DONALD HAROMUNTHE

For Those Whom I Can't Talk With

Tag: Katekismus

[Paraphrase] – Mereka yang Jemu dengan Triumfalisme Agama

Aku

Orang yg belum kenal aku (atau hanya baru kenal di online) mungkin menganggap aku ini nyeleneh. Ada yg bilang aku ini subversif, kontroversial, kritis, bidah, bahkan sesat. Terakhir, para ulama dan katekis gereja yang berteman denganku di laman Facebook, akhirnya memutuskan pertemanan denganku. Kata mereka aku ini sinkretis, masih ada sisa -sisa animis dan dinamis dalam kepercayaanku. Yo wis, sambil ngopi di kala hujan aku cerita sedikit deh.

Kalau tiba masanya Hari Raya Haji, kami pun ikut menikmati hidangan yang disediakan oleh bibiku yang beberapa tahun ini ikut dengan suami yang beragama Islam. Favoritku ialah sop sapinya. Nggak amis. Nikmat rasanya ketika sumsumnya merongsok masuk ke kerongkonganku. Sebenarnya sih, aku nggak begitu yakin apakah mereka tahu bahwa aku juga menikmati saksang babi yang juga selalu menggoda seleraku itu. Jadi, buat amannya, aku tidak pernah memberitahu bibi soal itu. Sebenarnya bukan tanpa alasan sih. Sebelumnya aku pernah melihat bibi membersihkan seluruh perabotan masak ketika dulu ada berita bahwa penyedap masakan yang biasanya bibi pakai itu ternyata mengandung zat kimia yang terbuat dari daging babi. Sampai-sampai si mukenah si bibi belepotan cairan pembersih waktu itu. Sejak itu, aku tahu bahwa si bibi tidak terlalu bersahabat dengan hewan yang satu ini.

Ketika aku tinggal beberapa tahun dengan Oppung di Huta Sibabiat, kampung tempat lahirnya ayah, aku selalu menikmati acara Margondang dan Manortor yang pasti ada dalam setiap apacara adat. Entah kenapa, aku merasa ikut menjadi bagian dari luapan ekpresi emosianal massal lautan manusia itu, kendatipun aku selalu ditertawakan oleh sepupuku karena sudah bisa bertahun-tahun pun tinggal di huta, kosakata Toba yang aku tahu hanya empat, yaitu: Olo, Daong, Mauliate, dan Horas.

Kakakku

Kakakku yang paling sulung menikah dengan pemuda dari suku Dayak Manyaan. Kini mereka tinggal di sebuah perkampungan dekat perkebunan sawit di pinggiran Sungai Lamandau, Kalimantan Tengah. Sempat iri dengan kakakku yang satu ini karena dalam setahun saja, kulihat ia sudah lancar menggunakan bahasa Dayak Manyaan. Padahal, dulu aku lebih unggul soal pelajaran bahasa dari dia, terbukti kosakata bahasa Inggris-ku jauh lebih banyak dari dia. Tak pernah sekalipun dia menang melawanku kalau kami bermain Scrabble. Dasar aku orangnya gampang jatuh hati dengan alam yang asri, sempat pula aku terfikir untuk tinggal di kampung yang sejuk ini, jauh dari kebisingan ibukota Jakarta na balau ini. Apa daya, saat ini aku mesti berdamai dengan situasi hiruk-pikuk tanpa hentinya kota megapolitan ini. Jadilah aku mulai belajar berhitung dalam bahasa Manyaan.

  1. Isa
  2. Rueh
  3. Telu
  4. Epat
  5. Dime
  6. Enem
  7. Pitu
  8. Walu
  9. Suey
  10. Sapuluh
  11. Sawalas
  12. Dua Walas
  13. Tiga Walas
  14. Epat Balas
  15. Lima Walas
  16. Enem Walas
  17. Pitu Walas
  18. Walu Walas
  19. Suey Walas
  20. Ruam Pulu
  21. Ruam Pulu Isa
  22. Ruam Pulu Rueh
  23. Ruam Pulu Telu
  24. Ruam Pulu Epat
  25. Ruam Pulu Dime
  26. Ruam Pulu Enem
  27. Ruam Pulu Pitu
  28. Ruam Pulu Walu
  29. Ruam Pulu Suey
  30. Telu Pulu
  31. Telupulu Isa

Oppung-ku

Konon, oppung-ku punya koleksi buku-buku Dialektika karangan Hegel, Feuerbach, Marx, Habermas. Pantas saja, kalau habis menunaikan tugasnya sebagai guru honor di sekolah dasar yang pelosok itu, dia jarang tidur siang. Waktunya dihabiskan membaca. Bukan hanya itu, Oppung tidak hanya punya Bibel terbitan Lembaga Biblika Indonesia, tapi ia juga rela merogoh uang sakunya untuk membeli Alkitab terbitan Lembaga Alkitab Indonesia. Aku selalu heran mengapa mesti ada dua Kitab Suci di rumah Oppung. Belakangan, kata oppung boru, selain membeli Terjemahan Alquran, Oppung mulai menggunakan komputer bekas di rumah untuk mengakses internet. Sempat aku mengecek data di storage komputernya, aku menemukan file-file PDF tentang Talmud, Zarathustra, Weda dan Teknik Perang Sun Tzu. Entah buat apa oppung mengoleksi semua ini, pikirku.

Aku selalu kagum dengan sosok Oppung yang tak pernah bosan untuk memberi nasihat soal pentingnya kebersamaan dalam keluarga besar kami. Nasihat yang selalu dia ulang baik ketika Natal, ketika Tahun Baru, Hari Raya Haji, dan pada setiap kesempatan berkumpul setiap kali ada anak dan cucunya yang melangsungkan pernikahan. Nasihat panjangnya selalu ditutup dengan umpama: “Pantun Hangoluan, Tois Hamagoan”. Kira-kira artinya: Sikap Hormat Itu Mendatangkan Kehidupan, Sikap Tak Perduli Itu Mendatangkan Kehancuran.

Aku baru menyadari bahwa nasihat yang kadang membosankan itu ternyata obat paling mujarab yang hingga saat ini ampuh menjaga kesatuan keluarga besar kami. Bagaimana tidak, pamanku adalah seorang kader partai banteng yang sangat aktif di berbagai lembaga kemasyarakatan. Amang boruku adalah seorang wartawan senior yang beberapa kali dipanggil bukan  hanya oleh pemimpin redaksinya, tetapi juga Menkominfo karena pemberitaannya yang dituding terlalu berani. Dua tahun sebelumnya dia pernah menulis dugaan korupsi terhadap kepala di badan eksekutif, tak ada yang menggubris beritanya saat itu. Belakangan, oknum yang diberitakannya itu diberitakan rajin beribadah di dalam selnya di sebuah Lembaga Pemasyarakatan. Kakak iparku adalah kepala desa yang terpilih ketika diusung oleh partai pohon beringin. Abangku yang baru lulus dari kuliahnya di Depok itu malah menyatakan sudah mendaftarkan diri sebagai kader partai burung garuda. Melihat konstelasi dunia politik saat ini, aku sangat senang ketika acara keluarga, mereka selalu mau mendengarkan satu sama lain. Tak jarang pula mereka sedikit-sedikit membocorkan agenda dari partai masing-masing. Amangboru-ku yang wartawan itu biasanya langsung mengambil peran sebagai moderator. Kadang aku bingung, ini acara keluarga atau sedang Sidang Dengar Pendapat a la Senayan sana. Hmmmm ….

Agamaku

Aku ini gak masalah orang lain mau nyembah bola, kubus, tiang, pohon, tuhan, hantu, siluman, dll.. mau ibadah sambil jongkok, nungging, jungkir, koprol, dan lain-lain. Selama ritual ibadahnya itu tidak mengganggu orang lain ya monggo, silakan saja. Selama dia orangnya baik, ya kita juga harus baik. Konon sejak zaman Zarathustra hingga Yeshua dari Yehuda, golden rule-nya ya itu-itu juga.

Terus banyak yang penasaran nanya aku ini penganut keyakinan apa. Sebetulnya yang namanya keyakinan dan spiritual itu privasi. Tapi berhubung orang Indonesia itu doyan kepo (Knowing Every Particular Object: Serba ingin tahu dari detail sesuatu, kalau ada yang terlintas dibenaknya dia tanya terus) tapi kalau sudah tahu pun tidak mau membersihkan perspektifnya yang sudah diracuni berbagai asumsi, selalu mencampurkan urusan personal ke ranah sosial, yo wis aku cerita lagi.

 

When Buddha and Jesus living as roommates

Yang namanya agama itu khan ngakunya mengajarkan kebaikan. Baik itu Hindu, Buddha, Konghucu, Islam, Katolik, Lutheran, Yahudi, Parmalim, Pemena dan ribuan aliran kepercayaan lainnya, semuanya mengaku mengajarkan kebaikan. Iya kan??

Nah, aku ini termasuk yang meyakini ajaran kebaikan seperti itu. Ajaran kebaikan yang lebih luas dan universal tanpa membedakan cara ibadah atau objek yg disembah. Apalagi kalau sampai mengklaim bahwa sembahan dan agamanya saja yang benar, punya orang lain tidak. Aku juga meyakini bahwa ibadah tertinggi manusia itu adalah berbuat baik kepada sesama manusia dan lingkungannya.

Makanya kalau aku sering posting yang nyeleneh jangan salah paham dulu. Yang aku kritik itu bukan ajaran yang damai dan penuh rahmat. Yang aku kritik itu adalah para oknum yg penuh diskriminasi dan intoleransi. Maka, sekali lagi, jangan salah paham, jangan tersinggung, kecuali kalau kamu adalah oknum.

(Terinspirasi dari tulisan Chalisa Nita)

Non Scholae sed Vitae Discere

Di kota kecil Pematangsiantar, ada SMU berasrama yang cukup lama menjadi primadona bagi para putra-putra beragama Katolik. Konon, sekolah yang hingga kini masih fokus pada misi pembinaan calon-calon imam bagi Gereja Katolik terutama Keuskupan Agung Medan ini berhasil menanamkan semangat pendidikan berbasis nilai hidup, bukan sekedar nilai kertas.

Seminari

Hal ini terpatri dalam motto mereka:

Non Scholae sed Vitae Discimus

Kembali soal nilai. Pertanyaan sederhana yang masih belum mendapatkan jawaban final hingga saat ini dari teman masa kecil saya, terbersit kembali:

“Ho ma jo. Husukkun ma ho. Aha do sabotulna tujuanni parsikkolaan. Aha do guna ni sikkola”?

Jawabannya bisa beragam jika ditujukan kepada masing-masing orang. Saat ini, ada zaman dimana seorang anak Indonesia bahkan lebih hafal karakter manga Jepang dan lebih mahir menggunakan seabrek aplikasi di mobile device daripada “rasa keindonesiaan” yang dirumuskan dalam IPolEkSosBudHanKam, hampir pasti  bahwa butuh komunikasi yang lebih intens untuk menyambungkan generasi baby boomer, Gen Y dan gen X yang melek digital ini.

Buat saya: Komunikasi NILAI.

Ketika hampir semua informasi bisa diakses dari mana saja, hanya ada ruang “kecil” bagi nasihat, anjuran, petuah, etika dan norma (yang dulu adalah harga mati) untuk mereka dengarkan.

Misalnya: Seorang anak tidak lagi perlu disuruh menghafal “Katekismus Na Metmet” untuk dianggap lulus test “sikkola minggu” dan ikut bilangan orang dewasa. Kemungkinan mereka tidak akan mau lagi. Alih-alih memaksa mereka untuk takut akan Tuhan (fear of God) dan perintahNya, mereka punya senjata karena berteman dengan Google (friend of Google), yang bahkan lebih bermurah hati memberi mereka jawaban atas banyak hal dalam tempo yang lebih cepat dari si God; bahkan tanpa perlu berdoa pula.

Sebagian teman tidak lagi mengamini pesan di gambar ini; mereka menyatakan yakin bahwa Google lebih berkuasa daripada “imaginary” God.

 

Ruang kecil yang dimaksud adalah Anda sendiri yang harus MENUNJUKKAN kepada mereka bahwa si God jauh lebih berkuasa daripada Google (mudah-mudahan Larry Page, Sundar Pichai dan Sergey Brin tidak besar kepala jika membaca ini). Menunjukkan berarti anda tidak sendiri yang MELAKSANAKAN NILAI itu terlebih dahulu. Pun tidak ada jaminan bahwa mereka akan segera menangkap nilai yang Anda coba tanamkan. Tetapi setidaknya sebagian, iya.

Seperti postingan reflektif dari Yasa Singgih yang saya peroleh dari sebuah group milis ini.


Saya tidak terlahir di keluarga yang sangat kaya, namun juga tidak berasal dari keluarga yang susah. Keluarga kami berkecukupan & sederhana. Tapi saya akui bahwa saya berasal dari keluarga yang menurut saya sangat kaya akan nilai nilai kehidupan.

Papa saya adalah seorang karyawan dengan segudang aktivitas sosialnya yang sangat padat, beliau aktif membangun Yayasan Sutra Bakti yaitu sebuah Yayasan Sosial yang bergerak di bidang pemberdayaan ekonomi desa, program bedah rumah bagi warga kurang mampu di berbagai daerah & bantuan kesehatan untuk orang tidak mampu yang sedang sakit. Mama saya adalah seorang karyawan teladan sekaligus Ibu Rumah Tangga yang sangat luar biasa, beliau rutin memasak Indomie setiap hari Minggu untuk ketiga anaknya. Mereka bukan orang tua yang sempurna, namun mereka orang tua yang terbaik bagi anak-anaknya.

Ada satu kejadian yang tidak akan saya lupa seumur hidup saya. Yaitu kejadian saat saya masih duduk di bangku sekolah dasar, kalau tidak salah saat kelas 3 SD. Dari TK sampai dengan SD, saya selalu mendapatkan juara kelas. Sering kali mendapatkan juara 1 dan beberapa kali mendapatkan juara umum yang membuat saya dibebaskan dari biaya uang sekolah. Disaat banyak anak lain takut mengambil raport, saya tidak pernah takut. Saya yakin saya pasti dapat juara lagi.

Pun pada saat mendapatkan juara, saya tidak bergembira berlebihan. Biasa saja. Disaat teman saya mendapatkan hadiah disaat ulangannya mendapat nilai bagus, saya hanya mendapatkan semangkuk bakmie & segelas es cendol atas hadiah kerja keras sepanjang tahun menjadi juara 1 di kelas.

Sampai suatu hari momen tak terlupakan sepulang ambil rapot di mobil bersama Papa saya. Beliau bertanya seperti ini, “Hari ini kamu dapet juara 1 lagi ya?”

Dengan santai saya jawab, “Iyaaa Pa…”

Lalu Papa saya melanjutkan, “Sebenernya Papa ngga pernah minta apalagi maksa kamu untuk jadi Juara 1 di sekolah”.

Mendengar itu saya hanya terdiam saja.

Papa melanjutkan, “Iya, sebenernya kalo buat Papa nilai 6 atau 7 juga udah cukup, yang penting naik kelas aja supaya kamu ngga rugi waktu. Tapi kalo kamu ngga naik kelas pun Papa ngga akan marah, kamu cuma rugi waktu, Papa rugi uang. Tapi kamu bisa dapet temen lebih banyak lagi. Sekolah itu intinya bukan nilai di atas kertas, karena ngga semua nilai di atas kertas bisa kamu gunakan di kehidupan. Di sekolah kamu belajar lalu kamu dapet ujian tapi di kehidupan kamu dapet ujian lalu belajar dari ujian tersebut. Sekolah tetep penting, tapi esensi dari sekolah adalah pendewasaan diri. Ibaratnya SD itu kamu masih di aquarium, nanti SMP kamu lompat ke kolam ikan, SMA kamu lompat ke danau, kuliah kamu lompat ke lautan dan begitu seterusnya kamu akan lompat ke dunia yang lebih besar. Jadi, yang penting itu di sekolah kamu harus punya banyak temen dan bergaul yang pintar. Kalo ada temen kamu di sekolah yang dimusuhin, kamu harus temenin dia. Kalo ada temen kamu yang ngga bisa bergaul, bantu dia bergaul. Tolong orang sebanyak-banyaknya, baik dan ramah sama semua orang maka suatu hari kamu pasti ditolong baik sama mereka” begitu kata Papa saya.

Mendengar nasehat tersebut, saya hanya diam saja sambil menganggukkan kepala. Pada saat itu saya belum bisa mencerna nasehat tersebut dengan baik. Saya hanya menangkap bahwa saya harus jadi orang baik dan pintar bergaul sama banyak orang. Itu saja. Selebihnya saya tidak menangkap maksud Papa saya. Namun, memang setelah nasehat tersebut hidup saya berubah. SMP – SMA saya tidak sepintar saat SD lagi, karena saya merasa pintar dalam sosial jauh lebih penting daripada pintar secara akademis. Apalagi banyak pelajaran yang saya tidak suka. Masuk ke kuliah, saya tidak sebodoh saat SMP – SMA. Karena saya memilih jurusan yang saya suka, maka saya tidak kesulitan untuk menjadi mahasiswa yang pintar secara akademis dan juga sosial.

Mungkin disaat usia saya 20 tahunlah saya baru benar benar mengerti seluruh nasehat yang Papa saya berikan pada sata beberapa tahun yang lalu. Disaat – saat inilah saya baru menangkap apa yang diajarkan oleh Papa Mama saya selama ini tentang kehidupan secara tidak langsung.

Dari kecil, saya dan kakak-kakak saya dibesarkan dengan gaya hidup yang sederhana. Keluarga kami terbiasa makan nasi uduk di kaki lima ataupun nasi goreng tek tek di pinggir jalan. Makanan favorit keluarga kami adalah Nasi Goreng Bang Jen di Cipulir atau Nasi Uduk Favorit di Tangerang. Bagi kami kedua makanan tersebut jauh lebih nikmat dibanding restoran manapun. Kami diajarkan untuk tidak membeli barang yang harganya berlebihan & kami diajarkan untuk makan di tempat yang sewajarnya disaat punya uang sekalipun.

Papa Mama saya tidak pernah bertanya kepada saya, “Yasa, gimana ulangan MAT kemaren?” sepulang sekolah.

Pertanyaan yang mereka tanyakan adalah:

“Ada yang seru ngga di sekolah hari ini?”

“Yas, kamu udah punya pacar belom sih? Ada yang cakep ngga?”

“Siapa guru yang ngajarnya paling enak?”, “Siapa temen yang baik di sekolah?”

Bahkan sebuah peraturan unik dibuat oleh Papa saya, kalau saya punya pacar maka saya ditambahkan uang jajan katanya. Hal unik berikutnya, orang yang pertama kali memberikan saya kesempatan mencicipi rokok adalah Papa saya. Orang yang pertama kali memberikan saya kesempatan mencicipi alkohol pun juga Papa saya. Namun anehnya, sampai hari ini saya bukan dan tidak pernah menjadi perokok dan bukanlah peminum alkohol.

Akibat hal tersebut, saya menganggap esensi pendidikan bukanlah sekedar nilai diatas kertas. Sangat disayangkan jika orang tua menuntut anak berdasarkan nilai diatas kertas, bukan proses pembelajaran dari setiap kejadian. Alhasil, anak hanya fokus pada hasil tanpa memperhatikan proses pembelajaran. Apa yang didapat? Nol besar. Orang tua juga sering kali memaksakan kehendak dirinya pada anak, bahkan ada juga yang meminta anak punya mimpi yang sama dengan dirinya tanpa memperdulikan hasrat sang anak. Saya masih ingat di akhir SMA disaat rata rata teman saya sedang bingung memilih jurusan apa yang paling bagus atau jurusan apa yang paling cepat dapat kerja, Papa Mama saya tidak menyarankan apa apa selain, “Pilih yang kamu nikmat ngejalaninnya…”

Saya juga bersyukur keluarga saya mendidik saya dengan gaya hidup yang sederhana, secara tidak langsung saya diajarkan untuk menjadi anak yang siap hidup dalam segala situasi. Papa Mama saya mengajarkan saya etika yang baik saat berada di tempat yang mewah, namun mengajarkan saya untuk siap jika suatu saat hidup sedang berada di posisi yang keras. Saya dibentuk untuk menjadi anak yang siap kaya namun juga siap miskin. Saya belajar bahwa kualitas diri manusia tidak dinilai dari apa yang ia kenakan di luar, melainkan dari apa yang ada di dalam dirinya. Dari begitu banyaknya kegiatan sosial yang dijalankan oleh Papa saya, saya juga belajar banyak bahwa untuk memberikan dampak buat banyak orang tidak perlu menunggu menjadi orang yang mampu melainkan kita hanya perlu menjadi orang yang MAU. Dari kesederhanaan Mama saya, saya belajar bahwa anak tidak bangga pada orang tuanya yang tampil cantik ataupun terlihat kaya, melainkan kepada orang tua yang mampu mendidik anaknya menjadi manusia yang lebih beradab dan beretika.

Sedikit pesan untuk para orang tua. Tugas utama orang tua bukanlah memberikan uang, anak tidak butuh uang. Orang tua adalah pendidik, yang harusnya menciptakan manusia berkualitas, beretika, bernilai, berdaya yaitu anaknya. Untuk mendidik anak seperti itu, butuh waktu, butuh kasih sayang, butuh moral, butuh nilai nilai kehidupan, bukan uang. Tidak perlu sibuk mencari uang agar dapat meninggalkan warisan uang yang banyak untuk anak, jika orang tua mendidiknya dengan benar maka anak itu dapat menciptakan uang jauh lebih banyak daripada jumlah yang orang tua harapkan. Anak adalah cerminan orang tua. Kebanggaan terbesar orang tua adalah saat anaknya berhasil menjadi manusia yang berkualitas, berdaya dan bermanfaat.

Pesan untuk anak, tidak semua orang tua mampu mengajarkan pendidikan moral ataupun nilai nilai kehidupan secara langsung. Namun ketahuilah bahwa perjuangan orang tua kita begitu luar biasa, intensi mereka begitu baik untuk masa depan anaknya. Kita tidak perlu mencari motivasi hidup di luar sana, belajarlah dari perjalanan kehidupan orang tua kita berusaha menghidup kita. Saya yakin ada sebuah cerita inspiratif yang kita temukan disana. Orang tua selalu menginginkan yang terbaik untuk anaknya, namun belum tentu yang diinginkan orang tua juga diinginkan anak. Maka yang dibutuhkan adalah komunikasi yang baik dan terbuka. Orang tua harus mampu memberikan kepercayaan & anak harus mampu bertanggung jawab atas kepercayaan yang telah diberikan.

Dan cara terbaik untuk membangun hubungan yang baik antara orang tua dan anak adalah menginvestasikan WAKTU masing masing untuk saling terbuka & dihabiskan bersama.

Saya bersyukur atas semua nilai kehidupan yang orang tua saya ajarkan pada saya. Itulah yang menjadikan Yasa Singgih pada hari ini. Apabila suatu saat saya menjadi orang yang sukses, apresiasi tertinggi hanya pantas diberikan untuk orang yang menjadikan saya seperti hari ini yaitu Papa Mama saya. Bersyukurlah bukan karena kita terlahir di keluarga yang kaya, namun bersyukurlah karena kita terlahir di keluarga yang penuh nilai nilai kehidupan.

Jika suatu saat nanti mereka tiada, saya tidak akan meminta warisan berbentuk materi apapun dari mereka. Seluruh pelajaran kehidupan yang mereka berikan selama ini, sudah lebih dari cukup.

Don’t try to become a man of success.

Just try to become a man of value.

Success will follow you.

Cinta saya untuk Papa Mama,
Yasa Singgih
14 Juni 2016


Saat ini Yasa Singgih aktif menjadi pembicara di vihara-vihara. Sementara saya dan beberapa teman lebih memilih untuk nongkrong dan mencoba menyambungkan asa yang terlanjur tertanam di kelompok kecil kami bahwa melewatkan momen bersama itu sangat penting, kendatipun betapa sibuknya. Kendatipun masing-masing tahu bahwa “This too, shall pass”.

Semmen

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén