Pelajaran Penting dari COVID-19

 

Selama hampir satu semester (hingga saat artikel ini Saya tulis), ritme hidup berubah drastis. Di seluruh dunia, termasuk Indonesia, terutama rumah, tempat kerja dan sekolah kamu. Penyebaran virus Corona ini tidak saja epidemik, tetapi juga pandemi global. Dimana-mana orang diminta (mulai dari dihimbau hingga dipaksa) untuk tetap di rumah dan menjauhi kerumunan untuk mengurangi resiko penularan.

Virus Corona telah membawa sekian banyak hal buruk, penyakit dan kematian, tetapi jika kita mampu menyikapinya dengan lebih arif, kita bisa menemukan beberapa pelajaran penting.

Kerap kamu harus bersedia mengorbankan sebagian kebebasan dan hak personalmu demi kebaikan publik yang lebih besar.

Bagi kebanyakan orang, #TetapDiRumah saja itu susah bukan main. Kita mengeluh bosan, tak bergairah, seperti tanpa tujuan alias gabut. Beberapa orang merasa kesal bahwa karantina kesehatan atau pembatasan sosial ini melanggar hak-hak individual, seperti berkumpul, nongkrong, nge-mall, belanja barang sebanyak uang yang dipunyai dan lain-lain. Baca saja berita tentang ekses dari kekesalan dan ke-ngenyel-an dari orang-orang yang tetap melanggar peraturan dan himbauan dari pemerintah untuk tetap diam di rumah.

Meskipun demikian, demi kebaikan yang lebih besar, kamu dan aku mesti bersedia sedikit berkorban. Keseimbangan antara hak-hak individual dan kemaslahatan umum terus berubah sesuai perkembangan zaman dan situasi dunia. Demi kebaikan publik, berkorbanlah sedikit.

Entah ada virus atau tidak, cuci tangan itu baik.

Kesehatan secara umum itu penting, tidak hanya karena ada virus. Basahi tanganmu, usapkan sabun, kucek-kucek selama kurang-lebih 20 detik. Bilas lalu keringkan dengan menggunakan handuk atau sapu tangan yang bersih. Gunakanlah sabun sebagimana mestinya. Mulai sekarang, jangan lupa: sabun itu efektif membunuh virus.

Beraktifitas dari rumah mestinya bisa menjadi pilihan

Selama pandemi ini, kita terpaksa bekerja atau belajar dari rumah. Begitu virus ini selesai, barangkali kita bisa mengusulkan (atau jika Anda berada pada hirarki atas: mendiskusikan) kemungkinan untuk bekerja atau belajar dari rumah jika dianggap perlu dan penting. Memang tidak semua, tetapi banyak hal yang bisa dilakukan tanpa tatap muka langsung.

Izin tidak hadir karena sakit itu penting

Jika kamu merasa sakit (sakit beneran ya, bukan yang dibuat-buat apalagi dengan surat keterangan buat-buatan itu), tetaplah berada di rumah. Banyak orang merasa bahwa lingkungan kerja atau sekolahnya tidak akan memahami izin tidak hadir karena sakit.  Banyak orang yang ingin tampil seakan-akan dia martir, “Lihatlah, meski aku sakit, aku tetap datang ke tempat kerja”. “Aku, walaupun sakit, tetap kupaksakan hadir di kelas. Kurang apa lagi aku sebagai murid, coba?”

Mentalitas semacam ini harus dihentikan. Jika kamu sakit, tetaplah di rumah. Jika sakitmu tak berangsur pulih, berobatlah segera.

Hak mengakses internet sebaiknya menjadi kebutuhan dasar

Hak untuk mengakses internet (dikenal sebagai  the right to broadband) sebaiknya dipertimbangkan untuk ditetapkan sebagai hak asasi manusia. Terutama di negara berkembang seperti kita, tidak bisanya kita online membuat kita kesulitan untuk mengenal dunia secara global. Ini membentuk dan membatasi kesempatan kita untuk berkembang. (Misalnya, jika kamu tidak memiliki akses interet, tentu kamu tidak akan membaca tulisan ini). Sebagai tambahan, selama masa seperti ini, menghubungi keluarga, teman dan rekan kerja itu penting. Sejauh ini, internet adalah cara dan alat yang dapat kita andalkan secara maksimal.

Tenaga kesehatan dan para peneliti layak mendapat apresiasi yang lebih baik

Ketika kita berada dalam situasi yang sangat mencekam ini, para tenaga medis dan peneliti (researchers)-lah yang akan membantu kita melewatinya. Mereka bekerja siang malam untuk menemukan metode penyembuhan dan pemulihan atas seluruh umat manusia di dunia ini. Saat kita bergunjing ria tentang teori konspirasi elite wewe gombel atau heboh dengan berita berisi distrust terhadap aturan dan pola komunikasi pemerintah, ratusan saintis bekerja keras mencari cara untuk membasmi virus ini. Seperti halnya kita fanatik dengan atlit, aktor/aktris, pemuka agama, politisi, influencer, seniman, Youtuber atau Selebgram, saatnya kita mengevaluasi kembali apakah apresiasi yang kita berikan terhadap para tenaga medis dan saintis selama ini sudah layak. Kemungkinan terbaiknya: mereka layak mendapatkan apresiasi yang lebih dari yang selama ini mereka dapatkan. Jika itu masih absurd, maksudnya ialah, mereka pantas mendapatkan upah yang lebih besar.

Sayangnya, banyak tenaga medis yang kesal karena praktek di lapangan menunjukkan banyaknya pelanggaran terhadap protokol kesehatan, tentu dengan sebab yang beragam. Sampai muncul kekecewaan sebagian orang: “Indonesia terserah“. Tenaga ilmuwan Indonesia pun merasa kecewa karena tak cukup dilibatkan untuk menangani virus Corona ini.

Memasak itu penting

#TetapDiRumah telah memaksa banyak orang untuk belajar, mengulang kembali, atau menyalakan lagi semangat untuk memasak. Belajar memasak adalah salah satu keahlian yang sangat penting untuk dimiliki seseorang.Memasak berarti kamu bergantung pada dirimu sendiri. Tak selamanya kamu punya uang yang cukup untuk memesan makanan dari luar. Jikapun uangmu cukup, tak selalu kurir bisa dan mau mengantarkannya untukmu. Lihatlah betapa meriahnya kemewahan yang dibagikan orang lewat media sosial akhir-akhir ini: semua mengepos masakan mereka yang lezat. Mereka menemukan kembali kejaiban dari aktifitas makan-memakan ini. Termasuk mengetahui persis apa saja bahan yang terkandung pada makananmu lalu merasakan sebuah sensasi reward ketika akhirnya kamu bisa memasak makanan untukmu sendiri dan keluarga.

Menyapa teman setiap hari

Tetap di rumah dan tidak bisa keluar menyadarkan kita bahwa cara terbaik untuk mengatasi kebosanan dan mengusir kesepian adalah dengan menyapa teman dann keluarga, lewat chatting atau panggilan video. Jika sebelumnya percakapanmu hanya basa-basi, ini saat yang tepat untuk berbicara secara lebih medalam. Selama masa krusial seperti ini, koneksi yang manusiawi antarmanusia adalah kunci. Telefonlah!

Begitu virus ini selesai, hargailah pentingnya janji ketemu yang sudah kamu buat dengan teman atau keluarga. Jangan lagi ada kisah rencana bukber yang tak kunjung jadi hingga lebaran usai. Jangan lagi ngeles “OTW” ketika teman-temanmu sudah menunggu, padahal kamu baru saja beranjak dari rebahan di kasur menuju kamar mandi.

Menghargai alam

Ketika kamu keluar rumah tapi tetap menjauhi kerumunan, kemungkinan besar kamu rute yang kamu tempuh ialah padang yang luas, kebun atau hutan dekat kota tinggalmu. Sembari berjalan menyusuri area yang mungkin saja sudah pernah kamu jalani, kali ini kamu mengamati secara lebih seksama. Kamu mulai menemukan keindahan alam. Tentu saja, tetap hindari menyentuh wajahmu. Kamu tidak pernah tahu ada jejak carrier Corona sebelumnya disana.

Menikmati kesendirian

Meski kedengarannya mudah, ternyata bagi kebanyakan kita berdiam diri dan tetap tenang itu luar biasa susahnya. Terutama bagi kaum ekstrovert (baik yang mengaku ekstrovert maupun mengaku introvert), sendiri itu melelahkan dan kesepian. Itu sebabnya social distancing (pembatasan sosial) menjadi tantangan tersendiri. Ini momen yang tepat untuk lebih kenal dekat dengan diri sendiri. Kamu bisa belajar untuk menyibukkan diri. Karena sekedar menonton serial film secara maraton atau bermain game seharian tidak lagi cukup, kamu dituntut untuk melakukan hal lain. Terimalah. Tubuh dan pikiranmu sekarang berada di rumah dan kamu harus belajar menikmati dan mencintai situasi itu.

Mulailah menulis kembali. Belajar lagi meditasi. Ulang kembali tarian Salsa yang dulu sempat kau gemari tapi tak tuntas. Ulik lagi lagu-lagu yang sejak dulu kamu penasaran bagaimana cara memainkannya. Atau, cintai tubuhmu dengan menyediakan waktu tidur yang cukup sebagai ganti dari masa begadangmu dulu.

Itulah beberapa pelajaran penting secara umum yang bisa kita ambil dari pandemi global COVID-19 ini. Mana pelajaran yang pas buatmu?


Sumber:

  1. Gulfnews
  2. Twitter Bening28
Facebook Comments

Ricardo Semler: Mengelola tanpa Mengatur-atur

Ricardo – Belajar Berhenti

Setiap Senin dan Kamis, Ricardo belajar cara untuk mati. Dia menyebutnya hari perhentian. Sang istri, Fernanda, tidak suka dengan istilah itu, tapi banyak garis keluarganya yang meninggal karena kanker melanoma, termasuk orangtua dan kakeknya juga.

Ricardo mulai berfikir, suatu hari dia akan duduk di hadapan seorang dokter yang melihat hasil pemeriksaan atas dirinya dan berkata: “Ricardo, situasinya mulai buruk. Kemungkinan kamu hanya akan bertahan enam bulan, paling lama satu tahun lagi”

Kalau kamu berada dalam situasi serupa, apa yang akan kamu lakukan? Mungkin kamu akan berkata, “Aku ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersama anak-anak. Aku akan bepergian ke beberapa tempat, mendaki gunung. Pokoknya aku mau melakukan hal yang dulu ingin kulakukan tapi tak pernah kesampaian karena tak punya waktu”

Apapun itu, ini akan menjadi kenangan suka-duka. Sulit melakukannya. Barangkali kamu akan menghabiskan banyak waktu dengan menangis.

Ricardo memutuskan melakukan sesuatu yang lain.

Jadi, setiap Senin dan Kamis tadi, Ricardo benar-benar menggunakan hari perhentian tadi. Apa yang dilakukannya? Dia akan melakukan apapun seakan-akan dia telah mendapat kabar buruk tadi.

Idleness

Kebanyakan kita menganggap bahwa lawan kata dari “bekerja” adalah “waktu luang”. Sering kita berkata: “aku terlalu lelah bekerja sekian lama ini, aku butuh waktu luang”. Masalahnya, waktu luang pun ternyata adalah hari yang sangat sibuk. Kita berolahraga, bertemu dengan teman, nongkrong, pergi makan atau nonton bioskop. Waktu luang menjadi hari yang penuh dengan orang, orang dan orang lagi.

Lawan kata dari bekerja adalah tak berbuat apa-apa (idleness). Tapi, masalah muncul lagi. Kebanyakan kita tidak tahu mau ngapain dengan idleness.

Jika kita lakukan kilas balik atas perjalanan hidup selama ini secara umum, kita akan menyadari bahwa ketika kita punya banyak uang, waktu sedikit. Ketika akhirnya punya waktu, kita tak punya uang lagi atau kesehatan tidak memungkinkan lagi.

Manajemen di SEMCO Partners

Hal inilah yang menjadi pertimbangan Ricardo dan rekan kerjanya sebagai sebuah perusahaan selama tiga puluh tahun terakhir ini. Sebagai gambaran, perusahaan yang dikelolanya cukup kompleks dengan ribuan karyawan, aset ratusan juta dolar untuk merancang berbagai sistem bahan bakar roket, 4000-an ATM di seluruh Brazil dan melakukan pendampingan pajak untuk ribuan perusahaan.

Apa yang mereka lakukan?

Pelan-pelan mereka membebaskan para karyawannya dari berbagai aturan yang mirip asrama. Aturan seperti dimana harus menandai diri ketika hadir, begini cara berpakaian, ini etiket yang harus dilakukan dalam rapat, ini yang boleh dan tidak boleh dikatakan. Lalu melihat seperti apa hasilnya.

Mereka sudah mulai melakukan hal ini 30 tahun yang lalu. Termasuk ketika berurusan dengan sebuah isu pensiun. Merujuk ke soal grafik hidup tadi, daripada menunggu akhirnya baru kesampaian mendaki gunung pada usia 82 tahun, bagaimana kalau si karyawan melakukannya minggu depan? Bagaimana mereka melakukannya.

Program pun dibuat. Mereka akan memberikan si karyawan libur setiap hari Rabu dengan potongan 10% dari gajinya. Hal yang sama berlaku untuk karyawan yang selama ini hendak mengasah kemampuan bermain biola tapi tak sempat karena harus bekerja sepanjang minggu. Mereka pun jadinya bisa melakukannya  setiap hari Rabu.

Menarik menyimak apa yang Ricardo dan rekan-rekannya temukan selanjutnya.

Para karyawan yang tertarik dengan program ini berusia rata-rata 29 tahun.

Mereka mulai mengevaluasi kembali beberapa hal, termasuk menanyakan ulang alasan awal mengapa pihak manajemen ingin mengetahui jam berapa karyawan hadir di kantor, jam berapa pulang dan lain-lain.

Apa tidak ada cara lain untuk mengganti rutinitas ini dengan semacam kontrak untuk membeli sesuatu dari para karyawan, barangkali berupa kerjaan? Untuk apa sebenarnya gedung kantor pusat yang megah dibangun? Apakah hanya supaya terlihat solid, besar, gagah? Dan begitupun, para karyawan harus melewati dua jam macet setiap harinya?

Satu persatu pertanyaan diajukan.

Pertama, bagaimana caranya mendapat karyawan?

Caranya ialah dengan menjelaskan kepada pelamar– ketika merekrut: “Jadi gini, ketika kamu melamar ke perusahaan ini, dua atau tiga kali interview tidak akan cukup untuk membuatmu mengikatkan diri ke kami seperti layaknya kamu memilih pengantin untuk menikah dan mengikatkan diri padanya. Bukan begitu caranya. Jadi, datanglah untuk interview dan mari kita lihat seperti apa intuisi yang muncul pada dirimu setelahnya. Bukan malah mengandalkan item pada formulir lamaran bahwa kamu orang yang tepat untuk posisi yang kamu lamar. Lalu, datanglah lagi. Habiskanlah setengah hari, atau satu hari untuk berbicara dengan siapapun yang kamu ingin ajak berbicara. Pastikan bahwa kami benar-benar pengantin yang kamu lamar, bukan omong-kosong yang kamu lihat di papan reklame.”

Perlahan manajemen memasuki proses dimana mereka tidak ingin seorangpun menjadi leader di perusahaan jika mereka belum diwawancarai dan disetujui oleh calon bawahannya. Setiap enam bulan, setiap karyawan dievaluasi secara anonim, sebagai leader.  Jadi, kalau mereka misalnya tidak mencapai nilai 70 atau 80, posisi mereka akan berganti.

Selanjutnya, mengapa karyawan tidak bisa menentukan sendiri gaji yang akan mereka terima? Untuk itu, mereka harus tahu 3 (tiga) hal pokok tentang penggajian:

  • Berapa pemasukan yang karyawan hasilkan bagi perusahaan
  • Berapa pemasukan yang disumbangkan karyawan di perusahaan lain di bisnis sejenis
  • Berapa total pemasukan yang dihasilkan perusahaan

Jadi, manajemen membagikan ketiga informasi ini. Di kantin, ada komputer yang bisa digunakan setiap karyawan untuk mengetahui informasi perihal pengeluaran, pemasukan, keuntungan yang dihasilkan, keuntungan yang perusahan hasilkan, margin, dan lain-lain. Hal ini sudah berlangsung selama 25 tahun.

Nah, begitu informasi ini sampai ke karyawan, pihak manajemen tidak perlu melihat laporan pengeluaran karyawan, berapa hari libur yang diambil, atau di unit mana yang bersangkutan bekerja. Begitulah situasinya. Dengan 14 unit kantor, 5000 (lima ribu) karyawan, perusahaan hanya punya 2 orang di bagian HRD. Bahkan, tetap cukup meski salah satunya sudah pensiun. Jadi, tinggal satu orang.

Era Kebijaksanaan

Maka, pertanyaan yang pantas diajukan adalah: bagaimana caranya perduli terhadap manusia? Inti dari perusahaan adalah orang, tenaga kerjanya. Tak ada departemen yang bisa terus mengurusi dan menjaga para karyawan. Sebenarnya, inilah yang dipikirkan Ricardo selama Hari Perhentian-nya: bagaimana caranya membuat kebijaksanaan (wisdom), bukan sekedar kebijakan (policy).

Kita telah melalui zaman revolusi, revolusi industri, era informasi, era pengetahuan, tetapi belum sampai ke era kebijaksanaan. Contoh sederhana: sebuah keputusan cerdas yang tidak salah:

Tugasmu sebagai karyawan adalah menjual item X sebanyak 57 unit per minggu. Jadi, kalau kau sudah menjualnya pada hari Rabu, sesudahnya pergilah berlibur ke pantai. Jangan bikin masalah buat perusahaan, buat bagian manufaktur, buat unit developer aplikasi, karena kemudian manajemen harus membeli perusahaan baru, membeli perusahaan kompetitor, dan lain-lain karena kamu menjual terlalu banyak, lebih banyak dari yang ditargetkan. Jadi, pergilah mandi di pantai. Hari Senin, kembali lagi untuk bekerja.

Proses yang dilalui ialah pencarian kebijaksanaan. Selama proses berlangsung, manajemen memberitahukan apapun yang pantas diketahui karyawan.


Kira-kira itu yang bisa Saya tangkap dari penjelasan Ricardo Semler, CEO SEMCO Partners di TED Talk.
Facebook Comments

Rangrang ni Namarsiamianaminan

Jotjot do tabege didok akka natua-tua, sai marsiamin-aminan ma hamu songon lappak ni gaol i. Ndada holan i, diboanhon do tong i di bagasan piga-piga andung manang logu. Ra alani jotjotna gabe olo do tar hira moru pangantusionta disi. Hape, apala “marsiamin-aminan” on ma sada habisuhon jala hasomalan na ingkon sitiopon jala torushononta nian, unang mago sian hita bangso Batak.

Jempek do rangrang na sinurat ni amanta Palambok Pusu-pusu on, alai mangarongkom lapatanni hata “marsiamin-aminan”. Ninna boti:

Ranggas naung mahiang i pe sai adong do na mamarar.
Hau na togu i boi do tung so marguna tu manang ise.
Olo do na ringkot di iba tung somarlaba i di dongan, na so ada argana di iba hape tung mansai ringkot di dongan.
Hahurangan ni sasahalak, boi do gabe i halobian ni nadeba.
Halobian ni iba alai i muse do hahurangan ni dongan.
Ingkon ongkuhononta do, tung soadong manang ise na tung singkop, lalap do adong nahurang.
Da dengganan ma marsiurupan jala sada rohanta marsitungkol tungkolan.
Asa dapot “aek godang tu aek laut”, “mangangkat rap tu ginjang, manimbung rap tu toru”, boi singkop tung pe ganup hita sai adong hahuranganna.

Facebook Comments

Ina Na Hinohosan

Ponjot rohana jala tung marsigorgor rimas ni Ompu Maruli boru, pola songon na sosak marhosa dihilala ala ni hata na sangkababa i.

“Ai laos boha pe jago ni jolma, manang beha pe mora na jalan tung songon dia pe saringar ni goar na, tung so tataponna do saur matua molo ndang marurat jolma. Jolma siteanon do i molo di halak batak…!” talmis soara ni Ama ni Benni, huhut songon na di padirgak uluna jala di ombushon timus ni sigaretna.

Nang pe ndang apala digoari manang na tu ise hasahatan ni hata na i, alai sude do natorop i boi mandodo, tu Ompu Maruli do hata i. Ianggo Ompu Maruli doli, nungga tung mahap be di angka hata sisongoni. Alai anggo tu roha ni Ompu Maruli boru, tung mansai maniak. Ai saleleng ngoluna, tung soadong dope halak na barani manghatahon hata sisongoni di jolona.

Ala ni hata sangkababa i, naeng do nian pintor mangintas Ompu Maruli boru mulak sian jabu ni parboruon nasida on, alai sai diotapi ma langka na, unang pola diboto angka dongan sapunguan i na tarholi panghilalaanna. Nian, antar dilangkahon ibana do ruar sian jabu laho tu alaman laho marhosa ganjang, alai tong do sai ponjot dihilala.

Dung i, disuba ibana do dohot marnonang rap dohot angka ina na ro tu arisan saompu i, jala dohot do ibana mamarengkeli siparengkelon, alai tong do ndang lumbang panghilalaanna. Sahat ro di na mulak nasida sian jabu ni parboruon nasida i dung sidung ulaon arisan, sai solot dope na hansit di roha na.

“Songon na asing pardompahanmu Inang, na asing dope dibagasan roham?” manat Ompu Maruli doli manungkun parsonduk na i, dung di mobil nasida.

Dang maralus sungkun sungkun na alai tompu ma manetek ilu ni Ompu Maruli boru.

Tungki simajujungna. Marnida i, gabe hansit tong roha ni Ompu Maruli doli, ai tung so tarberengsa ilu ni nialap na i. Dipadorong ibana mamboan mobil i asa tumibu sahat di jabu, asa pintor dihaol jala dipamenak ibana roha ni soripada na i. Dung sahat nasida di alaman ni bagas nasida, pintor mangintas Ompu Maruli boru ruar sian mobil, dung i masuk ibana tu bilut podoman nasida jala dipapuas ma tangis na, dianggukhon angguk na.

Lambok, diapus Ompu Maruli doli abara ni parsonduk na i, dung i di haol momos. Ndang manjua Ompu Maruli boru, baliksa lam dipapuas tangis na di abingan ni simarubun na i.

“Nga sae be i inang, unang be sai lungun roham. Ai ise Ama ni Benni i, umbahen na pola bonsa roham ala ni hata ni i? Ai nda tung dao ho lobi martua marnimbangkon ibana? Ndang singkop didok roham silas ni roha di hita, alai nda tung gumodang na hurang di ibana? Na so diboto i do magona, jala late rohana mida hita!”

“Tung so hapingkiran ahu do, boasa ingkon marasing asing derajat ni jolma di adat batak!” runtus alus ni Ompu Maruli boru.

“Eeee…eeh… Ai adat Batak pe jolma do mambaen, ndang sai sude pita! Godang dope sipatureon di angka adat Batak, ndang gabe i patohan ni parngoluon di portibi on. Tung singkop pe parngoluon ni jolma hombar tu adat Batak, belum tentu gabe jolma na martua. Angka nauli nadenggan naung tajalo i ma ta bilangi, unang patangi tangi angka hata ni si eat roha. Ndang piga dabah borua manang ina na songon ho, boru na taruli asi nang pe ndang haru singkop diadopan ni jolma, tarlobi di adat Batak. Pola pajojoronhu angka pasupasu naung tajalo…?” mansai lambok hata ni Ompu Maruli doli, manorus tu ate ate ni Ompu Maruli boru.

Songon na sip satongkin Ompun Maruli boru, huhut marhosa ganjang. Dung i, dialusi songon soara na marhusip. “Angka aha ma i…?”

“Ba… hupajojor pe, alai unang be tangis ho, Inang. Molo tangis ho, gabe maniak ate-atengku, lobi sian maniak ni ate-atem!”

Dipahusor Ompu Maruli boru parpeakna jala dibereng dompak bohi ni sinonduk na, pardompahahan na tung mansai lambok. Mengkel suping ibana. “Bege hupajojor da…!”

Tung ise ma na songon ho inang,
Boru hasian, boru na hinohosan
Habunbunan ni holong dohot asi asi na lambok
Sian natoras batara jonggi dohot iboto na togap

Nda tung na martua ho tahe, Inang
Hariara na bolon do pangunsandeanmu
Angka boru na lambok do urat ni ate atem
Jala tano na napu do pansalonganmu

Ue, da Inang
Ida ma hatuaon naung niampum
Tiur songon mataniari binsar simalolong ni pahompum baoa
Lambok songon bulan tula pamereng ni pahompun boru
Jala si doli na jogi do gabe helam

O Inang, Inang na lagu
Tung adong dope hatuaon lumobi sian i?


Songon na nienet sian gurat-gurat ni ito Rose Lumbantoruan
Facebook Comments

Tokka ni Amani Togu

Dung adong saminggu mamboan bus Intra Medan – Jakarta, mulak ma bapak ni si Togu sian pardalananna. Tongon marsahit mata do ibana. Ra pagodanghu marisap dohot hona timus saleleng di dalan i. Gabe dang adong boan-boanna tu si Togu anakna i. Alani i, songon na murhing ma bohi ni si Togu.

Ditedekhon ma tanganna tu amongna i: “Among, dia ma jo hepengmu molo boti”, inna.  “Paima jo kedan da. Mambuat ubat dope inongmu. Asa diubati inongmu jo matakkon”, ninna among ni si Togu i.  Dung didok si Togu ma : “Na hansit do matam bapa?”  Dipinsang inongna ma tutu: “Togu! Tokka. Ndang dohonon ‘matam’ tu among.”

Naeng tangis ma si Togu ala dipinsang inongna. Marheneng ma iluna. Asing do memang si Togu on, nunga laho dolidoli alai iboan dope hingalanna i.  Marnida i, asi ma roha ni amongna. Gabe dilehon ma hepeng jajan tu si Togu i. Mekkel, ittor hatop ma antong lao si Togu tu lapo.

Alai sai simpan dope di pikkiranna hata “tokka” i.  “Lao au da among, lao au inong da”, ninna parmisi.  “Hatop ho mulak da. Ai na laho ro do ra tondongta, ai ro lampulampu tu jabunta on”, ninna inongna tu si Togu tu i.

“Olo inong!”, ninna huhut marlojong lao.

Di jolo ni lapo i dope, diida si Togu ma ro tulangna dohot nattulangna sian hutanasida.  “Lao tu dia ho bere ?”, ninna tulangna i manise. “Manuhor tu kode an, tulang”, ninna si Togu.   “Bah, molo boti beta ma rap. Hudongani hami pe ho”, inna tulangna i songon na palashon roha ni bere hasianna i.

Gabe didongani tulangna dohot nattulangna ima si Togu tu lapo i. Dibayar ma jajanan ni berena si Togu i. Las ma tutu roha ni si Togu.  “Mauliate tulang, mauliate nantulang, baenonku ma hepenghon tu celengan”, ninna. “Bagus bere, malo do ho hape”, ninna tulangna i.  Dung i disukkun nattulangna ima si Baluhap : “Di jabu do inongmu”?  “Di jabu nattulang, nunga ro amonghu”, ninna si Togu.  “Marhua eda inongmu di jabu ?”, ninna nattulangna i.

“Mangubati ‘Tokka’ ni bapakku”, ninna si Togu sian bulus ni rohana.

“Hahhhaaaahhhhhaaaahhhhhhhhhhh”, gabe margak ma mekkel parlapo dohot akka jolma na di lapo i.

Masiberengan ma tulang dohot nattulang ni si Togu huhut mekkel suping ala ni geokna dihilala.  “Ai so pola nian piga leleng amani Togu on marhuta sada, pittor posa do huroha sahit ni ‘Tokka’na i”, ninna Amani Polgut, na tarsar goarna di kode i ala holanna tenggen karejona tiap ari on.

Dung sahat di jabu, ditogihon nattulang ni si Togu ima edana umak ni si Togu tu dapur.  Dipaboa nattulang ni si Togu ma na masa na di lapo i.  “Akhhh, eda, geok hian eda, (huhut margak mekkel) nakkin, husukkun bere i, ‘Marhua eda inongmu di jabu’, nikku. Tung burju do dialusi si Togu bere i au. “Mangubati ‘Tokka’ ni amonghu do inong”, ninna bere i.”

“Hahhhaaahhhhaaaaahhhhhhhhhhhh”, margakargak ma mekkel na mareda i.

“Oeeee tahe, mangubati simalolong ni baom do au, nahupinsang do berem i pamatamatahon amang baom: Tokka, ndang dohonon mata tu bapa, simalolong do, nikku. Ba pittor lao ma beremi tu lapo.  “Eeee tahe, bulus ni roha ni berem i”, inna Nai Togu huhut padenggan parhundulna.

Dungi, marnonang ma nasida sahat tu botari, alai molo si Togu sai tong dope dang dapotsa boasa mekkel halak umbege ‘Tokka’ ni amongna i.


Tinambaan sian guratgurat ni Amanta Pandita Erwin Hutauruk
Facebook Comments

Boasa Maol Pasohon Na Marisap On

Molo laho hita mardalani rupani sian Medan manang sian Kualanamu tu huta na humaliang Tao Toba, lam takkas ma tarida mansai maol situtu do akka ianakkon ni bangso i malua sian hasomalon na hurang denggan, i ma marisap (mangisap sigaret). Tarlumobi ma i marisap di loloan.

Taparrohahon ma godang ni akka iklan ni sigaret, adong do di ganup huta, jala dang pola godang na situtu mamparrohaon boha do mandongani akka ianakkon ni parhuta i, tarlumbi ma dakdanak asa manat nasida mamaillit dia do na ikkon sibaheonon, jala dia do na ikkon sipadaoon.

Inna iklan ni GG Mild mandok “Break the limit” (Lapatanna: Baen ma sahat tu parsudana)

Didok A Mild pareme-ramehon: “Go ahead” (Lapatanna: Baen, torushon!!!)

Boi dohonon, songon na nienet sian Mumbrella, molo tabandinghon godang ni iklan sigaret on dohot na asing, ndada palobi-lobihon molo didok marbanding 50:1. Ra adong do deba iklan ni bir Bintang manang gombar ni partai politik manambai.

Leakna panghirimon na patut sitioponta dohot gomos asa unang dohot angka dakdanakta on marisap i ma molo tapadao akka iklan sisongon on.
Bereng hamu ma muse didok Surya: “Rise and shine” (Lapatanna: Nangkok ma ho jala marsinondang)

Ia na tinodo ni iklan on i ma sude akka parisap di bangsonta Indonesia, hurang lobi adong ma i 57 juta halak. Lapatanna, dua partolu sian akka baoa ni Indonesia, marisap do sude.

Mura dope hita mangihuthon slogan ni Nike i “Just Do It” (Lapatanna: Baen ma, toe!).

On muse do na unjebu. Inna Dunhill: “Taste the power” (Lapatanna: Daionmu do hagogoon i)

Facebook Comments

Rumang ni Na Marpolitik

Molo tabege hata “politik”, “parpolitik”, manang “politisi”, jumotjot do ra pittor tubu di rohatta be akka pakkataion suang songoni akka rumang ni hajolmaon na ganup ari mamakke taktik holan asa lam martamba nian na adong di sasahalak parpolitik i lam tu godangna. Jempek hata dohonon, godangan ma i na so denggan. Hape nian sasintongna ikkon mamboan tu hadengganon do politik on, ai hagiotna pe mamboan tu hadengganon tu ganup natorop do (salus publicum).

Alai, alani godang ni barita manang na masa binereng, olo do sipata niundukkon roha ma na situtu do politik on holan patuduhon hajagoon ni sasahalak mamakke hamaloon, hasangaon ni goar, suang songoni haadongonna, dang parduli mamboan hadengganon tu ganup natorop do manang na holan tu dirina sambing manang holan tu akka familina (on ma na mamboan akka parsoalan, songon na jotjot tabege, i ma korupsi, kolusi, nepotisme) be. Songon na boi rimangrimangatta marhite torsa na jempek on.

Au sahalak pangula-ula do di hita an. Markopi, sipata marpege, sipata marlasiak. I ma ulaonhu martaon-taon jala na hutorushon do i sian natuatuaku, jala nasida sian ompung sahat ma songon i tu na marsundut-sundut, sahat tu sahala nang sumangot ni akka ompu sinahinan. Alai sahali on, ikkon ma luluon dalan asa unang holan na margulu tano tutu gellenghu si Poltak, anakhu, si jujung baringinhon.

Alani i, hudok ma tu si Poltak.
“Ingkon boru na pinillit nami do alaponmu da”.
Alai, “Daong”, inna ibana.
Huuduti muse: “Ai boru ni tokke sawit an do na tinodo ni rohanami da. Sotung leas roham”.
“Molo boti, olo ma au disi”, inna si Poltak.
Dungi ro ma au martandang tu jabu ni amanta tokke sawit i.
“Martahi nian au asa pangolionnami ma si Poltak tu borum siakkangan i”.
Alai didok tokke sawit i, “Daong”.
Huuduti muse: “Ai si Poltak nuaeng nunga gabe Direktur di Kementerian”.
“Molo boti, nunga denggan i, taparade ma tutu pesta i”.
Dungi laho ma au tu jabu ni Menteri.
“Baen ma si Poltak gabe Direktur di Kementerian na niuluhonmu nuaeng, bo”.
Alai didok menteri i, “Daong”.
Huuduti muse: “Ai si Poltak nuaeng nunga gabe hela ni tokke sawit nampuna marribu-ribu hektar i”.
“Molo boti, nunga denggan i, annon tahatai ma muse akka parbagianan na boi sibuaton ta sian laemuna na mora i ate”.

Godangan, songon i ma na masa di na marpolitik on.

Facebook Comments

Ojo Kesusu

Di sada tingki adong ma sada rumatangga na imbaru. Tar I dope nasida pasauthon sangkap ni nasida na marrokkap marhite ulaon adat. Sae ma tutu pesta i. Marmulakan ma angka natorop. Dungi nasida nadua pe bongot ma tu bagasna.

Ia inanta on tibuhhonni halak Jawa, suang songoni dohot parsinuanna. Jempek dohonon, halak Jawa ma ibana. Ia na mangalap ibana, ima amanta on do na sian hita an, sian luat ni parsolusolu bolon. Ia dapotsa pe rongkap ni sidoli Batak on alana jumpang do nasida padua di tingki mangaratto ibana tu luat Jawa.

Pola do marhir hodok ni amanta on di tingki padua-dua nasida. Holan naeng marsaemara ma I utokutokna.

“Ikkon saut ma on malam pertamakku”, inna rohana. Dungi dipungka ma panghataion.

Baoa: Dek … pahatop saotik. Dang tartaon au be on

Boruboru: Sabar toh mas. Ojo kesusu. Alon-alon asal kelakon

Baoa: (Dang marna diattusi ibana aha nidokni halletna on. Boha hian do naeng parsaut ni halak on, au pe dang pola huboto)

Baoa: Bah … boha do ho? So manang aha dope nitiop, pittor ke susu do nimmu.

Boruboru: “?!?!?!?! (Markerrut pardompahanna ala tong dang tarantusanna. Pola hira na tarjolma)

(Ala so marna marsiantusan nasida, gabe bobonosan ma si baoa on. Dung I tor dipamate ma lampu. Dang binoto be aha na masa ala nunga golap.)


Sian Panurat: Ia impola ni turiturian sigeokgeok on, tarlumobi ma di hita angka na poso, asa tangkas taboto denggan angka hasomalan ni donganta, tarlumobi ma dongan na poso na marimbar huta manang hasomalan. Rupani, molo so binoto aha nidokni dongan, jumolo nisungkun. Unang heppot.

Facebook Comments

Amonghu Partenggen i, Na Burju do i

Pukkul sia borngin i hubege ma soara marende di harbangan ni huta.

“Di kamar sampulu tolu onn hu tobus dosangki” inna.

Bug, mallobok tarontok. Nga mulak among, nikku. Pintor humalaput hami papunguhon bukku na rage di lage. Dung sidung pintor modom hami marbulusan, ai i dope na somal tikki i marbulusan alani ngalina. Dang sadia leleng sahat ma among di balatuk ni jabui. Di tuktuk i ma pintu.

“Ma, mami, bukka jo pintu on”, inna. Biasama molo dung tenggeng attar romantis otik. Dibukka inong ma pintu on, dang pola didok manang aha, sotung maon gabe guntur, masuk ma among.

“Nga mangan ho”, ninna inong huhut.

“Daong baen majo indahanku”.

Diparade inongon sude sipanganonna.

“Mangan ma ho da. Nga mondohondok au’, inna inong muse. Naeng ditadingkon among na manganni.

“Naeng tudia ho, haru molo pinahanmu mangan di ingani hodo digarut garut ho uluna pintor inna among songon na muruk.”

Hundul do attong inongon hohom dilambungni amongi. Dung sidung mangan modom ma nasida.

Pukkul opat manogoti hehe do among sian podomanna, songon i do ganup manogot. Didungoi ma hami gelleng na akka naung marsikkola.

“Dungo hamu, dungo. Nga pukkul opat. Marsiajar”, inna.

Dang boi juaon I, ai pintor di buat do aek sian dapur molo songon na maol hami hiccat. Olat ni sa jom do hami marsiajar molo manogot, dung pukkul lima marsibuat ulaonna be do. Adong na mardahan, manapu jabu dohot manussi piring.
Molo manapu dang boi nanggo mallotom pat niba tu papanni jabui, sai dirippudo namuruk songoni nang molo manussi piring dang boi malliting. Molo among attong mamungga balatina ma asa lao maragat. Songon si ganup ari. Dung pe molo naeng lao hami martapian manang marsuap hissat ma inong sian podomanna. Dipangali hian ma indahan nami dohot dibaen kopi di among.

Dibaen kopion di ginjang ni meja paima mulak among sian paragatan. Olo ma sipata alani malashu mangallang gulamo hubuat do otik kopini among, huusen tu indahanku. Hehehe. Holan au do na barani songoni. Dung mulak sian paragatan disuhati inong ma tuak na binoanni amongi, dibaen raruna otik. Paima dialap parlapo sigadis tuak. Molo among hobas ma asa lao tu sikkola inganan parkarejoanna, ai pegawai do among disi. Mambuka parsikkolaan, manapu alaman dohot paiashon kantor ima ulaonna. Dung sidungi olo do sipata pintor mulak among molo so adongbe ulaonna naasing.

Didapothon ma inong tu balian manang tu porlak. Olo do sipata manggadis gogo inong asa adong ongkos nami laho marsikkola. Holan among ma di baliani paima mulak hami sian parsikkolaan. Mulak sikkola ikkon tu balian do hami, dang jolo golap ari asa mulak sian balian. Ala daodo mual paridian. Didok among unang parborngin hu mulak asa sanga martapian.

Somalna siganup borngin ikkon rap mangan do hami, hundul di lage. Sidung mangan dang boi pintor morot. Jolo martangiang do hami sude, huhut manjaha buku na dapot sian Gareja. Goarni bukkui “Pajonok Ma Tu Debata”.

Nang pe partenggen amongnami on, dang olo tu Gareja, alai molo soi ganup borngin dang hea lupai, marsoring soring do hami suruonna martangiang. Baru muse udutanna manutup dohot tangiang. Ganup jumpang ari minggu suruonna do hami tu Gareja. Songonima siganup borngin dung sidung martangiang baru pe marsiajar.

Holan ido silakkona molo adong mambahen jut rohana, tarlumobi molo ro surat sian namboru na sipata sai paroa roahon inong, pintor jut do rohana. Lao ma tu lapo minum kamput ma disi, mulak siani tenggeng ma attong. Alai tetap diingot do jabuna nang pe tenggen.

Las do roha nian molo marningot i sude. Adong pe holso, holan saotik do:

“Boha muse ma ate molo dang pola partenggen amongnami on”, inna rohakku dibagasan. Alai i pe, nihamuliatehon ma.

Adong dope ulaning na songon among namion?


(Pinadenggan sian guratguratan ni Sri Duyana Tampubolon)
Facebook Comments

Pesan Ketua Puanhayati Pusat kepada Perempuan Penghayat di Indonesia

Pesan Ketua Puanhayati Pusat kepada Perempuan Penghayat di Indonesia dalam acara Doa Bersama & Ruwatan COVID-19 (25 April 2020)

Dian Jennie Cahyawati

Saya memohon kepada seluruh perempuan penghayat kepercayaan yang berada ada di Indonesia supaya kita tetap kuat.

Kita pasti bisa melewati semuanya dengan baik.

Kawan-kawan,

Kita harus yakin karena keyakinan, doa dan kewaspadaan kita. Kemudian kita harus menjaga kesehatan kita sebagai salah satu imun yang akan memagari jasmani kita untuk menangkal virus yang sekarang sudah menyebar tanpa henti di seluruh belahan dunia.

Kawan-kawan Saudara perempuan penghayat kepercayaan yang Saya banggakan,

Lakukanlah hal-hal yang bisa membantu saudara-saudara kita yang lain. Lakukanlah sesuatu sesuai dengan kemampuan yang kita bisa hari ini. Apakah itu dalam bentuk materi, dalam bentuk tenaga, himbauan.

Bahkan Saya kira semua personil, semua perempuan penghayat dan seluruh penganut kepercayaan di Indonesia bisa melaksanakan doa di rumah. Kita menyatukan energi positif bersama-sama dan jangan lupa tetap melakukan pemantauan kepada saudara-saudara kita di sekeliling kita terutama saudara-saudara kita yag membutuhkan.

Social distancing ini juga membawa beban domestik yang lebih besar Saya kira dan tampaknya dari hari mulai pagi hingga malam seakan-akan tidak berkesudahan supaya semua keluarga ada dalam rumah. Perempuan dituntut supaya semastikan seluruh keluarga dalam rumah tetap sehat dan kuat, menjadi pelindung bagi putra-putrinya. Dan jika kita punya rumh tangga biasanya kita mengerjakan rumah yang kita punya
degan segala yang tenaga yang tercurahkan dari mulai kita bangun hingga kita tidur.

Karenanya Saya kira berbagi peran dalam sebuah rumah tangga, dalam sebuah keluarga adalah cara terbaik kita utuk meminimal
dampak sampingan dari social distancing. Kita perlu berkomunikasi bersama pasangan kita, bersama putra-putri. Karena itu selain untuk mengakrabkan, bagaimana kita berbagi peran, untuk mengakrabkan komunikasi kita bisa membangun kerjasama yang baik dalam sebuah keluarga.

Kawan-kawan puanhayati,

Saya yakin kita semuanya akan tetap saling berdoa, kita selalu menjaga jarak dan jangan lupa kita tetap di rumah saja. Gunakan masker
saat kita keluar dari rumah. Selalu mencuci tangan. Dan satu hal lagi yang paling penting kita tetap berdoa, memohon kepada yang Mahakuasa, untuk senantiasa melidungi kita semuanya.

Saya yakin kekuatan dari kawan-kawan semuanya akan selalu nembawa bangsa kita untuk bisa segera terbebas dari dampak atau bencana COVID-19.

Terima kasih.

Rahayu


Sumber:

  1. Twitter
  2. SatuNama.Org
Facebook Comments

Sahala

Sadari on, dua pulu taon ma dung lao natuatuakku, ima dainang pangintubu. Ia huguretton pe on, na toppu do nakkin songgot tu pikkiranhu. Sambil mamereng drama Korea di tipi, hubaen ma kopi ni tungganedolikku. Rarat ma huhatai hami. Dang huingot botul alani aha bonsirna, alai sahat ma tu sahala. Oh, on do hape. Nga huingot be. Ala marningot do tikki manghatai ima dung sidung marsipanganon uju mambaen sidapotdapoti ima amang simatuakku. Molo so sala parningotanhu, boti didok :

“Tu hita saluhutna na pungu dison, damang dainang. Marsatabbi jumolo au tu hita saluhutna. Ra ganup do hita dison halak na porsea, jala porsea do tong tu sahala. Au sandiri dang hea huporso, porsea do au di sahala”, inna mandok. Dungi didok ma hatana tu na pungu i.

I ma jo tusi.


Gabe ro ma tu rohakku: Boi dope ulaning manghata-hatai dohot sahala i? Songon si Miguel na boi pajumpang dohot sahala ni oppung mangulahina, laos boi ibana paboahon tona ni oppung i tu si Mama Coco (ima oppung nini ni si Miguel), mandok: “Your papa loves you, Mama Coco“.

Jei, huceritahon ma jo saotik. Tikki i marpungu ma saluhut keluarga. Singkop ma panghataion na ikkon boanon ma saringsaring ni natuatua i mulak tu bona pasogit. Soppat do songon na tarsonggot au huhut ma i mardongan biar ala so tarboto dope takkas didia do udean ni dainang. Molo bapa, takkas dope diingot akka ibotokku didia ditanom.

Alai jompok ma huseritahon, saut ma ikkon pamasaon na mangongkal holi on.

Ngeri do bah molo niingot tikki i. Mardisir imbulu.

Piga-piga taon andorang rencana on, nunga humasiksak nian au mangalului idia do sabotulna omakkon. Huhului ma surirang sian akka keluarga atik dia adong dope na marningot takkas didia do letakna. Alai aha ma na hudapot? Sude mandok, “dang huingot hami be bah.” Adong deba ninna, “e tahe, dohot do nian hami tikki i tu udean ni omakmu, alai so huingot be nuaeng i. On ma tahe na matua on”. Lomos ma rohakku mambege alus i.

Aut sura ma nian, attar dihusiphon sahala ni dainang on tu au mandok “ison do au, inang”, manang na boha pe isarana, tontu dang polu songonon au humitir.

Tikki parmondingni oma, marumur dua taon ma inna au. Gabe dang pola takkas huingot. Agia pe songon i, tarboto dope gereja dia na paborhathon oma tikki i, ima di daerah Tangerang. Holan i ma modalhu. Alai songoni pe, hujuguli do. Lao ma au manukkun tu pengurus gereja, pengurus pemakaman suang songoni tu masyarakat sekitar atik dia tahe adong nasida na marningot. Adong ma sian pangurus i na patuduhon sada kuburan na so hea diziarahi manang ise, pola martaon. Hupatakkas ma tu kakak, boha do ciri-cirina marhite talipon. “Ido, pas do i dek”, inna kakak na di Sumatera ma tikki i dung huceritahon pardalananhu sahat tu lokasi i.

Tikki na denggan ma ra on inna rohakku, boi pungu songonon hami sude ianakkonna. Jala hubereng, marsintuhu do ganup mangadopi manang aha pe abatabat na lao ro tarsingot tu rencana na lao mamboan natuatua nami on mulak tu bona pasogit.

Jumpang ma tikki mangongkal. Manogot do hami ro sian jabu tu udean i. Ito, uda, tulang dohot na lao mangongkal nunga pungu.

Lam bagas diokkal amatta songon na di gombar on, dang dapot. Dipakkur ma muse, tong dang dapot. Lam mabiar ma attong hami sude. Ilukku pe nunga manetek.

Dipakkur i ma muse, tompu ma tarida baju. Dungi adong muse headset ni henpon. Natorop i pe marnida do. Marsampur biar dohot geok ma huhilala tikki i. Songgot ma tu rohakku, dang natuatua i on. Lam marsikeras ma au mandok tu natorop i, “dang on natuatuakku. Dang on i, dang on i”, nikku. Dipakkur ma muse, dapot ma holi-holi.

Adong do tikki i dohot sahalak ama-ama dohot hami. Parbinoto do on, alai dang olo idok ibana datu. Halak Jawa do amatta on, jala marbahasa Jawa do makkatai, bahasa Indonesia saotik-saotik. Ro ma natorop i marsuru asa digauk ibana sahala ni oma. Hundul ma ibana. Disuru ibana ma asa au manjouhon goar ni natuatua i. Mardongan biar, porsea huhut manghitiri au tikki, hujouhon ma antong. Dua manang tolu hali hudok goarna, pittor margepori ma amanta i. Siar-siaran ma  ibana laos dibereng au. Toppu ma attong marbahasa Batak ibana mangalusi ito na pittor sigap mangabing ibana. Aha disukkun ito, dialusi ibana. Dungi, dipillit ibana sian holiholi sinakingan, dia na di ibana. Akka na so bagianna, dipaida ma tinggal disi.

Songoni ma partordingna na mangongkal holi i. Sian bagas rohakku, dang boi dope hupastihon na i ibana. Alai tahe, aha pe na masa tikki i, porsea au marnida do sahala i.


Sahat tu na manggurat on au, dang hea dope agia sahali boi songon na huipi sinangkinan, ima manghatahatai dohot sahala ni natua-tua. Dang tarbaen dope songon si Miguel di film “Mama Coco” sinangkinan.

Tumiru haporsean ni Gereja Katolik na mandok dang putus hape hubungan ni akka Pardisurgo dohot saluhut jolma na hasiangan on, tangiang ma hubaen di rohakku. Anggiat sahala ni dainang i tong manghorasi au dohot pinomparhu haduan.

Selamat Ari Hananaek ma di hita saluhutna.

Sinurat songon na nituriturihon ni si Felicia Presta Simamora.

 

Facebook Comments