Pasangan Yang (Tak) Bisa Dipercaya

Dari protofonnya, polisi Ray Mandel (diperankan Thomas Jane) mendapat info dari markas polresnya bahwa dia mendapat tugas mendampingi anak baru untuk patroli di jalan raya. Nama anak baru itu Nick Halland (diperankan Luke Kleintank).

Itulah awal perkenalan kedua partner penegak hukum ini. Adegan berikutnya dalam film Crown Vic (2019) ini berkisah tentang petualangan mereka berhadapan dengan penjahat, pengedar narkoba, preman dan orang-orang jahat lainnya.

Selain sinematika yang keren, dialog intens antara keduanya pun menarik.  Pantas saja, Director Screenwriternya adalah Joel Souza.

Hanya dalam satu sif jaga, dari petang hingga menjelang pagi, banyak pelajaran yang bisa diambil dari percakapan Ray dan Nick. Ray akhirnya memiliki anak baru untuk diajarinya berpatroli setelah 25 tahun. Bagi Nick, ini adalah hari pertamanya bertugas setamat dari akademi kepolisian.

Mereka pun terlibat pembicaraan menarik selama sif itu di sela-sela tugas yang mengharuskan mereka berlari mengejar penjahat atau bertemu dengan orang iseng yang melempari mobil mereka dengan batu bata. Atau pengemudi yang sengaja menerobos lampu merah di depan mereka.

Setidaknya ada dua tema menarik yang bisa kita ambil dari Crown Vic ini. Pertama, tentang filosofi kerja. Kedua, tentang filosofi sebuah relationship (entah dalam berpacaran maupun perkawinan)


Filosofi Bekerja.

Ray: Ada satu hal penting yang harus kau ingat selama patroli ini, Nick. Ada dunia kita di dalam mobil polisi ini. Lalu, ada dunia lain, yakni apapun di luarnya. Seperti yang kau lihat, mobil ini dilapisi logam dan kaca. Kau harus menghormati peralatan yang diberikan kepadamu. Ucapkan dengan lantang, “kau harus menghargai peralatan yang dipercayakan padamu”.

Nick: Serius, aku harus mengucapkannya dengan lantang?

Ray: Ucapkan dengan lantang. Aku serius. Cek rover-nya. Periksa baterinya. Lihat rompimu. Persnelling dan remnya. Sini coba, senjata macam apa yang mereka berikan padamu. Oh. Pistol 6262 dengan 16 peluru. Wow. Kuharap kau merawatnya. Jangan sampai lupa membersihkan residunya.  Jadi, ucapkan sekali lagi, aku harus menghargai alat yang diberikan kepadaku ini. Paham?

Nick: …

Ray: Di dalam mobil ini, kuhabiskan umurku 25 tahun. Kau pun, mulai dari hari pertamamu, akan begitu. Di luar mobil ini, semua orang bisa jadi adalah kriminal.  Orang yang hari ini kau selamatkan, bisa jadi besok dia yang akan membunuhmu. Banyak orang akan membencimu karena itu. Bahkan partnermu di lapangan, hari ini melindungimu tetapi kemudian menjebakmu. Kuharap kau sudah menyadarinya sejak hari pertama kau di akademi kepolisian. Orang-orang bisa beristirahat dengan nyenyak di tempat tidur mereka pada malam hari karena ada orang-orang yang bersedia melakukan kekerasan untuk melindungi mereka.

Nick: …

Ray: Dengar. Camkan baik-baik apa yang akan aku katakan ini. Karena setelah malam ini hanya akan ada dua pilihan. Entah kau akhirnya memahami bagaimana melakukan pekerjaan itu atau pekerjaan ini yang akan memakanmu hidup-hidup. Ingat, ada dunia sendiri di dalam mobil ini, dan dunia lain di luarnya. Ketika kau patroli, setiap orang yang kau lihat, yang tidak mengenakan seragam seperti yang kau kenakan, mereka adalah orang yang sudah pernah duduk di kursi tahanan ini atau yang akan duduk di sana. Semua orang. Pokoknya siapa saja yang bukan polisi, kau bukan bagian dari mereka lagi. Sekarang, yang ada adalah kita berhadapan dengan mereka. Paham? Kau adalah anjing penjaga, mereka dombanya. Saat ini kau selamatkan satu orang, besok bisa jadi orang itu yang akan berbalik menyerangmu.


Filosofi Perkawinan

Ray: Nick, apakah kau percaya dengan pasanganmu?

Nick: Ya. Tentu saja. Aku percaya padanya.

Ray: Terus, mengapa dia terus mengirim SMS dari tadi sejak kita mulai patroli? Darimana kau tahu bahwa dia tidak sedang pria lain, lalu sekedar ingin memastikan posisimu tidak sedang berada dekatnya dan memergokinya secara tiba-tiba?

Nick: Bro … Kau sedang membacarakan istriku loh.

Ray: Mengapa kau berfikir bahwa karena dia isterimu, kau lantas melepas penjagaanmu? Apa kau pikir karena cincin yang kau kenakan melingkar di jarinya tiba-tiba dia tidak berani keluar dan bertemu orang lain?

Nick: Tolong, berhentilah membahas isteriku. Kami sudah lama pacaran sebelum menikah. Sejak SMA sudah saling mengenal.

Ray: Justru itu. Apakah menurutmu, karena sudah lama denganmu, ia tidak penasaran bagaimana rasanya dengan pria lain. Tak ada satu orangpun yang benar-benar mengenal orang lain.

Nick: Caramu memandang orang aneh sekali.

Ray: Bro, satu-satunya orang yang persis kau kenal adalah dirimu sendiri.

Nick: Maaf, tapi kau sudah dua kali menikah. Kau sudah mengalami banyak hal. Apakah kau tidak rindu ketika kau pulang ke rumah sehabis jam kerja yang melelahkan, ada yang menyambutmu di rumah?

Ray: Kalau itu, pelihara anjing saja.

Nick: Hmmm … Setidaknya, ketika kita meninggal, kita tidak sendirian. Ada orang di samping kita.

Ray: Bro, orang mati itu sendiri. Setiap orang mati sendirian.

Facebook Comments

Published by

Donald

Penyanyi dan para pemusik itu tampil memukau di hadapan raja dan tamu undangan. Suguhan lagu mereka melengkapi jamuan makan dan minuman, omong kosong serta sopan santun sebagaimana layaknya perjamuan manusia. Raja puas. Ia tidak jadi memenggal kepala para seniman itu. Malah, ia menepati janjinya dan membayar mereka dengan upah yang lebih dari sekedar ongkos pulang dan dengan sumringah menemui istri dan anak yang menunggu di rumah. Demikianlah seniman melengkapi gizi rohani bagi para penguasa dan pekerja, yang seharian lelah dengan pekerjaan manusia. Kerap, seniman memang lain dari manusia biasa.

Komentar