DONALD HAROMUNTHE

For Those Whom I Can't Talk With

Presiden Jokowi tentang Universalitas Alquran

 

Presiden Joko Widodo pada Peringatan Nuzulul Qur'an 1438 H di Istana Negara

Kesalehan Sosial

Menarik mendengar pidato yang disampaikan oleh Presiden Joko Widodo pada Peringatan Nuzulul Qur’an 1438 H di Istana Negara, terutama karena beliau (oleh usulan dari si penulis teks pidato, tentu saja) memulai sambutannya dengan berani menyebut “kesalehan sosial”.

Apa itu kesalehan sosial?

Nadirsyah Hosen, Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School, dalam sebuah tulisan di laman NU mengulas secara singkat dan menarik tentang hal ini. Meminjam otoritas Gus Mus sebagai tokoh senior di NU, Hosen secara jujur mengakui adanya dilema yang dihadapi oleh kebanyakan umat Islam di negeri ini dalam diskresi dan penentuan skala prioritas, antara kesalehan sosial dan kesalehan ritual pada saat bersamaan.

Berikut kutipannya:

Gus Mus tentu tidak bermaksud membenturkan kedua jenis kesalehan ini, karena sesungguhnya Islam mengajarkan keduanya. Bahkan lebih hebat lagi; dalam ritual sesungguhnya juga ada aspek sosial. Misalnya shalat berjamaah, pembayaran zakat, ataupun ibadah puasa, juga merangkum dimensi ritual dan sosial sekaligus. Jadi, jelas bahwa yang terbaik itu adalah kesalehan total, bukan salah satunya atau malah tidak dua-duanya. Kalau tidak menjalankan keduanya, itu namanya kesalahan, bukan kesalehan. Tapi jangan lupa, orang salah pun masih bisa untuk menjadi orang saleh. Dan orang saleh bukan berarti tidak punya kesalahan.

Pada saat yang sama, kita harus akui seringkali terjadi dilema dalam memilih skala prioritas. Mana yang harus kita utamakan antara ibadah atau amalan sosial. Pernah di Bandara seorang kawan mengalami persoalan dengan tiketnya karena perubahan jadual. Saya membantu prosesnya sehingga harus bolak balik dari satu meja ke meja lainnya. Waktu maghrib hampir habis. Kawan yang ketiga, yang dari tadi diam saja melihat kami kerepotan, kemudian marah-marah karena kami belum menunaikan shalat maghrib. Bahkan ia mengancam, “Saya tidak akan mau terbang kalau saya tidak shalat dulu”.

Saya tenangkan dia, bahwa sehabis check in nanti kita masih bisa shalat di dekat gate, akan tetapi kalau urusan check in kawan kita ini terhambat maka kita terpaksa meninggalkan dia di negeri asing ini dengan segala kerumitannya. Lagi pula, sebagai musafir kita diberi rukhsah untuk menjamak shalat maghrib dan isya’ nantinya. Kita pun masih bisa shalat di atas pesawat. Kawan tersebut tidak mau terima: baginya urusan dengan Allah lebih utama ketimbang membantu urusan tiket kawan yang lain. Saya harus membantu satu kawan soal tiketnya dan pada saat yang bersamaan saya harus adu dalil dengan kawan yang satu lagi. Tiba-tiba di depan saya dilema antara kesalehan ritual dan kesalehan sosial menjadi nyata.

Syekh Yusuf al-Qaradhawi mencoba menjelaskan dilema ini dalam bukunya Fiqh al-Awlawiyat. Beliau berpendapat kewajiban yang berkaitan dengan hak orang ramai atau umat harus lebih diutamakan daripada kewajiban yang berkaitan dengan hak individu. Beliau juga menekankan untuk prioritas terhadap amalan yang langgeng (istiqamah) daripada amalan yang banyak tapi terputus-putus. Lebih jauh beliau berpendapat:

Fardhu ain yang berkaitan dengan hak Allah semata-mata mungkin dapat diberi toleransi, dan berbeda dengan fardhu ain yang berkaitan dengan hak hamba-hamba-Nya. Ada seorang ulama yang berkata, “Sesungguhnya hak Allah dibangun di atas toleransi sedangkan hak hamba-hamba-Nya dibangun di atas aturan yang sangat ketat.” Oleh sebab itu, ibadah haji misalnya, yang hukumnya wajib, dan membayar utang yang hukumnya juga wajib; maka yang harus didahulukan ialah kewajiban membayar utang.” Ini artinya, untuk ulama kita ini, dalam kondisi tertentu kita harus mendahulukan kesalehan sosial daripada kesalehan ritual.

Kita juga dianjurkan untuk mendahulukan amalan yang mendesak daripada amalan yang lebih longar waktunya. Misalnya, antara menghilangkan najis di masjid yang bisa mengganggu jamaah yang belakangan hadir, dengan melakukan shalat pada awal waktunya. Atau antara menolong orang yang mengalami kecelakaan dengan pergi mengerjakan shalat Jum’at. Pilihlah menghilangkan najis dan menolong orang yang kecelakaan dengan membawanya ke Rumah Sakit. Sebagai petugas kelurahan, mana yang kita utamakan: shalat di awal waktu atau melayani rakyat yang mengurus KTP terlebih dahulu?

Diskresi semacam ini pula yang dituntut dari seorang Kristen seperti disindir dengan sangat keras oleh penulis Injil Lukas (Lukas 10: 25-37). Nilai universal serupa, jika kita dalami pada ajaran agama lain, entah itu agama yang diakui resmi di Indonesia ataupun ratusan aliran kepercayaan (yang entah mengapa hingga saat ini belum mendapatkan perlakuan setara engan agama-agama resmi), bahwa secara umum, di lubuk hati paling dalam dari manusia rasional dan humanis (versi Imanuel Kant), manusia sebenarnya tahu bahwa berbuat baik kepada sesama adalah sejajar dengan ketaatan ritual. Bahkan dalam banyak kasus, sepanjang tidak menodai akidah dan esensi iman dari umat beragama, ritual dan segala tetek-bengeknya mesti ditempatkan di bawah hukum universal itu.

Projecta remota (tujuan akhir) dari kristalisasi nilai semacam ini sangat sesuai dengan tujuan hidup bernegara berdasarkan Pancasila, yakni mencipatakan kebaikan umum (bonum commune). Seperti umat Islam yang mengabaikan kenajisan dan mementingkan untuk membawa orang yang sakit ke pusat layanan kesehatan terdekat; orang Samaria yang baik hati dan rela menolong orang yang sedang terbaring kesakitan di tengah jalan meski ia sadar bahwa tetap saja kaum ahli agama Yahudi menganggapnya sebagai orang kafir; atau siapapun yang mementingkan kasih kepada sesama dan ciptaan melebihi ketaatan ritual agama yang buta. Nilai ini sejatinya universal, terutama bagi mereka yang masih memiliki hati nurani yang baik dan terus menjaganya.

Kesalehan Ritual

Hosen melanjutkan kegalauannya secara jujur, menyingkap realitas banyaknya umat Islam yang masih belum terbiasa melatih diri untuk berdiskresi secara benar ketika berhadapan pada penentuan skala prioritas yang dilematis antara kesalehan sosial dan kesalehan ritual.

Mana yang harus kita prioritaskan di saat keterbatasan air dalam sebuah perjalanan: menggunakan air untuk memuaskan rasa haus atau untuk berwudhu’. Wudhu’ itu ada penggantinya, yaitu tayammum. Tapi memuaskan haus tidak bisa diganti dengan batu atau debu. Begitu juga kewajiban berpuasa masih bisa di-qadha atau dibayar dengan fidyah dalam kondisi secara medis dokter melarang kita untuk berpuasa. “Fatwa” dokter harus kita utamakan dalam situasi ini. Ini artinya shihatul abdan muqaddamun ‘ala shihatil adyan. Sehatnya badan diutamakan daripada sehatnya agama.

Dalam bahasa Abdul Muthalib, kakek Rasulullah, di depan pasukan Abrahah yang mengambil kambing dan untanya serta hendak menyerang Ka’bah: “Kembalikan ternakku, karena akulah pemiliknya. Sementara soal Ka’bah, Allah pemiliknya dan Dia yang akan menjaganya!” Sepintas terkesan hewan ternak didahulukan daripada menjaga Ka’bah; atau dalam kasus tiket di atas seolah urusan shalat ditunda gara-gara urusan pesawat; atau keterangan medis diutamakan daripada kewajiban berpuasa. Inilah fiqh prioritas!

Syekh Yusuf al-Qaradhawi juga menganjurkan untuk prioritas pada amalan hati ketimbang amalan fisik. Beliau menulis:

“…Kami sangat heran terhadap konsentrasi yang diberikan oleh sebagian pemeluk agama, khususnya para dai yang menganjurkan amalan dan adab sopan santun yang berkaitan dengan perkara-perkara lahiriah lebih banyak daripada perkara-perkara batiniah; yang memperhatikan bentuk luar lebih banyak daripada intinya; misalnya memendekkan pakaian, memotong kumis dan memanjangkan jenggot, bentuk hijab wanita, hitungan anak tangga mimbar, cara meletakkan kedua tangan atau kaki ketika shalat, dan perkara-perkara lain yang berkaitan dengan bentuk luar lebih banyak daripada yang berkaitan dengan inti dan ruhnya. Perkara-perkara ini, bagaimanapun, tidak begitu diberi prioritas dalam agama ini.”

Dengan tegas beliau menyatakan:

“Saya sendiri memperhatikan – dengan amat menyayangkan –  bahwa banyak sekali orang-orang yang menekankan kepada bentuk lahiriah ini dan hal-hal yang serupa dengannya – Saya tidak berkata mereka semuanya – mereka begitu mementingkan hal tersebut dan melupakan hal-hal lain yang jauh lebih penting dan lebih dahsyat pengaruhnya. Seperti berbuat baik kepada kedua orangtua, silaturahim, menyampaikan amanat, memelihara hak orang lain, bekerja yang baik, dan memberikan hak kepada orang yang harus memilikinya, kasih-sayang terhadap makhluk Allah, apalagi terhadap yang lemah, menjauhi hal-hal yang jelas diharamkan, dan lain-lain sebagaimana dijelaskan oleh Allah SWT kepada orang-orang yang beriman di dalam kitab-Nya, di awal surah al-Anfal, awal surah al-Mu’minun, akhir surah al-Furqan, dan lain-lain.”

Kesalehan ritual itu ternyata bertingkat-tingkat. Kesalehan sosial juga berlapis-lapis. Dan kita dianjurkan dapat memilah mana yang kita harus prioritaskan sesuai dengan kondisi dan kemampuan kita menjalankannya.

Bersandar pada tuntutan universalitas Alquran, Presiden Jokowi menyampaikan pesan serupa dengan artikulasi yang lebih kuat. Kata Jokowi:

Kita akan termasuk golongan pendusta agama jika kita membentak anak yatim,

Kita akan termasuk golongan pendusta agama jika kita tidak perduli dengan saudara-saudara kita fakir miskin,

Kita akan termasuk golongan pendusta agama jika kita berbuat kerusakan di muka bumi ini.

Jokowi Mulai dari Lingkungannya Sendiri

Usai menyampaikan pesan yang begitu mendalam kepada segenap umat Islam di Indonesia ini, Jokowi kembali melakukan hal yang sama kepada dirinya sendiri, lingkungannya yakni pemerintahan yang berkuasa saat ini.

Entah menyadari benar tujuan dari pesannya kepada pemerintah dan segenap aparat (sebab masih saja ada yang terkantuk-kantuk mendengarkan Presiden sedang berpidato dengan intensi sepenting itu), tujuan dari pesan berikutnya adalah kepada segenap aparat pemerintah:

Karena itu pemerintah bertekad untuk terus meningkatkan pemeretaan ekonomi yang berkeadilan bagi seluruh masyarakat, memberantas radikalisme dan terorisme dan menggebuk komunisme

Presiden mengatakan pemerintah juga mengeluarkan kebijakan pemerataan ekonomi melalui pembagian aset untuk umat agar mempunyai lahan, kemudahan akses permodalan dan pendidikan advokasi yang masif.

“Pemerintah juga berencana mengembangkan perekonomian umat melalui pengembangan ekonomi keuangan syariah yang berdasarkan sistem wakaf, tapi ini masih dalam proses untuk kita selesaikan,” jelas Presiden.

Dalam kesempatan ini, Presiden juga berpesan bahwa dengan panduan Al-Quran bahwa sudah menjadi kodrat bangsa Indonesia untuk hidup dalam kebhinekaan, keberagaman suku, keberagaman agama, keberagaman ras dan keberagaman golongan.

“Ini merupakan anugerah Allah yang diberikan kepada kita. Dan kita wajib merawat apa yang telah menjadi anugerah Allah. Kita wajib merawat Bhinneka Tunggal Ika,” kata Presiden.

Pesannya telah tersimpulkan ketika Jokowi kemudian mengajak segenap warga Indonesia bahwa:

“Al-Quran mengajarkan kita taawud, bekerja keras, dan bekerja sama untuk mengubah nasib kita, mengubah nasib bangsa kita, bangsa Indonesia. Karena itu pemerinah bekerja keras membangun infrastruktur, membangun hubungan konektivitas di tanah air agar biaya logistik turun, biaya transportasi turun, sehingga perbedaan harga antar wilayah tidak ada perbedaan, tidak terlalu jauh, artinya merata”

Men-darat-kan Universalitas Quran

Presiden Joko Widodo mengatakan Indonesia dalam mengejar kemajuan dan kesejahteraan rakyat harus bersandar pada tuntutan universalitas Al-Quran.

Jika dicermati, seruan yang serupa juga adalah pesan dari setiap kali kutbah dibawakan oleh seorang kyai yang benar-benar mendalami Kajian Quran. Sebab ada juga yang menyebut diri pemuka agama atau kyai, ustadz atau ustazah tetapi sangat jauh dari amanah mulia yang melekat pada tugas yang diembannya. Saban hari ini misalnya, kerap kita mendengarkan bahwa seruan “jangan mengkriminalkan ulama” sudah dikoreksi menjadi “jangan meng-ulama-kan kriminal”.

Pada konteks lain, juga oleh para pastor, pendeta, malim, bhiku, bhikuni, pandita – apapun sebutan bagi para pemuka agama – bahwa masing-masing kitab suci mereka, sama seperti Qur’an, mengandung nilai-nilai kebaikan universal. Begitu teorinya.

Tetapi jemaat, rakyat, ummat, umat dan warga sipil biasa tidak lagi bisa dinina-bobokan oleh seruan, pidato dan kampanye yang wah dan sensasional, cetar membahana. (Sebab kita tahu bahwa ada ratusan pakar ahli komunikasi dan propaganda politik berkontribusi pada penyusunan dan pengkondisian acara-acara kenegaraan sehingga terlihat elegan). Jemaat, rakyat, ummat, umat membutuhkan wacana teoretis yang SEJALAN dengan kenyataan praktek penyenggaraan pemerintahan dalam hidup sehari-hari mereka.

Jika benar bahwa “Al Quran adalah rahmat, bukan saja untuk Bangsa Arab, tetapi untuk seluruh umat manusia di dunia, termasuk Indonesia”, maka para penghayat universalitas Quran tersebut harus memperlihatkannya dalam hidup sehari-hari.

Ngomong-ngomong, pidato universalitas Quran juga sebelumnya disampaikan oleh Suryadharma Ali ketika masih menjabat sebagai Menteri Agama, sebelum dirinya divonis 6 tahun penjara gara-gara tersangkut kasus dana haji. Suryadharma Ali hanya salah satu contoh saja dari sekian banyak orator yang berteriak menyebutkan universalitas Quran, tetapi dirinya sendiri justru menunjukkan PRAKSIS yang sangat bertentangan dengan TEORI yang dia kumandangkan. Masih banyak lagi lainnya termasuk dalam pemerintahan, yang suaranya tidak didengar lagi, dianggap sepi bahkan akan dicatat sejarah sebagai tokoh dengan reputasi yang buruk.

Jika benar bahwa universalitas itu juga terlihat pada “keteladanan Rasulullah pada gerakan yang memakai nilai universalitas Al-Quran untuk mentransformasikan Bangsa Arab menjadi yang beradab, menjadi bangsa maju”, mestinya para penghayat dan pembaca Quran juga bahu-membahu mentransformasikan bangsa Indonesia, bangsanya sendiri, menjadi bangsa yang beradab, bangsa yang maju. Merusak, demo tanpa aturan, persekusi massal maupun individual, kompromi dengan gerakan teroris, atau mengusik ajaran agama lain, tent saja bukan contoh umat yang melaksanakan nilai universalitas Quran itu.

Begitulah. Universalitas Quran ini begitu luhur (dengan asumsi bahwa tafsirnya benar demikian), sebab konon katanya memang diturunkan dari langit. Supaya dimengerti oleh penduduk yang tinggal di bumi Indonesia ini, ia harus di-darat-kan.


Ketika mendengarkan teori atau kampanye yang luar biasa soal wacana kebaikan dari suatu ajaran agama, teman saya biasanya bilang: “Asal ma toho”. 

Ketika ternyata teorinya tidak mendarat, kotbah membahana dan pidato berapi-api tidak nyata dalam praktek, bahkan bertentangan, teman saya ini akan mengatakan: “Holan hata do hape nanidokmi, kedan”

Facebook Comments

Muslim dan Kristen, “Ambil dan Bacalah”

Ateis, Agnostik dan Teis Dikaruniai Akal

Kalau Anda punya waktu untuk browsinng di internet, cobalah iseng mengetik keywords Dawkins’ Scale, Nietszche, religious people less intelligent,  mudah-mudahan Anda akan memperoleh sekilas gambaran betapa wacana religiositas mempengaruhi keterbukaan kaum beragama terhadap ilmu pengetahuan dan informasi ilmiah yang terbaru secara jujur.

Harapan dari tulisan singkat Saya ini semoga bisa bermuara pada penyadaran sederhana bahwa sebagai satu spesies homo sapiens sesuai evolusi Charles Darwins (either you accept Darwinism or not) dan taksonomi Carolus Linnaeus, situasi dianugerahkannnya akal budi kepada semua manusia itu berlaku umum, entah Anda kaum (yang menyebut diri beragama), agnostik (para peragu kritis akan benar-tidaknya eksistensi Tuhan) dan ateis (teman-teman yang tidak meyakini adanya Tuhan berangkat dari lack of evidence) sesuai nomenklatur Dawkins’ Scale.

Sebagai golongan teis paling peraih dua statistik terbesar di KTP menurut data pemerintah Republik Indonesia, layak rasanya jika teman-teman Muslim dan Kristen merenungkan dan mengevaluasi kembali sejauhmana pencerapan kita terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan informasi. Tidak perlu rumit-rumit, pakai saja empat indikator utama literasi dalam mengukurnya, yakni reading, writing, listening and speaking. Jadi, alih-alih berbalik menyerang (seringkali tanpa sadar kita bumbui dengan berbagai logical fallacies yang sulit kita hilangkan) rekan ateis yang kerap melakukan bully seakan-akan fakta keberagamaan kita berbanding lurus dengan tingkat ignoransi, jadilah well-prepared “membela” rasionalitas dari iman yang dimiliki dengan memperkaya diri dengan segala pengetahuan dan sikap terbuka yang perlu untuk itu.

Teman Muslim, Warnailah Dunia dengan Menulis

Kemarin, pada hari ke-17 Ramadhan, pada malam Nuzulul Qur’an seorang teman online Saya di aplikasi Line mengirim pesan terusan dari M. Anwar Djaelani, penulis buku “Warnai Dunia dengan Menulis” kepada Saya. Berikut isi pesannya:

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu-lah yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran Qalam (tulis-baca). Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya” (QS [96]: 1-5).

Modal Sukses

Di negeri ini, di tiap17 Ramadhan, umat Islam banyak yang mengadakan Peringatan Nuzulul Qur’an. Di acara ini, hampir pasti lima ayat Al-Qur’an yang kali pertama diwahyukan kepada Nabi Muhammad Saw dan yang terjemahnya menjadi paragraf pembuka tulisan ini akan dibacakan. Akibatnya, nyaris tak ada umat Islam yang tak tahu perintah ini: Iqra’ (Bacalah).

Acara itu secara umum diniati untuk menjadi media agar kita lebih mencintai Al-Qur’an (dalam makna, lebih bersemangat untuk mengamalkan semua ajaran di dalamnya). Dalam kaitan ini, mestinya kita harus lebih mencermati perintah membaca dan menulis. Jika itu yang kita kerjakan, sungguh kita akan punya gambaran bahwa di depan Islam, aktivitas membaca dan menulis mendapat nilai yang sangat tinggi dan akan menjadi katalisator tegaknya sebuah peradaban mulia.

Di ayat pertama sangat jelas meminta kita untuk membaca. Apa yang harus dibaca? Semua ayat Allah, baik yang tertulis ataupun yang tak tertulis. Ayat yang tertulis adalah Al-Qur’an. Ayat tak tertulis adalah alam semesta dan seisinya yang merupakan ciptaan Allah.

Di antara ayat-ayat itu, sangat banyak yang harus dijelaskan lebih lanjut. Misal, kita diminta ‘menerangkan’ bagaimana unta diciptakan, langit ditinggikan, gunung-gunung ditegakkan, dan bumi dihamparkan?” (baca QS [88]: 17).

Jika demikian, apakah Al-Qur’an tak sempurna seperti yang digambarkan antara lain di QS [2]: 2? Sama sekali tidak! Lewat ayat yang membutuhkan penjelasan lebih dalam itu Allah justru memberi sarana kepada manusia agar memanfaatkan akal yang dipunyainya. “Hai jamaah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah. Kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan”(QS [55]: 33).

Kekuatan apa? Kekuatan akal! Maka, di Al-Qur’an banyak ayat yang berupa rangsangan Allah agar kita terus memikirkan ciptaan-Nya. “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal” (QS [3]:190).

Di titik ini, agar pembacaan kita atas ayat-ayat Allah lebih bisa dirasakan manfaatnya oleh kaum yang lebih luas, maka perlulah kesemuanya ditulis. Di sinilah makna penting ayat ke-4 dari QS Al ‘Alaq, bahwa Allah yang mengajar (manusia) dengan perantaran qalam (tulis-baca).

Aktivitas membaca dan menulis itu saling terkait. Pertama,kita diminta untuk membaca. Terkait ini, tentu diperlukan bahan bacaan. Bagi Muslim, bacaan utama adalah Al-Qur’an (bahkan, Al-Qur’an menurut bahasa maknanya adalah bacaan atau yang dibaca). Setelah itu, Al-Qur’an (plus ayat Allah yang tak tertulis) perlu dijelaskan oleh “kaum yang berakal”. Di titik ini, kita memerlukan penulis dari kalangan ulama dan cendekiawan Muslim, yang bisa menyediakan bahan bacaan yang baik.

Kedua, untuk membuat tulisan yang baik, penulis butuh ilmu atau wawasan. Untuk itu, penulis harus banyak membaca. Bukankah –kita tahu- bahwa tulisan yang baik itu hanya akan lahir dari pembaca yang tekun?

Tampak, bahwa aktivitas membaca dan menulis seperti dua sisi mata uang yang satu dan lainnya tak boleh tiada. Keduanya harus ada, karena saling bergantung.

Terkait hasil beraktivitas membaca dan menulis, tercatat bahwa sejarah umat Islam di tujuh abad pertamanya adalah rangkaian kisah gemilang sebuah peradaban. Kala itu, ilmu –yang diperoleh lewat membaca dan menulis- berkembang pesat. Ilmu menopang penemuan berbagai teknologi yang membuat hidup manusia lebih nyaman. Tak hanya itu –dan bahkan ini yang paling penting- ilmu ketika itu bisa membuat manusia lebih mengenal siapa Tuhannya.

Bangun, Bangkit!

Sekarang, kita tengok sebuah negeri berpenduduk Muslim terbesar di dunia. Pertama, di antara cita-cita dari pendiri negeri ini adalah “Mencerdaskan kehidupan bangsa”. Usaha itu, tak dapat tidak, harus dilakukan lewat peningkatan aktivitas membaca dan menulis. Masalahnya, sudah seperti itukah kita?

Lihatlah, di segi minat baca! Ternyata, menurut UNESCO, pada 2012 indeks minat membaca masyarakat Indonesia 0,001. Artinya, dari setiap 1.000 orang hanya seorang yang punya minat baca (www.linggapos.com 28/09/2013).

Lalu, bagaimana dengan minat menulis? Kita pakai logika saja. Aktifitas membaca diperlukan untuk menjadi modal menulis. Maka, bisa dipastikan, bahwa minat menulis kita akan lebih rendah jika dibandingkan dengan minat membaca. Asumsinya, bagaimana mungkin seseorang akan suka menulis jika dia tidak senang membaca?

Kini, tak usah meratap, tapi – sebaliknya – mari bangkit!

Pertama, kepada para Ulama, jadilah seperti Nabi SAW yang sangat menomorsatukan akivitas membaca dan menulis. Apa yang terjadi pasca-Perang Badar cukup memberi pelajaran kepada kita. Kala itu, atas tawanan perang dari pihak musuh yang ingin bebas, Nabi Saw hanya memberikan syarat ‘sederhana’ yaitu si tawanan memberikan pelajaran baca-tulis terlebih dulu kepada umat Islam. Lihat, Nabi Saw tak meminta tebusan harta tapi sebuah ‘modal sukses’ yaitu kecakapan membaca dan menulis. Dalam konteks ini, duhai ulama, gairahkan umat Islam untuk gemar membaca dan menulis.

Kedua, kepada pemerintah. Amanah yang Anda pikul cukup berat. Sudahkah Anda menyediakan strategi yang bagus sedemikian rupa membaca dan menulis (sebagai bagian paling pokok dari usaha “Mencerdaskan kehidupan bangsa”) dapat menjadi keseharian dari semua murid / mahasiswa dan warga pada umumnya?

Mari bangkit, songsong peradaban mulia dengan menjadikan aktivitas membaca dan menulis sebagai keseharian kita. Hanya dengan cara demikian, peringatan Nuzulul Qu’an yang kita selenggarakan tiap tahun tak sia-sia.

Teman Kristen, Ambil dan Bacalah!

Entah Anda Katolik atau pengikut salah satu dari ribuan denominasi Protestantisme, sebagai orang yang gemar membaca dan mengikuti perkembangan sejarah literatur Gereja, nama Aurelius Agustinus dari Hippo tentu bukan nama yang asing lagi. Khusus untuk Gereja Katolik, penulis dari zaman Gereja sebelum abad Pertengahan ini, Santo Agustinus dari Hippo (Afrika Utara) ini dinobatkan sebagai salah satu dari beberapa Pujangga Gereja dengan buah-buah pemikiran yang masih relevan dan karenanya menjadi referensi dari berbagai dokumen doktrinal Gereja hingga hari ini.

Salah satu anjuran Santo Agustinus yang banyak dijadikan inspirational quote adalah “tolle et lege” (Lat., artinya: ambillah dan bacalah). Seorang teman blogger menyuguhkan review singkatnya sebagai parafrase yang cukup apik terhadap anjuran tersebut. Berikut isi review-nya (tanya teman atau gunakan Google Translate, Tradukka atau tools penterjemah lain jika Anda kesulitan memahami teks berbahasa Inggris):

“But when a deep consideration had from the secret bottom of my soul drawn together and heaped up all my misery in the sight of my heart; there arose a mighty storm, bringing a mighty shower of tears. Which that I might pour forth wholly, in its natural expressions, I rose from Alypius: solitude was suggested to me as fitter for the business of weeping; so I retired so far that even his presence could not be a burden to me. Thus was it then with me, and he perceived something of it; for something I suppose I had spoken, wherein the tones of my voice appeared choked with weeping, and so had risen up.

He then remained where we were sitting, most extremely astonished. I cast myself down I know not how, under a certain fig-tree, giving full vent to my tears; and the floods of mine eyes gushed out an acceptable sacrifice to Thee. And, not indeed in these words, yet to this purpose, spake I much unto Thee: and Thou, O Lord, how long? how long, Lord, wilt Thou be angry, for ever? Remember not our former iniquities, for I felt that I was held by them. I sent up these sorrowful words: How long, how long, “tomorrow, and tomorrow?” Why not now? why not is there this hour an end to my uncleanness?

So was I speaking and weeping in the most bitter contrition of my heart, when, lo! I heard from a neighbouring house a voice, as of boy or girl, I know not, chanting, and oft repeating. ‘Take up and read; Take up and read.’ [’Tolle, lege! Tolle, lege!’] Instantly, my countenance altered, I began to think most intently whether children were wont in any kind of play to sing such words: nor could I remember ever to have heard the like. So checking the torrent of my tears, I arose; interpreting it to be no other than a command from God to open the book, and read the first chapter I should find.

Eagerly then I returned to the place where Alypius was sitting; for there had I laid the volume of the Apostle when I arose thence. I seized, opened, and in silence read that section on which my eyes first fell: ‘Not in rioting and drunkenness, not in chambering and wantonness, not in strife and envying; but put ye on the Lord Jesus Christ, and make not provision for the flesh, in concupiscence.’ [Romans 13:14-15] No further would I read; nor needed I: for instantly at the end of this sentence, by a light as it were of serenity infused into my heart, all the darkness of doubt vanished away.”

Jika ingin membaca secara penuh karya Agustinus yang memuat quote tadi, silahkan mencari di perpustakaan yang ada, entah offline atau online. Berikut ini detail dari referensi yang Saya maksud:

Aurelius Augustine, The Confessions of St. Augustine, translated by Edward Pusey. Vol. VII, Part 1. The Harvard Classics. New York: P.F. Collier & Son, 1909–14.

Fides et Ratio (Iman dan Akal Budi)

Mencari titik temu (interseksi) antara iman (yang doktrin dan penjelasannya pertama-tama tidak harus melalui standar metode ilmiah) dan ratio (akal budi) adalah tugas bagi setiap akademisi, pemuka jemaat (pastor, pendeta, bijbelvrouw, katekis, penceramah, kyai, ustadz dan ustazah) termasuk seluruh umat beragama. Sekali lagi, secara khusus, seruan ini dialamatkan kepada teman-teman Muslim dan Kristen, golongan teis Indonesia paling peraih dua statistik terbesar di KTP menurut data pemerintah.

Anda bisa mulai dengan memperbanyak frekuensi membaca dua jenis buku sekaligus. Satu, Kitab Suci Anda dan ribuan tafsir-tafsirnya. Dua, buku ilmiah yang berbicara tentang topik terkait di perikop atau ayat yang sedang Anda perdalam. Mudah-mudahan, dengan konsisten melakukan rutinitas membaca dengan cara itu, perlahan Anda bisa berdamai dengan realitas keberagaman sumber literasi terhadap topik atau bahasan yang ingin Anda perdalam. Contoh sederhana, jika selama ini Anda hanya tahu tradisi pengetahuan tentang sosok Tuhan monoteistik yang Anda puja, Anda akan segera menemukan bahwa nama dari Tuhan yang Anda puja hanyalah salah satu dari ribuan (nama) Tuhan yang dipuja umat manusia sepanjang sejarah manusia. Ternyata, ada banyak sekali (nama) Tuhan dan tradisi yang menyertainya. Tradisi yang Anda lakukan hingga hari ini hanyalah salah satu diantaranya.

Atau, jika Anda merasa bahwa terlalu konyol jika masih mempercayai bahwa setiap manusia tercipta secara literer dari tanah, padahal Anda tahu bahwa Anda sendiri adalah hasil dari senggama antara Ayah dan Ibu Anda, tidak ada salahnya Anda membaca teks Kitab Suci Anda lalu mulai membandingkannya dengan literatur ilmiah terkait. Ada banyak sekali sumber yang bisa dibaca.

Membaca secara konsisten dan berdamai dengan situasi (bahwa menemukan interseksi yang dimaksud ternyata tidak mudah) ilmu keagamaan dan kemajuan sains teraktual yang tidak serta-merta sejalan, memang bukan hal yang mudah dan nyaman. Tapi, seperti kita pada awalnya susah payah memadukan huruf-demi huruf dan akhirnya kita bisa mengeja nama kita sendiri dengan benar, toh akhirnya kita berhasil melewati situasi itu. Tidak ada salahnya, kita kembali “belajar membaca”.

Saya sendiri masih berusaha membaca dengan metode membaca semacam itu. Kegelisahan intelektual ini sedikit bisa saya redam setelah membaca ensiklik dari Paus Yohanes Paulus II yang langsung mengusung judul “Iman dan Akal Budi”.  Jika tertarik, Anda bisa juga mencoba hal serupa.

Untuk mengetahui isi lengkap dari Ensiklik Fides et Ratio yang ditulis oleh (Alm.) Paus Paulus Yohannes II yang kini sudah dibeatifikasi menjadi Santo Yohannes Paulus II, silahkan klik disini:

Ensiklik Fides et Ratio by Vatican.Va


Anda bisa memulainya sekarang. Selain Anda punya Alkitab, tentu Anda juga punya buku-buku sains yang membahas tema terkait. Selain Anda punya Alquran, tentu Anda juga punya buku-buku sains yang berbicara tentang topik sejenis. Tidak harus mulai dengan tulisan yang sulit seperti Confessiones-nya Agustinus, atau puisi-puisi sofistik Jalaluddin Rumi, atau Kitab Kuning-nya Islam Nusantara. Anda bisa mulai dengan memanfaatkan akses internet yang Anda miliki.

Anda bisa mulai dengan membaca lebih banyak informasi dari sumber terpercaya. Jika Anda selama ini lebih banyak menikmati sumber bacaan yang sifatnya satu arah (dari tokoh atau media tertentu yang begitu mempengaruhi Anda sampai Anda tidak ngeh bahwa mereka juga adalah manusia yang tidak mustahil menyertakan unsur subjektifitas dalam penyampaian informasi atau ilmu, sekalipun mereka menyebut atau meminjam otoritas dari agama tertentu atau Tuhan sekalipun), saatnya Anda memperbanyak frekuensi untuk membuka diri pada diskusi dengan anggota yang beragam latar belakang keagamaan.

Jika Anda cukup konsisten dengan sikap ilmiah dan rasional yang sejatinya sudah Anda miliki, berdiskusi dengan anggota dari masing-masing Dawkins’ scale yang berbeda, kelak bukan lagi masalah buat Anda. Anda tidak perlu lagi bertegang urat leher dengan rekan diskusi yang kelihatan seolah menyerang doktrin atau akidah yang selama ini Anda pegang teguh mati-matian. Malahan, Anda akan belajar lebih banyak.

Konon, Tuhan menitipkan ilmu dan pengetahuan dimana-mana, termasuk pengetahuan dan pengenalan tentang Diri-Nya sendiri. Wallahualam.

So, whenever you can afford any book, “tolle et lege”, ambil dan bacalah.

 

Facebook Comments

Insta-Famous

Insta-Famous

Apa itu Insta-Famous?

Insta-famous atau Selebgram bukanlah aktor, aktris, musikus(i), atau anak dari tokoh partai politik atau penguasa di pemerintahan. Mereka adalah remaja pengguna Instagram yang menangkap peluang untuk menjadi “famous” (terkenal), punya tempat tersendiri (fame) di hati para follower-nya.

Selain dari akun-akun Instagram yang nyerempet-nyerempet ke pertunjukan keindahan atau kejelekan tubuh dan aksi visual ekstrem (yang entah mengapa masih menjadi pemeringkat atas di antara akun-akun yang ada), akun-akun Insta-famous ini menyadari bahwa selain TV, Radio atau Suratkabar, media sosial terutama Instagram telah menyediakan panggung baru bagi mereka. Panggung yang selama ini hanya bisa dimiliki oleh para artis atau selebritis papan atas yang didapatkan dengan susah payah dan dedikasi bertahun-tahun.

Bahkan jebolan kontes seperti Indonesian Idol, Akademi Fantasi Indonesia, atau comic lulusan Stand Up Comedy saja belum tentu sampai di panggung serupa dan memperoleh fans loyal. Ratusan alumni dari tiga kontes TV terbesar tadi, coba saja cek sendiri, berapa persen yang hari ini masih mendapat tawaran untuk nongol di layar TV.

Tanyalah @dijjah_yelloww yang entah mendapat ilham dari mana, foto dan video singkatnya telah berhasil menjadikannya salah satu akun “dari tak dikenal menjadi tenar” di hati 182 ribu lebih pengguna Instagram Indonesia. Lebih dari separuh jumlah follower di akun Ahmad Dhani, bos Republic Cinta Management yang dulu musiknya mengisi masa-masa SMP dan SMA saya, tetapi kini harus berjuang menanggung konsekuensi dari lirik lagunya ” … Atas nama cinta saja, jangan bawa nama Tuhan …“. Akun dari sebuah band musik indie  barangkali memerlukan kampanye konsisten bertahun-tahun untuk mendapatkan jumlah follower serupa.

Camera dan Aplikasi Instagram – Dua Sejoli Tak Terpisahkan

Lantas apa yang didapat dari banyaknya jumlah follower itu? Jika Anda orang advertising (periklanan) atau setidaknya memahami prinsip dasar marketing, Anda akan segera tau bahwa jumlah follower itu berbanding lurus dengan kesempatan untuk mendapatkan tawaran iklan, endorsement, jual-beli akun, kampanye politik, brand campaign,  dan sejenisnya. Pundi-pundi uang pun mengalir sederas jumlah pesanan ke akun mereka.

Penting dicatat, kesempatan loh ya. Sebab kesempatan dan hoki (luck atau keberuntungan) adalah resep dasar dari kesuksesan menurut ukuran yang berlaku umum. Praktisnya, jika Anda punya teman yang mempunyai puluhan ribu pengikut di media sosial, dengan segmentasi yang baik, meminjam akun tersebut untuk memasarkan produk terbaru usaha Anda jauh lebih efektif dan hemat dibandingkan mencetak selebaran yang hanya akan dibuang di jalan raya begitu orang melihatnya sekejap, menimbulkan sampah di sepanjang jalan pula.

Insta-famous = Instant fame?

Smartphone, Creativity, Leisure Time, Extreme Selfie Mood adalah paduan sempurna bahan mentah bagi para wannabe-insta-famous ini.  Sempurna karena para penggila Instagram ini memiliki atau bisa mengusahakan keempatnya. Dengan bermodalkan kocek 700 ribu mereka sudah bisa membawa pulang sebuah Evercross baru yang sudah berteknologi android. Dengan beragam trik dan tips yang bisa mereka browsing dari Google dan Youtube, mereka bisa belajar menjepret foto atau merekam video berdurasi singkat yang bakal menarik mata orang. Dengan kesibukan mereka yang tergolong lebih ringan dibanding angkatan pekerja (umumnya mereka adalah para pelajar sekolah lanjutan atau sedang kuliah). Soal mood untuk ber-selfie-ria, rasanya tak perlu ditanya lagi. Bahkan saat berbuka puasa pun, durasi waktu untuk berswafoto lebih besar ketimbang silaturahmi yang umum dimengerti orang

Orangtua atau kaum dewasa yang masuk Generasi X (baby boomer) dan Y (millenial) awal barangkali adalah kaum yang paling jengkel dengan begitu banyaknya adegan selfie dan sesi fotografi tanpa henti yang dilakukan oleh kaum muda sekarang dengan konsistensi tanpa henti. Remaja usia belasan dan dua puluhan tahun yang lebih khawatir kalau foto terakhir acara makan bersama mereka tidak diposting di Instagram ketimbang tugas sekolah atau kuliah yang tidak sempat mereka kerjakan.

Jika demikian, benarkah nasihat lama “Instant Result isn’t the same as you play in ‘normal’ way” tidak berlaku lagi? Apakah “hasil tidak pernah menghianati proses” tidak relevan lagi? Singkatnya, apakah Insta-famous (selebgram) sama dengan Instant-famous (mendadak terkenal, tetapi cepat pula dilupakan)?

Tidak.

Insta-famous pada hemat Saya ada dua jenis.

Pertama, Insta-famous sejati. Mereka adalah pengguna Instagram yang justru melewati proses, meski tanpa dahi berkerut dan argumentasi panjang dan tumpukan kertas kerja di tong sampah. Ingat.

Mereka bukanlah aktor dan selebritis yang saban hari wajahnya nongol di layar televisi. Tanpa promosi yang konsisten baik secara online maupun dengan WoM (word of mouth), semenarik apapun postingan mereka tidak akan dilirik atau dikenal orang jika mereka tidak bergerak mencari follower. Mereka juga bukan anak konglomerat atau penguasa yang dengan uang dan pengaruh yang mereka miliki bisa saja “membeli” sejumah follower.

Mereka berlatih menjepret wajah yang fotogenik. Mereka mencoba berbagai sensasi gaya dalam berpose (sampai ada yang bela-belain berfoto di tepi jurang atau di depan mulut buaya yang menganga menunggu mangsa, oh mai goat). Tidak sedikit yang melatih kepekaan mata mereka terhadap estetika dari visualitas benda-benda di sekitar mereka, entah asli entah dengan editan, melalui proses yang juga tidak semudah dan secepat membalikkan telapak tangan.

Mereka juga ramah dan tidak pelit untuk singgah di akun sesama mereka.  Mereka belajar caranya memilih angle foto dan lighting yang benar. (Yang terakhir ini saya baru tahu sedikit-sedikit setelah ngopi bareng dengan @adi.belek, @elleanor,dan @thebridestory).

Pengguna akun dengan konsistensi seperti ini memang layak mendapatkan puluhan ribu follower setia, fans yang loyal. Mereka menjelma menjadi leader-leader baru. Lewat tulisan, foto dan video mereka menjadi influencer yang ampuh, penyampai nilai (value) dan opinionator yang suaranya (voice) pantas didengarkan.

Insta-famous “Parhuta-huta”

Ada lagi insta-famous jenis yang kedua. Saya menyebutnya Insta-famous “parhuta-huta” (kampungan). Golongan ini umumnya pemilik akun instagram yang memperoleh ribuan follower dalam sehari tetapi esoknya bisa di-unfollow oleh ribuan orang juga. Betapa tidak. Mereka ini menggunakan dan menghalalkan segala cara “hanya” demi meraup angka follower. Tentu saja dengan harapan mendapatkan kesempatan seperti di atas. Norak, kampungan, tidak punya etika dan etiket.

Akun-akun ini, selain menyerempet dengan visualitas seksualitas yang melampai norma yang berlaku umum, tidak segan pula mengedit tulisan, foto atau video dari figur publik dengan sengaja memelintir maksud asli dari tulisan, foto atau video tersebut. Tak jarang mereka mengadu domba para pengunjung Instagram yang iseng melihat apa yang baru. Selain gosip terhadap kaum celebrity, diskriminasi SARA (suku, agama, ras dan antargolongan) adalah favorit mereka. Mereka tahu benar bagaimana caranya menyulut kebencian tetapi tidak meredam amarah. Mereka sangat mengerti bagaimana caranya melebih-lebihkan kekurangan dari seorang figur publik, kadang bahkan teman dekat atau keluarga sendiri.

Memang tidak sedikit di antara mereka yang berhasil dari jerat kontrol sosial dari masyarakat pengguna media sosial Instagram yang meskipun tanpa rambu-rambu yang jelas tetapi toh tetap ada, “mengadili seseorang berdasarkan perilakunya”, akhirnya juga meraup rupiah dari sana.

Pengguna akun jenis ini sebenarnya tidak layak mendapatkan puluhan ribu follower. Tak heran, para follower mereka juga lama-kelamaan sadar bahwa mereka mencari display picture yang menarik, bukan disgusting picture yang membuat mereka muak.  Pada titik ini, perlahan tidak ada lagi yang mengikuti dan mengkonsumsi konten yang mereka suguhkan. Sebab sesungguhnya mereka bukanlah leader-leader, melainkan para oportunis rakus yang dengan licik mengeksploitasi para follower mereka secara pikologis. Mereka bukan influencer yang baik, mungkin masih opinionator yang didengarkan untuk sementara waktu, tetapi akan ditinggalkan orang, cepat atau lambat, karena hanya mengejar traffic, dan menimbulkan kebisingan (noise) saja.

Sick people post sick content on their Instagtam

Tak heran, tetapi tidak sedikit pula yang karena serakahnya, tetap nekat menggunakan cara kampungan (semacam black hat SEO untuk kalau di promosi website), mengunggah konten yang jelas-jelas bertentangan dengan hukum dan kesusilaan, akhirnya harus berhadapan dengan aparat penegak hukum. Mereka memang masih famous (terkenal), tetapi tidak dengan cara seperti yang mereka inginkan.

So, tidak perlu khawatir. Entah di Instagram atau media sosial lainnya, entah di dunia maya atau dunia nyata, stay calm saja: Hasil tidak pernah menghianati proses.


Oh iya. Bagi para pembaca yang juga wannabe-insta-famous seperti saya, tidak kalah pentingnya, tidak perlu malu untuk follow Instagram saya di @donaldharomunthe. Kalau mood saya lagi baik, yang sudah follow akan saya follow back. Hahaha.

Facebook Comments

Meneropong Missing Links Sejarah Batak*

Menjadi Orang Batak Masa Sekarang: Apa artinya?

Menjadi orang Batak pada masa kini, lalu bertemu dengan orang Batak lain dalam beragam jenis dan level pertemuan, berarti larut dalam romantika nostalgia dan kerinduan akan suasana rural-agraris yang stabil di masa lalu. Setidaknya hal itu berlaku bagi mereka yang lahir di tanah Batak (yang menyebut diri sebagai “berasal dari Bona Pasogit“) dan kini menjadi urban migran yang hidup sebagai penduduk diaspora di perkotaan modern.

Di tengah gempuran dan kemudahan di era digital yang penuh dengan kemudahan akses terhadap lalu lintas informasi, ada indikasi kuat bahwa generasi Bona Pasogit ini akan menghadapi ancaman punah dalam dua-tiga generasi dari sekarang.

Jika demikian, warisan nilai-nilai kebatakan apakah yang masih tersisa dan bisa dikembangkan untuk mempertautkan Batak masa lalu dengan ‘generasi digital’ (‘Baby Boomers’ X, ‘Millenials’ Y dan ‘i-Generation’ Z) terkini yang terancam punah dari akarnya? Bagaimana generasi Bona Pasogit bisa mengikuti bangsa-bangsa lain yang maju, mengepakkan sayap (wings) tanpa harus tercerabut dari akarnya (root)?

Filosofi “berakar dan bersayap” hendaknya dipeluk oleh setiap anak muda, yang cinta dengan budayanya, tetapi tidak ketinggalan dengan kemajuan zaman.


Generasi Yang Belum ‘Siuman’

Tahun 1824 adalah tonggak awal pengetahuan kita mengenai Batak di masa lalu. Di sekitar tahun itu dibuat Traktat London sebagai perjanjian transaksi penyerahan kekuasaan wilayah Tapanuli (sebutan tanah Batak di masa itu) dari Belanda kepada koloni Inggris, yang diwakili oleh Stamford Raffles selaku Gubernur Jenderal.

Seluruh tanah Batak di masa itu dan sebelumnya adalah terra incognitadunia yang belum terjamah kemajuan Barat. Bagi kacamata Barat berikut teropong dokumentasi yang menggunakan perspektif itu, masyarakat yang menghuni wilayah itu masih benar-benar splendid isolation.

Menggunakan teropong sekarang, orang-orang Batak yang merasakan urgensi ketersambungan root dengan wings,  bangkit dari status masyarakat yang masih pingsan dan belum siuman adalah konsekuensi logis. Strategi taktis yang harus ditempuh pertama-tama yakni mesti secara sadar mengakui bahwa pada waktu itu tidak ada seorang pun Batak yang sadar bahwa sukunya telah ‘diperdagangkan’ oleh orang-orang yang belum dikenalnya, yakni bangsa Belanda dan Inggris. Baik Belanda maupun lnggeris juga tidak tahu manusia-manusia yang bagaimana menghuni daerah-daerah cakupan traktat itu.” (Dr. A. B. Sinaga, 2007).

Notasi tahun sejak 1824 dan sesudah itu, kini kita ketahui sebagai awal catatan tertulis situasi ‘kesejarahan’ tanah Batak yang kita warisi saat ini. Diantaranya, telah jadi referensi ‘babon’ bagi kita bahwa Burton dan Ward, misionaris Inggris menetap di Silindung pada 1824 dan berhasil menerjemahkan sebagian Kitab Suci ke dalam bahasa Batak. Upaya ini kemudian dilanjutkan oleh Munson dan Lyman (dari Boston, USA).

Tetapi dalam perjalanan ke pedalaman, mereka terbunuh di Sisangkak, Lobupining, 28 Juli 1834. Lalu di tahun 1851, H.N. Van der Tuuk, ahli bahasa (filolog) tiba di Sibolga dan pindah ke Barus pada tahun 1852. Dia berhasil menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Batak.

Pada tahun 1862 di Parausorat, tibalah Pdt. I.L. Nommensen, misionaris muda yang menjadi “Apostel di Tanah Batak”. Dan kemudian pada 7 Nopember 1863, dia sampai di daerah berlumpur aliran sungai Sigeaon, Tarutung, pada usia 30 tahun. Di tempat ini ia berikrar “Tuhan, inilah tempat yang kuimpikan. Biarlah saya mempersembahkan hidupku buat mereka.”

Sejarah Ditulis oleh Kaum Pemenang

Semua catatan yang ditulis pada masa sekitar Traktat London dan sesudahnya bisa dikatakan sebagai catatan mazhab the big man history, yakni sejarah di sekitar orang besar atau di sekitar kekuasaan dan istana tentang Sumatera Utara dan khusus tanah Batak. Diantaranya, perang Paderi (1835), perang Sisingamangaraja (1890 – dan seterusnya), perlawanan rakyat Sunggal di Sumatera Timur, dan sebagainya. Hal yang tidak asing sebetulnya, jika kita melihat fenomen sejenis di berbagai tempat di belahan dunia lain bahwa sejarah yang kita terima saat ini adalah sejarah yang ditulis oleh kaum pemenang.

Tidak kurang dari seorang Malcolm X yang melihat ini sebagai ketimpangan sejarah yang mesti dibereskan oleh semua pihak dan menjadi tugas global.

The big man history seperti di atas itulah yang kita warisi kini dan kita kerap kita jadikan referensi pengetahuan tentang ‘kesejarahan tertulis’ Batak dan Sumut hingga saat ini.

Beberapa pertanyaan besar muncul:

Mengapa catatan sejarah sosial orang-orang biasa (history of the ordinary people) tentang Batak tidak berkembang luas?

Apa yang terjadi pada tahun-tahun sekitar mulai dikenal sistem pertanian dengan irigasi? (Perlu dicatat bahwa inilah tonggak awal peradaban yang memutus rantai ribuan tahun budaya meramu di wilayah splendid isolation.

Bagaimana situasi masyarakat pada periode antara sistem barter sebelum masyarakat Batak dan Sumut mengenal jasa pertukaran dalam bermata-pencaharian dengan situasi pertanian dan perkebunan ((sosio-eko-geografis)?

Bagaimana sejarah sosial di sekitar pembentukan usaha perkebunan tembakau, karet, dan kelapa sawit di daerah pantai timur?

Apa yang membuat begitu aman dan mudahnya segala usaha korporasi itu dan usaha perminyakan di sekitar Pangkalan Brandan di era 1800-an setelah bangkrutnya VOC?

Situasi sosio-ekogeografi apa yang terjadi di sekitar berlakunya Agrarische Wet 1870 pada masa para pejabat kolonial mulai masuk kampung-kampung mengukur setiap jengkal tanah warga?

Seberapa parah siksaan dan derita ringkih nenek moyang kita, di saat mereka ‘kerja paksa’ membuka hutan untuk membangun infra stuktur-keras sarana jalan dan persawahan, di kota dan pedesaan yang kita nikmati saat ini?

Penelitian ilmiah apa dan untuk tujuan apa yang dilakukan oleh sederet ilmuwan Belanda/Eropa di Sumut dan Batak setelah era 1850-an, seperti Junghunn, van Vollen Hoven dengan murid-muridnya, van Bemmelen, dan seterusnya? Apa kontribusi riset mereka terhadap masyarakat yang menjadi objek penelitiannya?

Sederet sejarah sosio-ekogeografi itu masih gelap bagi generasi terkini karena belum diungkap secara umum. Jika tidak segera sembuh dari status ‘pingsan–nya, generasi Batak modern akan ‘dipaksa’ mewarisi sejarah para pahlawan, the big  man history, yang tetap membawa serta muatan permusuhan abadi antara pemenang dan pecundang.

Awal dari siuman adalah ketika orang Batak bersatu, menggunakan segala pengetahuan dan dilandasi dengan keluhuran niat, lalu ‘menguliti’ warisan dokumentasi menggunakan pisau bedah Occam hingga lapisan-lapisan paling tipisnya sehingga kelihatan transparan.

Mana warisan yang sesungguhnya dari nenek moyang Batak yang pantas kita lestarikan? Mana warisan pengetahuan yang kita bantu sebarkan dengan kebanggaan semu karena disebut sebagai orang yang tahu sejarah Batak, padahal itu hanya warisan yang ditulis dengan penuh ketimpangan metodologis untuk ‘kepentingan orang lain’?

 

Seperti halnya Malcolm X membantu merekatkan warga kulit Hitam Amerika dengan mendekatkan mereka kembali pada tradisi asli nenek moyang Afrika mereka, upaya bersama orang Batak untuk memahami nilai asli tradisi nenek moyang Batak-nya adalah dengan mendekatkan kembali orang Batak pada pengenalan akan nenek moyangnya, yang tentu saja sebagian besar tidak tercatat dalam dokumentasi mazhab the big man history. Setelah itu, barulah wacana pelestarian warisan nenek moyang sebagai turunan mereka mendapat makna dan energinya.


Sosio-geografi yang Folklore-sentris

Bagaimana gambaran sosio-geografis tanah Batak pada era sebelum Agrarishe Wet 1870?

Boleh dikatakan bahwa segala narasi kisah tentang asal-usul orang Batak pertama sampai dengan kisah marga-marga dst., adalah tutur lisan berantai oleh moyang kita yang tidak/belum berbudaya baca-tulis. Kebenaran fakta kisah itu bukan reportase berita, seperti laporan wartawan media saat ini. Juga pasti, itu bukan hasil kajian penelitian ilmiah. Paling maksimal semua narasi kisah itu dalam Ilmu Budaya ataupun Sastra disebut Folklore, yang berarti sebagai “cerita rakyat yang berisi ajaran moral yang baik menurut tradisi atau adat-istiadat masyarakat bersangkutan.”

Mengapa demikian? Sebab jika dirunut dari hasil temuan arkeologis yang dipadu kajian epigragfis dan ilmu sejarah sebagai referensi dasar, maka secara hipotetis diperhitungkan keberadaan orang Batak asal adalah di sekitar tahun 1300. Si Raja Batak sendiri, yang diyakini sebagai manusia Batak pertama diperkirakan baru muncul pada tahun 1260.

Era masa itu adalah pasca mega tsunami yang menenggelamkan peradaban kota internasional emporium Barus pada tahun 1200. Hancurnya peradaban di Barus kuno itu, menurut referensi Barat, dikatakan karena serangan pasukan Gargasi. Referensi ini menjadi ramuan gabungan antara folklore dan catatan perjalanan. Dan sesudah itu, tiada peninggalan apa pun yang bisa dirunut tentang peradaban tanah Batak.

Hermeneutika: Mulai Menggunakan Teropong

Hanya orang yang tertidurlah yang bisa bangun. Tentu saja, harus ada orang lain, yang siuman duluan, membangunkannya.

Detil kisah fakta peristiwa dengan gambaran situasi konteks sosio-geografis era abad ke-13 sampai dengan tahun 1800-an di dalam narasi “sejarah Batak” yang beredar saat ini, sungguh sangat mudah sekali dipatahkan logikanya dari segi rasional ilmiah era modern, jika narasi itu bukan Folklore. Untuk itu, mutlak harus dilakukan tafsir teks terhadap konteks situasi (hermeneutik).

Generasi Batak terkini dengan bangga menyebut diri sebagai manusia rasional dan modern. Mereka menuntut ilmu di sekolah, bahkan sampai di perguruan tinggi dengan capaian akademis tertinggi. Platform komunikasi digital yang menjadi menu harian juga menumbuhkan keniscyaan baru bahwa manusia digital ini bukan lagi generasi yang dengan mudahnya dicekoki folklore apalagi doktrin yang tidak mendapat validasi dari hukum-hukum positif.

Mereka tahu bahwa hingga kini, bahkan teori kreasionis a la Kitab Suci bukan lagi tandingan, setidaknya tidak lagi mumpuni menandingi serangan klaim ilmiah dari teori Big Bang atau String Theory. Maka, jika suatu waktu mereka membolak-balik turiturian yang menceritakan bagaimana Boru Deak Parujar membentuk adonan dari tanah liat dan menciptakan portibi, mereka sudah menikmatinya sebagai myth.

Kini, dari berbagai referensi ilmiah di era modern rasional, telah mudah ditelusuri oleh generasi Batak modern terkini untuk mengetahuinya. Ternyata, setelah ratusan tahun era VOC yang kemudian bangkrut pada 31 Des 1799, lalu menyusul masa pemerintahan kolonial Belanda di tahun 1800. Barulah di tahun 1824, orang-orang Eropa/Belanda mencatat, seluruh daerah tanah Batak sebagai wilayah yang tertutup isolasi rapat karena keadaan alam rimba belantara dengan beragam hewan buas dan ganasnya jurang lembah curam pegunungan yang tertutup rapat. Antar masyarakat kampung (huta) yang satu dengan yang lain, tertutup gundukan tanah tinggi dan pepohonan merapat, sehingga antar mereka tidak berkembang relasi sosio-ekonomis, bahkan selalu saling curiga sebagai musuh.

Imajinasi kita pelaku modern saat ini harus diputar-ulang keluar dari gambar situasi sosio-geografis tanah Batak pasca-kemerdekaan RI, agar kita bisa merasakan rangkaian afeksi peristiwa di dalam narasi itu. Budaya era zaman di dalam kisah ‘narasi sejarah’ atau folklore Batak, hampir pasti masih meramu dengan sistem barter dalam bermatapencaharian. Mereka belum mengenal pola pertanian dengan irigasi dan jasa relasi sosio-ekonomis. Juga pasti, belum ada sarana jalan penghubung yang lancar antar kampung, karena semua infrastruktur keras itu baru mulai dibangun setelah tahun 1800-an di masa pemerintah kolonial, puluhan tahun setelah runtuhnya VOC. Situasi zaman itu hampir pasti, mirip dengan suku-suku primitif Amazon di Amerika Latin atau suku primitif lainnya dalam acara TV National Geographic dan Discovery Channel, Meet the Natives, yang di era global masa kini telah menjadi tontonan hiburan.

Meet The Natives

Narasi kisah ‘sejarah orang Batak’ hampir pasti berupa “petualangan sarat bahaya” di masa sebelum pemerintahan kolonial Hindia Belanda (1800an). Berarti, semua narasi itu ada di masa sebelum kolonial yang pasti juga tanpa ada pengaruh VOC dan suku luar ke wilayah tanah Batak, yang terisolasi hutan lebat alam pegunungan yang dingin menusuk tulang di pagi, sore, dan malam hari. Dalam situasi sosio-geografi itulah, nenek moyang Batak sehari-hari bertualang menembus belantara raya bertabur ancaman bahaya alam dan hewan buas dari satu huta ke huta yang lain, dari lembah yang satu ke lembah yang lain di seputar danau Toba.

Bagaimana mereka menyebar ke berbagai daerah ke luar dari wilayah sekitar danau Toba? Hampir pasti situasi historisnya di zaman itu, sudah masuk era penjajahan dan penindasan yang ringkih dengan kerja paksa oleh pemerintahan kolonial, untuk membangun jalan raya dan merambah hutan menjadi daerah persawahan, perladangan, perkebunan, dan perkampungan (huta) yang kita nikmati di zaman ini. Tetapi lagi-lagi, semua detil fakta peristiwa di dalam narasi migrasi suku dan sub-suku (tribes) itu, tidak bisa dibuktikan sebagai laporan wartawan atau penelitian ilmiah, melainkan benar-benar sebagai folklore, cerita rakyat yang mengandung moral kultural, nilai tradisi unik, karakter kepribadian dan kekeluargaan khas, untuk diwariskan kepada semua turunannya di masa kini dan masa depan.


(*Diubah seperlunya dari kiriman Nikolas Simanjuntak, aktivis ICMICA (Intellectual Movements on Interreligious and Inter-Cultural Affairs) dan Staf Ahli DPR RI sejak 2002)

 

Facebook Comments

Lirik “Sai Anju Ma Ahu”

Aha do alana, dia do bossirna hasian
Umbahen sai muruk ho tu au ito
Molo tung adong na sala na hubaen
Denggan pasingot hasian

Molo hurimangi, pambahenanmi na tu au
Nga tung maniak ate atekki
Sipata bossir soada nama i
dibaen ho mangarsak au

Reff:

Molo adong na sala
manang na hurang pambahenan ki
Sai anju ma au, sai anju ma au
Ito hasian
Sai anju ma au, sai anju ma au
Ito nalagu

(Interlude)

Molo hurimangi, pambahenanmi na tu au
Nga tung maniak ate atekki
Sipata bossir soada nama i
dibaen ho mangarsak au

(back to Reff)


Sumber: MusikLib.Org

 

Facebook Comments

Lirik “Tabo Do Dekke Na Niura”

Tabo do dekke na niura.
Masak so pola ni loppa.
Ai tung tabo do dengke naniura.
Dengke ni Toba Holbung partobi tao i.
Ai tung tabo do dengke naniura.
Dengke ni Toba Holbung partobi tao i.

Asam hape pangaloppana.
Uram-uramna limut ni tao i.
Ai tung tabo do dengke naniura.
Dengke ni Toba Holbung partobi tao i.
Ai tung tabo do dengke naniura.
Dengke ni Toba Holbung partobi tao i.

Reff:
O Amang, o Inang.
Loas au, loas au.
Lao diririt parToba Holbung i.
Da ingkon saut na ma au maen ni Toba.
Maen ni Toba Holbung partopi tao i.
Da ingkon saut na ma au maen ni Toba.
Maen ni Toba Holbung partopi tao i.

(Interlude)

Asam hape pangaloppana.
Uram-uramna limut ni tao i.
Ai tung tabo do dengke naniura.
Dengke ni Toba Holbung partobi tao i.
Ai tung tabo do dengke naniura.
Dengke ni Toba Holbung partobi tao i.

(back to Reff)


Sumber: LirikLaguBatak.Com

Facebook Comments

Lirik “Luat Pahae”

Luat Pahae do huta hatubuan ku.
Laos disi do huta hagodanganhu.
Nungnga tung leleng hutinggalhon.
Hutakki sai huingot doi tong tong.

Tung godang pe luat na hudalani.
Sian Asia sahat ro di Junani.
Australia pe nungnga hudege.
Hutakki sai huingot doi tong tong.

Reff:

O … Luat Pahae sai tuho do lao pikkiranku.
Ro di nalao mate tung so boi tarhalupahon au.

Tung lelelng pe au diparjalangan.
Tung dao pe au dipangarottan.
Hutakki sai tong huhalungunhon.
Tu pahae sai masihol do au tontong.

(Interlude)

Tung godang pe luat na hudalani.
Sian asia sahat ro di junani.
Australia pe nungnga hudege.
Hutakki sai huingot doi tong tong.

(back to Reff)

Tung leleng pe au diparjalangan.
Tung dao pe au dipangarottan.
Hutakki sai tong huhalungunhon.
Tu Pahae sai masihol do au tongtong.


Sumber: LirikLaguBatak.Com

Facebook Comments

Lirik “My Way”

And now, the end is near
And so I face the final curtain
My friend, I’ll say it clear
I’ll state my case, of which I’m certain
I’ve lived a life that’s full
I traveled each and every highway
And more, much more than this, I did it my way

Regrets, I’ve had a few
But then again, too few to mention
I did what I had to do and saw it through without exemption
I planned each charted course, each careful step along the byway
And more, much more than this, I did it my way

Yes, there were times, I’m sure you knew
When I bit off more than I could chew
But through it all, when there was doubt
I ate it up and spit it out
I faced it all and I stood tall and did it my way

I’ve loved, I’ve laughed and cried
I’ve had my fill, my share of losing
And now, as tears subside, I find it all so amusing
To think I did all that
And may I say, not in a shy way
Oh, no, oh, no, not me, I did it my way

For what is a man, what has he got?
If not himself, then he has naught
To say the things he truly feels and not the words of one who kneels
The record shows I took the blows and did it my way

[instrumental]

Yes, it was my way.


 

Sumber: AZLyrics.Com

Facebook Comments

Lirik “Country Roads”

Almost heaven, West Virginia, Blue Ridge Mountains, Shenandoah River.
Life is old there, older than the trees, younger than the mountains, blowing like a breeze.

Country roads, take me home to the place I belong.
West Virginia, mountain mamma, take me home, country roads.

All my memories gather round her, miner’s lady, stranger to blue water.
Dark and dusty, painted on the sky, misty taste of moonshine, teardrop in my eye.

Country roads, take me home to the place I belong.
West Virginia, mountain mamma, take me home, country roads.

I hear her voice in the morning hour, she calls me, the radio reminds me of my home far away.
And driving down the road I get a feeling that I should have been home yesterday, yesterday.

Country roads, take me home to the place I belong.
West Virginia, mountain mamma, take me home, country roads.

Country roads, take me home to the place I belong.
West Virginia, mountain mamma, take me home, country roads

Take me home now, country roads,
Take me home now, country roads.


Sumber: AZLyrics.Com

Facebook Comments

Lirik “Cotton Field”

[Chorus 1:]
When I was a little bitty baby
My mama would rock me in the cradle,
In them old cotton fields back home;

[Chorus 2:]
It was down in Louisiana,
Just about a mile from Texarkana,
In them old cotton fields back home.

[Chorus 3:]
Oh, when them cotton bolls get rotten
You can’t pick very much cotton,
In them old cotton fields back home.

[Chorus 2]
[Chorus 1]
[Chorus 2]
[Chorus 3]
[Chorus 2]
[Chorus 1]
[Chorus 2]


Sumber: AZLyrics.Com

Facebook Comments

Lirik “Loving Her Was Easier”

I have seen the mornin’ burnin’ golden on the mountain in the skies
Achin’ with the feelin’ of the freedom of an eagle when she flies
Turnin’ on the world the way she smiled upon my soul as I lay dyin’
Healin’ as the colors in the sunshine and the shadows of her eyes

Wakin’ in the mornin’ to the feelin’ of her fingers on my skin
Wipin’ out the traces of the people and the places that I’ve been
Teachin’ me that yesterday was somethin’ that I’d never thought of trying’
Talkin’ of tomorrow and the money love and time we had to spend
Lovin’ her was easier than anything I’ll ever do again

Comin’ close together with a feelin’ that I’ve never known before in my time
She ain’t ashamed to be a woman or afraid to be a friend
I don’t know the answer to the easy way she opened every door in my mind
But dreamin’ was as easy as believin’ it was never gonna end

(Interlude)

Wakin’ in the mornin’ to the feelin’ of her fingers on my skin
Wipin’ out the traces of the people and the places that I’ve been
Teachin’ me that yesterday was somethin’ that I’d never thought of trying’
Talkin’ of tomorrow and the money love and time we had to spend
Lovin’ her was easier than anything I’ll ever do again

Comin’ close together with a feelin’ that I’ve never known before in my time
She ain’t ashamed to be a woman or afraid to be a friend
I don’t know the answer to the easy way she opened every door in my mind
But dreamin’ was as easy as believin’ it was never gonna end.
And lovin’ her was easier than anything I’ll ever do again.


Sumber: AZLyrics.Com

Facebook Comments

Setujukah Anda jika Gajah Mada diklaim Muslim?

Viral “GAJ Ahmada” Hoax Sejarah

Belakangan ini cukup banyak repost dan viral sebuah tulisan dengan judul MELURUSKAN SEJARAH!! (dengan tanda seru) yang justru berisi sebuah distorsi luar biasa, bahkan (jika kita cermat membaca dan membandingkan dengan manuskrip dan bentuk lain peninggalan historis Nusantara), akan kelihatan bahwa tulisan tersebut tak lebih dari dongeng menyesatkan. Tulisan tersebut berisi sebuah narasi yang pada intinya ingin mengatakan bahwa Mahapatih Gajah Mada adalah seorang sosok Muslim luar biasa yang sebenarnya bernama Gaj Ahmada.

Tak kurang dari portal-islam.id (dengan fanpage beranggotakan 210 ribuan akun menjadi konsumen dari hoax viral) yang menyebarkan hasil “penelitian” Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pengurus Daerah Muhammadiyah Yogyakarta tersebut. Silahkan dilihat di laman bersangkutan, sebelum dihapus oleh admin portal tersebut.

Dalam kaitan tersebut kita harus dapat dengan jernih melihat bahwa sejarah bukanlah dongeng yang cukup hanya dibuktikan dengan argumen otak atik matuk alias dengan nalar cocoklogi berdasarkan kemauan sendiri atau tujuan-tujuan tendensius. Masyarakat Nusantara harus cerdas dalam menangkap informasi yang tidak jelas latar kesejarahannya dengan berbagai bukti yang melingkupinya.

Viral tulisan tersebut sangat dimungkinkan didasarkan pada buku berjudul Kesultanan Majapahit ditulis oleh Herman Sinung Janutama, lulusan UMY Yogyakarta yang menulis buku tersebut tanpa didasari keilmuan selain otak-atik gathuk alias cocoklogi. Jika nama GAJAH MADA dipaksakan menjadi bahasa Arab Gaj Ahmada, pertanyaannya adalah memangnya hal tersebut dapat ditemui ada dalam prasasti, naskah kuno Negarakertagama? Atau ada dalam kitab Pararaton, Kidung Sunda, Usana Jawa? Apakah ada satu saja yg menulis Kosa Kata Jawa “Gaj” dan “Ahmada” ? Lalu apa arti kosa kata “Gaj” ? Ia merupakan kosa kata Jawa atau Arab?. Lalu apa arti dari kata Ahmada? Adakah orang Arab memakai nama Ahmada?

Dalam buku yang cenderung awur-awuran itu, penulis secara tegas menyatakan bahwa Raden Wijaya adalah dzuriyah (keturunan) Nabi Muhammad SAW dan beragama lslam. Pertanyaanya sederhana: Apa dasarnya?

Tidakkah penulis itu tahu bahwa Sanggrama Wijaya yang bergelar Kertarajasa Jayawarddhana itu saat mangkat jenazahnya dibakar dan abunya dicandikan di Simping dan Weleri? Adakah dzuriyah Rasulullah SAW yang muslim matinya dibakar?

Mari kita baca naskah-naskah Majapahit mulai Negara kretagama, Kutaramanawa Dharmasastra, Kidung Banawa Sekar, Kidung Ranggalawe, Kidung Panji Wijayakrama, Kidung Sudamala, Kakawin Sutasoma, dll, termasuk prasasti-prasasti. Adakah pengaruh bahasa Arab dalam naskah-naskah tersebut?

Tulisan Bodoh Yang Membodohkan Bangsa

Tulisan-tulisan bodoh yang tanpa dasar ilmu tentang sejarah bangsa, sepintas bisa dianggap sebagai tulisan picisan yg tidak memiliki pengaruh apa-apa terhadap sejarah mainstream bangsa lndonesia. Tapi jika tulisan “sampah” dalam keilmuan itu ditopang oleh organisasi besar dan institusi negara dan akademisi, bisa merubah eksistensi dan citra bangsa.

Jika Borobudur bikinan Nabi Sulaiman dan Majapahit didirikan orang Arab keturunan Nabi SAW, akan terdapat simpulan bahwa pribumi lndonesia itu kumpulan manusia primitif yang tidak memiliki peradaban dan kebudayaan. Bagaimana bangsa lndonesia disebut beradab jika membikin candi saja tidak becus, menunggu kedatangan Bani lsrael. Nah, jika Bani lsrael dapat membangun candi yg sangat megah di negeri seberang lautan, adakah situs bangunan candi seperti borobudur di lsrael?

Jika Majapahit didirikan oleh dzuriyah Rasul SAW, maka tentu terbukti bangsa ini primitif dan tolol sampai sampai untuk membangun sistem pemerintahan saja tidak mampu, dan harus menunggu kedatangan orang Arab yang lebih beradab dan memiliki iptek canggih.

Jika itu benar bahwa bangsa ini tolol primitif sehingga untuk membangun kerajaan saja musti menunggu kedatangan orang Arab, adakah data sejarah yg menunjuk bahwa di jazirah Arab pernah ada kerajaan nasional seluas Majapahit dengan administratif sangat canggih?

Prasasti di Gresik

Prasasti di makam Kyai Tumenggung Pusponegoro, Gresik, berangka tahun 1114 H/ 1719 M, yang dicatut dalam tulisan “Meluruskan Sejarah!!” tersebut. Disebutkan bahwa prasasti itu menunjuk Kyai Pusponegoro yang merupakan trah Majapahit tapi adalah seorang muslim yang hidup di jaman Mataram.

Bagaimana prasasti era Mataram lantas diklaim era Majapahit? Prasasti ini meski masih berbentuk Surya Majapahit yaitu logo negara Majapahit, tapi sudah mendapatkan penambahan. Menganggap prasasti ini sebagai data dan latar kesimpulan bahwa Majapahit adalah kesultanan Islam tentu merupakan kesimpulan sekenanya dan cenderung mengada-ada.

Prasasti peninggalan Kerajaan Mataram

Cocoklogi Tak Berbatas

Dasar logika “Otak-atik gathuk” sebenarnya bukan hal baru. Ia sudah digunakan misalnya dalam buku Serat Darmogandhul dan Suluk Gatoloco. Bedanya, di buku kolonial itu Bahasa Arab ditafsir menurut cocokologi bahasa Jawa, sementara dalam buku Kesultanan Majapahit bahasa Jawa ditafsir dengan bahasa Arab. Ini fenomena ilmu humor yang dapat memperkaya khazanah folklore lndonesia dan Arabia.

Kenapa ilmu cocokologi dengan nalar otak-atik gathtuk yang digunakan dalam buku Serat Darmogandhul dan Suluk Gatoloco serta Kesultanan Majapahit itu memperkaya khazanah folklore lndonesia dan Arabia? Karena logika umum dengan common sense tidak lagi digunakan, dimana logika semacam ini dapat dipandang sebagai logika alternatif khas Jawa yang muncul akibat tekanan kolonialisme Belanda yang secara sistematis membodohkan inlander.

Mari kita lihat contoh sewaktu penulis Serat Darmogandhul menafsir Al-Qur’an yang berbahasa Arab dengan nalar otak-atik manthuk bahasa Jawa:

  • “Dalikal” – Ono barang kang nyengkal.
  • “kitabula” – Kita buka.
  • “Laroibapi” – Pakaian kita kabeh.
  • “Huda” – Widi.
  • “Lilmutaqin” – Pel* kita den emutaken … ( dan seterusnya).

Begitulah tafsir cocokologi dengan nalar otak-atik gathuk yang dapat melenceng jauh maknanya dengan tafsir al-Qur’an mainstream yang disepakati. Artinya, ketika nalar otak-atik gathuk ala Salesmanship wal Gatoloco itu diterapkan dalam menafsir sejarah, kekeliruan fatal pasti terjadi karena dasar logika yang digunakan cenderung sak karepe dewe (semaunya sendiri).

Sekarang mari sejenak kita uji penafsiran nama Gajah Mada dengan ilmu cocokologi dengan nalar otak-atik gathuk yang menetapkan nama itu berasal dari kata Fatih Haji Ahmada yang berubah menjadi Patih Gaj Ahmada yang bermakna “Patih Haji Ahmada Sang Penakluk”

Sejak kapan nama Patih Gaj Ahmada digunakan? Dalam sumber prasasti, kronik, naskah kidung, atau dongeng lisan apa sekali pun nama superaneh itu digunakan?

Jawabnya:

Nama “Gaj Ahmada” untuk kali pertama digunakan oleh Herman Sinung Janutama dalam buku “Kesultanan Majapahit”.

Sebelum itu, belum pernah ada satu manusia pun yang menulis dan menafsirkan tokoh “Rakryan Mahpatih Amangkubhumi Pu Gajah Mada” dengan nama “Patih Gaj Ahmada”.

Gajah Mada yang patungnya dirias untuk memberi kesan seakan ia adalah ulama Muslim, tepat dengan nama pelintirannya Gaj Ahmada

Pertanyaan penting yang bisa kita jawab bersama ialah: Setujukah Anda jika Gajah Mada diklaim Muslim? Jika tidak setuju, bantu teman-teman yang lain untuk ikut menyuarakan versi yang benar.


Dikompilasi dan disunting seperlunya dari halaman LESBUMI

Facebook Comments

Satire bagi Para Pemelintir Sejarah (part. 2)

Sebagai pelengkap pelajaran satire bagi para pemelintir Sejarah sebelumnya, masih berbicara tentang “pelurusan” sejarah  a la “oneng” dari teman-teman kita dari tetangga sebelah, simak lagi satire kedua berikut ini.


 

Hari-hari ini, semakin kental dan kencang dibandingkan periode sebelumnya, kita semakin dididik untuk berdamai dengan kenyataan bahwa menjaga diri supaya tetap waras dengan segala macam kebisingan (noise) dan tidak jemu untuk menyuarakan yang benar (voice), ternyata butuh konsistensi tinggi. Tidak mudah.

Sesekali kita butuh untuk serius, membaca begitu banyak manuskrip, melatih diri untuk melakukan diskresi yang benar, tenggelam dalam dinamika dialektika yang bahkan tidak pernah terpahami sepenuhnya hingga ini.

Di lain waktu, kita butuh untuk berjenaka saja. Raut wajah serius dan dahi berkerut adalah (mungkin) bahan bakar yang justru ditunggu-tunggu dan diharapkan oleh siapapun yang ingin memelintir sejarah. Judulnya sih “meluruskan sejarah”, entah sejarah mana yang hendak diluruskan oleh Herman Sinung dan teman-temannya itu.

Tidak mudah menjadi tetap sadar dan tegar di tengah wacana lelucon yang diperlakukan serius itu, yakni bahwa Patih Gajah Mada adalah seorang muslim, nama sebenarnya GAJ Ahmada, singkatan dari Ghufron Awaluddin Jamal Ahmada. Jika Anda ingin menanggapinya secara jenaka, maafkan kali ini harus reaktif, bersama teman saya Made Tertiana sang guru yoga, Anda boleh melakukan argumentasi jenaka seperti pada gambar ini, tentu tidak serius:

 

Satire in picture – Please stop stupify yourselves.

 

Ketika Anda merasa bahwa kewarasan Anda kembali pulih setelah tersenyum dengan jenaka di atas, ajaklah teman-teman untuk menyadari kelucuan historis yang diciptakan oleh teman-teman dari tetangga sebelah itu. Mulai dengan mengajarkan mereka hal-hal sederhana seperti menerangkan koin di bawah ini dengan penjelasan yang sederhana pula.

Jika Anda masih waras dan jujur, tidak sulit untuk menyadari bahwa koin ini tidak bergambarkan wayang Arab atau tulisan Arab.

 


Semoga, selain Anda, semakin banyak teman-teman Anda yang ikut tetap waras. Bersama Saya, Anda dan teman-teman Anda tentu saja setuju untuk #MenolakBodohDanTolol.

Facebook Comments

Satire bagi Para Pemelintir Sejarah (part. 1)

 

Al Fatih GAJ (Ghufron Awaluddin Jamal) Ahmada alias Patih Gajah Mada adalah panglima perang dari Sultan Hajj Zam al Farouq (Hayam Wuruk) yang pernah mengucapkan Sumpah Al Favva (Palapa) di negeri Majd al Wahid (Majapahit). Ternyata kekhalifahan sudah ada di Indonesia sejak jaman dulu.

Pendiri kerajaan Majapahit yaitu Raden Wijaya sebenarnya juga seorang muslim yang bernama Sayyid Wijaya. Begitu juga Ken Arok pendiri kerajaan Singhasari sebenarnya juga adalah muslim yang bernama Ken Arrokhman. Pendiri Candi Borobudur yaitu Raja Syailendra juga sebenarnya seorang muslim yang bernama Syaikh al Handra. Tunggul Ametung sebenarnya juga adalah leluhur sekaligus tokoh sejarah pelopor FPI purba yang nama aslinya adalah Dzun Ghul al Fentung.

Jadi jika ada yang bilang bahwa Śrī Kṛtarājasa Jayawarddhana (gelar bagi Raden Wijaya setelah bertahta) pendiri Kerajaan Majapahit adalah Narārya Sanggrāmawijaya (versi prasasti Kudadu), Dyah Wijaya (sumbernya Nāgarakṛtāgama) atau Rahadyan Wijaya (sumbernya Pararaton) itu semuanya sebenarnya adalah hoax, konspirasi dan rekayasa yang dibuat oleh sejarawan kafir untuk menghapuskan jejak Islam di Indonesia.

Donald Duck dan Mickey Mouse pun sebenarnya adalah nama rekayasa yang setelah dicuri kemudian diakui oleh dunia Barat serta diubah dari nama aslinya yang adalah Dzun al Dagh dan Mikhya Mahussa. Pencipta aslinyapun sebenarnya bukan Walt Disney tapi Wal Disniyyah yang sudah ada sejak abad hula-hula.

Bahkan Presiden Amerika yang sekarangpun Donald Trump ternyata aslinya masih keturunan Arab, namanya Dzun al Tharam. Satu lagi rahasia besar yang terungkap, Jokowi yang jadi pujaan umat kecebong itu sebenarnya adalah keturunan aseng, nama aslinya Cho Ko Wei, paham?

Makanya lain kali kalo belajar sejarah itu sehari penuh, jangan bolos. Jangan lupa makan micin yang banyak sambil minum Equil sampe mabok, biar pinter kayak eike.

Salam Ogah Waras


Sumber: Dito Kartiko

Tolong dibaca judulnya kembali, bahwa ini adalah satire. Siapa tahu ada yang mau gunakan ini sebagai bahan taqqiyah baru, setidaknya lebih cerdaslah sedikit.

Wassalam.

Facebook Comments

Page 1 of 10

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén