol Kualanamu-Parapat, jembatan atau bahkan bandara, maupun yang terkait struktur utama dari sebuah industri pariwisata, seperti perhotelan, agen perjalanan, restoran, dan berbagai EO ragam pertunjukan yang akan disuguhkan. Tak tertutup kemungkinan, para pebisnis hitam boleh jadi sudah menyusun daftar usaha yang mungkin dilakukan, termasuk yang berkategori gelap dan ilegal.

Bagi pemerintah sendiri menyulap Danau Toba sebagai tujuan wisata dunia bukanlah sebuah imajinasi. Pemerintah membangun sebuah proyeksi yang berbasis kalkulasi ekonomis dan teknokratis sekaligus politis, sehingga realisasinya tampak sebagai sebuah keniscayaan.

Tidak perlu mempertanyakan legitimasi pembentukan BODT, karena itu adalah prerogatif presiden. Yang patut ditekankan adalah signifikansi pariwisata sehingga ia seakan memiliki kekuatan pemaksa, hingga seorang presiden dan para menteri pun tidak boleh mengabaikannya. Sebagaimana sering dikemukakan pariwisata merupakan salah satu sektor penting yang menunjang pertumbuhan ekonomi global (3-4 persen) dan nasional (9-10 persen).

Menurut para ahli industri, pariwisata memiliki multiplier effect yang luas. Juga dikemukakan bahwa pariwisata merupakan sektor ekonomi yang tidak terlalu rentan terhadap krisis ekonomi global dan bisa sebagai sabuk pengaman perekonomian nasional apabila krisis terjadi. Eksplanasi makro ini juga berlaku untuk Provinsi Sumatera Utara dan tujuh kabupaten yang terdapat di sekitar Danau Toba.
Potensi wisata yang luar biasa yang dimiliki kawasan Danau Toba tampaknya telah mendorong presiden dan Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Sumber Daya Rizal Ramli segera mengonversikannya menjadi sumber penerimaan devisa. Sebagai international geopark warisan sejarah bumi dan turut membentuk peradaban umat manusia, puncak-puncak gunung yang melingkari danau yang luas dan tenang itu adalah komoditas bernilai jual tinggi dan menghasilkan devisa negara.

Proyek dan proyeksi

Hitung-hitungan ekonomis Rizal Ramli tentulah tidak berujung hanya dengan munculnya berbagai proyek-proyek yang bersifat sektoral dan sesaat. Pak Menteri ini pasti telah merangkai sebuah proyeksi tentang ekowisata Danau Toba yang multidimensi, komprehensif, dan berkelanjutan. Proyeksi semacam itu akan memperkuat legitimasi dan efektivitas BODT.

Pertama, BODT perlu sejak awal menyadari bahwa Danau Toba dan kawasan sekitar bukan semata-mata obyek alam, melainkan juga obyek kultural. Masyarakat di sekitar memiliki sejarah dan keterikatan dengan alam. Bangunan kultural ini tidak hanya menghadirkan keunikan, keagungan, atau keluhurannya, tetapi juga termasuk kelemahan dan kekurangannya. Bagi sebagian masyarakat, khususnya subetnik Toba, kaki gunung (pusuk) Buhit diyakini sebagai tempat lahirnya si Raja Batak dan asal-usul masyarakat Batak.
Dari daerah inilah keturunannya selanjutnya menyebar (diaspora) baik di sekitar Danau Toba dan Samosir maupun ke daerah lain di Sumatera, Indonesia, serta mancanegara. Belakangan ini, semakin banyak praktik di mana orang Batak yang meninggal di perantauan dibawa pulang dan dimakamkan di daerah asalnya. Dengan kata lain, Samosir dan daerah sekitar Danau Toba tidak hanya bermakna sebagai tempat (locus), tetapi habitus yang menyatupadukan aspek-aspek teritorial, kultural, dan spiritual. Karena itu, menjadi perlu untuk mengkhawatirkan apakah ritual-ritual semacam itu akan menjadi komoditas yang juga akan “dijual”.

Kedua, sangat penting pula menegaskan bahwa masyarakat setempat harus menjadi pelaku utama dalam pengembangan budaya baru bernama industri pariwisata ini. Walaupun orang Batak biasa dikenal pintar, tegas, pekerja keras, toleran, dan memiliki kemampuan adaptasi yang luar biasa, semua karakteristik itu tidak lantas sejalan dengan tuntutan usaha jasa pariwisata. Layanan berstandar internasional sebagaimana diinginkan boleh jadi merupakan kualifikasi yang justru akan memarjinalkan dan mengeliminasi. Sementara itu, kepintaran dan ketegasan pun tidak selalu berkorelasi positif dengan kesediaan berbagi atau menerima. Justru perlu diantisipasi bahwa sikap-sikap dasar semacam itu akan menjadi sumber konflik, entah horizontal atau vertikal, dan menjadi kontraproduktif terhadap akselerasi seperti yang diinginkan.

Karena itu, tampak cukup jelas bahwa bila BODT ingin menjalankan peran sebagai koordinator, akselerator, dan eksekutor dengan legitimasi dan efektivitas yang tinggi, diperlukan desain pembangunan ekowisata yang berbasis masyarakat (community-based ecotourism) dan sungguh-sungguh memerhatikan respek budaya dan konservasi lingkungan (cultural and environmental conservation). Peran koordinatif yang dijalankan BODT pun hendaknya lebih bersifat fasilitatif dan kolaboratif. Dengan demikian, tetap terbuka ruang bagi masyarakat, dunia usaha, dan pemerintah kabupaten untuk ambil bagian dalam seluruh proses pembangunan, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, dan keberlanjutannya.

Tidak dapat dimungkiri bahwa semua prinsip di atas akan mewujudkan sustainable ecotourism yang berarti kawasan wisata Danau Toba akan menjadi destinasi yang akan berlangsung untuk selamanya. Ini bukan kumpulan proyek jangka pendek dan sektoral. Pengadaan dan pembangunan infrastruktur, seperti jalan, jembatan, dermaga, atau fasilitas fisik lainnya dan penataan tata ruang, mungkin bisa dilakukan dalam waktu yang relatif lebih singkat (misalnya sampai 10 atau 15 tahun); tetapi konservasi alam dan nilai-nilai historis dan budaya masyarakat harus terus berlangsung karena sesungguhnya kegiatan dan manfaat ekonomi yang akan diperoleh semuanya bertitik tolak pada konservasi alam, sejarah, dan budaya masyarakat setempat.

Karena itu, keputusan pemerintah mendirikan BODT harus dibaca sebagai mengemban misi ganda yang tidak bisa dipisahkan: merawat (konservasi) dan memanfaatkan (utilisasi). BODT ditujukan untuk memuliakan seluruh kekayaan alam, budaya, tradisi, dan masyarakat, dan pada saat bersamaan memanfaatkannya sebagai sumber pendapatan dan pembangunan masyarakat secara berkelanjutan.

MANGADAR SITUMORANG

(Rektor Universitas Katolik Parahyangan)


 

(Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 10 Februari 2016, di halaman 7 dengan judul “Badan Otorita Danau Toba”.)

Facebook Comments

Noises of the Powerful

There is a routine, almost become habit in our society whenever a government policy is issued.
We talked about it so much. We are highly involved in so many group discussions. There will be some plenary seasons in the legislative and government sides following. But then we forget about it as if we were never discussing about it in an extreme way that a small issue may appear for days in main TV channels. We don’t even remember which party we really stand by.

We faced it almost everytime during our independece as a nation (or, at least as we perceived to be so).
But let’s look to a closer range of time. Rendering to a very long period will take us too far and may easily get distracted about what we are really talking about and giving concern on.

We have technology, gadgets, thus enabling us to access alternative information source aside of the main media channels or newspapers, but we never really take benefit from it. We quote so much on a single article of a rising up political commentator, many times we do not take time to take a while looking up his/her background and why he/she aspired the way he/she talked.

We have access to the very concrete of public concerns, but we leave those voices behind. We tend to be safe. We exhaustedly recite those boring debates, endless discussion and so many hoax-based conversation.

That’s the real face of our achievement as educated person.

We read fast, comment easily, but then remember nothing. Not even a single sticky post in our laptop or notes in our gadget to follow the sequence of the first tread we propose as public matter.

Let’s mirror to the latest presidential campaign that finally granted us Joko Widodo as a president.
It’s been more than a year. And, guess what?
Instead of pouring our energy and mind to the current government policies, it took so much of our conversations everywhere only to look for a stable preferential: Joko Widodo or Prabowo Subianto. KMP or KIH. The debates seem to last forever.

This is exactly the two-sided realm of politics: One that it’s to blown up, another to blow down. It is not right or wrong. Relativity of perspectives, even when certain party has been so close to be found out as comitting a logical fallacy on sputting out their voices, still rules.

What?
Doesn’t the government hold the main role and thus becoming the ruler?
Yep. If you just read the timelines of Metro TV and TV One, you may see how ridiculous how they make standing policy.
And, if I am not mistaken, mass media even made it worse. It blurrs who the current government is.
As aforementioned, we read fast but remember anything. And it is the noises that brought us that way, even until nowadays when we hardly ever listened the name Prabowo mentioned in mainstream media anymore in these latest months.

How come that noise distract us?
Yes. Because those noises are made, duplicated, and thrown away in mass media thrillion times onver and over.
We hardly even remember where the voluntary fund raised for Joko Widodo and Jusuf Kalla kept in to bank account.

They know it.
Whenever I say “they”, I do mean those who hold the real power: Parties who really take control to open and close the media blowing up. It can be the government, or the opposite political party or coalition, so they said. They have thousand doctors and politics to analyze what people has talked, which may lead them to self-consciousness of current situation. They won’t let the people even think about themselves. They have intelligents to spy rising up people’s choice. Whenever it is necessary to shut him/her down, they will do it. They will keep making those noises to distract us?
Who makes the noises, then?
Right: The powerful.

Thank God, there seems to be still a single metrics that hold the power over the over-noised circumstance of our politics, here in this republic: It is the conscience of the public itself. Whenever an issue (be it bad issue or good) gave no impact, especially as apprehended directly to the common good, it will be gone. Probably not gone forever, though. It may come again, but the wave’s stream will be constituted by that conscience of the public. Feed the people on issues and news about Joko Widodo everyday, then voices and noises will come along, but people who reads will always know that: nothing really has changed.

Some voiced on frogs he funded, on birds he liberated.
Some will keep hating him as if he was to blame for all these downturn economics power.
Some will put tricks and disguide the people as if it is right to give more damn concern on the way he spoke English than on how he had pacified the ruling party, the quarreling legislative members.
But people still holds this mind: Jokowi is still the president.

Photo by PunkRockLibertarians

Written while sipping the last drops of Kapal Api coffee – Kebayoran Lama

Donald Haromunthe

Facebook Comments

MAIA vs MULAN: ACTIVE vs REACTIVE

Maia adalah pemusik dan penyanyi dengan latar belakang keluarga yang luar biasa. Dia juga keturunan pejuang kemerdekaan Indonesia, yakni Haji Omar Said Tjokroaminoto. Bapaknya, Haryono Sigit adalah mantan rektor ITS. Melihat latar belakang keluarga seperti ini, kita bisa menduga bahwa dia dididik dengan pola asuh yang benar, dimana riwayat kekerasan dan pelecehan minim digunakan dalam mendidik.

Anak yang lahir dengan pola pengasuhan demikian cenderung punya karakter dan prinsip mandiri.

Karena itu Maia dengan cepat bisa mengambil sikap dan tidak ada kompromi ketika indikasi bahwa dirinya dipoligami mantan suaminya, Ahmad Dhani, menguat.

Maia menolak poligami.

Maia keluar dari rumah.

Maia meninggalkan suaminya, kendati itu berarti ia juga harus meninggalkan anak-anak yang disayanginya.

Maia membangun kariernya kembali.

Bisa jadi Dhani berperan besar dalam karier menyanyinya, tapi tidak tergantung. Ia tidak melakukan sesuatu melulu sebagai konsekuensi atau piliahan yang ditawarkan si Dhani. Maia mampu memilih dan mengambil keputusan matang dalam waktu yang relatif cepat. Begitu seharusnya perempuan bersikap dan bertindak jika dia menjadi korban arogansi pasangan. Begitu seharusnya seorang Ibu bersikap dan bertindak jika dia menjadi korban arogansi suaminya. Tidak perlu terlalu lama dalam konflik batin.

Cepat bersikap dan bertindak untuk melanjutkan hidup yang layak dijalani. Pendidikan orangtua dengan tiadanya riwayat kekerasan merupakan modal yang sangat menentukan dalam bersikap dan bertindak di kemudian hari. Berbekal pertumbuhan diri yang dihidupinya dalam pola pengasuhan dan pendidikan yang menyehatkan, Maia terlihat cukup perduli pada penghapusan kekerasan dan urgensi dimilikinya inner power oleh setiap perempuan Indonesia, yang kelak juga menjadi Ibu bagi generasi anak Indonesia berikutnya.

 

Lain halnya dengan Mulan Jameela.

Anak bungsu dari 9 bersaudara dari orangtua sederhana di kota kecil. Dia perlu waktu lama untuk keluar dari situasinya. Punya anak dari laki-laki lain dan cerai. Mungkin saja ada riwayat kekerasan yang dia terima, barangkali bukan dari keluarga tetapi dari usaha untuk menjadi penyanyi di dunia industri musik ibukota yang kejam. Perempuan dari kota kecil dengan mimpi besar kalau tidak membekali diri dengan self defence komplit (fisik, psikis, spiritual dn sosial) maka mudah sekali jatuh ke dalam situasi kekerasan dan terpola meraih ambisi dengan pengorbanan diri. Harga yang tidak murah.

Klimaksnya ialah: Mulan memilih mengkhianati rekan kerjanya sendiri. Benar, kita tidak bisa jatuh pada Stockholm Syndrome, dimana kita seolah-olah kasihan kepada pelaku dan memperlakukannya seolah dia adalah korban. Tapi, dalam hal ini, Mulan adalah “korban” dari ekosistem yang membuatnya menjadi wanita yang hanya reaktif saja, hingga mampu memanfaatkan sahabatnya sekalipun demi kepentingan sendiri. Padahal, jika ia mau memilih, ia bisa saja tetap berkarir dengan Maia, memilih dan membiarkan diri didekati oleh lelaki lain selain Dhani, sembari memperluas network ke produser musik lain (kendati sulit dipungkiri bahwa manajemen MRC-nya Ahmad Dhani ini cukup apik pada zamannya).

Tentu Mulan tidak sedang mengigau atau sengaja tidak membodohi dirinya bahwa ketika ia merebut suami dari rekan karirnya di Duo Ratu, ia sedang masuk ke dalam permainan berbahaya. Alih-alih mensyukuri apa yang dia dapatkan dari Maia, ia malah ingin take over. Logikanya: “Kalau berduet dengan si Maia saja gue bisa tenar, pasti bisa lebih tenar lagi kalau gue langsung sama Dhani”. Ujungnya adalah kehancuran. Senang sebentar, menderitanya lama.

Buat saudari-saudari dan kaum ibu, didiklah anak menjadi wanita yang active.

Selamat Hari Ibu

Facebook Comments

Rasakan Sensasi Nano Nano di DPR

Pasca pengunduran diri Setya Novanto sebagai Ketua DPR dan diterimanya surat pengunduran diri tersebut oleh Mahkamah Kehormatan Dewan, kini netizen bisa bernafas lega. Betapa tidak, kasus indikasi pencatutan ini menyita banyak energi dan perhatian, meski hanya sekedar cuitan di media sosial ataupun berbalas komentar di forum publik macam Kompasiana ini.

Menyaksikan semua itu, berbagai perasaan yang campur-baur timbul dalam hati. Jika kasus Setya Novanto, sang eks Ketua DPR ini diibaratkan permen, label Nano Nano barangkali pas menggambarkannya. Campur-aduk. Dan ternyata saya tidak sendirian, setidaknya begitu juga yang dirasakan oleh seorang teman yang saya sadur postingannya di sebuah media sosial sebagai berikut. banyak teman. Ada rasa senang, gembira, lucu, bingung, jijik, jengkel, marah, kecewa, sedih, galau, miris and so on, you name it.

Saya senang menyaksikan bahwa masih ada orang-orang yang berpikiran jernih, punya hati nurani, dan mempunyai akal sehat di negeri ini, baik dari kalangan elit politik, kalangan akademisi, kalangan penegak hukum, tokoh agama dan tokoh masyarakat. Mereka itu dapat melihat persoalan SN secara objektif dan adil. Mereka seakan-akan menyuarakan suara hati sebagian besar rakyat Indonesia menyangkut kasus SN

Saya senang kepada Menteri ESDM yang mengadukan kasus pelanggaran etik SN (yang adalah ketua DPR RI saat itu) ke MKD. Pengaduan itu butuh keberanian dan kekuatan mental. Saya juga senang kepada Maroef Syamsoeddin yang berani membuka kedok dan membongkar kejahatan segelintir elite politik negeri ini. Ini suatu sikap yang berani dari Maroef

Saya jengkel kepada elit-elit partai tertentu dan juga kepada sebagian pimpinan DPR karena memberi komentar-komentar yang menyepelekan bobot kasus dugaan pelanggaran etik ketua DPR RI. Saya marah kepada mereka karena mereka membela SN dan berusaha melindunginya tanpa melihat dan menilai kasusnya secara objektif.

Dari sikap mereka timbul pertanyaan dalam hati: “Jangan-jangan SN hanya ‘bidak’ yang tertangkap sedangkan elit-elit politik yang membela dan melindunginya sebenarnya punya keterlibatan lebih dalam kasus tersebut “aktor-aktor” di belakang layar. Bagaimana jika itulah big picture-nya?”

Saya gembira melihat sebagian anggota MKD, yang melihat kasus SN dengan cermat dan objektif, terutama dari Demokrat, Hanura, Nasdem, PKB, PDI-P dan PAN. Tetapi saya jengkel dan marah besar kepada sebagian anggota MKD, terutama dari Golkar, Gerindra, PPP dan PKS, karena dalam persidangan-persidangan mereka berlaku seperti orang-orang bodoh (atau memang benar-benar bodoh?). Pertanyaan-pertanyaan mereka kepada pengadu dan saksi tidak relevan, ngawur, dan tak nyambung dengan pokok persoalan. Entah apa yang membuat mereka itu diangkat menjadi anggota MKD. Memalukan dan menjijikkan

Saya kasihan kepada SN karena jadi bulan-bulanan cacian, cercaan, dan kemarahan rakyat. Selama sebulan lebih sejak kasusnya mencuat ke permukaan, publik langsung mengadili SN seakan-akan ia sudah menjadi orang “terhukum/terpidana” padahal kasusnya belum diproses di MKD. Di pihak lain, saya jengkel kepada SN karena dia ngotot tak bersalah sekalipun sudah ada bukti rekaman. SN tidak gentleman, tidak berani bertanggungjawab atas tindakannya. Makin menjengkelkan lagi ketika SN mencari-cari perlindungan ke Komnas HAM, dan mengadukan PemRed Metro-TV ke Bareskrim Polri.

Saya merasa jijik mendengar komentar-komentar berat sebelah dari orang-orang yang diwawancara di TV-One dan yang berusaha membelokkan persoalan pelanggaran etik SN ke persoalan lain. Jelas sekali TV-One pro SN. Saya mual dan muak mendengar komentar-komentar yang mencampur-adukkan persoalan pelanggaran etik dengan persoalan hukum.

Lucu, membingungkan dan tak masuk akal bagi saya bahwa anggota MKD bisa diganti setiap saat. Ada anggota MKD diganti ketika MKD sudah akan menyidangkan kasus SN. Bahkan masih ada anggota MKD yang diganti ketika proses pembahasan sudah berjalan. Yang lebih lucu lagi, yang harus menandatangani Keputusan penggantian anggota MKD adalah Ketua DPR, yang nota-bene adalah “pesakitan yang sedang diadili”.

Miris rasanya melihat bahwa sebagian besar anggota DPR (juga sebagian anggota MKD) tidak bebas bertindak atas dasar hati nuraninya tetapi hanya melakukan apa yang diinginkan partai/pemimpin partai. Hati nurani mereka-mereka itu sudah dibelenggu oleh partai/pemimpin partai. Telinga mereka hanya terbuka kepada suara partai/pemimpin partai, tetapi sudah tuli dan tertutup kepada suara rakyat. Apakah para anggota DPR yang disetir partai/pemimpin partai masih layak disebut “Wakil Rakyat” untuk menyuarakan dan memperjuangkan kepentingan rakyat? Atau tidakkah lebih tepat disebut “Bidak Partai” yang menyuarakan keinginan partai dan memperjuangkan kepentingan partai? Apabila mereka tidak menyuarakan dan memperjuangkan kepentingan rakyat mereka bukan lagi anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) melainkan anggota Dewan Penghianat Rakyat (memang singkatannya DPR juga).

Saya yakin kasus SN dibahas bersama oleh para elit partai baik dari partai asal SN sendiri maupun partai-partai yang membela dan melindunginya atau partai sekoalisinya. Hal itu tampak dari komentar-komentar elit partai ybs dan juga komentar dan pendapat anggota/pimpinan DPR dari partai ybs. Mereka masih mencari celah bagaimana meloloskan SN dari tuduhan pelanggaran etik.

Anggota MKD dari partai SN (dan dari partai koalisinya) berpendapat bahwa SN melakukan pelanggaran berat dan mengusulkan pembentukan panel untuk menanganinya. Sepintas mereka seakan-akan ingin menghukum SN seberat-beratnya. Tunggu dulu, itu tak benar. Kita jangan terkecoh. Itu adalah intrik dan siasat lain untuk meloloskan SN dari tuduhan. Sebab kalau dituduhkan melakukan pelanggaran berat, kasus itu akan ditangani oleh sebuah panel yang terdiri dari 7 orang (3 org dari MKD dan 4 org dari luar DPR).

Panel itu masih akan membuktikan ada tidaknya pelanggaran berat, dan panel itu bisa berpendapat tidak ada pelanggaran berat atau ada pelanggaran berat. Hasil temuan panel itu – yakni ada tidaknya pelanggaran – masih harus dibawa ke paripurna DPR dan keputusan akhir ada di tangan sidang paripurna DPR. Kalau itu terjadi, kemungkinan meloloskan SN semakin terbuka lebar dengan melobi anggota panel dan anggota paripurna DPR. Ini adalah trik-trik anggota MKD dari partai SN (dan partai sekoalisinya).

Allahualam.

Kita jangan kecewa melihat anggota MKD yang menjatuhkan vonis sanksi sedang. Itu lebih baik, sebab kalau sanksi sedang dijatuhkan, keputusan akhir ada pada MKD, tidak perlu ke paripurna DPR. Namun sebelum sanksi dijatuhkan oleh MKD, SN sudah membuat surat pengunduran diri sebagai Ketua DPR. Alhamdulillah.

(Sumber Foto: Konimex Store)

Facebook Comments

Para Pengecer Agama

Maaf jika ini menyinggung perasaan religius dari para pembaca.

Sebagai orang yang kebanyakan membaca daripada menulis dan menghasilkan karya, saya dan kebanyakan teman-teman lain merasa cemas dan waswas. Bagaimana tidak, kini kompetisi dagang ternyata bukan hanya diramaikan oleh startup dan situs-situs e-commerce seperti BukaLapak, Blibli, Rakuten, Blanja, Tokopedia dan seabrek nama lainnya. Mencoba ingin memenuhi selera dan kebutuhan para penikmat belanja online, alternatif yang bagus terutama jika tidak ingin bermacet-macetan menuju ke toko atau supermarket konvensional. Bagus dan cukup membantu. Apalagi macam dan jenis barang yang diperdagangkan pun kian beragam.

Sayangnya, efek dari dunia digital yang menjadi ekosistem belanja online yang mestinya cukup melegakan hati ini mesti dikacaukan dengan banyaknya komoditas yang salah kamar. Selain Google Ads, Facebook for Business, ataupun Twitter Ads, kini setiap portal dan website semakin gencar berlomba mencari clickers dan unique visitors dengan menjajakan konten yang menurut mereka menarik. Mesti bukan fenomena baru, tapi tampaknya dunia digital ini semakin menjadi tempat yang subur bagi yang mau berjualan apapun. Tentu saja ada disclaimer yang siap menjadi punggawa terdepan jika suatu saat website atau portal yang bersangkutan dikeluhkan atau diadukan netizen karena berjualan tidak pada tempatnya.

Selain wacana politik khususnya #MKD, #Freeportgate, dan #SetyaNovanto, bukan rahasia lagi bahwa kini komoditas sureal pun semakin menjamur dalam bentuk eceran kotbah, kutipan dan cyberwar atas nama agama. Selain belanja alat cukur dan bak mobil, kini internet pun sudah menjajakan dua komoditas sureal terbaiknya, yakni komoditas politik dan komoditas agama.

Setidaknya ini yang dialami oleh teman saya yang khawatir karena tidak menjumpai informasi yang penting dan sehat dari hampir semua media massa di Indonesia.

Kegeramannya diungkapkannya dalam salah satu postingan di media sosialnya sebagai berikut …

Sambil menunggu musim jualan “haram ucapan natal” di akhir tahun, sementara waktu jualan “sesatnya Syiah”. Pebruari nanti bisa jualan haram “Valentine’s Day” dan “Gong Xi Fa Cai”.

Barangkali yang terakhir ini punya market baru. Pedagang yang baik itu mampu menjual sesuatu yang sulit laku. Kalau setiap bulan ada yang diharamkan, lumayan bisa masuk media. Ceramah laris.

Kepada pemilik media sebisa mungkin berpikir ulang mendudukkan isu tersebut sebagai berita publik karena ini bagian dari perdagangan. Tetap dimuat tapi sebaiknya masuk kolom iklan. Lagian pengusung isu-isu anti Syiah anti Ahmadiyah itu punya anggaran dari sponsor.

Nanti di bagian kolom iklan itu bersanding antara iklan “Anti Loyo” bersanding dengan Anti Syiah. Iklan “Mujarab Basmi Tikus” bersanding dengan iklan “Mujarobat Pembasmi Ahmadiyah”. Atau iklan pelet menaklukkan Neng Sunni agar berjodoh dengan Kang Abi (Wahabi)…..hihi……

Situasi berita kok samangkingburemmmmm huhu …

Ini hanya satu contoh.
Masih banyak contoh lain. Di komunitas lain, dengan cap agama yang lain, atau komunitas lain yang tak henti-hentinya mempertontonkan akutnya inferioritas diri mereka. Sebab, bukankah mencari popularitas dengan menjelek-jelekkan komunitas lain adalah sifat dari pengemis di dunia digital yang haus dan lapar dengan perhatian, clicks, comments dan response dari pembaca? (Syukur-syukur setelahnya donasi mengalir ke salah satu rekening yang dicantumkan).

“Ya udah sih, kalau nggak suka, ya tinggal di-close saja, cari channel atau sumber lain”, begitu mungkin respon dari netizen yang super sabar dan terus mencoba bersikap arif. Bisa saja. Tapi jika hampir semua website dan media massa begitu, bukankah ini cerminan dari selera masyarakat kita juga? Kita akan dipasok dengan komoditas salah kamar sejenis hari demi hari, kemungkinan jumlahnya akan semakin banyak, lalu di-blast membabi buta (syukur-syukur bukan copy paste sesama rekan kuli tinta di lapangan). Kenapa? Karena rating tidak melihat isinya. Lalu lintas informasi tidak perduli apakah si pembaca senang dan puas karena memperoleh informasi baru atau malah makin cenat-cenut karena setiap media massa hanya menjual “barang-barang yang salah kamar” tersebut.

Moga-moga saja forum opini pubik seperti Kompasiana, Forum Detik, Kaskus atau forum lainnya tetap sehat dengan menjadi platform sharing opini dan ulasan yang membangun dan mengkiritik, bukan kebablasan lalu malah menjual “komoditas salah kamar” seperti yang barusan disebutkan.

Sekian.

Wassalam.

(Photo by Google Image)

Facebook Comments

Buat Pak Jokowi, Sang Penyanyi

Tak banyak yang perduli

Meski tenggorokanmu mulai perih,

mereka masih butuh gempita suaramu

“Tapi suaraku mulai parau”, pukasmu setengah membela

Tidak ada alasan,

Engkau harus terus bernyanyi.

 

Siapa suruh engkau unjuk gigi?

Padahal kau tahu ini bukan lagi panggung seni,

Sejak purba intrik busuk sudah merasuki.

Bukankah sejak awal kau sudah diwanti-wanti:

Jangan bernyanyi kalau tak berani sampai mati!!!

 

“Tapi khan aku tak perlu bernyanyi selama ini”, teriakmu beralibi

Ora urus, engkau harus tetap bernyanyi.

Sebab, mereka tak perduli nafasmu sepanjang apa,

Atau kamu bisa bertahan berapa lama.

Lagipula, mereka hanya pemandu sorak yang haus tawa

Para penonton yang tak kunjung lelah mencoba gembira.

Mereka rindu penyanyi sepertimu

Yang bisa memainkan nada-nada indah nurani mereka,

Yang mampu menyanyikan lagu serima dengan halusnya jiwa mereka.

 

Siapa suruh engkau berani melantunkan mimpi-mimpi mereka?

Lihatlah, kini mereka mendamba lirihnya suaramu.

Tak kasihankah kau mereka datang jauh-jauh hanya untuk mendengar suaramu?

Mulai dari tanah rencong hingga tembagapura,

Dari yang berbalut sutera hingga yang berani-beraninya datang tanpa pakaian pesta.

Maka, tidak ada alasan lagi, teruslah bernyanyi.

Kau boleh lelah sesekali, tapi mesti lekas bangkit lagi.

Ingatlah, sejak awal kau sudah kutitipkan pesan ini:

Jangan bernyanyi kalau tak berani sampai mati!!!

 

Tak perduli betapa lara menyesakkan dadamu

Dan vibra suaramu kerap kehilangan nada dasarnya,

seakan kau sendiri lupa kau sedang bernyanyi apa,

Akan semakin banyak yang memintamu bernyanyi.
Sejenak terdiam kasihan, tapi lantas riuh senang ketika kau bilang “Aku tidak apa-apa”.

Tentu, tidak semua sorak itu bermaksud memuji

Selalu ada serigala keji yang menyamar jadi domba dan onta di setiap tampilmu.

Bayangkan, ada dua ratus lima puluh juta jiwa

Tak mudah mengenali mana pengagum dan mana pembenci

 

Maka, ketika mereka berseru: “Jokowi!!! Jokowi!!!”,

Teruslah bernyanyi buat mereka.

Sebab, nyanyianmu harus tetap terdengar.

Jika tidak, riuh rendah mereka akan menggantikan panggungmu.

Bukan tidak mungkin mereka berbalik menyerangmu.

Tak ada jalan kembali, dari awal sudah kubilang:

Jangan bernyanyi kalau tak berani sampai mati!!!

 

Sebegitu sakitkah menjadi penyanyi?

Tidak juga.

Engkau bisa menipu mereka

Kau bisa lip sync dan komat-kamit saja.

Hanya saja, pemujamu akan gelisah dan mulai menggunjingkanmu

Sebab mereka tahu kini kau menyanyikan lagu yang berbeda.

Tidak ada rohmu disana.

Pembencimu tertawa senang dan mulai mencari penggantimu

Siapa suruh, kau lahir saat idola mereka sekarat.

 

“Tapi, siapa yang bisa menyanyikan lagu yang sama indahnya buat jutaan jiwa?”, kau mungkin bertanya.

Bukankah masing-masing punya selera yang berbeda?

Benar.

Belum ada yang sempurna.

Mungkin kau pun juga.

Tapi kau tidak disuruh bertanya,

Karena kau penyanyi.

Maaf kalau aku sedikit keji,

Ambil lagi pengeras suaranya, bernyanyilah lagi.

Bukankah sudah kubilang

sejak pertama kali kau berjanji memimpin negeri para penyanyi:

“Jangan bernyanyi kalau tak berani sampai mati!!!”

 

Facebook Comments

Jangan Menikah Sebelum Cabut Gigi

Saya belum menikah. Tentu saja, ingin menikah. Tetapi jangan ditanya kapan ingin menikah. Karena saya punya seribu jurus untuk ngeles. Mulai dari jurus amoeba, pura-pura lupa hingga “sudah ada rencana”.
(Bagi yang berminat mengetahui ketiga jurus tersebut, tidak perlu sungkan untuk bertanya ke saya.)

Tapi memang benar, tiga hari yang lalu saya cabut gigi geraham saya.
Untuk pertama kalinya setelah era gigi susu usai, kini aku harus melepasnya pergi. Iya, si gigi geraham itu.

Awalnya karena kesombongan.
Dicampur keteledoran, plus sedikit bumbu kemalasan.

Ketika gigi masih kuat, tak pernah ingat nasihat dokter untuk mengunyah makanan setidaknya dua puluh sampai tiga puluh kali.
Mungkin pernah juga, hanya saja tidak ingat. Soalnya tidak pernah kepikiran untuk menghitung berapa kali kunyahan. Apalagi kalau makanannya enak (haram pula … eh). Betapa teledornya saya, seandainya manual ini saya laksanakan, bukan tidak mungkin si geraham masih nangkring menghiasi rongga mulut ini.

Soal kesombongan, ah. Tidak perlu sebenarnya saya ceritakan disini. Namanya juga kesombongan. Tidak perlu diumbar.
Tapi sudah kadung ditulis. Ya begitulah. Dulu masih dengan bangganya pamerin kuatnya geraham yang selalu bisa diandalkan ketiga alat membuka tutupan botol bir tidak kelihatan, ngumpet entah dimana.

Baru-baru ini iklan Pepsodent yang diwakili oleh anak-anak yang lugu kembali menyadarkan saya bahwa semuanya memang berawal dari “lubang kecil, kalau dibiarkan jadi besar, terus sakit”. Begitulah lobang kecil kalau dipakai terus lama-lama bisa menjadi besar. Malas ternyata bisa berakibat naas.

Singkat cerita, geraham saya dengan cavity-nya sudah berhasil berkenalan dengan beberapa kali rintangan. Mulai dari tangan dokter gigi cantik di JMC Pejaten, dokter gigi yang lebih cantik lagi di Dent Smile Iskandar Muda, hampir saja tewas di tangan ibu perawat di Puskesmas Kebayoran Lama, dan tetap bertahan. Sebelum akhirnya si gigi geraham menyerah di tangan si dokter gigi yang sedikit lebih tua di RS Yadika. Akhirnya, mau tak mau, aku harus ikhlas melepasnya pergi.

RIP geraham.

Lantas, apa hubungannya dengan menikah?

Banyak orang yang belum menikah (tetapi berpotensi menikah) menyebut bahwa kami ini termasuk golongan yang terlalu teliti. Kalau difikir-fikir ini bagus juga untuk menekan laju ledakan populasi penduduk di Indonesia. Alasan mengapa belum menikah bisa beragam.

Terlalu perhitungan. Kami tidak merasa mapan dengan penghasilan pas-pasan lalu berani-beraninya memulai berumah-tangga. Ini mungkin berlaku buat saya dan mayoritas teman-teman lain yang pria. Ya, pria yang merasa bahwa mereka punya “kelas”, pun masih kekeuh menjadikannya prinsip yang mesti dibanggakan.

Tetapi, entahlah, seiring dengan kemajuan zaman, ternyata wanita pun semakin banyak yang menunda pernikahan. “Ingin mengejar karir dulu. Khan sayang, papa mama udah susah-susah sekolahin sampai ke Amerika, masak harus kembali lagi ikut-ikut teman yang menikah dini?”

Begitulah. Apalagi jika golongan pria yang tidak pernah merasa mapan bertemu dengan wanita yang masih ingin mengejar karir, barangkali sampai saya cabut gigi lagi, mereka masih akan begitu-begitu saja.

Sontak saya inget dengan sentilan kecil dari orang tua saya. Beberapa tahun yang lalu. Masih tersenyum mengingatnya bahkan sembari saya mengetik tulisan ini. Ayah saya bilang: “Jangan menikah sebelum cabut gigi”. Dibaca: Jangan menikah sebelum siap kehilangan kebanggaan.

Ah… ternyata begitu artinya.
Jangan menikah sebelum siap dengan situasi bahwa kamu harus minta maaf kepada sanak saudara atau keluarga untuk suatu kesalahan yang bahkan kamu tidak lakukan.
Jangan menikah sebelum siap untuk menyetor gaji bulanan yang tidak seberapa ke isteri, dan harus bersusah payah memintanya kembali bahkan hanya untuk minta jajan secangkir kopi.

Hal yang sama juga berlaku buat wanita.
Jangan menikah sebelum siap dengan situasi bahwa kamu tidak akan punya banyak waktu lagi bercengkerama di dunia maya. Tidak punya dana untuk hang-out ria atau bernostalgia
Jangan menikah sebelum siap untuk terima kenyataan bahwa kamu bukan lagi “a daddy’s daughter”, melainkah sudah menjadi anak yang harus memberi cucu.

Litani ini bisa ditambahkan sendiri.
Intinya, menikah itu berarti siap kehilangan kebanggaan, prinsip, pengakuan akan prestasi, “standar” kaku dan “kelas” dalam pergaulan.

Sebelum kehilangan kebanggaan dan prestasi yang besar, ada baiknya dimulai dengan yang kecil dulu.
Ya, seperti yang barusan saya alami.
Meski perih, tapi tetap bertahan disini, setelah pengalaman kehilangan sehabis cabut gigi.

By the way, ini bukan petuah dari yang sudah berpengalaman menikah. (Penulis masih bingung menentukan apakah dia single tanpa gigi atau jomblo tanpa calon isteri, pembaca silahkan tentukan sendiri).

Sekian.
Wassalam.

Facebook Comments

Semoga Beliau Tidak Sedang Jualan Agama

 

Baru saja saya buka Facebook dan menemukan bahwa ternyata saya sudah di-unfriend oleh seorang teman. Inisialnya EM. Sedikit history pertemanan kami: Saya yang terlebih dahulu mengajukan pertemanan dengan beliau dan diterima. Melihat bahwa profesi sebagai pemuka jemaat di sebuah denominasi pengikut Yesus di bilangan daerah Depok yang dia jalani, rasanya bisa jadi alasan untuk mengkonsumsi isi postingannya di timeline saya. Bagaimanapun, sebagai orang yang diikuti oleh banyak orang karena nasihat rohaninya, kemungkinan besar banyak nutrisi moralitas (atau … iman, mungkin?) yang bisa saya dapat dari tulisan-tulisannya.

Naasnya, begitulah kejadiannya. Beliau mem-posting suatu kejadian yang santer baru-baru ini dan mengundang simpati dan empati mendalam dari berbagai belahan dunia, yakni tragedi kemanusiaan yang dilakukan oleh sekelompok teroris di Perancis. Tapi, alih-alih ikut memberikan ungkapan simpati, doa-doa, penguatan atau solusi psikologis dan nasihat rohani bagi para follower dan temannya yang merasakan duka yang sama, malahan dia mencoba menyalahkan korban dengan dasar yang tidak relevan. Saya lalu komentari, tapi kemudian komentar saya dihapus, dan saya pun di un-friend dari friendlist-nya.

Mungkin memang begitulah hakikat pertemanan di Facebook, apalagi jika belum pernah bertemu muka. Padahal saya mengandalkan kesamaan kami sebagai penyandang marga yang sama dari sebuah sub-etnis Batak. Tapi ya memang sosilitas di Facebook memang sangat rentan dinodai oleh ego dan beberapa asumsi yang sebenarnya perlu direvisi kembali.

Sebenarnya, apa pentingnya buat saya?

Penting dan tidak penting.

Jika itu hanya menyangkut pribadi, jabatan atau expose lainnya tentang hal-ikhwal pribadinya lalu saya tiba-tiba masuk nyerocos dan mengotori komentar-komentar terdahulu yang tampaknya senang membebek dengan apa yang dia katakan, saya maklum. Namanya juga postingan di halamannya ialah propertinya (jangan lupa … properti Facebook juga). Wajar kalau dia bisa saja meng-hapus komentar, like, reply atau membatasi notifikasi apapun yang tidak diinginkannya.

Tetapi, ini berbeda.

Ini menyangkut tragedi kemanusiaan global, dan dia malah menyalahkan korban tragedi. Iya, tentang tragedi penembakan massal di Bataclan, Paris, beberapa waktu yang lalu.

Thread ini kemudian saya tinggalkan karena kemudian nge-lunjak dan hanya menjadi ajang pembodohan (atau hanya sekedar mencoba akrab dengan mengiyakan semua yang dikatakan si pemimpin agama seolah-olah setiap ucapannya ialah sabda penuh vitamin ).

Semestinya mereka tahu bahwa ini akan kedengaran sangat menyedihkan, apalagi jika sampai diketahui oleh para keluarga korban.

He must be more than fourteen by now.

Sontak saya tidak setuju dan mencoba (baginya saya hanya sok akrab … mungkin) memberikan argumentasi yang barangkali baginya hanya berupa dissenting opinion tanpa ada niat baik. Padahal, saya hanya memberikan komentar realistis saja. Tanpa endorsement dari pihak manapun, termasuk tidak dari orang yang mungkin menjadi rivalnya untuk tujuan meng-counter pendapatnya dan menjatuhkan namanya. Lagipula, sekali lagi, saya tidak kenal dengan beliau dan beliau juga tidak kenal dengan saya. Maka, jika saya memberi komentar tanpa niat baik, berarti saya hanya sedang buang-buang waktu saja.

“Atau, jangan-jangan saya memang hanya buang-buang waktu?”

Pertanyaan ini kemudian memenuhi benak saya beberapa saat lamanya.

Benar. Saya introspeksi diri. Belum tentu apa yang saya katakan benar.

Jika pun benar, belum tentu menyenangkan baginya, apalagi jika komentar itu terdengar seperti teguran padanya di tengah-tengah keramaian. (Mungkin lebih baik jika sebelumnya pendapat itu saya sampaikan lewat messaging dan bukan commenting … tapi, sekaligus saya merasa bahwa mereka yang membebek tadi pun adalah alamat dari komentar saya).

Ini postingannya …

Saat ini hampir seluruh media massa di dunia memberitakan kehebohan peristiwa teror ISIS di Paris Prancis, pada Jumat 13 November 2015 yang menewaskan sekitar 153 orang dan melukai 350 orang lainnya, Peristiwa teror ISIS tersebut dilakukan oleh hampir 20 orang teroris , dimana 8 orang diantaranya tewas dengan meledakkan diri mereka sendiri dengan bom setelah menembak mati ratusan orang dengan senjata AK 47. Peristiwa teror ISIS tersebut kini dikenal dengan nama ” Friday the 13th of November 2015 “. Istilah Friday the 13th sendiri adalah istilah yang sering dipakai di dunia sihir sebagai istilah yang menerangkan kejadian bahwa setiap tanggal 13 yang jatuh tepat pada hari jumat di suatu bulan tertentu, akan terjadi peristiwa yang menumbalkan manusia utk Iblis melalui peristiwa tertentu. Peristiwa teror ISIS di kota Paris 13 November 2015 itu sendiiri terjadi di sebuah gedung konser musik di kota Paris Prancis, dan terjadi saat penonton sedang menonton konser musik.

Namun yang tidak diceritakan dan tidak diungkapkan ke publik adalah konser musik apakah yang sedang berlangsung saat teroris ISIS itu membunuh para penonton konser tersebut

Konser yang diadakan di gedung tempat terjadinya pembunuhan teroris ISIS tersebut adalah KONSER DEATH METAL, dan Tepat sesaat atau beberapa menit sebelum para teroris ISIS menembakkan senjata AK47 nya kepada para penonton, para penonton konser tersebut sedang bersama sama dengan grup musik yang menyanyikannya yang bernama EAGLE OF DEATH ( ELANG KEMATIAN ). Dan lagu yang mereka nyanyikan bersama sama adalah lagu yang berjudul. ” KISS THE DEVIL” yang liriknya adalah sebagai berikut ;

“Siapa yang akan mencintai Iblis?

Siapa yang akan menyanyikan lagunya?

Siapa yang akan mencintai Iblis dan lagunya?

Aku akan mencintai Iblis

Aku akan menyanyikan lagunya

Aku akan mencintai Iblis dan lagunya

Siapa yang akan mencintai Iblis?

Siapa yang akan mencium lidahnya?

Siapa yang akan mencium Iblis di lidahnya?

Aku akan mencintai Iblis

Aku akan mencium lidahnya

Aku akan mencium Iblis di lidahnya “

Dan berdasarkan sebuah foto Para penonton tersebut menyanyikannya sambil mengangkat simbol simbol pemuja iblis seperti simbol 3 jari dan simbol illuminati

Dan tepat beberapa saat atau beberapa menit setelah mereka para penonton tersebut bernyanyi para teroris ISIS langsung menembak mati mereka dan langsung mengirim mereka bertemu dengan Iblis pujaan mereka, yang mereka puja puji dengan nyanyian mereka.

“Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya” (Ams 18:21).

Saya mengernyitkan dahi. Wow! Apakah para pemimpin religius sudah kehilangan kreatifitas untuk menciptakan gimmick marketing lainnya? Seakut itukah?

Hey!

Siapa yang mau ditembaki dengan rentetan besi panas usai merayakan kemanusiaan dengan menonton konser musik dan bergembira-ria dengan teman-teman?

Bagaimana bisa seorang pemimpin religius secara tidak langsung mengajak para teman dan jemaat untuk menyalahkan korban, bukannya melihat masalah secara menyeluruh malah mengambil celah untuk memvalidasi bahwa apa yang dialami para korban adalah murni akibat dari keinginan mereka sendiri.

Komentar dari orang sekelilingnya pun akhirnya menjadi kedengaran menjijikkan.
Seorang komentator berinisial KR merespon:

Berarti kali ini ISIS berlaku benar ya ito?

SS menimpali:  Segala sesuatunya mendatangkan kebaikan … Semoga org Prancis bisa lebih berkaca dr kejadian ini …

Kemudian empat orang lainnya: IU, LS, JM, JC pun men-share postingan dari orang yang si EM yang “semestinya lebih arif” tersebut.

Pity me, I can’t handle it. Finally propaganda run well.

Thread ini kemudian saya tinggalkan karena kemudian nge-lunjak dan hanya menjadi ajang pembodohan (atau hanya sekedar mencoba akrab dengan mengiyakan semua yang dikatakan si pemimpin agama seolah-olah setiap ucapannya ialah sabda penuh vitamin rohani).

Orang sederhana saja yang tidak pernah mengenyam pendidikan teologi pasti akan punya sedikit kebijaksanaan untuk menge-rem dan menahan diri memberi ulasan atas suatu tragedi kemanusiaan, terlebih pembunuhan massal yang mengerikan ini. Orang kecil akan merujuk pada filosofi sederhana dari Dalai Lama bahwa “Kalau tidak bisa membantu orang lain, setidaknya jangan menyakitinya”.

Dan komentar saya pun, barangkali tidak akurat, adalah ekspresi keheranan saya atas keanehan ini. Keanehan saya atas repetisi tragedi kemanusiaan oleh ulah para teroris belum selesai, tapi si kawan ini malah menambah keherenan saya menjadi lebih lagi. Belum lagi komentar senada yang seolah meng-aminkan pendapat si kawan ini. Sehingga bahasa yang saya gunakan pun, mungkin mencerminkan ketidaksetujuan yang spontan dan tidak diplomatis.

Komentar saya yang sudah dihapus di utasan beliau kira-kira begini:

Komentar artistiknya cacat, bang E.M.

Saya tidak tahu apakah Abang pernah suka atau tidak dengan musik metal. Tapi menjadi aneh ketika ekspresi seni ditanggapi seperti itu. Musik adalah ekspresi seni, ungkapan dan perayaan atas kemanusiaan. Pun dengan lirik lagu Kiss of Devil (Ciuman Setan) yang dinyanyikan oleh Eagle of Death.

Menyanyikan lirik Kiss of Devil tidak serta merta menjadi affirmasi bahwa yang menyanyikannya memang ingin mati atau menjemput maut.

Kita ambil contoh yang dekat-dekat saja.

Lirik Lonteku oleh Iwan Fals, misalnya. Orang yang mengetahui pesan perjuangan yang ingin disampaikan oleh Iwan Fals lewat lirik lagunya tahu bahwa mereka tidak sedang membicarakan bisnis lendir atau urusan syahwat.

Pun, kita mesti belajar dari konteks dan appetite satir a la Perancis.

Men-judge tanpa mengerti latar belakang kultur setempat bahkan menyalahkan korban will be unfair, even annoying.
N.B. Oh iya. Pembaca barangkali akan berkomentar dalam hati: “Ini khan masalah pribadi. Sebaiknya dikomunikasikan berdua saja. Tidak perlu dengan menulis halaman dan paragraf panjang-panjang begini”. Komentar saya: Benar. Tapi tetap sangat perlu dishare supaya semakin banyak kita sadar bahwa paradigma sempit yang kita gunakan, begitu menjadi viral, akan segera terendus dan menunjukkan niat tidak baik kita yang sebenarnya.

Saya hanya berharap: Semoga beliau tidak sedang jualan agama!!!

 

 

 

Facebook Comments

ARGA BAEN SOARA MUNA I DI PILKADA ON

Foto: Metro TV

Songon naung somal, pittor songon na rame do molo naeng jonok tikkina laho mamillit akka parhalado di pamarentanta. Suang songon I ma tong di luat Samosir. Akka suara suara pe nunga sahat hu inganan naung ditontuhon di luat Samosir dohot na humaliang. Ido na umbahen ikkon ma nian manat bangso I mamillit jala arga situtu ma nian ibaen arga ni soara i.

Songon na nienet sian Konfrontasi, akka pengamat pe manghaporluhon do asa boi nian sude pangisi ni luat Samosir I mamillit akka wakil ni nasida, songon pandokan ni Saragi Simarmata, ima na nuaeng manjabat wakil ketua di PASADA.

“Molo sian Pemerhati Sosial Adat dan Budaya (PASADA), akka mihim-mihim di masa ni Pilkada on dang pola dao songon naung masa saleleng on di akka pemilu di Indonesia on. Mihim na somal diulahon  ima martiga-tigahon soara ni sada-sada pasangan calon manang paslon marhite na papunguhon soara siluman na terdaftar di DPT, dohot ma I tarmasuk akka na golput manang na so mamakke hak soarana”.

Mangihuthon pandohan ni amanta Saragi on, nunga adong 93.888 na terdaftar di DPT Pilkada Samosir 2015. Domu tusi, adong do muse surat edaran (SE) marnomor 729/KPU/X/2015 taringot tu  Pencermatan Ulang DPT (Daftar Pemilih Tetap), na ikkon dicetak do godang ni surat suara I mangihuthon godang ni na adong tarcatat di DPT, las ditambai ma dua satonga porsen sian godang ni DPT di ganup-ganup TPS (Tempat Pemungutan Suara). Artina, gabe adong ma annon 96.235 lobbar surat suara ditambai muse dohot 200 lobba surat suara ulang.

Apala impola ni SE I ima asa terjamin adong surat suara I. Alai on pe gabe sihabiaran do muse alana boi do on dileunghon manang dibahen tu naso tujuanna. Ido umbahen na ikkon manat hita mamarateatehon on jala unang pamura hita mandokkon olo tu manang ise pe na manjanjihon manang mangalehon akka mansam ni suap laho pamonanghon si anu di Pilkada on.

“Na porlu muse, molo siat hata sian hami nian, molo adong lobbar ni surat suara na sega, na so sah, na so tarpakke manang na lobi, tor ditutungi ma nian di ganup-ganup TIPS disi sidung ulaon penghitungan suara”, ninna si Saragi muse. Tujuanna ima asa boi denggan Pilkada on, dang adong pola martiga-tigahon soarana.

Ra marragam do pandapot ni akka na dongan nampuna hak suara i. Alai, molo na olo do hita asa dapotsa parhalado na dumenggan, rap nian hita manat mamarateatehon muse boha do hasil ni rekapitulasi suara I annon muse, ndang holan di TPS alai huhut sahat ma tu setiap tingkatan. Tudos tu si, naeng ma nian akka dongan na di Samosir rade mangihut-ihut boha do gerak-gerik ni KPUD (Komisi Pemilihan Umum Daerah) dohot akka pasangan calon na naeng sipilliton.

Boti ma.

Sumber:  Konfrontasi

Facebook Comments

Bagaimana penulis berburu vote di forum diskusi

(Dialog imajiner antara dua orang kompasianer sembari ngopi di angkringan di pinggiran kali. Sebut saja namanya Broery dan Afgan. Kesamaan nama dan peristiwa kebetulan belaka).

Broery: Tulisan kamu yang terbaru tentang asap itu bagus banget. Gua suka. Selamat ya, Gan.

Afgan: Sama-sama, Bro.

Broery: Bermanfaat dan aktual. (Angkat topi)

Afgan: Ah, lebay lo, Bro. Emang tulisan mana yang Bro baca?

Broery: Itu loh yang kamu posting di Kompasiana. Great job, dude.

Afgan: Oh iya, Bro. Tapi sejujurnya gua kesel juga. Pas lihat statistik di dashboard dan nilainya hanya secuil, bro. Bukan apa sih. Gua nggak obsesif dengan metrics kayak Google Analytics, hanya heran saja.

Broery: Tidak apa-apa, gan.. Elus dada saja.

Afgan: Gimana gua nggak geram, Bro? Postingan tidak penting dari kompasianer lain justru mendapat nilai yang jauh lebih tinggi dan nangkring berlama-lama menjadi artikel terpopuler. Kayak tulisan tentang aktor mana yang mencolek pantat aktris yang mana, atau berapa banyak orang yang nungging rame-rame dimana. Darimana jalannya, coba?

Broery: Hmmm … sudah biasa, Gan.

Afgan: (Terdiam sebentar, menyesap kopi yang mulai dingin)

Broery: Kamu geram karena aku bilang “sudah biasa”, Gan?

Afgan: Iya, Bro. Kok malah kamu jawabnya “sudah biasa”?

Broery: Nih gw jelasin ya, Gan. Gw juga terinspirasi dari tulisan dari mas Darmawan.

*******

Situasi online marketing (internet marketing) bagi para profesional sering digabung dengan istilah digital marketing. Digital marketing pada dasarnya mencakup pemasaran (periklanan) di TV, seluler, radio, termasuk juga internet. Jadi internet marketing atau online marketing merupakan cabang dari digital marketing. Yang ingin saya bahas disini hanya online marketing-nya, yang sebenarnya juga banyak diterapin oleh para pencari vote di forum-forum besar seperti Kompasiana ini, bro. Selain berbagi gagasan, kita juga khan disini menjual gagasan. Pembaca yang tertarik akan membeli, tentu saja pembayarannya bukan dengan uang (meskipun itu juga bisa terjadi). Apresiasi yang kita dapat yakni komentar, yang kemudian menjadi thread diskusi, dan semangat berbagi gagasan pun dipupuk berkat artikel yang kita tulis.

Di dunia online marketing, salah satu channel yang paling populer yaitu SEO (Search Engine Optimization). Dalam konteks delivery gagasan-gagasan di Kompasiana ini, postingan paling populer itu juga bisa dilihat sebagai hasil dari suatu ‘SEO’. Banyaknya jumlah sundulan, direkomendasikan, dan dikomentari oleh kompasianer lain menjadi metrics tingkat kepopuleran suatu artikel.

Nah, SEO dibagi menjadi 2 berdasarkan teknik-teknik yang digunakan.

Pertama, White Hat SEO: teknik SEO yang “bersih”, sesuai dengan aturan yang diterapkan oleh mesin pencari, dan tidak merugikan orang lain. Kita bisa menyamakannya dengan teknik-teknik penulisan dan pembobotan artikel yang tidak sekedar menyampah, tetapi benar-benar mencerahkan dan memberi insight baru, baik terhadap isu yang sudah dimuat di Kompas.com ataupun pengalaman dan pengamatan langsung si penulis dari atas kejadian nyata sehari-hari. Dalam parameter ini, content dan delivery idea yang paling baik dan menarik, mestinya menjadi postingan terpopuler dalam ranking artikel-artikel Kompasiana. Kompasianer yang menggunakan teknik ini bisa kita sebut sebagai kompasianer “bertopi putih”.

Kedua, Black Hat SEO: bertentangan 180 derajat dengan dengan White Hat SEO. Biasanya isinya terkait dengan spamming. Seperti jalan pintas, tapi bukan jalan pintas yang sopan. Kita bisa menyamakannya dengan trik dan strategi di belakang panggung yang berusaha memberi kesan bahwa sebuah artikel benar-benar berbobot di mata para pembaca yang lain. Licik? Bisa kita sebut begitu. Tapi, kita tidak akan pernah mengidentifikasi kelicikannya jika kita tidak ngeh dengan apa saja yang mereka lakukan di belakang panggung seperti yang saya maksud.

Skenario umumnya ialah seorang kompasianer akan mengajak kompasianer lainnya (yang sepaham dengannya, dan bisa diajak tentunya) untuk sesering mungkin memberi komentar dan penilaian atas artikel yang dibuatnya. Mereka terikat dengan semacam kontrak untuk saling mengomentari tulisan manapun dari anggota rekrutannya. Terlepas dari apakah artikelnya berbobot atau tidak. Kita sebut saja ini para kompasianer “bertopi hitam”.

Inilah yang kerap mengherankan bagi pembaca yang cermat. Bagaimana tidak, artikel sampah yang tidak memberi insight apa-apa selain memenuhi storage yang hostingnya disewa oleh Kompasiana, malah mendapat nilai dan komentar paling banyak. Mungkin terlalu dini menyebutnya sebagai artikel sampah. Tapi, jika semakin lama dibiarkan, maka jumlah tulisan semacam ini akan semakin menggunung dan mengurangi intensi dari forum diskusi sebagaimana menjadi intensi dari Kompasiana.

Akibat dari fenomena menulis demi sensasi ini bisa sangat fatal. Teknik Black Hat membawa resiko yang besar karena lambat laun forum akan penuh dengan artikel-artikel yang mutunya semakin menurun. Bagi para pembaca yang tidak aktif menulis di Kompasiana pun, teknik ini merugikan, baik pembaca yang cermat maupun bagi para pemula. Ketika artikel-artikel yang tidak berkualitas mendapatkan posisi tinggi di peringkat penilaian, maka pembaca yang cermat akan semakin kecewa dengan kualitas forum. Sementara itu, para pemula akan mendapatkan informasi yang tidak berkualitas

Ini ibarat sampah plastik yang kita buang di jalanan habis makan gorengan. Jika sejuta saja penduduk Jakarta melakukan hal yang sama, ini bisa menambah pusing pak Ahok yang sedang berjuang memikirkan pengelolaan sampah demi Jakarta yang lebih baik. Untunglah masih ada satu dua orang yang habis makan gorengan, membuang plastiknya di tempat sampah terdekat.

Barangkali ini sepintas terlihat sepele. Tapi jika jumlah sampah yang dibuang si topi hitam semakin banyak, maka mereka yang bertopi putih pun akan ikut-ikutan. Bukan tidak mungkin kelak forum yang kita cintai ini akan menjadi forum sampah juga.

***
Afgan: Hmm …. Ternyata begitu ya, Bro. Baru gw ngerti sekarang.

Broery: Kira-kira begitu loh, Gan. Hehehe …

Afgan: Ya udah, gua cabut dulu Bro. Jadi semangat lagi nih pengen nulis. Bodo amatlah dengan metrics begituan. Btw, gw yang traktir gorengannya ya, lo yang buang plastiknya.

Broery: Okey. Hahaha, bisa aja lo, gan.

Facebook Comments