“Asong A.K.A Kristoforus” – Fiksi dengan Ending Psikologis oleh Femi Khirana (2)

Ibu separuh baya itu menangis terus menerus. Sejenak ia sempat terdiam, hanya diam. Tetapi kemudian air matanya mengalir lagi. Mulutnya kembali mengoceh-ngoceh kepada suaminya yang sedari tadi mengelus bahunya untuk tenang. Mereka sedang berada di atas kapal dalam perjalanan ke Jakarta.

“Ini gara-gara Papa suruh Asong sekolah tinggi-tinggi lahhh… Kalau dia tidak kuliah, tak bisalah dia di penjara begitu…” ujar wanita yang adalah ibu kandung Asong.

“Sssttt… Sudah… Tak usahlah lu salah-salahin sekolahan terus… Wah¹ suruh Asong sekolah itu supaya nasibnya jangan buka warung terus kayak kita…,” belum usai ayah kandung Asong berargumen, wanita itu sudah menepis,
“Ya harusnya Asong dagang pun wah sudah senang! Asong itu anak pintar, tak usah dia sekolah bagus-bagus dia sudah bisa cari uang dari kecil. Buat apa sekolah tinggi kalau Asong akhirnya masuk penjara! Wah tak suka dia terlalu pintar, karena Asong memang orangnya licik… Papa masak tak tahu sifat anak sendiri? Kalau sudah begini, kita yang susah!”

Si Papa Asong jadi tak enak hati dengan penumpang kapal yang memandang mereka.

Kedua orang tua Asong berangkat dari Pematang Siantar setelah melihat berita tentang Asong di harian lokal, Sumut Pos.

Memandang wajah Asong yang ditutupi dengan telapak tangannya tidak dapat mengelabui mereka untuk yakin jika orang yang korupsi di PT Gelas Pecah memanglah Asong.

Lebih diyakinkan lagi dengan nama baptis yang dipilih oleh mereka untuk anak kesayangan mereka, Kristoforus, yang digunakan di harian itu. Mama Asong langsung menangis sejadi-jadinya. Tak pernah dibayangkan anaknya menjadi seorang pesakitan di hotel prodeo.

“Asong gimana yah, Pa… Mama takut dia tak cukup makan, dia disiksa. Asonggg… Kenapa kau jadi bodoh sangatlah!” seru wanita itu lagi. Papa Asong hanya berharap kapal cepat tiba di pelabuhan Merak, agar teror kalimat istrinya berhenti.

“Lu jangan pikir macam-macam dulu…! Kalau Asong salah ya dia harus dihukum,” sergah Papa Asong

“Itulahhh! Bikin hidup susah sendiri, terlalu banyak mau! Bodoh sangatlah lu Asonggg!”

“Sudahhh… Tadi Mama bilang, Asong pintar. Sekarang bodoh…” Papa Asong mulai kesal.

“Dia jadi terlalu pintar, jadinya bikin kebodohan itu! Coba kalau dia lulus SMA saja, wah yakin dia juga sukses cari duit! Tak perlu dia kuliah ekonomi-ekonomi! Tak perlu susah-susah jadi sales sampai korupsi seperti ini! Lulus SMA saja dia bisa jadi boss sendiri, ndak makan gaji, hidup senang!” lanjut Mama Asong lagi.

Kali ini sang suami sudah malas menanggapi. Ia biarkan Mama Asong kembali menangis tersedu hingga tertidur.


Wanita itu tak tenang. Bolak-balik di pelataran sambil menunggu Asong keluar. Semua perlengkapan untuk Asong sudah disiapkan, termasuk buah durian kesukaan Asong. Walau hanya satu buah, ia yakin Asong senang bisa menikmati durian Medan.

“Pa… Asong kok belum muncul-muncul? Coba lu tanya mereka, Asong kok belum datang-datang??”

“Sabarlah… Lu duduklah!” seru Papa Asong.

Wanita itu akhirnya terpaksa duduk setelah mendengar nada tinggi dari suaminya. Ia tak akan membantah karena ia tahu suaminya tidak bermaksud memarahinya, melainkan menenangkannya. Lagipula Mama Asong sudah letih marah-marah.

Sudah bukan saatnya ngedumel, karena Asong sebentar lagi akan bertemu dengan mereka. Saatnya untuk tersenyum, menghibur Asong, menguatkan Asong. Walaupun Asong salah, dia tetap anak mereka. Mama Asong menganggap semua kesalahan Asong juga berawal dari kesalahan orang tua. Ya… salah mereka yang menyekolahkan Asong yang sudah pandai menjadi lebih pandai.

Suara derit pintu membuat mereka berdiri. Bergegas untuk melihat wajah yang akan muncul di hadapan mereka. Dan benar, itu adalah,

“Asonggg!” pekik kedua orang tua itu hampir bersamaan. Mereka menghambur ke arah Asong. Mereka memeluk Asong. Mereka menanyakan kabar Asong.

Tetapi, Asong hanya diam.

“Asonggg, cakaplah sikittt pada kami…! Kalau sakit, bilang! Kalau susah, omong! Nanti wah coba cari pengacara bagus buat lu… Biar lu tak usah di penjara lama-lama…” ujar si Mama. Asong tetap diam. Hanya memandang wajah kedua orang tua itu dengan pandangan rindu. Tak ada raut sedih, tak ada raut duka, tak ada air mata.

“Asonggg! Kenapa lu diam sajaaa???” tanya si Papa.

Kali ini Asong tersenyum.

“Asong rindu sangat sama Papa, Mama… Tapi Asong juga tidak suka kenapa kalian datang ke sini…”

“Loh… Papa sama Mama mau bantu lu lah, Song!” jawab Mama.

“Tak usaaahhh… Tak usah habis uang sampai harus ke Jakarta bantu Asong. Kan Asong sudah berkali-kali bilang simpan saja uang yang Asong kirim buat senang-senang di Siantar. Kalau lebih, sumbang saja uangnya buat adik-adik Asong yang tidak bisa sekolah di sana!”

“Aduuuhhh! Uang yang lu kirim selalu lebih, Asong. Sudah Mama sumbang juga masih lebih. Mama sekarang tahu, ternyata uangnya tak halal! Mama kecewa, Asong!” sesal wanita itu sambil menangis lagi.

“Itu uang halal. Itu uang hasil kerja Asong betulan. Itu bukan uang korupsi,” jelas Asong membingungkan kedua orang tua mereka.

“Loh… Kalau lu tak salah, kenapa harus di penjara?” tanya mereka hampir berbarengan lagi sambil kebingungan.

“Asong di penjara karena sudah tugas. Asong dibayar buat masuk penjara. Tak usah khawatir, semua sipir di sini baik sama Asong. Mereka tahu posisi Asong. Asong tak susah di sini, jadi Mama sama Papa tak usah rasa susah juga,” jelas Asong alias Kristoforus.

Kedua orang tua itu terperangah mendengar kata-kata Asong. Terlebih wajah Papa mulai memerah.

“Wah sekolahin lu bukan jadi budak-budak boss, Asong! Wah mau lu yang jadi boss! Memang lu dapat uang tapi hidup tak bebas, buat apa! Lu jangan bodohhhh, Asong!” tegur si Papa.

Asong menggeleng-gelengkan kepala.

“Papa salah. Justru Asong yang jadi boss. Asong yang atur semua ini,” kata Asong dengan tenang.

“Sialan lu! Lu bikin orang tua susah! Papa juga bukan mau lihat lu jadi boss penjahat, tolol!” kali ini Papa semakin berang. Sementara Mama Asong semakin menangis melihat kedinginan Asong.

“Sudah… Papa sama Mama tenang saja. Tidak usah khawatir. Asong akan baik-baik saja. Uang yang Asong kirim jadikan gedung-gedung di kampung kita saja kalau Papa Mama kelebihan… Anggap buang sial kalian,” kata Asong seakan-akan tidak terjadi pergulatan apapun dalam hubungan mereka. Namun tidak demikian dengan Papa. Umpatan demi umpatan dengan bahasa Hokkian² mulai meluncur dari mulutnya. Tetapi Asong tidak perduli hingga waktu jenguk mereka habis.


Kepulangan ke Siantar kali ini sudah tidak diwarnai isak tangis dari Mama Asong. Sebaliknya pria di sebelahnya, suaminya, yang terisak-isak. Sedu sedan ditahan tetapi tetap tak mampu disembunyikan.

“Sudahlah, Pa… Asong kan sudah bilang, dia baik-baik saja. Nasiblah, Pa… Mungkin sudah nasib dia begitu,” hibur Mama Asong.

“Nasib apa? Nasib jadi buron?” keluh pria itu dengan sedih.

“Nasib jadi orang pintar, orang kaya tapi harus jadi buron,” kata Mama Asong melengkapi pernyataan suaminya.

“Itu bukan nasib. Itu bodoh! Sudah wah sekolahin tinggi-tinggi, dia tak tambah pintar!” sergah Papa Asong sekaligus meyakinkan istrinya bila Asong memang harus sekolah akibat kebodohan Asong.

“Sudahlahhh…! Wah juga tak tahu sekolah itu bikin Asong tambah pintar atau tambah bodoh, tak usah dipikir lagi. Sebenarnya wah hanya menyesal kita suruh dia merantau dan sekolah di luar Siantar. Coba kalau dia kita kekang, mungkin dia tidak tambah licik,” sesal Mama Asong. Kali ini suaminya semakin terisak dan kembali melontarkan umpatan-umpatan bahasa Hokkian.

“Kenapaaaa lagiii luuu, Paaa? Sudahhh… Kita ikut saja kata Asong. Kalau ada uang lebih, kita bagi-bagi ke orang,” hibur istrinya lagi.

“Waaahh… wahhh… salah liauuu³!” pekik sang suami.

“Salah apa lagi???”

“Wah ingat waktu Asong kita suruh merantau, wah kasih nasihat… Jangan jadi orang licik lagi, jadi orang baik, jadi orang yang suka membantu orang susah. Wah kasih tahu dia supaya jangan korupsi duit orang, kalau mau korupsi sekalian triliunan! Biar masuk koran, biar terkenal… Tapi wahhh ndak sangkaaa… Ndak sangka kalau Asong benar-benar ikut omongan wahhh… Asong benar jadi orang yang bantu orang susah, tapi dia juga jadi koruptor, masuk koran, terkenal…!” pria itu menangis lagi.


Beberapa bulan kemudian, masyarakat digemparkan dengan seorang narapidana bernama Kristoforus sekarang buron. Kabar kabur mengatakan ia melarikan diri ke Hong Kong. Tapi anehnya, tak ada yang mencari Papa dan Mama Asong. Mereka tidak dibenci karena sumbangsih dana yang besar untuk kampung mereka. Mereka tak pernah diinterogasi oleh pihak intelijen manapun. Semua mulus, semua lupa, jika di Pematang Siantar ada seseorang bernama Asong alias Kristoforus.

Belakangan hari barulah beberapa media massa yang tergolong nyinyir membuka kedok Kristoforus yang sudah dipetieskan. Asong dicurigai melindungi bisnis seorang anak pejabat tinggi negara . Berani menerima kenyataan untuk menjadi buron ditanggapi oleh Asong, dengan catatan menikmati lima puluh satu persen dari semua keuntungan grup perusahaan Saudagar X. Asong pun dikabarkan meminta jaminan agar keluarganya tidak diusik. Secara tidak langsung Asong yang awalnya menduduki jabatan sebagai top sales di salah satu anak perusahaan Saudagar X, sekarang sudah menjadi komisaris misterius dengan saham terbanyak di grup perusahaan besar.

Skenario pelarian Asong sudah terbuat dengan rapih. Asong dibuat mengaku melarikan dana penjualan dalam jumlah besar yang cukup untuk membayar kredit pinjaman dari bank. Akibat Asong buron, anak perusahaan dibuat pailit dan tak mampu membayar kredit bank. Dana lenyap seiring kaburnya Asong. Tetapi grup perusahaan semakin berkembang pesat. Dicurigai adalah keterlibatan dana dari Hong Kong itulah yang membuat orang menduga Asong ada di Hong Kong. Tetapi tak ada satu pun yang mencari. Asong lenyap, di telan bumi.


20 tahun kemudian …

Pria itu termenung di depan dua nisan. Ia, sendirian. Memejamkan mata sambil sesekali terisak.

“Wah rindu sama kalian… Wah sering melihat kalian, tapi wah tidak bisa peluk kalian… Kalian juga sudah tidak kenal dengan wajah wah…,” bisiknya.

Dikeluarkannya beberapa foto dari album foto yang digenggamnya.

“Ini istri wah… Ini cucu kalian… Mereka bahagia, seperti kalian bahagia.”

“Maafkan, Asong, Papa… Mama… Ini bukan salah kalian… Asong yang salah. Dari kecil Asong selalu dirampok. Waktu Asong jualan banyak yang suka hina-hina Asong anak miskin. Tapi kalau jualan Asong laku banyak yang minta uang pakai ancam, Asong dulu suka bohong sama Mama kalau Asong setorannya kurang. Asong pakai alasan kalau makanannya Asong bagi-bagi ke kawan, dan Mama bilang Asong anak licik. Asong terima, padahal Asong dipalak,” sejenak Asong terdiam menahan beban di dada.

“Waktu Asong sekolah dan pintar banyak yang minta Asong harus kasih contekan. Waktu Asong bawa uang jajan lebih, Asong sering dipukul kalau Asong tidak kasih mereka. Asong dendam… Asong marah! Asong benci! Papa sama Mama sibuk di pasar, jadi Asong tak mau cerita. Asong takut Papa sama Mama jadi susah, karena Asong tahu Papa dengan Mama sudah susah payah sekolahin Asong,” dan Asong termenung kembali. Ditarik nafasnya dalam-dalam.

Dirasakan degup jantungnya sudah tidak stabil, ia terlalu letih bersembunyi menjadi orang lain. Memendam segala kemarahan yang sudah terbalaskan.

“Asong berterima kasih sama Papa, Mama, karena Asong bisa keluar dari Siantar. Di Jakarta, tidak ada yang kenal sama Asong. Asong berniat harus jadi penguasa! Asong berteman dengan orang-orang penting. Asong ajar mereka ketrampilan dagang Asong. Asong ajar mereka supaya licik. Asong setir mereka, dan mereka kasih uang. Mereka tidak berani dengan Asong karena Asong pegang banyak rahasia mereka. Asong rela di penjara asal jadi presiden mereka. Asong puas!”

Kali ini tak ada air mata lagi, senyum ia kembangkan.

“Asong sekarang sendiri. Karma dari kesalahan. Keluarga Asong lari dari Asong karena marah sama Asong yang sering tinggalin mereka. Asong rela. Asong memang banyak salah, tapi setidaknya kalian semua senang. Sebenarnya Asong menyesal diseret dendam. Sekarang Asong senang kita bisa kumpul lagi. Asong capek jadi penguasa. Asong mau istirahat sekarang…. Rumah besar yang kalian bangun ini cocok untuk kita bertiga ya…”

Asong berjalan tertatih dengan bantuan beberapa polisi yang menemaninya. Ya, setelah sekian lama, Asong menyerahkan diri dan membongkar semua sindikat yang pernah dijalani. Ia diadili dan dijadikan tahanan rumah akibat kesehatan yang terus memburuk.

Asong meninggal di rumah besar yang dibuat oleh orang tuanya di Siantar itu yang kemudian dijadikan kerabatnya menjadi Yayasan Kristoforus. Yayasan yang sengaja oleh Asong diminta untuk dibuatkan dalam surat wasiat sebagai rumah perlindungan dan pengembangan kepribadian bagi anak-anak korban bullying.

 

[1] Wah = saya (dialek bahasa hokkian yang sudah sedikit meng-Indonesia yang digunakan untuk perantauan Cina-Medan).
[2] Hokkian = salah satu suku dari bangsa Cina yang paling banyak merantau ke Indonesia.
[3] Salah liau = sudah bersalah (dialek hokkian).

(Repost 2009)

Facebook Comments

Published by

Donald

Penyanyi dan para pemusik itu tampil memukau di hadapan raja dan tamu undangan. Suguhan lagu mereka melengkapi jamuan makan dan minuman, omong kosong serta sopan santun sebagaimana layaknya perjamuan manusia. Raja puas. Ia tidak jadi memenggal kepala para seniman itu. Malah, ia menepati janjinya dan membayar mereka dengan upah yang lebih dari sekedar ongkos pulang dan dengan sumringah menemui istri dan anak yang menunggu di rumah. Demikianlah seniman melengkapi gizi rohani bagi para penguasa dan pekerja, yang seharian lelah dengan pekerjaan manusia. Kerap, seniman memang lain dari manusia biasa.

Komentar