Meski Berat, Doakan yang Baik untuk Mantanmu

Manganju nimmu nunga hubahen
Mangelek nimmu nga hu ulahon
Pangidoanmu sitauhulehon do
Asalma boi sonang rohami
Saleleng dohot au

Setia nimmu nunga hubahen
Unang mardua nga hu ulahon
Sudenai ito gabe balik do
Laos gabe ho do na lao mardua dalan
Dohot sidoli i

Reff:
Saonarion ito tuntunma lomom
Dang sipangorai au manang sipanjujui
Nunga tung haccit hu hilala hasian manghaholongi ho

Alai ingotma ito mardalan do sapata
Molo na denggan doi denggan do jaloonmu
Molo na haccit songon pambaenanmon tu au
Haccit do jaloonmu

Horas ma di ho ito
Dohot sidoli halletmi
Horasma di au ito
Na tininggalhonmon


Lagu ini enak. Renyah di telinga. Cuma, Saya punya ‘sedikit’ catatan kritis pada bagian liriknya.

Secara umum liriknya adalah ungkapan hati seorang lelaki – yang merasa sudah melakukan semampunya semua hal yang diminta kekasihnya – tetapi toh akhirnya ditinggalkan.  (Di video tersedia juga subtitel bahasa Indonesia bagi yang tidak memahami bahasa Batak).

Kritik yang kumaksud adalah terhadap penggalan lirik ini:

“Alai ingotma ito mardalan do sapata
Molo na denggan doi denggan do jaloonmu
Molo na haccit songon pambaenanmon tu au
Haccit do jaloonmu”

“Sapata” berarti “karma”.

Jadi, kalau diterjemahkan secara bebas kurang lebih si lelaki hendak melampiaskan kegeramannya sambil menyumpah mantan yang meninggalkannya. Begini:
(Mungkin sembari menangis sesenggukan ala cowok bucin metroseksual, dambaan ciwi-ciwi motor metic yang kalau mau belok kanan pasang lampu sein ke kiri)

Tapi, asal kamu tau ya.

Karma itu berjalan.

Kalau kamu menabur yang baik, kamu akan menuai yang baik.

Tapi kalau kamu membuat sakit hati, seperti yang kamu lakukan ke aku sekarang ini,

Ingat, kamu juga akan menerima yang sakit

 

Sepintas tak ada yang aneh. Toh benar kan? Berlaku hukum tabur-tuai (bagi yang mempercayainya). Jika kamu melakukan sesuatu yang baik, niscaya (dibantu oleh segenap alam semesta) kamu akan mendapatkan yang baik pula. Jika kamu melakukan yang buruk, niscaya (dibantu oleh segenap alam semesta) kamu akan mendapatkan yang buruk pula. Makna yang mirip juga sebetulnya bisa kita dengar pada lagu yang dinyanyikan Ambisi Trio “Dos do Nakkokna” ciptaan Iran Ambarita: Molo sinuan hassang, hassang do na tubu. Molo sinuan gadong, gadong do na tubu. Molo sinuan na denggan, sai na denggan do na ro. Molo sinuan na roa, sai naroa do na ro.

Terus, masalahnya dimana?

Pertama sekali penting diingat bahwa jika sebuah karya seni (termasuk lagu) dipublikasikan, maka karya itu menjadi bagian dari masyarakat. Hak cipta dan hak terkait lainnya memang adalah milik pencipta atau label rekaman yang memproduksinya, tetapi alamat dari pesan lagu tersebut adalah masyarakat. Karena itu, jika liriknya tepat, publik akan menjadikannya sebagai lagu yang pantas ditiru, dinyanyikan ulang, bahkan dijiwai. Sebaliknya, jika liriknya kurang tepat, publik berhak mengkritisinya bahkan menegur penciptanya jika perlu. Memang sudah adabnya, karya seni yang baik itu mendidik pendengar ke hal yang baik untuk melakukan yang baik pula.

Masalahnya, lirik “Mardua Holong” ini melulu ungkapan emosional seorang lelaki galau. Tidak ada lirik remedi (mengobati) atau rehabilitatif (memulihkan) di dalamnya sebagai pengobat rasa sakit terhadap moralitas yang tercabik-cabik. Murni mau menegaskan kejamnya hukum Hammurabi “mata ganti mata”. Atau supaya tidak kedengaran terlalu kejam, “jika ditampar pipimu, tabok lagi pipinya”. Itu pun masih kejam juga. Intinya, insan manusia yang menyenandungkan lagu ini mempertontonkan keegoisannya – yang walaupun mungkin jujur begitu adanya –  terhadap manusia lain, mantan kekasihnya. Seolah tak cukup di antara mereka berdua, dia juga mau berteriak ke seluruh dunia: “Ingat, karma itu berjalan”.

Iya. Kami tahu. Sebagai pendengar kami sangat terpapar dengan kepercayaan bahwa karma itu ada (atau setidaknya dipercaya ada). Sama seperti kanker, perbudakan, perang, pemerkosaan dan kata-kata negatif lainnya.

Karena kami sudah tau, biarkanlah realitas pahit itu terjadi – sekali lagi, jika benar ada – pada kehidupan nyata. Kita semua memiliki beban dan keluhan masing-masing. Juga sudah tak bisa dihitung sudah berapa sering kita merasa di ambang batas kesabaran bahkan garis nadir hidup (grenzsituation), mengutip sang fisuf Karl Jaspers. Kita butuh sesuatu yang indah dan menghibur. Bukankah seni itu hakikatnya adalah indah dan menghibur? Karena itu kami ingin mendengar lagumu. Tetapi, mengapa kau memperdengarkan kenyataan pahit itu lagi? Seolah kau lebih tahu dari kami.

Okelah. Ini soal perasaaan, kau bilang. Tapi, asal kau tau saja ya. Soal rasa kesal bahkan mungkin dendam beberapa saat setelah putus dengan mantan kekasih, kami juga mengalaminya. Kami pernah berada pada posisi itu. Seakan langit runtuh karena orang yang selama ini kami yakini sudah benar-benar melabuhkan hatinya pada kami, toh bisa berbalik arah juga, memilih tempat berlabuh yang lain. Oke. Itu manusiawi. Sebagai manusia, kau dan kami, masih manusiawi, dan bisa juga jujur jika diminta. Perbedaannya: kami menyimpannya sendiri. Kami mencari masa untuk tenang terlebih dahulu. Mungkin benar bahwa jika terjadi perpisahan, mantan melakukan banyak kesalahan atau situasi yang tidak mendukung (entah itu status sosial, ekonomi, cinta beda agama, fisik dan lainnya) tapi lalu kami sadar: besar atau kecil, kami juga menyumbang kesalahan yang sama, atau jangan-jangan malah lebih parah.  Tanya saja hati kecilmu: jika dia memang nyaman denganmu, dia tidak akan memilih yang lain. 

