DONALD HAROMUNTHE

For Those Whom I Can't Talk With

Happy

Dear Uncle Sam, I Do Not Want To Mess You Up.

Sebagai presiden dari negara yang masih dianggap sebagai polisi dunia ini, tentu saja terpilihnya Donald Trump sebagai presiden Amerika Serikat mendapat perhatian dari seluruh dunia, tak terkecuali saya dan beberapa teman ngopi di bilangan Tanah Kusir, Jakarta Selatan. Kami ngobrol ngalur ngidul saja, sebab masing-masing tahu dan sadar tidak punya pengetahuan dan keterampilan yang cukup untuk memahami sepenting dan seberharga apa pengaruh presiden baru USA terhadap Indonesia, apalagi terhadap segelintir lelaki jomblo di Tanah Kusir (hehehe …).

Sehabis menonton sekilas acara inaugurasi di tipi (= television;  in case you take it serioulsy as a mispell), rasanya perlu untuk menyimak pesan resmi pertama Bapak Presiden terhadap warganya tersebut. Sebab, empat tahun berikutnya, implementasi dari isi kata-kata itulah yang akan menjadi perbincangan dan titik berangkat dari kebijakan yang akan diambil. Maka, dengan bantuan Google Translate, saya mencoba menterjemahkan isi pidato inaugurasi presiden terpilih US Donald Trump menggunakan teks tranksrip kasar yang dilansir oleh CNBC.

Kurang lebih begini bunyinya dalam bahasa Indonesia:


Hakim Agung Roberts, Presiden Carter, Presiden Clinton, Presiden Bush, Presiden Obama, rekan sebangsa Amerika dan masyarakat dunia, terima kasih.

Kita, rakyat Amerika, kini kita disatukan dalam upaya nasional yang besar untuk membangun kembali negara kita dan mewujudkan kembali janji kepada segenap warga.

Bersama-sama, kita akan menentukan jalannya Amerika dan dunia selama bertahun-tahun yang akan datang. Kita akan menghadapi tantangan. Kita akan menghadapi kesulitan. Tapi kita akan menyelesaikan tugas itu.

Setiap empat tahun kita berkumpul dengan cara yang kita lakukan sekarang untuk melaksanakan transfer kekuasaan yang tertib dan damai.

Dan kami berterima kasih kepada Presiden Obama dan Ibu Negara Michelle Obama untuk bantuan murah hati mereka sepanjang masa transisi ini.

Mereka luar biasa.

Terima kasih.

Upacara hari ini, bagaimanapun, memiliki makna yang sangat istimewa karena hari ini kita tidak hanya mentransfer kekuasaan dari satu pemerintahan ke yang lain atau dari satu pihak kepada pihak lain, tapi kita sedang memindahkan kekuasaan dari Washington, DC, dan mengembalikannya kepada Anda, rakyat Amerika.

Sudah terlalu lama, sebuah kelompok kecil di ibukota negara kita telah menuai manfaat dari pemerintah sementara rakyat yang harus menanggung biayanya. Washington berkembang, tetapi rakyat tidak ikut menikmati manfaatnya. Politisi makmur tapi pekerjaan semakin langka dan pabrik-pabrik tutup.

Sistem yang ada membentengi diri sendiri, tetapi tidak iktu melindungi warga negara kita. Kemenangan mereka bukan kemenangan Anda. Kejayaan mereka bukan kejayaan Anda. Dan sementara mereka bersenang-senang di ibukota negara ini, hampir tidak ada alasan untuk merayakan hal yang sama di tengah keluarga-keluarga yang ditimpa berbagai kesulitan, yakni keluarga-keluarga yang tersebar di seantero negeri.

Semoga semua perubahan akan berawal di sini dan sekarang, karena saat ini adalah kesempatan bagi Anda.

Perubahan ini milik Anda.

Perubahan ini milik semua orang yang berkumpul di sini hari ini dan semua orang menonton di seluruh Amerika.

Hari ini  adalah hari Anda.

Perayaan ini adalah perayaan Anda.

Dan ini, Amerika Serikat, adalah negara Anda.

Yang penting bukanlah soal partai mana yang mengontrol pemerintah kita, tapi apakah pemerintah kita dikendalikan oleh rakyat atau tidak.

20 Januari 2017 akan dikenang sebagai hari dimana rakyat kembali menjadi penguasa di negeri ini.

Rakyat yang selama ini disisihkan tidak akan tersisih lagi. Semua orang mendengarkan Anda sekarang. Bersama puluhan juta rekan lainnya, Anda datang untuk menjadi bagian dari gerakan bersejarah, sesuatu yang tidak pernah disaksikan sebelumnya oleh dunia.

Inti dari gerakan ini adalah munculnya kembali suatu keyakinan penting bahwa negara hadir untuk melayani rakyat. Rakyat Amerika menginginkan sekolah besar untuk anak-anak mereka, lingkungan yang aman bagi keluarga mereka dan pekerjaan yang baik bagi diri mereka sendiri.

Ini merupakan tuntutan yang jujur dan wajar dari rakyat. Sayangnya, realitas yang ada menunjukkan bahwa hal ini tidak terjadi bagi kebanyakan rakyat selama ini.

Ibu dan anak terperangkap dalam kemiskinan di tengah-tengah kota-kota kita. Pabrik-pabrik yang berkarat tersebar seperti batu nisan di segenap penjuru negeri.

 

Sistem pendidikan kita penuh dengan siraman uang tunai, tetapi justru hanya menghasilkan siswa-i kita yang muda dan cantik ini malah kehilangan pengetahuan.

Belum lagi kejahatan dan geng dan obat-obatan yang telah mencuri terlalu banyak kehidupan dan merusak generasi muda, kekayaan negara, tanpa kita sadari.

Kita adalah satu bangsa, rasa sakit yang mereka rasakan adalah mereka adalah rasa sakit kita juga.

Mimpi mereka adalah mimpi kita, dan kesuksesan mereka akan menjadi kesuksesan kita juga. Kami berbagi satu hati, satu rumah dan satu takdir yang mulia.

Sumpah jabatan saya ambil hari ini adalah sumpah setia untuk semua orang Amerika.

Selama beberapa dekade kita telah memperkaya industri asing dengan mengorbankan industri Amerika, memberi subsidi kepada tentara negara lain sementara tentara kita sendiri mendapat penghasilan yang begitu menyedihkan.

 

Source: ChristianPost.com

Donald Trump speaks

 


What a great speech!

Hampir tidak ada impressum yang tepat untuk menggambarkan gemuruh dari jiwa rakyat Amerika yang hadir dan mendengar pidato ini. Rakyat yang begitu yakin bahwa Trump dan segenap jajaran di birokrasinya akan bahu-membahu mewujudkan janji-janji yang hari ini diucapkannya. Tentu saja, ada juga sebagian besar warga dari negara yang sama, yang berunjuk rasa menentang pelantikan Donald Trump, menolaknya menjadi pemimpin mereka.

Berhubung saya bukan warga AS, bukan juga simpatisan Donald Trump (kendatipun kami punya kesamaan nama depan), bukan pula pengamat politik di AS, maka tidak ada catatan khusus yang saya akan tambahkan untuk dimaksudkan sebagai endorsement terhadap cucu dari Frederic Trump ini. Sebagai rakyat kecil dengan lokasi domisili terpaut ratusan kilometer dari Gedung Putih dan pusat-pusat properti Donald Trump, sepengetahuan dan sependengaran saya, kebanyakan teman-teman di Indonesia dan saya hanya berharap supaya hubungan AS dengan Indonesia baik-baik saja. Semacam rasa was-was karena kekurangan akses ke data intelijen. Bukan pula berarti kalau punya data itu lantas tahu berbuat dan bereaksi seperti apa. Selain itu, dengan kesadaran bahwa sebagai satu-satunya “paman” di dunia ini, kita berharap bahwa Donald Trump dan kebijakan-kebijakan selanjutnya, entah itu terkait pembahasan Trans Pacific Partnership ataupun bordership policy, kami berharap bahwa ke depan kami di Nusantara dan Anda-anda di negeri Paman Sam akan baik-baik saja.

 

Dear Uncle Sam, 

 

Please be kind.

My friends and I do not want to mess you up.

You want to make America great again, just do it.

But, please, be great without making us small.

 

Cheers,

 

My Friends and Me.

 

Warm cup of coffee on brown background

[Parapharase] – Filosofi Kopi

Berumah tangga itu ibarat ngopi.

Takarannya gak melulu pas. Kadang manisnya lebih terasa. Suatu waktu pahitnya pun dominan. Jangan kau hindari. Nikmati saja hingga suatu saat kau terbiasa. Ketika rumah tanggamu sudah jadi candu bagimu, maka percayalah bahwa gak ada regukan yg lebih nikmat di luar sana.

Berumah tangga itu ibarat ngopi.

Harga kopi di kafe tentu beda dengan harga kopi di warung, meski rasanya sama. Karena yg dibeli sebenarnya bukan semata-mata kopinya, melainkan suasananya. Karena itu mahalkanlah suasana rumah tanggamu. Buatlah berkualitas setiap waktu kebersamaanmu.

Berumah tangga itu ibarat ngopi.

Jika kau hanya mau manisnya saja, jangan ngopi, tapi minumlah sirup.

Sirup adalah rasa manis yg dinikmati oleh mereka yg memutuskan pilihan hidup single. Gak ada pilihan lain selain manis. Memang manis, tapi tentu saja gak senikmat kopi. Demikian pula jika kau hanya menikmati sensasi pahitnya saja. Jangan ngopi, tapi minumlah jamu. Nah itulah jomblo.

Berumah tangga itu ibarat ngopi.

Para pengopi adalah orang-orang yg terlatih dalam menakar hidup. Istri pemasak airnya, suami baristanya. Dibutuhkan kerja sama yg cermat mulai dari proses hingga hasil. Orang-orang hanya boleh melihat asap yg mengepul dan aroma yg wangi, tanpa perlu tau gimana berantakannya dapurmu.

Berumah tangga itu ibarat ngopi.

Soal rasa yang utama. Nikmatnya ada di permukaan, ampasnya cukup kau sembunyikan, jika perlu endapkan hingga ke dasar terdalam gelasmu. Jangan kau umbar pada siapapun bahkan ke orang-orang terdekatmu.

Jika rumah tanggamu ibarat kafe besar, tentu saja konyol membagi rahasia racikanmu.

Berumah tangga itu ibarat ngopi.

Kadangkala ada pihak ke tiga yg mencampuri, otomatis menambah gurih, tapi bisa pula sebaliknya. Taruhlah seperti krimer atau susu. Jika krimer atau susunya kebanyakan, maka berpotensi mengurangi kenikmatan.

Krimer itu bisa berwujud saudara atau ipar-ipar, sementara susu itu anggap saja mertua. Campuran lain yg mematikan adalah sianida. Kalo yg ini sudah pasti mantan. Maka buang jauh-jauh. Pastikan gelasnya bersih sebelum menuang kopi yg baru.

Berumah tangga itu ibarat ngopi.

Kau tentu gak sudi jika ada yg mencoba mengaduk kopi di gelas istrimu. Tapi sebaiknya kembalikan juga pada dirimu, apa kau yakin gak pernah menikmati adukan kopi yg lain? Demikianlah cemburu. Akarnya adalah ketidaknyamanan. Jangan sepelekan selingkuh-selingkuh kecil, karena ia adalah awal pengkhianatan terhadap kasih sayang.

Berumah tangga itu ibarat ngopi.

Jangan berharap kesempurnaan pada segelas kopi yg murahan.

Jangan menuntut berlebihan, jika kau sendiri main belakang.

Kau tanamkan pada istrimu definisi setia, sementara kau sibuk menjempol foto profil wanita. Jika bersama, kau bermanja-manja, oh my wife.. Oh my wife.Tapi jika ia gak ada, kau berasyik masyuk dengan Bigo Live.

Lalu kesetiaan mana yg kau maksud?

Berumah tangga itu ibarat ngopi.

Kebanyakan ngopi di kafe, niscaya akan membuatmu merasa hambar pada kopi di rumah. Kebanyakan urusan di luar, biasanya akan membuatmu gak peka pada masalah internal. Jika istrimu bermuka masam, cari tau jangan hanya diam. Mungkin ia lelah, mungkin pula kau ada salah. Sekali-sekali, rengkuhlah ia dari belakang, belai rambutnya, dan bisikkan lembut di telinganya:
“Sayang.. Postingan tas yg waktu itu kau jempol di olshop, sekarang sudah pre order loh. Mau aku transferin?”

Kopi boleh pahit, rumah tanggamu jangan..

Warm cup of coffee on brown background

Warm cup of coffee on brown background


(Disadur dari obrolan di group Whatsapp SC)

Kerbau

[Metafora] – Opini yang Membunuh Kerbau

Kerbau

 

Selain karena faktor usia, penyakit dan ulah manusia ternyata seekor kerbau juga bisa mati hanya karena sebuah opini.

Masak sih?

Begini ceritanya.


 

Sehabis pulang dari sawah kerbau rebahan di kandang dengan wajah lelah dan nafas yang berat. Datanglah seekor anjing. Melihat temannya datang, kerbau berkata: “Aah.. temanku. Aku sungguh lelah. Kalau boleh, besok aku ingin istirahat sehari saja”

Anjing pun beranjak. Di tengah jalan dia berjumpa dengan kucing yang sedang duduk di sudut tembok. Kata anjing: “Tadi saya bertemu dengan kerbau dan dia besok ingin beristirahat dulu. Sudah sepantasnya sebab majikan memang sering memberinya pekerjaan yang terlalu berat”

Kucing lalu bercerita kepada kambing. “Kerbau mengeluh tentang si bos. Katanya dia dikasih pekerjaan terlalu banyak dan berat. Besok dia tidak mau kerja lagi”

Kambing pun bertemu ayam.

“Yam, kerbau tidak senang bekerja dengan bos lagi, mungkin ada pekerjaan yang lebih baik lagi”.

Ayam pun berjumpa dengan monyet dan dia bercerita pula: “Kerbau tidak akan kerja lagi untuk bos. Dia ingin bekerja di tempat yg lain”.

Saat makan malam monyet bertemu bos. Monyet pun melapor: “Bos, si kerbau akhir-akhir ini telah berubah sifat nya dan ingin meninggalkan bos untuk kerja di bos yang lain”

Demi mendengar ucapan monyet, sang bos pun marah besar. Tanpa bertanya terlebih dahulu dia lalu menyembelih si kerbau karena dinilai telah berkhianat kepadanya.


 

Sebelum lupa karena asik dengan cerita, adapun ucapan asli kerbau ialah:”Aah.. temanku. Aku sungguh lelah. Kalau boleh, besok aku ingin istirahat sehari saja”

Lewat beberapa teman ucapan ini telah berubah dan sampai kepada sang bos menjadi:”Bos, si kerbau akhir-akhir ini telah berubah sifat nya dan ingin meninggalkan bos untuk kerja di bos yang lain”

Berhubung menurut teori yang kita miliki bahwa kita manusia lebih punya kemampuan berfikir dari hewan-hewan yang menjadi simbol dari karakter-karakter tadi, berikut beberapa hal yang baik disimak.

Pertama, ada kalanya satu pembicaraan berhenti hanya sampai telinga kita saja dan tidak usah sampai kepada telinga orang lain.

Kedua, jangan telan bulat-bulat atau percaya begitu saja setiap berita atau perkataan orang lain sekalipun itu keluar dr mulut orang terdekat kita. Kita perlu melakukan check and recheck kebenarannya sebelum bertindak atau memutuskan sesuatu, konfirmasi dan crosscheck kepada sumbernya langsung.

Ketiga, kebiasaan meneruskan perkataan atau berita dari orang lain bahkan dengan menambah atau menguranginya atau menggantinya dengan persepsi dan asumsi kita sendiri bisa berakibat fatal.

Keempat,  bila ragu dengan ucapan atau berita dari seseorang atau siapapun sebaiknya kita bertanya langsung kepada yang bersangkutan untuk menanyakan kebenaran informasi tersebut. Setidaknya dengan sumber yang paling dekat.

Kelima, selalu pastikan bahwa informasi yang ingin kita bagikan kepada orang lain adalah informasi yang benar, disampaikan pada orang yang tepat, dan pada saat yang tepat.

Jadikan diri kita filter sehingga kita tidak mendatangkan celaka bagi orang lain. Di era dimana broadcasted, copy-paste, atau forward message bisa dilakukan oleh siapapun yang memiliki jemari hanya dengan menjentikkan jemarinya di layar Smartphone ini, kita butuh Smartbrain (nalar yang cerdas) juga untuk melatih diri bersikap adil sejak dalam fikiran sehingga pesan yang kita sampaikan tiba dengan utuh:

“Jika ada teman yang mengirimiku pesan yang sudah terdistorsi semacam ini, bagaimana reaksiku?”

Jika Anda marah, atau setidaknya tidak setuju, maka saatnya Anda mulai semakin sering menggunakan fitur Undo atau Retrack message. Jangan terlalu akrab dengan si Enter.

Ingatlah, sebuah rudal bisa diluncurkan dari ruangan rahasia di bunker presiden dan meluluhlantakkan sebuah kota, lengkap dengan seisi penghuninya, hanya dengan menekan tombol Enter.

Missiles

Selamat mencoba.

 

 

(Disadur dari obrolan di grup Whatsapp)

Baratheon

Kapan Saatnya Berhenti Menganggap Diri Favorit

Anak Favorit

Jika menelisik batin dengan jujur, kemungkinan besar setiap kita pernah merasakan bahwa ada perbedaan perhatian dan kasih sayang dari orang tua ke kita anak-anaknya. Atau bagi anak-anak yang tak sempat mengenal orang tua, di panti asuhan misalnya, ada perbedaan dari pengasuh ke anak-anak asuhnya. Ada hipotesa yang berbahaya kalau dicari-cari pembenarannya untuk menjadi teori yakni, “Memang ada kelakuan spesial kepada abang atau adik kita”. Efek yang ditimbulkan dari sikap yang ditunjukkan orang tua yang (menurut kita) memihak tersebut menyebabkan perubahan tingkah laku, dan mental dari seorang anak.

Tentu saja, kalau kita tanyakan kepada setiap orang tua, kemungkinan besar jawabannya sama: “tidak ada spesial, sayang semua”. Inong pangintubu saya bilang:

Dang adong mardingkan au tu hamu. Ai sian butuhakkon do hamu sude

(bagi yang tidak tahu artinya, silahkan ulik-ulik di Kamus Daerah).

Tapi ada seorang ilmuan barat yang namanya Katherine Conga. Beliau meneliti hampir dari 500 anak, dengan pertanyaan bagaimana kelakuan orang tua terhadap mereka. Katherine juga meneliti sikap yang ditunjukkan oleh orang tua kepada anaknya. Katherine berhasil menyelesaikan penelitianya dan menemukan fakta bahwa memang benar biasanya orang tua memberi perhatian yang lebih kepada si sulung.

Lalu bagaimana dengan si adik? Mereka dilahirkan dengan tingkat perhatian yang kurang. Jadi mereka menganggap orang tua berada di dua ekstrem.

Pertama, orang tua cenderung lebih disiplin terhadap mereka.

Kedua, orang tua cenderung lebih memanjakan mereka dan menuruti begitu saja apapun kemauan dan permintaan mereka kendati menyadari akibat buruk dari sikap memanjakan tersebut bagi masa depan si anak di kemudian hari.

Anak Favorit

Dalam konteks keberlangsungan keluarga, supaya siblings war tidak menodai keutuhan keluarga, solusi yang paling mendamaikan dan perlu dipupuk adalah mendorong setiap anak untuk merasa bahwa masing-masing mereka adalah anak favorit. Maka, alih-alih mencari sejuta perbedaan perlakuan orang tua terhadap kakak dan adik, fokus yang mesti dituju adalah mencari pengalaman pada momen membanggakan antara si anak dengan orang tuanya. Lagipula, umumnya orang tua tidak mengakui bahwa mereka punya anak yang favorit, kendatipun ada anak (kalau bukan setiap anak) merasakannya.

Bahwa orang tua cenderung menerapkan perhatian dan sikap yang berbeda-beda bagi setiap anak, mereka punya alasan tersendiri untuk itu. Mereka mengenali anak sulungnya yang ekstrovert, dominan dan ingin memimpin. Maka mereka memberikan perhatian supaya si sulung memiliki sikap kepemimpinan yang benar. Mereka tahu bahwa anak kedua cenderung introvert, pendamai. Maka orang tua mengarahkannya untuk menjadi penengah yang baik setiap kali ada siblings rivalry, baik yang potensial maupun yang sudah jelas kelihatan terjadi. Demikian seterusnya, hingga anak ketiga, keempat sampai ke anak bungsu.

Jika setiap anak bisa mengerti hal ini, maka sah-sah saja jika masing-masing mereka merasa sebagai anak favorit. Sepanjang tidak menimbulkan iri hati. Jika mereka sudah sampai ke tahap ini, mereka sudah bukan anak-anak lagi. Mereka sudah dewasa. Mereka adalah children (anak-anak) yang tidak childish (kekanak-kanakan) lagi. Bahkan, jika ternyata ada keluarga di mana masing-masing anak merasa demikian, rasanya itu akan menjadi keluarga paling romantis yang pernah ada di bumi ini.

 

Lucunya, sudah setua ini peradaban yang dilalui agama-agama samawi, masih banyak pengikutnya yang tetap kekanak-kanakan.

Baik Yahudi, Islam maupun Kristen (Katolik), tetap merasa bahwa mereka adalah anak favorit dari YHWH, Bapa mereka. (Tentu saja, kalau bicara statistik, selalu ada eksepsi. Tak semua mereka begitu.)

Kitab Suci Perjanjian Lama, yang konon merupakan refleksi dari umat Yahudi tentang penyelenggaraan sang Ilahi atas bangsa mereka, bahkan tidak malu-malu menunjukkan bahwa si YHWH juga terkesan memberi perlakuan berbeda terhadap anak-anak pertama dari manusia pertama, si Adam, yang terbuat dari tanah (adamah) itu. Siblings rivalry memenuhi kisah-kisah legendaris itu.

Ada Kain yang membunuh Habel karena rasa iri terkait persembahan mana yang paling disukai oleh YHWH. Tak tanggung-tanggung, rasa iri ingin mendapatkan perhatian dan pengakuan lebih itu bahkan hingga menuntun Kain pada niat untuk membunuh Habel.  Teman-teman yang sudah tidak lagi membaca Kitab Suci, bahkan mengelaborasi lebih lanjut dan mencibir: “Dan YHWH pun tidak melakukan apa-apa untuk mencegah Kain membunuh Habel.” Hmmmm ….Hal yang sama juga kita temukan dalam kisah persekongkolan antara Yakub dengan ibunya, Ribka. Persekongkolan itu berhasil merebut hak kesulungan Esau, pindah ke Yakub. Berlanjut pada iri hati dari anak-anak Yakub yang membuat mereka sampai menjerumuskan Yusuf ke perbudakan.

Tak berhenti hanya pada laki-laki saja, siblings rivalry juga terjadi pada perempuan. Dua bersaudari Leah dan Rakhel pun berkompetisi untuk mendapatkan cinta si Yakob.

Perebutan Anak Favorit dari Kitab Suci ke Kitab Sastra

Shakespeare pun menciptakan gambaran siblings rivalry serupa dalam karya sastranya. King Lear memprovokasi perseteruan di angtara ketiga puterinya dengan meminta mereka bertiga untuk menunjukkans seberapa besar cinta mereka pada ayahnya. Ada pula Edmund yang dengan kelicikannya membuat saudara tirinya Edgar terbuang, terusir dari lingkungan kerajaan dengan segala previlesenya.

Pada lakon The Taming of the Shrew, kakak beradik Kate dan Bianca dipertontonkan berkelahi dengan sengit-sengitnya. Hal serupa terjadi antara King Richard III dengan King Edward (dalam lakon Richard III), antara Orlando dan Oliver, kemudian antara Duke Frederick dan Duke Senior (dalam lakon As You Like It).

John Steinbeck, dalam karyanya East of Eden, melukiskan perseteruan antara dua bersaudara Cal dan Aron Trask, serupa dengan Kain dan Abel pada kisah Bibel.

A Song of Ice and Fire, yang lalu dipanggungkan di layar lebar secara kronikal dalam lakon-lakon Game of Thrones, penuh dengan perebutan anak favorit tersebut.

Baratheon

 

Sejatinya, ada tiga pewaris sah House of Baratheon, yakni Robert Baratheon, Stannis Baratheon, dan Renly Baratheon. Sepeninggal Robert, Stannis akhirnya membunuh Renly dengan sihir gelap, kendatipun tidak begitu jelas apakah Stannis benar-benar menyadari bahwa dia yang melakukan kejahatan itu.

Sejarah keluarga Westeros mencatat “Tarian dari Para Naga” (The Dance of the Dragons). Princess Rhaenyra Targaryen dan saudara tirinya Aegon II Targaryen memperebutkan tahta Iron Throne sepeninggal ayah mereka, Viserys I Targaryen. Aegon berhasil membunuh Rhaenyra, tapi tak lama Aegon pun diracun. Akhirnya putra Rhaenyra naik tahta menjadi King Aegon III.

Litani perebutan anak favorit ini masih bisa bertambah panjang lagi. Baik dalam kehidupan nyata maupun dalam kehidupan yang disketsakan lewat serial film, acara televisi, puisi ataupun cerita novel dan balada satir.

Tapi, bagaimana kalau perebutan anak favorit itu tidak hanya milik penghuni planet bumi ini?

Atau, bagaimana kalau ternyata klaim anak favorit dari sang Bapa Semesta inilah yang menjadi awal dari segala peperangan, baik perang apologetis dan militer (dua-duanya sama menjemukan dan tidak berprikemanusiaan), dan ternyata penyebab dari segala penderitaan yang disebabkan oleh manusia sendiri?

Seperti pada klaim anak favorit pada psikologi orang tua di atas, solusi yang paling adequate ialah jika setiap orang tahu Kapan Saatnya Berhenti Menganggap Diri Favorit.

Gods' Favourite Planet

Klaim berawal dari adanya Galaksi Pilihan Allah.

Kemudian berturut-turut,

  • Lalu ada Bintang dan Tata Surya Pilihan
  • Lalu ada Planet Pilihan
  • Lalu ada Umat Pilihan, lengkap dengan Gurun Pilihan dan Nabi Pilihan.
  • Lalu ada Agama Pilihan
  • Lalu ada Sekte Pilihan

Lalu delusi makin meluas kemana-mana. Tampaknya, ini berlaku untuk semua agama. Padahal dalam sekte atau kelompok manapun (yang menganggap dirinya pilihan), tetap saja ada manusia-manusia di dalamnya. Padahal, pada akhirnya, setiap manusia merasa sebagai Manusia Favorit Penciptanya.

Toh setiap manusia bisa curhat, berkeluh kesah dan menemukan dirinya pada perjumpaan batiniah yang hening dalam renungan yang tenang, menemukan dirinya sendiri.

Hanya ada dia dan Diri-nya.

Lengkap.

Tak ada lagi perbedaan antara Athman dan Brahman di sana.

Tak ada lagi perbedaan mikrokosmos dan makrokosmos disana.

Bahkan ruang paling kecil di mitokondria sel darahnya sama luasnya dengan semesta yang sanggup menampung jutaan galaksi yang ada.

Oh, sungguh indahnya, saat setiap orang tahu Kapan Saatnya Berhenti Menganggap Diri Favorit.

Saat itu tiba, setiap orang tua akan tersenyum. Sebab mereka tahu, ada Allah dalam setiap anak yang dianugerahkan kepada mereka.

When Buddha and Jesus living as roommates

[Paraphrase] – Mereka yang Jemu dengan Triumfalisme Agama

Aku

Orang yg belum kenal aku (atau hanya baru kenal di online) mungkin menganggap aku ini nyeleneh. Ada yg bilang aku ini subversif, kontroversial, kritis, bidah, bahkan sesat. Terakhir, para ulama dan katekis gereja yang berteman denganku di laman Facebook, akhirnya memutuskan pertemanan denganku. Kata mereka aku ini sinkretis, masih ada sisa -sisa animis dan dinamis dalam kepercayaanku. Yo wis, sambil ngopi di kala hujan aku cerita sedikit deh.

Kalau tiba masanya Hari Raya Haji, kami pun ikut menikmati hidangan yang disediakan oleh bibiku yang beberapa tahun ini ikut dengan suami yang beragama Islam. Favoritku ialah sop sapinya. Nggak amis. Nikmat rasanya ketika sumsumnya merongsok masuk ke kerongkonganku. Sebenarnya sih, aku nggak begitu yakin apakah mereka tahu bahwa aku juga menikmati saksang babi yang juga selalu menggoda seleraku itu. Jadi, buat amannya, aku tidak pernah memberitahu bibi soal itu. Sebenarnya bukan tanpa alasan sih. Sebelumnya aku pernah melihat bibi membersihkan seluruh perabotan masak ketika dulu ada berita bahwa penyedap masakan yang biasanya bibi pakai itu ternyata mengandung zat kimia yang terbuat dari daging babi. Sampai-sampai si mukenah si bibi belepotan cairan pembersih waktu itu. Sejak itu, aku tahu bahwa si bibi tidak terlalu bersahabat dengan hewan yang satu ini.

Ketika aku tinggal beberapa tahun dengan Oppung di Huta Sibabiat, kampung tempat lahirnya ayah, aku selalu menikmati acara Margondang dan Manortor yang pasti ada dalam setiap apacara adat. Entah kenapa, aku merasa ikut menjadi bagian dari luapan ekpresi emosianal massal lautan manusia itu, kendatipun aku selalu ditertawakan oleh sepupuku karena sudah bisa bertahun-tahun pun tinggal di huta, kosakata Toba yang aku tahu hanya empat, yaitu: Olo, Daong, Mauliate, dan Horas.

Kakakku

Kakakku yang paling sulung menikah dengan pemuda dari suku Dayak Manyaan. Kini mereka tinggal di sebuah perkampungan dekat perkebunan sawit di pinggiran Sungai Lamandau, Kalimantan Tengah. Sempat iri dengan kakakku yang satu ini karena dalam setahun saja, kulihat ia sudah lancar menggunakan bahasa Dayak Manyaan. Padahal, dulu aku lebih unggul soal pelajaran bahasa dari dia, terbukti kosakata bahasa Inggris-ku jauh lebih banyak dari dia. Tak pernah sekalipun dia menang melawanku kalau kami bermain Scrabble. Dasar aku orangnya gampang jatuh hati dengan alam yang asri, sempat pula aku terfikir untuk tinggal di kampung yang sejuk ini, jauh dari kebisingan ibukota Jakarta na balau ini. Apa daya, saat ini aku mesti berdamai dengan situasi hiruk-pikuk tanpa hentinya kota megapolitan ini. Jadilah aku mulai belajar berhitung dalam bahasa Manyaan.

  1. Isa
  2. Rueh
  3. Telu
  4. Epat
  5. Dime
  6. Enem
  7. Pitu
  8. Walu
  9. Suey
  10. Sapuluh
  11. Sawalas
  12. Dua Walas
  13. Tiga Walas
  14. Epat Balas
  15. Lima Walas
  16. Enem Walas
  17. Pitu Walas
  18. Walu Walas
  19. Suey Walas
  20. Ruam Pulu
  21. Ruam Pulu Isa
  22. Ruam Pulu Rueh
  23. Ruam Pulu Telu
  24. Ruam Pulu Epat
  25. Ruam Pulu Dime
  26. Ruam Pulu Enem
  27. Ruam Pulu Pitu
  28. Ruam Pulu Walu
  29. Ruam Pulu Suey
  30. Telu Pulu
  31. Telupulu Isa

Oppung-ku

Konon, oppung-ku punya koleksi buku-buku Dialektika karangan Hegel, Feuerbach, Marx, Habermas. Pantas saja, kalau habis menunaikan tugasnya sebagai guru honor di sekolah dasar yang pelosok itu, dia jarang tidur siang. Waktunya dihabiskan membaca. Bukan hanya itu, Oppung tidak hanya punya Bibel terbitan Lembaga Biblika Indonesia, tapi ia juga rela merogoh uang sakunya untuk membeli Alkitab terbitan Lembaga Alkitab Indonesia. Aku selalu heran mengapa mesti ada dua Kitab Suci di rumah Oppung. Belakangan, kata oppung boru, selain membeli Terjemahan Alquran, Oppung mulai menggunakan komputer bekas di rumah untuk mengakses internet. Sempat aku mengecek data di storage komputernya, aku menemukan file-file PDF tentang Talmud, Zarathustra, Weda dan Teknik Perang Sun Tzu. Entah buat apa oppung mengoleksi semua ini, pikirku.

Aku selalu kagum dengan sosok Oppung yang tak pernah bosan untuk memberi nasihat soal pentingnya kebersamaan dalam keluarga besar kami. Nasihat yang selalu dia ulang baik ketika Natal, ketika Tahun Baru, Hari Raya Haji, dan pada setiap kesempatan berkumpul setiap kali ada anak dan cucunya yang melangsungkan pernikahan. Nasihat panjangnya selalu ditutup dengan umpama: “Pantun Hangoluan, Tois Hamagoan”. Kira-kira artinya: Sikap Hormat Itu Mendatangkan Kehidupan, Sikap Tak Perduli Itu Mendatangkan Kehancuran.

Aku baru menyadari bahwa nasihat yang kadang membosankan itu ternyata obat paling mujarab yang hingga saat ini ampuh menjaga kesatuan keluarga besar kami. Bagaimana tidak, pamanku adalah seorang kader partai banteng yang sangat aktif di berbagai lembaga kemasyarakatan. Amang boruku adalah seorang wartawan senior yang beberapa kali dipanggil bukan  hanya oleh pemimpin redaksinya, tetapi juga Menkominfo karena pemberitaannya yang dituding terlalu berani. Dua tahun sebelumnya dia pernah menulis dugaan korupsi terhadap kepala di badan eksekutif, tak ada yang menggubris beritanya saat itu. Belakangan, oknum yang diberitakannya itu diberitakan rajin beribadah di dalam selnya di sebuah Lembaga Pemasyarakatan. Kakak iparku adalah kepala desa yang terpilih ketika diusung oleh partai pohon beringin. Abangku yang baru lulus dari kuliahnya di Depok itu malah menyatakan sudah mendaftarkan diri sebagai kader partai burung garuda. Melihat konstelasi dunia politik saat ini, aku sangat senang ketika acara keluarga, mereka selalu mau mendengarkan satu sama lain. Tak jarang pula mereka sedikit-sedikit membocorkan agenda dari partai masing-masing. Amangboru-ku yang wartawan itu biasanya langsung mengambil peran sebagai moderator. Kadang aku bingung, ini acara keluarga atau sedang Sidang Dengar Pendapat a la Senayan sana. Hmmmm ….

Agamaku

Aku ini gak masalah orang lain mau nyembah bola, kubus, tiang, pohon, tuhan, hantu, siluman, dll.. mau ibadah sambil jongkok, nungging, jungkir, koprol, dan lain-lain. Selama ritual ibadahnya itu tidak mengganggu orang lain ya monggo, silakan saja. Selama dia orangnya baik, ya kita juga harus baik. Konon sejak zaman Zarathustra hingga Yeshua dari Yehuda, golden rule-nya ya itu-itu juga.

Terus banyak yang penasaran nanya aku ini penganut keyakinan apa. Sebetulnya yang namanya keyakinan dan spiritual itu privasi. Tapi berhubung orang Indonesia itu doyan kepo (Knowing Every Particular Object: Serba ingin tahu dari detail sesuatu, kalau ada yang terlintas dibenaknya dia tanya terus) tapi kalau sudah tahu pun tidak mau membersihkan perspektifnya yang sudah diracuni berbagai asumsi, selalu mencampurkan urusan personal ke ranah sosial, yo wis aku cerita lagi.

 

When Buddha and Jesus living as roommates

Yang namanya agama itu khan ngakunya mengajarkan kebaikan. Baik itu Hindu, Buddha, Konghucu, Islam, Katolik, Lutheran, Yahudi, Parmalim, Pemena dan ribuan aliran kepercayaan lainnya, semuanya mengaku mengajarkan kebaikan. Iya kan??

Nah, aku ini termasuk yang meyakini ajaran kebaikan seperti itu. Ajaran kebaikan yang lebih luas dan universal tanpa membedakan cara ibadah atau objek yg disembah. Apalagi kalau sampai mengklaim bahwa sembahan dan agamanya saja yang benar, punya orang lain tidak. Aku juga meyakini bahwa ibadah tertinggi manusia itu adalah berbuat baik kepada sesama manusia dan lingkungannya.

Makanya kalau aku sering posting yang nyeleneh jangan salah paham dulu. Yang aku kritik itu bukan ajaran yang damai dan penuh rahmat. Yang aku kritik itu adalah para oknum yg penuh diskriminasi dan intoleransi. Maka, sekali lagi, jangan salah paham, jangan tersinggung, kecuali kalau kamu adalah oknum.

(Terinspirasi dari tulisan Chalisa Nita)

[Puisi] – Tuhan, Aku Lapar

Ciliwung

 

Sejenak kuhirup udara bebas

Semilir lewat tanpa permisi di depan hidungku…

Tapi aku tak protes

Nikmat pertama di pagi ini.

Desau air grojokan sesekali minta diperhatikan

Kasihan juga,

Dari semalam tidak ada yang mau menyapanya

Kusesap sedikit dengan lidahku

Terasa kehidupan di dalamnya

Tapi lalu kulirik dari kaca jendela

Ada yang memanggil-manggil dari atas sana

Kehangatannya melukis tawa di cakrawala

Dasar, sang mentari memang jagonya mengumbar cinta

Perlahan aku bangkit

Waktunya memberi keadilan juga pada cacing di perut ini

Toh ia juga butuh gizi

Maka aku bergegas.

Di pinggir Kali Ciliwung ini,

Hari ini aku cuma mau titip sejumput doa:

Selamat pagi, Tuhan.

Aku lapar.

Non Scholae sed Vitae Discere

Di kota kecil Pematangsiantar, ada SMU berasrama yang cukup lama menjadi primadona bagi para putra-putra beragama Katolik. Konon, sekolah yang hingga kini masih fokus pada misi pembinaan calon-calon imam bagi Gereja Katolik terutama Keuskupan Agung Medan ini berhasil menanamkan semangat pendidikan berbasis nilai hidup, bukan sekedar nilai kertas.

Seminari

Hal ini terpatri dalam motto mereka:

Non Scholae sed Vitae Discimus

Kembali soal nilai. Pertanyaan sederhana yang masih belum mendapatkan jawaban final hingga saat ini dari teman masa kecil saya, terbersit kembali:

“Ho ma jo. Husukkun ma ho. Aha do sabotulna tujuanni parsikkolaan. Aha do guna ni sikkola”?

Jawabannya bisa beragam jika ditujukan kepada masing-masing orang. Saat ini, ada zaman dimana seorang anak Indonesia bahkan lebih hafal karakter manga Jepang dan lebih mahir menggunakan seabrek aplikasi di mobile device daripada “rasa keindonesiaan” yang dirumuskan dalam IPolEkSosBudHanKam, hampir pasti  bahwa butuh komunikasi yang lebih intens untuk menyambungkan generasi baby boomer, Gen Y dan gen X yang melek digital ini.

Buat saya: Komunikasi NILAI.

Ketika hampir semua informasi bisa diakses dari mana saja, hanya ada ruang “kecil” bagi nasihat, anjuran, petuah, etika dan norma (yang dulu adalah harga mati) untuk mereka dengarkan.

Misalnya: Seorang anak tidak lagi perlu disuruh menghafal “Katekismus Na Metmet” untuk dianggap lulus test “sikkola minggu” dan ikut bilangan orang dewasa. Kemungkinan mereka tidak akan mau lagi. Alih-alih memaksa mereka untuk takut akan Tuhan (fear of God) dan perintahNya, mereka punya senjata karena berteman dengan Google (friend of Google), yang bahkan lebih bermurah hati memberi mereka jawaban atas banyak hal dalam tempo yang lebih cepat dari si God; bahkan tanpa perlu berdoa pula.

Sebagian teman tidak lagi mengamini pesan di gambar ini; mereka menyatakan yakin bahwa Google lebih berkuasa daripada “imaginary” God.

 

Ruang kecil yang dimaksud adalah Anda sendiri yang harus MENUNJUKKAN kepada mereka bahwa si God jauh lebih berkuasa daripada Google (mudah-mudahan Larry Page, Sundar Pichai dan Sergey Brin tidak besar kepala jika membaca ini). Menunjukkan berarti anda tidak sendiri yang MELAKSANAKAN NILAI itu terlebih dahulu. Pun tidak ada jaminan bahwa mereka akan segera menangkap nilai yang Anda coba tanamkan. Tetapi setidaknya sebagian, iya.

Seperti postingan reflektif dari Yasa Singgih yang saya peroleh dari sebuah group milis ini.


Saya tidak terlahir di keluarga yang sangat kaya, namun juga tidak berasal dari keluarga yang susah. Keluarga kami berkecukupan & sederhana. Tapi saya akui bahwa saya berasal dari keluarga yang menurut saya sangat kaya akan nilai nilai kehidupan.

Papa saya adalah seorang karyawan dengan segudang aktivitas sosialnya yang sangat padat, beliau aktif membangun Yayasan Sutra Bakti yaitu sebuah Yayasan Sosial yang bergerak di bidang pemberdayaan ekonomi desa, program bedah rumah bagi warga kurang mampu di berbagai daerah & bantuan kesehatan untuk orang tidak mampu yang sedang sakit. Mama saya adalah seorang karyawan teladan sekaligus Ibu Rumah Tangga yang sangat luar biasa, beliau rutin memasak Indomie setiap hari Minggu untuk ketiga anaknya. Mereka bukan orang tua yang sempurna, namun mereka orang tua yang terbaik bagi anak-anaknya.

Ada satu kejadian yang tidak akan saya lupa seumur hidup saya. Yaitu kejadian saat saya masih duduk di bangku sekolah dasar, kalau tidak salah saat kelas 3 SD. Dari TK sampai dengan SD, saya selalu mendapatkan juara kelas. Sering kali mendapatkan juara 1 dan beberapa kali mendapatkan juara umum yang membuat saya dibebaskan dari biaya uang sekolah. Disaat banyak anak lain takut mengambil raport, saya tidak pernah takut. Saya yakin saya pasti dapat juara lagi.

Pun pada saat mendapatkan juara, saya tidak bergembira berlebihan. Biasa saja. Disaat teman saya mendapatkan hadiah disaat ulangannya mendapat nilai bagus, saya hanya mendapatkan semangkuk bakmie & segelas es cendol atas hadiah kerja keras sepanjang tahun menjadi juara 1 di kelas.

Sampai suatu hari momen tak terlupakan sepulang ambil rapot di mobil bersama Papa saya. Beliau bertanya seperti ini, “Hari ini kamu dapet juara 1 lagi ya?”

Dengan santai saya jawab, “Iyaaa Pa…”

Lalu Papa saya melanjutkan, “Sebenernya Papa ngga pernah minta apalagi maksa kamu untuk jadi Juara 1 di sekolah”.

Mendengar itu saya hanya terdiam saja.

Papa melanjutkan, “Iya, sebenernya kalo buat Papa nilai 6 atau 7 juga udah cukup, yang penting naik kelas aja supaya kamu ngga rugi waktu. Tapi kalo kamu ngga naik kelas pun Papa ngga akan marah, kamu cuma rugi waktu, Papa rugi uang. Tapi kamu bisa dapet temen lebih banyak lagi. Sekolah itu intinya bukan nilai di atas kertas, karena ngga semua nilai di atas kertas bisa kamu gunakan di kehidupan. Di sekolah kamu belajar lalu kamu dapet ujian tapi di kehidupan kamu dapet ujian lalu belajar dari ujian tersebut. Sekolah tetep penting, tapi esensi dari sekolah adalah pendewasaan diri. Ibaratnya SD itu kamu masih di aquarium, nanti SMP kamu lompat ke kolam ikan, SMA kamu lompat ke danau, kuliah kamu lompat ke lautan dan begitu seterusnya kamu akan lompat ke dunia yang lebih besar. Jadi, yang penting itu di sekolah kamu harus punya banyak temen dan bergaul yang pintar. Kalo ada temen kamu di sekolah yang dimusuhin, kamu harus temenin dia. Kalo ada temen kamu yang ngga bisa bergaul, bantu dia bergaul. Tolong orang sebanyak-banyaknya, baik dan ramah sama semua orang maka suatu hari kamu pasti ditolong baik sama mereka” begitu kata Papa saya.

Mendengar nasehat tersebut, saya hanya diam saja sambil menganggukkan kepala. Pada saat itu saya belum bisa mencerna nasehat tersebut dengan baik. Saya hanya menangkap bahwa saya harus jadi orang baik dan pintar bergaul sama banyak orang. Itu saja. Selebihnya saya tidak menangkap maksud Papa saya. Namun, memang setelah nasehat tersebut hidup saya berubah. SMP – SMA saya tidak sepintar saat SD lagi, karena saya merasa pintar dalam sosial jauh lebih penting daripada pintar secara akademis. Apalagi banyak pelajaran yang saya tidak suka. Masuk ke kuliah, saya tidak sebodoh saat SMP – SMA. Karena saya memilih jurusan yang saya suka, maka saya tidak kesulitan untuk menjadi mahasiswa yang pintar secara akademis dan juga sosial.

Mungkin disaat usia saya 20 tahunlah saya baru benar benar mengerti seluruh nasehat yang Papa saya berikan pada sata beberapa tahun yang lalu. Disaat – saat inilah saya baru menangkap apa yang diajarkan oleh Papa Mama saya selama ini tentang kehidupan secara tidak langsung.

Dari kecil, saya dan kakak-kakak saya dibesarkan dengan gaya hidup yang sederhana. Keluarga kami terbiasa makan nasi uduk di kaki lima ataupun nasi goreng tek tek di pinggir jalan. Makanan favorit keluarga kami adalah Nasi Goreng Bang Jen di Cipulir atau Nasi Uduk Favorit di Tangerang. Bagi kami kedua makanan tersebut jauh lebih nikmat dibanding restoran manapun. Kami diajarkan untuk tidak membeli barang yang harganya berlebihan & kami diajarkan untuk makan di tempat yang sewajarnya disaat punya uang sekalipun.

Papa Mama saya tidak pernah bertanya kepada saya, “Yasa, gimana ulangan MAT kemaren?” sepulang sekolah.

Pertanyaan yang mereka tanyakan adalah:

“Ada yang seru ngga di sekolah hari ini?”

“Yas, kamu udah punya pacar belom sih? Ada yang cakep ngga?”

“Siapa guru yang ngajarnya paling enak?”, “Siapa temen yang baik di sekolah?”

Bahkan sebuah peraturan unik dibuat oleh Papa saya, kalau saya punya pacar maka saya ditambahkan uang jajan katanya. Hal unik berikutnya, orang yang pertama kali memberikan saya kesempatan mencicipi rokok adalah Papa saya. Orang yang pertama kali memberikan saya kesempatan mencicipi alkohol pun juga Papa saya. Namun anehnya, sampai hari ini saya bukan dan tidak pernah menjadi perokok dan bukanlah peminum alkohol.

Akibat hal tersebut, saya menganggap esensi pendidikan bukanlah sekedar nilai diatas kertas. Sangat disayangkan jika orang tua menuntut anak berdasarkan nilai diatas kertas, bukan proses pembelajaran dari setiap kejadian. Alhasil, anak hanya fokus pada hasil tanpa memperhatikan proses pembelajaran. Apa yang didapat? Nol besar. Orang tua juga sering kali memaksakan kehendak dirinya pada anak, bahkan ada juga yang meminta anak punya mimpi yang sama dengan dirinya tanpa memperdulikan hasrat sang anak. Saya masih ingat di akhir SMA disaat rata rata teman saya sedang bingung memilih jurusan apa yang paling bagus atau jurusan apa yang paling cepat dapat kerja, Papa Mama saya tidak menyarankan apa apa selain, “Pilih yang kamu nikmat ngejalaninnya…”

Saya juga bersyukur keluarga saya mendidik saya dengan gaya hidup yang sederhana, secara tidak langsung saya diajarkan untuk menjadi anak yang siap hidup dalam segala situasi. Papa Mama saya mengajarkan saya etika yang baik saat berada di tempat yang mewah, namun mengajarkan saya untuk siap jika suatu saat hidup sedang berada di posisi yang keras. Saya dibentuk untuk menjadi anak yang siap kaya namun juga siap miskin. Saya belajar bahwa kualitas diri manusia tidak dinilai dari apa yang ia kenakan di luar, melainkan dari apa yang ada di dalam dirinya. Dari begitu banyaknya kegiatan sosial yang dijalankan oleh Papa saya, saya juga belajar banyak bahwa untuk memberikan dampak buat banyak orang tidak perlu menunggu menjadi orang yang mampu melainkan kita hanya perlu menjadi orang yang MAU. Dari kesederhanaan Mama saya, saya belajar bahwa anak tidak bangga pada orang tuanya yang tampil cantik ataupun terlihat kaya, melainkan kepada orang tua yang mampu mendidik anaknya menjadi manusia yang lebih beradab dan beretika.

