DONALD HAROMUNTHE

For Those Whom I Can't Talk With

Page 2 of 13

Sajen dan Sosok

Darah bagi Sembahan yang selalu haus

Sesajian berderet sejak purba
Berkerubung mereka disana
Tumpah berjejal di pelataran Gaia
Konon, Sosok itu lapar. 

Sesajian tidak saja kembang aneka rupa,
Tak juga sebatas puja-puji mantra beraroma dupa.
Pedang berdarah penghunus nyawa kaum nestapa buta aksara, yang tak mau tunduk menyembahnya, juga tertancap megah disana.
Konon, Sosok itu haus dipuja.

Sesajian terus berdatangan,
Sejak purba hingga zaman yang tak lagi bisa terbilang angka,
Gaia kini tua renta tersedot habis semua tubuhnya,
Pun tak kunjung cukup memuaskannya.
Konon, Sosok tak terpuaskan juga.

Sesajian harus terus ada.
Harus tetap berlimpah ruah di singgasananya.
Gaia renta membuat manungsa iba.
Dihunusnya pedang angkara, dihunjamkannya ke raga Saudaranya.
Sebab, Sesajian tak boleh tiada.
Begitu titah Sosok

Bangsa mulai bermufakat,
“Mari kita eratkan tangan. Jika kita tidak lebih dulu membantai negeri tetangga, anak-anak kita akan jadi sesajian berikutnya”.
Kitab Suci pun ditulis,
Tafsir disusun, ditimbang dan ditimbun di lumbung penguasa,
Jika kelak zaman bertanya, “untuk apa?”, kita tunjukkan saja: “Begitu perintah sang Sosok”
Sesajian pun akhirnya tetap tersedia.
Sebab sampai hari ini, Sosok masih meraja di segala penjuru dunia.

 

Bintaro/8-11-17

Facebook Comments

Apa Aku Mesti Menuntunmu?

    Cinta akan datang saat kau kembali berlayar


Karya: Mim Yudiarto

Kau katakan tak pergi kemana-mana
Itu karena pintu kau kunci dengan kalimat tak mau
Kau katakan tak melihat apa-apa
Itu karena jendela kau tutup dengan kalimat tak mengapa

Kau bilang ingin mengintip turunnya bianglala
Tapi kau malah sibuk memalingkan muka
Kau bilang mau mencuri biji mata purnama
Tapi kau lupa bulan ada di mana

Apa aku perlu ingatkan tentang sebuah perjalanan
Selalu dimulai dengan langkah kaki
Bukan kira-kira di hati

Apa aku harus tuliskan
Ke arah mana sungai menuju
Muara laut tempat air bertemu

Apa aku mesti sampaikan
Bahagia itu tak mungkin datang bertamu
Jika kau tak berniat untuk berburu

Pergilah ke arah barat
Di sana ada kiblat
Larilah ke arah timur
Di sana kau ditunggu matahari yang sedang berjemur
Berjalanlah ke arah utara
Di sana indah siap menyembuhkan lelah
Berpalinglah ke selatan
Di sana salju meramu inginmu

 

Semarang, 8 Nopember 2017

Facebook Comments

Merindu Putik Bunga Lain


Karya: Rizky Fahlevi

saat rindu menyapa
haruskah membisik
pada putik yang tertinggal
atau kubiar angin menghembusku

mawar putih nan dingin
tetesan rindu kutitipkan
pada embun yang menyapa
yang hanya singgah sejenak lalu hilang

setidaknya rindu ini pernah berharap
agar membawa sakinah
walau kini hanya sekejap
engkau hilang tanpa sayapku
Padangsidimpuan, 8 Nov 2017

Facebook Comments

Bagai Angsa


Karya: Bhoex Kensi

Seperti angsa yang ingin, terbang.
Menari anggun bersama, alam.
Berteman indah sisi kehijauan, rindang.
Menampilkan cantik yang, mengagumkan.
Tersentuh hati begitu, luluh.
Menghayati sekitar ketinggian, itu.

Enggan rasanya menjauh, pergi.
Dari suasana yang, mempesona ini.
Hati menahan untuk tetap, diam.
Tidak ingin melangkah, berpindah.

Jika aku adalah angsa yang, berdiri.
Aku kian rapati bulu-bulu, lebarku.
Ingin terus merasakan pesona, indah.
Akan aku kepakkan sayapku, kelak.
Disaat aku ingin terbang untuk, hinggap.

Kebebasan alam yang megah, tercipta.
Untuk aku cinta sampai hari, tua.
Tiada harus aku berduka, lalu kecewa.
Dalam mencintai dan menyayangi, alam disini.
Karena aku lebih akan merasa, puas.
Akan terlepasnya aku dari garis, zona amanku.

 

Wonosobo, 8 November 2017

Facebook Comments

Menangkap Kalimat

Jati tertua


Karya: Mim Yudiarto

Sungguhpun hasilku menangkap kalimat malam ini
Dihalangi oleh barisan kata tidak
Aku tetap maju dengan tegak
Aku bukan pecundang yang bisa diusir pulang dengan gampang
Aku adalah bagian dari kawanan yang sedang berburu
Bukan pilu bukan rindu namun tumpahan kata dari udara beku

Perburuan yang melelahkan di lereng Ungaran
Nafas sedikit tersedak karena dingin cukup menyentak
Kalimat yang menyeruak adalah namamu yang akhirnya terkuak
Aku eja terbata-bata karena lidahku selalu tersangkut kata cinta
Aku berterimakasih meski gelap mulai meraba-raba

Ketika senyap mulai tersundut serabut kabut
Pencarianku tak akan lagi luput
Aku yakini itu dengan menulis namamu dengan paku
Di meja panjang yang terbuat dari jati berusia sepuluh windu

Ungaran, 7 Nopember 2017

Facebook Comments

Buddas


Karya: Suhendi

Mimpi semalam jadikah wujud
Saat bergegas bangun dengan binar di wajah
Ah, manalah mungkin

Rupa asa samar bayang
Kusam
Dekil
Terlindas roda kehidupan yang bersyarat
Pun sisa hari esok terbenam dalam timbunan angan

Tangan tangan kecil bertubuh lekat debu jalanan
Sanggupkah menggali tumpukkan realita
Di waktu yang sebentar dan tak berdasar
Atau mengais harap yang tercecer dari peliknya hidup

Biar luka darah tapak bernanah
Manalah mungkin terwujud
Biar terik matahari kuras peluh
Manalah mungkin tergenggam

 

Cikarang, 2017

Facebook Comments

Budaya Selimut Doa

Ilustrasi: Indonesia Berdoa

Karya: Sugianto


Di negeri yang indah ini
Pertama kali kuteriakkan tangisku
Berlari untuk kupijakkan kakiku
Lalu kupandangi sekelilingku memuji keelokanmu

Aku bangga terlahir di negeri ini
Kokoh berdiri dengan segala perbedaan
Suku, Ras, Budaya dan Bahasa
Bersatu dalam cengkaraman Garuda

Di hamparan tanahmu yang luas
Terlihat jelas aneka ragam budaya
Yang tak tergerus panasnya musim
Dan terjaga dari abrasi yang mengikis

Sekian banyak budaya
Menjadi jati diri bangsa ini
Hendaknya kita bersatu dan lestarikan
Ini bangsa kita, milik kita, dan hidup kita

Enyahlah tangan-tangan kotor
Bisukan mantera asing
Negeri ini terbungkus do’a
Terang di ujung lentera.

Facebook Comments

Lirik “Boan Ma Salendang”

Molo martumba ho ito
di tonga ni alaman
boan ma salendang
asa dengan mangerbang erbang
Molo masihol ho ingot
ma au di parjalangan
asa di boto ho ito
holan tu ho do angan angan

Molo marsoban ho unang
buat tiang ni sopo
sega sega doi ito
muruk natua tua
Unang dirippu ho au na
lupa na mariboto
daong masa songoni ito
masihol do au tu ho

Unang sai marsak ho
diarsak di angan angan
unang sai tangis ho ito
ala ala pikiran
Ho do ale da hasian
holan ho do di pikiran
Pos ma roham ito pos maroham
huingot dope ho
Pos ma roham ito pos maroham
malungun do au tu ho

Facebook Comments

Sanctus – Missa Gratias Domine (Yoseph Sulaksana)

 

Facebook Comments

Gloria – Missa Gratias Domine (Yoseph Sulaksana)

Facebook Comments

Page 2 of 13

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén