25 Tahun STFT St. Yohanes Sinaksak – Transkrip Homili Mgr. Martinus Dogma Situmorang

S – T – F – T

Nama itu menjadi demikian karena kita berada di republik ini.

S-e-k-o-l-a-h   T-i-n-g-g-i.

Dulu kita sebut Seminari Agung. Tetapi sekarang: “Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi”. Bukankah nama itu memukau? Bukankah nama itu menunjukkan bahwa disini ada himpunan nilai dan bobot yang harus diperhitungkan oleh orang?

Tetapi tentu saja kita tahu bahwa STFT mesti ini  diperhitungkan orang bukan karena namanya, tetapi karena isinya. Karena realitas keberadaannya dalam keseharian kita.

STFT ini tidak menjadi pemukau dan penarik minat karena kompleksnya yang asri. Karena keindahannya, STFT ini memang dihargai oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Simalungun sebagai aset dan bisa menjadi satu tujuan wisata di wilayah ini. Mudah-mudahan tidak terjadi. Sebab kalau begitu, terlalu banyak urusannya, dan STFT ini harus berubah menjadi nama lain.

Saya hanya mau menegaskan: Ada nama. Ada kompleks. Ada fasilitas. Tetapi terlebih lagi: ada isi. Disini dididik orang-orang yang dipanggil secara khusus untuk memberikan seutuhnya seluruh dirinya melayani Tuhan di tengah umat. Sebab itu perguruan ini sudah langsung menjadi “locus”, tempat, “site” yang luar biasa. STFT adalah kumpulan orang-orang yang merasa dirinya dipanggil Tuhan untuk memberi diri seutuhnya, seluruhnya dan dalam segala-galanya kepada Tuhan.

Pada pertemuan ini ada orang-orang yang sudah mempersembahkan diri mereka seutuhnya dalam kaul mereka, dalam tahbisan imamat mereka, yakni para dosen dan peneliti yang kita hormati dan cintai. Ada Hirarki Indonesia. Ada hari Minggu. Ada “25 tahun STFT”, tempat pendidikan mereka dan menyerahkan diri seutuhnya kepadaNya.

Tetapi demikian, toh dengan rendah hati, dengan tulus dan bersahaja, kita harus berani menyelami dalam di lubuk hati kita, untuk melihat apakah kita melaksanakan perintah utama, perintah satu-satunya, yang diuraikan dalam Kitab Keluaran tadi secara negatif (kemungkinan yang dimaksud adalah Keluaran 20:4-6)

Yaitu perintah untuk menerima, memperhatikan mereka yang termarginalisasi, yang terabaikan, mereka yang miskin, terasing dalam bentuk apapun. Untuk menjadi saudara dan tuan rumah kepada mereka yang merasa dirinya terlantar, tidak punya tempat.

Yang menurut Santo Paulus dihayati dengan sangat saksama dan sangat pribadi oleh jemaat di Tesalonika. Jemaat Tesalonika yang berada di tengah masyarakat dengan segala modernitasnya di zaman itu, tetapi hidup  umat menjadi pemberitaan Injil. Sehingga Paulus tidak usah bertanya kepada siapapun. Orang yang mengatakan bahwa jemaat itu bagus, hebat, dahsyat, dalam penampilannya di tengah masyarakat.

Karena apa? Karena mereka menghayati Perintah Utama. Perintah, yang dirumuskan oleh Yesus dengan sangat sederhana, menjawab orang-orang Farisi yang menganggap dirinya tokoh utama dan terdidik di tengah masyarakat yahudi, dan tentu saja, di seantero masyarakat manusia.

Jawaban yang Tuhan berikan kepada mereka yang datang dengan kepercayaan diri yang di atas rata-rata. Orang-orang yang mengharapkan akan mendapatkan “credit point” sesudah Yesus menaklukkan dengan telak para kaum Saduki tentang kebangkitan. Bahwa Allah itu adalah Allah yang hidup. Ada kebangkitan.

Tetapi untuk sampai kebangkitan yang hakiki, perintah satu-satunya: Cintailah Tuhan Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap tenagamu, dan cintailah sesamamu seperti dirimu sendiri.

Dimana dan sejauhmana perintah ini memberi arah, memberi arti dan menentukan program, jadwal harian kita, dan tingkah laku kita? Sejauhmana (kita melaksanakan) perintah Cinta Kasih ini: mencintai Tuhan, mencintai, tetapi bukan saja mencintai, tetapi dengan seluruh diri. Total. Tidak ada sisa-sisanya. Tidak ada ruang kosong. Tidak ada waktu dimana cinta itu boleh absen.

Maka hendaknya seluruh diri kita, seluruh perayaan kita, seluruh evangelisasi kita, seluruh hirarki kita dengan segala urutannya, mestilah mendapat kepenuhan arti sekaligus mendapat energi batin. Kekuatan yang tak terkalahkan sampai kapanpun. Demikian juga STFT kita.

Tetapi, kenapa itu? Bagaimana Tuhan bisa menyampaikan kepada kita perintah yang kedengarannya, tampaknya, begitu indah, begitu sederhana:  Cintailah Tuhan Allahmu, cintailah sesama. Sederhana, tetapi total. Bagaimana bisa?

Saudara. Bisa, karena Tuhan melimpahkan. Bisa, karena seluruh diri kita sesungguhnya adalah buah cinta. Keberadaan kita adalah dalam genggaman cinta Tuhan yang abadi dan sempurna. Cinta itu yang terus menerus menghidupi dan memberi energi bagi kita. Kemampuan untuk menderita juga seperti umat di Tesalonika. Kemampuan juga untuk menerima orang asing. Sehingga kita tidak barangkali lagi terlalu gampang mengeluh tentang keadaan republik ini, keadaan hirarki, keadaan umat, keadaan ini dan itu. 

Tidak lagi mengeluh satu sama lain. Tetapi dengan energi kasih dan dicurahkan oleh Roh Tuhan itu, dengan kelimpahan yang melampaui segala perhitungan. Sebab itu sesungguhnya, tinggal setiap hari,  dari pagi sampai malam, dalam kemampuan kita yang paling indah: terbuka menerima kasih Tuhan. Membiarkan Dia menegur kita. Membiarkan Dia membimbing kita ke arah yang benar. Membiarkan dia mengatakan “go ahead”, lanjutkan!  Apapun keadaan kita. Apapun keadaan misi kita sebagai Gereja di Indonesia, di Sumatera.

Sebab sambil berbangga atas segala pencapaian yang dikerjakan oleh rahmat Tuhan, mungkin kita juga harus berkata: jangan-jangan ada yang tersia-siakan dari kelimpahan berkat ini.


Saya tutup dengan cerita pendek. Dengan semua uskup di Indonesia, kami menemui Paus. Akhir bulan lalu. Saya melakukan apa yang Saya rasa harus Saya lakukan. Tetapi, Saya dengan jujur mengatakan, “Tuhan, mengapa saya tidak lebih ramah kepada Monsigneur Hilarius ini?” Mengapa Saya mesti nampak begini, dan bukan seperti Yesus? Dan di Makam Rasul Paulus, Saya merasakannya. 

Ketika pulang ke Indonesia, Saya mendapat kecelakaan kecil, dalam arti Saya harus terlantar di perjalanan. Saya harus berhenti di Doha, Qatar, selama 14 jam. Sekiranya saya berhenti 14 jam di Medan, Saya akan bergembira. Tetapi di Doha tidak. Tidak ada hotel, tidak boleh kemana-mana, dan lain-lain. Saya berdoa puluhan kali Rosario.

Juga di pesawat, sesudah marah dengan pelayan check-in, karena barang yang sudah Saya bayar tidak boleh Saya tenteng. 

Ini sharing saja.

Biarpun saya berusaha berdamai dengan orang itu, berdamai dengan diri sendiri, berdoa puluhan kali Rosario, toh pertanyaan yang menggugah: itukah segalanya? Atau ada lebih yang boleh disikapi dan dilakukan, baik dalam peristiwa ini maupun dalam kehidupan sehari-hari?

