Kamu Anak SMA dan Suka Menulis? Ini Profesi Kepenulisan yang Menjanjikan

“Pak, Saya senang membaca novel di Wattpad. Terus, jadi senang menulis juga”, begitu isi chat Ester, seorang siswa, beberapa waktu yang lalu.

Toni, siswa yang lain berkata, “Pak, aku baru baru buat blogspot. Karena nggak tau mau nulis apa disana, jadi sebagian yang aku ingat dari penjelasan Bapak dari materi pelajaran kita, ya aku bikin disitu deh.”

Satunya lagi, Rentika, mau mengomentari artikel yang kurilis di blog ini. “Tapi, malu Pak. Nanti dibaca teman-teman yang lain,” katanya di Whatsapp.


Ketiga testimoni ini (nama disamarkan dan isi percakapan aku sunting) entah mengapa membuatku merasa sedikit senang. Ternyata siswa-siswa di tempatku mengajar banyak juga yang suka menulis. Kupikir juga berlaku untuk siswa-siswa SMA lainnya. Ternyata mereka tak melulu menghabiskan waktunya dengan bermain game atau berjualan di Instagram (yang keduanya juga menjanjikan jika diseriusi). Padahal, aku sendiri juga menulis seadanya. Belum sepenuhnya displin untuk mengisi konten entah harian maupun mingguan.

Satu hal: ternyata menulis dan membaca masih diminati. Jadi, tak sepenuhnya benar kalau remaja zaman sekarang hanya sibuk menonton Youtube atau bermain Tiktok (yang juga menjanjikan jika diseriusi). Okelah, mereka tidak lagi membaca buku, koran, majalah atau produk cetak lainnya. Karena sudah begitu zamannya. Semua beralih ke platform digital.

Sejenak aku berfikir, dalam 5 atau 10 tahun ke depan, jika mereka masih rajin menulis, bisa jadi mereka akan menjadikannya passion dan karier yang patut diseriusi. Entah mereka mengambil kuliah jurnalistik atau bukan, tentu saja mereka harus membuktikan kepada orangtua dan siapapun yang mendukung mereka secara finansial dan moral, bahwa ada yang bisa diharapkan dari kegiatan menulis yang mereka lakukan.

Sementara itu, profesi kepenulisan sendiri sudah begitu luas. Mulai dari penulis novel, cerpen, blogger, naskah drama/film, copywriter hingga content writer. Belum lagi niche yang masih belum banyak dikenal, seperti penulis lirik Hip-hop untuk dinyanyikan orang lain. Atau menulis dalam bidang apa saja tapi setuju memberikan kredit hak cipta kepada orang lain dan menerima upah sebagai ganjarannya (ghostwriter).

Ada kegelisahan yang muncul. Bagaimana jika ternyata mereka sendiri akhirnya frustrasi karena tidak kunjung menemukan titik cerah dari periode kepenulisan yang panjang. Bagaimanapun, entah menulis atau profesi lain, tentu ada ada hasil yang diharapkan. Dan, tentu saja, tidak sekedar kepuasan batin atau pengakuan. Harus ada suatu hasil riil yang bisa dilihat dan ditunjukkan ke orang lain. Uang, misalnya.

Tips apa yang bisa kuberikan? Sementara aku sendiri hanya seorang tenaga pendidik yang menjadikan menulis sebagai hobbi. Belum lagi kalau berbicara AdSense dari kepenulisan, aku bukan orang yang pantas untuk membicarakannya.

Lalu, aku coba ingat-ingat lagi curhat dari teman-teman penulis perihal perjuangan mereka hingga bisa sukses.

Seorang pegiat blogspot mengatakan, sudah saatnya meninggalkan blogspot karena tampilan sederhana, kustomisasi terbatas dan dianggap kurang profesional alias amatiran. Belum lagi alasan yang lain, terutama soal menjadikannya lahan untuk mendapatkan uang. Mau membuat blog dengan domain dan hosting berbayar, banyak pertimbangan.

Seorang penulis novel menceritakan kegelisahannya di sebuah hampir. Seolah hampir menangis dan tidak merekomendasikan kepada para kami pemula untuk mengikuti langkahnya. Dia berkisah tentang bagaimana ia meluangkan banyak waktu dan mengorbankan banyak hal untuk menyelesaikan novelnya. Sayangnya, begitu novelnya selesai, ia kesulitan menemukan penerbit untuk menerbitkan karyanya. Begitu ketemu, ternyata dia harus urun uang untuk itu, sementara royalti yang didapatkan ternyata tidak semanis yang diberitakan di internet. Bahkan ia juga diminta untuk ikut berjualan sendiri.

Sebuah forum diskusi para penulis puisi bahkan saban hari diisi dengan curhat sedih para anggotanya. Seandainya kepuasan batin dan pengakuan akan karya tak cukup lagi membuat mereka bertahan, mereka pasti akan segera meninggalkan profesi menulisnya. Sebab tak tahan melihat karya mereka dipajang di rak belakang toko buku. Jauh di belakang. Sementara di bagian depan, stationary dan kaset DVD yang dipromosikan oleh pramuniaga. Padahal, untuk menjadikan antologi puisi mereka sampai terbit sebagai buku, tidak sedikit rupiah yang harus mereka keluarkan. Such a prize for a recognition. Mereka ini memang angkatan militan, dan kebanyakan sudah cukup dengan apa yang mereka punya. Tak sedikit pula yang memang sudah uzur.

Untuk anak SMA dengan perjalanan yang masih panjang, tentu saja ada lesson learned yang bisa diterapkan dari kisah-kisah para senior mereka ini. Sebab, bagaimanapun, selain mereka tengah berada dalam fase pencarian jati diri, mereka juga membutuhkan pembuktian diri. Jadi, ketika mereka akhirnya bekerja sebagai penulis, entah di perusahaan atau independen, mereka punya sesuatu untuk diceritakan di acara kumpul keluarga atau reuni alumni sekolah.

Maka, setelah baca sana-sini, aku menarik sebuah poin penting. Seiring dengan dunia kepenulisan yang terkena imbas dari ditinggalkannya dunia cetak, hampir semua profesi menulis kini beralih ke platform digital. Maka, profesi menulis pun akan terfilter juga. Mereka yang mengandalkan jasa kepenulisan dari penerbit dan pencetak harus segera pivot ke alternatif lain, yakni: vlogger, copywriter dan technical writer.

(Ada yang lebih menjanjikan sebenarnya, yakni screenwriter atau penulis naskah film. Tetapi untuk yang satu ini, selain berjibaku dengan banyak kesulitan teknis, modal paling penting adalah koneksi dengan para pelaku industri film, terutama produser, perusahaan pembuat film dan para aktor. Jadi, untuk pemula seperti anak SMA yang gemar menulis ini, belum pas direkomendasikan).

Dari antara ketiga profesi menulis itu, aku tertarik dengan technical writer. Sebab, kubaca bahkan sang raksasa Google sendiri memberi tempat istimewa buat mereka.

Apa itu Technical Writer?

Semakin kesini, semakin sering pula perusahaan mendaftarkan lowongan pekerjaan sebagai technical writer. Kamu pun tidak susah menemukannya di daftar lowongan pekerjaan di situs-situs penyedia kerja semacam LinkedIn, Upworks, bahkan yang bersifat sambilan semacam Freelancer atau Sribulancer. Meskipun di nomenklatur bahasa Indonesia, belum lazim. Buktinya, sampai hari ini kita belum menemukan padanannya di KBBI. Kalau tidak percaya, cek saja.

Jadi, untuk sementara kita pertahankan dulu istilah asing ini.

Apa itu technical writer?

Tak seperti penulis pada umumnya, technical writer punya bidang kerja yang spesifik. Technical writer bertugas mengubah bahan tulisan yang kompleks dan penuh perkara teknis menjadi lebih jelas dan ringkas untuk menyasar audiens tertentu. Umumnya mereka membuat bentuk dokumentasi  untuk mengomunikasikan informasi yang teknis dan kompleks dalam cara yang user-friendly, alias nyambung dengan pengguna.

Konon, Albert Einstein pernah berkata: “If you can’t explain it simply, you don’t understand it well enough“. Jika kamu tidak bisa menjelaskan sesuatu dengan sederhana, berarti kamu tidak benar-benar mengerti apa yang hendak kamu jelaskan. Ini tentu tidak mudah. Karena tidak mudah, tidak banyak yang melakukannya. Itu sebabnya posisi technical writer banyak dicari oleh perusahaan.

Jadi, misalnya, jika sebuah perusahaan manufaktur smartphone mengeluarkan produk terbaru, maka tugas para technical writer-lah untuk membuat panduan penggunaan untuk disisipkan di bungkos kotaknya. Selain itu, informasi yang mereka tulislah yang juga digunakan oleh para reviewer atau media yang kemudian didaulat untuk mengiklankan produk yang bersangkutan. Maka, tak heran, posisi technical writer sangat strategis. Mereka menjembatani perusahaan dan konsumen dalam hal pemahaman akan produk. Jika sebuah produk baru cepat dikenal oleh pasar, maka ada peranan technical writer yang cukup besar disana.

Apa tanggungjawabnya?

Untuk menjadi technical writer profesional, kamu harus terlebih dahulu mengetahui audiens atau kepada siapa tulisanmu ditujukan. Audiens bisa saja klien, pelanggan, ataupun pihak teknisi. Memahami audiens berarti memahami juga ekspektasi dan level pengetahuan dari pembaca.

Selain itu, membuat tulisan teknis berarti mengetahui tujuan dan konteks dari dokumen yang ia buat, sehingga dokumen yang dibuat dapat tepat sasaran dengan jelas sesuai dengan tujuan dibuatnya.

Maka, seorang technical writer memiliki tanggung-jawab berikut.

Pertama, menentukan kebutuhan pengguna yang akan menerima dokumentasi teknis.

Kedua, mempelajari contoh produk dan berbicara lebih lanjut dengan pencipta dan pengembangnya.

Ketiga, bekerja bersama staf teknis untuk membuat produk lebih mudah digunakan dengan instruksi yang singkat namun mudah dimengerti.

Keempat, mengorganisasi dan menuliskan dokumen pendukung untuk produk

Kelima, menggunakan foto, gambar, diagram, dan animasi yang menaikan pemahaman pengguna

Keenam, menentukan medium yang tepat untuk menyampaikan pesan kepada audiens, seperti tulisan manual atau video

Ketujuh, melakukan standarisasi konten di seluruh platform dan media

Kedelapan, mengumpulkan feedback dari konsumen, desainer, dan pabrik.

Kesembilan, merevisi dokumen ketika ada pembaruan terkait produk

Kesepuluh, mengerjakan apapun yang ada di langkah pertama hingga kesembilan. Sebab, sama seperti penulis lain, tanggung jawab seorang penulis tidak hanya memikirkan gagasan, tetapi menuangkannya dalam bentuk tulisan.

Jadi, seorang technical writer membuat intstruksi, panduan penggunaan barang, dan “frequently asked questions” atau pertanyaan yang sering diajukan. Hal ini dilakukan untuk membantu staf teknis, konsumen, dan pengguna lainnya yang ada di perusahaan maupun industri.

Setelah produk dirilis, kamu juga mungkin bekerja dengan spesialis pemeriksa kelayakan produk dan manajer customer service untuk mengembangkan pengalaman pengguna atau konsumen melalui perubahan desain produk.

Keterampilan yang Perlu Dimiliki?

Pertama, seorang technical writer diharuskan untuk dapat bekerja secara individu maupun tim. Jadi, ketika kamu mulai menulis, selain kamu harus bisa menulis sendiri, kamu juga harus membiasakan diri untuk merampungkan sebuah tulisan dengan teman penulis lainnya. Biasanya yang kedua ini lebih sulit karena menggabungkan isi beberapa kepala sekaligus.

Selain itu, kamu juga harus terampil menulis tentunya. Seperti content writer atau penulis lain pada umumnya, yang pertama dan paling penting adalah tentu saja keterampilan untuk menulis. Seorang penulis teknis harus dapat membuat tulisan yang tersusun dengan baik, menggunakan bahasa yang baik dan benar, dan yang paling penting mudah untuk dimengerti.

Sebagai technical writer, penting untuk memilih penggunaan bahasa yang tepat untuk menyampaikan hal yang rumit dengan kalimat sederhana. Untuk dapat menulis dengan baik, penting untuk berlatih dan memperkaya kosa kata. Sekali lagi ingat, serumit atau sereceh apapun tulisan yang dihasilkan, fokus utamanya ialah pasar atau konsumen. Umpan balik dari mereka akan membuktikannya.

Untuk itu, tentu kamu tidak bisa mengarang bebas. Membuat tulisan teknis berisikan instruksi, kamu harus benar-benar yakin bahwa kamu memahami apa yang akan kamu tuliskan. Ini berarti, kamu harus melakukan riset terkait produk ataupun jasa tersebut dengan benar. Apalagi, jika kamu menuliskan sebuah dokumentasi untuk produk yang diproduksi sebuah perusahaan yang belum kamu kenal betul.

Terakhir, data hasil riset itu tentu saja tidak akan teratur jika kamu tidak mengetahui bagaimana cara menyusunnya. Untuk itu, kamu harus mampu berpikir kritis. Bagaimana menyampaikan instruksi yang sebenarnya rumit dengan bahasa sederhana tanpa kehilangan detail.


Oh iya. Tadi aku sebutkan soal peranan para technical writer di Google. Aku belum pernah kesana. Belum juga kenal salah seorang pun dari mereka. Maka, biarlah mereka sendiri yang berbicara. Simak di video mereka ini.

Non Scholae sed Vitae Discere

Di kota kecil Pematangsiantar, ada SMU berasrama yang cukup lama menjadi primadona bagi para putra-putra beragama Katolik. Konon, sekolah yang hingga kini masih fokus pada misi pembinaan calon-calon imam bagi Gereja Katolik terutama Keuskupan Agung Medan ini berhasil menanamkan semangat pendidikan berbasis nilai hidup, bukan sekedar nilai kertas.

Seminari

Hal ini terpatri dalam motto mereka:

Non Scholae sed Vitae Discimus

Kembali soal nilai. Pertanyaan sederhana yang masih belum mendapatkan jawaban final hingga saat ini dari teman masa kecil saya, terbersit kembali:

“Ho ma jo. Husukkun ma ho. Aha do sabotulna tujuanni parsikkolaan. Aha do guna ni sikkola”?

Jawabannya bisa beragam jika ditujukan kepada masing-masing orang. Saat ini, ada zaman dimana seorang anak Indonesia bahkan lebih hafal karakter manga Jepang dan lebih mahir menggunakan seabrek aplikasi di mobile device daripada “rasa keindonesiaan” yang dirumuskan dalam IPolEkSosBudHanKam, hampir pasti  bahwa butuh komunikasi yang lebih intens untuk menyambungkan generasi baby boomer, Gen Y dan gen X yang melek digital ini.

Buat saya: Komunikasi NILAI.

Ketika hampir semua informasi bisa diakses dari mana saja, hanya ada ruang “kecil” bagi nasihat, anjuran, petuah, etika dan norma (yang dulu adalah harga mati) untuk mereka dengarkan.

Misalnya: Seorang anak tidak lagi perlu disuruh menghafal “Katekismus Na Metmet” untuk dianggap lulus test “sikkola minggu” dan ikut bilangan orang dewasa. Kemungkinan mereka tidak akan mau lagi. Alih-alih memaksa mereka untuk takut akan Tuhan (fear of God) dan perintahNya, mereka punya senjata karena berteman dengan Google (friend of Google), yang bahkan lebih bermurah hati memberi mereka jawaban atas banyak hal dalam tempo yang lebih cepat dari si God; bahkan tanpa perlu berdoa pula.

Sebagian teman tidak lagi mengamini pesan di gambar ini; mereka menyatakan yakin bahwa Google lebih berkuasa daripada “imaginary” God.

 

Ruang kecil yang dimaksud adalah Anda sendiri yang harus MENUNJUKKAN kepada mereka bahwa si God jauh lebih berkuasa daripada Google (mudah-mudahan Larry Page, Sundar Pichai dan Sergey Brin tidak besar kepala jika membaca ini). Menunjukkan berarti anda tidak sendiri yang MELAKSANAKAN NILAI itu terlebih dahulu. Pun tidak ada jaminan bahwa mereka akan segera menangkap nilai yang Anda coba tanamkan. Tetapi setidaknya sebagian, iya.

Seperti postingan reflektif dari Yasa Singgih yang saya peroleh dari sebuah group milis ini.


Saya tidak terlahir di keluarga yang sangat kaya, namun juga tidak berasal dari keluarga yang susah. Keluarga kami berkecukupan & sederhana. Tapi saya akui bahwa saya berasal dari keluarga yang menurut saya sangat kaya akan nilai nilai kehidupan.

Papa saya adalah seorang karyawan dengan segudang aktivitas sosialnya yang sangat padat, beliau aktif membangun Yayasan Sutra Bakti yaitu sebuah Yayasan Sosial yang bergerak di bidang pemberdayaan ekonomi desa, program bedah rumah bagi warga kurang mampu di berbagai daerah & bantuan kesehatan untuk orang tidak mampu yang sedang sakit. Mama saya adalah seorang karyawan teladan sekaligus Ibu Rumah Tangga yang sangat luar biasa, beliau rutin memasak Indomie setiap hari Minggu untuk ketiga anaknya. Mereka bukan orang tua yang sempurna, namun mereka orang tua yang terbaik bagi anak-anaknya.

Ada satu kejadian yang tidak akan saya lupa seumur hidup saya. Yaitu kejadian saat saya masih duduk di bangku sekolah dasar, kalau tidak salah saat kelas 3 SD. Dari TK sampai dengan SD, saya selalu mendapatkan juara kelas. Sering kali mendapatkan juara 1 dan beberapa kali mendapatkan juara umum yang membuat saya dibebaskan dari biaya uang sekolah. Disaat banyak anak lain takut mengambil raport, saya tidak pernah takut. Saya yakin saya pasti dapat juara lagi.

Pun pada saat mendapatkan juara, saya tidak bergembira berlebihan. Biasa saja. Disaat teman saya mendapatkan hadiah disaat ulangannya mendapat nilai bagus, saya hanya mendapatkan semangkuk bakmie & segelas es cendol atas hadiah kerja keras sepanjang tahun menjadi juara 1 di kelas.

Sampai suatu hari momen tak terlupakan sepulang ambil rapot di mobil bersama Papa saya. Beliau bertanya seperti ini, “Hari ini kamu dapet juara 1 lagi ya?”

Dengan santai saya jawab, “Iyaaa Pa…”

Lalu Papa saya melanjutkan, “Sebenernya Papa ngga pernah minta apalagi maksa kamu untuk jadi Juara 1 di sekolah”.

Mendengar itu saya hanya terdiam saja.

Papa melanjutkan, “Iya, sebenernya kalo buat Papa nilai 6 atau 7 juga udah cukup, yang penting naik kelas aja supaya kamu ngga rugi waktu. Tapi kalo kamu ngga naik kelas pun Papa ngga akan marah, kamu cuma rugi waktu, Papa rugi uang. Tapi kamu bisa dapet temen lebih banyak lagi. Sekolah itu intinya bukan nilai di atas kertas, karena ngga semua nilai di atas kertas bisa kamu gunakan di kehidupan. Di sekolah kamu belajar lalu kamu dapet ujian tapi di kehidupan kamu dapet ujian lalu belajar dari ujian tersebut. Sekolah tetep penting, tapi esensi dari sekolah adalah pendewasaan diri. Ibaratnya SD itu kamu masih di aquarium, nanti SMP kamu lompat ke kolam ikan, SMA kamu lompat ke danau, kuliah kamu lompat ke lautan dan begitu seterusnya kamu akan lompat ke dunia yang lebih besar. Jadi, yang penting itu di sekolah kamu harus punya banyak temen dan bergaul yang pintar. Kalo ada temen kamu di sekolah yang dimusuhin, kamu harus temenin dia. Kalo ada temen kamu yang ngga bisa bergaul, bantu dia bergaul. Tolong orang sebanyak-banyaknya, baik dan ramah sama semua orang maka suatu hari kamu pasti ditolong baik sama mereka” begitu kata Papa saya.

Mendengar nasehat tersebut, saya hanya diam saja sambil menganggukkan kepala. Pada saat itu saya belum bisa mencerna nasehat tersebut dengan baik. Saya hanya menangkap bahwa saya harus jadi orang baik dan pintar bergaul sama banyak orang. Itu saja. Selebihnya saya tidak menangkap maksud Papa saya. Namun, memang setelah nasehat tersebut hidup saya berubah. SMP – SMA saya tidak sepintar saat SD lagi, karena saya merasa pintar dalam sosial jauh lebih penting daripada pintar secara akademis. Apalagi banyak pelajaran yang saya tidak suka. Masuk ke kuliah, saya tidak sebodoh saat SMP – SMA. Karena saya memilih jurusan yang saya suka, maka saya tidak kesulitan untuk menjadi mahasiswa yang pintar secara akademis dan juga sosial.

Mungkin disaat usia saya 20 tahunlah saya baru benar benar mengerti seluruh nasehat yang Papa saya berikan pada sata beberapa tahun yang lalu. Disaat – saat inilah saya baru menangkap apa yang diajarkan oleh Papa Mama saya selama ini tentang kehidupan secara tidak langsung.

Dari kecil, saya dan kakak-kakak saya dibesarkan dengan gaya hidup yang sederhana. Keluarga kami terbiasa makan nasi uduk di kaki lima ataupun nasi goreng tek tek di pinggir jalan. Makanan favorit keluarga kami adalah Nasi Goreng Bang Jen di Cipulir atau Nasi Uduk Favorit di Tangerang. Bagi kami kedua makanan tersebut jauh lebih nikmat dibanding restoran manapun. Kami diajarkan untuk tidak membeli barang yang harganya berlebihan & kami diajarkan untuk makan di tempat yang sewajarnya disaat punya uang sekalipun.

Papa Mama saya tidak pernah bertanya kepada saya, “Yasa, gimana ulangan MAT kemaren?” sepulang sekolah.

Pertanyaan yang mereka tanyakan adalah:

“Ada yang seru ngga di sekolah hari ini?”

“Yas, kamu udah punya pacar belom sih? Ada yang cakep ngga?”

“Siapa guru yang ngajarnya paling enak?”, “Siapa temen yang baik di sekolah?”

Bahkan sebuah peraturan unik dibuat oleh Papa saya, kalau saya punya pacar maka saya ditambahkan uang jajan katanya. Hal unik berikutnya, orang yang pertama kali memberikan saya kesempatan mencicipi rokok adalah Papa saya. Orang yang pertama kali memberikan saya kesempatan mencicipi alkohol pun juga Papa saya. Namun anehnya, sampai hari ini saya bukan dan tidak pernah menjadi perokok dan bukanlah peminum alkohol.

Akibat hal tersebut, saya menganggap esensi pendidikan bukanlah sekedar nilai diatas kertas. Sangat disayangkan jika orang tua menuntut anak berdasarkan nilai diatas kertas, bukan proses pembelajaran dari setiap kejadian. Alhasil, anak hanya fokus pada hasil tanpa memperhatikan proses pembelajaran. Apa yang didapat? Nol besar. Orang tua juga sering kali memaksakan kehendak dirinya pada anak, bahkan ada juga yang meminta anak punya mimpi yang sama dengan dirinya tanpa memperdulikan hasrat sang anak. Saya masih ingat di akhir SMA disaat rata rata teman saya sedang bingung memilih jurusan apa yang paling bagus atau jurusan apa yang paling cepat dapat kerja, Papa Mama saya tidak menyarankan apa apa selain, “Pilih yang kamu nikmat ngejalaninnya…”

Saya juga bersyukur keluarga saya mendidik saya dengan gaya hidup yang sederhana, secara tidak langsung saya diajarkan untuk menjadi anak yang siap hidup dalam segala situasi. Papa Mama saya mengajarkan saya etika yang baik saat berada di tempat yang mewah, namun mengajarkan saya untuk siap jika suatu saat hidup sedang berada di posisi yang keras. Saya dibentuk untuk menjadi anak yang siap kaya namun juga siap miskin. Saya belajar bahwa kualitas diri manusia tidak dinilai dari apa yang ia kenakan di luar, melainkan dari apa yang ada di dalam dirinya. Dari begitu banyaknya kegiatan sosial yang dijalankan oleh Papa saya, saya juga belajar banyak bahwa untuk memberikan dampak buat banyak orang tidak perlu menunggu menjadi orang yang mampu melainkan kita hanya perlu menjadi orang yang MAU. Dari kesederhanaan Mama saya, saya belajar bahwa anak tidak bangga pada orang tuanya yang tampil cantik ataupun terlihat kaya, melainkan kepada orang tua yang mampu mendidik anaknya menjadi manusia yang lebih beradab dan beretika.

Sedikit pesan untuk para orang tua. Tugas utama orang tua bukanlah memberikan uang, anak tidak butuh uang. Orang tua adalah pendidik, yang harusnya menciptakan manusia berkualitas, beretika, bernilai, berdaya yaitu anaknya. Untuk mendidik anak seperti itu, butuh waktu, butuh kasih sayang, butuh moral, butuh nilai nilai kehidupan, bukan uang. Tidak perlu sibuk mencari uang agar dapat meninggalkan warisan uang yang banyak untuk anak, jika orang tua mendidiknya dengan benar maka anak itu dapat menciptakan uang jauh lebih banyak daripada jumlah yang orang tua harapkan. Anak adalah cerminan orang tua. Kebanggaan terbesar orang tua adalah saat anaknya berhasil menjadi manusia yang berkualitas, berdaya dan bermanfaat.

Pesan untuk anak, tidak semua orang tua mampu mengajarkan pendidikan moral ataupun nilai nilai kehidupan secara langsung. Namun ketahuilah bahwa perjuangan orang tua kita begitu luar biasa, intensi mereka begitu baik untuk masa depan anaknya. Kita tidak perlu mencari motivasi hidup di luar sana, belajarlah dari perjalanan kehidupan orang tua kita berusaha menghidup kita. Saya yakin ada sebuah cerita inspiratif yang kita temukan disana. Orang tua selalu menginginkan yang terbaik untuk anaknya, namun belum tentu yang diinginkan orang tua juga diinginkan anak. Maka yang dibutuhkan adalah komunikasi yang baik dan terbuka. Orang tua harus mampu memberikan kepercayaan & anak harus mampu bertanggung jawab atas kepercayaan yang telah diberikan.

Dan cara terbaik untuk membangun hubungan yang baik antara orang tua dan anak adalah menginvestasikan WAKTU masing masing untuk saling terbuka & dihabiskan bersama.

Saya bersyukur atas semua nilai kehidupan yang orang tua saya ajarkan pada saya. Itulah yang menjadikan Yasa Singgih pada hari ini. Apabila suatu saat saya menjadi orang yang sukses, apresiasi tertinggi hanya pantas diberikan untuk orang yang menjadikan saya seperti hari ini yaitu Papa Mama saya. Bersyukurlah bukan karena kita terlahir di keluarga yang kaya, namun bersyukurlah karena kita terlahir di keluarga yang penuh nilai nilai kehidupan.

Jika suatu saat nanti mereka tiada, saya tidak akan meminta warisan berbentuk materi apapun dari mereka. Seluruh pelajaran kehidupan yang mereka berikan selama ini, sudah lebih dari cukup.

Don’t try to become a man of success.

Just try to become a man of value.

Success will follow you.

Cinta saya untuk Papa Mama,
Yasa Singgih
14 Juni 2016


Saat ini Yasa Singgih aktif menjadi pembicara di vihara-vihara. Sementara saya dan beberapa teman lebih memilih untuk nongkrong dan mencoba menyambungkan asa yang terlanjur tertanam di kelompok kecil kami bahwa melewatkan momen bersama itu sangat penting, kendatipun betapa sibuknya.

Kendatipun masing-masing tahu: “This too, shall pass“.

Semmen