DONALD HAROMUNTHE

For Those Whom I Can't Talk With

Insta-Famous

Insta-Famous

Apa itu Insta-Famous?

Insta-famous atau Selebgram bukanlah aktor, aktris, musikus(i), atau anak dari tokoh partai politik atau penguasa di pemerintahan. Mereka adalah remaja pengguna Instagram yang menangkap peluang untuk menjadi “famous” (terkenal), punya tempat tersendiri (fame) di hati para follower-nya.

Selain dari akun-akun Instagram yang nyerempet-nyerempet ke pertunjukan keindahan atau kejelekan tubuh dan aksi visual ekstrem (yang entah mengapa masih menjadi pemeringkat atas di antara akun-akun yang ada), akun-akun Insta-famous ini menyadari bahwa selain TV, Radio atau Suratkabar, media sosial terutama Instagram telah menyediakan panggung baru bagi mereka. Panggung yang selama ini hanya bisa dimiliki oleh para artis atau selebritis papan atas yang didapatkan dengan susah payah dan dedikasi bertahun-tahun.

Bahkan jebolan kontes seperti Indonesian Idol, Akademi Fantasi Indonesia, atau comic lulusan Stand Up Comedy saja belum tentu sampai di panggung serupa dan memperoleh fans loyal. Ratusan alumni dari tiga kontes TV terbesar tadi, coba saja cek sendiri, berapa persen yang hari ini masih mendapat tawaran untuk nongol di layar TV.

Tanyalah @dijjah_yelloww yang entah mendapat ilham dari mana, foto dan video singkatnya telah berhasil menjadikannya salah satu akun “dari tak dikenal menjadi tenar” di hati 182 ribu lebih pengguna Instagram Indonesia. Lebih dari separuh jumlah follower di akun Ahmad Dhani, bos Republic Cinta Management yang dulu musiknya mengisi masa-masa SMP dan SMA saya, tetapi kini harus berjuang menanggung konsekuensi dari lirik lagunya ” … Atas nama cinta saja, jangan bawa nama Tuhan …“. Akun dari sebuah band musik indie  barangkali memerlukan kampanye konsisten bertahun-tahun untuk mendapatkan jumlah follower serupa.

Camera dan Aplikasi Instagram – Dua Sejoli Tak Terpisahkan

Lantas apa yang didapat dari banyaknya jumlah follower itu? Jika Anda orang advertising (periklanan) atau setidaknya memahami prinsip dasar marketing, Anda akan segera tau bahwa jumlah follower itu berbanding lurus dengan kesempatan untuk mendapatkan tawaran iklan, endorsement, jual-beli akun, kampanye politik, brand campaign,  dan sejenisnya. Pundi-pundi uang pun mengalir sederas jumlah pesanan ke akun mereka.

Penting dicatat, kesempatan loh ya. Sebab kesempatan dan hoki (luck atau keberuntungan) adalah resep dasar dari kesuksesan menurut ukuran yang berlaku umum. Praktisnya, jika Anda punya teman yang mempunyai puluhan ribu pengikut di media sosial, dengan segmentasi yang baik, meminjam akun tersebut untuk memasarkan produk terbaru usaha Anda jauh lebih efektif dan hemat dibandingkan mencetak selebaran yang hanya akan dibuang di jalan raya begitu orang melihatnya sekejap, menimbulkan sampah di sepanjang jalan pula.

Insta-famous = Instant fame?

Smartphone, Creativity, Leisure Time, Extreme Selfie Mood adalah paduan sempurna bahan mentah bagi para wannabe-insta-famous ini.  Sempurna karena para penggila Instagram ini memiliki atau bisa mengusahakan keempatnya. Dengan bermodalkan kocek 700 ribu mereka sudah bisa membawa pulang sebuah Evercross baru yang sudah berteknologi android. Dengan beragam trik dan tips yang bisa mereka browsing dari Google dan Youtube, mereka bisa belajar menjepret foto atau merekam video berdurasi singkat yang bakal menarik mata orang. Dengan kesibukan mereka yang tergolong lebih ringan dibanding angkatan pekerja (umumnya mereka adalah para pelajar sekolah lanjutan atau sedang kuliah). Soal mood untuk ber-selfie-ria, rasanya tak perlu ditanya lagi. Bahkan saat berbuka puasa pun, durasi waktu untuk berswafoto lebih besar ketimbang silaturahmi yang umum dimengerti orang

Orangtua atau kaum dewasa yang masuk Generasi X (baby boomer) dan Y (millenial) awal barangkali adalah kaum yang paling jengkel dengan begitu banyaknya adegan selfie dan sesi fotografi tanpa henti yang dilakukan oleh kaum muda sekarang dengan konsistensi tanpa henti. Remaja usia belasan dan dua puluhan tahun yang lebih khawatir kalau foto terakhir acara makan bersama mereka tidak diposting di Instagram ketimbang tugas sekolah atau kuliah yang tidak sempat mereka kerjakan.

