Everybody Needs a Home

Sejatinya setiap orang memang tidak bisa lepas dari lingkungan tempatnya hidup.

Namun, layaknya tidak setiap house (bangunan rumah) adalah home (suasana penuh penerimaan), maka lingkungan tempat seseorang hidup bersama manusia lainnya bisa saja lingkungan yang menerimanya dengan hangat, atau malah penjara yang nyata buatnya.

Sebagai unit masyarakat paling dasar, keluarga didaulat sebagai home paling pertama yang mesti dimiliki setiap orang. Beberapa keluarga memenuhi kriteria ini. Tetapi, bukan saja di negara maju yang kita tuding sebagai akibat dari sekularitas yang kebablasan, di bangsa kita yang penuh dengan adat ketimuran pun sama:

Banyak keluarga yang hancur berantakan; orang tua tidak pernah punya waktu dengan sang anak, anak yang tidak mau berinisiatif untuk berkomunikasi dengan orang tua sehingga terlibat drugs, penodaan tubuh dan penyalahgunaan fungsi-fungsi seksual mereka, bahkan hingga kekerasan dalam rumah tangga baik secara fisik maupun psikologis. Litani ini bisa diperpanjang lagi untuk semakin menunjukkan kegagalan banyak keluarga sebagai home yang “nyaman” dan “membuka tangan secara hangat” bagi semua anggotanya.

Peer group, lingkungan arisan, bahkan kopi darat antar teman se-almamater juga tidak jauh berbeda. Berharap bisa menemukan kehangatan yang hilang dari rumah, malah kerap pertemuan-pertemuan yang ada justru menegaskan jurang relasi yang selama ini sudah membentang di antara para anggota. Bisa berupa status sosial, banyaknya aset ekonomis, atau bahkan mulai berhitung prestasi akademis atau monumen hidup yang pantas diceritakan berulang-ulang seperti lagu kebangsaaan pada setiap upacara bendera. Lingkungan ini juga bukan home yang akan bertahan lama.

Berkat kemudahan transportasi dan inovasi teknologi digital, orang menyadari bahwa membangun “home” dengan warga kosmopolitan ternyata mungkin. Bagi yang memiliki budget cukup, berkunjung ke Paris lalu menunjukkan foto selfie di Instagram, lalu mengirimkan tweet #Le Bleus, Merci beaucoup” adalah impian setiap ibu-ibu ceria dan ceriwis yang biasanya punya suami parlente juga. Kita pun tidak tahu pasti apakah pundi-pundi mereka di deposito adalah sisa pembelian saham di perusahaan X di British Virgin Island, atau malah jelas-jelas kuota emas tujuh turunan yang mereka peroleh dari ‘sang tuhan naga’ mereka.

Remaja pun tidak mau kalah. Berhubung mereka umumnya belum bisa mandiri secara finansial, dengan keadaan yang sama: tidak menemukan home yang mereka cari, maka mereka pun mulai mengembara. Mengais perhatian lewat likes, retweet, poke, recommendation, thumbs up, mention. Tak jarang tanpa sadar menghabiskan waktu dan daya kreatifnya berjam-jam menjadi satpam akun media sosialnya. Jika lapar, cukup dengan membeli sebotol Bir Zero dan semangkok Indomie Rebus pakai Telor, maka suasana berselancar di dunia maya dan menggauli dunia maya hingga ngantuk, lemas lalu tertidur. Begitu keesokan harinya, setiap kali mereka punya waktu senggang.

Tetapi mereka juga tidak kunjung menemukan rumah yang mereka “cari”. Buktinya, mereka masih melakukannya lagi besok. Esoknya. Dan besoknya lagi. Kehausan dan pencarian tak kunjung henti “rumah”, “suasana kehangatan” serta “home” yang hilang dari susunan tembok dan langit-langit berinterior mewah ternyata tidak terjadi di daerah perkotaaan saja. Pengaruh modernisasi tidak lagi semata monopoli kaum urban. Orang yang tinggal di pedesaan juga sekarang bukan lagi “orang udik” yang dulu diterangkan lewat folklore Pak Belalang, Lebai Malang, Si Mardan.

Penyalahgunaan fungsi seksual juga terjadi di daerah yang bahkan masih tidak terjangkau akses internet semacam IndiHome atau jaringan Indosat – Oredoo. Penggunaan narkoba juga marak dilakukan anak remaja yang karena tidak punya ide kegiatan peer-group yang menarik lagi, kini saban hari membohongi ibu mereka: Alasannya mau mengerjakan PR kelompok, ternyata mereka ramai-ramai terlentang di ruang kelas sekolah proyek Inpres yang tidak dijaga oleh guru honorer yang mesti menjual pecel lagi untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Remaja ini malah jauh lebih lihai merajang tembakau, mengisinya dengan bubuh canabis yang memabukkan itu, atau jika dosis kurang, mereka pun sudah tidak asing lagi dengan si “Jamur”. Tak perlu menyebutkan daerahnya, cukup dengan introspeksi saja.

“Ro hamu, Adong Lappet dohot Ombus-Ombus Di Jabu Nami”

Menulis dan membaca tulisan ini membuat saya sendiri merasa pesimis dengan komitmen manusia dewasa ini untuk menciptakan “rumah” di manapun mereka berada. Rumah, yang mensyaratkan bahwa seorang manusia yang lain mempunyai waktu untuk bertegur sapa dan berbicang-bincang sebagai I-You, kini hanya tinggal dalam album foto keluarga, kenangan lustrum almamater atau bahkan sekedar koleksi foto di Facebook atau DropBox.

Situasi utilitaristik di lingkungan kerja, kompetisi berdarah-darah di dunia wiraswasta, tawaran menggiurkan dari berbagai platform yang menawarkan kenikmatan tubuh tanpa harus diketahui keluarga, bullying yang masih mendarah daging dalam peer group, anak-anak yang setiap hari disodori video games supaya tidak rewel dikunci dalam rumah bertembok tinggi dan berpagar gembok, ditambah lagi dengan komplotan kolot rasis yang sering menunjukkan aksi katrok mereka di fasilitas publik dengan meledakkan diri sendiri, dan rentetan keluhan lainnya membuat tulisan ini sempurna sebagai resume saya atas dunia yang menuju alienasinya. Hingga kemudian, seorang teman lama menelfon dan mengulang kembali ramah-tamah beberapa tahun yang silam.

“Ro hamu, Adong Lappet dohot Ombus-Ombus Di Jabu Nami”, ucapnya antusias tanpa kehilangan nada tulus dalam suara cerianya. Pembicaraan yang hangat itu pun berlanjut pada cerita nostalgia dan tukar cerita soal keadaan masing-masing, termasuk tanpa sungkan bertanya: “Sudah bagaimana kamu sekarang? Sudah punya anak berapa”.

Meskipun, ini merupakan pertanyaan yang paling sulit aku jawab. Bukan apa. Kartu undangan pernikahannya masih didesain. Konon desainer kartu undangan butuh waktu lebih dari dua tahun lagi sejak artikel ini ditulis. Hahaha …

Aku beruntung bahwa keluarga yang membesarkanku secara umum adalah rumah paling ideal yang mungkin aku dapatkan. (Ya. Tentu saja setiap orang akan berkata demikian, bahwa keluarga mereka adalah the best home ever. Jika itu terjadi, justru keluhan tentang keluarga yang jauh dari suasana “home” di bagian atas tentu tidak perlu ada. Jika bukan saya, maka pasti ada dari antara mereka yang berbohong, hahaha …)

Dan, sembari membolak-balik Ajaran Sosial Gereja dan browsing tentang keprihatinan global terhadap ekosistem relasionalitas manusia dewasa ini, maka terhentilah aku pada poin ini. Salah satu poin yang menjadi ringkasan ensiklik Paus Francis “Laudato Si”. Disebutkan: “Don’t Trade Online Relationships for Real One”.

Relasi nyata yang kini kerap digantikan relasi maya (komunikasi internet) mesti kita kembalikan lagi. Benar bahwa kita punya hak untuk memilih hubungan dengan orang yang kita sukai dan menghilangkan hubungan dengan siapa saja yang membuat kita tidak nyaman.

Tetapi bukan berarti komunikasi seorang remaja puteri dengan ibu harus terhenti hanya karena sebal si ibu cerewet melihat kamar tidurnya yang berantakan, lalu kita memilih untuk mengungkapkan sisi terdalam pubertas dan seksualitasnya dengan mengumbar foto kemaluannya lalu menyebutkan berapa banyak tahi lalat yang ada di sekitar area pubis-nya.

Bukan berarti seorang lelaki tidak bisa lagi berbicang dengan ayahnya meskipun pandangan politik mereka berbeda.

Anak-anak juga perlu menemukan tempat dan waktu bermain yang membuat mereka kelak bangga di masa dewasanya, bahwa masa kecil mereka bukan sekadar DOTA, Clash of Clans, tubuh gembrot dengan lumuran coklat dan pipi pucat karena tidak kurang asupan sinar matahari luar. Atau kacamata pantat botol dengan rambut kuncir padahal kurikulum penyusunan skipsi masih sepuluh tahun lagi. Semua mimpi buruk ini hanya bisa dicegah jika sesegara mungkin aku dan pera pembaca sepakat untuk mulai lagi menciptakan sebanyak mungkin “rumah”.

House bisa hilang, baik karena disita oleh KPK, kita gadaikan sendiri ke Perum Pegadaian, kita wariskan kepada anak-anak supaya mereka tidak bertengkar, atau kita jual kepada pengembang properti yang ingin mendirikan mall di daerah kita, atau lapuk ditelan usia, tetapi “home” adalah sesuatu yang kita bisa bawa kemanapun kita pergi.

Mungkin bisa dimulai dengan langkah kecil saja.

Seperti yang baru saja dilakukan oleh teman saya yang barusan menelfon. “Ro hamu, Adong Lappet dohot Ombus-Ombus Di Jabu Nami”, kata-kata itu masih terngiang.

Sesederhana itu.

Maka, menyitir Laudato Si yang dalam bahasa Indonesia berbunyi “Terpujilah Engkau”, beberapa menit ini aku lalui dengan syukur, sembari berkata dalam hati:

‘”Terpujilah Engkau”, yang menciptakan Lappet dan Ombus-ombus.’

Horas !!!

Facebook Comments