Hutongos Do Surathu Tu Ho sian Kode Tuak

Surat tu Inang ni si Ucok

Inang ni Ucok, palambas rohami,
Anju ma au baoadi simagoon naung bagianmi.
Inang ni Ucok, nang pe masuk tuahon, bukka pittu i.
dang lupa au di rupami.

Inang ni Ucok, jaha jo surathon.
Di harotas hugurathon na di roha on.

Molo borngin pe au sahat dijabu.
Ala nahuingot dope pardijabu.

Dang tenggen do pe au inang.
Dang mabuk au hasian.
Dang mirdong dope au tondikku.
Nga sahit i di au anggi.

Songoni majo isi ni surathon hasian.
Dang boi godang husurat ai suhul do dison.
Tiang nijabu ni parlapoon pe dang tigor be.

Horas ma ahu naminum tuak.
Hipas maho na paimahon au.


(Disadur dari Pantun Hamonangan)

Nahum Ingin Dikubur di Samosir*

SUDAH lama ia wafat, namun namanya kian sering disebut-sebut. Lagu-lagu gubahannya pun tiada putus disenandungkan; menghibur orang-orang, menafkahi para pekerja dunia malam, mengalirkan keuntungan bagi pengusaha hiburan dan industri rekaman. Tapi, orang-orang, khususnya etnis Batak dan yang familiar dengan lagu Batak, segelintir saja yang tahu siapa dia sesungguhnya. Ironisnya lagi banyak yang tak sadar bahwa sejumlah lagu yang selama ini begitu akrab di telinga mereka, lahir dari rahim kreativitas lelaki yang hingga ajalnya tiba tetap melajang itu.

Apa boleh buat, selain catatan atas diri Nahum sendiri yang memang minim, ia terlahir dan berada di tengah sebuah bangsa yang amat rendah tingkat pengapresiasian atas suatu karya cipta; yang hanya suka menikmati karya orang lain tanpa mau tahu siapa penciptanya, selain enggan memberi penghargaan pada orang-orang kreatif yang telah memperkaya khazanah karsa dan rasa.

Nahum Situmorang via KawalSumut.Com

 

Nahum pun menjadi sosok yang melegenda namun tak pernah tuntas diketahui asal-usulnya. Sulit menemukan sumber yang sahih untuk menerangkan seperti apakah dulu proses kreatifnya, peristiwa atau pengalaman pahit apa saja yang memengaruhi kelahiran lagu-lagu ciptaannya, seberapa besar andilnya menumbuhkan semangat kemerdekaan manusia Indonesia dari kuasa penjajah, dan jasanya yang tak sedikit untuk menyingkap tirai keterbelakangan manusia Batak di masa silam. Ia adalah pejuang yang dibengkalaikan bangsa dan negerinya sendiri, terutama sukunya. Seseorang yang sesungguhnya berjasa besar mencerdaskan orang-orang sekaumnya namun tak dianggap penting peranannya oleh para penguasa di bumi leluhurnya.

Nahum sendiri mungkin tak pernah berharap jadi pahlawan yang akan terus dipuja hingga dirinya tak lagi berjiwa. Pula tak pernah membayangkan bahwa namanya akan tetap hidup hingga zaman memasuki era milenia. Boleh jadi pula tak pernah bisa sempurna ia pahami perjalanan hidupnya hingga usianya benar-benar sirna. Ia hanya mengikuti alur hati dan pikirannya saat melintasi episode-episode kehidupannya yang dipenuhi romantika, yang jamak melekat dalam diri para pelakon gaya hidup avonturisme. Tak mustahil pula ia sering bertanya mengapa terlahir sebagai insan penggubah dan pelantun nada dengan tuntutan jiwa harus sering berkelana, bukan seperti saudara-saudara kandungnya yang “hidup normal” sebagaimana umumnya orang-orang di zamannya.

Meski aliran musik yang diusungnya beraneka ragam dan tak seluruhnya bernuansa etnik Batak dan bahkan banyak yang mengadopsi aliran musik Barat macam waltz, bossa, folk, jazz, rumba, tembang-tembang gubahannya begitu subtil dan melodius. Lirik-liriknya pun tak murahan karena menggunakan kosa kata Batak klasik bercitarasa tinggi, kaya metafora, dan karena cukup baik menguasai filosofi dan nilai-nilai anutan masyarakat Batak, mampu menyisipkan nasehat dan harapan tanpa terkesan didaktis.

Ia begitu romantik tapi tak lalu terjebak di kubangan chauvinis, juga seseorang yang melankolis namun menghindari kecengengan bila jiwa dicambuki cinta. Ia melantunkan kegetiran hidup dengan tak meratap-ratap yang akhirnya malah memercikkan rasa muak, sebagaimana kecenderungan lagu-lagu pop Batak belakangan. Ia gamblang meluapkan luka hati akibat cinta yang dilarang namun tak jadi terjebak dalam sikap sarkastis.

NAHUM memang bukan cuma penyanyi dan penulis lagu, juga penyair yang kaya kata dengan balutan estetika yang penuh makna. Lelaki pengelana ini, kata beberapa saksi mata, dalam keseharian senang tampil parlente, senantiasa berpakaian resik dan modis dengan sisiran rambut yang terus mengikuti gaya yang tengah ditawarkan zaman. Anak kelima dari delapan bersaudara ini lahir di Sipirok, Tapanuli Selatan, 14 Februari 1908. Orangtuanya termasuk kalangan terpandang karena ayahnya, Kilian Situmorang, bekerja sebagai guru di sebuah sekolah berbahasa Melayu, di tengah mayoritas penduduk yang kala itu masih buta huruf.

Kilian sendiri berasal dari Desa Urat, Samosir, sebuah kampung di tepi Danau Toba dan jamak diketahui sebagai kampungnya para keturunan Ompu Tuan Situmorang. (Situmorang Pande, Situmorang Nahor, Situmorang Suhutnihuta, Situmorang Siringoringo, Sitohang Uruk, Sitohang Tongatonga, Sitohang Toruan). Kilian merantau ke wilayah Tapanuli Selatan demi mengejar kemajuan yang kian menguak gerbang peradaban manusia Batak Toba yang begitu lama tertutup dengan “splendid-isolation“-nya.

Sebagaimana harapannya pada anak-anaknya yang lain, Kilian pun menginginkan Nahum menjadi pegawai pemerintah kolonial. Harapannya tak tercapai meski Nahum lebih dari memenuhi syarat. Nahum lebih senang menjadi manusia bebas tanpa terikat, bahkan di kala usianya masih remaja pun sudah berlayar ke Pulau Jawa, suatu hal yang tak terbayangkan bagi umumnya manusia Batak masa itu. Bukan karena kemampuan orangtuanya, melainkan karena dibawa satu pendeta yang bertugas di Sipirok dan kemudian kembali ke Depok, Jawa Barat, setamatnya dari HIS, Tarutung. Di Jakarta ia sekolah di “Kweekschool” Gunung Sahari dan kemudian meneruskan pendidikan ke Lembang, Bandung, lulus tahun 1928. Selain sekolah umum, ia memperdalam seni musik, terutama saat bersekolah di Lembang.

Ia turut bergabung dengan kalangan pemuda berpendidikan tinggi yang masa itu diterpa kegelisahan yang hebat untuk melepaskan bangsa dari cengkeraman kuasa kolonial. Mereka kerap berkumpul di bilangan Kramat Raya dan pada saat itulah ia berkenalan dan kemudian menjadi pesaing Wage Rudolf Supratman ketika mengikuti lomba penulisan lagu kebangsaan. Supratman memenangi lomba tersebut dengan lagu ciptaannya Indonesia Raya, Nahum diganjari juara dua.

Sayang sekali, lagu yang dulu dilombakan Nahum itu tak terdokumentasikan dan hingga kini belum ditemukan. Kabarnya, saat itu ia amat kecewa karena merasa lagu ciptaannyalah yang paling layak menang sebab selain unsur orisinalitas, durasinya pun lebih pendek ketimbang Indonesia Raya. (Unsur orisinalitas lagu Indonesia Raya sempat dipersoalkan, namun kemudian menguap begitu saja karena dianggap sensitif). Lelaki muda yang tengah digelontori idealisme dan cita-cita menjadi seniman musik yang mendunia ini pun memilih pulang ke Sumatera Utara, persisnya ke wilayah Keresidenan Tapanuli yang berpusat di Sibolga. Di kota pantai barat Sumatera itulah ia jalani pekerjaan guru di sebuah sekolah partikelir “H.I.S Bataksche Studiefonds,” 1929-1932.

TAHUN 1932 itu pula ia hengkang ke Tarutung karena memenuhi ajakan abang kandungnya, Sopar Situmorang (juga berprofesi pendidik), untuk mendirikan sekolah partikelir bernama “Instituut Voor Westers Lager Onderwijs.” Pemerintah Hindia Belanda coba menghalangi karena saat itu ada peraturan melarang pembukaan sekolah bila dikelola partikelir. Nyatanya Nahum dan Sopar tetap bertahan dan mengajarkan pengetahun umum macam sejarah dunia, geografi, aljabar, selain musik, kepada murid-murid mereka. Sekolah swasta ini bertahan hingga 1942 karena tentara Dai Nippon kemudian mengambilalih kekuasaan Hindia Belanda, lalu menutupnya.

Sebelum sekolah tersebut ditutup Jepang, ia sudah wara-wiri ke Medan untuk menyalurkan bakat sekaligus mengaktualisasikan dirinya yang acap gelisah. Antara lain, bersama Raja Buntal, putra Sisingamangaraja XII, ia dirikan orkes musik ‘Sumatera Keroncong Concours’ dan pada tahun 1936 memenangkan lomba cipta lagu bernuansa keroncong di Medan. Hingga Hindia Belanda dan Jepang hengkang, ia tak pernah mau jadi pegawai mereka. Nahum memang nasionalis tulen dan karenanya memilih bergiat di ranah partikelir ketimbang mengabdi pada penjajah, selain pada dasarnya (mungkin karena seniman) tak menghendaki segala bentuk aturan yang mengekang kebebasannya berekspresi.

Tapi kala itu, mengandalkan kesenimanan belaka untuk menopang kebutuhan hidup taklah memadai, apalagi Nahum senang bergaul dan nongkrong di kedai-kedai tuak hingga larut malam. Tanpa diminta akan ia petik gitarnya dan bernyanyi hingga puas dan dari situlah bermunculan lagu-lagu karangannya. Dan ia bagaikan magnet, kedai-kedai tuak akan dipenuhi pengunjung yang bukan hanya etnis Batak, dan orang-orang seperti tersihir saat mendengar alunan suaranya. Ia memiliki satu keistimewaan karena bisa menggubah lagu secara spontan di tengah keramaian dan tanpa dicatat. (Inilah salah satu penyebab mengapa lagu-lagunya hanya bisa dikumpulkan 120, sementara dugaan karibnya seperti alm. Jan Sinambela, jumlahnya mendekati 200 lagu).

Jenuh berkelana dari satu kedai ke kedai tuak lainnya, dalam kurun waktu 1942-1945, ia coba berwirausaha dengan membuka restoran masakan Jepang bernama ‘Sendehan Hondohan,’ seraya merangkap penyanyi untuk menghibur tamu-tamu yang datang untuk bersantap. Sepeninggal Jepang karena kemerdekaan RI, restoran yang dikelolanya bangkrut. Ia kemudian berkelana dari satu kota ke kota lain sebagai pedagang permata sembari mencipta lagu-lagu bertema perjuangan dan pop Batak. Masa-masa itu pula ia kembali memasuki dunia manusia Batak dengan berbagai puak yang menghuni Sidempuan, Sipirok, Sibolga, Tarutung, Siborongborong, Dolok Sanggul, Sidikalang, Balige, Parapat, Pematang Siantar, Berastagi, dan Kabanjahe.

Tahun 1949, Nahum kembali menetap di Medan untuk menggeluti usaha broker jual-beli mobil dan tetap bernyanyi serta mencipta lagu, juga kembali melakoni kesenangannya bernyanyi di kedai-kedai tuak. Sesekali ia tampil mengisi acara musik di RRI bersama kelompok band yang ia bentuk (Nahum bisa memainkan piano, biola, bas betot, terompet, perkusi, selain gitar). Periode 1950-1960, menurut kawan-kawan dan kerabatnya, adalah masa-masa Nahum paling produktif mencipta lagu dan tampil total sebagai seniman penghibur. Tahun 1960, misalnya, ia dan rombongan musiknya tur ke Jakarta. Setahun lebih mereka bernyanyi, mulai dari istana presiden, mengisi acara-acara instansi pemerintah, diundang kedubes-kedubes asing, live di RRI, hingga muncul di kalangan komunitas Batak. Pada saat tur ini pula ia manfaatkan untuk merekam lagu-lagu ciptaannya dalam bentuk piringan hitam di perusahaan milik negara, Lokananta.

SAMPAI usianya berujung, ia tetap melajang. Kerap disebut-sebut, ia didera patah hati yang amat parah dan tak terpulihkan pada seorang perempuan boru Simorangkr yang akhirnya menikah dengan lelaki bermarga Tobing, yang kabarnya berasal dari kalangan terpandang. Orangtua perempuan itu tak merestui Nahum yang “cuma” seniman menikahi anak gadis mereka. Cinta Nahum, rupanya bukan jenis cinta sembarangan yang mudah digantikan wanita lain. Ternyata, berpisah dengan kekasihnya, benar-benar membuat Nahum bagaikan layang-layang yang putus tali di angkasa; terbang ke sana ke mari tanpa kendali. Ia tetap meratapi kepergian kekasihnya yang sudah menikah dengan pria lain, sejumlah lagu kepedihan dan dahsyatnya terjangan cinta pun lantas berhamburan dari jiwanya yang merana.

Demikianpun, Nahum tak hanya menulis sekaligus mendendangkan lagu-lagu bertema cinta. Dari 120 lagu ciptaannya yang mampu diingat para pewaris karyanya, mengangkat beragam tema: kecintaan pada alam, kerinduan pada kampung halaman, nasehat, filosofi, sejarah marga, dan sisi-sisi kehidupan manusia Batak yang unik dan khas. Dan, kendati pada tahun 30-an isu dan pengaturan atas hak cipta suatu karya lagu/musik belum dikenal di Indonesia, Nahum sudah menunjukkan itikad baik ketika mengakui lagu “Serenade Toscelli” yang ia ubah liriknya ke dalam Bahasa Batak menjadi “Ro ho Saonari,” sebagai lagu ciptaan komponis Italia.

Nahum pun terkenal memiliki daya imajinasi serta empati yang luarbiasa. Tanpa pernah mengalami atau menjadi seseorang seperti yang ia senandungkan dalam berbagai lagu ciptaannya, ia bisa menulis lagu yang seolah-olah dirinya sendiri pernah atau tengah mengalaminya. Salah satu contoh adalah lagu “Anakhonhi do Hamoraon di Au” (Anakkulah kekayaanku yang Terutama). Lagu bernada riang itu seolah suara seorang ibu yang siap berlelah-lelah demi nafkah dan pendidikan anaknya hingga tak mempedulikan kebutuhan dirinya. Lagu tersebut akhirnya telah dijadikan semacam hymne oleh kaum ibu Batak, yang rela mati-matian berjuang demi anak. Ketika menulis lagu itu Nahum layaknya seorang ibu.

Kemampuannya berempati itu, bagi saya, masih tetap tanda tanya, karena ia lahir dan besar di lingkungan keluarga yang relatif mapan karena ayahnya seorang amtenar yang tak akrab dengan kesusahan sebagaimana dirasakan umumnya orang-orang yang masa itu, sekadar memenuhi kebutuhan sehari-hari pun terbilang sulit. Ia pun tak pernah berumahtangga (apalagi memiliki anak) hingga mestinya tak begitu familiar dengan keluh-kesah khas orangtua Batak yang harus “marhoi-hoi” (susah-payah) memenuhi keperluan anak.

Juga ketika ia menulis lagu “Modom ma Damang Unsok,” laksana suara lirih seorang ibu yang sedih karena ditinggal pergi suami namun tetap meluapkan cintanya pada anak lelakinya yang masih kecil hingga seekor nyamuk pun takkan ia perkenankan menggigit tubuh si anak. Ia pun menulis lagu “Boasa Ingkon Saonari Ho Hutanda” yang menggambarkan susahnya hati karena jatuh cinta lagi pada perempuan yang datang belakangan sementara sudah terikat perkawinan, seolah-olah pernah mengalaminya.

Kesimpulan saya, selain memiliki daya imajinasi yang tinggi, Nahum memang punya empati yang amat dalam atas diri dan kemelut orang lain. Dalam lagu “Beha Pandundung Bulung,” umpamanya, ia begitu imajinatif dan estetis mengungkapkan perasaan rindu pada seseorang yang dikasihi, entah siapa. Simak saja liriknya: “Beha pandundung bulung da inang, da songonon dumaol-daol/Beha pasombu lungun da inang, da songon on padao-dao/Hansit jala ngotngot do namarsirang, arian nang bodari sai tangis inang/Beha roham di au haholongan, pasombuonmu au ito lungun-lungunan.” Ia lukiskan perasaan rindu itu begitu sublim, indah, namun tetap menyisipkan nada-nada kesedihan.

Mengentak pula lagunya (yang dugaan saya dibuat untuk dirinya sendiri) berjudul “Nahinali Bangkudu.” Lirik lagu itu tak saja menggambarkan ironi, pun tragedi bagi sang lelaki yang akan mati di usia yang tak lagi muda namun dengan status lajang. Dengan penggunaan metafora yang mencekam, Nahum meratapi pria itu (dirinya sendiri?) begitu tajam dan menusuk kalbu: “Atik parsombaonan dapot dope da pinele, behama ho doli songon buruk-burukni rere. Mate ma ho amang doli, mate di paralang-alangan…” Ironis sekaligus tragis.

Dan Nahum tak saja pandai menulis lagu yang iramanya berorientasi ke musik Barat, pun ahli mengayun sanubari lewat komposisi-komposisi berciri etnik dengan unsur “andung” (ratap) yang amat pekat. Perhatikanlah lagu “Huandung ma Damang,” “Bulu Sihabuluan,” “Assideng-assidoli,” “Manuk ni Silangge,” dan yang lain, begitu pekat unsur ‘uning-uningan”-nya.

Akhirnya, kesan kita memang, dari 120 lagu ciptaannya yang mampu dikumpulkan para pewarisnya, tak ubahnya kumpulan 120 kisah tentang manusia Batak, alam Tano Batak, berikut romantika kehidupan. Ia tak hanya piawai menggambarkan suasana hati namun mampu merekam aspek sosio-antropologis masyarakat (Batak) yang pernah disinggahinya dengan menawan. Lagu “Ketabo-ketabo,” contohnya, menceritakan suasana riang kaum muda Angkola-Sipirok saat musim salak di Sidempuan, sementara “Lissoi-lissoi” yang kesohor itu merekam suasana di lapo tuak dan kita seakan hadir di sana.

Demikian halnya tembang “Rura Silindung” dan “Dijou Au Mulak tu Rura Silindung,” yang begitu kuat melukiskan lanskap daerah orang Tarutung hingga saya sendiri, contohnya, selalu ingin kembali bersua dengan kota kecil yang dibelah Sungai Aeksigeaon dan hamparan petak-petak sawah dengan padi yang menguning itu manakala mendengar kedua lagu tersebut. Nahum pun melampiaskan kekagumannya pada Danau Toba melalui “O Tao Toba.” Mendengar lagu ini, kita seperti berdiri di ketinggian Huta Ginjang-Humbang, atau Tongging, atau Menara Panatapan Tele, menyaksikan pesona danau biru nan luas itu. Kadang memang ia hiperbolik, contohnya dalam lagu “Pulo Samosir,” disebutnya pulau buatan itu memiliki tanah yang subur dan makmur sementara kenyataannya tak demikian.

SAYA termasuk beruntung karena semasih bocah, 1969, beberapa bulan sebelum kematiannya, menyaksikannya bernyanyi di Pangururan bersama VG Solu Bolon. Saya belum tahu betul siapa Nahum Situmorang dan menurut saya saat itu show mereka begitu monoton dan kurang greget karena tanpa disertai instrumen band. Ia tampil parlente dengan kemeja dan celana warna putih, walau terlihat sudah tua. Rupanya ia sudah digerogoti penyakit (kalau tak salah lever) namun tetap memaksakan diri bernyanyi ke beberapa kota kecil di tepi Danau Toba hingga kemudian meninggal dunia di usia 62 tahun.

Lewat karya-karyanya, seniman-seniman Batak telah ia antarkan melanglang ke manca negara, macam Gordon Tobing, Trio The Kings, Amores, Trio Lasidos, dan yang lain. Lewat lagu-lagu gubahannya pula banyak orang telah dan masih terus diberinya nafkah dan keuntungan. Sejak remaja telah ia kontribusikan bakat dan mendedikasikan dirinya untuk negara dan Bangso Batak. Lebih dari patut sebenarnya bila mereka yang pernah berkuasa di seantero wilayah Tano Batak memberi penghargaan yang layak bagi dirinya, katakanlah menyediakan sebuah kubur di Samosir yang bisa dijadikan monumen untuk mengenang dirinya.

Kini sisa jasad Nahum masih tertimbun di komplek pekuburan Jalan Gajah Mada, Medan. Keinginannya dikembalikan ke tanah leluhurnya melalui lagu Pulo Samosir, masih tetap sebatas impian. Ia tinggalkan bumi ini pada 20 Oktober 1969 setelah sakit-sakitan tiga tahunan dan bolak-balik dirawat di RS Pirngadi. Piagam Tanda Penghormatan dari Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono diberikan kepada dirinya pada 10 Agustus 2006, melengkapi Piagam Anugerah Seni yang diberikan Menteri P&K, Mashuri, 17 Agustus 1969.

Para pewaris karya ciptanya yang sudah ditetapkan hakim PN Medan, 1969, sudah lama berkeinginan memindahkan jasadnya dan membuat museum kecil di Desa Urat, Samosir, sebagaimana keinginan Nahum. Diharapkan, para penggemarnya bisa berziarah seraya mendengar rekaman suaranya dan menyaksikan goresan lagu-lagu gubahannya. Rencana tersebut tak lanjut disebabkan faktor biaya dan (sungguh disesalkan) di antara para pewaris yang sah itu, yakni keturunan abang dan adik Nahum, terjadi perpecahan lantaran persoalan pengumpulan royalti.

PERTENGAHAN 2007, sekelompok pewaris yang diketuai Tagor Situmorang (salah seorang keponakan kandung Nahum, Ketua Yayasan Pewaris Nahum Situmorang) meminta Monang Sianipar, pengusaha kargo dan ayah musisi Viky Sianipar, sebagai ketua peringatan 100 Tahun Nahum Situmorang berupa pagelaran konser musik besar-besaran di Jakarta dan Medan, Februari 2008.

Kemudian, mereka minta pula saya, entah pertimbangan apa, jadi ketua pemindahan kerangka dan pembangunan Museum Nahum Situmorang di Desa Urat. Saya dan Monang tentu antusias menerima tawaran tersebut, namun setelah belakangan tahu di antara para pewaris ternyata ada perselisihan, saya sarankan agar mereka terlebih dahulu melakukan rekonsiliasi karena proyek semacam itu bukan sesuatu yang bisa disembarangkan dalam hukum adat Batak.

Di tengah proses penyiapan proposal, tiba-tiba saya dengar ada seorang “dongan sabutuha” (teman satu marga) yang belum lama berprofesi pengacara, mendirikan satu yayasan pengelola karya cipta Nahum Situmorang. Dirangkulnya kubu yang berselisih dengan kelompok Tagor (juga keponakan kandung Nahum) dan sejak itulah beruntun “kejadian hukum” yang hingga kini belum terselesaikan dan akhirnya menyeret-nyeret pedangdut Inul Daratista karena tuduhan tak membayar royalti yang diputar di karaoke-karaoke Inul Vista.

Saya pun lantas menghentikan langkah, semata-mata karena merasa tak elok bila dianggap turut meributkan royalti atas karya cipta seseorang yang sudah wafat dan sangat berjasa bagi Bangso Batak, selain seseorang yang amat saya kagumi. Konser batal, pemindahan kerangka dan pembangunan museum Nahum terbengkalai.

Tentu saja saya kecewa seraya menyesali minimnya apresiasi dari para penguasa di wilayah eks Keresidenan Tapanuli terhadap Nahum, yang tak juga menunjukkan gelagat akan melakukan sesuatu untuk menghormati jasa-jasa beliau sebagai salah satu tokoh pencerahan Bangso Batak. Alangkah miskinnya ternyata penghormatan para bupati, khususnya Pemkab Tapanuli Utara, Tobasa, Samosir, terhadap seniman “cum” pendidik yang legendaris itu. Tetapi yang lebih saya sesali adalah kisruh akibat munculnya klaim-klaim sebagai pewaris yang absah atas karya cipta Nahum hingga keinginan mewujudkan impiannya (yang sebetulnya sederhana) agar dikubur di bumi Samosir, semakin tak pasti.

Saya tak tahu bagaimana perasaan mereka yang berseteru sengit hingga jadi santapan infoteinmen menyangkut klaim hak cipta karya Nahum itu manakala mendengar penggalan lirik lagu Pulo Samosir ini: “Molo marujungma muse ngolukku sai ingotma/Anggo bangkeku disi tanomonmu/Disi udeanku, sarihonma.” (Bila hidupku sudah berakhir, ingatlah/Makamkanlah jasadku di sana/Sediakanlah kuburanku di sana). Demikianpun, saya tetap berharap gagasan memindahkan jasad Sang Guru ke bumi Samosir berikut pembangunan museum kecil untuk menghormatinya akan terwujud suatu saat, entah siapapun pelaksananya.