Jika demikian, benarkah nasihat lama “Instant Result isn’t the same as you play in ‘normal’ way” tidak berlaku lagi? Apakah “hasil tidak pernah menghianati proses” tidak relevan lagi? Singkatnya, apakah Insta-famous (selebgram) sama dengan Instant-famous (mendadak terkenal, tetapi cepat pula dilupakan)?

Tidak.

Insta-famous pada hemat Saya ada dua jenis.

Pertama, Insta-famous sejati. Mereka adalah pengguna Instagram yang justru melewati proses, meski tanpa dahi berkerut dan argumentasi panjang dan tumpukan kertas kerja di tong sampah. Ingat.

Mereka bukanlah aktor dan selebritis yang saban hari wajahnya nongol di layar televisi. Tanpa promosi yang konsisten baik secara online maupun dengan WoM (word of mouth), semenarik apapun postingan mereka tidak akan dilirik atau dikenal orang jika mereka tidak bergerak mencari follower. Mereka juga bukan anak konglomerat atau penguasa yang dengan uang dan pengaruh yang mereka miliki bisa saja “membeli” sejumah follower.

Mereka berlatih menjepret wajah yang fotogenik. Mereka mencoba berbagai sensasi gaya dalam berpose (sampai ada yang bela-belain berfoto di tepi jurang atau di depan mulut buaya yang menganga menunggu mangsa, oh mai goat). Tidak sedikit yang melatih kepekaan mata mereka terhadap estetika dari visualitas benda-benda di sekitar mereka, entah asli entah dengan editan, melalui proses yang juga tidak semudah dan secepat membalikkan telapak tangan.

Mereka juga ramah dan tidak pelit untuk singgah di akun sesama mereka.  Mereka belajar caranya memilih angle foto dan lighting yang benar. (Yang terakhir ini saya baru tahu sedikit-sedikit setelah ngopi bareng dengan @adi.belek, @elleanor,dan @thebridestory).

Pengguna akun dengan konsistensi seperti ini memang layak mendapatkan puluhan ribu follower setia, fans yang loyal. Mereka menjelma menjadi leader-leader baru. Lewat tulisan, foto dan video mereka menjadi influencer yang ampuh, penyampai nilai (value) dan opinionator yang suaranya (voice) pantas didengarkan.

Insta-famous “Parhuta-huta”

Ada lagi insta-famous jenis yang kedua. Saya menyebutnya Insta-famous “parhuta-huta” (kampungan). Golongan ini umumnya pemilik akun instagram yang memperoleh ribuan follower dalam sehari tetapi esoknya bisa di-unfollow oleh ribuan orang juga. Betapa tidak. Mereka ini menggunakan dan menghalalkan segala cara “hanya” demi meraup angka follower. Tentu saja dengan harapan mendapatkan kesempatan seperti di atas. Norak, kampungan, tidak punya etika dan etiket.

Akun-akun ini, selain menyerempet dengan visualitas seksualitas yang melampai norma yang berlaku umum, tidak segan pula mengedit tulisan, foto atau video dari figur publik dengan sengaja memelintir maksud asli dari tulisan, foto atau video tersebut. Tak jarang mereka mengadu domba para pengunjung Instagram yang iseng melihat apa yang baru. Selain gosip terhadap kaum celebrity, diskriminasi SARA (suku, agama, ras dan antargolongan) adalah favorit mereka. Mereka tahu benar bagaimana caranya menyulut kebencian tetapi tidak meredam amarah. Mereka sangat mengerti bagaimana caranya melebih-lebihkan kekurangan dari seorang figur publik, kadang bahkan teman dekat atau keluarga sendiri.

Memang tidak sedikit di antara mereka yang berhasil dari jerat kontrol sosial dari masyarakat pengguna media sosial Instagram yang meskipun tanpa rambu-rambu yang jelas tetapi toh tetap ada, “mengadili seseorang berdasarkan perilakunya”, akhirnya juga meraup rupiah dari sana.

Pengguna akun jenis ini sebenarnya tidak layak mendapatkan puluhan ribu follower. Tak heran, para follower mereka juga lama-kelamaan sadar bahwa mereka mencari display picture yang menarik, bukan disgusting picture yang membuat mereka muak.  Pada titik ini, perlahan tidak ada lagi yang mengikuti dan mengkonsumsi konten yang mereka suguhkan. Sebab sesungguhnya mereka bukanlah leader-leader, melainkan para oportunis rakus yang dengan licik mengeksploitasi para follower mereka secara pikologis. Mereka bukan influencer yang baik, mungkin masih opinionator yang didengarkan untuk sementara waktu, tetapi akan ditinggalkan orang, cepat atau lambat, karena hanya mengejar traffic, dan menimbulkan kebisingan (noise) saja.

Sick people post sick content on their Instagtam

Tak heran, tetapi tidak sedikit pula yang karena serakahnya, tetap nekat menggunakan cara kampungan (semacam black hat SEO untuk kalau di promosi website), mengunggah konten yang jelas-jelas bertentangan dengan hukum dan kesusilaan, akhirnya harus berhadapan dengan aparat penegak hukum. Mereka memang masih famous (terkenal), tetapi tidak dengan cara seperti yang mereka inginkan.

So, tidak perlu khawatir. Entah di Instagram atau media sosial lainnya, entah di dunia maya atau dunia nyata, stay calm saja: Hasil tidak pernah menghianati proses.


Oh iya. Bagi para pembaca yang juga wannabe-insta-famous seperti saya, tidak kalah pentingnya, tidak perlu malu untuk follow Instagram saya di @donaldharomunthe. Kalau mood saya lagi baik, yang sudah follow akan saya follow back. Hahaha.

Facebook Comments

Lirik “Boan Ma Salendang”

Molo martumba ho ito
di tonga ni alaman
boan ma salendang
asa dengan mangerbang erbang
Molo masihol ho ingot
ma au di parjalangan
asa di boto ho ito
holan tu ho do angan angan

Molo marsoban ho unang
buat tiang ni sopo
sega sega doi ito
muruk natua tua
Unang dirippu ho au na
lupa na mariboto
daong masa songoni ito
masihol do au tu ho

Unang sai marsak ho
diarsak di angan angan
unang sai tangis ho ito
ala ala pikiran
Ho do ale da hasian
holan ho do di pikiran
Pos ma roham ito pos maroham
huingot dope ho
Pos ma roham ito pos maroham
malungun do au tu ho

Facebook Comments

Sanctus – Missa Gratias Domine (Yoseph Sulaksana)

 

Facebook Comments

Gloria – Missa Gratias Domine (Yoseph Sulaksana)

Facebook Comments

Kyrie Eleison – Missa Gratias Domine (Yoseph Sulaksana)

 

                    Kyrie Eleison

Facebook Comments

Nusantara Mencari Ibu

“Nus, kok aku baca di timeline-nya temen2, nih pada ribut ngomongin soal Ibu? “, tanya Wongso.

“Ya iyalah. Yang mau dicari kan bukan sembarang Ibu, Wongso”, jawab Nusa sekenanya.

“Maksudnya?”, selidik Wongso.

“Dulu kita punya Ibu yang ramah bagi semua. Namanya Gaia. Tapi lalu anak-anaknya mau misah, mau cari Ibu-nya sendiri2. Ada yang milih London buat jadi Ibu. Ada lagi yang milih Moskwa, Washington, Sydney, Beijing, Seoul. Nah, dulu … waktu itu berhubung Ibu kita rambutnya pirang dan keringatnya masih bau bawang putih, namanya Batavia. Sekarang dibaptis jadi Jakarta. Ini kayaknya kita bakal dapet Ibu baru lagi”, jelas Nusa.

“Itu kok emak-emak namanya aneh-aneh. Kok bukan Endang, Markonah, Tumiyem, atau Tiurma gitu?”, tanya Wongso masih penasaran.

“Yo suka-suka kita donk. Termasuk Ibu kita yang sekarang. Denger-denger sih, Ibu kita yang sekarang, Bu Jakarta itu nggak ramah lagi, nggak ngemong lagi. Anaknya yang baik saja, si Ahok, dikurungnya. Entah salah apa dia. Makanya kita mau ganti Ibu ajalah”, timpal Nusa.

“Terus, nanti Ibu kita apa?”, susul Wongso.

Gue sih maunya Ibu RIS aja. Cuman nggak dibolehin sama Eyang Pancasila. Palingan gue ikut sama temen-temen lain aja: Palangkaraya”, ucap Nusa dengan mimik terharu biru, entah mengapa.

“Terus… Nanti Ibu baru kita si Palangkaraya itu ramah nggak?”, cecar Wongso.

“Ya tergantung. Kalau kita anak-anaknya baik, Ibu bakal ramah dan ngemong. Cuman kalau kita nakal berjamaah, ya paling kita digimbali terus dibalbali“, jelas Nusa sambil seruput kopi Khok Thong-nya yang baru saja diseduhnya.

Begitulah Diskusi singkat Nusa dan Bangsa (eh… Wongso) mencari Ibu baru.

Wizards stuck when being told to solve problems in Indonesia


Seperti dimuat di akun Facebook Saya.

Facebook Comments

Menabrak “Gunung Es”

Fenomena “Gunung Es” dalam konstelasi sosialitas masyarakat kita itu nyata.

Jika Anda pernah berlayar di lautan lalu melihat ada setumpuk tanah di permukaan dari kejauhan, kemungkinan besar ada bagian yang tak terlihat, yang jauh lebih raksasa dibanding yang Anda lihat. Jangan sekali-sekali mencoba menabrakkan perahu Anda kesana. Bisa fatal akibatnya.

Bagi yang kurang paham gunung es seperti apa, boleh kok bolak-balik lagi diktat Freud atau Freudiannya.

Kalau masih sulit juga, gampangnya, ya kayak api dalam sekam saja.

Jika Anda melihat tumpukan sekam, hangat dan mengeluarkan asap sepanjang waktu, kemungkinan besar di dalamnya ada nyala api yang sewaktu-waktu siap menunjukkan wujud aslinya jika sekam sudah dilalapnya habis: menjadi api yang merah membara.

Pelapor Kaesang yang – seperti diberitakan media antara lain Tribunnews – ternyata SUDAH ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus Hate Speech (Ujaran Kebencian).

Beberapa teman gendek.

“Kalau sebelumnya sudah tau tersangka, mengapa tidak langsung diproses? Kok membiarkan berlarut-larut hingga kasusnya membawa-bawa nama Kaesang, anak Pak Jokowi? Kalau yang dilaporkannya adalah anak pak Joko Z, tukang bakso tetangga sebelah rumah, apakah polisi juga akan menguak status tersangkanya?”

Lalu teman-teman aparat juga depressed.

“Tidak segampang itu. Memasukkan semua tersangka pasal hate speech dengan menggunakan UU ITE yang masih belum lepas dari pasal-pasal karet itu, lalu langsung memprosesnya, bisa penuh tuh register kasus di pengadilan.”

Yo wis. Berarti kelemahannya di situ: Kita kekurangan para professional di bidang penegakan hukum. Tinggal tambah saja. Tugas Negara untuk mengakomodasi proses dan prosedur dari program percepatan penambahan petugas penegakan hukum.

“Tapi masalah juga belum selesai, Bang.”

“Lho, kok?”

Kemaren saja ada tersangka yang diputus hakim dengan tuntutan melebihi tuntutan jaksa, para advokat nggak bisa buat apa-apa tuh. Sampai ada teman lulusan Hukum yang mau datang ke kampus asalnya buat unjuk rasa ke dosen pembimbing, gara-gara teori hukum yang dia pelajari tiba-tiba seperti tidak ada gunanya sama sekali.

Kalau begitu, gimana caranya memberantas kegilaan berliuk-liuk sirkuler bagai gurita penuh tentakel ini?

Ya, harus langsung ke akarnya Bang. Jika mau mencari seberapa tinggi gunung es-nya, selamilah hingga ke palung laut yang paling dalam. Moga-moga ketemu kaki gunung es-nya sebelum kamu kehabisan oksigen.

Kalau mau memadamkan api dalam sekam, siram air sebanyak-banyaknya Bang. Pastikan sampai ke bagian paling bawah dari alas tumpukan jerami itu. Kalau cuman percikin air ke rongga yang kelihatan berasap, kena jemur matahari sebentar, nanti berasap lagi. Soalnya, bara apinya masih di sana.

Owh… mai goat.

“Maksud Lo, masyarakat kita pada dasarnya memang sakit?”

Udah ah. Udah hampir jam 4 pagi. Ntar lagi Subuh, banyak syaiton berkeliaran. Kudu banyakin baca mantra buat ngusirnya.

Tolerance is Heaven for Pluralistic Society

 


As posted on my Facebook.

Facebook Comments

Lirik “Sai Anju Ma Ahu”

Aha do alana, dia do bossirna hasian
Umbahen sai muruk ho tu au ito
Molo tung adong na sala na hubaen
Denggan pasingot hasian

Molo hurimangi, pambahenanmi na tu au
Nga tung maniak ate atekki
Sipata bossir soada nama i
dibaen ho mangarsak au

Reff:

Molo adong na sala
manang na hurang pambahenan ki
Sai anju ma au, sai anju ma au
Ito hasian
Sai anju ma au, sai anju ma au
Ito nalagu

(Interlude)

Molo hurimangi, pambahenanmi na tu au
Nga tung maniak ate atekki
Sipata bossir soada nama i
dibaen ho mangarsak au

(back to Reff)


Sumber: MusikLib.Org

 

Facebook Comments

Lirik “Tabo Do Dekke Na Niura”

Tabo do dekke na niura.
Masak so pola ni loppa.
Ai tung tabo do dengke naniura.
Dengke ni Toba Holbung partobi tao i.
Ai tung tabo do dengke naniura.
Dengke ni Toba Holbung partobi tao i.

Asam hape pangaloppana.
Uram-uramna limut ni tao i.
Ai tung tabo do dengke naniura.
Dengke ni Toba Holbung partobi tao i.
Ai tung tabo do dengke naniura.
Dengke ni Toba Holbung partobi tao i.

Reff:
O Amang, o Inang.
Loas au, loas au.
Lao diririt parToba Holbung i.
Da ingkon saut na ma au maen ni Toba.
Maen ni Toba Holbung partopi tao i.
Da ingkon saut na ma au maen ni Toba.
Maen ni Toba Holbung partopi tao i.

(Interlude)

Asam hape pangaloppana.
Uram-uramna limut ni tao i.
Ai tung tabo do dengke naniura.
Dengke ni Toba Holbung partobi tao i.
Ai tung tabo do dengke naniura.
Dengke ni Toba Holbung partobi tao i.

(back to Reff)


Sumber: LirikLaguBatak.Com

Facebook Comments

Lirik “Luat Pahae”

Luat Pahae do huta hatubuan ku.
Laos disi do huta hagodanganhu.
Nungnga tung leleng hutinggalhon.
Hutakki sai huingot doi tong tong.

Tung godang pe luat na hudalani.
Sian Asia sahat ro di Junani.
Australia pe nungnga hudege.
Hutakki sai huingot doi tong tong.

Reff:

O … Luat Pahae sai tuho do lao pikkiranku.
Ro di nalao mate tung so boi tarhalupahon au.

Tung lelelng pe au diparjalangan.
Tung dao pe au dipangarottan.
Hutakki sai tong huhalungunhon.
Tu pahae sai masihol do au tontong.

(Interlude)

Tung godang pe luat na hudalani.
Sian asia sahat ro di junani.
Australia pe nungnga hudege.
Hutakki sai huingot doi tong tong.

(back to Reff)

Tung leleng pe au diparjalangan.
Tung dao pe au dipangarottan.
Hutakki sai tong huhalungunhon.
Tu Pahae sai masihol do au tongtong.


Sumber: LirikLaguBatak.Com

Facebook Comments

Lirik “My Way”

And now, the end is near
And so I face the final curtain
My friend, I’ll say it clear
I’ll state my case, of which I’m certain
I’ve lived a life that’s full
I traveled each and every highway
And more, much more than this, I did it my way

Regrets, I’ve had a few
But then again, too few to mention
I did what I had to do and saw it through without exemption
I planned each charted course, each careful step along the byway
And more, much more than this, I did it my way

Yes, there were times, I’m sure you knew
When I bit off more than I could chew
But through it all, when there was doubt
I ate it up and spit it out
I faced it all and I stood tall and did it my way

I’ve loved, I’ve laughed and cried
I’ve had my fill, my share of losing
And now, as tears subside, I find it all so amusing
To think I did all that
And may I say, not in a shy way
Oh, no, oh, no, not me, I did it my way

For what is a man, what has he got?
If not himself, then he has naught
To say the things he truly feels and not the words of one who kneels
The record shows I took the blows and did it my way

[instrumental]

Yes, it was my way.


 

Sumber: AZLyrics.Com

Facebook Comments

Page 1 of 11

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén