Saripati Berkat Perkawinan Batak

“Sai tubuma di hamu anak namarbisuk jala naburju marroha” (Kiranya lahirlah anak yang cerdas nan bijak serta baik hati). Itu saja harapan para orang tua Batak zaman dahulu saat memberi “pasu-pasu” dan doa pada pengantin dalam upacara adat.

Tak pernah dikatakan, “Sai tubuma di hamu anak namora jala parpangkat, aha pe diulahon asalma dapot hamoraon dohot huaso.” (Semoga lahir anak yang kelak jadi orang kaya dan punya kekuasaan, apa pun sedia dilakukan demi kekayaan dan kekuasaan).

Tetapi zaman telah berubah.

Orientasi kita Batak perlahan bergeser pula.

Lahirlah para Batak “raja olah”, oportunis, pemuja harta dan kuasa, bahkan tak masalah menghancurkan kampung para leluhur mereka demi uang.

Penulis: Suhunan Situmorang
Facebook Comments

Published by

Donald

Penyanyi dan para pemusik itu tampil memukau di hadapan raja dan tamu undangan. Suguhan lagu mereka melengkapi jamuan makan dan minuman, omong kosong serta sopan santun sebagaimana layaknya perjamuan manusia. Raja puas. Ia tidak jadi memenggal kepala para seniman itu. Malah, ia menepati janjinya dan membayar mereka dengan upah yang lebih dari sekedar ongkos pulang dan dengan sumringah menemui istri dan anak yang menunggu di rumah. Demikianlah seniman melengkapi gizi rohani bagi para penguasa dan pekerja, yang seharian lelah dengan pekerjaan manusia. Kerap, seniman memang lain dari manusia biasa.

Komentar