Kasih Tuhan. Dengan menghidupi kasih Tuhan itulah kita bermisi.


Saudara-saudari terkasih! Semua fasilitas kita adalah pemberian Tuhan juga. Tetapi yakinlah bahwa kemampuan kita untuk menjangkau adalah kasih yang kita terima dari Tuhan, dan kasih yang kita hayati.

Sebab itu Yesus, Yesus, dan Yesus, yang adalah kehadiran dan pemberian diri allah yang sempurna, adalah guru kita, adalah sumber energi kita, adalah teman seperjalanan kita, adalah orang yang bermisi dengan kita, dan adalah orang yang ber-STFT dengan kita. Hingga 25 tahun hari ini.

Tetapi kita baru sampai di akhir zaman kalau Tuhan berkenan demikian. Amin

Mahasiswa Tingkat II STFT Sinaksak T.A. 2007-2008. (Saya ada di barisan paling belakang.)

Tulisan ini adalah hasil transkrip dengan gubahan seperlunya dari audio kiriman P. Benny Manurung, OFM Cap.

 

KAPOK. AKU TAK MAU DISUNAT LAGI!

Foto: Hipwee

 

Kupikir tak perlu lagi diterangkan apa itu sunat ya.

Apalagi kalau sampai ditanya “prosesnya bagaimana? bagian mana yang disunat? Setelah disunat, itu yang sudah terpotong benar diamankan secara saksama khan? Soalnya ngeri-ngeri sedap, saban hari ada yang bilang, ada yang jual sate kulup. Hoeeeks

Tak perlu kusebut namanya. Selain tak ingat betul detailnya, juga tak elok dituangkan dalam tulisan.

Tulisan Sumanto Al Qurtuby ini cukup mengena denganku, meski dalam konteks yang berbeda. Besar dalam ajaran Katolik, budaya Batak Toba, karena suatu “kecelakaan” kecil, aku juga jadi pelaku (atau malah korban ya?), ikut mengalami yang namanya sunat ini.

(Kecelakaan apa sih? Eh, kepo ya? Ceritain nggak nih. Eh, jangan dulu deh. Itu rahasia perusahaan soalnya)

Hahaha.

Pokoknya, adalah fakta bahwa di sebuah rumah sakit di Pematangsiantar, pada tahun 2001, terjadilah reduksi kulit pada bagian tubuhku yang letaknya antara perut dan lutut ini. (Caelah, istilahnya). Jadi, ini bukan hoax.

Cukup kompleks perasaanku ketika peristiwa itu terjadi. Selain memang tak lazim di komunitas tempatku tinggal dan dididik, juga tak banyak yang kutahu soal seluk-beluk persunatan ini dulu. Untunglah pengalaman sunat ini sudah dituliskan oleh Pak Prof Sumanto. Sudah apik sekali diuraikan oleh sang profesor. Maka kuposkan ulang saja tanpa perubahan berarti.

Intinya: bagi kalian yang sudah pernah disunat, jangan mau disunat untuk kedua kalinya.

Pokoknya jangan deh.


Sunat memiliki sejarah yang sangat panjang meskipun tidak sepanjang yang disunat. Sebagai antropolog budaya, Saya mempelajari aneka ragam praktik tradisi dan kebudayaan umat manusia dimana saja, termasuk masalah persunatan ini.

Dari catatan sejarah dan antropologi menunjukkan ada cukup banyak kelompok masyarakat – suku kecil maupun besar – yang mempraktekkan sunat. Jadi umat Yahudi Kuno (Israelites atau Yahudi Alkitab) bukanlah satu-satunya kelompok yang mempraktekkan sunat ini.

Dalam sejarahnya, sunat mempunyai bayak motif dan tujuan. Masing-masing orang atau kelompok (suku, agama dlsb) berlainan.

Ada yang melakukan sunat sebagai “tanda loyalitas” terhadap kelompok tertentu; Ada lagi sebagai “simbol identitas” kelompok untuk membedakan “minna” (in group) dan “minhum” (out group); Ada juga yang menjadikan sunat sebagai “medium penghukuman” atas orang/kelompok yang kalah dalam perang atau pertempuran. Jadi, kelompok yang kalah disunat. Kelompok yang lain lagi menjadikan sunat untuk alasan kesehatan, dan lain sebagainya.

Dulu (dalam batas tertentu sampai sekarang), di kampungku (juga di kampung-kampung Jawa pada umumnya), sunat dijadikan sebagai “lahan bisnis” untuk mengumpulkan sumbangan dari warga. Jadi, acara sunat dirayakan dengan membagi undangan ke warga kampung, teman, kenalan, atau sanak-saudara di luar kampung.

Yang mempunyai hajatan sunatan biasanya “menanggap” tape, salon/loudspeaker sehingga semua warga mendengar kalau ada yang punya hajatan sunatan. Kalau tuan rumah mampu, mereka juga menanggap wayang, layar tancap, ndangdut, campur sari, kuda lumping, jaran kepang, tayub, lengger, dan lain sebagainya sesuai dengan kemampuan dan ketebalan kantong.

Warga atau yang diberi undangan akan datang menyumbang macam-macam. Yang perempuan biasanya menyumbang beras, ayam, telor (ayam, bebek), solong, kubis, mie dan kain/bahan untuk sarung. Semua sesuai kemampuan masing-masing. Bagi yang mampu mereka menyumbang ayam jago. Kalau yang tidak mampu pakai “ayam kontet” alias cacingan atau “kandidat ayam/bebek” (telor atau endog maksude inyong).

Kelak, kalau giliran yang menyumbang itu punya hajatan, si empunya hajat gantian mengembalikan/menyumbang barang-barang persis seperti apa yang mereka bawa saat menyumbang itu. Kalau nyumbang-nya tidak sama, nanti akan menjadi bahan gunjingan. “Dulu saya nyumbang segini kok sekarang disumbang segitu, dasar wong semprul

Sementara itu, yang laki-laki biasanya nyumbang pakai uang yang ditaruh di dalam amlop. Ingat, meskipun ditaruh di amplop, yang punya hajat tahu “siapa menyumbang berapa” karena ada “tim khusus” bidang peramplopan yang menyelidiki dan mengecek sumbangan”.

Dulu, orang menyumbang memakai “salam tempel”, langsung diberikan ke yang punya hajat. Mereka tidak memakai sistem kotak atau tong seperti zaman sekarang. Mereka wajib tahu isi amplop itu karena kelak mereka juga wajib mengembalikan / menyumbang pada si pemberi amplop kalau mereka sedang punya hajat, baik mantenan maupun sunatan.

Yang anak-anak juga ikut nyumbang, meskipun nominalnya biasanya lebih kecil dibanding orang tua mereka.

Selain sebagai medium mengumpulkan kekayaan, sunat juga sebetulnya merupakan “teror psikologis” yang menakutkan. Anak-anak pada usia tertentu kalau belum disunat akan diledek atau di-bully. Masalahnya, sunat dulu merupakan “drama yang mencekam”.

Kok bisa? Sekarang banyak dokter sunat dengan peralatan dan obat yang super canggih sehingga membuat yang disunat bisa ketawa-ketiwi dan bisa sembuh cepat. Jadi, mau kombak-kambek sunat juga tidak masalah kalau mau.

Tapi dulu coy, stok yang ada cuma dukun sunat dengan pisau tajam mengkilat (bahkan sebelumnya mereka memakai irisan pohon bambu, namanya “welad”) untuk memotong si “kulup” yang menutupi kepala si “titit” alias penis. Obat pun ala kadarnya.

Sedangkan proses sunatnya di depan rumah yang punya hajat dan ditonton oleh semua warga. Si anak memakai kain jarik kemudian dipangku oleh ayah atau anggota keluarga dekat sambil duduk di kursi, lalu jarik-nya disingkap untuk menutupi matanya. Habis itu, semua urusan diserahkan ke dukun sunat. Sehabis dipotong kulit si kulup, darah pun mengucur deras. Yang disunat tentu saja seketika “nggembor” nangis. Betul-betul mencekam.

Karena proses sunat yang mencekam itu, maka dulu banyak anak yang menunda sunat sampai lumayan besar (maksudnya, anaknya yang besar sampai agak remaja) baru disunat, termasuk Saya.

Saya dulu disunat kelas 3 MTs (SMP) tapi tidak pakai dukun sunat melainkan dokter. Saya kira Saya anak pertama di kampung yang disunat oleh dokter, bukan di depan rumah tapi di tempat praktik pak dokter di kecamatan. Meski disunat dokter, peralatan juga belum cukup canggih waktu itu.

Sehabis disunat Saya merasakan satu jam tidak merasa sakit tapi setelah itu Saya nangis ngguling-ngguling. Panas sekali titit-ku. Karena tidak ada obat “pain killers”, beberapa orang (termasuk orang tuaku) membantu mengipasi si titit semaleman di kamar.

Lumayan menderita selama beberapa minggu. Karena itu Saya kapok disunat lagi, Lur.

Sumpeh suwer yakin cir gobang gocir. Cukup sekali saja seumur hidup…

 

Disadur seperlunya dari tulisan Sumanto Al Qurtuby di halaman Facebook-nya.

 

Komunitas Yahudi di Indonesia

Jejak komunitas Yahudi di Indonsia memang tampak samar. Selain tidak dikenali secara luas, kelompok ini seperti ada dan tiada.

Sejarah kelam yang mengiringi komunitas Yahudi di berbagai belahan dunia menimbulkan keengganan bagi komunitas ini untuk tampil di muka publik

Prof. Rotem Kowner dari Universitas Haifa, Israel menulis: “Kehadiran orang Yahudi di Indonesia sudah ada sejak tahun 1290. Mereka adalah saudagar dari Fustat, Mesir yang berdagang di Barus, Sumatera Utara”

Kedatangan orang-orang Yahudi ke Indonesia terus berlangsung seiring masuknya perusahaan Belanda (VOC) pada tahun 1602. Perkembangan komunitas Yahudi di Indonesia semakin meningkat pada 1870. Saat itu, komunitas Yahudi Amsterdam mengirim seorang rabi ke Indonesia. Kemudian, pada 1921, penyandang dana Zionis, Israel Cohen, mendarat di Jawa. Dia melaporkan, saat itu terdapat dua ribu orang Yahudi yang tinggal di Pulau Jawa.

Kaum Yahudi di Indonesia terbagi atas tiga golongan:

Pertama, orang-orang Yahudi berkewarganegaraan Belanda yang dulu dipekerjakan pemerintah kolonial sebagai penjaga toko, tentara, guru dan dokter.

Kedua, Yahudi Baghdadi yang berasal dari Irak, Yaman, dan negara Timur Tengah lainnya. Mereka kebanyakan tinggal di Surabaya dan bekerja sebagai pengusaha ekspor-impor dan pemilik toko. Yahudi Bagdadi ini dikenal religius, bahkan ada yang ultra-ortodoks.

Ketiga, Yahudi pengungsi yang lari dari kejaran Nazi. Mereka berasal dari Jerman, Austria, dan Eropa Timur.

Beberapa diantaranya menyembunyikan identitas Yahudi mereka dan menikah dengan perempuan Indonesia.

Secara ekonomi, orang-orang Yahudi ini hidup makmur.

Akan tetapi, nasionalisasi segala yang berbau asing oleh Presiden Sukarno di awal 1950-an memantik migrasi besar-besaran keturunan Yahudi dari Indonesia kembali ke tempat asal mereka setelah situasi aman, atau ke tempat lain. Ditambah lagi Penetapan Presiden tahun 1965 tidak memasukkan Yudaisme sebagai satu dari enam agama resmi yang diakui (difasilitasi) pemerintah.

Tahun 2004, komunitas Yahudi mulai bangkit dengan berdirinya Sinagoga “Ohel Yaakov” di kota Manado, Sulawesi Utara. Yang paling mencolok adalah dibangunnya sebuah menorah berukuran raksasa setinggi 19 meter, di sebuah puncak dataran tinggi di pinggiran kota Manado. Sinagoga (synagogue) adalah tempat beribadah orang Yahudi, sementara menorah adalah lambang suci yang dipakai dalam ritual ibadat Yahudi.

Di Jakarta Selatan (Batavia), ada tujuh kuburan berlambang bintang Daud dan berbahasa Ibrani di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Petamburan, menjadi bukti kaum Yahudi pernah tinggal dan berbaur dengan warga kota Jakarta.

Alwi Shahab, sejarawan Jakarta, mengatakan bahwa sebelum perang Arab-Israel tahun 1948 warga Yahudi hidup rukun dengan warga lainnya. Mereka bercampur-baur dengan warga muslim Jakarta. Apalagi, banyak Yahudi dari Timur Tengah yang juga masih bisa bahkan fasih berbahasa Arab, dan wajah mereka pun sangat mirip dengan bangsa Arab lainnya yang ada di Jakarta. Dalam kegiatan dagang, mereka tidak menyembunyikan identitas ke-Yahudi-annya.

Keberadaan komunitas Yahudi di Jakarta juga tergambar dari salah satu prajurit Belanda keturunan Yahudi bernama Leendert Miero (1755-1834). Selain menjadi prajurit, dia juga pernah menjadid tuan tanah di Pondok Gede, Bekasi sekarang. Nama “Pondok Gede” (gedung/rumah yang sangat besar) sendiri merujuk pada kediaman Miero. Kini, bekas peninggalan rumah gedong milik Leendert Miero itu menjadi pusat perbelanjaan.

Sebuah artikel Selisip.Com mengisahkan Dorothy Marx, seorang pendeta dan teolog berdarah Yahudi. Dorothy dikeal luas di GKI, PGI, kampus UKI, ITB, UPI (dulu IKIP Malang), Universitas Kristen Maranatha, STT Bandung, STT Jakarta, SAAT Malang, Perkantas serta berbagai lembaga persekutuan di Bandung. Dorothy, yang lahir di Munchen (Jerman) pada 16 Februari 1923, pindah ke Inggris jelang Perang Dunia II. Ia pertama kali melayani Indonesia pada 1957 sbagai misionaris OMF (Overseas Missionary Fellowship) usai ia lulus dari Universitas Tubingen dan Lousiana Baptist University. Dorothy dikenal luas atas tulisan dan kontribusinya terhadap pendidikan para calon pendeta, terutama GKI.

Sekalipun komunitas Yahudi telah berjejak lama, dengan warisan seni dan budaya termasuk yang juga mereka bawa dan pelihara, namun Indonesia tetap tidak mengakui keberadaan negeri asal komunitas Yahudi itu, yakni Israel. Konflik antara Israel dengan negara-negara Arab lainnya di kawasan Timur Tengah terutama dengan Palestina telah mewariskan sentimen negatif pada masyarakat Indonesia terhadap komunitas Yahudi.

Sentimen negatif terhadap Israel (termasuk komunitas Yahudi di Indonesia juga menerima imbasnya) diduga juga “dibakar” dengan kutipan dan interpretasi liar atas ayat-ayat Kitab Suci untuk tujuan tertentu. Padahal, Indonesia khususnya melalui ABRI sudah sejak lama menjalin hubungan dengan Israel, seperti pembelian pesawat A-4 Skyhawk, belum lagi kerjasama intelijen dalam memerangi terorisme. Beberapa pihak menyebutkan bahwa kelompok simpatisan teroris di Indonesia gencar melancarkan propaganda anti-Israel dan anti-Yahudi karena mereka tahu gerakan mereka akan dibantai oleh teknologi maju dari Israel itu.

Tambahan lagi, sebagian masyarakat Indonesia terlanjur percaya dengan keberadaan Yahudi yang konon tidak bisa lepas dari gerakan Freemasonry, yakni gerakan diam-diam orang Yahudi untuk menguasai dunia.

 


Disadur dari berbagai sumber

 

 

 

Lirik “Bisuk Ma ho amang” Cipt. Martogi Sitohang & Nelson Hutasoit

O amang, o inang borhat ma au tu na dao
Mangalului ngolu-ngolu, ngolu siapari i
Mangalului ngolu-ngolu, ngolu siapari i

Lehon poda mi tu au di na lao paborhatton au
Asa tukkot di na landit jala sulu di na golap
Asa tukkot di na landit jala sulu di na golap

Asa ijuk di para-para jala hotang di parlabian
Asa bisuk ma ho amang dung sahat di pangarantoan
Ingot ma hami on na paimahon baritam
Unang lea hami amang, di ujung ni ngolu on

I do hata ni damang i di nalao paborhaton au

Hape nuaaeng pe amang, mangaranapi rohakki
Soa da na hubaen dope na boi palasson rohami

Martangiang au tu Tuhan i sai ganjang ma umur mi
Paima ro au amang lao mangubati arsakmi
Malengleng ate-atekki marningot holong mi tu au

 

Lirik “Sampai Jumpa” – Endank Soekamti

Datang akan pergi
Lewat ‘kan berlalu
Ada kan tiada bertemu akan berpisah

Awal kan berakhir
Terbit ‘kan tenggelam
Pasang akan surut bertemu akan berpisah

Hey!
Sampai jumpa di lain hari
Untuk kita bertemu lagi
Ku relakan dirimu pergi
Meskipun
Ku tak siap untuk merindu
Ku tak siap tanpa dirimu
Ku harap terbaik untukmu

Du duu duuduuu
Du duu duuduuu
Du duu duuduuu
Du duu duuduuu

Datang akan pergi
Lewat kan berlalu
Ada kan tiada bertemu akan berpisah

Awal kan berakhir
Terbit kan tenggelam
Pasang akan surut bertemu akan berpisah

Hey!
Sampai jumpa di lain hari
Untuk kita bertemu lagi
Ku relakan dirimu pergi
Meskipun
Ku tak siap untuk merindu
Ku tak siap tanpa dirimu
Ku harap terbaik untukmu

Hey!
Sampai jumpa di lain hari
Untuk kita bertemu lagi
Ku relakan dirimu pergi
Meskipun
Ku tak siap untuk merindu
Ku tak siap tanpa dirimu
Ku harap terbaik untukmu

Du duu duuduuu
Du duu duuduuu
Du duu duuduuu
Du duu duuduuu

Sosok Ribka Tjiptaning di Mata Suhunan Situmorang

Dr. Ribka Tjiptaning Proletariyati

(Suhunan, seorang penulis yang cukup aktif menguraikan gambaran Rikba Tjiptaning di dinding Facebook. Untukku, tulisan ini menarik dan padat. Berikut repost-nya.)


Ning.

Nama lengkapnya, Ribka Tjiptaning Proletaryati. Nama yang tak jamak bagi masyarakat Indonesia umumnya. Ia berdarah Jawa, kedua orangtuanya bukan orang sembarang: berdarah biru (bangsawan) dari dua kesultanan Jawa, Solo dan Yogjakarta.

Ayahnya, Raden Mas Soeripto Tjondro Saputro, masuk trah keluarga besar Kasunanan Keraton Pakubuwono (Solo). Ibunya, Bandoro Raden Ayu Lastri Suyati, keturunan keluarga besar Kesultanan Yogjakarta.

Ning, demikian ia biasa dipanggil oleh orang-orang dekatnya, lahir 1 Juli 1959 di Solo (tetapi ada juga yang menulis Yogjakarta). Kisah hidupnya bak sebuah roman yang layak difilmkan. Kisah yang sarat penderitaan, perjuangan, ironi dan tragedi, keberhasilan, juga kontroversi.

Sebelum Peristiwa G 30 S/Gestok, 1965, meletus, ayahnya dihormati umumnya warga Solo. Seorang pengusaha sukses, usahanya pabrik paku dengan lima pabrik dan produksi pakunya laku di berbagai kota dan desa sekitar Jawa Tengah.

Peristiwa terkelam dalam sejarah Indonesia modern itu, sekejap saja memporakporandakan kehidupan RM Soeripto Tjondro Saputro dan istri anaknya. Tak lama kemudian, ia diciduk tentara dan dibawa ke Jakarta. Ia anggota Biro Khusus Partai Komunis Indonesia (PKI) yang masa itu termasuk partai politik besar beranggotakan 30 jutaan orang.

Ibunya Ribka (atau Ning) yang juga ningrat itu pun kemudian ditangkap militer, diinterogasi beberapa hari, sebelum dilepas. Saat itu ia tengah hamil anak kelima, Ning anak ketiga dari lima bersaudara, saat itu masih anak TK. (Usia enam tahun).

Ibunya kemudian membawa anak-anaknya ke Jakarta. (Dalam wawancara dengan satu media besar, dikatakan Ning, koper mereka dicuri di stasiun Gambir sesaat setelah turun dari keretaapi yang membawa mereka dari Solo).
Mereka menumpang tinggal sementara di rumah seorang kerabat yang sudi menolong, berumah di wilayah Pondok Gede, Jakarta Timur. Tetapi, ibunya kemudian dijemput tentara. Ning dan satu adiknya tinggal di rumah paman itu, tak ikut ibunya. Kedua bocah cilik itu sering menangis karena kangen ibu dan ayah mereka.

Suatu hari, karena kangen ibunya, Ning dan adiknya nekat berjalan kaki dari wilayah Pondok Gede yang saat itu masih sepi ke terminal bus Cililitan; perjalanan yang cukup jauh dengan jalan kaki, apalagi bagi anak kecil, menelusuri Jalan Raya Bogor-Kramatjati-Cililitan. Modal mereka lima buah salak yang dimakan saat lapar. Syukurlah, ada seseorang yang mengenali mereka, lalu dibawa ke rumahnya.

Ning akhirnya bisa bertemu ibunya. Mereka kemudian tinggal di satu bedeng dekat kandang sapi di wilayah Cawang, Jakarta Timur. Mereka diberi tumpangan oleh seorang kenalan ayahnya yang kasihan melihat mereka. Dalam kondisi yang sangat sulit dan tetap diawasi tentara, ibu dan keempat saudaranya menjalani hari demi hari penuh derita. Uang tak ada, makanan tak bisa dibeli. Mereka sering kelaparan.

Suatu hari, Ning dan adiknya dibawa paksa tentara ke wilayah Kebayoran Lama untuk melihat ayah mereka. Ternyata, di sebuah rumah di Gang Buntu, ayahnya tengah disiksa. Tubuh ayahnya berlumur darah, digantung dengan kaki ke atas, kepala ke bawah. Ning dan adiknya sontak menangis.

Peristiwa tersebut sungguh tak mudah mereka lupakan, dan barangkali hanya bisa dihapuskan bila masa mereka di dunia ini telah selesai. Belasan tahun ditindih penderitaan, sungguh tak mudah. Kesulitan hidup seakan tak ada kata usai mendera mereka. Demi makanan dan supaya bisa bersekolah, apa saja dilakukan ibunya. Hidup mereka amat susah, tetapi Ning dan kakak adiknya tetap ingin sekolah. Pekerjaan apa saja dilakukan Ning, termasuk jadi kondektur bus jurusan Blok M-Cililitan. Suatu pekerjaan yang tak lazim bagi gadis remaja.
Ning dan saudara-saudara kandungnya tumbuh berkembang dengan tindihan derita. Rezim Orde Baru tiada ampun menghukum orang-orang PKI dan keturunan mereka.

Tentu saja bagi anak seperti Ning yang saat peristiwa berawal masih anak TK, sangat sulit memahami mengapa mereka harus mengalami semua itu. Ia tak paham kenapa ayahnya yang berstatus ningrat dan pengusaha sukses harus disiksa dan dipisahkan dari istri dan anak-anak yang amat membutuhkan.
Bisa dibayangkan betapa berat bagi ibunya menyediakan nafkah sekaligus melindungi anak-anaknya. Ia berdagang kue-kue dan kemudian bergiat di satu gereja.

Ning tumbuh di tengah situasi dan lingkungan yang amat keras, tak boleh lembek apalagi bermanja-manja. Hidup harus dilanjutkan kendati dihimpit segala jenis kesulitan.

Tamat SMP, 1974, ia masuk SMA 14, Cawang, Jakarta Timur, lulus 1977 (saya lulus dari SMA yang termasuk favorit ini, 1979). Kemudian dia “nekat” kuliah di FK UKI (Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia) yang juga berlokasi di Cawang. Biaya kuliahnya yang tak murah itu dia upayakan sendiri.

Ning termasuk lama menamatkan sekolah dokternya, 1992, sangat mungkin terhambat biaya kuliah. Setelah dapat izin praktik dokter, ia buka klinik sederhana di daerah Cileduk. Ning kemudian berteman dengan kalangan aktivis yang menentang Rezim Orde Baru.

Ia mulai tertarik politik meski pemerintah membatasi ruang gerak orang seperti dirinya: keturunan PKI, tidak bersih lingkungan. Walau tidak menonjol sebagai kader, dia pilih PDI (Partai Demokrasi Indonesia, cikal bakal PDIP). Dia tahu diri, posisinya yang tidak bersih lingkungan, tak memungkinnya aktif berpolitik.
Perjalanan waktu kemudian membuatnya kenal dan dekat ke Puan Maharani dan juga Taufik Kiemas-Megawati Soekarnoputri.

Meski dianggap “orang terlarang”, Mega dan Taufik tentu tahu latar belakang Ning, keturunan bangsawan Keraton Solo dan Yogja, ayahnya seorang terhormat pula, ningrat pengusaha yang dalam hitungan hari dihancurkan sebuah peristiwa yang disebut pemerintahan Soeharto, “Pemberontakan 30 September PKI.”

Peristiwa Reformasi 1998, menjadi momen yang amat penting bagi Ning, apalagi sejak Gus Dur terpilih sebagai Presiden RI. Ia dekati tokoh NU yang moderat dan pembela HAM itu. Gus Dur pula yang mendukungnya menulis buku: Aku Bangga Jadi Anaknya PKI. Buku yang dianggap berani dan kontroversial–meski Rezim Soeharto telah redup.

Ning tak salah membanggakan ayahnya, tentu. Baginya, lelaki ningrat yang dahulu amat dihormati orang Solo itu sosok yang tak tergantikan baginya; meski akhir hidupnya amat tragis dan Ning serta adiknya pernah dipaksa militer menyaksikan lelaki yang mereka rindukan itu digantung dan disiksa; dan dari hidung, kuping, mata, mengucur darah.

Pastilah ia menyimpan amarah, apalagi belasan tahun hidup sengsara, berpindah-pindah rumah dan sejak kecil melakukan apa pun yang bisa menghasilkan sedikit uang.

Ning yang kemudian jadi politisi PDIP dan (bisa) terpilih dua kali jadi anggota DPR, sering mengaku seorang Soekarnois. Tetapi statusnya sebagai keturunan anggota biro khusus PKI, kerap dijadikan lawan politik untuk mendiskreditken parpol berlambang moncong (banteng) putih itu.

(Dalam hal ini saya salut ke Taufik Kiemas dan Megawati, tak ragu memajukan Ning sebagai kader PDIP, meski berisiko dinilai negatif oleh yang antipati atau yang tak cukup paham histori politik pra dan pasca Orde Baru).

Karir Ning melejit di PDIP, pernah dipilih jadi Ketua Komisi IX di DPR, 2009-2014, membidangi tenaga kerja, transmigrasi dan kesehatan. Tetapi, di masanya ketua komisilah pernah terjadi kegemparan karena kasus hilangnya Ayat (2) Pasal 113 Rancangan Undang-Undang Kesehatan yang disetujui Rapat Paripurna DPR, 14 September 2009. Ning dituduh aktor yang menghilangkan pasal mengenai tembakau dan zat adiktif. Meski namanya sempat tercoreng, ternyata dalam Pileg 2014, kembali ia berhasil mengumpulkan suara dari Dapil Jabar IV. Hasil itulah yang membuatnya kembali menduduki kursi DPR.

Sempat diisukan, dia akan menjabat Menteri Kesehatan saat Jokowi memenangkan Pilpres 2014. Konon, ketakjadiannya diangkat Menkes karena IDI (Ikatan Dokter Indonesia) menolak dan juga dari petisi online. Ia termasuk anggota DPR yang vokal, pernah menyuarakan ketidaksetujuan kenaikkan iuran peserta BPJS Kesehatan yang diputuskan pemerintah. Dia minta kenaikkan iuran tersebut dibatalkan karena membebani rakyat, apalagi saat pandemi Covid-19.

Saya tak kenal Ribka Tjiptaning atau Ning. Kebetulan saja saya juniornya di SMA 14 Jakarta dan kemudian sama kampus walau berbeda fakultas. Saya mulai tertarik mengikuti sepak-terjangnya sejak dia luncurkan buku yang kontroversial: Aku Bangga Jadi Anaknya PKI. Gila juga ini orang, pikir saya saat itu. Buku keduanya saya baca pula (lupa judul dan masih saya cari di perpustakaan pribadi).

Pemikirannya, menurut saya biasa saja. Tak distingtif dari rata-rata politisi dan anggota DPR di negara ini. Hanya kuat menguasai isu-isu permukaan, walau itu sudah cukup jadi modal beretorika bagi politisi seperti dirinya. Personalitasnya pun–yang hanya melihatnya dari jauh– kurang menarik (Ini pandangan agak subjektif).

Yang saya kagumi dari dia, ketabahan dan kepercayaan dirinya. Gila, menurut bahasa anakmuda. Penderitaan, tekanan, rintangan, yang dia hadapi sejak usia enam tahun sebagai orang yang distigma menakutkan (yakni anaknya PKI) sungguh tak mudah saya bayangkan. Perjuangannya agar survive dan kemudian jadi dokter cum politisi, terus terang, suatu keajaiban bagi saya.

Ia sangat tangguh dan kukuh bak batu karang.

Memang ia pernah bermasalah dalam kasus hilangnya pasal tembakau di RUU Kesehatan, dan teranyar kontroversi penolakannya divaksinasi untuk menghadang Covid-19 dalam rapat DPR dengan Menkes Budi Gunadi Sadikin. Ia berani menolak kebijakan presiden yang didukung partainya, membuat dirinya dikecam habis-habisan oleh warganet hingga kemudian ditegor Sekjen PDIP–walau akhirnya minta maaf.

Statusnya sebagai anaknya eks anggota biro khusus PKI pun kembali marak dihujamkan oleh para pengecam ke dirinya. (Alangkah tak adil sebenarnya, para orangtua yang terlibat di suatu parpol yang kemudian dilarang rezim yang berkuasa, keturunan mereka jadi kena stigma dan cibir, perlakuan diskriminatif dari negara).

Saya tak berniat membela Ribka Tjiptaning atau Ning melalui tulisan ini, pun tak bermaksud mendiskreditkannya, yang sama sekali tak saya kenal. Ia bukan pula figur atau seseorang yang karena pemikiran dan perbuatannya membuat saya jadi kagum, misalnya.

Tetapi, dari pikiran jujur, saya mengakui ketangguhannya. Ia bahkan sangat tangguh dan amat percaya diri. Suatu hal yang pasti sangat sulit saya lakukan atau miliki andai berposisi seperti dirinya.

Kisah hidupnya, seperti roman berisi tragedi manusia akibat pertarungan kuasa dan politik yang bukan fiksi. Itu sungguh seksi difilmkan oleh sineas, menurut saya.

IDE UNIK MEMBERANTAS KEMISKINAN

Orang Miskin yang Suka Mengeluh

Kamu baru lulus kuliah, lalu mulai mencari-cari kerja. Ternyata susah. Apalagi sekarang, imbas pandemi COVID-19 membuat perusahaan memperketat anggaran untuk menggaji karyawan baru. Lalu kamu mulai menimang-nimang apa sebenarnya yang terjadi. Selain karena jurusan yang kamu ambil diambil banyak orang juga, artinya kamu punya kompetitor yang banyak. Padahal lowongan yang tersedia jauh lebih sedikit untuk menampung kalian semua. Atau, jurusanmu kurang diminati, kamu berfikir “enak nih, pesaing sedikit”, tapi ternyata tidak diterima juga, karena kamu tidak benar-benar ahli di bidang yang kamu pelajari itu.

Sesekali kamu tergoda untuk menyalahkan kampus atau sistem pendidikan yang kamu kritik “seperti memaksa ikan memanjat pohon”. Tidak apa-apa. Tapi jangan lupa, salahkan dirimu juga. Sebab kampus manapun tidak melarangmu mempelajari materi dan skill selain kurikulum yang mereka sediakan di ruangan kelas.

Atau kamu sudah bekerja. Cukup lama, tapi tidak mendapat promosi juga. Tentu tidak ada kenaikan gaji pula. Sebab keduanya berjalan seiring. Mengapa susah sekali ya? Padahal kamu merasa sudah sangat loyal kepada perusahaan. Bahkan tak pernah menulis status di medsos perihal overtime yang tak pernah dibayar. Karena kamu memang tidak menuntutnya. Kamu maklum. Apalagi sekarang, imbas pandemi COVID-19 membuat perusahaan memperketat anggaran untuk menambah gaji karyawan dan mempromosikan orang baru. Masih ada kerja saja, sebetulnya pantas disyukuri.

Tapi dalam hati sebenarnya kamu menggerutu. Selain itu, kamu juga memiliki pesaing di kantormu yang sama pekerja kerasnya denganmu, atau bahkan lebih. Kamu kan tidak melihat pengorbanan mereka setiap waktu untuk perusahaan dan bos. Sesekali kamu tergoda untuk menyalahkan atmosfer kantor atau iklim perusahaan yang kamu kritik “di kantor ini sepertinya harus jadi penjilat dulu baru diangkat”. Tidak apa-apa. Tapi jangan lupa, salahkan dirimu juga. Sebab kantor dan perusahaan manapun tidak melarangmu mengembangkan skill kepemimpinan, kemauan bekerja dalam tim serta kemampuan menulis. Ketiga skill ini yang paling disukai oleh perusahaan menurut survei-survei mutakhir.

Lalu, kamu pun mulai iri dengan orang-orang kaya yang seolah tak empati denganmu, memajang potret mereka dengan seabrek kemewahan. Di pandanganmu, merekalah yang mendapat kebahagiaan yang kamu idam-idamkan. Bro, mereka tidak punya kewajiban untuk perduli dengan apa yang kau rasakan. Jadi, jangan menyiksa diri sendiri dengan menciptakan kesedihan dan iri yang tak perlu.

Mereka yang Memikirkan Cara

Tidak hanya kamu, sebenarnya banyak juga yang memikirkan bagaimana caranya memberantas kemiskinan. Bedanya, kamu memikirkan itu karena kamu alami sendiri. Kamu masih miskin hingga sekarang, saat kamu membaca artikel ini (yang ditulis oleh orang miskin juga).

Sementara mereka, sudah kaya dan mau ikut sepertimu: memikirkan bagaimana caranya memberantas kemiskinan. Mulai dari Epicurus, Stoa, hingga Mahatma Gandhi, mereka sudah memikirkan itu.

Sejak ribuan tahun yang lalu. Ternyata: kemiskinan masih ada hingga sekerang. Buktinya: kamu.

Ide Unik Mengatasi Kemiskinan

Oh iya. Ini ada berita tahun lalu. Menko PMK Muhadjir Effendy mengajurkan supaya orang kaya menikahi orang miskin sebagai solusi untuk mengatasi kemiskinan. Ide ‘unik’ ini lahir seiring upaya pemerintah yang konon serius untuk menurunkan jumlah keluarga miskin.

Jumlah keluarga miskin di Indonesia mencapai 9,4 persen dari total 57 juta rumah tangga pada akhir tahun 2019. Muhadjir menejelaskan bahwa ini terjadi antara lain karena perilaku masyarakat yang selalu mencari kesetaraan. Orang kaya akan memilih menikah dengan yang kaya, dan orang yang miskin akan memilih menikah dengan yang miskin. Masalahnya, jika pemuda miskin menikah dengan wanita miskin, maka lahirlah keluarga baru yang miskin.

Muhadjir berharap, ada gerakan moral yang bisa menghilangkan cara-cara pandang tersebut. Dengan cara orang kaya bersedia menikah dengan orang yang miskin. “Inilah yang kita harapkan ada gerakan moral untuk menghilangkan cara-cara pandang yang menurut saya tidak terlalu baik untuk upaya kita memotong mata rantai kemiskinan,” ungkapnya dalam video ini.

Tampaknya Muhadjir serius dengan usulannya itu. Ia sampai mengusulkan kepada kepada Menteri Agama supaya mengeluarkan fakta yang berisi “Orang kaya wajib menikahi orang miskin”. Publik menanggapi berita ini heboh. Banyak juga yang menertawakannya. Aku sendiri geli mendengar usulan seperti ini terucap dari seorang menteri. Tapi sebenarnya, aku pun tak tahu mengapa aku ikut tertawa. Bukan apa, aku, sama seperti kamu, memang serius memikirkan caranya untuk memberantas atau mengatasi kemiskinan ini. Tapi belum pernah berani mengeluarkan usulan seperti ini. Muhadjir jauh lebih hebat. Ia berani. Tentu saja, saat itu, ia seorang menteri. Entah karena ini ia kemudian diganti Jokowi dengan Nadiem sebagai Menteri Pendidikan, tidak tahu juga.

Ide Unik Menuntut Eksekusi Unik

Kemiskinan dianggap sebagai akar dari kerusakan dunia. Mereka yang benar-benar miskin secara materi, tidak jarang sampai menempuh jalur kekerasan untuk sekedar menafkahi anak isteri di rumah. Menjadi kriminal. Pengangguran dan kaum miskin selalu dicurigai sebagai calon kriminal.

Ada lagi orang-orang yang miskin secara etika dan moral. Dipanas-panasin dengan ideologi agama yang jahat, mereka juga sering menempuh jalur kekerasan untuk mewujudkan utopi dan hegemoni agama mereka. Mereka yakin bahwa jika semua orang menyembah tuhan yang mereka sembah, dunia akan lebih baik. Mereka yakin bahwa jika seluruh pemeluk agama yang lain meninggalkan kepercayaannya dan “bertobat” seperti mereka, maka dunia akan lebih indah. Orang-orang ini akhirnya menjadi kriminal yang sebenarnya. Kelompok ini, tidak hanya dicurigai, tetapi memang kerap terbukti adalah kriminal.

Kemudian ada juga orang-orang yang kaya secara materi, tetapi miskin jiwanya. Mereka ini pun tidak menjadikan dunia lebih baik. Tak sedikit pula, dari orang-orang kaya inilah para kriminal tadi memperoleh senjata untuk melancarkan aksi mereka. Dari kelompok ini juga lahir penjual kata-kata, motivasi dan trik sulap yang anehnya masih dipercaya banyak orang miskin di atas. Mereka hanya duduk di mimbar rumah ibadah atau di podium seminar,  lalu para pendengarnya begitu saja mau melaksanakan apa yang mereka perintahkan. Entah menjarah alam, atau menjarah rumah dan toko orang lain. Tentu saja, lebih sering terjadi, pencurian hanya berhasil kalau si tuan rumah dibunuh terlebih dahulu.

Singkatnya, kemiskinan materi dan varian kemiskinan lainnya adalah penyumbang terbesar untuk ketidakadilan di dunia ini.

Tak kurang dari seorang Thanos, ternyata ikut pula memikirkan bagaimana caranya menciptakan dunia yang lebih baik. Bagi sebagian orang, Thanos adalah pahlawan yang sebenarnya. Ia muak dengan segala macam manusia yang jahat dan struktur sosial yang melegitimasi mereka. Ia ingin menghancurkan mereka semua. Sialnya, Thanos melihat bahwa jumlah manusia yang jahat itu sudah sangat banyak. Struktur sosial yang tidak manusiawi itu pun sudah sangat mengakar, tak bisa dicabut. Maka, ia mengambil keputusan: Ia akan menghapus setengah peradaban manusia, supaya tinggal orang-orang yang baik dan benar-benar kaya saja tinggal di bumi ini.

Ide Muhadjir memang tidak segila Thanos. Lagi pula, tidak pas memparalelkan keduanya. Satu manusia dan pejabat negara, satunya lagi tokoh fiktif rekaan Marvel saja. Tapi, ada benang merah yang membuat keduanya sama: yakni kegelisahan akan kemiskinan, dan ide untuk memberantasnya.

Kembali ke gagasan Muhadjir. Sangat masuk akal sebenarnya kalau hitungan di atas kertas. Kaum kaya, menengah dan sederhana disebut sudah mayoritas (untuk nomenklatur Indonesia saat ini ya). Tinggal anak-anak mereka menikahi 9,7 persen yang benar-benar miskin tadi, mestinya berhasil. Persebaran kemakmuran dan kue ekonomi akan terealisasi.

Pertanyaannya: bagaimana kita menyuruh anak orang kaya dan menengah mau menikah dengan anak orang yang benar-benar miskin itu, atau sebaliknya?

Dijodohkan?

Aku tak yakin berhasil. Anak-anak yang benar-benar miskin saja sudah tahu membaca, atau jangan-jangan ada juga yang sesekali berkesempatan mengakses dunia lewat internet. Mereka juga tak sudi dijodohkan. Remaja putri sudah tidak lagi mau mengikuti jejak Siti Nurbaya atau Boru Nangniaga.

Dikondisikan untuk berjodoh?

Artinya, pemerintah menciptakan ekosistem pergaulan yang membuat orang miskin bisa bertemu dengan orang kaya. Mulai dari remaja, dewasa hingga di dunia kerja. Mungkin terinspirasi dengan aplikasi semacam Tinder dan aplikasi cari jodoh lainnya. Tapi pasti rumit. Sebab sehebat apapun algoritma yang dibuat, tetap saja keputusan untuk swipe kiri dan swipe kanan adalah putusan bebas penggunanya. Keputusan untuk kawin dan tidur dengan siapa adalah hak asasi manusia.

Tidak bisa.

Ide unik seperti ini Muhadjir dan Thanos butuh eksekusi yang lebih unik. Lebih gila. Lebih total lagi. Tak akan bisa berhasil kalau hanya begini.

Kamu, punya ide nggak?

Cara Menilai Karya Seni Rupa

Kompilasi Pertanyaan – Imajinasi pada Seni Rupa 2D

Di tulisan sebelumnya yakni Kompilasi Pertanyaan – Imajinasi pada Seni Rupa Dua Dimensi, muncul pertanyaan berikut:

Bagaimana cara kita menentukan atau menilai bahwa karya seni rupa dua dimensi tersebut merupakan sebuah karya yang baik/bagus. Apa hal yang mendasar yang perlu kita ketahui untuk menilai karya tersebut?

Kita ambil contoh karya seni rupa dua dimensinya adalah lukisan. Terhadap lukisan, ada dua pengalaman manusia sebagai subyek yang mengamati, yakni pengalaman menikmati dan pengalaman memahami.

Menikmati lukisan tidak sama dengan memahami lukisan. Sebagian orang, bisa begitu terpesona saat melihat sebuah lukisan lalu kemudian spontan juga ingin memilikinya. Namun ketika ditanya kenapa ia tertarik, ia tidak bisa menjelaskannya. Bila dipaksa untuk menjawab, jawabannya bisa berkisar antara suka dan tidak suka, senang dan tidak senang. Pada level ini, seseorang belum bisa mengatakan apakah sebuah lukisan bagus atau tidak.

Tetapi pada sebagian orang, justru ia bisa menjelaskan secara rinci dan logis kenapa ia tertarik pada sebuah lukisan, terlepas apakah ia ingin memilikinya atau tidak. Pada level inilah, seseorang baru bisa mengatakan apakah sebuah lukisan bagus atau tidak.

Berbeda dengan menikmati, memahami lukisan justru bukan dengan melibatkan unsur psikologis (emosional). Jika pada menikmati seseorang bisa saja merasa lebur, terserap bahkan hanyut secara kejiwaan saat melihat sebuah lukisan, maka pada memahami, seseorang harus dalam keadaan sadar (diri).

Harus ada jarak antara dirinya sebagai pengamat dengan lukisan sebagai objek yang diamati. Seperti dikatakan Edward Bullough (1800-1934), seseorang harus membebaskan diri dari segala pengaruh ketika akan memahami sebuah karya seni, karena keterlibatan emosional akan menyebabkan penilaiannya menjadi sekedar pembenaran dari kecendrungan pribadi.

Karena itu penjelasan menyukai sebuah lukisan karena tertarik dengan pilihan objeknya, atau karena merasa terharu saat melihatnya, misalnya, bukan merupakan ungkapan dari sebuah pemahaman.

Memahami, lebih melibatkan sisi intelektual ketimbang emosional. Karena dalam prakteknya, memahami juga berarti memberikan apresiasi, dimana seseorang akan menafsirkan dan memberikan penilaian terhadap lukisan, hal ini juga berarti seseorang akan melakukan penalaran, dan ini tidak mungkin dilakukan dengan melibatkan emosi, melainkan harus dengan menggunkan logika dan argumentasi, sehingga sebuah pemahaman bisa dijabarkan secara meyakinkan dan bisa dipertanggung-jawabkan.

Seseorang yang menyatakan bahwa sebuah lukisan sangat menarik karena objek dan warna yang digambarkan mengingatkannya pada suatu pengalaman tertentu, misalnya, bukanlah suatu penjelasan yang logis dan meyakinkan, tetapi merupakan penjelasan emosional, karena dasar penjelasannya masih hubungan antara pengalaman pribadi dengan unsur yang ada pada lukisan.

Karena yang dijelaskan bukanlah tentang respon psikis dari yang mengamati, melainkan adalah tentang karya itu sendiri, maka dalam memahami akan membutuhkan wawasan seni sebagai dasar untuk melakukan pemahaman. Paling tidak, diperlukan empat pengetahuan dasar untuk memahami sebuah lukisan.

Pertama, pengetahuan akan unsur-unsur seni rupa, yaitu pengetahuan tentang garis, bidang, bentuk, tekstur, gelap terang dan warna. Semua unsur inilah yang membentuk sebuah lukisan. Sebuah lukisan akan bisa dinilai berdasarkan hal ini, yaitu bagaimana kesan, efek dan kualitas dari setiap unsur yang digambarkan.

Kedua, penataan unsur-unsur seni rupa. Ini juga disebut dengan istilah komposisi, yaitu bagaimana pengaturan dan pengkombinasian semua unsur seni rupa. Dengan mengetahui hal ini, misalnya, akan bisa dinilai bagaimana komposisi bidang, warna dan apa yang menjadi pusat perhatian pada sebuah lukisan.

Ketiga, aspek teknis dalam melukis, yaitu pengetahuan tentang alat, bahan dan teknik-teknik dalam melukis, sehingga sebuah lukisan bisa dinilai kualitasnya dari segi material sekaligus ketahanannya.

Keempat, semiotika, yaitu pengetahuan tentang tanda dan simbol. Prinsip dasar dari kajian ini adalah bahwa setiap unsur seni rupa pada sebuah lukisan merupakan simbol dari makna tertentu, sehingga dengan menggunakan pengetahuan ini, akan bisa ditafsirkan apa kemungkinan makna yang tersirat dibalik sebuah lukisan.

Demikianlah antara menikmati dan memahami lukisan. Dalam prakteknya, tidak jarang kedua hal ini bercampur baur, tidak mudah memisahkannya secara tegas. Seseorang bisa mengaku, bahkan bersikeras mengatakan sangat mengerti terhadap lukisan. Namun bila dicermati, apa yang ia jelaskan sebagai mengerti (memahami), pada intinya tidak lebih dari tindakan menikmati, dan begitu juga sebaliknya.

Kepekaan seseorang dalam menikmati lukisan, misalnya, pada akhirnya bisa dijadikan faktor pendukung dalam meningkatkan pemahaman agar lebih utuh dan mendalam. Begitu juga sebalikanya, pemahaman seseorang akan lukisan akan bisa memicu dan menambah kepekaannya dalam menikmati lukisan. Dengan catatan, yang bersangkutan bisa menjaga dan menukar keterlibataannya secara sadar di wilayah mana ia akan berada.

Karena meskipun bisa saling mempengaruhi, keduanya tetap memiliki sifat, cara kerja dan manfaat yang berbeda: menikmati adalah untuk merasakan lezatnya sebuah lukisan, sedangkan memahami untuk mengerti kenapa lukisan itu enak dilihat.


Bonus skesta hasil coretan my lil Bro, Jeswit Haromunthe. (Kalau penasaran silahkan cek langsung ke akun Instagramnya)

 

Oke. Ini cara untuk menilai karya seni rupa. Untuk menilai seni musik bagaimana? Baca disini.

Hutongos Do Surathu Tu Ho sian Kode Tuak

Surat tu Inang ni si Ucok

Inang ni Ucok, palambas rohami,
Anju ma au baoadi simagoon naung bagianmi.
Inang ni Ucok, nang pe masuk tuahon, bukka pittu i.
dang lupa au di rupami.

Inang ni Ucok, jaha jo surathon.
Di harotas hugurathon na di roha on.

Molo borngin pe au sahat dijabu.
Ala nahuingot dope pardijabu.

Dang tenggen do pe au inang.
Dang mabuk au hasian.
Dang mirdong dope au tondikku.
Nga sahit i di au anggi.

Songoni majo isi ni surathon hasian.
Dang boi godang husurat ai suhul do dison.
Tiang nijabu ni parlapoon pe dang tigor be.

Horas ma ahu naminum tuak.
Hipas maho na paimahon au.


(Disadur dari Pantun Hamonangan)

Pasangan Yang (Tak) Bisa Dipercaya

Dari protofonnya, polisi Ray Mandel (diperankan Thomas Jane) mendapat info dari markas polresnya bahwa dia mendapat tugas mendampingi anak baru untuk patroli di jalan raya. Nama anak baru itu Nick Halland (diperankan Luke Kleintank).

Itulah awal perkenalan kedua partner penegak hukum ini. Adegan berikutnya dalam film Crown Vic (2019) ini berkisah tentang petualangan mereka berhadapan dengan penjahat, pengedar narkoba, preman dan orang-orang jahat lainnya.

Selain sinematika yang keren, dialog intens antara keduanya pun menarik.  Pantas saja, Director Screenwriternya adalah Joel Souza.

Hanya dalam satu sif jaga, dari petang hingga menjelang pagi, banyak pelajaran yang bisa diambil dari percakapan Ray dan Nick. Ray akhirnya memiliki anak baru untuk diajarinya berpatroli setelah 25 tahun. Bagi Nick, ini adalah hari pertamanya bertugas setamat dari akademi kepolisian.

Mereka pun terlibat pembicaraan menarik selama sif itu di sela-sela tugas yang mengharuskan mereka berlari mengejar penjahat atau bertemu dengan orang iseng yang melempari mobil mereka dengan batu bata. Atau pengemudi yang sengaja menerobos lampu merah di depan mereka.

Setidaknya ada dua tema menarik yang bisa kita ambil dari Crown Vic ini. Pertama, tentang filosofi kerja. Kedua, tentang filosofi sebuah relationship (entah dalam berpacaran maupun perkawinan)


Filosofi Bekerja.

Ray: Ada satu hal penting yang harus kau ingat selama patroli ini, Nick. Ada dunia kita di dalam mobil polisi ini. Lalu, ada dunia lain, yakni apapun di luarnya. Seperti yang kau lihat, mobil ini dilapisi logam dan kaca. Kau harus menghormati peralatan yang diberikan kepadamu. Ucapkan dengan lantang, “kau harus menghargai peralatan yang dipercayakan padamu”.

Nick: Serius, aku harus mengucapkannya dengan lantang?

Ray: Ucapkan dengan lantang. Aku serius. Cek rover-nya. Periksa baterinya. Lihat rompimu. Persnelling dan remnya. Sini coba, senjata macam apa yang mereka berikan padamu. Oh. Pistol 6262 dengan 16 peluru. Wow. Kuharap kau merawatnya. Jangan sampai lupa membersihkan residunya.  Jadi, ucapkan sekali lagi, aku harus menghargai alat yang diberikan kepadaku ini. Paham?

Nick: …

Ray: Di dalam mobil ini, kuhabiskan umurku 25 tahun. Kau pun, mulai dari hari pertamamu, akan begitu. Di luar mobil ini, semua orang bisa jadi adalah kriminal.  Orang yang hari ini kau selamatkan, bisa jadi besok dia yang akan membunuhmu. Banyak orang akan membencimu karena itu. Bahkan partnermu di lapangan, hari ini melindungimu tetapi kemudian menjebakmu. Kuharap kau sudah menyadarinya sejak hari pertama kau di akademi kepolisian. Orang-orang bisa beristirahat dengan nyenyak di tempat tidur mereka pada malam hari karena ada orang-orang yang bersedia melakukan kekerasan untuk melindungi mereka.

Nick: …

Ray: Dengar. Camkan baik-baik apa yang akan aku katakan ini. Karena setelah malam ini hanya akan ada dua pilihan. Entah kau akhirnya memahami bagaimana melakukan pekerjaan itu atau pekerjaan ini yang akan memakanmu hidup-hidup. Ingat, ada dunia sendiri di dalam mobil ini, dan dunia lain di luarnya. Ketika kau patroli, setiap orang yang kau lihat, yang tidak mengenakan seragam seperti yang kau kenakan, mereka adalah orang yang sudah pernah duduk di kursi tahanan ini atau yang akan duduk di sana. Semua orang. Pokoknya siapa saja yang bukan polisi, kau bukan bagian dari mereka lagi. Sekarang, yang ada adalah kita berhadapan dengan mereka. Paham? Kau adalah anjing penjaga, mereka dombanya. Saat ini kau selamatkan satu orang, besok bisa jadi orang itu yang akan berbalik menyerangmu.


Filosofi Perkawinan

Ray: Nick, apakah kau percaya dengan pasanganmu?

Nick: Ya. Tentu saja. Aku percaya padanya.

Ray: Terus, mengapa dia terus mengirim SMS dari tadi sejak kita mulai patroli? Darimana kau tahu bahwa dia tidak sedang pria lain, lalu sekedar ingin memastikan posisimu tidak sedang berada dekatnya dan memergokinya secara tiba-tiba?

Nick: Bro … Kau sedang membacarakan istriku loh.

Ray: Mengapa kau berfikir bahwa karena dia isterimu, kau lantas melepas penjagaanmu? Apa kau pikir karena cincin yang kau kenakan melingkar di jarinya tiba-tiba dia tidak berani keluar dan bertemu orang lain?

Nick: Tolong, berhentilah membahas isteriku. Kami sudah lama pacaran sebelum menikah. Sejak SMA sudah saling mengenal.

Ray: Justru itu. Apakah menurutmu, karena sudah lama denganmu, ia tidak penasaran bagaimana rasanya dengan pria lain. Tak ada satu orangpun yang benar-benar mengenal orang lain.

Nick: Caramu memandang orang aneh sekali.

Ray: Bro, satu-satunya orang yang persis kau kenal adalah dirimu sendiri.

Nick: Maaf, tapi kau sudah dua kali menikah. Kau sudah mengalami banyak hal. Apakah kau tidak rindu ketika kau pulang ke rumah sehabis jam kerja yang melelahkan, ada yang menyambutmu di rumah?

Ray: Kalau itu, pelihara anjing saja.

Nick: Hmmm … Setidaknya, ketika kita meninggal, kita tidak sendirian. Ada orang di samping kita.

Ray: Bro, orang mati itu sendiri. Setiap orang mati sendirian.