25 Tahun STFT St. Yohanes Sinaksak – Transkrip Homili Mgr. Martinus Dogma Situmorang

S – T – F – T

Nama itu menjadi demikian karena kita berada di republik ini.

S-e-k-o-l-a-h   T-i-n-g-g-i.

Dulu kita sebut Seminari Agung. Tetapi sekarang: “Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi”. Bukankah nama itu memukau? Bukankah nama itu menunjukkan bahwa disini ada himpunan nilai dan bobot yang harus diperhitungkan oleh orang?

Tetapi tentu saja kita tahu bahwa STFT mesti ini  diperhitungkan orang bukan karena namanya, tetapi karena isinya. Karena realitas keberadaannya dalam keseharian kita.

STFT ini tidak menjadi pemukau dan penarik minat karena kompleksnya yang asri. Karena keindahannya, STFT ini memang dihargai oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Simalungun sebagai aset dan bisa menjadi satu tujuan wisata di wilayah ini. Mudah-mudahan tidak terjadi. Sebab kalau begitu, terlalu banyak urusannya, dan STFT ini harus berubah menjadi nama lain.

Saya hanya mau menegaskan: Ada nama. Ada kompleks. Ada fasilitas. Tetapi terlebih lagi: ada isi. Disini dididik orang-orang yang dipanggil secara khusus untuk memberikan seutuhnya seluruh dirinya melayani Tuhan di tengah umat. Sebab itu perguruan ini sudah langsung menjadi “locus”, tempat, “site” yang luar biasa. STFT adalah kumpulan orang-orang yang merasa dirinya dipanggil Tuhan untuk memberi diri seutuhnya, seluruhnya dan dalam segala-galanya kepada Tuhan.

Pada pertemuan ini ada orang-orang yang sudah mempersembahkan diri mereka seutuhnya dalam kaul mereka, dalam tahbisan imamat mereka, yakni para dosen dan peneliti yang kita hormati dan cintai. Ada Hirarki Indonesia. Ada hari Minggu. Ada “25 tahun STFT”, tempat pendidikan mereka dan menyerahkan diri seutuhnya kepadaNya.

Tetapi demikian, toh dengan rendah hati, dengan tulus dan bersahaja, kita harus berani menyelami dalam di lubuk hati kita, untuk melihat apakah kita melaksanakan perintah utama, perintah satu-satunya, yang diuraikan dalam Kitab Keluaran tadi secara negatif (kemungkinan yang dimaksud adalah Keluaran 20:4-6)

Yaitu perintah untuk menerima, memperhatikan mereka yang termarginalisasi, yang terabaikan, mereka yang miskin, terasing dalam bentuk apapun. Untuk menjadi saudara dan tuan rumah kepada mereka yang merasa dirinya terlantar, tidak punya tempat.

Yang menurut Santo Paulus dihayati dengan sangat saksama dan sangat pribadi oleh jemaat di Tesalonika. Jemaat Tesalonika yang berada di tengah masyarakat dengan segala modernitasnya di zaman itu, tetapi hidup  umat menjadi pemberitaan Injil. Sehingga Paulus tidak usah bertanya kepada siapapun. Orang yang mengatakan bahwa jemaat itu bagus, hebat, dahsyat, dalam penampilannya di tengah masyarakat.

Karena apa? Karena mereka menghayati Perintah Utama. Perintah, yang dirumuskan oleh Yesus dengan sangat sederhana, menjawab orang-orang Farisi yang menganggap dirinya tokoh utama dan terdidik di tengah masyarakat yahudi, dan tentu saja, di seantero masyarakat manusia.

Jawaban yang Tuhan berikan kepada mereka yang datang dengan kepercayaan diri yang di atas rata-rata. Orang-orang yang mengharapkan akan mendapatkan “credit point” sesudah Yesus menaklukkan dengan telak para kaum Saduki tentang kebangkitan. Bahwa Allah itu adalah Allah yang hidup. Ada kebangkitan.

Tetapi untuk sampai kebangkitan yang hakiki, perintah satu-satunya: Cintailah Tuhan Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap tenagamu, dan cintailah sesamamu seperti dirimu sendiri.

Dimana dan sejauhmana perintah ini memberi arah, memberi arti dan menentukan program, jadwal harian kita, dan tingkah laku kita? Sejauhmana (kita melaksanakan) perintah Cinta Kasih ini: mencintai Tuhan, mencintai, tetapi bukan saja mencintai, tetapi dengan seluruh diri. Total. Tidak ada sisa-sisanya. Tidak ada ruang kosong. Tidak ada waktu dimana cinta itu boleh absen.

Maka hendaknya seluruh diri kita, seluruh perayaan kita, seluruh evangelisasi kita, seluruh hirarki kita dengan segala urutannya, mestilah mendapat kepenuhan arti sekaligus mendapat energi batin. Kekuatan yang tak terkalahkan sampai kapanpun. Demikian juga STFT kita.

Tetapi, kenapa itu? Bagaimana Tuhan bisa menyampaikan kepada kita perintah yang kedengarannya, tampaknya, begitu indah, begitu sederhana:  Cintailah Tuhan Allahmu, cintailah sesama. Sederhana, tetapi total. Bagaimana bisa?

Saudara. Bisa, karena Tuhan melimpahkan. Bisa, karena seluruh diri kita sesungguhnya adalah buah cinta. Keberadaan kita adalah dalam genggaman cinta Tuhan yang abadi dan sempurna. Cinta itu yang terus menerus menghidupi dan memberi energi bagi kita. Kemampuan untuk menderita juga seperti umat di Tesalonika. Kemampuan juga untuk menerima orang asing. Sehingga kita tidak barangkali lagi terlalu gampang mengeluh tentang keadaan republik ini, keadaan hirarki, keadaan umat, keadaan ini dan itu. 

Tidak lagi mengeluh satu sama lain. Tetapi dengan energi kasih dan dicurahkan oleh Roh Tuhan itu, dengan kelimpahan yang melampaui segala perhitungan. Sebab itu sesungguhnya, tinggal setiap hari,  dari pagi sampai malam, dalam kemampuan kita yang paling indah: terbuka menerima kasih Tuhan. Membiarkan Dia menegur kita. Membiarkan Dia membimbing kita ke arah yang benar. Membiarkan dia mengatakan “go ahead”, lanjutkan!  Apapun keadaan kita. Apapun keadaan misi kita sebagai Gereja di Indonesia, di Sumatera.

Sebab sambil berbangga atas segala pencapaian yang dikerjakan oleh rahmat Tuhan, mungkin kita juga harus berkata: jangan-jangan ada yang tersia-siakan dari kelimpahan berkat ini.


Saya tutup dengan cerita pendek. Dengan semua uskup di Indonesia, kami menemui Paus. Akhir bulan lalu. Saya melakukan apa yang Saya rasa harus Saya lakukan. Tetapi, Saya dengan jujur mengatakan, “Tuhan, mengapa saya tidak lebih ramah kepada Monsigneur Hilarius ini?” Mengapa Saya mesti nampak begini, dan bukan seperti Yesus? Dan di Makam Rasul Paulus, Saya merasakannya. 

Ketika pulang ke Indonesia, Saya mendapat kecelakaan kecil, dalam arti Saya harus terlantar di perjalanan. Saya harus berhenti di Doha, Qatar, selama 14 jam. Sekiranya saya berhenti 14 jam di Medan, Saya akan bergembira. Tetapi di Doha tidak. Tidak ada hotel, tidak boleh kemana-mana, dan lain-lain. Saya berdoa puluhan kali Rosario.

Juga di pesawat, sesudah marah dengan pelayan check-in, karena barang yang sudah Saya bayar tidak boleh Saya tenteng. 

Ini sharing saja.

Biarpun saya berusaha berdamai dengan orang itu, berdamai dengan diri sendiri, berdoa puluhan kali Rosario, toh pertanyaan yang menggugah: itukah segalanya? Atau ada lebih yang boleh disikapi dan dilakukan, baik dalam peristiwa ini maupun dalam kehidupan sehari-hari?

Kasih Tuhan. Dengan menghidupi kasih Tuhan itulah kita bermisi.


Saudara-saudari terkasih! Semua fasilitas kita adalah pemberian Tuhan juga. Tetapi yakinlah bahwa kemampuan kita untuk menjangkau adalah kasih yang kita terima dari Tuhan, dan kasih yang kita hayati.

Sebab itu Yesus, Yesus, dan Yesus, yang adalah kehadiran dan pemberian diri allah yang sempurna, adalah guru kita, adalah sumber energi kita, adalah teman seperjalanan kita, adalah orang yang bermisi dengan kita, dan adalah orang yang ber-STFT dengan kita. Hingga 25 tahun hari ini.

Tetapi kita baru sampai di akhir zaman kalau Tuhan berkenan demikian. Amin

Mahasiswa Tingkat II STFT Sinaksak T.A. 2007-2008. (Saya ada di barisan paling belakang.)

Tulisan ini adalah hasil transkrip dengan gubahan seperlunya dari audio kiriman P. Benny Manurung, OFM Cap.

 

Kritik Seni

Dear warga Boemi, pernahkah mendengar istilah kritik? Atau bahkan kamu sendiri melakukan kritik tanpa menyadarinya?

Pada tulisan ini kita akan mengulas arti kritik secara umum dan beranjak ke kritik seni beserta penjelasan ringkasnya.

Apa itu Kritik

Kritik adalah tanggapan yang umum diberikan oleh seseorang ketika mengapresiasi ide atau gagasan orang lain. Ketika diperkenalkan pada kritik seni, banyak orang mengaitkan kata ‘kritik’ dengan konotasi negatifnya. Kritik identik dengan ekspresi ketidaksetujuan seseorang atau sesuatu berdasarkan kesalahan atau kesalahan yang dirasakan.

Ini tidak sepenuhnya benar. Ditransliterasi dari istilah bahasa Inggris ‘criticism‘ tidak hanya berupa ketidaksetujuan atas pendapat seseorang (the expression of disapproval of someone or something based on perceived faults or mistakes), tetapi juga analisi dan penilaian atas manfaat dan kekurangan pada sebuah karya sastra maupun seni (the analysis and judgment of the merits and faults of a literary or artistic work).

Kritik tidak mengacu pada stereotip ketidaksetujuan semata. Kritik yang baik justru adalah tanggapan yang tidak hanya mencari kesalahan, tetapi juga memperlihatkan keunggulan dan menunjukan kemungkinan-kemungkinan yang diambil untuk memperbaiki kesalahan gagasan yang dikritik tersebut.

Dalam bidang keilmuan, kritik adalah tanggapan evaluatif untuk menilai dan mengoreksi suatu gagasan yang dapat terjadi di segala bidang kehidupan manusia. Orang yang melakukan kritik disebut kritikus (dalam bahasa Inggris ‘critic‘).

Kritik Seni

Membuat kritik seni berarti mempelajari kekurangan dan kelebihan dari suatu karya seni dengan memberikan alasan berdasarkan berbagai analisa dan pengkajian. Kelebihan dan kekurangan itu dipergunakan dalam bermacam hal, terutama sebagai bahan untuk mengetahui kualitas dari sebuah karya.

Kritik dimulai dari hasil pengamatan sekilas atas sebuah karya seni (apersepsi) yang memunculkan kebutuhan untuk memahami (apresiasi), kemudian beranjak pada kebutuhan analisa lebih lanjut bahkan mendapatkan kesenangan dari kegiatan berdiskusi mengenai hal-hal yang berkaitan dengan karya seni tersebut. Maka, setiap orang bisa melakukan apersepsi. Setiap orang juga bisa melakukan apresiasi pada kadar tertentu. Akan tetapi, tidak setiap orang bisa menghasilkan kritik seni karena untuk itu ia akan membutuhkan pengetahuan dan kecakapan analisa pada bidang seni yang bersangkutan.

Seiring dengan perkembangan pemikiran seni dan kebutuhan publik terhadap dunia seni, kegiatan kritik kemudian berkembang dan mengisi berbagai fungsi sosial lainnya.

Esensi Kritik Seni

Kritik seni merespon, menafsirkan makna, dan membuat penilaian kritis tentang karya seni tertentu. Kritik seni membantu pemirsa memahami, menafsirkan, dan menilai karya seni. Biasanya Kritikus cenderung lebih fokus pada seni modern dan kontemporer dari budaya yang dekat dengan budaya mereka sendiri. Sementara Sejarawan seni cenderung mempelajari karya yang dibuat dalam budaya yang lebih jauh dalam ruang dan waktu.

Kritik karya seni (baik seni rupa maupun seni musik) tidak hanya meningkatkan kualitas apresiasi dan pemahan terhadap sebuah karya, tapi dipergunakan juga sebagai standar tersendiri untuk meningkatkan kualitas hasil berkarya. Tanggapan yang disampaikan oleh seorang kritikus ternama akan sangat mempengaruhi persepsi apresiator terhadap kualitas sebuah karya seni hingga dapat mempengaruhi penilaian harga dari karya tersebut.

