Sajen dan Sosok

Darah bagi Sembahan yang selalu haus

Sesajian berderet sejak purba
Berkerubung mereka disana
Tumpah berjejal di pelataran Gaia
Konon, Sosok itu lapar. 

Sesajian tidak saja kembang aneka rupa,
Tak juga sebatas puja-puji mantra beraroma dupa.
Pedang berdarah penghunus nyawa kaum nestapa buta aksara, yang tak mau tunduk menyembahnya, juga tertancap megah disana.
Konon, Sosok itu haus dipuja.

Sesajian terus berdatangan,
Sejak purba hingga zaman yang tak lagi bisa terbilang angka,
Gaia kini tua renta tersedot habis semua tubuhnya,
Pun tak kunjung cukup memuaskannya.
Konon, Sosok tak terpuaskan juga.

Sesajian harus terus ada.
Harus tetap berlimpah ruah di singgasananya.
Gaia renta membuat manungsa iba.
Dihunusnya pedang angkara, dihunjamkannya ke raga Saudaranya.
Sebab, Sesajian tak boleh tiada.
Begitu titah Sosok

Bangsa mulai bermufakat,
“Mari kita eratkan tangan. Jika kita tidak lebih dulu membantai negeri tetangga, anak-anak kita akan jadi sesajian berikutnya”.
Kitab Suci pun ditulis,
Tafsir disusun, ditimbang dan ditimbun di lumbung penguasa,
Jika kelak zaman bertanya, “untuk apa?”, kita tunjukkan saja: “Begitu perintah sang Sosok”
Sesajian pun akhirnya tetap tersedia.
Sebab sampai hari ini, Sosok masih meraja di segala penjuru dunia.

 

Bintaro/8-11-17

Facebook Comments

Published by

Donald

Penyanyi dan para pemusik itu tampil memukau di hadapan raja dan tamu undangan. Suguhan lagu mereka melengkapi jamuan makan dan minuman, omong kosong serta sopan santun sebagaimana layaknya perjamuan manusia. Raja puas. Ia tidak jadi memenggal kepala para seniman itu. Malah, ia menepati janjinya dan membayar mereka dengan upah yang lebih dari sekedar ongkos pulang dan dengan sumringah menemui istri dan anak yang menunggu di rumah. Demikianlah seniman melengkapi gizi rohani bagi para penguasa dan pekerja, yang seharian lelah dengan pekerjaan manusia. Kerap, seniman memang lain dari manusia biasa.

Komentar