DONALD HAROMUNTHE

For Those Whom I Can't Talk With

Category: Tuhan (Page 1 of 2)

Muslim dan Kristen, “Ambil dan Bacalah”

Ateis, Agnostik dan Teis Dikaruniai Akal

Kalau Anda punya waktu untuk browsinng di internet, cobalah iseng mengetik keywords Dawkins’ Scale, Nietszche, religious people less intelligent,  mudah-mudahan Anda akan memperoleh sekilas gambaran betapa wacana religiositas mempengaruhi keterbukaan kaum beragama terhadap ilmu pengetahuan dan informasi ilmiah yang terbaru secara jujur.

Harapan dari tulisan singkat Saya ini semoga bisa bermuara pada penyadaran sederhana bahwa sebagai satu spesies homo sapiens sesuai evolusi Charles Darwins (either you accept Darwinism or not) dan taksonomi Carolus Linnaeus, situasi dianugerahkannnya akal budi kepada semua manusia itu berlaku umum, entah Anda kaum (yang menyebut diri beragama), agnostik (para peragu kritis akan benar-tidaknya eksistensi Tuhan) dan ateis (teman-teman yang tidak meyakini adanya Tuhan berangkat dari lack of evidence) sesuai nomenklatur Dawkins’ Scale.

Sebagai golongan teis paling peraih dua statistik terbesar di KTP menurut data pemerintah Republik Indonesia, layak rasanya jika teman-teman Muslim dan Kristen merenungkan dan mengevaluasi kembali sejauhmana pencerapan kita terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan informasi. Tidak perlu rumit-rumit, pakai saja empat indikator utama literasi dalam mengukurnya, yakni reading, writing, listening and speaking. Jadi, alih-alih berbalik menyerang (seringkali tanpa sadar kita bumbui dengan berbagai logical fallacies yang sulit kita hilangkan) rekan ateis yang kerap melakukan bully seakan-akan fakta keberagamaan kita berbanding lurus dengan tingkat ignoransi, jadilah well-prepared “membela” rasionalitas dari iman yang dimiliki dengan memperkaya diri dengan segala pengetahuan dan sikap terbuka yang perlu untuk itu.

Teman Muslim, Warnailah Dunia dengan Menulis

Kemarin, pada hari ke-17 Ramadhan, pada malam Nuzulul Qur’an seorang teman online Saya di aplikasi Line mengirim pesan terusan dari M. Anwar Djaelani, penulis buku “Warnai Dunia dengan Menulis” kepada Saya. Berikut isi pesannya:

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu-lah yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran Qalam (tulis-baca). Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya” (QS [96]: 1-5).

Modal Sukses

Di negeri ini, di tiap17 Ramadhan, umat Islam banyak yang mengadakan Peringatan Nuzulul Qur’an. Di acara ini, hampir pasti lima ayat Al-Qur’an yang kali pertama diwahyukan kepada Nabi Muhammad Saw dan yang terjemahnya menjadi paragraf pembuka tulisan ini akan dibacakan. Akibatnya, nyaris tak ada umat Islam yang tak tahu perintah ini: Iqra’ (Bacalah).

Acara itu secara umum diniati untuk menjadi media agar kita lebih mencintai Al-Qur’an (dalam makna, lebih bersemangat untuk mengamalkan semua ajaran di dalamnya). Dalam kaitan ini, mestinya kita harus lebih mencermati perintah membaca dan menulis. Jika itu yang kita kerjakan, sungguh kita akan punya gambaran bahwa di depan Islam, aktivitas membaca dan menulis mendapat nilai yang sangat tinggi dan akan menjadi katalisator tegaknya sebuah peradaban mulia.

Di ayat pertama sangat jelas meminta kita untuk membaca. Apa yang harus dibaca? Semua ayat Allah, baik yang tertulis ataupun yang tak tertulis. Ayat yang tertulis adalah Al-Qur’an. Ayat tak tertulis adalah alam semesta dan seisinya yang merupakan ciptaan Allah.

Di antara ayat-ayat itu, sangat banyak yang harus dijelaskan lebih lanjut. Misal, kita diminta ‘menerangkan’ bagaimana unta diciptakan, langit ditinggikan, gunung-gunung ditegakkan, dan bumi dihamparkan?” (baca QS [88]: 17).

Jika demikian, apakah Al-Qur’an tak sempurna seperti yang digambarkan antara lain di QS [2]: 2? Sama sekali tidak! Lewat ayat yang membutuhkan penjelasan lebih dalam itu Allah justru memberi sarana kepada manusia agar memanfaatkan akal yang dipunyainya. “Hai jamaah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah. Kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan”(QS [55]: 33).

Kekuatan apa? Kekuatan akal! Maka, di Al-Qur’an banyak ayat yang berupa rangsangan Allah agar kita terus memikirkan ciptaan-Nya. “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal” (QS [3]:190).

Di titik ini, agar pembacaan kita atas ayat-ayat Allah lebih bisa dirasakan manfaatnya oleh kaum yang lebih luas, maka perlulah kesemuanya ditulis. Di sinilah makna penting ayat ke-4 dari QS Al ‘Alaq, bahwa Allah yang mengajar (manusia) dengan perantaran qalam (tulis-baca).

Aktivitas membaca dan menulis itu saling terkait. Pertama,kita diminta untuk membaca. Terkait ini, tentu diperlukan bahan bacaan. Bagi Muslim, bacaan utama adalah Al-Qur’an (bahkan, Al-Qur’an menurut bahasa maknanya adalah bacaan atau yang dibaca). Setelah itu, Al-Qur’an (plus ayat Allah yang tak tertulis) perlu dijelaskan oleh “kaum yang berakal”. Di titik ini, kita memerlukan penulis dari kalangan ulama dan cendekiawan Muslim, yang bisa menyediakan bahan bacaan yang baik.

Kedua, untuk membuat tulisan yang baik, penulis butuh ilmu atau wawasan. Untuk itu, penulis harus banyak membaca. Bukankah –kita tahu- bahwa tulisan yang baik itu hanya akan lahir dari pembaca yang tekun?

Tampak, bahwa aktivitas membaca dan menulis seperti dua sisi mata uang yang satu dan lainnya tak boleh tiada. Keduanya harus ada, karena saling bergantung.

Terkait hasil beraktivitas membaca dan menulis, tercatat bahwa sejarah umat Islam di tujuh abad pertamanya adalah rangkaian kisah gemilang sebuah peradaban. Kala itu, ilmu –yang diperoleh lewat membaca dan menulis- berkembang pesat. Ilmu menopang penemuan berbagai teknologi yang membuat hidup manusia lebih nyaman. Tak hanya itu –dan bahkan ini yang paling penting- ilmu ketika itu bisa membuat manusia lebih mengenal siapa Tuhannya.

Bangun, Bangkit!

Sekarang, kita tengok sebuah negeri berpenduduk Muslim terbesar di dunia. Pertama, di antara cita-cita dari pendiri negeri ini adalah “Mencerdaskan kehidupan bangsa”. Usaha itu, tak dapat tidak, harus dilakukan lewat peningkatan aktivitas membaca dan menulis. Masalahnya, sudah seperti itukah kita?

Lihatlah, di segi minat baca! Ternyata, menurut UNESCO, pada 2012 indeks minat membaca masyarakat Indonesia 0,001. Artinya, dari setiap 1.000 orang hanya seorang yang punya minat baca (www.linggapos.com 28/09/2013).

Lalu, bagaimana dengan minat menulis? Kita pakai logika saja. Aktifitas membaca diperlukan untuk menjadi modal menulis. Maka, bisa dipastikan, bahwa minat menulis kita akan lebih rendah jika dibandingkan dengan minat membaca. Asumsinya, bagaimana mungkin seseorang akan suka menulis jika dia tidak senang membaca?

Kini, tak usah meratap, tapi – sebaliknya – mari bangkit!

Pertama, kepada para Ulama, jadilah seperti Nabi SAW yang sangat menomorsatukan akivitas membaca dan menulis. Apa yang terjadi pasca-Perang Badar cukup memberi pelajaran kepada kita. Kala itu, atas tawanan perang dari pihak musuh yang ingin bebas, Nabi Saw hanya memberikan syarat ‘sederhana’ yaitu si tawanan memberikan pelajaran baca-tulis terlebih dulu kepada umat Islam. Lihat, Nabi Saw tak meminta tebusan harta tapi sebuah ‘modal sukses’ yaitu kecakapan membaca dan menulis. Dalam konteks ini, duhai ulama, gairahkan umat Islam untuk gemar membaca dan menulis.

Kedua, kepada pemerintah. Amanah yang Anda pikul cukup berat. Sudahkah Anda menyediakan strategi yang bagus sedemikian rupa membaca dan menulis (sebagai bagian paling pokok dari usaha “Mencerdaskan kehidupan bangsa”) dapat menjadi keseharian dari semua murid / mahasiswa dan warga pada umumnya?

Mari bangkit, songsong peradaban mulia dengan menjadikan aktivitas membaca dan menulis sebagai keseharian kita. Hanya dengan cara demikian, peringatan Nuzulul Qu’an yang kita selenggarakan tiap tahun tak sia-sia.

Teman Kristen, Ambil dan Bacalah!

Entah Anda Katolik atau pengikut salah satu dari ribuan denominasi Protestantisme, sebagai orang yang gemar membaca dan mengikuti perkembangan sejarah literatur Gereja, nama Aurelius Agustinus dari Hippo tentu bukan nama yang asing lagi. Khusus untuk Gereja Katolik, penulis dari zaman Gereja sebelum abad Pertengahan ini, Santo Agustinus dari Hippo (Afrika Utara) ini dinobatkan sebagai salah satu dari beberapa Pujangga Gereja dengan buah-buah pemikiran yang masih relevan dan karenanya menjadi referensi dari berbagai dokumen doktrinal Gereja hingga hari ini.

Salah satu anjuran Santo Agustinus yang banyak dijadikan inspirational quote adalah “tolle et lege” (Lat., artinya: ambillah dan bacalah). Seorang teman blogger menyuguhkan review singkatnya sebagai parafrase yang cukup apik terhadap anjuran tersebut. Berikut isi review-nya (tanya teman atau gunakan Google Translate, Tradukka atau tools penterjemah lain jika Anda kesulitan memahami teks berbahasa Inggris):

“But when a deep consideration had from the secret bottom of my soul drawn together and heaped up all my misery in the sight of my heart; there arose a mighty storm, bringing a mighty shower of tears. Which that I might pour forth wholly, in its natural expressions, I rose from Alypius: solitude was suggested to me as fitter for the business of weeping; so I retired so far that even his presence could not be a burden to me. Thus was it then with me, and he perceived something of it; for something I suppose I had spoken, wherein the tones of my voice appeared choked with weeping, and so had risen up.

He then remained where we were sitting, most extremely astonished. I cast myself down I know not how, under a certain fig-tree, giving full vent to my tears; and the floods of mine eyes gushed out an acceptable sacrifice to Thee. And, not indeed in these words, yet to this purpose, spake I much unto Thee: and Thou, O Lord, how long? how long, Lord, wilt Thou be angry, for ever? Remember not our former iniquities, for I felt that I was held by them. I sent up these sorrowful words: How long, how long, “tomorrow, and tomorrow?” Why not now? why not is there this hour an end to my uncleanness?

So was I speaking and weeping in the most bitter contrition of my heart, when, lo! I heard from a neighbouring house a voice, as of boy or girl, I know not, chanting, and oft repeating. ‘Take up and read; Take up and read.’ [’Tolle, lege! Tolle, lege!’] Instantly, my countenance altered, I began to think most intently whether children were wont in any kind of play to sing such words: nor could I remember ever to have heard the like. So checking the torrent of my tears, I arose; interpreting it to be no other than a command from God to open the book, and read the first chapter I should find.

Eagerly then I returned to the place where Alypius was sitting; for there had I laid the volume of the Apostle when I arose thence. I seized, opened, and in silence read that section on which my eyes first fell: ‘Not in rioting and drunkenness, not in chambering and wantonness, not in strife and envying; but put ye on the Lord Jesus Christ, and make not provision for the flesh, in concupiscence.’ [Romans 13:14-15] No further would I read; nor needed I: for instantly at the end of this sentence, by a light as it were of serenity infused into my heart, all the darkness of doubt vanished away.”

Jika ingin membaca secara penuh karya Agustinus yang memuat quote tadi, silahkan mencari di perpustakaan yang ada, entah offline atau online. Berikut ini detail dari referensi yang Saya maksud:

Aurelius Augustine, The Confessions of St. Augustine, translated by Edward Pusey. Vol. VII, Part 1. The Harvard Classics. New York: P.F. Collier & Son, 1909–14.

Fides et Ratio (Iman dan Akal Budi)

Mencari titik temu (interseksi) antara iman (yang doktrin dan penjelasannya pertama-tama tidak harus melalui standar metode ilmiah) dan ratio (akal budi) adalah tugas bagi setiap akademisi, pemuka jemaat (pastor, pendeta, bijbelvrouw, katekis, penceramah, kyai, ustadz dan ustazah) termasuk seluruh umat beragama. Sekali lagi, secara khusus, seruan ini dialamatkan kepada teman-teman Muslim dan Kristen, golongan teis Indonesia paling peraih dua statistik terbesar di KTP menurut data pemerintah.

Anda bisa mulai dengan memperbanyak frekuensi membaca dua jenis buku sekaligus. Satu, Kitab Suci Anda dan ribuan tafsir-tafsirnya. Dua, buku ilmiah yang berbicara tentang topik terkait di perikop atau ayat yang sedang Anda perdalam. Mudah-mudahan, dengan konsisten melakukan rutinitas membaca dengan cara itu, perlahan Anda bisa berdamai dengan realitas keberagaman sumber literasi terhadap topik atau bahasan yang ingin Anda perdalam. Contoh sederhana, jika selama ini Anda hanya tahu tradisi pengetahuan tentang sosok Tuhan monoteistik yang Anda puja, Anda akan segera menemukan bahwa nama dari Tuhan yang Anda puja hanyalah salah satu dari ribuan (nama) Tuhan yang dipuja umat manusia sepanjang sejarah manusia. Ternyata, ada banyak sekali (nama) Tuhan dan tradisi yang menyertainya. Tradisi yang Anda lakukan hingga hari ini hanyalah salah satu diantaranya.

Atau, jika Anda merasa bahwa terlalu konyol jika masih mempercayai bahwa setiap manusia tercipta secara literer dari tanah, padahal Anda tahu bahwa Anda sendiri adalah hasil dari senggama antara Ayah dan Ibu Anda, tidak ada salahnya Anda membaca teks Kitab Suci Anda lalu mulai membandingkannya dengan literatur ilmiah terkait. Ada banyak sekali sumber yang bisa dibaca.

Membaca secara konsisten dan berdamai dengan situasi (bahwa menemukan interseksi yang dimaksud ternyata tidak mudah) ilmu keagamaan dan kemajuan sains teraktual yang tidak serta-merta sejalan, memang bukan hal yang mudah dan nyaman. Tapi, seperti kita pada awalnya susah payah memadukan huruf-demi huruf dan akhirnya kita bisa mengeja nama kita sendiri dengan benar, toh akhirnya kita berhasil melewati situasi itu. Tidak ada salahnya, kita kembali “belajar membaca”.

Saya sendiri masih berusaha membaca dengan metode membaca semacam itu. Kegelisahan intelektual ini sedikit bisa saya redam setelah membaca ensiklik dari Paus Yohanes Paulus II yang langsung mengusung judul “Iman dan Akal Budi”.  Jika tertarik, Anda bisa juga mencoba hal serupa.

Untuk mengetahui isi lengkap dari Ensiklik Fides et Ratio yang ditulis oleh (Alm.) Paus Paulus Yohannes II yang kini sudah dibeatifikasi menjadi Santo Yohannes Paulus II, silahkan klik disini:

Ensiklik Fides et Ratio by Vatican.Va


Anda bisa memulainya sekarang. Selain Anda punya Alkitab, tentu Anda juga punya buku-buku sains yang membahas tema terkait. Selain Anda punya Alquran, tentu Anda juga punya buku-buku sains yang berbicara tentang topik sejenis. Tidak harus mulai dengan tulisan yang sulit seperti Confessiones-nya Agustinus, atau puisi-puisi sofistik Jalaluddin Rumi, atau Kitab Kuning-nya Islam Nusantara. Anda bisa mulai dengan memanfaatkan akses internet yang Anda miliki.

Anda bisa mulai dengan membaca lebih banyak informasi dari sumber terpercaya. Jika Anda selama ini lebih banyak menikmati sumber bacaan yang sifatnya satu arah (dari tokoh atau media tertentu yang begitu mempengaruhi Anda sampai Anda tidak ngeh bahwa mereka juga adalah manusia yang tidak mustahil menyertakan unsur subjektifitas dalam penyampaian informasi atau ilmu, sekalipun mereka menyebut atau meminjam otoritas dari agama tertentu atau Tuhan sekalipun), saatnya Anda memperbanyak frekuensi untuk membuka diri pada diskusi dengan anggota yang beragam latar belakang keagamaan.

Jika Anda cukup konsisten dengan sikap ilmiah dan rasional yang sejatinya sudah Anda miliki, berdiskusi dengan anggota dari masing-masing Dawkins’ scale yang berbeda, kelak bukan lagi masalah buat Anda. Anda tidak perlu lagi bertegang urat leher dengan rekan diskusi yang kelihatan seolah menyerang doktrin atau akidah yang selama ini Anda pegang teguh mati-matian. Malahan, Anda akan belajar lebih banyak.

Konon, Tuhan menitipkan ilmu dan pengetahuan dimana-mana, termasuk pengetahuan dan pengenalan tentang Diri-Nya sendiri. Wallahualam.

So, whenever you can afford any book, “tolle et lege”, ambil dan bacalah.

 

Lirik “Nang Gumalussang Akka Laut”

Nang gumalunsang angka laut.
Rope nang halisungsung i.
laho mangharomhon solungki.
Molo tuhan parhata saut.
Mandok hata na ingkon saut.
Sai saut doi, sai saut doi, sai saut doi.

Ndang be mabiar ahu disi.
Mangalugahon solukki.
Molo Tuhanhu do donganhi.
Tung godang pe na musukki.
Na mangharophon solunghi.
Sai lao do i, sao lao do i sian lambungku i.

Hatop marlojong do solukku tu labuhan na sonang.
Naso adong be dapot hasusahan i.
Tudos tu si nang pardalananhi.
Laho mandapothon surgo i.

Sipata naeng lonong do ahu.
Sohalugahan galumbang i.
Tudia ma haporusanku i.
Ingkon hutiop tongtong jesus i.

Ditogu-togu tanganhi
Di dalan na sai maol i.
Di parungkilon hasusahan.
Tung Jesus haporusanhi.
Nang pe di dalan lao tu surgo i,
Diiring Jesus ahu disi.

(Interlude)

(repeat once more from the beginning)


Koor HKBP Ama Menteng menyanyikan lagu ini dengan cukup apik, ditambah simfoni orkestra merdu membahana, seperti bisa kita saksikan di video Youtube ini:

Syair disempurnakan dari LirikLaguBatak.Com

Remaja Katolik yang Kesepian

John yang Linglung

John membolak-balik diary lamanya, tempat dia menumpahkan pengalaman harian dan curahan hati yang tidak berani dia sampaikan ke siapapun. Sebagian besar karena  dia tidak yakin bahwa orang yang akan menjadi teman bicaranya bisa mengerti kompleksitas pergulatan batin yang dia alami. Sebagian lagi karena dia juga tidak yakin bahwa masih ada teman yang cukup arif dan bijaksana untuk tidak menyalahgunakan informasi personal yang begitu sensitif yang ia sampaikan.

Umumnya ketika ada temannya yang mengatakan “tenang bro, gua nggak bakal ngasih tau hal ini ke siapapun kok“, instingnya mengatakan bahwa itu pasti bohong.

Masuk akal, John belajar dari pengalaman sebelumnya.  Ia pernah memberitahu temannya bahwa ia masih belum mengerti bagaimana Tuhan-nya umat Katolik bisa begitu tega membiarkan anak-anak Afrika kelaparan sementara Ia menjanjikan “negeri berlimpah susu dan madu” kepada umat-Nya. Esoknya ia dipanggil oleh guru agama untuk bimbingan pribadi dan diberi PR untuk menulis 5 pasal dari Kitab Keluaran dengan tulisan tangan.

Belakangan John tau bahwa Tuhan yang sama adalah Allah bagi umat Yahudi, Katolik, Kristen dan Muslim.

Hanya diary lusuh inilah yang menjadi tempatnya mengungkapkan pergulatan batinnya dengan aman, dengan resiko yang sangat kecil. Tak heran ia selalu menyembunyikan buku hariannya di bawah tempat tidur dan tak pernah lupa membawanya kemanapun dia pergi.

John memang seorang kutu buku sejati. Ia juga tak pernah bosan menghabiskan waktu dengan membaca bacaan yang bagus di internet. Semakin banyak bacaan yang dia lahap, semakin rajin pula dia menulis. Sikapnya yang perfeksionis membuat situasi semakin sulit. Lingkungannya bergaul semakin sempit.

John pernah tertarik masuk ke Seminari Menengah di kota terdekat kampung halamannya. Konon mutu pendidikan di Seminari adalah yang terbaik di kota. Waktu itu, sebagai murid yang menonjol di sekolah dan anak asrama yang baik di bawah bimbingan para biarawati yang keibuan dan perhatian, John adalah satu dari segelintir murid yang selalu disodorkan namanya oleh kepala sekolah setiap kali pastor paroki datang mengunjungi sekolah tersebut untuk mencari anak-anak yang berminat untuk dididik sebagai calon imam Katolik di Seminari.

Tapi niatnya kandas. Sebagai murid yang gemar membaca, John segera tahu bahwa imam dan biarawan-i terikat pola hidup selibat. John tidak mau. Ia belum pernah mengungkapkan perasannya pada Clarissa, tetapi dari lubuk hatinya yang paling dalam ia tidak pernah lupa getaran aneh yang dia rasakan ketika duduk sebangku dengan Clarissa. Ia jatuh cinta dengan gadis belia berlesung pipit itu.

Kala itu jemari Clarissa yang lembut menyentuh lengannya, menyadarkannya bahwa gejolak ini bukan hanya karena gejolak pubertas yang meninggi seiring dengan tumbuhnya bulu-bulu halus di beberapa bagian tubuhnya. Bagi John, jelas bahwa ini misi yang harus diembannya: Ia harus berhasil menjadi pemuda yang sukses supaya kelak Clarissa jatuh hati padanya, lalu bersedia menjadi isterinya. John harus memperistri Clarissa.

Di antara teman seusianya, John merasakan bahwa ia memiliki frekuensi pemikiran yang berbeda. Ketika teman-temannya menghabiskan waktu dengan video game, klub sepakbola, atau kenakalan-kenakalan remaja yang pernah mereka lakukan untuk diceritakan dengan bangga, John senang melakukan survey kecil-kecilan untuk membandingkan seberapa lurus perbandingan antara teori yang dia baca di buku dengan kenyataan yang ia temui di lapangan.

Berkat “hobi” uniknya itu, John jadi tahu bahwa foto-foto selfie Instagram teman-temannya yang berpose di depan mobil pribadi adalah palsu. Atau bahwa foto-foto teman-temannya sedang makan di restoran mewah dan banjir caption dan tagar #romantic #happy #beautiful #sweet yang berseliweran di timeline-nya tidak lain dari upaya pamer kekayaan orangtua mereka, bukan hasil keringat sendiri.

John sempat depresi cukup lama ketika tahu bahwa Clarissa ternyata tidak sebaik yang dia bayangkan. Belum sempat ia menyatakan perasaannya pada gadis pujaan hatinya itu, ia mendengar kabar bahwa Clarissa sudah menikah dengan seorang pemuda lantaran sudah terlanjur hamil duluan. Kasian John. Berharap bahwa suatu saat ia bakal bisa bercerita apapun dengan Clarissa, ternyata tidak. Ternyata, tetap hanya diary ini yang bisa menjadi tempat curahan hatinya.

Lonely boy via HuffingtonPost.Com

John tidak putus asa. Hobinya membaca menjadi pelarian yang sempurna. Dengan daya bacanya yang luar biasa, ia tidak pernah ketinggalan di kelas, kendatipun selain buku pelajaran ia masih sempat melahap habis serial novel Sydney Sheldon, Musashi, Harry Potter dan Sherlock Holmes. Ia juga sudah membaca “Sejarah Tuhan” karangan Karen Armstrong di tingkat dua masa kuliahnya, buku yang judulnya saja tidak pernah didengar oleh teman sekampusnya. Ia tidak begitu menikmati roman karangan novelis Indonesia, kecuali tulisan Pramoedya Ananta Toer yang membuatnya semakin bangga menjadi orang Indonesia sekaligus Katolik. Bagi John, pola pikir Gereja Katolik terhadap ajaran sosial masih yang lebih baik di tengah tarik-menarik antara kapitalisme dan sosialisme utopian Karl Marx.

Sesekali ia mencoba keluar. Ia mencari kelompok kategorial OMK, dimana ia mungkin bisa menemukan teman yang sefrekuensi pemikiran dengannya.

John pernah mencoba bergabung di kelompok koor tapi lalu mual karena ternyata pelatih koor yang awalnya tampak kharismatik di matanya, tidak jauh berbeda dengan lelaki yang telah menghamili Clarissa. Dua bulan kemudian ia mendengar pengumuman di gereja bahwa pelatih koor tersebut akan menikah dengan salah satu anggota koornya yang masih baru saja menyelesaikan Ujian Akhir SMA. Alih-alih melanjutkan ke perguruan tinggi bergengsi, wanita itu harus menggendong bayi beberapa bulan kemudian di usia yang masih sangat belia. Si pelatih koor tidak pernah terlihat lagi di paduan suara mingguan gereja.

Pernah juga ia mencoba mengikuti persekutuan doa karismatik. Tapi lalu John merasa aneh melihat para peserta menangis meraung-raung dan meneriakkan kata-kata aneh. Seaneh-anehnya mantra-mantra yang diciptakan J.R. Tolkien dan JK Rowling di buku-buku fiksi kesukaannya, masih lebih aneh kosakata yang keluar dari mulut kelompok para pendoa itu. Sulit bagi John untuk menerima bahwa cara berdoa demikian, yang disebut “glossolalia” atau bahasa Roh oleh pemandu doanya, sebagai tanda orang dikaruniai Roh Kudus. Alhasil, John tidak pernah lagi mengikuti persekutuan itu untuk kali kedua.

Meja Makan yang Sunyi

John tidak pernah bosan dengan Gereja Katolik. Lebih tepatnya, John penasaran. Terutama demi melihat sang ibu. Ibunya yang selalu rajin ke gereja dan berdoa rosario setiap kali ada permasalahan serius di keluarga mereka, menjadi insipirasi bagi John.

John kerap takjub melihat betapa sabar ibunya bertahun-tahun menghadapi ayahnya yang kerap mabuk-mabukan dan gemar bermain wanita itu. Sepeninggal almarhum ayahnya yang meninggal karena ketergantungan akut dan kronis pada alkohol, John tak pernah sekalipun mendengar ibunya mengutuki Gereja atau mengeluh betapa tidak adilnya Tuhan. Ibunya tak pernah absen mengikuti misa.

Sebaliknya, John yang merasa menderita karena harus menemani ibu mendengarkan homili dari pastor yang seolah tidak dipersiapkan dengan baik. Kadang John merasa, jika sepanjang waktu si pastor hanya membaca teks  saja sepanjang homili, ditambah lagi dengan rambut awut-awutan dan wajah kurang tidur itu, lebih baik umat dibagikan saja teks homilinya untuk dibaca masing-masing di rumah.

Makan malam adalah momen yang paling ditunggu John. Selain koki yang baik, ibunya adalah sosok yang selalu punya alasan bagi mereka berdua untuk berbicara panjang lebar di meja makan yang sepi itu. Praktis hanya John dan ibunya yang tinggal di rumah itu sejak kakak John satu-satunya jarang mengunjungi mereka setelah menikah dan mempunyai keluarga sendiri. Ibu selalu berhasil mengajak John untuk bercerita tentang kuliahnya di kampus, gadis mana yang sekarang John taksir, atau kegiatan John lainnya.

Hal yang juga tetap berlanjut setelah John lulus kuliah dan menemukan pekerjaan yang lumayan di kantornya yang sekarang. John kadang berusaha membagikan pengalaman dan pergumulan hariannya. Hanya saja, belakangan John merasa ibunya tidak lagi tahan berlama-lama mendengarkan celoteh dan cerita John tentang prestasinya, tekanan kerja dan persaingan yang sangat ketat di kantornya, atau tentang update terbaru di perusahaannya.

Apalagi setelah sang ibu kini semakin rajin melakukan doa devosi kepada santo-santa. Ada-ada saja devosi baru yang diperkenalkan oleh pastor parokinya. Anehnya sang ibu selalu antusias untuk mempraktekkan devosi-devosi itu. Tahun kemarin Devosi kepada Santo Johannes, tahun ini kepada Kerahiman Illahi. Ada devosi kepada Maria dari Guadalupe, ada doa kepada Maria dari Fatima, entah apa bedanya. Belakangan John sadar bahwa ada ribuan santo-santa jumlahnya di Gereja Katolik. Tidak masalah buat John. Setidaknya, John melihat ibunya sangat menikmati devosi-devosi itu.

Rapat-rapat di kantor dan target yang semakin tinggi di kantor membuat John semakin sering pulang larut malam. Semakin sering pula ia menemukan ibunya sudah tertidur begitu ia tiba di rumah dan menyantap makanan yang sudah disediakan ibunya. Merasa tidak enak, John kerap berpesan bahwa ia sudah makan di kantor dan ibunya tak perlu memasak lagi khusus untuk makan malam.

Romansa yang Kering

John yang perfeksionis kadang merasakan bahwa sudah saatnya ia membuka hati pada wanita lain. Tapi tak satupun wanita yang menarik perhatiannya. Kerap juga John merasa jangan-jangan dia menaruh kriteria yang terlalu tinggi untuk seorang karyawan biasa di kantornya. Ia sudah lama melupakan Clarissa dan debar pubertas yang dirasanya terlalu kekanak-kanakan itu. Di lubuk hatinya, John ingin mencari seorang gadis yang memiliki sifat keibuan dan sesabar ibunya. John tidak naif bahwa pasangan seiman adalah prioritas pertama dalam pencariannya. Belum lagi, karena UU Perkawinan di Indonesia yang masih belum berpihak banyak pada perkawinan pasangan beda agama. Masalahnya, dari antara wanita di kantornya hanya sedikit yang seiman dengannya.

Ia sempat PDKT dengan Ursula, staf admin yang tampak ramah pada pertemuan-pertemuan pertama mereka. Tetapi sekali waktu ia melihat foto Ursula di Instagram. Gadis itu tampak bergelayut mesra di pangkuan seorang pemuda di pantai, ia menghentikan PDKT-nya.

Couple in the beach via Dusk-TV.Com

Dengan Margareth sempat pula John berniat untuk mengajaknya kencan. Tetapi John segera minder begitu tahu bahwa Margareth menolak halus ajakannya menonton di bioskop ketika managernya menjemput Margareth dengan mobil Lamborghini yang tampak mengkilat. Malam itu John pulang mengendarai sepeda motor bututnya dengan keadaan lesu.

Sebetulnya ada juga Priscilla, teman sekerjanya yang selalu tersenyum ramah menyapa selamat pagi. Tapi dalam beberapa kali pembicaraan dengan Priscilla, wanita itu tak henti-hentinya berbicara tentang pastor ini atau frater itu yang menurutnya sangat baik dan rajin mengunjungi rumah keluarganya.

Entah mengapa, John ill feel ketika ia iseng mengecek timeline Facebook si Priscilla yang hampir setiap hari berisi kutipan ayat-ayat Kitab Suci. Bukan apa, John juga tahu bahwa Priscilla termasuk satu diantara kelompok wanita yang senang menggosipi rekan-rekan kerja lain di kantor. Apa saja yang terjadi pada seorang karyawan di kantor, Priscilla seolah punya pemikiran yang aneh dan menjadikannya bahan untuk dijadikan gosip. John mengurangi frekuensi pertemuan dengan Priscilla ketika setengah tersenyum ia mengulik profil Facebook Priscilla, tertulis “Pelayan di Ladang Anggur Tuhan”. “Fine, I am not into you, dear“, batin John.

Tak sedikit teman John yang menganjurkannya untuk mencoba mencari teman wanita lewat berbagai media sosial yang ada. “Come on, John. Lot of lonely girls are online, looking for cool guy like you. They are everywhere. Di Facebook, Instagram, Snapchat, Twitter, Path, Line, Skout, you mention it“, kata Chris teman dekatnya suatu waktu.

John tidak tertarik. Bagi John, dalam hal relationship, jargon “fake it until you make it” tidak berlaku.

Bangku Gereja yang Kosong

John masih setia mengikuti Misa di gereja parokinya. Selain menemani ibunya, John juga ingin mencari siapa tahu ada gadis yang sendirian seperti dirinya, yang juga sedang mencari pasangan yang seide dengannya. Pasangan yang bakal menjadi pendampingya. Gadis yang menjadi partnernya dalam khayalan romantis John: “We will discuss for hours, cook together, argue endlessly, make love along the night, and then both sleep like a baby

Tapi survey kecil-kecilan yang kerap dilakukan John memperlihatkan keanehan lain. Dari tahun ke tahun tampaknya bangku di gereja itu semakin banyak yang kosong. Opa, oma dan para jompo masih setia duduk di bangku depan menemani para prodiakon. Selain itu, hanya ada pasangan keluarga yang usia perkawinanannya sudah lama. Pasangan keluarga muda semakin sedikit disana. Teman-teman sebaya John ketika Sekolah Minggu dan ketika masih aktif menjadi misdinar semakin jarang kelihatan. Padahal, setahu John teman-temannya adalah orang-orang yang terbilang sukses, bahkan banyak yang jauh lebih sukses darinya.

John juga memperhatikan keanehan lain. Tidak hanya anak anak remaja, ibu-ibu muda juga banyak yang tidak bisa lepas dari smartphone mereka selama Misa berlangsung, bahkan ketika Doa Syukur Agung dan Konsekrasi. Padahal, sebelum masuk ke gereja dan seusai Misa, mereka juga masih asyik membungkuk menatap layar gadget mereka, seakan-akan mereka adalah para stock trader yang tidak ingin melewatkan sedetikpun turun-naiknya pergerakan saham di bursa online.

Chris dan “Spotlight” yang Mengguncangnya

Bahkan, Chris teman dekatnya, mantan seminaris yang cerdas dan kritis itu seperti tidak pernah lagi kelihatan batang hidungnya di ibadat dan Misa di gereja. Padahal, Chris termasuk seorang anggota OMK yang menurutnya cukup militan dan punya karakter, tidak ikut-ikutan tren seperti kebanyakan temannya yang lain. Terakhir, ia dan Chris terlibat diskusi serius soal pandangan mereka terhadap kehidupan menggereja Katolik sebagai orang muda.

Ia masih ingat betapa kesalnya Chris terhadap mantan pastor paroki mereka yang membawa kabur seorang janda muda kaya yang umat paroki itu juga. Konon sebagian uang paroki juga dibawa kabur oleh pria malang yang tentu saja tidak akan berani menunjukkan mukanya lagi di depan umatnya.

Sorry bro. I can’t stand this. I’ve read a lot, seen a lot. I know about Spotlight that brings Boston Arcdiocese to financial bankruptcy. I know about corruption in Catholic Church Life, both clerics and lays. Sementara gue belum bisa aja. Mungkin butuh waktu cukup lama baru gue akan ke gereja lagi”, kata Chris jengkel mengakhiri diskusi mereka yang setengah serius itu.

Just google it“, pinta Chris.

Tim yang disebut "Spotlight" adalah sekelompok jurnalis dari Boston Globe yang melakukan investigasi mendalam terhadap sejumlah kasus pedofilia yang dilakukan olah beberapa pastor dari Gereja Katolik Roma. Kasus ini berhasil mengguncang Keuskupan Agung Boston secara kewibawaan dan finansial secara khusus dan keuskupan-keuskupan lain di seluruh dunia, setelah laporan itu diterbitkan di surat kabar dan dibaca oleh jutaan warga Amerika Serikat. 

Kisah ini difilmkan pada 2015, disutradarai Tom McCarthy dan mendapatkan penghargaaan antara lain dari 72nd Venice International Film Festival, Telluride Film Festival, Academy Award for Best Picture dan Best Original Screenplay. Laporan investigasi itu sendiri mendapatkan penghargaan The Globe the 2003 Pulitzer Prize for Public Service.

 

John hanya bisa menyimak, kagum sekaligus heran dengan apa saja yang didengarnya dari penjelasan Chris, terutama sikap Chris kemudian dan pandangannya yang sinis terhadap Gereja Katolik, seolah Chris lupa betapa semangatnya mereka berdua pada tahun-tahun pertama setelah menerima Komuni Pertama.

“Makanya gue salut ama loe. Gue tau lo membaca banyak dan juga banyak ikut diskusi. Elo bisa berdiskusi dengan teman-teman Katolik, yang Protestan, yang muslim, agnostik bahkan ateis, and after knowing all these stuffs, you still attend the Church, I salute you bro. I just can’t. Sorry” , ujar Chris dengan gaya bicaranya yang susah lepas dari kebiasaannya ber-English ria itu.

Just be yourself, because pretending is painful“, lanjut Chris. John setuju dengan kalimat terakhir ini. Seolah kalimat itu keluar dari mulut John sendiri, bukan dari Chris.

Still, John yang Kesepian

John tersadar dari lamunannya. Ibunya pun sudah usai berdoa pribadi di tengah kerumunan orang yang bergegas meninggalkan gereja seusai Misa. Gadis yang tadi bertugas menyanyikan Mazmur Tanggapan masih terlihat khusyuk berdoa di depan patung Bunda Maria. Di pelataran gereja, John berpapasan lagi dengan gadis itu. Gadis itu tersenyum manis padanya.

Ia ingin bercerita banyak di diary-nya. Tapi John sudah terlalu lelah hingga sesampainya di rumah, John tertidur di sofa ruang tamu mereka. Ibunya yang baru selesai berdoa devosi menatap anaknya yang terlelap, tersenyum seperti sedang bermimpi.


Cerita ini fiksi. Kesamaan nama dan tempat adalah kebetulan belaka.

Christian paints his Christ

Rahib Christian Amore Sitohang

Berkepala cukur di tengah dengan tonsura tampak kentara, Christian Sitohang yang saat ini menjalani hidup sebagai eremit (pertapa) di sebuah lokasi pertapaan di daerah Sumatera Utara, menjadi sebuah pemandangan yang unik, sekaligus aneh bagi kebanyakan orang.

Hal yang tampak samar Saya alami juga ketika menemani Rahib teman sekelas Saya ini pada sebuah perhelatan apresiasi seni lukis dan ukir di aula Katedral Jakarta, beberapa waktu yang lalu. Mungkin beliau tidak menyadari, tetapi Saya menyaksikan dan menikmati beberapa orang yang memandang penuh heran, setengah bingung, seperempat salut dan seperdelapan sinis dan beberapa lainnya dengan reaksi yang hanya mereka yang tau artinya. Rahib memang membagikan beberapa pergulatan dan refleksinya dalam beberapa kesempatan bercakap-cakap dengan Saya. Tetapi, tentu saja, hanya Rahib yang tahu persis bagaimana “rasa”-nya menjadi seorang pertapa di zaman sekarang, di tahun 2017, belasan abad setelah Santo Antonius pertama kali memperkenalkan corak hidup pertapa soliter di padang kering Mesir.

Menjalani petualangan hidup sebagai seorang eremit dengan laku tapa kontemplatif dengan tetap membuka diri bersosialisasi dengan masyarakat luar adalah suatu corak hidup yang secara visual saja membutuhkan konsistensi luar biasa, terutama menghadapi cibiran dari banyak orang, termasuk dari para teman sejawatnya, para pelaku Hidup Bakti atau biarawan dari ordo dan kongregasi Katolik yang dia jumpai dan kenali. Tentu saja, tidak terhitung pula yang mendukung.

Konsistensi itu tetap ada hingga saat ini. Setidaknya, Saya melihat sendiri. Sehari penuh bersama Rahib, bersantap pagi dan siang dengannya, bagi saya jelas bahwa teman Saya ini adalah seorang pria sehat dengan semangat dan spiritualitas yang menyala-nyala pula.

Saya sendiri cukup senang karena beliau merelakan diri berjuang dalam tarik menarik antara tren visualitas modern dunia dengan corak hidup pertapa yang dipilihnya. Sesekali ia membuka pesan di HP-nya. Banyak permintaan dari umat yang mengenalnya, minta didoakan. Saya sendiri tak perlu mengirim pesan elektronik ke beliau, kesempatan bertemu itu Saya sempatkan untuk minta langsung dengan beliau.

Bersama teman-teman lain yang mendukung tetapi juga kritis terhadap pemurnian motivasi diri Sang Rahib, Saya cukup gembira menemukan bahwa corak hidup ini adalah pilihan yang diambilnya sendiri. Cukup mudah tertawa dan senyum, jelas bagi Saya, Rahib bukan orang yang tidak bahagia.

Pada 6 Juni, Rahib menulis di akun media sosialnya:

Dunia memang butuh aktivis-aktivis. Ini tidak dapat disangkal. Tapi dunia juga butuh kontemplatif-kontemplatif sejati. Seorang aktivis biasanya bekerja dengan kekuatan sendiri. Namun seorang kontemplatif, bekerja dengan daya diri sendiri dan kekuatan ilahi karena persatuannya yang mendalam dan kuat dengan Allah. Seorang kontemplatif sejati bukanlah seorang yang pasif dan pengangguran seperti disalahmengerti banyak orang. Justru sebaliknya, dia seorang yang peduli sekali dengan keadaan sekitarnya. Jikalau seseorang sudah memiliki kepedulian, maka dengan sendirinya dia akan jauh lebih mudah terdorong untuk berbuat sesuatu. Kepedulian melahirkan aksi. Seorang kontemplatif juga seorang pekerja keras. Dia bersemangat dalam doa dan kurban rohani demi kesejahteraan dunia dan keselamatan jiwanya. Dia tidak pernah menganggur bahkan ketika dia larut dalam doa dan tapa bisu yang mendalam dan panjang, dia menjadi orang yang sangat berguna di mata Tuhan”

Senang membaca permenungannya sedalam itu.

Christian paints his Christ

Jiwa seni yang agaknya menurun dari almarhum sang ayah (semasa hidupnya menjadi arsitek sekaligus mendesain bangunan gereja), sudah terlihat sejak tahun 2001, tahun pertama beliau dan Saya menjadi siswa di sebuah SMA. Di tahun kedua, Saya masih mengingat benar beliau sudah belajar melukis menggunakan jarinya, mengolesi cat minyak pada kanvas, sementara Saya menggambar seekor burung pipit pun hingga hari ini tidak pernah lulus.

Berhubung Saya bukan seorang penikmat seni lukis, juga bukan apresiator yang baik, Saya hanya mengagumi saja ketelitian, kegigihan dan kecermatannya yang membuat seolah setiap karya kerajinan tangan dan lukisan yang dia hasilkan, seolah ada “roh”-nya. Seperti pada lukisan yang menggambarkan Si Jesus ini, si Manusia-Tuhan, yang disembah oleh miliran penduduk bumi ini.

 

Perpaduan gamble, lukisan, doa, refleksi, puisi dan terpenting pengendapan dari sebuah proses kontemplasi yg panjang.

Sesuai dengan arus teologi umum Kekristenan yang meyakini Salib-Wafat-Kebangkitan Yesus sebagai perwujudan paling nyata dari kehadiran Tuhan dalam sejarah manusia, lukisan ini menunjukkan lagi dan lagi apa saja yang mengisi mahkota duri-Nya.

Alienasi, tidak adanya kasih dan compassion, struktur sosial yang mendehumanisasi, ketidakadilan, kemelekatan ekstrem yang tidak teratur pada materi, dan sifat-sifat destruktif lainnya yang bisa dan mungkin dimiliki oleh manusia dan ciptaan, ternyata hingga hari ini masih melukai kepala Yesus. Membuatnya masih berdarah dan berdarah lagi.

Konon, merenungkan misteri Salib-Wafat-Kebangkitan Yesus saja bisa membantu orang Kristen untuk benar-benar mengalami pertobatan yang sejati, perubahan mendasar pada pola hidup ke arah yang lebih baik (metanoia).

Entahlah, bagi Saya, memandang lukisan ini seolah membawa Saya pada momen-momen reflektif ini. Begitu saja muncul di benak saya seperti kilatan-kilatan kilat.

Seperti Po pada Kungfu Panda yang berjuang berdamai dengan masa lalu yang dia tidak kenali hingga mencapai inner peace.

Seperti memahami misteri hidup luar biasa yang dialami seorang pelacur yang ditinggal suaminya dan terpaksa menghidupi anaknya dengan memperdagangkan tubuhnya.

Seperti menyaksikan pergulatan hidup dari jutaan keluarga yang terpisah dari orang yang mereka cintai karena perang, genosida, atau teroris yang gemar memenggal kepala.

Seperti menyaksikan kemunafikan para pemuka agama dan pemimpin publik yang menjual ayat-ayat suci dan memperoleh segepok pundi-pundi rezeki.

Seperti menonton kilas balik dari semua kegagalan, kemalasan, dan keengganan Saya untuk berjuang lebih keras lagi menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih dewasa.

Seperti menyaksikan tangis dari anak-anak gelandangan yang tidak tahu harus pulang kemana karena orang tua mereka saban hari selalu menindas mereka.

Seperti merasakan benar rasanya menjadi seorang yang dikucilkan oleh teman-teman kerja, atau dicibir di lingkungan sosial.

Atau seperti Pak Ahok yang harus berjuang melewati hari dan malam di balik jeruji besi, padahal baru saja membaktikan diri untuk memperbaiki ibukota negeri ini. Harus berpisah dari isteri dan anak-anaknya karena persekusi politik nan keji dari sekelompok atau pemegang kuasa yang tak tertandingi bahkan oleh rezim sekarang ini.

Seperti melihat konflik antara kakak-beradik, “na marhahamaranggi, na gabe olo marsitallikan alani tano sattopak tadingtadingan ni natorasna naung monding.”

Atau seperti melihat anak kecil dari keluarga yang sangat miskin di kontrakan sempit, basah dan pengap di kota ini, yang hanya bisa gigit jari ketika istirahat sekolah menyaksikan teman-temannya menikmati lelehan es krim yang manis.

Atau jutaan anak yang menderita busung lapar di Afrika dan Bangladesh, yang tidak bisa apa-apa kendatipun setiap Minggu orangtua mereka selalu dikotbahi oleh sang pendeta bahwa “Allah itu Baik”

Atau seperti anak muda yang saban hari mengurung diri di kamar dan melihat apa saja yang terjadi di zaman ini, yang galau di tengah gempuran modernitas yang tak mampu diterimanya. Ketergantungan pada obat-obatan, perilaku seksual yang menyiksa diri dan mitranya, pedofilia, necrofilia, perdagangan keindahan tubuh, perdagangan orang, kekerasan massal, bully yang masif, atau perilaku masokis lainnya.

Dan … jutaan “luka” yang lainnya yang masih manusia ciptakan hingga saat ini.

 

Begitulah.  Semua itu menjadi duri yang masih melukai kepala Yesus hingga hari ini.

Entah penyembah Yesus, atau Tuhan dengan ribuan nama lain, entah agnostik dan ateis, lukisan ini seolah berkata:

“Ayolah. Berhentilah menjadi duri. Kasihan Yesus. Kepalanya berdarah terus”.

Oh iya. Rahib, terima kasih atas telah melukis sebagus ini. Semoga teman-teman Muslim yang juga membaca tulisan ini, memandang lukisan Rahib, juga terbantu mengalami “metanoia” sejati dalam Ramadhan yang suci ini. Toh, Tuhan kami ini adalah nabi kalian juga.


All photos are used by the courtesy of Rahib Christian Amore Sitohang. Please do not reproduce without his prior consent.

“Wahai Kaum Pengangguran, Nyanyikan Balada-mu”

Setiap Orang Berhak Menyanyikan Balada-nya Sendiri

Tadi malam saya mendengar lagu “The Boxer” besutan duo Amerika lawas Simon & Garfunkel. Tetiba saja, seperti mendengar bisikan dari angin semilir yang tak berhasil membuat rumput bergoyang, rasanya saya ingin memekikkan “Manifesto Hak Berbalada” ini:

Bahwa sesungguhnya menyanyikan balada itu adalah hak setiap orang, tak terkecuali kaum pengangguran. Oleh sebab itu setiap upaya pelarangan terhadap nyanyian balada baik oleh orang yang sedang bahagia ataupun oleh orang kaya, harus dihentikan, karena tidak sesuai dengan perikesenian dan perikeberperasaan.

Para pembaca harap jangan panik, saya tidak bertapa di Gua Hira atau Taman Zaitun. Well, saya tidak bertapa. Hanya inhale-exhale a la Yogi yang tak lulus-lulus belajar, kadang beraturan kadang tidak, di kamar saya yang tidak begitu luas, ditemani lampu temaram.

Frequently Asked Questions (FAQ)

  1. Apakah setiap orang berhak mengekspresikan rasa seninya? Yes. Sepanjang tidak mengusik orang lain.
  2. Lalu, apakah setiap orang berhak mengungkapkan rasa seninya lewat nyanyian? Yes. Sepanjang metrik desibel-nya tidak menimbulkan polusi suara.  (Yang suaranya cempreng boleh meletakkan standar desibel yang lebih rendah, hihihi …).
  3. Lantas, apakah setiap orang berhak mengungkapkan kenyataan hidupnya dalam balada, dan menyanyikannya? A greater yes. Dijamin tidak mengusik orang lain. Karena sesungguhnya setiap orang bersatu dalam kodrat kesedihan yang sama. Berikut penjelasannya.

Setiap Orang Memiliki Alasan untuk Bersedih

Sejak peperangan dikenal oleh peradaban manusia, entah karena sex ataupun kekuasaan, sejak itu pula serangkaian litani kesedihan yang panjang selalu ada di balik setiap gelak tawa dan pekik kejayaan. Selalu ada lantunan ratapan kesedihan di balik setiap penaklukan oleh conquistadores, entah demi alasan agama (many times in this case it redirected us to Gospel), perebutan wilayah (gold), ekspansi kekuasaan (glory) ataupun sekedar show off kekuasaan misoginis oleh seorang pria gallant yang baru saja berhasil merebut seorang wanita idaman nan rupawan bak Princess dari seorang pria lemah nan memble.

Terhadap setiap kekalahan itu, bersama Sheila on 7  yang memilih “Berhenti berharap”, kita boleh menyanyi kecil atau teriak kencang di kamar mandi sambil bernyanyi: “Aku pulang …. Kuterima kekalahanku …”

(Disclaimer: Jika di antara pembaca ada yang jomblo atau baru diputusin kekasih karena Anda tidak punya belis atau sinamot yang cukup, atau gelar akademis anda tidak cukup mentereng di mata sang calon mertua, penulis tidak bertanggungjawab seandainya terjadi kesedihan dan kegalauan kronis tingkat Olympus).

Singkatnya, sebagai sajak sederhana yang mengisahkan cerita rakyat yang mengharukan, kadang-kadang dinyanyikan, kadang-kadang berupa dialog; balada dan menyanyikan balada adalah hak setiap orang. Sekali lagi, terutama bagi kaum pengangguran.

Bahkan … Roh (Kudus) pun bersedih

Satu perikop Alkitab yang parafrase-nya masih saya ingat ketika dididik oleh Romo Alex, SJ yakni Roma Pasal 8, terutama pada bagian ini.

Sebab kita tahu, bahwa sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh  dan sama-sama merasa sakit bersalin. Dan bukan hanya mereka saja, tetapi kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita.

Konon, di ajaran lain juga dikenal dengan istilah tumimbal kahir, term yang katanya lebih pas untuk menyebut reinkarnasi, yakni proses kelahiran dan kematian berulang kali yang mesti dilalui oleh manusia, dengan serangkaian penderitaan di dalamnya sampai manusia mencapai pencerahan sejati, mencapai dhamma dan menyelesaikan tugasnya setelah kehidupan yang kesekian ratus kalinya, dan berhasil mencapai akhir dalam peziarahan tak kunjung henti itu dalam ketiadaan kehendak dan hawa nafsu di nir-ana (nirwana) masing-masing.

Baiklah, sebelum saya lebih lanjut ditengarai sebagai sinkretis, jika Anda berminat untuk mengetahui hermeneutika yang lebih kredibel, ada baiknya Anda bertanya ke para ahli (baca: Siboto Surat, Kaum Farisi, dan sejenisnya) atau mengunjungi website hermenutika semacam Biblehub.com.

Balada Sedih Si Pengangguran yang Menjadi “Boxer” – Jakarta dan New York

Ada ribuan review analisis terhadap lagu Boxer yang dinyanyikan Simon dan Garfunkel ini bisa kita temukan, baik di internet maupun dari sumber-sumber lisan. Bagi yang pernah mendengarnya, Anda pun mungkin punya analisis sendiri, entah Anda suka dengan lagunya atau tidak; entah Anda punya latar belakang musik yang mumpuni atau sekedar penikmat kelas teri yang bahkan tidak mau membeli video atau audio-nya lewat aplikasi berbayar, hanya mau jika itu dari situs gratis, persis seperti Saya. Konon lagu ini ditujukan sebagai tribute untuk Bob Dylan, yang memang pernah menjadi petinjua amatir sebelum beralih menjadi musikus.

“The Boxer” adalah sebuah lagu metafor. Meskipun telah mengalami serangkaian kekalahan, kemunduran, hinaan, cemoohan bahkan direndahkan serendah-rendahnya, si penulis lagu memilih untuk tetap bertahan ((“carries the reminder of every glove that laid him down or cut him til he cried out”) dan meneruskan cita-cita dan impiannya (“the fighter still remains”).

Di tempat lain, seorang pria berputeri tiga dan berputra satu yang tinggal di daerah Sawangan - Depok,  mem-parafrase-kan dinamika roda hidupnya dan memilih bertahan dengan mottonya:

I have died once.

I fear no more defeat.

Hey, life, try me!

Semboyan hidup yang agak kontras dengan keluhan manja Mario Ballotelli, si striker badung kesebelasan AC Milan dan timnas Italia: "Why Always Me?"

Kembali ke “Sang Petinju”.

Konon si pria merasakan gemuruh kesedihan di dadanya yang sesak setiap kali ia mengingat masa lalunya sebagai pria yang meninggalkan kampung halaman “left his home“), keluarga dan sanak-saudara “and family” ketika dia sejatinya masih seorang bocah ingusan “when he was no more than a boy” yang masih ingin bereksperimen seberapa ampuhnya dia tease and flirt gadis-gadis kampung, mana saja yang masih mau digandengnya hanya dengan rayuan gombal kata-kata.

Lucunya, hidup memang kerap sebengis itu, ketika di kemudian hari dia alami sendiri di perantauan bahwa ternyata kata-kata dan janji manis tidak lebih mengenyangkan perutnya dibanding buah semangka yang membantunya bertahan hidup di fase awal perantauannya, kala ia bahkan tidak tahu bus Metromini yang menuju ke mana (doing so under some vague pretense that life on his own would be better than wherever he came from a pocketful of mumbles, such are promises).

Sang (calon) petinju itu mengalami dan merenungkan sekelebat kisah hidupnya yang diisi oleh kesepian, rindu pulang ke kampung halaman, dan pengucilan oleh warga ibukota (“where the New York City winters aren’t bleeding me, leading me, to going home”).  Ia yang begitu polos dan jujur, dituntut untuk mengakui kenyataan hidupnya yang ambiqu, saat dia mesti menghabiskan rezeki pertamanya yang tidak seberapa itu dengan melanggar normal moral yang tak pernah ia bayangkan akan ia langgar, jika mengingat pengalamannya di kampung bahkan sekedar bermain kartu domino atau poker pun ia diusir oleh ayahnya dari rumah. Maka, pergilah dia, “just a come on from the whores on 7th Avenue. I do declare there were times when I was so lonesome, I took some comfort there“. Kegelisahan dan keputusasaannya menjadi gambaran atas jutaan umat manusia lainnya yang mengalami skenario dan pilihan hidup yang sama.

Kenyataan hidup, terutama di perantauan, yang diisi oleh serangkaian tantangan dan emosi yang campur-baur, semakin jelas baginya ketika dia, si anak kecil berkulit hitam dari Selatan itu, mencoba menyusuri jalanan di kota New York yang gemerlap untuk mencari pekerjaan, tetapi tidak menemukan satupun yang mau mempekerjakannya, meski hanya dengan upah minimum.

Roda hidupnya mulai diputar ketika dia melihat cermin dirinya sendiri lewat seorang petinju yang berkali-kali kena kalah dan kena pukulan bertubi-tubi, darah berceceran tak terhitung hingga sudah berapa kali, yang tergoda untuk meninggalkan pekerjaannya itu dan pulang saja ke kampung halaman, tetapi karena rasa malu pulang dengan tangan hampa, dia memilih untuk tetap bertahan. Again, the fighter still remains. Seolah tak gentar dengan pahitnya kenyataan hidup, ia memilih untuk meneruskan peziarahan hidupnya. Kegetiran hidup dilihatnya bukan sebagai cacat bekas luka, tetapi sebuah luka yang masih menganga dengan darah bercucuran. Sejatinya dia ingin menyerah saja. Dia ingin berhenti, tetapi kata menyerah tidak ada dalam dalam kamusnya. Mental pecundang tidak hidup di aliran darahnya. Bahkan, tidak ada pilihan untuk menyerah. Di usia senjanya kelak, ia menemukan inner peace layaknya si Po yang berdamai dengan kenyataan “dibuang” oleh orangtuanya sendiri di Kungfu Panda, bahwa:

Tak perduli seberapa keras Anda mencoba, Anda akan tetap dipukuli dan dihantam bertubi-tubi itu oleh sang hidup, bahkan menyerah tidak tersedia sebagai pilihan. Seiring dengan dentak drum yang mengiringi setiap pertandingan tinju, setiap kali Anda harus bertahan menerima pukulan itu. Anda bahkan mesti bernyanyi “Lai La La”

Simon dan Garfunkel juga Bersedih

Tema umum yang ditawarkan oleh Simon & Garfunkel dalam lagu-lagu baladanya adalah bagaimana menemukan kekuatan untuk tetap bertahan terutama pada saat Anda berada pada titik terendah hidup Anda, ketika seisi dunia tampaknya memusuhi Anda. Tema sejenis terasa dalam hits mereka lainnya, misalnya “I am a Rock” dan “Bridge Over Troubled Water”.

The Boxer” muncul di album studio kelima mereka Bridge over Troubled Water (1970). Diproduksi secara kolaborasi antara duo Simon & Garfunkel dan Roy Halee, lagu ini menjadi lead single album yang dirilis pada 21 Maret 1969. Penulisnya, Paul Simon, adalah seorang musikus (gitaris dan vokalis) beraliran folk rock ballad yang banyak menimba inspirasi lagunya dari kisah hidup personal seorang tokoh, dan banyak juga terinsipirasi dari kisah-kisah di Alkitab.

“The Boxer” sendiri merupakan follow-up dari single sukses mereka sebelumnya, “Mrs. Robinson“, yang meraih peringkat ketujuh di Billboard Hot 100 dan dipanggungkan secara internasional di berbagai belahan dunia. Mengikuti single pendahulunya, “The Boxer” nangkring di jajaran lagu Top 10 di sembilan negara, tertinggi di Netherlands, Austria, South Africa, dan Canada. Rolling Stone sendiri mencatatkan “The Boxer” masuk dalam daftar the 500 Greatest Songs of All Time, di nomor ranked the song No. 106.

Saat konser pada 3 Juni 2016 di Berkeley, California, Paul Simon berhenti di pertengahan lagu, dan mengumumkan ke penonton:  “I’m sorry to tell you this in this way, but Muhammad Ali passed away.” Lalu ia melanjutkan lagu itu dan mengakhirinya dengan lirik: “In the clearing stands a boxer and a fighter by his trade…”

Sejatinya, “The Boxer” ditulis dalam versi yang tak semuanya muncul di versi album Bridge over Troubled Water. Lirik yang tak muncul itu ialah sebagai berikut.

Now the years are rolling by me—
They are rockin’ evenly.
I am older than I once was,
And younger than I’ll be.
That’s not unusual;
No, it isn’t strange:
After changes upon changes
We are more or less the same;
After changes we are more or less the same.

 

Prekonlusi

Sang Petinju (The Boxer) bukan hanya Simon Paul. Pada dasarnya, kita semua adalah seperti Sang Petinju. Kita lelah dengan semua pertempuran, pertandingan dan perkelahian hidup ini. Dan, sementara kita memilih untuk tetap bertahan, tidak berarti bahwa kita sudah mencapai kemenangan, baik dalam arti moral, maupun dalam arti lain.

Suara merdu dari duo ini masih berhasil membuat suasana sendu hingga hari ini. Setidaknya, bagi saya. Mungkin, juga bagi teman-teman lain yang pernah atau masih menjadi pengangguran.

 

Pertanyaan berikutnya: Apakah setiap orang berhak bahagia dan menari Cha-cha atau berlenggok Lenso?

Kita tunggu tulisan berikutnya.


 

Disadur dari berbagai sumber

“Sulangan Mangan” versi English

Lagu-lagu Batak yang sarat makna dan pesan filosofis menjadi instrumen komunikasi yang ampuh dan terbukti tahan zaman. Banyak muatan nilai luhur yang bisa dipetik jika kita sungguh-sungguh mendengarkan kata-kata dalam lirik lagu tersebut. Simak saja lirik lagu “Anakhonhi do Hamoraon di Au”, “Di Parsobanan i”, “Binsar Mataniari” dan sejenisnya. Tentu bukan berarti bahwa lagu-lagu hasil utak-atik techno-digital dan perkawinan musik tradisional Batak dengan irama Dang-dut tidak sarat makna. Hanya saja keduanya memiliki tempat dan genre tersendiri.

Sekelompok anak muda yang tergabung dalam group vokal BODT Voice menyadari benar hal ini. Tak hanya itu, mereka pun ikut berkontribusi dengan menyanyikan kembali lagu-lagu Batak dalam versi bahasa Inggris dengan maksud supaya pesan yang terkandung dalam lagu tersebut bisa menjangkau lebih banyak orang, termasuk yang bukan penutur bahasa Batak ataupun Indonesia.

Lagu yang digubah lagi variannya kali ini ialah lagu “Sulangan Mangan”, sebuah lagu yang mencoba menggambarkan perasaan orangtua yang kesepian setelah anak-anak mereka menempuh kehidupannya sendiri, entah karena menikah, jauh di perantauan ataupun karena pekerjaan yang mengharuskan mereka untuk jauh dari orangtua tercinta. Kegelisahan yang sejatinya berlaku untuk hampir semua orangtua lanjut usia, yang kerap tidak berbalas empati dari anak-anak mereka.

Sejatinya versi asli lagu ini pertama kali dipopulerkan oleh Trio Permata. Lirik aslinya dalam bahasa Toba sebagai berikut:

Nunga lam rabbon si malolonghu
nunga lam jonok ari-arikku
di hatuaonhon dao hamu sude
hundul sasada au di huta on
oo……

Ho hamu sude di anakhonhu
Ise do hamu na olo loja
Lao paresohon au
Patureture au
Andorang so marujung ngolu kon

Sulangan mangan nama au
Jala ikkon sulangan minum
Siparidion nama au
jala ikkon togu-togu on
Atik boha marujung ngolunghon
Tung ise ma manutup matakkon

BODT Voice mengartikulasikan pesan tersebut dalam “This is All My Life” (“ai on nama ngolunghu”.

Berikut ini lirik dan link videonya.


Dear my champ, and you my lovely daughter

Here I stand still wait for you to come

With all that’s in my heart

With all that’s in my mind

Please tell me when you’ll visit me again

 

These my words that I have in my heart

You are all my precious in my life

Don’t care about the wealth,

don’t care about the crown

Coz you my champ, my girl are all for me

 

(Refrain):

You see that I can barely wake

Even when it is from my bed

You see that it is clear for me

The memory when I hold you

Take care of you, when you are still a child

I tell you know that this is all my life

 

Untuk tahu lebih banyak tentang BODT Voice, silahkan kontak mereka dengan klik disini.

 

 

Kapan Saatnya Berhenti Menganggap Diri Favorit

Anak Favorit

Jika menelisik batin dengan jujur, kemungkinan besar setiap kita pernah merasakan bahwa ada perbedaan perhatian dan kasih sayang dari orang tua ke kita anak-anaknya. Atau bagi anak-anak yang tak sempat mengenal orang tua, di panti asuhan misalnya, ada perbedaan dari pengasuh ke anak-anak asuhnya. Ada hipotesa yang berbahaya kalau dicari-cari pembenarannya untuk menjadi teori yakni, “Memang ada kelakuan spesial kepada abang atau adik kita”. Efek yang ditimbulkan dari sikap yang ditunjukkan orang tua yang (menurut kita) memihak tersebut menyebabkan perubahan tingkah laku, dan mental dari seorang anak.

Tentu saja, kalau kita tanyakan kepada setiap orang tua, kemungkinan besar jawabannya sama: “tidak ada spesial, sayang semua”. Inong pangintubu saya bilang:

Dang adong mardingkan au tu hamu. Ai sian butuhakkon do hamu sude

(bagi yang tidak tahu artinya, silahkan ulik-ulik di Kamus Daerah).

Tapi ada seorang ilmuan barat yang namanya Katherine Conga. Beliau meneliti hampir dari 500 anak, dengan pertanyaan bagaimana kelakuan orang tua terhadap mereka. Katherine juga meneliti sikap yang ditunjukkan oleh orang tua kepada anaknya. Katherine berhasil menyelesaikan penelitianya dan menemukan fakta bahwa memang benar biasanya orang tua memberi perhatian yang lebih kepada si sulung.

Lalu bagaimana dengan si adik? Mereka dilahirkan dengan tingkat perhatian yang kurang. Jadi mereka menganggap orang tua berada di dua ekstrem.

Pertama, orang tua cenderung lebih disiplin terhadap mereka.

Kedua, orang tua cenderung lebih memanjakan mereka dan menuruti begitu saja apapun kemauan dan permintaan mereka kendati menyadari akibat buruk dari sikap memanjakan tersebut bagi masa depan si anak di kemudian hari.

Anak Favorit

Dalam konteks keberlangsungan keluarga, supaya siblings war tidak menodai keutuhan keluarga, solusi yang paling mendamaikan dan perlu dipupuk adalah mendorong setiap anak untuk merasa bahwa masing-masing mereka adalah anak favorit. Maka, alih-alih mencari sejuta perbedaan perlakuan orang tua terhadap kakak dan adik, fokus yang mesti dituju adalah mencari pengalaman pada momen membanggakan antara si anak dengan orang tuanya. Lagipula, umumnya orang tua tidak mengakui bahwa mereka punya anak yang favorit, kendatipun ada anak (kalau bukan setiap anak) merasakannya.

Bahwa orang tua cenderung menerapkan perhatian dan sikap yang berbeda-beda bagi setiap anak, mereka punya alasan tersendiri untuk itu. Mereka mengenali anak sulungnya yang ekstrovert, dominan dan ingin memimpin. Maka mereka memberikan perhatian supaya si sulung memiliki sikap kepemimpinan yang benar. Mereka tahu bahwa anak kedua cenderung introvert, pendamai. Maka orang tua mengarahkannya untuk menjadi penengah yang baik setiap kali ada siblings rivalry, baik yang potensial maupun yang sudah jelas kelihatan terjadi. Demikian seterusnya, hingga anak ketiga, keempat sampai ke anak bungsu.

Jika setiap anak bisa mengerti hal ini, maka sah-sah saja jika masing-masing mereka merasa sebagai anak favorit. Sepanjang tidak menimbulkan iri hati. Jika mereka sudah sampai ke tahap ini, mereka sudah bukan anak-anak lagi. Mereka sudah dewasa. Mereka adalah children (anak-anak) yang tidak childish (kekanak-kanakan) lagi. Bahkan, jika ternyata ada keluarga di mana masing-masing anak merasa demikian, rasanya itu akan menjadi keluarga paling romantis yang pernah ada di bumi ini.

 

Lucunya, sudah setua ini peradaban yang dilalui agama-agama samawi, masih banyak pengikutnya yang tetap kekanak-kanakan.

Baik Yahudi, Islam maupun Kristen (Katolik), tetap merasa bahwa mereka adalah anak favorit dari YHWH, Bapa mereka. (Tentu saja, kalau bicara statistik, selalu ada eksepsi. Tak semua mereka begitu.)

Kitab Suci Perjanjian Lama, yang konon merupakan refleksi dari umat Yahudi tentang penyelenggaraan sang Ilahi atas bangsa mereka, bahkan tidak malu-malu menunjukkan bahwa si YHWH juga terkesan memberi perlakuan berbeda terhadap anak-anak pertama dari manusia pertama, si Adam, yang terbuat dari tanah (adamah) itu. Siblings rivalry memenuhi kisah-kisah legendaris itu.

Ada Kain yang membunuh Habel karena rasa iri terkait persembahan mana yang paling disukai oleh YHWH. Tak tanggung-tanggung, rasa iri ingin mendapatkan perhatian dan pengakuan lebih itu bahkan hingga menuntun Kain pada niat untuk membunuh Habel.  Teman-teman yang sudah tidak lagi membaca Kitab Suci, bahkan mengelaborasi lebih lanjut dan mencibir: “Dan YHWH pun tidak melakukan apa-apa untuk mencegah Kain membunuh Habel.” Hmmmm ….Hal yang sama juga kita temukan dalam kisah persekongkolan antara Yakub dengan ibunya, Ribka. Persekongkolan itu berhasil merebut hak kesulungan Esau, pindah ke Yakub. Berlanjut pada iri hati dari anak-anak Yakub yang membuat mereka sampai menjerumuskan Yusuf ke perbudakan.

Tak berhenti hanya pada laki-laki saja, siblings rivalry juga terjadi pada perempuan. Dua bersaudari Leah dan Rakhel pun berkompetisi untuk mendapatkan cinta si Yakob.

Perebutan Anak Favorit dari Kitab Suci ke Kitab Sastra

Shakespeare pun menciptakan gambaran siblings rivalry serupa dalam karya sastranya. King Lear memprovokasi perseteruan di angtara ketiga puterinya dengan meminta mereka bertiga untuk menunjukkans seberapa besar cinta mereka pada ayahnya. Ada pula Edmund yang dengan kelicikannya membuat saudara tirinya Edgar terbuang, terusir dari lingkungan kerajaan dengan segala previlesenya.

Pada lakon The Taming of the Shrew, kakak beradik Kate dan Bianca dipertontonkan berkelahi dengan sengit-sengitnya. Hal serupa terjadi antara King Richard III dengan King Edward (dalam lakon Richard III), antara Orlando dan Oliver, kemudian antara Duke Frederick dan Duke Senior (dalam lakon As You Like It).

John Steinbeck, dalam karyanya East of Eden, melukiskan perseteruan antara dua bersaudara Cal dan Aron Trask, serupa dengan Kain dan Abel pada kisah Bibel.

A Song of Ice and Fire, yang lalu dipanggungkan di layar lebar secara kronikal dalam lakon-lakon Game of Thrones, penuh dengan perebutan anak favorit tersebut.

Baratheon

 

Sejatinya, ada tiga pewaris sah House of Baratheon, yakni Robert Baratheon, Stannis Baratheon, dan Renly Baratheon. Sepeninggal Robert, Stannis akhirnya membunuh Renly dengan sihir gelap, kendatipun tidak begitu jelas apakah Stannis benar-benar menyadari bahwa dia yang melakukan kejahatan itu.

Sejarah keluarga Westeros mencatat “Tarian dari Para Naga” (The Dance of the Dragons). Princess Rhaenyra Targaryen dan saudara tirinya Aegon II Targaryen memperebutkan tahta Iron Throne sepeninggal ayah mereka, Viserys I Targaryen. Aegon berhasil membunuh Rhaenyra, tapi tak lama Aegon pun diracun. Akhirnya putra Rhaenyra naik tahta menjadi King Aegon III.

Litani perebutan anak favorit ini masih bisa bertambah panjang lagi. Baik dalam kehidupan nyata maupun dalam kehidupan yang disketsakan lewat serial film, acara televisi, puisi ataupun cerita novel dan balada satir.

Tapi, bagaimana kalau perebutan anak favorit itu tidak hanya milik penghuni planet bumi ini?

Atau, bagaimana kalau ternyata klaim anak favorit dari sang Bapa Semesta inilah yang menjadi awal dari segala peperangan, baik perang apologetis dan militer (dua-duanya sama menjemukan dan tidak berprikemanusiaan), dan ternyata penyebab dari segala penderitaan yang disebabkan oleh manusia sendiri?

Seperti pada klaim anak favorit pada psikologi orang tua di atas, solusi yang paling adequate ialah jika setiap orang tahu Kapan Saatnya Berhenti Menganggap Diri Favorit.

Gods' Favourite Planet

Klaim berawal dari adanya Galaksi Pilihan Allah.

Kemudian berturut-turut,

  • Lalu ada Bintang dan Tata Surya Pilihan
  • Lalu ada Planet Pilihan
  • Lalu ada Umat Pilihan, lengkap dengan Gurun Pilihan dan Nabi Pilihan.
  • Lalu ada Agama Pilihan
  • Lalu ada Sekte Pilihan

Lalu delusi makin meluas kemana-mana. Tampaknya, ini berlaku untuk semua agama. Padahal dalam sekte atau kelompok manapun (yang menganggap dirinya pilihan), tetap saja ada manusia-manusia di dalamnya. Padahal, pada akhirnya, setiap manusia merasa sebagai Manusia Favorit Penciptanya.

Toh setiap manusia bisa curhat, berkeluh kesah dan menemukan dirinya pada perjumpaan batiniah yang hening dalam renungan yang tenang, menemukan dirinya sendiri.

Hanya ada dia dan Diri-nya.

Lengkap.

Tak ada lagi perbedaan antara Athman dan Brahman di sana.

Tak ada lagi perbedaan mikrokosmos dan makrokosmos disana.

Bahkan ruang paling kecil di mitokondria sel darahnya sama luasnya dengan semesta yang sanggup menampung jutaan galaksi yang ada.

Oh, sungguh indahnya, saat setiap orang tahu Kapan Saatnya Berhenti Menganggap Diri Favorit.

Saat itu tiba, setiap orang tua akan tersenyum. Sebab mereka tahu, ada Allah dalam setiap anak yang dianugerahkan kepada mereka.

[Puisi] – Tuhan, Aku Lapar

Ciliwung

 

Sejenak kuhirup udara bebas

Semilir lewat tanpa permisi di depan hidungku…

Tapi aku tak protes

Nikmat pertama di pagi ini.

Desau air grojokan sesekali minta diperhatikan

Kasihan juga,

Dari semalam tidak ada yang mau menyapanya

Kusesap sedikit dengan lidahku

Terasa kehidupan di dalamnya

Tapi lalu kulirik dari kaca jendela

Ada yang memanggil-manggil dari atas sana

Kehangatannya melukis tawa di cakrawala

Dasar, sang mentari memang jagonya mengumbar cinta

Perlahan aku bangkit

Waktunya memberi keadilan juga pada cacing di perut ini

Toh ia juga butuh gizi

Maka aku bergegas.

Di pinggir Kali Ciliwung ini,

Hari ini aku cuma mau titip sejumput doa:

Selamat pagi, Tuhan.

Aku lapar.

Tentang Tuhan pada Yuyun: Teologi Keju dan Nasi Aking

Teologi konon adalah ngomong (logos) tentang sang tuhan (teos). Sejak manusia merasakan ada Tuhan yang menakjubkan sekaligus menggetarkan mereka (fascinosum et tremendum) itu, sejak itu pula tak terhitung banyaknya omongan yang lalu diomongkan kembali, sebagian ditulis ulang, sebagian diulang-ulang saja oleh penulis yang berbeda. Entah dengan laklak ataupun papyrus Biblos, atau coretan di gua tua yang basah dan gelap bertemankan obor mengukir di batu yang keras. Terkumpul sepanjang sejarah peradaban manusia. Kemungkinan jumlah lembarnya lebih banyak dari total populasi jiwa yang pernah menghirup oksigen di jagat ini.

Demikianlah ia menjadi buku besar teologi. Di tangan para rabbi ia menjadi shibbolet bagi mereka yang pantas “duduk di bawah pohon ara” dan “mana yang akan dilempar ke dalam api yang menyala-nyala”. Para rahib dan arahat mencoba menjadikannya tuntutan bagi setiap pengikut yang konon ingin menemukan diri dalam pencerahan budhi (bodhi). Kitab itu juga diyakini bisa membimbing manusia menyadari kesatuan athman dan brahma. Belakangan ia dipeluk dan dijadikan bantal empuk yang nyaman sebagai bacaan sebelum tidur oleh para Kristen yang merasa diri mesti menjadi orang saleh. Tak kurang pula ia dijadikan tuntutan hidup bahkan sains oleh teman-teman Muslim yang merindukan turunnya hidayah pada setiap ibadah sholatnya.

Dan masih ada ribuan lagi golongan orang yang mencoba memposisikan diri terhadap Tuhan, si tremendum et fascinosum itu.

Kini tahun 2016 orang semakin kritis. Di zaman dimana pluralisme kini semakin diterima dan di-aku-i sebagai bagian dari gaya hidup, maka tidak mustahil bahwa seorang ateis, agnostik dan orang beragama bisa bercengkerama bersama. Entah itu ketika berbicara tentang sains, ngulik-ngulik remah-remah coretan tentang sejarah komunis yang kabur atau dikaburkan, atau bahkan tentang pantat biduan yang memang terlalu montok untuk tidak mendapat perhatian. Entah itu ketika menemukan diri sebagai bagian dari solidaritas besar dengan lilin di tangan dan memegang poster bertuliskan dukungan penuh cinta terhadap dik Yuyun, ataupun ketika saling beringas menunjukkan taringnya dalam debat dan dialog yang seakan tiada henti-hentinya selama ada secangkir kopi dan sekarung kuota internet.

When it is about child, evenmore children abuse, the whole world finally find theirselves as ONE

Satu post scriptum disematkan pada setiap buku dan tulisan teologi yang mencoba menjelaskan siapa itu Tuhan dan apa karakteristiknya:

Teologi itu buatan manusia, gambaran tentang Tuhan yang sejatinya adalah cerminan atau proyeksi manusia atas diri dan masyarakatnya. 


Saya tidak akan membahas tentang Yuyun, hukuman mati atau seumur hidup terhadap pelaku pemerkosaan atas Yuyun, KPAI, ataupun teori-teori tentang pemajuan-perlindungan-penegakan HAM yang setiap waktu siap untuk meramaikan lini masa setiap kali insiden ‘kecil’ di daerah terpencil yang mendekatkan setiap orang dengan Yuyun. Setiap tahun ada ribuan sarjana Hukum yang siap menjadi pengamat dan memberikan annotasi mereka terhadap kasus serupa, entah itu dalam dagelan pengacara-hakim-terdakwa, atau memang benar mengadili dan memberikan diri pada keadilan publik yang beradab.

Saya hanya tertegun saja ketika membaca kembali sebuah tulisan dari E. Nugroho. Belum pernah bertemu, tapi rasanya saya mesti berlari untuk bisa mencapai frekuensi yang sama dengan Pak Nugroho yang saya yakin jujur ketika menerangkan dirinya sebagai seorang “dokter pensiunan yang suka mengeritik tapi tidak berbuat apa-apa”. Berikut saduran dari saya.


Pakailah Sandal Kalau Ke Gereja

Tahun lalu saya membaca poster besar di gereja. Kalau tidak salah dari Seksi Lingkungan. Isinya: Pakailah sepatu kalau ke gereja. Jangan pakai sandal. Masak kamu tidak menghormati Tuhan. Gereja adalah rumah Tuhan. Begitu kira-kira. Ini bukan pertama kali saya mendengar kritik soal tata cara berbusana ini. Saya selalu menentang. Tidak pada tempatnya gereja, suatu institusi rohani (dulu saya berpendapat begitu), mengatur soal tata cara duniawi ini.

Lalu, terjadilah pembicaraan berikut:

+ : Masak kamu tidak menghargai rumah Tuhan, memakai sandal ke gereja.
– : Tuhan Yesus sendiri kemana2 selalu memakai sandal. Saya cuma meniru Yesus. Apakah dia tidak boleh masuk ke gereja ini ?

+ : Bedalah. Itu kan zaman dulu. Kalau sekarang, Yesus tentu memakai sepatu.
– : Kok tahu? Bagaimana bisa yakin bahwa Yesus akan menjelma sebagai orang Jakarta, dan bukan orang di hutan Mentawai yang tidak bersepatu dan hanya memakai cawat?

+ : Pokoknya anggap saja Yesus menjadi orang Jakarta.
– : Bagaimana kalau Yesus tidak punya uang untuk beli sepatu? Masih banyak orang Jakarta yang susah untuk beli sepatu, lho.

+ : Intinya begini. Kalau ke gereja, orang Kristen harus menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Kalau kamu ke Jakarta, sesuaikan diri; pakailah pakaian Jakarta. Sesuaikan diri dengan mayoritas.
– : Kamu serius dengan pendapat itu?

+ : Tentu saja serius.
– : Kalau demikian, kalau kita diajak ke Papua yg umatnya masih pakai koteka, kita harus menyesuaikan diri dengan mereka ?

+ : Ah, ada2 saja. Mereka kan masih terbelakang.
– : Mungkin ada baiknya kita tidak menyombongkan diri?

+ : Pokoknya menurut saya, pakai sepatu itu pantas untuk Tuhan.
– : Pantas itu relatif. Santo Fransiskus Asisi membuang pakaian mewah dan sepatunya 800 tahun lalu, dan memakai pakaian rombeng dan sandal (mula-mula telanjang kaki). Juga waktu dia bertemu dengan paus. Gandhi juga membuang jas dan pakaian ala baratnya, memakai sehelai kain tenun India plus sandal. Presiden Vietnam, Ho Chi Min, hanya memakai sandal jepit ketika datang ke Istana Merdeka bertemu Soekarno. Mereka tidak dianggap menghina, malah dipuji-puji karena berani mewakili rakyat miskin.

+ : Susahlah, kalau berdebat begini. Yang jelas SAYA SUKA PAKAI SEPATU.
– : Tepat… Itulah jawabnya. “Saya suka”. Cuma mungkin kita perlu membiarkan orang lain dengan kesukaannya.
– : Ada tambahan: di Singapura (mungkin juga di tempat lain? ), banyak pria memakai sepatu, tapi bercelana pendek kalau ke gereja. Mana yang lebih pantas ya, bercelana pendek, atau memakai sandal?

Buat saya pribadi, semakin sedikit gereja mengurus tata cara duniawi, akan semakin sedikit kesalahan yg dilakukannya. Dan kalau kita ingin berpihak pada orang miskin seperti diminta Bapa Suci, akan lebih baik kalau kita menyesuaikan diri dengan mereka. Semoga ada kesesuaian pendapat di antara kita.


 

Lega rasanya menemukan tulisan dengan karakter yang bagi saya mestinya diminati, ditulis dan dibaca oleh semakin banyak orang Katolik, atau bahkan agnostik dan ateis sekalipun. Seperti menemukan oase di tengah gaharnya perang proxy dan hate speech baik yang tampil tegas maupun malu-malu, yang membuat orang jengah membaca koran atau menyebarkan berita sebab jerat hoax memang seperti lingkaran setan. (Hoax punya lingkaran yang bisa panjang, bisa pendek. Kerap bahkan si penebar hoax meyakini hoax yang dia tebarkan sendiri hanya karena si penutur kesekian kali menggayakan bahasanya secara berbeda dan meyakinkan. Tidak selalu jelas siapa korban dan siapa banditnya.)


 

Keju dan Nasi Aking

Menggambarkan seperti apa Tuhan itu ternyata tidak harus menimbulkan gaduh (yang kerap membuat orang beragama mendapat diskredit dari ateis maupun agnostik). Jika orang cukup berani menyebut bahwa BENAR cermin dari dirinya atau proyeksi masyarakat dan kelompoknya-lah yang membuatnya memahami Tuhan sebagai Maha Pemurah pemberi keju atau Maha Pemurah pencipta nasi aking. Kita tidak pernah akan benar-benar tahu apakah keju dan nasi aking itu memang diberikan oleh tuhan yang sama.

Rich and blessed

Poor and blessed

 

 

 

 

 

Karenanya, akan sangat fair jika masing-masing terbuka dengan kemungkinan bahwa tuhan yang mereka yakini dan percayai bisa saja saling tertukarkan, atau malah tidak ada.

Sama seperti diminta oleh Bapa Suci Paus, Rinpoche, presiden yang mulia, tukang bakso yang baik, ataupun sintua saleh di kampung saya, akan lebih baik kalau kita menyesuaikan diri dengan mereka. Dimulai dari mencoba memahami bagaimana Tuhan bisa sama-sama hadir lewat nasi aking dan keju, baik dengan lagu-lagu hillsong dan irama qasidah maupun dengan teriak keras teologi pembebasan dan asap senapan Che Guavara.

Semoga ada kesesuaian pendapat di antara kita.

Tell me: “Why don’t you worship Aah and the other thousand deities?”

Aah is the ancient Egyptian god of the moon. His names translate into the Egyptian word of the moon. Alternative spellings of his name include Iah, Aa, Ah, Aos, Yah, Aah Tehuti or Aah Te-huti that may also mean “collar”, “defender” or “to embrace”. He is associated with other lunar deities including Thoth and Khonsu who may have eclipsed his popularity. He is sometimes believed to be the adult form of the child moon god Khonsu who eventually assimilated his functions. He is also believed to be the student of the god of wisdom, Thoth who likewise absorbed some of his functions. However, despite his waning following over the course of Egyptian history, Aah remains to be a fixture in Egyptian amulets and hieroglyphs.

He is often represented as a man with a tight fitting garment wearing a crown made of a sun disk with a crescent moon on top of it. Sometimes, he is seen wearing the Atef crown topped by moon resting on a full, long, tripartite wig. He may also be seen carrying a long staff.

His existence was further proven when he was mentioned in the Book of the Dead saying, “I am the moon-god Aah, the dweller among the gods”.

Aah is credited for having created the original Egyptian calendar. The said calendar is divided into 12 months with 30 days every month. In one of the myths, Nut, the sky and Geb, the earth were siblings, who were locked in what seemed like an eternal embrace. Their almost unbreakable bond irked their father, the sun god Ra, who abhorred their incestuous relationship. He cursed them that will never bear children on any day of the year when they continued their relationship despite his disapproval. Nut and Geb sought refuge in Thoth, the god of wisdom and knowledge. Thoth devised a plan to gamble with the creator of the calendar, Aah. The wager was that Aah would give Thoth five days of his moonlight if he won. Thoth won and the five days became the extra five days of the year. Nut was able to bear children on each day because it was not covered by the curse of Ra. She gave birth to Osiris, Isis, Set, Nephthys and Horus the elder on each day. These days were believed to be inserted in the month of July making all of them July babies.

As cited from EgyptianGods.Org

Page 1 of 2

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén