DONALD HAROMUNTHE

For Those Whom I Can't Talk With

Category: Teman (Page 1 of 5)

Politisasi Agama dan Identitas: Sudah sampai dimana Indonesia?

Prolog

Kurang lebih dekade terakhir ini, kita melihat fenomen yang telanjang di hadapan kita masyarakat Indonesia (kendati kita sedikit malu mengakuinya): politisasi agama.

Term ini menyinggung tiga tema besar: Tuhan, Agama dan Politik.

Sekedar mengingatkan, jika Anda mengaku bertuhan, bukalah mata Anda pada kenyataan bahwa sama seperti Anda mengaku memiliki Tuhan dan agama atau kepercayaan (yang menurut Anda paling tepat mewadahi sikap iman Anda dan membantu Anda menjadi semakin manusiawi sekaligus baik secara moral), setiap orang bertuhan lainnya di Indonesia ini juga mengaku memiliki Tuhan dan agama atau kepercayaannya sendiri-sendiri, yang menurut mereka paling tepat mewadahi sikap iman mereka, membantu mereka menjadi semakin manusiawi sekaligus baik secara moral.

Jika Anda memiliki pandangan politik yang menurut Anda paling tepat diterapkan di Indonesia untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh bangsa Indonesia, ingatlah juga bahwa orang lain juga memiliki pandangan politik yang menurut mereka paling tepat diterapkan di Indonesia guna mewujudkan keadilan sosial yang sama.

Realitas keberagaman ini, bisa saja terbaca sebagai sikap relativisme ekstrem – jika Anda menggiringnya ke arah itu – adalah realitas yang sama-sama kita alami dan hidupi dan bisa kita cerap secara sama, tentu dengan mengandaikan bahwa kita memiliki pola logika yang sama.

Bahasa politik, filsafat dan iman kita mungkin berbeda sehingga tidak optimal menjadi sarana untuk membangun dialog di antara kita. Semoga kita pun sepakat bahwa dialog apapun yang ingin kita bangun, sebagai manusia Indonesia yang Pancasilais dan masih menginginkan Indonesia ini tetap utuh dan – jika bisa – semakin berkemajuan, kita memiliki tujuan besar (projecta remota) yang sama-sama ingin kita capai: keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Tanah air Indonesia artinya tanah dan air (sumber daya alam) Indonesia yang sejak awal adalah hak bangsa Indonesia, kini pun harus diberikan kepada bangsa Indonesia.

Di luar kerangka itu, tak perlu lagi kita merasa harus menjadi warga dari bangsa yang sama. Mainkan mainmu, kumainkan mainku.


Secara kebetulan, ada tiga masalah besar yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini, yakni radikalisme, kesenjangan sosial-ekonomi dan kasus korupsi.

Straight at the bullet, dari segi mana politisasi agama turut berkontribusi pada radikalisme, kesenjangan sosial-ekonomi dan kasus korupsi?

Sebelum beranjak lebih jauh, mari kita sejenak melakukan Consideratio Status (Penyadaran Status) a la Ignasian yang terkenal itu. Jika cermat, dengan Discernment (diskresi) yang tekun, syukur-syukur kita bisa memahami realitas yang terjadi saat ini dengan kacamata yang lebih jernah. Lebih bersyukur lagi, setelah memiliki pemahaman yang lebih baik, kita tidak akan ragu memberikan kontribusi yang tepat sesuai porsi yang bisa kita lakukan.

Pertama, Anda – sama seperti Saya – hanya a speck in the universe (sebutir debu di jagat raya ini). Dalam konteks bernegara pun, Anda – sama seperti Saya – hanya salah seorang dari 267 juta (1 dari 267.000.000) penduduk Indonesia saat ini (menurut Katadata). Jadi, kita masih akan bangun kembali besok hari, melakukan pekerjaan kita seperti biasa, dan – jika sempat dan ingat – mencoba mengingat kembali, hari ini sumbangsih apa yang bisa aku berikan untuk turut serta mengatasi radikalisme, kesenjangan sosial-ekonomi dan kasus korupsi.

Maka, tenang saja, Anda tidak harus meninggalkan semua itu, pergi ke hutan belantara, menjadi bagian dari laskar gerakan revolusioner, bertahun-tahun menghimpun amunisi dan menyusun strategi lalu pada saatnya akan keluar dan memperbaiki tatanan bernegara dan berbangsa Indonesia ini seperti Thanos yang hendak meluluh-lantakkan dunia ini dengan tujuan membangun tatanan dunia baru (atau dalam konteks Anda, hendak membangun tatanan Indonesia yang baru).

Tidak, Ferguso.

Hal seperti itu belum akan terjadi. Bukan begitu skenarionya.

Selagi Anda masih bisa menyaksikan setiap timeline media sosial Anda berisi bencana alam dan bencana akibat tangan manusia, tapi lalu santai melanjutkan kembali chatting dan pamer-pamer foto Anda hari ini sembari tidak lupa meminta like, follow, subscribe dan comment dari teman media sosial Anda seolah tidak terjadi apa-apa, percayalah: Anda tidak akan pernah menjadi pemimpin dari sebuah gerakan revolusi. Pun, revolusi paling berdarah adalah revolusi yang dimulai dari diri sendiri.

Kedua, oke, memangnya kenyataan apa yang perlu diubah? Ini yang terjadi. Ini yang perlu diubah.

Sebagian masyarakat masih bisa melaksanakan ibadat dengan tenteram tanpa gangguan signifikan dari pihak lain. Jika ini yang Anda alami, Anda patut bersyukur karena UUD 1945 Pasal 29 masih memberi manfaat untuk Anda. You do enjoy your life. Ya, memang , tetap saja ada banyak masalah (untuk urusan perut dan lain-lain, ya urus sendiri, kan sudah besar. :–)

Setidaknya, untuk kegiatan beribadah (berdoa, berkumpul, membaca, bernyanyi, bakti sosial)  Anda bisa dan boleh melaksanakan atau tidak melaksanakannya, tergantung pilihan Anda.

Sebagian lagi gelisah. Galau melihat semakin maraknya gangguan terhadap kegiatan beragama. Jika Anda adalah bagian dari kelompok ini, Anda mungkin bertanya-tanya:

“Sebenarnya, Saya ini termasuk warga negara Indonesia bukan sih? Kok rasanya Saya tak menikmati perlindungan dari negara sesuai pasal 29? Tidak mungkin kan semua guru PPKN Saya sewaktu di sekolah berbohong? Guru di sekolah dulu bilang bahwa UUD 1945 dan Pancasila itu melindungi seluruh bangsa Indonesia secara ideologis dan konstitusional. Eh, tapi kok? Berdoa, dinyinyirin. Berkumpul untuk melakukan ibadat bersama, tak boleh karena izin dari pemerintah setempat belum keluar. Bakti sosial dianggap pencitraan dan modus rebutan umat. Oalah. Ini gimana sih sebenarnya? Atau, lebih baik aku pura-pura tutup mata saja. Eh, tapi nggak bisa.”

Begitu seterusnya. Besok begitu, besoknya juga begitu. Situasi ini baru akan berakhir bagi Anda kalau:

1) Indonesia punya tatanan baru yang benar-benar mewujudkan keadilan sosial bagai seluruh bangsa, seperti Jin Aladin keluar dati tabungnya, yang Anda dan Saya tahu persis bahwa ini mustahil;

atau

2) Anda semakin muak, sampai pada tahap ekstrim, lalu Anda tidak tahan lagi, lalu Anda urus paspor untuk pindah kewarganegaraan. Syukur-syukur Anda memiliki apa yang perlu untuk mengeksekusi keputusan itu, atau Anda bisa meyakinkan negara tujuan Anda untuk menjadi asylum bahwa Anda sudah sebegitu menderita hidup sebagai warganegara Indonesia.

Indikasi yang dulunya samar, kini semakin jelas: “ini mesti ada urusan politik deh”. Benar nggak ya?

Anda berada pada posisi yang mana?

Kalau ini politik, menggunakan dikotomi sederhana, kita bisa melihat kaitannya dengan perseteruan antara mayoritas dan minoritas di Indonesia.

Secara kasat mata, umat Islam di Indonesia merupakan mayoritas. Sementara umat beragama lain dianggap minoritas. Dalam berbagai ranah, termasuk pada hukum misalnya, menjadi bagian mayoritas kerap dipandang dan dialami sebagai sebuah keistimewaan. Kecenderungan manusia mengikuti Hukum Inersia, tentu saja tidak ingin hak-hak istimewa semacam ini hilang. Maka, bersama dengan pemerintahan yang koruptif, dukungan dari mayoritas pun memungkinkan situasi yang sama tetap terjadi dari dekade ke dekade.

Sedangkan minoritas sering sekali dipandang diskriminatif. Untuk mencegah terjadinya diskriminasi tersebut, maka dimunculkanlah afirmasi bahwa kita semua NKRI, dan karenanya memiliki hak dan kewajiban yang sama sebagai warga negara. Secara teoretis hal ini pelan-pelan semakin tersosialisasi. Prakteknya? Cek sendiri lingkungan sekitarmu.

Dengan perbedaan disana-sini, bipolaritas ini juga hadir sebagai kaum kanan dan kiri (seperti di Amerika Serikat, kendati konteks Indonesia dan AS memiliki perbedaan).

Politik – yang secara kodrati sebenarnya bertujuan luhur untuk menata warga negara untuk memajukan peradabaannya sebagian dari masyarakat, dinodai oleh baik kaum mayoritas maupun kaum minoritas. Secara politis, apa kesalahan yang dilakukan keduanya?

Pelan-pelan kita dibawa pada sebuah realitas baru: Selain menikmati berbagai manfaat, menjadi bagian dari mayoritas ternyata ada pahitnya juga. Ini ada hubungan dengan deliberasi moral semenjak Nusantara berganti nama menjadi Indonesia dan diproklamirkan sebagai bangsa yang baru, negara yang mendapat pengakuan sebagai negara berdaulat (soveregin country) oleh dunia internasional.

Samar-samat kita mulai melihat bahwa saat ini ada konsensus bahwa klaim superioritas religius atau rasial ternyata menempatkan Anda berada persis di luar diskursus politis. Maksudnya apa?

Lihatlah yang terjadi. Dialog-dialog yang dilakukan akhirnya berujung pada konflik.

Dialog politis antar partai dan kelompok: ricuh di ILC.

Dialog sosial antarkomunitas: ricuh di media sosial (tak kurang dari lagu Sayur Kol yang viral menjadi bahan perdebatan antara komunitas pecinta anjing dan penyuka daging anjing sebagai makanan, belum lagi kaum agamawan masuk dan meributinya dengan fatwa haram dan halal).

Dialog antarumat beragama: apalagi. Lihatlah bagaimana forum-forum lintas agama, termasuk yang didirikan pemerintah seperti Forum Komunikasi Umat Beragama seolah tak berdaya memberikan solusi bagi emak-emak yang menangis menjerit-jerit karena tenda yang dia gunakan untuk beribadah dengan umat yang lain pun harus dirobohkan, pendetanya diinterogasi dan ibadahnya dihentikan oleh aparat keamanan setempat. Oh, jangan lupa, fenomen seperti ini saban hari terjadi di berbagai tempat di negeri yang dulu dikenal sebagai Nusantara ini. Belum lagi diskrimanasi soal administrasi kependudukan dan hak-hak politis bagi sekian juta umat penganut kepercayaan, yang entah dasar filosofi dan logika dari mana, sampai hari ini tetap dibedakan dengan umat beragama, seakan-akan ada hirarki organisasi yang menyebut bahwa aliran kepercayaan lebih rendah dibandingkan 6 (enam) saja agama resmi di Indonesia.

Kesalahan klasik kaum mayoritas yakni: gagal mengawasi kecenderungan koruptif para penguasa, entah karena kebutaan dan sifat cuek yang disengaja. Dengan beberapa eksepsi, literasi politik (terutama menjelang pemilihan calon legislatif,  eksekutif dan perwakilan daerah) terjadi dengan aroma politik identitas yang sama. Kebutaan dan sifat cuek ini yang diidap oleh Silent Majority inilah yang tiap hari dinyinyirin oleh kaum kiri. Tidak kurang dari Meme Sosialis Indonesia mempertunjukkannya dalam halaman Facebook, kerap secara dalam ironi, tak jarang dalam parodi.

Dalam satu atau dua kesempatan, seperti Saya, kemungkinan Anda juga merasa relate dengan keprihatinan terhadap diamnya silent majority ini. “Mereka kan yang paling banyak massa-nya, kalau mereka mau, mestinya mereka yang lebih efektif dan bisa memperbaiki tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara ini”, begitu alam bawah sadar kita menyuarakan keprihatinan politis yang menurut kita paling murni dan tulus.

Jadi, ada garis keras, dimana identitas religius sebagai penanda superioritas, lalu ada garis lemah, yang juga tak luput dari kesalahan. Singkatnya, ketika memainkan politik identitas, mayoritas kanan melakukan kesalahan yang sama dengan minoritas kiri, vice versa.

Secara umum, kita meletakkan lanskap politis antara kanan dan kiri. Tetapi jangan lupa, ada sumbu (axis) lain, yakni kaum kolektivis versus individualis. Menggunakan irisan yang sejajar pada bipolaritas bangsa Indonesia, maka lahirlah kaum kolektivis kanan dan kaum kolektivis kiri. Sejauh kaum kiri dan kaum kanan ini mengusung konsep kolektivis, maka mereka salah. Kesalahan mereka terlihat jelas pada klaim superioritas religius tetapi juga sekaligus nasionalis.

“Aku NKRI, NKRI harga mati, tapi hak-hak istimewa yang kuterima sekarang sebagai bagian dari mayoritas, aku tak perduli apakah juga diterima oleh saudara sebangsaku yang minoritas”

Kira-kira, adakah angin pembaharuan yang sepoi-sepoi hendak mendinginkan panasnya politik negeri ini?

Entahlah.

Ada banyak kebisingan yang diciptakan oleh pers.

Seakan-akan ada satu dua tokoh yang muncul dan membuktikan bahwa politik identitas di Indonesia akan segera berakhir, bahwa apapun agama dan etnis Anda, Anda berhak dan bisa terpilih menjadi Presiden, Gubernur, Walikota, Bupati, dan ketua RT. Seakan-akan benar bahwa prinsip meritokrasi sudah dihidupi oleh bangsa ini.Tapi lalu kita melihat, bersinar sebentar, lalu padam kembali oleh isu-isu lain yang itu-itu saja dan membosankan.

Epilog Prematur

Jadi, sampai dimana politisasi agama dan identitas di Indonesia? Masih di situ-situ saja.

Stagnan.

Ni Hao

Hari ini aku terdiam

Menyaksikan hujan yang turun deras

Pikiran mengalir bersama air

Siapa yang masih tertawa di bawah hujan?

 

Sudah tidak adalagi daun-daun yang menari gembira,

Akar-akar terkubur di bawah lantai peradaban yang telah beku

Wajah-wajah kedinginan tidak saling menyapa berlari mencari rumah

Siapa yang masih tertawa dengan secangkir teh dan gorengan bersama tetangga?

 

Angin membawa pikiran ke halaman sekolah.

Masa dimana perempuan berambut terurai

Sekarang semua tertutup oleh tirai kepercayaan

Siapa yang masih melihat keluguan anak-anak?

 

Hujan telah berhenti

Aku melihat banyak orang berjubah ayat

Bertopi kepercayaan

Siapa yang masih bukan manusia suci?

 

Penjara telah penuh

Rumah ibadah penuh

Hati manusia juga penuh

Masih adakah ruang hati untuk sesama?

 

Apakah warna kulit yang berbeda artinya kita manusia berbeda?

Setiap langkah mengarah ke surga

Tetapi mengapa masih banyak yang meminta-minta untuk hidup

Setiap doa terlantun puji-pujian memohon surga

Tetapi caci makimu pada sesama belum berhenti

 

Hujan, bisakah lunturkan semua keangkuhan?

Bahwa kau dan aku cuma tengkorak berbalut kulit dan jubah.

 

 

 

(Oleh: Wang Ai Jia)

Perempuan-perempuan yang Menolak RKUHP Ngawur

 

Photo Source: ArtMarty99

 

Selamat Sore,

Bapak ibu wakil rakyat yang terhormat

Maaf bila mengganggu kenyamanan Anda

Tidak apa-apa, ya?

Biar sore dan mengantuk

Manusia selalu butuh bercerita

Iya, saya berdiri di sini

Memang bermaksud mau bercerita

Bukan demo, tenang saja

Cerita ini tentang Bulan

Seorang gadis remaja

Enam beas tahun usianya

Cantik

Baik hati

Tapi tidak beruntung

Suatu hari, Bulan pernah punya lelaki

“Pacar”, katanya

Tapi saya tidak percaya

Itu bukan pacaran

Itu eksploitasi

Kenapa? Karena lelaki itu umurnya tiga lima

Ada anak

Ada istri

Tapi tak ada otak atau hati

Kenapa tak ada otak?

Karena dia menghamili

Kenapa tak ada hati?

Karena dia lalu lari

Lagu lama? Iya.

Yang disalahkan siapa? Tentu perempuannya.

Yaitu Bulan

Yang tak tahu bahwa bercinta tanpa kondom bisa

bikin hamil

Yang tak sadar bahwa berhubungan satu kali saja

sudah bikin isi

Yang tak paham apa itu penyakit menular seksual

apalagi HIV

Yang tak punya akses pada pengetahuan

Apalagi kontrasepsi

Apalagi otoritas diri

Singkat cerita, Bulan berhenti sekolah

Orangtua marah-marah

Lalu saya tak tahu lagi bagaimana kabarnya

Bapak dan ibu

Saya dengar KUHP kita sedang direvisi

Katanya, besok nanti

Berhubungan kelamin tak menikah

Akan dipenjara

Berapa pun usia pelakunya

Katanya lagi

Mengajari orang tentang kontrasepsi

Akan diciduk polisi

Kalau kamu bukan dokter atau mantri

Saya jadi teringat Bulan

Saya tidak tahu

Apakah di rumah, Bapak Ibu punya putri seusia

Bulan

atau anak-anak lain senasibnya

Akan jadi kriminil!

Sudahlah ditipu lelaki bajingan

Sudahlah tak mendapat pendidikan yang baik

Sudahlah tak ada uang

Sudahlah hamil

Sudahlah berhenti sekolah

Sekarang terancam masuk bui

Katanya karena berzina

Seolah tak ada wakil rakyat yang juga hobi main

lendir di ibukota

Kalau saja Saya punya banyak uang

Saya mau bawa Bulan lari saja

Aborsi di Belanda

Sekolah di Norwegia

Belajar kesehatan reproduksi di Inggris

Di negeri mana saja yang aturannya tidak gila

Sayangnya, Saya bukan orang kaya

Pemerintah kita pun cuma satu

Dan Bulan-bulan yang lain

Mungkin ada lebih dari seribu

Sayangnya.

Seperti dikisahkan dengan penuh haru oleh Akun Twitter @siputriwidi (seorang perempuan, juga tenaga medis) di posting-annya #tolakRKHUPNgawur

Bagikan ke Teman Muslim-mu

LEMBUTNYA NASIHAT INI …

Baca perlahan-lahan sampai akhir.

Adalah hal biasa jika kau melihat perahu di atas air. Namun bahaya bila melihat air dalam perahu. Maka engkau boleh berada di hati dunia tapi jangan kau tempatkan dunia di dalam hatimu.

Jika kau pernah merasa rugi sesuatu yang tidak pernah kau sangka suatu hari, maka sesungguhnya Allah akan memberimu rezeki suatu hari yang tidak pernah kau kira akan memilikinya.

Optimislah saat segala urusan terasa sulit bagimu, kerana Allah telah bersumpah dua kali “Sesungguhnya sebuah kesulitan bersama kemudahan, sesungguhnya sebuah kesulitan bersama kemudahan”

Kehidupan bertanya kepada kematian: Mengapa manusia mencintaiku dan membencimu? Maka maut menjawab: “Karena kau adalah kebohongan yang indah, sedangkan aku adalah kenyataan yang menyakitkan”

Kita tidak tahu setelah Allah merahmati kita, apalagi yang boleh membuat kita masuk syurga? Apakah itu rukuk atau sedekah, atau air yang kita berikan, atau keperluan orang beriman yang kita tunaikan, atau doa, ataukah dzikir kita??

Maka beramal lah dan jangan mempertikaikan!

🌹💔

Letakkan sedikit perasaan pada akalmu agar dia lembut dan letakkan sedikit akal pada perasaanmu agar dia lurus.

🌹💔

Aku takjub kepada hati yang menerima kesakitan dengan diam, dan menilai kesalahan orang lain dengan niat yang baik.

🌹💔

Ketika kau meyakini bahwa setelah kesengsaraan adalah sebuah kebahagiaan dan setelah air mata yang mengalir adalah senyuman, maka sesungguhnya kau telah melaksanakan ibadah yang amat agung yaitu berprasangka baik kepada Allah.

🌹💔

Jika sakitnya dunia membuatmu lelah, janganlah bersedih. Barangkali Allah ingin mendengar suaramu dalam doamu. Jangan tunggu kebahagiaan untuk tersenyum, namun tersenyumlah sehingga kau bahagia. Mengapa kau berfikir banyak sedangkan Allah adalah yang Maha Mengatur.

Haneshama Bekirbi-The Soul Within Me-Motty Steinmetz

Mengapa gundah akan sesuatu yang tidak kita ketahui sedangkan segala sesuatu Allah sudah tahu. Tenanglah karena engkau selalu berada pada pengawasan Allah yang Maha Menjaga, dan ucapkan dengan hatimu sebelum dengan lisanmu: Aku serahkan segala urusanku kepada Allah.

🌹💔

Jika kau tidak tahu alamat rezekimu. Janganlah takut karena rezeki Allah tahu dimana alamatmu. Jika kau tidak boleh sampai kepadanya, niscaya dia akan sampai kepadamu..

 

Gong Xi Fa Cai

Di sebuah acara kumpul-kumpul menjelang Imlek …

Ko Ahai, Ko A Len, Ko A Wen dan Ko A Djo reuni makan-makan di restoran, sambil ngebir. Mereka ngobrol dari sandal jepit sampai bakiak pasar.

Karena kantung kemih sudah penuh Ko Ahai pamit untuk buang air! Saat itu terjadi pembicaraan yang serius.

Ko A Len: Bagaimana bisnis anakmu, Ko A Wen?

Ko A Wen: Sekarang anakku sudah jadi bos. Pabriknya ada 2 buah. Tapi, Saya bapaknya gak pernah dibelikan apa-apa. Eh, pas kemarin pacarnya ‘Kay’ ulang tahun dibeliin BMW seri 7 baru. Lagian No Polisi pakai namanya “K4Y”, coba Lu pikir ngeselin nggak?

Ko A Djo nyela: Lha anakku sekarang sudah jadi direktur perumahan. Rumah bapaknya sudah doyong dibiarkan aja. Tapi waktu kemarin pacarnya ulang tahun dibelikan rumah mewah di Kota Wisata.

Ko ALen: Anakku lebih parah lagi. Jadi pialang saham. Sekali dapat komisi saham Cepek Nopek Tiuw, tapi saya ini nggak pernah 1 sen pun dikasih duit, tapi waktu pacarnya ulang tahun, dikasih Deposito 500 juta.

Ko Ahai balik dari WC sambil benerin risluiting celana barunya, nyeletuk: Lagi nyeritain apa sih? Serius banget!

Ko A Len: Ini lho, pada nyeritain anak-anak kita. Anak Ko Ahai gimana?

Ko Ahai: Anakku satu satunya, tapi payah, berharap dia bisa jadi ABRI, eh malah jadi bencong. Tapi meskipun bencong, dia tetap anakku. Apalagi nasibnya bagus, anaknya baik dan pergaulannya luas, serta dicintai teman-temannya, diapun sayang bapaknya. Setiap dapat rejeki, saya pasti diberi. Kemarin pas di hari ulang tahun dia, ada temannya yang ngado BMW pakai No Pol K 4 Y seperti nama panggilannya, ada yang ngasi rumah di Kota Wisata, dan deposito 500 juta. Mengharukan. Katanya semua itu buat saya saja, dia tetap lebih senang bisnis restoran saja.

Geduaaabruuuuk !!!
Ko A Len, Ko A Wen, Ko A Djo jatuh pingsan …

Pasar Malam

 

Gemerlap lampu
Menyeruak dari pusat kota
Sepi yang tersembunyi
Bangkit berdiri
Tegak perkasa
Menghambur ke bianglala cahaya

Aku menyusup di keramaian
Orang-orang berdesakan
Keringat dan debu
Bercampur padu

Keramaian dan sesaknya pasar malam
Sukmaku terbuang jauh ke dalam kelam

Meski tangan sempat merengkuhmu
Dingin udara pekat membisu
Makna tersisa hanya kehampaan 

Barangkali karena mimpi
Telah menjadi topi
Aku merasa gerah
Dan resah erat menyinggah

Keramaian dan sesaknya pasar malam
Sukmaku terbakar di atas tungku segala rindu

 

Semarang, April 1987

Pergi Kau, Bajingan!!!

Asal kau tau saja,
Sedetikpun tak pernah kau kuanggap.
Congormu lantang membahana
Syairmu memuakkan,
Pantunmu basi
Lirikmu miring berliuk tak berarah.
Memuakkan setiap jiwa yang punya rasa.

Pena berontak sejak pertama kau genggam.
Hendak menekuk diri
Bermuram durja
Tak sudi kau pakai menggores kata-kata
Cuma ia tak berdaya,
sebab nasibnya kau gantung
seperti bidak-bidak lain di papan caturmu.

Asal kau tau saja …
Rupa siapa di comberan,
Tuduhmu pada rekan sejawatmu
Padahal coreng-moreng di mata,
di hidung,
di mulut yang busukmu
tercium hingga ubun-ubun kota

Kau rayu rakyatmu dengan candu surga,
Pekat membakar rindu katamu
Seakan rakyatmu pernah singgah di mimpi tidurmu
“Ayo, curahkan semuanya.
Tumpahkan sesak di dadamu
Biar lepas semua salibmu
Keluhkan samsaramu,
Tebalkan taqwa dengan iqra-mu,
yang menjerat lehermu tak kunjung menggapai nirwana”,
sejurus sebelum kau berambus,
membersihkan debu alun-alun dari kasut mahal itu.

Asal kau tau saja
darahku menggelegak sejak saat itu,
melihatmu tersenyum melihat langkah caturmu

Pikirmu,
Amarahku tak bergema,
suaraku tak dianggap massa
kau bungkam sejak sedia kala.

Tapi,

asal kau tau saja,
bila nanti saatnya tiba,
tak sudi aku meniru polesan kata-katamu,
menendangmu dari pertiwiku:

Sikat gigimu bersih
Ikhlaskan kuman bebas dari rongga mulutmu
Kenakan baju terbaikmu,
Ikat pinggangmu
Sisir rambutmu
Ketatkan sarungmu

Wahai, politisi busuk.
Pergi kau, bajingan!!!

 

Bintaro, 9 Nopember 2017

Sebuah Tanggal di Almanak


Karya: Mim Yudiarto

Selamat ulang tahun
Bukan lagi kata yang tepat untuk diucapkan
Lebih tepat jika aku berujar
Selamat mengendarai mimpi
Bersama wangi melati
Bunga yang menemanimu saat sunyi
Membungkam warna sekam ketika kau merindukan pulang

Selamat ulang tahun
Hanya aku ucapkan
Ketika bulan masih merayakan kelahiran
Remah remah langit yang terbungkus kegelapan

Do’aku adalah do’a para bintang
Meletakkanmu di sudut angkasa
Melihat semua derita anak-anak bumi
Sebagai gelisahmu juga

Do’aku adalah do’a sepotong rembulan
Membiaskan cahaya matamu
Ke pojok remang anak-anak kepahitan
Sebagai resahmu juga

Do’aku adalah do’a matahari
Menghangatkan bukan menghanguskan
Dingin dan sepi yang mematikan
Beku dan kelu yang menguburkan

 

Jakarta, 22 September 2017

Sajen dan Sosok

Darah bagi Sembahan yang selalu haus

Sesajian berderet sejak purba
Berkerubung mereka disana
Tumpah berjejal di pelataran Gaia
Konon, Sosok itu lapar. 

Sesajian tidak saja kembang aneka rupa,
Tak juga sebatas puja-puji mantra beraroma dupa.
Pedang berdarah penghunus nyawa kaum nestapa buta aksara, yang tak mau tunduk menyembahnya, juga tertancap megah disana.
Konon, Sosok itu haus dipuja.

Sesajian terus berdatangan,
Sejak purba hingga zaman yang tak lagi bisa terbilang angka,
Gaia kini tua renta tersedot habis semua tubuhnya,
Pun tak kunjung cukup memuaskannya.
Konon, Sosok tak terpuaskan juga.

Sesajian harus terus ada.
Harus tetap berlimpah ruah di singgasananya.
Gaia renta membuat manungsa iba.
Dihunusnya pedang angkara, dihunjamkannya ke raga Saudaranya.
Sebab, Sesajian tak boleh tiada.
Begitu titah Sosok

Bangsa mulai bermufakat,
“Mari kita eratkan tangan. Jika kita tidak lebih dulu membantai negeri tetangga, anak-anak kita akan jadi sesajian berikutnya”.
Kitab Suci pun ditulis,
Tafsir disusun, ditimbang dan ditimbun di lumbung penguasa,
Jika kelak zaman bertanya, “untuk apa?”, kita tunjukkan saja: “Begitu perintah sang Sosok”
Sesajian pun akhirnya tetap tersedia.
Sebab sampai hari ini, Sosok masih meraja di segala penjuru dunia.

 

Bintaro/8-11-17

Apa Aku Mesti Menuntunmu?

    Cinta akan datang saat kau kembali berlayar


Karya: Mim Yudiarto

Kau katakan tak pergi kemana-mana
Itu karena pintu kau kunci dengan kalimat tak mau
Kau katakan tak melihat apa-apa
Itu karena jendela kau tutup dengan kalimat tak mengapa

Kau bilang ingin mengintip turunnya bianglala
Tapi kau malah sibuk memalingkan muka
Kau bilang mau mencuri biji mata purnama
Tapi kau lupa bulan ada di mana

Apa aku perlu ingatkan tentang sebuah perjalanan
Selalu dimulai dengan langkah kaki
Bukan kira-kira di hati

Apa aku harus tuliskan
Ke arah mana sungai menuju
Muara laut tempat air bertemu

Apa aku mesti sampaikan
Bahagia itu tak mungkin datang bertamu
Jika kau tak berniat untuk berburu

Pergilah ke arah barat
Di sana ada kiblat
Larilah ke arah timur
Di sana kau ditunggu matahari yang sedang berjemur
Berjalanlah ke arah utara
Di sana indah siap menyembuhkan lelah
Berpalinglah ke selatan
Di sana salju meramu inginmu

 

Semarang, 8 Nopember 2017

Page 1 of 5

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén