DONALD HAROMUNTHE

For Those Whom I Can't Talk With

Month: September 2019

Notasi Angka “Andung-andung ni Anak Siampudan” Eddy Silitonga


(Intro)

(MOTIF A)

Dang begeon ku be inong, Soara mi da inong
Turiturian na ma di au dainong, Di paninggalhon mi di au
Pussu ni siubeon mi dainong, Au inong simagoi

(MOTIF A)

Dung hubege baritami dainong, Naung jumolo ho inong
Mangangguk bobar ma au inong, Lungun nai di au on
Di au siampudan mi dainong, Da siampudan lapung i

(MOTIF A)

Marsali ma au dainong, Da tu hombar ni jabui
Asa adong da ongkos hi dainong, Mangeahi udeanmi
Inganan na saoboi be haulahani dainong, Tois nai ho inonghu

(MOTIF A)

Dung sahat au dainong, Diharbaganni huta i
Hubereng ma da ruma mi dainong, Nungnga balik balatukmi
Marduhut ma alaman mi dainong, Nungnga tudos tu natarulang i

MOTIF B:

Hei….. hei…. hei…., Hei… hei …. hei…,

Inong…. Inong…. Inong…., Inong… Inong

MOTIF A:
Husukkun ma dongan sahuta dainong, Didia do hudean mi
Dipatuduhon ma tu au dainong, Da dipudini jabui
Dihambirang ni damang i dainong, Ditoruni harambir mi

MOTIF A:
Hu ukkap potimi dainong, Inganan ni salendang mi
Hape ditongos do tu au dainong, Gabe tinggal ma orbuki
Sian rapu rapu turere dainong, Ias ias ni jabumi

MOTIF B:

Hei….. hei…. hei…., Hei… hei …. hei…,

Inong…. Inong…. Inong…., Inong… Inong


Andung adalah salah satu seni musik vokal (Ende) dari etnis Batak Toba. Jenis Ende yang lain yakni Ende Mandideng, Ende Marmeam, Ende Sibaran, Ende Pargaulan, Ende Poda/Sipasingot dan Ende HataAndung menceritakan riwayat hidup seseorang yang telah meninggal, baik pada waktu di depan jenazah ataupun setelah dikubur. Karena itu, sudut pandang yang digunakan, yang menjadi isi dari andung, adalah ingatan si penembang/penyanyi dan ungkapan afeksi kepada mendiang.

Dalam lagu “Andung-andung ni Anak Siampudan” (ratapan anak bungsu) ciptaan Jonggi Simanullang ini, si penembang seperti ingin meneriakkan betapa dia kehilangan sosok ibunya, merenungkan kebaikannya semasa hidup dan dengan nada melankolis hendak mengungkapkan betapa dia agak menyesal mengapa nasib belum berpihak kepadanya sebagai anak bungsu yang belum bisa memberikan sesuatu yang berarti untuk membahagiakan ibunya.

Dokumentasi video yang dekat dengan deskripsi di atas dapat kita temukan, misalnya, pada konten YouTube “Andung-andung ni Anak Siampudan” yang dinyanyikan Simatupang Sister berikut ini.

 

Politisasi Agama dan Identitas: Sudah sampai dimana Indonesia?

Prolog

Kurang lebih dekade terakhir ini, kita melihat fenomen yang telanjang di hadapan kita masyarakat Indonesia (kendati kita sedikit malu mengakuinya): politisasi agama.

Term ini menyinggung tiga tema besar: Tuhan, Agama dan Politik.

Sekedar mengingatkan, jika Anda mengaku bertuhan, bukalah mata Anda pada kenyataan bahwa sama seperti Anda mengaku memiliki Tuhan dan agama atau kepercayaan (yang menurut Anda paling tepat mewadahi sikap iman Anda dan membantu Anda menjadi semakin manusiawi sekaligus baik secara moral), setiap orang bertuhan lainnya di Indonesia ini juga mengaku memiliki Tuhan dan agama atau kepercayaannya sendiri-sendiri, yang menurut mereka paling tepat mewadahi sikap iman mereka, membantu mereka menjadi semakin manusiawi sekaligus baik secara moral.

Jika Anda memiliki pandangan politik yang menurut Anda paling tepat diterapkan di Indonesia untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh bangsa Indonesia, ingatlah juga bahwa orang lain juga memiliki pandangan politik yang menurut mereka paling tepat diterapkan di Indonesia guna mewujudkan keadilan sosial yang sama.

Realitas keberagaman ini, bisa saja terbaca sebagai sikap relativisme ekstrem – jika Anda menggiringnya ke arah itu – adalah realitas yang sama-sama kita alami dan hidupi dan bisa kita cerap secara sama, tentu dengan mengandaikan bahwa kita memiliki pola logika yang sama.

Bahasa politik, filsafat dan iman kita mungkin berbeda sehingga tidak optimal menjadi sarana untuk membangun dialog di antara kita. Semoga kita pun sepakat bahwa dialog apapun yang ingin kita bangun, sebagai manusia Indonesia yang Pancasilais dan masih menginginkan Indonesia ini tetap utuh dan – jika bisa – semakin berkemajuan, kita memiliki tujuan besar (projecta remota) yang sama-sama ingin kita capai: keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Tanah air Indonesia artinya tanah dan air (sumber daya alam) Indonesia yang sejak awal adalah hak bangsa Indonesia, kini pun harus diberikan kepada bangsa Indonesia.

Di luar kerangka itu, tak perlu lagi kita merasa harus menjadi warga dari bangsa yang sama. Mainkan mainmu, kumainkan mainku.


Secara kebetulan, ada tiga masalah besar yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini, yakni radikalisme, kesenjangan sosial-ekonomi dan kasus korupsi.

Straight at the bullet, dari segi mana politisasi agama turut berkontribusi pada radikalisme, kesenjangan sosial-ekonomi dan kasus korupsi?

Sebelum beranjak lebih jauh, mari kita sejenak melakukan Consideratio Status (Penyadaran Status) a la Ignasian yang terkenal itu. Jika cermat, dengan Discernment (diskresi) yang tekun, syukur-syukur kita bisa memahami realitas yang terjadi saat ini dengan kacamata yang lebih jernah. Lebih bersyukur lagi, setelah memiliki pemahaman yang lebih baik, kita tidak akan ragu memberikan kontribusi yang tepat sesuai porsi yang bisa kita lakukan.

Pertama, Anda – sama seperti Saya – hanya a speck in the universe (sebutir debu di jagat raya ini). Dalam konteks bernegara pun, Anda – sama seperti Saya – hanya salah seorang dari 267 juta (1 dari 267.000.000) penduduk Indonesia saat ini (menurut Katadata). Jadi, kita masih akan bangun kembali besok hari, melakukan pekerjaan kita seperti biasa, dan – jika sempat dan ingat – mencoba mengingat kembali, hari ini sumbangsih apa yang bisa aku berikan untuk turut serta mengatasi radikalisme, kesenjangan sosial-ekonomi dan kasus korupsi.

Maka, tenang saja, Anda tidak harus meninggalkan semua itu, pergi ke hutan belantara, menjadi bagian dari laskar gerakan revolusioner, bertahun-tahun menghimpun amunisi dan menyusun strategi lalu pada saatnya akan keluar dan memperbaiki tatanan bernegara dan berbangsa Indonesia ini seperti Thanos yang hendak meluluh-lantakkan dunia ini dengan tujuan membangun tatanan dunia baru (atau dalam konteks Anda, hendak membangun tatanan Indonesia yang baru).

Tidak, Ferguso.

Hal seperti itu belum akan terjadi. Bukan begitu skenarionya.

Selagi Anda masih bisa menyaksikan setiap timeline media sosial Anda berisi bencana alam dan bencana akibat tangan manusia, tapi lalu santai melanjutkan kembali chatting dan pamer-pamer foto Anda hari ini sembari tidak lupa meminta like, follow, subscribe dan comment dari teman media sosial Anda seolah tidak terjadi apa-apa, percayalah: Anda tidak akan pernah menjadi pemimpin dari sebuah gerakan revolusi. Pun, revolusi paling berdarah adalah revolusi yang dimulai dari diri sendiri.

Kedua, oke, memangnya kenyataan apa yang perlu diubah? Ini yang terjadi. Ini yang perlu diubah.

Sebagian masyarakat masih bisa melaksanakan ibadat dengan tenteram tanpa gangguan signifikan dari pihak lain. Jika ini yang Anda alami, Anda patut bersyukur karena UUD 1945 Pasal 29 masih memberi manfaat untuk Anda. You do enjoy your life. Ya, memang , tetap saja ada banyak masalah (untuk urusan perut dan lain-lain, ya urus sendiri, kan sudah besar. :–)

Setidaknya, untuk kegiatan beribadah (berdoa, berkumpul, membaca, bernyanyi, bakti sosial)  Anda bisa dan boleh melaksanakan atau tidak melaksanakannya, tergantung pilihan Anda.

Sebagian lagi gelisah. Galau melihat semakin maraknya gangguan terhadap kegiatan beragama. Jika Anda adalah bagian dari kelompok ini, Anda mungkin bertanya-tanya:

“Sebenarnya, Saya ini termasuk warga negara Indonesia bukan sih? Kok rasanya Saya tak menikmati perlindungan dari negara sesuai pasal 29? Tidak mungkin kan semua guru PPKN Saya sewaktu di sekolah berbohong? Guru di sekolah dulu bilang bahwa UUD 1945 dan Pancasila itu melindungi seluruh bangsa Indonesia secara ideologis dan konstitusional. Eh, tapi kok? Berdoa, dinyinyirin. Berkumpul untuk melakukan ibadat bersama, tak boleh karena izin dari pemerintah setempat belum keluar. Bakti sosial dianggap pencitraan dan modus rebutan umat. Oalah. Ini gimana sih sebenarnya? Atau, lebih baik aku pura-pura tutup mata saja. Eh, tapi nggak bisa.”

Begitu seterusnya. Besok begitu, besoknya juga begitu. Situasi ini baru akan berakhir bagi Anda kalau:

1) Indonesia punya tatanan baru yang benar-benar mewujudkan keadilan sosial bagai seluruh bangsa, seperti Jin Aladin keluar dati tabungnya, yang Anda dan Saya tahu persis bahwa ini mustahil;

atau

2) Anda semakin muak, sampai pada tahap ekstrim, lalu Anda tidak tahan lagi, lalu Anda urus paspor untuk pindah kewarganegaraan. Syukur-syukur Anda memiliki apa yang perlu untuk mengeksekusi keputusan itu, atau Anda bisa meyakinkan negara tujuan Anda untuk menjadi asylum bahwa Anda sudah sebegitu menderita hidup sebagai warganegara Indonesia.

Indikasi yang dulunya samar, kini semakin jelas: “ini mesti ada urusan politik deh”. Benar nggak ya?

Anda berada pada posisi yang mana?

Kalau ini politik, menggunakan dikotomi sederhana, kita bisa melihat kaitannya dengan perseteruan antara mayoritas dan minoritas di Indonesia.

Secara kasat mata, umat Islam di Indonesia merupakan mayoritas. Sementara umat beragama lain dianggap minoritas. Dalam berbagai ranah, termasuk pada hukum misalnya, menjadi bagian mayoritas kerap dipandang dan dialami sebagai sebuah keistimewaan. Kecenderungan manusia mengikuti Hukum Inersia, tentu saja tidak ingin hak-hak istimewa semacam ini hilang. Maka, bersama dengan pemerintahan yang koruptif, dukungan dari mayoritas pun memungkinkan situasi yang sama tetap terjadi dari dekade ke dekade.

Sedangkan minoritas sering sekali dipandang diskriminatif. Untuk mencegah terjadinya diskriminasi tersebut, maka dimunculkanlah afirmasi bahwa kita semua NKRI, dan karenanya memiliki hak dan kewajiban yang sama sebagai warga negara. Secara teoretis hal ini pelan-pelan semakin tersosialisasi. Prakteknya? Cek sendiri lingkungan sekitarmu.

Dengan perbedaan disana-sini, bipolaritas ini juga hadir sebagai kaum kanan dan kiri (seperti di Amerika Serikat, kendati konteks Indonesia dan AS memiliki perbedaan).

Politik – yang secara kodrati sebenarnya bertujuan luhur untuk menata warga negara untuk memajukan peradabaannya sebagian dari masyarakat, dinodai oleh baik kaum mayoritas maupun kaum minoritas. Secara politis, apa kesalahan yang dilakukan keduanya?

Pelan-pelan kita dibawa pada sebuah realitas baru: Selain menikmati berbagai manfaat, menjadi bagian dari mayoritas ternyata ada pahitnya juga. Ini ada hubungan dengan deliberasi moral semenjak Nusantara berganti nama menjadi Indonesia dan diproklamirkan sebagai bangsa yang baru, negara yang mendapat pengakuan sebagai negara berdaulat (soveregin country) oleh dunia internasional.

Samar-samat kita mulai melihat bahwa saat ini ada konsensus bahwa klaim superioritas religius atau rasial ternyata menempatkan Anda berada persis di luar diskursus politis. Maksudnya apa?

Lihatlah yang terjadi. Dialog-dialog yang dilakukan akhirnya berujung pada konflik.

Dialog politis antar partai dan kelompok: ricuh di ILC.

Dialog sosial antarkomunitas: ricuh di media sosial (tak kurang dari lagu Sayur Kol yang viral menjadi bahan perdebatan antara komunitas pecinta anjing dan penyuka daging anjing sebagai makanan, belum lagi kaum agamawan masuk dan meributinya dengan fatwa haram dan halal).

Dialog antarumat beragama: apalagi. Lihatlah bagaimana forum-forum lintas agama, termasuk yang didirikan pemerintah seperti Forum Komunikasi Umat Beragama seolah tak berdaya memberikan solusi bagi emak-emak yang menangis menjerit-jerit karena tenda yang dia gunakan untuk beribadah dengan umat yang lain pun harus dirobohkan, pendetanya diinterogasi dan ibadahnya dihentikan oleh aparat keamanan setempat. Oh, jangan lupa, fenomen seperti ini saban hari terjadi di berbagai tempat di negeri yang dulu dikenal sebagai Nusantara ini. Belum lagi diskrimanasi soal administrasi kependudukan dan hak-hak politis bagi sekian juta umat penganut kepercayaan, yang entah dasar filosofi dan logika dari mana, sampai hari ini tetap dibedakan dengan umat beragama, seakan-akan ada hirarki organisasi yang menyebut bahwa aliran kepercayaan lebih rendah dibandingkan 6 (enam) saja agama resmi di Indonesia.

Kesalahan klasik kaum mayoritas yakni: gagal mengawasi kecenderungan koruptif para penguasa, entah karena kebutaan dan sifat cuek yang disengaja. Dengan beberapa eksepsi, literasi politik (terutama menjelang pemilihan calon legislatif,  eksekutif dan perwakilan daerah) terjadi dengan aroma politik identitas yang sama. Kebutaan dan sifat cuek ini yang diidap oleh Silent Majority inilah yang tiap hari dinyinyirin oleh kaum kiri. Tidak kurang dari Meme Sosialis Indonesia mempertunjukkannya dalam halaman Facebook, kerap secara dalam ironi, tak jarang dalam parodi.

Dalam satu atau dua kesempatan, seperti Saya, kemungkinan Anda juga merasa relate dengan keprihatinan terhadap diamnya silent majority ini. “Mereka kan yang paling banyak massa-nya, kalau mereka mau, mestinya mereka yang lebih efektif dan bisa memperbaiki tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara ini”, begitu alam bawah sadar kita menyuarakan keprihatinan politis yang menurut kita paling murni dan tulus.

Jadi, ada garis keras, dimana identitas religius sebagai penanda superioritas, lalu ada garis lemah, yang juga tak luput dari kesalahan. Singkatnya, ketika memainkan politik identitas, mayoritas kanan melakukan kesalahan yang sama dengan minoritas kiri, vice versa.

Secara umum, kita meletakkan lanskap politis antara kanan dan kiri. Tetapi jangan lupa, ada sumbu (axis) lain, yakni kaum kolektivis versus individualis. Menggunakan irisan yang sejajar pada bipolaritas bangsa Indonesia, maka lahirlah kaum kolektivis kanan dan kaum kolektivis kiri. Sejauh kaum kiri dan kaum kanan ini mengusung konsep kolektivis, maka mereka salah. Kesalahan mereka terlihat jelas pada klaim superioritas religius tetapi juga sekaligus nasionalis.

“Aku NKRI, NKRI harga mati, tapi hak-hak istimewa yang kuterima sekarang sebagai bagian dari mayoritas, aku tak perduli apakah juga diterima oleh saudara sebangsaku yang minoritas”

Kira-kira, adakah angin pembaharuan yang sepoi-sepoi hendak mendinginkan panasnya politik negeri ini?

Entahlah.

Ada banyak kebisingan yang diciptakan oleh pers.

Seakan-akan ada satu dua tokoh yang muncul dan membuktikan bahwa politik identitas di Indonesia akan segera berakhir, bahwa apapun agama dan etnis Anda, Anda berhak dan bisa terpilih menjadi Presiden, Gubernur, Walikota, Bupati, dan ketua RT. Seakan-akan benar bahwa prinsip meritokrasi sudah dihidupi oleh bangsa ini.Tapi lalu kita melihat, bersinar sebentar, lalu padam kembali oleh isu-isu lain yang itu-itu saja dan membosankan.

Epilog Prematur

Jadi, sampai dimana politisasi agama dan identitas di Indonesia? Masih di situ-situ saja.

Stagnan.

Notasi Angka “YUE LIANG DAI BIAO WO DE XIN”

Notasi Angka Yue Liang Dai Biao Wo De Xin oleh Donald Haromunthe menurut lagu yang dinyanyikan Teresa Teng. 

Dengan apik, Teresa Teng menyanyikan lagu klasik Mandarin ini. Saya pilihkan video yang disertai lirik untuk memudahkan pembaca mempelajarinya.

Lagu: Yue Liang Daibiao Wo De Xin
Artis: Teresa Teng
Album: Mandarin Classic Hits, Vol. 6
Dilisensikan ke YouTube oleh [Merlin] MusicYes (atas nama Ey Chun); LatinAutor - SonyATV, UNIAO BRASILEIRA DE EDITORAS DE MUSICA - UBEM, LatinAutor, dan 4 Komunitas Hak Musik


Saya tidak memahami penggunaan aksara Pinyin. Oleh karena itu, irik lengkap dan terjemahan dalam bahasa Inggris dan Indonesia akan dituliskan dalam aksara Latin sebagai berikut.

Yue Liang Dai Biao Wo De Xin 

ni wen wo ai ni you duo shen

wo ai ni you ji fen

wo de qing ye zhen

wo de ai ye zhen

yue liang dai biao wo de xin

 

ni wen wo ai ni you duo shen

wo ai ni you ji fen

wo de qing bu yi

wo de ai bu bian

yue liang dai biao wo de xin

 

* qing qing de yi ge wen

yi jin da dong wo de xin

shen shen de yi duan qing

jiao wo si nian dao ru jin

 

* ni wen wo ai ni you duo shen

wo ai ni you ji fen


(Dalam bahasa Indonesia): (Biarlah) Bulan Mewakili Hatiku

Kau bertanya padaku seberapa dalam aku mencintaimu

Seberapa besar aku mencintaimu

Perasaan ku ini sungguh-sungguh

Begitu juga dengan cintaku

Bulan mewakili hatiku

Kau bertanya padaku seberapa dalam aku mencintaimu

Seberapa besar aku mencintaimu

Perasaanku tak akan berpindah

Cintaku tak kan berubah

Bulan mewakili hatiku

Sebuah kecupan lembut

Sudah menyentuh hatiku

Sebuah perasaan yang mendalam

Membuatku memikirkanmu hingga sekarang

Kau bertanya padaku seberapa dalam aku mencintaimu

Seberapa besar aku mencintaimu

Kau memikirkannya

Kau memperhatikannya

Bulan mewakili hatiku


(Dalam bahasa Inggris): The Moon Represents My Heart

You ask me how deep my love for you is,
How much I really love you…
My affection does not waver,
My love will not change. The moon represents my heart.

* Just one soft kiss is enough to move my heart.
A period of time when our affection was deep,
Has made me miss you until now.
* You ask me how deep my love for you is,

How much I really love you.

** Go think about it. Go and have a look [at the moon],

The moon represents my heart.

Notasi Angka Lagu Tradisional Angkola “KIJOM”

 

(Bagian A)

Kijom ale kijom, Kijom ale kijom

Kijom ale dongan ma dongan dongan

Kijom ale kijom, Kijom ale kijom

Kijom ale dongan ma dongan dongan

(Bagian B)

(da) Losung ni pid0li, O dongan dongan, 

Tumbuk salapa indaluna, O dongan dongan

Janjitta nasa doli, O dongan dongan

Tumbuk tu halak do jadina, O dongan dongan

 

Bagian C

Endeng ni endeng situkkol ni dong dong

Ise na di ke nang si -boru na lom lom

(Bagian A)

Siabu ma si galangan
Siambirang laos pahulo
Siamun marsijalangan
Sihambirang mangapus i lu

(Bagian B)

Kijom ale kijom
Kijom ale kijom …
Kijom ale kijom ma dongan dongan

 


Konon, lagu ini adalah salah satu lagu yang digunakan nenek moyang dari daratan Tapanuli Selatan (masyarakat Angkola) pada saat peperangan dahulu untuk melawan musuh-musuh.

Notasi angka di atas sesuai dengan versi kontemporer “Kijom” yang di-cover oleh Sweet Silaen, Raja Syarif Siregar, Yogi Sipayung, Erik Simanjuntak. Lihat videonya disini.

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén