Kumau Dia, tapi Agamanya Beda

Andmesh dan Kumau Dia

Rasanya pemerhati blantika musik Indonesia tidak asing lagi dengan Andmesh Kamaleng. Setelah lagu Cinta Luar Biasa, Hanya Rindu, Nyaman dan Jangan Ubah Takdirku, kini Andmesh Kamaleng kembali menciptakan lagu baru dengan judul Ku Mau Dia. Pertama kali dipublikasihkan ke publik pada Rabu tanggal 22 November 2019 di halaman Youtube Hits Records, lagu ini  sudah ditonton lebih dari 24 juta kali.

Liriknya menceritakan tentang perjuangan cinta yang terhalang banyak perbedaan. Namanya juga sudah saling cinta, ya perlu diperjuangkan meskipun ada perbedaan yang menghadang. Supaya para pembaca mempunyai sedikit gambaran, berikut ini saya akan tuliskan lirik lengkapnya.

Kumau Dia

Oooh…

Kuharap semua ini bukan sekedar harapan
Dan juga harapan ini bukan sekedar khayalan
Biarkan ‘ku menjaganya sampai berkerut
Dan putih rambutnya jadi saksi cintaku padanya

Tak main-main hatiku
Apapun rintangannya kuingin bersama dia

Kumau dia, tak mau yang lain
Hanya dia yang s’lalu ada kala susah dan senangku
Kumau dia, walau banyak perbedaan
Kuingin dia bahagia hanyalah denganku

Biarkan ku menjaganya sampai berkerut
Dan putih rambutnya jadi saksi cintaku padanya

Tak main-main hatiku
Apa pun rintangannya kuingin bersama dia

Kumau dia, tak mau yang lain
Hanya dia yang s’lalu ada kala susah dan senangku
Kumau dia, walau banyak perbedaan
Kuingin dia bahagia hanyalah denganku

Bukan ku memaksa, oh, Tuhan
Tapi kucinta dia
Kumau dia

 

Kumau dia
Dan hanyalah dia

Aku mau dia, tak mau yang lain
Hanya dia yang s’lalu ada kala susah dan senangku
Kumau dia, walau banyak perbedaan
Kuingin dia bahagia hanyalah denganku

Bukan ku memaksa, oh, Tuhan
Tapi kucinta dia
Kumau dia
Hanyalah dia, Tuhan
Kucinta dia


Siapa Andmesh?

Andmesh kamaleng merupakan salah satu penyanyi dari Timur yang memiliki suara yang unik dan khas. Karna keunikan dan kekhasan suaranya maka Andmesh Kamaleng kini banyak masuk nominasi penghargaan bergengsi. Pada tahun 2019 dia masuk kedalam kategori Best Asian Artist Indonesia di MNET Asian Music Awards (MAMA) yang berlangsung di Nagoya Dome, Nagoya, Jepang pada 4 Desember 2019.  Saat itu Andmesh – yang tidak bisa datang di acara tersebut – tidak menyangka bahwa dia akan memenangkan penghargaan internasional prestisius tersebut. Tidak hanya itu, Andmesh juga mendapat penghargaan musik tertinggi di tanah air dalam kategori  Artis Solo Pop Pria Terbaik di Anugerah Musik Indonesia 2019 . Hingga kini, kariernya semakin naik daun.

Analisis Formal

Saya tertarik dengan Kumau Dia karena lagu ini tidak hanya mengartikan tentang perjalanan cinta dua orang muda-mudi yang berbeda agama saja, tetapi banyak arti lain yang dapat ditafsirkan dari lagu ini. Selain kosakatanya yang khas tetapi tetap mudah dimengerti, alunan musiknya sangat menyentuh hati para pendengarnya.

Kumau Dia menggunakan nada dasar C dengan intro C F G. Berikut chord lengkapnya.


C                          Cmaj7                    F
kuharap semua ini bukan sekedar harapan
C                  Cmaj7                             F
dan juga harapan ini bukan sekedar khayalan
Am              G                 C
biarkan ku menjaganya sampai
F
berkerut dan putih rambutnya
F        G                  Am
jadi saksi cintaku padanya
C
tak main-main hatiku
Bb               F                                            G
apapun rintangan yang ku ingin bersama dia

Reff :

C                      F              G
ku mau dia tak mau yang lain
C                        F
hanya dia yang selalu ada
Am                     G
kala susah dan senangku


Temponya santai sehingga para penikmat lagu yang sedang mendengarkan lagu ini dapat dengan mudah menerima pesan apa yang disampaikan. Dinamika suara yang khas milik Andmesh membuat Kumau Dia mendapat tempat khusus di hati penggemarnya.

Kumau Dia sekali lagi mengisahkan cinta beda agama yang sering kita jumpai di negara ini. Dua orang yang saling tulus mencintai tetapi terhalang karena berbeda agama, dan tetap tidak mau berpisah. Kumau Dia mengikuti jejak lagu sebelumnnya dari Andmesh. Sebut saja misalnya Hanya Rindu. Bahasa liriknya sama-sama padu, sederhana tetapi meninggalkan memori yang kuat di telinga dan hati pendengar, lalu menyanyikan kisah yang relate dengan banyak orang. Lagi-lagi hal ini menegaskan bakat dan kemampuan Andmesh sebagai penyanyi sekaligus pencipta lagu.

Terus, Mau Apa dengan Kumau Dia?

Dari segi iringan musik,  baik Kumau Dia maupun Hanya rindu memiliki ritme sedang dan nyaman didengar. Video klip yang dibuat untuk membumbui lagu tersebut juga sangat menarik, pesan visualnya mudah ditangkap. Ditambah lagi dengan paduan rapi antara scene dalam video musiknya.

Jika hendak memberi saran, barangkali ialah supaya Andmesh mencoba menggunakan bahasa kiasan dalam kemasan yang baru sembari tetap konsisten menyajikan makna yang kuat dan tegas lewat kosakata yang sederhana. Entah seperti apa caranya, tetapi penyair akan selalu menemukan lirik dan arti.

Pesan Moral

Menurut Saya pribadi sebagai anak milenial, seharusnya percintaan antardua insan beda agama ini sudah tidak terlalu dipermasalahkan karena pada zaman yang sudah sangat maju sekarang ini kita tetap dapat melangsungkan pernikahan meskipun dengan syarat dan ketentuan yang masih cukup rumit.


Dikutip seperlunya dari tulisan Elwanindo Damanik, siswa XII IPA 1 SMA Budi Mulia Pematangsiantar TA 2019-2020

 

Mencari Kutu Rambut

Hendra Gunawan, “Mencari Kutu Rambut”, Cat Minyak, Canvas 84cm x 65cm, tahun 1953

 

 

Hendra Gunawan adalah salah satu seniman lukis Indonesia. Dia pernah ditahan selama 13 tahun dimulai pada tahun 1965 hingga 1978. Selama didalam penjara beliau tetap berkarya membuat lukiasan bertema tentang kehidupan masyarakat pedesaan pada zamannya, seperti panen padi, berjualan buah, kehidupan nelayan. Ada salah satu karyanya yang berjudul “mencari kutu rambut” yang dibuat pada tahun 1953. Subject matter yaitu seorang wanita yang sedang duduk mencari kutu wanita lainnya yang tengah  memangku anak perempuanya yang memegang wayang. Lukisan ini dibuat dengan media cat minyak diatas kanvas dengan ukuran 84cm x 65cm.

Dalam lukisan “mencari kutu rambut” nampak Hendra menampilkan dua sosok wanita dewasa dengan memakai baju kebaya sederhana dengan rok menggunakan jarik, dan satu anak kecil yang sedang memegang wayang dengan dipangku salah seorang wanita dewasa. Wanita yang sedang mencari kutu menggunakan baju berwarna biru keputihan yang warnanya hampir sama dengan warna backgroun yang ingin ditampilkan dengan motif titik-titik berwarna-warni, dengan menggunakan rok dari jarik warna coklat, dengan rambut diikat.

Ekspresi wanita tersebut terlihat serius mencari kutu pada wanita yang kedua. Wanita yang kedua memakai baju kebaya sederhana juga berwarna putih dengan motif, dan menggunakan jarik dengan warna coklat namun hampir sama dengan warna tanah yang ditampilkan, wanita kedua terlihat rambutnya terurai panjang menandakan bahwa dia yang sedang dicari kutu rambutnya. Tanganya sedang memegang kapala anak kecil dengan rambut agak pendek dengan baju berwarna merah muda yang memegang sebuah wayang. Kemudian background berwarna biru dan terlihat seperti ada pohon. Lukisan ini cenderung menggunakan warna yang lembut dengan latar yang sederhana. Kemudian warna kulit ketiganya sama, coklat keputihan.

Lukisan yang cenderung bergaya ekspresionis ini menampilkan warna dan latar sederhana. Warna biru pada baju wanita pertama, kemudian warna tanah pada jarik wanita kedua. Kebaya sederhana merupakan pakaian tradisional Jawa yang sering dikenakan oleh wanita-wanita pada kesehariannya, dengan bertapihkan jarik sebagai kombinasi pakaian. Motif kultural Jawa semakin lengkap pada wanita pertama yang mengikat rambutnya sehingga mirip seperti disanggul. Adapun jidat kehijauan pada wanita kedua merupakan sebuah kebiasaan wanita di Jawa yang baru melahirkan. Rambut-rambut panjang yang terurai juga mengesankan bahwa itu wanita jaman dahulu yang masih kental dengan tradisi setempat. Akhirnya, wayang yang sedang dipegang anak kecil sebagai mainan menegaskan bahwa kebiasaan perempuan Jawa memiliki kebiasaan mencari kutu rambut.

Mengisi waktu senggangnya dengan duduk dan mencari kutu pada wanita lainnya, memomong anak kecil, dan kebaya seakan mewakili kebiasaan Jawa yang dipandang perlu untuk menjalin keharmonisan.

“Mencari kutu rambut” adalah ekspresi yang sederhana dan lugas. Gambaran yang jelas mendukung judul sehingga apa yang dipikirkan apresiator tidak jauh-jauh dari judul yang ditampilkan.

Namun ada sedikit yang menjadikan kekurangan.

Pertamabackground yang dibuat kurang menampilkan bahwa itu adalah kebiasaan masyarakat pedesaan. Terlalu sederhana dan tidak mendukung subject matter yang ditampilkan. Padahal biasanya orang yang mencari kutu rambut itu duduk didepan rumah.

Kedua, proporsi manusia asli mungkin kurang diperhatikan sehingga untuk kaki wanita kedua cenderung pendek.

Ketiga, warna latar dengan baju wanita pertama itu sedikit membingungkan karna warnanya menyatu, sama seperti warna tanah juga yang disamakan dengan jarik wanita kedua.


Diubah seperlunya dari tulisan William D. Manihuruk, siswa XII IPS 1 SMA Budi Mulia Pematangsiantar TA 2019-2020.

Belajar dari Hal-hal Buruk

Film Dua Garis Biru adalah sebuah film Indonesia yang dirilis pada tanggal 11 Juli 2019. Film ini disutradarai oleh Gina S. Noer dan diproduksi oleh Starvision Plus. Film yang dibintangi Angga Aldi Yunanda dan Adhisty Zara ini awalnya sempat ditolak oleh sejumlah pihak karena dinilai ‘melegalkan kebebasan’ dalam berpacaran. Penolakan ini menjadi ironis karena – menurut hemat penulis – justru menunjukkan hakikat sebuah bangsa yang kecanduan moralitas yang hipokrit. Saking kecanduannya, sisi gelap selalu dilihat melulu sebagai sesuatu yang buruk. Orang tidak mau tahu bahwa kerap ada hikmah (silver lining) dari sebuah kisah, termasuk kisah kelam sekalipun. Pelajaran terbaik tak selalu muncul dari hal-hal baik, tetapi justru  sering berasal dari hal-hal buruk.

Film Dua Garis Biru adalah sebuah kisah keluarga. Kisah ini menjadi teramat penting karena kini mulai terjadi pendangkalan keintiman dalam keluarga. Tidak ada manusia yang tiba-tiba muncul dari ruang kosong. Semuanya selalu berawal dari keluarga. Sayangnya, saat ini definisi berkeluarga sudah sangat menggelisahkan. Berkeluarga disempitkan artinya sebatas sebagai cara untuk memperoleh keturunan, dan sampai disitu saja. Padahal, mestinya keluarga lebih luas dari itu.

Menurut Saya ini film yang sangat bagus. Saya belum pernah menemukan film drama remaja Indonesia yang seperti ini. Mulai dari ide cerita, detil, pengambilan gambar, sampai dialog, semuanya pas dan tidak asal. Semuanya memberikan pesan-pesan tersurat dan tersirat untuk kita para penonton. Kita dibuat terbawa dengan alur cerita dan konflik yang dialami para karakter karena konfliknya sangat relate bagi remaja dan orang tua.

Film ini juga membawa konflik yang menurut saya sangat berani, yaitu sex education (pendidikan seksualitas). Sex education adalah permasalahan yang sangat penting bagi remaja dan orang tua, tetapi topik tersebut selalu menjadi tabu dalam pembicaraan. Orang menganggap bahwa berbicara tentang seksualitas adalah sesuatu yang vulgar. Dua Garis Biru memperlihatkan akibat dari tabu tersebut. Kurangnya komunikasi antara orang tua dan anak mengenai sex education, berbuntut miskinnya literasi tentang seksualitas  yang akhirnya menjadi faktor risiko gagalnya orang tua dalam mendidik anak.

Pesan tersebut ditampilakan secara tegas dalam film ketika Bima dan ibunya sedang mengobrol sehabis sholat. Ibunya berkata, “Seharusnya kita sering ngobrol kayak gini.” Ini adalah sebuah tamparan bagi orang tua yang jarang punya waktu untuk mengobrol dengan anaknya.

Film ini memberikan kritik tendensius untuk orang tua. Statistik anak yang hamil di luar nikah tanpa ditanggungjawabi oleh kedua belah pihak (atau menghamili anak orang) cukup signifikan saat ini. Risiko kegagalan tersebut, disebabkan oleh kurangnya komunikasi antara orang tua dan anak terutama mengenai sex education. Orang tua selalu melarang anak mereka untuk berpacaran, tetapi tidak pernah memberi penjelasan.

Dua Garis Biru sekali lagi menyadarkan orang tua bahwa tanggung jawab mereka tetap ada, bahkan setelah mereka gagal mendidik anak mereka. Betapapun kecewa orang tua kepada anaknya, mereka akan tetap bertanggung jawab.

Akan tetapi, isi atau makna yang terkandung dalam film ini bisa saja diartikan lain oleh para remaja yang malah termotivasi melakukan hal yang sama seperti Dara dan Bima. Karena cerita ini diangkat dari kisah nyata, berarti remaja ini akan berpendapat bahwa melakukan hal yang sama seperti di film ini tidak seburuk apa yang mereka kira (buktinya kisah Dara dan Bima ini diangkat menjadi film Dua Garis Biru – entah pemikiran macam apa itu)

Namun, terlepas dari itu, film ini sangat patut diapresiasi dari segi visual, timing, dialog, pembawaan karakter antar pemain sangat baik sehingga hampir tak ada celah untuk dikomentari buruk, memiliki sisi positif dan negatif, juga penggambaran suasana yang bukan main. Film ini layak mendapat apresiasi yang pantas dari masyarakat dan juga kritikus yang lain.

Pokoknya, Dua Garis Biru memperi pelajaran tentang “sex education” yang sangat bagus dan wajib ditonton oleh kalangan remaja yang labil dan mudah terbawa pergaulan yang tidak baik.


Diubah seperlunya dari tulisan Paulus Zypo Manik, siswa XII IPA 5 SMA Budi Mulia Pematangsiantar TA 2019-2020