Maka, ketika perpisahan terjadi, tidak selalu jelas siapa yang meninggalkan dan siapa yang ditinggalkan. Tidak ada penjahat dan yang dijahati. Jangan-jangan malah kamu yang jahat karena sudah merasa melakukan segalanya, tapi lalu mengutuk mantanmu karena tidak membalas sesuai pengharapanmu. Idealnya, kamu dan aku bisa belajar dari “Cinta Tak Harus Memiliki”-nya Charly ST12 atau “Cinta Beda Agama”-nya Vicky Salamor. Alih-alih menyalahkan pasangan, mereka melihat bahwa ada hal lain yang menyebabkan perpisahan itu. Tak melulu karena si mantan itu benar penjahat.

Karena itu, saranku:

MESKI BERAT, DOAKAN YANG BAIK UNTUK MANTANMU.

Kembali ke analisis lirik ya. Berbeda dengan lirik “Dos do Nakkokna” yang pada akhirnya mengajak orang untuk berbuat baik: “Jala angkup ni i, unang ma ginjang roham. Unang ma leas roham mangida jolma na mauas na male. Asa denggan sude. Asa retta sude. Ai ido nihalomohon ni Tuhan i” (Jangan tinggi hati. Jangan memandang rendah orang yang miskin. Supaya semua akhirnya menjadi baik. Sebab itulah yang dikehendaki Tuhan). Jadi jelas ya, meski sebelumnya juga berbicara tentang tabur-tuai atau tumimbal lahir atau karma alias sapata, akhirnya mengarahkan pada yang baik juga. Maka pantas lirik dan lagunya didengarkan, dinyanyikan ulang dan dijiwai. Sebab mengandung nilai moral yang baik.

Bahkan lagu Iwan Fals yang berbunyi “Lonteku … terimalah kasihku atas pertolonganmu di malam itu” tetap mengakomodasi fungsi pendidikan moral dan karakter ini. Ia mengobati hati pendengar setelah melukainya dengan kata “lonte” alih-alih “perempuan”.

Satu hal lagi tentang kata “sapata”. Bagi orang Batak, segmen terbesar pendengar lagu “Mardua Holong” ini, mereka memahami betul arti dari frasa “hata do pardebataon“. Kata-kata yang keluar itu adalah doa. Kata-kata yang diucapkan dengan sungguh-sungguh itu efficax alias manjur. Ia bisa mendatangkan berkat sekaligus kutuk. Itu sebabnya, orang Batak tidak terlalu suka lagi “marpate-patean”


Catatan kritis yang sedikit ini hanya untuk tujuan pendidikan moral dan karakter semata. Jika memang lagu “Mardua Holong” dicipta tanpa memikirkan aspek moral ini, berarti catatan ini tidak relevan. Anggap saja sebagai salah satu komentar di konten Youtube-mu yang sudah ditonton  jutaan kali itu.

Apapun itu, wahai seniman, teruslah berkarya! Itu saja catatan kritisnya. Di luar itu, lagu “Mardua Holong” ini bagus. Enak. Renyah di telinga.

 

 

Hidup Miskin Jangan Salahin Tuhan

Jika kamu adalah orang Hokkian, mestinya kamu tau lagu Ai Piah Cia Eh Yia, lagu Hokkian yang cukup populer di dunia. Karena sudah populer, maka meski kamu bukan seorang Hokkian, bagus juga kalau kamu tau lagunya.

Selain memiliki irama yang bagus, lagu ini juga memiliki arti yang luar biasa. Konon ini salah satu kunci keberhasilan para kaum Cina Hokkian perantau dimanapun berada. Di Pematangsiantar, di Medan, Pekanbaru, Jambi, Palembang, Bengkulu, Medan, Surabaya, Bali, Banjarmasin, Kutai, Makassar, Kendari, Manado, dan Ambon. Kalau di Jakarta sendiri biasa banyak ditemui di daerah Muara Karang, Pantai Indah Kapuk, Kelapa Gading dan sekitarnya. Singkatnya, di banyak tempat di Indonesia.

Eh, bentarbentar. Kok bisa lagu bikin sukses?

Kayaknya sih nggak sesederhana itu maksudnya ya. Maksudnya tuh, pesan dalam lagunya membangkitkan semangat orang untuk bekerja tanpa lelah untuk memperbaiki keadaan. Silahkan kamu terjemahkan sendiri “bekerja tanpa lelah” itu maksudnya bagaimana.

Kamu bisa pakai filosofi “Kerja, kerja, kerja” ala Pak Jokowi.

Atau “Work Smarter, Play Harder” ala generasi buruh korporat digital yang  bersemangat entrepreurial.

Atau “Work Hard, Invest Harder” ala yelyel penanam saham pemula.

Atau nggak perlu pakai filosofi-filofian segala.

Pokoknya kerja saja. Udah.

Jadi, kalaupun kamu bukan seorang Chinese Hokkien, jika kamu mau sukses juga seperti mereka, kamu juga boleh mempelajari dan menyanyikan lagu ini. (Memangnya selama ini lagu ini dilarang ya? Ya nggak juga sih.)

Xixixixixi …

(Gitu katanya kalau ketawa orang kaya).

Intinya, lagu ini menjadi alarm untuk terus memperbaiki diri sendiri terlebih dahulu jika ingin meningkatkan taraf penghidupan dan kesejahteraan. Tidak melulu menyalahkan orang lain, entah itu Jokowi, pemerintah, bos atau Omnibus Law yang baru disahkan pada 5 Oktober yang lalu.

Miliki Budaya Kerja terlebih dahulu. Jika sudah bisa terpenuhi sandang, pangan, papan dan pulsa seluler, lalu mau coba buka usaha ya silahkan. Jika usahamu berhasil, pahalamu bertambah, pundi-pundi rezekimu berlipat. Nanti kalau kamu sudah jadi bos, senyum karyawanmu setiap kali gajian adalah kebahagiaan tersendiri buatmu sebagai pengusaha (itu kata teman Saya sih)

Ya sudah. Supaya tidak semakin melantur kemana-mana, inilah dia lirik lagu pembawa kesuksesan itu.

Haaiyaa


爱拼才会赢
Ai pia cia e ya
Bekerja keras baru dapat berhasil

一时失志 不免怨叹
Chi shisi ci e mian huan dan
Sekali gagal jangan mengeluh, dan menyalahkan hal-hal di sekitar kita

一时落 魄不免胆寒
Chi si lo bie e mian dan han
Sekali terpuruk jangan bersedih dan cemas

那通失去希望 每日醉茫茫
Na tang sit gi hii bang, mui lit zui bang bang
Mana boleh kehilangan semangat, Tiap hari mabuk-mabukan

无魂有体亲像稻草人
Mbo hun wu dei qing qiu tiu jao lang
Seperti orang-orangan pohon padi di sawah, punya badan tak punya nyawa,

人生可比是海上的波浪
Yin shing ko pi si hai siong e po long
Kehidupan manusia ibarat ombak di lautan,

有时起有时落
Wu si gii wu si luo
Kadang naik, kadang turun,

好运歹命
Ho un pai un
(Tak perduli) Nasib baik, (ataupun) nasib buruk,

总吗要照起工来行
Cong ma ciao gi kang lai kia
(pekerjaan) selalu harus dilaksanakan dengan teratur.

三分天注定 七分靠打拼
Sa hun ti cut tia, Thjit hun ko ba pia
Tiga puluh persen adalah nasib, tujuh puluh persen adalah hasil bekerja keras (juga sebaiknya bekerja cerdas)

爱拼才会赢
Ai pia cia e ya
Bekerja keras (dan bekerja cerdas) baru dapat berhasil.


Oh iya. Ini ada video versi kontemporer dengan tambahan lirik dan motif lagu. Saya lebih suka versi yang ini.

Pertama, musikalitasnya lebih modern, lebih cocok dengan kaum muda seperti Saya.

Kedua, penyanyinya cantik. Jadi ya juga cocok dengan kaum muda seperti Saya. Hahaha …

Pilihlah Hidup

Aaa … aaa …. aaa …

Should’ve stayed were the signs I ignored?

Can I help you not to hurt anymore?

We saw brilliance, when the world, was asleep.

There are things that we can have but can’t keep

 

If they say

Who cares if one more light goes out

In a sky of a million stars?

It flickers, flickers

Who cares when someone’s time runs out

If a moment is all we are

We’re quicker, quicker

Who cares if one more light goes out?

Well I do.

 

The reminders pull the floor from your feet

In the kitchen, one more chair than you need oh

And you’re angry, and you should be, it’s not fair

Just ’cause you can’t see it, doesn’t mean it isn’t there

 

If they say,

Who cares if one more light goes out

In a sky of a million stars?

It flickers, flickers

Who cares when someone’s time runs out

If a moment is all we are

We’re quicker, quicker

Who cares if one more light goes out?

Well I do.

 

If they say,

Who cares if one more light goes out

In a sky of a million stars?

It flickers, flickers

Who cares when someone’s time runs out

If a moment is all we are

We’re quicker, quicker

Who cares if one more light goes out?

Well I do.


Lagu ini cukup legendaris bagi banyak orang, termasuk Saya.

Pertama, karena Chester Bennington, si vokalis Linkin Park yang menyanyikan lagu ini, kita ketahui meninggal bunuh diri. Ini sudah lebih dari cukup menjelaskan mengapa lagu ini kemudian menjadi sangat sarat makna dan pesan untuk direnungkan.

Kedua, setelah melihat versi cover dari One Voice Children’s Choir, ada perasaan merinding meski sudah mendengarkannya untuk kesekian kalinya. Versi yang dibuat dalam rangka bulan Suicide Prevention and Awareness (Sikap Mawas dan Pencegahan terhadap Bunuh Diri) ini membuat “One More Light” semakin istimewa. Selain karena ketertarikan dengan melodi lagu yang dengan menakjubkan dinyanyikan oleh paduan suara, anggotanya anak-anak pula, dengan indah duka dan harapan tergambar disini.

Belum lama ini, kita mendengar banyak kejadian artis bahkan orang biasa yang melakukan tindakan bunuh diri. Saya tidak ingin memulai perdebatan tentang asal-muasal, sebab atau situasi yang menyebabkan fenomena suram generasi kita ini. Sebab sangat kompleks dan rentan subjektif jika mencoba menggunakan sudut pandang tunggal.

Saya hanya mau menawarkan supaya kita sesekali memperkaya nalar kita yang sangat rasional-positivistik dengan kandungan cipta yang penuh dengan rasa dan empati. Melalui seni terutama lagu, hal ini lebih tepat dan akurat tersampaikan. Sebagai anasir tertinggi dari peradaban yang tinggi (terlebih bagi warga Nusantara yang kerap menyebut dirinya berbudaya adiluhung), lagu (sebagai bagian dari seni dan budaya) sekali lagi menegaskan dirinya sebagai sarana komunikasi yang paling tepat. Di dalamnya, misteri hidup dan mati – yang tak hentinya membuat kita bingung – disampaikan dengan indah.

Kembali ke cover One Voice Children’s Choir. Seperti ditulis di deskripsi videonya, ternyata lagu ini juga mereka dedikasikan untuk salah satu anggota paduan suara mereka, Megan. Sang konduktor, Masa merasakan kepedihan yang cukup mendalam atas kepergian gadis cilik Megan. Sedih-sesedihsedihnya, sama dengan orangtua, teman dan kerabat Megan.

Ketiga, sekali lagi, seni yang bagus, ialah seni yang menyatukan manusia. Seniman yang baik akan menciptakan karya yang menyatukan manusia. Jika setiap mendengar lagunya kita menjadi teringat akan sosok dan pesan kehidupan yang disampaikannya, itulah seniman yang sudah mencapai pencerahan tertinggi. Buat Saya, “One More Light” adalah salah satu contohnya.

Keempat, seperti pesan lagu ini: Pilihlah hidup.

Choose to live.

Choose to stay.

Thanks: Buah dari Totalitas

Korea? Operasi plastik? Oppa ganteng?

Sudah tidak asingkan dengan kata-kata itu? Sebagai penikmat musik, Saya hanya ingin mengomentari lagu group boyband kesukaan saya dari negeri ginseng itu. Tidak ingin mengundang pertengkaran antara K-Popers dan nonK-Popers.

Sedikit out of topic nih, KPop adalah kependekan dari Korean pop, atau jenis music populer yang berasal dari Korea Selatan. Tidak jarang penyanyi asal korea selatan ini sukses di manca negara, bahkan melakukan tur sampai ke penghujung dunia. Contohnya boygroup yang akan kita bahas ini, Seventeen. Mereka baru saja melakukan tur yang berjudul “Ode to You” ke 13 negara.

Kalau membahas tentang KPop, hal yang paling dinantikan fandom adalah comeback, baik album ataupun single dari lelaki dan wanita yang dianggap bak dewa-i dan dikhayalkan muncul tiba-tiba di samping mereka sebagai sebagai kekasih. (Hehehe ..) Dan comeback Seventeen pada 5 Februari 2018 lalu berisi 17 lagu, dengan lagu andalan Thanks (atau gomapda dalam bahasa Korea) yang menuai banyak pujian.

Cerita sedikit, saya baru menyukai (jatuh cinta, tepatnya) boygroup ini pada beberapa bulan lalu. Berisi 13 personil yang menyanyikan lagu ini dengan sangat amat apik, dance yang susah namun menakjubkan, music video yang tak kalah keren, fanchant untuk para fans sangat membuat saya takjub dengan ke 13 member ini. Pada saat pertama sekali mendengar kata Seventeen, Saya berfikir mereka mempunyai 17 member. Ternyata mereka hanya 13 personil, dibagi dalam 3 unit dan bersatu dalam 1 team ( 13+3+1=17).

Jujur, saya lebih suka berbicara tentang membernya daripada musiknya, bukan karena musiknya tidak bagus, tetapi karena member-nya lebih menarik. Daripada melebar kemana mana, langsung saja kita membahas Thanks.


