Apa yang terjadi ketika mengingat nama seseorang? Mengapa kita cenderung ingat dengan wajah seseorang dan cenderung butuh waktu cukup lama untuk bisa mengingat namanya? Tentu saja orang yang membuat kita terkesan umumnya lebih mudah kita ingat. Sialnya, begitu kesan itu memudar kita pun kembali mendadak lupa.

Hari pertama masuk TK, ketika kita bahkan sulit membedakan kolam renang dan kolam ikan, sangat mustahil untuk lupa dengan teman yang mengulurkan tangannya dan menarik kita keluar dari genangan air sambil basah-basahan.

Kolam Ikan

Untuk anak sekolah, bisa jadi teman yang hari ini memberikan es krimnya padamu mengisi benakmu berjam-jam.

Makan Es Krim

Jika kamu gadis belia penggila artis populer Korea, sosok yang tiba-tiba melintas di depanmu setahu bagaimana bisa mengingatkanmu pada Lee Min Ho atau Kim Hyung Minh . Tidak masalah apakah orang itu tidak mengenalmu atau bahkan tidak menolehmu sedikit pun.

Lee Min Ho

Seorang teman pernah bilang bahwa untuk mengingat, kita butuh lebih dari sekedar hubungan emosional. Visualisasi dan imajinasi ternyata kerap begitu rakus menempati setiap sudut pikiran kita.

Tidak mengherankan, begitu banyak buku yang sudah kita baca tetapi mendadak kita lupa siapa pengarang buku itu ketika teman menanyakannya kepada kita beberapa tahun kemudian.
Library

Kerap kali kita juga merasa sedih. Sedih karena begitu lama menghabiskan waktu dan menumpuk informasi di area kognitif kita sejak TK hingga SMA atau bahkan perguruan tinggi, lalu ketika memasuki dunia kerja tiba-tiba kita tersadar bahwa hampir tidak ada satupun topik yang benar-benar kita ingat.

Word Salad

Jika pernah mengalami hal semacam itu, ada baiknya kita berhenti berusaha mengingat namanya. Mencoba berdamai dengan kenyataan bahwa memang memori otak kita sudah lama kita pindahkan ke mobile phone atau malah kita simpan di Drop Box, One Drive atau Google Drive , kita serahkan dengan suka rela ke Google, seolah-olah Larry Page ingin tahu semuanya tentang kita, seperti siapa ciuman pertama kita.

Ciuman Pertama

Untuk teman-teman sekelas hal ini tidak begitu sulit karena sejak dari SD hingga Perguruan Tinggi terbiasa memberi nama julukan satu-sama lain. Dan ini sangat membantu. Kendatipun tetap ada resikonya: Kami malah lebih ingat dengan nama julukan teman daripada nama aslinya.

Oke. Saya sadar. Teknologi ini memanjakan ingatanku. Tapi, tolonglah. Saya tidak ingin malu di depan teman lama ketika kami berjumpa kemudian untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun tidak bertemu. Bagaimana donk? Padahal, saya ingat pernah sama-sama bolos pada pelajaran Matematika lalu dihukum bersama-sama keesokan harinya di depan kelas. Oh, tolonglah. Kenapa saya bisa selupa ini?”

Dihukum Guru

Aku tidak ingin mengalami hal memalukan semacam ini. Tampaknya kelemahanku mengingat nama dan mencocokkannya dengan wajah orang sudah mulai akut. Bagaimana kalau aku sampai lupa nama orang-orang terdekatku? Keluarga, pacar, teman sekantor, teman se-hobby atau ibu penjual nasi di kantin langgananku?

Kalau begitu, aku harus memberi mereka nama julukan. Ya, nama julukan yang membantu menghadirkan wajah yang bersangkutan. Aku punya teman yang bernama Rudianto dengan nama julukan Dominus.

Rudianto Purba

Tentu saja, dia bukan sang Dominus (Tuhan), tetapi ini mengingatkanku ketika kami belajar bersama men-tasrif kosakata bahasa Latin beberapa puluh tahun sebelumnya. Jadi, kini aku punya dua rujukan bagi temanku ini. Nama formalnya dan pengalaman menghafal kata-kata Latin sambil menggerakkan kepala naik turun bagai anak ayam minum air.

Anak Ayam

Protected by Copyscape