Teknik Menulis Skenario dengan Mudah menggunakan Template dan Style Microsoft Word

Untuk menghasilkan tulisan skenario, kamu bisa membeli tool penulisan skenario semacam Arc Studio Premium. Tapi, kamu juga bisa melakukannya secara gratis tanpa perlu menghabiskan sekian rupiah untuk perangkat lunak penulis skenario. Cukup dengan aplikasi di komputer yang sudah biasa kamu gunakan, yaitu Microsoft Word secara offline (luring atau ‘luar jaringan’) atau Google Docs secara online (daring atau ‘dalam jaringan’). Yang terakhir ini bertujuan supaya lebih kompatibel dengan aplikasi pembelajaran yang saat ini banyak digunakan selama Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yakni Google Classroom, sama-sama produk Google.

Pada tulisan kali ini kita akan melihat bagaimana cara membuat skenario yang profesional menggunakan Microsoft Word. Jika sudah selesai, kamu tinggal mengupload file-nya ke Google Drive-mu untuk menghasilkan Google Docs (Dokumen Google).

Penulisan skenario dengan MS Word dapat dilakukan dengan beberapa cara. Kamu dapat menggunakan macros (program kecil yang merekam tombol yang Anda tekan dan mengotomasikannya untuk tugas yang sama) atau menciptakan sendiri pilihan style and formatting untuk membuat skenario yang siap ditampilkan dalam TV, film, atau teater.

Metode 1: Menggunakan Pola Template

  1. Buka dokumen baru. Setelah membuka MS Word, pilih File dalam menu di pojok kiri atas layar, kemudian pilih New. Proses ini akan memberikan pilihan gaya dan tata letak dokumen yang ingin kamu buat.
  2. Cari pola skenario. Dalam kotak pencarian, ketiklah “screenplay.” Saat ini, Microsoft menyediakan satu pola screenplay untuk MS Word 2013/2016. Klik dua kali setelah pencarian selesai dilakukan dan kamu akan mendapatkan dokumen yang telah diformat dengan pola skenario. Di dalam MS Word 2010, langkah-langkah yang harus dilakukan umumnya sama. Buka dokumen baru, pilih pola, dan cari Microsoft Office Online. Pilih salah satu dari dua pola, kemudian unduh.
  3. Sesuaikan pola skenario sesuai keinginan. Tidak ada peraturan yang ketat tentang tata cara penulisan skenario, tetapi terdapat panduan umum, kosakata, dan fitur umum. Bertanyalah kepada studio yang kamu tuju agar kamu mengetahui penyesuaian apa yang harus Anda lakukan terhadap dokumen. Pikirkan bagaimana menyesuaikan margin, ukuran huruf, jenis huruf, dan spasi antarbaris.
  4. Buatlah pola Anda sendiri. Jika Anda telah menulis atau memiliki skenario yang tersimpan dalam komputer, bukalah di MS Word. Pada menu save as type di bawah kotak nama, pilih “Word Template”. Jika dokumen mengandung macro, pilih “Word Macro-Enable Template”. Klik “save”. Jika kamu ingin mengubah lokasi file, klik “File”>”Options”>”Save”. Di dalam kotak lokasi utama penyimpanan pola, tik lokasi yang ingin kamu gunakan.

Menggunakan Style and Formatting

  1. Metode kedua yakni dengan menggunakan “Style and Formatting” untuk mengatur pola skenario. Jika kamu tidak begitu sreg dengan pola yang disediakan oleh Word, kamu dapat memodifikasi gaya dan format dokumen untuk menciptakan pola format baru. Pola-pola ini dapat digunakan lagi jika kamu menyimpannya. Kamu juga dapat membuat pola baru berdasarkan dokumen yang telah menggunakan aturan gaya dan format yang kamu butuhkan.
  2. Pilih satu baris teks. Teks bisa berupa nama karakter, potongan dialog, atau arahan panggung. Letakkan kursor di pinggir kiri baris teks dan pilih baris teks dengan menekan tombol kiri mouse. Atau, kamu juga dapat memilih teks dengan menekan tombol kiri mouse dan menariknya ke kiri atau ke kanan baris teks yang ingin kamu sesuaikan. Akhirnya, kamu dapat memilih teks yang akan kamu format dengan cara menarik kursor di teks yang telah kamu tulis dan menahan tombol shift dan tanda panah. Untuk memilih teks di sebelah kiri kursor, gunakan tanda panah kiri. Untuk memilih teks di sebelah kanan kursor, gunakan tanda panah kanan. Jika ada beberapa baris teks, kamu dapat memilihnya satu per satu dan ubah format seluruh baris yang Anda pilih.
  3. Buka panel Styles and Formatting. Setelah memilih teks, klik “Format” di menu. Menu tersebut akan menampilkan beberapa pilihan. Klik “Styles and Formatting.” Panel “Styles and Formatting” akan terbuka. Atau, kamu dapat membuka panel “Styles and Formatting” dengan memilih tombol “Styles and Formatting” di toolbar. Untuk membuka panel, klik tombol “Styles and Formatting” yang terletak di sebelah menu drop-down karakter tulisan. Tombol terletak di ujung kiri toolbar. Tombol ini bersimbol dua huruf “A” dengan dua warna berbeda, huruf “A” pertama berada di sebelah atas kiri huruf “A” kedua.
  4. Pilih teks yang memiliki format serupa. Klik kanan teks yang tadi sudah kamu pilih. Menu drop down akan muncul dengan berbagai pilihan. Opsi terbawah adalah “Select Text with Similar Formatting.” Klik kiri mouse kamu untuk memilih opsi tersebut. Seluruh teks dengan format yang serupa dengan yang telah Anda pilih akan terseleksi. Jadi, contohnya, jika seluruh nama karakter Anda menggunakan jenis dan ukuran huruf tertentu, ditempatkan di tengah pas di atas sebaris teks, Anda dapat memilih nama karakter apa pun, kemudian gunakan opsi “Select text with similar formatting” untuk menyeragamkan format nama karakter secara bersamaan.
  5. Pilih format yang Anda inginkan. Setelah kamu memiliki seluruh teks yang ingin kamu beri style tertentu, pilih sebuah style dari panel di sebelah kanan. Panel “Styles and Formatting” seharusnya masih terbuka di bagian kanan layar. Klik kiri format gaya yang Anda inginkan untuk mengubah teks pilihan Anda.
  6. Buat Style baru. Jika teks yang Anda pilih tidak sesuai dengan gaya yang ada, Anda dapat menambahkan format dan gaya teks tersebut sebagai gaya baru. Beri nama format dan gaya tersebut dengan memilih tombol di bagian atas panel bertuliskan “New Style.” Anda dapat memberi nama, memilih rata kiri atau kanan, memilih jenis huruf, dan membuat penyesuaian-penyesuaian lain yang diperlukan.

Tulisan ini diubahsuaikan dari WikiHow

 

Glorielis dan Profil Pelajar Pancasila

Baik pribadi Glorielis maupun profil Pelajar Pancasila sama-sama menjunjung tinggi sejumlah nilai kehidupan (values of life) yang dianggap penting untuk dimiliki seorang insan didik sehingga bisa menjalankan perannya sebagai subjek pendidikan dalam ” … ikut serta mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara” (mengutip tujuan pendidikan dalam konstitusi negara kita).

Apa itu Profil Pelajar Pancasila?

Pelajar Pancasila adalah perwujudan pelajar Indonesia sebagai pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, dengan enam ciri utama: beriman-bertakwa kepada Tuhan YME- dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif.

Jadi ada enam nilai yang oleh oleh Kemendikbudristek (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi) disebut sebagai dimensi dalam Modul Ajar Kurikulum Merdeka (KM).

Profil Pelajar Pancasila adalah insan didik yang oleh Kemendikbud dimaksudkan untuk dihasilkan oleh seluruh satuan pendidikan sesuai dengan Visi Pendidikan Indonesia saat ini, yakni mewujudkan Indonesia Maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian melalui terciptanya Pelajar Pancasila yang bernalar kritis, kreatif, mandiri, beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, bergotong royong, dan berkebinekaan global“. Visi ini sendiri adalah langkah awal untuk berjalan sesuai Peta Jalan Pendidikan Indonesia 2020-2035 (yang saat ini masih dalam bentuk draf dan masih banyak diperdebatkan), yakni membangun rakyat Indonesia untuk menjadi pembelajar seumur hidup yang unggul, terus berkembang, sejahtera, dan berakhlak mulia dengan nilai-nilai budaya Indonesia dan Pancasila.

(I sense too much of verbalism, right? Hebat sekali redaksi kalimatnya, tetapi jangan-jangan ini hanya verbalisme alias otak-atik kata-kata saja?)

Kurikulum Merdeka sendiri selama 3 tahun terakhir masif  disosialisasikan, dicoba untuk diimplementasikan oleh beberapa sekolah, sekaligus menuai banyak kritik termasuk resistensi dari berbagai pelaku pendidikan. Kritik ini secara umum mengemukakan bahwa tidak ada perbedaan substansial antara KM dengan Kurikulum 2013 dan kurikulum-kurikulum sebelumnya, hanya penamaan lain dengan beberapa varian kecil perbedaan disana-sini. Diakui misalnya bahwa Profil Pelajar Pancasila yang dimaksudkan sebagai kekhasan KM dan menjadi pembeda signifikan dengan kurikulum-kurikulum sebelumnya, dinilai banyak pihak justru tidak berbeda dengan Nilai Budi Pekerti yang terintegrasi dalam mata pelajaran di Kurikulum 2013, mirip dengan penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4).

Untuk memahami lebih lengkap tentang Profil Pelajar Pancasila, kamu bisa membaca banyak dokumen di situs kemdikbud.go.id

Apa itu Pribadi Glorielis?

Semua orang yang pernah dan sedang ambil bagian dalam proses pendidikan di seluruh sekolah di bawah naungan Yayasan Budi Mulia Lourdes diharapkan menjadi pribadi-pribadi Glorielis. Pribadi Glorielis adalah orang yang memahami dan mengamalkan nilai-nilai  kebudimuliaan, yakni hikmat yang bersumber dari kisah dan keutamaan yang diwariskan oleh Bapa pendiri Kongregasi Bruder Budi Mulia yaitu Bruder Stephanus Modestus Glorieux. Nilai-nilai itu adalah: Kedisplinan, Kebersamaan, Toleransi, Rajin Belajar, Tanggung Jawab, Kerendahan Hati, Kesederhanaan, Cinta Kasih, Kreatif-Inisiatif-dan Inovatif, Kerja Keras, Keunggulan, Kemandirian, Religius, Hidup Bakti, Ketabahan dan Integritas.

Untuk memahami lebih lengkap tentang pribadi Glorielis, kamu bisa membaca silabus dan dokumen lain terkait Pendidikan Spiritualitas Budi Mulia.


Tulisan singkat ini tidak hendak mempertunjukkan pertarungan kumulatif nilai-nilai yang “sangat hebat” hingga bisa kedengaran bombastis ini pada pribadi Glorielis dan yang (ingin dicapai) oleh Profil Pelajar Pancasila. Karena jika hanya redaksi kuantitatif yang ingin kutunjukkan, mudah saja menuliskan skor layaknya pertandingan sepakbola:

[Pribadi Glorielis] 16 – 6 [Profil Pelajar Pancasila]

Alih-alih, Saya hendak berfokus pada bagaimana kita mengkomunikasikan nilai tersebut sehingga benar diamalkan oleh insan didik Budi Mulia secara khusus, dan oleh insan didik Indonesia secara umum. Kurang lebih, diskusi ini bisa kita mulai dengan pertanyaan pemantik, semisal: apa pentingnya nilai-nilai itu diajarkan?

Alasannya, jika kita perhatikan dengan cermat, keenam nilai Profil Pelajar Pancasila dan keenambelas nilai Pribadi Glorielis ini sebenarnya kurang lebih memaksudkan hal yang sama, yakni menjadikan manusia yang sedang menempuh pendidikan menjadi semakin manusia. Sesuai dengan visi pendidikan yang berlaku dimana-mana, yakni memanusiakan manusia.

Kita bisa juga menyitir argumen Seneca terhadap Lucillius ketika mereka terlibat perdebatan soal moralitas pada tahun 65 Masehi: sebenarnya, sekolah itu untuk apa sih? Seneca mengatakan “non scholae, sed vitae discimus” (we learn not  for school, but for life); sementara Lucillius mengatakan persis sebaliknya: “non vitae, sed scholae discimus” untuk mempertahankan argumen realistisnya soal pendikan yang seharusnya lebih praktikal dan bahwa literasi keilmuan sebenarnya terlalu dilebih-lebihkan.

Kupikir, kita semua sepakat memihak Seneca ketimbang Lucillius dalam hal ini.

Tetapi, jika benar demikian, maka kita boleh mengekstrapolasi kesepakatan kita terhadap Seneca dengan pertanyaan-pertanyaan kritis yang lebih membumi dan mengujinya pada konteks zaman ini, yakni konteks pendidikan formal di Indonesia sekarang. Pertanyaan itu misalnya:

  • Dengan seabrek mata pelajaran pada kurikulum, tugas kokurikuler, program intrakurikuler dan ekstrakurikuler, mulai dari TK, SD, SMP, SMA/K hingga Perguruan Tinggi, manusia seperti apa kita maksud ingin kita bentuk, yang kita sebut sebagai “manusia terdidik”?
  • Dalam konteks pendidikan sebagai industri, semakin jamak kita temui orang yang lulus Perguruan Tinggi bekerja tidak sesuai dengan jurusannya atau malah menganggur, tidak bekerja. Bukankah ini mengindikasikan ada ketidaksambungan antara apa yang kita anggap perlu diajarkan di kurikulum sekolah (supply) dan apa yang ternyata dibutuhkan masyarakat/pasar (demand)?
  • Entah sebagai alumnus Glorielis atau alumnus Pelajar Pancasila, benarkah keenambelas nilai atau keenam nilai yang kerap diglorifikasi tadi membantu insan didik untuk menjadi cerdas dan pada gilirannya memberi kontribusi pada masyarakat (society) menyitir Seneca? Atau malah sebenarnya kita tak memerlukan alokasi waktu secara khusus untuk mengajarkan dan membuat proyek untuk nilai-nilai itu, yang penting ajarkan saja kecakapan praktikal sesuai permintaan pasar menyitir Lucillius?
  • Masyarakat sekarang hidup di tengah paradoks kemajuan (ekstrimnya: sebagian orang sudah coba menjajal pola hidup Metaverse, Big Data, Artificial Intelligence; sementara bagi sebagian orang lagi, kebutuhan pokok seperti akses penerangan listrik saja belum ada). Absurditas menyertainya pula, sehingga idealisme pendidikan ternodai begitu saja sebab harus kompromi dengan realitas yang terjadi. Bukankah jamak kita dengar: Untuk sukses, tak penting jurusannya hebat atau orangnya cerdas, tetapi apakah punya “orang dalam”, koneksi dan warisan orangtua?

Pertanyaan-pertanyaan semacam ini kupikir mengajak kita untuk masuk ke refleksi ulang apa sebenarnya tujuan pendidikan di Budi Mulia secara khusus dan tujuan pendidikan Indonesia secara umum.

Jika memang pendidikan kita mau kita dasarkan pada gagasan-gagasan filosofis Ki Hajar Dewantara yang lebih mengedepankan transformasi nilai (value), sudah benar langkah Budi Mulia yang merasa perlu merumuskan nilai-nilai kebudimuliaan atau Kemendikbud merasa perlu memuat Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dalam Kurikulum Merdeka yang diusungnya. Intinya, persoalan akhlak, karakter, budi pekerti dan terma lain yang sejenis masih perlu diajarkan, dan sekolah harus mengalokasikan waktu dan sumber daya yang cukup untuk itu, sama seperti alokasi untuk mata-pelajaran lainnya.

Masalah konkret muncul: bagaimana kita mengukur implementasi nilai-nilai itu?

Bagaimana mengukur pengaruh karakter profil pelajar Pancasila itu pada anak didik? Bagaimana kita tahu bahwa lulusan Budi Mulia yang dicap “berhasil” atau “sukses” itu memang karena dia mengamalkan nilai-nilai kebudimuliaan; sebaliknya yang “gagal” itu karena dia tidak mengamalkan nilai-nilai kebudimuliaan?

Atau kalau mau lebih filosofis lagi, kita bisa mundur ke belakang dengan pertanyaan lebih mendasar: apa ukuran sukses? Lulusan sekolah yang kita sebut sukses itu sebenarnya apa?

Jangan-jangan sebaiknya kita mengalah saja dan mengikuti tren pendidikan berorientasi pada kecerdasan dan kreatifitas yang sejauh ini sudah terbukti sesuai keinginan pasar. Kita terima saja determinasi filosofi pendidikan Barat yang kerap kita anggap lebih mengedepankan transformasi pengetahuan (knowledge) tetapi nyatanya tanggap dan tangguh terhadap permintaan dunia dewasa ini.


UJILAH NILAI

Kini kita sampai pada permenungan yang lebih mendalam lagi. Upaya penanaman nilai-nilai (values) ini sejak Ki Hadjar Dewantara dengan Taman Siswa-nya, Orde Baru dengan P4-nya, Kurikulum 2013 dengan Penanaman Budi Pekerti-nya, Yayasan Budi Mulia dengan Nilai Kebudimuliaan-nya, hingga Kurikulum Merdeka dengan proyek Pelajar Pancasila-nya semua mendaku sebagai sistem yang kelak akan menghasilkan manusia cerdas dan terdidik.

Tetapi, benarkah generasi terdidik hasil lulusan dari program penanaman nilai dengan nama yang hebat itu menjadikan Indonesia semakin berkemajuan?

Jangan-jangan kita terlalu lama berkutat dengan verbalisme nilai, sampai lupa bahwa masyarakat kita saat ini (hic et nunc) membutuhkan orang-orang cerdas dari sekolah untuk memberi kontribusi pengetahuan mereka.

Apa sebaiknya kita tinggalkan saja Seneca, kita ikuti nasehat Lucillius saja?

Jika ternyata kebutuhan akan pasokan ikan lele jelas di depan mata, ajarkan saja anak bisa baca tulis seadanya lalu didik untuk memelihara ikan lele sedari kecil, tak usah pusingkan anak dengan mengharuskannya menghafal rumus Fisika, Kimia, Matematika atau ikut bimbel supaya lulus UTBK? Sebab jika pun lulus dan tamat dari perguruan tinggi pilihannya toh dia akan kembali menganggur. Dia akan menghabiskan waktunya menonton video Youtube dengan kata kunci “bagaimana cara memelihara ikan lele”? 

Loh? Tapi kan anak harus kita ajarkan untuk beriman-bertakwa kepada Tuhan YME- dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif. Anak harus kita ajarkan untuk displin, berbakti, belajar keras, toleran, mandiri, religius, memiliki cinta kasih, tabah, kreatif, inovatif dan berintegritas?

Memangnya, menurutmu, seorang pengusaha lele tidak bisa memiliki semua nilai itu tanpa harus belajar di sekolah?

Nilai-nilai Kebudimuliaan

Sebagai pendidik, Anda bisa saja membangun visi dan misi pendidikan paling hebat yang pernah ada sepanjang sejarah kurikulum akademis – sesuatu yang semestinya bisa menawarkan nilai sangat berharga kepada orangtua dan insan didik – tapi jika Anda tidak mengkomunikasikan dan menunjukkan nilai itu dengan baik, Anda sebenarnya tidak mengatakan apapun.

Nilai

Semakin kesini, semakin sering kita mendengar orang-orang berbicara tentang nilai (value) atau keutamaan (virtue). Apa itu nilai?

Aksiologi, cabang filsafat yang membahas nilai (dari kata axios/nilai dan logos (pengetahuan) menaruh perhatian tentang baik dan buruk (good and bad), benar dan salah (right and wrong), serta tentang cara dan tujuan (means and ends). Aksiologi mencoba merumuskan suatu teori yang konsisten untuk perilaku etis. Ia bertanya seperti apa itu baik (what is good?) dan apa itu benar (what is right?)

Jika yang baik dan benar teridentifikasi, ia akan disebut bernilai, mempunyai nilai. Jika tidak, maka sebaliknya: tidak bernilai, tidak mempunyai nilai.

Lebih jauh, kita – Saya dan Anda – sebenarnya bisa membahas apakah nilai itu independen (memiliki makna pada dirinya sendiri) atau bergantung pada manusia sebagai pelaku, insan yang mencari, menemukan dan mengevaluasi nilai. Namun, secara ringkas kita bisa mengartikan nilai sebagai produk/hasil penciptaan atau penemuan akal manusia setelah melalui proses analisis atas kepercayaan, keputusan, dan konsep-konsep moral.

Sumber Nilai Kebudimuliaan

Sejatinya, nama “Budi Mulia” sendiri (budi yang mulia) sudah sangat dekat artinya dengan istilah budi pekerti, sehingga patut diduga mendengar namanya saja, orang sudah akan diarahkan untuk memikirkan sesuatu yang luhur, mulia, indah, sopan dan atribut baik lainnya. Budi pekerti adalah nilai yang akan mendasari seluruh perilaku kita. Maka, pikiran dan perbuatan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat terpisahkan. Jika pikirannya baik, maka perbuatan yang akan dihasilkan pun niscaya akan baik pula. Jika pikirannya buruk, perbuatannya pun akan buruk.

Tetapi dalam kenyataan dan pembicaraan yang Saya alami dengan orang-orang terutama dengan anak didik dan rekan guru,  arti mendalam dari budi pekerti lebih sering hanya menjadi definisi mati dalam literatur-literatur sekolah, padahal sejatinya nilai budi pekerti ini dimaksudkan untuk dihidupi dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Baik di ranah individu, sekolah, masyarakat, dan bernegara.

Nilai kebudimuliaan adalah hikmat yang bersumber dari kisah dan keutamaan yag diwariskan oleh Bapa pendiri Kongregasi Bruder Budi Mulia yaitu Bruder Stephanus Modestus Glorieux. Perjalanan sepanjang hidupnya yang menginspirasi terlebih hidup membiara sendiri diyakini bersumber dari imannya akan Yesus Kristus.

Maka, seperti Glorieux sendiri menjadi orang Kristen yang menimba spiritualitasnya dari Yesus Kristus, seorang insan Budi Mulia juga pertama-tama mengikuti teladan Yesus. Sebab Yesus adalah Guru Utama dari Teladan Budi Mulia, yakni Bapa Stephanus Modestus Glorieux.

Siapa yang seharusnya Menghidupi Nilai Kebudimuliaan?

Siapa saja mereka? Tentu, siapa saja yang mau. Terutama mereka yang sedang dan sudah pernah menjadi siswa, guru dan pegawai di sekolah di bawah naungan Yayasan Budi Mulia Lourdes.

Mereka adalah setiap insan Budi Mulia. Saya menawarkan julukan untuk mereka, yakni seorang Glorielis (dari nama Glorieux, mengikuti toponimi penduduk dan karakter orang Bordeaux yang dijuluki Bordealis). Setiap Glorielis seharusnya menghidupi nilai-nilai kebudimuliaan ini.

Istilah lain yang kerap digunakan (bahkan sudah kadung menjadi bagian dari kultur kebudimuliaan secara khusus di lingkungan SMA Budi Mulia Pematangsiantar Jalan Melanton Siregar 160) yakni: seorang Boemian atau warga Boemi. Boemi sendiri kemungkinan adalah akronim versi ejaan van Ophuijsen dari Budi Mulia (Boedi Moelia). Tetapi istilah warga Boemi atau Boemian(s) ini dapat saja dikenakan kepada siapa saja yang pernah dan sedang mengenyam pendidikan di Budi Mulia, lepas dari apakah dia mengamalkan nilai-nilai kebudimuliaan atau tidak.

Apa saja Nilai Kebudimuliaan itu?

Menurut Silabus Pendidikan Spiritualitas Budi Mulia (Silabus PSBM) yang dihasilkan dalam Workshop Kebudimuliaan di SMP Budi Mulia Mangga Besar pada 26-28 April 2021, nilai-nilai kebudimuliaan adalah:

  1. Kedisplinan
  2. Kebersamaan
  3. Toleransi
  4. Rajin Belajar
  5. Tanggung Jawab
  6. Kerendahan Hati
  7. Kesederhanaan
  8. Cinta Kasih
  9. Kreatif, Inisiatif dan Inovatif
  10. Kerja Keras
  11. Keunggulan
  12. Kemandirian
  13. Religius
  14. Hidup Bakti
  15. Ketabahan
  16. Integritas

Cara Mengukur: Glorielis-kah Aku?

Sebagaimana jika orang mau mengukur dirinya sendiri apakah dia Kristen atau tidak patokannya adalah kesesuaian pada teladan perkataan dan perbuatan Yesus Kristus, maka seorang siswa, guru dan pegawai di sekolah-sekolah di bawah naungan Yayasan Budi Mulia Lourdes bisa mengukur dirinya sendiri apakah dia sudah cukup Glorielis (insan Budi Mulia) atau belum dengan bertanya:

Sudah displinkah aku? Jika belum, maka aku belum Glorielis.

Sudah jujurkah aku? Jika belum, maka aku belum penuh menjadi insan Budi Mulia.

Sudah mandirikah aku? Jika belum, maka aku belum Glorielis.

Sudahkah aku rajin belajar? Jika belum, maka aku belum sah menjadi “anak BM”.

Sudahkah aku bertanggungjawab?  Jika belum, maka aku belum pantas disebut anak Budi Mulia.

Sudahkah aku unggul? Jika belum, maka aku belum pantas disebut warga Boemi teladan.

(dan seterusnya …)


Mengkomunikasikan Nilai Kebudimuliaan

Nilai-nilai kebudimuliaan haruslah diketahui esensinya. Setelah diketahui, dihidupi. Jika sudah dihidupi, maka orang yang datang dan melihat akan menjadi saksi atasnya. Begitulah proses komunikasi nilai kebudimuliaan terjadi.

Sampai hari ini, sekolah TK, SD, SMP hingga SMA Budi Mulia masih mendapat kepercayaan di hati banyak orang karena proses pendidikan yang berusaha terus mengamalkan nilai-nilai itu, membuatnya bagian dari hidupnya pendidikan di Budi Mulia.

Dengan premis ini, sekali lengah dan lalai dengan nilai itu atau membuatnya hanya jargon semata dan jatuh pada verbalisme belaka, keadaan bisa berbalik. Pastinya: ke arah yang lebih buruk. Sesuatu yang kita semua pastinya tidak kehendaki.

Dengan demikian, nilai-nilai kebudimuliaan bukanlah nilai-nilai yang hanya tersimpan dalam literatur dan dihapal saja, namun juga perlu diimplementasikan dalam aspek akademis dan non-akademis. Inilah pilihan nilai yang diambil oleh segenap Glorielis dalam perannya ikut serta dalam visi utama pendidikan sesuai amanat konstitusi negara ini, yakni mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara.

 

Lagu-lagu Porseni Boemi 2022: Lirik, Akor dan Video

1. Solo Putra: Cover Lagu “Lirih” Ari Lasso

Intro : E F#m E D# E F#m E B

F#m D#      E    F#m  D#              E   A
kesunyian ini lirih kubernyanyi
C#m D#                  B      A                   E
lagu indah untukmu aku bernyanyi
F#m             D#    E            F#m               E
engkaulah cintaku cinta dalam hidupku
C#m D#                   B A                   E
bersama rembulan aku menangis
G#                  A   Am                     E     B
mengenangmu segala tentangmu oooh
C#m                   B          A        F#m     B
ku memanggilmu dalam hati lirih
E F#m         D#      E        F#m       D#    E A
engkaulah hidupku hidup dan matiku
C#m D# G#m B                    E A G#
tanpa dirimu    aku menangis

A   Am
mengenangmu
E      B
segala tentangmu oooh …
C#m                  B          G#m      A
ku memanggilmu dalam hatiku

Interlude: E F#m E D# B

A                   E
aku bernyanyi

G#                  A   Am                     E     B
mengenangmu segala tentangmu oooh
C#m                   B          A        F#m     B
ku memanggilmu dalam hati lirih

C#m                   B          A        F#m     B
ku memanggilmu dalam hati lirih

(unattended)
kukenang dirimu

E F#m D# E


2. Trio Campuran: Cover Lagu “Lelaki dan Rembulan” Franky Sahilatua & Jane

Intro: Bm Em Bm Em C Bm D

Verse 1

G                       D          G
Rembulan di malam hari
Bm       Em
Lelaki diam seribu kata
Bm                D
Hanya memandang
G D                   G
Hatinya luka… hatinya luka

Verse 2

G              D          G
Udara terasa berat
Bm                  Em
Karena asmara sesakkan dada
Bm         D
Ketika cinta
G D                          G
Terbentur dinding… terbentur dinding

Reff:
Em                     Bm
Bukalah pintu hatimu
C                      G
Yang s’lalu membeku
Bm                 Em
Agar ku lihat lagi
C       G          D
Rembulan di wajahmu
C             D        G
Jangan sembunyikan
C         G D      G
Hatimu padaku

G    Em           C          G
Lelaki… dan rembulan
Bm                    G
Bersatu di malam
D       C        G
Angin sepoi-sepoi

Interlude: Em C G C G C D

Verse 1

G                       D          G
Rembulan di malam hari
Bm       Em
Lelaki diam seribu kata
Bm                D
Hanya memandang
G D                   G
Hatinya luka… hatinya luka

Verse 2

G              D          G
Udara terasa berat
Bm                  Em
Karena asmara sesakkan dada
Bm         D
Ketika cinta
G D                          G
Terbentur dinding… terbentur dinding

Reff:
Em                     Bm
Bukalah pintu hatimu
C                      G
Yang s’lalu membeku
Bm                 Em
Agar ku lihat lagi
C       G          D
Rembulan di wajahmu
C             D        G
Jangan sembunyikan
C         G D      G
Hatimu padaku

G    Em           C          G
Lelaki… dan rembulan
Bm                    G
Bersatu di malam
D       C        G
Angin sepoi-sepoi

 

D       C        G
Angin sepoi-sepoi (4x, fade out)


3. Band akustik: Cover Lagu “Pelangi dan Matahari” – BIP

[intro] A D F#m E D 2x

                  A
padang hijau
F#m
di balik gunung yang tinggi
Bm
berhiaskan pelangi
A
setelah hujan pergi

                    A
ku terdampar
F#m
di tempat seindah ini
Bm
seperti hati sedang
A
sedang jatuh cinta

[chorus]
A
ku bahagia
D
merasakannya
F#m                E
andaikan aku bisa di sini slamanya
D
tuk menikmatinya

                       A
sungai mengalir
F#m
sebebas aku berfikir
Bm
hembusan angin dingin
A
membawa aku berlari

                  A
mensyukuri
F#m
semua yang telah kau beri
Bm
hati yang rapuh ini
A
kau kuatkan lagi
[chorus]
A
ku bahagia
D
merasakannya
F#m                E
andaikan aku bisa di sini slamanya
D
tuk menikmatinya

               A
ku bahagia
D
merasakannya
F#m                E
andaikan aku bisa di sini slamanya
D
tuk menikmatinya

[Interlude]

F#m D 4x     A D F#m E D

A
di sini s’lamanya.. di sini s’lamanya ..
D
di sini s’lamanya.. di sini s’lamanya ..
F#m                                                    E
di sini s’lamanya.. di sini s’lamanya ..
D
di sini s’lamanya.. di sini s’lamanya ..

A
di sini s’lamanya.. di sini s’lamanya ..
D
di sini s’lamanya.. di sini s’lamanya ..
F#m                                                    E
di sini s’lamanya.. di sini s’lamanya ..
[chorus]

             A
ku bahagia
D
merasakannya
F#m                E
andaikan aku bisa di sini slamanya
D
tuk menikmatinya

A
ku bahagia
D
lepas semua
F#m                E
andaikan aku bisa di sini slamanya
D
tuk menikmatinya

A
di sini selamanya.. di sini selamanya..
D
di sini selamanya.. di sini selamanya..
F#m                                E
di sini selamanya.. di sini selamanya..
D
di sini selamanya.. di sini selamanya..

A
di sini selamanya.. di sini selamanya..
D
di sini selamanya.. di sini selamanya..
F#m                                E
di sini selamanya.. di sini selamanya..
D
di sini selamanya.. di sini selamanya..
A
di sini….


4. Solo Putri: Cover Lagu “Tetap dalam Jiwa” Isyana Sarasvati

Intro : F C Em Am
 F
tak pernah terbayang
    C                Em        Am
akan jadi seperti ini pada akhirnya
 F
semua waktu yang pernah
   C
kita lewati bersamanya
  Em            Am
telah hilang dan sirna
     F             C
hitam putih berlalu janji kita menunggu
Em              Am
tapi kita tak mampu
F                 C
seribu satu cara kita lewati
Em       Am
tuk dapatkan semua jawaban ini
Reff:
              F           C
bila memang harus berpisah
    Em      Am
aku akan tetap setia
F         C
bila memang ini ujungnya
  Em          Am
kau kan tetap ada di dalam jiwa
  F           C
tak bisa ku teruskan
 Em       Am
dunia kita berbeda
  F         C
bila memang ini ujungnya
   Em           Am
kau kan tetap ada di dalam jiwa
F                     C
memang tak mudah tapi ku tegar
 Em          Am   
menjalani kosongnya hati
     F                           C
buanglah mimpi kita yang pernah terjadi
  Em        Am
dan simpan tuk jadi history
 F             C
hitam putih berlalu janji kita menunggu
Em               Am
tapi kita tak mampu
  F                  C
seribu satu cara kita lewati
 Em       Am
tuk dapatkan semua jawaban ini
Reff:
              F           C
bila memang harus berpisah
 Em      Am
aku akan tetap setia
 F         C
bila memang ini ujungnya
      Em          Am
kau kan tetap ada di dalam jiwa
        F           C
tak bisa ku teruskan
 Em       Am
dunia kita berbeda
  F         C
bila memang ini ujungnya
Em           Am
kau kan tetap ada di dalam jiwa
F                 G
Tak bisa tuk teruskan
Am
Dunia kita berbeda
F                 G
Tak bisa tuk teruskan
Am
Dunia kita berbeda
F                 G
Tak bisa tuk teruskan
Am
Dunia kita berbeda
F                 G
Tak bisa tuk teruskan
Am
Dunia kita berbeda
Reff:
              F           C
bila memang harus berpisah
Em      Am
aku akan tetap setia
      F         C
bila memang ini ujungnya
   Em          Am
kau kan tetap ada di dalam jiwa
 F           C
tak bisa ku teruskan
Em       Am
dunia kita berbeda
 F         C
bila memang ini ujungnya
   Em           Am
kau kan tetap ada di dalam jiwa


CREDITS:

  • Ari Bernardus Lasso, atau lebih dikenal dengan nama Ari Lasso (lahir di Madiun, Jawa Timur, 17 Januari 1973) adalah penyanyi pop Indonesia. Dia tercatat sebagai vokalis grup band Dewa 19 (1991-1999) yang akhirnya ia keluar dan menjalani karier sebagai penyanyi solo.

  • Franky Hubert Sahilatua (lahir di Surabaya, Jawa Timur, 16 Agustus 1953 – meninggal di Jakarta, Indonesia, 20 April 2011 pada umur 57 tahun) adalah penyanyi balada berdarah Maluku asal Surabaya, Indonesia. Franky adalah anak ketiga dari tujuh bersaudara, yang di antaranya adalah Jane Sahilatua dan Johnny Sahilatua. Namanya dikenal publik sejak paruh kedua dekade 1970-an, ketika ia berduet bersama adiknya, Jane Sahilatua, dengan nama Franky & Jane. Duet ini sempat menghasilkan lima belas album, semuanya di bawah Jackson Record. Setelah duet ini mengakhiri kerja samanya, karena Jane kemudian menikah dan hendak memusatkan diri pada keluarga, Franky lebih banyak bersolo karier. Tahun 2006, Franky diangkat menjadi duta buruh migran Indonesia bersama Nini Carlina oleh Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) dan Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI).

  • BIP adalah grup band yang didirikan oleh tiga orang musisi yang hengkang dari Slank pada tahun 1996, yaitu Pay (gitar), Bongky (bass), dan Indra (keyboard). Kini formasi mereka dilengkapi oleh Ipang (vokal).

  • Isyana Sarasvati (lahir di Bandung, 2 Mei 1993) merupakan penyanyi dan penulis lagu berkebangsaan Indonesia. Isyana merupakan lulusan dari Nanyang Academy of Fine Arts, Singapura dan Royal College of Music, Britania Raya. Isyana yang menulis sendiri semua lagunya ini juga pernah menjadi penyanyi opera di Singapura.

Membaca “Laudato Si”, ensklik Paus Fransiskus tentang Merawat Lingkungan Hidup

Ringkasan

Ensiklik Paus Fransiskus baru berjudul Laudato Si (Be Praised), On the Care of Our Common Home” atau dalam bahasa Indonesia: “Tentang Perawatan Rumah Kita Bersama” dirilis saat konferensi pers berlangsung di Vatikan, 18 Juni 2015.

Judul “Laudato Si” yang berarti “Pujian bagiMu” sendiri merupakan penggalan dan terinspirasi dari Kidung Saudara Matahari oleh Santo Fransiskus dari Asisi.

Dalam dokumen berjumlah 190 halaman itu Paus Fransiskus menuliskan argumen teologi tentang pentingnya mengatasi perubahan iklim dan melindungi lingkungan. Ia menjelaskan kerusakan yang terus-terusan dilakukan oleh manusia terhadap lingkungan sebagai “satu tanda kecil dari krisis etika, budaya dan spiritual modernitas. Solusinya, menurutnya membutuhkan pengorbanan dan “revolusi budaya” di seluruh dunia.

  1. Dalam konteks sains, Paus menjelaskan “sebuah sensus sains solid” yang menunjukkan bahwa pemanasan global itu nyata, dan fenomena ini akan mengurangi ketersediaan air minum, merusak pertanian, menyebabkan kepunahan hewan dan tumbuhan, meningkatkan keasaman laut dan menaikkan permukaan air laut yang menyebabkan kebanjiran di kota-kota besar dunia. Perubahan iklim terjadi secara alami, tetapi penelitian menunjukkan bahwa pemanasan global “terutama” disebabkan oleh aktivitas manusia.
  2. Dalam konteks ekonomi, Paus mengatakan negara-negara kaya mempunyai “utang ekologis” terhadap negara-negara berkembang, yang sumber daya alamnya diambil untuk produksi dan konsumsi bahan bakar bagi negara-negara industri. Ia menyebutkan hubungan ekonomi ini adalah hubungan dengan “struktur yang sesat” dan menolak argumen bahwa pertumbuhan ekonomi saja bisa memecahkan masalah kelaparan dan kemiskinan global serta memperbaiki keadaan lingkungan. Menurutnya pola pikir seperti itu sebagai sebuah “konsep pasar yang ajaib.”
  3. Dalam konteks kebijakan pemerintah, Paus mengatakan bahwa peraturan pemerintah mutlak diperlukan untuk mengurangi pemanasan global dan “penting untuk merancang lembaga internasional yang lebih kuat, lebih efisien dan terorganisir” dengan memanfatkan kewenangan untuk memberikan sanksi bagi mereka yang melanggar peraturan. “Konsensus global penting untuk menghadapi masalah yang lebih kompleks, yang tidak dapat diselesaikan secara sepihak dari masing-masing negara,” kata Paus. Namun, ia mengatakan peraturan saja tidak akan memecahkan masalah. Sebaliknya, pandangan untuk merubah etika secara menyeluruh mutlak diperlukan untuk memprioritaskan perawatan alam dan manusia.
  4. Perihal manusia, selaras dengan inti ajaran sosial Gereja yang selalu menggaungkan preferential option for the poor and marginalized, Paus mengatakan setiap aktivitas yang berdampak pada lingkungan juga harus “memperhitungkan hak-hak dasar kaum miskin dan mereka yang kurang mampu”. Baginya, “konsumerisme yang tidak beretika” telah menyebabkan tingkat konsumsi yang menyebabkan memperparah kerusakan lingkungan. Dia mengajak setiap orang untuk membentuk jaringan sosial dengan tujuan menekan pemimpin politik untuk melakukan perubahan dan membantu mereka yang kehilangan tempat tinggal atau pekerjaan akibat perubahan iklim. Ia juga mendesak agar masyarakat mengubah gaya hidup mereka, termasuk “menggunakan transportasi umum, atau naik mobil bersama-sama, dan menanam pohon serta mematikan lampu-lampu yang tidak digunakan.
  5. Menyinggung iman, Paus Fransiskus menyebutkan inti ajaran Katolik adalah menekankan kepedulian terhadap makhluk ciptaan Tuhan dan kaum miskin. Ia mendesak manusia bertanggungjawab secara moral untuk merawat lingkungan seperti yang tertulis di kitab Kejadian 2:15 bahwa kita memiliki tugas untuk “menjaga” dan “merawat” Bumi. Paus berdoa untuk diskusi tentang iklim yang diselenggarakan oleh PBB dan menulis dua doa tentang pelestarian lingkungan, dan meminta Tuhan untuk memberikan, “kesembuhan dalam hidup kita, agar kita dapat terus melindungi dan merawat bumi dan menggerakkan hati orang-orang yang hanya mencari keuntungan dan mengorbankan orang-orang miskin dan dunia.”

My Two Cents: Parafrase Proses Tobat Ekologis

“Laudato Si” adalah ajakan pertobatan ekologis untuk berbuat sesuatu untuk ibu bumi. Saat berbicara tentang Healing Earth kita tidak lagi bicara tentang manusia saja, atau alam saja tetapi justru hubungan saling ketergantungan satu dengan yang lainnya.

Bumi memang rusak, tetapi kesadaran manusia juga bertransformasi sehingga memunculkan harapan-harapan. Kita berharap bahwa lewat pendidikan seutuhnya – tidak hanya sekolah formal – transformasi kesadaran itu terjadi dan harapan-harapan itu terbangun.

Ini pertobatan jenis baru. Semestinya sudah dari dulu. Tapi, telat lebih baik daripada tidak sama sekali.

Karena ini pertobatan, maka menyitir proses yang terjadi dalam sakramen pertobatan, kita patut melakukan kelima langkah ini dengan mulai dari masa sekarang, mulai dari diri sendiri, dan mulai dari sini (tempat berada saat ini).

Meng-aku-kan dimulai dari mengakui; dan sebaik-baiknya mengakui dimulai dengan menyebutkan seluruh dosa-dosa ekologis yang telah kuperbuat, baik itu dosa kecil maupun dosa besar. Dengan mengingat seluruh dosa yang kubuat, berarti Aku mengakui kesalahan dalam berbuat dosa dan siap memulai proses pertobatan yang panjang secara bertanggung jawab.

Maka, kita lakukan seluruh proses ini dengan menggunakan kata ganti “Aku”

Pertama, Menyebutkan seluruh dosa yang diperbuat.

Bersama dengan manusia lain di muka bumi ini, aku mengaku ikut berpartisipasi pada kesalahan ekologis yang menyebabkan …

  • Udara, air dan tanah tercemar (polusi)
  • Suhu lautan dan permukaan bumi meningkat, es di kutub mencair, air laut naik, pola alami musim dan curah hujan berubah, panen gagal dan kebakaran hutan sering terjadi akibat musim kering berkepanjangan (perubahan iklim atau pemanasan global)
  • Kualitas tanah dan kesehatan manusia menurun akibat pestisida yang terpaksa digunakan pada pertanian demi memastikan ketersediaan sumber makanan yang berbanding lurus dengan peningkatan penduduk (populasi)
  • Ikan-ikan mati, air tercemar, ekosistem sungai dan perairan lainnya hancur karena limbah plastik, makanan cepat saji, kemasan dan limbah elektronik yang dibuang sembarang (pembuangan limbah)
  • Perburuan membabi-buta, spesies punah, rusaknya terumbu karang (kepunahan keanekaragaman hayati)
  • Karbon yang lepas ke bumi semakin banyak akibat pembalakan liar dan mengubahnya menjadi kota, perkebunan atau industri (deforestasi atau penggundulan hutan)
  • Laut menjadi asam, kerang dan plankton punah, ikan kehilangan makanan (fenomena pengasaman laut)
  • Lapisan ozon menipis, hujan asam terjadi
  • Racun makanan meningkat, resiko penyakit manusia bertambah pula serta keseimbangan ekosistem terganggu (rekayasa genetika)

Kedua, Menyesali Setiap Dosa yang Diperbuat
Setelah Aku mengingat seluruh dosa yang telah kuperbuat, aku menyatakan menyesal.

Ketiga, Berjanji dan Bertekad untuk Tidak Berbuat Dosa
Aku berjanji tidak mengulangi dosa-dosa ekologis yang sama, dan tidak berbuat dosa ekologois untuk kedepannya. Aku bertekad untuk menghindari dosa dan kesalahan yang telah merusak lingkungan hidup bumi ini.

Keempat, Memohon Ampun pada Tuhan
Setelah Aku berjanji di hadapan Tuhan, maka dengan rendah hati Aku memohon ampun kepada Tuhan, agar seluruh dosa dihapuskan dan diberi kesempatan untuk menikmati berkat dan karunia Tuhan. 

Kelima, Melakukan Hukuman (Silih) dan Memulai Cara Hidup Baru
Aku bersedia dan menerima kualitas lingkungan hidup yang sudah menurun ini sebab aku terlibat di dalamnya, aku terima sebagai hukuman. Sesudahnya, Aku akan memulai cara hidup yang baru. Lakukan hal-hal yang disenangi oleh Tuhan serta hindari segala jenis dosa ekologis, mencintai bumi ini sebab bumi dan seluruh isinya kuyakini sebagai “bahasa kasih Allah”

 


Sumber:

  1. VoA Indonesia
  2. Ordo Fransiskan Sekular Indonesia
  3. Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma

Penulisan Skenario: Metode 8 Sequence (Act II)

Setelah memiliki rancangan Act I (sekuens 1 dan sekuens 2), sekarang kita lanjutkan ke Act II, yakni terlebih dahulu mengulas Sekuens 3 dan 4 dari metode 8 sequence.


ACT II

Sekuens 3

Pada sekuens ini, karakter kita bersiap-siap untuk melakukan “perjalanan” atau usaha setelah mereka tersadar atas suatu hal. Dalam bagian kali ini, karakter kita akan berusaha sekuat tenaga untuk bertindak – sesuai pilihan (decision) yang diambilnya setelah sempat mengalami keraguan (doubt) di Act I.

Fokus di sekuens 3 adalah ditemukannya Tantangan Pertama (first obstacle) dan  menguatkan kesadaran karakter utama atas masalah yang dihadapi (raising the stakes), dia tidak bisa lagi lari dari kenyataan yang terjadi.

Sekuens 4

Pada sekuens ini, masing-masing karakter telah hampir berhasil mendapatkan apa yang mereka inginkan. Para tokoh seolah-olah hampir berhasil, dan semuanya terlihat benar-benar bahagia. Namun, cerita juga mempersiapkan konflik untuk maju ke sekuens berikutnya ke arah klimaks.

Fokus di sekuens 4 adalah munculnya titik kulminasi pertama (first culmination/midpoint), yang umumnya paralel dengan Resolusi  atas konflik di akhir cerita. Sebagai contoh, jika cerita yang kita tulis berupa tragedi dan hero/sang karakter utama meninggal,  maka di sekuens 4 inilah kita menguraikan titik terendah yang dialami si karakter utama. Sebaliknya, jika hero kita menang di akhir cerita/film yang sedang kita tulis, maka kita sebaiknya mengakhiri sekuens 4 ini dengan menggambarkan “kemenangan kecil” sebelum kemenangan final di akhir cerita.

Penulisan Skenario: Metode 8 Sequence (Act I)

Setelah memiliki sebuah premis dan konsep skenario, maka kita akan masuk pada teknikalitas penulisan skenario. Metode yang paling sering dilakukan adalah 8 sequence (8 sekuens).

Apa itu 8 sequence?

8 sequence ini bukan satu-satunya metode dalam mengembangkan sebuah ide menjadi skenario, tapi oleh para penulis naskah film terkenal, dianggap efektif dan mudah diajarkan dan dipahami terutama oleh para penulis pemula.

Perlu diingat bahwa kerangka 8 Sekuens ini bukanlah formula mutlak atau resep sempurna untuk membuat sebuah bangunan cerita. Karena setiap naskah itu adalah sebuah prototipe: baru, unik, dan dibuat khusus sesuai isi cerita/kisah yang ingin ditulis. Akan tetapi pengalaman para penulis skenario kenamaan (termasuk para penulis skenario film Hollywood) yang menggunakannya mengakui bahwa formula ini adalah titik berangkat yang baik. Ernest Prakasa, seorang produser sekaligus screenwriter Indonesia mengaku bahwa dia menggunakan metode ini untuk menggarap film-filmnya.

Sebenarnya 8 sequence adalah pengembangan dari pola 3 Acts Structure (drama 3 babak) dari Yunani Kuno, yang berupa awalan/perkenalanperjalanan/konflik, dan hasilnya seperti apa (akhir cerita). Khusus pada bagian perjalanan/konflik durasinya biasanya setengah dari durasi keseluruhan cerita, sehingga kerap dibagi lagi menjadi 2 bagian. Maka, sekarang kita memperoleh Babak 1, Babak 2A, Babak 2B dan Babak 3.

Lebih lanjut, metode 8 sequence adalah pemecahan dari keempat babak ini, dimana masing-masing babak dibagi menjadi 2 sekuens. Maka, pembagiannya:

  • Babak 1 menjadi Sekuens 1 dan Sekuens 2.
  • Babak 2A menjadi Sekuens 3 dan Sekuens 4.
  • Babak 2B menjadi Sekuens 5 dan Sekuens 6.
  • Babak 3 menjadi Sekuens 7 dan Sekuens 8.

Perjalanan kisah mulai dari sekuens 1 hingga sekuens 8 inilah yang kita kenal sebagai 8 sequence.

Penggunaan Metode 8 sequence

Tentu ini bukan satu-satunya cara. Kelima film box-office besutan Ernest Prakasa dibangun dengan metode ini. Sederhana tetapi sekaligus memberi banyak ruang untuk berkreasi dan mendramatisasi.

Sampai disini mungkin akan muncul pertanyaan: metodenya sama, apakah hasilnya akan sama? Tidak juga. Film-film mainstream di Hollywood umumnya menggunakan metode ini, tetapi kita bisa melihat dan merasakan sendiri bahwa hasilnya tidak sama. Ini bisa dianalogikan seperti tengkorak manusia. Walaupun bangunan dasar tengkorak kita – manusia Homo Sapiens ini – sama,  tetapi toh wajah dan penampilan kita berbeda-beda. Maka, walaupun menggunakan metode penggarapan ceritanya sama, tetapi alur film tetap berbeda.

Meski tidak dalam artian ketat secara matematis, metode 8 Sekuens ini bisa menjadi alarm bagi penulis skenario untuk membagi durasi setiap bagian cerita secara proporsional. Kasarnya, misalnya, jika cerita yang hendak dibangun berdurasi 1 jam (60 menit), maka setiap sekuens berkisar 7-8 menit. Jadi kalau misalnya sudah memasuki menit ke-20 ternyata sekuensnya masih di Act 1 (sekuens 1 dan sekuens 2), maka kita harus segera periksa: Mungkin kita sudah melenceng terlalu jauh dari ide cerita yang kita bangun.

 


BABAK 1

Sekuens 1: Status quo dan inciting incident

Pada bagian status quo ini terjadi perkenalan karakter. Apakah semua karakter harus diperkenalkan sekaligus di awal? Tidak ada aturan baku seperti itu. Yang sering terjadi ialah pengenalan dilakukan dengan dicicil bahkan bisa juga tersebar di sekuens berikutnya. Pada intinya, sekuens ini bertujuan supaya audiens (pembaca naskah atau penonton film) mengenal karakter. Tujuan lebih lanjut ialah: dengan mengenal, audiens sampai pada tahap empati terhadap apapun yang dialami si karakter.  Peribahasa “Tak kenal maka tak sayang” tepat menggambarkan tujuan ini.

Sekuens 1 ditutup dengan inciting incident (insiden pemicu).

Contoh insiden pemicu pada “Cek Toko Sebelah” (2016)  adalah  ketika Koh Afuk mulai sakit. Kalau dia tidak sakit, maka tidak ada urgensi baginya maupun anak-anaknya untuk mulai berfikir soal warisan. Ini juga menjadi pemicu buat Erwin untuk memikirkan ulang keputusan karirnya.

Pada “Susah Sinyal” (2017), insiden pemicu adalah ketika Oma (sang nenek) meninggal. Mental putrinya down, sehingga Ellen (karakter utama) harus putar otak untuk mengambil peran si nenek: kembali menjalin komunikasi yang selama ini hilang dengan putri semata wayangnya.

Pada “Black Panther” insiden pemicu adalah ketika museum dibobol, artefak Wakanda dicuri. Ini menjadi pemicu bagi warga Wakanda untuk melakukan sesuatu yang sangat berbeda: mereka meninggalkan zona nyaman mereka, membuka gerbang Wakanda sehingga bisa bertarung bersama dengan anggota tim lain Avengers.

(Silahkan kamu mencari contoh insiden pemicu ini di film lain yang sudah kamu tonton).

Singkatnya, Sekuens 1 ini membangun karakter utama, sekilas perjalanan hidupnya, serta status quo dan semesta kisahnya. Sekuens ini diakhiri dengan POINT OF ATTACK atau INCITING INCIDENT, meskipun bisa juga plot ini muncul pada menit-menit pertama film.

Sekuens 2: doubt (keraguan) dan decision (keputusan)

Ketika karakter dihadapkan dengan insiden pemicu ini, maka akan muncul keraguan: ia diharuskan untuk keluar dari kenyamanannya. Ia dihadapkan pada dua pilihan utama: tetap di zona sebelumnya dan tak melakukan apa-apa, atau memutuskan untuk melakukan sesuatu karena sudah jelas ada masalah di depan mata.

Pada “Black Panther” ini terlihat ketika para petinggi Wakanda setuju (decision) bahwa mereka harus melakukan sesuatu. Kalau tidak, maka ceritanya tidak berjalan.

Pada “Susah Sinyal”, Ellen mulai benar-benar berfikir untuk mencari quality time, waktu berdua dengan putrinya. Sampai ia membatalkan untuk bertemu dengan klien penting dan mendelegasikan proyek itu kepada rekan kerja sekantornya.

Pada “Cek Toko Sebelah”, Erwin menjadi ragu apakah ia harus meninggalkan pekerjaannya di yang sudah di level atas manajemen perusahaan setelah ia mendengar penuturan bosnya yang menyesal karena ketika hidupnya tidak sempat membahagiakan orangtuanya. Cerita si bos sangat mengena dengannya karena saat itu Koh Afuk – ayahnya – sedang sekarat, kemungkinan tidak akan berumur panjang lagi.

 

Template Screenplay di Microsoft Word

Masuklah dengan akun sch.id SMA Budi Mulia Pematangsiantar yang kamu gunakan saat ini untuk melihat dokumen Template untuk Menulis Skenario di Microsoft Word yang sudah Saya susun ini.

Klik gambar ini untuk mendapatkan template gratis yang dimaksud.

Suasana kelas yang direkayasa saat persiapan Pentas Seni SMA Budi Mulia Pematangsiantar “TERBANG BERSAMA BOEMI”

Lirik “Bisuk Ma ho amang” Cipt. Martogi Sitohang & Nelson Hutasoit

O amang, o inang borhat ma au tu na dao
Mangalului ngolu-ngolu, ngolu siapari i
Mangalului ngolu-ngolu, ngolu siapari i

Lehon poda mi tu au di na lao paborhatton au
Asa tukkot di na landit jala sulu di na golap
Asa tukkot di na landit jala sulu di na golap

Asa ijuk di para-para jala hotang di parlabian
Asa bisuk ma ho amang dung sahat di pangarantoan
Ingot ma hami on na paimahon baritam
Unang lea hami amang, di ujung ni ngolu on

I do hata ni damang i di nalao paborhaton au

Hape nuaaeng pe amang, mangaranapi rohakki
Soa da na hubaen dope na boi palasson rohami

Martangiang au tu Tuhan i sai ganjang ma umur mi
Paima ro au amang lao mangubati arsakmi
Malengleng ate-atekki marningot holong mi tu au

 

Lirik “A Million Dreams” – The Greatest Showman”

[Ziv Zaifman]
I close my eyes and I can see
The world that’s waiting up for me
That I call my own
Through the dark, through the door
Through where no one’s been before
But it feels like home

They can say, they can say it all sounds crazy
They can say, they can say I have lost my mind
I don’t care, I don’t care, so call me crazy
We can live in a world that we design

‘Coz every night I lie in bed
The brightest colors fill my head
A million dreams are keeping me awake
I think of what the world could be
A vision of the one I see
A million dreams is all it’s gonna take
A million dreams for the world we are gonna make

There’s a house we can build
Every room inside is filled
With things from far away
The special things I compile
Each one there to make you smile
On a rainy day

They can say, they can say it all sounds crazy
They can say, they can say we have lost our minds
I don’t care, I don’t care if they call us crazy
Runaway to a world that we design

[Hugh Jackman]
Every night I lie in bed
The brightest colors fill my head
A million dreams are keeping me awake
I think of what the world could be
A vision of the one I see
A million dreams is all it’s gonna take
A million dreams for the world we are gonna make

[Michelle Williams, with Hugh Jackman]
However big, however small
Let me be part of it all
Share your dreams with me
You may be right, you may be wrong
But say that you are bring me along
To the world you see
To the world I close my eyes to see
I close my eyes to see

[Hugh Jackman, Michelle Williams, together]
Every night I lie in bed
The brightest colors fill my head
A million dreams are keeping me awake
A million dreams, a million dreams
I think of what the world could be
A vision of the one I see
A million dreams is all it’s gonna take
A million dreams for the world we are gonna make

For the world we are gonna make