Memilih Tetap Kekanak-kanakan – [Storytelling]

“Woy. Kamu itu udah bapak-bapak. Masih aja ngomongin hal ga jelas kayak anak-anak”?, keras sekali suara Pia, sang istri tercinta, di telinga Delano.

Bagaimana mungkin ucapan seperti itu terlontar dari orang yang bersamanya seatap, sekamar, sedapur dan semeja makan?

Saking seringnya mendengar ucapan seperti itu, Delano hanya tersenyum saja. Bahkan sesekali membalasnya dengan candaan dan tingkah kekanak-kanakan yang membuat Pia akhirnya mleyot dan salah tingkah. Kalau sudah begitu, Pia akan pergi ke dapur dan segera membuatkan secangkir kopi hitam untuk sosok misterius yang sudah dinikahinya selama 5 tahun, tetapi tak pernah sungguh dikenalinya.

Sebenarnya ketika pertama sekali ia mendengarnya, saat itu hampir saja ia tersulut emosi. Tetapi untunglah amarahnya tidak sampai meledak. Meski telinga dan hatinya panas, akal sehatnya berkata: bukankah justru karena Pia mengenalnya sangat dekat, mengetahui apa saja yang dia obrolkan, Pia mengenal Delano dengan baik?

Bagaimana kalau ia mencerna sekali lagi arti ucapan istrinya itu: “kamu masih kayak anak-anak”? Apa sebenarnya yang dimaksudkan isterinya itu.


Delano baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-35. Tinggal 5 tahun lagi saja waktunya tersisa untuk benar-benar menjadi seorang laki-laki, Ama, suami dan bapak bagi keluarga kecil mereka. A man. Seorang yang mampu menyediakan apa yang perlu untuk keluarganya sehingga tidak lagi disebut anak-anak oleh sang isteri.

Rumah.

Tempat usaha, investasi, mungkin beberapa sertifikat logam mulia juga.

Plus sebuah jabatan di punguan dongan samarga mereka, supaya ketika ada ulaon (pesta adat), Pia akan bangga duduk menyaksikan orang datang meminta saran dari suaminya itu, dengan tak lupa membawa uang dan ucapan sekapur sirih.

Atau seseorang yang dipercaya menjadi pengurus di gereja tempat mereka beribadah, supaya setiap kali mereka beribadah di sana, isterinya yang sudah bersusah-payah memoles diri dengan pakaian kebaya dan riasan wajah lengkap dengan bulu mata yang lentik itu bisa duduk dengan anggun di barisan depan dan percaya diri, sebab orang akan menyebutnya “itu isteri pengurus Gereja kita“.

Saat ini, penghasilannya sebagai kolumnis sastra di dua-tiga majalah yang oplah cetaknya kecil tentu belum bisa menyediakan semuanya itu.

Tetapi Delano memang berbeda. Seakan tidak cemburu sedikitpun dengan banyak rekan seusianya yang sudah sukses menurut ukuran Pia, Delano masih saja meneruskan kesukaannya menulis puisi.

Dia akan tahan ngobrol lewat telefon berjam-jam dengan Juan, seorang penulis puisi berusia 50 tahunan, tidak menikah. Membahas sebuah puisi dari penyair terkenal lalu menulis puisi. Atau membicarakan sebuah kejadian besar di negara ini, lalu menulis puisi. Bahas, tulis, bahas lagi, tulis lagi. Itulah lingkaran tak berujung yang tepat menggambarkan kegemaran dua lelaki yang Pia sebut kekanak-kanakan ini.

Juan adalah orang yang pertama kali memberi selamat kepada Delano ketika ia memberitahukan bahwa ia akan menikah. “Kawan, hidupmu akan jauh lebih sulit setelah menikah. Kau tidak akan bebas lagi menulis puisi sebebas aku. Aku salut atas keberanianmu mengambil keputusan ini. Kuharap kau bahagia”, ucap Juan 5 tahun yang lalu.

Bersama Juan, tidak hanya sekali saja mereka mencoba membuat buku antologi puisi yang mereka berdua tulis, tetapi selalu ditolak penerbit. Tetapi mereka tak pernah jera. Mereka juga rajin mengirim puisi mereka ke surat kabar lokal, kerap tanpa imbalan jasa sama sekali. Belakangan ketika surat kabar itu sudah cukup besar dan bermigrasi menjadi situs berita online, mereka tak pernah lagi dimintai menulis puisi. “Para pembaca kami tidak tertarik lagi membaca puisi”, begitu balasan email dari pemimpin redaksi mereka saat itu.

Pernah juga mereka menggagasi berdirinya sebuah komunitas penyair, tetapi lalu kompak meninggalkannya sebab saat itu Darmono, yang kelihatan bernafsu menjadi ketua perkumpulan, ternyata menyisipkan agenda untuk membesarkan nama seorang politikus dalam syair-syair puisi mereka. Juan dan Delano langsung melihatnya sebagai gelagat tidak beres. Belakangan politikus yang dipuji Darmono dan kawan-kawannya itu muncul di TV, memakai rompi oranye. Angka korupsi yang dilakukannya tidak main-main ternyata, sehingga ketika menangkapnya, KPK menyebutnya “sebuah tangkapan besar, ikan yang besar”

Perkenalannya dengan Juan sendiri tergolong cukup unik. Ketika itu, Delano masih kelas 5 SD. Ada perlombaan menulis puisi yang diselenggarakan untuk merayakan HUT RI. Juan, mahasiswa muda saat itu, menjadi salah satu juri lomba. “Nak, kamu punya bakat menjadi penulis puisi. Terus berlatih ya”, kata Juan menepuk pundak Delano kecil puluhan tahun lalu.

Sampai kini, meski tinggal di kota yang berbeda, Delano dan Juan masih saling menelepon. Membahas karya pujangga besar seperti Joko Pinurbo, Charles Bukowsi bahkan seorang legenda seperti Leo Tolstoy.

Ini yang membuat Pia tidak habis pikir. Bagaimana bisa dua orang manusia, laki-laki larut dalam percakapan tiada henti, dengan semangat yang berapi-api ketika membahas puisi. Memangnya mereka berdua ini masih anak SD yang ketakutan bakal dimarahi guru kalau PR mengerjakan puisi untuk tugas Bahasa Indonesia tidak selesai?

“Kalian ini laki-laki 35 dan 50 tahun loh”, ketus Pia suatu waktu lain.

Suatu kali Pia menunjukkan sebuah quote Instagram, berharap mungkin bisa menjadi sindiran pedas bagi suaminya itu. Kutipan itu berbunyi: “Menjadi tua itu pasti, menjadi dewasa itu pilihan”.

Tapi, alih-alih tersindir, Delano malah balik menceramahinya dengan argumen filosofis:

“Sayangku … Quote-mu itu benar sekali. Tapi kebenarannya tidak absolut. Saat ini, menjadi dewasa itu pasti, sebab konstruksi pikir masyarakat menuntut setiap orang, terutama laki-laki, untuk menjadi dewasa. Sebelum umur 25, laki-laki sudah harus menamatkan kuliahnya dan memiliki pekerjaan yang mapan. Sebelum umur 30, laki-laki sudah harus menikah. Sebelum umur 35, laki-laki seperti suamimu ini sudah harus memiliki rumah, menyediakan tempat tinggal untuk keluarganya. Inilah dewasa menurut standar masyarakat sekarang. Tinggal ikuti saja, sudah pasti kamu dianggap dewasa. So, terimalah kebenaran versi lain dariku. Menjadi dewasa itu pasti, menjadi anak-anak kembali itu pilihan


Begini bangunan argumentasi Delano.

Menjadi dewasa itu artinya tidak menjadi anak-anak lagi. Apa yang dimiliki anak-anak, yang harus dihilangkan ketika seseorang memutuskan menjadi dewasa? Hobbi atau minat. Passion.

Dua puluh lima tahun yang lalu, Delano kecil sangat gembira ketika namanya dipanggil saat upacara di sekolah sebagai pemenang lomba menulis puisi. Kedua orangtuanya pun terlihat bangga saat itu ketika tetangga memuji betapa beruntungnya mereka memiliki anak pintar dan berprestasi seperti Delano.

Delano kecil yang melihatnya lalu merenung dalam hati: Ayah dan ibuku tersenyum senang senang karena aku menang menulis puisi. Mereka menyemangatiku dan mengusap kepalaku. Aku ingin mereka tetap senang.

Sejak saat itu, membaca dan menulis puisi menjadi kegemarannya. Ia berangan-angan, ketika besar nanti ia tak hanya menang lomba menulis puisi tingkat sekolah lagi, tetapi menjadi penyair besar yang diperhitungkan di tingkat internasional. Sebab kalau itu terjadi, tentu kedua orangtuanya akan jauh lebih senang lagi. Memikirkannya saja membuat Delano bahagia.

Angan untuk menyenangkan ayah dan ibunya itulah yang memberinya energi dan kepuasan untuk membaca puisi lebih banyak lagi, menulis puisi lebih banyak lagi. Ia gembira setiap kali satu puisi selesai ditulisnya. Di benaknya, satu puisi yang selesai ditulisnya ini adalah harapan untuk kembali membuat bangga ayah dan ibunya. Lengkap sudah.

Bagi Delano, menulis puisi adalah kegembiraan dan harapan.

Menjadi penyair besar suatu saat nanti, itulah mimpinya. Maka Delano harus tetap menulis puisi. Sebab jika Delano tidak menulis puisi lagi, dia takut ia tidak lagi memiliki mimpi.

Akhir-akhir ini dia memang semakin jarang bermimpi. Entah karena tertidur pulas setelah keletihan membaca buku sumber dan mengolahnya menjadi artikel – untuk memenuhi deadline permintaan dari majalah yang memberinya penghasilan meski kerap tidak cukup bahkan untuk kebutuhan sehari-hari mereka – atau karena hal lain, Delano tidak tahu pasti.

Ingatan masa kecil memenangi lomba menulis puisi tingkat SD yang menjadi awal perjalanan karirnya menjadi penulis kolom sastra tidak lagi muncul dalam mimpinya. Mungkin ingatan itu berusaha ditekannya ke alam bawah sadarnya sebab di kenyataan sehari-hari, apa yang dilakoninya sekarang tidak lagi mendapat tepuk tangan dari banyak orang. Bahkan pekerjaannya sebagai penulis kerap menjadi bahan tertawaan rekan sealmamaternya pada satu dua kali reuni. Rekan-rekan satu sekolahnya dulu, yang sekarang setiap kali reuni pasti datang dengan mobil mewah terbaru mereka.

Mungkin seiring bertambahnya usia, orang memang tidak bermimpi lagi. Baik mimpi tidur maupun mimpi dalam arti cita-cita. Sempat Delano berpikir begitu.

Tapi Delano tak bisa membohongi hati kecilnya. Ia bahkan ingat bahwa perasaan bangga yang muncul pertama kali ketika ia menjadi penulis puisi cilik masih terasa hangat. Hingga sekarang, di usianya yang ke-35.


“Dukung Delano. Dorong Delano bermimpi. Bukan sembarang mimpi saja, tetapi mimpi yang besar”, begitu kata Bu Sinaga, wali kelas Delano pada pertemuan dengan kedua orangtuanya pada saat acara kelulusan mereka. Ibu Sinaga sendiri memiliki alasan memberi motivasi seperti itu sebab ingat ketika ia mengajar di kelas Delano.

”Delano, apa cita-citamu?” tanya bu Sinaga.

“Aku ingin jadi penyair, Bu Guru,” kata Delano.

”Aku ingin jadi artis sinetron,” sahut yang Suman, anak yang lain.

”Aku mau jadi astronot,” ujar yang lain berebut.

Selain jawaban itu masih banyak jawaban anak-anak lain yang berbeda. Ada yang ingin menjadi guru, jadi perawat, jadi kyai, polisi, tentara, bahkan ada juga yang menyebut ingin jadi presiden. Itu semua terucap atas pikiran mereka yang begitu sederhana sesuai kemampuan berpikir mereka.

Tapi menjadi penyair? Ini sesuatu yang unik. Bagi Ibu Sinaga, menjadi penyair adalah jawaban yang sangat berani. Terlebih di tengah masyarakat yang mengolok-olok berkesenian sebagai pekerjaan orang malas dan tidak akan mampu menghasilkan banyak uang.

Dan memang benarlah, ketika di bangku kuliah dimana para mahasiswa sudah mampu merumuskan cita-cita mereka lebih mengerucut pada bidang dan profesi yang lebih spesifik. Ada yang mengaku ingin menjadi arsitek, dosen, peneliti, ahli biologi dan sebagainya sesuai dengan bayangan yang mereka inginkan. Dan Delano masih tetap ingin menjadi penyair.

Teman-temannya sendiri sekarang kerap menyindir Delano sebagai pemimpi. Ia tahu, ini sindiran untuknya. Di awal, Delano tidak habis pikir dengan cemooh mereka. Delano beberapa kali ingin menjelaskan dasar pikirnya ini kepada siapapun yang meremahkan profesi dan passion yang dia miliki ini.

Tetapi sekarang Delano memilih menarik diri. Batinnya berkata bahwa bukan kesalahan mereka sehingga mereka tidak bisa melihat bahwa mimpi seorang anak bukanlah omong kosong atau bualan semata. Bukan kesalahan mereka sehingga mereka tidak lagi memperjuangkan sesuatu yang dulu mereka sangat yakini, pikirkan atau bayangkan.

Ia teringat dengan Suman. Rekan masa kecilnya yang tetap satu sekolah dengannya hingga bangku SMA. Saat itu Suman bercerita bahwa ketika ia mengutarakan keinginan menjadi artis sinetron, kedua orangtuanya memberikan tanggapan pesimis.

“Sudahlah, nak. Bapakmu punya lahan sawit yang luas. Kamu mau kuliah, ya kuliah saja. Ngapain mau jadi artis sinetron. Kamu tinggal selesaikan saja kuliahmu sebab kalau tidak, sebagai keluarga terpandang di kampung kita ini, kami akan malu kalau ternyata kamu kuliah lalu malah drop out“. Suman sangat kesal ketika itu. Untuk apa kuliah kalau ijazah yang didapat nanti hanya demi gengsi keluarga, tetapi tidak sesuai dengan cita-citanya.

Suman memang akhirnya meneruskan mengurusi kebun sawit warisan orangtuanya. Tetapi pada pertemuan mereka yang terakhir, Suman banyak mengeluh dalam curhatnya. Wajahnya murung. Meski tidak kekurangan dari segi materi, sepertinya Suman tidak menikmati apa yang ia jalani sekarang. Wajahnya malah tampak berbinar ketika Delano sengaja memancing obrolan tentang industri perfilman Indonesia saat ini.

Sesampainya di rumah, Delano mengingat kembali pertemuan mereka. Seingatnya, selain omongan cerewet Pia isterinya yang selalu menyebutnya kekanak-kanakan itu, seingatnya hari-harinya ia lalui dengan semangat. Terlebih ketika ia menyelesaikan karya-karya puisinya. Berbeda dengan Suman.

Plot Andalan Menulis Naskah yang Storytell-able

Tahukah kamu apa itu “the seven basic plots” (7 plot dasar)?

Bukan hal baru lagi bahwa disana-sini, kamu mendengar dan mengalami sendiri bahwa kemampuan storytelling (bertutur) menjadi skill andalan yang dibutuhkan dimana-mana.

Seorang ustad atau pendeta yang menyisipkan inti kotbahnya dengan gaya storytelling cenderung akan disukai lebih baik jemaat. Seorang manajer yang mampu mempresentasikan program marketing dengan gaya storytelling cenderung disukai oleh jajaran direksi. Bahkan para diplomat menggunakannya dalam pertemuan internasional membicarakan isu global nan mahapenting. Pidato-pidato heroik bahkan klip video motivasi Reels Instagram yang kamu dengar dan membuatmu merinding, kebanyakan juga menggunakan gaya storytelling. Sebagai siswa, kamu juga pasti lebih senang jika teman yang presentasi tugas kelompok di depan kelas mampu menyajikan materi bahasan mereka dengan gaya bercerita.

Pokoknya, banyak deh gunanya.

Inilah yang kita sebut sebagai the power of storytelling. 

Akan tetapi, apakah kamu benar-benar memahami storytelling?

 

Tangkapan layar screenplay oleh Tri Ebigael Sinaga

Semua plot (alur cerita) berfokus pada hero (karakter utama). Maka tetapkan dulu karakter utama kamu siapa/apa. Bisa jadi hero-mu adalah sosok nabi yang kamu kagumi, seekor anjing kampung yang menyelamatkan petani dari ancaman ular berbisa, sebatang pohon ingul yang kayunya digunakan membuat solu, kamu sendiri, atau bahkan sesuatu yang tidak material seperti gagasan (kemiskinan, ketabahan, daya juang, dan seterusnya).

Secara ringkas, sang hero mengalami fase Antisipasi terlebih dahulu, dilanjutkan dengan fase Mimpi, fase Frustrasi, fase Mimpi Buruk dan berakhir dengan fase Resolusi. Atau dengan redaksi yang lain, misalnya metode 8 sekuens yang merupakan pengembangan dari metode tradisi teater Yunani kuno 3 acts structure alias drama tiga babak (permulaan, konflik/perjalanan, akhir cerita).

Mari kita bahas pelan-pelan.

 

Plot 1: Overcoming the monster

Si hero menempatkan dirinya berhadapan dengan kekuatan antagonis.

Pada tahap ini, sang nabi berhadapan dengan nabi-nabi lain yang menjadi hamba ilah palsu. Anjing kampung menyadari bahwa tuannya sang petani, sedang dalam bahaya sebab ia mendengar desis ular yang mendekat. Tanaman ingul yang masih kecil, susah payah mencari sinar matahari sebab masih berada di pot, diletakkan di gudang yang gelap. Atau kamu yang merasa bahwa seisi kelas tidak ada yang mencakapimu, seakan kamu melakukan aib yang membuat mereka memandangmu dengan rasa jijik padahal kamu tidak melakukan apa-apa.

Umumnya, daya antagonis itu mengancam sang karakter utama atau tempat tinggalnya. Plot seperti ini berakhir ketika sang pahlawan akhirnya menaklukkan kekuatan antagonis yang jahat itu.

Plot 2. Rags to riches

Pada plot ini, sang hero itu miskin, lemah atau tak berdaya. Tetapi alur cerita menuntun pada peristiwa dimana dia akhirnya memperoleh karunia luar biasa entah itu berupa kekuatan hebat, mendapat harta karun rahasia, menemukan sahabat yang setia atau pasangan jiwa yang sudah lama ditunggu. Sang hero kehilangan karunia luar biasa itu tetapi ia akhirnya mendapatkannya kembali. Dia berkembang secara personal seiring dengan pengalaman atau petualangan yang dialaminya.

Plot 3. The quest

Pada plot ini, sang hero tidak sendirian. Dia sudah punya kawanan, yakni teman-teman yang setia bersamanya dalam waktu yang cukup lama dan pertemanan yang sudah teruji.

Si pahlawan dan kawanannya kemudian bersepakat untuk mencari sebuah benda atau mencapai sebuah tempat. Selama perjalanan itu, mereka menemukan banyak tantangan dan godaan (terutama godaan untuk menyimpang dari tujuan awal mereka).

Plot 4. Voyage and return

Sang pahlawan pergi ke negeri antah berantah, dimana dia dan gerombolannya harus menaklukkan sejumlah tantangan dan mempelajari pelajaran hidup yang sulit. Ia kembali setelah jiwanya berkembang, diperkaya melalui pengalaman-pengalaman itu.

Plot 5. Comedy

Komedi yang dimaksud disini tak sekedar humor. Di dalamnya ada konflik dan kebingungan (yang sering semakin meningkat dengan cepat seiring dengan jalannya cerita), tetapi semuanya berubah tone, menjadi serius kembali di akhir cerita.

Plot 6. Tragedy

Disini sang pahlawan ditunjukkan dengan kesalahan atau cacat yang serius atau khilaf yang membuatnya malah harus menjalani nasib sial dan tidak menguntungkan. Akhir cerita seperti ini berujung pada momen yang membuat pendengar atau pembaca merasa kasihan.

Plot 7. Rebirth

Sebuah kejadian dramatis memaksa sang hero untuk mengubah jalan hidupnya sendiri dan menjadi orang yang lebih baik.


Selesai.

Lho, mana resep andalannya, Pak?

Silakan kamu racik sendiri. Menggunakan ketujuh plot itu semuanya, atau beberapa saja. Aku sendiri sedang berlatih untuk membuat hidangan menggunakan ramuan plot 1 Overcoming the Monster, plot 2 Rags to Riches dan plot 7 Rebirth untuk naskah storytelling di berbagai kesempatan. Untuk mudahnya, ingat saja Formula 127.

Kamu boleh meniruku atau mengembangkan sendiri sesuai seleramu.


7 Seven Basic Plots ditulis oleh Christopher Booker.

Belajar Menjiwai Peran dari Ahlinya: David Wenham

David Wenham

Aku pernah menjadi pengacara, pernah pula menjadi penjahat.

Ketika menjadi pengacara, Aku mewakili sejumlah penjahat terkenal. Ketika menjadi penjahat, Aku berhasil mengamankan pundi-pundi uang sebanyak USD 2,000 (lebih dari 310 juta jika dirupiahkan). Lalu rumahtanggaku berantakan, pernikahanku hancur. Aku dipenjara karena ketahuan berbisnis pengiriman obat-obatan terlarang.

Dulu Aku seorang imam (pastor) dan sebelum menjadi pastor, Aku sempat menjadi tentara. Tepatnya, Aku pernah menjadi sepuluh tentara dengan identitas berbeda. Aku pernah menjadi polisi, waktu itu kepalaku botak. Aku bahkan pernah menjadi Tuhan (tentu saja, cuma sekali)

Aku menikah puluhan kali, rekor yang sepertinya lebih banyak dari Elizabeth Taylor. Aku menjadi ayah dari banyak anak-anak yang bahkan tak kuingat namanya saking banyaknya.

Perkenalkan. Namaku David. Dan Aku adalah seorang aktor.


Apa itu akting?

Mengapa aku berakting?

Apa tujuannya?

Mengapa orang mau menghabiskan hampir seluruh waktu hidupnya hanya untuk menjadi seseorang yang bukan dirinya?

Sejak kecil, aku memang suka membuat orang tertawa. Entah dengan cara apapun, dan dalam situasi apapun. Kadang dengan suara yang menggelikan. Atau sekedar menaikkan celana pendek hingga ke atas pinggang, melewati pusarku. Pokoknya, teknik melucu sederhana yang membuat orang terkekeh-kekeh.

Seiring dengan berjalannya waktu, dari yang awalnya hanya sekedar suka membuat orang tertawa, aku merasakan dorongan yang lain untuk melakukan sesuatu yang lebih besar.

Sekarang, mari kita bahas apa pengertian dari akting? Definisi terbaik kudapat dari Sanford Meisner, guru akting-ku. Katanya: Berakting adalah berlaku dan bertindak sungguh-sungguh dalam situasi imajiner (khayal). Behaving truthfully in an imaginary situation.

Hingga tiba di suatu titik, Aku menyadari bahwa motivasiku menjadi seorang aktor tidak hanya sekedar keinginan untuk membuat orang lain tertawa. Waktu itu ada pertunjukan seni di sekolah. Lakon yang kami bawakan yaitu Henry IV bagian I karya Shakespeare. Saat casting, Aku mendapat peran sebagai Hotspur, seorang pemimpin yang gagah berani, keras kepala dan mudah marah. Saat itu menjelang sesi latihan yang panjang dimulai, Aku menemukan sebuah sudut sepi di belakang panggung teater kami, persis di samping sebuah pohon oak. Lalu aku mulai mengayunkan pedang kayu (yang digunakan sebagai properti latihan) dengan penuh amarah ke batang pohon oak yang tak berdosa. Aku ayunkan berkali-kali hingga nafasku tersengal, hampir tersedak karena kecapaian. Sembari mengayunkan pedang kayuku berkali-kali, Aku membayangkan (memvisualisasikan) secara akurat seperti apa karakter yang akan aku perankan. Latihan yang benar-benar kulakukan seperti layaknya aku sedang berada di sebuah pertempuran berdarah-darah.

Benarlah. Ketika tiba saatnya memasuki pintu teater sebagai Hotspur, Aku berada pada kesadaran sepenuhnya untuk mampu mengingat semua ketakutan yang harus bisa kutunjukkan kepada semua orang, persis yang dilakukan oleh Hotspur. Aku tidak meniru Hotspur seperti pada naskah. Aku benar-benar menjadi Hotspur dalam sebuah situasi dan lokasi imajiner, yaitu gedung kuliah teater yang berhadapan dengan King’s Court di London. Sudah 12 tahun Aku tidak lagi pergi ke sekolah teater itu dan tidak lagi memikirkan apa yang terjadi saat itu, tapi aku melakukannya secara instingtif.

Saat ini ada banyak variasi teknik ini diajarkan dan dilatihkan ke banyak orang.

Setelah Aku lulus dari sekolah akting itu, Aku mendapat peran pada lakon karya Dennis Potter yang berjudul Blue Remembered Hills. Filmnya berkisah tentang sekelompok anak usia tujuh tahunan yang bercengkerama di sebuah hutan di belahan utara Inggris. Seluruh bocah itu diperankan oleh aktor dewasa. Setiap kali menjelang sesi latihan, Aku akan pergi ke dinding bata yang kasar dekat gedung teater, menghunjamkan siku dan lututku ke tembok itu. Hasilnya adalah lutut yang luka dan lengan tergores yang lama-lama membentuk borok. Ketika malam tiba, pada jarak yang sangat dekat dengan penonton, sebagai Willy (peran yang akan kumainkan), Aku menggosoknya dengan serpihan tanah berlumpur. Darah bercucuran dari lutut dan sikuku. Pada momen ini, yang sedang terjadi ialah: aku menggunakan teknik eksternal yang membantuku mendapat olah sukma (rasa) dari seorang anak berusia tujuh tahun dan benar-benar menjadi peran itu.

Itulah metode yang kulakukan. Tentu saja ada banyak teori dan metode latihan akting.


Lakon itu Kisah. Aktor Menceritakannya

Tetapi, mengapa Aku melakukan semua itu? Apa tujuannya?

Sepanjang sejarah, para aktor sebenarnya adalah pencerita/pendongeng (storyteller). Melalui cerita atau kisah, kita berbagi keprihatinan, mimpi, luka, dukacita, penderitaan, kegembiraan. Kisah bersifat universal. Kisah atau cerita membantu kita memahami diri sendiri dengan lebih baik. Bercerita membantu kita menemukan kesamaan dan kemiripan kita dengan orang lain di seluruh belahan dunia ini. Aku merasa beruntung bisa terlibat menceritakan kisah tentang orang sungguhan di dunia nyata. Beberapa kisah yang dituturkan itu  bahkan mendapatkan apresiasi yang luar biasa, kerap dalam waktu yang cukup lama sejak kisahnya diperdengarkan. Ada yang menyembuhkan. Ada yang menginspirasi. Contoh yang sangat jelas yang bisa Aku ceritakan saat ini adalah dampak dari film – yang tak banyak diketahui orang – yakni film “Molokai” (Molokai: The Story Of Father Demien), sebuah kisah imam asal Belgia yang dengan sukarela tinggal bersama orang-orang kusta yang sengaja dikucilkan di sebuah pulau terpencil bernama Molokai. Aku berperan sebagai Father Damien.

Ketika Hawaii diserang wabah lepra pada sekitar tahun 1874, pemerintah Hawaii yang saat itu belum menjadi negara bagian Amerika Serikat memutuskan untuk mengisolasi penduduk yang terkena wabah tersebut ke sebuah pulau bernama Molokai.

Pihak Gereja Katolik di Honolulu kemudian meminta beberapa imam sukarelawan untuk membantu para penderita kusta yang terkesan ditinggalkan pemerintah di pulau tersebut. Father Demian (David Wenham) merupakan imam pertama yang mengajukan diri untuk menjadi sukarelawan. Dibelakangnya ada lagi tiga orang imam. Gereja memutuskan: Father Demian yang berangkat ke pulau tersebut. Ia pun berangkat. Disana ia bertugas di sebuah daerah bernama Kalaupapa di pulau Molokai. Ketika ia tiba, ia disambut oleh pengawas pulau bernama Rudolph Meyer (Kris Kristofferson) yang menganjurkannya untuk menghisap rokok guna mengurangi bau tidak sedap saat berinteraksi dengan penduduk, yakni para penderita kusta itu.

Di Kalaupapa Father Demian melihat kehidupan para penderita kusta yang putus asa serta kemorosotan moral yang diakibatkan depresi. Father Demian lalu mulai membersihkan kembali Gereja yang sudah lama tidak terpakai kemudian menanam beberapa pohon untuk melindungi perkampungan tersebut dari badai. Pada interaksinya dengan penduduk dia mulai akrab dengan Bishop (Ryan Rumbaugh) anak kecil penderita kusta yang menawarkan diri menjadi anak altar, William (Peter O’Toole) penderita kusta tua yang bersimpati terhadap misi Father Demian, serta Malulani (Keanu Kapuni-Szasz) gadis belia yang mulai terjangkiti kusta.

Father Demian juga berupaya meminta bantuan obat obatan dan pakaian kepada pemerintah setempat namun sayangnya pihak pemerintah terkesan mengabaikan permintaan tersebut, bahkan pihak gereja terkesan hati hati dalam menilai misi Father Demian meskipun pemimpin gereja Honolulu Father Leonor (Derek Jacobi) tetap menyemangati Father Demian.

Tanpa sadar setelah beberapa tahun melayani penduduk Kalaupapa, virus penyakit lepra pun menjangkiti Father Demian. Namun justru hal itu membuatnya semakin giat dan bersemangat untuk meningkatkan fasilitas bagi penduduk Kalaupapa. Ia akhirnya berhasil membuat pemerintah Hawaii mulai memperhatikan kondisi penduduk di pulau Molokai.

Father Demian akhirnya harus menyerah saat penyakit lepra semakin menggerogoti tubuhnya, ia pun wafat setelah 15 tahun tinggal bersama penduduk yang diisolasi karena penyakit kusta di pulau Molokai. End of the story.


Katharsis

Pengambilan gambar (syuting) untuk film Molokasi langsung dilakukan di lokasi yang sama pada tahun 1999. Saat itu pemerintah telah lama menghentikan pengiriman penderita kusta kesana. Akan tetapi, disana masih ada 55 orang penderita sakit kusta. Bersama film director Paul Cox, Aku tinggal di komunitas itu selama lima bulan. Selama periode itu, penggunaan kamera untuk pengambilan gambar dilarang. Pelan-pelan Paul mendapat simpati dan mereka mulai percaya. Satu persatu mereka datang menghampiri Paul dengan sukarela untuk turut diambil gambarnya. Mereka ingin supaya masyarakat luas mengetahui persis apa yang telah penyakit kusta lakukan terhadap tubuh dan wajah mereka.

Setahun setelah periode syuting itu selesai, Aku dan Paul kembali lagi kesana untuk mengajak mereka menonton film tersebut. Berhubung di tempat itu tidak ada tempat untuk menonton film, maka kami diaturlah supaya satu persatu penderita kusta itu diangkut menggunakan pesawat terbang berukuran mini ke daerah yang lebih ke puncak. Penerbangannya hanya 8-10 menit. Begitu mereka semua mendarat, sebagian dipopong, sebagian lagi dibantu dengan segala macam cara, akhirnya mereka tiba di aula setempat. Disana dibuatlah layar untuk menonton.

Begitu film mulai diputarkan, mereka, para penderita kusta ini – yang sebelumnya tak pernah melihat wajah mereka muncul di tayangan film bahkan sebuah foto pun tidak – mulai menangis tersedu. Mereka sadar, saat itu, bukan hanya kisah mereka saja yang sedang ditunjukkan ke seluruh dunia, tetapi juga kisah dari generasi sebelum mereka. Mereka sedih melihat tayangan itu, tapi lalu merasa bangga dan bahagia karena telah terlibat dalam sebuah kisah mahapenting: sejarah mereka dan budaya mereka.

Sebagai bagian dari mereka, Aku merasa tersanjung bisa ikut menuturkan kisah mereka, bersama mereka.

Itulah sebabnya Aku menjadi seorang aktor.

Kisah/cerita bisa mengubah kita.

Kisah bisa mengubah sudut pandang kita.

Kisah bisa mengubah pendapat, mood, dan pola pikir kita.

Storytelling alias menuturkan kisah benar-benar sebuah pengalaman katharsis.

Aku adalah seorang aktor. Mengapa? Karena Aku senang menceritakan kisah. Kisah yang menjaga kita tetap manusiawi.

Terima kasih.


©® Tulisan ini sebagian besar berasal dari transliterasi mandiri dari sesi bicara David Weinham di Ted Talk.