Kamu Anak SMA dan Suka Menulis? Ini Profesi Kepenulisan yang Menjanjikan

“Pak, Saya senang membaca novel di Wattpad. Terus, jadi senang menulis juga”, begitu isi chat Ester, seorang siswa, beberapa waktu yang lalu.

Toni, siswa yang lain berkata, “Pak, aku baru baru buat blogspot. Karena nggak tau mau nulis apa disana, jadi sebagian yang aku ingat dari penjelasan Bapak dari materi pelajaran kita, ya aku bikin disitu deh.”

Satunya lagi, Rentika, mau mengomentari artikel yang kurilis di blog ini. “Tapi, malu Pak. Nanti dibaca teman-teman yang lain,” katanya di Whatsapp.


Ketiga testimoni ini (nama disamarkan dan isi percakapan aku sunting) entah mengapa membuatku merasa sedikit senang. Ternyata siswa-siswa di tempatku mengajar banyak juga yang suka menulis. Kupikir juga berlaku untuk siswa-siswa SMA lainnya. Ternyata mereka tak melulu menghabiskan waktunya dengan bermain game atau berjualan di Instagram (yang keduanya juga menjanjikan jika diseriusi). Padahal, aku sendiri juga menulis seadanya. Belum sepenuhnya displin untuk mengisi konten entah harian maupun mingguan.

Satu hal: ternyata menulis dan membaca masih diminati. Jadi, tak sepenuhnya benar kalau remaja zaman sekarang hanya sibuk menonton Youtube atau bermain Tiktok (yang juga menjanjikan jika diseriusi). Okelah, mereka tidak lagi membaca buku, koran, majalah atau produk cetak lainnya. Karena sudah begitu zamannya. Semua beralih ke platform digital.

Sejenak aku berfikir, dalam 5 atau 10 tahun ke depan, jika mereka masih rajin menulis, bisa jadi mereka akan menjadikannya passion dan karier yang patut diseriusi. Entah mereka mengambil kuliah jurnalistik atau bukan, tentu saja mereka harus membuktikan kepada orangtua dan siapapun yang mendukung mereka secara finansial dan moral, bahwa ada yang bisa diharapkan dari kegiatan menulis yang mereka lakukan.

Sementara itu, profesi kepenulisan sendiri sudah begitu luas. Mulai dari penulis novel, cerpen, blogger, naskah drama/film, copywriter hingga content writer. Belum lagi niche yang masih belum banyak dikenal, seperti penulis lirik Hip-hop untuk dinyanyikan orang lain. Atau menulis dalam bidang apa saja tapi setuju memberikan kredit hak cipta kepada orang lain dan menerima upah sebagai ganjarannya (ghostwriter).

Ada kegelisahan yang muncul. Bagaimana jika ternyata mereka sendiri akhirnya frustrasi karena tidak kunjung menemukan titik cerah dari periode kepenulisan yang panjang. Bagaimanapun, entah menulis atau profesi lain, tentu ada ada hasil yang diharapkan. Dan, tentu saja, tidak sekedar kepuasan batin atau pengakuan. Harus ada suatu hasil riil yang bisa dilihat dan ditunjukkan ke orang lain. Uang, misalnya.

Tips apa yang bisa kuberikan? Sementara aku sendiri hanya seorang tenaga pendidik yang menjadikan menulis sebagai hobbi. Belum lagi kalau berbicara AdSense dari kepenulisan, aku bukan orang yang pantas untuk membicarakannya.

Lalu, aku coba ingat-ingat lagi curhat dari teman-teman penulis perihal perjuangan mereka hingga bisa sukses.

Seorang pegiat blogspot mengatakan, sudah saatnya meninggalkan blogspot karena tampilan sederhana, kustomisasi terbatas dan dianggap kurang profesional alias amatiran. Belum lagi alasan yang lain, terutama soal menjadikannya lahan untuk mendapatkan uang. Mau membuat blog dengan domain dan hosting berbayar, banyak pertimbangan.

Seorang penulis novel menceritakan kegelisahannya di sebuah hampir. Seolah hampir menangis dan tidak merekomendasikan kepada para kami pemula untuk mengikuti langkahnya. Dia berkisah tentang bagaimana ia meluangkan banyak waktu dan mengorbankan banyak hal untuk menyelesaikan novelnya. Sayangnya, begitu novelnya selesai, ia kesulitan menemukan penerbit untuk menerbitkan karyanya. Begitu ketemu, ternyata dia harus urun uang untuk itu, sementara royalti yang didapatkan ternyata tidak semanis yang diberitakan di internet. Bahkan ia juga diminta untuk ikut berjualan sendiri.

Sebuah forum diskusi para penulis puisi bahkan saban hari diisi dengan curhat sedih para anggotanya. Seandainya kepuasan batin dan pengakuan akan karya tak cukup lagi membuat mereka bertahan, mereka pasti akan segera meninggalkan profesi menulisnya. Sebab tak tahan melihat karya mereka dipajang di rak belakang toko buku. Jauh di belakang. Sementara di bagian depan, stationary dan kaset DVD yang dipromosikan oleh pramuniaga. Padahal, untuk menjadikan antologi puisi mereka sampai terbit sebagai buku, tidak sedikit rupiah yang harus mereka keluarkan. Such a prize for a recognition. Mereka ini memang angkatan militan, dan kebanyakan sudah cukup dengan apa yang mereka punya. Tak sedikit pula yang memang sudah uzur.

Untuk anak SMA dengan perjalanan yang masih panjang, tentu saja ada lesson learned yang bisa diterapkan dari kisah-kisah para senior mereka ini. Sebab, bagaimanapun, selain mereka tengah berada dalam fase pencarian jati diri, mereka juga membutuhkan pembuktian diri. Jadi, ketika mereka akhirnya bekerja sebagai penulis, entah di perusahaan atau independen, mereka punya sesuatu untuk diceritakan di acara kumpul keluarga atau reuni alumni sekolah.

Maka, setelah baca sana-sini, aku menarik sebuah poin penting. Seiring dengan dunia kepenulisan yang terkena imbas dari ditinggalkannya dunia cetak, hampir semua profesi menulis kini beralih ke platform digital. Maka, profesi menulis pun akan terfilter juga. Mereka yang mengandalkan jasa kepenulisan dari penerbit dan pencetak harus segera pivot ke alternatif lain, yakni: vlogger, copywriter dan technical writer.

(Ada yang lebih menjanjikan sebenarnya, yakni screenwriter atau penulis naskah film. Tetapi untuk yang satu ini, selain berjibaku dengan banyak kesulitan teknis, modal paling penting adalah koneksi dengan para pelaku industri film, terutama produser, perusahaan pembuat film dan para aktor. Jadi, untuk pemula seperti anak SMA yang gemar menulis ini, belum pas direkomendasikan).

Dari antara ketiga profesi menulis itu, aku tertarik dengan technical writer. Sebab, kubaca bahkan sang raksasa Google sendiri memberi tempat istimewa buat mereka.

Apa itu Technical Writer?

Semakin kesini, semakin sering pula perusahaan mendaftarkan lowongan pekerjaan sebagai technical writer. Kamu pun tidak susah menemukannya di daftar lowongan pekerjaan di situs-situs penyedia kerja semacam LinkedIn, Upworks, bahkan yang bersifat sambilan semacam Freelancer atau Sribulancer. Meskipun di nomenklatur bahasa Indonesia, belum lazim. Buktinya, sampai hari ini kita belum menemukan padanannya di KBBI. Kalau tidak percaya, cek saja.

Jadi, untuk sementara kita pertahankan dulu istilah asing ini.

Apa itu technical writer?

Tak seperti penulis pada umumnya, technical writer punya bidang kerja yang spesifik. Technical writer bertugas mengubah bahan tulisan yang kompleks dan penuh perkara teknis menjadi lebih jelas dan ringkas untuk menyasar audiens tertentu. Umumnya mereka membuat bentuk dokumentasi  untuk mengomunikasikan informasi yang teknis dan kompleks dalam cara yang user-friendly, alias nyambung dengan pengguna.

Konon, Albert Einstein pernah berkata: “If you can’t explain it simply, you don’t understand it well enough“. Jika kamu tidak bisa menjelaskan sesuatu dengan sederhana, berarti kamu tidak benar-benar mengerti apa yang hendak kamu jelaskan. Ini tentu tidak mudah. Karena tidak mudah, tidak banyak yang melakukannya. Itu sebabnya posisi technical writer banyak dicari oleh perusahaan.

Jadi, misalnya, jika sebuah perusahaan manufaktur smartphone mengeluarkan produk terbaru, maka tugas para technical writer-lah untuk membuat panduan penggunaan untuk disisipkan di bungkos kotaknya. Selain itu, informasi yang mereka tulislah yang juga digunakan oleh para reviewer atau media yang kemudian didaulat untuk mengiklankan produk yang bersangkutan. Maka, tak heran, posisi technical writer sangat strategis. Mereka menjembatani perusahaan dan konsumen dalam hal pemahaman akan produk. Jika sebuah produk baru cepat dikenal oleh pasar, maka ada peranan technical writer yang cukup besar disana.

Apa tanggungjawabnya?

Untuk menjadi technical writer profesional, kamu harus terlebih dahulu mengetahui audiens atau kepada siapa tulisanmu ditujukan. Audiens bisa saja klien, pelanggan, ataupun pihak teknisi. Memahami audiens berarti memahami juga ekspektasi dan level pengetahuan dari pembaca.

Selain itu, membuat tulisan teknis berarti mengetahui tujuan dan konteks dari dokumen yang ia buat, sehingga dokumen yang dibuat dapat tepat sasaran dengan jelas sesuai dengan tujuan dibuatnya.

Maka, seorang technical writer memiliki tanggung-jawab berikut.

Pertama, menentukan kebutuhan pengguna yang akan menerima dokumentasi teknis.

Kedua, mempelajari contoh produk dan berbicara lebih lanjut dengan pencipta dan pengembangnya.

Ketiga, bekerja bersama staf teknis untuk membuat produk lebih mudah digunakan dengan instruksi yang singkat namun mudah dimengerti.

Keempat, mengorganisasi dan menuliskan dokumen pendukung untuk produk

Kelima, menggunakan foto, gambar, diagram, dan animasi yang menaikan pemahaman pengguna

Keenam, menentukan medium yang tepat untuk menyampaikan pesan kepada audiens, seperti tulisan manual atau video

Ketujuh, melakukan standarisasi konten di seluruh platform dan media

Kedelapan, mengumpulkan feedback dari konsumen, desainer, dan pabrik.

Kesembilan, merevisi dokumen ketika ada pembaruan terkait produk

Kesepuluh, mengerjakan apapun yang ada di langkah pertama hingga kesembilan. Sebab, sama seperti penulis lain, tanggung jawab seorang penulis tidak hanya memikirkan gagasan, tetapi menuangkannya dalam bentuk tulisan.

Jadi, seorang technical writer membuat intstruksi, panduan penggunaan barang, dan “frequently asked questions” atau pertanyaan yang sering diajukan. Hal ini dilakukan untuk membantu staf teknis, konsumen, dan pengguna lainnya yang ada di perusahaan maupun industri.

Setelah produk dirilis, kamu juga mungkin bekerja dengan spesialis pemeriksa kelayakan produk dan manajer customer service untuk mengembangkan pengalaman pengguna atau konsumen melalui perubahan desain produk.

Keterampilan yang Perlu Dimiliki?

Pertama, seorang technical writer diharuskan untuk dapat bekerja secara individu maupun tim. Jadi, ketika kamu mulai menulis, selain kamu harus bisa menulis sendiri, kamu juga harus membiasakan diri untuk merampungkan sebuah tulisan dengan teman penulis lainnya. Biasanya yang kedua ini lebih sulit karena menggabungkan isi beberapa kepala sekaligus.

Selain itu, kamu juga harus terampil menulis tentunya. Seperti content writer atau penulis lain pada umumnya, yang pertama dan paling penting adalah tentu saja keterampilan untuk menulis. Seorang penulis teknis harus dapat membuat tulisan yang tersusun dengan baik, menggunakan bahasa yang baik dan benar, dan yang paling penting mudah untuk dimengerti.

Sebagai technical writer, penting untuk memilih penggunaan bahasa yang tepat untuk menyampaikan hal yang rumit dengan kalimat sederhana. Untuk dapat menulis dengan baik, penting untuk berlatih dan memperkaya kosa kata. Sekali lagi ingat, serumit atau sereceh apapun tulisan yang dihasilkan, fokus utamanya ialah pasar atau konsumen. Umpan balik dari mereka akan membuktikannya.

Untuk itu, tentu kamu tidak bisa mengarang bebas. Membuat tulisan teknis berisikan instruksi, kamu harus benar-benar yakin bahwa kamu memahami apa yang akan kamu tuliskan. Ini berarti, kamu harus melakukan riset terkait produk ataupun jasa tersebut dengan benar. Apalagi, jika kamu menuliskan sebuah dokumentasi untuk produk yang diproduksi sebuah perusahaan yang belum kamu kenal betul.

Terakhir, data hasil riset itu tentu saja tidak akan teratur jika kamu tidak mengetahui bagaimana cara menyusunnya. Untuk itu, kamu harus mampu berpikir kritis. Bagaimana menyampaikan instruksi yang sebenarnya rumit dengan bahasa sederhana tanpa kehilangan detail.


Oh iya. Tadi aku sebutkan soal peranan para technical writer di Google. Aku belum pernah kesana. Belum juga kenal salah seorang pun dari mereka. Maka, biarlah mereka sendiri yang berbicara. Simak di video mereka ini.

Keseringan “Caper”, Kamu jadi Tidak Kreatif

Senang Rasanya Diperhatikan

Terima kasih atas perhatianmu. Tidak ada yang menandingi bagaimana rasanya berada ada di sebuah ruangan dengan semua audiens memerhatikanku. Diperhatikan oleh banyak orang, ini sesuatu banget. Sebagai seorang aktor,  aku mengalami dan memahaminya.

Aku tahu rasanya diperhatikan. Aku beruntung mendapat perhatian lebih dari yang seharusnya. Tapi ada perasaan kuat lainnya yang untungnya sering kualami sebagai seorang aktor. Lucunya, ini bertolak belakang karena datangnya bukan dari mendapat perhatian. Tapi dari memberi perhatian. Kok bisa? Begini ceritanya.

Ketika  berakting, aku begitu fokus. Aku  hanya memerhatikan satu hal. Ketika berada di lokasi dan akan mulai syuting dan asisten sutradara bilang, “Rolling!” Lalu aku mendengar “speed“, “marker“, “set“, kemudian sutradara berseru, “Action!” Aku telah mendengarnya berkali-kali. Seperti mantra sihir Pavlovian. “Rolling,” “speed,” “marker,” “set,” dan “action”, (dan akhirnya sebuah karya film tercipta). Sesuatu terjadi padaku, sesuatu yang tak bisa kutahan. Perhatianku menyempit. Dan segalanya di dunia, yang mengganggu atau mencuri perhatianku, semuanya hilang. Hanya ada aku di situ. Aku cinta dengan rasa ini. Bagiku, inilah kreativitas, dan inilah alasan terbesar kenapa aku bersyukur menadi aktor.

Jadi, ada dua perasaan yang sangat kuat. Diperhatikan dan memerhatikan.

Jual Beli Perhatian di Era Media Sosial

Dalam beberapa dekade terakhir, perkembangan baru teknologi baru telah membuat lebih banyak orang merasa istimewa karena mendapat perhatian. Perhatian itu didapat sebagai imbalan atas berbagai ekspresi kreatif, tidak hanya akting. Bisa berupa tulisan, fotografi, menggambar, musik, atau sekedar mengikuti musik yang ada dan berlenggak-lenggok a.k.a menari gila di TikTok. Semuanya. Dari sini, kita belajar satu hal: Saluran distribusi sudah didemokratisasi, dan ini adalah hal yang baik.

Tapi aku merasa ada konsekuensi yang tidak diinginkan bagi siapa pun dengan dorongan kreatif, termasuk aku sendiri, karena aku tidak kebal darinya. Aku merasa kreativitas kita telah menjadi lebih ke usaha untuk mendapatkan sesuatu yang lain, yakni demi mendapatkan atensi atau perhatian. Kita mengemis perhatian.

Karena itulah, aku merasa terdorong untuk membahas ini. Dalam pengalamanku, ternyata semakin aku serius memberi (bukan menerima) perhatian, aku semakin bahagia. Tapi semakin aku larut dalam perasaan ingin diperhatikan, semakin aku tidak bahagia.

Dulu sekali, aku memanfaatkan karir aktingku untuk mendapat perhatian. Saat itu aku berusia delapan tahun. Ada perkemahan musim panas. Aku sudah mengikuti audisi sekitar satu tahun, dan aku beruntung mendapatkan beberapa peran kecil di acara TV dan iklan, jadi aku sering pamer tentang hal itu di perkemahan. Pertama-tama, berhasil. Anak-anak lain memberikan aku perhatian lebih, karena aku pernah tampil di “Family Ties.” Ini fotonya.

Lalu, situasinya berbalik. Aku rasa aku pamer berlebihan. Benar. Mereka mulai mempermainkanku. Aku ingat ada anak perempuan yang aku suka, Rocky. Namanya Rachel, tapi dia dipanggil Rocky. Dia cantik dan bisa bernyanyi. Aku tertarik padanya, dan aku berdiri di sana, membual. Dia berbalik dan memanggil aku tukang pamer. Yang 100% pantas akudapatkan. Tapi rasanya tetap menyakitkan. Dan, sejak musim panas itu, aku merasa ragu untuk mencari perhatian lewat akting.

Kadang, ada yang bertanya, “Jika kau tak suka perhatian, kenapa jadi aktor?” “Karena akting bukan tentang itu, tapi tentang seni.” Mereka pun menjawab, “OK, OK, kawan.” Aku tahu mereka tidak benar-benar memahami apa yang kukatakan.

Lalu Twitter muncul.

Akupun ketagihan seperti yang lainnya, yang membuat aku jadi seorang munafik. Karena saat itu, aku sepenuhnya memakai akting untuk mendapat perhatian. Apakah aku mendapatkan banyak follower (pengikut) karena cuitanku yang cemerlang? Jujur, aku sempat merasa begitu. Mereka suka bukan hanya aku ada di ‘Batman’, mereka suka yang aku katakan, aku mahir berkata-kata. Benarkah begitu?

Tak lama, hal ini mulai memengaruhi proses kreativitasku. Sampai sekarang masih. Aku usahakan tidak. Tapi yang terjadi, saat aku duduk membaca naskah, alih-alih berpikir, “bagaimana aku mengidentifikasi karakter ini”?, atau “bbagaimana penonton bisa merasa terhubung dengan ceritanya”?, aku malah berpikir, “apa kata orang tentang film ini di Twitter? Jawaban apa yang bagus dan sarkastik supaya dapat banyak retweet, tapi tak kelewatan?” Orang lebih suka dicerca daripada diacuhkan.  Ini adalah hal-hal yang aku pikirkan ketika ketika aku seharusnya mendalami naskah, sesuatu yang semestinya dikerjakan oleh seorang aktor. Well, itulah yang terjadi.

Aku tidak mengatakan bahwa teknologi adalah musuh kreativitas. Bukan begitu. Teknologi hanyalah alat. Ia punya potensi mengembangkan kreativitas manusia yang tak ada sebelumnya. Aku bahkan memulai sebuah komunitas online bernama Hit Record. Disitu orang-orang dari seluruh dunia berkolaborasi dalam proyek kreatif. Jadi, media sosial, ponsel atau teknologi apa pun bermasalah.

Itupun, kalau kita mau sekali lagi membahas bahaya kreativitas yang menjadi alat mengemis perhatian, tentu kita harus bicara tentang pola bisnis perusahaan media sosial yang digerakkan oleh perhatian (atensi).

Para Pengemis Perhatian di Instagram

Ini mungkin familiar bagi sebagian orang, tapi pertanyaannya relevan, “Bagaimana platform media sosial seperti Instagram menghasilkan uang? Mereka bukan penyedia bisnis berbagi foto. Layanan itu gratis. Lalu apa? Mereka menjual atensi. Mereka menjual atensi para (user) pengguna ke pemasang iklan. Ada banyak perbincangan sekarang tentang seberapa besar atensi yang diberikan ke media sosial semacam Instagram, tapi pertanyaannya: “Bagaimana Instagram mendapatkan begitu banyak atensi? Kita yang mendapatkannya untuk mereka. Iya, Instagram memakai atau “memperkerjakan” kita untuk itu.

Ketika seseorang mengunggah di Instagram, mereka mendapat sejumlah atensi dari pengikutnya, entah mereka hanya punya sedikit atau jutaan pengikut. Semakin banyak atensi yang didapat, makin besar atensi yang Instagram jual. Jadi Instagram berkepentingan agar kamu mendapat atensi sebesar mungkin. Mereka melatihmu supaya menginginkan atensi itu, mendambakannya, dan merasa frustasi saat tak cukup mendapatkannya. Instagram membuat para penggunanya ketagihan atensi. Kita semua bergurau, “Ya Tuhan, aku kecanduan ponsel,” tapi ini adalah kecanduan yang nyata.

Mengemis Perhatian Semata akan Membuatmu Tidak Kreatif

Kecanduan mendapat atensi sama saja dengan kecanduan hal lain. Rasanya tak pernah cukup. Kamu memulai dan berpikir, “Jika saja aku punya 1.000 pengikut, pasti rasanya luar biasa.” Tapi kemudian kamu akan berpikir, “Begitu aku dapat 10.000 pengikut,” “Begitu aku dapat 100 — Begitu aku dapat sejuta pengikut, baru rasanya luar biasa.” Aku punya 4,2 juta pengikut di Twitter — tak pernah aku merasa luar biasa.

Aku tak akan beri tahu jumlah followerku di Instagram karena aku malu akan betapa rendah angkanya, karena aku bergabung di Instagram setelah “Batman” dirilis. Aku melirik akun aktor lain. Angka mereka lebih tinggi dariku, dan ini membuatku merasa rendah.

Jumlah pengikut membuat siapa saja merasa buruk akan dirinya sendiri. Perasaan kekurangan itu yang memicumu untuk mengunggah dan mengunggah lagi agar bisa mendapat lebih banyak atensi, dan itu yang mereka jual, itu cara mereka menghasilkan uang. Jadi, tidak ada jumlah atensi yang kamu dapat, di mana kamu akan merasa sudah berhasil, lalu berkata “ini sudah cukup”. Tentu saja, ada banyak aktor yang lebih terkenal daripada saya, punya pengikut lebih banyak, tapi mereka akan mengatakan hal yang sama. Jika kreativitasmu dipicu oleh hasrat untuk mendapatkan atensi, maka kau tak akan pernah merasa terpenuhi secara kreatif.

Tapi aku punya kabar baik untukmu.

Ada perasaan kuat lainnya, yang masih berkaitan dengan atensimu selain membiarkannya dikendalikan dan dijual oleh perusahaan atau pemilik modal Media Sosial yang kamu gandrungi itu. Inilah perasaan yang aku bicarakan tadi, kenapa aku mencintai akting: karena akubisa fokus pada satu hal. Ternyata, ada ilmu juga di baliknya. Psikolog dan ahli saraf — mempelajari fenomena yang mereka sebut “flow“, yaitu sesuatu yang terjadi dalam otak manusia ketika seseorang hanya berfokus pada satu hal, seperti sesuatu yang kreatif, dan tidak terganggu oleh hal lain. Ada yang bilang, semakin sering kamu melakukannya, kamu akan semakin bahagia. Ini tak selalu mudah, bahkan sulit. Memerhatikan seperti ini butuh latihan. Masing-masing orang punya cara sendiri.

Satu hal yang bisa aku bagikan, yang membantuku untuk fokus dan benar-benar memerhatikan adalah ini: Aku berusaha tidak melihat pelaku kreatif lainnya sebagai saingan. Aku mencoba mencari kolaborator. Misalnya aku berakting di sebuah adegan, jika aku melihat aktor lain sebagai saingan dan berpikir, “Mereka akan lebih diperhatikan daripada saya, orang-orang akan membicarakan performa mereka daripada saya” – Aku sudah kehilangan fokus. Dan aku mungkin akan payah di adegan itu. Tapi ketika aku melihat aktor lain sebagai kolaborator, maka akan jadi mudah untuk fokus, karena aku hanya memerhatikan mereka. Aku tak berpikir apa yang aku lakukan. Hanya bereaksi ke mereka, mereka bereaksi ke aku, dan dengan demikian kami menjadi sebuah tim.

Jangan berpikir hanya aktor yang bisa bekerja sama seperti ini. Ini terjadi pada berbagai situasi kreatif. Baik profesional, atau sekedar senang-senang, seperti yang dilakukan oleh pengguna TikTok misalnya. Kita bisa membuat kraya bersama orang-orang yang belum pernah kita temui. Bagiku, inilah keindahan internet. Jika kita bisa berhenti bersaing demi atensi, maka internet akan jadi tempat yang hebat untuk mencari kolaborator. Dan ketika aku berkolaborasi dengan orang lain, baik di lokasi syuting, online, di mana pun, akan jadi lebih mudah bagi aku untuk mencari ‘flow’ itu, karena kita semua hanya memerhatikan satu hal yang kita ciptakan bersama. Kita, aku dan kamu, merasa sebagai bagian dari sesuatu yang lebih besar, dan kita saling melindungi satu sama lain dari hal-hal yang bisa mencuri perhatian kami.

Tentu, tak selalu berhasil. Kadang, aku masih kecanduan hasrat mendapatkan atensi. Tetap ada bagian yang seperti itu. Tapi jujur, aku juga bisa bilang keseluruhan proses kreatif menulis dan membawakan topik ini telah menjadi kesempatan besar bagiku untuk fokus dan memberi atensi pada sesuatu yang sangat berarti bagi saya. Jadi, terlepas dari seberapa besar atensi yang kudapatkan sebagai hasilnya, aku bahagia sudah melakukannya. Aku berterima kasih pada kamu yang sudah memberikan kesempatan. Jadi, terima kasih. Itu saja.

Sekarang, giliranmu memberi perhatian pada orang lain.

Terima kasih.


Tulisan ini adalah interpretasi pribadi Saya terhadap sesi bicara Joseph Gordonn Levitt di TedTalk.