Sedikit pesan untuk para orang tua. Tugas utama orang tua bukanlah memberikan uang, anak tidak butuh uang. Orang tua adalah pendidik, yang harusnya menciptakan manusia berkualitas, beretika, bernilai, berdaya yaitu anaknya. Untuk mendidik anak seperti itu, butuh waktu, butuh kasih sayang, butuh moral, butuh nilai nilai kehidupan, bukan uang. Tidak perlu sibuk mencari uang agar dapat meninggalkan warisan uang yang banyak untuk anak, jika orang tua mendidiknya dengan benar maka anak itu dapat menciptakan uang jauh lebih banyak daripada jumlah yang orang tua harapkan. Anak adalah cerminan orang tua. Kebanggaan terbesar orang tua adalah saat anaknya berhasil menjadi manusia yang berkualitas, berdaya dan bermanfaat.

Pesan untuk anak, tidak semua orang tua mampu mengajarkan pendidikan moral ataupun nilai nilai kehidupan secara langsung. Namun ketahuilah bahwa perjuangan orang tua kita begitu luar biasa, intensi mereka begitu baik untuk masa depan anaknya. Kita tidak perlu mencari motivasi hidup di luar sana, belajarlah dari perjalanan kehidupan orang tua kita berusaha menghidup kita. Saya yakin ada sebuah cerita inspiratif yang kita temukan disana. Orang tua selalu menginginkan yang terbaik untuk anaknya, namun belum tentu yang diinginkan orang tua juga diinginkan anak. Maka yang dibutuhkan adalah komunikasi yang baik dan terbuka. Orang tua harus mampu memberikan kepercayaan & anak harus mampu bertanggung jawab atas kepercayaan yang telah diberikan.

Dan cara terbaik untuk membangun hubungan yang baik antara orang tua dan anak adalah menginvestasikan WAKTU masing masing untuk saling terbuka & dihabiskan bersama.

Saya bersyukur atas semua nilai kehidupan yang orang tua saya ajarkan pada saya. Itulah yang menjadikan Yasa Singgih pada hari ini. Apabila suatu saat saya menjadi orang yang sukses, apresiasi tertinggi hanya pantas diberikan untuk orang yang menjadikan saya seperti hari ini yaitu Papa Mama saya. Bersyukurlah bukan karena kita terlahir di keluarga yang kaya, namun bersyukurlah karena kita terlahir di keluarga yang penuh nilai nilai kehidupan.

Jika suatu saat nanti mereka tiada, saya tidak akan meminta warisan berbentuk materi apapun dari mereka. Seluruh pelajaran kehidupan yang mereka berikan selama ini, sudah lebih dari cukup.

Don’t try to become a man of success.

Just try to become a man of value.

Success will follow you.

Cinta saya untuk Papa Mama,
Yasa Singgih
14 Juni 2016


Saat ini Yasa Singgih aktif menjadi pembicara di vihara-vihara. Sementara saya dan beberapa teman lebih memilih untuk nongkrong dan mencoba menyambungkan asa yang terlanjur tertanam di kelompok kecil kami bahwa melewatkan momen bersama itu sangat penting, kendatipun betapa sibuknya. Kendatipun masing-masing tahu bahwa “This too, shall pass”.

Semmen

Carrot, Egg, Coffee Bean

A young woman went to her mother and told her about her life and how things were so hard for her. She did not know how she was going to make it and wanted to give up. She was tired of fighting and struggling. It seemed as one problem was solved a new one arose.

“Problems are part of life, Samsara as it is” via 1.bp.blogspot.com

Her mother took her to the kitchen. She filled three pots with water. In the first, she placed carrots, in the second she placed eggs, and the last she placed ground coffee beans.

Kitchen is where the adults learn sex and the kids learn life from.

She let them sit and boil without saying a word. In about twenty minute she turned off the burners. She fished the carrots out and placed them in a bowl. She pulled the eggs out and placed them in a bowl. Then she ladled the coffee into a bowl. Turning to her daughter, she asked, “Tell me what you see?”

“Carrots, eggs, and coffee,” she replied.

She brought her closer and asked her to feel the carrots. She did and noted that they were soft. She then asked her to take an egg and break it. After pulling off the shell, she observed the hard-boiled egg. Finally, she asked her to sip the coffee. The daughter smiled, as she tasted its rich aroma.

The daughter then asked, “What’s the point, mother?”

Her mother explained that each of these objects had faced the same adversity … boiling water – but each reacted differently. The carrot went in strong, hard, and unrelenting. However, after being subjected to the boiling water, it softened and became weak. The egg had been fragile. Its thin outer shell had protected its liquid interior. But, after being through the boiling water, its inside became hardened. The ground coffee beans were unique, however. After they were in the boiling water they had changed the water.

“Which are you?” she asked the daughter. “When adversity knocks on your door, how do you respond? Are you a carrot, an egg, or a coffee bean?”

Think of this: Which am I?

Am I the carrot that seems strong, but with pain and adversity, do I wilt and become soft and lose my strength?

Am I the egg that starts with a malleable heart, but changes with the heat? Did I have a fluid spirit, but after death, a break up, a financial hardship, or some other trial, have I become hardened and stiff? Does my shell look the same, but on the inside am I bitter and tough with a stiff spirit and a hardened heart?

Or am I like the coffee bean? The bean actually changes the hot water, the very circumstance that brings the pain. When the water gets hot, it releases the fragrance and flavor. If you are like the bean, when things are at their worst, you get better and change the situation around you.

When the hours are the darkest and trials are their greatest do you elevate to another level?
How do you handle adversity?

ARE YOU A CARROT, AN EGG, OR A COFFEE BEAN?

(As shared today by my boss Rizaldi Sistiabudi at the office).

 

Tentang Tuhan pada Yuyun: Teologi Keju dan Nasi Aking

Teologi konon adalah ngomong (logos) tentang sang tuhan (teos). Sejak manusia merasakan ada Tuhan yang menakjubkan sekaligus menggetarkan mereka (fascinosum et tremendum) itu, sejak itu pula tak terhitung banyaknya omongan yang lalu diomongkan kembali, sebagian ditulis ulang, sebagian diulang-ulang saja oleh penulis yang berbeda. Entah dengan laklak ataupun papyrus Biblos, atau coretan di gua tua yang basah dan gelap bertemankan obor mengukir di batu yang keras. Terkumpul sepanjang sejarah peradaban manusia. Kemungkinan jumlah lembarnya lebih banyak dari total populasi jiwa yang pernah menghirup oksigen di jagat ini.

Demikianlah ia menjadi buku besar teologi. Di tangan para rabbi ia menjadi shibbolet bagi mereka yang pantas “duduk di bawah pohon ara” dan “mana yang akan dilempar ke dalam api yang menyala-nyala”. Para rahib dan arahat mencoba menjadikannya tuntutan bagi setiap pengikut yang konon ingin menemukan diri dalam pencerahan budhi (bodhi). Kitab itu juga diyakini bisa membimbing manusia menyadari kesatuan athman dan brahma. Belakangan ia dipeluk dan dijadikan bantal empuk yang nyaman sebagai bacaan sebelum tidur oleh para Kristen yang merasa diri mesti menjadi orang saleh. Tak kurang pula ia dijadikan tuntutan hidup bahkan sains oleh teman-teman Muslim yang merindukan turunnya hidayah pada setiap ibadah sholatnya.

Dan masih ada ribuan lagi golongan orang yang mencoba memposisikan diri terhadap Tuhan, si tremendum et fascinosum itu.

Kini tahun 2016 orang semakin kritis. Di zaman dimana pluralisme kini semakin diterima dan di-aku-i sebagai bagian dari gaya hidup, maka tidak mustahil bahwa seorang ateis, agnostik dan orang beragama bisa bercengkerama bersama. Entah itu ketika berbicara tentang sains, ngulik-ngulik remah-remah coretan tentang sejarah komunis yang kabur atau dikaburkan, atau bahkan tentang pantat biduan yang memang terlalu montok untuk tidak mendapat perhatian. Entah itu ketika menemukan diri sebagai bagian dari solidaritas besar dengan lilin di tangan dan memegang poster bertuliskan dukungan penuh cinta terhadap dik Yuyun, ataupun ketika saling beringas menunjukkan taringnya dalam debat dan dialog yang seakan tiada henti-hentinya selama ada secangkir kopi dan sekarung kuota internet.

When it is about child, evenmore children abuse, the whole world finally find theirselves as ONE

Satu post scriptum disematkan pada setiap buku dan tulisan teologi yang mencoba menjelaskan siapa itu Tuhan dan apa karakteristiknya:

Teologi itu buatan manusia, gambaran tentang Tuhan yang sejatinya adalah cerminan atau proyeksi manusia atas diri dan masyarakatnya. 


Saya tidak akan membahas tentang Yuyun, hukuman mati atau seumur hidup terhadap pelaku pemerkosaan atas Yuyun, KPAI, ataupun teori-teori tentang pemajuan-perlindungan-penegakan HAM yang setiap waktu siap untuk meramaikan lini masa setiap kali insiden ‘kecil’ di daerah terpencil yang mendekatkan setiap orang dengan Yuyun. Setiap tahun ada ribuan sarjana Hukum yang siap menjadi pengamat dan memberikan annotasi mereka terhadap kasus serupa, entah itu dalam dagelan pengacara-hakim-terdakwa, atau memang benar mengadili dan memberikan diri pada keadilan publik yang beradab.

Saya hanya tertegun saja ketika membaca kembali sebuah tulisan dari E. Nugroho. Belum pernah bertemu, tapi rasanya saya mesti berlari untuk bisa mencapai frekuensi yang sama dengan Pak Nugroho yang saya yakin jujur ketika menerangkan dirinya sebagai seorang “dokter pensiunan yang suka mengeritik tapi tidak berbuat apa-apa”. Berikut saduran dari saya.


Pakailah Sandal Kalau Ke Gereja

Tahun lalu saya membaca poster besar di gereja. Kalau tidak salah dari Seksi Lingkungan. Isinya: Pakailah sepatu kalau ke gereja. Jangan pakai sandal. Masak kamu tidak menghormati Tuhan. Gereja adalah rumah Tuhan. Begitu kira-kira. Ini bukan pertama kali saya mendengar kritik soal tata cara berbusana ini. Saya selalu menentang. Tidak pada tempatnya gereja, suatu institusi rohani (dulu saya berpendapat begitu), mengatur soal tata cara duniawi ini.

Lalu, terjadilah pembicaraan berikut:

+ : Masak kamu tidak menghargai rumah Tuhan, memakai sandal ke gereja.
– : Tuhan Yesus sendiri kemana2 selalu memakai sandal. Saya cuma meniru Yesus. Apakah dia tidak boleh masuk ke gereja ini ?

+ : Bedalah. Itu kan zaman dulu. Kalau sekarang, Yesus tentu memakai sepatu.
– : Kok tahu? Bagaimana bisa yakin bahwa Yesus akan menjelma sebagai orang Jakarta, dan bukan orang di hutan Mentawai yang tidak bersepatu dan hanya memakai cawat?

+ : Pokoknya anggap saja Yesus menjadi orang Jakarta.
– : Bagaimana kalau Yesus tidak punya uang untuk beli sepatu? Masih banyak orang Jakarta yang susah untuk beli sepatu, lho.

+ : Intinya begini. Kalau ke gereja, orang Kristen harus menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Kalau kamu ke Jakarta, sesuaikan diri; pakailah pakaian Jakarta. Sesuaikan diri dengan mayoritas.
– : Kamu serius dengan pendapat itu?

+ : Tentu saja serius.
– : Kalau demikian, kalau kita diajak ke Papua yg umatnya masih pakai koteka, kita harus menyesuaikan diri dengan mereka ?

+ : Ah, ada2 saja. Mereka kan masih terbelakang.
– : Mungkin ada baiknya kita tidak menyombongkan diri?

+ : Pokoknya menurut saya, pakai sepatu itu pantas untuk Tuhan.
– : Pantas itu relatif. Santo Fransiskus Asisi membuang pakaian mewah dan sepatunya 800 tahun lalu, dan memakai pakaian rombeng dan sandal (mula-mula telanjang kaki). Juga waktu dia bertemu dengan paus. Gandhi juga membuang jas dan pakaian ala baratnya, memakai sehelai kain tenun India plus sandal. Presiden Vietnam, Ho Chi Min, hanya memakai sandal jepit ketika datang ke Istana Merdeka bertemu Soekarno. Mereka tidak dianggap menghina, malah dipuji-puji karena berani mewakili rakyat miskin.

+ : Susahlah, kalau berdebat begini. Yang jelas SAYA SUKA PAKAI SEPATU.
– : Tepat… Itulah jawabnya. “Saya suka”. Cuma mungkin kita perlu membiarkan orang lain dengan kesukaannya.
– : Ada tambahan: di Singapura (mungkin juga di tempat lain? ), banyak pria memakai sepatu, tapi bercelana pendek kalau ke gereja. Mana yang lebih pantas ya, bercelana pendek, atau memakai sandal?

Buat saya pribadi, semakin sedikit gereja mengurus tata cara duniawi, akan semakin sedikit kesalahan yg dilakukannya. Dan kalau kita ingin berpihak pada orang miskin seperti diminta Bapa Suci, akan lebih baik kalau kita menyesuaikan diri dengan mereka. Semoga ada kesesuaian pendapat di antara kita.


 

Lega rasanya menemukan tulisan dengan karakter yang bagi saya mestinya diminati, ditulis dan dibaca oleh semakin banyak orang Katolik, atau bahkan agnostik dan ateis sekalipun. Seperti menemukan oase di tengah gaharnya perang proxy dan hate speech baik yang tampil tegas maupun malu-malu, yang membuat orang jengah membaca koran atau menyebarkan berita sebab jerat hoax memang seperti lingkaran setan. (Hoax punya lingkaran yang bisa panjang, bisa pendek. Kerap bahkan si penebar hoax meyakini hoax yang dia tebarkan sendiri hanya karena si penutur kesekian kali menggayakan bahasanya secara berbeda dan meyakinkan. Tidak selalu jelas siapa korban dan siapa banditnya.)


 

Keju dan Nasi Aking

Menggambarkan seperti apa Tuhan itu ternyata tidak harus menimbulkan gaduh (yang kerap membuat orang beragama mendapat diskredit dari ateis maupun agnostik). Jika orang cukup berani menyebut bahwa BENAR cermin dari dirinya atau proyeksi masyarakat dan kelompoknya-lah yang membuatnya memahami Tuhan sebagai Maha Pemurah pemberi keju atau Maha Pemurah pencipta nasi aking. Kita tidak pernah akan benar-benar tahu apakah keju dan nasi aking itu memang diberikan oleh tuhan yang sama.

Rich and blessed

Poor and blessed

 

 

 

 

 

Karenanya, akan sangat fair jika masing-masing terbuka dengan kemungkinan bahwa tuhan yang mereka yakini dan percayai bisa saja saling tertukarkan, atau malah tidak ada.

Sama seperti diminta oleh Bapa Suci Paus, Rinpoche, presiden yang mulia, tukang bakso yang baik, ataupun sintua saleh di kampung saya, akan lebih baik kalau kita menyesuaikan diri dengan mereka. Dimulai dari mencoba memahami bagaimana Tuhan bisa sama-sama hadir lewat nasi aking dan keju, baik dengan lagu-lagu hillsong dan irama qasidah maupun dengan teriak keras teologi pembebasan dan asap senapan Che Guavara.

Semoga ada kesesuaian pendapat di antara kita.

True Self Manusia Nusantara

Berbagi Keprihatinan

Baru-baru ini, saya menikmati diskusi dengan teman-teman yang menyebut diri sebagai “kelompok yang perduli terhadap budaya nilai Indonesia”. Group chatting-nya menggunakan aplikasi Telegram. Menurut sang admin, mengingat sejauh ini Telegram masih mengakomodasi lebih banyak members dibandingkan Whatsapp, akan semakin banyak manfaat yang bisa ditularkan jika semakin banyak orang yang bergabung. Saya setuju dengan beliau. Tak terbayang jika semua orang Indonesia ikut dalam perjuangan yang di-share dalam deskripsi group tersebut, yaitu

sumbangan pemikiran bagaimana mengembangkan budaya nilai itu di lingkungan kehidupan kita sehari-hari (di rumah, di kantor, di sekolah dan lain-lain).

Umumnya group chatting, termasuk group nostalgia hanya bertahan di minggu-minggu pertama sebelum kemudian sepi kembali karena memang tidak ada substansi yang benar-benar layak untuk di-share dan dibaca di sela-sela kesibukan atau curi-curi waktu supaya tidak ketahuan bos saat kerja (hehehe .. yang ini termasuk nilai yang tidak baik). Tetapi group yang ini berbeda. Segera terbaca buat saya bahwa bunyi tang ting tung yang masih bertahan hingga kurang lebih satu bulan ini menandakan bahwa para member merasakan keprihatinan yang sama. Bagi kami jelas, bahwa saat ini di Indonesia: Nilai-nilai mulai tergerus.

Mulai dari penggagalan penerusan kehidupan (entah itu aborsi, baby trafficking, kesadaran yang lemah tentang kesehatan pada masa kehamilan), pertumbuhan anak yang sarat dengan penolakan (entah itu bullying di lingkungan sekolah, kekerasan remaja, penyalahgunaan seks, seks pranikah, drugs abuse), hingga relasi yang mestinya tumbuh di tengah lingkungan keluarga.

Diskusi menghangat hingga berhari-hari ketika masing-masing mencoba memberikan argumentasi dan contoh narasi terhadap nilai-nilai apa yang tergerus itu. Kemudian menjadi semakin sempit ketika iseng-iseng mau menginventarisir nilai-nilai mana saja yang dimaksud, akhirnya mengerucut pada nilai-nilai asli manusia Indonesia.

Saya coba nyeletuk, sembari mengajak teman yang lain menarik diri dengan pertanyaan:

Memangnya siapa manusia Indonesia?

Nilai-nilai mana yang memang khas Indonesia, yang layak kita pelihara dan teruskan?

True Self

#TrueSelf adalah apa yang tertinggal pada insan Nusantara jika #TrueSelf_Palsu-nya dilepas. Setiap manusia yang dicipta, adalah manusia sejati yang sesuai dengan kehendak dan gambaran Pencipta-nya. Setiap manusia Indonesia, entah karena DNA-nya memang dari lelehur kala Nusantara atau dia memilih menjadi bagian dari Indonesia, adalah sesuai dengan kehendak dan gambaran pencipta-nya. Mula-mula ia adalah manusia sejati. Tapi lama-lama melalui pelabelan demi pelabelan, akhirnya citra diri sejati itu ditutupi oleh label-label. Pada akhirnya tidak kelihatan lagi citra diri manusia yang sejati dan hanya kelihatan label-labelnya.

Dialog apapun dalam konteks musyawarah menjadi sangat sulit dicapai ketika akhirnya citra diri pribadi yang sejati itu lalu direduksi sesuai “pendapatku”, “ajaran agamaku”, “lingkungan sosialku”, “lingkaran politisku”. Diri yang dihasilkan dari reduksi semacam inilah yang disebut sebagai #Citra diri palsu.

Citra Diri Palsu

Maka, untuk memperoleh gambaran yang tepat tentang #TrueSelf manusia Nusantara atau diri sejati dari insan Indonesia, mau tak mau, semua lapisan doktrinal mesti dibuang dahulu, termasuk ideologi agama dan keyakinan yang rentan multitafsir. Tidak hanya unsur SARA saja (sebab SARA hanya pakaian usang yang digunakan untuk menutupi kebusukan yang lebih besar lagi di dalamnya).

Apakah ini berarti menempatkan diri makhluk primitif seperti tayangan Meet The Natives dengan wanita berpayudara lepas tanpa penutup dan lelaki tegap dengan koteka penutup kemaluannya di Discovery Channel atau National Geographic? Entahlah. Tetapi menjadi manusia primitif yang tahu caranya mengetik karakter via Telegram dan tahu tata cara mengantri di fasilitas umum sepertinya lebih civilized dibandingkan para manusia modern yang suka menyebarkan hoax; atau wakil rakyat yang hobinya berkelahi, ber-dagelan seolah-olah benar mereka menyampaikan suara rakyat.

Tak dirumuskan secara gamblang tetapi masing-masing anggota group chat berbagi pengalaman tentang bagaimana nilai (atau persepsi terhadap nilai) semakin tercemar. Seakan-akan para anggota group yang kebanyakan berasal dari generasi baby boomers ini merasa prihatin dengan kami ‘generasi millenials’ Y dan ‘post millenial Z’ yang lebih muda, sebab kenyataan akhir-akhir ini menunjukkan masyarakat yang teralienasi dari dirinya sendiri: mencoba mencari segala yang ‘wah’ dan keren, termasuk jika itu harus meninggalkan kearifan nusantara, filosofi hidup dan nilai-nilai lokal (life values) yang ada.

Anggota group yang berasal dari beragam profesi dalam hidup harian mereka coba menawarkan apa yang mereka maksud sebagai nilai. Berikut beberapa inventarisnya:

  1. Kesopanan
  2. Keramahan
  3. Kesantunan
  4. Kekeluargaan
  5. Mau berbagi
  6. Takwa
  7. Hormat kepada bumi
  8. Hasangapon (dihormati, karena kharisma bukan karena materi atau status ekonomi semata)
  9. Nrimo (teman dari etnis Jawa menyebut bahwa terjemahan “pasrah” kurang tepat menjelaskan kata ini)
  10. Hormat kepada yang tua
  11. dan sebagainya …

Dan inventarisasi itu semakin panjang.

Masing-masing merasa bahwa itulah terjemahan dari nilai-nilai yang disebut Pancasila. Itulah butir-butir P4 (Pedoman Penghayatan Pengalaman Pancasila) yang mestinya sekarang terus digalakkan lagi sosialisasinya, bukan terutama karena Zaskia Gotik yang setelah menyamakan pancasila dengan pantat bebek lalu didaulat jadi duta untuk sosialisasi nilai-nilai pancasila. Menciptakan manusia dengan nilai seperti litani itulah yang disasar oleh setiap regulasi dan perundangan di republik ini.

Tetapi lalu ada rasa jengah.

Kemudian terawang yang teramat dalam ke batin masing-masing sebelum mengetikkan huruf-huruf di gadget masing-masing untuk dikirimkan sebagai komentar dengan menekan tombol “enter”. Rasa segan yang teramat sangat ketika daftar yang hendak diinventarisir itu bersinggungan dengan doktrin agama, sebab ternyata tidak begitu saja kita mudah mengenakan Ockhams’ razor untuk membedah true self manusia Indonesia dari developed self dan contextual self Indonesia.

Tidak mudah berbicara tentang true self orang Indonesia sebagai orang Indonesia. Ketika kita mencoba melepas semua pelabelan demi pelabelan yang membentuk developed self, tidak begitu saja komunikasi bisa asertif dan straight at the point.

Yang bukan mitos dari Teori Penciptaan

Terminologi Katolik nyaman dengan istilah “imago Dei” guna menterjemahkan #CitraDiriSejati.

Secara populer, imago dei (gambar, rupa Allah) mengacupada dua hal.

Pertama, aktualisasi diri Allah sendiri melalui manusia.

Kedua, perawatan Allah bagi umat manusia.

Tidak akan selesai perang tafsir teologis Kejadian 1 pada Kitab Suci dengan sains populer, tetapi kita akan cukup aman menyebut bahwa se-mitologis apapun kisah dalam penciptaan, itulah cara manusia zaman dahulu untuk membahasakan pengalaman dan refleksi mereka terhadap NILAI apa yang seharusnya ada pada mereka dan semestinya tetap ada pada generasi berikutnya. Artinya, tetap ada nilai yang bisa dipeluk sebagai kekayaan peradaban sekalipun benar bahwa teori penciptaan hanyalah teori, dan tidak pernah terjadi bahwa Allah mencipta manusia pertama di daerah Irak sekarang.

Menyebut manusia citra Allah adalah langkah paling berani, tanpa jatuh pada antroposentisme belaka, bahwa tataran NILAI paling tinggi itu bisa dicapai oleh manusia. Untuk itu, perlu kualitas khusus dari sifat manusia yang memungkinkan Allah untuk menjadi nyata pada manusia.

Implikasi moral dari doktrin imago Dei yang jelas dalam fakta bahwa jika manusia untuk mengasihi Allah, maka manusia harus mencintai manusia lainnya, karena masing-masing adalah ekspresi dari Allah.

Keluar dari konteks Katolik, menyebut manusia Indonesia sebagai manusia yang “ber-Ketuhanan Yang Maha Esa” adalah langkah berani untuk mencari pada area mana saja manusia Indonesia sudah menghidupi kekayaan NILAI yang melampaui kepentingan kelompoknya saja.

Entah benar bahwa manusia Indonesia sekarang adalah keturunan dari para pelaut pemberani dari generasi perantau Proto_Melayu dan Deutro_Melayu atau malah sudah terlebih dahulu melihat jejak-jejak hangat bekas kaki dinosaurus yang cukup dekat rentangnya dengan hidup manusia dalam diri Homo Florensis, menyebut diri sebagai bangsa yang ber-Ketuhanan yang Maha Esa, tidak bisa tidak, berarti mengakui kulminasi nilai peradaban ada pada pengakuan diri sebagai citra Allah. Bahwa #TrueSelf manusia Indonesia ialah manusia yang sudah sedari awal berorientasi pada NILAI, menghidupi NILAI, bahkan rela mati demi NILAI.

Nilai itu bisa diterjemahkan sebagai values of life, falsafah hidup atau bahkan tujuan hidup itu sendiri. Jika demikian, yang manakah nilai Indonesia itu?

Yaitu SEMUA kearifan dan nilai yang terkandung pada setiap masyarakat Nusantara mulai dari Aceh hingga Papua, mulai dari pemeluk agama resmi seperti Kristen hingga pelestari aliran kepercayaan seperti Parmalim, mulai dari penjual nasi aking di daerah Banten hingga pengembang properti hunian di Pantai Indah Kapuk. Ya, semua nilai yang baik itulah nilai sejati dari #TrueSelf manusia Nusantara.

Maka, nilai pertama yang mesti dimiliki setiap orang Indonesia adalah menerima diri sebagai bagian utuh dari kesatuan Indonesia. Berbela rasa terhadap yang lain, yang juga bagian utuh yang sama dari Indonesia. Itulah #TrueSelf sejati dari manusia Indonesia: Berbelarasa karena bhinneka.

“Menghajar” Pendidik

Ada teman yang suka menyebut Indonesia, ada yang keukeuh dan bersikeras bahwa Nusantara punya kandungan makna lebih kaya. Pencarian identitas kebangsaan memang semestinya terus digalakkan. Dan cara yang paling ampuh untuk melakukannya ialah dengan pendidikan, termasuk mendidik siswa supaya berani melepas topeng-topeng dari #CitraDiriPalsu dari para pendidiknya terdahulu.

Ini harus sejalan. Pendidik mendidik siswanya, dan siswa “menghajar” pendidiknya. Siswa yang sudah mengalami dan menyaksikan sendiri bagaimana kemajuan zaman “menelan” mereka bulat-bulat hingga merenggut jatidiri mereka sebagai manusia Indonesia, layak untuk meng-konfrontasikan keprihatinan mereka terhadap nilai-nilai yang diajarkan para pendidik. Umumnya pendidik yang mengerti substansi nilai akan merasa bersemangat, sementara guru yang ijazahnya pun diperoleh dengan membayar calo, mereka akan gamang dan linglung karena teori yang mereka copy-paste dari internet tidak membantu sama sekali menghadapi tuntutan semacam itu.

Tidak semua, tetapi kerap para pendidik terdahulu juga adalah bagian dari kepentingan yang lebih besar, yang rela memangsa #CitraDiriSejati bangsa Indonesia demi kepentingan mereka. Yang jelas, yang mereka bela itu bukan kepentingan Tuhan yang kita puja. Karena kalau Tuhan punya kepentingan, kita semua-lah, tidak hanya sebagian, yang mestinya jadi kepentingan-Nya.

 Selamat hari pendidikan!

(Seperti dimuat di Indonesiana Tempo)

 

Petojo Melintang, 2 Mei 2016

Page 1 of 6

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén