DONALD HAROMUNTHE

For Those Whom I Can't Talk With

Insta-Famous

Insta-Famous

Apa itu Insta-Famous?

Insta-famous atau Selebgram bukanlah aktor, aktris, musikus(i), atau anak dari tokoh partai politik atau penguasa di pemerintahan. Mereka adalah remaja pengguna Instagram yang menangkap peluang untuk menjadi “famous” (terkenal), punya tempat tersendiri (fame) di hati para follower-nya.

Selain dari akun-akun Instagram yang nyerempet-nyerempet ke pertunjukan keindahan atau kejelekan tubuh dan aksi visual ekstrem (yang entah mengapa masih menjadi pemeringkat atas di antara akun-akun yang ada), akun-akun Insta-famous ini menyadari bahwa selain TV, Radio atau Suratkabar, media sosial terutama Instagram telah menyediakan panggung baru bagi mereka. Panggung yang selama ini hanya bisa dimiliki oleh para artis atau selebritis papan atas yang didapatkan dengan susah payah dan dedikasi bertahun-tahun.

Bahkan jebolan kontes seperti Indonesian Idol, Akademi Fantasi Indonesia, atau comic lulusan Stand Up Comedy saja belum tentu sampai di panggung serupa dan memperoleh fans loyal. Ratusan alumni dari tiga kontes TV terbesar tadi, coba saja cek sendiri, berapa persen yang hari ini masih mendapat tawaran untuk nongol di layar TV.

Tanyalah @dijjah_yelloww yang entah mendapat ilham dari mana, foto dan video singkatnya telah berhasil menjadikannya salah satu akun “dari tak dikenal menjadi tenar” di hati 182 ribu lebih pengguna Instagram Indonesia. Lebih dari separuh jumlah follower di akun Ahmad Dhani, bos Republic Cinta Management yang dulu musiknya mengisi masa-masa SMP dan SMA saya, tetapi kini harus berjuang menanggung konsekuensi dari lirik lagunya ” … Atas nama cinta saja, jangan bawa nama Tuhan …“. Akun dari sebuah band musik indie  barangkali memerlukan kampanye konsisten bertahun-tahun untuk mendapatkan jumlah follower serupa.

Camera dan Aplikasi Instagram – Dua Sejoli Tak Terpisahkan

Lantas apa yang didapat dari banyaknya jumlah follower itu? Jika Anda orang advertising (periklanan) atau setidaknya memahami prinsip dasar marketing, Anda akan segera tau bahwa jumlah follower itu berbanding lurus dengan kesempatan untuk mendapatkan tawaran iklan, endorsement, jual-beli akun, kampanye politik, brand campaign,  dan sejenisnya. Pundi-pundi uang pun mengalir sederas jumlah pesanan ke akun mereka.

Penting dicatat, kesempatan loh ya. Sebab kesempatan dan hoki (luck atau keberuntungan) adalah resep dasar dari kesuksesan menurut ukuran yang berlaku umum. Praktisnya, jika Anda punya teman yang mempunyai puluhan ribu pengikut di media sosial, dengan segmentasi yang baik, meminjam akun tersebut untuk memasarkan produk terbaru usaha Anda jauh lebih efektif dan hemat dibandingkan mencetak selebaran yang hanya akan dibuang di jalan raya begitu orang melihatnya sekejap, menimbulkan sampah di sepanjang jalan pula.

Insta-famous = Instant fame?

Smartphone, Creativity, Leisure Time, Extreme Selfie Mood adalah paduan sempurna bahan mentah bagi para wannabe-insta-famous ini.  Sempurna karena para penggila Instagram ini memiliki atau bisa mengusahakan keempatnya. Dengan bermodalkan kocek 700 ribu mereka sudah bisa membawa pulang sebuah Evercross baru yang sudah berteknologi android. Dengan beragam trik dan tips yang bisa mereka browsing dari Google dan Youtube, mereka bisa belajar menjepret foto atau merekam video berdurasi singkat yang bakal menarik mata orang. Dengan kesibukan mereka yang tergolong lebih ringan dibanding angkatan pekerja (umumnya mereka adalah para pelajar sekolah lanjutan atau sedang kuliah). Soal mood untuk ber-selfie-ria, rasanya tak perlu ditanya lagi. Bahkan saat berbuka puasa pun, durasi waktu untuk berswafoto lebih besar ketimbang silaturahmi yang umum dimengerti orang

Orangtua atau kaum dewasa yang masuk Generasi X (baby boomer) dan Y (millenial) awal barangkali adalah kaum yang paling jengkel dengan begitu banyaknya adegan selfie dan sesi fotografi tanpa henti yang dilakukan oleh kaum muda sekarang dengan konsistensi tanpa henti. Remaja usia belasan dan dua puluhan tahun yang lebih khawatir kalau foto terakhir acara makan bersama mereka tidak diposting di Instagram ketimbang tugas sekolah atau kuliah yang tidak sempat mereka kerjakan.

Jika demikian, benarkah nasihat lama “Instant Result isn’t the same as you play in ‘normal’ way” tidak berlaku lagi? Apakah “hasil tidak pernah menghianati proses” tidak relevan lagi? Singkatnya, apakah Insta-famous (selebgram) sama dengan Instant-famous (mendadak terkenal, tetapi cepat pula dilupakan)?

Tidak.

Insta-famous pada hemat Saya ada dua jenis.

Pertama, Insta-famous sejati. Mereka adalah pengguna Instagram yang justru melewati proses, meski tanpa dahi berkerut dan argumentasi panjang dan tumpukan kertas kerja di tong sampah. Ingat.

Mereka bukanlah aktor dan selebritis yang saban hari wajahnya nongol di layar televisi. Tanpa promosi yang konsisten baik secara online maupun dengan WoM (word of mouth), semenarik apapun postingan mereka tidak akan dilirik atau dikenal orang jika mereka tidak bergerak mencari follower. Mereka juga bukan anak konglomerat atau penguasa yang dengan uang dan pengaruh yang mereka miliki bisa saja “membeli” sejumah follower.

Mereka berlatih menjepret wajah yang fotogenik. Mereka mencoba berbagai sensasi gaya dalam berpose (sampai ada yang bela-belain berfoto di tepi jurang atau di depan mulut buaya yang menganga menunggu mangsa, oh mai goat). Tidak sedikit yang melatih kepekaan mata mereka terhadap estetika dari visualitas benda-benda di sekitar mereka, entah asli entah dengan editan, melalui proses yang juga tidak semudah dan secepat membalikkan telapak tangan.

Mereka juga ramah dan tidak pelit untuk singgah di akun sesama mereka.  Mereka belajar caranya memilih angle foto dan lighting yang benar. (Yang terakhir ini saya baru tahu sedikit-sedikit setelah ngopi bareng dengan @adi.belek, @elleanor,dan @thebridestory).

Pengguna akun dengan konsistensi seperti ini memang layak mendapatkan puluhan ribu follower setia, fans yang loyal. Mereka menjelma menjadi leader-leader baru. Lewat tulisan, foto dan video mereka menjadi influencer yang ampuh, penyampai nilai (value) dan opinionator yang suaranya (voice) pantas didengarkan.

Insta-famous “Parhuta-huta”

Ada lagi insta-famous jenis yang kedua. Saya menyebutnya Insta-famous “parhuta-huta” (kampungan). Golongan ini umumnya pemilik akun instagram yang memperoleh ribuan follower dalam sehari tetapi esoknya bisa di-unfollow oleh ribuan orang juga. Betapa tidak. Mereka ini menggunakan dan menghalalkan segala cara “hanya” demi meraup angka follower. Tentu saja dengan harapan mendapatkan kesempatan seperti di atas. Norak, kampungan, tidak punya etika dan etiket.

Akun-akun ini, selain menyerempet dengan visualitas seksualitas yang melampai norma yang berlaku umum, tidak segan pula mengedit tulisan, foto atau video dari figur publik dengan sengaja memelintir maksud asli dari tulisan, foto atau video tersebut. Tak jarang mereka mengadu domba para pengunjung Instagram yang iseng melihat apa yang baru. Selain gosip terhadap kaum celebrity, diskriminasi SARA (suku, agama, ras dan antargolongan) adalah favorit mereka. Mereka tahu benar bagaimana caranya menyulut kebencian tetapi tidak meredam amarah. Mereka sangat mengerti bagaimana caranya melebih-lebihkan kekurangan dari seorang figur publik, kadang bahkan teman dekat atau keluarga sendiri.

Memang tidak sedikit di antara mereka yang berhasil dari jerat kontrol sosial dari masyarakat pengguna media sosial Instagram yang meskipun tanpa rambu-rambu yang jelas tetapi toh tetap ada, “mengadili seseorang berdasarkan perilakunya”, akhirnya juga meraup rupiah dari sana.

Pengguna akun jenis ini sebenarnya tidak layak mendapatkan puluhan ribu follower. Tak heran, para follower mereka juga lama-kelamaan sadar bahwa mereka mencari display picture yang menarik, bukan disgusting picture yang membuat mereka muak.  Pada titik ini, perlahan tidak ada lagi yang mengikuti dan mengkonsumsi konten yang mereka suguhkan. Sebab sesungguhnya mereka bukanlah leader-leader, melainkan para oportunis rakus yang dengan licik mengeksploitasi para follower mereka secara pikologis. Mereka bukan influencer yang baik, mungkin masih opinionator yang didengarkan untuk sementara waktu, tetapi akan ditinggalkan orang, cepat atau lambat, karena hanya mengejar traffic, dan menimbulkan kebisingan (noise) saja.

Sick people post sick content on their Instagtam

Tak heran, tetapi tidak sedikit pula yang karena serakahnya, tetap nekat menggunakan cara kampungan (semacam black hat SEO untuk kalau di promosi website), mengunggah konten yang jelas-jelas bertentangan dengan hukum dan kesusilaan, akhirnya harus berhadapan dengan aparat penegak hukum. Mereka memang masih famous (terkenal), tetapi tidak dengan cara seperti yang mereka inginkan.

So, tidak perlu khawatir. Entah di Instagram atau media sosial lainnya, entah di dunia maya atau dunia nyata, stay calm saja: Hasil tidak pernah menghianati proses.


Oh iya. Bagi para pembaca yang juga wannabe-insta-famous seperti saya, tidak kalah pentingnya, tidak perlu malu untuk follow Instagram saya di @donaldharomunthe. Kalau mood saya lagi baik, yang sudah follow akan saya follow back. Hahaha.

Facebook Comments

Mau bikin group diskusi WA? Identifikasi Kesesatan Logika yang harus dihindari!

Kesesatan Logika


Kesesatan adalah kesalahan yang terjadi dalam aktivitas berpikir karena penyalahgunaan bahasa (verbal) dan/atau relevansi (materi). Kesesatan (fallacia, fallacy) yang dimaksud adalah kesesatan penalaran sebagai lawan dari argumentasi logis. Kesesatan karena ketidaktepatan bahasa antara lain disebabkan oleh pemilihan terminologi yang salah sedangkan ketidaktepatan relevansi bisa disebabkan oleh:

  1. pemilihan premis yang tidak tepat (membuat premis dari proposisi yang salah), atau
  2. proses penyimpulan premis yang tidak tepat (premisnya tidak berhubungan dengan kesimpulan yang akan dicari).

Klasifikasi Kesesatan

Dalam sejarah perkembangan logika terdapat berbagai macam tipe kesesatan dalam penalaran. Walaupun model klasifikasi kesesatan yang dianggap baku hingga saat ini belum disepakati para ahli, mengingat cara bagaimana penalaran manusia mengalami kesesatan sangat bervariasi, namun secara sederhana kesesatan dapat dibedakan dalam dua kategori, yaitu kesesatan formal dan kesesatan material.

Kesesatan formal adalah kesesatan yang dilakukan karena bentuk (forma) penalaran yang tidak tepat atau tidak sahih. Kesesatan ini terjadi karena pelanggaran terhadap prinsip-prinsip logika mengenai term dan proposisi dalam suatu argumen (lihat hukum-hukum silogisme).

Kesesatan material adalah kesesatan yang terutama menyangkut isi (materi) penalaran. Kesesatan ini dapat terjadi karena faktor bahasa (kesesatan bahasa) yang menyebabkan kekeliruan dalam menarik kesimpulan, dan juga dapat teriadi karena memang tidak adanya hubungan logis atau relevansi antara premis dan kesimpulannya (kesesatan relevansi). Setiap kata dalam bahasa memiliki arti tersendiri, dan masing-masing kata itu dalam sebuah kalimat mempunyai arti yang sesuai dengan arti kalimat yang bersangkutan. Maka, meskipun kata yang digunakan itu sama, namun dalam kalimat yang berbeda, kata tersebut dapat bervariasi artinya. Ketidakcermatan dalam menentukan arti kata atau arti kalimat itu dapat menimbulkan kesesatan penalaran.

Kesesatan Bahasa

Setiap kata dalam bahasa memiliki arti tersendiri, dan masing-masing kata dalam sebuah kalimat mempunyai arti yang sesuai dengan keseluruhan arti kalimatnya.

Maka, meskipun kata yang digunakan itu sama, namun dalam kalimat yang berbeda, kata tersebut dapat bervanasi artinya. Ketidakcermatan dalam menentukan arti kata atau arti kalimat itu dapat menimbulkan kesesatan penalaran.

Berikut ini adalah beberapa bentuk kesesatan karena penggunaan bahasa.

Kesesatan Aksentuasi

Pengucapan terhadap kata-kata tertentu perlu diwaspadai karena ada suku kata yang harus diberi tekanan. Perubahan dalam tekanan terhadap suku kata dapat menyebabkan perubahan arti. Karena itu kurangnya perhatian terhadap tekanan ucapan dapat menimbulkan perbedaan arti sehingga penalaran mengalami kesesatan.

Kesesatan Aksentuasi Verbal

Contoh:

  1. Serang (kota) dan serang (tindakan menyerang dalam pertempuran)
  2. Apel (buah) dan apel bendera (menghadiri upacara bendera)
  3. Mental (kejiwaan) dan mental (terpelanting)
  4. Tahu (masakan, makanan) dan tahu (mengetahui sesuatu)
  5. Kesesatan aksentuasi non-verbal
  6. Contoh sebuah iklan:

“Dengan 2,5 juta bisa membawa motor”

Mengapa bahasa dalam iklan ini termasuk kesesatan aksentuasi non-verbal (contoh kasus)? Karena motor ternyata baru bisa dibawa (pulang) tidak hanya dengan uang 2,5 juta tetapi juga dengan menyertakan syarat-syarat lainnya seperti slip gaji, KTP, rekening listrik terakhir dan keterangan surat kepemilikan rumah.

Contoh ungkapan:

“Apa” dan “Ha” memiliki arti yang berbeda-beda bila:

  1. diucapkan dalam keadaan marah
  2. diucapkan dalam keadaan bertanya
  3. diucapkan untuk menjawab panggilan.

Kesesatan Ekuivokasi

Kesesatan ekuivokasi adalah kesesatan yang disebabkan karena satu kata empunyai lebih dari satu arti. Bila dalam suatu penalaran terjadi pergantian arti dari sebuah kata yang sama, maka terjadilah kesesatan penalaran.

Kesesatan Ekuivokasi verbal

Adalah kesesatan ekuivokasi yang terjadi pada pembicaraan dimana bunyi yang sama disalah artikan menjadi dua maksud yang berbeda.

Contoh:

* bisa (dapat) dan bisa (racun ular)“

Contoh 1:

Seorang pasien berkebangsaan Malaysia berjumpa dengan seorang dokter Indonesia. Setelah diperiksa, doktor memberi nasihat, “Ibu perlu menjaga makannya.”

Sang pasien bertanya, “Boleh saya makan ayam?”. Sang dokter menjawab “Bisa.”

Sang pasien bertanya, “Boleh saya makan ikan?”. Sang dokter menjawab “Bisa.”

Sang pasien bertanya, “Boleh saya makan sayur?”. Sang dokter menjawab “Bisa.”

Sang pasien merasa marah lalu membentak “Kalau semua bisa (beracun), apa yang saya hendak makan…..?”

Contoh lain:

teh (tumbuhan, jenis minuman) dan teh (basa sunda – kata imbuhan)

buntut (ekor) dan buntut (anak kecil yang mengikuti kemanapun seorang dewasa pergi)

menjilat (es krim) dan menjilat (ungkapan yang dikenakan pada seseorang yang memuji berlebihan dengan tujuan tertentu)

Kesesatan Ekuivokasi non-verbal

Contoh:

* Menggunakan kain/ pakaian putih-putih berarti orang suci. Di India wanita yang menggunakan kain sari putih-putih umumnya adalah janda

Menggelengkan kepala (berarti tidak setuju), namun di India menggelengkan kepala dari satu sisi ke sisi yang lain menunjukkan kejujuran.

Kesesatan Amfiboli

Kesesatan Amfiboli (gramatikal) adalah kesesatan yang dikarenakan konstruksi kalimat sedemikian rupa sehingga artinya menjadi bercabang. Ini dikarenakan letak sebuah kata atau term tertentu dalam konteks kalimatnya. Akibatnya timbul lebih dari satu penafsiran mengenai maknanya, padalahal hanya satu saja makna yang benar sementara makna yang lain pasti salah.

Contoh:

Dijual kursi bayi tanpa lengan.

Arti 1: Dijual sebuah kursi untuk seorang bayi tanpa lengan.

Arti 2: Dijual sebuah kursi tanpa dudukan lengan khusus untuk bayi.

Penulisan yang benar adalah: Dijual kursi bayi, tanpa lengan kursi.

Contoh lain:

Kucing makan tikus mati.

Arti 1: Kucing makan, lalu tikus mati

Arti 2: Kucing makan tikus lalu kucing tersebut mati

Arti 3: Kucing sedang memakan seekor tikus yang sudah mati.

(Inggris) Panda eat shoots and leaves.

Arti 1: Panda makan, lalu menembak, kemudian pergi.

Arti 2: Seekor panda memakan pucuk bambu dan dedaunan.

Ali mencintai kekasihnya, dan demikian pula saya!

Arti 1: Ali mencintai kekasihnya, dan saya juga mencintai kekasih Ali.

Arti 2: Ali mencintai kekasihnya dan saya juga mencintai kekasih saya

Kesesatan Metaforis

Disebut juga (fallacy of metaphorization) adalah kesesatan yang terjadi karena pencampur-adukkan arti kiasan dan arti sebenarnya. Artinya terdapat unsur persamaan dan sekaligus perbedaan antara kedua arti tersebut. Tetapi bila dalam suatu penalaran arti kiasan disamakan dengan arti sebenarnya maka terjadilah kesesatan metaforis, yang dikenal juga kesesatan karena analogi palsu.

Contoh:

Pemuda adalah tulang punggung negara.

Penjelasan kesesatan: Pemuda disini adalah arti sebenarnya dari orang-orang yang berusia muda, sedangkan tulang punggung adalah arti kiasan karena negara tidak memiliki tubuh biologis dan tidak memiliki tulang punggung layaknya mahluk vertebrata.

Pencampur adukan anti sebenarnya dan anti kiasan dari suatu kata atau ungkapan ini sering kali disengaja seperti yang terjadi dalam dunia lawak Kesesatan metaforis ini dikenal pula dengan nama kesesatan karena analogi palsu.

Lelucon dibawah ini adalah contoh dari kesesatan metaforis:

Pembicara 1: Binatang apa yang haram?

Pembicara 2: Babi

P 1: Binatang apa yang lebih haram dari binatang yang haram?

P 2: ?

P 1: Babi hamil! Karena mengandung babi. Nah, sekarang binatang apa yang paling haram? Lebih haram daripada babi hamil?

P 2: ?

P 1: Babi hamil di luar nikah! Karena anak babinya anak haram..

Kesesatan Relevansi

Kesesatan Relevansi adalah sesat pikir yang terjadi karena argumentasi yang diberikan tidak tertuju kepada persoalan yang sesungguhnya tetapi terarah kepada kondisi pribadi dan karakteristik personal seseorang (lawan bicara) yang sebenarnya tidak relevan untuk kebenaran atau kekeliruan isi argumennya.

Kesesatan ini timbul apabila orang menarik kesimpulan yang tidak relevan dengan premis nya. Artinya secara logis kesimpulan tersebut tidak terkandung dalam/ atau tidak merupakan implikasi dari premisnya.

Jadi penalaran yang mengandung kesesatan relevansi tidak menampakkan adanya hubungan logis antara premis dan kesimpulan, walaupun secara psikologis menampakkan adanya hubungan – namun kesan akan adannya hubungan secara psikologis ini sering kali membuat orang terkecoh.

Argumentum ad Hominem Tipe I

Argumentum ad Hominem Tipe I adalah argumen diarahkan untuk menyerang manusianya secara langsung. Penerapan argumen ini dapat menggambarkan tindak pelecehan terhadap pribadi individu yang menyatakan sebuah argumen.

Hal ini keliru karena ukuran logika dihubungkan dengan kondisi pribadi dan karakteristik personal seseorang yang sebenarnya tidak relevan untuk kebenaran atau kekeliruan isi argumennya.

Argumen ini juga dapat menggambarkan aspek penilaian psikologis terhadap pribadi seseorang. Hal ini dapat terjadi karena perkbedaan pandangan.

Ukuran logika (pembenaran) pada sesat pikir argumentum ad hominem jenis ini adalah kondisi pribadi dan karakteristik personal yang melibatkan: gender, fisik, sifat, dan psikologi.

Contoh 1:

Tidak diminta mengganti bohlam (bola lampu) karena seseorang itu pendek.

Kesesatan: tingkat keberhasilan pergantian sebuah bola lampu dengan menggunakan alat bantu tangga tidak tergantung dari tinggi/ pendeknya seseorang.

Contoh 2:

Seorang juri lomba menyanyi memilih kandidat yang cantik sebagai pemenang, bukan karena suaranya yang bagus tetapi karena parasnya yang lebih cantik dibandingkan dengan kandidat lainnya, walaupun suara kandidat lain ada yang lebih bagus

Argumentum ad Hominem Tipe II

Berbeda dari argumentum ad hominem Tipe I, ad hominem Tipe II menitikberatkan pada perhubungan antara keyakinan seseorang dan lingkungan hidupnya. Pada umumnya ad hominem Tipe II menunjukkan pola pikir yang diarahkan pada pengutamaan kepentingan pribadi, sebagai contoh: suka-tidak suka, kepentingan kelompok-bukan kelompok, dan hal-hal yang berkaitan dengan SARA.

Contoh 3:

Pembicara G: Saya tidak setuju dengan apa yang Pembicara S katakan karena ia bukan orang Islam

Kesesatan: ketidak setujuan bukan karena hasil penalaran dari argumentasi, tetapi karena lawan bicara berbeda agama.

Bila ada dua orang yang terlibat dalam sebuah konflik atau perdebatan, ada kemungkinan masing-masing pihak tidak dapat menemukan titik temu dikarenakan mereka tidak mengetahui apakah argumen masing-masing itu benar atau keliru. Hal ini terjadi ketika masing-masing pihak beragumen atas dasar titik tolak dari ruang lingkup yang berbeda satu sama lain.

Contoh 4:

Argumentasi apakah Isa adalah Tuhan Yesus (Kristen) ataukah seorang nabi (Islam).

Ini adalah sebuah contoh argumentasi yang tidak akan menemukan titik temu karena berangkat dari keyakinan dan ilmu agama yang berbeda

Contoh 5:

Dosen yang tidak meluluskan mahasiswanya karena mahasiswanya berasal dari suku yang ia tidak suka dan sering protes di kelas, bukan karena prestasi akademiknya yang buruk.

Argumentum ad hominem Tipe I dan II adalah argumentasi-argumentasi yang mengarah kepada hal-hal negatif dan biasanya melibatkan emosi.

Argumentum ad baculum

Argumentum ad baculum (latin: baculus berarti tongkat atau pentungan) adalah argumen ancaman mendesak orang untuk menerima suatu konklusi tertentu dengan alasan bahwa jika ia menolak akan membawa akibat yang tidak diinginkan.
Argumentum ad baculum banyak digunakan oleh orang tua agar anaknya menurut pada apa yang diperintahkan, contoh menakut-nakuti anak kecil:

Bila tidak mau mandi nanti didatangi oleh wewe gombel (sejenis hantu yang mengerikan).

Argumen ini dikenal juga dengan argumen ancaman yang merupakan pernyataan atau keadaan yang mendesak orang untuk menerima suatu konklusi tertentu dengan alasan jika menolak akan membawa akibat yang tidak diinginkan.

Contoh argumentum ad baculum:

Seorang anak yang belajar bukan karena ia ingin lebih pintar tetapi karena kalau ia tidak terlihat sedang belajar, ibunya akan datang dan mencubitnya.

Pengendara motor yang berhenti pada lampu merah bukan karena ia menaati peraturan tetapi karena ada polisi yang mengawasi dan ia takut ditilang.

Pegawai bagian penawaran yang berbohong kepada pembeli agar produk yang ia jual laku, karena ia takut dipecat bila ia tidak melakukan penjualan.

Jenis argumentum ad baculum yang juga dapat terjadi adalah mengajukan gagasan (yang seringkali bersifat tuntutan) agar didengar dan dipenuhi oleh pihak penguasa, namun gagasan itu didasari oleh penalaran yang samasekali irasional dan argumen yag dikemukakan tidak memperlihatkan hubungan logis antara premis dan kesimpulannya.

Penolakan mahasiswa akan skripsi sebagai syarat kelulusan dengan alasan skripsi mahal dan menjadi “akal-akalan” dosen.

Argumentum ad misericordiam

(Latin: misericordia artinya belas kasihan) adalah sesat pikir yang sengaja diarahkan untuk membangkitkan rasa belas kasihan lawan bicara dengan tujuan untuk memperoleh pengampunan/ keinginan.

Contoh:

Pengemis yang membawa anak bayi tanpa celana dan digeletakkan tidur di trotoar.

Pencuri motor yang beralasan bahwa ia miskin dan tidak bisa membeli sandang dan pangan.

Argumentum ad populum

(Latin: populus berarti rakyat atau massa) Argumentum ad populum adalah argumen yang menilai bahwa sesuatu pernyataan adalah benar karena diamini oleh banyak orang.

Contoh:
Satu juta orang Indonesia menggunakan jasa layanan seluler X, maka sudah pasti itu layanan yang bagus.
Semua orang yang saya kenal bersikap pro Presiden. Maka saya juga tidak akan mengkritik Presiden.
Mana mungkin agama yang saya anut salah, lihat saja jumlah penganutnya paling banyak di muka bumi.

Argumentum auctoritatis

(Latin: auctoritas berarti kewibawaan) adalah sesat pikir dimana nilai penalaran ditentukan oleh keahlian atau kewibawaan orang yang mengemukakannya. Jadi suatu gagasan diterima sebagai gagasan yang benar hanya karena gagasan tersebut dikemukakan oleh seorang yang sudah terkenal karena keahliannya.

Sikap semacam ini mengandaikan bahwa kebenaran bukan sesuatu yang berdiri sendiri (otonom), dan bukan berdasarkan penalaran sebagaimana mestinya, melainkan tergantung dari siapa yang mengatakannya (kewibawaan seseorang).

Argumentasi ini mirip dengan argumentum ad hominem, bedanya dalam argumentum ad hominem yang menjadi acuan adalah pribadi orang yang menyampaikan gagasan (dilihat dari disenangi/ tidak disenangi), maka dalam argumentum auctoritatis ini dilihat dari siapa (posisinya dalam masyarakat/ keahliannya/ kewibawaannya) yang mengemukakan.

Contoh:

Apa yang dikatakan ulama A pada kampanye itu pasti benar.

Apa yang dikatakan pastor B dalam iklan itu pasti benar.

Apa yang dikatakan Habib pasti benar.

Apa yang dikatakan pak dokter pasti benar.

“Saya yakin apa yang dikatakan dia adalah baik dan benar karena dia adalah seorang pemimpin yang brilian, seorang tokoh yang sangat dihormati, dan seorang dokter yang jenius”

Appeal To Emotion

Appeal to Emotion adalah argumentasi yang diberikan dengan sengaja tidak terarah kepada persoalan yang sesungguhnya tetapi dibuat sedemikian rupa untuk menarik respon emosi si lawan bicara. Respon emosi bisa berupa rasa malu, takut, bangga, atau sebagainya.

Contoh 1:

Pembicara G: Saya merasa aneh mengapa Pejabat X tidak setuju dengan program kesejahteraan

Pembicara S: Mana mungkin orang baik seperti dia salah. Lihat saja kedermawanannya di masyarakat.

Contoh 2:
“Pemuda yang baik dan budi luhur, sudah semestinya turut serta berdemonstrasi!”

Contoh 3:

“Pejabat Bank Indonesia dituduh korupsi, tetapi lihatlah, anaknya mengajukan pembelaan sambil berurai air mata.”

lgnoratio elenchi

Ignoratio elenchi adalah kesesatan yang terjadi saat seseorang menarik kesimpulan yang tidak relevan dengan premisnya. Loncatan dari premis ke kesimpulan semacam ini umum dilatarbelakangi prasangka, emosi, dan perasaan subyektif. Ignoratio elenchi juga dikenal sebagai kesesatan “red herring”.

Contoh:

Kasus pembunuhan umat minoritas difokuskan pada agamanya, bukan pada tindak kekerasannya.

Seorang pejabat berbuat dermawan; sudah pasti dia tidak tulus/mencari muka.

Saya tidak percaya aktivis mahasiswa yang naik mobil pribadi ke kampus.

Sia-sia bicara politik kalau mengurus keluarga saja tidak becus.

Argumentum ad ignoratiam

Adalah kesesatan yang terjadi dalam suatu pernyataan yang dinyatakan benar karena kesalahannya tidak terbukti salah, atau mengatakan sesuatu itu salah karena kebenarannya tidak terbukti ada.

Contoh 1:

Saya belum pernah lihat Tuhan, setan, dan hantu; sudah pasti mereka tidak ada.

Contoh 2:
Karena tidak ada yang berdemonstrasi, saya anggap semua masyarakat setuju kenaikan BBM.

Contoh 3:

Diamnya pemerintah atas tuduhan konspirasi, berarti sama saja menjawab “ya”. (padahal belum tentu).

Pernyataan diatas merupakan sesat pikir karena belum tentu bila seseorang tidak mengetahui sesuatu itu ada/ tidak bukan berarti sesuatu itu benar-benar tidak ada.

Petitio principii

Aristoteles dalam Prior Analytics menulis mengenai petitio principii. Adalah kesesatan yang terjadi dalam kesimpulan atau pernyataan pembenaran dimana didalamnya premis digunakan sebagai kesimpulan dan sebaliknya, kesimpulan dijadikan premis. Sehingga meskipun rumusan (teks/ kalimat) yang digunakan berbeda, sebetulnya sama maknanya.

Contoh:

“Belajar logika berarti mempelajari cara berpikir tepat, karena di dalam berpikir tepat ada logika.. ”

Guru: “Kelas dimulai jam 7:30 kenapa kamu datang jam 8:30?”

Murid: “Ya, karena saya terlambat..”

Kesesatan petitio principii juga dikenal karena pernyataan berupa pengulangan prinsip dengan prinsip.

Kesesatan non causa pro causa (post hoc ergo propter hoc/ false cause)

Kesesatan yang dilakukan karena penarikan penyimpulan sebab-akibat dari apa yang terjadi sebelumnya adalah penyebab sesungguhnya suatu kejadian berdasarkan dua peristiwa yang terjadi secara berurutan. Orang lalu cenderung berkesimpulan bahwa peristiwa pertama merupakan penyeab bagi peristiwa kedua, atau peristiwa kedua adalah akiat dari peristiwa pertama – padahal urutan waktu saja tidak dengan sendirinya menunjukkan hubungan sebab-akibat.

Kesesatan ini dikenal pula dengan nama kesesatan post-hoc ergo propter hoc (sesudahnya maka karenanya)

Contoh:

Seorang pemuda setelah diketahui baru putus cinta dengan pacarnya, esoknya sakit. Tetangganya menyimpulkan bahwa sang pemuda sakit karena baru putus cinta.

Kesesatan: Padahal diagnosa dokter adalah si pemuda terkena radang paru-paru karena kebiasaannya merokok tanpa henti sejak sepuluh tahun yang lalu.

Kesesatan aksidensi

Adalah kesesatan penalaran yang dilakukan oleh seseorang bila ia memaksakan aturan-aturan/ cara-cara yang bersifat umum pada suatu keadaan atau situasi yang bersifat aksidental; yaitu situasi yang bersifat kebetulan, tidak seharusnya ada atau tidak mutlak.

Contoh:

Gula baik karena gula adalah sumber energi, maka gula juga baik untuk penderita diabetes.

Orang yang makan banyak daging akan menjadi kuat dan sehat, karena itu vegetarian juga seharusnya makan banyak daging supaya sehat.

Kesesatan karena komposisi dan divisi

Kesesatan karena komposisi terjadi bila seseorang berpijak pada anggapan bahwa apa yang benar (berlaku) bagi individu atau beberapa individu dari suatu kelompok tertentu pasti juga benar (berlaku) bagi seluruh kelompok secara kolektif.

Contoh:

Badu ditilang oleh polisi lalu lintas di sekitar jalan Sudirman dan Thamrin dan polisi itu meminta uang sebesar Rp. 100.000 bila Badu tidak ingin ditilang, maka semua polisi lalu lintas di sekitar jalan sudirman dan thamrin adalah pasti pelaku pemalakan.

Maulana Kusuma anggota KPU sekaligus dosen kriminologi di UI melakukan korupsi, maka seluruh anggota KPU yang juga dosen di UI pasti koruptor.

Kesesatan karena divisi terjadi bila seseorang beranggapan bahwa apa yang benar (berlaku) bagi seluru kelompok secara kolektif pasti juga benar (berlaku) bagi individu-individu dalam kelompok tersebut.

Contoh 1:

Banyak pejabat pemerintahan korupsi. Pak Sagala adalah kepala desa kami, maka Pak Sagala juga korupsi.

Contoh 2: Umumnya pasangan artis-artis yang baru menikah pasti lalu bercerai.

Dona Agnesia dan Darius adalah pasangan artis yang baru menikah, pasti sebentar lagi mereka bercerai.

Kesesatan karena pertanyaan yang kompleks.

Kesesatan ini bersumber pada pertanyaan yang sering kali disusun sedemikian rupa sehingga sepintas tampak sebagai pertanyaan yang sederhana, namun sebetulnya bersifat kompleks. Jika diterapkan dalam kehidpan sehari-hari maksud dari kesesatan ini adalah karena pertanyaan yang diajukan sangat kompleks, bukan hanya pertanyaan yang memerlukan jawaban ya atau tidak. Contoh pertanyaan sederhana, dengan pertanyaan ya atau tidak

Contoh:

“Apakah kamu yang mengambil majalahku? … Jawab ya atau tidak ”

Pertanyaan ini sulit dijawab hanya dengan ya dan tidak, apalagi bila yang ditanya merasa tidak pernah mengambilnya.


Entah Anda sebagai anggota, moderator atau admin di sebuah group Whatsapp, pengetahuan akan jenis-jenis kesesatan ini akan membantu Anda untuk semakin bijaksana menanggapi setiap komentar atau tautan informasi yang dibagikan di dalam group.

Sejatinya, hal ini juga berlaku dalam hampir setiap diskusi entah itu dalam group , entah online (Google Plus, Line, Facebook, Telegram, dan lain-lain) maupun diskusi tatap muka.


Diolah dari artikel Wikipedia tentang Kesesatan

Facebook Comments

Bagikan ke Teman Muslim-mu

LEMBUTNYA NASIHAT INI …

Baca perlahan-lahan sampai akhir.

Adalah hal biasa jika kau melihat perahu di atas air. Namun bahaya bila melihat air dalam perahu. Maka engkau boleh berada di hati dunia tapi jangan kau tempatkan dunia di dalam hatimu.

Jika kau pernah merasa rugi sesuatu yang tidak pernah kau sangka suatu hari, maka sesungguhnya Allah akan memberimu rezeki suatu hari yang tidak pernah kau kira akan memilikinya.

Optimislah saat segala urusan terasa sulit bagimu, kerana Allah telah bersumpah dua kali “Sesungguhnya sebuah kesulitan bersama kemudahan, sesungguhnya sebuah kesulitan bersama kemudahan”

Kehidupan bertanya kepada kematian: Mengapa manusia mencintaiku dan membencimu? Maka maut menjawab: “Karena kau adalah kebohongan yang indah, sedangkan aku adalah kenyataan yang menyakitkan”

Kita tidak tahu setelah Allah merahmati kita, apalagi yang boleh membuat kita masuk syurga? Apakah itu rukuk atau sedekah, atau air yang kita berikan, atau keperluan orang beriman yang kita tunaikan, atau doa, ataukah dzikir kita??

Maka beramal lah dan jangan mempertikaikan!

🌹💔

Letakkan sedikit perasaan pada akalmu agar dia lembut dan letakkan sedikit akal pada perasaanmu agar dia lurus.

🌹💔

Aku takjub kepada hati yang menerima kesakitan dengan diam, dan menilai kesalahan orang lain dengan niat yang baik.

🌹💔

Ketika kau meyakini bahwa setelah kesengsaraan adalah sebuah kebahagiaan dan setelah air mata yang mengalir adalah senyuman, maka sesungguhnya kau telah melaksanakan ibadah yang amat agung yaitu berprasangka baik kepada Allah.

🌹💔

Jika sakitnya dunia membuatmu lelah, janganlah bersedih. Barangkali Allah ingin mendengar suaramu dalam doamu. Jangan tunggu kebahagiaan untuk tersenyum, namun tersenyumlah sehingga kau bahagia. Mengapa kau berfikir banyak sedangkan Allah adalah yang Maha Mengatur.

Haneshama Bekirbi-The Soul Within Me-Motty Steinmetz

Mengapa gundah akan sesuatu yang tidak kita ketahui sedangkan segala sesuatu Allah sudah tahu. Tenanglah karena engkau selalu berada pada pengawasan Allah yang Maha Menjaga, dan ucapkan dengan hatimu sebelum dengan lisanmu: Aku serahkan segala urusanku kepada Allah.

🌹💔

Jika kau tidak tahu alamat rezekimu. Janganlah takut karena rezeki Allah tahu dimana alamatmu. Jika kau tidak boleh sampai kepadanya, niscaya dia akan sampai kepadamu..

 

Facebook Comments

Gong Xi Fa Cai

Di sebuah acara kumpul-kumpul menjelang Imlek …

Ko Ahai, Ko A Len, Ko A Wen dan Ko A Djo reuni makan-makan di restoran, sambil ngebir. Mereka ngobrol dari sandal jepit sampai bakiak pasar.

Karena kantung kemih sudah penuh Ko Ahai pamit untuk buang air! Saat itu terjadi pembicaraan yang serius.

Ko A Len: Bagaimana bisnis anakmu, Ko A Wen?

Ko A Wen: Sekarang anakku sudah jadi bos. Pabriknya ada 2 buah. Tapi, Saya bapaknya gak pernah dibelikan apa-apa. Eh, pas kemarin pacarnya ‘Kay’ ulang tahun dibeliin BMW seri 7 baru. Lagian No Polisi pakai namanya “K4Y”, coba Lu pikir ngeselin nggak?

Ko A Djo nyela: Lha anakku sekarang sudah jadi direktur perumahan. Rumah bapaknya sudah doyong dibiarkan aja. Tapi waktu kemarin pacarnya ulang tahun dibelikan rumah mewah di Kota Wisata.

Ko ALen: Anakku lebih parah lagi. Jadi pialang saham. Sekali dapat komisi saham Cepek Nopek Tiuw, tapi saya ini nggak pernah 1 sen pun dikasih duit, tapi waktu pacarnya ulang tahun, dikasih Deposito 500 juta.

Ko Ahai balik dari WC sambil benerin risluiting celana barunya, nyeletuk: Lagi nyeritain apa sih? Serius banget!

Ko A Len: Ini lho, pada nyeritain anak-anak kita. Anak Ko Ahai gimana?

Ko Ahai: Anakku satu satunya, tapi payah, berharap dia bisa jadi ABRI, eh malah jadi bencong. Tapi meskipun bencong, dia tetap anakku. Apalagi nasibnya bagus, anaknya baik dan pergaulannya luas, serta dicintai teman-temannya, diapun sayang bapaknya. Setiap dapat rejeki, saya pasti diberi. Kemarin pas di hari ulang tahun dia, ada temannya yang ngado BMW pakai No Pol K 4 Y seperti nama panggilannya, ada yang ngasi rumah di Kota Wisata, dan deposito 500 juta. Mengharukan. Katanya semua itu buat saya saja, dia tetap lebih senang bisnis restoran saja.

Geduaaabruuuuk !!!
Ko A Len, Ko A Wen, Ko A Djo jatuh pingsan …

Facebook Comments

Satire bagi Pemelintir Sejarah (part 3) – Tanggapan terhadap Tulisan Dr. Masri Sitanggang

Di tengah gencarnya proxy-war yang taut-menaut dengan berbagai variabel viralitas sebuah opini di media massa berbasis digital, terlihat jelas bahwa sikap abai terhadap opinionisasi yang cacat dan tak berimbang bukan lagi pilihan.

Kita tentu belum lupa hebohnya trend Gaj Ahmada sebagai klaim terhadap Gajah Mada atau pernyataan Anies Baswedan yang anakronistik menyatakan bahwa Partai Arab Indonesia-lah yang pertama menyatakan sikap tegas nasionalisme sebagai bangsa Indonesia. Dua kepicikan sejarah, yang entah dengan motif apa, jelas-jelas menganggap sepi rentetan proses tercapainya identitas kebangsaan Indonesia. Yang kedua lebih berani sebab tanpa malu menelanjangi dirinya di hadapan para pewaris saksi perjuangan lahirnya Sumpah Pemuda.

Ilustrasi via Siswonesia.Com

Menjadi waras di tengah kepicikan semacam ini membawa konsekuensi sikap untuk menyampaikan aspirasi, setidaknya untuk mengurangi polusi di blogosphere yang kian hari diisi oleh berbagai wacana pemelintiran sejarah. Mudah-mudahan, di tengah gencarnya like, share, tweet, retweet terhadap isu-isu polutif itu, tulisan sederhana ini bisa menjadi sebuah counter-opinion bagi mereka yang ingin menjaga kewarasan.


Beberapa hari terakhir ini, muncul Dr. Ir. Masri Sitanggang yang menulis di Jossss.Com dan Tampang.Com.  Kedua tulisan tersebut terlihat nada clickbait yang jelas sejelas-jelasnya tentu dengan maksud supaya dibaca banyak orang. Tulisan pertama berjudul “Dr. Ir. Masri Sitanggang: CATAT, SAYA SEORANG RADIKAL!”. Sementara tulisan kedua diberi judul “Jaman Penjajah Dahulu, Kristen Katolik Berpihak Kepada Penjajah, Apakah Saat Ini Juga?”. 

Setelah membaca kedua tulisan Masri tersebut, terlihat jelas sebuah upaya framing yang berisi agenda pembenturan komunitas kolektif penghuni utama republik ini: Umat Islam vs Kristen. Saya mencoba membersihkan praduga dan asumsi, menguji seberapa besar subjektifitas yang juga mungkin Saya idap. Jangan-jangan Saya juga tanpa sadar memposisikan diri sebagai apologet sejarah kebangsaan yang membawa agenda pribadi. Tetapi, hasilnya tetap sama: Ini pemelintiran sejarah edisi berikutnya. Pemelintiran sejarah dan pembenturan kelompoknya sangat mirip dengan dua isu di atas.

Pada tulisan pertama, Masri mengidentifikasi dirinya sebagai seorang pengusung ideologi Pancasila sesuai warisan founding fathers, mengutip Enyclopaedia Brittanica untuk menelusuri perkembangan semantik kata “radikal”, tapi anehnya berakhir dengan kesimpulan bahwa pemerintah melakukan upaya mendiskreditkan umat Islam. Ia antara lain menulis:

Tidak ada yang menyebut aksi Ahokers sebagai radikal, malah seperti ada pembiaran (kalau bukan difasilitasi) aparat terhadap aksi itu. Padahal, di situ ada kericuhan, ada upaya merobohkan gerbang Lapas Cipinang, melewati batas waktu ketentuan berunjuk rasa dan bahkan ada yang menginap; jangan ditanya soal taman yang rusak dan sampah yang berserakan! Inilah yang membuat saya bertambah enneg. 

Tetapi, biarlah apa kata orang, saya harus tetap menjadi seorang radikal. Sebagai seorang yang berpendidikan doktoral (Phylosophy Doctor), saya memang harus membiasakan diri berpikir radikal dan tak mau larut dengan opini sesat. Sebagai penganut agama Islam, yang saya yakini kebenarannya, saya juga harus bersikap radikal dan tidak kompromi terhadap kejahiliyahan. 

Bagi saya, radikal atau radikalisme itu sesungguhnya adalah hal yang wajar dan biasa-biasa saja ...

Sebuah pengambilan kesimpulan yang aneh dan sarat agenda tersembunyi. Padahal, di tulisan yang sama ia menyatakan:

Sekali lagi, radikalisme adalah gejala alam biasa yang muncul mengikuti hukum kausalitas. Dalam kehidupan sosial politik ia hanyalah respon terhadap keadaan yang sedang berlangsung, yang menurut Horace M Kallen (1972), muncul dalam bentuk evaluasi, penolakan, atau bahkan perlawanan terhadap asumsi, ide, lembaga, atau nilai-nilai yang bertanggung jawab terhadap keberlangsungan keadaan yang ditolak. Oleh karena itu, radikalisme tidak terkait dengan kelompok masyarakat atau agama tertentu.

Saya belum menemukan ada kaitan apa antara pengelola website Jossss.Com dengan Tampang.Com sebab di portal kedua, orang yang sama menulis: “Jaman Penjajah Dahulu, Kristen Katolik Berpihak Kepada Penjajah, Apakah Saat Ini Juga?”. 

Masri mengutip berbagai sumber untuk mengajak pembaca membolak-balik buku sejarah mereka. Ia mulai dari serangan Portugis ke Kesultanan Malaka di sekitar tahun 1511, kaitannya dengan Perang Salib pascaputusan Paus Alexander VI yang membagi membagi dua kekuasaan di dunia, masing-masing belahan Barat dan Timur untuk Spanyol dan Portugis. Kemudian ia menguraikan rentetan sejarah yang terjadi di Nusantara dengan mengidentifikasi penyebar agama Kristen sebagai persis sama dengan agenda perebutan sumber-sumber ekonomi di Nusantara (rempah-rempah).

Sampai disini, tidak ada yang janggal. Umum kita ketahui bahwa misonaris Katolik dan Kristen memang datang bersama dengan ekspedisi bangsa-bangsa Eropa  ke Nusantara, sama seperti penyiar agama Islam datang bersama dengan ekspedisi pedagang dari Persia dan India.

Agenda pembenturan mulai terlihat ketika Masri mulai melakukan dikotomisasi serba Kristen vs serba Islam. Sampai-sampai ia menyebut bahwa Sisingamangaraja XII adalah seorang muslim. Padahal, jelas Sisingamangaraja XII adalah pendiri aliran kepercayaan Parmalim. Semoga ini tidak berkaitan dengan putusan Mahkamah Konstitusi baru-baru ini yang mengakomodasi aliran-aliran kepercayaan di Nusantara (antara lain Parmalim) untuk diakui di KTP. Kita boleh bertanya kepada pemeluk Parmalim untuk mengkonfirmasi hal ini.

Indikasi pembenturan berikutnya adalah penggiringan opini yang dilakukan Masri dengan menyebut:

Begitulah perjuangan Ummat Islam memerdekakan bangsa ini dari penjajah Katolik Portugis, begitu pula di masa penjajah Protestan Belanda serta Inggris dan demikian juga di masa mempertahankan kemerdekaan dari sekutu.

 

Pemelintiran Sejarah melalui simplifikasi berlebihan oleh Masri Sitanggang

Jika seseorang mau mengikuti dialektika sejarah Nusantara secara utuh, niscaya yang bersangkutan akan sampai pada realitas tak terbantahkan: Seluruh elemen bangsa memberi kontribusi terhadap pergerakan kemerdekaan. Bukan hanya oleh suku tertentu saja, juga bukan oleh satu agama saja.

Kita bisa langsung melakukan konfrontasi terhadap simplifikasi pembacaan sejarah yang ditawarkan Masri Sitanggang dengan mengurai fakta bahwa agama Kristen sebenarnya sudah muncul di Nusantara lebih awal dari yang dibayangkan banyak orang.

Seperti dimuat oleh Tirto, menurut Gerry van Klinken dalam 5 Penggerak Bangsa Yang terlupakan: Nasionalisme Minoritas Kristen (2010):

“Kemungkinan, sebelum Borobudur dibangun, telah ada orang-orang Kristen di Kepulauan Indonesia. Penjelajah Persia bernama Abu Saleh al Armini, pada abad ke-7, sudah melihat adanya gereja-gereja di sekitar Sibolga, Sumatra Utara. Gereja-gereja itu kemungkinan pengaruh dari Kristen Nestorian dari Persia. Namun, setelah kedatangan Belanda agama ini (jauh lebih) berkembang.”

Orang-orang Kristen di era kolonial Belanda punya akses yang lebih baik kepada institusi pendidikan. Dari sekolah, mereka mengenal huruf latin yang membuat mereka bisa dipekerjakan orang-orang Belanda dan menyerap banyak buah kemajuan kebudayaan Barat. Kebanyakan berasal dari Minahasa, Ambon, Batak, juga Timor.

Sebagai bagian dari anak bangsa terjajah, orang-orang Kristen, baik Protestan maupun Katolik, juga banyak yang terlibat dalam pergerakan nasional. Namun kiprah mereka dalam pergerakan sering diabaikan karena cap Kristen sebagai agama (yang dibawa) penjajah. Mudah untuk mengatakan orang-orang Kristen sebagai antek Belanda karena cap sebagai agama penjajah itu.

Padahal dinamikanya tidaklah hitam putih. Sebagaimana orang bumiputera yang tak sedikit berpihak pada kolonialisme, begitu juga orang-orang yang beragama Kristen. Akan tetapi, pengalaman pahit sebagai anak bangsa jajahan juga melahirkan manusia-manusia yang berkomitmen kuat untuk merealisasikan kemerdekaan dengan pelbagai cara dan jalan: dari yang kooperatif maupun yang radikal.

Dalam bukunya, van Klinken mencatat bagaimana Toedoeng Goenong Moelia, tokoh Kristen asal Batak—yang menurut van Klinken tidak begitu dekat dengan pergerakan nasional—bersikap kritis kepada pemerintah kolonial sebagai anggota Volksraad (Dewan Rakyat).

Di masa Gubernur Jenderal De Jonge, Moelia menyebut, “Gubernur Jenderal tidak mampu memobilisasi kaum intelektual Indonesia yang koperatif sekalipun. Dia mengubah Hindia menjadi hampir sebuah negara polisi. Dia menindas kaum miskin dengan pajak dan membuat mereka menanggung biaya proteksi bisnis besar di masa depresi ekonomi.”

Selain Goenoeng Moelia, dari kalangan Katolik ada Ignatius Kasimo. Menurut van Klinken, awalnya Kasimo juga tidak begitu dekat dengan kalangan pergerakan nasional lain. Namun, sebagai anggota Volksraad dari wakil orang-orang Katolik, dia terlibat bersama Gabungan Politik Indonesia (GAPI).

“Baik Toedoeng Goenong Moelia maupun Kasimo termasuk dalam kaum nasionalis koperatif pada akhir periode penjajahan (Kolonial Belanda),” tulis van Klinken.

Dibanding Goenoeng Moelia, sepupunya yang masih beragama Islam, bisa lebih intens mengarungi arus pergerakan nasional. Si sepupu, Amir Sjarifoeddin, “adalah salah satu sosok yang keras dalam sejarah nasionalis Indonesia,” tulis an Klinken.

Amir Sjarifoediin, yang kelak menjadi Perdana Menteri pada 1947, adalah salah satu anggota Jong Batak ketika menjadi mahasiswa Recht Hoge School (sekolah hukum) di Betawi, ikut serta dalam kepanitiaan Kongres Pemuda II. Belakangan ia bergabung dengan mahasiswa dan pemuda Islam Sumatra di Jong Sumatranen Bond. Amir dibaptis sebagai Kristen di Gereja HKBP di Kernolong, Betawi, pada 1931.

Pada masa pendudukan Jepang, Amir tidak menghentikan aktivisme pergerakan. Ia banyak bergerak di bawah tanah, membangun sel-sel perlawanan, di tengah kepungan mata-mata Jepang. Amir sempat tertangkap dan bahkan dihukum mati. Lobi para pemimpin Indonesia yang saat itu bekerja sama dengan Jepang, termasuk Sukarno dan Hatta, membuat Amir selamat dari eksekusi.

Salah seorang tokoh penting lain yang bergabung di sana adalah seorang dokter Ambon bernama Johannes Leimena. Seperti Amir, Leimana yang bergabung dalam Jong Ambon juga masuk dalam kepanitiaan Kongres Pemuda II tahun 1928. Ketika itu Leimana adalah mahasiswa kedokteran STOVIA.

Leimana bukan satu-satunya pemuda Maluku berlatar budaya Kristen yang masuk dalam kancah pergerakan nasional.

Ada nama Alexander Jacob Patty, yang lebih senior dari Leimana, pernah kuliah kedokteran di NIAS (meski tak jadi dokter seperi Leimana). Jacob Patty dikeluarkan dari sekolah kedokteran karena berpolitik. Ia dikenal sebagai pendiri Sarekat Ambon pada 1920. Patty berusaha menggalang orang-orang Ambon dalam pergerakan nasional. Ia dibuang ke Boven Digoel, lalu ke Australia, dan pulang ke Tanah Air setelah Indonesia merdeka.

Ada pula Johannes Latuharhary, yang baru pulang ketika Kongres Pemuda II. Ia ikut pergerakan setelah lulus sebagai Meester in Rechten dari Universitas Leiden, dan kemudian bekerja di Pengadilan Surabaya. Ia ikut memimpin Sarekat Ambon. Setelah jadi hakim dan menjadi ketua pengadilan negeri di Jawa Timur, ia memutuskan keluar dari pekerjaannya yang nyaman demi bisa lebih aktif di pergerakan nasional.

Dari Minahasa, orang Kristen lain yang punya nama harum adalah Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangie atau Sam Ratulangie. Kawanua Minahasa ini ikut pergerakan nasional sejak muda. Bersama Husni Thamrin, Ratulangie menjadi anggota Volksraad yang getol menentang kebijakan pemerintah kolonial yang merugikan rakyat bumiputera.

Selain Ratulangie, setidaknya ada perempuan yang begitu peduli pada pendidikan perempuan di Minahasa bernama Maria Walanda Maramis. Perempuan bernama lengkap Maria Josephine Catherine Maramis ini sudah diakui jasanya sebagai pahlawan nasional, seperti Ratulangie. Ia pendiri organisasi bernama Percintaan Ibu Kepada Anak Temurunnya (Pikat).

Menurut G.A. Ohorella dkk. dalam Peranan Wanita Indonesia dalam Masa Pergerakan Nasional (1992), Pikat telah mendorong kesadaran kaum perempuan di Minahasa dan Sulawesi pada umumnya untuk berorganisasi. Setelah 1920, jumlah perkumpulan perempuan semakin banyak. Organisasi politik pun memberi perhatian lebih dengan menyokong pembentukan organisasi sayap yang khusus bergerak di bidang pemberdayaan perempuan.

Ada juga Thomas Najoan, tokoh buruh dari sayap kiri dan ikut mendirikan PKI. Sutan Sjahrir menilai bahwa kebaikan dan kemanusiaan Najoan adalah karena ia seorang Kristen yang baik. Najoan, dengan “imannya” yang anti-kolonialisme, berkali-kali mencoba kabur dari Digoel yang ganas. Ia tak sudi tunduk dengan iming-iming Belanda agar mau bekerja sama.

“(Najoan) seorang manusia yang baik, berbudi luhur, dan berpendidikan. Rasa humanitasnya yang besar berasal dari etika agama Kristen; ia seorang Manado dan berasal dari keluarga Kristen,” kata Sjahrir dalam Renungan dan Perjuangan (1990).

Sementara Arnold Mononutu menjadi cermin dari keliatan sikap seorang nasionalis yang keras kepala. Bagi Ahmad Syafii Maarif, seperti ditulis dalam Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan: Sebuah Refleksi Sejarah (2009), Mononutu adalah sosok unik. Ia Kristen tapi bukan bagian dari Parkindo (Partai Kristen Indonesia). Ia kader Partai Nasional Indonesia yang didirikan Sukarno. Mononutu telah melawan Belanda dengan begitu heroik dan penuh pengorbanan di masa mudanya sejak bersekolah di Belanda. Ia membuang masa depan hidupnya yang mapan.

Mari kita urai lebih jauh bahwa atribut keagamaan tidak definitif dalam penentuan sikap membela pergerakan perjuangan kemerdekaan Indonesia atau berkompromi dengan penjajah.

Tidak hanya umat Islam, Orang Kristen pun ikut dalam Perjuangan

Setelah munculnya Boedi Oetomo (1908) yang dianggap Jawa, diikuti Sarekat Dagang Islam (1911) yang dianggap manifestasi Islam, orang-orang Kristen mulai masuk gelanggang pergerakan. Tokoh indo Belanda Ernest Douwes Dekker, yang di tahun 1913 belum masuk Islam, bersama Cipto Mangunkusumo dan Suwardi Suryaningrat, sudah mendirikan Indische Partij (Partai Hindia) yang tak hanya menerima orang-orang Jawa atau Islam saja.

Jika semacam Boedi Oetomo dalam memajukan pendididikan, serdadu-serdadu KNIL Ambon, juga tergolong peduli pada pendidikan saudara-saudaranya. Mereka sering mengumpulkan uang untuk pendidikan sesama Ambon ke Ambonsche Studie Vond. Meski orang-orang Ambon yang jadi serdadu KNIL Belanda dianggap sadis pada Republiken, karena ulah sebagian dari mereka saja, sebenarnya banyak orang Ambon juga nasionalis.

Ambonschool adalah sekolah dasar kolonial khusus orang Ambon. Salah satu lulusannya yang encer otaknya, yang bernama Johannes Leimena alias Jo Leimena. Ia tak bisa diragukan lagi Keindonesiaannya. Sebagai pimpinan Jong Ambon, Jo Leimena hadir dalam Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928. Dia termasuk pemuda yang merasa dirinya Indonesia. Dia wakil orang Ambon disitu.

Sebelum Jo Leimena ikut Kongres Pemuda, ada pemuda Ambon yang lebih gila darinya. Namanya Alexander Jacob Patty. Pernah kuliah kedokteran juga seperi Jo. Jika Jo, yang lebih muda dari Patty, bersekolah kedokteran di STOVIA Jakarta, maka Patty di NIAS Surabaya. Jika Jo akhirnya lulus dan jadi dokter, Patty dikeluarkan karena berpolitik. Akhirnya hanya bisa jadi mantri saja. Patty pernah mendirikan Sarekat Ambon. Patty berusaha menggalang orang-orang Ambon dalam pergerakan nasional. Patty pernah dibuang ke Boven Digoel.

Selain Jo Leimena, ada orang Ambon yang bernama Johannes juga dalam pergerakan nasional. Johannes Latuharhary, nama orang itu. Dia lebih tua dari Jo Leimena dan AJ Patty. Dia baru pulang ketika Kongres Pemuda II. Dia baru ikut pergerakan setelah lulus sebagai Meester in Rechten dari Universitas Leiden, Negeri Belanda dan kemudian bekerja di Pengadilan Surabaya. Di mata orang-orang Ambon, Johannes Latuharhary dianggap orang Ambon pertama yang lulus kuliah hukum di Leiden. Belakangan, dia juga ikut memimpin Sarekat Ambon. Setelah jadi Hakim dan pimpinan pengadilan negeri di Jawa Timur, Johannes Latuharhary keluar dari Departemen van Justitie (Departemen Kehakiman Belanda) untuk fokus di pergerakan nasional.

Menjelang berdirinya Republik Indonesia, dibentuk Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Johannes Latuharhary salah satu anggotanya. Setelah RI berdiri, Jo Leimena pernah jadi Menteri Kesehatan di masa revolusi dan belakangan menjadi orang kepercayaan Soekarno dengan menjadi Wakil Perdana Menteri. Lalu Johannes Latuharhary menjadi Gubernur Republik pertama di Maluku.

Di jajaran orang Minahasa, nama Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangie atau Sam Ratulangie adalah nama penting dalam sejarah. Dia ikut pergerakan nasional sejak muda dan jadi anggota Volksraad (Dewan Rakyat) yang rajin menentang kebijakan pemerintah kolonial yang merugikan rakyat Indonesia. Tentu saja Sam Ratulangie bukan satu-satunya Manado Kristen yang menentang pemerintah kolonial. Sudah ada sosok Thomas Najoan yang sosialis ikut gerakan buruh menentang pemerintah kolonial. Dia juga belakangan ikut di buang ke Boven Digoel. Setidaknya, dia berusaha kabur dari Digoel sebagai wujud perlawanannya kepada pemerintah kolonial.

Di kalangan Batak nama Todung Sutan Gunung Mulia dan Amir Syarifuddin juga tak bisa lepas dari pergerakan nasional. Gunung Mulia semula seorang guru yang pernah kuliah di Belanda. Pada 1935, dia menjadi anggota Volksraad. Mulia yang bermarga Harahap itu masih sepupu dengan Amir Syarifuddin. Amir Syarifuddin juga anggota Jong Batak ketika Kongres Pemuda 1928. Bahkan Amir adalah Bendahara Kongres.

Dua orang dari marga Harahap itu pernah jadi menteri Republik Indonesia. Gunung Mulia pernah jadi Menteri Pendidikan Republik Indonesia di masa kabinet Syahrir. Amir malah pernah jadi Perdana Menteri. Namun, akhir hidup Amir tragis karena Peristiwa Madiun. Tentu Amir tak disukai banyak orang Indonesia. Meski Amir, seperti juga Gunung Mulia, pernah ikut berjuang juga untuk menegakkan Indonesia. Alasan Amir tak disukai, pertama dia komunis meski berkeyakinan akhir Kristen. Kedua, karena Amir jelas dianggap murtad. Awalnya dia Muslim, namun kemudian masuk Kristen ketika hendak menikah.

Bung Hatta memberi kesaksian Arnold Mononutu:

“Orangtua anggota (Perhimpunan Indonesia di Negeri Belanda) banyak yang diancam oleh pemerintah jajahan. Mereka yang menjadi pegawai negeri disuruh memilih antara anaknya tetap menjadi anggota Perhimpunan Indonesia atau mereka sendiri keluar dari jabatan negara. Antara lain yang kena ancam ialah ayah Arnold Mononutu. Ayahnya menjadi komisi pada Kantor Residen di Manado. Ia disuruh memilih keluar dari Perhimpunan Indonesia atau, apabila ia tetap menjadi anggota, mulai bulan berikutnya tidak akan mendapat kiriman belanja lagi dari rumah [….] Mononutu membalas surat ayahnya bahwa ia menjadi anggota Perhimpunan Indonesia atas keyakinannya dan ia tidak dapat lagi mengundurkan diri. Dan karena itu ia memaafkan ayahnya apabila memutuskan kiriman uang untuk belanjanya,” tulis Hatta dalam Mohammad Hatta: Memoir (1979).

Setelah kiriman uangnya diputus, Mononutu pulang dan terlibat dalam pergerakan. Di masa tuanya ia adalah pembela Republik yang gigih di Indonesia Timur.


Uraian ini niscaya menjadi semacam penyadaran bahwa perjuangan kemerdekaan Indonesia hingga hari ini berhasil karena kesadaran akan nasionalisme. Demikian sehingga pemelintiran sejarah, entah oleh penggiringan opini yang tidak berimbang atau simplifikasi berlebihan dalam mengambil kesimpulan seperti yang dilakukan Masri Sitanggang, adalah contoh konyol dalam literasi kebangsaan yang sebaiknya tidak ditiru oleh siapapun.

Facebook Comments

Pasar Malam

 

Gemerlap lampu
Menyeruak dari pusat kota
Sepi yang tersembunyi
Bangkit berdiri
Tegak perkasa
Menghambur ke bianglala cahaya

Aku menyusup di keramaian
Orang-orang berdesakan
Keringat dan debu
Bercampur padu

Keramaian dan sesaknya pasar malam
Sukmaku terbuang jauh ke dalam kelam

Meski tangan sempat merengkuhmu
Dingin udara pekat membisu
Makna tersisa hanya kehampaan 

Barangkali karena mimpi
Telah menjadi topi
Aku merasa gerah
Dan resah erat menyinggah

Keramaian dan sesaknya pasar malam
Sukmaku terbakar di atas tungku segala rindu

 

Semarang, April 1987

Facebook Comments

Pergi Kau, Bajingan!!!

Asal kau tau saja,
Sedetikpun tak pernah kau kuanggap.
Congormu lantang membahana
Syairmu memuakkan,
Pantunmu basi
Lirikmu miring berliuk tak berarah.
Memuakkan setiap jiwa yang punya rasa.

Pena berontak sejak pertama kau genggam.
Hendak menekuk diri
Bermuram durja
Tak sudi kau pakai menggores kata-kata
Cuma ia tak berdaya,
sebab nasibnya kau gantung
seperti bidak-bidak lain di papan caturmu.

Asal kau tau saja …
Rupa siapa di comberan,
Tuduhmu pada rekan sejawatmu
Padahal coreng-moreng di mata,
di hidung,
di mulut yang busukmu
tercium hingga ubun-ubun kota

Kau rayu rakyatmu dengan candu surga,
Pekat membakar rindu katamu
Seakan rakyatmu pernah singgah di mimpi tidurmu
“Ayo, curahkan semuanya.
Tumpahkan sesak di dadamu
Biar lepas semua salibmu
Keluhkan samsaramu,
Tebalkan taqwa dengan iqra-mu,
yang menjerat lehermu tak kunjung menggapai nirwana”,
sejurus sebelum kau berambus,
membersihkan debu alun-alun dari kasut mahal itu.

Asal kau tau saja
darahku menggelegak sejak saat itu,
melihatmu tersenyum melihat langkah caturmu

Pikirmu,
Amarahku tak bergema,
suaraku tak dianggap massa
kau bungkam sejak sedia kala.

Tapi,

asal kau tau saja,
bila nanti saatnya tiba,
tak sudi aku meniru polesan kata-katamu,
menendangmu dari pertiwiku:

Sikat gigimu bersih
Ikhlaskan kuman bebas dari rongga mulutmu
Kenakan baju terbaikmu,
Ikat pinggangmu
Sisir rambutmu
Ketatkan sarungmu

Wahai, politisi busuk.
Pergi kau, bajingan!!!

 

Bintaro, 9 Nopember 2017

Facebook Comments

Sebuah Tanggal di Almanak


Karya: Mim Yudiarto

Selamat ulang tahun
Bukan lagi kata yang tepat untuk diucapkan
Lebih tepat jika aku berujar
Selamat mengendarai mimpi
Bersama wangi melati
Bunga yang menemanimu saat sunyi
Membungkam warna sekam ketika kau merindukan pulang

Selamat ulang tahun
Hanya aku ucapkan
Ketika bulan masih merayakan kelahiran
Remah remah langit yang terbungkus kegelapan

Do’aku adalah do’a para bintang
Meletakkanmu di sudut angkasa
Melihat semua derita anak-anak bumi
Sebagai gelisahmu juga

Do’aku adalah do’a sepotong rembulan
Membiaskan cahaya matamu
Ke pojok remang anak-anak kepahitan
Sebagai resahmu juga

Do’aku adalah do’a matahari
Menghangatkan bukan menghanguskan
Dingin dan sepi yang mematikan
Beku dan kelu yang menguburkan

 

Jakarta, 22 September 2017

Facebook Comments

Sajen dan Sosok

Darah bagi Sembahan yang selalu haus

Sesajian berderet sejak purba
Berkerubung mereka disana
Tumpah berjejal di pelataran Gaia
Konon, Sosok itu lapar. 

Sesajian tidak saja kembang aneka rupa,
Tak juga sebatas puja-puji mantra beraroma dupa.
Pedang berdarah penghunus nyawa kaum nestapa buta aksara, yang tak mau tunduk menyembahnya, juga tertancap megah disana.
Konon, Sosok itu haus dipuja.

Sesajian terus berdatangan,
Sejak purba hingga zaman yang tak lagi bisa terbilang angka,
Gaia kini tua renta tersedot habis semua tubuhnya,
Pun tak kunjung cukup memuaskannya.
Konon, Sosok tak terpuaskan juga.

Sesajian harus terus ada.
Harus tetap berlimpah ruah di singgasananya.
Gaia renta membuat manungsa iba.
Dihunusnya pedang angkara, dihunjamkannya ke raga Saudaranya.
Sebab, Sesajian tak boleh tiada.
Begitu titah Sosok

Bangsa mulai bermufakat,
“Mari kita eratkan tangan. Jika kita tidak lebih dulu membantai negeri tetangga, anak-anak kita akan jadi sesajian berikutnya”.
Kitab Suci pun ditulis,
Tafsir disusun, ditimbang dan ditimbun di lumbung penguasa,
Jika kelak zaman bertanya, “untuk apa?”, kita tunjukkan saja: “Begitu perintah sang Sosok”
Sesajian pun akhirnya tetap tersedia.
Sebab sampai hari ini, Sosok masih meraja di segala penjuru dunia.

 

Bintaro/8-11-17

Facebook Comments

Apa Aku Mesti Menuntunmu?

    Cinta akan datang saat kau kembali berlayar


Karya: Mim Yudiarto

Kau katakan tak pergi kemana-mana
Itu karena pintu kau kunci dengan kalimat tak mau
Kau katakan tak melihat apa-apa
Itu karena jendela kau tutup dengan kalimat tak mengapa

Kau bilang ingin mengintip turunnya bianglala
Tapi kau malah sibuk memalingkan muka
Kau bilang mau mencuri biji mata purnama
Tapi kau lupa bulan ada di mana

Apa aku perlu ingatkan tentang sebuah perjalanan
Selalu dimulai dengan langkah kaki
Bukan kira-kira di hati

Apa aku harus tuliskan
Ke arah mana sungai menuju
Muara laut tempat air bertemu

Apa aku mesti sampaikan
Bahagia itu tak mungkin datang bertamu
Jika kau tak berniat untuk berburu

Pergilah ke arah barat
Di sana ada kiblat
Larilah ke arah timur
Di sana kau ditunggu matahari yang sedang berjemur
Berjalanlah ke arah utara
Di sana indah siap menyembuhkan lelah
Berpalinglah ke selatan
Di sana salju meramu inginmu

 

Semarang, 8 Nopember 2017

Facebook Comments

Merindu Putik Bunga Lain


Karya: Rizky Fahlevi

saat rindu menyapa
haruskah membisik
pada putik yang tertinggal
atau kubiar angin menghembusku

mawar putih nan dingin
tetesan rindu kutitipkan
pada embun yang menyapa
yang hanya singgah sejenak lalu hilang

setidaknya rindu ini pernah berharap
agar membawa sakinah
walau kini hanya sekejap
engkau hilang tanpa sayapku
Padangsidimpuan, 8 Nov 2017

Facebook Comments

Page 1 of 12

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén