Pasar Malam

 

Gemerlap lampu
Menyeruak dari pusat kota
Sepi yang tersembunyi
Bangkit berdiri
Tegak perkasa
Menghambur ke bianglala cahaya

Aku menyusup di keramaian
Orang-orang berdesakan
Keringat dan debu
Bercampur padu

Keramaian dan sesaknya pasar malam
Sukmaku terbuang jauh ke dalam kelam

Meski tangan sempat merengkuhmu
Dingin udara pekat membisu
Makna tersisa hanya kehampaan 

Barangkali karena mimpi
Telah menjadi topi
Aku merasa gerah
Dan resah erat menyinggah

Keramaian dan sesaknya pasar malam
Sukmaku terbakar di atas tungku segala rindu

 

Semarang, April 1987

Facebook Comments

Published by

Donald

Penyanyi dan para pemusik itu tampil memukau di hadapan raja dan tamu undangan. Suguhan lagu mereka melengkapi jamuan makan dan minuman, omong kosong serta sopan santun sebagaimana layaknya perjamuan manusia. Raja puas. Ia tidak jadi memenggal kepala para seniman itu. Malah, ia menepati janjinya dan membayar mereka dengan upah yang lebih dari sekedar ongkos pulang dan dengan sumringah menemui istri dan anak yang menunggu di rumah. Demikianlah seniman melengkapi gizi rohani bagi para penguasa dan pekerja, yang seharian lelah dengan pekerjaan manusia. Kerap, seniman memang lain dari manusia biasa.

Komentar