Fungsi Kritik Seni

Pertama, menjembatani persepsi dan apresiasi artistik dan estetik karya seni antara pencipta (seniman, artis), karya, dan penikmat seni. Komunikasi antara karya yang disajikan kepada penikmat (publik) seni membuahkan interaksi timbal-balik yang berkelanjutan diantara kedua pihak.

Kedua, menjadi dua mata panah yang saling dibutuhkan, baik oleh seniman maupun penikmat. Seniman membutuhkan mata panah tajam untuk mendeteksi kelemahan, mengupas kedalaman, serta membangun kekurangan. Seniman memerlukan umpan-balik guna merefleksi komunikasi-ekspresifnya, sehingga nilai dan apresiasi tergambar dalam realita harapan idealismenya.

Publik seni (masyarakat penikmat) dalam proses apresiasinya terhadap karya seni membutuhkan tali penghubung guna memberikan bantuan pemahaman terhadap realita artistik dan estetik dalam karya seni. Proses apresiasi menjadi semakin terjalin lekat, manakala kritik memberikan media komunikasi persepsi yang memadai. Kritik dengan gaya bahasa lisan maupun tulisan yang berupaya mengupas, menganalisis serta menciptakan sudut interpretasi karya seni, diharapkan memudahkan bagi seniman dan penikmat untuk berkomunikasi melalui karya seni.

Jenis Kritik Seni

Oleh karena itu, kritik karya seni memiliki perbedaan jenis berdasarkan dari tujuan kritik (Feldman, 1967) yaitu:

  1. Kritik Populer (popular criticism)
    Kritik populer adalah jenis kritik seni yang ditujukan untuk konsumsi masyarakat pada umumnya. Tanggapan yang disampaikan melalui kritik jenis ini bersifat pengenalan karya secara umum. Dalam tulisan kritik populer, biasanya dipergunakan bahasa dan istilah-istilah sederhana yang mudah dipahami oleh masyarakat luas.
  2. Kritik Jurnalis (journalistic criticism)
    Kritik jurnalis adalah jenis kritik seni yang hasil tanggapan atau penilaiannya disampaikan secara terbuka kepada publik melaui media massa khususnya surat kabar. Kritik ini hampir sama dengan kritik populer, tetapi ulasannya lebih dalam dan tajam. Kritik jurnalistik sangat cepat mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap kualitas dari sebuah karya seni, karena sifat dari media massa dalam mengkomunikasikan hasil tanggapannya.
  3. Kritik Keilmuan (scholarly criticism)
    Kritik keilmuan merupakan jenis kritik yang bersifat akademis dan memerlukan wawasan, pengetahuan, kemampuan dan kepekaan yang tinggi untuk menanggapi sebuah karya seni. Kritik jenis ini umumnya disampaikan oleh seorang kritikus yang sudah teruji kepakarannya dalam bidang seni pada umumnya. Kritik yang disampaikan mengikuti kaidah-kaidah atau metodologi kritik secara akademis. Hasil tanggapan melalui kritik keilmuan seringkali dijadikan referansi bagi para penulis karya ilmiah lain atau kolektor, kurator, galeri dan institusi seni yang lainnya.
  4. Kritik Kependidikan (pedagogical criticism)
    Kritik kependidikan merupakan kegiatan kritik yang bertujuan mengangkat atau meningkatkan kepekaan artistik serta estetika pelajar seni. Jenis kritik ini umumnya digunakan di lembaga-lembaga pendidikan seni terutama untuk meningkatkan kualitas karya seni yang dihasilkan peserta didiknya. Kritik jenis kependidikan biasanya digunakan oleh pengajar bidang ilmu seni dalam mata pelajaran pendidikan seni.

Pemahaman terhadap keempat tipe kritik seni dapat menentukan pola pikir kita saat melakukan kritik seni. Setiap jenis mempunyai berbagai cara dan metode yang berbeda dari sudut pandang, sasaran, dan materi yang tidak sama.

Bentuk Kritik Seni

Selain berdasarkan tujuan, kritik seni memilik berbagai bentuk yang berbeda berdasarkan perbedaan pendekatan dan metode yang digunakan. Selain jenis kritik yang disampaikan oleh Feldman, berdasarkan landasan yang digunakan, dikenal juga beberapa bentuk kritik yaitu: kritik formalistik, kritik ekspresivistik dan instrumentalistik. Berikut adalah pemaparannya.

  1. Kritik Formalistik
    Melalui pendekatan formalistik, kajian kritik ditujukan utamanya terhadap karya seni sebagai konfigurasi aspek-aspek formalnya, aspek bentuk atau unsur-unsur pembentukannya. Pada sebuah karya lukisan misalnya, maka sasaran kritik lebih tertuju kepada kualitas penyusunan (komposisi) unsur-unsur visual seperti warna, garis, tekstur, dan sebagainya yang terdapat dalam karya tersebut. Kritik formalistik berkaitan juga dengan kualitas teknik dan bahan yang digunakan dalam berkarya seni.
  2. Kritik Ekspresivistik
    Pendekatan ekspresivistik dalam kritik seni, kritikus kemungkinan akan menilai dan menanggapi kualitas gagasan dan perasaan atau ekspresi yang ingin dikomunikasikan oleh seniman melalui sebuah karya seni. Kegiatan kritik ekspresivistik umumnya menanggapi kesesuaian atau keterkaitan antara judul, tema, isi dan visualisasi objek-objek yang ditampilkan dalam sebuah karya.
  3. Kritik Instrumentalistik
    Melalui pendekatan instrumentalistik sebuah karya seni dikritisi berdasarkan kemampuannya dalam upaya mencapai tujuan, moral, religius, politik atau psikologi. Pendekatan kritik ini tidak terlalu mempersoalkan kualitas formal dari sebuah karya seni tetapi lebih melihat aspek konteksnya baik saat ini maupun masa lalu. Sebuah lukisan misalnya, dikritisi tidak saja berdasarkan kualitas teknis penciptaan lukisannya saja tetapi keterkaitan antara objek, isi, tema dan tujuan serta pesan moral yang ingin disampaikan pelukisnya atau interpretasi pengamatnya terhadap konteks ketika karya tersebut dihadirkan, bukan hanya secara formalistik seperti yang telah dijelaskan diatas.

Tahapan Kritik Seni

Mengelompokan kritik seni beradasarkan tahapannya akan mempermudah proses menulis kritik. Dengan menggunakan tahapan-tahapan yang teratur kita akan lebih jeli untuk mempertimbangkan berbagai kelebihan dan kekurangan dari sebuah karya seni. Berdasarkan beberapa uraian tentang pendekatan dalam kritik seni, dapat dirumuskan tahapan-tahapan kritik secara umum sebagai berikut:

A. Deskripsi
Deskripsi adalah tahapan dalam kritik untuk memperhatikan, menemukan berbagai unsur terkecil seni, mencatat dan mendeskripsikan segala sesuatu yang dilihat apa adanya tanpa berusaha melakukan analisis atau mengambil kesimpulan terlebih dahulu. Untuk dapat mendeskripsikan dengan baik, seorang kritikus harus mengetahui istilah-istilah teknis yang umum digunakan dalam dunia seni rupa. Tanpa pengetahuan tersebut, maka kritikus akan kesulitan untuk mendeskripsikan fenomena menarik yang terdapat pada karya yang dilihatnya. Deskripsi harus menjawab pertanyaan ‘apa yang kita lihat?’ (hasil dari tindakan apersepsi).

Berikut contoh unsur dan prinsip yang dapat diikuti ketika melakukan analisis formal terhadap karya seni. Berbagai elemen yang merupakan deskripsi meliputi:

  • Bentuk seni adalah lukisan, patung atau salah satu media seni lain.
  • Medium apa yang digunakan, misal cat, batu, dll, dan teknik (alat yang digunakan).
  • Ukuran dan skala pekerjaan (hubungan dengan orang, bingkai atau konteks skala lain).
  • Elemen atau bentuk umum dalam komposisi, termasuk pembangunan struktur atau lukisan; identifikasi benda.
  • Deskripsi poros apakah vertikal, diagonal, horizontal, dan seterusnya.
  • Deskripsi garis, termasuk kontur seperti lembut, planar, bergerigi, dan seterusnya.
  • Deskripsi tentang bagaimana garis menggambarkan bentuk dan ruang (volume); membedakan antara garis objek dan garis komposisi. Misalnya: tebal, tipis, bervariasi, tidak beraturan, terputus-putus, tidak jelas, dan seterusnya
  • Hubungan antara bentuk, misalnya, besar dan kecil, tumpang tindih, dan seterusnya.
  • Deskripsi skema warna dan warna; palet.
  • Tekstur permukaan atau komentar lain tentang pelaksanaan pekerjaan.
  • Konteks objek: lokasi asli dan tanggal pembuatan.

B. Analisis formal
Analisis formal adalah tahapan dalam kritik karya seni untuk menelusuri sebuah karya seni berdasarkan struktur formal atau unsur-unsur pembentuknya.

Pada tahap ini seorang kritikus harus memahami unsur-unsur dan prinsip-prinsip seni serta ilmu penataan komposisi unsur dalam sebuah karya seni. Analisis formal berarti menentukan apa unsur dan prinsip yang digunakan dan memutuskan mengapa seniman menggunakan berbagai fitur tersebut untuk menyampaikan gagasannya.

Analisis ini menjawab pertanyaan, “Bagaimana seniman melakukannya?”

Setelah melakukan apersepsi dan apresiasi atas sebuah karya seni rupa, misalnya patung, kritikus harus mampu menjawab: “Bagaimana si perupa menghasilkan patung sebagus ini?”

Setelah melakukan apersepsi dan apresiasi atas sebuah karya seni musik, misalnya lagu pop, kritikus yang baik harus mampu menjawab: “Bagaimana si pencipta lagu menghasilkan lagu seindah ini?”

Untuk seni rupa, misalnya, elemen analisis formal meliputi:

  • Penentuan materi pelajaran melalui penentuan elemen ikonografi, misalnya peristiwa historis, alegori, mitologi.
  • Pemilihan fitur atau karakteristik yang paling khas baik garis, bentuk, warna, tekstur.
  • Analisis prinsip-prinsip seni rupa dan desain atau komposisi, misalnya, seimbang, jomplang
  • Kesatuan, irama, keselarasan.
  • Pembahasan tentang bagaimana elemen atau sistem struktural berkontribusi terhadap tampilan gambar atau fungsi.
  • Analisis penggunaan cahaya dan peran warna, misalnya, kontras, bayangan, dingin, hangat, warna sebagai simbol.
  • Perlakuan terhadap ruang, baik yang nyata maupun yang ilusi (termasuk penggunaan perspektif), misalnya, kompak, dalam, dangkal, naturalistik, acak.
  • Penggambaran gerakan dan bagaimana bentuk yang dihasilkan.
  • Efek medium tertentu yang digunakan
  • Persepsi seniman terhadap keseimbangan, proporsi dan skala (hubungan setiap bagian komposisi secara keseluruhan dan satu sama lain) dan emosi atau ekspresi yang dihasilkan.
  • Reaksi terhadap objek atau monumen

Untuk dapat melakukan analisis formal, kita harus mengerti mengenai unsur-unsur dari karya seni dan mengupasnya hingga pada bagian terkecil dengan detail yang ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan.

C. Interpretasi
Interpretasi adalah penafsiran makna atau isi sebuah karya seni meliputi tema yang digarap, simbol yang dihadirkan dan tanda-tanda lain yang dimunculkan. Penafsiran ini sangat terbuka sifatnya, dipengaruhi sudut pandang dan wawasan kritikusnya. Semakin luas wawasan seorang kritikus biasanya semakin kaya interpretasi karya yang dikritisinya.

Interpretasi harus dapat menjawab pertanyaan, ‘Mengapa seniman menciptakannya dan apa artinya’

Beberapa elemen yang merupakan interpretasi meliputi:

  • Ide utama: keseluruhan arti dari karya.
  • Pernyataan Interpretasi: dapatkah kita mengungkapkan apa yang kita pikirkan /tafsirkan tentang karya seni itu dalam satu kalimat?
  • Bukti: bukti apa yang ada di dalam dan di luar karya seni itu, untuk mendukung penafsiran kita.

Mengapa perlu interpretasi?

Karya seni memiliki “ketidakjelasan” dan dibutuhkan interpretasi. Interpretasi adalah argumen persuasif. Interpretasi tertentu lebih baik dari yang lain.

