DONALD HAROMUNTHE

For Those Whom I Can't Talk With

Tag: Toba

“Sulangan Mangan” versi English

Lagu-lagu Batak yang sarat makna dan pesan filosofis menjadi instrumen komunikasi yang ampuh dan terbukti tahan zaman. Banyak muatan nilai luhur yang bisa dipetik jika kita sungguh-sungguh mendengarkan kata-kata dalam lirik lagu tersebut. Simak saja lirik lagu “Anakhonhi do Hamoraon di Au”, “Di Parsobanan i”, “Binsar Mataniari” dan sejenisnya. Tentu bukan berarti bahwa lagu-lagu hasil utak-atik techno-digital dan perkawinan musik tradisional Batak dengan irama Dang-dut tidak sarat makna. Hanya saja keduanya memiliki tempat dan genre tersendiri.

Sekelompok anak muda yang tergabung dalam group vokal BODT Voice menyadari benar hal ini. Tak hanya itu, mereka pun ikut berkontribusi dengan menyanyikan kembali lagu-lagu Batak dalam versi bahasa Inggris dengan maksud supaya pesan yang terkandung dalam lagu tersebut bisa menjangkau lebih banyak orang, termasuk yang bukan penutur bahasa Batak ataupun Indonesia.

Lagu yang digubah lagi variannya kali ini ialah lagu “Sulangan Mangan”, sebuah lagu yang mencoba menggambarkan perasaan orangtua yang kesepian setelah anak-anak mereka menempuh kehidupannya sendiri, entah karena menikah, jauh di perantauan ataupun karena pekerjaan yang mengharuskan mereka untuk jauh dari orangtua tercinta. Kegelisahan yang sejatinya berlaku untuk hampir semua orangtua lanjut usia, yang kerap tidak berbalas empati dari anak-anak mereka.

Sejatinya versi asli lagu ini pertama kali dipopulerkan oleh Trio Permata. Lirik aslinya dalam bahasa Toba sebagai berikut:

Nunga lam rabbon si malolonghu
nunga lam jonok ari-arikku
di hatuaonhon dao hamu sude
hundul sasada au di huta on
oo……

Ho hamu sude di anakhonhu
Ise do hamu na olo loja
Lao paresohon au
Patureture au
Andorang so marujung ngolu kon

Sulangan mangan nama au
Jala ikkon sulangan minum
Siparidion nama au
jala ikkon togu-togu on
Atik boha marujung ngolunghon
Tung ise ma manutup matakkon

BODT Voice mengartikulasikan pesan tersebut dalam “This is All My Life” (“ai on nama ngolunghu”.

Berikut ini lirik dan link videonya.


Dear my champ, and you my lovely daughter

Here I stand still wait for you to come

With all that’s in my heart

With all that’s in my mind

Please tell me when you’ll visit me again

 

These my words that I have in my heart

You are all my precious in my life

Don’t care about the wealth,

don’t care about the crown

Coz you my champ, my girl are all for me

 

(Refrain):

You see that I can barely wake

Even when it is from my bed

You see that it is clear for me

The memory when I hold you

Take care of you, when you are still a child

I tell you know that this is all my life

 

Untuk tahu lebih banyak tentang BODT Voice, silahkan kontak mereka dengan klik disini.

 

 

Agora Toba – Dari Efesus ke Samosir

Agora

Agora (bahasa Yunani: Ἀγορά, Agorá) adalah tempat untuk pertemuan terbuka di negara-kota di Yunani Kuno. Pada sejarah Yunani awal, (900–700 SM), orang merdeka dan pemilik tanah yang berstatus sebagai warga negara berkumpul di Agora untuk bermusyawarah dengan raja atau dewan. Di kemudian hari, agora juga berfungsi sebagai pasar tempat para pedagang menempatkan barang dagangannya di antara pilar-pilar agora. Dari fungsi ganda ini, muncullah dua kata Yunani: αγοράζω, agorázō, “aku berbelanja”, dan αγορεύω, agoreýō, “aku berbicara di depan umum”. Dari sini muncul istilah agorafobia digunakan untuk menunjukkan rasa takut terhadap tempat umum.  Di tempat lain, muncul forum romana, bentuk pertemuan bangsa Romawi yang mengikuti agora dan di banyak catatan sejarah dikenal juga dengan nama yang sama.

Yunani Kuno

Ephesus (baca: Efesus), kota yang kerap-kerap disebut pada zaman Yunani Kuno, berada di sebelah barat dari Anatolia, sekarang kota Selçuk, Provinsi Izmir, Turki. Ephesus adalah salah satu dari dua belas kota dari liga Ionian dalam sejarah pemerintahan Yunani kuno. Dari bukti-bukti yang terkumpul diperkirakan Ephesus ini sudah di huni 6000 tahun Sebelum Masehi. Kota ini terkenal dengan candi Artemis yang selesai dibangun 550 SM, merupakan satu dari Tujuh Keajaiban Dunia Kuno, Candi ini di robohkan di tahun 401 oleh massa yang di dalangi oleh St. Yohannes Chrysostomus. Kaisar Constantinus I membangun kembali kota ini, tetapi di tahun 614 sebagian hancur lagi karena gempa bumi. Kota yang menjadi pusat perdagangan ini pun melemah, terutama setelah pelabuhan yang semakin tahun makin tertutup oleh lumpur dan mengisolir kota ini. Kuil ini sendiri saat ini hanya berupa pilar-pilar yang tidak mencolok mata pada saat penggaliannya oleh Museum Inggris di tahun 1870-an.

Tentang bagaimana artefak untuk mempelajari sistem dan peradaban di kota ini diperkirakan masih berada dibawah tanah dan harus digali. Para ilmuan hanya bisa menjelaskan bahwa hujan dan banjir telah menenggelamkan Kota ke dalam tanah. Hanyutan lumpur menutup permukaan dermaga hingga sekarang menjadi tanah perkebunan. Tentu saja teori ini masih jauh dari kebenaran karena para arkeolog sendiri masih meragukan hipotesanya.

Yang menarik adalah ada dua ‘agora’ atau pasar komersial untuk melakukan bisnis negara juga tergali di sekitar kota ini.

Dari sebuah anal yang tercatat, kita bisa mereka-reka bagaimana kebiasaan masyarakat Efesus.

Anak-anak muda belajar di jalanan. Mereka berjalan-jalan, mengamati suatu objek yang menarik sambil sesekali berdiskusi di bawah bimbingan seorang guru. Celetukan, pertanyaan dan juga ocehan menjadi kurikulum tak tertulis mereka. Ada saja yang menarik perhatian mereka dan mereka haus untuk bertukar pikiran sembari memastikan apakah pendapat yang seorang sama dengan yang lain untuk hal yang sama.

Mungkin karena inilah Simonides dalam salah satu syairnya berkata, “Kota mengajar manusia”.

Via Shutterstock

Mereka belajar dengan memperhatikan, mendengarkan dan berdiskusi.

Mereka belajar geografi dengan mendengarkan obrolan pedagang yang baru kembali dari tanah seberang.

Mereka juga mempelajari berbagai keahlian, seperti pandai besi dan pertukangan kayu, dengan memperhatikan tukang bekerja di depan rumahnya masing-masing.

Mereka belajar politik dengan mendengarkan perdebatan orang di agora (pasar)

Mereka adu pendapat mengenai harga barang di pasar

Mereka bahkan sudah berani berargumen tentang pajak, pemerintahan, kebijakan senat yang bahkan di dua puluhan abad kemudian di sebuah wilayah berjuntai pulau di bawah pelukan hangat Khatulistiwa, orang bahkan harus menutup pintu untuk membicarakannya. Hmm …

Selanjutnya di hampir seluruh kota Yunani, termasuk Efesus juga, muncullah kaum Sofis yang memperkenalkan metode baru dalam pendidikan, yaitu orasi dan retorika. Mereka memanfaatkan kefasihan lidah mereka beragumentasi untuk menjelaskan suatu isu. Sayangnya banyak dari aliran sofistik itu bukanlah pelayan kebenaran, melainkan pelayan diri sendiri, yang memanfaatkan kelebihan mereka untuk mencari uang dan kedudukan.

Hingga suatu saat di antara mereka muncullah Sokrates di Athena, seorang yang pandai berdebat namun juga tertarik pada yang benar. Ia mampu mengalahkan para Sofis dalam perdebatan umum di pasar. Sokrates, yang mendapatkan julukan orang paling bijak di Yunani, mengubah metode pendidikan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan cerdas kepada pemuda-pemuda yang mengikutinya, untuk memaksa mereka berpikir.

Salah satu pengikutnya, Plato, akhirnya mendirikan sebuah sekolah, yang sebenarnya tidak lebih dari tempat kumpul-kumpul di sebuah taman bernama Akademos, sehingga sekolahnya diberi nama Akademia. Di sana mereka berargumen mengenai perihal alam, negara dan apa saja yang terpikirkan oleh mereka, meneruskan tradisi yang telah dibangun oleh Sokrates.

Salah satu murid Plato, Aristoteles, juga mendirikan sekolah dengan semangat yang kurang lebih sama meskipun dengan filsafat yang berbeda, bernama Lyceum. Kedua sekolah inilah yang menjadi landasan sebagian besar pemikiran di dunia hingga saat ini. Bersama dengan peradaban maju lainnya yang melakukan revolusi awal di bidang pendidikan, Efesus dengan agora-nya menjadi kontributor terbesar bagi perkembangan pemikiran kemudian. Berkat puluhan revolusi lain puluhan abad kemudian di wilayah yang kita sebut sebagai “dunia Barat”, gerak maju pendidikan dan literasi dalam berpendapat akhirnya sampai juga ke Nusantara, lalu dengan agak susah-payah Anda dan saya akhirnya bisa menikmati segudang tulisan. Salah satunya ya ketika Anda membaca tulisan ini. Hehehe …

Oke, sejauh ini kira-kira apa yang bisa kita dapatkan?

Mungkin sulit untuk membawa pembaca pada suasana di sebuah agora, di sebuah kota, di sebuah negara ribuan kilometer dari tempat duduk pembaca saat ini pada kurun puluhan abad sebelum sekarang. Agora di Efesus pada ribuan tahun lalu telah berhasil menciptakan iklim pengetahuan yang berbicara banyak pada sejarah setelah susah payah akhirnya berhasil juga melahirkan maestro pengetahuan sepanjang masa, Sokrates, serta merintis sistem pendidikan modern di hampir seluruh dunia dewasa ini, yaitu Akademia.

Socratic Academians learning method via Pinterest

(Itu khan di Negeri Para Dewa. Kasih contoh yang di Nusantara donk.)

Banyak kesamaan antara Efesus dengan Toba dan Samosir. (Silahkan mem-bully Saya dengan paralelisme yang bernuansa cocoklogi ini). Memangnya, ada hubungan historis? Atau Sokrates pernah meliput di Danau Toba begitu? Tentu se-akronistik itu.

Samosir di Indonesia

Kalau orang Yunani di Efesus punya agora, orang Batak Toba di Samosir (kemudian juga orang Batak Toba di seluruh dunia) juga punya kawah sendiri untuk berdialog, berdiskusi, adu argumen atau setidaknya untuk “say hello”, yakni lapo tuak. “Lapo” adalah kedai/warung seperti warung kopi. Mungkin seperti Starbucks, Coffee Bean atau Kedai Kopi Ong yang terkenal itu. (Hahaha …) Tempat-tempat yang kerap Saya jauhi karena sudah lumrah menjadi tempat nongkrong sekaligus latihan pecah rekor Nyisip Kopi Terlama yang Pernah Ada. (Saya kurang tahu apakah sudah ada event organizer yang pernah menggagas lomba semacam ini). Betapa tidak, secangkir kopi seharga Rp 40 ribuan bagi seorang karyawan dengan upah dua juta-an per bulan. You know-lah, that’s not like drinking mineral water. Semoga kita sepakat dalam hal ini.

Jika diperhatikan, maka aktifitas berbicara-mendengarkan-berdiskusi di agora ini sangat mirip dengan acara “Markombur” (ngobrol ngalur-ngidul) di lapolapo yang sejak dulu menjadi tempat berkumpul kaum bapak di Samosir. Umumnya di zaman masyarakat Toba yang patriarkhis kental ini, kaum ibu lebih memilih untuk diam di rumah atau melakukan kegiatan lain daripada menjadi gunjingan.

Bedanya adalah seperti namanya percakapan di antara para gentleman Batak ini biasanya menjadi semakin hangat berkat adanya minuman tradisional beralkohol yakni tuak. Soal berapa persen kadar yang dikandungnya memang sepengetahuan saya belum ada yang menghitungnya, mungkin nanti bisa jadi bahan penelitian untuk tugas akhir mahasiswa Batak yang siap-siap duduk lagi di semester-semester berikutnya. (Hihihi … ) Seperti halnya minuman beralkohol, tentu akan tidak baik jika dikonsumsi dengan berlebih.

Budaya diskusi orang Batak itu ternyata dibesarkan di lapo tuak. Orang-orang, tua dan muda, setelah pulang bertani selalu berkumpul di lapo tuak. Daerah-daerah seperti Toba Samosir, Humbang Hasundutan, Simalungun, Tanah Karo, Dairi memang menunjukkan ciri yang sama: Meminum tuak menjadi pemandangan umum pada malam hari, antara lain lantaran iklim daerah-daerah tersebut yang dingin.

Lagi tentang Samosir

Pulau Samosir sendiri ialah pulau vulkanik hasil erupsi purba Gunung Toba yang sekarang menjadi Danau Toba. Sebuah pulau dalam pulau dengan ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut menjadikan pulau ini menjadi sebuah pulau yang menarik perhatian bagi siapapun yang mengunjunginya. Di pulau ini terdapat pula dua danau lain yang lebih kecil, yaitu Danau (Aek) Sidehoni dan Danau (Aek) Natonang. Keduanya kerap disebut “danau di atas danau”.

Untuk mencegah salah kaprah, berikut beberapa term yang kerap diasosiasikan dengan Samosir.

  1. Kabupaten Samosir, yakni sebuah kabupaten di Sumatera Utara. Sebagian wilayahnya mencakup Pulau Samosir.
  2. Kabupaten Toba Samosir, yakni sebuah kabupaten di Sumatera Utara.
    Samosir juga adalah salah satu marga dari Batak (Toba) yang berasal dari Kabupaten Samosir.
  3. Pulau Samosir yang dikelilingi oleh Danau Toba dihuni oleh suku Batak, lebih spesifik lagi etnis Batak Toba.
  4. Marga Samosir, salah satu dari ratusan marga yang umum dikenal dalam kekerabatan genealogis masyarakat Batak toba.

Perihal orang Batak sendiri konon adalah penutur bahasa Austronesia namun tidak diketahui kapan nenek moyang orang Batak pertama kali bermukim di Tapanuli dan Sumatera Timur. Bahasa dan bukti-bukti arkeologi menunjukkan bahwa orang yang berbahasa Austronesia dari Taiwan telah berpindah ke wilayah Filipina dan Indonesia sekitar 2.500 tahun lalu, yaitu pada zaman batu muda (Neolitikum). Karena hingga sekarang belum ada artefak Neolitikum (Zaman Batu Muda) yang ditemukan di wilayah Batak maka dapat diduga bahwa nenek moyang Batak baru bermigrasi ke Sumatera Utara pada zaman logam. Pada abad ke-6, pedagang-pedagang Tamil asal India mendirikan kota dagang Barus, di pesisir barat Sumatera Utara. Mereka berdagang kapur Barus yang diusahakan oleh petani-petani di pedalaman. Kapur Barus dari tanah Batak bermutu tinggi sehingga menjadi salah satu komoditas ekspor di samping kemenyan. Pada abad ke-10, Barus diserang oleh Sriwijaya. Hal ini menyebabkan terusirnya pedagang-pedagang Tamil dari pesisir Sumatera. Pada masa-masa berikutnya, perdagangan kapur Barus mulai banyak dikuasai oleh pedagang Minangkabau yang mendirikan koloni di pesisir barat dan timur Sumatera Utara. Koloni-koloni mereka terbentang dari Barus, Sorkam, hingga Natal. Batak merupakan salah satu suku bangsa di Indonesia. Nama ini merupakan sebuah tema kolektif untuk mengidentifikasikan beberapa suku bangsa yang bermukim dan berasal dari Tapanuli dan Sumatera Timur, di Sumatera Utara. Suku bangsa yang dikategorikan sebagai Batak adalah: Batak Toba, Batak Karo, Batak Pakpak, Batak Simalungun, Batak Angkola, dan Batak Mandailing.

R.W Liddle, seorang penulis, mengatakan, bahwa sebelum abad ke-20 di Sumatra bagian utara tidak terdapat kelompok etnis sebagai satuan sosial yang koheren. Menurutnya sampai abad ke-19, interaksi sosial di daerah itu hanya terbatas pada hubungan antar individu, antar kelompok kekerabatan, atau antar kampung. Dan hampir tidak ada kesadaran untuk menjadi bagian dari satuan-satuan sosial dan politik yang lebih besar. Pendapat lain mengemukakan, bahwa munculnya kesadaran mengenai sebuah keluarga besar Batak baru terjadi pada zaman kolonial. Dalam disertasinya J. Pardede mengemukakan bahwa istilah “Tanah Batak” dan “rakyat Batak” diciptakan oleh pihak asing. Sebaliknya, Siti Omas Manurung, seorang istri dari putra pendeta Batak Toba menyatakan, bahwa sebelum kedatangan Belanda, semua orang baik Karo maupun Simalungun mengakui dirinya sebagai Batak, dan Belandalah yang telah membuat terpisahnya kelompok-kelompok tersebut. Sebuah mitos yang memiliki berbagai macam versi menyatakan, bahwa Pusuk Buhit, salah satu puncak di barat Danau Toba, adalah tempat “kelahiran” bangsa Batak. Selain itu mitos-mitos tersebut juga menyatakan bahwa nenek moyang orang Batak berasal dari Samosir.

Terbentuknya masyarakat Batak yang tersusun dari berbagai macam marga, sebagian disebabkan karena adanya migrasi keluarga-keluarga dari wilayah lain di Sumatra. Penelitian penting tentang tradisi Karo dilakukan oleh J.H Neumann, berdasarkan sastra lisan dan transkripsi dua naskah setempat, yaitu Pustaka Kembaren dan Pustaka Ginting. Menurut Pustaka Kembaren, daerah asal marga Kembaren dari Pagaruyung di Minangkabau. Orang Tamil diperkirakan juga menjadi unsur pembentuk masyarakat Karo. Hal ini terlihat dari banyaknya nama marga Karo yang diturunkan dari Bahasa Tamil. Orang-orang Tamil yang menjadi pedagang di pantai barat, lari ke pedalaman Sumatera akibat serangan pasukan Minangkabau yang datang pada abad ke-14 untuk menguasai Barus.

Agora Toba

Di lapo, orang-orang akan mengambil kesibukannya masing-masing. Ada yang sebatas duduk-duduk sambil mengobrol (markombur), ada yang bermain catur, bernyanyi, dan ada juga yang hanya makan lalu pulang. Semua itu pemandangan yang biasa di lapo. Kembali ke soal diskusi tadi, di lapo orang-orang yang mengobrol biasanya akan memperbincangkan berbagai macam hal. Dari yang remeh temeh sampai ke diskusi soal negara. Diskusi biasanya akan berlangsung mulai dari suasana yang datar sampai ke perdebatan yang alot. Dan hampir sebagian besar dari mereka berdiskusi dengan menawarkan teorinya masing-masing (karena mereka berdebat dengan latar pendidikan yang berbeda-beda).

Budaya diskusi, berdebat, hal itu sangat mudah ditemui di lapolapo. Dan juga sangat mudah ditemui ketika dua-tiga orang Batak bertemu. Selalu ada hal untuk didiskusikan dan diperdebatkan. Budaya tersebut tanpa disadari telah membentuk karakter. Jika menyebut orang batak kebanyakan akan dengan segera mengasosiasikannya dengan profesi-profesi tertentu semisal pengacara. Hal itu bukan tanpa alasan.

Selain budaya diskusi, catur dan bernyanyi adalah bagian yang tidak terpisahkan dari lapo dan orang batak. Melalui kebiasaan bermain catur di lapolapo, orang batak terasah untuk berpikir. Selain menyalurkan hobi, catur juga menambah daya ingat. Dan tanpa disadari, kebiasaan-kebiasaan itu telah menjadi karakter yang melekat pada orang Batak.

Apapun profesinya, meninggalkan lapo sepertinya hal yang sulit dilakukan orang Batak. Hal itu dibaca dengan jeli oleh pengusaha-pengusaha lapo. Lapo berkembang dari waktu ke waktu. Kini menemui lapo dengan berbagai tipe dan kelas sangat mudah. Di Jakarta misalnya, lapolapo tuak cukup beragam ditemui. Mulai dari yang sederhana, menengah sampai kelas elit.

Pada akhirnya, lapo dan orang Batak menjadi hal yang tak terpisahkan seperti agora dan orang Efesus pada zaman Yunani Kuno. Keduanya besar karena saling membesarkan. Melihat kesamaan fenomen di Efesus dan di Samosir inilah saya mengusulkan ke siapapun yang berwewenang untuk menambah diksi agora Toba ke perbendaharaan kata kita.

Western and Easterns Met in Lapo Tuak via Hipwee.com

Semoga kita sepakat dalam hal itu.

 

Haromunthe di Adopan ni Punguan PARNA

Ditulis oleh marga Haromunthe dengan akun FB @Haro Alap

Tugu

Tung mansai lomos jala loja do hami pomparan ni Op Jelak Maribur khususna na marhuta sian Negeri Tamba, Kec Sitiotio, Kab Samosir molo disungkun dongan tubu Pomparan ni Nai Amboton ima sukkun-sukkun : “Boasa hamu mangalap boru Tamba molo marga Munte do hamu, alana marga Munte i pomparan ni Nai Ampaton manang parna do i”.

Tung mansai maol do hualusi hami sukkun-sukkun i. Sipata do hami margabus asa unang adong sukkun-sukkun i.

Alani i patorangon nami do saotik pardalanna tu hamu angka Amanta Raja dohot Inanta soripada boasa hami mangalap boru Tamba dohot angka boru ni Pomparan ni Nai Ambaton na asing, ima boru Simbolon, boru Sitanggang dohot angka na asing dope noso boi pinajojor.

Taringot tu sukkun-sukkun i, anggo alus na jempek sian hami songonon do: “ Ai dang ditonahon oppung nami tu hami na iboto nami boru Tamba dohot boru ni Pinompar ni Nai Ambaton na asing, alai sada tihas do dibahen di hami gabe digoari ma oppung nami Haro”. Ido sada siingoton dibahen di hami tarlumobi ma di Pinompar ni Jelak Maribur na marhuta di Negeri Tamba. Ido asa umbahen mangalap boru Tamba dohot boruni Pinompar ni Nai Ambaton na asing sahat tu sadarion.

Taringot tu tihas i, paboaon nami do saotik turi-turian na ditonahon ni natoras nami tarsongonon:

 Ia ompunta Munte tua dua do anak na, ima Jelak Karo, na marhuta jala marpinompar di Negeri Tongging; dohot anggina ima Jelak Maribur na ginoaran Datu Parultop. Tudos songon tu goarna i,  ia Oppu Jelak Maribur na malo do marultop, jala mansai lomo do rohana mangultop angka pidong.

Dinasahali dibereng ibana do sada pidong tung mansai uli warna ni habong na, jala laos diultop ibana do pidongi, alai dang hona, jala laos habang do pidongi. Alani lomo ni rohana mamereng pidongi laos di ihutton ibana didia muse songgop pidongi. Dung jonok ibana tu parsonggopan ni pidong i diultop ibana muse, alai tong dang hona jala laos habang muse.

Dina mangihutton pidongi ibana, gabe sahat do ibana tu sada huta, ima huta Negeri Tamba saonari. Di huta Negeri Tamba dibereng ibana ma sada boru-boru, martonun di bona ni unte puraga, jala laos godang do boras ni unte i naung malamun. Alani i sir do rohani Oppu Jelak Maribur naing mangallang unte, laos dipangido ibana tu boru-boru i. Dung dipangido ibana tu boru-boru i dipaloas do  ibana didok,: Jakkit hamu ma ito molo sir do rohamu naing mangallang unte i. Dung dipaloas boru-boru i dijangkit Jelak Maribur ma unte i jala laos diallang do unte di ginjang tingki na manjangkit i. Dungi manaili ma boru-boru i dompak ginjang.  

Diberengma Jelak Maribur manggallang unte puraga. Alani i rodo ijur ni boru-boru i naing mangallang unte i, laos didok:  “ia dobuhon hamu ma di au sada unte i, ai gabe laos ro do ijurhu dung hebereng hamu mangallang unte i”.

Dialusi Jelak Maribur do pangidoan ni boru-boru i didok:

Tarehon hamu ma ulos muna i asa hudabuhon”.

Di nanidabuhon ni Jelak Maribur unte i, alani borat ni unte gabe laos bukka jala russur do ulos pinakke ni boru-boru i, gabe maila do boru-boru i laos lao maringkat tu jabu. Alai anggo Jelak Maribur tung mansai lomo do rahana mamereng boru-boru i.

Dilului Jelak Maribur do dalan boha asa boi boru-boru i gabe parsonduk bolonna,pola do marsahit boru-boru i dibahen asa adong dalanna laho mangubati. Di na mangubati sahit ni boru-boru i laos tubu do holong di nasida, jala martunas do siubeon ni boru-boru i, I ma nagabe oppu boru namamopar hami, boru ni Tamba Lumban Tonga-tonga.

Dung diboto Raja Tamba Lumban Tonga-tonga naung martunas siubeon ni boruna, dijou ma angka hahanggina naloho manungkun Oppu Jelak Maribur. Disungkun hahanggina ma Oppu Jelak maribur manang na sian dia do harorona. Disungkun-sungkun ni Raja Tamba Tua, dialusi Jelak Maribur do na ro sian Tongging do Ibana jala anak ni Munte Tua.

Dung dialusi Jelak Maribur, ditimbangi Raja Tamba Tua do alusni oppu Jelak Maaribur jala di dok : “Naso adat, naso uhum do hape pangalaho ni Jelak Maribur, namariboto do hape nasida. Ikkon siseaton do ibana, situtungon tu api, sinongnongon tu tao”.

Dibege boru ni raja ido hata naung pinasahat ni angka Bapana tu oppu Jelak Maribur, alani i maringkati do ibana mandapothon oppu Jelak Maribur laos dihaol jala didok : Molo songoni do amang rap seat hamu ma hami nadua, asa unang maila au”.

Dung dibege hata ni boruna, didok Raja Lumban Tonga-tonga do tu angka hahanggina : “Dihamu angka hahanggingku, dang tarjalo au pangidoan ni borunta i, pangidoan ku di hamu asa loas hamu ma mangolu nasida, sai donganna gabe mai. Ai manang boha pe jolma do nataluli, dang bahenonta umum nalaho pasuda jolma. Alai asa unang gabe andor siuhut-ihuton on tabahen ma sada tihas di nalaho helanta, dang margoar Jelak Maribur be ibana alai Haro ma, ai nungnga managam-nagam haroan be hita.

Songoni ma saotik turi-turian naboi dipatorang hami tu hamu Amanta Raja dohot Inanta Soripada boasa hami marga Munte khususna pinampar ni Oppu Jelak Maribur na marhuta di Negeri Tamba, Kec Sitio-tio, Kab Samosir mangalap boru Tamba, dohot angka boru ni pinompar ni Raja Naiambaton. Molo marningot tarombo, patar do disi ia Oppu Jelak Maribur/Datu Parultop pinompar ni Munte Tua.

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén