Membuat Logline bersama David Wheeler dari Michigan University – Sebuah Parafrase (part. 2)

Elevator Pitch

Sebuah logline (intisari cerita) harus singkat, seperti sebuah elevator pitch. Apa itu elevator pitch?

Jessy ingat Pak Heru sudah pernah menjelaskan ini, bahkan guru muda yang kritis itu menuliskan juga di blognya ketika ia mengulas tentang premis.

Intinya: sebuah kalimat yang harus menarik perhatian seorang produser film atau investor, harus selesai diucapkan ketika berpapasan di elevator. Jessy membayangkan dirinya menaiki eskalator dari lantai 1 menuju ke lantai 2, sementara di seberangnya seorang produser turun dari lantai 2 menuju ke lantai 1.

Oke. Jadi sekarang Jessy harus membuat sebuah logline. Sebuah intisari cerita yang singkat, yang selesai diucapkan ketika Jessy berpapasan dengan sang produser di eskalator imajiner itu.

Jessy berfikir. Kalau ia hendak mengembangkan cerita tentang petualangannya di Indomaret di hari Valentine itu, ia harus membuat logline: sebuah kalimat singkat intisari cerita 110 halaman yang akan ditulisnya.

Hmmm. Apa ya?

Oh iya.

Ia membayangkan dirinya sebagai protagonis. Diketiknya:

Jessy pergi ke Indomaret untuk membeli coklat.

Dia membaca kembali kalimat itu sebentar. Tidak menarik.

Baru diingatnya. Ternyata sebuah logline itu harus mengandung konflik, pertaruhan (stake), ada kekuatan emosi serta karakter yang unik. Keempat elemen (character, conflict, stake, goal) itu harus ada dalam sebuah kalimat singkat.


Merumuskan Logline

Maka, Jessy mulai mengetik lagi. Tidak cocok, dihapusnya. Begitu beberapa kali, sampai akhirnya ia tersenyum membaca kalimat terakhir di layar laptopnya:

Jessy, cewek SMA yang mau membeli coklat di Indomaret untuk hadiah Valentine buat Rachel sahabatnya, terpaksa merebut pisau dari perampok bertopeng di meja kasir.

Ia tampak puas. Kalimat ini sudah mengandung elemen prasyarat sebuah logline.

Ada karakter menarik (anak remaja putri yang masih duduk di bangku SMA).

Kekuatan emosi (siapa sih yang tidak akrab dengan kebiasaan memberi hadiah coklat di hari Valentine).

Konflik besar oleh karakter lemah (seorang cewek SMA yang umumnya dianggap lemah, tiba-tiba entah mendapat keberanian dari mana, bergerak cepat merebut pisau tajam dari tangan salah satu dari dua pria perampok bertubuh tinggi besar).  Lalu, ada pertaruhan: jika ia tidak merebut pisau itu secepat kilat, besar kemungkinan ia akan ikut dibunuh, atau setidaknya menjadi sandera.

Seperti mendapat ilham, Jessy kemudian mencatat: Ternyata logline itu ada formulanya, yakni: Somebody wants something real bad, but having a hard time while having it.

Eh, tiba-tiba Jessy teringat sesuatu. Di file Word satunya lagi kan Jessy ingin menulis tentang Ben, si cowok ganteng di kelasnya yang sudah lama membuat hatinya hangat dan pipinya memerah.

Kalau yang ini, logline-nya apa ya?

Tapi sepertinya seru kalau dia menggunakan samaran, supaya kalau logline-nya dibaca Rachel dan Cassandra, kedua sahabatnya itu tidak menggodainya. Seperti bergerak sendiri, jemari Jessy mengetik di keyboardnya:

Vanessa, cewek SMA yang sejak kecil ditinggal ayahnya, sekelas dengan Ben yang wajah dan suaranya sangat mirip dengan ayahnya, tetapi ia tidak suka dengan sifat Ben yang temperamental dan terkenal suka berkelahi.



Ini adalah bagian kedua dari parafraseku atas kuliah penulisan naskah film dari David Wheeler dari Michigan University di platform belajar Coursera. Keseluruhan materinya terlalu panjang jika harus dituangkan dalam satu tulisan, pasti akan menjadi artikel TLDR (too long didn't read) yang pastinya kamu akan suka.
Facebook Comments

Published by

Donald

A great Big Bang and then it all starts, we have no idea where will it end to ...

One thought on “Membuat Logline bersama David Wheeler dari Michigan University – Sebuah Parafrase (part. 2)”

Komentar