[Penulisan Skenario]: Mengapa sudah Setengah Jalan, lalu Bingung Melanjutkan?

Rancangan karaktermu sudah lumayan. Kamu merasa sudah oke dengan rancangan fase karakter. Kamu merasa sudah memilah-milah mana sifat bawaan lahir, sifat hasil pengalaman, dan gambaran si karakter di mata penonton. Tetapi di tengah proses menulis, kamu kebingungan sendiri. Menulis naskah skenario memang adalah sebuah proses kreatif yang tak sepenuhnya bisa dijadwalkan secara hitungan matematis yang ketat. Meski demikian, bukan berarti kamu bisa ngeles dan menunda-nunda dengan alasan: Ah, masih mandek. Belum ada ide“. 

Pernah mengalami situasi seperti ini?

Jika pernah, atau jangan-jangan kamu sekarang mengalaminya persis ketika membaca tulisan ini, panduan ini bisa membantumu melanjutkan tulisanmu. Lalu kamu bisa kembali menggerakkan jemarimu di keyboard laptop atau perangkat mobile-mu.

Proses berkesenian adalah proses kreatif. Maka, jika benar kamu sudah memiliki konsep utuh untuk skenariomu, maka tidak ada alasan untuk mengatakan belum ada ide.

Seorang rahib sekaligus pelukis mencatat apa saja yang perlu sebelum ia mulai melukis.

Panduan ini disusun supaya ide kreatif yang kamu miliki bisa mengalir dengan lancar tanpa kamu perlu khawatir berlebihan terhadap hal teknis pada pemformatan naskah skenariomu. Entah dengan Microsoft Word, Google Docs, Word Pad atau aplikasi mengetik lainnya, kamu bisa membuat template sendiri atau tinggal melanjutkan tulisan menggunakan template yang sudah disediakan guru atau instruktur. Prinsipnya, template yang sudah ada itu dapat diikuti secara tradisional dan mudah.


Ketika di tengah proses penulisan, misalnya ada gagasan tambahan tertentu muncul di pikiranmu (entah itu yang berkaitan maupun tidak berkaitan secara langsung), kamu bisa membuat catatan di bagian bawah dokumen Word (atau dengan Comment di Google Docs). Yang penting gagasan itu sudah ada disana. Kapan kamu perlu, kamu tinggal kembali ke catatan itu dan mengembangkan kalau kamu sudah punya waktu.

Sebelum menulis skenario, tanyakanlah hal-hal berikut pada dirimu sendiri:


A. Perihal konsep utuh skenario

  • Apakah karakter dan plot (alur cerita) sudah kamu susun jelas dan runtut (bisa kamu bayangkan dengan mudah dalam pikiranmu)?
  • Bisakah kamu memvisualisasikannya sampai pada level detail tertentu?
  • Sudahkah kamu memiliki gagasan yang jelas untuk detail cerita bahkan sebelum kamu mulai menulis dengan tulisan tangan atau mengetik di laptop kamu?
  • Apakah kamu sudah mencermati dengan sungguh pada bagian opening, inti cerita, dan ending?
  • Apakah bagian opening sudah cukup menarik perhatian seseorang dalam beberapa baris kalimat saja sehingga orang itu tidak langsung bosan bahkan sebelum naskah itu diceritakan?

B. Perihal penyiapan karakter:

  • Sudahkah kamu merumuskan kepribadian dan bahasa tubuh si karakter?
  • Sudahkah kamu menanamkan dalam pikiranmu bagaimana karaktermu seharusnya muncul/kelihatan di layar nanti?
  • Sudahkan kamu memberi perhatian yang cukup pada umur, penampilan, kebiasaan dan pola kelakuan yang kamu inginkan pada karaktermu?
  • Sudahkah kamu membuat dasar pikir sehingga sutradara dan desainer kostum mampu bekerja untuk membuat karaktermu benar-benar hidup?
  • Apakah daftar lokasi sudah kamu pikirkan/rampungkan?
  • Siapa target penonton atau audiensmu? Seperti apa sih mereka?
  • Ingatlah, kamu selalu bisa berimprovisasi hingga kamu sendiri puas dengan keseluruhan bangunan cerita skenariomu. Akan tetapi, sangat baik kalau kamu menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas terlebih dahulu sebelum kamu mulai menulis naskah. Bagian opening akan sangat penting dan kritis untuk menarik perhatian audiens. Ketika menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, posisikanlah dirimu pada posisi penonton.

Naskah skenario (screenplay) tentu kamu harapkan akan benar diwujudkan menjadi sebuah film, bukan untuk dibuang ke tempat sampah. Ini adalah sikap optimis yang sebaiknya dimiliki setiap pelaku seni. Tentu kita tidak akan mulai menulis cerita jika di awal sudah yakin bahwa cerita itu tidak akan didengar orang. Tentu kita tidak akan mencipta lagu jika di awal sudah yakin bahwa tidak akan ada orang yang mendengar lagu itu.


C. Naskah itu harus komunikatif secara visual.

  • Jika kamu ingin membangun adegan sedih, tulislah naskah yang sesuai dengannya: sebuah adegan yang gelap dan tenang baik secara visual (dalam deskripsi adegan) maupun secara verbal (dalam dialog).
  • Sebaliknya, jika kamu ingin membangun adegan yang ceria dan hidup-hidup, tulislah dalam suasana yang penuh warna dan cerah.
  • Ingatlah, yang kamu lakukan sekarang adalah menceritakan sebuah kisah melalui lensa kamera, bukan menuliskan sebuah buku (dimana kamu bisa menyisakan banyak hal untuk imajinasi pembaca)

D. Perihal pengenalan karakter

Pengenalan karakter harus mendetail dan akurat sehingga aktor dan aktris bisa membawa ceritamu hidup di layar. Ingatlah, medium visual ini sangat kuat dan mengandung banyak detail-detail yang sangat halus sekali. Semakin deskriptif, semakin bagus naskahmu.

Dengan rumusan yang sudah kamu kerjakan perihal fase karakter (ketika lahir hingga ketika menjalani kehidupannya) dan aspek karakter (kekuatan – kelemahan – keinginan – kebutuhan), nyatakanlah hal-hal berikut dalam perkenalan karakter:

  • Appearance: tampilan/penampilan/rupa/wajah
  • Attire: pakaian, aksesoris tubuh
  • Habits: kebiasaan
  • Body language: bahasa tubuh

Lalu, sampai sedalam mana kamu ingin mensketsakan karakter?

Untuk karakter utama, sebaiknya rumuskan secara mendetail sehingga penonton bisa mengenal mereka dengan baik. Sementara untuk peran pembantu atau tokoh figuran, buat secara singkat saja.


E. Tempat yang baik untuk menulis

Tulislah naskahmu di tempat yang kamu rasa nyaman dan menginspirasimu untuk menulis. Bagi beberapa orang, alam terbuka dengan pepohonan atau taman penuh bunga adalah lokasi terbaik untuk mencari inspirasi dan memancing ide mengalir.

Bagi sebagian orang lain lagi, duduk di dekat jendela dengan laptop di depan dengan ditemani secangkir kopi adalah pilihan paling tepat.

Lokasi favorit untukmu menulis, dimana?


F. Menulis itu Mencatat Ingatan

Sebisa mungkin jangan menyisakan ruang ambiguitas: be as clear as possible.
Jangan bergantung pada ingatan karena ini yang paling sering membuatmu gagal menyelesaikan naskah. Atau membuatmu berdalih belum ada ide seperti di bagian awal tulisan ini. Jika ide datang, catatlah. Tidak cukup hanya dengan mengingatnya. Mencatat itu artinya menitipkan ingatanmu pada pihak lain sehingga kapan kamu butuh kamu bisa memintanya kembali. Pihak lain itu bisa berupa pena dan kertas, file di perangkat, atau bahkan sekedar coretan untuk menyimpan ingatanmu.

Seburuk-buruknya catatan tetap lebih baik dibanding sebaik-baiknya ingatan. 

Facebook Comments

Published by

Donald

Penyanyi dan para pemusik itu tampil memukau di hadapan raja dan tamu undangan. Suguhan lagu mereka melengkapi jamuan makan dan minuman, omong kosong serta sopan santun sebagaimana layaknya perjamuan manusia. Raja puas. Ia tidak jadi memenggal kepala para seniman itu. Malah, ia menepati janjinya dan membayar mereka dengan upah yang lebih dari sekedar ongkos pulang dan dengan sumringah menemui istri dan anak yang menunggu di rumah. Demikianlah seniman melengkapi gizi rohani bagi para penguasa dan pekerja, yang seharian lelah dengan pekerjaan manusia. Kerap, seniman memang lain dari manusia biasa.

Komentar