Pantun Multibahasa Membalas Ucapan Selamat Ulang Tahun

Zaman sekarang, hampir semua kita memiliki akun media sosial (medsos). Entah Facebook, Line, Instagram, maupun yang lainnya. Kalian teman-temanku yang orang Batak juga tentu tidak ketinggalan.

Sesuai fungsi awal media sosial, yakni untuk menghubungkan orang kendati berjauhan tempat, maka momen-momen penting dalam hidup kita juga kerap kita bagikan. Momen ulang tahun misalnya. Bahkan, aplikasi Facebook mengingatkan teman kita kapan kita ulang tahun tanpa harus kita poskan (jika kita mengizinkan si Facebook untuk mengingat dan memberitahukannya kepada teman-teman kita setiap tahun).

Lalu biasanya akan ramai orang mengucapkan selamat ulang tahun. Umumnya ucapan yang berisi harapan dan doa. “SUT”. “HBD”. “Happy Birthday ya”. Beberapa teman jahil, misalnya kerap memplesetkannya menjadi “Selamat Hari Burung ya”. Ini pun terjemahan dari ucapan plesetan juga, yakni “Happy Bird Day”, yang secara pengucapan terdengar mirip dengan Happy Birthday. Ya, kuterima saja karena benar aku tahu maksudnya, sama-sama pemilik burung alias pidong. Kalau kamu masih nanya, “kok bisa jadi pidong, konteksnya apa?”, mungkin karena kita masih belum berteman. Hahaha.

Ketika kita baru memiliki jumlah teman medsos yang tidak begitu banyak, tidak akan menjadi masalah. Kita bisa membalasnya satu persatu tanpa menyita waktu banyak. Tapi bagaimana kalau teman kita sudah berjumlah ratusan bahkan ribuan? Pasti akan repot jika harus membalas satu persatu. Bisa-bisa kita didamprat bos karena asyik bermedsos ria membalas ucapan selamat, lupa kerjaan. Nah, salah satu solusi yang kurasa efektif supaya teman-teman yang mengucapkan selamat tidak berkecil hati adalah membalasnya sekaligus dengan pantun (umpasa). Biasanya metode ini lebih menarik dibandingkan dengan postingan balasan yang serba formal, filosofis, apalagi sampai kita ceritakan ulang proses kelahiran kita sampai mencapai umur sebanyak angka yang sedang dirayakan. Percayalah. Kebanyakan teman juga tidak mau tahu apakah kita waktu itu lahir di rumah sakit, di bidan atau di tangan Sibaso.

Seorang teman Facebook, Deni Lumbantoruan, yang juga dosen di King’s College London membuat ucapan balasan berupa pantun dalam 3 bahasa sekaligus, yaitu bahasa Batak Toba, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris.

Ini dia pantun dan umpasa-nya.


(Bahasa Indonesia):

Bunga melati bunga dahlia,
Sungguh tajam keharumannya.
Betapa hati merasa bahagia,
Atas ucapan dan doa-doanya.


(Hata Batak Toba)

Songgop si Ruba-ruba
tu dangka ni si Hapadan,
Angka hata nauli dohot tangiang na dipasahat hamuna,
sai dijangkon tondi ma dohot badan.


(English):

Queen lives in Windsor,
Johnson lives in Downing Street,
Fill my days with hope,
Know that I am loved.

 

 

 

 

 

Facebook Comments

Published by

Donald

Penyanyi dan para pemusik itu tampil memukau di hadapan raja dan tamu undangan. Suguhan lagu mereka melengkapi jamuan makan dan minuman, omong kosong serta sopan santun sebagaimana layaknya perjamuan manusia. Raja puas. Ia tidak jadi memenggal kepala para seniman itu. Malah, ia menepati janjinya dan membayar mereka dengan upah yang lebih dari sekedar ongkos pulang dan dengan sumringah menemui istri dan anak yang menunggu di rumah. Demikianlah seniman melengkapi gizi rohani bagi para penguasa dan pekerja, yang seharian lelah dengan pekerjaan manusia. Kerap, seniman memang lain dari manusia biasa.

Komentar