Lirik Thanks

난 그랬던 것 같아 네가 어디 있던지
nan geuraetteon geot gata nega eodi itteonji
Aku rasa aku selalu seperti itu, dimanapun kau berada

들릴 때라면 고민도 없이
deullil ttaeramyeon gomindo eopshi
Ketika aku mendengar tentangmu

뛰어 갔었던 그때 그때
ttwieo gasseotteon geuttae geuttae
Aku langsung berlari padamu

어렸던 내 맘은 짓궂은 장난이 다였나 봐
eoryeotteon nae mameun jitgujeun jangnani dayeotna bwa
Waktu itu, sepertinya hatiku hanyalah sebuah lelucon

웃는 너를 보는 내 기분이 뭔지
utneun neoreul boneun nae gibuni mwonji
Setiap kali aku melihatmu tertawa

배운 적 없어서
baeun jeok eopseoseo
Aku tak pernah belajar

표현을 못 했어 내 맘이 서툴러서
pyohyeoneul mot haesseo nae mami seotulleoseo
Sehingga sulit untuk mengungkapkan perasaanku

너의 내일이 되고 싶어서 오늘을 살아왔어
neoye naeiri doego shipeoseo oneureul sarawasseo
Aku ingin menjadi masa depanmu dan tetap hidup seperti ini

너를 처음 본 날 그때부터 지금까지
neoreul cheoeum bon nal geuttaebuteo jigeumkkaji
Semenjak pertama kali aku melihatmu sampai sekarang

내 맘속에는 너만 있어
nae mamsogeneun neoman isseo
Hanya ada dirimu dalam hatiku

뻔하디뻔한 이 말을 내가 이제서야 꺼내 보지만
ppeonhadippeonhan i mareul naega ijeseoya kkeonae bojiman
Sekarang aku akan mengatakan kata yang jelas itu

뻔하디뻔한 이 말이 전해는 질까요 yeah
ppeonhadippeonhan i mari jeonhaeneun jilkkayo yeah
Tapi akankah kata itu bisa membuatmu mengerti yeah

고맙다 고맙다 또 고맙다 뿐이지만
gomabda gomabda tto gomabda ppunijiman
Terima kasih, terima kasih dan hanya terima kasih

기다림까지 그리움까지
gidarimkkaji geuriumkkaji
Untuk penantian, kerinduan

우리 추억까지
uri chueokkkaji
Dan juga kenangan

고맙다 yeah
gomabda yeah
Terima kasih yeah

고맙다 yeah
gomabda yeah
Terima kasih yeah

너무 흔한 말이라 내 마음이 담길까
neomu heunhan marira nae maeumi damgilkka
Tapi itu hanya kata biasa, aku takut kau tak mengerti

걱정돼서 하지 못했던 말
geokjeongdwaeseo haji mothaetteon mal
Itulah mengapa aku tak bisa mengatakannya

[준/호시] 고맙다는 말보다 예쁜 말을 찾다가
[J/HS] gomabdaneun malboda yeppeun mareul chattaga
Aku mencoba mencari kata yang lebih indah dari ‘terima kasih’

[준/호시] 고맙다고 하지 못했던 나
[J/HS] gomabdago haji mothaetteon na
Tapi aku tak bisa mengatakan apapun

표현을 못 했어
pyohyeoneul mot haesseo
Aku tak bisa mengungkapkan perasaanku

용기가 부족해서
yonggiga bujokhaeseo
Karena aku tak berani

사랑이란 말을 조금이라도 일찍 알았다면
sarangiran mareul jogeumirado iljjik arattamyeon
Seandainya saja aku tahu ‘cinta’ sedikit lebih awal

[민규/버논] 너를 처음 본 날 그때부터 지금까지
[MG/VN] neoreul cheoeum bon nal geuttaebuteo jigeumkkaji
Sejak pertama kali aku melihatmu sampai sekarang

내 맘속에는 너만 있어
nae mamsogeneun neoman isseo
Hanya ada dirimu dalam hatiku

뻔하디뻔한 이 말을 내가 이제서야 꺼내 보지만
ppeonhadippeonhan i mareul naega ijeseoya kkeonae bojiman
Sekarang aku akan mengatakan kata yang jelas itu

뻔하디뻔한 이 말이 전해는 질까요 yeah
ppeonhadippeonhan i mari jeonhaeneun jilkkayo yeah
Tapi akankah kata itu bisa membuatmu mengerti yeah

고맙다 고맙다 또 고맙다 뿐이지만
gomabda gomabda tto gomabda ppunijiman
Terima kasih, terima kasih dan hanya terima kasih

고맙다 고맙다 또 고맙다 뿐이지만
gomabda gomabda tto gomabda ppunijiman
Terima kasih, terima kasih dan hanya terima kasih

기다림까지 사랑이 뭔지 알려준 너에게
gidarimkkaji sarangi mwonji allyeojun neoege
Untuk penantian juga untuk mengajariku apa itu cinta

고맙다 yeah
gomabda yeah
terima kasih yeah

고맙다 yeah
gomabda yeah
terima kasih yeah

내 맘 변하지 않아 절대 변하지 않아
nae mam byeonhaji ana jeoldae byeonhaji anha
Hatiku takkan berubah, tak akan pernah

네가 나를 지운다 해도
nega nareul jiunda haedo
Meskipun kau melupakanku

[조슈아/All] 우린 변하지 않아
[JS/All] urin byeonhaji ana
Kita tak akan berubah

[조슈아/All] 서로에 맘에 새겨져 있으니까
[JS/All] seoroe mame saegyeojyeo isseunikka
Karena sudah terukir di hati kita

(새겨져 있으니까)
(saegyeojyeo isseunikka)
(sudah terukir)

고맙다 yeah
gomabda yeah
Terima kasih yeah

고맙다 yeah
gomabda yeah
Terima kasih yeah

너에게 너에게 전해졌음 해 이 노래가
neoege neoege jeonhaejyeosseum hae i noraega
Semoga lagu ini bisa mengungkapkannya padamu

고맙다
gomabda
Terima kasih

고맙다
gomabda
Terima kasih

 


Siapa Seventeen?

Thanks ditujukan khusus bagi carat (sebutan bagi para penggemar Seventeen). Lirik lagu menceritakan bagaimana seorang lelaki yang sangat ingin selalu berada disamping pujaan hatinya, tetapi dia sulit mengungkapkan perasaannya. Akhirnya ia memutuskan untuk mengungkapkannya melalui sebuah lagu. Tentu saja, setiap penggemar yang akan kegirangan mengetahui bahwa Seventeen mengucapkan terimakasih berkali-kali untuk mereka. Pertahanan hati setiap penggemar runtuh.

Boyband yang eksis di bawah label Pledis Entertaiment ini membawakan lagu yang diciptakan oleh salah satu member mereka, Woozi, sang leader unit vocal sekaligus produser. Mereka berhasil menempati posisi pertama di album chart di 29 negara. Music dengan EDM tidak menghalangi sang produser untuk tetap membuatnya lagunya berwarna dan lirik yang bermakna mendalam. Penampilan mereka keren karena tarian mereka yang sangat harmonis. Ciri gerakan mereka dalam lagu ini adalah menautkan kedua jari kelingking a.k.a “pinky promise” yang menunjukkan janji mereka pada carat. Koreografi yang sangat apic ditunjukkan pada saat mereka tampil dipanggung. Pada saat menyanyikan “gomapda” mereka menepuk bahu kiri sebagai tanda bahasa isyarat terimakasih, mereka juga secara bergantian berdiri membentuk huruf hangul 고맙다.

