Pandemi dan Disrupsi Mempertegas Urgensi Heutagogi di Sekolah

Disrupsi dan Pandemi

Sudah sejak beberapa tahun lalu, istilah disruption era (era disrupsi) semakin terbiasa terdengar dan terbaca kita. Mungkin ada yang belum pernah mendengarnya. Disrupsi adalah gangguan yang mengakibatkan industri tidak berjalan seperti biasanya karena bermunculannya kompetitor baru yang jauh lebih efisien dan efektif, serta penemuan teknologi baru yang mengubah peta bisnis. Contoh yang sering dirujuk adalah ojek pangkalan dengan ojek aplikasi (Gojek atau Grab). Kita bisa lihat, tren ini masih berlanjut dan sepertinya akan terus dalam pola itu.

Saya melihat bahwa pola ini memiliki interseksi yang cukup kuat dengan apa yang menimpa kita di seluruh dunia sekarang ini, yakni pandemi COVID-19 dengan segala dampaknya terhadap seluruh aspek kehidupan kita. Interseksi itu terutama menjadi jelas pada dunia pendidikan Indonesia.

Persisnya interseksi itu terjadi karena era disrupsi mengubah daftar pekerjaan yang dibutuhkan oleh dunia kerja (yang sering tidak diajarkan di sekolah). Sementara itu, pandemi mengubah cara belajar dan materi belajar yang perlu (yang sering tidak terjadi di sekolah).

Karir di Sekolah: Mana yang Masih Relevan?

Bagi para tenaga pendidik, setidaknya kenyataan ini mengajarkan kita bahwa ada dua jenis karir di sekolah dan masa depannya.

Pertama, yang expendable alias mudah digantikan mesin.  Keniscayaan otomatisasi yang diakselerasi oleh paduan big data dan AI (artificial intelligence) membuat pekerjaan lama (yang dulunya diimpikan sebagai tempat berlabuh para siswa dengan kurikulum sekolah yang ada saat ini) akan semakin tidak dibutuhkan lagi. Untuk karir di sekolah saja misalnya, profesi seperti guru les mengetik, tukang ketik, guru sejarah, entry data di tata usaha sekolah diyakini akan semakin sedikit dibutuhkan, atau malah hilang sama sekali. Ini sangat masuk akal karena kodrat dari pekerjaan itu sangat mungkin diambil alih oleh otomatisasi tadi. Apalagi untuk materi pelajaran yang melulu hafalan, Youtube dan sumber internet lainnya sudah lebih kaya dan lebih banyak pilihan tergantung tingkat pencerapan si anak. Expendability akan semakin tegas pula manakala guru mapel itu tidak kreatif dalam merangsang siswa supaya tertarik mendalami pelajaran yang diampunya. Hal yang sama juga terjadi pada pekerjaan lain di luar sekolah, yakni yang tugasnya bisa diambil alih oleh mesin.

Kedua, yang belum expendable atau belum tergantikan oleh mesin. Tenaga pendidik yang dalam proses pembelajaran banyak melibatkan unsur kreatif diyakini masih belum tergantikan. Misalnya, pelajaran bahasa dan sastra, seni dan budaya, olahraga dan mata pelajaran lain yang indikator pencapaiannya tidak cukup dengan teori tetapi juga dengan praktek yang dibimbing serius oleh guru pengampu yang bersangkutan. Hal yang sama juga terjadi pada pekerjaan lain di luar sekolah, masih akan bertahan, yakni yang tugasnya masih dominan melibatkan proses kreatif dan intuisi (yang hingga saat ini belum bisa dijangkau atau ditaklukkan oleh AI dan teknologi mutakhir lainnya). Menulis lagu, mengarang puisi, atau melatih otot kaki untuk membentuk curve saat melakukan sepak pojok pada sepak bola adalah contoh pembelajaran yang masih lebih membutuhkan manusia sebagai instruktur dibanding mesin.

Tidak tertutup kemungkinan, kelompok kedua ini juga akan expendable ketika AI dan teknologi turunannya semakin berkembang. Sebagai contoh, saat ini, berkat kemampuan “self-learning robot” melihat pola dan hubungan makna kata berkat algoritma tesaurus yang semakin melimpah, bahkan sudah ada bot yang bisa menulis puisi. Meskipun hasilnya belum sehebat karya para penyair kondang, tapi juga sering lebih bagus dibanding karya penulis puisi pemula.

Ketika Sekolah Tak Lagi Relevan

Pandemi COVID-19 dengan dampak yang berkepanjangan pada berbagai aspek kehidupan ini mengajarkan setidaknya 2 hal penting dalam konteks pendidikan. Dua hal ini sangat bersambung pula dengan tuntutan era disrupsi.

Pertama, ada banyak hal (lain) yang bisa dipelajari.

Kedua, ada banyak cara (lain) untuk belajar

Bagi tenaga pendidik dan murid, hal ini sangat relevan dan mendesak untuk didiskusikan bagaimana mengimplementasikannya. Kita urai satu persatu.

Ada banyak hal yang bisa dipelajari

Ketika kita mencari bacaan mengenai skill dan pekerjaan yang paling dibutuhkan di masa depan dan mengungkapkan hasil bacaan kita secara jujur, kita akan menemukan bahwa kurang lebih 75%-nya berkaitan dengan dunia digital. Mulai dari progammer, designer, digital marketer, web developer, sampai data analyst. Dan dari 75% itu tak ada yang diajarkan di sekolah.

Oke, kita berkilah bahwa sekolah memberikan pengetahuan dasar yang penting. Tapi apakah memberikan banyak pengetahuan dasar adalah bijak disaat dunia semakin membutuhkan keahlian spesifik? Jelas tidak. Itu sama artinya kita membangun pondasi terlalu luas dan dalam, tapi tidak pernah membangun dinding dan atapnya.

Dulu ketika seseorang hendak membangun sebuah rumah/bangunan ia hanya perlu beberapa tenaga tukang. Sekarang dengan semakin mewah dan lengkapnya fitur bangunan, seseorang perlu mencari arsitek untuk desainnya, insinyur teknik sipil untuk perhitungannya, seorang akuntan untuk menghitung keluar masuknya uang, ahli listrik, manajer, sampai tukang dan kuli pekerja kasarnya.

Begitu juga untuk membangun sebuah web. Dulu, seseorang membuat web cukup dengan WordPress atau Blogger. Sekarang dengan semakin kompleksnya web yang multifungsi, tidak cukup dikerjakan oleh seorang web developer saja. Setidaknya butuh seorang progammer html untuk pondasi webnya. Progammer PHP agar webnya berjalan dinamis. Progammer CSS agar tata letak web terlihat rapi dan menarik, sampai ux designer-nya agar antarmuka web mudah dipahami pengunjung. Bayangkan untuk membuat dua hal itu, kita butuh banyak sekali kemampuan spesifik dari para ahlinya. Untuk tingkat kesulitan lebih tinggi sedikit, website e-commerce, misalnya, bahkan bisa membutuhkan lebih banyak orang. Seperti pernah diceritakan oleh Leogent Haromunthe, adik Saya yang bergiat di bidang pembuatan software e-Commerce. Lebih tinggi lagi, misalnya untuk manufaktur bioteknologi, jumlahnya bisa semakin banyak pula.

Say Ramdhan, seorang teman Facebook, mengurai fenomena ini secara sederhana dan mengena di group L.I.K.E Indonesia (Lingkar Inspirasi Keluarga Indonesia). Ia menjelaskan bagaimana kita harus berdamai dengan kenyataan bahwa semakin banyak profesi baru untuk satu keperluan. Dan sekolah kita yang sampai 12 tahun bahkan tidak mampu menentukan akan menjadi apa siswanya. Sebaliknya, keperluan lain yang selama ini dikerjakan banyak orang, akan membutuhkan semakin sedikit tenaga kerja.

Dengan kegagalan itu, akhirnya banyak orang yang harus mencari keahlian tambahan selepas lulus SMA bahkan SMK. Baik melalui kuliah atau kursus lainnya. Nah, apakah semua pengetahuan dasar dari sekolah diperlukan untuk belajar pengetahuan tambahan ini? Jelas tidak.

Sekarang kita merasa sekolah kita baik-baik saja dan tidak menyadari bahwa sekolah kita sudah tidak relevan dalam hal menyiapkan skill anak untuk masa depannya. Ya, para orang tua yang saat ini memaksa anaknya pergi ke sekolah adalah manusia yang saat ini hidup layak berkat pendidikan mereka di sekolah. Mereka adalah generasi old school, generasi baby boomer dimana ijazah adalah bekal mencari kerja. Situasi ini bisa menjadi semakin unik dan menegangkan jika kita melihat membaiknya meritokrasi pada beberapa perusahaan. Artinya, semakin banyak bos perusahaan yang menerima karyawan karena memang sesuai dengan kemampuannya, bukan karena faktor ijazah atau kedekatan pribadi. Berbeda dengan zaman sebelumnya dimana masih banyak karyawan diterima karena ada orang dalam. Atau karena menyogok bagian personalia atau pimpinan, secara halus maupun terang-terangan.

Yang tidak kita sadari, anak-anak yang kita paksa sekolah pada waktunya akan bekerja sebagai progammer, data analyst sampai digital marketer. Dengan menyadari bahwa pendidikan mereka di sekolah hanya menghasilkan selembar kertas ijazah berbonus ilmu membaca dan menghitung. Mereka-mereka ini adalah penghuni masa depan yang akan menyiapkan anak mereka dengan lebih baik tanpa jalur sekolah.

Ini bukan ramalan. Kita bisa melihat beberapa orang kaya (yang dulu biasa/gagal di sekolah) saat ini tidak terlalu memusingkan sekolah anak-anak mereka. Ada sebagian yang mengambil jalur home schooling, atau kursus-kursus lainnya. Intinya mereka menyiapkan skill spesifik anaknya sejak dini. Umumnya, mereka ini adalah yang sadar dengan konsekuensi era disrupsi dan tidak ingin anak-anaknya ketinggalan kereta di masa depan.

Ada banyak cara belajar

Alasan kedua yang membuat sekolah tidak relevan adalah model pengajarannya. Pandemik ini mengajarkan banyak orang bahwa ada banyak cara lain untuk belajar. Iya, di luar sana kita dengar orang tua ingin agar sekolah masuk. Iya orang tua, bukan anaknya. Anak-anak dengan kreativitasnya menemukan banyak carauntuk belajar apa yang mereka minati. Mereka mulai belajar melalui YouTube, IG, WAG atau Telegram. Bahkan tak jarang yang ikut kursus online berbayar.

Ketika di sekolah guru-guru produk keluaran lama bingung cara membuat PDF serta membuat tugas melalui Google Classroom, para siswa menemukan di luar sana ada beberapa anak muda yang saling berbagi video pembelajaran menggunakan berbagai media yang menyenangkan. Ketika guru tak lagi bisa mengandalkan papan tulis hitam putih, akhirnya siswa menemukan sebuah pembelajaran yang dikemas dalam konten infografis yang menarik.

Sekali lagi kita mungkin berkilah, “ah itu kan tidak menjamin anak-anak paham dengan yang mereka pelajari”. Tentu saja, pembelajaran daring tidak bisa menjamin hal tersebut. Tetapi apakah pembelajaran tatap muka di depan papan juga mampu menjamin pemahaman siswa? Tidak juga.

Benar memang lebih banyak siswa yang merasa lebih mudah menerima pelajaran tatap muka secara langsung dari guru. Tetapi tidak sedikit pula yang karena terpaksa bisa belajar hanya dari Youtube atau WAG. Jangan remehkan kemampuan manusia untuk beradaptasi dengan keadaan.

Mungkin anak kita dengan kemampuan menengah sampai ke bawah akan merindukan suara kita di depan kelas dengan sedikit wajah merengut kita yang memaksa mereka belajar. Tapi, bagi mereka dengan kemampuan menengah ke atas, mereka bisa belajar dari mana saja. Butuh bukti? Coba lihat komentar anak-anak kita di IG atau YouTube. Tidak sedikit yang menganggap penjelasan dari konten kreator itu benar-benar mudah dipahami. Jika 25% saja siswa kita merasa cukup belajar secara daring, maka kita akan kehilangan 25% pelanggan sekolah di masa depan.

Kita mungkin tak akan kaget lagi. Sebab saat ini kita biasa melihat banyak mall dan gerai besar tutup dikarenakan keberadaan toko daring. Banyak sudah perusahaan transportasi gulung tikar bangkrut karena transportasi daring. Lalu apa jaminan sekolah akan bertahan dari hantaman ini?

Bagaimana jika sekolah pun pada akhirnya didigitalisasi sepenuhnya? Bisa. Sebagaimana LBB anak siswa dan LBB lainnya yang sudah mulai merambah dunia digital, sekolah pun bisa. Tapi akan ada disrupsi besar-besaran dalam dunia pendidikan kita.

Supaya tetap relevan, heutagogi urgen diterapkan.

Seperti pernah Saya ulas sebelumnya di blog ini, dalam kacamata positif yang tidak dipaksakan, kita bisa pula memanfaatkan pembelajaran daring akibat Pandemi COVID-19 ini sebagai sparing partner pendidikan. Caranya: mengimplementasikan heutagogi. Secara singkat, heutagogi adalah sebuah pendekatan baru yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk menentukan apa yang akan dipelajari di kelas dan bagaimana mereka akan mempelajarinya.

Jika sekolah ingin agar mereka tetap relevan bagi pelanggannya, maka sekolah harus segera membenahi kedua hal tadi, yakni 1) apa yang dipelajari dan 2) bagaimana cara mempelajarinya. Kita urai kembali satu persatu.

Untuk yang pertama, dibutuhkan dukungan dari pemerintah terutama kementerian pendidikan. Jika tidak, akan sulit terlaksana. Meski demikian, bukan tidak ada angin segar. Semangat Merdeka Belajar, penghapusan UN, perampingan RPP dan beberapa fenomen lainnya kiranya bisa dimaksimalkan. Terutama untuk sekolah swasta yang memiliki keleluasaan lebih dibanding sekolah negeri. Fokusnya adalah memasukkan muatan pelajaran yang relevan dengan tuntutan era disrupsi tadi tanpa harus menyandera kelangsungan institusi pendidikan dan kesejahteraan para tenaga pendidik serta para karyawannya.

Untuk yang kedua, sekolah butuh dan mendesak untuk mendigitalkan dirinya. Masalahnya ketika sekolah beralih digital, akan banyak guru-guru (manusia) yang tidak lagi relevan. Bayangkan 1 juta anak bisa belajar dari sebuah portal belajar daring yang isinya hanya puluhan guru. Bayangkan hanya seorang guru saja yang dibutuhkan untuk membuat video pembelajaran yang dapat ditonton sejuta siswanya bahkan untuk siswa di tahun berikutnya.

Mau dikemanakan guru lainnya? Jika benar pendidikan akan sepenuhnya berada di dunia digital apakah kita siap “membuang” guru-guru kita yang berjasa? Jika memang mereka adalah guru sebagai sosok untuk digugu dan ditiru, maka tuntutan untuk beradaptasi yang dialami siswa dan orangtua, juga berlaku untuk mereka.

Untuk kasus tertentu, dimana usia sudah mendekati pensiun sehingga dirasa sangat terlambat untuk ‘mulai kembali menyentuh hal-hal yang berbau teknologi’, mereka bisa didaulat oleh pemilik sekolah sebagai punggawa pertahanan nilai-nilai baik dari baby boomer. Maksudnya bagaimana? Jangan lupa, meskipun anak-anak milenial ini terlihat lebih pintar dan cerdas, tetapi mereka juga membutuhkan asupan nilai (value) yang tidak didapat dari teknologi, yakni kejujuran, integritas, dan perseveransi (daya juang). Ketiga nilai ini, sampai sekarang, masih dicari oleh perusahaan manapun pada karyawan yang ingin melamar. Nah, sekolah bisa merancang skema dan penjadwalan dimana guru-guru dari kelompok khusus ini bisa berkontribusi untuk fokus menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai luhur tadi bagi para siswa. Tentu saja, hal inipun tidak akan terwujud jika ternyata mereka pun menjadi guru bukan karena meritokrasi (tetapi karena ‘hal lain’).


Semua tuntutan ini sebenarnya sudah mulai terasa selama awal abad milenium. Tetapi dengan kemunculan pandemik ini, langkahnya semakin dipercepat. Semua elemen pendidikan dipaksa untuk lebih cepat adaptif terhadap keadaan. Yang tertinggal atau terlena dengan zona nyaman mungkin akan bernasib sama seperti Nokia dan Blackbery yang tergusur oleh smartphone.

Facebook Comments

Kamu Anak SMA dan Suka Menulis? Ini Profesi Kepenulisan yang Menjanjikan

“Pak, Saya senang membaca novel di Wattpad. Terus, jadi senang menulis juga”, begitu isi chat Ester, seorang siswa, beberapa waktu yang lalu.

Toni, siswa yang lain berkata, “Pak, aku baru baru buat blogspot. Karena nggak tau mau nulis apa disana, jadi sebagian yang aku ingat dari penjelasan Bapak dari materi pelajaran kita, ya aku bikin disitu deh.”

Satunya lagi, Rentika, mau mengomentari artikel yang kurilis di blog ini. “Tapi, malu Pak. Nanti dibaca teman-teman yang lain,” katanya di Whatsapp.


Ketiga testimoni ini (nama disamarkan dan isi percakapan aku sunting) entah mengapa membuatku merasa sedikit senang. Ternyata siswa-siswa di tempatku mengajar banyak juga yang suka menulis. Kupikir juga berlaku untuk siswa-siswa SMA lainnya. Ternyata mereka tak melulu menghabiskan waktunya dengan bermain game atau berjualan di Instagram (yang keduanya juga menjanjikan jika diseriusi). Padahal, aku sendiri juga menulis seadanya. Belum sepenuhnya displin untuk mengisi konten entah harian maupun mingguan.

Satu hal: ternyata menulis dan membaca masih diminati. Jadi, tak sepenuhnya benar kalau remaja zaman sekarang hanya sibuk menonton Youtube atau bermain Tiktok (yang juga menjanjikan jika diseriusi). Okelah, mereka tidak lagi membaca buku, koran, majalah atau produk cetak lainnya. Karena sudah begitu zamannya. Semua beralih ke platform digital.

Sejenak aku berfikir, dalam 5 atau 10 tahun ke depan, jika mereka masih rajin menulis, bisa jadi mereka akan menjadikannya passion dan karier yang patut diseriusi. Entah mereka mengambil kuliah jurnalistik atau bukan, tentu saja mereka harus membuktikan kepada orangtua dan siapapun yang mendukung mereka secara finansial dan moral, bahwa ada yang bisa diharapkan dari kegiatan menulis yang mereka lakukan.

Sementara itu, profesi kepenulisan sendiri sudah begitu luas. Mulai dari penulis novel, cerpen, blogger, naskah drama/film, copywriter hingga content writer. Belum lagi niche yang masih belum banyak dikenal, seperti penulis lirik Hip-hop untuk dinyanyikan orang lain. Atau menulis dalam bidang apa saja tapi setuju memberikan kredit hak cipta kepada orang lain dan menerima upah sebagai ganjarannya (ghostwriter).

Ada kegelisahan yang muncul. Bagaimana jika ternyata mereka sendiri akhirnya frustrasi karena tidak kunjung menemukan titik cerah dari periode kepenulisan yang panjang. Bagaimanapun, entah menulis atau profesi lain, tentu ada ada hasil yang diharapkan. Dan, tentu saja, tidak sekedar kepuasan batin atau pengakuan. Harus ada suatu hasil riil yang bisa dilihat dan ditunjukkan ke orang lain. Uang, misalnya.

Tips apa yang bisa kuberikan? Sementara aku sendiri hanya seorang tenaga pendidik yang menjadikan menulis sebagai hobbi. Belum lagi kalau berbicara AdSense dari kepenulisan, aku bukan orang yang pantas untuk membicarakannya.

Lalu, aku coba ingat-ingat lagi curhat dari teman-teman penulis perihal perjuangan mereka hingga bisa sukses.

Seorang pegiat blogspot mengatakan, sudah saatnya meninggalkan blogspot karena tampilan sederhana, kustomisasi terbatas dan dianggap kurang profesional alias amatiran. Belum lagi alasan yang lain, terutama soal menjadikannya lahan untuk mendapatkan uang. Mau membuat blog dengan domain dan hosting berbayar, banyak pertimbangan.

Seorang penulis novel menceritakan kegelisahannya di sebuah hampir. Seolah hampir menangis dan tidak merekomendasikan kepada para kami pemula untuk mengikuti langkahnya. Dia berkisah tentang bagaimana ia meluangkan banyak waktu dan mengorbankan banyak hal untuk menyelesaikan novelnya. Sayangnya, begitu novelnya selesai, ia kesulitan menemukan penerbit untuk menerbitkan karyanya. Begitu ketemu, ternyata dia harus urun uang untuk itu, sementara royalti yang didapatkan ternyata tidak semanis yang diberitakan di internet. Bahkan ia juga diminta untuk ikut berjualan sendiri.

Sebuah forum diskusi para penulis puisi bahkan saban hari diisi dengan curhat sedih para anggotanya. Seandainya kepuasan batin dan pengakuan akan karya tak cukup lagi membuat mereka bertahan, mereka pasti akan segera meninggalkan profesi menulisnya. Sebab tak tahan melihat karya mereka dipajang di rak belakang toko buku. Jauh di belakang. Sementara di bagian depan, stationary dan kaset DVD yang dipromosikan oleh pramuniaga. Padahal, untuk menjadikan antologi puisi mereka sampai terbit sebagai buku, tidak sedikit rupiah yang harus mereka keluarkan. Such a prize for a recognition. Mereka ini memang angkatan militan, dan kebanyakan sudah cukup dengan apa yang mereka punya. Tak sedikit pula yang memang sudah uzur.

Untuk anak SMA dengan perjalanan yang masih panjang, tentu saja ada lesson learned yang bisa diterapkan dari kisah-kisah para senior mereka ini. Sebab, bagaimanapun, selain mereka tengah berada dalam fase pencarian jati diri, mereka juga membutuhkan pembuktian diri. Jadi, ketika mereka akhirnya bekerja sebagai penulis, entah di perusahaan atau independen, mereka punya sesuatu untuk diceritakan di acara kumpul keluarga atau reuni alumni sekolah.

Maka, setelah baca sana-sini, aku menarik sebuah poin penting. Seiring dengan dunia kepenulisan yang terkena imbas dari ditinggalkannya dunia cetak, hampir semua profesi menulis kini beralih ke platform digital. Maka, profesi menulis pun akan terfilter juga. Mereka yang mengandalkan jasa kepenulisan dari penerbit dan pencetak harus segera pivot ke alternatif lain, yakni: vlogger, copywriter dan technical writer.

(Ada yang lebih menjanjikan sebenarnya, yakni screenwriter atau penulis naskah film. Tetapi untuk yang satu ini, selain berjibaku dengan banyak kesulitan teknis, modal paling penting adalah koneksi dengan para pelaku industri film, terutama produser, perusahaan pembuat film dan para aktor. Jadi, untuk pemula seperti anak SMA yang gemar menulis ini, belum pas direkomendasikan).

Dari antara ketiga profesi menulis itu, aku tertarik dengan technical writer. Sebab, kubaca bahkan sang raksasa Google sendiri memberi tempat istimewa buat mereka.

Apa itu Technical Writer?

Semakin kesini, semakin sering pula perusahaan mendaftarkan lowongan pekerjaan sebagai technical writer. Kamu pun tidak susah menemukannya di daftar lowongan pekerjaan di situs-situs penyedia kerja semacam LinkedIn, Upworks, bahkan yang bersifat sambilan semacam Freelancer atau Sribulancer. Meskipun di nomenklatur bahasa Indonesia, belum lazim. Buktinya, sampai hari ini kita belum menemukan padanannya di KBBI. Kalau tidak percaya, cek saja.

Jadi, untuk sementara kita pertahankan dulu istilah asing ini.

Apa itu technical writer?

Tak seperti penulis pada umumnya, technical writer punya bidang kerja yang spesifik. Technical writer bertugas mengubah bahan tulisan yang kompleks dan penuh perkara teknis menjadi lebih jelas dan ringkas untuk menyasar audiens tertentu. Umumnya mereka membuat bentuk dokumentasi  untuk mengomunikasikan informasi yang teknis dan kompleks dalam cara yang user-friendly, alias nyambung dengan pengguna.

Konon, Albert Einstein pernah berkata: “If you can’t explain it simply, you don’t understand it well enough“. Jika kamu tidak bisa menjelaskan sesuatu dengan sederhana, berarti kamu tidak benar-benar mengerti apa yang hendak kamu jelaskan. Ini tentu tidak mudah. Karena tidak mudah, tidak banyak yang melakukannya. Itu sebabnya posisi technical writer banyak dicari oleh perusahaan.

Jadi, misalnya, jika sebuah perusahaan manufaktur smartphone mengeluarkan produk terbaru, maka tugas para technical writer-lah untuk membuat panduan penggunaan untuk disisipkan di bungkos kotaknya. Selain itu, informasi yang mereka tulislah yang juga digunakan oleh para reviewer atau media yang kemudian didaulat untuk mengiklankan produk yang bersangkutan. Maka, tak heran, posisi technical writer sangat strategis. Mereka menjembatani perusahaan dan konsumen dalam hal pemahaman akan produk. Jika sebuah produk baru cepat dikenal oleh pasar, maka ada peranan technical writer yang cukup besar disana.

Apa tanggungjawabnya?

Untuk menjadi technical writer profesional, kamu harus terlebih dahulu mengetahui audiens atau kepada siapa tulisanmu ditujukan. Audiens bisa saja klien, pelanggan, ataupun pihak teknisi. Memahami audiens berarti memahami juga ekspektasi dan level pengetahuan dari pembaca.

Selain itu, membuat tulisan teknis berarti mengetahui tujuan dan konteks dari dokumen yang ia buat, sehingga dokumen yang dibuat dapat tepat sasaran dengan jelas sesuai dengan tujuan dibuatnya.

Maka, seorang technical writer memiliki tanggung-jawab berikut.

Pertama, menentukan kebutuhan pengguna yang akan menerima dokumentasi teknis.

Kedua, mempelajari contoh produk dan berbicara lebih lanjut dengan pencipta dan pengembangnya.

Ketiga, bekerja bersama staf teknis untuk membuat produk lebih mudah digunakan dengan instruksi yang singkat namun mudah dimengerti.

Keempat, mengorganisasi dan menuliskan dokumen pendukung untuk produk

Kelima, menggunakan foto, gambar, diagram, dan animasi yang menaikan pemahaman pengguna

Keenam, menentukan medium yang tepat untuk menyampaikan pesan kepada audiens, seperti tulisan manual atau video

Ketujuh, melakukan standarisasi konten di seluruh platform dan media

Kedelapan, mengumpulkan feedback dari konsumen, desainer, dan pabrik.

Kesembilan, merevisi dokumen ketika ada pembaruan terkait produk

Kesepuluh, mengerjakan apapun yang ada di langkah pertama hingga kesembilan. Sebab, sama seperti penulis lain, tanggung jawab seorang penulis tidak hanya memikirkan gagasan, tetapi menuangkannya dalam bentuk tulisan.

Jadi, seorang technical writer membuat intstruksi, panduan penggunaan barang, dan “frequently asked questions” atau pertanyaan yang sering diajukan. Hal ini dilakukan untuk membantu staf teknis, konsumen, dan pengguna lainnya yang ada di perusahaan maupun industri.

Setelah produk dirilis, kamu juga mungkin bekerja dengan spesialis pemeriksa kelayakan produk dan manajer customer service untuk mengembangkan pengalaman pengguna atau konsumen melalui perubahan desain produk.

Keterampilan yang Perlu Dimiliki?

Pertama, seorang technical writer diharuskan untuk dapat bekerja secara individu maupun tim. Jadi, ketika kamu mulai menulis, selain kamu harus bisa menulis sendiri, kamu juga harus membiasakan diri untuk merampungkan sebuah tulisan dengan teman penulis lainnya. Biasanya yang kedua ini lebih sulit karena menggabungkan isi beberapa kepala sekaligus.

Selain itu, kamu juga harus terampil menulis tentunya. Seperti content writer atau penulis lain pada umumnya, yang pertama dan paling penting adalah tentu saja keterampilan untuk menulis. Seorang penulis teknis harus dapat membuat tulisan yang tersusun dengan baik, menggunakan bahasa yang baik dan benar, dan yang paling penting mudah untuk dimengerti.

Sebagai technical writer, penting untuk memilih penggunaan bahasa yang tepat untuk menyampaikan hal yang rumit dengan kalimat sederhana. Untuk dapat menulis dengan baik, penting untuk berlatih dan memperkaya kosa kata. Sekali lagi ingat, serumit atau sereceh apapun tulisan yang dihasilkan, fokus utamanya ialah pasar atau konsumen. Umpan balik dari mereka akan membuktikannya.

Untuk itu, tentu kamu tidak bisa mengarang bebas. Membuat tulisan teknis berisikan instruksi, kamu harus benar-benar yakin bahwa kamu memahami apa yang akan kamu tuliskan. Ini berarti, kamu harus melakukan riset terkait produk ataupun jasa tersebut dengan benar. Apalagi, jika kamu menuliskan sebuah dokumentasi untuk produk yang diproduksi sebuah perusahaan yang belum kamu kenal betul.

Terakhir, data hasil riset itu tentu saja tidak akan teratur jika kamu tidak mengetahui bagaimana cara menyusunnya. Untuk itu, kamu harus mampu berpikir kritis. Bagaimana menyampaikan instruksi yang sebenarnya rumit dengan bahasa sederhana tanpa kehilangan detail.


Oh iya. Tadi aku sebutkan soal peranan para technical writer di Google. Aku belum pernah kesana. Belum juga kenal salah seorang pun dari mereka. Maka, biarlah mereka sendiri yang berbicara. Simak di video mereka ini.

Facebook Comments

IDE UNIK MEMBERANTAS KEMISKINAN

Orang Miskin yang Suka Mengeluh

Kamu baru lulus kuliah, lalu mulai mencari-cari kerja. Ternyata susah. Apalagi sekarang, imbas pandemi COVID-19 membuat perusahaan memperketat anggaran untuk menggaji karyawan baru. Lalu kamu mulai menimang-nimang apa sebenarnya yang terjadi. Selain karena jurusan yang kamu ambil diambil banyak orang juga, artinya kamu punya kompetitor yang banyak. Padahal lowongan yang tersedia jauh lebih sedikit untuk menampung kalian semua. Atau, jurusanmu kurang diminati, kamu berfikir “enak nih, pesaing sedikit”, tapi ternyata tidak diterima juga, karena kamu tidak benar-benar ahli di bidang yang kamu pelajari itu.

Sesekali kamu tergoda untuk menyalahkan kampus atau sistem pendidikan yang kamu kritik “seperti memaksa ikan memanjat pohon”. Tidak apa-apa. Tapi jangan lupa, salahkan dirimu juga. Sebab kampus manapun tidak melarangmu mempelajari materi dan skill selain kurikulum yang mereka sediakan di ruangan kelas.

Atau kamu sudah bekerja. Cukup lama, tapi tidak mendapat promosi juga. Tentu tidak ada kenaikan gaji pula. Sebab keduanya berjalan seiring. Mengapa susah sekali ya? Padahal kamu merasa sudah sangat loyal kepada perusahaan. Bahkan tak pernah menulis status di medsos perihal overtime yang tak pernah dibayar. Karena kamu memang tidak menuntutnya. Kamu maklum. Apalagi sekarang, imbas pandemi COVID-19 membuat perusahaan memperketat anggaran untuk menambah gaji karyawan dan mempromosikan orang baru. Masih ada kerja saja, sebetulnya pantas disyukuri.

Tapi dalam hati sebenarnya kamu menggerutu. Selain itu, kamu juga memiliki pesaing di kantormu yang sama pekerja kerasnya denganmu, atau bahkan lebih. Kamu kan tidak melihat pengorbanan mereka setiap waktu untuk perusahaan dan bos. Sesekali kamu tergoda untuk menyalahkan atmosfer kantor atau iklim perusahaan yang kamu kritik “di kantor ini sepertinya harus jadi penjilat dulu baru diangkat”. Tidak apa-apa. Tapi jangan lupa, salahkan dirimu juga. Sebab kantor dan perusahaan manapun tidak melarangmu mengembangkan skill kepemimpinan, kemauan bekerja dalam tim serta kemampuan menulis. Ketiga skill ini yang paling disukai oleh perusahaan menurut survei-survei mutakhir.

Lalu, kamu pun mulai iri dengan orang-orang kaya yang seolah tak empati denganmu, memajang potret mereka dengan seabrek kemewahan. Di pandanganmu, merekalah yang mendapat kebahagiaan yang kamu idam-idamkan. Bro, mereka tidak punya kewajiban untuk perduli dengan apa yang kau rasakan. Jadi, jangan menyiksa diri sendiri dengan menciptakan kesedihan dan iri yang tak perlu.

Mereka yang Memikirkan Cara

Tidak hanya kamu, sebenarnya banyak juga yang memikirkan bagaimana caranya memberantas kemiskinan. Bedanya, kamu memikirkan itu karena kamu alami sendiri. Kamu masih miskin hingga sekarang, saat kamu membaca artikel ini (yang ditulis oleh orang miskin juga).

Sementara mereka, sudah kaya dan mau ikut sepertimu: memikirkan bagaimana caranya memberantas kemiskinan. Mulai dari Epicurus, Stoa, hingga Mahatma Gandhi, mereka sudah memikirkan itu.

Sejak ribuan tahun yang lalu. Ternyata: kemiskinan masih ada hingga sekerang. Buktinya: kamu.

Ide Unik Mengatasi Kemiskinan

Oh iya. Ini ada berita tahun lalu. Menko PMK Muhadjir Effendy mengajurkan supaya orang kaya menikahi orang miskin sebagai solusi untuk mengatasi kemiskinan. Ide ‘unik’ ini lahir seiring upaya pemerintah yang konon serius untuk menurunkan jumlah keluarga miskin.

Jumlah keluarga miskin di Indonesia mencapai 9,4 persen dari total 57 juta rumah tangga pada akhir tahun 2019. Muhadjir menejelaskan bahwa ini terjadi antara lain karena perilaku masyarakat yang selalu mencari kesetaraan. Orang kaya akan memilih menikah dengan yang kaya, dan orang yang miskin akan memilih menikah dengan yang miskin. Masalahnya, jika pemuda miskin menikah dengan wanita miskin, maka lahirlah keluarga baru yang miskin.

Muhadjir berharap, ada gerakan moral yang bisa menghilangkan cara-cara pandang tersebut. Dengan cara orang kaya bersedia menikah dengan orang yang miskin. “Inilah yang kita harapkan ada gerakan moral untuk menghilangkan cara-cara pandang yang menurut saya tidak terlalu baik untuk upaya kita memotong mata rantai kemiskinan,” ungkapnya dalam video ini.

Tampaknya Muhadjir serius dengan usulannya itu. Ia sampai mengusulkan kepada kepada Menteri Agama supaya mengeluarkan fakta yang berisi “Orang kaya wajib menikahi orang miskin”. Publik menanggapi berita ini heboh. Banyak juga yang menertawakannya. Aku sendiri geli mendengar usulan seperti ini terucap dari seorang menteri. Tapi sebenarnya, aku pun tak tahu mengapa aku ikut tertawa. Bukan apa, aku, sama seperti kamu, memang serius memikirkan caranya untuk memberantas atau mengatasi kemiskinan ini. Tapi belum pernah berani mengeluarkan usulan seperti ini. Muhadjir jauh lebih hebat. Ia berani. Tentu saja, saat itu, ia seorang menteri. Entah karena ini ia kemudian diganti Jokowi dengan Nadiem sebagai Menteri Pendidikan, tidak tahu juga.

Ide Unik Menuntut Eksekusi Unik

Kemiskinan dianggap sebagai akar dari kerusakan dunia. Mereka yang benar-benar miskin secara materi, tidak jarang sampai menempuh jalur kekerasan untuk sekedar menafkahi anak isteri di rumah. Menjadi kriminal. Pengangguran dan kaum miskin selalu dicurigai sebagai calon kriminal.

Ada lagi orang-orang yang miskin secara etika dan moral. Dipanas-panasin dengan ideologi agama yang jahat, mereka juga sering menempuh jalur kekerasan untuk mewujudkan utopi dan hegemoni agama mereka. Mereka yakin bahwa jika semua orang menyembah tuhan yang mereka sembah, dunia akan lebih baik. Mereka yakin bahwa jika seluruh pemeluk agama yang lain meninggalkan kepercayaannya dan “bertobat” seperti mereka, maka dunia akan lebih indah. Orang-orang ini akhirnya menjadi kriminal yang sebenarnya. Kelompok ini, tidak hanya dicurigai, tetapi memang kerap terbukti adalah kriminal.

Kemudian ada juga orang-orang yang kaya secara materi, tetapi miskin jiwanya. Mereka ini pun tidak menjadikan dunia lebih baik. Tak sedikit pula, dari orang-orang kaya inilah para kriminal tadi memperoleh senjata untuk melancarkan aksi mereka. Dari kelompok ini juga lahir penjual kata-kata, motivasi dan trik sulap yang anehnya masih dipercaya banyak orang miskin di atas. Mereka hanya duduk di mimbar rumah ibadah atau di podium seminar,  lalu para pendengarnya begitu saja mau melaksanakan apa yang mereka perintahkan. Entah menjarah alam, atau menjarah rumah dan toko orang lain. Tentu saja, lebih sering terjadi, pencurian hanya berhasil kalau si tuan rumah dibunuh terlebih dahulu.

Singkatnya, kemiskinan materi dan varian kemiskinan lainnya adalah penyumbang terbesar untuk ketidakadilan di dunia ini.

Tak kurang dari seorang Thanos, ternyata ikut pula memikirkan bagaimana caranya menciptakan dunia yang lebih baik. Bagi sebagian orang, Thanos adalah pahlawan yang sebenarnya. Ia muak dengan segala macam manusia yang jahat dan struktur sosial yang melegitimasi mereka. Ia ingin menghancurkan mereka semua. Sialnya, Thanos melihat bahwa jumlah manusia yang jahat itu sudah sangat banyak. Struktur sosial yang tidak manusiawi itu pun sudah sangat mengakar, tak bisa dicabut. Maka, ia mengambil keputusan: Ia akan menghapus setengah peradaban manusia, supaya tinggal orang-orang yang baik dan benar-benar kaya saja tinggal di bumi ini.

Ide Muhadjir memang tidak segila Thanos. Lagi pula, tidak pas memparalelkan keduanya. Satu manusia dan pejabat negara, satunya lagi tokoh fiktif rekaan Marvel saja. Tapi, ada benang merah yang membuat keduanya sama: yakni kegelisahan akan kemiskinan, dan ide untuk memberantasnya.

Kembali ke gagasan Muhadjir. Sangat masuk akal sebenarnya kalau hitungan di atas kertas. Kaum kaya, menengah dan sederhana disebut sudah mayoritas (untuk nomenklatur Indonesia saat ini ya). Tinggal anak-anak mereka menikahi 9,7 persen yang benar-benar miskin tadi, mestinya berhasil. Persebaran kemakmuran dan kue ekonomi akan terealisasi.

Pertanyaannya: bagaimana kita menyuruh anak orang kaya dan menengah mau menikah dengan anak orang yang benar-benar miskin itu, atau sebaliknya?

Dijodohkan?

Aku tak yakin berhasil. Anak-anak yang benar-benar miskin saja sudah tahu membaca, atau jangan-jangan ada juga yang sesekali berkesempatan mengakses dunia lewat internet. Mereka juga tak sudi dijodohkan. Remaja putri sudah tidak lagi mau mengikuti jejak Siti Nurbaya atau Boru Nangniaga.

Dikondisikan untuk berjodoh?

Artinya, pemerintah menciptakan ekosistem pergaulan yang membuat orang miskin bisa bertemu dengan orang kaya. Mulai dari remaja, dewasa hingga di dunia kerja. Mungkin terinspirasi dengan aplikasi semacam Tinder dan aplikasi cari jodoh lainnya. Tapi pasti rumit. Sebab sehebat apapun algoritma yang dibuat, tetap saja keputusan untuk swipe kiri dan swipe kanan adalah putusan bebas penggunanya. Keputusan untuk kawin dan tidur dengan siapa adalah hak asasi manusia.

Tidak bisa.

Ide unik seperti ini Muhadjir dan Thanos butuh eksekusi yang lebih unik. Lebih gila. Lebih total lagi. Tak akan bisa berhasil kalau hanya begini.

Kamu, punya ide nggak?

Facebook Comments

Kemiskinan Orang-orang Kaya

Things crazy rich people buy via ScoopWhoop

Meskipun banyak sumber mengatakan bahwa kekayaan dunia ini hanya dikuasai oleh 1% saja dari populasi yang ada, jangan lupa sepuluh persen itu banyak sekali. Saat ini populasi dunia kurang lebih 7,7 miliar orang. Maka, mereka ada sebanyak 70 juta orang. Banyak orang kaya di dunia ini. Mereka tersebar di berbagai tempat. Mereka dilahirkan dengan previlese akses ke sumber-sumber ekonomi. Di banyak tempat, previlese semacam ini dikagumi dan dijunjung tinggi oleh masyarakat setempat.

Hidup yang Nyaman

Mereka mungkin cerdas dan pandai hitung-hitungan. Membuka sebuah gerai usaha baru bukanlah sesuatu yang sulit bagi mereka. Karyawan yang hebat dan loyal pun mudah mereka dapatkan. Perizinan dan pengurusan adminsitrasi bukanlah sesuatu yang sulit untuk dikerjakan.

Mereka juga bisa hebat mengiklankan diri. Beberapa bahkan memiliki kanal Youtube atau website untuk menampilkan wajah dan rumah mewah mereka sebagai bukti bahwa di iklan mereka itu, mereka berhak meneriakkan ke telinga penonon, “nih, bukan cuma iklan, sudah kubuktikan”. Mereka mampu mengurai secara mendetail bagaimana mereka bisa mendapatkan semua itu. Rumah mewah. Mobil mewah. Koleksi seni. Hewan langka yang diimpor dari sabana Afrika sana. Hotel mewah kapan saja bisa mereka kunjungi. Kapan mereka mau makan steak atau hidangan carabou di restoran mahal, tinggal cuss.

Orang-orang kaya ini biasanya mempunyai latarbelakang keluarga kaya juga. Walaupun saat muda mereka mungkin belum memiliki perusahaan sendiri, kesempatan mereka untuk mendapatkan kepercayaan dan modal dari para investor cukup tinggi. Mereka biasanya bertemu di sebuah cocktail party, arisan kolektor tas branded, konser jazz paling modern, atau pada acara grand opening outlet terbaru kenalan mereka.  Tidak jarang juga yang begitu saja bertemu dengan orang kaya lainnya yang tak pelit memodali mereka hanya karena orangtua menyekolahkan mereka sama-sama di kampus luar negeri yang mahal. Beberapa bahkan mendapat modal pinjaman lunak dari bank pensiunan negara kaya semacam Norwegia.

Mereka juga biasanya sukses dalam pendidikan. Ada yang mendapat gelar bakalaureat dari perguruan tinggi swasta, lengkap dengan predikat cum laude. Ada yang menjadi petinggi di badan usaha milik negara, dan memiliki kekuasaan besar. Apapun bidangnya, orang-orang kaya ini sungguh dikagumi oleh lingkungan sekitarnya.

Kemiskinan Orang-orang Kaya

Sayangnya, orang-orang kaya ini seringkali tidak mampu melihat dunia secara keseluruhan. Mereka dibutakan oleh kekayaan mereka sendiri. Mereka menjadi sombong, dan kehilangan empati. Mereka tidak mampu melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda, atau merasakan penderitaan orang lain di sekitarnya.

Mereka hidup dalam ilusi, bahwa mereka adalah mahluk-mahluk unggul. Miliarder biasanya terjebak dalam ilusi dan kesombongan semacam ini. Mereka tak merasa bersalah menjadikan manusia lain, tumbuhan, hewan ataupun mahluk lain melulu sebagai sumberdaya untuk memperkuat pundi-pundi mereka. Mereka merusak alam atas nama pemberdayaan ekonomi dan kemajuan industri serta terobosan teknologi.

Orang-orang kaya seringkali tidak kritis. Mereka tidak mempertanyakan pandangan-pandangan yang mereka anut. Mereka mengira, gaya hidup serta pola berfikir mereka adalah kebenaran. Akhirnya, mereka kerap kali melakukan kesalahan yang merusak, tanpa mereka sadari.

Mereka juga kerap kali bermulut besar. Mereka gemar mengumbar janji. Mereka gemar juga memberikan harapan-harapan besar yang, sayangnya, palsu. Orang hanya perlu sedikit kritis, guna melihat kepalsuan yang dibalut dengan kesombongan di dalam diri orang-orang kaya ini.

Orang-orang cerdas ini seringkali juga penuh dengan kontradiksi. Misalnya, mereka mengaku membantu orang kecil dengan mencuri lahan mereka dan menjadikan mereka buruh di tanah mereka sendiri. Mereka berbicara soal menyelamatkan hutan dengan terlebih dahulu membuka tambang disana tanpa pernah sungguh mematuhi komitmen replantasi dan rehabilitasi lahan. Mereka berbicara tentang pentingnya membantu orang tak mampu, sambil memuaskan dahaga mereka akibat jiwa miskin yang tak pernah berkata cukup dengan yang mereka punya. Mereka tidak memiliki filosofi semacam “lama aku mengeruk, saatnya memberi”. Mereka juga tak kepikiran untuk meluangkan waktu memberi kontribusi bagi etika dan moral masyarakat layaknya seniman yang sampai mati bekerja mati-matian untuk nilai dan makna yang dipercayainya berguna bagi orang lain.

Inilah kemiskinan orang-orang kaya. Jangan terpesona dengan jabatan tinggi di perusahaan, gelar pendidikan tinggi, rumah mewah atau mobil mewah. Sebenarnya, merekalah justru perusak kehidupan sosial maupun alam, tempat kita semua hidup. Jika kemiskinan jiwa orang-orang kaya ini didiamkan, dunia kita akan hancur.

 

Facebook Comments

Mereka yang Bersikap “Bodo Amat” dengan Kaidah Seni

Subjektifitas Ekstrem

Ada sebagian orang yang ketika berdiskusi tentang karya seni bertahan dengan subjektifitas estetika. Bahkan secara ekstrem atau radikal. Misalnya, ada yang mengatakan begini:

“Dalam pandangan saya, tidak ada karya yang gagal. Tidak ada lukisan atau lagu yang bagus atau jelek, benar atau salah. Semua itu subyektif. Semua karya yang dibuat, selama diakui sebagai karya seni oleh pembuatnya, pasti memiliki makna. Jadi, tidak usah repot-repot mengurusi atau melakukan kritisisme terhadapnya.”

Jika sudah begini, diskusi pun terhenti. Habis perkara. Apa lagi yang mau diperbincangkan? Atau, di lain kesempatan orang-orang yang lain berkata begini:

“Sejauh itu dibuat oleh manusia, pastinya itu terkategori karya seni. Bagus atau jelek, itu urusan belakangan” – (X)

Tidak perlu mencari makna dalam sebuah karya seni. Tidak usah terawang bentuk apa yang ada dalam lukisan abstrak. Tak perlu ulas makna dan bahas semiotika dalam lirik lagu Batak yang sering kau bawa-bawa itu.” – (Y)

Karya seni tidak untuk dipecahkan apa maknanya. Seabstrak apapun lukisan atau seabsurd apapun sebuah lagu, biarkan saja. Toh kita tidak dituntut untuk melihat atau menafsirkan makna di baliknya. Setiap karya seni memiliki tingkat kesulitan berbeda dalam proses penciptaannya. Semua tergantung pada penikmatnya. Karena estetika adalah hal yang subjektif. Apa yang Anda nikmati, belum tentu orang lain menikmati. Ada yang menilai bahwa lukisan abstrak, lukisan kontemporer atau lirik lagu absurd Nadin Amizah bukanlah citra seni. Bagi Saya, karya-karya itu adalah karya seni yang baik dan benar.  Bodoh amat dengan pemikiran orang lain. Sekali lagi, estetika adalah hal yang subjektif. (Sambil menyodorkan penampilan Mawang ini). ” – (Z)

 

Terhadap pendapat subjektifis XYZ begini, tidak relevan berbicara salah dan benar. Sebab, yang mereka bawakan melulu adalah pengalaman menikmati, bukan pengalaman memahami. Tidak akan nyambung bernalar dengan teman yang mengumbar emosionalitas semata. Adalah irelevan jika kita hendak menilai sebuah karya jika peserta hanya bermodalkan pengalaman menikmati. Maka, istilah seperti “baik”, “benar”, “salah”, “kurang”, “berkualitas” salah tempat untuk diperbincangkan disini. Begitulah. Untuk percakapan begini, baiknya diskusi memang berhenti saja. Kecuali memang niatnya ngobrol ngadul ngidul ya. Beda lagi.

(Adapun perihal perbedaan kedua pengalaman ini, yakni pengalaman menikmati dan pengalaman memahami, sudah kutuliskan di blog ini baik untuk seni rupa maupun seni musik).


Subjektifisme Moderat

Ada sebagian orang lagi yang mengungkapkan emosionalitas mereka atas suatu karya tetapi juga sadar bahwa yang mereka miliki adalah pengalaman menikmati, bukan pengalaman memahami.

Mereka ini mengaku bisa menikmati lukisan abstrak seperti ini. Tapi tidak tahu apa artinya. Tidak apa-apa, sebab kedua pernyataan ini tidak bertentangan.

Pada tataran menikmati, memang tidak perlu memecahkan kode yang mungkin tersembunyi dalam lukisan ini. Yang penting orang bisa merasakan emosi di dalamnya sebagaimana tertuang dalam sebaran warna, ragam sapuan kuas, atau bagaimana komponen-komponen tersebut menghasilkan tekstur. Karena tujuannya untuk menikmati, maka kita tak perlu menghakimi bahwa lukisan ini tak layak dipajang di galeri (karena belum memahami).

Pada tataran menikmati, memang tidak perlu memecahkan arti teriakan Mawang pada video di atas. Atau diksi absurd Nadin Amizah dalam penggalan lirik lagu Bertaut ini:

Bun, hidup berjalan seperti bajingan (hidup dimetaforkan dengan bajingan?)
Seperti landak yang tak punya teman 
Ia menggonggong bak suara hujan (sinestesia ekstrem yang baru?)
Dan kau pangeranku, mengambil peran (sebegitunya demi sajak berakhiran n-n?)

Yang penting orang bisa merasakan emosi di dalamnya sebagaimana terdengar pada suara renyah Nadin, irama lagu, dinamika, tempo, warna, harmoni atau bagaimana komponen-komponen tersebut menghasilkan tekstur. Karena tujuannya untuk menikmati, maka kita tak perlu menghakimi lagu ini tak layak didengarkan (karena belum memahami).

Untuk teman subjektifis moderat seperti ini, diskusi selalu bisa terjadi. Mengapa? Karena diawali dengan kejujuran. Mereka benar menikmati, tetapi pada saat yang sama mengaku bahwa benar mereka belum memahami. Berbeda dengan subjektifis radikal sebelumnya yang langsung menutup diri.


Kaidah Berdiskusi Seni: Jujur

Sama seperti diskusi persoalan lain, maka ketika kita hendak berdiskusi tentang seni, pertama-tama sebaiknya sepakat dulu kaidah diskusi. Selain harus menghindari berbagai logical fallacy (kesesatan logika) dan itikad untuk berbagi informasi, juga jangan melupakan aturan ini: “The burden of proof is always on the person making an assertion or proposition. So the burden is on those who make claims to offer reason and evidence in support of those claims.” Artinya, beban pembuktian ada pada pihak yang klaim atau pernyataan. Secara etis, dia memiliki kewajiban untuk menyediakan alasan dan bukti yang mendukung klaimnya.

Maka, jika ada orang yang mengatakan “lagu ini bagus, recommended banget deh“, sebenarnya kita berhak meminta dia untuk menyediakan alasan dan bukti yang mendukung klaim tadi, mengapa lagu itu bagus. Dia sudah berani menyentuh pengalaman memahami. Tentu saja, ungkapan “karena aku suka” tidak cukup. Dia dituntut untuk mengurai karya itu dari unsur-unsur penciptaannya, latar belakang pencipta, bahkan sampai ke atmosfer keseniannya. Dalam konteks ini, kita akan segera menemukan inkonsistensi pada kelompok subjektifis ekstrim tadi, karena sedari awal sudah tidak jujur.

Berbeda jika orang mengatakan “aku suka lagu ini, tapi aku belum tahu apa artinya”, maka dia tidak wajib menyediakan alasan dan bukti apapun. Sebab dia sedang bercerita tentang pengalaman menikmati. Yang bersangkutan jujur mengaku bahwa dia menyukainya karena baginya lagu itu enak didengar dan menimbulkan rasa tertentu. Tetapi dia belum mampu menguraikan aspek-aspek, menjelaskan unsur dan komposisi, tidak bisa menjelaskan melodinya, progresi chordnya, dan mengapa lagu itu dapat menimbulkan rasa.  Dalam konteks ini, kita bisa bersama-sama menggali apa makna dari lagu atau karya seni lainnya, karena dimulai dengan sikap jujur.

Inilah kaidah berdiskusi. Maka kalau hendak mendiskusikan sebuah karya seni secara intelektual,  rangkullah sikap dasar seorang ilmuwan, yakni: Ilmuwan boleh salah, tetapi tidak boleh berbohong.

Facebook Comments

Ada Lagu Baru. Seninya Dimana?

Memahami dan Menikmati

Menikmati lagu tidak sama dengan memahami lagu.

Beberapa orang bisa saja langsung suka dengan sebuah lagu baru saat pertama kali diperdengarkan. Lalu spontan ingin memiliki kasetnya atau menonton video Youtube-nya hingga habis. Tapi ketika ditanya mengapa ia suka, ia tidak bisa menjelaskan. Dipaksa untuk menjawab, jawabannya, “ya suka aja“. Habis perkara.

Beberapa orang yang lain bisa menjelaskan secara rinci dan logis mengapa dia suka dengan lagu baru itu, terlepas apakah ia ingin memiliki kasetnya atau tidak.

Dalam prakteknya, tidak jarang kedua hal ini bercampur baur. Seseorang bisa mengaku, bahkan bersikukuh, sangat mengerti apa makna sebuah lagu. Namun bila dicermati, apa yang ia jelaskan sebagai mengerti (memahami), pada intinya tidak lebih dari tindakan menikmati. Begitu sebaliknya, ada yang bisa menjelaskan mengapa lagu (lirik, musik, dan latarbelakang penciptaannya) itu patut didengarkan.

Berbeda dengan menikmati, memahami lagu justru bukan dengan melibatkan unsur psikologis (emosional). Jika pada menikmati seseorang bisa saja merasa lebur, terserap bahkan hanyut secara kejiwaan saat mendengarkan lagu, maka pada memahami, seseorang harus dalam keadaan sadar (diri).

Harus ada jarak antara dirinya sebagai pendengar dengan lagu sebagai objek karya yang ia dengarkan. Mestinya ini tidak sulit. Kita ibaratkan seperti seekor ikan di laut. Ia tidak bisa menikmati keindahan laut dan seberapa luasnya jika ia berada di dalamnya, berenang-renang disitu. Itu hanya bisa terjadi kalau ia melihatnya dari luar. Maka, perlu ada jarak (distansi) antara manusia dengan karya untuk bisa memahaminya. Sebisa mungkin, seseorang harus membebaskan diri dari segala pengaruh dan apriori ketika akan memahami sebuah karya seni, karena keterlibatan emosional akan menyebabkan penilaiannya menjadi sekedar pembenaran dari kecenderungan pribadi.

Maka, jika ada orang yang bilang bahwa ia menyukai sebuah lagu karena tertarik dengan pilihan genre-nya, atau karena merasa terharu saat mendengarnya, ini belum merupakan ungkapan dari sebuah pemahaman karena yang dia ungkapkan adalah emosionalitasnya sebagai pendengar.

Jika ada orang yang menyatakan bahwa lagu itu bagus karena liriknya atau video lagunya mengingatkannya pada suatu pengalaman tertentu, ini bukanlah suatu penjelasan yang logis dan meyakinkan, tetapi merupakan penjelasan emosional. Dasar penjelasannya masih berangkat dari pengalaman pribadinya sebagai penikmat lagu dengan lagu yang didengarnya.

Untuk memahami, seseorang harus lebih melibatkan sisi intelektual ketimbang emosionalnya. Maka, memahami berarti memberikan apresiasi, dimana seseorang akan menafsirkan dan memberikan penilaian terhadap lagu. Artinya, diperlukan penalaran menggunakan logika dan argumentasi sampai pemahaman itu dijabarkan secara meyakinkan dan bisa dipertanggungjawabkan bahkan kepada orang yang belum pernah mendengar lagu itu.

Jika sudah sampai pada tahap ini, tinggal selangkah lagi yang bersangkutan sampai pada kritik seni.

Apersepsi, Apresiasi dan Kritik Seni

Di kelas, saat mengajar Seni Budaya, selalu Saya ingatkan para murid bahwa ada tiga tahapan untuk sepenuhnya mengetahui makna sebuah karya seni.

Pertama, apersepsi yaitu melakukan pengamatan sekilas atau mengungkapkan kesan sepintas yang muncul ketika pertama kali bertemu sebuah karya. Ketika pertama kali melihat lukisan atau meraba sebuah patung. Ketika pertama kali mendengar sebuah lagu. Ketika pertama kali menonton teater atau film.

Kedua, apresiasi yaitu menafsirkan dan memberikan penilaian atas karya.

Ketiga, kritik seni yaitu  mengungkap makna (meaning) dan nilai (value) yang terkandung dalam karya itu, apa tujuan atau pesan moralnya bagi masyarakat, serta membandingkan dengan karya lain yang sejenis.

Di setiap tahapan itu, kita akan menjelaskan apa yang kita alami. Jadi, sejauh ini kita punya 2 pengalaman, yakni pengalaman menikmati dan pengalaman memahami.

Mencari Kadar Seni Sebuah Lagu

Lalu, bagaimana caranya untuk memahami sebuah lagu dan menjawab pertanyaan “seninya dimana?”. 

Paling tidak, diperlukan empat pengetahuan dasar untuk memahami sebuah lagu.

Pertama, pengetahuan akan unsur-unsur seni musik, yaitu pengetahuan tentang melodi, birama, irama, tempo, tangganada, harmoni, timbre, dan dinamika. Semua unsur inilah yang membentuk sebuah lagu. Sebuah lagu akan bisa dinilai berdasarkan kesan, efek dan kualitas dari setiap unsur musik yang ada pada lagu itu.

Jadi, kalau video lagu (jika misalnya lagu itu diunggah ke Youtube) tidak termasuk dalam penilaian?

Tidak.

Kalau ingin menilainya, perlakukanlah lagu dan videonya sebagai dua buah karya seni yang terpisah. Ketika kita berbicara tentang lagu, ingat kembali filosofi dasarnya: bahwa lagu itu untuk didengar, bukan untuk ditonton. Jika ingin menilai videonya, unsur-unsur pembentuk sebuah video yang akan dibahas. Jikapun ada interseksi (persinggungan) antara lagu dan videonya, itu hanya tentang sejauh mana video lagu menunjang makna lagu.

Kedua, penataan unsur-unsur seni musik. Ini juga disebut dengan istilah komposisi, yaitu bagaimana pengaturan dan pengkombinasian semua unsur seni musik. Dengan mengetahui hal ini, misalnya, akan bisa dinilai bagaimana komposisi melodi, phrasering dan motif lagu yang mestinya menjadi pusat perhatian pada sebuah lagu.

Ketiga, aspek teknis dalam musik, yaitu pengetahuan tentang alat musik, teknologi yang digunakan, dukungan alat musik terhadap lagu serta kelengkapan sound system dan sound editing. Itulah caranya sehingga sebuah lagu bisa dinilai kualitasnya dari segi materi lagu, tingkat kesulitan membuatnya serta kadar keterlibatan manusia di dalam proses penciptaannya.

Yang terakhir ini, yakni keterlibatan manusia, menjadi aspek yang penting. Itu sebabnya, sebuah lagu hasil menggunakan musik olahan midi yang diedit di DAW dihargai kurang dibandingkan yang musiknya menggunakan sentuhan tangan manusia langsung.

Dasar pemikirannya jelas: berkesenian (termasuk bermusik di dalamnya) adalah kerja manusia (man). Maka proses dan hasilnya sebaiknya juga manusiawi (human), meski dengan resiko ada cacat disana-sini. Konsekuensi dari filosofi bermusik ini bisa sangat ketat. Bahkan sampai ada seorang seorang pemusik tidak mengizinkan permainan musiknya direkam, karena ia tidak sudi orang mendengar musik tanpa mengakui eksistensi dari manusia yang memainkannya disana.

Keempat, semiotika, yaitu pengetahuan tentang tanda dan simbol. Prinsip dasar dari kajian ini adalah bahwa setiap unsur seni musik pada sebuah lagu terutama liriknya merupakan simbol (petanda) dari makna (penanda) tertentu, sehingga dengan menggunakan pengetahuan ini, akan bisa ditafsirkan apa kemungkinan makna yang tersirat dibalik sebuah lagu.


Lagu Untuk Didengar, Kok Ada di Youtube?

Dalam prakteknya, tidak mudah memang untuk memisahkan mana pengalaman memahami dan mana pengalaman menikmati lagu secara tegas. Kerap, keduanya mempengaruhi satu sama lain.

Kemunculan lagu di Youtube adalah fenomena yang menarik. Kita tak perlu berdebat panjang mengapa banyak seniman musik memasang lagunya di Youtube. Sampai sekarang, Youtube masih menjadi platform favorit untuk memasarkan apapun, tak terkecuali karya seni seperti lagu.

Menariknya adalah, bahkan dalam tataran menikmati, orang menjadi terdistorsi antara lagu dan videonya. Ditambah fakta bahwa kebanyakan orang tidak lagi sudi mencari keempat jenis pengetahuan di atas, sering terjadi orang lebih menyukai versi cover dari sebuah lagu karena videonya dikemas lebih sinematik, teatrikal dan berbiaya lebih besar dibandingkan versi asli lagunya yang dikemas secara standar dalam format audio. Sepatutnya ini adalah kenyataan yang menyedihkan bagi pemusik. Apalagi jika sebuah lagu kita lekatkan dengan proses penciptaan dan hak cipta yang menyertainya.

Akhirnya, kepekaan seseorang dalam menikmati lagu dijadikan faktor pendukung dalam meningkatkan pemahaman agar lebih utuh dan mendalam. Tapi bukan lagi faktor utama, sebab banyak orang suka memutar lagu di Youtube antara lain karena algoritme Youtube yang akan memperlihatkan video yang sudah lebih banyak trafik penontonnya dibandingkan versi aslinya yang mungkin sepi karena hanya berupa audio saja.

Sebaliknya, pemahaman seseorang akan makna lagu bisa memicu dan menambah kepekaannya dalam menikmati lagu. Dengan catatan, yang bersangkutan bisa menjaga dan menukar keterlibatannya secara sadar di wilayah mana ia akan berada.

Karena itu meskipun bisa saling mempengaruhi, kedua jenis pengalaman itu (menikmati dan memahami) tetap memiliki sifat, cara kerja dan manfaat yang berbeda. Menikmati adalah untuk merasakan enaknya sebuah lagu, sedangkan memahami untuk mengerti kenapa lagu itu indah didengar.

 

Kamu ada di posisi mana?

Kamu mendengar lagu karena “suka aja” atau karena memang paham proses penciptaannya bahkan sampai  mempelajari riwayat hidup penciptanya?


Oke. Ini cara untuk menilai karya seni musik. Untuk menilai seni rupa bagaimana? Baca disini.

Facebook Comments

Bisnis Monyet (Monkey Business)

Bisnis Manusia

Ingin menjadi kaya?

Realistislah. Bekerja. Lalu, bekerja hingga semangat bekerja menyatu dengan nafasmu. Sampai mimpimu menjadi kenyataan. Kalaupun kamu memiliki usaha sendiri, kamu justru harus bekerja lebih giat untuk memajukannya. Menjadi bos atas usahamu sendiri berarti kamu mesti bekerja lebih giat dua kali lipat dibandingkan ketika kamu masih menjadi karyawan dan masih bermental buruh.

Sekalipun kamu anak orang kaya, kamu tetap punya PR untuk dikerjakan. Orangtua sudah menitipkan kekayaannya dalam bentuk saham, tanah, perusahaan dan kamu tidak perlu menjadi karyawan disana? Kamu masih harus menjaga hubungan dengan para pengelola harta dan investasi. Karena jika tidak, bisa-bisa hartamu digerogoti tanpa kamu sadari.

Bisnis Monyet

Bisnis monyet dan kamu menjadi korbannya terjadi karena kamu tidak realistis.

Tidak ada yang salah dengan kamu tiba-tiba senang memelihara bunga janda bolong. Tetapi lakukanlah sebagai kesenangan tanpa harus menggadaikan mobilmu untuk membeli bibitnya, lalu kamu merasa bahwa hanya kamu yang tahu ‘rahasianya”: kalau bibit bunga ini kubesarkan, nanti mobil Avanza yang sudah kulepas untuk membelinya, akan berganti menjadi Mini Cooper atau Lamborghini. Bisa saja itu terjadi, tapi tidak pasti.

Tidak ada yang salah dengan kamu yang tiba-tiba tercerahkan setelah mengetahui bahwa rupiah yang bisa diraup dari AdSense Youtube ternyata bisa besar sekali.  Kamu senang menonton video dan membagikan video Youtube, misalnya. Tetapi lakukanlah sebagai kesenangan tanpa harus menggadaikan waktu dan hubungan pertemanan. Lalu kamu merancang sebuah skema. Kamu merasa bahwa hanya kamu yang tahu ‘rahasianya’: kalau angka view video ini sudah banyak karena referral dariku, aku akan segera punya mobil dan rumah mewah. Soal teman-teman yang kujadikan downline (tapi kusanjung dengan sebutan partner), nggak urus. Aku akan sukses besar. Bisa saja itu terjadi, tapi tidak pasti.

Persisnya, bisnis monyet (monkey business) itu seperti apa sih? Bisa dijelaskan dengan sederhana?

Karena jiwamu sebenarnya masih anak-anak, meski badanmu besar dan jabatanmu mentereng, penjelasan lewat cerita masih yang efektif untukmu. Soalnya kalau yang teoritis dan formil, sudah banyak buku dan ahli yang mengulasnya, tapi kamu tidak pernah mau membaca. Atau kamu baca, tetapi kamu tidak mengerti.

Ini sudah ditulis dimana-mana juga. Di Kompasiana, blog Parpining, KoinWorks dan laman lainnya. Kuulanglah supaya kamu baca lagi. Begini.


Suatu hari di sebuah desa, seorang yang kaya raya mengumumkan akan membeli monyet dengan harga Rp. 50,000,- per ekor. Padahal monyet disana sama sekali tak ada harganya karena jumlahnya yang banyak dan kerap dianggap sebagai hama pemakan tanaman buah-buahan. Para penduduk desa yang menyadari bahwa banyak monyet disekitar desapun kemudian mulai masuk hutan dan menangkapinya satu persatu. Kemudian si Orang Kaya membeli ribuan ekor monyet dengan harga Rp. 50,000,- .

Karena penangkapan secara besar-besaran akhirnya monyet-monyet semakin sulit dicari, penduduk desa pun menghentikan usahanya untuk menangkapi monyet-monyet tersebut. Maka si Orang Kaya pun sekali lagi kembali mengumumkan akan membeli monyet dengan harga Rp 100,000 per ekor. Tentu saja hal ini memberi semangat dan “angin segar” bagi penduduk desa untuk kemudian mulai untuk menangkapi monyet lagi. Tak berapa lama, jumlah monyet pun semakin langka dari hari ke hari dan semakin sulit dicari. Kemudian penduduk pun kembali keaktifitas seperti biasanya, yaitu bertani.

