Berbagi Keprihatinan

Baru-baru ini, saya menikmati diskusi dengan teman-teman yang menyebut diri sebagai “kelompok yang perduli terhadap budaya nilai Indonesia”. Group chatting-nya menggunakan aplikasi Telegram. Menurut sang admin, mengingat sejauh ini Telegram masih mengakomodasi lebih banyak members dibandingkan Whatsapp, akan semakin banyak manfaat yang bisa ditularkan jika semakin banyak orang yang bergabung. Saya setuju dengan beliau. Tak terbayang jika semua orang Indonesia ikut dalam perjuangan yang di-share dalam deskripsi group tersebut, yaitu

sumbangan pemikiran bagaimana mengembangkan budaya nilai itu di lingkungan kehidupan kita sehari-hari (di rumah, di kantor, di sekolah dan lain-lain).

Umumnya group chatting, termasuk group nostalgia hanya bertahan di minggu-minggu pertama sebelum kemudian sepi kembali karena memang tidak ada substansi yang benar-benar layak untuk di-share dan dibaca di sela-sela kesibukan atau curi-curi waktu supaya tidak ketahuan bos saat kerja (hehehe .. yang ini termasuk nilai yang tidak baik). Tetapi group yang ini berbeda. Segera terbaca buat saya bahwa bunyi tang ting tung yang masih bertahan hingga kurang lebih satu bulan ini menandakan bahwa para member merasakan keprihatinan yang sama. Bagi kami jelas, bahwa saat ini di Indonesia: Nilai-nilai mulai tergerus.

Mulai dari penggagalan penerusan kehidupan (entah itu aborsi, baby trafficking, kesadaran yang lemah tentang kesehatan pada masa kehamilan), pertumbuhan anak yang sarat dengan penolakan (entah itu bullying di lingkungan sekolah, kekerasan remaja, penyalahgunaan seks, seks pranikah, drugs abuse), hingga relasi yang mestinya tumbuh di tengah lingkungan keluarga.

Diskusi menghangat hingga berhari-hari ketika masing-masing mencoba memberikan argumentasi dan contoh narasi terhadap nilai-nilai apa yang tergerus itu. Kemudian menjadi semakin sempit ketika iseng-iseng mau menginventarisir nilai-nilai mana saja yang dimaksud, akhirnya mengerucut pada nilai-nilai asli manusia Indonesia.

Saya coba nyeletuk, sembari mengajak teman yang lain menarik diri dengan pertanyaan:

Memangnya siapa manusia Indonesia?

Nilai-nilai mana yang memang khas Indonesia, yang layak kita pelihara dan teruskan?

True Self

#TrueSelf adalah apa yang tertinggal pada insan Nusantara jika #TrueSelf_Palsu-nya dilepas. Setiap manusia yang dicipta, adalah manusia sejati yang sesuai dengan kehendak dan gambaran Pencipta-nya. Setiap manusia Indonesia, entah karena DNA-nya memang dari lelehur kala Nusantara atau dia memilih menjadi bagian dari Indonesia, adalah sesuai dengan kehendak dan gambaran pencipta-nya. Mula-mula ia adalah manusia sejati. Tapi lama-lama melalui pelabelan demi pelabelan, akhirnya citra diri sejati itu ditutupi oleh label-label. Pada akhirnya tidak kelihatan lagi citra diri manusia yang sejati dan hanya kelihatan label-labelnya.

Dialog apapun dalam konteks musyawarah menjadi sangat sulit dicapai ketika akhirnya citra diri pribadi yang sejati itu lalu direduksi sesuai “pendapatku”, “ajaran agamaku”, “lingkungan sosialku”, “lingkaran politisku”. Diri yang dihasilkan dari reduksi semacam inilah yang disebut sebagai #Citra diri palsu.

Citra Diri Palsu

Maka, untuk memperoleh gambaran yang tepat tentang #TrueSelf manusia Nusantara atau diri sejati dari insan Indonesia, mau tak mau, semua lapisan doktrinal mesti dibuang dahulu, termasuk ideologi agama dan keyakinan yang rentan multitafsir. Tidak hanya unsur SARA saja (sebab SARA hanya pakaian usang yang digunakan untuk menutupi kebusukan yang lebih besar lagi di dalamnya).

Apakah ini berarti menempatkan diri makhluk primitif seperti tayangan Meet The Natives dengan wanita berpayudara lepas tanpa penutup dan lelaki tegap dengan koteka penutup kemaluannya di Discovery Channel atau National Geographic? Entahlah. Tetapi menjadi manusia primitif yang tahu caranya mengetik karakter via Telegram dan tahu tata cara mengantri di fasilitas umum sepertinya lebih civilized dibandingkan para manusia modern yang suka menyebarkan hoax; atau wakil rakyat yang hobinya berkelahi, ber-dagelan seolah-olah benar mereka menyampaikan suara rakyat.

Tak dirumuskan secara gamblang tetapi masing-masing anggota group chat berbagi pengalaman tentang bagaimana nilai (atau persepsi terhadap nilai) semakin tercemar. Seakan-akan para anggota group yang kebanyakan berasal dari generasi baby boomers ini merasa prihatin dengan kami ‘generasi millenials’ Y dan ‘post millenial Z’ yang lebih muda, sebab kenyataan akhir-akhir ini menunjukkan masyarakat yang teralienasi dari dirinya sendiri: mencoba mencari segala yang ‘wah’ dan keren, termasuk jika itu harus meninggalkan kearifan nusantara, filosofi hidup dan nilai-nilai lokal (life values) yang ada.

Anggota group yang berasal dari beragam profesi dalam hidup harian mereka coba menawarkan apa yang mereka maksud sebagai nilai. Berikut beberapa inventarisnya:

  1. Kesopanan
  2. Keramahan
  3. Kesantunan
  4. Kekeluargaan
  5. Mau berbagi
  6. Takwa
  7. Hormat kepada bumi
  8. Hasangapon (dihormati, karena kharisma bukan karena materi atau status ekonomi semata)
  9. Nrimo (teman dari etnis Jawa menyebut bahwa terjemahan “pasrah” kurang tepat menjelaskan kata ini)
  10. Hormat kepada yang tua
  11. dan sebagainya …

Dan inventarisasi itu semakin panjang.

Masing-masing merasa bahwa itulah terjemahan dari nilai-nilai yang disebut Pancasila. Itulah butir-butir P4 (Pedoman Penghayatan Pengalaman Pancasila) yang mestinya sekarang terus digalakkan lagi sosialisasinya, bukan terutama karena Zaskia Gotik yang setelah menyamakan pancasila dengan pantat bebek lalu didaulat jadi duta untuk sosialisasi nilai-nilai pancasila. Menciptakan manusia dengan nilai seperti litani itulah yang disasar oleh setiap regulasi dan perundangan di republik ini.

Tetapi lalu ada rasa jengah.

Kemudian terawang yang teramat dalam ke batin masing-masing sebelum mengetikkan huruf-huruf di gadget masing-masing untuk dikirimkan sebagai komentar dengan menekan tombol “enter”. Rasa segan yang teramat sangat ketika daftar yang hendak diinventarisir itu bersinggungan dengan doktrin agama, sebab ternyata tidak begitu saja kita mudah mengenakan Ockhams’ razor untuk membedah true self manusia Indonesia dari developed self dan contextual self Indonesia.

Tidak mudah berbicara tentang true self orang Indonesia sebagai orang Indonesia. Ketika kita mencoba melepas semua pelabelan demi pelabelan yang membentuk developed self, tidak begitu saja komunikasi bisa asertif dan straight at the point.

Yang bukan mitos dari Teori Penciptaan

Terminologi Katolik nyaman dengan istilah “imago Dei” guna menterjemahkan #CitraDiriSejati.

Secara populer, imago dei (gambar, rupa Allah) mengacupada dua hal.

Pertama, aktualisasi diri Allah sendiri melalui manusia.

Kedua, perawatan Allah bagi umat manusia.

Tidak akan selesai perang tafsir teologis Kejadian 1 pada Kitab Suci dengan sains populer, tetapi kita akan cukup aman menyebut bahwa se-mitologis apapun kisah dalam penciptaan, itulah cara manusia zaman dahulu untuk membahasakan pengalaman dan refleksi mereka terhadap NILAI apa yang seharusnya ada pada mereka dan semestinya tetap ada pada generasi berikutnya. Artinya, tetap ada nilai yang bisa dipeluk sebagai kekayaan peradaban sekalipun benar bahwa teori penciptaan hanyalah teori, dan tidak pernah terjadi bahwa Allah mencipta manusia pertama di daerah Irak sekarang.

Menyebut manusia citra Allah adalah langkah paling berani, tanpa jatuh pada antroposentisme belaka, bahwa tataran NILAI paling tinggi itu bisa dicapai oleh manusia. Untuk itu, perlu kualitas khusus dari sifat manusia yang memungkinkan Allah untuk menjadi nyata pada manusia.

Implikasi moral dari doktrin imago Dei yang jelas dalam fakta bahwa jika manusia untuk mengasihi Allah, maka manusia harus mencintai manusia lainnya, karena masing-masing adalah ekspresi dari Allah.

Keluar dari konteks Katolik, menyebut manusia Indonesia sebagai manusia yang “ber-Ketuhanan Yang Maha Esa” adalah langkah berani untuk mencari pada area mana saja manusia Indonesia sudah menghidupi kekayaan NILAI yang melampaui kepentingan kelompoknya saja.

Entah benar bahwa manusia Indonesia sekarang adalah keturunan dari para pelaut pemberani dari generasi perantau Proto_Melayu dan Deutro_Melayu atau malah sudah terlebih dahulu melihat jejak-jejak hangat bekas kaki dinosaurus yang cukup dekat rentangnya dengan hidup manusia dalam diri Homo Florensis, menyebut diri sebagai bangsa yang ber-Ketuhanan yang Maha Esa, tidak bisa tidak, berarti mengakui kulminasi nilai peradaban ada pada pengakuan diri sebagai citra Allah. Bahwa #TrueSelf manusia Indonesia ialah manusia yang sudah sedari awal berorientasi pada NILAI, menghidupi NILAI, bahkan rela mati demi NILAI.

Nilai itu bisa diterjemahkan sebagai values of life, falsafah hidup atau bahkan tujuan hidup itu sendiri. Jika demikian, yang manakah nilai Indonesia itu?

Yaitu SEMUA kearifan dan nilai yang terkandung pada setiap masyarakat Nusantara mulai dari Aceh hingga Papua, mulai dari pemeluk agama resmi seperti Kristen hingga pelestari aliran kepercayaan seperti Parmalim, mulai dari penjual nasi aking di daerah Banten hingga pengembang properti hunian di Pantai Indah Kapuk. Ya, semua nilai yang baik itulah nilai sejati dari #TrueSelf manusia Nusantara.

Maka, nilai pertama yang mesti dimiliki setiap orang Indonesia adalah menerima diri sebagai bagian utuh dari kesatuan Indonesia. Berbela rasa terhadap yang lain, yang juga bagian utuh yang sama dari Indonesia. Itulah #TrueSelf sejati dari manusia Indonesia: Berbelarasa karena bhinneka.

“Menghajar” Pendidik

Ada teman yang suka menyebut Indonesia, ada yang keukeuh dan bersikeras bahwa Nusantara punya kandungan makna lebih kaya. Pencarian identitas kebangsaan memang semestinya terus digalakkan. Dan cara yang paling ampuh untuk melakukannya ialah dengan pendidikan, termasuk mendidik siswa supaya berani melepas topeng-topeng dari #CitraDiriPalsu dari para pendidiknya terdahulu.

Ini harus sejalan. Pendidik mendidik siswanya, dan siswa “menghajar” pendidiknya. Siswa yang sudah mengalami dan menyaksikan sendiri bagaimana kemajuan zaman “menelan” mereka bulat-bulat hingga merenggut jatidiri mereka sebagai manusia Indonesia, layak untuk meng-konfrontasikan keprihatinan mereka terhadap nilai-nilai yang diajarkan para pendidik. Umumnya pendidik yang mengerti substansi nilai akan merasa bersemangat, sementara guru yang ijazahnya pun diperoleh dengan membayar calo, mereka akan gamang dan linglung karena teori yang mereka copy-paste dari internet tidak membantu sama sekali menghadapi tuntutan semacam itu.

Tidak semua, tetapi kerap para pendidik terdahulu juga adalah bagian dari kepentingan yang lebih besar, yang rela memangsa #CitraDiriSejati bangsa Indonesia demi kepentingan mereka. Yang jelas, yang mereka bela itu bukan kepentingan Tuhan yang kita puja. Karena kalau Tuhan punya kepentingan, kita semua-lah, tidak hanya sebagian, yang mestinya jadi kepentingan-Nya.

 Selamat hari pendidikan!

(Seperti dimuat di Indonesiana Tempo)

 

Petojo Melintang, 2 Mei 2016

Facebook Comments