*Repost dari tulisan Suhunan Situmorang di blog Parpining dengan judul asli:

Lelaki yang ingin dikubur di Samosir itu bernama NAHUM SITUMORANG

Ulas Lirik “Nahinali Bakkudu” Ciptaan Nahum Situmorang

Lirik Nahinali Bakkudu

Ue amang doli o amonge
(Hei, hei, hei)
Ue amang doli o amonge
(Hei, hei, hei)

Nahinali bakkudu da sian bona ni bagot
Beha maho doli songon boniaga so dapot
Ue amang doli o amonge

Boniaga sodapot lakku dope nasaonan
Beha maho doli tarloppo ho parsombaonan
Ue amang doli o amonge

Atik parsombaonan dapot dope da pinelle
Beha maho doli songon buruk-buruk ni rere
Ue amang doli o among e

Mate maho amang doli
Mate di paralang-alangan da amang
Mate di paraul-aulan

Mate maho amang doli
Mate di paralang-alangan da amang
Mate di paraul-aulan

Boniaga sodapot lakku dope nasaonan
Beha maho doli tarloppo ho parsombaonan
Ue amang doli o amonge
(O Amonge)

Atik parsombaonan dapot dope da pinelle
Beha maho doli songon buruk-buruk ni rere
Ue amang doli o among e

Mate maho amang doli
Mate di paralang-alangan da amang
Mate di paraul-aulan (Paraul-aulan)

Mate maho amang doli
Mate di paralang-alangan da amang
Mate di paraul-aulan (Paraul-aulan)

Mate maho amang doli
Mate di paralang-alangan da amang
Mate di paraul-aulan

Mate maho amang doli
Mate di paralang-alangan da amang
Mate di paraul-aulan

Mate maho amang doli
Mate di paralang-alangan da amang
Mate di paraul-aulan

Mate maho amang doli
Mate di paralang-alangan da amang
Mate di paraul-aulan


Ada beberapa versi yang menyanyikan lagu ini. Salah satu yang paling populer adalah versi yang dinyanyikan Victor Hubarat. Buat Saya pribadi, suara Victor masih yang paling tepat menyanyikannya sejauh ini.

 


Kasih Tak Sampai

Seperti pernah diulas juga sebelumnya di blog ini, “Nahinali Bakkudu” ciptaan Nahum Situmorang ini adalah contoh lirik lagu yang susastra. Jenis lirik yang kita mau lebih banyak hadir dalam lagu-lagu Batak zaman sekarang.

Nahum menuliskannya untuk menggambarkan dirinya yang merana karena “kasih tak sampai”. Keinginannya ditampik oleh wanita pujaan hati. Konon wanita pujaan hati ini adalah “pariban”-nya sendiri.

Sebagaimana kita ketahui, “pariban” atau “boru ni tulang” (putri dari laki-laki saudara ibu kita) adalah sosok yang menempati prioritas nomor satu sebagai wanita untuk diajak menikah menurut kebiasaan orang Batak zaman itu (mungkin juga masih berlangsung hingga sekarang).

Itulah sebabnya sampai sekarang, jika seorang pemuda Batak mendekati dan berencana menikah dengan seorang perempuan yang bukan “pariban”-nya, orangtua akan memberikan penguatan dengan umpasa ini:

Hot pe jabu i,

tong do magulanggulang

Sian dia pe dialap boru i,

tong do i boru ni tulang.

Dalam resepsi perkawinan dan ritual adat istiadatnya pun hal ini terlihat secara visual, antara lain dengan mekanisme berbagi “jambar hata” dan “jambar juhut” antara keluarga pemilik pariban dan keluarga pemilik perempuan yang dinikahi pemuda tadi. Jadinya, kedua keluarga itu adalah sama-sama “tulang” bagi pemuda tadi. Demikian sehingga “umpasa” di atas terkesan sebagai hata togar-togar atau kata-kata penghiburan saja bagi keluarga si pariban. Secara khusus untuk menghibur hati si ibu, yang dianggap orang yang paling bahagia jika putranya menikahi putri saudaranya.

Menarik memang membahas “marpariban” ini. Mengapa sampai sekarang bahkan arranged marriage ini masih menjadi primadona bagi banyak orang Batak? Termasuk bagi orang Batak yang mengaku maju sekalipun, tak sedikit mereka yang berpendidikan tinggi dan sadar penuh kekurangan dari perkawinan dengan pariban, tapi dalam praktek sehari-hari tetap mendukungnya. Dari segi hereditas, misalnya, disadari bahwa anak hasil dari perkawinan marpariban ini lebih rentan.

Tapi nanti jadinya melebar kemana-mana. Untuk saat ini kita fokus ke pesan atau nilai (value) yang mau disampaikan Nahum dalam “Nahuli Bakkudu” saja dulu.

Dengan kesadaran akan fakta kebiasaan di atas, tentu kita bisa mafhum bagaimana Nahum merasa diri tak berarti, tersingkir dari kehidupan, bagai tikar usang yang lusuh. Hatinya membeku tak bergeming untuk wanita yang lain. Segalanya terasa tersia-sia. Saking ekstrem-nya, Nahum menerima situasi “patah hati (mate rongkap)” ini sehingga ia sendiri, si pencipta lagu ini, tidak pernah menikah sampai akhir hayatnya.

Sampai disini, nuansa lagu menjadi murung. Terasa gelap benar jadinya. Berangkat dari kesan awal ini, pantas kita bertanya:

Pertama, apakah Nahinali Bakkudu melulu mewakili kemurungan dan kegalauan abadi seorang Nahum?

Kedua, ataukah justru lewat lirik ini secara tersirat ia ingin mengkritik kebiasaan masyarakat Batak zaman dulu yang memprimadonakan “kawin dengan pariban” sehingga jika seorang pemuda memilih wanita lain yang bukan paribannya jadi kurang didukung pihak keluarga?

Pertanyaan terakhir ini mungkin akan lebih kena dengan teman-teman Batak yang memutuskan tidak menikah hingga usia tua. Jumlah mereka cukup banyak dan sepertinya jumlah itu akan meningkat.

(Tren ini tidak baru sebetulnya, terutama di kota-kota besar. Di beberapa negara lain bahkan hal ini menjadi concern serius, misalnya di Korea Selatan dan Jepang, sampai-sampai pemerintah membuat program dan bantuan untuk mendorong para pemudanya menikah dan berketurunan).

Terbaca kesan sekilas: Kaum muda tidak begitu berminat lagi dengan perkawinan. 

Benarkah kesan ini? Mari kita selidiki, observasi langsung dengan lingkungan kita. Mungkin bisa dimulai dari skop terkecil, dari rumah sendiri, di lingkungan atau RT lalu ke masyarakat luas. Hasil observasi yang didukung statistik ini akan menjadi presentasi yang menarik.

Terlepas dari statistik, para “panglatu“ atau Panglima Lajang Tua” – label peyoratif yang disematkan untuk pria Batak yang memutuskan tidak menikah hingga lanjut usia – pasti menangis mendengar lagu ini. Pesannya kena dengan mereka. Bagi mereka yang besar dengan bahasa Batak sebagai bahasa sehari-hari, lagu ini lebih menyayat hati dibanding lagu “Kasih Tak Sampai” milik group band Padi, misalnya.

“Nahinali Bakkudu” adalah kidung ratapan mereka di tengah konstruksi budaya masyarakat Batak yang masih menganggap berketurunan sebagai sebuah keharusan. Membujang hingga akhir hayat adalah aib yang mesti dihindarkan. Secara jelas dan kejam, Nahum menulisnya:

” … mate ma ho amang doli, mate di paralang-alangan”

Dari dua pertanyaan di atas, mana yang hendak dijawab Nahum dengan Nahinali Bakkudu? Yang pertama atau yang kedua?

Kita tidak tahu.

Mungkin juga kita tidak akan pernah tahu sebab Nahum sendiri membawa apa maksud asli lagu ini hingga ke liang kuburnya.

Lirik Susastra dan Semiotika Ringkas

Lirik “Nahinali Bakkudu” (Nahinali bangkudu) di atas, jika kita amati, terdiri atas beberapa repetisi (pengulangan syair). Jika kita peras, maka lirik utamanya adalah sebagai berikut.

Na hinali bangkudu da sian bona ni bagot
Boha ma ho Doli songon boniaga so dapot
Ue, Amang Doli o Among e

Boniaga so dapot langku dope masa onan
Boha ma ho Doli tarlompoho parsombaonan
Ue Amang Doli o Among e

Atik parsombaonan dapot dope da pinele
Boha ma ho Doli songon buruk-buruk ni rere
Ue amang doli o Among e

(Refrain)
Mate ma ho Amang Doli
Mate diparalang-alangan da Amang
Mate di paraula-ulan

Ini terjemahan lepas dalam Bahasa Indonesia.

Sedangkan ulat terikat, dicari dari batang pohon enau.
Betapa dirimu pemuda, bagai dagangan yang tidak laku terjual
Wahai anak muda, oh pemuda

Dagangan yang tidak laku pun masih bisa terjual pada hari pasar berikut
Tetapi kau, anak muda seperti persembahan keramat (parsombaonan) yang harus dihindari
Wahai anak muda, oh pemuda

Sedangkan tempat keramat masih dapat dipuja
Tetapi engkau anak muda, seperti tikar usang, lusuh
Wahai anak muda, oh pemuda

Malangnya dirimu Pemuda
Mati sia-sia tak berguna, o anak muda
Hidup bagai orang yang mati…


Saya sendiri awalnya mengalami kesulitan memahami persis arti kata-kata dalam Nahinali Bakkudu ini. Penasaran, kutanya teman-teman lain bahkan ke orangtua. Hasilnya? Sama. Mereka juga mengaku tak mengerti benar arti dari beberapa diksi klasik Batak yang tak biasa dalam gubahan Nahum ini. Ya sudah, kuputuskan mencari sendiri.

Mari kita coba telisik beberapa diksi tak biasa yang dimaksud dan apa padanan artinya dalam bahasa Indonesia.

  1. na hinali: yang terikat
  2. bangkudu = heat, ulat yang nantinya jadi kumbang
  3. bona ni bagot: pohon enau
  4. boniaga: barang dagangan
  5. parsombaonan: persembahan untuk upacara sakral
  6. paralangalangan: nasib tak menentu, “mocok-mocok” (bahasa prokem Medan)
  7. paraulaulan: (sama dengan no. 6)

Bangkudu atau heat memang umumnya berhabitat hanya di bona ni bagot (pohon enau). Bentuknya mirip hirik atau jangkrik, berwarna kuning kehijauan. Kadang juga terdapat di pohon kelapa yang busuk. Bangkudu diambil untuk dimakan setelah direbus, digoreng atau dipanggang. Ukuran Bangkudu sebelum metamorfosa jadi kepompong dalam tanah adalah sebesar jempol. Ia diyakini obat yang sangat manjur untuk pemulihan sel-sel rusak dalam tubuh manusia.

(Masih belum terkonfimasi entah persis sama atau tidak, inilah makhluk yang dalam bahasa Karo disebut Kidu, dan bagi orang Karo masih menjadi lalapan favorit. Seorang teman medsos berkata bahwa di pasar Pancur Batu Medan setiap hari ada yang menjual kidu ini, selalu cepat habis sebelum jam 6 pagi karena banyak pembeli atau sudah dipesan terlebih dahulu).

Disinilah salah satu kelebihan Nahum: Ia seorang pembanding yang jenius. Ia mampu menciptakan komparasi (pembandingan) yang hebat berangkat dari benda atau makhluk yang sehari-hari sering dijumpai orang Batak pada zamannya, lalu tiba-tiba tanpa sadar kita dibawanya pada bahasan filosofis yang berat.  Komparasinya mulai dari hal sederhana (gradus positivus), naik ke analogi lain yang lebih dalam artinya (gradus comparativus), hingga berakhir pada makna puncak (gradus superlativus). Dan semua aspek itu dimasukkannya sembari tetap menjaga supaya lirik tetap kedengaran enak, antara lain dengan menjaga kaidah sajak.

Untuk memahaminya, Saya mengusulkan parafrase ini.

GRADUS POSITIVUS (NORMAL/COMMON)

Ulat enau, si lalapan favorit itu adalah dagangan yang laku dijual. Mengapa kau, seorang manusia, malah tidak laku-laku?

Sajak A-A: bagot - dapot

GRADUS COMPARATIVUS (COMPARATIVE)

Bahkan dagangan yang tak habis terjual hari ini, besoknya pada hari yang tepat (di pasar) ia akan laku juga. Mengapa kau, seorang manusia, malah seperti persembahan keramat saja, tidak laku-laku?

Sajak A-A: masa onan - parsombaonan

GRADUS SUPERLATIVUS (SUPERLATIVE)

Bahkan persembahan keramat pun – sekalipun jarang digunakan – tetap juga laku jual, ia dipakai orang pada acara pemujaan. Mengapa kau, seorang manusia, tidak laku-laku?

Sajak A-A: pinele - rere

Tak cukup sampai disana, ia mengambil analogi buruk lainnya (kembali ke hal-hal umum) dengan menyebut nasib pemuda tadi bagaikan “buruk-buruk ni rere“, yakni umbai tikar pandan yang sudah rusak, tentu tidak ada gunanya lagi selain untuk dijadikan sampah dan dibuang atau dibakar. Kurang lebih, “buruk-buruk ni rere” ini sama kandungannya dengan frase populer kekinian sekarang di tengah anak remaja, yakni “seperti remahan renggingang yang tercecer di jalan, tak dihiraukan orang, dianggap sepi, bahkan diinjak tanpa perasaan bersalah sedikitpun

Jleb! Ngeri sekali.

Kabar Baik dan Tugas Penting

Sebuah kabar gembira bagi pecinta lagu Nahum: Walaupun Nahum Situmorang (mungkin) gagal dalam percintaan, tetapi dia sukses merebut hati masyarakat Batak di bidang musik. Walaupun dia sudah lama meninggal tetapi namanya tetap harum sebagai legenda musik Batak.  “Nahinali Bakkudu” hanya satu dari sekian banyak karya hebatnya.

Jika pun Nahum tak bisa memenuhi sekaligus ketiga kriteria sukses orang Batak, yakni  Hamoraon (kekayaan), Hagabeon (keturunan), dan Hasangapon (Kehormatan), tapi dia mendapat keberhasilan luar biasa pada aspek Hasangapon. Dia mati terhormat. Tak tanggung-tanggung, ia meninggalkan legacy berupa lagu-lagu indah dengan syair puitis.

Akan tetapi, sama seperti setiap kabar gembira, selalu ada tugas dan tanggungjawab di dalamnya. Jika untukmu lirik lagu Nahum bagus, apakah kebagusan itu juga bisa dirasakan oleh anak-anak remaja masa kini, yang berbahasa Batak saja tidak lagi mampu, konon pula memahami dan menikmati keindahan syair Nahum?

Ini pertanyaan yang bagus direnungkan.


Sebuah pertanyaan menohok lainnya yang juga kuusulkan menjadi tendens dari Nahinali Bakkudu:

Apakah generasi bona pasogit yang menyebut diri pecinta lagu Nahum juga siap menerima konsekusensi jika anak mereka total menempuh jalan hidup seperti yang dilakukan Nahum? Berkesenian sampai mati tanpa meninggalkan banyak harta serta tidak meninggalkan keturunan biologis? Soalnya ada yang menggelikan juga. Banyak orangtua senang melihat anak kecilnya menggemari musik, tetapi ketika sudah dewasa si anak justru dijauhkan dari totalitas dalam karir musik, malah diarahkan untuk mencari pekerjaan lain yang lebih jelas uangnya, yang lebih mapan tampilan luarnya.


Habang binsakbinsak,
tu pandegean ni horbo
Unang hamu manginsak,
ai i dope na huboto

“Mati Yang Diulang” karya Femi Khirana

Malaikat Jubah Putih (MJP) bingung. Akhir-akhir ini banyak manusia yang mati bunuh diri. Ruang Rehabilitasi Akhirat yang dialokasikan untuk tempat manusia mati bunuh diri itu, sudah penuh sesak.

Seperti biasa MJP menginterogasi penyebab manusia mengambil jalan pintas sebelum manusia menghadap langsung kepada Yang Kuasa.

MJP : Apa alasan kalian bunuh diri?
Si Miskin : Gak bisa bayar hutang.
Si Patah : Patah hati.
Si Sakit : Cacat seumur hidup.
Si Bangkrut : Gak ada kerjaan dan usaha selalu bangkrut.
Si Kecil : (Manusia ini tercatat baru berusia 8 tahun) Gak naik kelas.

MJP menggelengkan kepala, ternyata alasan manusia bunuh diri dari zaman batu sampai sekarang selalu klise. Karena Ruang Rehabilitasi Akhirat makin sesak, beberapa manusia terpaksa dikembalikan ke dunia. Kesempatan hidup yang kedua ini diatur sedemikian rupa agar manusia tersebut tidak mati bunuh diri lagi.

Maka, 
Si miskin dijadikan konglomerat.
Si patah dijadikan berwajah rupawan.
Si sakit dijadikan atlet terkenal.
Si bangkrut dijadikan seorang pejabat.
Si kecil dijadikan murid pintar. Manusia pun bahagia ketika kembali ke dunia.

MJP lega dan berharap kelak mereka mati dengan cara wajar.


Hanya tiga bulan Ruang Rehabilitas Akhirat itu lengang. Bulan ke-4 kembali penuh sesak.

Lagi-lagi MJP harus menginterogasi dan terpaksa membuat program menduniakan manusia lagi. Dalam proses interograsi, MJP terkejut sangat, karena Si Miskin, Si Patah, Si Sakit, Si Bangkrut, dan Si Kecil ternyata mati bunuh diri lagi!

MJP sangat berang.

MJP : Kalian mati bunuh diri lagi!!! Kenapa???
Si Miskin: Harta saya habis gara-gara ditipu.
Si Patah: Saya dicerai karena sudah tidak laku jadi artis.
Si Sakit: Saya gagal meraih kejuaraan nasional.
Si Bangkrut: Saya divonis penjara karena dijebak koruptor.
Si Kecil: Saya pintar, tapi ndak bisa lanjutin sekolah.
MJP: (Pusing) Jadi kalau kalian hidup lagi, minta jadi apa??? 

Manusia pun saling memandang satu sama lain. Si Kecil pun didaulat jadi jurubicara,
“Kami tidak minta dijadikan apa-apa.. Kami hanya minta ada orang yang mau peduli dan memperhatikan kami ketika kami sudah tidak bisa berbuat apa-apa.”

MJP pun menghela nafas panjang dan sedih. Remedial terpaksa dibatalkan.
“Maaf, permintaan kalian terlalu sulit untuk direalisasikan hiks… hiks…”


Judul asli tulisan ini adalah "Remedial", sebagaimana ditulis Femi Khirana.

Tulisan ini dapat dikategorikan sebagai #flashfiction. Karakter tidak boleh lebih dari 1000. Berbeda dengan #fiksimini yang lebih ekstrem (hanya boleh mentok 140 karakter, mirip dengan Twitter dulu, yang mirip SMS jumlah karakternya). 

Ciri flashfiction atau fiksi mini: 1) langsung ke konflik, dan 2) ending twist

“Hidung Godfather” – Fiksi dengan Ending Psikologis oleh Femi Khirana (1)

Dia, bertubuh gempal, berkumis tipis.

Dia, yang sepuluh tahun lalu hanya seorang petugas keamanan di perumahan elit kawasan Pondok Indah. Dia yang semula hanya nebeng di rumah kampung mertua indah, lalu mencoba sewa rumah gubuk derita bawah jembatan tol yang akhirnya digusur. Namun seiring naiknya pamor sebagai satpam, ia dapat mengontrak rumah bedeng. Lalu tiga tahun terakhir ini sudah mampu ngontrak rumah sederhana di kawasan Kebayoran.

Dia, bertubuh gempal, berkumis tipis.

Orang memanggilnya sebagai Mas Wawan. Terlalu panjang bila dipanggil Kurniawan, nama aslinya. Nama itu pun baru mencuat di kawasan perumahan Pondok Indah setelah kemenangannya memukul maling di perumahan itu.

Ya, sejak itu dia mulai disegani.

Dulu? Boro-boro! Selalu senior-senior yang dapat jatah istirahat yang banyak. Tetua satpam selalu dapat seseran yang menggiurkan. Ia hanya sesekali dapat uang rokok bila ia sedang sendirian menjaga portal tatkala matahari baru akan menyembul.

Mas Wawan, yang dulu bertubuh gempal mulai terlihat sembulan perut di tubuhnya. Hanya kumis tipis saja yang tetap dipertahankannya. Karena dia tidak mampu menahan gatal seputar bibir dan khususnya hidung. Tetapi ada satu alasan lagi kenapa ia tidak membiarkan wajahnya sangar. Ia tetap membiarkan wajahnya klimis.

Ya, penyebabnya hanyalah karena hidung besarnya yang harus terlihat jelas! Itu hidung keberuntungan katanya.

Sebenarnya ia percaya tidak percaya dengan hidung keberuntungan. Tetapi karena orang-orang keturunan Cina yang tinggal di perumahan itu selalu memuji hidung besarnya, ia jadi percaya dan selalu mengembang-kempiskan tanpa sadar jika sedang senang hati.

Katanya, berkat hidung besarnya itu ia mampu menjadi orang yang disegani sesama satpam. Sejak dipercaya untuk ikut serta mendapat seseran dari warga, ia juga mulai ngobyek sana-sini. Bila ada warga perumahan yang sedang ada hajatan, ia pun terkena bagian uang tambahan. Bila ada warga yang minta tolong dipanggilkan taxi, ia pun dapat giliran untuk mencari. Bila ada penjaja makanan masuk ke perumahan, ia harus dapat jatah uang masuk.

Ia mulai percaya bila hidung yang diberi Tuhan itu mampu menolongnya memperbaiki nasibnya. Ia mulai yakin bila dulu sang maling yang digasaknya memang ditakdirkan untuk bertemu dengannya agar ia dikenal warga sebagai satpam yang mampu diandalkan! Sejak itu uang yang dapat dipajak dari warga mulai masuk ke kantong silih berganti, bahkan terkadang tumpang tindih.

Jadwalnya untuk membantu warga jadi padat karena orang lebih percaya padanya untuk mengantisipasi masalah keamanan warga Pondok Indah. Uang rokoknya yang dulu hanya receh sekarang sudah harus berbentuk puluhan ribu jika ingin meminta pertolongannya.

Berkat hidung pula, Satpam Wawan tidak sempat menyicipi jabatan koordinator satpam. Belum sempat ia mengiyakan untuk menjadi koordinator satpam, ia sudah didatangi seorang berpangkat tinggi di ranah militer. Itulah saat-saat terakhir ia tinggal di rumah kontrak kawasan Kebayoran. Sejak direkrut oleh seorang yang berasal dari kemiliteran yang tinggal di kawasan perumahan itu, ia mulai jarang terlihat.

Orang hanya menebak-nebak keberadaannya. Ia menjadi gosip di kalangan karyawan perumahan Pondok Indah. Ada yang pernah melihatnya di pasar Senen, tetapi ada juga yang pernah melihatnya di terminal Pulo Gadung. Tidak jelas. Kabarnya, ia sudah jadi kepala preman pasar dan terminal. Tetapi yang jelas gosip yang paling betul dari antara mereka adalah Mas Wawan sekarang sudah enak, sudah jadi orang kaya dan ditakuti.

Ya, aku mengiyakan jika gosip jadi orang kaya itu adalah benar.

Sejak Ayahku, yang dipanggil Mas Wawan itu bergabung dengan organisasi preman, kami sekarang tidak perlu ngontrak rumah. Sekarang rumah ini mau diisi barang apapun tidak akan penuh. Ayah juga tidak perlu pusing-pusing mencari angkutan untuk pindahan lagi. Semua sudah permanen. Barang baru masuk dan keluar. Masuk untuk dinikmati, keluar untuk dibagikan kepada anak buah Ayah jika sudah tidak dinikmati lagi.

“Ini semua berkat hidung Ayah, Jun,” kata ayah berkali-kali sampai aku muak mendengarnya.

“Dan kamu juga orang yang sangat beruntung! Lihat hidungmu! Mirip Ayah, makanya kamu tidak pernah susah,” lagi-lagi kata-kata itu selalu membuat jengah.

Berulang kali kupandang wajahku, rasanya ingin kucopot hidung itu agar Ayah tidak membangga-banggakan keberuntungannya terus. Ingin kulakukan operasi plastik agar Ayah tidak menganggap aku anak yang ingin mengikutinya jejaknya. Tetapi setelah kutanya-tanya harga operasi plastik ternyata mahal! Kalau aku minta uang sebanyak itu ke Ayah pasti curiga juga.

Entahlah, aku tidak pernah suka dianggap penerus keberuntungan Ayah. Bagaimanapun aku merasa usaha Ayah tidak halal. Aku merasa Ayah hanya mengandalkan keberuntungan terus tanpa kerja keras. Bahkan aku merasa sebal bila melihat banyak anak buah Ayah yang nunduk-nunduk di depannya.

Sepertinya Ayah adalah juragan kejam yang bakal mencopot bola mata orang bila melawannya. Ya, aku tidak mau sama dengannya! Aku juga lelaki! Aku punya sikap, dan aku merasa, aku tidak seperti itu! Aku, bukan ayah! Hidungku ini pun bukan nasib dari Ayah! Aku harus berjuang untuk nasibku sendiri. Tidak seperti Ayah yang kudengar disegani, ditakuti, dan juga kejam itu.

Maka, sengaja aku memilih untuk kuliah agak jauh dari rumah. Aku ingin kos sendirian. Sebenarnya aku ingin ke luar kota, tetapi lagi-lagi Ayah bilang,

“Jangan! Kamu boleh ngekos, tapi tidak boleh keluar dari Jakarta!”

“Ayah! Aku mau belajar mandiri!” protesku.

“Kau tidak usah belajar mandiri! Dari sifatmu, Ayah tahu kalau kamu bukan orang yang suka bikin orang susah! Gak ada alasan kuliah di luar kota buat mandiri!” begitu alibi Ayah yang lagi-lagi tak dapat kulawan. Aku sama ciutnya dengan anak buahnya yang biasa hanya nurut.

“Tapi, Ayah!” aku coba usaha lagi untuk meyakinkannya.

“Hei, Jun! Pilihan hanya dua, boleh kos dan kuliah di Jakarta. Atau kau keluar dari Jakarta tetapi kau sudah bukan anakku lagi!” kata Ayah semakin tegas.

Lagi-lagi, aku memilih untuk tidak menjadi durhaka.

“Tetapi aku mohon satu lagi, Ayah…”

“Apa?!”

“Aku tidak mau pakai mobil Ayah, aku mau bayar kos dengan uangku sendiri. Aku mau cari kerja,” pintaku.

“Itu terserah! Kamu lihat saja nanti, Jun! Di manapun kamu bekerja, pada akhirnya kamu akan kembali kepada keberuntunganmu sendiri. Kamu akan bernasib seperti Ayah, suka tidak suka,” dan lagi-lagi aku yang mendengarnya menjadi mual.


Sejak itu aku merasa bebas. Aku tidak perlu dibebani dengan pandangan hormat dari orang-orang yang tak kukenal jika mengendarai mobil. Aku tidak perlu memberitahu satpam di rumahku sendiri bila hendak jalan-jalan seputar perumahan saja! Aku menikmati kehidupan dan aktifitas kampus.

Aku aktif di senat mahasiswa sebagai bentuk partisipasiku bila ada acara-acara turun ke jalan untuk memberantas penindasan kepada orang miskin. Kuanggap semangat melindungi mereka yang tertindas ini dapat membuang sebagian dosa-dosa Ayahku yang kabarnya boss preman.

Keberpihakanku kepada mereka yang tertekan di jurang kemiskinan kuharap dapat menebus segala keberuntunganku yang ingin kubagikan kepada mereka. Ya, lama-lama kusadari tindakanku seakan-akan berlawanan dengan tindakan Ayah. Ya, biarlah Ayah menjadi penjahat kelas elit, tapi aku justru ingin membela orang-orang yang biasa dipalak Ayahku dan komplotannya.

Entahlah, makin lama aku turun ke jalan melihat kenyataan hidup, hatiku semakin pahit dan kesal dengan Ayah. Apakah Ayah tidak punya hati kepada pedagang pasar yang sudah susah payah jualan tapi harus diminta uang keamanan terus? Apakah Ayah tidak kasihan dengan supir angkot yang akhirnya berekses jadi tindakan kurang ajar karena selalu ditekan setoran dan rasa was-was dirazia polisi? Jadi bila dulu aku menikmati semua hasil perasan Ayah, kini aku ingin menghapusnya pelan-pelan dari darahku.

Aneh, padahal kata Ayah aku menuruni hidungnya. Darahnya mengalir dalam tubuhku. Tetapi kok aku sama sekali tidak seperti Ayah yang bisa keras dengan lingkungannya? Aku tidak pernah bisa mengajak Ayah untuk terbuka pikirannya agar mencari pekerjaan yang normal-normal saja. Mengapa Ayah memilih pekerjaan yang kejam dan membiarkan dirinya menjadi kejam?

Bila aku membahas pekerjaannya, Ayah selalu menganggap aku belum tahu apa-apa soal kerjaan. Dan untuk hal yang terakhir itu rasanya ada benarnya.

Setahun aku ngekos, hingga kini aku memang masih tidak mendapatkan pekerjaan! Sering kusamarkan bila Ayah menelepon ke ponselku,

“Gimana? Udah dapat kerjaan?”

“Lagi tunggu panggilan, sudah wawancara, Ayah,” jawabku. Padahal tak ada satu pun wawancara yang menjanjikan aku akan mendapatkan kerjaan.

“Oh ya? Semoga berhasil. Kalau habis uang, bilang saja,” ujar Ayah.

“Aku tidak apa-apa, Ayah. Aku hemat-hemat, uangku masih cukup,” jawabku.

“Ya sudah, bagus! Semoga sukses!”

Dan aku jadi masygul setelahnya. Kuhibur diriku sendiri,

“Ya, tak apalah! Sementara belum dapat kerjaan, berarti aku masih bisa aktif di senat dan turun ke jalan untuk bantu-bantu orang.”


Siang itu di Terminal Kampung Melayu …

Aku sudah bersiap-siap dengan teman-teman kampus yang ingin turun ke jalan. Tujuan demonstrasi kali ini adalah tuntutan agar pihak aparat keamanan resmi terminal dapat menumpas preman berkedok keamanan di terminal Kampung Melayu. Ya, sepertinya ini adalah hari di mana aku melawan Ayah. Mahasiswa yang bernama Junaedhi melawan preman keamanan yang identik dengan profesi ayahnya, Kurniawan.

Situasi mulai ramai dengan mahasiswa-mahasiswa berjaket kuning, biru, dan hijau. Aku pun sudah siap berkoar-koar untuk melawan segala bentuk premanisme terminal. Aku juga bersiap-siap bila dipanggil untuk membacakan beberapa kalimat tuntutan untuk keamanan resmi di terminal agar menumpas preman yang menindas supir-supir terminal.

Udara makin memanas, suasana di terminal pun makin panas. Pendemo yang jumlahnya tidak terlalu banyak mulai dihampiri oleh sekawanan orang berpakaian preman. Aku dan pendemo lain semakin memanas untuk memaki-maki kekejaman mereka. Pendemo lainnya semakin gemas melihat aparat keamanan resmi terminal hanya diam-diam di depan kantor mereka.

Tidak tanggapnya aparat keamanan membuat kami meringsek ke kantor mereka. Beberapa pendemo mulai membalik-balikan meja dan kursi kantor terminal karena merasa dilecehkan. Sebagian pendemo masih tetap berkoar-koar agar aparat keamanan dapat menumpas premanisme.

Anehnya, kami yang awalnya hanya berupaya agar supir-supir tidak tertindas oleh preman malah merasa dilawan oleh dua pihak. Ya, pihak aparat keamanan yang menganggap kami sok pintar. Dan juga jelas dari kelompok preman yang tidak suka kami ikut campur dalam usaha mereka memalak.

Kami mulai didesak oleh dua musuh besar sekaligus! Aparat keamanan yang tersinggung mulai mendorong-dorong sahabat-sahabat kami yang berusaha masuk kantor terminal. Para preman juga mulai melesak ke arah kami agar kami bubar secepatnya. Kami marah! Dan kami tidak terima! Kami yang bertindak atas nama kemanusiaan ternyata hanya dianggap sampah!

Melihat pendemo mulai melawan, aparat pun tak segan bermain tangan. Mahasiswa pun tak segan melawan dengan batu sekadarnya yang terambil di tangan. Preman-preman pasar mulai menarik-narik mahasiswa agar segera keluar dari area terminal. Ketiga pihak bergelut! Ketiga pihak di terminal kampung melayu ini berperang! Ribut! Adu mulut, adu jotos, adu lempar, dan adu dorong terjadi! Rusuh!

Dan aku?

Aku dengan cepat berusaha menyelamatkan diri untuk dapat melapor ke polisi. Secepat kilat aku mengelak semua bentuk jotosan. Untung sejak kecil Ayah membekali aku dengan ilmu bela diri, setidaknya untuk urusan tangkis menangkis pukulan lawan, aku sudah tak takut. Dengan sekelebat aku berlari cepat. Melihat aku yang dapat lolos tanpa luka berarti, ternyata menarik perhatian beberapa preman terminal. Mereka berusaha mengejarku. Ya, jelas aku jadi sasaran! Sedari demo tadi, sepertinya mulutku paling pedas, membuat telinga mereka terbakar jelas!

Nafasku memburu, jantungku bergemuruh.

“Aku harus cepat sampai ke jalan besar itu! Kalau tidak bisa gawat dikeroyok!” jerit batinku untuk menyemangati tenagaku yang sudah ngos-ngosan.

Preman-preman di belakangku tetap berteriak menyuruhku berhenti sementara aku berlari dan semakin melambat dan lambat dan benar-benar pelan karena kehabisan nafas. Jarak mereka semakin dekat, aku berusaha tetap lari walaupun sebenarnya sudah berjalan tertatih-tatih.

“Sudah nyaris sampai jalan besar! Ayooo!” aku menyemangati diriku lagi.

“Woiii!!! Berhenti kamu!!!” teriakan gerombolan itu makin dekat. Aku makin kalut.

Kali ini betulan aku merasa takut, tetapi nafasku sudah habis, langkahku makin pendek. Batu-batu besar dan tajam itu mulai sedikit-sedikit membentur-bentur tubuhku sehingga aku harus berusaha melindungi tubuhku dan berkelit.

“Gila! Aku mati konyol hanya karena melawan anak buah ayahku!!!” aku marah dalam hati.

Kemarahan itu membuat aku membalikkan tubuh. Aku tidak berlari menghindari mereka lagi, kali ini aku menghadapi wajah mereka. Aku tidak boleh mati!

Aku berjalan menghampiri mereka dengan suaraku yang menggertak,

“Ayo! Siapa berani! Aku, Junaedhi! Kalian berani melawan anak boss kalian, Kurniawan??!! Heh??! Ayo! Kalau berani, maju!”

Tantanganku membuat mereka agak ciut. Sekilas ada yang percaya, ada yang tidak percaya. Tetapi jika mereka melihat hidungku, mereka seharusnya percaya! Bukankah ini hidung cetakan Ayahku, persis!

“Bohong!” Wah, ada juga yang ngotot tidak percaya bila aku anak seorang preman besar.

“Kurang ajar kamu! Kamu gak bisa lihat mukaku ini persis boss kamu itu??!” aku masih menggertak. Ini jalan satu-satunya agar tidak mati konyol.

“Bohonggg! Bohonggg!!” kali ini beberapa orang mulai memekik, tetapi mereka masih tidak berani maju. Seakan-akan mereka masih mengidentifikasi hidung besarku ini. Sembari mereka dalam aksi terpaku melihat diriku yang nekat, tiba-tiba mobil yang kukenal persis itu menghampiriku. Nafasku kembali membara, tetapi kali ini aku merasa sedikit tenang.

“Juned! Masuk!!!” perintah Ayahku. Ya, Ayahku ternyata ada di sini.

“Ayah! Aku… pulang…,”

“Masuk!!!” kali ini Ayah membentak lebih kencang. Segerombolan preman yang tadi mengejarku pun ikut mendengar dan mulai beringsut menjauh dariku. Mereka akhirnya sadar bila aku memang anak boss besar, Kurniawan.
Dengan berat hati, aku masuk ke mobil Ayah. Dan kami hanya berdiam-diam diri di dalam mobil. Entahlah apakah ia membenci anaknya yang melawan kawanannya, karena aku sendiri juga bingung apakah aku benci dengan Ayah atau tidak.


Sore Itu di Perumahan Pondok Indah …

Ayah berhenti di taman perumahan Pondok Indah, tempat dulu ia pernah menjadi satpam. Kami tetap di mobil, dan ia tetap diam. Lalu, ayah mengajakku keluar dengan cara membuka central lock pintu mobil. Kami berdua menuju taman itu. Tiba-tiba… plakkk!!! Ayah menampar pipiku. Aku sangat terkejut. Dan mukaku memerah, mataku pun memerah! Aku tahu sekarang, bila aku benci ayahku! Sungguh benci!

“Aku tidak pernah memukulmu, tapi kali ini harus!” kata Ayah.

Aku yang masih terkejut hanya diam. Seperti biasa, aku selalu kalah dengan kharisma Ayah bila ia sudah melontarkan kata-kata. Tetapi Ayah tak kunjung menjelaskan alasan mengapa ia menamparku. Akhirnya aku yang menjadi spaneng sendiri dan mulai membuka mulut,

“Aku ingin belajar hidup dengan normal, Ayah! Aku ingin punya pekerjaan yang tidak menindas orang! Aku tidak mau hidup enak sementara orang tertekan! Itu sebabnya aku tidak suka melihat orang susah dijadikan sasaran ketidakadilan! Hatiku selalu melawan semua pekerjaan Ayah! Aku malu!” Kulihat mata Ayahku dengan sinar kebencian, tetapi herannya kali ini Ayah tak terlihat murka dengan aksiku.

“Jun, apa cita-citamu? Kau ingin jadi tokoh masyarakat yang membantu orang susah?” tanya Ayah sambil memandang rumput-rumput rapih di sekeliling.

“Ya, jika memang harus… Pokoknya aku tak mau senang di atas penderitaan orang,” jawabku.

“Kau memang persis Ayah. Bukan hanya hidung… tapi semua…”

“Halahhh… Ayah! Jangan bahas itu terus! Aku bosan! Jelas-jelas aku tidak mirip Ayah! Ayah dikenal orang sebagai boss preman! Sedangkan aku ingin dikenal sebagai orang yang berbelas kasihan! Itu beda!” protesku.

“Hah! Itulah kenapa aku menamparmu!” seru Ayah. Dan aku bingung.

“Kau bingung?! Aku menamparmu karena kau sendiri tidak mengenal sifat Ayah. Kalau kau tahu sifat Ayah, kau akan paham mengapa aku setuju waktu orang merekrut aku untuk merintis organisasi keamanan untuk pedagang pasar dan supir terminal.”

“Yang aku tahu, Ayah adalah berandalan! Ayah kejam!” kataku. Ayah lalu memandangku dengan tajam.

“Memangnya kamu pikir tokoh masyarakat yang ada di tivi-tivi itu bukan orang kejam, Jun??! Kamu mau seperti mereka?! Silakan!!! Kamu kuliah saja sampai tamat, jadi wakil rakyat sana!! Ayah mau lihat, apakah kamu masih bisa berbagi untuk orang-orang miskin atau malah menimbun uang dari orang miskin!” sergah Ayah.

“Aku berusaha agar tidak seperti itu!” protesku.

“Kamu berusaha untuk tidak seperti itu berarti kamu tidak cocok untuk bekerja di sana! Di meja-meja kantor yang kamu harapkan jadi tempat dudukmu itu sudah sarat dengan uang darah rakyat, Jun!! Kamu sekolah, masak kamu tidak tahu itu??! Kamu tidak mau pun, kamu sudah terlibat jadi penindas!”

Kali ini tampaknya Ayah setengah benar lagi. Aku kembali lagi terdiam.

“Kamu kira Ayahmu ini berhati batu? Ayah tetap berhati lembek melihat teman-teman Ayah yang bekerja susah payah, tetapi uangnya selalu harus membayar uang keamanan pasar dan terminal dengan pungli yang gila-gilaan! Kau kira Ayah tega melihat teman-teman Ayah yang supir bis, supir truk, supir angkot dipalak habis-habisan oleh rampok? Dan kau tahu siapa yang merampok mereka, Jun?”

Aku menggeleng-gelengkan kepala.

“Kamu bisa lihat tadi waktu demo. Siapa yang marah saat kamu demo? Merekalah yang perampok! Posisi mereka membuat mereka bisa berbuat seenaknya kepada pedagang pasar, supir angkot, supir truk, supir angkutan. Dan Ayah adalah teman-teman supir yang dapat menjaga mereka dari rampok itu. Uang yang disetor supir kepada kami tidak sebesar yang ditagih petugas keamanan resmi. Mereka cukup membayar setengahnya, dan sebagai imbalan, kami melindungi mereka dari rampok. Uang setoran mereka kami bayar ke aparat keamanan resmi yang kami buat tidak berkutik harus menerima uang dari kami. Mereka tahu, jika mereka menolak, Ayah dapat melapor kepada organisasi yang membayar Ayah untuk memecat mereka,” penjelasan itu membuat mulutku menganga.

“Memangnya Ayah kerja sama siapaaa??!” tanyaku bingung.

“Rahasia dong!!” kali ini Ayah seakan guyon denganku.

“Sudahlah! Kau tidak perlu tahu! Kau juga bukan bagian dari kami, dan selalu menolak kami. Jadi Ayah tidak bisa terbuka untuk itu,” kata Ayah yang suaranya mulai melunak.

“Arrhhh!!! Siapa?” desakku. Ayah memandangku ragu-ragu.

“Ah…! Kamu itu kalau sudah maunya!!! Ya anggaplah aku bekerja dengan orang yang ingin menghapus dosa karena sudah menyicipi uang darah rakyat! Menghapus dosa dengan berbagi kepada rakyat tanpa diketahui orang dengan membuat peraturan tidak baku yang justru melindungi rakyat! Sudah jangan tanya lagi!” jawab Ayah.

“Apa aku harus ikut organisasi Ayah supaya bisa membantu Ayah?” tanyaku. Kali ini profesi Ayah mulai membius rasa keadilanku.

“Hahaha… Jangannn! Bukannya kamu mau jadi tokoh masyarakat tadi???” pancing Ayah.

“Hmmm… Kalau bisa tidak terlibat dengan uang darah rakyat, mengapa harus? Lebih baik terlihat jahat tetapi kenyataannya baik,” aku mulai berfilosofi di depan Ayah.

“Halah!!! Kamu! Sudah! Jangan ngaco! Kamu tidak boleh jadi preman!” larang Ayah.

“Loh kenapa??!”

“Ayah jadi preman untuk membantu orang karena Ayah bukan anak kuliahan kayak kamu! Kalau Ayah sekolah, ya Ayah juga gak mau, Jun! Ah… kamu itu! Sudah Ayah sekolahkan, tetap saja bego seperti Ayah!” kali ini aku jadi malu.

“Jun…”

“Ya?”

“Ayah menunggu kamu sampai kamu bisa kuliah dan jadi orang pintar. Ayah mau kamu terus bisa besar dengan selamat, karena Ayah tahu banyak musuh Ayah juga mengincar kamu. Itu sebabnya Ayah melarang kamu kuliah di luar Jakarta. Semua agar Ayah dapat memantau kamu, dan tidak kehilangan kamu,”
“Hmmm… “ aku bergumam, sedikit terharu tetapi juga merasa dianggap anak kecil. Dan sepertinya Ayah mengerti jalan pikiranku,

“Memang kamu sudah besar, kamu pasti tidak mau dikuntit seperti anak kecil. Tetapi Ayah belum tenang sebelum menceritakan alasan ini. Sekarang kamu sudah tahu, dan mudah-mudahan kamu bisa menjaga diri. Sejak kecil Ayah minta kamu untuk belajar bela diri adalah untuk melindungi kamu sendiri. Ayah sudah tua, tidak bisa berbuat apa-apa,”

“Ah… Ayah masih muda! Dan aku masih bisa teruskan pekerjaan Ayah,” aku menawarkan diri.

“Lagi-lagi kamu!! Kamu itu jangan bodoh seperti Ayah kenapa??!” Ayah kesal.
Aku tergelak-gelak kali ini dan Ayah pun ikut tertawa geli sekarang melihat kegilaan anaknya yang justru ingin mengikuti jejaknya sebagai preman.

“Ayah sudah menabung lama, Jun! Sejak jadi satpam dulu. Nasib Ayah yang cuman sekolah SMP ini kalau tidak mulai dengan memberanikan diri menjadi satpam jagoan dan preman, mana bisa dapat uang? Kadang ada rasa takut, tetapi demi menyambung nyawa kalian, Ayah lawan. Dan menumpuk kekayaan begini sebenarnya buat kamu,” ujar Ayah di sela-sela meredanya tawa kami.

“Hah?” tanyaku bingung.

“Pakailah uang kita untuk cita-citamu menolong orang miskin. Kamu anak kuliahan, kamu lebih pintar dari Ayah. Kamu mau bikin usaha, silakan. Yang jelas kamu bisa bantu orang-orang yang tidak punya pekerjaan, jadi punya kerja. Kamu mau bikin yayasan, silakan. Kamu bisa bantu orang-orang susah, dan kalau uang mulai berkurang, bisa dibantu donatur. Ayah kenal kamu dengan baik, seperti kenal Ayah sendiri. Kita sama-sama tidak tega lihat orang susah,” jelas Ayah. Aku jadi terharu.

“Yang jelas, kamu tidak boleh bikin partai!” seru Ayah lagi dan membuat kami kembali tergelak-gelak.

“Ayah…”

“Ya?”

“Rasanya, memang aku orang yang beruntung,” kataku.

“Oh ya? Kamu sudah merasakan hal itu rupanya?” tanya Ayahku tak percaya.

“Hmmm, ya! Menjadi orang kaya yang tidak tega melihat orang susah. Akhirnya kita memberi terus tetapi kita selalu tidak pernah jadi miskin. Itu keberuntungan,” jelasku.

“Nahhh!!! Tamparanku ternyata berhasil membuka otakmu!” kata Ayah bangga.

“Bukaaannn Ayah!” protesku.

“Loh??? Lalu??? Kenapa kamu tiba-tiba bilang kamu beruntung?” tanya Ayah bingung.

Kutunjuk hidung besarku pada Ayah.

“Ahhh… ya ya…” Ayah pun menunjuk hidungnya dengan bangga.

Balada Sedikit Fals Seniman Milenial

Pippo tak perlu mengetuk dua kali untuk tahu bahwa Ramon, sang adik, sedang berada di kamar. Ramon duduk di meja belajarnya, matanya menatap kosong lembaran partitur musik penuh coretan disana-sini. “Tidak perlu mengurung diri begitu, Bro”, tepuk Pippo di pundak Ramon sembari menarik kursi dan segera sibuk dengan jari-jemarinya mengusap layar HP.

Ramon melirik sebentar ke arah Pippo. ‘Oh, nggak apa-apa, Bang”, ucap Ramon. “Ini sedang mencari inspirasi saja, kepalang tanggung nih”, tambahnya sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Andai saja si kakak memahami apa yang sebenarnya membuat Ramon gelisah.


Tak biasanya Ramon merasa seperti ini. Ia kehabisan kata-kata untuk menjelaskan kepada saudaranya itu perasaan macam apa yang dia miliki terhadap musik. Akankah ia berani terbuka mengakui kecengengannya bahwa ia baru saja menangis karena sebuah lagu?

Pasti sungguh tidak masuk akal bagi Pipo yang sibuk “tak tik tuk” membalas satu persatu pesan di group Whatsapp kantornya. Menangis karena ditinggal pacar mungkin masih ditolerir. Ini, karena lagu?


Pikiran Ramon menjelajah liar ke berbagai dimensi. Ada alam alter-realitas dimana dia merasa kedinginan. Uang hasil mengamen semalam di kafe kota kecil itu bahkan tak cukup untuk membuatnya berani menghadap ibu kos, memberitahu bahwa uang kos bulan ini kemungkinan akan terlambat lagi dibayarkannya.

Di alter-realitas II, Ramon tak kuat menahan haru tatkala menyaksikan kecewanya Didi Kempit, temannya sejak kuliah di sebuah insitut seni, diusir dari rumah setelah bertengkar habis-habisan dengan seisi rumah. Rupanya sudah sejak dulu orang tua Didi tidak pernah menyetujui pilihan karir anaknya itu. Mau hidup dari bermusik di zaman sekarang, bisa kasih makan apa anak-istrinya nanti.

Segera berkelibat pula alter-realitas III. Ramon dan Didi berpelukan setelah konser yang mereka rancang berbulan-bulan akhirnya selesai juga. Penonton tidak banyak memang, tiket tidak habis terjual. Tidak juga ada jurnalis yang meliput dan memberitakan mereka, tapi itu tak menyurutkan kepuasan batin mereka berdua.


Ramon terkesiap. Sadar, khayalnya melantur terlalu jauh. Disini ada kakak kandung sedang mencoba membuka pembicaraan, dan ia malah asyik bengong sendiri.

Ia memicingkan matanya melirik kakaknya yang masih asyik dengan gadgetnya itu. Sepertinya sang kakak sedang serius membahas masalah kerjaan dengan rekan-rekannya. Oh, biarlah.


Meski matanya masih menatap lembaran partitur itu, sejatinya Ramon sedang membayangkan Elnoy. Seingatnya Elnoy adalah gadis bersuara merdu, sekaligus satu-satunya cewek di kelasnya yang tidak suka dengan Taylor Swift. Mereka punya kemiripan, sebab Ramon juga tak sekalipun tergoda memutar lagu Justin Bieber.

Oh iya, Elnoy juga pintar menggambar. Beberapa lukisan potrait-nya bahkan sempat menghiasi lini masa Instagram Ramon. Terakhir, semua postingan itu bersih, berganti dengan foto Elnoy dengan senyum getir berpose sembari memegang ID karyawan magang di sebuah bank ternama.


Ramon adalah jiwa orang tua yang terperangkap di badan seorang bocah 21 tahun. Jiwanya berontak menyaksikan betapa banyak temannya yang berbakat, gelisah dan menderita batin hanya untuk memutuskan serius di karir bermusik mereka atau berdagang mengikuti anjuran orangtua mereka. Ia tahu betul, beberapa diantara mereka bahkan tidak mendapat kesempatan untuk menampilkan lagu yang sudah mereka tulis.

Seperti hantu, Didi dan Elnoy serasa nyata menatap Ramon saat ini. Ia bergidik. Semua seperti tiba-tiba terlihat gelap sebentar lalu sekejap berganti pula dengan terang menyilaukan.


Ah, kampret benar. Ramon sadar, musik telah membuatnya merasa gila, sekaligus bahagia. Itulah yang terjadi saat ini.

Ada untaian nada lagu terdengar jelas olehnya. Sementara Pipo sudah beranjak dari kamar itu, sepertinya hendak menyeduh kopi. Itu jelas banget loh, kok hanya dia yang mendengar, Pipo tidak?

Ramon pun tersenyum. Dia baru saja menyadari bahwa apa yang dirasakannya saat ini, itulah kebahagiaan. Musik membuatnya bahagia, bahkan menangis bahagia.

Ia bergeser dari tempat duduknya. Meraih HP yang sedari tadi di-charge di sudut kiri mejanya. Sejurus, ia membuka pula Instagram-nya.

Di story-nya tertulis:

Ketika kamu bahagia, kamu menikmati musik. Tetapi ketika kamu sedih, kamu memahami liriknya.


Mungkin. Besok. Ramon akan merampungkan komposisi lagunya yang tanggung itu.

Lirik “Haminjon” – Swanto Holiday Feat Benny Marpaung

Sada turi – turian i
Na sian Ompui
Tu pinomparna i

Di tonga ni harangan i
Tombak na uli i
Mangolu tondi i

*
Hau na margota i
Gota na hushus i
Tonggo na uli i

Ilu ni si boru i
Boru ni raja i
Gabe pulungan i

Reff

Ujui longang do bangso i
Marnida hau namargota i
Ujui gabe do bangso i
Sahat sude akka sahala i

Mulakma hita tu bona i
Manat dohot di akka tona i


Haminjon

Lirik lagu yang baru rilis kurang dari sebulan lalu oleh Bram Records ini berkisah tentang haminjon.

Apa itu “haminjon”?

Haminjon (Batak Toba) adalah kemenyan atau Olibanum, aroma wewangian berbentuk kristal yang digunakan dalam dupa dan parfum.

Jika kamu seorang Katolik dan kerap mengikuti ibadah Misa (perayaan Ekaristi), tentu kamu tahu bahwa setiap kali ada sesi mendupai oleh sang imam maupun misdinarnya, bahan dasar yang digunakan adalah kemenyan.

Jika kamu orang Madura, khususnya yang berada di Desa Morbatoh, Kecamatan Banyuates, Kabupaten Sampang, kamu tentu tahu bahwa sejak jaman nenek moyang hingga kini ada tradisi Bakar Kemenyan dalam waktu-waktu tertentu.

Bahkan lewat cerita turun-temurun, masyarakat Tapanuli percaya kemenyan yang dihadiahkan bersama dengan emas dan mur oleh tiga orang Majus (Parsi) atau ” tiga raja dari Timur” untuk bayi yang baru saja dilahirkan oleh Maria, yakni Yeshua (ישוע), adalah kemenyan  yang dibawa dari Pelabuhan Barus, yang dulu pernah menjadi pelabuhan besar, menuju Timur Tengah, hingga ke Betlehem. Konon, selanjutnya Barus semakin ramai disinggahi oleh perahu-perahu layar antar benua sebagai pelabuhan pengekspor kemenyan dan Kamper (kapur barus).

Tiga deskripsi di atas baru nukilan kecil dari teks lengkap perihal luasnya penggunaan kemenyan dalam ritual-ritual suku-suku awal Nusantara hingga keyakinan dan agama di Indonesia modern ini. Mulai dari Sumatera, Jawa hingga Madura bukti-bukti terlihat jelas karena bahkan masih bisa kita temukan praktek penggunaannya hingga sekarang. Tak pula sebatas untuk ritual ibadah tetapi juga untuk kepentingan praktis sehari-hari, misalnya sebagai campuran tembakau untuk rokok.

Kristal kemenyan ini diolah dan diperoleh dari pohon jenis Boswellia dalam keluarga tumbuh-tumbuhan Burseraceae, Boswellia sacra (disebut juga Boswellia carteri, Boswellia thurifera, Boswellia bhaw-dajiana), Boswellia frereana dan Boswellia serrata (kemenyan India).

Terdapat 7 (tujuh) jenis kemenyan yang menghasilkan getah tetapi hanya 4 jenis yang secara umum lebih dikenal dan bernilai ekonomis yaitu Kemenyan Sumatra (Styrax benzoin), kemenyan bulu (Styrax paralleloneurus), Kemenyan Toba (Styrax sumatrana) dan Kemenyan Siam (Styrax tokinensis).

Melihat latar belakang Bram Tobing, komposer lagu ini serta lirik dan tampilan video musiknya, yang dimaksud dengan haminjon adalah Kemenyan Toba.

Mari kita bedah apa sih yang mau digambarkan lagu ini.

Bedah Lirik “Haminjon”

Kalau kita terjemahkan lepas, lirik lagu Haminjon dalam bahasa Indonesia adalah sebagai berikut.

Sada turi – turian i (ada sebuah cerita)
Na sian Ompui (yang dituturkan oleh Leluhur)
Tu pinomparna i (kepada anak cucunya)

Di tonga ni harangan i (di tengah hutan)
Tombak na uli i (hutan yang indah)
Mangolu tondi i (hiduplah Roh)

*
Hau na margota i  (disitu ada kayu yang bergetah)
Gota na hushus i (getahnya harum mewangi)
Tonggo na uli i (untuk pengiring doa yang indah pula)

Ilu ni si boru i (asalnya dari airmata seorang gadis)
Boru ni raja i (ia adalah putri raja)
Gabe pulungan i (dan air mata itu menjadi obat penawar)

Reff

Ujui longang do bangso i (kala itu orang-orang disitu heran)
Marnida hau namargota i (demi melihat kayu yang bergetah itu)
Ujui gabe do bangso i (saat itu semua warga disitu damai sejahtera)
Sahat sude akka sahala i (sebagai berkat dari para Leluhur)

Mulakma hita tu bona i (maka marilah kita pulang ke Sumber)
Manat dohot di akka tona i (sembari tetap berpegang pada Nasihat)

Terasa bahwa lirik Haminjon hendak menyampaikan sebuah pesan (value) tradisi dan kepercayaan yang dianggap luhur oleh warga setempat.

Tradisi apa itu?

Marhaminjon di Sijamapolang

Dalam tulisan yang menjadi tugas akhirnya di Universitas Sumatera Utara, Imanuel Silaban mencoba mengelaborasi latarbelakang, realitas dan nilai berkebun kemenyan (marhaminjon).

Marhaminjon menjadi mata pencaharian yang paling banyak dilakoni masyarakat Bonandolok. Selain tidak memerlukan modal yang banyak, menanam dan panen kemenyan dapat memberikan hasil yang menjanjikan dibandingkan dengan bercocok tanam tanaman muda dalam periode waktu yang lama. Disamping itu, harga kemenyan saat ini dipasaran semakin lama semakin meningkat. Tentu ini menjadi alasan lain lagi mengapa masih ada petani yang betah mansigi (menyadap) pohon kemenyan alih-alih mengalihfungsikan lahannya untuk tanaman budidaya lain atau menjualnya untuk dijadikan rumah atau industri.

Masyarakat Bonan Dolok memiliki kepercayaan terhadap mitos pohon kemenyan.  Konon pohon yang menjadi penghasil getah kemenyan dulunya adalah Boru Nangniaga, seorang wanita cantik yang tinggal bersama orang tuanya.

Dulu keluarga ini hidup serba kekurangan sehingga harus berhutang kepada orang berduit. Tidak mampu melunasi hutangnya, sang ayah pun berencana menjodohkan putrinya kepada putra orang berduit itu. Sang putri tidak mau menuruti permintaan ayahnya karena dia tidak suka pada lelaki tersebut. Kemudian dia melarikan diri ke hutan untuk menghindar. Disana dia menangis tersedu-sedu karena merasa kesepian dan menyesali sikap ayahnya kepadanya.
Tiba-tiba sang putri berubah menjadi pohon, dan air matanya berubah menjadi kepingan-kepingan berupa kristal yang baunya khas dan wangi. Keluarganya mencari wanita cantik tersebut kehutan, namun yang mereka dapati bukan lagi sosok manusia ataupun wanita, melainkan sebatang pohon yang mengeluarkan getah harum. Itulah haminjon.

Uniknya, banyak pula warga Bonandolok menyebutkan bahwa getah pohon yang menjadi haminjon itu sesungguhnya berasal dari air susu wanita cantik tersebut. Akan tetapi karena menyebutkan susu dari payudara (Bahasa Batak Toba: tarus) di lingkungan masyarakat sekitar maupun disekitar hutan kemenyan dianggap tabu, maka masyarakat setempat sendiri memperhalus bahasa tersebut, alih-alih menyebut air susu, menjadi air mata.


Kini terjawab sudah tradisi yang melatarbelakangi lirik “Haminjon”. Lantas, pesan apa yang hendak disampaikan lewat lagu tersebut?

Menurutku, pesannya jelas: Berilah kesempatan kepada anakmu untuk menentukan jodohnya sendiri. 

Jika mau diekstrapolasi, pesannya bisa meluas. Yakni supaya setiap orangtua memberikan kesempatan kepada anak yang sudah dewasa untuk menentukan pilihan hidupnya sendiri, entah dalam hal jodoh, karir, ideologi dan lain-lain. Ini saatnya generasi senior untuk mendidik dan memberikan pengertian kepada junior, bukan malah memaksa.

Cukuplah Siti Nurbaya yang mengalami pahitnya dunia akibat tunduk pada tradisi harus menghormati orangtua yang keputusannya tidak boleh dibantah. Cukuplah perempuan-perempuan mengalami derita akibat dipaksa menikahi pemuda sebagai tebusan untuk hutang, seolah-olah mereka adalah komoditas yang dapat dijadaikan nilai tukar layaknya uang.

Dengan demikian, “Haminjon” menambah perbendaharan kita untuk lagu yang mengusung kritik sosial terhadap perjodohan yang dipaksakan. Sebelumnya sudah ada “Cukup Siti Nurbaya” yang dinyanyikan dengan berani oleh Ari Lasso kala masih di Dewa 19.


Catatan Kritis:

Ada apa dengan huruf “i”?

Mengapa banyak sekali huruf i pada setiap akhir frasa di lirik “Haminjon”?

Benar bahwa “i” (Toba) berarti “itu“, it (English, kata ganti orang ketiga) dan karenanya komposer bisa berargumen bahwa banjirnya penggunaan kata “i” tujuannya jelas: untuk menyampaikan kepada pendengar bahwa latarbelakang tradisi lisan yang mau dikritisi itu spesifik, yakni Boru Nangniaga dalam folklore masyarakat Batak. Oke. Tapi apakah memang tidak ada metode lain untuk mencapai tujuan yang sama?

Kupikir masih ada sekian alternatif untuk menjadikan nilai dan filosofi tadi tetap tersampaikan sembari tetap menjunjung tinggi keindahan sastra dalam lagu. Olah kata dan diksi adalah pekerjaan seorang penulis lagu juga. Tentu selain repotnya mengerjakan musikalitas, merancang video klip, termasuk tektokan soal publisitas dan hal lainnya. Ini masukan saja.

Dari segi genre yang dipilih, “Haminjon” menambah daftar lagu bernuansa rock dengan lirik tradisional. Usungan subgenre metal rock a la band AC DC dan Metallica terasa sejak awal lagu. Petikan gitarnya sangar, dengan sedikit bantuan edit vokal seperti efek helium di penggalan vokal yang gahar membuatnya terdengar seperti lagu “Siksik Sibatu Manikkam” oleh Donald Black (saat mengisi mikrophone Djamrud setelah sempat ditinggal Krisyanto).

Perpindahan tonal dari musik intro ke vokal sangat kreatif, mirip dengan yang dilakukan Vicky Sianipar untuk lagu “Sinanggar Tullo”

Belum lagi dentuman double beat pada drum yang mengingatkanmu pada “Pangeran Cinta”, jika kamu adalah seorang Baladewa.

Singkatnya, “Haminjon” menjadi satu lagi lagu yang patut kamu masukkan di playlist Youtube atau Spotify-mu.


Catatan Akhir

Satu hal positif jelas terlihat:

Semakin banyak generasi muda melihat potensi melimpah dari tradisi lokal untuk dikemas ulang sehingga mengena dengan selera pasar kekinian.

Ini, tentu saja, menambah daftar pemusik dengan visi yang kurang lebih sama, sebut saja Rimanda Sinaga dengan “Pos Ma Roham da Inang” atau Plato Ginting dengan “Mejuah-juah Pal”

 

 

 

Luxury is in Simplicity

Apa godaan terbesar ketika berbicara? Berbicara dengan istilah yang rumit. Jika perlu dengan meminjam kata dari bahasa asing. Ekstremnya, sebisa mungkin sampai pendengar takjub karena bingung apa yang disampaikannya. Tujuannya untuk menciptakan sense of authority. Ibarat mau pamer ke penonton talkshow: “Ini loh. Kalian mesti tau, untuk topik ini, gue yang paling ahli dibanding lawan bicara gue ini”. Apakah pendengar memahami atau setidaknya bisa mengikuti alur pembicaraan, itu persoalan lain.

Apa godaan terbesar ketika menulis? Mirip dengan berbicara tadi. Menggunakan banyak kutipan terpercaya dari sumber yang sebisa mungkin susah diakses oleh pembaca. Tujuannya sama, sense of authority. Jika perlu ditambahi dengan istilah yang tak lazim. Ibarat mau pamer ke pembaca berita: “Ini loh. Kalian mesti tau, untuk tema ini, gue yang paling ahli dibanding penulis lain”. Apakah pembaca memahami atau setidaknya bisa mengikuti alur pikiran penulis, itu persoalan lain.

Apa godaan terbesar ketika berkesenian? Eh, sebentar. Kata “berkesenian” ini tampaknya biasa. Tapi kok susah mengartikannya ya. Gini. Berkesenian berarti mengikuti kaidah membuat karya seni, memahami tujuan dan dampaknya bagi penikmat karya, termasuk dirinya sendiri yang ikut terlahir kembali bersama terbitnya sang karya. Njelimet ya.

Apa godaan terbesar ketika hendak mencipta lagu? Mengakomodasi semua teori musik yang pernah dipelajari. Sebisa mungkin memuat banyak liukan interval akor, progresi, modulasi. Jika perlu, gabungkan semua jenis tangganada yang pernah dikenal manusia, termasuk yang mengabaikan nada dasar seperti yang dilakukan komposer zaman Romantik Pierrot Lunaire dengan komposisi atonalnya. Kalau masih bisa, tumpahkan semua elemen sinestesia dan bablas dalam mengartikan licentia poetica saat mencipta liriknya. Apakah pendengar bisa menikmati alunan nadanya? Itu soal lain. Apakah begitu mendengarnya seorang penikmat lagu langsung bisa merasakan motif lagu tersebut? Ora urus.

Alhasil, tidak ada pendengar yang tertarik dengan omongannya. Podcast atau konten Youtube edisi berikutnya akan sepi view. Tidak ada pembaca yang akan kembali melirik tulisannya apalagi berniat membeli bukunya. Tidak ada pendengar yang akan setia menunggu lagu berikutnya dari si pencipta lagu.

Lalu ketiga jenis seniman tadi pun heran. Kecewa karena menurut mereka, konsumen kurang mengapresiasi karya yang sudah dengan susah-payak mereka ciptakan. Ibarat pedagang: lapaknya rame saat grand opening, tetapi hari-hari berikutnya tak satupun pembeli datang.

Apa yang salah?


Suhunan Situmorang, seorang pengacar dan penulis lepas yang rutin mengisi dinding Facebook-nya dengan opini ringan namun mengena, pernah menulis begini (saya kutip seperlunya):

Sadarilah.

Mari tulis kisah dan pengalaman sehari-hari, juga alam sekitar, tradisi masyarakat, atau ketika tinggal di desa. Situasi kotamu kini pun menarik ditulis, termasuk perubahan-perubahan dalam pelbagai hal.

Kehidupan di medsos tak melulu bicara topik dan isu yang keras, sayangi otak dan jiwa yang juga butuh senyum dan tawa lepas. Ceritakanlah kenangan atau pengalaman yang membekas, atau harap yang tak terbatas. Cita dan impian perlu dirancang, setidaknya untuk menambah semangat melakoni kehidupan–kendati kemudian tak sama dengan realitas. Alangkah lelah membicarakan hal-hal yang tak terjangkau diri, sementara ada banyak kewajiban yang butuh enerji.

Kisahkanlah desa atau kotamu, atau pengalaman lucu. Tulislah dengan semangat berbagi cerita, niscaya pembaca menemukan yang berharga, kendati tak diucapkan secara terbuka. Tulislah cerita dan puisi, potretlah panorama dan suasana di suatu kampung atau sudut kota. Tampilkan dengan narasi bertutur. Alangkah menarik bagi yang berpikiran luas.

Berceritalah, memotretlah, atau bagikan resep-resep masakan, cara menanam dan merawat tanaman, atau tips supaya awet muda.

Bernyanyilah bagi yang suka, bercandalah untuk membuat pembaca tertawa.


Fiksimini tentang tiga pekerja seni diatas ditambah tulisan singkat Suhunan tadi mengajak kita untuk kembali ke prinsip dasar komunikasi, yakni: Apa yang sampai ke penikmat (baca: pembaca, pendengar) itulah yang penting.

Bukan soal seberapa banyak terminologi yang dimiliki seorang pembicara, tetapi apakah pendengar memahami apa yang dibicarakan. Bukan soal seberapa rumit penjelasan yang disampaikan penulis, tetapi apakah pembaca mengerti gagasannya. Bukan soal seberapa tinggi ilmu dan musikalitas si pencipta lagu, tetapi apakah lagu tersebut benar-benar mengena di telinga penikmatnya. Itulah yang penting.

Kunci untuk membuat sebuah karya mengena dengan penikmatnya adalah sentuhan emosional atau afeksi. Meminjam lirik lagu Ari Lasso, “sentuhlah dia tepat di hatinya“, sentuhlah penikmat karyamu dengan sesuatu yang bisa mereka rasakan. Sesuatu yang dekat dengan kehidupan, mimpi dan kesedihan mereka. Bahasa kerennya: sesuatu yang relevan dan relatable.

Jika pembaca membaca tulisanmu lalu menggumam dalam hati, “ini kok persis kayak yang aku alami ya”, itulah sukses. Jika seorang netizen mengunjungi lagu yang baru kau rilis di kanal Youtube-mu lalu memberi komentar “Sedih banget lagunya, Min, kayak kisahku”, itulah sukses.

Tampaknya inilah yang perlahan semakin disadari teman Saya, seorang pemusik dari Sumatera Utara yang merantau ke Jogja. Rimanda Sinaga namanya. Baru-baru ini kami ngobrol.  Di akhir percakapan kami yang berjam-jam itu, dia bilang: Lagu yang bagus itu lagu yang sederhana. Sebuah lagu yang begitu didengar, para penyanyi trio di lapo tuak bisa serta-merta mengambil gitar dan menyanyikan suara 1, 2 dan 3. Sebuah lagu yang begitu selesai didengar di HP, orang bisa membuat versi Karaoke-nya sambil mengguyur tubuh atau berkumur-kumur di kamar mandi.

That’s it. Luxury is in simplicity. Kemewahan yang sebenarnya terletak pada kesederhanaan.

Oh iya. Ada lagunya yang menurutku cukup bagus. Latarnya sangat personal karena diangkat dari kisah pribadinya sendiri, yakni momen ketika ditinggal oleh ayah tercinta. Beberapa orang merasa relevant dan relate pula dengan lagu itu. Bahkan ada yang menyanyikannya di acara keluarga. Barangkali lirik hasil kolaborasi Rimanda Sinaga dan Subandri Simbolon menyentuh mereka.

Sedikit catatan kritis: Dalam taksonomi ende Batak Toba, liriknya masuk ke kategori ende andung (lagu ratapan). Jika hendak diletakkan sejajar dengan andung Batak lainnya, lagu ini butuh penyederhanaan di bagian tertentu, dan polesan di bagian lain.

Judul lagu itu “Posma Roham Dainang”. Ini lirik dan video Youtube-nya. Cekidot.


POS MA ROHAM DAINANG

Tingki parro ni bot ni ari

Hundul Dainang, huhut malungun

Mancai borat do di rohana

Dung borhat Damang

tu haroburan i

 

Uli pe sinondang ni bulan

Mambahen roha, sonang humaliang

Alai Dainang sai mardok ni roha

Boha bahenon pasonang roha na i

 

Reff:

Posma roham ale Inong na burju

Nungnga tung sonang sohariburan i

Damang di siamun ni Tuhan i

Sai tagogoi ma lao martangiang

Bereng ma hami angka gellengmon

Na sai tontong manghaholongi ho

Unang be sai tartundu malungun

Naro do angka ari na uli i

 

Nama para kru yang terlibat tercantum di video.

Konon, selain aku, banyak pula yang masih masih menunggu karyanya yang berikutnya setelah dia mengalami pencerahan (enlightenment) ini.

Rangrang ni Namarsiamianaminan

Jotjot do tabege didok akka natua-tua, sai marsiamin-aminan ma hamu songon lappak ni gaol i. Ndada holan i, diboanhon do tong i di bagasan piga-piga andung manang logu. Ra alani jotjotna gabe olo do tar hira moru pangantusionta disi. Hape, apala “marsiamin-aminan” on ma sada habisuhon jala hasomalan na ingkon sitiopon jala torushononta nian, unang mago sian hita bangso Batak.

Jempek do rangrang na sinurat ni amanta Palambok Pusu-pusu on, alai mangarongkom lapatanni hata “marsiamin-aminan”. Ninna boti:

Ina Na Hinohosan

Ponjot rohana jala tung marsigorgor rimas ni Ompu Maruli boru, pola songon na sosak marhosa dihilala ala ni hata na sangkababa i.

“Ai laos boha pe jago ni jolma, manang beha pe mora na jalan tung songon dia pe saringar ni goar na, tung so tataponna do saur matua molo ndang marurat jolma. Jolma siteanon do i molo di halak batak…!” talmis soara ni Ama ni Benni, huhut songon na di padirgak uluna jala di ombushon timus ni sigaretna.

Nang pe ndang apala digoari manang na tu ise hasahatan ni hata na i, alai sude do natorop i boi mandodo, tu Ompu Maruli do hata i. Ianggo Ompu Maruli doli, nungga tung mahap be di angka hata sisongoni. Alai anggo tu roha ni Ompu Maruli boru, tung mansai maniak. Ai saleleng ngoluna, tung soadong dope halak na barani manghatahon hata sisongoni di jolona.

Ala ni hata sangkababa i, naeng do nian pintor mangintas Ompu Maruli boru mulak sian jabu ni parboruon nasida on, alai sai diotapi ma langka na, unang pola diboto angka dongan sapunguan i na tarholi panghilalaanna. Nian, antar dilangkahon ibana do ruar sian jabu laho tu alaman laho marhosa ganjang, alai tong do sai ponjot dihilala.

Dung i, disuba ibana do dohot marnonang rap dohot angka ina na ro tu arisan saompu i, jala dohot do ibana mamarengkeli siparengkelon, alai tong do ndang lumbang panghilalaanna. Sahat ro di na mulak nasida sian jabu ni parboruon nasida i dung sidung ulaon arisan, sai solot dope na hansit di roha na.

“Songon na asing pardompahanmu Inang, na asing dope dibagasan roham?” manat Ompu Maruli doli manungkun parsonduk na i, dung di mobil nasida.

Dang maralus sungkun sungkun na alai tompu ma manetek ilu ni Ompu Maruli boru.

Tungki simajujungna. Marnida i, gabe hansit tong roha ni Ompu Maruli doli, ai tung so tarberengsa ilu ni nialap na i. Dipadorong ibana mamboan mobil i asa tumibu sahat di jabu, asa pintor dihaol jala dipamenak ibana roha ni soripada na i. Dung sahat nasida di alaman ni bagas nasida, pintor mangintas Ompu Maruli boru ruar sian mobil, dung i masuk ibana tu bilut podoman nasida jala dipapuas ma tangis na, dianggukhon angguk na.

Lambok, diapus Ompu Maruli doli abara ni parsonduk na i, dung i di haol momos. Ndang manjua Ompu Maruli boru, baliksa lam dipapuas tangis na di abingan ni simarubun na i.

“Nga sae be i inang, unang be sai lungun roham. Ai ise Ama ni Benni i, umbahen na pola bonsa roham ala ni hata ni i? Ai nda tung dao ho lobi martua marnimbangkon ibana? Ndang singkop didok roham silas ni roha di hita, alai nda tung gumodang na hurang di ibana? Na so diboto i do magona, jala late rohana mida hita!”

“Tung so hapingkiran ahu do, boasa ingkon marasing asing derajat ni jolma di adat batak!” runtus alus ni Ompu Maruli boru.

“Eeee…eeh… Ai adat Batak pe jolma do mambaen, ndang sai sude pita! Godang dope sipatureon di angka adat Batak, ndang gabe i patohan ni parngoluon di portibi on. Tung singkop pe parngoluon ni jolma hombar tu adat Batak, belum tentu gabe jolma na martua. Angka nauli nadenggan naung tajalo i ma ta bilangi, unang patangi tangi angka hata ni si eat roha. Ndang piga dabah borua manang ina na songon ho, boru na taruli asi nang pe ndang haru singkop diadopan ni jolma, tarlobi di adat Batak. Pola pajojoronhu angka pasupasu naung tajalo…?” mansai lambok hata ni Ompu Maruli doli, manorus tu ate ate ni Ompu Maruli boru.

Songon na sip satongkin Ompun Maruli boru, huhut marhosa ganjang. Dung i, dialusi songon soara na marhusip. “Angka aha ma i…?”

“Ba… hupajojor pe, alai unang be tangis ho, Inang. Molo tangis ho, gabe maniak ate-atengku, lobi sian maniak ni ate-atem!”

Dipahusor Ompu Maruli boru parpeakna jala dibereng dompak bohi ni sinonduk na, pardompahahan na tung mansai lambok. Mengkel suping ibana. “Bege hupajojor da…!”

Tung ise ma na songon ho inang,
Boru hasian, boru na hinohosan
Habunbunan ni holong dohot asi asi na lambok
Sian natoras batara jonggi dohot iboto na togap

Nda tung na martua ho tahe, Inang
Hariara na bolon do pangunsandeanmu
Angka boru na lambok do urat ni ate atem
Jala tano na napu do pansalonganmu

Ue, da Inang
Ida ma hatuaon naung niampum
Tiur songon mataniari binsar simalolong ni pahompum baoa
Lambok songon bulan tula pamereng ni pahompun boru
Jala si doli na jogi do gabe helam

O Inang, Inang na lagu
Tung adong dope hatuaon lumobi sian i?


Songon na nienet sian gurat-gurat ni ito Rose Lumbantoruan