DONALD HAROMUNTHE

For Those Whom I Can't Talk With

Category: Teman (Page 2 of 4)

Menangkap Kalimat

Jati tertua


Karya: Mim Yudiarto

Sungguhpun hasilku menangkap kalimat malam ini
Dihalangi oleh barisan kata tidak
Aku tetap maju dengan tegak
Aku bukan pecundang yang bisa diusir pulang dengan gampang
Aku adalah bagian dari kawanan yang sedang berburu
Bukan pilu bukan rindu namun tumpahan kata dari udara beku

Perburuan yang melelahkan di lereng Ungaran
Nafas sedikit tersedak karena dingin cukup menyentak
Kalimat yang menyeruak adalah namamu yang akhirnya terkuak
Aku eja terbata-bata karena lidahku selalu tersangkut kata cinta
Aku berterimakasih meski gelap mulai meraba-raba

Ketika senyap mulai tersundut serabut kabut
Pencarianku tak akan lagi luput
Aku yakini itu dengan menulis namamu dengan paku
Di meja panjang yang terbuat dari jati berusia sepuluh windu

Ungaran, 7 Nopember 2017

Buddas


Karya: Suhendi

Mimpi semalam jadikah wujud
Saat bergegas bangun dengan binar di wajah
Ah, manalah mungkin

Rupa asa samar bayang
Kusam
Dekil
Terlindas roda kehidupan yang bersyarat
Pun sisa hari esok terbenam dalam timbunan angan

Tangan tangan kecil bertubuh lekat debu jalanan
Sanggupkah menggali tumpukkan realita
Di waktu yang sebentar dan tak berdasar
Atau mengais harap yang tercecer dari peliknya hidup

Biar luka darah tapak bernanah
Manalah mungkin terwujud
Biar terik matahari kuras peluh
Manalah mungkin tergenggam

 

Cikarang, 2017

Budaya Selimut Doa

Ilustrasi: Indonesia Berdoa

Karya: Sugianto


Di negeri yang indah ini
Pertama kali kuteriakkan tangisku
Berlari untuk kupijakkan kakiku
Lalu kupandangi sekelilingku memuji keelokanmu

Aku bangga terlahir di negeri ini
Kokoh berdiri dengan segala perbedaan
Suku, Ras, Budaya dan Bahasa
Bersatu dalam cengkaraman Garuda

Di hamparan tanahmu yang luas
Terlihat jelas aneka ragam budaya
Yang tak tergerus panasnya musim
Dan terjaga dari abrasi yang mengikis

Sekian banyak budaya
Menjadi jati diri bangsa ini
Hendaknya kita bersatu dan lestarikan
Ini bangsa kita, milik kita, dan hidup kita

Enyahlah tangan-tangan kotor
Bisukan mantera asing
Negeri ini terbungkus do’a
Terang di ujung lentera.

Nusantara Mencari Ibu

“Nus, kok aku baca di timeline-nya temen2, nih pada ribut ngomongin soal Ibu? “, tanya Wongso.

“Ya iyalah. Yang mau dicari kan bukan sembarang Ibu, Wongso”, jawab Nusa sekenanya.

“Maksudnya?”, selidik Wongso.

“Dulu kita punya Ibu yang ramah bagi semua. Namanya Gaia. Tapi lalu anak-anaknya mau misah, mau cari Ibu-nya sendiri2. Ada yang milih London buat jadi Ibu. Ada lagi yang milih Moskwa, Washington, Sydney, Beijing, Seoul. Nah, dulu … waktu itu berhubung Ibu kita rambutnya pirang dan keringatnya masih bau bawang putih, namanya Batavia. Sekarang dibaptis jadi Jakarta. Ini kayaknya kita bakal dapet Ibu baru lagi”, jelas Nusa.

“Itu kok emak-emak namanya aneh-aneh. Kok bukan Endang, Markonah, Tumiyem, atau Tiurma gitu?”, tanya Wongso masih penasaran.

“Yo suka-suka kita donk. Termasuk Ibu kita yang sekarang. Denger-denger sih, Ibu kita yang sekarang, Bu Jakarta itu nggak ramah lagi, nggak ngemong lagi. Anaknya yang baik saja, si Ahok, dikurungnya. Entah salah apa dia. Makanya kita mau ganti Ibu ajalah”, timpal Nusa.

“Terus, nanti Ibu kita apa?”, susul Wongso.

Gue sih maunya Ibu RIS aja. Cuman nggak dibolehin sama Eyang Pancasila. Palingan gue ikut sama temen-temen lain aja: Palangkaraya”, ucap Nusa dengan mimik terharu biru, entah mengapa.

“Terus… Nanti Ibu baru kita si Palangkaraya itu ramah nggak?”, cecar Wongso.

“Ya tergantung. Kalau kita anak-anaknya baik, Ibu bakal ramah dan ngemong. Cuman kalau kita nakal berjamaah, ya paling kita digimbali terus dibalbali“, jelas Nusa sambil seruput kopi Khok Thong-nya yang baru saja diseduhnya.

Begitulah Diskusi singkat Nusa dan Bangsa (eh… Wongso) mencari Ibu baru.

Wizards stuck when being told to solve problems in Indonesia


Seperti dimuat di akun Facebook Saya.

Menabrak “Gunung Es”

Fenomena “Gunung Es” dalam konstelasi sosialitas masyarakat kita itu nyata.

Jika Anda pernah berlayar di lautan lalu melihat ada setumpuk tanah di permukaan dari kejauhan, kemungkinan besar ada bagian yang tak terlihat, yang jauh lebih raksasa dibanding yang Anda lihat. Jangan sekali-sekali mencoba menabrakkan perahu Anda kesana. Bisa fatal akibatnya.

Bagi yang kurang paham gunung es seperti apa, boleh kok bolak-balik lagi diktat Freud atau Freudiannya.

Kalau masih sulit juga, gampangnya, ya kayak api dalam sekam saja.

Jika Anda melihat tumpukan sekam, hangat dan mengeluarkan asap sepanjang waktu, kemungkinan besar di dalamnya ada nyala api yang sewaktu-waktu siap menunjukkan wujud aslinya jika sekam sudah dilalapnya habis: menjadi api yang merah membara.

Pelapor Kaesang yang – seperti diberitakan media antara lain Tribunnews – ternyata SUDAH ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus Hate Speech (Ujaran Kebencian).

Beberapa teman gendek.

“Kalau sebelumnya sudah tau tersangka, mengapa tidak langsung diproses? Kok membiarkan berlarut-larut hingga kasusnya membawa-bawa nama Kaesang, anak Pak Jokowi? Kalau yang dilaporkannya adalah anak pak Joko Z, tukang bakso tetangga sebelah rumah, apakah polisi juga akan menguak status tersangkanya?”

Lalu teman-teman aparat juga depressed.

“Tidak segampang itu. Memasukkan semua tersangka pasal hate speech dengan menggunakan UU ITE yang masih belum lepas dari pasal-pasal karet itu, lalu langsung memprosesnya, bisa penuh tuh register kasus di pengadilan.”

Yo wis. Berarti kelemahannya di situ: Kita kekurangan para professional di bidang penegakan hukum. Tinggal tambah saja. Tugas Negara untuk mengakomodasi proses dan prosedur dari program percepatan penambahan petugas penegakan hukum.

“Tapi masalah juga belum selesai, Bang.”

“Lho, kok?”

Kemaren saja ada tersangka yang diputus hakim dengan tuntutan melebihi tuntutan jaksa, para advokat nggak bisa buat apa-apa tuh. Sampai ada teman lulusan Hukum yang mau datang ke kampus asalnya buat unjuk rasa ke dosen pembimbing, gara-gara teori hukum yang dia pelajari tiba-tiba seperti tidak ada gunanya sama sekali.

Kalau begitu, gimana caranya memberantas kegilaan berliuk-liuk sirkuler bagai gurita penuh tentakel ini?

Ya, harus langsung ke akarnya Bang. Jika mau mencari seberapa tinggi gunung es-nya, selamilah hingga ke palung laut yang paling dalam. Moga-moga ketemu kaki gunung es-nya sebelum kamu kehabisan oksigen.

Kalau mau memadamkan api dalam sekam, siram air sebanyak-banyaknya Bang. Pastikan sampai ke bagian paling bawah dari alas tumpukan jerami itu. Kalau cuman percikin air ke rongga yang kelihatan berasap, kena jemur matahari sebentar, nanti berasap lagi. Soalnya, bara apinya masih di sana.

Owh… mai goat.

“Maksud Lo, masyarakat kita pada dasarnya memang sakit?”

Udah ah. Udah hampir jam 4 pagi. Ntar lagi Subuh, banyak syaiton berkeliaran. Kudu banyakin baca mantra buat ngusirnya.

Tolerance is Heaven for Pluralistic Society

 


As posted on my Facebook.

Setujukah Anda jika Gajah Mada diklaim Muslim?

Viral “GAJ Ahmada” Hoax Sejarah

Belakangan ini cukup banyak repost dan viral sebuah tulisan dengan judul MELURUSKAN SEJARAH!! (dengan tanda seru) yang justru berisi sebuah distorsi luar biasa, bahkan (jika kita cermat membaca dan membandingkan dengan manuskrip dan bentuk lain peninggalan historis Nusantara), akan kelihatan bahwa tulisan tersebut tak lebih dari dongeng menyesatkan. Tulisan tersebut berisi sebuah narasi yang pada intinya ingin mengatakan bahwa Mahapatih Gajah Mada adalah seorang sosok Muslim luar biasa yang sebenarnya bernama Gaj Ahmada.

Tak kurang dari portal-islam.id (dengan fanpage beranggotakan 210 ribuan akun menjadi konsumen dari hoax viral) yang menyebarkan hasil “penelitian” Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pengurus Daerah Muhammadiyah Yogyakarta tersebut. Silahkan dilihat di laman bersangkutan, sebelum dihapus oleh admin portal tersebut.

Dalam kaitan tersebut kita harus dapat dengan jernih melihat bahwa sejarah bukanlah dongeng yang cukup hanya dibuktikan dengan argumen otak atik matuk alias dengan nalar cocoklogi berdasarkan kemauan sendiri atau tujuan-tujuan tendensius. Masyarakat Nusantara harus cerdas dalam menangkap informasi yang tidak jelas latar kesejarahannya dengan berbagai bukti yang melingkupinya.

Viral tulisan tersebut sangat dimungkinkan didasarkan pada buku berjudul Kesultanan Majapahit ditulis oleh Herman Sinung Janutama, lulusan UMY Yogyakarta yang menulis buku tersebut tanpa didasari keilmuan selain otak-atik gathuk alias cocoklogi. Jika nama GAJAH MADA dipaksakan menjadi bahasa Arab Gaj Ahmada, pertanyaannya adalah memangnya hal tersebut dapat ditemui ada dalam prasasti, naskah kuno Negarakertagama? Atau ada dalam kitab Pararaton, Kidung Sunda, Usana Jawa? Apakah ada satu saja yg menulis Kosa Kata Jawa “Gaj” dan “Ahmada” ? Lalu apa arti kosa kata “Gaj” ? Ia merupakan kosa kata Jawa atau Arab?. Lalu apa arti dari kata Ahmada? Adakah orang Arab memakai nama Ahmada?

Dalam buku yang cenderung awur-awuran itu, penulis secara tegas menyatakan bahwa Raden Wijaya adalah dzuriyah (keturunan) Nabi Muhammad SAW dan beragama lslam. Pertanyaanya sederhana: Apa dasarnya?

Tidakkah penulis itu tahu bahwa Sanggrama Wijaya yang bergelar Kertarajasa Jayawarddhana itu saat mangkat jenazahnya dibakar dan abunya dicandikan di Simping dan Weleri? Adakah dzuriyah Rasulullah SAW yang muslim matinya dibakar?

Mari kita baca naskah-naskah Majapahit mulai Negara kretagama, Kutaramanawa Dharmasastra, Kidung Banawa Sekar, Kidung Ranggalawe, Kidung Panji Wijayakrama, Kidung Sudamala, Kakawin Sutasoma, dll, termasuk prasasti-prasasti. Adakah pengaruh bahasa Arab dalam naskah-naskah tersebut?

Tulisan Bodoh Yang Membodohkan Bangsa

Tulisan-tulisan bodoh yang tanpa dasar ilmu tentang sejarah bangsa, sepintas bisa dianggap sebagai tulisan picisan yg tidak memiliki pengaruh apa-apa terhadap sejarah mainstream bangsa lndonesia. Tapi jika tulisan “sampah” dalam keilmuan itu ditopang oleh organisasi besar dan institusi negara dan akademisi, bisa merubah eksistensi dan citra bangsa.

Jika Borobudur bikinan Nabi Sulaiman dan Majapahit didirikan orang Arab keturunan Nabi SAW, akan terdapat simpulan bahwa pribumi lndonesia itu kumpulan manusia primitif yang tidak memiliki peradaban dan kebudayaan. Bagaimana bangsa lndonesia disebut beradab jika membikin candi saja tidak becus, menunggu kedatangan Bani lsrael. Nah, jika Bani lsrael dapat membangun candi yg sangat megah di negeri seberang lautan, adakah situs bangunan candi seperti borobudur di lsrael?

Jika Majapahit didirikan oleh dzuriyah Rasul SAW, maka tentu terbukti bangsa ini primitif dan tolol sampai sampai untuk membangun sistem pemerintahan saja tidak mampu, dan harus menunggu kedatangan orang Arab yang lebih beradab dan memiliki iptek canggih.

Jika itu benar bahwa bangsa ini tolol primitif sehingga untuk membangun kerajaan saja musti menunggu kedatangan orang Arab, adakah data sejarah yg menunjuk bahwa di jazirah Arab pernah ada kerajaan nasional seluas Majapahit dengan administratif sangat canggih?

Prasasti di Gresik

Prasasti di makam Kyai Tumenggung Pusponegoro, Gresik, berangka tahun 1114 H/ 1719 M, yang dicatut dalam tulisan “Meluruskan Sejarah!!” tersebut. Disebutkan bahwa prasasti itu menunjuk Kyai Pusponegoro yang merupakan trah Majapahit tapi adalah seorang muslim yang hidup di jaman Mataram.

Bagaimana prasasti era Mataram lantas diklaim era Majapahit? Prasasti ini meski masih berbentuk Surya Majapahit yaitu logo negara Majapahit, tapi sudah mendapatkan penambahan. Menganggap prasasti ini sebagai data dan latar kesimpulan bahwa Majapahit adalah kesultanan Islam tentu merupakan kesimpulan sekenanya dan cenderung mengada-ada.

Prasasti peninggalan Kerajaan Mataram

Cocoklogi Tak Berbatas

Dasar logika “Otak-atik gathuk” sebenarnya bukan hal baru. Ia sudah digunakan misalnya dalam buku Serat Darmogandhul dan Suluk Gatoloco. Bedanya, di buku kolonial itu Bahasa Arab ditafsir menurut cocokologi bahasa Jawa, sementara dalam buku Kesultanan Majapahit bahasa Jawa ditafsir dengan bahasa Arab. Ini fenomena ilmu humor yang dapat memperkaya khazanah folklore lndonesia dan Arabia.

Kenapa ilmu cocokologi dengan nalar otak-atik gathtuk yang digunakan dalam buku Serat Darmogandhul dan Suluk Gatoloco serta Kesultanan Majapahit itu memperkaya khazanah folklore lndonesia dan Arabia? Karena logika umum dengan common sense tidak lagi digunakan, dimana logika semacam ini dapat dipandang sebagai logika alternatif khas Jawa yang muncul akibat tekanan kolonialisme Belanda yang secara sistematis membodohkan inlander.

Mari kita lihat contoh sewaktu penulis Serat Darmogandhul menafsir Al-Qur’an yang berbahasa Arab dengan nalar otak-atik manthuk bahasa Jawa:

  • “Dalikal” – Ono barang kang nyengkal.
  • “kitabula” – Kita buka.
  • “Laroibapi” – Pakaian kita kabeh.
  • “Huda” – Widi.
  • “Lilmutaqin” – Pel* kita den emutaken … ( dan seterusnya).

Begitulah tafsir cocokologi dengan nalar otak-atik gathuk yang dapat melenceng jauh maknanya dengan tafsir al-Qur’an mainstream yang disepakati. Artinya, ketika nalar otak-atik gathuk ala Salesmanship wal Gatoloco itu diterapkan dalam menafsir sejarah, kekeliruan fatal pasti terjadi karena dasar logika yang digunakan cenderung sak karepe dewe (semaunya sendiri).

Sekarang mari sejenak kita uji penafsiran nama Gajah Mada dengan ilmu cocokologi dengan nalar otak-atik gathuk yang menetapkan nama itu berasal dari kata Fatih Haji Ahmada yang berubah menjadi Patih Gaj Ahmada yang bermakna “Patih Haji Ahmada Sang Penakluk”

Sejak kapan nama Patih Gaj Ahmada digunakan? Dalam sumber prasasti, kronik, naskah kidung, atau dongeng lisan apa sekali pun nama superaneh itu digunakan?

Jawabnya:

Nama “Gaj Ahmada” untuk kali pertama digunakan oleh Herman Sinung Janutama dalam buku “Kesultanan Majapahit”.

Sebelum itu, belum pernah ada satu manusia pun yang menulis dan menafsirkan tokoh “Rakryan Mahpatih Amangkubhumi Pu Gajah Mada” dengan nama “Patih Gaj Ahmada”.

Gajah Mada yang patungnya dirias untuk memberi kesan seakan ia adalah ulama Muslim, tepat dengan nama pelintirannya Gaj Ahmada

Pertanyaan penting yang bisa kita jawab bersama ialah: Setujukah Anda jika Gajah Mada diklaim Muslim? Jika tidak setuju, bantu teman-teman yang lain untuk ikut menyuarakan versi yang benar.


Dikompilasi dan disunting seperlunya dari halaman LESBUMI

Satire bagi Para Pemelintir Sejarah (part. 2)

Sebagai pelengkap pelajaran satire bagi para pemelintir Sejarah sebelumnya, masih berbicara tentang “pelurusan” sejarah  a la “oneng” dari teman-teman kita dari tetangga sebelah, simak lagi satire kedua berikut ini.


 

Hari-hari ini, semakin kental dan kencang dibandingkan periode sebelumnya, kita semakin dididik untuk berdamai dengan kenyataan bahwa menjaga diri supaya tetap waras dengan segala macam kebisingan (noise) dan tidak jemu untuk menyuarakan yang benar (voice), ternyata butuh konsistensi tinggi. Tidak mudah.

Sesekali kita butuh untuk serius, membaca begitu banyak manuskrip, melatih diri untuk melakukan diskresi yang benar, tenggelam dalam dinamika dialektika yang bahkan tidak pernah terpahami sepenuhnya hingga ini.

Di lain waktu, kita butuh untuk berjenaka saja. Raut wajah serius dan dahi berkerut adalah (mungkin) bahan bakar yang justru ditunggu-tunggu dan diharapkan oleh siapapun yang ingin memelintir sejarah. Judulnya sih “meluruskan sejarah”, entah sejarah mana yang hendak diluruskan oleh Herman Sinung dan teman-temannya itu.

Tidak mudah menjadi tetap sadar dan tegar di tengah wacana lelucon yang diperlakukan serius itu, yakni bahwa Patih Gajah Mada adalah seorang muslim, nama sebenarnya GAJ Ahmada, singkatan dari Ghufron Awaluddin Jamal Ahmada. Jika Anda ingin menanggapinya secara jenaka, maafkan kali ini harus reaktif, bersama teman saya Made Tertiana sang guru yoga, Anda boleh melakukan argumentasi jenaka seperti pada gambar ini, tentu tidak serius:

 

Satire in picture – Please stop stupify yourselves.

 

Ketika Anda merasa bahwa kewarasan Anda kembali pulih setelah tersenyum dengan jenaka di atas, ajaklah teman-teman untuk menyadari kelucuan historis yang diciptakan oleh teman-teman dari tetangga sebelah itu. Mulai dengan mengajarkan mereka hal-hal sederhana seperti menerangkan koin di bawah ini dengan penjelasan yang sederhana pula.

Jika Anda masih waras dan jujur, tidak sulit untuk menyadari bahwa koin ini tidak bergambarkan wayang Arab atau tulisan Arab.

 


Semoga, selain Anda, semakin banyak teman-teman Anda yang ikut tetap waras. Bersama Saya, Anda dan teman-teman Anda tentu saja setuju untuk #MenolakBodohDanTolol.

Satire bagi Para Pemelintir Sejarah (part. 1)

 

Al Fatih GAJ (Ghufron Awaluddin Jamal) Ahmada alias Patih Gajah Mada adalah panglima perang dari Sultan Hajj Zam al Farouq (Hayam Wuruk) yang pernah mengucapkan Sumpah Al Favva (Palapa) di negeri Majd al Wahid (Majapahit). Ternyata kekhalifahan sudah ada di Indonesia sejak jaman dulu.

Pendiri kerajaan Majapahit yaitu Raden Wijaya sebenarnya juga seorang muslim yang bernama Sayyid Wijaya. Begitu juga Ken Arok pendiri kerajaan Singhasari sebenarnya juga adalah muslim yang bernama Ken Arrokhman. Pendiri Candi Borobudur yaitu Raja Syailendra juga sebenarnya seorang muslim yang bernama Syaikh al Handra. Tunggul Ametung sebenarnya juga adalah leluhur sekaligus tokoh sejarah pelopor FPI purba yang nama aslinya adalah Dzun Ghul al Fentung.

Jadi jika ada yang bilang bahwa Śrī Kṛtarājasa Jayawarddhana (gelar bagi Raden Wijaya setelah bertahta) pendiri Kerajaan Majapahit adalah Narārya Sanggrāmawijaya (versi prasasti Kudadu), Dyah Wijaya (sumbernya Nāgarakṛtāgama) atau Rahadyan Wijaya (sumbernya Pararaton) itu semuanya sebenarnya adalah hoax, konspirasi dan rekayasa yang dibuat oleh sejarawan kafir untuk menghapuskan jejak Islam di Indonesia.

Donald Duck dan Mickey Mouse pun sebenarnya adalah nama rekayasa yang setelah dicuri kemudian diakui oleh dunia Barat serta diubah dari nama aslinya yang adalah Dzun al Dagh dan Mikhya Mahussa. Pencipta aslinyapun sebenarnya bukan Walt Disney tapi Wal Disniyyah yang sudah ada sejak abad hula-hula.

Bahkan Presiden Amerika yang sekarangpun Donald Trump ternyata aslinya masih keturunan Arab, namanya Dzun al Tharam. Satu lagi rahasia besar yang terungkap, Jokowi yang jadi pujaan umat kecebong itu sebenarnya adalah keturunan aseng, nama aslinya Cho Ko Wei, paham?

Makanya lain kali kalo belajar sejarah itu sehari penuh, jangan bolos. Jangan lupa makan micin yang banyak sambil minum Equil sampe mabok, biar pinter kayak eike.

Salam Ogah Waras


Sumber: Dito Kartiko

Tolong dibaca judulnya kembali, bahwa ini adalah satire. Siapa tahu ada yang mau gunakan ini sebagai bahan taqqiyah baru, setidaknya lebih cerdaslah sedikit.

Wassalam.

Nasihat kepada Orang Tua (versi Jawa)

Bila kita tua,

Ketika usia kita diatas sweet duck (60 tahun ke atas), biasanya  kita akan menghadapi dan mengalami banyak kemunduran. Kemunduran-kemunduran yang bisa dikenal dengan sebagai B-12. Bukan vitamin B-12 anti beri-beri, tetapi pil pahit yang bisa manis jika kita legowo menerima dan meng-aku-i.

BOTAK

Rambut kita akan memutih. Perlahan-lahan rontok atas bawah.

BOGANG atau Ompong

Gigi kita akan semakin banyak yang palsu. Kita akan mencari makanan yang lembek.

BINGUNG

Kemampuan otak kita akan mulai menurun. Pikun, bahkan kadang sampai lupa dengan pasangan kita sendiri.

BLERENG

Penglihatan kita mulai kabur. Rabun akan membuat kita menerima bahwa kita tidak lagi bisa melihat dan mengerti sebanyak dan secepat kita muda.

BUDEG

Pendengaran kita jadi terganggu. Kita tidak bisa mendengar teman, suami/isteri bahkan anak sendiri jika mereka berbicara pelan. Jika mereka berbicara kencang dengan maksud supaya kita mendengar, kita akan mendengar nadanya seperti mau berantam. Menyakitkan.

BUNGKUK

Kita akan berjalan atau duduk tidak setegap saat masih jadi komandan, karena pengeroposan tulang.

BAWEL/BISU

Kita akan semakin cerewet dan rewel dalam segala hal. Kita juga akan semakin senang berbicara sendiri. “Bawelnya minta ampun. Itu lagi itu, itu lagi yg diomongin”, kata anak kita yang paling bungsu atau cucu kita di depan telinga kita sendiri.

Sebagian teman kita ada yang semakin pendiam, malas bicara, pelit ketawa, kemauannya susah ditebak.

BAU
Kulit kita akan mulai kendor. Mandi pun kerap jadi tidak bersih, pada bagian tertentu bisa berakibat bau. Anak, istri/suami, cucu kita suka memperhatikan hal ini. Kadang mereka ingin mengeluh, tetapi tidak jadi mereka sampaikan, takut kita tersinggung.

BESER

Kita akan sering buang air kecil, kadang tidak kuat menahan jadinya ngompol. Atau sebaliknya “buntu” tidak bisa kencing karena prostatnya bermasalah.

BEBELEN/Sembelit

Kita akan susah pup (buang air besar). Akibatnya kentut kita akan berbau busuk. Sistem pencernaan kita tidak seoptimal dulu karena otot-otot memang mulai kendor.

BUYUTEN

Kita akan gampang gemetaran, entah kena Parkinson atau karena khwatir tidak jelas, sebab dopamin dalam otak akan semakin berkurang.

BOKEK

Kita akan berkurang penghasilan. Jika pun ada dana pensiun, tidak lagi sebesar dulu. Kadang ini jadi beban pikiran. Kita tidak mau merepotkan anak. Kita mengharap anak-anak mengerti. Kadang mereka tidak menangkap maksud kita, kita diabaikan, akhirnya kita menjadi galau galau/gedek.


Selagi sempat, ayuk kita mempersiapkan diri semaksimal mungkin  melawan B-12 ini hingga kita tidak mampu lagi. Ayuk kita …

Bersepeda-ria

Berwisata-ria

Ber-Facebook atau ber-WA-ria

Ber kumpul-ria

Bernyanyi-ria.

Jangan diam terus. Sebab jika diam terus, khawatir nanti jadi B-13, tambah B-nya satu, bego. Akhirnya, jangan peduli B-12. Seperti cucu kita yang “gahool” itu, kita juga sebaiknya “jangan lupa bahagia”.

Begitulah.

Nasihat kepada Orang Tua (versi Batak)

Bila kita tua,

Kalau anak-anak sudah berkeluarga dan meninggalkan kita, giliran kita untuk kembali memikirkan diri kita sendiri.

Bila kita tua,

Luangkanlah waktu bersama pasangan kita karena salah seorang dari kita akan pergi terlbih dahulu dan yang masih hidup hanya mampu menyimpan dan mengenang kenangan. Pastikan kenangan itu adalah kenangan yang indah, bukan yang buruk.

Bila kita tua,

Akan tiba masanya mau berjalan ke pintu saja susah. Sementara masih mampu, jalan-jalanlah ke beberapa tempat untuk mengingatkan kita tentang kebesaran Sang Pencipta, mengagumi keindahan ciptaan-Nya.

Bila kita tua,

Jangan menyusahkan diri memikirkan anak-anak secara berlebihan. Mereka akan mampu berusaha sendiri. Memanjakan anak dengan menyediakan apa saja yang mereka minta itu beda tipis dengan ungkapan Batak “holong na mamboan hasesega” (sayang yang merusak).

Bila kita tua,

Luangkan waktu bersama rekan-rekan lama karena peluang untuk bersama mereka akan berkurang dari waktu ke waktu.

Bila kita tua,

Terimalah penyakit apa adanya. Semua sama, kaya atau miskin, akan melalui proses yang sama: lahir, bayi, kanak-kanak, dewasa, tua, sakit dan meninggal. Jika mungkin, seperti Santo Fransiskus, terimalah juga penyakit tua yang kita derita seakan-akan penyakit itu adalah Saudara kita juga, sama seperti Saudara Maut.

Bila kita tua,

Kita akan menyadari bahwa akan lebih baik jika seandainya di masa muda kita menghabiskan waktu lebih banyak dengan kawan yang seperti cermin. Kita gembira dia gembira, kita sedih dia juga ikut bersedih. Jangan mencari kawan yang seperti duit logam, depan lain belakang lain. Seperti ungkapan yang kita kerap dengar dari para sesepuh: Ai dongan mekkel do godang, dongan tangis so ada.

Bila kita tua,

Kita akan menyadari bahwa romantisnya kita sebagai pasangan adalah teladan yang jauh lebih efektif dibandingkan ribuan nasihat yang kita paksakan kepada mereka dengan wajah marah dan raut muka serius. Percayalah, anak-anak lebih suka melihat orangtua bermesraan di depan mereka dibandingkan menonton drama Korea penuh gimmick a la manusia plastik itu.

Bila kita tua,

Anak-anak kita akan tetap menaruh hormat kepada kita. Mereka tidak lupa patik atau uhum yang mengajarkan mereka bahwa “natua-tua i do Debata na Mangolu”, entah mereka pernah mendengar turiturian Debata Idup atau tidak. Jadilah meniru karakter “Debata” seperti yang mereka harapkan.

Page 2 of 4

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén