Hutongos Do Surathu Tu Ho sian Kode Tuak

Surat tu Inang ni si Ucok

Inang ni Ucok, palambas rohami,
Anju ma au baoadi simagoon naung bagianmi.
Inang ni Ucok, nang pe masuk tuahon, bukka pittu i.
dang lupa au di rupami.

Inang ni Ucok, jaha jo surathon.
Di harotas hugurathon na di roha on.

Molo borngin pe au sahat dijabu.
Ala nahuingot dope pardijabu.

Dang tenggen do pe au inang.
Dang mabuk au hasian.
Dang mirdong dope au tondikku.
Nga sahit i di au anggi.

Songoni majo isi ni surathon hasian.
Dang boi godang husurat ai suhul do dison.
Tiang nijabu ni parlapoon pe dang tigor be.

Horas ma ahu naminum tuak.
Hipas maho na paimahon au.


(Disadur dari Pantun Hamonangan)

“Mati Yang Diulang” karya Femi Khirana

Malaikat Jubah Putih (MJP) bingung. Akhir-akhir ini banyak manusia yang mati bunuh diri. Ruang Rehabilitasi Akhirat yang dialokasikan untuk tempat manusia mati bunuh diri itu, sudah penuh sesak.

Seperti biasa MJP menginterogasi penyebab manusia mengambil jalan pintas sebelum manusia menghadap langsung kepada Yang Kuasa.

MJP : Apa alasan kalian bunuh diri?
Si Miskin : Gak bisa bayar hutang.
Si Patah : Patah hati.
Si Sakit : Cacat seumur hidup.
Si Bangkrut : Gak ada kerjaan dan usaha selalu bangkrut.
Si Kecil : (Manusia ini tercatat baru berusia 8 tahun) Gak naik kelas.

MJP menggelengkan kepala, ternyata alasan manusia bunuh diri dari zaman batu sampai sekarang selalu klise. Karena Ruang Rehabilitasi Akhirat makin sesak, beberapa manusia terpaksa dikembalikan ke dunia. Kesempatan hidup yang kedua ini diatur sedemikian rupa agar manusia tersebut tidak mati bunuh diri lagi.

Maka, 
Si miskin dijadikan konglomerat.
Si patah dijadikan berwajah rupawan.
Si sakit dijadikan atlet terkenal.
Si bangkrut dijadikan seorang pejabat.
Si kecil dijadikan murid pintar. Manusia pun bahagia ketika kembali ke dunia.

MJP lega dan berharap kelak mereka mati dengan cara wajar.


Hanya tiga bulan Ruang Rehabilitas Akhirat itu lengang. Bulan ke-4 kembali penuh sesak.

Lagi-lagi MJP harus menginterogasi dan terpaksa membuat program menduniakan manusia lagi. Dalam proses interograsi, MJP terkejut sangat, karena Si Miskin, Si Patah, Si Sakit, Si Bangkrut, dan Si Kecil ternyata mati bunuh diri lagi!

MJP sangat berang.

MJP : Kalian mati bunuh diri lagi!!! Kenapa???
Si Miskin: Harta saya habis gara-gara ditipu.
Si Patah: Saya dicerai karena sudah tidak laku jadi artis.
Si Sakit: Saya gagal meraih kejuaraan nasional.
Si Bangkrut: Saya divonis penjara karena dijebak koruptor.
Si Kecil: Saya pintar, tapi ndak bisa lanjutin sekolah.
MJP: (Pusing) Jadi kalau kalian hidup lagi, minta jadi apa??? 

Manusia pun saling memandang satu sama lain. Si Kecil pun didaulat jadi jurubicara,
“Kami tidak minta dijadikan apa-apa.. Kami hanya minta ada orang yang mau peduli dan memperhatikan kami ketika kami sudah tidak bisa berbuat apa-apa.”

MJP pun menghela nafas panjang dan sedih. Remedial terpaksa dibatalkan.
“Maaf, permintaan kalian terlalu sulit untuk direalisasikan hiks… hiks…”


Judul asli tulisan ini adalah "Remedial", sebagaimana ditulis Femi Khirana.

Tulisan ini dapat dikategorikan sebagai #flashfiction. Karakter tidak boleh lebih dari 1000. Berbeda dengan #fiksimini yang lebih ekstrem (hanya boleh mentok 140 karakter, mirip dengan Twitter dulu, yang mirip SMS jumlah karakternya). 

Ciri flashfiction atau fiksi mini: 1) langsung ke konflik, dan 2) ending twist

“Hidung Godfather” – Fiksi dengan Ending Psikologis oleh Femi Khirana (1)

Dia, bertubuh gempal, berkumis tipis.

Dia, yang sepuluh tahun lalu hanya seorang petugas keamanan di perumahan elit kawasan Pondok Indah. Dia yang semula hanya nebeng di rumah kampung mertua indah, lalu mencoba sewa rumah gubuk derita bawah jembatan tol yang akhirnya digusur. Namun seiring naiknya pamor sebagai satpam, ia dapat mengontrak rumah bedeng. Lalu tiga tahun terakhir ini sudah mampu ngontrak rumah sederhana di kawasan Kebayoran.

Dia, bertubuh gempal, berkumis tipis.

Orang memanggilnya sebagai Mas Wawan. Terlalu panjang bila dipanggil Kurniawan, nama aslinya. Nama itu pun baru mencuat di kawasan perumahan Pondok Indah setelah kemenangannya memukul maling di perumahan itu.

Ya, sejak itu dia mulai disegani.

Dulu? Boro-boro! Selalu senior-senior yang dapat jatah istirahat yang banyak. Tetua satpam selalu dapat seseran yang menggiurkan. Ia hanya sesekali dapat uang rokok bila ia sedang sendirian menjaga portal tatkala matahari baru akan menyembul.

Mas Wawan, yang dulu bertubuh gempal mulai terlihat sembulan perut di tubuhnya. Hanya kumis tipis saja yang tetap dipertahankannya. Karena dia tidak mampu menahan gatal seputar bibir dan khususnya hidung. Tetapi ada satu alasan lagi kenapa ia tidak membiarkan wajahnya sangar. Ia tetap membiarkan wajahnya klimis.

Ya, penyebabnya hanyalah karena hidung besarnya yang harus terlihat jelas! Itu hidung keberuntungan katanya.

Sebenarnya ia percaya tidak percaya dengan hidung keberuntungan. Tetapi karena orang-orang keturunan Cina yang tinggal di perumahan itu selalu memuji hidung besarnya, ia jadi percaya dan selalu mengembang-kempiskan tanpa sadar jika sedang senang hati.

Katanya, berkat hidung besarnya itu ia mampu menjadi orang yang disegani sesama satpam. Sejak dipercaya untuk ikut serta mendapat seseran dari warga, ia juga mulai ngobyek sana-sini. Bila ada warga perumahan yang sedang ada hajatan, ia pun terkena bagian uang tambahan. Bila ada warga yang minta tolong dipanggilkan taxi, ia pun dapat giliran untuk mencari. Bila ada penjaja makanan masuk ke perumahan, ia harus dapat jatah uang masuk.

Ia mulai percaya bila hidung yang diberi Tuhan itu mampu menolongnya memperbaiki nasibnya. Ia mulai yakin bila dulu sang maling yang digasaknya memang ditakdirkan untuk bertemu dengannya agar ia dikenal warga sebagai satpam yang mampu diandalkan! Sejak itu uang yang dapat dipajak dari warga mulai masuk ke kantong silih berganti, bahkan terkadang tumpang tindih.

Jadwalnya untuk membantu warga jadi padat karena orang lebih percaya padanya untuk mengantisipasi masalah keamanan warga Pondok Indah. Uang rokoknya yang dulu hanya receh sekarang sudah harus berbentuk puluhan ribu jika ingin meminta pertolongannya.

Berkat hidung pula, Satpam Wawan tidak sempat menyicipi jabatan koordinator satpam. Belum sempat ia mengiyakan untuk menjadi koordinator satpam, ia sudah didatangi seorang berpangkat tinggi di ranah militer. Itulah saat-saat terakhir ia tinggal di rumah kontrak kawasan Kebayoran. Sejak direkrut oleh seorang yang berasal dari kemiliteran yang tinggal di kawasan perumahan itu, ia mulai jarang terlihat.

Orang hanya menebak-nebak keberadaannya. Ia menjadi gosip di kalangan karyawan perumahan Pondok Indah. Ada yang pernah melihatnya di pasar Senen, tetapi ada juga yang pernah melihatnya di terminal Pulo Gadung. Tidak jelas. Kabarnya, ia sudah jadi kepala preman pasar dan terminal. Tetapi yang jelas gosip yang paling betul dari antara mereka adalah Mas Wawan sekarang sudah enak, sudah jadi orang kaya dan ditakuti.

Ya, aku mengiyakan jika gosip jadi orang kaya itu adalah benar.

Sejak Ayahku, yang dipanggil Mas Wawan itu bergabung dengan organisasi preman, kami sekarang tidak perlu ngontrak rumah. Sekarang rumah ini mau diisi barang apapun tidak akan penuh. Ayah juga tidak perlu pusing-pusing mencari angkutan untuk pindahan lagi. Semua sudah permanen. Barang baru masuk dan keluar. Masuk untuk dinikmati, keluar untuk dibagikan kepada anak buah Ayah jika sudah tidak dinikmati lagi.

“Ini semua berkat hidung Ayah, Jun,” kata ayah berkali-kali sampai aku muak mendengarnya.

“Dan kamu juga orang yang sangat beruntung! Lihat hidungmu! Mirip Ayah, makanya kamu tidak pernah susah,” lagi-lagi kata-kata itu selalu membuat jengah.

Berulang kali kupandang wajahku, rasanya ingin kucopot hidung itu agar Ayah tidak membangga-banggakan keberuntungannya terus. Ingin kulakukan operasi plastik agar Ayah tidak menganggap aku anak yang ingin mengikutinya jejaknya. Tetapi setelah kutanya-tanya harga operasi plastik ternyata mahal! Kalau aku minta uang sebanyak itu ke Ayah pasti curiga juga.

Entahlah, aku tidak pernah suka dianggap penerus keberuntungan Ayah. Bagaimanapun aku merasa usaha Ayah tidak halal. Aku merasa Ayah hanya mengandalkan keberuntungan terus tanpa kerja keras. Bahkan aku merasa sebal bila melihat banyak anak buah Ayah yang nunduk-nunduk di depannya.

Sepertinya Ayah adalah juragan kejam yang bakal mencopot bola mata orang bila melawannya. Ya, aku tidak mau sama dengannya! Aku juga lelaki! Aku punya sikap, dan aku merasa, aku tidak seperti itu! Aku, bukan ayah! Hidungku ini pun bukan nasib dari Ayah! Aku harus berjuang untuk nasibku sendiri. Tidak seperti Ayah yang kudengar disegani, ditakuti, dan juga kejam itu.

Maka, sengaja aku memilih untuk kuliah agak jauh dari rumah. Aku ingin kos sendirian. Sebenarnya aku ingin ke luar kota, tetapi lagi-lagi Ayah bilang,

“Jangan! Kamu boleh ngekos, tapi tidak boleh keluar dari Jakarta!”

“Ayah! Aku mau belajar mandiri!” protesku.

“Kau tidak usah belajar mandiri! Dari sifatmu, Ayah tahu kalau kamu bukan orang yang suka bikin orang susah! Gak ada alasan kuliah di luar kota buat mandiri!” begitu alibi Ayah yang lagi-lagi tak dapat kulawan. Aku sama ciutnya dengan anak buahnya yang biasa hanya nurut.

“Tapi, Ayah!” aku coba usaha lagi untuk meyakinkannya.

“Hei, Jun! Pilihan hanya dua, boleh kos dan kuliah di Jakarta. Atau kau keluar dari Jakarta tetapi kau sudah bukan anakku lagi!” kata Ayah semakin tegas.

Lagi-lagi, aku memilih untuk tidak menjadi durhaka.

“Tetapi aku mohon satu lagi, Ayah…”

“Apa?!”

“Aku tidak mau pakai mobil Ayah, aku mau bayar kos dengan uangku sendiri. Aku mau cari kerja,” pintaku.

“Itu terserah! Kamu lihat saja nanti, Jun! Di manapun kamu bekerja, pada akhirnya kamu akan kembali kepada keberuntunganmu sendiri. Kamu akan bernasib seperti Ayah, suka tidak suka,” dan lagi-lagi aku yang mendengarnya menjadi mual.


Sejak itu aku merasa bebas. Aku tidak perlu dibebani dengan pandangan hormat dari orang-orang yang tak kukenal jika mengendarai mobil. Aku tidak perlu memberitahu satpam di rumahku sendiri bila hendak jalan-jalan seputar perumahan saja! Aku menikmati kehidupan dan aktifitas kampus.

Aku aktif di senat mahasiswa sebagai bentuk partisipasiku bila ada acara-acara turun ke jalan untuk memberantas penindasan kepada orang miskin. Kuanggap semangat melindungi mereka yang tertindas ini dapat membuang sebagian dosa-dosa Ayahku yang kabarnya boss preman.

Keberpihakanku kepada mereka yang tertekan di jurang kemiskinan kuharap dapat menebus segala keberuntunganku yang ingin kubagikan kepada mereka. Ya, lama-lama kusadari tindakanku seakan-akan berlawanan dengan tindakan Ayah. Ya, biarlah Ayah menjadi penjahat kelas elit, tapi aku justru ingin membela orang-orang yang biasa dipalak Ayahku dan komplotannya.

Entahlah, makin lama aku turun ke jalan melihat kenyataan hidup, hatiku semakin pahit dan kesal dengan Ayah. Apakah Ayah tidak punya hati kepada pedagang pasar yang sudah susah payah jualan tapi harus diminta uang keamanan terus? Apakah Ayah tidak kasihan dengan supir angkot yang akhirnya berekses jadi tindakan kurang ajar karena selalu ditekan setoran dan rasa was-was dirazia polisi? Jadi bila dulu aku menikmati semua hasil perasan Ayah, kini aku ingin menghapusnya pelan-pelan dari darahku.

Aneh, padahal kata Ayah aku menuruni hidungnya. Darahnya mengalir dalam tubuhku. Tetapi kok aku sama sekali tidak seperti Ayah yang bisa keras dengan lingkungannya? Aku tidak pernah bisa mengajak Ayah untuk terbuka pikirannya agar mencari pekerjaan yang normal-normal saja. Mengapa Ayah memilih pekerjaan yang kejam dan membiarkan dirinya menjadi kejam?

Bila aku membahas pekerjaannya, Ayah selalu menganggap aku belum tahu apa-apa soal kerjaan. Dan untuk hal yang terakhir itu rasanya ada benarnya.

Setahun aku ngekos, hingga kini aku memang masih tidak mendapatkan pekerjaan! Sering kusamarkan bila Ayah menelepon ke ponselku,

“Gimana? Udah dapat kerjaan?”

“Lagi tunggu panggilan, sudah wawancara, Ayah,” jawabku. Padahal tak ada satu pun wawancara yang menjanjikan aku akan mendapatkan kerjaan.

“Oh ya? Semoga berhasil. Kalau habis uang, bilang saja,” ujar Ayah.

“Aku tidak apa-apa, Ayah. Aku hemat-hemat, uangku masih cukup,” jawabku.

“Ya sudah, bagus! Semoga sukses!”

Dan aku jadi masygul setelahnya. Kuhibur diriku sendiri,

“Ya, tak apalah! Sementara belum dapat kerjaan, berarti aku masih bisa aktif di senat dan turun ke jalan untuk bantu-bantu orang.”


Siang itu di Terminal Kampung Melayu …

Aku sudah bersiap-siap dengan teman-teman kampus yang ingin turun ke jalan. Tujuan demonstrasi kali ini adalah tuntutan agar pihak aparat keamanan resmi terminal dapat menumpas preman berkedok keamanan di terminal Kampung Melayu. Ya, sepertinya ini adalah hari di mana aku melawan Ayah. Mahasiswa yang bernama Junaedhi melawan preman keamanan yang identik dengan profesi ayahnya, Kurniawan.

Situasi mulai ramai dengan mahasiswa-mahasiswa berjaket kuning, biru, dan hijau. Aku pun sudah siap berkoar-koar untuk melawan segala bentuk premanisme terminal. Aku juga bersiap-siap bila dipanggil untuk membacakan beberapa kalimat tuntutan untuk keamanan resmi di terminal agar menumpas preman yang menindas supir-supir terminal.

Udara makin memanas, suasana di terminal pun makin panas. Pendemo yang jumlahnya tidak terlalu banyak mulai dihampiri oleh sekawanan orang berpakaian preman. Aku dan pendemo lain semakin memanas untuk memaki-maki kekejaman mereka. Pendemo lainnya semakin gemas melihat aparat keamanan resmi terminal hanya diam-diam di depan kantor mereka.

Tidak tanggapnya aparat keamanan membuat kami meringsek ke kantor mereka. Beberapa pendemo mulai membalik-balikan meja dan kursi kantor terminal karena merasa dilecehkan. Sebagian pendemo masih tetap berkoar-koar agar aparat keamanan dapat menumpas premanisme.

Anehnya, kami yang awalnya hanya berupaya agar supir-supir tidak tertindas oleh preman malah merasa dilawan oleh dua pihak. Ya, pihak aparat keamanan yang menganggap kami sok pintar. Dan juga jelas dari kelompok preman yang tidak suka kami ikut campur dalam usaha mereka memalak.

Kami mulai didesak oleh dua musuh besar sekaligus! Aparat keamanan yang tersinggung mulai mendorong-dorong sahabat-sahabat kami yang berusaha masuk kantor terminal. Para preman juga mulai melesak ke arah kami agar kami bubar secepatnya. Kami marah! Dan kami tidak terima! Kami yang bertindak atas nama kemanusiaan ternyata hanya dianggap sampah!

Melihat pendemo mulai melawan, aparat pun tak segan bermain tangan. Mahasiswa pun tak segan melawan dengan batu sekadarnya yang terambil di tangan. Preman-preman pasar mulai menarik-narik mahasiswa agar segera keluar dari area terminal. Ketiga pihak bergelut! Ketiga pihak di terminal kampung melayu ini berperang! Ribut! Adu mulut, adu jotos, adu lempar, dan adu dorong terjadi! Rusuh!

Dan aku?

Aku dengan cepat berusaha menyelamatkan diri untuk dapat melapor ke polisi. Secepat kilat aku mengelak semua bentuk jotosan. Untung sejak kecil Ayah membekali aku dengan ilmu bela diri, setidaknya untuk urusan tangkis menangkis pukulan lawan, aku sudah tak takut. Dengan sekelebat aku berlari cepat. Melihat aku yang dapat lolos tanpa luka berarti, ternyata menarik perhatian beberapa preman terminal. Mereka berusaha mengejarku. Ya, jelas aku jadi sasaran! Sedari demo tadi, sepertinya mulutku paling pedas, membuat telinga mereka terbakar jelas!

Nafasku memburu, jantungku bergemuruh.

“Aku harus cepat sampai ke jalan besar itu! Kalau tidak bisa gawat dikeroyok!” jerit batinku untuk menyemangati tenagaku yang sudah ngos-ngosan.

Preman-preman di belakangku tetap berteriak menyuruhku berhenti sementara aku berlari dan semakin melambat dan lambat dan benar-benar pelan karena kehabisan nafas. Jarak mereka semakin dekat, aku berusaha tetap lari walaupun sebenarnya sudah berjalan tertatih-tatih.

“Sudah nyaris sampai jalan besar! Ayooo!” aku menyemangati diriku lagi.

“Woiii!!! Berhenti kamu!!!” teriakan gerombolan itu makin dekat. Aku makin kalut.

Kali ini betulan aku merasa takut, tetapi nafasku sudah habis, langkahku makin pendek. Batu-batu besar dan tajam itu mulai sedikit-sedikit membentur-bentur tubuhku sehingga aku harus berusaha melindungi tubuhku dan berkelit.

“Gila! Aku mati konyol hanya karena melawan anak buah ayahku!!!” aku marah dalam hati.

Kemarahan itu membuat aku membalikkan tubuh. Aku tidak berlari menghindari mereka lagi, kali ini aku menghadapi wajah mereka. Aku tidak boleh mati!

Aku berjalan menghampiri mereka dengan suaraku yang menggertak,

“Ayo! Siapa berani! Aku, Junaedhi! Kalian berani melawan anak boss kalian, Kurniawan??!! Heh??! Ayo! Kalau berani, maju!”

Tantanganku membuat mereka agak ciut. Sekilas ada yang percaya, ada yang tidak percaya. Tetapi jika mereka melihat hidungku, mereka seharusnya percaya! Bukankah ini hidung cetakan Ayahku, persis!

“Bohong!” Wah, ada juga yang ngotot tidak percaya bila aku anak seorang preman besar.

“Kurang ajar kamu! Kamu gak bisa lihat mukaku ini persis boss kamu itu??!” aku masih menggertak. Ini jalan satu-satunya agar tidak mati konyol.

“Bohonggg! Bohonggg!!” kali ini beberapa orang mulai memekik, tetapi mereka masih tidak berani maju. Seakan-akan mereka masih mengidentifikasi hidung besarku ini. Sembari mereka dalam aksi terpaku melihat diriku yang nekat, tiba-tiba mobil yang kukenal persis itu menghampiriku. Nafasku kembali membara, tetapi kali ini aku merasa sedikit tenang.

“Juned! Masuk!!!” perintah Ayahku. Ya, Ayahku ternyata ada di sini.

“Ayah! Aku… pulang…,”

“Masuk!!!” kali ini Ayah membentak lebih kencang. Segerombolan preman yang tadi mengejarku pun ikut mendengar dan mulai beringsut menjauh dariku. Mereka akhirnya sadar bila aku memang anak boss besar, Kurniawan.
Dengan berat hati, aku masuk ke mobil Ayah. Dan kami hanya berdiam-diam diri di dalam mobil. Entahlah apakah ia membenci anaknya yang melawan kawanannya, karena aku sendiri juga bingung apakah aku benci dengan Ayah atau tidak.


Sore Itu di Perumahan Pondok Indah …

Ayah berhenti di taman perumahan Pondok Indah, tempat dulu ia pernah menjadi satpam. Kami tetap di mobil, dan ia tetap diam. Lalu, ayah mengajakku keluar dengan cara membuka central lock pintu mobil. Kami berdua menuju taman itu. Tiba-tiba… plakkk!!! Ayah menampar pipiku. Aku sangat terkejut. Dan mukaku memerah, mataku pun memerah! Aku tahu sekarang, bila aku benci ayahku! Sungguh benci!

“Aku tidak pernah memukulmu, tapi kali ini harus!” kata Ayah.

Aku yang masih terkejut hanya diam. Seperti biasa, aku selalu kalah dengan kharisma Ayah bila ia sudah melontarkan kata-kata. Tetapi Ayah tak kunjung menjelaskan alasan mengapa ia menamparku. Akhirnya aku yang menjadi spaneng sendiri dan mulai membuka mulut,

“Aku ingin belajar hidup dengan normal, Ayah! Aku ingin punya pekerjaan yang tidak menindas orang! Aku tidak mau hidup enak sementara orang tertekan! Itu sebabnya aku tidak suka melihat orang susah dijadikan sasaran ketidakadilan! Hatiku selalu melawan semua pekerjaan Ayah! Aku malu!” Kulihat mata Ayahku dengan sinar kebencian, tetapi herannya kali ini Ayah tak terlihat murka dengan aksiku.

“Jun, apa cita-citamu? Kau ingin jadi tokoh masyarakat yang membantu orang susah?” tanya Ayah sambil memandang rumput-rumput rapih di sekeliling.

“Ya, jika memang harus… Pokoknya aku tak mau senang di atas penderitaan orang,” jawabku.

“Kau memang persis Ayah. Bukan hanya hidung… tapi semua…”

“Halahhh… Ayah! Jangan bahas itu terus! Aku bosan! Jelas-jelas aku tidak mirip Ayah! Ayah dikenal orang sebagai boss preman! Sedangkan aku ingin dikenal sebagai orang yang berbelas kasihan! Itu beda!” protesku.

“Hah! Itulah kenapa aku menamparmu!” seru Ayah. Dan aku bingung.

“Kau bingung?! Aku menamparmu karena kau sendiri tidak mengenal sifat Ayah. Kalau kau tahu sifat Ayah, kau akan paham mengapa aku setuju waktu orang merekrut aku untuk merintis organisasi keamanan untuk pedagang pasar dan supir terminal.”

“Yang aku tahu, Ayah adalah berandalan! Ayah kejam!” kataku. Ayah lalu memandangku dengan tajam.

“Memangnya kamu pikir tokoh masyarakat yang ada di tivi-tivi itu bukan orang kejam, Jun??! Kamu mau seperti mereka?! Silakan!!! Kamu kuliah saja sampai tamat, jadi wakil rakyat sana!! Ayah mau lihat, apakah kamu masih bisa berbagi untuk orang-orang miskin atau malah menimbun uang dari orang miskin!” sergah Ayah.

“Aku berusaha agar tidak seperti itu!” protesku.

“Kamu berusaha untuk tidak seperti itu berarti kamu tidak cocok untuk bekerja di sana! Di meja-meja kantor yang kamu harapkan jadi tempat dudukmu itu sudah sarat dengan uang darah rakyat, Jun!! Kamu sekolah, masak kamu tidak tahu itu??! Kamu tidak mau pun, kamu sudah terlibat jadi penindas!”

Kali ini tampaknya Ayah setengah benar lagi. Aku kembali lagi terdiam.

“Kamu kira Ayahmu ini berhati batu? Ayah tetap berhati lembek melihat teman-teman Ayah yang bekerja susah payah, tetapi uangnya selalu harus membayar uang keamanan pasar dan terminal dengan pungli yang gila-gilaan! Kau kira Ayah tega melihat teman-teman Ayah yang supir bis, supir truk, supir angkot dipalak habis-habisan oleh rampok? Dan kau tahu siapa yang merampok mereka, Jun?”

Aku menggeleng-gelengkan kepala.

“Kamu bisa lihat tadi waktu demo. Siapa yang marah saat kamu demo? Merekalah yang perampok! Posisi mereka membuat mereka bisa berbuat seenaknya kepada pedagang pasar, supir angkot, supir truk, supir angkutan. Dan Ayah adalah teman-teman supir yang dapat menjaga mereka dari rampok itu. Uang yang disetor supir kepada kami tidak sebesar yang ditagih petugas keamanan resmi. Mereka cukup membayar setengahnya, dan sebagai imbalan, kami melindungi mereka dari rampok. Uang setoran mereka kami bayar ke aparat keamanan resmi yang kami buat tidak berkutik harus menerima uang dari kami. Mereka tahu, jika mereka menolak, Ayah dapat melapor kepada organisasi yang membayar Ayah untuk memecat mereka,” penjelasan itu membuat mulutku menganga.

“Memangnya Ayah kerja sama siapaaa??!” tanyaku bingung.

“Rahasia dong!!” kali ini Ayah seakan guyon denganku.

“Sudahlah! Kau tidak perlu tahu! Kau juga bukan bagian dari kami, dan selalu menolak kami. Jadi Ayah tidak bisa terbuka untuk itu,” kata Ayah yang suaranya mulai melunak.

“Arrhhh!!! Siapa?” desakku. Ayah memandangku ragu-ragu.

“Ah…! Kamu itu kalau sudah maunya!!! Ya anggaplah aku bekerja dengan orang yang ingin menghapus dosa karena sudah menyicipi uang darah rakyat! Menghapus dosa dengan berbagi kepada rakyat tanpa diketahui orang dengan membuat peraturan tidak baku yang justru melindungi rakyat! Sudah jangan tanya lagi!” jawab Ayah.

“Apa aku harus ikut organisasi Ayah supaya bisa membantu Ayah?” tanyaku. Kali ini profesi Ayah mulai membius rasa keadilanku.

“Hahaha… Jangannn! Bukannya kamu mau jadi tokoh masyarakat tadi???” pancing Ayah.

“Hmmm… Kalau bisa tidak terlibat dengan uang darah rakyat, mengapa harus? Lebih baik terlihat jahat tetapi kenyataannya baik,” aku mulai berfilosofi di depan Ayah.

“Halah!!! Kamu! Sudah! Jangan ngaco! Kamu tidak boleh jadi preman!” larang Ayah.

“Loh kenapa??!”

“Ayah jadi preman untuk membantu orang karena Ayah bukan anak kuliahan kayak kamu! Kalau Ayah sekolah, ya Ayah juga gak mau, Jun! Ah… kamu itu! Sudah Ayah sekolahkan, tetap saja bego seperti Ayah!” kali ini aku jadi malu.

“Jun…”

“Ya?”

“Ayah menunggu kamu sampai kamu bisa kuliah dan jadi orang pintar. Ayah mau kamu terus bisa besar dengan selamat, karena Ayah tahu banyak musuh Ayah juga mengincar kamu. Itu sebabnya Ayah melarang kamu kuliah di luar Jakarta. Semua agar Ayah dapat memantau kamu, dan tidak kehilangan kamu,”
“Hmmm… “ aku bergumam, sedikit terharu tetapi juga merasa dianggap anak kecil. Dan sepertinya Ayah mengerti jalan pikiranku,

“Memang kamu sudah besar, kamu pasti tidak mau dikuntit seperti anak kecil. Tetapi Ayah belum tenang sebelum menceritakan alasan ini. Sekarang kamu sudah tahu, dan mudah-mudahan kamu bisa menjaga diri. Sejak kecil Ayah minta kamu untuk belajar bela diri adalah untuk melindungi kamu sendiri. Ayah sudah tua, tidak bisa berbuat apa-apa,”

“Ah… Ayah masih muda! Dan aku masih bisa teruskan pekerjaan Ayah,” aku menawarkan diri.

“Lagi-lagi kamu!! Kamu itu jangan bodoh seperti Ayah kenapa??!” Ayah kesal.
Aku tergelak-gelak kali ini dan Ayah pun ikut tertawa geli sekarang melihat kegilaan anaknya yang justru ingin mengikuti jejaknya sebagai preman.

“Ayah sudah menabung lama, Jun! Sejak jadi satpam dulu. Nasib Ayah yang cuman sekolah SMP ini kalau tidak mulai dengan memberanikan diri menjadi satpam jagoan dan preman, mana bisa dapat uang? Kadang ada rasa takut, tetapi demi menyambung nyawa kalian, Ayah lawan. Dan menumpuk kekayaan begini sebenarnya buat kamu,” ujar Ayah di sela-sela meredanya tawa kami.

“Hah?” tanyaku bingung.

“Pakailah uang kita untuk cita-citamu menolong orang miskin. Kamu anak kuliahan, kamu lebih pintar dari Ayah. Kamu mau bikin usaha, silakan. Yang jelas kamu bisa bantu orang-orang yang tidak punya pekerjaan, jadi punya kerja. Kamu mau bikin yayasan, silakan. Kamu bisa bantu orang-orang susah, dan kalau uang mulai berkurang, bisa dibantu donatur. Ayah kenal kamu dengan baik, seperti kenal Ayah sendiri. Kita sama-sama tidak tega lihat orang susah,” jelas Ayah. Aku jadi terharu.

“Yang jelas, kamu tidak boleh bikin partai!” seru Ayah lagi dan membuat kami kembali tergelak-gelak.

“Ayah…”

“Ya?”

“Rasanya, memang aku orang yang beruntung,” kataku.

“Oh ya? Kamu sudah merasakan hal itu rupanya?” tanya Ayahku tak percaya.

“Hmmm, ya! Menjadi orang kaya yang tidak tega melihat orang susah. Akhirnya kita memberi terus tetapi kita selalu tidak pernah jadi miskin. Itu keberuntungan,” jelasku.

“Nahhh!!! Tamparanku ternyata berhasil membuka otakmu!” kata Ayah bangga.

“Bukaaannn Ayah!” protesku.

“Loh??? Lalu??? Kenapa kamu tiba-tiba bilang kamu beruntung?” tanya Ayah bingung.

Kutunjuk hidung besarku pada Ayah.

“Ahhh… ya ya…” Ayah pun menunjuk hidungnya dengan bangga.

Balada Sedikit Fals Seniman Milenial

Pippo tak perlu mengetuk dua kali untuk tahu bahwa Ramon, sang adik, sedang berada di kamar. Ramon duduk di meja belajarnya, matanya menatap kosong lembaran partitur musik penuh coretan disana-sini. “Tidak perlu mengurung diri begitu, Bro”, tepuk Pippo di pundak Ramon sembari menarik kursi dan segera sibuk dengan jari-jemarinya mengusap layar HP.

Ramon melirik sebentar ke arah Pippo. ‘Oh, nggak apa-apa, Bang”, ucap Ramon. “Ini sedang mencari inspirasi saja, kepalang tanggung nih”, tambahnya sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Andai saja si kakak memahami apa yang sebenarnya membuat Ramon gelisah.


Tak biasanya Ramon merasa seperti ini. Ia kehabisan kata-kata untuk menjelaskan kepada saudaranya itu perasaan macam apa yang dia miliki terhadap musik. Akankah ia berani terbuka mengakui kecengengannya bahwa ia baru saja menangis karena sebuah lagu?

Pasti sungguh tidak masuk akal bagi Pipo yang sibuk “tak tik tuk” membalas satu persatu pesan di group Whatsapp kantornya. Menangis karena ditinggal pacar mungkin masih ditolerir. Ini, karena lagu?


Pikiran Ramon menjelajah liar ke berbagai dimensi. Ada alam alter-realitas dimana dia merasa kedinginan. Uang hasil mengamen semalam di kafe kota kecil itu bahkan tak cukup untuk membuatnya berani menghadap ibu kos, memberitahu bahwa uang kos bulan ini kemungkinan akan terlambat lagi dibayarkannya.

Di alter-realitas II, Ramon tak kuat menahan haru tatkala menyaksikan kecewanya Didi Kempit, temannya sejak kuliah di sebuah insitut seni, diusir dari rumah setelah bertengkar habis-habisan dengan seisi rumah. Rupanya sudah sejak dulu orang tua Didi tidak pernah menyetujui pilihan karir anaknya itu. Mau hidup dari bermusik di zaman sekarang, bisa kasih makan apa anak-istrinya nanti.

Segera berkelibat pula alter-realitas III. Ramon dan Didi berpelukan setelah konser yang mereka rancang berbulan-bulan akhirnya selesai juga. Penonton tidak banyak memang, tiket tidak habis terjual. Tidak juga ada jurnalis yang meliput dan memberitakan mereka, tapi itu tak menyurutkan kepuasan batin mereka berdua.


Ramon terkesiap. Sadar, khayalnya melantur terlalu jauh. Disini ada kakak kandung sedang mencoba membuka pembicaraan, dan ia malah asyik bengong sendiri.

Ia memicingkan matanya melirik kakaknya yang masih asyik dengan gadgetnya itu. Sepertinya sang kakak sedang serius membahas masalah kerjaan dengan rekan-rekannya. Oh, biarlah.


Meski matanya masih menatap lembaran partitur itu, sejatinya Ramon sedang membayangkan Elnoy. Seingatnya Elnoy adalah gadis bersuara merdu, sekaligus satu-satunya cewek di kelasnya yang tidak suka dengan Taylor Swift. Mereka punya kemiripan, sebab Ramon juga tak sekalipun tergoda memutar lagu Justin Bieber.

Oh iya, Elnoy juga pintar menggambar. Beberapa lukisan potrait-nya bahkan sempat menghiasi lini masa Instagram Ramon. Terakhir, semua postingan itu bersih, berganti dengan foto Elnoy dengan senyum getir berpose sembari memegang ID karyawan magang di sebuah bank ternama.


Ramon adalah jiwa orang tua yang terperangkap di badan seorang bocah 21 tahun. Jiwanya berontak menyaksikan betapa banyak temannya yang berbakat, gelisah dan menderita batin hanya untuk memutuskan serius di karir bermusik mereka atau berdagang mengikuti anjuran orangtua mereka. Ia tahu betul, beberapa diantara mereka bahkan tidak mendapat kesempatan untuk menampilkan lagu yang sudah mereka tulis.

Seperti hantu, Didi dan Elnoy serasa nyata menatap Ramon saat ini. Ia bergidik. Semua seperti tiba-tiba terlihat gelap sebentar lalu sekejap berganti pula dengan terang menyilaukan.


Ah, kampret benar. Ramon sadar, musik telah membuatnya merasa gila, sekaligus bahagia. Itulah yang terjadi saat ini.

Ada untaian nada lagu terdengar jelas olehnya. Sementara Pipo sudah beranjak dari kamar itu, sepertinya hendak menyeduh kopi. Itu jelas banget loh, kok hanya dia yang mendengar, Pipo tidak?

Ramon pun tersenyum. Dia baru saja menyadari bahwa apa yang dirasakannya saat ini, itulah kebahagiaan. Musik membuatnya bahagia, bahkan menangis bahagia.

Ia bergeser dari tempat duduknya. Meraih HP yang sedari tadi di-charge di sudut kiri mejanya. Sejurus, ia membuka pula Instagram-nya.

Di story-nya tertulis:

Ketika kamu bahagia, kamu menikmati musik. Tetapi ketika kamu sedih, kamu memahami liriknya.


Mungkin. Besok. Ramon akan merampungkan komposisi lagunya yang tanggung itu.

Ina Na Hinohosan

Ponjot rohana jala tung marsigorgor rimas ni Ompu Maruli boru, pola songon na sosak marhosa dihilala ala ni hata na sangkababa i.

“Ai laos boha pe jago ni jolma, manang beha pe mora na jalan tung songon dia pe saringar ni goar na, tung so tataponna do saur matua molo ndang marurat jolma. Jolma siteanon do i molo di halak batak…!” talmis soara ni Ama ni Benni, huhut songon na di padirgak uluna jala di ombushon timus ni sigaretna.

Nang pe ndang apala digoari manang na tu ise hasahatan ni hata na i, alai sude do natorop i boi mandodo, tu Ompu Maruli do hata i. Ianggo Ompu Maruli doli, nungga tung mahap be di angka hata sisongoni. Alai anggo tu roha ni Ompu Maruli boru, tung mansai maniak. Ai saleleng ngoluna, tung soadong dope halak na barani manghatahon hata sisongoni di jolona.

Ala ni hata sangkababa i, naeng do nian pintor mangintas Ompu Maruli boru mulak sian jabu ni parboruon nasida on, alai sai diotapi ma langka na, unang pola diboto angka dongan sapunguan i na tarholi panghilalaanna. Nian, antar dilangkahon ibana do ruar sian jabu laho tu alaman laho marhosa ganjang, alai tong do sai ponjot dihilala.

Dung i, disuba ibana do dohot marnonang rap dohot angka ina na ro tu arisan saompu i, jala dohot do ibana mamarengkeli siparengkelon, alai tong do ndang lumbang panghilalaanna. Sahat ro di na mulak nasida sian jabu ni parboruon nasida i dung sidung ulaon arisan, sai solot dope na hansit di roha na.

“Songon na asing pardompahanmu Inang, na asing dope dibagasan roham?” manat Ompu Maruli doli manungkun parsonduk na i, dung di mobil nasida.

Dang maralus sungkun sungkun na alai tompu ma manetek ilu ni Ompu Maruli boru.

Tungki simajujungna. Marnida i, gabe hansit tong roha ni Ompu Maruli doli, ai tung so tarberengsa ilu ni nialap na i. Dipadorong ibana mamboan mobil i asa tumibu sahat di jabu, asa pintor dihaol jala dipamenak ibana roha ni soripada na i. Dung sahat nasida di alaman ni bagas nasida, pintor mangintas Ompu Maruli boru ruar sian mobil, dung i masuk ibana tu bilut podoman nasida jala dipapuas ma tangis na, dianggukhon angguk na.

Lambok, diapus Ompu Maruli doli abara ni parsonduk na i, dung i di haol momos. Ndang manjua Ompu Maruli boru, baliksa lam dipapuas tangis na di abingan ni simarubun na i.

“Nga sae be i inang, unang be sai lungun roham. Ai ise Ama ni Benni i, umbahen na pola bonsa roham ala ni hata ni i? Ai nda tung dao ho lobi martua marnimbangkon ibana? Ndang singkop didok roham silas ni roha di hita, alai nda tung gumodang na hurang di ibana? Na so diboto i do magona, jala late rohana mida hita!”

“Tung so hapingkiran ahu do, boasa ingkon marasing asing derajat ni jolma di adat batak!” runtus alus ni Ompu Maruli boru.

“Eeee…eeh… Ai adat Batak pe jolma do mambaen, ndang sai sude pita! Godang dope sipatureon di angka adat Batak, ndang gabe i patohan ni parngoluon di portibi on. Tung singkop pe parngoluon ni jolma hombar tu adat Batak, belum tentu gabe jolma na martua. Angka nauli nadenggan naung tajalo i ma ta bilangi, unang patangi tangi angka hata ni si eat roha. Ndang piga dabah borua manang ina na songon ho, boru na taruli asi nang pe ndang haru singkop diadopan ni jolma, tarlobi di adat Batak. Pola pajojoronhu angka pasupasu naung tajalo…?” mansai lambok hata ni Ompu Maruli doli, manorus tu ate ate ni Ompu Maruli boru.

Songon na sip satongkin Ompun Maruli boru, huhut marhosa ganjang. Dung i, dialusi songon soara na marhusip. “Angka aha ma i…?”

“Ba… hupajojor pe, alai unang be tangis ho, Inang. Molo tangis ho, gabe maniak ate-atengku, lobi sian maniak ni ate-atem!”

Dipahusor Ompu Maruli boru parpeakna jala dibereng dompak bohi ni sinonduk na, pardompahahan na tung mansai lambok. Mengkel suping ibana. “Bege hupajojor da…!”

Tung ise ma na songon ho inang,
Boru hasian, boru na hinohosan
Habunbunan ni holong dohot asi asi na lambok
Sian natoras batara jonggi dohot iboto na togap

Nda tung na martua ho tahe, Inang
Hariara na bolon do pangunsandeanmu
Angka boru na lambok do urat ni ate atem
Jala tano na napu do pansalonganmu

Ue, da Inang
Ida ma hatuaon naung niampum
Tiur songon mataniari binsar simalolong ni pahompum baoa
Lambok songon bulan tula pamereng ni pahompun boru
Jala si doli na jogi do gabe helam

O Inang, Inang na lagu
Tung adong dope hatuaon lumobi sian i?


Songon na nienet sian gurat-gurat ni ito Rose Lumbantoruan

Tokka ni Amani Togu

Dung adong saminggu mamboan bus Intra Medan – Jakarta, mulak ma bapak ni si Togu sian pardalananna. Tongon marsahit mata do ibana. Ra pagodanghu marisap dohot hona timus saleleng di dalan i. Gabe dang adong boan-boanna tu si Togu anakna i. Alani i, songon na murhing ma bohi ni si Togu.

Ditedekhon ma tanganna tu amongna i: “Among, dia ma jo hepengmu molo boti”, inna.  “Paima jo kedan da. Mambuat ubat dope inongmu. Asa diubati inongmu jo matakkon”, ninna among ni si Togu i.  Dung didok si Togu ma : “Na hansit do matam bapa?”  Dipinsang inongna ma tutu: “Togu! Tokka. Ndang dohonon ‘matam’ tu among.”

Naeng tangis ma si Togu ala dipinsang inongna. Marheneng ma iluna. Asing do memang si Togu on, nunga laho dolidoli alai iboan dope hingalanna i.  Marnida i, asi ma roha ni amongna. Gabe dilehon ma hepeng jajan tu si Togu i. Mekkel, ittor hatop ma antong lao si Togu tu lapo.

Alai sai simpan dope di pikkiranna hata “tokka” i.  “Lao au da among, lao au inong da”, ninna parmisi.  “Hatop ho mulak da. Ai na laho ro do ra tondongta, ai ro lampulampu tu jabunta on”, ninna inongna tu si Togu tu i.

“Olo inong!”, ninna huhut marlojong lao.

Di jolo ni lapo i dope, diida si Togu ma ro tulangna dohot nattulangna sian hutanasida.  “Lao tu dia ho bere ?”, ninna tulangna i manise. “Manuhor tu kode an, tulang”, ninna si Togu.   “Bah, molo boti beta ma rap. Hudongani hami pe ho”, inna tulangna i songon na palashon roha ni bere hasianna i.

Gabe didongani tulangna dohot nattulangna ima si Togu tu lapo i. Dibayar ma jajanan ni berena si Togu i. Las ma tutu roha ni si Togu.  “Mauliate tulang, mauliate nantulang, baenonku ma hepenghon tu celengan”, ninna. “Bagus bere, malo do ho hape”, ninna tulangna i.  Dung i disukkun nattulangna ima si Baluhap : “Di jabu do inongmu”?  “Di jabu nattulang, nunga ro amonghu”, ninna si Togu.  “Marhua eda inongmu di jabu ?”, ninna nattulangna i.

“Mangubati ‘Tokka’ ni bapakku”, ninna si Togu sian bulus ni rohana.

“Hahhhaaaahhhhhaaaahhhhhhhhhhh”, gabe margak ma mekkel parlapo dohot akka jolma na di lapo i.

Masiberengan ma tulang dohot nattulang ni si Togu huhut mekkel suping ala ni geokna dihilala.  “Ai so pola nian piga leleng amani Togu on marhuta sada, pittor posa do huroha sahit ni ‘Tokka’na i”, ninna Amani Polgut, na tarsar goarna di kode i ala holanna tenggen karejona tiap ari on.

Dung sahat di jabu, ditogihon nattulang ni si Togu ima edana umak ni si Togu tu dapur.  Dipaboa nattulang ni si Togu ma na masa na di lapo i.  “Akhhh, eda, geok hian eda, (huhut margak mekkel) nakkin, husukkun bere i, ‘Marhua eda inongmu di jabu’, nikku. Tung burju do dialusi si Togu bere i au. “Mangubati ‘Tokka’ ni amonghu do inong”, ninna bere i.”

“Hahhhaaahhhhaaaaahhhhhhhhhhhh”, margakargak ma mekkel na mareda i.

“Oeeee tahe, mangubati simalolong ni baom do au, nahupinsang do berem i pamatamatahon amang baom: Tokka, ndang dohonon mata tu bapa, simalolong do, nikku. Ba pittor lao ma beremi tu lapo.  “Eeee tahe, bulus ni roha ni berem i”, inna Nai Togu huhut padenggan parhundulna.

Dungi, marnonang ma nasida sahat tu botari, alai molo si Togu sai tong dope dang dapotsa boasa mekkel halak umbege ‘Tokka’ ni amongna i.


Tinambaan sian guratgurat ni Amanta Pandita Erwin Hutauruk

Rumang ni Na Marpolitik

Molo tabege hata “politik”, “parpolitik”, manang “politisi”, jumotjot do ra pittor tubu di rohatta be akka pakkataion suang songoni akka rumang ni hajolmaon na ganup ari mamakke taktik holan asa lam martamba nian na adong di sasahalak parpolitik i lam tu godangna. Jempek hata dohonon, godangan ma i na so denggan. Hape nian sasintongna ikkon mamboan tu hadengganon do politik on, ai hagiotna pe mamboan tu hadengganon tu ganup natorop do (salus publicum).

Alai, alani godang ni barita manang na masa binereng, olo do sipata niundukkon roha ma na situtu do politik on holan patuduhon hajagoon ni sasahalak mamakke hamaloon, hasangaon ni goar, suang songoni haadongonna, dang parduli mamboan hadengganon tu ganup natorop do manang na holan tu dirina sambing manang holan tu akka familina (on ma na mamboan akka parsoalan, songon na jotjot tabege, i ma korupsi, kolusi, nepotisme) be. Songon na boi rimangrimangatta marhite torsa na jempek on.

Au sahalak pangula-ula do di hita an. Markopi, sipata marpege, sipata marlasiak. I ma ulaonhu martaon-taon jala na hutorushon do i sian natuatuaku, jala nasida sian ompung sahat ma songon i tu na marsundut-sundut, sahat tu sahala nang sumangot ni akka ompu sinahinan. Alai sahali on, ikkon ma luluon dalan asa unang holan na margulu tano tutu gellenghu si Poltak, anakhu, si jujung baringinhon.

Alani i, hudok ma tu si Poltak.
“Ingkon boru na pinillit nami do alaponmu da”.
Alai, “Daong”, inna ibana.
Huuduti muse: “Ai boru ni tokke sawit an do na tinodo ni rohanami da. Sotung leas roham”.
“Molo boti, olo ma au disi”, inna si Poltak.
Dungi ro ma au martandang tu jabu ni amanta tokke sawit i.
“Martahi nian au asa pangolionnami ma si Poltak tu borum siakkangan i”.
Alai didok tokke sawit i, “Daong”.
Huuduti muse: “Ai si Poltak nuaeng nunga gabe Direktur di Kementerian”.
“Molo boti, nunga denggan i, taparade ma tutu pesta i”.
Dungi laho ma au tu jabu ni Menteri.
“Baen ma si Poltak gabe Direktur di Kementerian na niuluhonmu nuaeng, bo”.
Alai didok menteri i, “Daong”.
Huuduti muse: “Ai si Poltak nuaeng nunga gabe hela ni tokke sawit nampuna marribu-ribu hektar i”.
“Molo boti, nunga denggan i, annon tahatai ma muse akka parbagianan na boi sibuaton ta sian laemuna na mora i ate”.

Godangan, songon i ma na masa di na marpolitik on.

Ojo Kesusu

Di sada tingki adong ma sada rumatangga na imbaru. Tar I dope nasida pasauthon sangkap ni nasida na marrokkap marhite ulaon adat. Sae ma tutu pesta i. Marmulakan ma angka natorop. Dungi nasida nadua pe bongot ma tu bagasna.

Ia inanta on tibuhhonni halak Jawa, suang songoni dohot parsinuanna. Jempek dohonon, halak Jawa ma ibana. Ia na mangalap ibana, ima amanta on do na sian hita an, sian luat ni parsolusolu bolon. Ia dapotsa pe rongkap ni sidoli Batak on alana jumpang do nasida padua di tingki mangaratto ibana tu luat Jawa.

Pola do marhir hodok ni amanta on di tingki padua-dua nasida. Holan naeng marsaemara ma I utokutokna.

“Ikkon saut ma on malam pertamakku”, inna rohana. Dungi dipungka ma panghataion.

Baoa: Dek … pahatop saotik. Dang tartaon au be on

Boruboru: Sabar toh mas. Ojo kesusu. Alon-alon asal kelakon

Baoa: (Dang marna diattusi ibana aha nidokni halletna on. Boha hian do naeng parsaut ni halak on, au pe dang pola huboto)

Baoa: Bah … boha do ho? So manang aha dope nitiop, pittor ke susu do nimmu.

Boruboru: “?!?!?!?! (Markerrut pardompahanna ala tong dang tarantusanna. Pola hira na tarjolma)

(Ala so marna marsiantusan nasida, gabe bobonosan ma si baoa on. Dung I tor dipamate ma lampu. Dang binoto be aha na masa ala nunga golap.)


Sian Panurat: Ia impola ni turiturian sigeokgeok on, tarlumobi ma di hita angka na poso, asa tangkas taboto denggan angka hasomalan ni donganta, tarlumobi ma dongan na poso na marimbar huta manang hasomalan. Rupani, molo so binoto aha nidokni dongan, jumolo nisungkun. Unang heppot.

Amonghu Partenggen i, Na Burju do i

Pukkul sia borngin i hubege ma soara marende di harbangan ni huta.

“Di kamar sampulu tolu onn hu tobus dosangki” inna.

Bug, mallobok tarontok. Nga mulak among, nikku. Pintor humalaput hami papunguhon bukku na rage di lage. Dung sidung pintor modom hami marbulusan, ai i dope na somal tikki i marbulusan alani ngalina. Dang sadia leleng sahat ma among di balatuk ni jabui. Di tuktuk i ma pintu.

“Ma, mami, bukka jo pintu on”, inna. Biasama molo dung tenggeng attar romantis otik. Dibukka inong ma pintu on, dang pola didok manang aha, sotung maon gabe guntur, masuk ma among.

“Nga mangan ho”, ninna inong huhut.

“Daong baen majo indahanku”.

Diparade inongon sude sipanganonna.

“Mangan ma ho da. Nga mondohondok au’, inna inong muse. Naeng ditadingkon among na manganni.

“Naeng tudia ho, haru molo pinahanmu mangan di ingani hodo digarut garut ho uluna pintor inna among songon na muruk.”

Hundul do attong inongon hohom dilambungni amongi. Dung sidung mangan modom ma nasida.

Pukkul opat manogoti hehe do among sian podomanna, songon i do ganup manogot. Didungoi ma hami gelleng na akka naung marsikkola.

“Dungo hamu, dungo. Nga pukkul opat. Marsiajar”, inna.

Dang boi juaon I, ai pintor di buat do aek sian dapur molo songon na maol hami hiccat. Olat ni sa jom do hami marsiajar molo manogot, dung pukkul lima marsibuat ulaonna be do. Adong na mardahan, manapu jabu dohot manussi piring.
Molo manapu dang boi nanggo mallotom pat niba tu papanni jabui, sai dirippudo namuruk songoni nang molo manussi piring dang boi malliting. Molo among attong mamungga balatina ma asa lao maragat. Songon si ganup ari. Dung pe molo naeng lao hami martapian manang marsuap hissat ma inong sian podomanna. Dipangali hian ma indahan nami dohot dibaen kopi di among.

Dibaen kopion di ginjang ni meja paima mulak among sian paragatan. Olo ma sipata alani malashu mangallang gulamo hubuat do otik kopini among, huusen tu indahanku. Hehehe. Holan au do na barani songoni. Dung mulak sian paragatan disuhati inong ma tuak na binoanni amongi, dibaen raruna otik. Paima dialap parlapo sigadis tuak. Molo among hobas ma asa lao tu sikkola inganan parkarejoanna, ai pegawai do among disi. Mambuka parsikkolaan, manapu alaman dohot paiashon kantor ima ulaonna. Dung sidungi olo do sipata pintor mulak among molo so adongbe ulaonna naasing.

Didapothon ma inong tu balian manang tu porlak. Olo do sipata manggadis gogo inong asa adong ongkos nami laho marsikkola. Holan among ma di baliani paima mulak hami sian parsikkolaan. Mulak sikkola ikkon tu balian do hami, dang jolo golap ari asa mulak sian balian. Ala daodo mual paridian. Didok among unang parborngin hu mulak asa sanga martapian.

Somalna siganup borngin ikkon rap mangan do hami, hundul di lage. Sidung mangan dang boi pintor morot. Jolo martangiang do hami sude, huhut manjaha buku na dapot sian Gareja. Goarni bukkui “Pajonok Ma Tu Debata”.

Nang pe partenggen amongnami on, dang olo tu Gareja, alai molo soi ganup borngin dang hea lupai, marsoring soring do hami suruonna martangiang. Baru muse udutanna manutup dohot tangiang. Ganup jumpang ari minggu suruonna do hami tu Gareja. Songonima siganup borngin dung sidung martangiang baru pe marsiajar.

Holan ido silakkona molo adong mambahen jut rohana, tarlumobi molo ro surat sian namboru na sipata sai paroa roahon inong, pintor jut do rohana. Lao ma tu lapo minum kamput ma disi, mulak siani tenggeng ma attong. Alai tetap diingot do jabuna nang pe tenggen.

Las do roha nian molo marningot i sude. Adong pe holso, holan saotik do:

“Boha muse ma ate molo dang pola partenggen amongnami on”, inna rohakku dibagasan. Alai i pe, nihamuliatehon ma.

Adong dope ulaning na songon among namion?


(Pinadenggan sian guratguratan ni Sri Duyana Tampubolon)

Sahala

Sadari on, dua pulu taon ma dung lao natuatuakku, ima dainang pangintubu. Ia huguretton pe on, na toppu do nakkin songgot tu pikkiranhu. Sambil mamereng drama Korea di tipi, hubaen ma kopi ni tungganedolikku. Rarat ma huhatai hami. Dang huingot botul alani aha bonsirna, alai sahat ma tu sahala. Oh, on do hape. Nga huingot be. Ala marningot do tikki manghatai ima dung sidung marsipanganon uju mambaen sidapotdapoti ima amang simatuakku. Molo so sala parningotanhu, boti didok :

“Tu hita saluhutna na pungu dison, damang dainang. Marsatabbi jumolo au tu hita saluhutna. Ra ganup do hita dison halak na porsea, jala porsea do tong tu sahala. Au sandiri dang hea huporso, porsea do au di sahala”, inna mandok. Dungi didok ma hatana tu na pungu i.

I ma jo tusi.


Gabe ro ma tu rohakku: Boi dope ulaning manghata-hatai dohot sahala i? Songon si Miguel na boi pajumpang dohot sahala ni oppung mangulahina, laos boi ibana paboahon tona ni oppung i tu si Mama Coco (ima oppung nini ni si Miguel), mandok: “Your papa loves you, Mama Coco“.

Jei, huceritahon ma jo saotik. Tikki i marpungu ma saluhut keluarga. Singkop ma panghataion na ikkon boanon ma saringsaring ni natuatua i mulak tu bona pasogit. Soppat do songon na tarsonggot au huhut ma i mardongan biar ala so tarboto dope takkas didia do udean ni dainang. Molo bapa, takkas dope diingot akka ibotokku didia ditanom.

Alai jompok ma huseritahon, saut ma ikkon pamasaon na mangongkal holi on.

Ngeri do bah molo niingot tikki i. Mardisir imbulu.

Piga-piga taon andorang rencana on, nunga humasiksak nian au mangalului idia do sabotulna omakkon. Huhului ma surirang sian akka keluarga atik dia adong dope na marningot takkas didia do letakna. Alai aha ma na hudapot? Sude mandok, “dang huingot hami be bah.” Adong deba ninna, “e tahe, dohot do nian hami tikki i tu udean ni omakmu, alai so huingot be nuaeng i. On ma tahe na matua on”. Lomos ma rohakku mambege alus i.

Aut sura ma nian, attar dihusiphon sahala ni dainang on tu au mandok “ison do au, inang”, manang na boha pe isarana, tontu dang polu songonon au humitir.

Tikki parmondingni oma, marumur dua taon ma inna au. Gabe dang pola takkas huingot. Agia pe songon i, tarboto dope gereja dia na paborhathon oma tikki i, ima di daerah Tangerang. Holan i ma modalhu. Alai songoni pe, hujuguli do. Lao ma au manukkun tu pengurus gereja, pengurus pemakaman suang songoni tu masyarakat sekitar atik dia tahe adong nasida na marningot. Adong ma sian pangurus i na patuduhon sada kuburan na so hea diziarahi manang ise, pola martaon. Hupatakkas ma tu kakak, boha do ciri-cirina marhite talipon. “Ido, pas do i dek”, inna kakak na di Sumatera ma tikki i dung huceritahon pardalananhu sahat tu lokasi i.

Tikki na denggan ma ra on inna rohakku, boi pungu songonon hami sude ianakkonna. Jala hubereng, marsintuhu do ganup mangadopi manang aha pe abatabat na lao ro tarsingot tu rencana na lao mamboan natuatua nami on mulak tu bona pasogit.

Jumpang ma tikki mangongkal. Manogot do hami ro sian jabu tu udean i. Ito, uda, tulang dohot na lao mangongkal nunga pungu.

Lam bagas diokkal amatta songon na di gombar on, dang dapot. Dipakkur ma muse, tong dang dapot. Lam mabiar ma attong hami sude. Ilukku pe nunga manetek.

Dipakkur i ma muse, tompu ma tarida baju. Dungi adong muse headset ni henpon. Natorop i pe marnida do. Marsampur biar dohot geok ma huhilala tikki i. Songgot ma tu rohakku, dang natuatua i on. Lam marsikeras ma au mandok tu natorop i, “dang on natuatuakku. Dang on i, dang on i”, nikku. Dipakkur ma muse, dapot ma holi-holi.

Adong do tikki i dohot sahalak ama-ama dohot hami. Parbinoto do on, alai dang olo idok ibana datu. Halak Jawa do amatta on, jala marbahasa Jawa do makkatai, bahasa Indonesia saotik-saotik. Ro ma natorop i marsuru asa digauk ibana sahala ni oma. Hundul ma ibana. Disuru ibana ma asa au manjouhon goar ni natuatua i. Mardongan biar, porsea huhut manghitiri au tikki, hujouhon ma antong. Dua manang tolu hali hudok goarna, pittor margepori ma amanta i. Siar-siaran ma  ibana laos dibereng au. Toppu ma attong marbahasa Batak ibana mangalusi ito na pittor sigap mangabing ibana. Aha disukkun ito, dialusi ibana. Dungi, dipillit ibana sian holiholi sinakingan, dia na di ibana. Akka na so bagianna, dipaida ma tinggal disi.

Songoni ma partordingna na mangongkal holi i. Sian bagas rohakku, dang boi dope hupastihon na i ibana. Alai tahe, aha pe na masa tikki i, porsea au marnida do sahala i.


Sahat tu na manggurat on au, dang hea dope agia sahali boi songon na huipi sinangkinan, ima manghatahatai dohot sahala ni natua-tua. Dang tarbaen dope songon si Miguel di film “Mama Coco” sinangkinan.

Tumiru haporsean ni Gereja Katolik na mandok dang putus hape hubungan ni akka Pardisurgo dohot saluhut jolma na hasiangan on, tangiang ma hubaen di rohakku. Anggiat sahala ni dainang i tong manghorasi au dohot pinomparhu haduan.

Selamat Ari Hananaek ma di hita saluhutna.

Sinurat songon na nituriturihon ni si Felicia Presta Simamora.