Kemiskinan Orang-orang Kaya

Things crazy rich people buy via ScoopWhoop

Meskipun banyak sumber mengatakan bahwa kekayaan dunia ini hanya dikuasai oleh 1% saja dari populasi yang ada, jangan lupa sepuluh persen itu banyak sekali. Saat ini populasi dunia kurang lebih 7,7 miliar orang. Maka, mereka ada sebanyak 70 juta orang. Banyak orang kaya di dunia ini. Mereka tersebar di berbagai tempat. Mereka dilahirkan dengan previlese akses ke sumber-sumber ekonomi. Di banyak tempat, previlese semacam ini dikagumi dan dijunjung tinggi oleh masyarakat setempat.

Hidup yang Nyaman

Mereka mungkin cerdas dan pandai hitung-hitungan. Membuka sebuah gerai usaha baru bukanlah sesuatu yang sulit bagi mereka. Karyawan yang hebat dan loyal pun mudah mereka dapatkan. Perizinan dan pengurusan adminsitrasi bukanlah sesuatu yang sulit untuk dikerjakan.

Mereka juga bisa hebat mengiklankan diri. Beberapa bahkan memiliki kanal Youtube atau website untuk menampilkan wajah dan rumah mewah mereka sebagai bukti bahwa di iklan mereka itu, mereka berhak meneriakkan ke telinga penonon, “nih, bukan cuma iklan, sudah kubuktikan”. Mereka mampu mengurai secara mendetail bagaimana mereka bisa mendapatkan semua itu. Rumah mewah. Mobil mewah. Koleksi seni. Hewan langka yang diimpor dari sabana Afrika sana. Hotel mewah kapan saja bisa mereka kunjungi. Kapan mereka mau makan steak atau hidangan carabou di restoran mahal, tinggal cuss.

Orang-orang kaya ini biasanya mempunyai latarbelakang keluarga kaya juga. Walaupun saat muda mereka mungkin belum memiliki perusahaan sendiri, kesempatan mereka untuk mendapatkan kepercayaan dan modal dari para investor cukup tinggi. Mereka biasanya bertemu di sebuah cocktail party, arisan kolektor tas branded, konser jazz paling modern, atau pada acara grand opening outlet terbaru kenalan mereka.  Tidak jarang juga yang begitu saja bertemu dengan orang kaya lainnya yang tak pelit memodali mereka hanya karena orangtua menyekolahkan mereka sama-sama di kampus luar negeri yang mahal. Beberapa bahkan mendapat modal pinjaman lunak dari bank pensiunan negara kaya semacam Norwegia.

Mereka juga biasanya sukses dalam pendidikan. Ada yang mendapat gelar bakalaureat dari perguruan tinggi swasta, lengkap dengan predikat cum laude. Ada yang menjadi petinggi di badan usaha milik negara, dan memiliki kekuasaan besar. Apapun bidangnya, orang-orang kaya ini sungguh dikagumi oleh lingkungan sekitarnya.

Kemiskinan Orang-orang Kaya

Sayangnya, orang-orang kaya ini seringkali tidak mampu melihat dunia secara keseluruhan. Mereka dibutakan oleh kekayaan mereka sendiri. Mereka menjadi sombong, dan kehilangan empati. Mereka tidak mampu melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda, atau merasakan penderitaan orang lain di sekitarnya.

Mereka hidup dalam ilusi, bahwa mereka adalah mahluk-mahluk unggul. Miliarder biasanya terjebak dalam ilusi dan kesombongan semacam ini. Mereka tak merasa bersalah menjadikan manusia lain, tumbuhan, hewan ataupun mahluk lain melulu sebagai sumberdaya untuk memperkuat pundi-pundi mereka. Mereka merusak alam atas nama pemberdayaan ekonomi dan kemajuan industri serta terobosan teknologi.

Orang-orang kaya seringkali tidak kritis. Mereka tidak mempertanyakan pandangan-pandangan yang mereka anut. Mereka mengira, gaya hidup serta pola berfikir mereka adalah kebenaran. Akhirnya, mereka kerap kali melakukan kesalahan yang merusak, tanpa mereka sadari.

Mereka juga kerap kali bermulut besar. Mereka gemar mengumbar janji. Mereka gemar juga memberikan harapan-harapan besar yang, sayangnya, palsu. Orang hanya perlu sedikit kritis, guna melihat kepalsuan yang dibalut dengan kesombongan di dalam diri orang-orang kaya ini.

Orang-orang cerdas ini seringkali juga penuh dengan kontradiksi. Misalnya, mereka mengaku membantu orang kecil dengan mencuri lahan mereka dan menjadikan mereka buruh di tanah mereka sendiri. Mereka berbicara soal menyelamatkan hutan dengan terlebih dahulu membuka tambang disana tanpa pernah sungguh mematuhi komitmen replantasi dan rehabilitasi lahan. Mereka berbicara tentang pentingnya membantu orang tak mampu, sambil memuaskan dahaga mereka akibat jiwa miskin yang tak pernah berkata cukup dengan yang mereka punya. Mereka tidak memiliki filosofi semacam “lama aku mengeruk, saatnya memberi”. Mereka juga tak kepikiran untuk meluangkan waktu memberi kontribusi bagi etika dan moral masyarakat layaknya seniman yang sampai mati bekerja mati-matian untuk nilai dan makna yang dipercayainya berguna bagi orang lain.

Inilah kemiskinan orang-orang kaya. Jangan terpesona dengan jabatan tinggi di perusahaan, gelar pendidikan tinggi, rumah mewah atau mobil mewah. Sebenarnya, merekalah justru perusak kehidupan sosial maupun alam, tempat kita semua hidup. Jika kemiskinan jiwa orang-orang kaya ini didiamkan, dunia kita akan hancur.

 

Mengapa “Berkesenian” menjadi Predikat Ejekan?

Percobaan Pertama: Membunuh Filsafat

Beberapa ribu tahun lalu di negeri Yunani, seorang lelaki parlente mendekati seorang temannya yang berpenampilan polos bersahaja.

Lelaki parlente itu, belakangan kita kenal sebagai Calicles, berkata kepada temannya:

Berhentilah berfilsafat, kawan. Kembalilah ke dunia nyata. Tuntutlah ilmu di  sekolah bisnis.

Quit philosophizing.

Get real.

Go to business school.

Belakangan kita tahu, temannya yang bersahaja itu bernama Socrates.

Untunglah, Socrates tidak mengikuti anjuran temannya itu. Seandainya Socrates mengikuti anjuran Calicles dalam “Giorgias Dialogue” itu, filsafat tidak akan menjadi sebesar sekarang. Plato tidak akan mempunyai guru. Aristoteles, juga tentu saja.

Tidak akan ada para murid peripatetik (para filsuf pejalan kaki) yang membahas segala macam hal sembari berjalan-jalan bersama sang guru. Tidak akan ada Akademia, yang menjadi cikal bakal semua sekolah modern yang ada sekarang ini. Semua orang akan berfokus pada satu hal saja: memenuhi kebutuhan perut, mencari shekel, drachma, dolar atau rupiah.

Untunglah. Ternyata kebutuhan manusia tidak hanya soal urusan perut, tetapi juga soal pikiran. Selain asupan gizi, manusia ternyata butuh nutrisi intelektual dan seni. (Iya. Filsafat bukan hanya induk dari sains tetapi juga seni).

Meskipun demikian, upaya percobaan untuk membunuh filsafat itu masih berlangsung hingga sekarang. Tak sedikit teman yang mengolok-olok ketika seseorang memposting keresahannya di media sosial dalam sudut pandang filosofis.

Alah, bacot. Na mangula on ma bah ni puhuthon“, kata mereka seolah merendah padahal nyatanya mereka ingin menderogasi pentingnya filsafat.

“Untuk apa membahas dan mengulas realitas sosial. Pakai bedahlah, pake ulaslah, filosofi-filosofian segala. Tak ada gunanya kau habiskan waktu dengan membaca dan berdiskusi filsafat Barat itu. Mending ternak lele sajalah”


Percobaan kedua: Membunuh seni?

Zaman sekarang, jika kita jeli, saban hari kita mendengar “Giorgias Dialogue” versi modern dalam konteks kesenian.

“Ngapain sih capek-capek buat tulisan? Yang baca sedikit. Uangnya pun tak jelas.”

“Ngapain sih terus buat lagu? Berdiskusi, begadang, membuat lirik, ulik nada, edit, mixing, mastering, release. Unggah di Youtube, belum dapat adsense, eh keburu kehabisan uang. Sekedar beli rokok dan kopi pun harus berfikir keras. Buat apa? Tuh lihat. Mending buat konten give-away kayak si Boim.”

“Atau lebih ekstrem, ada pesawat jatuh, jadikan konten. Nggak usah mikir empati dengan keluarga korban. Laku keras.”

Mungkin tak persis isi redaksinya seperti ini, tapi muatan maknanya sama.

Begitulah. Sekarang berkesenian seolah predikat ejekan.

Secara jenius, Tilhang Gultom menyisipkan sindirian ini pula dalam lagunya “Tudia Nama Au Lao”

Dia sebut:
Na hansit ma hape di au nadangol on. Alani pogos na tarlobi. Gabe marende nama au. Gabe marende nama. Tu kesenian nama au lao. Tu kesenian nama au lao” (Perih sekali hidup ini, bagiku yang sengsara ini. Karena kemiskinan yang teramat sangat. Aku pun bernyanyi. Ke kesenian-lah aku lari.)

Impresi publik sezamannya yang mau dikritik Tilhang Gultom kiranya cukup jelas: Mereka yang berkesenian atau bernyanyi-nyanyi  kelasnya ya orang kecil. Proletar. Kalau mau kaya dan sukses (gabe jala mamora), pilihlah jalur lain. Entah menjadi petani, pegawai atau pengusaha. Pokoknya, jangan menjadi seniman.

Setujukah kita?

Beberapa dekade lalu, ‘kesadaran’ sejenis juga yang membuat banyak orangtua Batak terlihat tidak konsisten. Ketika si anak masih kecil, akan diajari bernyanyi, main gitar, atau didaftarkan les musik. Tapi begitu selesai SMA, si anak akan diarahkan untuk ambil jurusan yang jelas menjanjikan fulus. Entah sebagai pengacara. Entah sebagai pengusaha atau petugas bea cukai.

Bukankah itu antara lain sebab “Opera Tilhang” (Opera Serindo) kehilangan generasi penerus sepeninggal Zulkaedah Harahap? Tak ada orangtua yang mengajarkan dan mendukung anaknya menekuni keterampilan multiseni dalam Opera Batak itu (bernyanyi, berdrama, berlawak).

Aku sendiri mengalami ini ketika kecil. Di ladang, kalau aku mencoba memukul-mukul kayu meniru “pargossi“, akan ditegur orangtua. Dalam diskusi kemudian setelah mereka rasa aku bisa berfikir, mereka jelaskan:

“Nak. Zaman sekarang, bermusik tidak memberi penghasilan. Jangan kau tiru tulangmu si anu. Margossi ibana, mangadangi sian pesta tu pesta, alai so hea dilean hepeng tu nantulangmi. Holan na mabuk ma ibana tiap borngin. Dungi marbadai ma begeon ni hombar jabu. Jangan kau ikuti yang begitu ya”, kata mereka.

(Aku tak menyalahkan mereka. Itulah impresi umum tentang berkesenian saat itu, jadi mereka pun ikut di dalamnya. Lagipula, tak didukung menjadi penabuh gendang, aku kemudian memilih jurusan “tak jelas”, yakni jurusan filsafat. Skor 1-1. Hehehe).

Di era postmodernisme sekarang yang bahkan banyak orang masih belum tahu mengarah kemana dan harus mendefinisikan seperti apa, sekelompok orang juga mulai jengah dengan filsafat. Mereka mempertentangkan sains dengan filsafat, seakan bisa memisahkan seorang anak dengan ibu kandung yang melahirkannya.

Mereka bosan dengan tuntutan kaidah berkesenian, seakan musik dan lagu melulu hanya soal profit dan ketenaran seorang artis, dan tidak ada kaitannya dengan upaya kurasi nilai ideologi dan budaya arif. Maka, tak heran, lahirlah banyak lagu yang tidak memiliki “jiwa”, hanya otak-atik gathuk tangganada dan analisa teknikal musik. Berkesan, tapi tidak mengandung pesan.

Atau, meminjam lawakan intelektual di tongkrongan kami:

“Godang siingoton. Alai dang adong sitiruon”

Pada situasi begini, wajarlah para seniman dengan ideologi dan kesetiaan pada tugas kesenimanan, akan tenggelam di pasar industri. Antara lain, karena mereka tak sudi “menjual” diri, tak mau repot dengan algoritma Google dan Youtube, tak mau pula menyebar spam disana-sini untuk meraup angka view.

Untuk mereka, pendengar yang baik akan mencari musik yang baik. Beberapa digital marketer mungkin akan menyebut mereka naif, tapi mereka masih bertahan. Entah sampai kapan.