Karena monyet kini telah langka, harga monyet pun meroket naik hingga Rp. 150,000,- /ekornya. Tapi tetap saja monyet sudah sangat sulit dicari. Sekali lagi si Orang Kaya mengumumkan kepada penduduk desa bahwa ia akan membeli monyet dengan harga Rp 500,000,- per ekor! Namun, karena si Orang Kaya harus pergi ke kota karena urusan bisnis, asisten pribadinya akan menggantikan sementara atas namanya.

Dengan tiada kehadiran si Orang Kaya, si Asisten pun berkata pada penduduk desa: “Lihatlah monyet-monyet dikurungan besar yang dikumpulkan oleh si orang kaya itu. Saya akan menjual monyet-monyet itu kepada kalian dengan harga Rp 350,000,- / ekor dan saat si Orang Kaya kembali, kalian bisa menjualnya kembali ke si Orang Kaya dengan harga Rp 500,000,-/ekor. Bagaimana?”

Akhirnya, penduduk desa pun mengumpulkan uang simpanan mereka, menjual aset bahkan kredit ke bank dan membeli semua monyet yang ada di kurungan.

Namun …

Mereka tak pernah lagi melihat si Orang Kaya maupun si Asisten di desa itu. Dan seluruh penduduk desapun dalam sekejab jatuh miskin dan banyak hutang. Penduduk desa itu depresi dan frustrasi massal. Beberapa bahkan harus dirawat di rumah sakit jiwa yang ada di kota karena kondisinya yang memprihatinkan. Sementara itu, pihak keluarga tidak punya uang lagi untuk membiayai perawatannya yang cukup mahal. Harta yang ada sudah digadaikan untuk membeli monyet.


Jualannya bukan hanya monyet

Inilah Wall Street. Dimana ada sebagian kecil orang yang mencoba untuk membodohi semua orang lain. Dan, sayangnya, ini lebih sering berhasil daripada gagal. Mengapa? Karena ada legenda dan mistik disana, bahwa kalau kamu cukup cerdik, kamu tinggal jentikkan jari, pohon uang muncul. Apapun yang kamu sentuh, kamu bisa pastikan akan menjadi emas. Seperti Midas.

Dari Wall Street, legenda dan mistik itu berangsak masuk ke Indonesia. Hebatnya, oleh banyak orang ia diperbincangkan dan dipraktekkan seolah ia menjadi kebenaran. Trik dan tips untuk menjadi Midas pun dibagikan. Aktifitas untuk melaksanakan berbagai strategi yang dipercayai manjur itu menjadi kebiasaan. Menjadi budaya (dalam arti negatif) menipu dan membodohi orang,

Tentu saja, jualannya tidak lagi sesederhana monyet seperti pada kisah fiktif anonim diatas.

Hati-hati Sahabat. Jangan terjebak!
Bisa jadi jualannya sekarang adalah komoditas seperti ikan Arwana,
Seperti ikan Lohan,
Seperti batu Akik,
Seperti ikan Guppy.

Kuharap sudah jelas ya. Dalam dunia bisnis, Monkey Business bukan berarti bisnis monyet secara harafiah, namun bisnis yang diibaratkan seperti monyet yang ketika dia mendapatkan makanan/keuntungan, kemudian akan lari/kabur.
Seperti bunga gelombang cinta,
Seperti burung love bird,
Tokek atau tekek harga 1 miliar
Bunga janda bolong harga 100 jutaan
Money game .. dan masih banyak lagi.

Judi bahkan lebih masuk akal. Itupun, semasuk akalnya judi, tetap tidak bisa kamu prediksi. Itulah sebabnya, tayangan “God of Gamblers” yang hebat diperankan Andy Lau itu, jangan lupa, itu hanya adegan film.

Kembali ingat petuah yang diberikan padamu sebelum diberangkatkan dari kampung untuk merantau ke kota besar:

Tetaplah curiga. Bahasa dan penyampaian boleh optimis dan bersemangat, tapi tetaplah curiga pada sesuatu yang berlebihan.

Sude na palobihu, dang toho. Molo tarsor toho, dang denggan.

Facebook Comments

Mengapa “Berkesenian” menjadi Predikat Ejekan?

Percobaan Pertama: Membunuh Filsafat

Beberapa ribu tahun lalu di negeri Yunani, seorang lelaki parlente mendekati seorang temannya yang berpenampilan polos bersahaja.

Lelaki parlente itu, belakangan kita kenal sebagai Calicles, berkata kepada temannya:

Berhentilah berfilsafat, kawan. Kembalilah ke dunia nyata. Tuntutlah ilmu di  sekolah bisnis.

Quit philosophizing.

Get real.

Go to business school.

Belakangan kita tahu, temannya yang bersahaja itu bernama Socrates.

Untunglah, Socrates tidak mengikuti anjuran temannya itu. Seandainya Socrates mengikuti anjuran Calicles dalam “Giorgias Dialogue” itu, filsafat tidak akan menjadi sebesar sekarang. Plato tidak akan mempunyai guru. Aristoteles, juga tentu saja.

Tidak akan ada para murid peripatetik (para filsuf pejalan kaki) yang membahas segala macam hal sembari berjalan-jalan bersama sang guru. Tidak akan ada Akademia, yang menjadi cikal bakal semua sekolah modern yang ada sekarang ini. Semua orang akan berfokus pada satu hal saja: memenuhi kebutuhan perut, mencari shekel, drachma, dolar atau rupiah.

Untunglah. Ternyata kebutuhan manusia tidak hanya soal urusan perut, tetapi juga soal pikiran. Selain asupan gizi, manusia ternyata butuh nutrisi intelektual dan seni. (Iya. Filsafat bukan hanya induk dari sains tetapi juga seni).

Meskipun demikian, upaya percobaan untuk membunuh filsafat itu masih berlangsung hingga sekarang. Tak sedikit teman yang mengolok-olok ketika seseorang memposting keresahannya di media sosial dalam sudut pandang filosofis.

Alah, bacot. Na mangula on ma bah ni puhuthon“, kata mereka seolah merendah padahal nyatanya mereka ingin menderogasi pentingnya filsafat.

“Untuk apa membahas dan mengulas realitas sosial. Pakai bedahlah, pake ulaslah, filosofi-filosofian segala. Tak ada gunanya kau habiskan waktu dengan membaca dan berdiskusi filsafat Barat itu. Mending ternak lele sajalah”


Percobaan kedua: Membunuh seni?

Zaman sekarang, jika kita jeli, saban hari kita mendengar “Giorgias Dialogue” versi modern dalam konteks kesenian.

“Ngapain sih capek-capek buat tulisan? Yang baca sedikit. Uangnya pun tak jelas.”

“Ngapain sih terus buat lagu? Berdiskusi, begadang, membuat lirik, ulik nada, edit, mixing, mastering, release. Unggah di Youtube, belum dapat adsense, eh keburu kehabisan uang. Sekedar beli rokok dan kopi pun harus berfikir keras. Buat apa? Tuh lihat. Mending buat konten give-away kayak si Boim.”

“Atau lebih ekstrem, ada pesawat jatuh, jadikan konten. Nggak usah mikir empati dengan keluarga korban. Laku keras.”

Mungkin tak persis isi redaksinya seperti ini, tapi muatan maknanya sama.

Begitulah. Sekarang berkesenian seolah predikat ejekan.

Secara jenius, Tilhang Gultom menyisipkan sindirian ini pula dalam lagunya “Tudia Nama Au Lao”

Dia sebut:
Na hansit ma hape di au nadangol on. Alani pogos na tarlobi. Gabe marende nama au. Gabe marende nama. Tu kesenian nama au lao. Tu kesenian nama au lao” (Perih sekali hidup ini, bagiku yang sengsara ini. Karena kemiskinan yang teramat sangat. Aku pun bernyanyi. Ke kesenian-lah aku lari.)

Impresi publik sezamannya yang mau dikritik Tilhang Gultom kiranya cukup jelas: Mereka yang berkesenian atau bernyanyi-nyanyi  kelasnya ya orang kecil. Proletar. Kalau mau kaya dan sukses (gabe jala mamora), pilihlah jalur lain. Entah menjadi petani, pegawai atau pengusaha. Pokoknya, jangan menjadi seniman.

Setujukah kita?

Beberapa dekade lalu, ‘kesadaran’ sejenis juga yang membuat banyak orangtua Batak terlihat tidak konsisten. Ketika si anak masih kecil, akan diajari bernyanyi, main gitar, atau didaftarkan les musik. Tapi begitu selesai SMA, si anak akan diarahkan untuk ambil jurusan yang jelas menjanjikan fulus. Entah sebagai pengacara. Entah sebagai pengusaha atau petugas bea cukai.

Bukankah itu antara lain sebab “Opera Tilhang” (Opera Serindo) kehilangan generasi penerus sepeninggal Zulkaedah Harahap? Tak ada orangtua yang mengajarkan dan mendukung anaknya menekuni keterampilan multiseni dalam Opera Batak itu (bernyanyi, berdrama, berlawak).

Aku sendiri mengalami ini ketika kecil. Di ladang, kalau aku mencoba memukul-mukul kayu meniru “pargossi“, akan ditegur orangtua. Dalam diskusi kemudian setelah mereka rasa aku bisa berfikir, mereka jelaskan:

“Nak. Zaman sekarang, bermusik tidak memberi penghasilan. Jangan kau tiru tulangmu si anu. Margossi ibana, mangadangi sian pesta tu pesta, alai so hea dilean hepeng tu nantulangmi. Holan na mabuk ma ibana tiap borngin. Dungi marbadai ma begeon ni hombar jabu. Jangan kau ikuti yang begitu ya”, kata mereka.

(Aku tak menyalahkan mereka. Itulah impresi umum tentang berkesenian saat itu, jadi mereka pun ikut di dalamnya. Lagipula, tak didukung menjadi penabuh gendang, aku kemudian memilih jurusan “tak jelas”, yakni jurusan filsafat. Skor 1-1. Hehehe).

Di era postmodernisme sekarang yang bahkan banyak orang masih belum tahu mengarah kemana dan harus mendefinisikan seperti apa, sekelompok orang juga mulai jengah dengan filsafat. Mereka mempertentangkan sains dengan filsafat, seakan bisa memisahkan seorang anak dengan ibu kandung yang melahirkannya.

Mereka bosan dengan tuntutan kaidah berkesenian, seakan musik dan lagu melulu hanya soal profit dan ketenaran seorang artis, dan tidak ada kaitannya dengan upaya kurasi nilai ideologi dan budaya arif. Maka, tak heran, lahirlah banyak lagu yang tidak memiliki “jiwa”, hanya otak-atik gathuk tangganada dan analisa teknikal musik. Berkesan, tapi tidak mengandung pesan.

Atau, meminjam lawakan intelektual di tongkrongan kami:

“Godang siingoton. Alai dang adong sitiruon”

Pada situasi begini, wajarlah para seniman dengan ideologi dan kesetiaan pada tugas kesenimanan, akan tenggelam di pasar industri. Antara lain, karena mereka tak sudi “menjual” diri, tak mau repot dengan algoritma Google dan Youtube, tak mau pula menyebar spam disana-sini untuk meraup angka view.

Untuk mereka, pendengar yang baik akan mencari musik yang baik. Beberapa digital marketer mungkin akan menyebut mereka naif, tapi mereka masih bertahan. Entah sampai kapan.

Facebook Comments

Kritik Budaya dalam Lirik “Tondi-Tondikku”

Banyak lagu Batak zaman sekarang yang cukup berkesan. Tapi, tidak banyak yang meninggalkan pesan. (Mengapa tidak banyak, sudah kuulas pula di blog ini perihal kecenderungan lirik lagu Batak yang semakin jelek). Dari antara yang tidak banyak itu, salah satunya adalah “Tondi-Tondikku”. Secara singkat belum bisa kujelaskan mengapa. Soalnya ini menyangkut rasa.

Bisa jadi karena lagu ini awalnya dikenal dengan video di bawah yang dikemas cukup apik dengan konsep sinematiknya. Terlihat jelas unsur teatrikalnya. Siapa sih yang tidak tertarik menonton film/drama. Atau, bisa juga karena dipopulerkan oleh Style Voice. (Ada apa dengan Style Voice? Ada Willy Hutasoit disana, vokalis Batak kekinian yang cukup kena denganku setelah Tongam Sirait).

Oke. Ini tidak untuk diperdebatkan ya. Namanya juga selera.

De gustibus non disputandum est.

Lagu ini terbilang sukses. Tidak hanya dari statistik penonton setiap kali ada yang mengunggah videonya di Youtube (baik versi asli maupun cover) yang langung ramai sejak dirilis, tetapi juga terlihat cukup relatable dengan banyak orang.

Saya beri contoh kecil. Sebuah kode tuak di bilangan kota Siantar, sejak Natal 2020 dan Tahun Baru 2021 yang lalu ramai dengan anak muda dan orangtua yang tak capek-capek bernyanyi dari jam 8 malam. Kadang baru selesai subuh. Hahaha. Salah satu lagu yang kuingat selalu mereka nyanyikan ya lagu ini, “Tondi-tondikku”. Metriks ini tampak sederhana. Tapi, bukankah kalau sebuah lagu sudah masuk ke kode tuak, bisa menjadi indikator kuat bahwa lagu itu kena (manghonai) dengan publik?

Tolok ukur ini belum cukup?

Silahkan cek sendiri. Biasanya di wisma atau gedung resepsi pernikahan Batak, lagu ini juga dibawakan oleh pihak  keluarga pengantin perempuan sebagai ganti dari umpasa untuk memberikan poda kepada putri mereka, atau sebagai penutup acara mandok hata. Menggeser lagu “Borhat Ma Dainang”. (Itu kudengar  sendiri, karena kebetulan saat ini tinggal dekat Sopo Siantar).


Di video di atas, kamu bisa membaca artinya dalam Bahasa Indonesia. Adapun teks dalam syair asli adalah sebagai berikut.

Lirik Tondi-Tondikku

Au do baoa naparjolo
Diida ho di portibion
Au do baoa na parjolo
Dihaholongi ho

Au na ma haduan
Hamagoan sian ho
Molo marhasohotan ho

Ho do gabe panggoaranki
Jala ho na lao manjujung goarhi
Ala sasada ho dilehon Tuhan i
Tu damang dainangmon

Unang mandele ho
Marnida donganmi
Ho do artakku di ngolukki

Unang huida ho marsak
Nasa tolap ni gogoki hubaen do
Unang hubege ho tangis
Maniak ate-atekki manaon i

Tondi-tondi hu do ho
Hagogoonku do ho
Boru hasianku

Sai dapot ho ma haduan
Naboi manghaholongi ho
Songon nahubaen tu ho


Selain soal selera pribadi, sebenarnya ada faktor lain yang membuat “Tondi-tondiku” terdengar spesial. Aku mengendus, ada kritik budaya disana.

Tondi-tondikku: “Bongkar” versi Batak?

Bukan isapan jempol bahwa hingga saat ini, kelahiran putera di tengah keluarga Batak masih dianggap sebagai keharusan. Bukan rahasia pula bahwa di tengah masyarakat Batak, ada semacam ‘tekanan sosial’ (social pressure) supaya pasangan suami-isteri sebaiknya memiliki setidaknya seorang anak laki-laki. Alasannya klasik: Ai baoa do sijujung baringin (anak laki-lakilah penerus keturunan).

Karena itu, mudah kita jumpai di sekitar kita bahwa ada keluarga yang karena anak pertama mereka adalah perempuan, ‘terpaksa’ harus nambah lagi. Kalau anak kedua juga anak perempuan? Nambah lagi.  Ketiga, keempat, dan seterusnya sampai diperoleh anak laki-laki.

Sebegitu misoginis dan patriarkisnya keluarga Batak ini? Ya. Mungkin tidak untuk semua keluarga, tapi masih bisa kita jumpai pada beberapa keluarga.

Pada zaman dahulu, bahkan saking tingginya penghargaan terhadap anak laki-laki di tengah keluarga, tak jarang seorang suami diizinkan atau dianjurkan keluarga untuk menikah lagi jika isteri pertama tidak kunjung memberikan anak laki-laki.  Ini antara lain yang menciderai kodrat monogami dalam perkawinan Batak.

(Bahkan, sampai ada yang semi-taboo, yang dikenal dengan istilah “pinjam jago“. Kamu bisa tebak-tebaklah ya apa artinya. Ini agak sensitif. Kita bahas secara internal saja ya).

Meski dalam percakapan sehari-hari, kemungkinan besar kita hanya akan menemui petunjuk (clue) yang subtil sekali perihal keharusan berputra itu, tetapi tekanan sosial itu nyata adanya.

Uniknya, diakui oleh yang bersangkutan, terutama justru dirasakan oleh  pihak wanita (isteri). Kuat dugaanku, cerita ekstrem soal “diceraikan karena tidak kunjung memberikan anak laki-laki” menghantui mereka.

Dalam perspektif yang lebih positif, kehadiran anak laki-laki diakui pula cukup melegakan bagi kaum ibu sebab diyakini anak inilah nanti yang akan lebih membela ibunya (dibandingkan saudari-saudarinya) jika suatu saat si ayah melakukan kekerasan kepadanya. (Untuk poin ini, tak pula perlu kita menampik kenyataan bahwa berbagai jenis kekerasan, baik secara verbal maupun fisik, masih terpelihara di banyak keluarga Batak, sejak dulu hingga kini).

Lalu, apa hubungan antara realita sosial hasil konstruksi budaya Batak ini dengan lirik lagu “Tondi-tondikku”?

Saya tidak tahu apakah Herbet H Aruan, si pencipta lagu ini sengaja atau tidak membuat bait yang “janggal” ini:

Ho do gabe panggoaranki
Jala ho na lao manjujung goarhi
Ala sasada ho dilehon Tuhan i
Tu damang dainangmon

Ho do gabe panggoaranki” (dengan namamulah aku akan dikenal orang),

sejalan dengan

ala sasada ho dilehon Tuhan i tu damang dainangmon” (karena hanya engkau anak yang diberikan Tuhan bagi kami orangtuamu ini”.

Sampai disini belum ada masalah.

Kejanggalan baru terjadi dengan penggalan “jala ho (do) na lao manjujung goarhi“. Sejauh ini, pemaknaan semantik “sijujung goar” dan “sijujung baringin” masih identik. Tetapi, mengapa ditulisnya pula “Jala ho na lao manjujung goarhi”? (engkaulah yang juga kelak akan meneruskan keturunanku). “Manjujung goar” tidak sekedar meneruskan keturunan, tetapi juga meneruskan marga . Padahal, kita tahu bahwa marga Batak diteruskan oleh anak laki-laki (sijujung baringin atau sijujung goar).

Beberapa orangtua Batak tak sungkan mengungkapkan langsung dalam pembicaraan di rumah: “Ai molo boru do, gabe pagar ni halak do i haduan” (adapun anak perempuan, kelak dia akan menjadi milik orang lain). Maksudnya jelas, seorang anak perempuan boru X akan melahirkan anak-anak bagi suaminya marga Y, dan anak-anak itu akan mengenakan marga Y. Sebanyak apapun keturunan dihasilkan oleh pasangan X dan Y, legacy “hagabeon” yang diperkuat adalah legacy marga Y, bukan marga X.

Hal ini tidak berhenti hanya pada keluarga inti (ayah, ibu dan anak-anak) tetapi berlanjut pada “tutur” atau “panjouon” kakek atau nenek. Jika seorang kakek memiliki cucu dari putra dan putrinya, sekalipun cucu dari putri yang duluan lahir tetapi kakek dan nenek akan dipanggil menurut nama cucu dari putra. Misalkan seorang putri memberi cucu bagi orangtuanya, diberi nama Frodo. Hingga ada cucu dari putra, kakek dan nenek akan dipanggil “Oppung ni si Frodo”. Begitu ada cucu dari putra, misalkan diberi nama Samwise, barulah kakek dan nenak akan dipanggil “Oppu Samwise”, inilah gelar paripurna untuk mereka hingga kakek dan nenek itu meninggal. Ini subtil, tetapi orang Batak akan mudah memahami perbedaan antara “Oppung ni si Frodo” dan “Oppu Samwise

Kiranya fakta-fakta ini cukup menggambarkan posisi penting putra di tengah keluarga Batak, lebih penting dibandingkan puteri. Dan kita tahu, ini sungguh tidak adil menggunakan perspektif progresif, apalagi jika kita adalah feminis.

Itulah sebabnya penggalan “jala ho do lao manjujung goar” pada “Tondi-Tondikku” memuat kritik sosial dan budaya yang tidak remeh.

Untukku, kejanggalan ini (entah disengaja penulis lagu atau tidak) bisa memantik diskusi dan dialog berkepanjangan berikutnya. Tujuannya jelas: Jangan lagi adanya anak laki-laki dijadikan tolok ukur paripurnanya sebuah keluarga Batak, adanya anak perempuan juga seharusnya diperlakukan sama. Saya setuju jika diskusi dan dialogi itu terjadi, sebab untukku cukuplah steretotipe misoginis dan patriarkis ini melekat cukup lama pada masyarakat Batak. Sudah harus ada yang memulai untuk mengubahnya supaya compatible dengan masyarakat berperadaban maju lainnya.

“Tondi-tondikku” menjadi corong aspirasi dan inspirasi bagi keluarga Batak yang hanya memiliki anak perempuan (juga keluarga Batak yang meski memiliki anak laki-laki tetapi toh tidak nyaman dengan kebiasaan misoginis dan patriarkis yang terpelihara selama banyak generasi).

Ibarat “Bongkar” karya Iwan Fals yang menjadi corong aspirasi dan inspirasi bagi masyarakat Indoensia yang selama masa Orde Baru tidak mendapatkan keadilan sesuai amanat konstitusi sebab korupsi, kolusi dan nepotisme menggerogoti hampir seluruh sendi kehidupan berbangsa dan bernegara saat itu (mungkin juga sampai saat ini)

Mungkin itu sebabnya, hingga hari ini pesona lagu “Tondi-tondikku” masih memikat banyak orang sejak hari pertama dirilis. Masih dinyanyikan di kode tuak dan di kafe-kafe. Keluarga pihak pengantin perempuan masih dengan gegap gempita menyanyikan lagu ini ketika memberi wejangan sekaligus selamat kepada putrinya yang memutuskan meninggalkan mereka, membina keluarga yang baru.


Habang binsakbinsak,
tu pandegean ni horbo
Unang hamu manginsak,
ai i dope na huboto

 

Facebook Comments

Ulas Lirik “Ee Dang Maila Ho” karya Nahum Situmorang

Ito namarbaju tung so maila ho,
e… ndang maila ho
Donganmu mardalani namatua do,
e….ndang maila ho

Ai molo ro parsedan pintor gintal do ho,
e…ndang maila ho
Ai nang pe namatua dioloi ho,
e…ndang maila ho

Godang do namarbaju ndada songon ho
Donganna mardalani doli-doli do
Alai anggo ho tung so maila ho
Nang pe namatua dioloi ho

Ito namarbaju ipe jamot ma ho,
e….ndang maila ho
Sotung didokkon halak naung geno ho,
e…ndang maila ho


Lirik lagu “Ee Dang Maila Ho” ini menambah portofolio kandungan pesan moral dalam lagu-lagu Nahum Situmorang. Benarlah ia konsisten dengan perjuangannya melestarikan budaya dan (mungkin juga) pranata sosial dalam adat-istiadat Batak.

Pesannya sederhana: Baiklah anak gadis atau remaja putri pintar menempatkan diri dalam pergaulan. Seperti halnya pemuda atau remaja putri, anak gadis sebaiknya bertanggungjawab dengan pilihan pertemanan. Tidak melulu meng-iya-kan ajakan setiap lelaki tua hanya karena berduit dan menaiki mobil sedan.

Tanpa harus marah secara berlebihan dan sarkastis, Nahum menegur (mungkin juga dengan sedikit menyindir) para perempuan dengan karakter begitu: “Ee dang maila ho” (Ee, kamu kok nggak malu ya?)

Uniknya: Pesan yang berat kandungan filosofisnya tak melulu mesti dinikmati dengan suasana klasik, hening, dan sopan tetapi bisa juga sambil bergoyang-ria dalam balutan genre chacha atau dangdut. Lebih ringan. Lebih santai. Sejak awal ditulis, sepertinya lagu ini memang ditujukan untuk dikemas secara ringan, meski tidak sampai murahan.

Simak misalnya versi Christin Sianturi ini.

Sayang sekali, bahkan sampai tulisan ini dibuat, pemilik video yang kemudian secara otomatis diunggah Youtube tidak memberikan informasi kredit apresiasi kepada Nahum. Komentar pun dinonaktifkan. Nama Nahum tidak dicantumkan sebagai pencipta disana.

Hal serupa juga bisa kita temukan pada pengunggah lain, yakni kanal Mangasa Sitanggang dengan konten audio dimana “Ee Dang Maila Ho” dinyanyikan oleh Vocal Group Parisma 71.

Saya tak sempat memeriksa semua pengunggah lagu Ee Dang Maila Ho. Ini masih di Youtube, kita belum tahu di platform lain.

Sampai disini, Saya bisa meresakan kekesalan Suhunan, seorang ponakan Nahum, ketika menuliskan tentang sang maestro (sudah saya tuliskan ulang juga di blog ini).

Suhunan menulis:

Apa boleh buat, selain catatan atas diri Nahum sendiri yang memang minim, ia terlahir dan berada di tengah sebuah bangsa yang amat rendah tingkat pengapresiasian atas suatu karya cipta; yang hanya suka menikmati karya orang lain tanpa mau tahu siapa penciptanya, selain enggan memberi penghargaan pada orang-orang kreatif yang telah memperkaya khazanah karsa dan rasa.

Sepertinya, sindiran “Ee dang Maila Ho” juga pantas kita tujukan untuk pekerja dan pelaku seni yang tidak menjalankan etika berkesenian (jelas, mereka bukan seniman) seperti mereka ini.

Mungkin jika Nahum masih hidup sekarang, ia juga kesal. Belum lagi keinginannya untuk dikubur di Samosir, tanah leluhurnya, juga belum terwujud hingga hari ini.

Rupanya melankolia dan avonturisme yang melekat dengan Nahum ketika masih hidup, juga masih terjadi pada Nahum, bahkan setelah ia meninggal. Ini sebenarnya kenyataan yang menyedihkan. Semoga pihak terkait bisa mencari solusi terbaik untuknya.


Habang binsakbinsak,
tu pandegean ni horbo
Unang hamu manginsak,
ai i dope na huboto

Facebook Comments

Doa-doa Mengenang Sriwijaya Air SJ-182

Sriwijaya Air SJ-182 rute Jakarta-Pontianak diberitakan putus kontak dengan pihak Bandara Soekarno Hatta. Diperkirakan lokasi hilangnya di sekitar Pulau Seribu. Warganet spontan menyampaikan di medsos. Kepedulian netizen menyebarkan informasi merupakan ekspresi keprihatinan dan kesedihan. Tak menanyakan apa suku atau agama semua kru dan penumpang yang diperkirakan puluhan sesuai manifest yang beredar viral.

Inilah naluri manusia waras.

Bukti kewarasan juga memuncak ketika keprihatinan itu menjadi doa. Aku yakin lebih banyak yang berdoa dalam hati. Sebagian lagi sempat menuliskan doa dalam kalimat-kalimat singkat di lini masa media sosialnya. Di Facebook, misalnya.

Tentu saja, sebagai pengguna Facebook yang waras, kita juga sama-sama tahu bahwa menuliskan doa di halaman pribadi bukan berarti kita berdoa kepada Mark Zuckerberg. Hanya sekedar mengajak lebih banyak teman lain untuk ikut berbagi harapan yang sama sehingga korban memperoleh yang terbaik.

Sebagai orang beriman yang waras, kita juga tahu bahwa doa kita tidak bisa memaksa Tuhan untuk melakukan ini atau untuk melakukan itu. Bukan untuk itu kita berdoa. Murni karena kita manusia. Itu saja.

Salah satu yang cukup mengena buatku adalah doa yang dibuat dalam bentuk fiksimini puitis karya Ronny Agustinus ini.

 

Aku pun ingin ikut melontarkan doa. Mungkin salah satu dari doa-doa ini bisa kamu ambil, lalu kamu turut mendoakannya juga. Dalam hati. Atau juga dengan menuliskannya lagi.

 


1) Terbang Lebih Jauh

Mereka hanya ingin terbang melebihi awan,
Dan tetap tinggal di ketinggian.
Mereka tak jatuh,
Hanya memilih menatap kita dari jauh.

 

– (Donald)

 


2) Arloji

Seorang penumpang ke penumpang lainnya:
“Permisi, Pak. Arloji Saya mati. Jam berapa ya?
“Oh, maaf. Punya saya juga mati”.
“Kalau boleh tahu … di jam 8.17?”
“Ya. 8.17”
“Jadi itu benar-benar terjadi ya?”
“Ya, di jam itu.”

 

– (NN)


3) Rute

Seorang penumpang bertanya pada pramugari:
“Nona, kenapa pesawatnya tidak bergerak lagi?”
“Perjalanan sudah selesai, Pak. Kita sudah sampai ke tujuan”

 

– (Donald)


4) Tidak jatuh

 

 

Mereka tidak jatuh.
Mereka hanya turun.
Sebab di tangan Tuhan mereka dinanti,
menyatu dengan bumi.

 

– (Donald)


5) Berlibur

Lelaki itu duduk gelisah di bandara.
Istri ada anaknya akan datang pakai Sriwijaya.
Rindu. Sudah lama tak bertemu.
“Mereka mau berlibur. Saya sudah tunggu. Ternyata …”

 

– (Donald)

 

Facebook Comments

Ulas Lirik “Nahinali Bakkudu” Ciptaan Nahum Situmorang

Lirik Nahinali Bakkudu

Ue amang doli o amonge
(Hei, hei, hei)
Ue amang doli o amonge
(Hei, hei, hei)

Nahinali bakkudu da sian bona ni bagot
Beha maho doli songon boniaga so dapot
Ue amang doli o amonge

Boniaga sodapot lakku dope nasaonan
Beha maho doli tarloppo ho parsombaonan
Ue amang doli o amonge

Atik parsombaonan dapot dope da pinelle
Beha maho doli songon buruk-buruk ni rere
Ue amang doli o among e

Mate maho amang doli
Mate di paralang-alangan da amang
Mate di paraul-aulan

Mate maho amang doli
Mate di paralang-alangan da amang
Mate di paraul-aulan

Boniaga sodapot lakku dope nasaonan
Beha maho doli tarloppo ho parsombaonan
Ue amang doli o amonge
(O Amonge)

Atik parsombaonan dapot dope da pinelle
Beha maho doli songon buruk-buruk ni rere
Ue amang doli o among e

Mate maho amang doli
Mate di paralang-alangan da amang
Mate di paraul-aulan (Paraul-aulan)

Mate maho amang doli
Mate di paralang-alangan da amang
Mate di paraul-aulan (Paraul-aulan)

Mate maho amang doli
Mate di paralang-alangan da amang
Mate di paraul-aulan

Mate maho amang doli
Mate di paralang-alangan da amang
Mate di paraul-aulan

Mate maho amang doli
Mate di paralang-alangan da amang
Mate di paraul-aulan

Mate maho amang doli
Mate di paralang-alangan da amang
Mate di paraul-aulan


Ada beberapa versi yang menyanyikan lagu ini. Salah satu yang paling populer adalah versi yang dinyanyikan Victor Hubarat. Buat Saya pribadi, suara Victor masih yang paling tepat menyanyikannya sejauh ini.

 


Kasih Tak Sampai

Seperti pernah diulas juga sebelumnya di blog ini, “Nahinali Bakkudu” ciptaan Nahum Situmorang ini adalah contoh lirik lagu yang susastra. Jenis lirik yang kita mau lebih banyak hadir dalam lagu-lagu Batak zaman sekarang.

Nahum menuliskannya untuk menggambarkan dirinya yang merana karena “kasih tak sampai”. Keinginannya ditampik oleh wanita pujaan hati. Konon wanita pujaan hati ini adalah “pariban”-nya sendiri.

Sebagaimana kita ketahui, “pariban” atau “boru ni tulang” (putri dari laki-laki saudara ibu kita) adalah sosok yang menempati prioritas nomor satu sebagai wanita untuk diajak menikah menurut kebiasaan orang Batak zaman itu (mungkin juga masih berlangsung hingga sekarang).

Itulah sebabnya sampai sekarang, jika seorang pemuda Batak mendekati dan berencana menikah dengan seorang perempuan yang bukan “pariban”-nya, orangtua akan memberikan penguatan dengan umpasa ini:

Hot pe jabu i,

tong do magulanggulang

Sian dia pe dialap boru i,

tong do i boru ni tulang.

Dalam resepsi perkawinan dan ritual adat istiadatnya pun hal ini terlihat secara visual, antara lain dengan mekanisme berbagi “jambar hata” dan “jambar juhut” antara keluarga pemilik pariban dan keluarga pemilik perempuan yang dinikahi pemuda tadi. Jadinya, kedua keluarga itu adalah sama-sama “tulang” bagi pemuda tadi. Demikian sehingga “umpasa” di atas terkesan sebagai hata togar-togar atau kata-kata penghiburan saja bagi keluarga si pariban. Secara khusus untuk menghibur hati si ibu, yang dianggap orang yang paling bahagia jika putranya menikahi putri saudaranya.

Menarik memang membahas “marpariban” ini. Mengapa sampai sekarang bahkan arranged marriage ini masih menjadi primadona bagi banyak orang Batak? Termasuk bagi orang Batak yang mengaku maju sekalipun, tak sedikit mereka yang berpendidikan tinggi dan sadar penuh kekurangan dari perkawinan dengan pariban, tapi dalam praktek sehari-hari tetap mendukungnya. Dari segi hereditas, misalnya, disadari bahwa anak hasil dari perkawinan marpariban ini lebih rentan.

Tapi nanti jadinya melebar kemana-mana. Untuk saat ini kita fokus ke pesan atau nilai (value) yang mau disampaikan Nahum dalam “Nahuli Bakkudu” saja dulu.

Dengan kesadaran akan fakta kebiasaan di atas, tentu kita bisa mafhum bagaimana Nahum merasa diri tak berarti, tersingkir dari kehidupan, bagai tikar usang yang lusuh. Hatinya membeku tak bergeming untuk wanita yang lain. Segalanya terasa tersia-sia. Saking ekstrem-nya, Nahum menerima situasi “patah hati (mate rongkap)” ini sehingga ia sendiri, si pencipta lagu ini, tidak pernah menikah sampai akhir hayatnya.

Sampai disini, nuansa lagu menjadi murung. Terasa gelap benar jadinya. Berangkat dari kesan awal ini, pantas kita bertanya:

Pertama, apakah Nahinali Bakkudu melulu mewakili kemurungan dan kegalauan abadi seorang Nahum?

Kedua, ataukah justru lewat lirik ini secara tersirat ia ingin mengkritik kebiasaan masyarakat Batak zaman dulu yang memprimadonakan “kawin dengan pariban” sehingga jika seorang pemuda memilih wanita lain yang bukan paribannya jadi kurang didukung pihak keluarga?

Pertanyaan terakhir ini mungkin akan lebih kena dengan teman-teman Batak yang memutuskan tidak menikah hingga usia tua. Jumlah mereka cukup banyak dan sepertinya jumlah itu akan meningkat.

(Tren ini tidak baru sebetulnya, terutama di kota-kota besar. Di beberapa negara lain bahkan hal ini menjadi concern serius, misalnya di Korea Selatan dan Jepang, sampai-sampai pemerintah membuat program dan bantuan untuk mendorong para pemudanya menikah dan berketurunan).

Terbaca kesan sekilas: Kaum muda tidak begitu berminat lagi dengan perkawinan. 

Benarkah kesan ini? Mari kita selidiki, observasi langsung dengan lingkungan kita. Mungkin bisa dimulai dari skop terkecil, dari rumah sendiri, di lingkungan atau RT lalu ke masyarakat luas. Hasil observasi yang didukung statistik ini akan menjadi presentasi yang menarik.

Terlepas dari statistik, para “panglatu“ atau Panglima Lajang Tua” – label peyoratif yang disematkan untuk pria Batak yang memutuskan tidak menikah hingga lanjut usia – pasti menangis mendengar lagu ini. Pesannya kena dengan mereka. Bagi mereka yang besar dengan bahasa Batak sebagai bahasa sehari-hari, lagu ini lebih menyayat hati dibanding lagu “Kasih Tak Sampai” milik group band Padi, misalnya.

“Nahinali Bakkudu” adalah kidung ratapan mereka di tengah konstruksi budaya masyarakat Batak yang masih menganggap berketurunan sebagai sebuah keharusan. Membujang hingga akhir hayat adalah aib yang mesti dihindarkan. Secara jelas dan kejam, Nahum menulisnya:

” … mate ma ho amang doli, mate di paralang-alangan”

Dari dua pertanyaan di atas, mana yang hendak dijawab Nahum dengan Nahinali Bakkudu? Yang pertama atau yang kedua?

Kita tidak tahu.

Mungkin juga kita tidak akan pernah tahu sebab Nahum sendiri membawa apa maksud asli lagu ini hingga ke liang kuburnya.

Lirik Susastra dan Semiotika Ringkas

Lirik “Nahinali Bakkudu” (Nahinali bangkudu) di atas, jika kita amati, terdiri atas beberapa repetisi (pengulangan syair). Jika kita peras, maka lirik utamanya adalah sebagai berikut.

Na hinali bangkudu da sian bona ni bagot
Boha ma ho Doli songon boniaga so dapot
Ue, Amang Doli o Among e

Boniaga so dapot langku dope masa onan
Boha ma ho Doli tarlompoho parsombaonan
Ue Amang Doli o Among e

Atik parsombaonan dapot dope da pinele
Boha ma ho Doli songon buruk-buruk ni rere
Ue amang doli o Among e

(Refrain)
Mate ma ho Amang Doli
Mate diparalang-alangan da Amang
Mate di paraula-ulan

Ini terjemahan lepas dalam Bahasa Indonesia.

Sedangkan ulat terikat, dicari dari batang pohon enau.
Betapa dirimu pemuda, bagai dagangan yang tidak laku terjual
Wahai anak muda, oh pemuda

Dagangan yang tidak laku pun masih bisa terjual pada hari pasar berikut
Tetapi kau, anak muda seperti persembahan keramat (parsombaonan) yang harus dihindari
Wahai anak muda, oh pemuda

Sedangkan tempat keramat masih dapat dipuja
Tetapi engkau anak muda, seperti tikar usang, lusuh
Wahai anak muda, oh pemuda

Malangnya dirimu Pemuda
Mati sia-sia tak berguna, o anak muda
Hidup bagai orang yang mati…


Saya sendiri awalnya mengalami kesulitan memahami persis arti kata-kata dalam Nahinali Bakkudu ini. Penasaran, kutanya teman-teman lain bahkan ke orangtua. Hasilnya? Sama. Mereka juga mengaku tak mengerti benar arti dari beberapa diksi klasik Batak yang tak biasa dalam gubahan Nahum ini. Ya sudah, kuputuskan mencari sendiri.

Mari kita coba telisik beberapa diksi tak biasa yang dimaksud dan apa padanan artinya dalam bahasa Indonesia.

  1. na hinali: yang terikat
  2. bangkudu = heat, ulat yang nantinya jadi kumbang
  3. bona ni bagot: pohon enau
  4. boniaga: barang dagangan
  5. parsombaonan: persembahan untuk upacara sakral
  6. paralangalangan: nasib tak menentu, “mocok-mocok” (bahasa prokem Medan)
  7. paraulaulan: (sama dengan no. 6)

Bangkudu atau heat memang umumnya berhabitat hanya di bona ni bagot (pohon enau). Bentuknya mirip hirik atau jangkrik, berwarna kuning kehijauan. Kadang juga terdapat di pohon kelapa yang busuk. Bangkudu diambil untuk dimakan setelah direbus, digoreng atau dipanggang. Ukuran Bangkudu sebelum metamorfosa jadi kepompong dalam tanah adalah sebesar jempol. Ia diyakini obat yang sangat manjur untuk pemulihan sel-sel rusak dalam tubuh manusia.

(Masih belum terkonfimasi entah persis sama atau tidak, inilah makhluk yang dalam bahasa Karo disebut Kidu, dan bagi orang Karo masih menjadi lalapan favorit. Seorang teman medsos berkata bahwa di pasar Pancur Batu Medan setiap hari ada yang menjual kidu ini, selalu cepat habis sebelum jam 6 pagi karena banyak pembeli atau sudah dipesan terlebih dahulu).

Disinilah salah satu kelebihan Nahum: Ia seorang pembanding yang jenius. Ia mampu menciptakan komparasi (pembandingan) yang hebat berangkat dari benda atau makhluk yang sehari-hari sering dijumpai orang Batak pada zamannya, lalu tiba-tiba tanpa sadar kita dibawanya pada bahasan filosofis yang berat.  Komparasinya mulai dari hal sederhana (gradus positivus), naik ke analogi lain yang lebih dalam artinya (gradus comparativus), hingga berakhir pada makna puncak (gradus superlativus). Dan semua aspek itu dimasukkannya sembari tetap menjaga supaya lirik tetap kedengaran enak, antara lain dengan menjaga kaidah sajak.

Untuk memahaminya, Saya mengusulkan parafrase ini.

GRADUS POSITIVUS (NORMAL/COMMON)

Ulat enau, si lalapan favorit itu adalah dagangan yang laku dijual. Mengapa kau, seorang manusia, malah tidak laku-laku?

Sajak A-A: bagot - dapot

GRADUS COMPARATIVUS (COMPARATIVE)

Bahkan dagangan yang tak habis terjual hari ini, besoknya pada hari yang tepat (di pasar) ia akan laku juga. Mengapa kau, seorang manusia, malah seperti persembahan keramat saja, tidak laku-laku?

Sajak A-A: masa onan - parsombaonan

GRADUS SUPERLATIVUS (SUPERLATIVE)

Bahkan persembahan keramat pun – sekalipun jarang digunakan – tetap juga laku jual, ia dipakai orang pada acara pemujaan. Mengapa kau, seorang manusia, tidak laku-laku?

Sajak A-A: pinele - rere

Tak cukup sampai disana, ia mengambil analogi buruk lainnya (kembali ke hal-hal umum) dengan menyebut nasib pemuda tadi bagaikan “buruk-buruk ni rere“, yakni umbai tikar pandan yang sudah rusak, tentu tidak ada gunanya lagi selain untuk dijadikan sampah dan dibuang atau dibakar. Kurang lebih, “buruk-buruk ni rere” ini sama kandungannya dengan frase populer kekinian sekarang di tengah anak remaja, yakni “seperti remahan renggingang yang tercecer di jalan, tak dihiraukan orang, dianggap sepi, bahkan diinjak tanpa perasaan bersalah sedikitpun

Jleb! Ngeri sekali.

Kabar Baik dan Tugas Penting

Sebuah kabar gembira bagi pecinta lagu Nahum: Walaupun Nahum Situmorang (mungkin) gagal dalam percintaan, tetapi dia sukses merebut hati masyarakat Batak di bidang musik. Walaupun dia sudah lama meninggal tetapi namanya tetap harum sebagai legenda musik Batak.  “Nahinali Bakkudu” hanya satu dari sekian banyak karya hebatnya.

Jika pun Nahum tak bisa memenuhi sekaligus ketiga kriteria sukses orang Batak, yakni  Hamoraon (kekayaan), Hagabeon (keturunan), dan Hasangapon (Kehormatan), tapi dia mendapat keberhasilan luar biasa pada aspek Hasangapon. Dia mati terhormat. Tak tanggung-tanggung, ia meninggalkan legacy berupa lagu-lagu indah dengan syair puitis.

Akan tetapi, sama seperti setiap kabar gembira, selalu ada tugas dan tanggungjawab di dalamnya. Jika untukmu lirik lagu Nahum bagus, apakah kebagusan itu juga bisa dirasakan oleh anak-anak remaja masa kini, yang berbahasa Batak saja tidak lagi mampu, konon pula memahami dan menikmati keindahan syair Nahum?

Ini pertanyaan yang bagus direnungkan.


Sebuah pertanyaan menohok lainnya yang juga kuusulkan menjadi tendens dari Nahinali Bakkudu:

Apakah generasi bona pasogit yang menyebut diri pecinta lagu Nahum juga siap menerima konsekusensi jika anak mereka total menempuh jalan hidup seperti yang dilakukan Nahum? Berkesenian sampai mati tanpa meninggalkan banyak harta serta tidak meninggalkan keturunan biologis? Soalnya ada yang menggelikan juga. Banyak orangtua senang melihat anak kecilnya menggemari musik, tetapi ketika sudah dewasa si anak justru dijauhkan dari totalitas dalam karir musik, malah diarahkan untuk mencari pekerjaan lain yang lebih jelas uangnya, yang lebih mapan tampilan luarnya.


Habang binsakbinsak,
tu pandegean ni horbo
Unang hamu manginsak,
ai i dope na huboto

Facebook Comments

Lirik Lagu Batak Semakin Jelek, Kok Banyak yang Suka?

Prolog

Sudah setahun berselang setelah Jarar Siahaan menulis di portal Laklak bahwa lagu Batak semakin tidak bermutu. Kepada pembaca, ia meneruskan sentilan Manahan Situmorang terhadap lagu Batak kekinian yang picisan dan asal-asalan syairnya. Bagi Jarar, generasi muda perlu mendengar lagu-lagu Batak tempo dulu yang bermutu tinggi dan mengandung ajaran budi pekerti.

Disebutnya, Manahan mengkritik lagu Batak zaman sekarang yang menulis lirik secara serampangan. Ia menyayangkan banyaknya tembang Batak yang ditulis asal jadi dengan campuran kata-kata berbahasa Indonesia, bahkan ada lirik lagu Batak yang bersifat tidak mendidik.

Ise mandokhon ahu selingkuh. Bukan bahasa Batak itu selingkuh, tapi mangalangkup. Kecewa, kecewa ahu, Ito. Kecewa? Seharusnya tarhirim“.

Manahan membandingkan lagu-lagu Batak yang terlah berusia empat puluhan tahun atau lebih, karangan tujuh maestro komposer Batak, yaitu Tilhang Gultom, Nahum Situmorang, Firman Marpaung, Ismail Hutajulu, Sidik Sitompul, Dakka Hutagalung, dan Tagor Tampubolon.

Lagu adalah puisi. Pertahankan supaya tetap sastrawi

Ketika mengajar di kelas, tak bosan Saya cerewet ke siswa ketika membahas lagu dan pengaruhnya bagi kebudayaan bahwa “lagu adalah puisi yang dinyanyikan“. Karena itu, harus susastra. Artinya harus sastra yang baik. Sastra yang baik itu seperti apa? Selain indah, harus pula menuntun orang pada kebaikan etika dan moral.

Sebuah lagu bisa terdengar merdu, liriknya puitis tetapi bukan lagu yang baik jika tidak memenuhi kriteria tadi, misalnya lagu “Mardua Dalan” dari Jen Manurung (sudah pernah saya ulas juga di blog ini).

Belum lagi jika membahas lagu sejenis “Orang Ketiga” atau “Te Hallet”. Lagu macam apa itu?

 

Kita kembali ke Manahan.

Tak cukup dengan menyebut nama, Manahan mengajak pendengar untuk mencermati langsung nilai susastra (sastra yang baik) dalam lagu-lagu hasil karya tujuh maestro tadi. Misalnya, lagu “Nahinali bakkudu“, senandung nan pilu tentang orangtua menangisi putranya yang tidak menikah hingga berkalang tanah, yang ditulis Nahum situmorang.

Nahinali bakkudu da sian bona ni bagot
behama ho doli songon boniaga so dapot
boniaga so dapot lakku dope nasaonan
behama ho doli tarloppo ho parsombaonan

atik parsombaonan dapot dope na pinele
behama ho doli songon burukburuk ni rere
matema ho amang doli
mate di paralangalangan da amang
mate di paraulaulan

Kemudian kita tahu bahwa Nahum memang tidak menikah hingga akhir hayatnya. Entah ada kaitannya dengan kisah hidup penulis langsung, tapi bagi yang mengerti bahasa Batak tentu akan terkagum dengan larik sastrawi yang menggunakan metafor klasik tersebut beserta makna filosofis yang diusungnya.

Tidak terbilang “panglatu“, akronim dari “Panglima Lajang Tua”, label peyoratif yang masih lazim kita dengar disematkan untuk pria Batak yang memutuskan tidak menikah hingga lanjut usia. Mereka pasti menangis mendengar lagu ini, meratapi nasib mereka sendiri, sebab di tengah konstruksi masyarakat Batak yang masih menganggap berketurunan sebagai sebuah keharusan, membujang hingga akhir hayat adalah aib yang mesti dihindarkan. Narasi seperti ini tentu sangat relevan dan membumi bagi kelompok panglatu tadi.

Pada sebuah cerpen berbahasa Batak, bagian dari antologi “Situmoing” narasi dengan tendens kritik tersirat ini juga dituturkan dengan apik oleh Saut Poltak Tampubolon. (Silahkan klik tautan ke Facebook ini untuk ngobrol langsung dengan Saut tentang buku yang dimaksud)

Ada lagu-lagu lainnya yang bisa kita periksa satu-satu dari kumpulan karya para komposer ternama di atas. Sebut saja misalnya “Sinanggar Tullo”, “Anakkonhi do Hamoraon di Au”, “Sitogol”, “Lisoi”, “Nasonang do Hita Nadua:, “Anju Ahu”, “Ndang Turpukta Hamoraon”, dan “Poda“.

Generasi Bona Pasogit versus Generasi Tiktok

Ulasan tentang Nahinali Bangkudu ini adalah buih kecil dari bukti lautan kerinduan para penikmat lagu Batak klasik. Mereka punya telinga musik yang sensitif. Mereka punya selera seni yang unik dan nalar yang tidak tega kalau musikalitas Batak tergilas begitu saja oleh kerasnya invasi selera pragmatis nan instan a la TikToker yang menggerogoti generasi muda.

Saat ini jumlah penikmat seni jenis ini mungkin belum banyak. Oleh pengguna Tiktok radikal, kelompok penikmat ini bisa jadi balas diejek dengan sebutan “jadul”, ketinggalan zaman, atau “kaku banget sih lo kayak kanebo kering“. Tidak masalah. Itu bukti demokrasi hadir di antara penikmat musik dan seni secara umum.

Meski tidak arif melabeli, tapi Saya mengusulkan untuk menyebut kelompok penikmat seni jenis ini dengan nama “generasi bona pasogit“. Nama ini kupikir cocok untuk mereka yang masih percaya bahwa ada nilai-nilai habatahon yang luhur itu masih ada, dan karenanya mesti tetap dipelihara. Siapa yang mesti menjaga? Ya, mereka yang tinggal dan hidup sebagai orang Batak, seperti gambaran ideal kita tentang bona pasogit.

Lho? Mengapa tidak gunakan saja pengelompokan berdasarkan umur: Generasi X (baby boomer), Y (milenial) dan Z (digital)? Tidak. Sebab, kulihat sendiri realitas yang terjadi. Ada old soul yang bisa kutemukan pada remaja belasan tahun. Sebaliknya ada pula orang yang sudah menjelang lanjut usia tapi masih doyan dengan lagu cover remix asal-asalan, yang penting ada terlihat tali pusar pedangdut bahenolnya. Ada juga generasi paruh baya yang demen goyang TikTok tak jelas (jangan salah, ada juga konten TikTok yang jelas dan mendidik, ini pengecualian ya).

Jelang Epilog

Tentu saja, hal ini tidak berlaku untuk keseluruhan lagu Batak yang tercipta zaman sekarang. Ini kesan umum semata, meski bukan juga generalisasi tergesa-gesa. Patut pula kita mengapresiasi para penulis lagu zaman sekarang yang hebat. Sebut saja Tongam Sirait, Willy Hutasoit (yang konon juga belajar bahkan meminjam lirik Tongam Sirait pada lagu yang melambungkan namanya), Alex Hutajulu dan nama-nama lain yang belum teridentifikasi saat ini. Nama-nama lain ini biarlah kita beri ruang lebar, sebab kita menunggu konsistensi mereka dalam proses berkesinian ini pula.

Oh iya. Selain Manahan Situmorang yang gelisah, Jarar yang menulis kegelisahannya, baru-baru ini kutemukan pula ulasan bernas oleh Panjotik Silaen.

Di konten videonya, Panjotik mencoba selangkah lebih maju. Alih-alih berkutat pada kegelisahan, ia mulai memberi edukasi tentang mengapa sebuah lagu bagus karena nilai filosofis yang terkandung di dalamnya. Dengan sederhana, ia membedah lagu “Holan Au Do Mangantusi Ho”

Satu hal positif tertangkap disini:

Generasi bona pasogit tidak bisa lagi berdiam diri sembari cemberut dan merengut kesal melihat generasi yang lebih muda lebih menyukai lagu picisan dan lirik asal-asalan. Mereka harus melakukan sesuatu.

Ada banyak faktor mengapa penurunan selera musik itu terjadi, selain dari pengaruh palsu “traffic” dan “Ad Sense” yang seolah menjadi tolok ukur sebuah lagu bagus atau tidak. Faktor utamanya ialah karena mereka tidak mengerti bahasanya.

What? Orang Batak tidak mengerti bahasa Batak? Tidak perlu heran. Itu realitas yang terjadi sekarang, disini.

Jika demikian, bagaimana mengatasinya? Kepada orang yang tidak tahu, beritahulah.

Ajarkanlah supaya mereka mengerti. Kalian yang mengaku punya selera musik bagus, ajarkanlah. Ulaslah mengapa lirik lagu Nahum itu pantas didengarkan. Tulislah bagaimana Dakka Hutagalung atau Tagor Tampubolon berusaha mempertahankan keindahan lagu Batak sembari bertahan di tengah kejamnya persaingan di industri musik nasional. Teruslah berbicara dengan anakmu perihal mengapa kamu tidak suka bergoyang TikTok, tapi masih setia mendengarkan lagu-lagu opera Tilhang Gultom. Tentu, tidak pula serta-merta melarang mereka ber-TikTok karena bisa jadi mereka akan langsung antipati.

Seperti layaknya proses pendidikan nilai pesan harus disampaikan dengan lembut, mengajarkan kearifan nilai dalam lagu Batak juga harus dengan halus pula.

Nanti, beberapa tahun kemudian, kita lihat hasilnya.


Habang binsakbinsak,
tu pandegean ni horbo
Unang hamu manginsak,
ai i dope na huboto

Facebook Comments

Lirik “Haminjon” – Swanto Holiday Feat Benny Marpaung

Sada turi – turian i
Na sian Ompui
Tu pinomparna i

Di tonga ni harangan i
Tombak na uli i
Mangolu tondi i

*
Hau na margota i
Gota na hushus i
Tonggo na uli i

Ilu ni si boru i
Boru ni raja i
Gabe pulungan i

Reff

Ujui longang do bangso i
Marnida hau namargota i
Ujui gabe do bangso i
Sahat sude akka sahala i

Mulakma hita tu bona i
Manat dohot di akka tona i


Haminjon

Lirik lagu yang baru rilis kurang dari sebulan lalu oleh Bram Records ini berkisah tentang haminjon.

Apa itu “haminjon”?

Haminjon (Batak Toba) adalah kemenyan atau Olibanum, aroma wewangian berbentuk kristal yang digunakan dalam dupa dan parfum.

Jika kamu seorang Katolik dan kerap mengikuti ibadah Misa (perayaan Ekaristi), tentu kamu tahu bahwa setiap kali ada sesi mendupai oleh sang imam maupun misdinarnya, bahan dasar yang digunakan adalah kemenyan.

Jika kamu orang Madura, khususnya yang berada di Desa Morbatoh, Kecamatan Banyuates, Kabupaten Sampang, kamu tentu tahu bahwa sejak jaman nenek moyang hingga kini ada tradisi Bakar Kemenyan dalam waktu-waktu tertentu.

Bahkan lewat cerita turun-temurun, masyarakat Tapanuli percaya kemenyan yang dihadiahkan bersama dengan emas dan mur oleh tiga orang Majus (Parsi) atau ” tiga raja dari Timur” untuk bayi yang baru saja dilahirkan oleh Maria, yakni Yeshua (ישוע), adalah kemenyan  yang dibawa dari Pelabuhan Barus, yang dulu pernah menjadi pelabuhan besar, menuju Timur Tengah, hingga ke Betlehem. Konon, selanjutnya Barus semakin ramai disinggahi oleh perahu-perahu layar antar benua sebagai pelabuhan pengekspor kemenyan dan Kamper (kapur barus).

Tiga deskripsi di atas baru nukilan kecil dari teks lengkap perihal luasnya penggunaan kemenyan dalam ritual-ritual suku-suku awal Nusantara hingga keyakinan dan agama di Indonesia modern ini. Mulai dari Sumatera, Jawa hingga Madura bukti-bukti terlihat jelas karena bahkan masih bisa kita temukan praktek penggunaannya hingga sekarang. Tak pula sebatas untuk ritual ibadah tetapi juga untuk kepentingan praktis sehari-hari, misalnya sebagai campuran tembakau untuk rokok.

Kristal kemenyan ini diolah dan diperoleh dari pohon jenis Boswellia dalam keluarga tumbuh-tumbuhan Burseraceae, Boswellia sacra (disebut juga Boswellia carteri, Boswellia thurifera, Boswellia bhaw-dajiana), Boswellia frereana dan Boswellia serrata (kemenyan India).

Terdapat 7 (tujuh) jenis kemenyan yang menghasilkan getah tetapi hanya 4 jenis yang secara umum lebih dikenal dan bernilai ekonomis yaitu Kemenyan Sumatra (Styrax benzoin), kemenyan bulu (Styrax paralleloneurus), Kemenyan Toba (Styrax sumatrana) dan Kemenyan Siam (Styrax tokinensis).

Melihat latar belakang Bram Tobing, komposer lagu ini serta lirik dan tampilan video musiknya, yang dimaksud dengan haminjon adalah Kemenyan Toba.

Mari kita bedah apa sih yang mau digambarkan lagu ini.

Bedah Lirik “Haminjon”

Kalau kita terjemahkan lepas, lirik lagu Haminjon dalam bahasa Indonesia adalah sebagai berikut.

Sada turi – turian i (ada sebuah cerita)
Na sian Ompui (yang dituturkan oleh Leluhur)
Tu pinomparna i (kepada anak cucunya)

Di tonga ni harangan i (di tengah hutan)
Tombak na uli i (hutan yang indah)
Mangolu tondi i (hiduplah Roh)

*
Hau na margota i  (disitu ada kayu yang bergetah)
Gota na hushus i (getahnya harum mewangi)
Tonggo na uli i (untuk pengiring doa yang indah pula)

Ilu ni si boru i (asalnya dari airmata seorang gadis)
Boru ni raja i (ia adalah putri raja)
Gabe pulungan i (dan air mata itu menjadi obat penawar)

Reff

Ujui longang do bangso i (kala itu orang-orang disitu heran)
Marnida hau namargota i (demi melihat kayu yang bergetah itu)
Ujui gabe do bangso i (saat itu semua warga disitu damai sejahtera)
Sahat sude akka sahala i (sebagai berkat dari para Leluhur)

Mulakma hita tu bona i (maka marilah kita pulang ke Sumber)
Manat dohot di akka tona i (sembari tetap berpegang pada Nasihat)

Terasa bahwa lirik Haminjon hendak menyampaikan sebuah pesan (value) tradisi dan kepercayaan yang dianggap luhur oleh warga setempat.

Tradisi apa itu?

Marhaminjon di Sijamapolang

Dalam tulisan yang menjadi tugas akhirnya di Universitas Sumatera Utara, Imanuel Silaban mencoba mengelaborasi latarbelakang, realitas dan nilai berkebun kemenyan (marhaminjon).

Marhaminjon menjadi mata pencaharian yang paling banyak dilakoni masyarakat Bonandolok. Selain tidak memerlukan modal yang banyak, menanam dan panen kemenyan dapat memberikan hasil yang menjanjikan dibandingkan dengan bercocok tanam tanaman muda dalam periode waktu yang lama. Disamping itu, harga kemenyan saat ini dipasaran semakin lama semakin meningkat. Tentu ini menjadi alasan lain lagi mengapa masih ada petani yang betah mansigi (menyadap) pohon kemenyan alih-alih mengalihfungsikan lahannya untuk tanaman budidaya lain atau menjualnya untuk dijadikan rumah atau industri.

Masyarakat Bonan Dolok memiliki kepercayaan terhadap mitos pohon kemenyan.  Konon pohon yang menjadi penghasil getah kemenyan dulunya adalah Boru Nangniaga, seorang wanita cantik yang tinggal bersama orang tuanya.

Dulu keluarga ini hidup serba kekurangan sehingga harus berhutang kepada orang berduit. Tidak mampu melunasi hutangnya, sang ayah pun berencana menjodohkan putrinya kepada putra orang berduit itu. Sang putri tidak mau menuruti permintaan ayahnya karena dia tidak suka pada lelaki tersebut. Kemudian dia melarikan diri ke hutan untuk menghindar. Disana dia menangis tersedu-sedu karena merasa kesepian dan menyesali sikap ayahnya kepadanya.
Tiba-tiba sang putri berubah menjadi pohon, dan air matanya berubah menjadi kepingan-kepingan berupa kristal yang baunya khas dan wangi. Keluarganya mencari wanita cantik tersebut kehutan, namun yang mereka dapati bukan lagi sosok manusia ataupun wanita, melainkan sebatang pohon yang mengeluarkan getah harum. Itulah haminjon.

Uniknya, banyak pula warga Bonandolok menyebutkan bahwa getah pohon yang menjadi haminjon itu sesungguhnya berasal dari air susu wanita cantik tersebut. Akan tetapi karena menyebutkan susu dari payudara (Bahasa Batak Toba: tarus) di lingkungan masyarakat sekitar maupun disekitar hutan kemenyan dianggap tabu, maka masyarakat setempat sendiri memperhalus bahasa tersebut, alih-alih menyebut air susu, menjadi air mata.


Kini terjawab sudah tradisi yang melatarbelakangi lirik “Haminjon”. Lantas, pesan apa yang hendak disampaikan lewat lagu tersebut?

Menurutku, pesannya jelas: Berilah kesempatan kepada anakmu untuk menentukan jodohnya sendiri. 

Jika mau diekstrapolasi, pesannya bisa meluas. Yakni supaya setiap orangtua memberikan kesempatan kepada anak yang sudah dewasa untuk menentukan pilihan hidupnya sendiri, entah dalam hal jodoh, karir, ideologi dan lain-lain. Ini saatnya generasi senior untuk mendidik dan memberikan pengertian kepada junior, bukan malah memaksa.

Cukuplah Siti Nurbaya yang mengalami pahitnya dunia akibat tunduk pada tradisi harus menghormati orangtua yang keputusannya tidak boleh dibantah. Cukuplah perempuan-perempuan mengalami derita akibat dipaksa menikahi pemuda sebagai tebusan untuk hutang, seolah-olah mereka adalah komoditas yang dapat dijadaikan nilai tukar layaknya uang.

Dengan demikian, “Haminjon” menambah perbendaharan kita untuk lagu yang mengusung kritik sosial terhadap perjodohan yang dipaksakan. Sebelumnya sudah ada “Cukup Siti Nurbaya” yang dinyanyikan dengan berani oleh Ari Lasso kala masih di Dewa 19.


Catatan Kritis:

Ada apa dengan huruf “i”?

Mengapa banyak sekali huruf i pada setiap akhir frasa di lirik “Haminjon”?

Benar bahwa “i” (Toba) berarti “itu“, it (English, kata ganti orang ketiga) dan karenanya komposer bisa berargumen bahwa banjirnya penggunaan kata “i” tujuannya jelas: untuk menyampaikan kepada pendengar bahwa latarbelakang tradisi lisan yang mau dikritisi itu spesifik, yakni Boru Nangniaga dalam folklore masyarakat Batak. Oke. Tapi apakah memang tidak ada metode lain untuk mencapai tujuan yang sama?

Kupikir masih ada sekian alternatif untuk menjadikan nilai dan filosofi tadi tetap tersampaikan sembari tetap menjunjung tinggi keindahan sastra dalam lagu. Olah kata dan diksi adalah pekerjaan seorang penulis lagu juga. Tentu selain repotnya mengerjakan musikalitas, merancang video klip, termasuk tektokan soal publisitas dan hal lainnya. Ini masukan saja.

Dari segi genre yang dipilih, “Haminjon” menambah daftar lagu bernuansa rock dengan lirik tradisional. Usungan subgenre metal rock a la band AC DC dan Metallica terasa sejak awal lagu. Petikan gitarnya sangar, dengan sedikit bantuan edit vokal seperti efek helium di penggalan vokal yang gahar membuatnya terdengar seperti lagu “Siksik Sibatu Manikkam” oleh Donald Black (saat mengisi mikrophone Djamrud setelah sempat ditinggal Krisyanto).

Perpindahan tonal dari musik intro ke vokal sangat kreatif, mirip dengan yang dilakukan Vicky Sianipar untuk lagu “Sinanggar Tullo”

Belum lagi dentuman double beat pada drum yang mengingatkanmu pada “Pangeran Cinta”, jika kamu adalah seorang Baladewa.

Singkatnya, “Haminjon” menjadi satu lagi lagu yang patut kamu masukkan di playlist Youtube atau Spotify-mu.


Catatan Akhir

Satu hal positif jelas terlihat:

Semakin banyak generasi muda melihat potensi melimpah dari tradisi lokal untuk dikemas ulang sehingga mengena dengan selera pasar kekinian.

Ini, tentu saja, menambah daftar pemusik dengan visi yang kurang lebih sama, sebut saja Rimanda Sinaga dengan “Pos Ma Roham da Inang” atau Plato Ginting dengan “Mejuah-juah Pal”

 

 

 

Facebook Comments

Luxury is in Simplicity

Apa godaan terbesar ketika berbicara? Berbicara dengan istilah yang rumit. Jika perlu dengan meminjam kata dari bahasa asing. Ekstremnya, sebisa mungkin sampai pendengar takjub karena bingung apa yang disampaikannya. Tujuannya untuk menciptakan sense of authority. Ibarat mau pamer ke penonton talkshow: “Ini loh. Kalian mesti tau, untuk topik ini, gue yang paling ahli dibanding lawan bicara gue ini”. Apakah pendengar memahami atau setidaknya bisa mengikuti alur pembicaraan, itu persoalan lain.

Apa godaan terbesar ketika menulis? Mirip dengan berbicara tadi. Menggunakan banyak kutipan terpercaya dari sumber yang sebisa mungkin susah diakses oleh pembaca. Tujuannya sama, sense of authority. Jika perlu ditambahi dengan istilah yang tak lazim. Ibarat mau pamer ke pembaca berita: “Ini loh. Kalian mesti tau, untuk tema ini, gue yang paling ahli dibanding penulis lain”. Apakah pembaca memahami atau setidaknya bisa mengikuti alur pikiran penulis, itu persoalan lain.

Apa godaan terbesar ketika berkesenian? Eh, sebentar. Kata “berkesenian” ini tampaknya biasa. Tapi kok susah mengartikannya ya. Gini. Berkesenian berarti mengikuti kaidah membuat karya seni, memahami tujuan dan dampaknya bagi penikmat karya, termasuk dirinya sendiri yang ikut terlahir kembali bersama terbitnya sang karya. Njelimet ya.

Apa godaan terbesar ketika hendak mencipta lagu? Mengakomodasi semua teori musik yang pernah dipelajari. Sebisa mungkin memuat banyak liukan interval akor, progresi, modulasi. Jika perlu, gabungkan semua jenis tangganada yang pernah dikenal manusia, termasuk yang mengabaikan nada dasar seperti yang dilakukan komposer zaman Romantik Pierrot Lunaire dengan komposisi atonalnya. Kalau masih bisa, tumpahkan semua elemen sinestesia dan bablas dalam mengartikan licentia poetica saat mencipta liriknya. Apakah pendengar bisa menikmati alunan nadanya? Itu soal lain. Apakah begitu mendengarnya seorang penikmat lagu langsung bisa merasakan motif lagu tersebut? Ora urus.

Alhasil, tidak ada pendengar yang tertarik dengan omongannya. Podcast atau konten Youtube edisi berikutnya akan sepi view. Tidak ada pembaca yang akan kembali melirik tulisannya apalagi berniat membeli bukunya. Tidak ada pendengar yang akan setia menunggu lagu berikutnya dari si pencipta lagu.

Lalu ketiga jenis seniman tadi pun heran. Kecewa karena menurut mereka, konsumen kurang mengapresiasi karya yang sudah dengan susah-payak mereka ciptakan. Ibarat pedagang: lapaknya rame saat grand opening, tetapi hari-hari berikutnya tak satupun pembeli datang.

Apa yang salah?


Suhunan Situmorang, seorang pengacar dan penulis lepas yang rutin mengisi dinding Facebook-nya dengan opini ringan namun mengena, pernah menulis begini (saya kutip seperlunya):

Sadarilah.

Mari tulis kisah dan pengalaman sehari-hari, juga alam sekitar, tradisi masyarakat, atau ketika tinggal di desa. Situasi kotamu kini pun menarik ditulis, termasuk perubahan-perubahan dalam pelbagai hal.

Kehidupan di medsos tak melulu bicara topik dan isu yang keras, sayangi otak dan jiwa yang juga butuh senyum dan tawa lepas. Ceritakanlah kenangan atau pengalaman yang membekas, atau harap yang tak terbatas. Cita dan impian perlu dirancang, setidaknya untuk menambah semangat melakoni kehidupan–kendati kemudian tak sama dengan realitas. Alangkah lelah membicarakan hal-hal yang tak terjangkau diri, sementara ada banyak kewajiban yang butuh enerji.

Kisahkanlah desa atau kotamu, atau pengalaman lucu. Tulislah dengan semangat berbagi cerita, niscaya pembaca menemukan yang berharga, kendati tak diucapkan secara terbuka. Tulislah cerita dan puisi, potretlah panorama dan suasana di suatu kampung atau sudut kota. Tampilkan dengan narasi bertutur. Alangkah menarik bagi yang berpikiran luas.

Berceritalah, memotretlah, atau bagikan resep-resep masakan, cara menanam dan merawat tanaman, atau tips supaya awet muda.

Bernyanyilah bagi yang suka, bercandalah untuk membuat pembaca tertawa.


Fiksimini tentang tiga pekerja seni diatas ditambah tulisan singkat Suhunan tadi mengajak kita untuk kembali ke prinsip dasar komunikasi, yakni: Apa yang sampai ke penikmat (baca: pembaca, pendengar) itulah yang penting.

Bukan soal seberapa banyak terminologi yang dimiliki seorang pembicara, tetapi apakah pendengar memahami apa yang dibicarakan. Bukan soal seberapa rumit penjelasan yang disampaikan penulis, tetapi apakah pembaca mengerti gagasannya. Bukan soal seberapa tinggi ilmu dan musikalitas si pencipta lagu, tetapi apakah lagu tersebut benar-benar mengena di telinga penikmatnya. Itulah yang penting.

Kunci untuk membuat sebuah karya mengena dengan penikmatnya adalah sentuhan emosional atau afeksi. Meminjam lirik lagu Ari Lasso, “sentuhlah dia tepat di hatinya“, sentuhlah penikmat karyamu dengan sesuatu yang bisa mereka rasakan. Sesuatu yang dekat dengan kehidupan, mimpi dan kesedihan mereka. Bahasa kerennya: sesuatu yang relevan dan relatable.

Jika pembaca membaca tulisanmu lalu menggumam dalam hati, “ini kok persis kayak yang aku alami ya”, itulah sukses. Jika seorang netizen mengunjungi lagu yang baru kau rilis di kanal Youtube-mu lalu memberi komentar “Sedih banget lagunya, Min, kayak kisahku”, itulah sukses.

Tampaknya inilah yang perlahan semakin disadari teman Saya, seorang pemusik dari Sumatera Utara yang merantau ke Jogja. Rimanda Sinaga namanya. Baru-baru ini kami ngobrol.  Di akhir percakapan kami yang berjam-jam itu, dia bilang: Lagu yang bagus itu lagu yang sederhana. Sebuah lagu yang begitu didengar, para penyanyi trio di lapo tuak bisa serta-merta mengambil gitar dan menyanyikan suara 1, 2 dan 3. Sebuah lagu yang begitu selesai didengar di HP, orang bisa membuat versi Karaoke-nya sambil mengguyur tubuh atau berkumur-kumur di kamar mandi.

That’s it. Luxury is in simplicity. Kemewahan yang sebenarnya terletak pada kesederhanaan.

Oh iya. Ada lagunya yang menurutku cukup bagus. Latarnya sangat personal karena diangkat dari kisah pribadinya sendiri, yakni momen ketika ditinggal oleh ayah tercinta. Beberapa orang merasa relevant dan relate pula dengan lagu itu. Bahkan ada yang menyanyikannya di acara keluarga. Barangkali lirik hasil kolaborasi Rimanda Sinaga dan Subandri Simbolon menyentuh mereka.

Sedikit catatan kritis: Dalam taksonomi ende Batak Toba, liriknya masuk ke kategori ende andung (lagu ratapan). Jika hendak diletakkan sejajar dengan andung Batak lainnya, lagu ini butuh penyederhanaan di bagian tertentu, dan polesan di bagian lain.

Judul lagu itu “Posma Roham Dainang”. Ini lirik dan video Youtube-nya. Cekidot.


POS MA ROHAM DAINANG

Tingki parro ni bot ni ari

Hundul Dainang, huhut malungun

Mancai borat do di rohana

Dung borhat Damang

tu haroburan i

 

Uli pe sinondang ni bulan

Mambahen roha, sonang humaliang

Alai Dainang sai mardok ni roha

Boha bahenon pasonang roha na i

 

Reff:

Posma roham ale Inong na burju

Nungnga tung sonang sohariburan i

Damang di siamun ni Tuhan i

Sai tagogoi ma lao martangiang

Bereng ma hami angka gellengmon

Na sai tontong manghaholongi ho

Unang be sai tartundu malungun

Naro do angka ari na uli i

 

Nama para kru yang terlibat tercantum di video.

Konon, selain aku, banyak pula yang masih masih menunggu karyanya yang berikutnya setelah dia mengalami pencerahan (enlightenment) ini.

Facebook Comments

Penulisan Skenario: Menciptakan Karakter (bagian 2)

Pada ulasan sebelumnya kita sudah belajar tentang betapa kompleksnya perumusan karakter dari seorang tokoh. (Kalau dibilang rumit, memang rumit. Siapa bilang jadi penulis skenario itu gampang?).

Sekedar mengingatkan, ada 3 fase karakter: Sejak lahir, ketika menjalani hidupnya, dan saat film dimulai. Semua fase  ini tentu menghasilkan banyak detail, data dan deskripsi yang sudah ada di kepala kita sebagai penulis. Pertanyaannya, semua ini tujuannya untuk apa? Apa hubungannya dengan si tokoh nanti ketika memainkan lakon/perannya dalam film?

Aspek Karakter

Hubungannya adalah untuk menjembatani premis dengan plot (alur cerita). Jembatan yang dimaksud adalah pemetaan atas empat aspek karakter, yakni kekuatan (strength), kelemahan (weakness), keinginan (wants) dan kebutuhan (needs).

Darimana kita mengetahui keempat aspek ini? Tentu saja dari ketiga fase karakter, terutama di fase ketiga (yaitu karakter saat film dimulai). Caranya: dengan memfokuskan setiap keterangan yang kita dapat dari fase-fase karakter menjadi rumusan yang menggambarkan kepribadian si karakter.

Kata kunci ‘memfokuskan’ disini penting sebab tidak semua keterangan pada fase karakter langsung menentukan aspeknya. Misalnya: Karakter atau tokoh utama pada cerita film yang kita rancang adalah seorang bernama Agnes dengan atribut 1) wanita, 2) berusia 17 tahun, 3) pernah jatuh cinta dengan teman sekelasnya, dan 4) berambut panjang. Keempat atribut ini adalah fase karakter pada saat lahir dan saat menjalani kehidupannya. Atribut 1) sampai 3) barangkali turut menggambarkan kepribadiannya, tetapi tidak dengan atribut 4) yakni “rambut panjang” . Karena itulah kita perlu memfokuskan mana keterangan fase karakter yang akan kita buat sangat mempengaruhi kepribadian si karakter, dan mana yang tidak.

Kita akan coba melakukan analisa pada film Cek Toko Sebelah dengan dua tokoh utamanya adalah Ko Afuk (pemilik toko) dan Erwin (putra kedua Ko Afuk).

 

Strength (Kekuatan)

Kekuatan adalah kualitas baik dari karakter yang disukai penonton. Ini kepribadian karakter yang biasanya dominan lebih cepat nempel di ingatan penonton.

Strength Koh Afuk adalah pemilik toko yang baik hati. Dia perhatian terhadap pegawainya. Dia juga ramah dengan pelanggannya, bahkan sampai sering memberi utangan. Selain itu, dia juga tidak pelit membantu karyawannya yang kesulitan keuangan.

Sementara itu, strength Erwin adalah pintar, karirnya sukses, pekerja keras dan sangat menguasai teknologi.

Dari sini, kita tahu bahwa kualitas baik atau strength ini bisa banyak, bisa juga hanya satu. Kerap kualitas itu sederhana. Yang penting, penonton bisa merasakan dan mengingat kualitas baik apa yang membuat seorang karakter unggul.

 

Weakness (Kelemahan)

Weakness (kelemahan) adalah kebalikan dari strength tadi. Inilah kualitas yang membuat seorang karakter dinilai tidak unggul atau jadi tidak disukai oleh penonton.

Pada Cek Toko Sebelah, kelemahan Ko Afuk adalah pilih kasih terhadap anak-anaknya. Karena ia melihat anaknya si Erwin lebih pintar dan rajin belajar, ia lebih memilih Erwin dibandingkan anak sulungnya Johan yang tidak teratur hidupnya, begajulan, belum jelas karirnya, dan jangan lupa juga pengaruh ketidaksukaan Ko Afuk pada wanita pilihan Johan.

Sama seperti strength, kualitas tidak baik atau yang tidak disukai ini bisa ini bisa banyak, bisa juga hanya satu. Kerap kualitas itu juga ditampilkan sekilas saja. Yang penting, penonton bisa merasakan dan mengingat kelemahan karakter itu.

Sampai disini, mungkin kita belum secara jelas melihat bagaimana aspek karakter menentukan plot. Akan semakin jelas ketika kita membahas dua aspek lagi, yaitu keinginan dan kebutuhan karakter.

 

Wants (keinginan)

Wants adalah aspek karakter yang membantu penulis dan penonton untuk merumuskan plot atau alur cerita film, terutama dalam hal menajamkan konflik (dari sisi penulis) atau menangkap konflik (dari sisi penonton).

Dalam Cek Toko Sebelah, konflik terjadi karena keinginan Ko Afuk berbeda dengan keinginan Erwin. Ko Afuk ingin mewariskan tokonya kepada Erwin karena melihat sifat Erwin yang baik, percaya diri, pintar dan kuliah di luar negeri. Tetapi Erwin ingin mempertahankan pekerjaannya sebagai direktur di sebuah perusahaan MNC (multinational company) yang bergaji besar, banyak remunisi dan fasilitas lainnya. Erwin masih ingin mengejar karirnya ke jenjang yang lebih tinggi. Seperti yang bisa kita tebak, konflik terjadi. Konflik timbul karena keinginan kedua tokoh utama ini tidak bersambung.

Pada tahap ini, sebagai penulis skenario juga kita harus memfokuskan lagi. Sebab setiap tokoh/karakter bisa saja memiliki beberapa keinginan. Tetapi yang kita fokuskan adalah keinginan-keinginan mana dari tokoh-tokoh utama yang menggerakkan jalannya cerita.  (Pada saat proses penulisan skenario sedang berjalan, kerap penulis lupa dengan prinsip ‘memfokuskan’ ini karena lupa mencatatnya dan menuangkannya ke dalam kerangka cerita/sinopsis/outline).

 

Needs (Kebutuhan)

Kebutuhan ini sifatnya lebih filosofis. Ini bagian paling rumit. Perumusan terhadap needs inilah yang biasanya akan membedakan mana screenwriter/penulis naskah yang sudah berpengalaman dan mana yang baru pemula.

Kebutuhan yang dimaksud disini adalah kebutuhan yang sangat mendalam pada diri seorang karakter, terutama karakter/tokoh utama.

Dari skala hierarki kebutuhan (hierarchy of needs) yang ditulis oleh filsuf Abraham Maslow, ada 5 perangkat kebutuhan dasar manusia, yakni sebagai berikut.

  1.  Phsycological need (kebutuhan psikis)
  2.  Safety needs (kebutuhan akan rasa aman)
  3. Love needs (kebutuhan akan cinta)
  4. Esteem needs  (kebutuhan akan pengakuan/penghargaan)
  5. Self-actualization needs (kebutuhan akan pengaktualisasian diri)

Mengapa aspek kebutuhan ini lebih sulit dirumuskan karena memang tidak terlihat jika hanya sekilas oleh penonton. Jika alur cerita film kita ibaratkan sebagai pohon, maka wants-nya adalah daun dan cabang (penonton secara umum bisa melihat). Sementara needs-nya adalah akar pohon (yang tidak bisa dilihat oleh penonton, kecuali penonton menggali lebih lanjut atau menganalisis film tersebut secara serius setelah menontonnya). Analogi atau perumpaan ini sangat tepat sebab tanpa akar, jangankan berakar dan bercabang, sebatang pohon tidak bisa hidup. Tanpa need yang dirumuskan dengan jelas oleh penulis naskah, jangankan menjadi menarik, film tidak akan memiliki alur cerita yang jelas (sehingga membingungkan penonton).

Masih menggunakan contoh Cek Toko Sebelah, Ernest Prakasa, sang sutradara dan penulis cerita menyampaikan bahwa needs Ko Afuk (tokoh utama) adalah ingin memiliki sebuah legacy. Ia ingin mewariskan sesuatu yang berarti dan bisa dikenang terus oleh anaknya dan cucu-cucunya kelak.

Film Cek Toko Sebelah menjadi menarik karena ternyata di akhir cerita, keinginan Ko Afuk ingin mewariskan toko kepada Erwin tidak terjadi. Bahkan, tokonya tidak ada lagi. Sudah berganti menjadi studio foto, yang dikelola oleh John dan pacarnya. Kendati keinginan Ko Afuk tidak terjadi, tetapi jalan cerita film masih masuk akal dan konsisten. Mengapa? Karena masih sesuai dengan needs Ko Afuk, yakni ingin mewariskan apa yang ia miliki kepada anak-anak dan cucu-cucunya kelak. Wants tidak tercapai tetapi needs Ko Afuk tetap tercapai. Maka, kita bisa simpulkan bahwa Cek Toko Sebelah akhirnya berakhir bahagia (happy ending).

Penonton akhirnya sampai ke pada akhir cerita. Kemungkinan besar, itu pula yang paling diingat penonton dibandingkan semua atribut pada fase karakter (ada 3 fase) dan aspek karakter (ada 4 aspek). Akan tetapi, bagi penulis, adalah tugasnya untuk memetakan dan mematangkan fase karakter dan aspek karakter, karena hanya dengan cara itulah ia bisa menyajikan cerita dari awal sampai akhir kepada penonton.


Sebagai penulis, kita harus menempatkan diri berbeda dengan perspektif yang dimiliki penonton. Penonton menangkap atribut sebuah karakter, penulis yang merumuskan dan menyediakannya. Penonton mengetahui kekuatan, kelemahan, keinginan dan kebutuhan si tokoh utama; penulislah yang bertugas merumuskan dan menyediakan konsepnya secara utuh, jelas dan playable (dapat dilakonkan, dapat dimainkan).

Unsur terakhir dari konsep naskah skenario ini sangat penting. Inilah yang membedakan karya tulisan berupa naskah skenario film sangat berbeda dengan sebuah novel/cerpen atau kisah fiksi lainnya. Pergantian dialog sangat teratur pada novel/cerpen, sementara pada skenario film sering terjadi interseksi (saling memotong) pembicaraan, sebab begitulah biasanya sebuah percakapan yang alami dan natural terjadi. Pada ajang apresiasi kepada penulis skenario pun ada dua kriteria, yakni naskah skenario terbaik dan naskah skenario hasil adaptasi terbaik (sudah Saya ulas pula di blog ini).

Facebook Comments

Mengapa Orang Tolol Sering Menjadi Bos (di Indonesia)*

Lagi dan lagi, saya mengalami ini. Kembali saya harus menerima keadaan, bahwa saya dipimpin oleh orang tolol. Orang tolol adalah orang yang bertindak tidak dengan kejernihan, tetapi dengan emosi dan pikiran pendek. Ia cenderung egois, dan tak segan-segan mengorbankan orang lain, selama kepentingannya terpenuhi.

Setelah berbincang dengan beberapa teman, hal ini tak hanya terjadi pada diri saya. Mereka pun pernah, dan bahkan sedang, mengalaminya. Apa yang terjadi? Mengapa, di Indonesia, orang tolol sering menjadi bos?

Mengapa?

Ada lima hal yang bisa dipertimbangkan. Pertama, budaya jilat pantat sudah menjadi budaya umum di Indonesia. Orang naik jabatan, bukan karena kemampuan, tetapi karena pandai menjilat atasan. Hasilnya, banyak orang memegang posisi pemimpin, walaupun tak memiliki kemampuan yang memadai.

Ini terkait dengan sebab kedua, yakni para atasan yang tidak jernih memahami keadaan. Kerap kali, mereka sebelumnya adalah pekerja yang penjilat pantat. Karena berulang, tindakan busuk ini telah menjadi budaya. Pada akhirnya, seluruh sistem akan ambruk, karena diisi dengan orang-orang yang tidak memiliki kemampuan yang diperlukan.

Ketiga, secara keseluruhan, inilah yang disebut sebagai budaya feodalisme. Beberapa orang merasa, bahwa mereka memiliki derajat lebih tinggi. Lalu, mereka menuntut, supaya orang lain menyembah dan melayani mereka. Inilah akar dari budaya menjilat pantat yang dengan mudah ditemukan di banyak organisasi maupun institusi politik di Indonesia.

Keempat, budaya feodal ini tidak turun dari langit. Ini adalah warisan budaya yang tak pernah sungguh ditanggapi secara kritis. Para penjajah, mulai dari Belanda, Inggris, Portugis sampai Jepang, memanfaatkannya untuk memecah belah, dan menindas seluruh nusantara. Ketika masyarakat dipimpin oleh para penjilat pantat dan orang gila hormat, masyarakat itu akan lemah, serta mudah dikuasai.

Kelima, budaya feodal terus bertahan, karena lemahnya sikap kritis di Indonesia. Ini tentunya terkait dengan mutu pendidikan yang tak banyak berkembang sejak jaman penjajahan Belanda. Budaya patuh buta dan menghafal terus dikembangkan, tak peduli siapa presiden atau menteri yang berkuasa. Tampaknya, bangsa kita sengaja diperbodoh dan dipermiskin, sehingga tetap hidup dalam permusuhan satu sama lain, dan siap ditipu oleh bangsa asing.

Kita harus sungguh sadar, bahwa budaya jilat pantat dan feodal ini akan menghancurkan bangsa kita. Kita akan hidup dalam kesenjangan ekonomi yang amat besar antara si kaya dan si miskin. Kita tetap akan saling bermusuhan satu sama lain, karena kerap diadu domba soal agama. Disinilah arti penting sikap kritis.

Perubahan Budaya

Memang, mengubah budaya dan kebiasaan, apalagi yang sudah mengendap di dalam masyarakat, amatlah sulit. Namun, itu sangat bisa terjadi. Banyak contoh yang bisa dideret, mulai dari perubahan budaya di organisasi, perusahaan sampai dengan perubahan budaya sebuah bangsa. Tiga hal kiranya penting menjadi perhatian.

Pertama, sikap kritis jelaslah harus menjadi ujung tombak pendidikan maupun pola asuh masyarakat. Sikap kritis bahkan sudah menjadi salah satu keterampilan utama masyarakat abad 21. Tradisi tentu perlu dihargai, namun harus terus ditanggapi secara kritis. Kebodohan tidak bisa terus menerus bersembunyi di balik nama tradisi dan ajaran agama yang harus dipatuhi secara buta.

Sikap kritis mengajak manusia untuk tak gampang percaya. Ia mengajarkan orang untuk lolos dari tipu muslihat yang kerap kali berbungkus kesucian. Daya nalarnya berkembang. Keputusan-keputusannya pun semakin mendekati akal sehat dan kebijaksanaan.

Dua, ketidakadilan memang menjadi bagian dari hidup sehari-hari. Namun, sikap diam dan tak peduli justru akan memperparah keadaan. Ketika ketidakadilan terjadi, orang harus bersuara lantang. Perubahan sosial hanya bisa terjadi dengan cara ini.

Tiga, seperti terus diingatkan oleh Noam Chomsky, pemikir asal Amerika Serikat, perubahan budaya hanya dapat terjadi melalui gerakan sosial yang konsisten dan teroganisir. Budaya jilat pantat dan feodalisme juga hanya dapat lenyap dengan gerakan sosial yang kuat. Perubahan yang cepat dan mendasar tentu sulit dicapai. Kerap kali, gerakan sosial adalah gerakan lintas generasi, sehingga tindakan sekarang baru bisa dinikmati buahnya di generasi mendatang.

Semoga saya tidak bermimpi di siang bolong. Indonesia memilih orang-orang yang punya integritas dan berkemampuan tinggi untuk memimpin. Setiap bidang kehidupan berkembang pesat, sehingga cita-cita keadilan dan kemakmuran untuk semua mulai terjangkau. Bukankah ini alasan kita semua mendirikan dan mempertahankan Indonesia? Jika tidak, lalu buat apa negara ini ada?


*(Repost dari tulisan Reza A.A Wattimena di Rumah Filsafat)

Facebook Comments

Sosok Ribka Tjiptaning di Mata Suhunan Situmorang

Dr. Ribka Tjiptaning Proletariyati

(Suhunan, seorang penulis yang cukup aktif menguraikan gambaran Rikba Tjiptaning di dinding Facebook. Untukku, tulisan ini menarik dan padat. Berikut repost-nya.)


Ning.

Nama lengkapnya, Ribka Tjiptaning Proletaryati. Nama yang tak jamak bagi masyarakat Indonesia umumnya. Ia berdarah Jawa, kedua orangtuanya bukan orang sembarang: berdarah biru (bangsawan) dari dua kesultanan Jawa, Solo dan Yogjakarta.

Ayahnya, Raden Mas Soeripto Tjondro Saputro, masuk trah keluarga besar Kasunanan Keraton Pakubuwono (Solo). Ibunya, Bandoro Raden Ayu Lastri Suyati, keturunan keluarga besar Kesultanan Yogjakarta.

Ning, demikian ia biasa dipanggil oleh orang-orang dekatnya, lahir 1 Juli 1959 di Solo (tetapi ada juga yang menulis Yogjakarta). Kisah hidupnya bak sebuah roman yang layak difilmkan. Kisah yang sarat penderitaan, perjuangan, ironi dan tragedi, keberhasilan, juga kontroversi.

Sebelum Peristiwa G 30 S/Gestok, 1965, meletus, ayahnya dihormati umumnya warga Solo. Seorang pengusaha sukses, usahanya pabrik paku dengan lima pabrik dan produksi pakunya laku di berbagai kota dan desa sekitar Jawa Tengah.

Peristiwa terkelam dalam sejarah Indonesia modern itu, sekejap saja memporakporandakan kehidupan RM Soeripto Tjondro Saputro dan istri anaknya. Tak lama kemudian, ia diciduk tentara dan dibawa ke Jakarta. Ia anggota Biro Khusus Partai Komunis Indonesia (PKI) yang masa itu termasuk partai politik besar beranggotakan 30 jutaan orang.

Ibunya Ribka (atau Ning) yang juga ningrat itu pun kemudian ditangkap militer, diinterogasi beberapa hari, sebelum dilepas. Saat itu ia tengah hamil anak kelima, Ning anak ketiga dari lima bersaudara, saat itu masih anak TK. (Usia enam tahun).

Ibunya kemudian membawa anak-anaknya ke Jakarta. (Dalam wawancara dengan satu media besar, dikatakan Ning, koper mereka dicuri di stasiun Gambir sesaat setelah turun dari keretaapi yang membawa mereka dari Solo).
Mereka menumpang tinggal sementara di rumah seorang kerabat yang sudi menolong, berumah di wilayah Pondok Gede, Jakarta Timur. Tetapi, ibunya kemudian dijemput tentara. Ning dan satu adiknya tinggal di rumah paman itu, tak ikut ibunya. Kedua bocah cilik itu sering menangis karena kangen ibu dan ayah mereka.

Suatu hari, karena kangen ibunya, Ning dan adiknya nekat berjalan kaki dari wilayah Pondok Gede yang saat itu masih sepi ke terminal bus Cililitan; perjalanan yang cukup jauh dengan jalan kaki, apalagi bagi anak kecil, menelusuri Jalan Raya Bogor-Kramatjati-Cililitan. Modal mereka lima buah salak yang dimakan saat lapar. Syukurlah, ada seseorang yang mengenali mereka, lalu dibawa ke rumahnya.

Ning akhirnya bisa bertemu ibunya. Mereka kemudian tinggal di satu bedeng dekat kandang sapi di wilayah Cawang, Jakarta Timur. Mereka diberi tumpangan oleh seorang kenalan ayahnya yang kasihan melihat mereka. Dalam kondisi yang sangat sulit dan tetap diawasi tentara, ibu dan keempat saudaranya menjalani hari demi hari penuh derita. Uang tak ada, makanan tak bisa dibeli. Mereka sering kelaparan.

Suatu hari, Ning dan adiknya dibawa paksa tentara ke wilayah Kebayoran Lama untuk melihat ayah mereka. Ternyata, di sebuah rumah di Gang Buntu, ayahnya tengah disiksa. Tubuh ayahnya berlumur darah, digantung dengan kaki ke atas, kepala ke bawah. Ning dan adiknya sontak menangis.

Peristiwa tersebut sungguh tak mudah mereka lupakan, dan barangkali hanya bisa dihapuskan bila masa mereka di dunia ini telah selesai. Belasan tahun ditindih penderitaan, sungguh tak mudah. Kesulitan hidup seakan tak ada kata usai mendera mereka. Demi makanan dan supaya bisa bersekolah, apa saja dilakukan ibunya. Hidup mereka amat susah, tetapi Ning dan kakak adiknya tetap ingin sekolah. Pekerjaan apa saja dilakukan Ning, termasuk jadi kondektur bus jurusan Blok M-Cililitan. Suatu pekerjaan yang tak lazim bagi gadis remaja.
Ning dan saudara-saudara kandungnya tumbuh berkembang dengan tindihan derita. Rezim Orde Baru tiada ampun menghukum orang-orang PKI dan keturunan mereka.

Tentu saja bagi anak seperti Ning yang saat peristiwa berawal masih anak TK, sangat sulit memahami mengapa mereka harus mengalami semua itu. Ia tak paham kenapa ayahnya yang berstatus ningrat dan pengusaha sukses harus disiksa dan dipisahkan dari istri dan anak-anak yang amat membutuhkan.
Bisa dibayangkan betapa berat bagi ibunya menyediakan nafkah sekaligus melindungi anak-anaknya. Ia berdagang kue-kue dan kemudian bergiat di satu gereja.

Ning tumbuh di tengah situasi dan lingkungan yang amat keras, tak boleh lembek apalagi bermanja-manja. Hidup harus dilanjutkan kendati dihimpit segala jenis kesulitan.

Tamat SMP, 1974, ia masuk SMA 14, Cawang, Jakarta Timur, lulus 1977 (saya lulus dari SMA yang termasuk favorit ini, 1979). Kemudian dia “nekat” kuliah di FK UKI (Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia) yang juga berlokasi di Cawang. Biaya kuliahnya yang tak murah itu dia upayakan sendiri.

Ning termasuk lama menamatkan sekolah dokternya, 1992, sangat mungkin terhambat biaya kuliah. Setelah dapat izin praktik dokter, ia buka klinik sederhana di daerah Cileduk. Ning kemudian berteman dengan kalangan aktivis yang menentang Rezim Orde Baru.

Ia mulai tertarik politik meski pemerintah membatasi ruang gerak orang seperti dirinya: keturunan PKI, tidak bersih lingkungan. Walau tidak menonjol sebagai kader, dia pilih PDI (Partai Demokrasi Indonesia, cikal bakal PDIP). Dia tahu diri, posisinya yang tidak bersih lingkungan, tak memungkinnya aktif berpolitik.
Perjalanan waktu kemudian membuatnya kenal dan dekat ke Puan Maharani dan juga Taufik Kiemas-Megawati Soekarnoputri.

Meski dianggap “orang terlarang”, Mega dan Taufik tentu tahu latar belakang Ning, keturunan bangsawan Keraton Solo dan Yogja, ayahnya seorang terhormat pula, ningrat pengusaha yang dalam hitungan hari dihancurkan sebuah peristiwa yang disebut pemerintahan Soeharto, “Pemberontakan 30 September PKI.”

Peristiwa Reformasi 1998, menjadi momen yang amat penting bagi Ning, apalagi sejak Gus Dur terpilih sebagai Presiden RI. Ia dekati tokoh NU yang moderat dan pembela HAM itu. Gus Dur pula yang mendukungnya menulis buku: Aku Bangga Jadi Anaknya PKI. Buku yang dianggap berani dan kontroversial–meski Rezim Soeharto telah redup.

Ning tak salah membanggakan ayahnya, tentu. Baginya, lelaki ningrat yang dahulu amat dihormati orang Solo itu sosok yang tak tergantikan baginya; meski akhir hidupnya amat tragis dan Ning serta adiknya pernah dipaksa militer menyaksikan lelaki yang mereka rindukan itu digantung dan disiksa; dan dari hidung, kuping, mata, mengucur darah.

Pastilah ia menyimpan amarah, apalagi belasan tahun hidup sengsara, berpindah-pindah rumah dan sejak kecil melakukan apa pun yang bisa menghasilkan sedikit uang.

Ning yang kemudian jadi politisi PDIP dan (bisa) terpilih dua kali jadi anggota DPR, sering mengaku seorang Soekarnois. Tetapi statusnya sebagai keturunan anggota biro khusus PKI, kerap dijadikan lawan politik untuk mendiskreditken parpol berlambang moncong (banteng) putih itu.

(Dalam hal ini saya salut ke Taufik Kiemas dan Megawati, tak ragu memajukan Ning sebagai kader PDIP, meski berisiko dinilai negatif oleh yang antipati atau yang tak cukup paham histori politik pra dan pasca Orde Baru).

Karir Ning melejit di PDIP, pernah dipilih jadi Ketua Komisi IX di DPR, 2009-2014, membidangi tenaga kerja, transmigrasi dan kesehatan. Tetapi, di masanya ketua komisilah pernah terjadi kegemparan karena kasus hilangnya Ayat (2) Pasal 113 Rancangan Undang-Undang Kesehatan yang disetujui Rapat Paripurna DPR, 14 September 2009. Ning dituduh aktor yang menghilangkan pasal mengenai tembakau dan zat adiktif. Meski namanya sempat tercoreng, ternyata dalam Pileg 2014, kembali ia berhasil mengumpulkan suara dari Dapil Jabar IV. Hasil itulah yang membuatnya kembali menduduki kursi DPR.

Sempat diisukan, dia akan menjabat Menteri Kesehatan saat Jokowi memenangkan Pilpres 2014. Konon, ketakjadiannya diangkat Menkes karena IDI (Ikatan Dokter Indonesia) menolak dan juga dari petisi online. Ia termasuk anggota DPR yang vokal, pernah menyuarakan ketidaksetujuan kenaikkan iuran peserta BPJS Kesehatan yang diputuskan pemerintah. Dia minta kenaikkan iuran tersebut dibatalkan karena membebani rakyat, apalagi saat pandemi Covid-19.

Saya tak kenal Ribka Tjiptaning atau Ning. Kebetulan saja saya juniornya di SMA 14 Jakarta dan kemudian sama kampus walau berbeda fakultas. Saya mulai tertarik mengikuti sepak-terjangnya sejak dia luncurkan buku yang kontroversial: Aku Bangga Jadi Anaknya PKI. Gila juga ini orang, pikir saya saat itu. Buku keduanya saya baca pula (lupa judul dan masih saya cari di perpustakaan pribadi).

Pemikirannya, menurut saya biasa saja. Tak distingtif dari rata-rata politisi dan anggota DPR di negara ini. Hanya kuat menguasai isu-isu permukaan, walau itu sudah cukup jadi modal beretorika bagi politisi seperti dirinya. Personalitasnya pun–yang hanya melihatnya dari jauh– kurang menarik (Ini pandangan agak subjektif).

Yang saya kagumi dari dia, ketabahan dan kepercayaan dirinya. Gila, menurut bahasa anakmuda. Penderitaan, tekanan, rintangan, yang dia hadapi sejak usia enam tahun sebagai orang yang distigma menakutkan (yakni anaknya PKI) sungguh tak mudah saya bayangkan. Perjuangannya agar survive dan kemudian jadi dokter cum politisi, terus terang, suatu keajaiban bagi saya.

Ia sangat tangguh dan kukuh bak batu karang.

Memang ia pernah bermasalah dalam kasus hilangnya pasal tembakau di RUU Kesehatan, dan teranyar kontroversi penolakannya divaksinasi untuk menghadang Covid-19 dalam rapat DPR dengan Menkes Budi Gunadi Sadikin. Ia berani menolak kebijakan presiden yang didukung partainya, membuat dirinya dikecam habis-habisan oleh warganet hingga kemudian ditegor Sekjen PDIP–walau akhirnya minta maaf.

Statusnya sebagai anaknya eks anggota biro khusus PKI pun kembali marak dihujamkan oleh para pengecam ke dirinya. (Alangkah tak adil sebenarnya, para orangtua yang terlibat di suatu parpol yang kemudian dilarang rezim yang berkuasa, keturunan mereka jadi kena stigma dan cibir, perlakuan diskriminatif dari negara).

Saya tak berniat membela Ribka Tjiptaning atau Ning melalui tulisan ini, pun tak bermaksud mendiskreditkannya, yang sama sekali tak saya kenal. Ia bukan pula figur atau seseorang yang karena pemikiran dan perbuatannya membuat saya jadi kagum, misalnya.

Tetapi, dari pikiran jujur, saya mengakui ketangguhannya. Ia bahkan sangat tangguh dan amat percaya diri. Suatu hal yang pasti sangat sulit saya lakukan atau miliki andai berposisi seperti dirinya.

Kisah hidupnya, seperti roman berisi tragedi manusia akibat pertarungan kuasa dan politik yang bukan fiksi. Itu sungguh seksi difilmkan oleh sineas, menurut saya.

Facebook Comments

Cara Menilai Karya Seni Rupa

Kompilasi Pertanyaan – Imajinasi pada Seni Rupa 2D

Di tulisan sebelumnya yakni Kompilasi Pertanyaan – Imajinasi pada Seni Rupa Dua Dimensi, muncul pertanyaan berikut:

Bagaimana cara kita menentukan atau menilai bahwa karya seni rupa dua dimensi tersebut merupakan sebuah karya yang baik/bagus. Apa hal yang mendasar yang perlu kita ketahui untuk menilai karya tersebut?

Kita ambil contoh karya seni rupa dua dimensinya adalah lukisan. Terhadap lukisan, ada dua pengalaman manusia sebagai subyek yang mengamati, yakni pengalaman menikmati dan pengalaman memahami.

Menikmati lukisan tidak sama dengan memahami lukisan. Sebagian orang, bisa begitu terpesona saat melihat sebuah lukisan lalu kemudian spontan juga ingin memilikinya. Namun ketika ditanya kenapa ia tertarik, ia tidak bisa menjelaskannya. Bila dipaksa untuk menjawab, jawabannya bisa berkisar antara suka dan tidak suka, senang dan tidak senang. Pada level ini, seseorang belum bisa mengatakan apakah sebuah lukisan bagus atau tidak.

Tetapi pada sebagian orang, justru ia bisa menjelaskan secara rinci dan logis kenapa ia tertarik pada sebuah lukisan, terlepas apakah ia ingin memilikinya atau tidak. Pada level inilah, seseorang baru bisa mengatakan apakah sebuah lukisan bagus atau tidak.

Berbeda dengan menikmati, memahami lukisan justru bukan dengan melibatkan unsur psikologis (emosional). Jika pada menikmati seseorang bisa saja merasa lebur, terserap bahkan hanyut secara kejiwaan saat melihat sebuah lukisan, maka pada memahami, seseorang harus dalam keadaan sadar (diri).

Harus ada jarak antara dirinya sebagai pengamat dengan lukisan sebagai objek yang diamati. Seperti dikatakan Edward Bullough (1800-1934), seseorang harus membebaskan diri dari segala pengaruh ketika akan memahami sebuah karya seni, karena keterlibatan emosional akan menyebabkan penilaiannya menjadi sekedar pembenaran dari kecendrungan pribadi.

Karena itu penjelasan menyukai sebuah lukisan karena tertarik dengan pilihan objeknya, atau karena merasa terharu saat melihatnya, misalnya, bukan merupakan ungkapan dari sebuah pemahaman.

Memahami, lebih melibatkan sisi intelektual ketimbang emosional. Karena dalam prakteknya, memahami juga berarti memberikan apresiasi, dimana seseorang akan menafsirkan dan memberikan penilaian terhadap lukisan, hal ini juga berarti seseorang akan melakukan penalaran, dan ini tidak mungkin dilakukan dengan melibatkan emosi, melainkan harus dengan menggunkan logika dan argumentasi, sehingga sebuah pemahaman bisa dijabarkan secara meyakinkan dan bisa dipertanggung-jawabkan.

Seseorang yang menyatakan bahwa sebuah lukisan sangat menarik karena objek dan warna yang digambarkan mengingatkannya pada suatu pengalaman tertentu, misalnya, bukanlah suatu penjelasan yang logis dan meyakinkan, tetapi merupakan penjelasan emosional, karena dasar penjelasannya masih hubungan antara pengalaman pribadi dengan unsur yang ada pada lukisan.

Karena yang dijelaskan bukanlah tentang respon psikis dari yang mengamati, melainkan adalah tentang karya itu sendiri, maka dalam memahami akan membutuhkan wawasan seni sebagai dasar untuk melakukan pemahaman. Paling tidak, diperlukan empat pengetahuan dasar untuk memahami sebuah lukisan.

Pertama, pengetahuan akan unsur-unsur seni rupa, yaitu pengetahuan tentang garis, bidang, bentuk, tekstur, gelap terang dan warna. Semua unsur inilah yang membentuk sebuah lukisan. Sebuah lukisan akan bisa dinilai berdasarkan hal ini, yaitu bagaimana kesan, efek dan kualitas dari setiap unsur yang digambarkan.

Kedua, penataan unsur-unsur seni rupa. Ini juga disebut dengan istilah komposisi, yaitu bagaimana pengaturan dan pengkombinasian semua unsur seni rupa. Dengan mengetahui hal ini, misalnya, akan bisa dinilai bagaimana komposisi bidang, warna dan apa yang menjadi pusat perhatian pada sebuah lukisan.

Ketiga, aspek teknis dalam melukis, yaitu pengetahuan tentang alat, bahan dan teknik-teknik dalam melukis, sehingga sebuah lukisan bisa dinilai kualitasnya dari segi material sekaligus ketahanannya.

Keempat, semiotika, yaitu pengetahuan tentang tanda dan simbol. Prinsip dasar dari kajian ini adalah bahwa setiap unsur seni rupa pada sebuah lukisan merupakan simbol dari makna tertentu, sehingga dengan menggunakan pengetahuan ini, akan bisa ditafsirkan apa kemungkinan makna yang tersirat dibalik sebuah lukisan.

Demikianlah antara menikmati dan memahami lukisan. Dalam prakteknya, tidak jarang kedua hal ini bercampur baur, tidak mudah memisahkannya secara tegas. Seseorang bisa mengaku, bahkan bersikeras mengatakan sangat mengerti terhadap lukisan. Namun bila dicermati, apa yang ia jelaskan sebagai mengerti (memahami), pada intinya tidak lebih dari tindakan menikmati, dan begitu juga sebaliknya.

Kepekaan seseorang dalam menikmati lukisan, misalnya, pada akhirnya bisa dijadikan faktor pendukung dalam meningkatkan pemahaman agar lebih utuh dan mendalam. Begitu juga sebalikanya, pemahaman seseorang akan lukisan akan bisa memicu dan menambah kepekaannya dalam menikmati lukisan. Dengan catatan, yang bersangkutan bisa menjaga dan menukar keterlibataannya secara sadar di wilayah mana ia akan berada.

Karena meskipun bisa saling mempengaruhi, keduanya tetap memiliki sifat, cara kerja dan manfaat yang berbeda: menikmati adalah untuk merasakan lezatnya sebuah lukisan, sedangkan memahami untuk mengerti kenapa lukisan itu enak dilihat.


Bonus skesta hasil coretan my lil Bro, Jeswit Haromunthe. (Kalau penasaran silahkan cek langsung ke akun Instagramnya)

 

Oke. Ini cara untuk menilai karya seni rupa. Untuk menilai seni musik bagaimana? Baca disini.

Facebook Comments

Ajang Apresiasi kepada Penulis Skenario

Adakah penghargaan untuk penulis film (skenario) pada Piala Oscar, Academy Awards, atau di festival film lainnya?

Iya, betul. Penulis skenario film memang mendapatkan piala penghargaan.

Di ajang Academy Awards, penghargaan untuk penulis skenario itu ada dua kategori, yaitu Best Original Screenplay (Penulisan skenario asli) dan Best Adapted Screenplay (Penulisan Skenario Hasil Adaptasi). Perbedaannya tentu saja untuk kategori pertama skenario film biasanya ditulis sendiri oleh sutradara atau produser film tersebut sedangkan untuk kategori kedua ditulis berdasarkan inspirasi dari media lain, khususnya novel dan buku yang telah ada.

Tahun 2020 yang lalu yang mendapatkan piala Oscar untuk Best Original Screenplay adalah Bong Joon-Ho dan Han Jin-Won untuk film Parasite. Sementara yang meraih piala Oscar untuk kategori Best Adapted Screenplay adalah Taika Waititi untuk film Jojo Rabbit yang diangkat berdasarkan novel karya Christine Leunens berjudul Caging Skies.

Dalam penghargaan Golden Globes, kategori untuk penulis skenario film terbaik disebutnya sebagai Best Screenplay – Motion Picture, dan tahun 2020 pemenangnya adalah Quentin Tarantino untuk film Once Upon a Time in Hollywood.

Sementara di British Academy Film Awards atau BAFTA, untuk penulis skenario film kategorinya juga ada dua, yaitu Best Original Screenplay dan Best Adapted Screenplay, sama seperti di Academy Awards. Dan tahun ini untuk kategori Best Original Screenplay dimenangkan Bong Joon-Ho dan Han Jin-Won untuk film Parasite. Kemudian Best Adapted Screenplay diraih oleh Taika Waititi untuk film Jojo Rabbit. Jadi pemenangnya sama juga seperti di ajang piala Oscar.

Di Festival Film Indonesia penulis skenario juga mendapatkan penghargaan Piala Citra untuk dua kategori, yaitu Skenario Asli Terbaik, dan Skenario Adaptasi Terbaik. Tahun ini 2020 pemenang piala Citra untuk Skenario Asli Terbaik adalah Gina S. Noer untuk film Dua Garis Biru, sementara peraih piala Citra untuk kategori Skenario Adaptasi Terbaik dimenangkan oleh Gina S. Noer dan Yandy Laurens untuk film Keluarga Cemara.

Beberapa festival film di Indonesia adalah Festival Film Bandung, dan Piala Maya juga memiliki penghargaan untuk penulis skenario film. Kalau di Festival Film Bandung disebutnya sebagai Penulis Skenario Terpuji Film Bioskop, dan tahun ini dimenangkan oleh Gina S. Noer untuk film Dua Garis Biru. Untuk Piala Maya, ada dua kategori untuk penghargaan bagi penulis skenario, yaitu Penulisan Skenario Asli Terpilih yang tahun ini dimenangkan oleh Gina S. Noer untuk film Dua Garis Biru. Dan satu kategori lagi adalah Penulisan Skenario Adaptasi Terpilih, untuk tahun ini dimenangkan pasangan suami istri Ernest Prakasa dengan Meira Anastasia untuk film Imperfect.

Dan masih banyak lagi festival film lainnya, baik berskala internasional atau hanya sebatas di Indonesia yang memberikan penghargaan bagi penulis skenario film terbaik.

Facebook Comments