Ingatlah prinsip interpretasi berikut ketika kamu menulis kritik seni:

  1. Penafsiran seni yang baik lebih banyak menceritakan tentang karya seni itu sendiri daripada penafsirnya sendiri.
  2. Perasaan adalah panduan untuk interpretasi.
  3. Ada interpretasi yang berbeda, bersaing, dan kontradiktif terhadap karya seni yang sama.
  4. Interpretasi sering didasarkan pada pandangan dunia.
  5. Interpretasi tidak terlalu benar, tapi kurang lebih masuk akal, meyakinkan, mencerahkan, dan informatif.
  6. Interpretasi dapat dinilai berdasarkan koherensi, korespondensi, dan inklusivitas.
  7. Sebuah karya seni belum tentu tentang apa yang seniman inginkan.
  8. Seorang kritikus seharusnya tidak menjadi juru bicara seniman.
  9. Interpretasi harus menyajikan bagian terbaik karya, bukan bagian terlemahnya
  10. Objek penafsiran adalah karya seni, bukan seniman.
  11. Semua karya seni adalh bagian tentang dunia di mana ia muncul.
  12. Semua karya seni adalah bagian dari karya seni lainnya.
  13. Tidak ada penafsiran yang lengkap tentang arti sebuah karya seni.
  14. Makna sebuah karya seni mungkin berbeda dari kepentingan pemirsa.
  15. Interpretasi pada akhirnya adalah usaha komunal, dan masyarakat pada akhirnya mungkin akan mengoreksinya lagi.
  16. Interpretasi yang baik akan mengundang kita untuk melihat diri kita dan melanjutkan interpretasi menurut pendapat kita sendiri.

D. Evaluasi atau penilaian
Evaluasi merupakan tahapan yang menjadi ciri utama dari kritik karya seni jika dibandingkan dengan apresiasi. Evaluasi atau penilaian adalah tahapan dalam kritik untuk menentukan kualitas suatu karya seni dan biasanya akan dibandingkan dengan karya lain yang sejenis. Perbandingan dilakukan terhadap berbagai aspek yang terkait dengan karya tersebut baik aspek formal maupun aspek konteks.

Menilai sebuah karya berarti memberi penilaian dalam kaitannya dengan karya lain dan tentu saja mempertimbangkan aspek yang sangat penting dari seni visual maupun audio, yakni orisinalitasnya.

Berikut ini pertanyaan yang menjadi elemen penilaian.

  1. Apakah itu karya seni yang bagus?
  2. Kriteria: Kriteria apa yang menurut kita paling sesuai untuk menilai karya seni ini?
  3. Bukti: Bukti apa yang ada di dalam dan di luar karya seni yang berkaitan dengan setiap kriteria?
  4. Penilaian: Berdasarkan kriteria dan buktinya, apa penilaian kita tentang kualitas karya seni tersebut?

Mengevalusi atau menilai secara kritis dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Mengkaitkan sebanyak-banyaknya karya yang dinilai dengan karya yang sejenis
  2. Menetapkan tujuan atau fungsi karya yang ditelaah
  3. Menetapkan sejauh mana karya yang ditetapkan “menyimpang” dari yang telah ada sebelumnya.
  4. Menelaah karya yang dimaksud dari segi kebutuhan khusus dan segi pandang tertentu yang melatarbelakanginya.

Syarat bagi Kritikus Seni

Untuk dapat melakukan seluruh tahapan kritik seni, maka seorang kritikus seni harus memenuhi syarat ini, yakni berpikir kritis.

Sebetulnya kritik sudah sejak lama dilakukan oleh kita sebagai manusia. Dalam keseharian, kita secara sengaja atau tidak sengaja sering melontarkan kata, kalimat atau bahasa yang bersifat memberikan tanggapan, komentar, penilaian terhadap suatu karya apapun. Hal ini wajar karena manusia memiliki empat kemampuan sebagai kapasitas mental, yaitu :

  1. Kemampuan absortif, yaitu kemampuan mengamati
  2. Kemampuan retentif, adalah kemampuan mengingat dan mereproduksi
  3. Kemampuan reasoning, merupakan kemampuan menganalisis dan mempertimbangkan
  4. Kemampuan kreatif, kemampuan berimajinasi, menafsirkan, dan mengemukakan gagasan.

Keempat kapasitas mental ini harus digunakan ketika membuat kritik seni, terutama kapasitas reasoning dan kreatif.

Pisau Analisa Kritik Seni

Untuk dapat menghasilkan kritik seni, kritikus harus memiliki pengetahuan dan kecakapan dasar yang perlu pada bidang karya seni yang akan dikritisi. Tajam atau tumpulnya pisau analisa akan menentukan baik-buruknya kritik seni yang dihasilkan. Dari mana kritikus memperoleh pengetahuan dan kecakapan dasar tersebut?

Landasan keilmuan (dan pengetahuan) yang relevan akan membantu kritikus dalam mengupas persoalan kekaryaan seni. Misalnya sejarah seni rupa, Ilmu sejarah akan memberikan jalan wawasan tentang waktu dan ruang kekaryaan seni rupa. Dengan mempelajari perkembangan seni rupa di setiap pelosok dunia, maka luas bahan sebagai dasar pemikiran dan acuan arah bandingan menjadi lebih terbuka. Selain sejarah seni rupa, wawasan teori seni juga penting dimiliki oleh kritikus.

Teori seni meliputi ilmu seni, filsafat seni, unsur seni, antropologi seni, sosiologi seni, tinjauan seni modern dan kontemporer, dan lain-lain. Keilmuan akan memberi pijakan dan memperkokoh konstruksi kritik yang obyektif. Sehingga mata pisau kritik semakin akurat, dan memberi pula wawasan kepada publik seni dengan keyakinan yang kuat.

Seorang kritikus seni rupa tidak selalu harus seorang perupa, namun ilmu kesenirupaan harus dimilikinya. Pengalaman dan pergaulan dalam mengamati, menyelidiki, dan membandingkan proses berkarya seni rupa sebagai syarat yang tidak bisa dilepaskan dari seorang kritikus seni rupa.

Seorang kritikus seni musik tidak selalu harus seorang pemusik, namun ilmu seni musik harus dimilikinya. Pengalaman dan pergaulan dalam mengamati, menyelidiki dan membandingkan proses berkarya seni musik adalah syarat yang tidak bisa dilepaskan dari seorang kritikus seni musik.

Demikian juga untuk bidang seni lain yang lebih kompleks dan modern, seperti teater, film, tari.

Untuk mempertajam pisau analisa, seorang kritikus dapat mengemukakan hasil pandangan retrospektif. Memandang secara retrospektif berarti mengamati perkembangan seni masa lalu (mulai dari zaman prasejarah ) hingga fenomena seni masa kini akan memberi warna yang serasi bagi karya kritik seni.

Selain itu, upaya menyelidiki dan membandingkan kekayaan seni antara berbagai karya seni sejenis akan sangat membantu memperluas dan memperkaya khazanah kritik. Tidak hanya memahami seputar karya seninya, kritikus juga sebaiknya memahami pikiran, perasaan seniman penciptanya. Itulah sebabnya, biografi dan kehidupan seniman tidak lepas dari pengamatan kritikus bahkan kerap hadir menjadi bagian utuh dalam kritik seni yang dihasilkan, baik lisan maupun tulisan.

Metode yang digunakan akan berbeda satu sama lain sesuai dengan kebutuhan jenis kritik dan jenis karya seni itu sendiri.

Kesimpulan

Intinya, metode kritik adalah serangkaian prosedur (tata cara, etika) yang disesuaikan dengan tipe kritiknya. Misalnya, metoda kritik jurnalistik menggunakan tata cara jurnalis. Kritik akademik menggunakan tata cara akademis yang dikembangkannya.

Kritik seni menanggapi karya seni untuk menggemakan kelebihan dan kekurangan suatu karya seni pada publik. Pemahaman terhadap keempat tipe kritik seni dapat menentukan pola pikir kita dalam melakukan kritik seni. Begitu juga dengan pendekatan kritik seni yang dapat menggunakan berbagai metode dan pisau analisis yang berbeda. Perbedaan mazhab/aliran seni juga akan mempengaruhi cara melakukan kritik yang harus kita lakukan.

Sebenarnya yang sering kita temui dan amat dibutuhkan oleh masyarakat umum (yang kemungkinan besar tidak memiliki pemahaman mendalam terhadap bidang seni yang dinikmatinya) adalah kritik populer. Keadaan masyarakat yang semakin skeptis terhadap karya seni kontemporer perlu direspon dengan berbagai kritik seni yang dapat menjembatani seniman dan masyarakat umum sehingga proses berkesenian terus berlanjut dan pada gilirannya kesenian tetap memberikan sumbangsih pada peradaban masyarakat. Dengan demikian, selain kritik seni sendiri adalah karya. Melakukan kritik seni juga dapat disebut berkarya.

Mengingat pentingnya kritik seni, maka kamu sebagai warga Boemi tidak perlu ragu untuk mulai belajar membuatnya. Karya kritik seni yang dihasilkan awalnya mungkin tidak sempurna, tetapi seiring latihan yang berkelanjutan dan kemauan untuk terus mengasah pisau analitikmu, hasilnya akan semakin baik.

 


(Dikumpulkan dan diolah dari berbagai sumber)

Istilah Umum dalam Film dan Screenwriting

Dear warga BOEMI,

Pernah nggak sih saat saat ngomongin film dengan teman kamu, atau ketika mendengar ceramah dan celoteh alias penjelasan dari guru Seni Budaya, kamu tidak mengerti dengan istilah-istilahnya?

Pasti dalam hati kamu jadi malu. Apalagi kamu jadi tidak bisa mengikuti pembahasan topiknya. Belum lagi kalau ternyata nanti istilah itu masuk ujian, kebayang betapa repotnya kamu nanti.  Kalau kamu pernah mengalami hal tersebut, berarti istilah-istilah dalam dunia film dan penulisan skenario ini wajib kamu simak dan pahami.


1. Sekuel

Sekuel itu berarti kontinuitas cerita dari sebuah film yang pernah dibuat sebelumnya. Contoh: Transformer 2 merupakan sekuel cerita dari Transformer yang pertama; Dilan 1991 adalah sekuel dari Dilan 1990.

Meskipun demikian, sekuel tidak harus selalu merupakan kelanjutan dari film sebelumnya. Yang penting judul, tokoh dan asal usulnya masih satu benang merah dengan film pendahulunya. Untuk konteks Marvel, misalnya, sekuel ini bisa sangat banyak sampai harus dibagi lagi menjadi beberapa phase (fase).

Marvel sejak awal hingga sekarang sudah menyelesaikan deretan film berikut.

Captain America: The First Avenger (1942)
Captain Marvel (1995)
Iron Man (2010)
Iron Man 2 (2011)
The Incredible Hulk (2011)
Thor (2011)
The Avengers (2012)
Iron Man 3 (2012)
Thor: The Dark World (2013)
Captain America: The Winter Soldier (2014)
Guardians of the Galaxy (2014)
Guardians of the Galaxy 2 (2014)
Avengers: Age of Ultron (2015)
Ant-Man (2015)
Captain America: Civil War (2016)
Spider-Man: Homecoming (2016)
Doctor Strange (2016-2017)
Black Panther (2017)
Thor: Ragnarok (2017)
Ant-Man and the Wasp (2017)
Avengers: Infinity War (2017)
Avengers: Endgame (2018-2023)
Spider-Man: Far From Home (2023)

2. Prekuel

Berbeda dengan sekuel, prekuel adalah persis kebalikannya. Prekuel merupakan cerita asal usul yang melatarbelakangi kejadian film yang sebelumnya.

Contohnya: Monster University (terbit belakangan) yang menceritakan kejadian sebelum terjadinya Monster Inc. (terbit duluan).

Contoh lainnya: Trilogi The Hobbit (terbit belakangan) yang menceritakan kejadian di masa sebelum Lord of the Rings (terbit duluan).

3. Remake

Remake itu artinya dibuat ulang.  Jadi, sebuah film yang di-remake itu adalah penceritaan kembali sebuah film baik dirombak total atau masih menyerupai aslinya, namun tetap memiliki benang merah dengan film sebelumnya.

Contohnya: Internal Affairs, yang dibuat ulang menjadi The Departed. Contoh lainnya: Warkop DKI, di-remake menjadi Warkop DKI Reborn: Djangkrik Boss (part 1) dan Warkop DKI Reborn: Djangkrik Boss (part 2). Bahkan, karena antusiasme penonton sangat besar, versi remake ini dibuat lagi sekuelnya menjadi Warkop DKI Reborn: Djangkrik Boss (part 3) dan Warkop DKI Reborn: Djangkrik Boss (part 4).

4. Reboot

Istilah reboot sebetulnya tidak terlalu berbeda dengan remake dalam dunia perfilman. Umumnya disepakati bahwa reboot itu biasanya tidak berbeda cerita dalam pembuatan antara versi pertama dan versi kedua (versi reboot). Jadi, hanya diproduksi ulang untuk menghidupkan karakter dengan kondisi yang lebih fresh sesuai dengan perkembangan zaman.

Contohnya:  Fantastic Four dan Hitman Agent 47.

5. Spin Off

Spin off merupakan film yang dibuat untuk secara khusus menceritakan suatu kejadian yang dialami sebuah karakter yang memiliki fanbase sendiri. Spin off ini adalah film pribadi seorang karakter yang memiliki perhatian yang besar dalam dunia perfilman.

Contohnya: X-Men Origins: Wolverine dan Minions.

6. Twist

Twist didalam sebuah film itu adalah sebuah ending atau alur cerita yang tidak terduga oleh penonton dan biasanya juga tidak mempunyai clue/hint (petunjuk)  sama sekali di cerita sebelumnya.

7. Trilogy

Trilogi merupakan film yang dibuat hanya sampai 3 bagian saja dan tidak ada kelanjutannya lagi Stars.

Contohnya: Batman, Spiderman, Lord of The Rings dan The Hobbit.

8. BCU (BIG CLOSE UP)

Pengambilan gambar dengan jarak yang sangat dekat. Biasanya, untuk gambar-gambar kecil agar lebih jelas dan detail, seperti anting tokoh.

9. CAMERA FOLLOW

Petunjuk pengambilan gambar dengan cara mengikuti pergerakan obyek.

10. CAMERA PAN TO

Petunjuk pengambilan gambar dengan cara mengalihkan kamera kepada obyek yang dituju dari obyek sebelumnya.

12. COMMERCIAL BREAK

Jeda iklan. Penulis skenario harus memperhitungkan jeda ini, dengan memberi kejutan atau suspense agar penonton tetap menunggu adegan berikutnya.

12. CREDIT TITLE

Penayangan nama tim kreatif dan orang yang terlibat dalam sebuah produksi.

13. CU (CLOSE UP)

Pengambilan gambar dengan jarak yang cukup dekat. Biasanya, untuk menegaskan detail sesuatu seperti ekspresi tokoh yang penting, seperti senyum manis atau lirikan mata. Tokoh biasanya muncul gambar wajah saja. Bisa juga untuk menyembunyikan detail pada seorang karakter, seekor hewan atau sebuah objek.

14. CUT BACK TO

Transisi perpindahan dalam waktu yang cepat untuk kembali ke tempat sebelumnya. Jadi, ada satu kejadian di satu tempat, lalu berpindah ke tempat lain, dan kembali ke tempat semula.

15. CUT TO FLASH BACK

Petunjuk untuk mengalihkan gambar ke adegan flash back. 

16. CUT TO

Mengakhiri adegan secara langsung tanpa proses transisi. Perpindahan untuk menggambarkan peristiwa yang terjadi bersamaan, tetapi di tempat yang berbeda atau kelanjutan adegan di hari yang sama. Transisi cut to kerap digunakan untuk menekankan lagi perubahan karakter atau  perpindahan/pergerakan emosi. Singkatnya, cut to menggambarkan perubahan adegan pada sebuah frame film.

17. DISSOLVE TO

Perpindahan dengan gambar yang semakin lama semakin kabur sebelum berpindah ke adegan berikutnya.

18. ESTABLISHING SHOT

Pengambilan gambar secara keseluruhan, biasa disingkat ESTABLISH saja.

19. EXT. (EXTERIOR)

Menunjukan tempat pengambilan gambar diluar ruangan.

20. FADE IN

Petunjuk transisi memasuki adegan secara perlahan dan smooth dari situasi gelap total menuju sebuah adegan.

21. FADE OUT

Petunjuk transisi mengakhiri adegan secara perlahan dan smooth dari layar menuju gelap total.

22. FLASH BACK CUT TO

Petunjuk untuk mengakhiri adegan flash back.

23. FLASHBACK

Ulangan atau kilas balik peristiwa. Biasanya, gambarnya dibedakan dengan gambar tayangan sekarang.

24. FLASHES

Penggambaran sesuatu yang belum terjadi dalam waktu cepat. Misalnya: momen orang melamun.

25. FREEZE

Aksi pada posisi terakhir. Harus diambil adegan yang terjadi pada tokoh utama dan dapat membuat penonton penasaran sehingga membuat penonton bersedia menunggu kelanjutannya.

26. INSERT

Sisipan adegan pendek, tetapi penting di dalam satu scene. Sering dimaksudkan sebagai petunjuk halus akan kejadian yang akan terjadi pada menit-menit berikutnya, entah secara langsung berurutan maupun acak dalam rangkaian film.

27. INT. (INTERIOR)

Pengambilan gambar pada jarak jauh. Biasanya untuk gambar yang terlihat secara keseluruhan.

28. INTERCUT

Perpindahan dengan cepat dari satu adegan ke adegan lain yang berbeda dalam satu kesatuan cerita.

29. LS (LONG SHOT)

Pengambilan gambar pada jarak jauh. Biasanya untuk gambar yang terlihat secara keseluruhan. Contohnya: pada tren saat ini, digunakan drone untuk menunjukkan keseluruhan kota (sky view) dimana lokasi-lokasi syuting film terjadi sehingga penonton menangkap kesan bahwa peristiwa itu benar-benar terjadi (sekalipun hanya dalam film).

30. MAIN TITLE

Judul cerita pada sinetron atau film.

31. MONTAGE

Beberapa gambar yang menunjukkan adegan berurutan dan mengalir. Bisa juga menunjukkan beberapa lokasi yang berbeda, tetapi merupakan satu rangkaian cerita.

32. OS (ONLY SOUND)

Suara orang yang terdengar dari tempat lain; berbeda tempat dengan tokoh yang mendengarnya.

33. PAUSE

Jeda sejenak dalam dialog, untuk memberi intonasi ataupun nada dialog.

 

34. SCENE

Berarti adegan atau bagian terkecil dari sebuah cerita.

35. SFX (SOUND EFFECT)

Untuk suara yang dihasilkan di luar suara manusia dan ilustrasi musik. Misalnya: suara telepon berdering, bel sekolah.

36. SLOW MOTION

Gerakan yang lebih lambat dari biasanya. Untuk menunjukkan hal yang dramatis.

37. SPLIT SCREEN

Adegan berbeda yang muncul pada satu frame atau layar.

38. TEASER

Adegan gebrakan di awal cerita untuk memancing rasa penasaran penonton agar terus mengikuti cerita.

39. VO (VOICE OVER)

Orang yang berbicara dalam hati. Suara yang terdengar dari pelakon namun bibir tidak bergerak. Disebut juga NARASI (NARRATION)

40. ZOOM IN

Petunjuk gerakan kamera dengan menyorot obyek dari jauh sampai dekat atau close-up

41. ZOOM OUT

Petunjuk gerakan kamera dengan menyorot obyek dari dekat sampai jauh.

42. ANGLE ON

Istilah ini digunakan untuk menyorot sebuah obyek spesifik. Tujuannya untuk menunjukkan bahwa sudut kamera yang berbeda akan dibuat dari bidikan sebelumnya.

43. BACK TO/BACK TO SCENE

Kamera kembali ke posisi syuting awal setelah sebelumnya menyorot posisi berbeda.

44. BEAT

Istilah ini digunakan untuk menunjukkan situasi dimana kalimat tertentu atau action tertentu yang dilakukan karakter tiba-tiba berhenti. Sering juga disebut sebagai “action dalam adegan atau “insiden dalam adegan.

45. CLOSE SHOT

Sorotan kamera hanya pada bagian kepala dan bahu sebuah karakter.

 

46. DOLLY IN/DOLLY OUT

Pergerakan kamera mendekat ke atau menjauh dari sebuah subjek, termasuk gerakan fisik kamera itu sendiri.

47. EXTREME CLOSEUP (E.C.U.)

Sorotan kamera yang secara ekstrem berfokus atau menyembunyikan detail pada seorang karakter, seekor hewan atau sebuah objek.

48. EXTREME LONG SHOT

Sorotan kamera yang diambil dari jarak yang sangat jauh dari sebuah subjek.

49. FOREGROUND (f.g.)

Area dari sebuah adegan (objek atau action) yang paling dekat ke kamera. Biasanya ditulis “f.g.” saja.

50. FREEZE FRAME

Arah pergerakan kamera dimana sebuah frame tunggal diulang pemutarannya selama beberapa kali secara terus-menerus untuk memberi ilusi bahwa semua action sudah berhenti.

51. INSERT

Sebuah sorotan dalam adegan yang mengajak penonton untuk memperhatikan kepingan informasi spesifik, biasanya sebuah objek yang tidak hidup.

 

52. ISOLATE

Fokus tinggi terhadap sebuah objek atau karakter.

53. JUMP CUT

Akselerasi berlebihan atas sebuah action natural yang menunjukkan kontinuitas sebuah action, posisi kamera atau perjalanan waktu.

Contoh jumpcut: Sorotan terhadap seorang karakter yang berawal dari frame kiri, dan dalam sekejap mata sudah sampai di frame kanan. Dia tampak ‘melompat’ (jump) ke sisi kanan.

54. LIGHTS UP

Transisi pada format Panggung (Stage) yang menunjukkan awal dan proses penjelajahan sebuah adegan panggung dengan memberi efek pencahayaan secara intens ke area tertentu.

 

55. MAGIC

Singkatan dari “Magic Hour,” yakni periode waktu yang singkat menjelang matahari terbenam (sunset).

56. MEDIUM SHOT (MED. SHOT)

Sorotan kamera ke seorang karakter mulai dari pinggang hingga ke atas.

57. MOVING / MOVING SHOT

Sorotan kamera yang mengikuti apapun objek yang sedang disorot.

 

58. OFFSCREEN (O.S.)

Menandakan karakter sedang berbicara tapi tidak terlihat di frame, hanya suara saja yang terdengar. Ditulis “O.S” saja.

59. PAN

Dari kata “panorama”, dimana kamera bergerak secara bertahap dari kanan ke kiri atau sebaliknya tanpa berhenti. Tujuannya supaya perhatian penonton beranjak ke objek atau setting lain tanpa memotong adegan.

60. POINT OF VIEW (P.O.V.)

Posisi kamera menggunakan sudut pandang karakter tertentu, dimana si karakter sedang terlibat dalam adegan yang sedang berlangsung. Ditulis “P.O.V” saja.

61. SUPER (SUPERIMPOSE)

Efek yang diciptakan dengan menumpuk sebuah gambar menimpa gambar yang lain.

62. TWO-SHOT

Sorotan kamera ke dua orang sekaligus, biasanya dari pinggang ke atas.

63. WIDE SHOT

(sama dengan Long Shot)

64. WIPE

Corak transisi yang dihasilkan dengan menunjukkan beberapa gambar (images)  tampak bergerak ke arah (atau mendorong) gambar lainnya keluar dari layar.

 


Sumber:

  1. Star Radio 1073 FM
  2. Radio Times
  3. Insider
  4. Final Draft
  5. Blog Asia Sekarsari
  6. Kreatif Production
  7. Video Youtube: From Script to Screen
  8. ScreenCraft

 

[Penulisan Skenario]: Mengapa sudah Setengah Jalan, lalu Bingung Melanjutkan?

Rancangan karaktermu sudah lumayan. Kamu merasa sudah oke dengan rancangan fase karakter. Kamu merasa sudah memilah-milah mana sifat bawaan lahir, sifat hasil pengalaman, dan gambaran si karakter di mata penonton. Tetapi di tengah proses menulis, kamu kebingungan sendiri. Menulis naskah skenario memang adalah sebuah proses kreatif yang tak sepenuhnya bisa dijadwalkan secara hitungan matematis yang ketat. Meski demikian, bukan berarti kamu bisa ngeles dan menunda-nunda dengan alasan: Ah, masih mandek. Belum ada ide“. 

Pernah mengalami situasi seperti ini?

Jika pernah, atau jangan-jangan kamu sekarang mengalaminya persis ketika membaca tulisan ini, panduan ini bisa membantumu melanjutkan tulisanmu. Lalu kamu bisa kembali menggerakkan jemarimu di keyboard laptop atau perangkat mobile-mu.

Proses berkesenian adalah proses kreatif. Maka, jika benar kamu sudah memiliki konsep utuh untuk skenariomu, maka tidak ada alasan untuk mengatakan belum ada ide.

Seorang rahib sekaligus pelukis mencatat apa saja yang perlu sebelum ia mulai melukis.

Panduan ini disusun supaya ide kreatif yang kamu miliki bisa mengalir dengan lancar tanpa kamu perlu khawatir berlebihan terhadap hal teknis pada pemformatan naskah skenariomu. Entah dengan Microsoft Word, Google Docs, Word Pad atau aplikasi mengetik lainnya, kamu bisa membuat template sendiri atau tinggal melanjutkan tulisan menggunakan template yang sudah disediakan guru atau instruktur. Prinsipnya, template yang sudah ada itu dapat diikuti secara tradisional dan mudah.


Ketika di tengah proses penulisan, misalnya ada gagasan tambahan tertentu muncul di pikiranmu (entah itu yang berkaitan maupun tidak berkaitan secara langsung), kamu bisa membuat catatan di bagian bawah dokumen Word (atau dengan Comment di Google Docs). Yang penting gagasan itu sudah ada disana. Kapan kamu perlu, kamu tinggal kembali ke catatan itu dan mengembangkan kalau kamu sudah punya waktu.

Sebelum menulis skenario, tanyakanlah hal-hal berikut pada dirimu sendiri:


A. Perihal konsep utuh skenario

  • Apakah karakter dan plot (alur cerita) sudah kamu susun jelas dan runtut (bisa kamu bayangkan dengan mudah dalam pikiranmu)?
  • Bisakah kamu memvisualisasikannya sampai pada level detail tertentu?
  • Sudahkah kamu memiliki gagasan yang jelas untuk detail cerita bahkan sebelum kamu mulai menulis dengan tulisan tangan atau mengetik di laptop kamu?
  • Apakah kamu sudah mencermati dengan sungguh pada bagian opening, inti cerita, dan ending?
  • Apakah bagian opening sudah cukup menarik perhatian seseorang dalam beberapa baris kalimat saja sehingga orang itu tidak langsung bosan bahkan sebelum naskah itu diceritakan?

B. Perihal penyiapan karakter:

  • Sudahkah kamu merumuskan kepribadian dan bahasa tubuh si karakter?
  • Sudahkah kamu menanamkan dalam pikiranmu bagaimana karaktermu seharusnya muncul/kelihatan di layar nanti?
  • Sudahkan kamu memberi perhatian yang cukup pada umur, penampilan, kebiasaan dan pola kelakuan yang kamu inginkan pada karaktermu?
  • Sudahkah kamu membuat dasar pikir sehingga sutradara dan desainer kostum mampu bekerja untuk membuat karaktermu benar-benar hidup?
  • Apakah daftar lokasi sudah kamu pikirkan/rampungkan?
  • Siapa target penonton atau audiensmu? Seperti apa sih mereka?
  • Ingatlah, kamu selalu bisa berimprovisasi hingga kamu sendiri puas dengan keseluruhan bangunan cerita skenariomu. Akan tetapi, sangat baik kalau kamu menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas terlebih dahulu sebelum kamu mulai menulis naskah. Bagian opening akan sangat penting dan kritis untuk menarik perhatian audiens. Ketika menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, posisikanlah dirimu pada posisi penonton.

Naskah skenario (screenplay) tentu kamu harapkan akan benar diwujudkan menjadi sebuah film, bukan untuk dibuang ke tempat sampah. Ini adalah sikap optimis yang sebaiknya dimiliki setiap pelaku seni. Tentu kita tidak akan mulai menulis cerita jika di awal sudah yakin bahwa cerita itu tidak akan didengar orang. Tentu kita tidak akan mencipta lagu jika di awal sudah yakin bahwa tidak akan ada orang yang mendengar lagu itu.


C. Naskah itu harus komunikatif secara visual.

  • Jika kamu ingin membangun adegan sedih, tulislah naskah yang sesuai dengannya: sebuah adegan yang gelap dan tenang baik secara visual (dalam deskripsi adegan) maupun secara verbal (dalam dialog).
  • Sebaliknya, jika kamu ingin membangun adegan yang ceria dan hidup-hidup, tulislah dalam suasana yang penuh warna dan cerah.
  • Ingatlah, yang kamu lakukan sekarang adalah menceritakan sebuah kisah melalui lensa kamera, bukan menuliskan sebuah buku (dimana kamu bisa menyisakan banyak hal untuk imajinasi pembaca)

D. Perihal pengenalan karakter

Pengenalan karakter harus mendetail dan akurat sehingga aktor dan aktris bisa membawa ceritamu hidup di layar. Ingatlah, medium visual ini sangat kuat dan mengandung banyak detail-detail yang sangat halus sekali. Semakin deskriptif, semakin bagus naskahmu.

Dengan rumusan yang sudah kamu kerjakan perihal fase karakter (ketika lahir hingga ketika menjalani kehidupannya) dan aspek karakter (kekuatan – kelemahan – keinginan – kebutuhan), nyatakanlah hal-hal berikut dalam perkenalan karakter:

  • Appearance: tampilan/penampilan/rupa/wajah
  • Attire: pakaian, aksesoris tubuh
  • Habits: kebiasaan
  • Body language: bahasa tubuh

Lalu, sampai sedalam mana kamu ingin mensketsakan karakter?

Untuk karakter utama, sebaiknya rumuskan secara mendetail sehingga penonton bisa mengenal mereka dengan baik. Sementara untuk peran pembantu atau tokoh figuran, buat secara singkat saja.


E. Tempat yang baik untuk menulis

Tulislah naskahmu di tempat yang kamu rasa nyaman dan menginspirasimu untuk menulis. Bagi beberapa orang, alam terbuka dengan pepohonan atau taman penuh bunga adalah lokasi terbaik untuk mencari inspirasi dan memancing ide mengalir.

Bagi sebagian orang lain lagi, duduk di dekat jendela dengan laptop di depan dengan ditemani secangkir kopi adalah pilihan paling tepat.

Lokasi favorit untukmu menulis, dimana?


F. Menulis itu Mencatat Ingatan

Sebisa mungkin jangan menyisakan ruang ambiguitas: be as clear as possible.
Jangan bergantung pada ingatan karena ini yang paling sering membuatmu gagal menyelesaikan naskah. Atau membuatmu berdalih belum ada ide seperti di bagian awal tulisan ini. Jika ide datang, catatlah. Tidak cukup hanya dengan mengingatnya. Mencatat itu artinya menitipkan ingatanmu pada pihak lain sehingga kapan kamu butuh kamu bisa memintanya kembali. Pihak lain itu bisa berupa pena dan kertas, file di perangkat, atau bahkan sekedar coretan untuk menyimpan ingatanmu.

Seburuk-buruknya catatan tetap lebih baik dibanding sebaik-baiknya ingatan. 

Template Screenplay di Microsoft Word

Masuklah dengan akun sch.id SMA Budi Mulia Pematangsiantar yang kamu gunakan saat ini untuk melihat dokumen Template untuk Menulis Skenario di Microsoft Word yang sudah Saya susun ini.

Klik gambar ini untuk mendapatkan template gratis yang dimaksud.

Suasana kelas yang direkayasa saat persiapan Pentas Seni SMA Budi Mulia Pematangsiantar “TERBANG BERSAMA BOEMI”

Lirik “A Million Dreams” – The Greatest Showman”

[Ziv Zaifman]
I close my eyes and I can see
The world that’s waiting up for me
That I call my own
Through the dark, through the door
Through where no one’s been before
But it feels like home

They can say, they can say it all sounds crazy
They can say, they can say I have lost my mind
I don’t care, I don’t care, so call me crazy
We can live in a world that we design

‘Coz every night I lie in bed
The brightest colors fill my head
A million dreams are keeping me awake
I think of what the world could be
A vision of the one I see
A million dreams is all it’s gonna take
A million dreams for the world we are gonna make

There’s a house we can build
Every room inside is filled
With things from far away
The special things I compile
Each one there to make you smile
On a rainy day

They can say, they can say it all sounds crazy
They can say, they can say we have lost our minds
I don’t care, I don’t care if they call us crazy
Runaway to a world that we design

[Hugh Jackman]
Every night I lie in bed
The brightest colors fill my head
A million dreams are keeping me awake
I think of what the world could be
A vision of the one I see
A million dreams is all it’s gonna take
A million dreams for the world we are gonna make

[Michelle Williams, with Hugh Jackman]
However big, however small
Let me be part of it all
Share your dreams with me
You may be right, you may be wrong
But say that you are bring me along
To the world you see
To the world I close my eyes to see
I close my eyes to see

[Hugh Jackman, Michelle Williams, together]
Every night I lie in bed
The brightest colors fill my head
A million dreams are keeping me awake
A million dreams, a million dreams
I think of what the world could be
A vision of the one I see
A million dreams is all it’s gonna take
A million dreams for the world we are gonna make

For the world we are gonna make

Penulisan Skenario: Tujuan dan Halangan

Secara teoretis, karakter, tujuan dan halangan harus dirumuskan secara seimbang. Sama kuat dan sama berbobot. Meskipun demikian, pada prakteknya, kadang-kadang bobot antara ketiga hal ini tidak seimbang.

Ada film yang sangat ditentukan oleh karakter. Dalam drama percintaan semisal sinetron-sinetron yang saat ini tayang di televisi Indonesia, alur cerita sangat di-drive (digerakkan) oleh karakter. Tujuan dan halangan tidak begitu kelihatan.

Mungkin ini juga yang membuat sinetron Indonesia kurang diminati. Atau diminati tetapi dihargai rendah. Ditambah lagi sudah banyak film dan drama asing yang bisa diakses oleh penonton di Indonesia, yang dihargai tinggi karena bobot antara karakter, tujuan dan halangannya seimbang.

Itulah sebabnya, sebaiknya kaidah keseimbangan ini tetap dijunjung tinggi oleh setiap penulis skenario, yakni keseimbangan antara karakter, tujuan dan halangan.

TUJUAN

Ada 3 kriteria sebuah tujuan, yakni relatable, urgent dan risky. Kita bahas satu persatu.

Pertama, tujuan harus relatable. “Relatable” (padanan kata dalam bahasa Indonesia yang paling dekat ialah “kena” atau “mengena”). Ini sangat penting. Seorang penulis lakon yang merencanakan sebuah karakter, dan ia menganggapnya penting. Tetapi jika penonton tidak bisa memahami, maka percuma juga.

Sebagai contoh, si screenwriter membuat premis: Seorang karyawan yang ingin menjadi stand up comedian, tetapi tidak didukung oleh isterinya. Sebagai premis, pernyataan ini tidak salah. Ia memenuhi perumusan sebuah premis, yakni memuat karakter, tujuan dan halangan. Akan tetapi, profesi stand up comedian masih belum umum untuk penonton Indonesia. Maka, jika ia hendak mempertahankan premis ini, si penulis skenario harus menyelesaikan banyak PR untuk membahas dunia profesional seorang stand up comedian (mematangkan karakter).  Barulah kemudian, ia bisa mengulas mengapa kurangnya dukungan seorang isteri tidak terhadap keinginan si karakter utama (si suami) menjadi halangan yang kuat.

Itulah sebabnya, seorang penulis skenario harus banyak membaca dan mengamati. Ia harus memperkaya diri dengan realitas sosial-budaya penontonnya. Setelah ia paham, barulah ia bisa mengangkat sebuah premis yang mengena dengan mereka.

Kedua, tujuan itu harus urgen. Tujuan harus memiliki deadline yang jelas. Jika tidak ada urgensi, penonton akan bertanya: “mengapa tujuan itu harus dicapai sekarang?” Pada premis di atas, misalnya, kalau saat ini si suami tidak didukung isteri menjadi stand up comedian, ia kan masih bisa memulainya tahun depan atau tahun depannya lagi. Mengapa harus sekarang?

Pada Cek Toko Sebelah, urgensi dari tujuan menjadi jelas karena kesehatan Koh Afuk (karakter utama) terganggu. Ia harus segera mewariskan legacy yang dia inginkan. Jika tidak segera terjadi, maka si karakter utama keburu meninggal sebelum tujuan tercapai. Dalam Susah Sinyal, si ibu harus segera memperbaiki hubungannya dengan putrinya sepeninggal si nenek yang selama ini mengasuh putrinya. Jika tidak segera terjadi, maka hubungan si anak dan si ibu akan semakin parah dan susah untuk diperbaiki kembali.

Ketiga, tujuan itu harus risky (memiliki resiko). Artinya, tujuan itu harus memiliki resiko bagi banyak orang, bukan hanya untuk si karakter dan si penulis. Kalau tujuan tidak tercapai, apa resikonya? Dalam Avengers: Endgame (2019), misalnya, kalau Thanos tidak bisa dikalahkan maka populasi dunia akan hilang setengah.

HALANGAN

Halangan dapat dirumuskan dari salah satu atau lebih dari ketiga faktor ini.

Pertama, halangan yang berasal dari diri sendiri. Jika, kelemahan sebuah karakter sedemikian besar, bahkan tanpa ada penjahat (villain) pun bisa jadi kelemahan diri sendiri sudah menjadi halangan untuk mencapai tujuannya sendiri.

Kedua, halangan yang berasal dari karakter lain. Karakter lain ini bisa manusia, setan, bencana alam, dan lain-lain. Tergantung jenis film yang sedang dirancang skenarionya.

Ketiga, halangan yang berasal dari keadaan. Keadaan yang dimaksud bisa berasal dari situasi keluarga dimana karakter utama dibesarkan. Bisa juga situasi masyarakat, sistem perundangan yang berlaku, struktur sosial yang buruk, atau komunikasi yang buruk di antara para karakter-karakter.

 

Pandemi dan Disrupsi Mempertegas Urgensi Heutagogi di Sekolah

Disrupsi dan Pandemi

Sudah sejak beberapa tahun lalu, istilah disruption era (era disrupsi) semakin terbiasa terdengar dan terbaca kita. Mungkin ada yang belum pernah mendengarnya. Disrupsi adalah gangguan yang mengakibatkan industri tidak berjalan seperti biasanya karena bermunculannya kompetitor baru yang jauh lebih efisien dan efektif, serta penemuan teknologi baru yang mengubah peta bisnis. Contoh yang sering dirujuk adalah ojek pangkalan dengan ojek aplikasi (Gojek atau Grab). Kita bisa lihat, tren ini masih berlanjut dan sepertinya akan terus dalam pola itu.

Saya melihat bahwa pola ini memiliki interseksi yang cukup kuat dengan apa yang menimpa kita di seluruh dunia sekarang ini, yakni pandemi COVID-19 dengan segala dampaknya terhadap seluruh aspek kehidupan kita. Interseksi itu terutama menjadi jelas pada dunia pendidikan Indonesia.

Persisnya interseksi itu terjadi karena era disrupsi mengubah daftar pekerjaan yang dibutuhkan oleh dunia kerja (yang sering tidak diajarkan di sekolah). Sementara itu, pandemi mengubah cara belajar dan materi belajar yang perlu (yang sering tidak terjadi di sekolah).

Karir di Sekolah: Mana yang Masih Relevan?

Bagi para tenaga pendidik, setidaknya kenyataan ini mengajarkan kita bahwa ada dua jenis karir di sekolah dan masa depannya.

Pertama, yang expendable alias mudah digantikan mesin.  Keniscayaan otomatisasi yang diakselerasi oleh paduan big data dan AI (artificial intelligence) membuat pekerjaan lama (yang dulunya diimpikan sebagai tempat berlabuh para siswa dengan kurikulum sekolah yang ada saat ini) akan semakin tidak dibutuhkan lagi. Untuk karir di sekolah saja misalnya, profesi seperti guru les mengetik, tukang ketik, guru sejarah, entry data di tata usaha sekolah diyakini akan semakin sedikit dibutuhkan, atau malah hilang sama sekali. Ini sangat masuk akal karena kodrat dari pekerjaan itu sangat mungkin diambil alih oleh otomatisasi tadi. Apalagi untuk materi pelajaran yang melulu hafalan, Youtube dan sumber internet lainnya sudah lebih kaya dan lebih banyak pilihan tergantung tingkat pencerapan si anak. Expendability akan semakin tegas pula manakala guru mapel itu tidak kreatif dalam merangsang siswa supaya tertarik mendalami pelajaran yang diampunya. Hal yang sama juga terjadi pada pekerjaan lain di luar sekolah, yakni yang tugasnya bisa diambil alih oleh mesin.

Kedua, yang belum expendable atau belum tergantikan oleh mesin. Tenaga pendidik yang dalam proses pembelajaran banyak melibatkan unsur kreatif diyakini masih belum tergantikan. Misalnya, pelajaran bahasa dan sastra, seni dan budaya, olahraga dan mata pelajaran lain yang indikator pencapaiannya tidak cukup dengan teori tetapi juga dengan praktek yang dibimbing serius oleh guru pengampu yang bersangkutan. Hal yang sama juga terjadi pada pekerjaan lain di luar sekolah, masih akan bertahan, yakni yang tugasnya masih dominan melibatkan proses kreatif dan intuisi (yang hingga saat ini belum bisa dijangkau atau ditaklukkan oleh AI dan teknologi mutakhir lainnya). Menulis lagu, mengarang puisi, atau melatih otot kaki untuk membentuk curve saat melakukan sepak pojok pada sepak bola adalah contoh pembelajaran yang masih lebih membutuhkan manusia sebagai instruktur dibanding mesin.

Tidak tertutup kemungkinan, kelompok kedua ini juga akan expendable ketika AI dan teknologi turunannya semakin berkembang. Sebagai contoh, saat ini, berkat kemampuan “self-learning robot” melihat pola dan hubungan makna kata berkat algoritma tesaurus yang semakin melimpah, bahkan sudah ada bot yang bisa menulis puisi. Meskipun hasilnya belum sehebat karya para penyair kondang, tapi juga sering lebih bagus dibanding karya penulis puisi pemula.

Ketika Sekolah Tak Lagi Relevan

Pandemi COVID-19 dengan dampak yang berkepanjangan pada berbagai aspek kehidupan ini mengajarkan setidaknya 2 hal penting dalam konteks pendidikan. Dua hal ini sangat bersambung pula dengan tuntutan era disrupsi.

Pertama, ada banyak hal (lain) yang bisa dipelajari.

Kedua, ada banyak cara (lain) untuk belajar

Bagi tenaga pendidik dan murid, hal ini sangat relevan dan mendesak untuk didiskusikan bagaimana mengimplementasikannya. Kita urai satu persatu.

Ada banyak hal yang bisa dipelajari

Ketika kita mencari bacaan mengenai skill dan pekerjaan yang paling dibutuhkan di masa depan dan mengungkapkan hasil bacaan kita secara jujur, kita akan menemukan bahwa kurang lebih 75%-nya berkaitan dengan dunia digital. Mulai dari progammer, designer, digital marketer, web developer, sampai data analyst. Dan dari 75% itu tak ada yang diajarkan di sekolah.

Oke, kita berkilah bahwa sekolah memberikan pengetahuan dasar yang penting. Tapi apakah memberikan banyak pengetahuan dasar adalah bijak disaat dunia semakin membutuhkan keahlian spesifik? Jelas tidak. Itu sama artinya kita membangun pondasi terlalu luas dan dalam, tapi tidak pernah membangun dinding dan atapnya.

Dulu ketika seseorang hendak membangun sebuah rumah/bangunan ia hanya perlu beberapa tenaga tukang. Sekarang dengan semakin mewah dan lengkapnya fitur bangunan, seseorang perlu mencari arsitek untuk desainnya, insinyur teknik sipil untuk perhitungannya, seorang akuntan untuk menghitung keluar masuknya uang, ahli listrik, manajer, sampai tukang dan kuli pekerja kasarnya.

Begitu juga untuk membangun sebuah web. Dulu, seseorang membuat web cukup dengan WordPress atau Blogger. Sekarang dengan semakin kompleksnya web yang multifungsi, tidak cukup dikerjakan oleh seorang web developer saja. Setidaknya butuh seorang progammer html untuk pondasi webnya. Progammer PHP agar webnya berjalan dinamis. Progammer CSS agar tata letak web terlihat rapi dan menarik, sampai ux designer-nya agar antarmuka web mudah dipahami pengunjung. Bayangkan untuk membuat dua hal itu, kita butuh banyak sekali kemampuan spesifik dari para ahlinya. Untuk tingkat kesulitan lebih tinggi sedikit, website e-commerce, misalnya, bahkan bisa membutuhkan lebih banyak orang. Seperti pernah diceritakan oleh Leogent Haromunthe, adik Saya yang bergiat di bidang pembuatan software e-Commerce. Lebih tinggi lagi, misalnya untuk manufaktur bioteknologi, jumlahnya bisa semakin banyak pula.

Say Ramdhan, seorang teman Facebook, mengurai fenomena ini secara sederhana dan mengena di group L.I.K.E Indonesia (Lingkar Inspirasi Keluarga Indonesia). Ia menjelaskan bagaimana kita harus berdamai dengan kenyataan bahwa semakin banyak profesi baru untuk satu keperluan. Dan sekolah kita yang sampai 12 tahun bahkan tidak mampu menentukan akan menjadi apa siswanya. Sebaliknya, keperluan lain yang selama ini dikerjakan banyak orang, akan membutuhkan semakin sedikit tenaga kerja.

Dengan kegagalan itu, akhirnya banyak orang yang harus mencari keahlian tambahan selepas lulus SMA bahkan SMK. Baik melalui kuliah atau kursus lainnya. Nah, apakah semua pengetahuan dasar dari sekolah diperlukan untuk belajar pengetahuan tambahan ini? Jelas tidak.

Sekarang kita merasa sekolah kita baik-baik saja dan tidak menyadari bahwa sekolah kita sudah tidak relevan dalam hal menyiapkan skill anak untuk masa depannya. Ya, para orang tua yang saat ini memaksa anaknya pergi ke sekolah adalah manusia yang saat ini hidup layak berkat pendidikan mereka di sekolah. Mereka adalah generasi old school, generasi baby boomer dimana ijazah adalah bekal mencari kerja. Situasi ini bisa menjadi semakin unik dan menegangkan jika kita melihat membaiknya meritokrasi pada beberapa perusahaan. Artinya, semakin banyak bos perusahaan yang menerima karyawan karena memang sesuai dengan kemampuannya, bukan karena faktor ijazah atau kedekatan pribadi. Berbeda dengan zaman sebelumnya dimana masih banyak karyawan diterima karena ada orang dalam. Atau karena menyogok bagian personalia atau pimpinan, secara halus maupun terang-terangan.

Yang tidak kita sadari, anak-anak yang kita paksa sekolah pada waktunya akan bekerja sebagai progammer, data analyst sampai digital marketer. Dengan menyadari bahwa pendidikan mereka di sekolah hanya menghasilkan selembar kertas ijazah berbonus ilmu membaca dan menghitung. Mereka-mereka ini adalah penghuni masa depan yang akan menyiapkan anak mereka dengan lebih baik tanpa jalur sekolah.

Ini bukan ramalan. Kita bisa melihat beberapa orang kaya (yang dulu biasa/gagal di sekolah) saat ini tidak terlalu memusingkan sekolah anak-anak mereka. Ada sebagian yang mengambil jalur home schooling, atau kursus-kursus lainnya. Intinya mereka menyiapkan skill spesifik anaknya sejak dini. Umumnya, mereka ini adalah yang sadar dengan konsekuensi era disrupsi dan tidak ingin anak-anaknya ketinggalan kereta di masa depan.

Ada banyak cara belajar

Alasan kedua yang membuat sekolah tidak relevan adalah model pengajarannya. Pandemik ini mengajarkan banyak orang bahwa ada banyak cara lain untuk belajar. Iya, di luar sana kita dengar orang tua ingin agar sekolah masuk. Iya orang tua, bukan anaknya. Anak-anak dengan kreativitasnya menemukan banyak carauntuk belajar apa yang mereka minati. Mereka mulai belajar melalui YouTube, IG, WAG atau Telegram. Bahkan tak jarang yang ikut kursus online berbayar.

Ketika di sekolah guru-guru produk keluaran lama bingung cara membuat PDF serta membuat tugas melalui Google Classroom, para siswa menemukan di luar sana ada beberapa anak muda yang saling berbagi video pembelajaran menggunakan berbagai media yang menyenangkan. Ketika guru tak lagi bisa mengandalkan papan tulis hitam putih, akhirnya siswa menemukan sebuah pembelajaran yang dikemas dalam konten infografis yang menarik.

Sekali lagi kita mungkin berkilah, “ah itu kan tidak menjamin anak-anak paham dengan yang mereka pelajari”. Tentu saja, pembelajaran daring tidak bisa menjamin hal tersebut. Tetapi apakah pembelajaran tatap muka di depan papan juga mampu menjamin pemahaman siswa? Tidak juga.

Benar memang lebih banyak siswa yang merasa lebih mudah menerima pelajaran tatap muka secara langsung dari guru. Tetapi tidak sedikit pula yang karena terpaksa bisa belajar hanya dari Youtube atau WAG. Jangan remehkan kemampuan manusia untuk beradaptasi dengan keadaan.

Mungkin anak kita dengan kemampuan menengah sampai ke bawah akan merindukan suara kita di depan kelas dengan sedikit wajah merengut kita yang memaksa mereka belajar. Tapi, bagi mereka dengan kemampuan menengah ke atas, mereka bisa belajar dari mana saja. Butuh bukti? Coba lihat komentar anak-anak kita di IG atau YouTube. Tidak sedikit yang menganggap penjelasan dari konten kreator itu benar-benar mudah dipahami. Jika 25% saja siswa kita merasa cukup belajar secara daring, maka kita akan kehilangan 25% pelanggan sekolah di masa depan.

Kita mungkin tak akan kaget lagi. Sebab saat ini kita biasa melihat banyak mall dan gerai besar tutup dikarenakan keberadaan toko daring. Banyak sudah perusahaan transportasi gulung tikar bangkrut karena transportasi daring. Lalu apa jaminan sekolah akan bertahan dari hantaman ini?

Bagaimana jika sekolah pun pada akhirnya didigitalisasi sepenuhnya? Bisa. Sebagaimana LBB anak siswa dan LBB lainnya yang sudah mulai merambah dunia digital, sekolah pun bisa. Tapi akan ada disrupsi besar-besaran dalam dunia pendidikan kita.

Supaya tetap relevan, heutagogi urgen diterapkan.

Seperti pernah Saya ulas sebelumnya di blog ini, dalam kacamata positif yang tidak dipaksakan, kita bisa pula memanfaatkan pembelajaran daring akibat Pandemi COVID-19 ini sebagai sparing partner pendidikan. Caranya: mengimplementasikan heutagogi. Secara singkat, heutagogi adalah sebuah pendekatan baru yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk menentukan apa yang akan dipelajari di kelas dan bagaimana mereka akan mempelajarinya.

Jika sekolah ingin agar mereka tetap relevan bagi pelanggannya, maka sekolah harus segera membenahi kedua hal tadi, yakni 1) apa yang dipelajari dan 2) bagaimana cara mempelajarinya. Kita urai kembali satu persatu.

Untuk yang pertama, dibutuhkan dukungan dari pemerintah terutama kementerian pendidikan. Jika tidak, akan sulit terlaksana. Meski demikian, bukan tidak ada angin segar. Semangat Merdeka Belajar, penghapusan UN, perampingan RPP dan beberapa fenomen lainnya kiranya bisa dimaksimalkan. Terutama untuk sekolah swasta yang memiliki keleluasaan lebih dibanding sekolah negeri. Fokusnya adalah memasukkan muatan pelajaran yang relevan dengan tuntutan era disrupsi tadi tanpa harus menyandera kelangsungan institusi pendidikan dan kesejahteraan para tenaga pendidik serta para karyawannya.

Untuk yang kedua, sekolah butuh dan mendesak untuk mendigitalkan dirinya. Masalahnya ketika sekolah beralih digital, akan banyak guru-guru (manusia) yang tidak lagi relevan. Bayangkan 1 juta anak bisa belajar dari sebuah portal belajar daring yang isinya hanya puluhan guru. Bayangkan hanya seorang guru saja yang dibutuhkan untuk membuat video pembelajaran yang dapat ditonton sejuta siswanya bahkan untuk siswa di tahun berikutnya.

Mau dikemanakan guru lainnya? Jika benar pendidikan akan sepenuhnya berada di dunia digital apakah kita siap “membuang” guru-guru kita yang berjasa? Jika memang mereka adalah guru sebagai sosok untuk digugu dan ditiru, maka tuntutan untuk beradaptasi yang dialami siswa dan orangtua, juga berlaku untuk mereka.

Untuk kasus tertentu, dimana usia sudah mendekati pensiun sehingga dirasa sangat terlambat untuk ‘mulai kembali menyentuh hal-hal yang berbau teknologi’, mereka bisa didaulat oleh pemilik sekolah sebagai punggawa pertahanan nilai-nilai baik dari baby boomer. Maksudnya bagaimana? Jangan lupa, meskipun anak-anak milenial ini terlihat lebih pintar dan cerdas, tetapi mereka juga membutuhkan asupan nilai (value) yang tidak didapat dari teknologi, yakni kejujuran, integritas, dan perseveransi (daya juang). Ketiga nilai ini, sampai sekarang, masih dicari oleh perusahaan manapun pada karyawan yang ingin melamar. Nah, sekolah bisa merancang skema dan penjadwalan dimana guru-guru dari kelompok khusus ini bisa berkontribusi untuk fokus menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai luhur tadi bagi para siswa. Tentu saja, hal inipun tidak akan terwujud jika ternyata mereka pun menjadi guru bukan karena meritokrasi (tetapi karena ‘hal lain’).


Semua tuntutan ini sebenarnya sudah mulai terasa selama awal abad milenium. Tetapi dengan kemunculan pandemik ini, langkahnya semakin dipercepat. Semua elemen pendidikan dipaksa untuk lebih cepat adaptif terhadap keadaan. Yang tertinggal atau terlena dengan zona nyaman mungkin akan bernasib sama seperti Nokia dan Blackbery yang tergusur oleh smartphone.

Penulisan Skenario: Menciptakan Karakter (bagian 2)

Pada ulasan sebelumnya kita sudah belajar tentang betapa kompleksnya perumusan karakter dari seorang tokoh. (Kalau dibilang rumit, memang rumit. Siapa bilang jadi penulis skenario itu gampang?).

Sekedar mengingatkan, ada 3 fase karakter: Sejak lahir, ketika menjalani hidupnya, dan saat film dimulai. Semua fase  ini tentu menghasilkan banyak detail, data dan deskripsi yang sudah ada di kepala kita sebagai penulis. Pertanyaannya, semua ini tujuannya untuk apa? Apa hubungannya dengan si tokoh nanti ketika memainkan lakon/perannya dalam film?

Aspek Karakter

Hubungannya adalah untuk menjembatani premis dengan plot (alur cerita). Jembatan yang dimaksud adalah pemetaan atas empat aspek karakter, yakni kekuatan (strength), kelemahan (weakness), keinginan (wants) dan kebutuhan (needs).

Darimana kita mengetahui keempat aspek ini? Tentu saja dari ketiga fase karakter, terutama di fase ketiga (yaitu karakter saat film dimulai). Caranya: dengan memfokuskan setiap keterangan yang kita dapat dari fase-fase karakter menjadi rumusan yang menggambarkan kepribadian si karakter.

Kata kunci ‘memfokuskan’ disini penting sebab tidak semua keterangan pada fase karakter langsung menentukan aspeknya. Misalnya: Karakter atau tokoh utama pada cerita film yang kita rancang adalah seorang bernama Agnes dengan atribut 1) wanita, 2) berusia 17 tahun, 3) pernah jatuh cinta dengan teman sekelasnya, dan 4) berambut panjang. Keempat atribut ini adalah fase karakter pada saat lahir dan saat menjalani kehidupannya. Atribut 1) sampai 3) barangkali turut menggambarkan kepribadiannya, tetapi tidak dengan atribut 4) yakni “rambut panjang” . Karena itulah kita perlu memfokuskan mana keterangan fase karakter yang akan kita buat sangat mempengaruhi kepribadian si karakter, dan mana yang tidak.

Kita akan coba melakukan analisa pada film Cek Toko Sebelah dengan dua tokoh utamanya adalah Ko Afuk (pemilik toko) dan Erwin (putra kedua Ko Afuk).

 

Strength (Kekuatan)

Kekuatan adalah kualitas baik dari karakter yang disukai penonton. Ini kepribadian karakter yang biasanya dominan lebih cepat nempel di ingatan penonton.

Strength Koh Afuk adalah pemilik toko yang baik hati. Dia perhatian terhadap pegawainya. Dia juga ramah dengan pelanggannya, bahkan sampai sering memberi utangan. Selain itu, dia juga tidak pelit membantu karyawannya yang kesulitan keuangan.

Sementara itu, strength Erwin adalah pintar, karirnya sukses, pekerja keras dan sangat menguasai teknologi.

Dari sini, kita tahu bahwa kualitas baik atau strength ini bisa banyak, bisa juga hanya satu. Kerap kualitas itu sederhana. Yang penting, penonton bisa merasakan dan mengingat kualitas baik apa yang membuat seorang karakter unggul.

 

Weakness (Kelemahan)

Weakness (kelemahan) adalah kebalikan dari strength tadi. Inilah kualitas yang membuat seorang karakter dinilai tidak unggul atau jadi tidak disukai oleh penonton.

Pada Cek Toko Sebelah, kelemahan Ko Afuk adalah pilih kasih terhadap anak-anaknya. Karena ia melihat anaknya si Erwin lebih pintar dan rajin belajar, ia lebih memilih Erwin dibandingkan anak sulungnya Johan yang tidak teratur hidupnya, begajulan, belum jelas karirnya, dan jangan lupa juga pengaruh ketidaksukaan Ko Afuk pada wanita pilihan Johan.

Sama seperti strength, kualitas tidak baik atau yang tidak disukai ini bisa ini bisa banyak, bisa juga hanya satu. Kerap kualitas itu juga ditampilkan sekilas saja. Yang penting, penonton bisa merasakan dan mengingat kelemahan karakter itu.

Sampai disini, mungkin kita belum secara jelas melihat bagaimana aspek karakter menentukan plot. Akan semakin jelas ketika kita membahas dua aspek lagi, yaitu keinginan dan kebutuhan karakter.

 

Wants (keinginan)

Wants adalah aspek karakter yang membantu penulis dan penonton untuk merumuskan plot atau alur cerita film, terutama dalam hal menajamkan konflik (dari sisi penulis) atau menangkap konflik (dari sisi penonton).

Dalam Cek Toko Sebelah, konflik terjadi karena keinginan Ko Afuk berbeda dengan keinginan Erwin. Ko Afuk ingin mewariskan tokonya kepada Erwin karena melihat sifat Erwin yang baik, percaya diri, pintar dan kuliah di luar negeri. Tetapi Erwin ingin mempertahankan pekerjaannya sebagai direktur di sebuah perusahaan MNC (multinational company) yang bergaji besar, banyak remunisi dan fasilitas lainnya. Erwin masih ingin mengejar karirnya ke jenjang yang lebih tinggi. Seperti yang bisa kita tebak, konflik terjadi. Konflik timbul karena keinginan kedua tokoh utama ini tidak bersambung.

Pada tahap ini, sebagai penulis skenario juga kita harus memfokuskan lagi. Sebab setiap tokoh/karakter bisa saja memiliki beberapa keinginan. Tetapi yang kita fokuskan adalah keinginan-keinginan mana dari tokoh-tokoh utama yang menggerakkan jalannya cerita.  (Pada saat proses penulisan skenario sedang berjalan, kerap penulis lupa dengan prinsip ‘memfokuskan’ ini karena lupa mencatatnya dan menuangkannya ke dalam kerangka cerita/sinopsis/outline).

 

Needs (Kebutuhan)

Kebutuhan ini sifatnya lebih filosofis. Ini bagian paling rumit. Perumusan terhadap needs inilah yang biasanya akan membedakan mana screenwriter/penulis naskah yang sudah berpengalaman dan mana yang baru pemula.

Kebutuhan yang dimaksud disini adalah kebutuhan yang sangat mendalam pada diri seorang karakter, terutama karakter/tokoh utama.

Dari skala hierarki kebutuhan (hierarchy of needs) yang ditulis oleh filsuf Abraham Maslow, ada 5 perangkat kebutuhan dasar manusia, yakni sebagai berikut.

  1.  Phsycological need (kebutuhan psikis)
  2.  Safety needs (kebutuhan akan rasa aman)
  3. Love needs (kebutuhan akan cinta)
  4. Esteem needs  (kebutuhan akan pengakuan/penghargaan)
  5. Self-actualization needs (kebutuhan akan pengaktualisasian diri)

Mengapa aspek kebutuhan ini lebih sulit dirumuskan karena memang tidak terlihat jika hanya sekilas oleh penonton. Jika alur cerita film kita ibaratkan sebagai pohon, maka wants-nya adalah daun dan cabang (penonton secara umum bisa melihat). Sementara needs-nya adalah akar pohon (yang tidak bisa dilihat oleh penonton, kecuali penonton menggali lebih lanjut atau menganalisis film tersebut secara serius setelah menontonnya). Analogi atau perumpaan ini sangat tepat sebab tanpa akar, jangankan berakar dan bercabang, sebatang pohon tidak bisa hidup. Tanpa need yang dirumuskan dengan jelas oleh penulis naskah, jangankan menjadi menarik, film tidak akan memiliki alur cerita yang jelas (sehingga membingungkan penonton).

Masih menggunakan contoh Cek Toko Sebelah, Ernest Prakasa, sang sutradara dan penulis cerita menyampaikan bahwa needs Ko Afuk (tokoh utama) adalah ingin memiliki sebuah legacy. Ia ingin mewariskan sesuatu yang berarti dan bisa dikenang terus oleh anaknya dan cucu-cucunya kelak.

Film Cek Toko Sebelah menjadi menarik karena ternyata di akhir cerita, keinginan Ko Afuk ingin mewariskan toko kepada Erwin tidak terjadi. Bahkan, tokonya tidak ada lagi. Sudah berganti menjadi studio foto, yang dikelola oleh John dan pacarnya. Kendati keinginan Ko Afuk tidak terjadi, tetapi jalan cerita film masih masuk akal dan konsisten. Mengapa? Karena masih sesuai dengan needs Ko Afuk, yakni ingin mewariskan apa yang ia miliki kepada anak-anak dan cucu-cucunya kelak. Wants tidak tercapai tetapi needs Ko Afuk tetap tercapai. Maka, kita bisa simpulkan bahwa Cek Toko Sebelah akhirnya berakhir bahagia (happy ending).

Penonton akhirnya sampai ke pada akhir cerita. Kemungkinan besar, itu pula yang paling diingat penonton dibandingkan semua atribut pada fase karakter (ada 3 fase) dan aspek karakter (ada 4 aspek). Akan tetapi, bagi penulis, adalah tugasnya untuk memetakan dan mematangkan fase karakter dan aspek karakter, karena hanya dengan cara itulah ia bisa menyajikan cerita dari awal sampai akhir kepada penonton.


Sebagai penulis, kita harus menempatkan diri berbeda dengan perspektif yang dimiliki penonton. Penonton menangkap atribut sebuah karakter, penulis yang merumuskan dan menyediakannya. Penonton mengetahui kekuatan, kelemahan, keinginan dan kebutuhan si tokoh utama; penulislah yang bertugas merumuskan dan menyediakan konsepnya secara utuh, jelas dan playable (dapat dilakonkan, dapat dimainkan).

Unsur terakhir dari konsep naskah skenario ini sangat penting. Inilah yang membedakan karya tulisan berupa naskah skenario film sangat berbeda dengan sebuah novel/cerpen atau kisah fiksi lainnya. Pergantian dialog sangat teratur pada novel/cerpen, sementara pada skenario film sering terjadi interseksi (saling memotong) pembicaraan, sebab begitulah biasanya sebuah percakapan yang alami dan natural terjadi. Pada ajang apresiasi kepada penulis skenario pun ada dua kriteria, yakni naskah skenario terbaik dan naskah skenario hasil adaptasi terbaik (sudah Saya ulas pula di blog ini).

Kamu Anak SMA dan Suka Menulis? Ini Profesi Kepenulisan yang Menjanjikan

“Pak, Saya senang membaca novel di Wattpad. Terus, jadi senang menulis juga”, begitu isi chat Ester, seorang siswa, beberapa waktu yang lalu.

Toni, siswa yang lain berkata, “Pak, aku baru baru buat blogspot. Karena nggak tau mau nulis apa disana, jadi sebagian yang aku ingat dari penjelasan Bapak dari materi pelajaran kita, ya aku bikin disitu deh.”

Satunya lagi, Rentika, mau mengomentari artikel yang kurilis di blog ini. “Tapi, malu Pak. Nanti dibaca teman-teman yang lain,” katanya di Whatsapp.


Ketiga testimoni ini (nama disamarkan dan isi percakapan aku sunting) entah mengapa membuatku merasa sedikit senang. Ternyata siswa-siswa di tempatku mengajar banyak juga yang suka menulis. Kupikir juga berlaku untuk siswa-siswa SMA lainnya. Ternyata mereka tak melulu menghabiskan waktunya dengan bermain game atau berjualan di Instagram (yang keduanya juga menjanjikan jika diseriusi). Padahal, aku sendiri juga menulis seadanya. Belum sepenuhnya displin untuk mengisi konten entah harian maupun mingguan.

Satu hal: ternyata menulis dan membaca masih diminati. Jadi, tak sepenuhnya benar kalau remaja zaman sekarang hanya sibuk menonton Youtube atau bermain Tiktok (yang juga menjanjikan jika diseriusi). Okelah, mereka tidak lagi membaca buku, koran, majalah atau produk cetak lainnya. Karena sudah begitu zamannya. Semua beralih ke platform digital.

Sejenak aku berfikir, dalam 5 atau 10 tahun ke depan, jika mereka masih rajin menulis, bisa jadi mereka akan menjadikannya passion dan karier yang patut diseriusi. Entah mereka mengambil kuliah jurnalistik atau bukan, tentu saja mereka harus membuktikan kepada orangtua dan siapapun yang mendukung mereka secara finansial dan moral, bahwa ada yang bisa diharapkan dari kegiatan menulis yang mereka lakukan.

Sementara itu, profesi kepenulisan sendiri sudah begitu luas. Mulai dari penulis novel, cerpen, blogger, naskah drama/film, copywriter hingga content writer. Belum lagi niche yang masih belum banyak dikenal, seperti penulis lirik Hip-hop untuk dinyanyikan orang lain. Atau menulis dalam bidang apa saja tapi setuju memberikan kredit hak cipta kepada orang lain dan menerima upah sebagai ganjarannya (ghostwriter).

Ada kegelisahan yang muncul. Bagaimana jika ternyata mereka sendiri akhirnya frustrasi karena tidak kunjung menemukan titik cerah dari periode kepenulisan yang panjang. Bagaimanapun, entah menulis atau profesi lain, tentu ada ada hasil yang diharapkan. Dan, tentu saja, tidak sekedar kepuasan batin atau pengakuan. Harus ada suatu hasil riil yang bisa dilihat dan ditunjukkan ke orang lain. Uang, misalnya.

Tips apa yang bisa kuberikan? Sementara aku sendiri hanya seorang tenaga pendidik yang menjadikan menulis sebagai hobbi. Belum lagi kalau berbicara AdSense dari kepenulisan, aku bukan orang yang pantas untuk membicarakannya.

Lalu, aku coba ingat-ingat lagi curhat dari teman-teman penulis perihal perjuangan mereka hingga bisa sukses.

Seorang pegiat blogspot mengatakan, sudah saatnya meninggalkan blogspot karena tampilan sederhana, kustomisasi terbatas dan dianggap kurang profesional alias amatiran. Belum lagi alasan yang lain, terutama soal menjadikannya lahan untuk mendapatkan uang. Mau membuat blog dengan domain dan hosting berbayar, banyak pertimbangan.

Seorang penulis novel menceritakan kegelisahannya di sebuah hampir. Seolah hampir menangis dan tidak merekomendasikan kepada para kami pemula untuk mengikuti langkahnya. Dia berkisah tentang bagaimana ia meluangkan banyak waktu dan mengorbankan banyak hal untuk menyelesaikan novelnya. Sayangnya, begitu novelnya selesai, ia kesulitan menemukan penerbit untuk menerbitkan karyanya. Begitu ketemu, ternyata dia harus urun uang untuk itu, sementara royalti yang didapatkan ternyata tidak semanis yang diberitakan di internet. Bahkan ia juga diminta untuk ikut berjualan sendiri.

Sebuah forum diskusi para penulis puisi bahkan saban hari diisi dengan curhat sedih para anggotanya. Seandainya kepuasan batin dan pengakuan akan karya tak cukup lagi membuat mereka bertahan, mereka pasti akan segera meninggalkan profesi menulisnya. Sebab tak tahan melihat karya mereka dipajang di rak belakang toko buku. Jauh di belakang. Sementara di bagian depan, stationary dan kaset DVD yang dipromosikan oleh pramuniaga. Padahal, untuk menjadikan antologi puisi mereka sampai terbit sebagai buku, tidak sedikit rupiah yang harus mereka keluarkan. Such a prize for a recognition. Mereka ini memang angkatan militan, dan kebanyakan sudah cukup dengan apa yang mereka punya. Tak sedikit pula yang memang sudah uzur.

Untuk anak SMA dengan perjalanan yang masih panjang, tentu saja ada lesson learned yang bisa diterapkan dari kisah-kisah para senior mereka ini. Sebab, bagaimanapun, selain mereka tengah berada dalam fase pencarian jati diri, mereka juga membutuhkan pembuktian diri. Jadi, ketika mereka akhirnya bekerja sebagai penulis, entah di perusahaan atau independen, mereka punya sesuatu untuk diceritakan di acara kumpul keluarga atau reuni alumni sekolah.

Maka, setelah baca sana-sini, aku menarik sebuah poin penting. Seiring dengan dunia kepenulisan yang terkena imbas dari ditinggalkannya dunia cetak, hampir semua profesi menulis kini beralih ke platform digital. Maka, profesi menulis pun akan terfilter juga. Mereka yang mengandalkan jasa kepenulisan dari penerbit dan pencetak harus segera pivot ke alternatif lain, yakni: vlogger, copywriter dan technical writer.

(Ada yang lebih menjanjikan sebenarnya, yakni screenwriter atau penulis naskah film. Tetapi untuk yang satu ini, selain berjibaku dengan banyak kesulitan teknis, modal paling penting adalah koneksi dengan para pelaku industri film, terutama produser, perusahaan pembuat film dan para aktor. Jadi, untuk pemula seperti anak SMA yang gemar menulis ini, belum pas direkomendasikan).

Dari antara ketiga profesi menulis itu, aku tertarik dengan technical writer. Sebab, kubaca bahkan sang raksasa Google sendiri memberi tempat istimewa buat mereka.

Apa itu Technical Writer?

Semakin kesini, semakin sering pula perusahaan mendaftarkan lowongan pekerjaan sebagai technical writer. Kamu pun tidak susah menemukannya di daftar lowongan pekerjaan di situs-situs penyedia kerja semacam LinkedIn, Upworks, bahkan yang bersifat sambilan semacam Freelancer atau Sribulancer. Meskipun di nomenklatur bahasa Indonesia, belum lazim. Buktinya, sampai hari ini kita belum menemukan padanannya di KBBI. Kalau tidak percaya, cek saja.

Jadi, untuk sementara kita pertahankan dulu istilah asing ini.

Apa itu technical writer?

Tak seperti penulis pada umumnya, technical writer punya bidang kerja yang spesifik. Technical writer bertugas mengubah bahan tulisan yang kompleks dan penuh perkara teknis menjadi lebih jelas dan ringkas untuk menyasar audiens tertentu. Umumnya mereka membuat bentuk dokumentasi  untuk mengomunikasikan informasi yang teknis dan kompleks dalam cara yang user-friendly, alias nyambung dengan pengguna.

Konon, Albert Einstein pernah berkata: “If you can’t explain it simply, you don’t understand it well enough“. Jika kamu tidak bisa menjelaskan sesuatu dengan sederhana, berarti kamu tidak benar-benar mengerti apa yang hendak kamu jelaskan. Ini tentu tidak mudah. Karena tidak mudah, tidak banyak yang melakukannya. Itu sebabnya posisi technical writer banyak dicari oleh perusahaan.

Jadi, misalnya, jika sebuah perusahaan manufaktur smartphone mengeluarkan produk terbaru, maka tugas para technical writer-lah untuk membuat panduan penggunaan untuk disisipkan di bungkos kotaknya. Selain itu, informasi yang mereka tulislah yang juga digunakan oleh para reviewer atau media yang kemudian didaulat untuk mengiklankan produk yang bersangkutan. Maka, tak heran, posisi technical writer sangat strategis. Mereka menjembatani perusahaan dan konsumen dalam hal pemahaman akan produk. Jika sebuah produk baru cepat dikenal oleh pasar, maka ada peranan technical writer yang cukup besar disana.

Apa tanggungjawabnya?

Untuk menjadi technical writer profesional, kamu harus terlebih dahulu mengetahui audiens atau kepada siapa tulisanmu ditujukan. Audiens bisa saja klien, pelanggan, ataupun pihak teknisi. Memahami audiens berarti memahami juga ekspektasi dan level pengetahuan dari pembaca.

Selain itu, membuat tulisan teknis berarti mengetahui tujuan dan konteks dari dokumen yang ia buat, sehingga dokumen yang dibuat dapat tepat sasaran dengan jelas sesuai dengan tujuan dibuatnya.

Maka, seorang technical writer memiliki tanggung-jawab berikut.

Pertama, menentukan kebutuhan pengguna yang akan menerima dokumentasi teknis.

Kedua, mempelajari contoh produk dan berbicara lebih lanjut dengan pencipta dan pengembangnya.

Ketiga, bekerja bersama staf teknis untuk membuat produk lebih mudah digunakan dengan instruksi yang singkat namun mudah dimengerti.

Keempat, mengorganisasi dan menuliskan dokumen pendukung untuk produk

Kelima, menggunakan foto, gambar, diagram, dan animasi yang menaikan pemahaman pengguna

Keenam, menentukan medium yang tepat untuk menyampaikan pesan kepada audiens, seperti tulisan manual atau video

Ketujuh, melakukan standarisasi konten di seluruh platform dan media

Kedelapan, mengumpulkan feedback dari konsumen, desainer, dan pabrik.

Kesembilan, merevisi dokumen ketika ada pembaruan terkait produk

Kesepuluh, mengerjakan apapun yang ada di langkah pertama hingga kesembilan. Sebab, sama seperti penulis lain, tanggung jawab seorang penulis tidak hanya memikirkan gagasan, tetapi menuangkannya dalam bentuk tulisan.

Jadi, seorang technical writer membuat intstruksi, panduan penggunaan barang, dan “frequently asked questions” atau pertanyaan yang sering diajukan. Hal ini dilakukan untuk membantu staf teknis, konsumen, dan pengguna lainnya yang ada di perusahaan maupun industri.

Setelah produk dirilis, kamu juga mungkin bekerja dengan spesialis pemeriksa kelayakan produk dan manajer customer service untuk mengembangkan pengalaman pengguna atau konsumen melalui perubahan desain produk.

Keterampilan yang Perlu Dimiliki?

Pertama, seorang technical writer diharuskan untuk dapat bekerja secara individu maupun tim. Jadi, ketika kamu mulai menulis, selain kamu harus bisa menulis sendiri, kamu juga harus membiasakan diri untuk merampungkan sebuah tulisan dengan teman penulis lainnya. Biasanya yang kedua ini lebih sulit karena menggabungkan isi beberapa kepala sekaligus.

Selain itu, kamu juga harus terampil menulis tentunya. Seperti content writer atau penulis lain pada umumnya, yang pertama dan paling penting adalah tentu saja keterampilan untuk menulis. Seorang penulis teknis harus dapat membuat tulisan yang tersusun dengan baik, menggunakan bahasa yang baik dan benar, dan yang paling penting mudah untuk dimengerti.

Sebagai technical writer, penting untuk memilih penggunaan bahasa yang tepat untuk menyampaikan hal yang rumit dengan kalimat sederhana. Untuk dapat menulis dengan baik, penting untuk berlatih dan memperkaya kosa kata. Sekali lagi ingat, serumit atau sereceh apapun tulisan yang dihasilkan, fokus utamanya ialah pasar atau konsumen. Umpan balik dari mereka akan membuktikannya.

Untuk itu, tentu kamu tidak bisa mengarang bebas. Membuat tulisan teknis berisikan instruksi, kamu harus benar-benar yakin bahwa kamu memahami apa yang akan kamu tuliskan. Ini berarti, kamu harus melakukan riset terkait produk ataupun jasa tersebut dengan benar. Apalagi, jika kamu menuliskan sebuah dokumentasi untuk produk yang diproduksi sebuah perusahaan yang belum kamu kenal betul.

Terakhir, data hasil riset itu tentu saja tidak akan teratur jika kamu tidak mengetahui bagaimana cara menyusunnya. Untuk itu, kamu harus mampu berpikir kritis. Bagaimana menyampaikan instruksi yang sebenarnya rumit dengan bahasa sederhana tanpa kehilangan detail.


Oh iya. Tadi aku sebutkan soal peranan para technical writer di Google. Aku belum pernah kesana. Belum juga kenal salah seorang pun dari mereka. Maka, biarlah mereka sendiri yang berbicara. Simak di video mereka ini.