Tidak hanya unggul dibidang dance perfomance, suara mereka tidak kalah bagus dan stabil saat bernyanyi diatas panggung, dengan beberapa bagian rap yang membuat lagu ini sungguh mahal. Setiap member dapat bernyanyi dengan baik, walaupun mereka bukan penyanyi hip-hop. Keunikan lainnya, grup ini sangat terkenal dengan keterlibatan membernya pada proses produksi, mulai dari menyusun lyric, memproduksi music, melakukan rekaman, menyusun koreografi, memikirkan konsep music video bahkan fanchant atau teriakan fans saat mereka tampil. Tidak heran jika seluruh konsep lagu Thanks ini sangat menyentuh hati penggemar. Buah dari totalitas dan kerjasama dari tiga belas lelaki.

Sebenarnya, memaknai lirik dengan bahasa asing sangatlah sulit, karena kita harus menterjemahkannya terlebih dahulu. Tetapi, jika sudah menyukai K-Pop dan sudah terbiasa dengan bahasa korea, akan memudahkan kita untuk mengerti sedikit makna lagu Seventeen ini. Sebagai penggemar mereka, Saya rela mencari arti lagu ini, mencari tahu tentang semua yang berkaitan dengan lagu ini. Buktinya, dengan effort saya menulis kritik seni ini. Lirik yang paling membuat saya terharu adalah Urin byeonhaji anha Seoroe mame saegyeojyeo isseunikka, yang berarti kita tak akan berubah, karena sudah terukir di hati kita.

Drop lagu ini sangat pas, cenderung ringan sehingga dapat didengarkan pada saat mood baik ataupun jelek. Lirik pertama yang dinyanyikan Joshua dengan suara yang lembut, pelan pelan membawa pendengar pada emosi lagu ini, di lanjutkan dengan Hoshi, Jonghan, dan The 8 dengan warna suara yang lembut juga. Lirik rap dinyanyikan oleh Vernon, Wonwoo, Mingyu dan S.Coups dengan suara berat dan vocal tebal membuat emosi lagu ini naik dan mencapai puncak saat DK dan Sung Kwan menyanyikan nada tinggi dan warna suara yang lebih tebal, tetapi dengan cepat Woozi dapat menurunkan kembali emosi.

Sebagai carat, saya memberi nilai ten out of ten untuk lagu ini. Sempurna.

Referensi:
  1. Music video
  2. Dance practice
  3. Perfomance
  4. Fanchant

Penulis: Jessica Miranda Butarbutar (Siswi XII IPA 2 SMA Budi Mulia Pematangsiantar T.P. 2019-2020)

Kita ini sama-sama Parasit

Film Parasite

“Parasite” merupakan salah satu film paling sukses secara komersial di Korea Selatan. Film ini benar-benar menggambarkan bagaimana sebuah parasit terus menggerogoti induk semangnya. Parasit digambarkan sangat mengerikan bahkan bisa membuat sang induk semang menderita. Seiring dengan penghargaan prestius yang didapatnya, film ini meraih kritikan positif yang luar biasa, dan sering kali digadang-gadang sebagai salah satu film asal Korea Selatan terbaik sepanjang masa, serta salah satu film terbaik di dekade 2010-an.

Adalah tangan dingin Bong Joon-ho yang menulis, menyutradarai dan memproduseri Parasite sampai mencapai titik kegemilangannya yang tertinggi di bawah bendera Barunson E&A Corp: Ya, sebuah Piala Oscar untuk kategori Film Terbaik dalam Academy Awards 2020 yang digelar di Dolby Theatre, Hollywood, California, Minggu (9 Februari 2020) waktu setempat. Parasite sukses mencatat sejarah sebagai film berbahasa asing pertama yang berhasil meraih Oscar dalam kategori Best Picture. Piala Oscar yang diraih Parasite tidak hanya itu. Sebelumnya, Film Internasional Terbaik, dan yang tidak kalah bergengsi yakni pemenang Sutradara Terbaik. Tentu saja, Parasite kemudian dipuji setinggi langit oleh publik negara asalnya sendiri, Korea Selatan.

Dibalut dengan komedi, film thriller ini pun penuh dengan pertarungan antara keserakahan dan segala prasangka yang dengan apik diperankan oleh Song Kang-ho sebagai Ki-taek, Jang Hye-jin sebagai Choong-sook, Choi Woo-shik sebagai Kim Ki-woo, dan Park So-dam sebagai Kim Ki-jung.

Mengapa Parasite sangat terkenal?

Tema utama Parasite adalah perjuangan kelas dan kesenjangan sosial. Kritikus film (termasuk Joon-ho sendiri) menganggap film ini sebagai cerminan kapitalisme zaman modern. Beberapa kritikus lainnya mengaitkan dengan istilah “Neraka Joseon” yang terutama populer di kalangan orang muda pada akhir 2010-an untuk menggambarkan kesulitan hidup di Korea Selatan.

Judul film ini awalnya adalah Décalcomanie, yang menurut Joon-ho dalam wawancaranya terilhami dari konsep seni rupa decalcomania (seni menerapkan desain dari kertas ke media berbahan gelas atau porselen). Namun, judul tersebut kemudian diganti dengan “Parasite” karena memiliki makna ganda. Joon-ho mengatakan, “Karena cerita ini mengenai keluarga miskin yang menyusup dan merayap ke dalam rumah orang kaya, tampaknya sangat jelas bahwa Parasite mengacu kepada keluarga miskin, dan saya pikir itu sebabnya tim pemasaran agak ragu. Namun, jika Anda melihatnya dengan cara lain, Anda dapat mengatakan bahwa keluarga kaya, mereka juga parasit dalam hal pekerjaan. Mereka bahkan tidak bisa mencuci piring dan menyetir sendiri, sehingga mereka lintah dari pekerjaan keluarga miskin, sehingga kedua keluarga tersebut adalah parasite.”

Parasite mengisahkan kehidupan keluarga Kim Ki-taek (Song Kang-ho), seorang supir cabutan yang menikah dengan istrinya Choong Sook (Jang Hye-jin) bersama dua anak mereka yang sudah berusia belasan tahun di sebuah apartemen bawah tanah yang tak layak huni. Mereka semua pengangguran. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, mereka menggantungkan diri pada pendapatan kecil dari melipat kotak pizza.

Suatu hari, putra dalam keluarga itu, Ki-woo mendapatkan pekerjaan mengajar les yang memungkinkan ia memperoleh pendapatan tetap. Pekerjaan itu sendiri sebenarnya didapat Ki-woo untuk menggantikan temannya yang melanjutkan kuliah di luar negeri. Menjadi tumpuan keluarganya, Ki-woo kemudian datang ke rumah keluarga yang akan membayarnya sebagai guru les, keluarga Park yang merupakan pengusaha di bidang IT. Namun saat Ki-woo tiba di rumah keluarga Park dan bertemu dengan seorang wanita muda dari rumah itu, Yeon-kyo, saat itulah strategi untuk menarik keluarganya dari kemiskinan dimulai.

Pelan tapi pasti, antara kedua keluarga yang berbeda strata ekonomi pun terjalin simbiosis. Keluarga Kim menyediakan layanan kemewahan untuk keluarga Park yang mengeluarkan keluarga Kim dari lingkungan miskin. Namun simbiosis itu tak bertahan lama.


Kita ini Sama-sama Parasit

Satu hal yang pasti: Hadirnya film Parasite membuat Asia semakin terkenal di dunia perfilman. Film ini membawa dampak positif juga di negara asalnya. Karena film ini, Pemerintah Kota Seoul menyatakan akan membantu 1.500 rumah tangga miskin di Seoul untuk meningkatkan kehidupannya, terutama masyarakat yang tinggal di apartemen semi-basement seperti yang digambarkan dalam film Parasite.

Ini sungguh kenyataan yang menyejukkan: Bahwa seni, sekali lagi, kembali ke fitrahnya: menginspirasi manusia untuk melakukan sesuatu bagi masyarakat dan dunia. Parasite menyindir kondisi di Seoul, membuat pemerintah semakin berkaca untuk memajukan kesejahteraan rakyatnya. Pada tataran moral, Parasite kembali mengingatkan kita bahwa kerap kita (yang kaya dan yang misikin) parasit satu sama lain. Kita tak bisa hidup tanpa induk semang kita.

Jika orang lebih senang disebut sebagai homo socius, bukan homo lupus yang saling memangsa bak parasit, itu artinya dia mesti berfikir dan bertindak lebih baik lagi. Sangat jelas dipesankan bahwa kita adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. “No Man is an Island”, kata seorang penyair.


Disadur seperlunya dari tulisan Micheel Cordes Sinaga, siswi XII IPA SMA Budi Mulia Pematangsiantar T.P. 2019-2020

Berdua Menanti Pagi Tiba

MENANTI PAGI

Pagi sebentar lagi
Kau diam dan menanti
Tak bisa kujelaskan
Yang mendesakku di dalam
Perasaan terselip harapan
Dan langit mulai menerang
I wanna be with you
For the rest of my life
Kau bawa cahaya
Dalam hidupku
Tak cuma hari ini
Kuingin selamanya
Menanti pagi tiba
Berdua
Kuberanikan diri
Memecah sunyinya pagi
Mengungkap yang tak terucap
Yang lama diam di hati
Perasaan terselip harapan
Dan langit mulai menerang
I wanna be with you
For the rest of my life
Kau bawa cahaya
Dalam hidupku
Tak cuma hari ini
Kuingin selamanya
Menanti pagi tiba
Berdua
Menanti pagi tiba
Berdua


Menanti Pagi menjadi buah dari lanjutan dari trend melankolia musik dewasa ini. Yang unik ialah bahwa lagu ini diciptakan oleh Arash Buana, seorang musisi pop muda yang baru saja menginjak usia 15 tahun. Ternyata usia yang masih dini tidak menghalanginya untuk menciptakan lagu yang enak didengarkan. Lagu yang diliris pada 8 Maret 2019 ini menjadi tambahan bukti bahwa industri musik tanah air terus melahirkan talenta muda berbakat. Karir panjang di bidang musik untuk seorang soloist pria masih menanti Arash Buana. Tentu saja ini hanya berhasil kalau ia mampu mengasah nyali dan ilmu di tengah ramainya industri musik tanah air dengan ribuan musisi yang terus berlomba menyajikan karya terbaik mereka.

Berbeda dari single sebelumnya yang pernah diciptakan oleh Lale, Hilman, Nino “Di Dekatmu” pada tahun 2017, “Bermain Bola” 2014 dan “Menunggu” 2016 ciptaan Arash sendiri menguatkan image Arash selain bernyanyi, yakni juga seorang komposer lagu.

Pada single kali ini remaja yang pernah beberapa kali membintangi beberapa film, sinetron, iklan, presenter televisi hingga drama musikal ini butuh waktu hingga satu tahun untuk menciptakan lagu “Menanti Pagi” mulai dari komposisi lagu, arasemen gitar hingga lirik nya. Awalnya Arash menulis liriknya dalam bahasa Inggris. Kemudian diterjemahkan oleh Dewi Lestari, seorang penyanyi, pencipta lagu sekaligus penulis buku yang tak perlu diperkenalkan lagi. Pada proses penggarapannya “Menanti Pagi” dibantu oleh Ade Alfiansyah, Rifandi Rusli selaku Executive Producer dan Ikay selaku ANR dan Music Producer Alfa Records.

“Menanti Pagi” secara garis besar bercerita tentang seorang pria yang sudah lama memendam rasa cinta kepada seorang wanita namun tidak berani untuk mengutarakan. Akhirnya di suatu hari menjelang pagi, sang pria berani menyatakan cintanya dan ingin menanti pagi bersama sang wanita selamanya.


Disadur seperlunya dari tulisan Abrifaldo Sumbayak, siswa XII IPS 1 SMA Budi Mulia Pematangsiantar T.A. 2019-2020

Menjadi Dewasa

Penyanyi yang bersuara emas James Arthur telah mempublikasikan lagu ini pada November 2017 dengan berjudul “Naked”. Lagu yang ditulisnya bersama Johan Carlsson, Savan Kotecha dan Max Martin ini bercerita tentang kedewasaan seseorang dalam menjalani suatu hubungan.

Naked

Hey, you there
Can we take it to the next level, baby, do you dare?
Don’t be scared
‘Cause if you can say the words, I don’t know why I should care
‘Cause here I am, I’m givin’ all I can
But all you ever do is mess it up
Yeah, I’m right here, I’m tryin’ to make it clear
That getting half of you just ain’t enough
I’m not going to wait until you’re done
Pretending you don’t need anyone
I’m standing here naked (naked, naked)
I’m standing here naked (naked, naked)
I’m not gonna try ’til you decide
You’re ready to swallow all your pride
I’m standing here naked (naked, naked)
I’m standing here naked (naked, naked)
Hey, get out
I’ve got nothin’ left to give for you give me nothin’ now
Read my mouth
If you ever want me back, then your walls need breakin’ down
‘Cause here I am, I’m givin’ all I can
But all you ever do is mess it up (all you ever do is mess it up)
Yeah, I’m right here, I’m tryin’ to make it clear
getting half of you just ain’t enough
I’m not going to wait until you’re done
Pretending you don’t need anyone
I’m standing here naked (naked, naked)
I’m standing here naked (naked, naked)
I’m not gonna try ’til you decide
You’re ready to swallow all your pride
I’m standing here naked (naked, naked)
I’m standing here naked (naked, naked)
I wanna give you everything
I wanna give you everything
I wanna give you everything
I wanna give you everything
I’m not going to wait until you’re done
‘Cause you pretended you don’t need anyone
‘Cause you see that I’m naked (naked, naked)
Oh, you see that I’m naked (naked, naked)
I’m not going to try ’til you decide
You’re ready to swallow all your pride
I’m standing here naked (naked, naked)
I’m standing here naked (I’m standing) (naked, naked)
I’m standing
I’m standing here

SEMAKIN MATANG MENJADI PENYANYI

Lagu “Naked” hadir dengan vokal yang tajam, instrumental yang menggoda, melodi menghanyutkan dan emosi yang kuat. Inspirasi dari musik Gospel dan dengan nada-nada yang terkesan “mahal” berhasil memperlihatkan sisi Arthur yang semakin matang sebagai penyanyi.

Tidak hanya terasa lebih dewasa, di dalam ‘Naked’ Arthur juga terdengar semakin piawai dalam memainkan vokalnya. Ia tahu kapan perlu untuk lembut dan kapan saatnya untuk bertenaga, sehingga lagu sangat mudah memberi kesan bagus pada para pendengarnya. Pesan yang disampaikan cukup jelas: Setiap pasangan harus membuang ego masing-masing untuk keberhasilan hubungan mereka. Dan membuang ego berawal dari pengakuan akan kesalahan:

‘Cause here I am, I’m givin’ all I can, But all you ever do is mess it up
……….I wanna give you everything.

NAKED OF TRUTH

Kebingungan muncul ketika mendengar kata ‘naked’ di dalam lirik lagu ini. Sebagian orang meyakini bahwa ‘naked’ yang dimaksud adalah telanjang secara harafiah. Namun ‘naked’ yang dimaksud adalah ‘naked of truth’ yang berarti yang sebenarnya tanpa menutupi satu hal pun. Arthur memberikan pesan bahwa di dalam hubungan tak ada hal yang perlu ditutupi.

BALADA POP-SOUL EMOSIONAL

Setelah karirnya sempat berhenti sejenak setelah merilis album debut, “James Arthur”, di tahun 2013, ia kembali melesat berkat album kedua, sekaligus “comeback” yang berjudul “Back from the Edge” (2016) yang mengantarkan hit single ‘Say You Won’t Let Go’.

Arthur siap untuk kembali menyusul sukses album dan single tersebut melalui album ketiganya. Setidaknya jika menilik sebuah single yang baru saja dilepasnya, ‘Naked’, sepertinya Arthur tidak ingin melepas momentum yang tengah diraihnya begitu saja, sehingga meluncurkan single ‘Naked’ ini.
Tapi ia punya alasan mengapa percaya diri meluncurkan ‘Naked’. Meski agak mengingatkan ‘Say You Won’t Let Go’ sebuah balada pop-soul emosional.

Apapun itu, setiap lagunya memiliki makna tersendiri.


Penulis: Kevin Ben Loda, siswa XII IPA SMA Budi Mulia Pematangsiantar T.P. 2019-2020

Cigarette of Ours

Cigarettes Of Ours

-Ardhito Pramono-

I’m sitting by the door and ready to explore
The feelings I have when you passed that store
Watch you look older
Sitting down with cigarettes of ours
Why’d you given all your money?
For such a precious story
My life is treated usual good then goodbye
To our memories
Sitting down with cigarettes of ours
Take it easy for a little while
You know he did everything good so far
Our fragmented love and cry
We suddenly turn into dust and die
I said it oooh
If you’re my only friend
Can you stay up on my pain?
The memories and the smell of she remains in my memories
Sitting down with cigarettes of ours
Take it easy for a little while
You know he did everything good so far
Our fragmented love and cry
We suddenly turn into dust and die
I said it oooooh
Don’t make it rains it’s might for a little while
I said it oooooh
Take it easy for a little while
You know he did everything good so far
Our fragmented love and cry
We suddenly turn into dust and die
I said it oooooh
Don’t make it rains it’s might for a little while
I said it oooooh

Siapa Ardhito?

Cigarettes Of Ours diciptakan dan dipopulerkan oleh Ardhito Pramono, seorang seniman muda dengan aliran musik jazz dan pop yang sangat memikat hati pendengarnya. Lagu pop ini dirilis pada 2019 dengan album A Letter to My 17 Year Old.

Pernah suatu kali, lagu ini dibawakan Ardhito Pramono secara live di Raka Fair 2019, UNILA. Saat itu, 8 Oktober 2019, sebelum Ardhito bernyanyi dia memperkenalkan bahwa ini salah satu lagu baru dan mengajak seluruh mahasiswa yang ada disana untuk nyanyi bersama-sama terlebih dahulu. Ardhito tampak sangat enjoy membawakan lagu barunya. Sembari tetap menghayati lagu dari suaranya sendiri, ia menyapa para mahasiswa yang menontonnya antusias. Tak lama mereka pun ikut menyanyi bersama Ardhito. Ia memetik gitar, diiringi pemusik lain pada trumpet, saxophone, bass dan keyboard. Penampilannya semakin apik saat ia bersiul, menambah unsur manis pada lagunya. Selain suara khas yang dimilikinya, Ardhito memang terampil memainkan gitar, keyboard dan drum sehingga memudahkannya dalam bernyanyi.

Ardhito memulai dengan intro memakai petikan gitar menyanyikan bait pertama, kedua, reff diikuti dengan suara penonton. Selesai menyanyikan Cigarettes of Ours, ia mengucapkan “Thank You” kepada para penonton lalu setelahnya diikuti petikan gitar.

Lagunya apik, penampilannya manis. Pelan-pelan Ardhito merebut hati para penggemarnya.


Dikutip seperlunya dari tulisan Yocelyn Samosir, siswi XII IPS 1 SMA Budi Mulia Pematangsiantar, T.A. 2019-2020

Dinamika Cinta di Usia Remaja

Melodylan merupakan film drama romansa remaja Indonesia yang dirilis pada tanggal 4 April 2019 lalu. Film ini diadaptasi dari novel dengan judul yang sama karya Asri Aci, yaitu Melodylan (sebelumnya telah dipublikasikan di Wattpad dan sudah dibaca lebih dari 34 juta kali). Film ini disutradarai oleh Fajar Nugros dan diproduseri oleh Rajesh Punjabi. Fajar Nugros dan Rajesh Punjabi memilih aktor dan aktris muda yaitu Devano Danendra dan Aisyah Aqila untuk membintangi film ini. Karena film ini diadaptasi dari novel, Endik Koeswoyo dipercaya menulis skrip.

Sesuai judulnya “Melodylan” dua tokoh utamanya adalah Melody (Aisyah Aqilah) dan Dylan (Devano Danendra). Film ini menceritakan tentang kisah cinta yang tak berujung antara sepasang kekasih. Sebagai siswi baru, Melody sudah menyebabkan kehebohan di seluruh penjuru sekolah karena tersebarnya kabar bahwa Dylan mengantarkannya pulang. Memang Dylan adalah cowok populer di sekolahnya, namun dia sendiri hanya menyukai Bella (Zoe Abbas Jackson), teman masa kecilnya yang mengidap penyakit sejak lama. Di sisi lain, Bella ternyata sudah lama menyimpan rasa kepada Fathur ( Angga Aldi Yunanda), yang ternyata menyukai Melody.

Usaha para tokoh dalam memerankan film ini patut diacungi jempol. Mereka mampu menghadapi kondisi cinta yang bertepuk sebelah tangan dan berusaha menyembuhkan rasa sakit hati tersebut. Para tokoh memerankan film ini dengan sangat emosional, dengan porsi akting yang pas dan tidak berlebihan. Melody dengan sifatnya yang tertutup dan keras kepala disandingkan dengan Dylan yang cuek dan sulit membuka hati untuk wanita lain, membuat hubungan mereka jauh dari kata menarik. Justru hubungan sahabat mereka Anna (Yasmin Napper) dan Angga (Indra Jegel)-lah yang lebih berkesan karena kekonyolan tingkah mereka. Walaupun ini adalah film layar lebar, tetapi ditampilkan dengan jalinan alur episodik, yang membuat film ini layaknya kumpulan bab-bab novel. Dengan latar yang beragam, film ini jauh dari kata monoton. Sutradara berhasil menciptakan suasana berbeda di setiap bagian ceritanya.

Dalam film ini, disampaikan pesan-pesan yang tentunya memberikan kesan positif bagi penontonnya. Apalagi bagi para remaja yang masih labil dalam menjalin sebuah hubungan. Film ini juga menyajikan nilai-nilai seperti nilai moral, nilai budaya, nilai pendidikan, dan nilai sosial yang memang biasanya terdapat di genre film yang serupa. Akan tetapi, selain itu, Saya belum bisa menemukan simbol-simbol dengan nilai signifikan yang khas milik film ini untuk dihadirkan buat pembaca.

Dari segi tematis, dibandingkan dengan film karya Fajar Nugros lainnya, Film Melodylan ini sedikit monoton karena berkutat seputar kehidupan anak remaja yang dinamikanya bisa dikatakan itu-itu saja. Bisa dirasakan ketika unsur komedi mulai dihilangkan, filmnya sedikit membosankan. Konflik-konflik yang seharusnya lebih rumit seperti yang ada di dalam novel menjadi terkesan dipaksakan. Peralihan bagian cerita yang satu dengan yang lain terkesan kasar, nyaris tanpa narasi penghubung. Masih ada konflik dalam film yang belum diketahui apa penyebabnya. Bagaimana mungkin Dylan begitu cepat mengaku kepada Bella bahwa dia sudah memiliki rasa kepada Melody? Apa yang terjadi sehingga Dylan tidak pamit kepada Melody untuk mengunjungi Bella yang kondisinya kembali memburuk? Momen penutupnya kurang berhasil menciptakan suasana yang emosional karena tidak dijelaskan mengapa dan kemana Dylan yang tanpa pamit menjauh dari Melody, hanya meninggalkan sebuah CD berisi video perpisahan yang disiapkan Dylan untuknya.


Disempurnakan dari tulisan Yemima Girsang, siswi XII IPA SMA Budi Mulia Pematangsiantar, T.P. 2019-2020

Sakura yang Rontok 5 Centimeter tiap Detik

Byōsoku 5 Centimeter (Byōsoku Go Senchimētoru, 5 Centimeters Per Second, 5cm/s, atau “Lima Sentimeter per Detik”) merupakan sebuah film anime Jepang tahun 2007 oleh Makoto Shinkai. Dirilis oleh studio CoMix Wave Films, anime dari genre Slice of Life ini tamat ditayangkan pada tanggal 22 Januari 2007. Byosoku adalah sekuel ketiga. Selengkapnya Ōkashō (桜花抄), Cosmonaut (コスモナウト), dan Byōsoku 5 Senchimētoru (秒速5センチメートル) dengan total waktu tayang keseluruhannya adalah satu jam. Sebagaimana film-filmnya yang sebelumnya, soundtrack film ini digubah oleh Tenmon.

DVD Byōsoku 5 Centimeter dikeluarkan pada tanggal 19 Juli 2007. Novel 5 Centimeters Per Second yang merupakan pengembangan cerita dari versi filmnya juga dibuat Versi manganya yang berbetuk serial diterbitkan oleh Afternoon mulai bulan Juli 2010, diilustrasikan oleh Seike Yukiko.

Film ini bercerita tentang kisah kehidupan Takaki Tōno dan Akari Shinohara dari masa kecil hingga dewasa. Takaki Tōno dengan segera bersahabat dengan Akari Shinohara saat mereka berdua baru saja pindah pada Sekolah Dasar yang sama. Setelah tamat mereka sempat berpisah namun Takaki pindah kesekolah Akari. Mereka semakin dekat dan berencana mengungkapkan perasaan mereka. Tetapi tidak pernah kesampaian, hingga akhirnya mereka terpisah dan menjalani kehidupan masing-masing.

Makoto Shinkai telah mengatakan bahwa, tidak seperti film-filmnya sebelum ini, Byōsoku 5 Centimeter tidak mempunyai elemen fiksi ilmiah maupun fantasi seperti karya sebelumnya yaitu Hoshi no Koe (Voice of the Distance Star atau “Suara Bintang nan Jauh”) dan Kumo no Mukō, Yakusoku no Basho (Beyond the clouds, the promised place, The Place Promised in Our Early Days atau “Menembus Awan, Tempat yang Dijanjikan”) di dalam penceritaannya. Sebaliknya, film ini mencoba untuk mengisahkan dunia sebenarnya dari perspektif yang berbeda. Film Makoto ini memberi sebuah pandangan yang lebih realistik akan halangan yang dihadapi manusia, waktu, ruang, dan cinta. Film ini diterjemahkan sebagai “5 Sentimeter per Detik”, berdasarkan kecepatan kelopak bunga sakura yang rontok, dimana kelopak bunga merupakan representasi metaforikal manusia, mengenai kehidupan dan bagaimana manusia yang memulai kehidupan bersama akan berangsur-angsur berpisah dalam kehidupan mereka sendiri-sendiri.

Tiap-tiap bagian memberikan sketsa kecil yang menyenangkan, tetapi secara menyeluruh mereka menggambarkan gambaran lebih besar mengenai perkembangan hidup dan cinta. Ending-nya, yang berbeda dari kebanyakan karya Shinkai sebelumnya, menjadi kontroversial dan membuat beberapa penggemar menjadi tidak puas, karena terbuka untuk berbagai interpretasi. Sebagian merasa bahwa film tersebut berakhir tanpa memberikan penyelesaian apapun. Sebenarnya, jika mereka melihat kembali beberapa perkataan Takaki di Episode 2, saat bagian tersebut berakhir, dan bagaimana segalanya bergabung menjadi satu, akan menjadi jelas bahwa penyelesaian masalah bukanlah inti dari cerita. Bila Hoshi no Koe berusaha untuk mengelola hubungan sementara The Place Kumo no Mukō, Yakusoku no Basho meneguhkan kembali suatu hubungan, Byōsoku 5 Centimeter menceritakan bagaimana bergerak dari koneksi masa lalu, tentang menemukan jalan untuk menjadi bahagia di masa sekarang daripada hanya bersedih atas apa yang hilang selama ini. Dengan pengertian itu Byōsoku 5 Centimeter menjadi karya Shinkai yang paing dewasa dan komplikatif hingga sekarang.

Banyak juga penggemar Film Anime karya Makoto Shinkai yang tidak terima dengan Ending film Byōsoku 5 Centimeter karena pada akhirnya, Takaki dan Akari tidak bersama (menikah atau pacaran). Akari sudah memiliki tunangan yang bernama Taichi. Mereka sempat berpapasan di rel kereta api seperti masa kecil mereka. Namun, alih-alih menunggu kereta apinya lewat, Takaki lebih memilih untuk berpaling dan melangkah maju.

Sumber: Wikipedia, My Anime List, Fandom


Disempurnakan dari tulisan Joy Cristabel Sinaga, siswa XII IPA SMA Budi Mulia Pematangsiantar T.A. 2019-2020