Christian paints his Christ

Rahib Christian Amore Sitohang

Berkepala cukur di tengah dengan tonsura tampak kentara, Christian Sitohang yang saat ini menjalani hidup sebagai eremit (pertapa) di sebuah lokasi pertapaan di daerah Sumatera Utara, menjadi sebuah pemandangan yang unik, sekaligus aneh bagi kebanyakan orang.

Hal yang tampak samar Saya alami juga ketika menemani Rahib teman sekelas Saya ini pada sebuah perhelatan apresiasi seni lukis dan ukir di aula Katedral Jakarta, beberapa waktu yang lalu. Mungkin beliau tidak menyadari, tetapi Saya menyaksikan dan menikmati beberapa orang yang memandang penuh heran, setengah bingung, seperempat salut dan seperdelapan sinis dan beberapa lainnya dengan reaksi yang hanya mereka yang tau artinya. Rahib memang membagikan beberapa pergulatan dan refleksinya dalam beberapa kesempatan bercakap-cakap dengan Saya. Tetapi, tentu saja, hanya Rahib yang tahu persis bagaimana “rasa”-nya menjadi seorang pertapa di zaman sekarang, di tahun 2017, belasan abad setelah Santo Antonius pertama kali memperkenalkan corak hidup pertapa soliter di padang kering Mesir.

Menjalani petualangan hidup sebagai seorang eremit dengan laku tapa kontemplatif dengan tetap membuka diri bersosialisasi dengan masyarakat luar adalah suatu corak hidup yang secara visual saja membutuhkan konsistensi luar biasa, terutama menghadapi cibiran dari banyak orang, termasuk dari para teman sejawatnya, para pelaku Hidup Bakti atau biarawan dari ordo dan kongregasi Katolik yang dia jumpai dan kenali. Tentu saja, tidak terhitung pula yang mendukung.

Konsistensi itu tetap ada hingga saat ini. Setidaknya, Saya melihat sendiri. Sehari penuh bersama Rahib, bersantap pagi dan siang dengannya, bagi saya jelas bahwa teman Saya ini adalah seorang pria sehat dengan semangat dan spiritualitas yang menyala-nyala pula.

Saya sendiri cukup senang karena beliau merelakan diri berjuang dalam tarik menarik antara tren visualitas modern dunia dengan corak hidup pertapa yang dipilihnya. Sesekali ia membuka pesan di HP-nya. Banyak permintaan dari umat yang mengenalnya, minta didoakan. Saya sendiri tak perlu mengirim pesan elektronik ke beliau, kesempatan bertemu itu Saya sempatkan untuk minta langsung dengan beliau.

Bersama teman-teman lain yang mendukung tetapi juga kritis terhadap pemurnian motivasi diri Sang Rahib, Saya cukup gembira menemukan bahwa corak hidup ini adalah pilihan yang diambilnya sendiri. Cukup mudah tertawa dan senyum, jelas bagi Saya, Rahib bukan orang yang tidak bahagia.

Pada 6 Juni, Rahib menulis di akun media sosialnya:

Dunia memang butuh aktivis-aktivis. Ini tidak dapat disangkal. Tapi dunia juga butuh kontemplatif-kontemplatif sejati. Seorang aktivis biasanya bekerja dengan kekuatan sendiri. Namun seorang kontemplatif, bekerja dengan daya diri sendiri dan kekuatan ilahi karena persatuannya yang mendalam dan kuat dengan Allah. Seorang kontemplatif sejati bukanlah seorang yang pasif dan pengangguran seperti disalahmengerti banyak orang. Justru sebaliknya, dia seorang yang peduli sekali dengan keadaan sekitarnya. Jikalau seseorang sudah memiliki kepedulian, maka dengan sendirinya dia akan jauh lebih mudah terdorong untuk berbuat sesuatu. Kepedulian melahirkan aksi. Seorang kontemplatif juga seorang pekerja keras. Dia bersemangat dalam doa dan kurban rohani demi kesejahteraan dunia dan keselamatan jiwanya. Dia tidak pernah menganggur bahkan ketika dia larut dalam doa dan tapa bisu yang mendalam dan panjang, dia menjadi orang yang sangat berguna di mata Tuhan”

Senang membaca permenungannya sedalam itu.

Christian paints his Christ

Jiwa seni yang agaknya menurun dari almarhum sang ayah (semasa hidupnya menjadi arsitek sekaligus mendesain bangunan gereja), sudah terlihat sejak tahun 2001, tahun pertama beliau dan Saya menjadi siswa di sebuah SMA. Di tahun kedua, Saya masih mengingat benar beliau sudah belajar melukis menggunakan jarinya, mengolesi cat minyak pada kanvas, sementara Saya menggambar seekor burung pipit pun hingga hari ini tidak pernah lulus.

Berhubung Saya bukan seorang penikmat seni lukis, juga bukan apresiator yang baik, Saya hanya mengagumi saja ketelitian, kegigihan dan kecermatannya yang membuat seolah setiap karya kerajinan tangan dan lukisan yang dia hasilkan, seolah ada “roh”-nya. Seperti pada lukisan yang menggambarkan Si Jesus ini, si Manusia-Tuhan, yang disembah oleh miliran penduduk bumi ini.

 

Perpaduan gamble, lukisan, doa, refleksi, puisi dan terpenting pengendapan dari sebuah proses kontemplasi yg panjang.

Sesuai dengan arus teologi umum Kekristenan yang meyakini Salib-Wafat-Kebangkitan Yesus sebagai perwujudan paling nyata dari kehadiran Tuhan dalam sejarah manusia, lukisan ini menunjukkan lagi dan lagi apa saja yang mengisi mahkota duri-Nya.

Alienasi, tidak adanya kasih dan compassion, struktur sosial yang mendehumanisasi, ketidakadilan, kemelekatan ekstrem yang tidak teratur pada materi, dan sifat-sifat destruktif lainnya yang bisa dan mungkin dimiliki oleh manusia dan ciptaan, ternyata hingga hari ini masih melukai kepala Yesus. Membuatnya masih berdarah dan berdarah lagi.

Konon, merenungkan misteri Salib-Wafat-Kebangkitan Yesus saja bisa membantu orang Kristen untuk benar-benar mengalami pertobatan yang sejati, perubahan mendasar pada pola hidup ke arah yang lebih baik (metanoia).

Entahlah, bagi Saya, memandang lukisan ini seolah membawa Saya pada momen-momen reflektif ini. Begitu saja muncul di benak saya seperti kilatan-kilatan kilat.

Seperti Po pada Kungfu Panda yang berjuang berdamai dengan masa lalu yang dia tidak kenali hingga mencapai inner peace.

Seperti memahami misteri hidup luar biasa yang dialami seorang pelacur yang ditinggal suaminya dan terpaksa menghidupi anaknya dengan memperdagangkan tubuhnya.

Seperti menyaksikan pergulatan hidup dari jutaan keluarga yang terpisah dari orang yang mereka cintai karena perang, genosida, atau teroris yang gemar memenggal kepala.

Seperti menyaksikan kemunafikan para pemuka agama dan pemimpin publik yang menjual ayat-ayat suci dan memperoleh segepok pundi-pundi rezeki.

Seperti menonton kilas balik dari semua kegagalan, kemalasan, dan keengganan Saya untuk berjuang lebih keras lagi menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih dewasa.

Seperti menyaksikan tangis dari anak-anak gelandangan yang tidak tahu harus pulang kemana karena orang tua mereka saban hari selalu menindas mereka.

Seperti merasakan benar rasanya menjadi seorang yang dikucilkan oleh teman-teman kerja, atau dicibir di lingkungan sosial.

Atau seperti Pak Ahok yang harus berjuang melewati hari dan malam di balik jeruji besi, padahal baru saja membaktikan diri untuk memperbaiki ibukota negeri ini. Harus berpisah dari isteri dan anak-anaknya karena persekusi politik nan keji dari sekelompok atau pemegang kuasa yang tak tertandingi bahkan oleh rezim sekarang ini.

Seperti melihat konflik antara kakak-beradik, “na marhahamaranggi, na gabe olo marsitallikan alani tano sattopak tadingtadingan ni natorasna naung monding.”

Atau seperti melihat anak kecil dari keluarga yang sangat miskin di kontrakan sempit, basah dan pengap di kota ini, yang hanya bisa gigit jari ketika istirahat sekolah menyaksikan teman-temannya menikmati lelehan es krim yang manis.

Atau jutaan anak yang menderita busung lapar di Afrika dan Bangladesh, yang tidak bisa apa-apa kendatipun setiap Minggu orangtua mereka selalu dikotbahi oleh sang pendeta bahwa “Allah itu Baik”

Atau seperti anak muda yang saban hari mengurung diri di kamar dan melihat apa saja yang terjadi di zaman ini, yang galau di tengah gempuran modernitas yang tak mampu diterimanya. Ketergantungan pada obat-obatan, perilaku seksual yang menyiksa diri dan mitranya, pedofilia, necrofilia, perdagangan keindahan tubuh, perdagangan orang, kekerasan massal, bully yang masif, atau perilaku masokis lainnya.

Dan … jutaan “luka” yang lainnya yang masih manusia ciptakan hingga saat ini.

 

Begitulah.  Semua itu menjadi duri yang masih melukai kepala Yesus hingga hari ini.

Entah penyembah Yesus, atau Tuhan dengan ribuan nama lain, entah agnostik dan ateis, lukisan ini seolah berkata:

“Ayolah. Berhentilah menjadi duri. Kasihan Yesus. Kepalanya berdarah terus”.

Oh iya. Rahib, terima kasih atas telah melukis sebagus ini. Semoga teman-teman Muslim yang juga membaca tulisan ini, memandang lukisan Rahib, juga terbantu mengalami “metanoia” sejati dalam Ramadhan yang suci ini. Toh, Tuhan kami ini adalah nabi kalian juga.


All photos are used by the courtesy of Rahib Christian Amore Sitohang. Please do not reproduce without his prior consent.
Facebook Comments

Lirik “Tangiang ni Dainang”

Tangiang ni dainang i na parorot tondikhi.
Manang di dia pe au, manang di dia pe au.
Tongtong sai diramoti.

Nang sipata salah au, tartutuk au dilangkahi.
Diboan ho di tangiangmu, diboan ho di tangiangmu.
Inanghu naburju.

(Reff): Hu dai natonggi dipargoluonon.
Upa ni lojami, humonghop gellengmon.

Mauliate ma inang, disude pambaenanmi.
Penggeng sari matua, penggeng saor matua.
Paihut ihut hami.

Nang sipata salah au, tartutuk au dilangkahi.
Diboan ho di tangiangmu, diboan ho di tangiangmu.
Inanghu naburju.

(back to Reff)

 


Disesuaikan seperlunya dari LirikLaguBatak.Com
Facebook Comments

Lirik “Dekke Jahir”

Di naro simatuakku
mandulo boru nai.
Diboan do deke jahir na sai.
Mekkel suping ma attong da.
inang ni dakdanak i.
Mida dekke binoan ni inantai.

Ai di na ro, simatuakku
lao mandulo borunai.
Ai diboan do dekke jahir
diboan do dekke jahir nasai.

Ai dohot do dongan sahuta
jala longang mida i.
Mida dekke binoan ni inanta i.
Ai rohakku pe tarhirim
jala longang mida i.
Dekke jahir binoan ni inanta i.

Ai di na ro, simatuakku
lao mandulo borunai.
Ai diboan do dekke jahir
diboan do dekke jahir nasai.

 


Unpopular fact:

Di banyak media dan sumber berita, disebut bahwa lagu Batak Dekke Jahir (Dengke Jahir) adalah lagu lawas ciptaan Yan Sinambela, salah satu personil group komponis Guru Nahum Situmorang. 

Misalnya, di salah satu kanal Youtube dengan tangkapan layar ini.

Tapi, coba dengarkan lagu Cotton Field ini.

Sama nada dan motif lagunya? Ya. Karena memang lagu yang sama.

Maka, kalaupun dinyanyikan ulang dengan bahasa berbeda, sangat arif jika tidak ada klaim bahwa Dekke Jahir adalah ciptaan Yan Sinambela. Menulis lirik baru atas lagu yang sudah ada? Barangkali iya. Dalam hal itu, unsur “mencipta” dilakukan Yan Sinambela. Padahal, sebuah lagu itu mencakup musik dan lirik. Tak hanya lirik. Kembali ke awal lagi: Tidak benar lagu tersebut ciptaan Yan Sinambela.

Saya tak lantas menyebut ini tindakan plagiarisme atau pembajakan sebab tidak punya cukup informasi apakah Yan Sinambela sudah meminta izin dan mendapat izin dari Creedence Clearwater Revival, pemilik asli lagu tersebut, atau pewarisnya.

Lagu itu sudah sangat lawas sehingga tak perlu izin untuk remake atau menculik nada dan motifnya tanpa mention penulis asli lagu? Tunggu dulu. Hak cipta dan royalti berlaku 70 tahun.

Jika benar pembajakan, ini menyedihkan. Sebab pembajakan itu menghilangkan motivasi dan kreatifitas pencipta. Padahal, motivasi dan kreatifitas adalah dua aset paling berharga yang dimiliki seorang seniman. Selain waktu, tentu saja.

Menghilangkan dua aset berharga itu berarti nyata-nyata menodai “proses berkesenian”, menyitir kata seorang seniman dari Jogja, Rimanda Sinaga.

Facebook Comments

“Cinta untuk Mama” by Kenny

Apa yang kuberikan untuk mama
Untuk mama tersayang
Tak kumiliki sesuatu berharga
Untuk mama tercinta

Reff:
Hanya ini kunyanyikan
Senandung dari hatiku untuk mama
Hanya sebuah lagu sederhana
Lagu cintaku untuk mama

Apa yang kuberikan untuk mama
Untuk mama tersayang
Tak kumiliki sesuatu berharga
Untuk mama tercinta

(back to Reff)

Walau tak dapat selalu ku ungkapkan
Kata cintaku ‘tuk mama
Namun dengarlah hatiku berkata
Sungguh kusayang padamu mama

(back to Reff)

 


Sumber: KapanLagi.Com

Facebook Comments

“Mother How Are You Today” paraphrased by Shir El Band

Mother, how are you today?
Here is a note from your Dear Son
With me everything is OK.
Mother, how are you today?

Mother, don’t worry, I’m fine.
Promise to see you this summer.
This time there will be no delay.
Mother, how are you today?

(Reff:)

I found the girl of my dreams.
Next time you will get to know her.
Many things happened while I was away.
Mother, how are you today?

Mother, how are you today?
Here is a note from your Dear Son
With me everything is OK.
Mother, how are you today?


Lirik aslinya seperti ditulis oleh Maywood bisa dilihat di Metrolyrics.com.
Facebook Comments

Lirik “Bunda” by Melly Goeslaw

Ku Buka Album Biru
Penuh Debu Dan Usang
Ku Pandangi Semua Gambar Diri
Kecil Bersih Belum Ternoda

Pikirkupun Melayang
Dahulu Penuh Kasih
Teringat Semua Cerita Orang
Tentang Riwayatku

Reff#

Kata Mereka Diriku Slalu Dimanja
Kata Mereka Diriku Slalu Ditimang
Nada Nada Yang Indah
Slalu Terurai Darinya
Tangisan Nakal Dari Bibirku
Takkan Jadi Deritanya

Tangan Halus Dan Suci
T’lah Mengangkat Diri Ini
Jiwa Raga Dan Seluruh Hidup
Rela Dia Berikan

(back to Reff#)

Oh Bunda Ada Dan Tiada Dirimu
Kan Slalu Ada Di Dalam Hatiku …

Facebook Comments

Oppung Napabalgahon Ahu

Oppung,

Boha kabarmu saonari?

Sahat tu sadari on dang hea lupa opung tu au. Goarhu pe sai tong do diingot ho, dang hea age sahali pe ho pilit manjou goarhi.

“Presta ….!!! Rina …!, nunga ilean hamu babinta mangan?”

“Molo mulak hamu sian sikkola annon, dapothon au tu kopi dah. Ia hunsi di ginjang ni jendela hubaen”, inna Oppung tu hami nadua molo naing berangkat hami tu sikkola. Marborat ni lakka do attong iba. “Holan na mangula torus”, inna roha ma di bagasan.

Dua ma hami dipagodang-godang oppung on. Apalagi au mulak pe tu huta so adong do pe huantusi manang aha. Molo kakakku si Rina nian nunga jumolo marseragam putih merah ibana andorang so dialap Oppung hami sian Jakarta, asa gabe Oppung ma naparmudumudu hami gatti ni natoras naung jumolo marujung manadikkon hami ianakkonna.

“Gogo baen na manggula i. Asa adong hepeng lao parsibajum Natal dohot Taon Baru da, Era”, ninna Oppung Boru mandok hami nadua. (Somalna manjou “Eda” do Oppung Boru tu pahoppuna boru, alai ala di Humbang do turiturian on, gabe “Era” do inna”)

Burju ni Oppung on tarida do. Dang hea hami hatinggalan sian akka dongan mangodang nami dibaen.  Molo juppa Ari Minggu lao ma hami marsikkola Minggu dohot kakak. Sipata molo ringgas rohana, olo do ditaruhon Oppung Doli on hami. Alai molo adong do dongan dakdanak mardalan sian Maranthi sahat tu Sibuntuon, ima iananni gareja HKBP i, rap ma attong hami mardalan dohot akka dongan i huhut marnonang. Molo adong harumotting manang lau-lau, pittor marsigulut do attong hami mambuatsa. Molo niingot, seru hian ma attong. Mulak annon sian parMingguan, marmeam ma nian ulaon muse.

Olo do nian sipata sogo roha. Tikki tabo-tabona martali goyang manang marsitabunibunian iba dohot akka dongan, olo do dijou Oppung Boru on.

“Presta ….! Rina….! Lului jo babitta. Nunga lao ra tu porlak ni jolma an”, inna Oppung ma attong. Ikkon lao do attong iba hatop, so boi dang.

Jei, boi dohonon dang pola hea hami dipamanja Oppung songon akka dongan satorbangnami. Sai dipasingot do asa binoto lungun. Molo sala pe hami, dilibas Oppung do pakke lili. Molo songon na jorgang pe pangalaho manang panghataionniba, torus di dipasingot.

“Molo mulak sikkola, loppa gadong da”, inna Oppung on ma dah tu au di sada tikki i. Kalas 1 SD dope au tikki i. Dang dope binoto mangula. Molo kakak attong nunga lao tu saba mandongani Oppung mangula.

Goarna pe dakdanak. Uju i, “godang dongan marmeam, ima nian ulaon”, inna roha do.

Ia molo Oppung Doli so hea on mangalipat, nang pe mura muruk. Molo muruk ibana, pittor tarida ma attong suhi-suhi ni bohina i. Marlipat ma attong pardompakanna i. Ima na so tarhalupahon au sian Oppung Doli on. So hea ibana mangalinsing hami, sian na menek sahat tu naung gabe anakboru.

Sai sehat ma jala ganjang ma umurmu da Oppung. Atik pe so adong dope na boi tarbahen manang aha, tamba ni tangianghi.

Agak maol do dapot poto ni Oppung Doli dohot Oppung Boru on. Holan on ma na dapot.

 

Pitu taon ma dung nitadikkon huta, dang dope hea mulak. Sihol ni roha i nian, tung i nama balgana. Molo martelepon tu huta, lalap ma holan na manukkun andigan rencana parbogason ni iba i. E tahe. Boha ma bahenon mangalusi.

Oppung, sehat ma hamu disi da, Oppung.

 


Pinature sian guratgurat ni si Presta Simamora
Facebook Comments

Enchilada

Encounter“-nya Schillebeeckx menjadi semakin jarang dirasakan pentingnya oleh generasi zaman sekarang. Perjumpaan personal secara face-to-face dirasakan banyak orang sebagai sesuatu yang tidak lagi begitu produktif, digantikan oleh komunikasi haha hihi dan chat tak berujung penuh emoticon dan sandiwara penuh humor basi di group-group Whatsapp, Blackberry Messenger, Facebook, Telegram, Line dan sebagainya, you name it. Tak jauh beda situasinya dengan japri alias jaringan pribadi (private channel).

Banyak psikolog menengarai gejala ketakutan dan kekurangcakapan generasi sekarang untuk membina relasi yang “material” (material dalam arti tangible, sensible dan personal sebagai antitesis dari yang digital) sebagai bentuk baru alienasi manusia terhadap dirinya. Orang tahan berjam-jam, bahkan melebihi durasi jam kerja sesuai UU Ketenagakerjaan (8 jam sehari, 5 hari seminggu) dengan jari-jemari tak henti-hentinya mengetak-ketuk atau mengusap layar sentuh di handphone atau gadget-ya, tetapi tidak lagi mampu berbicara secara sungguh-sungguh dengan mitranya dalam perjumpaan tersebut. Entah mengapa.

Begitulah kini kita pelan-pelan menciptakan dan menjadi bagian dari “masyarakat yang bungkuk menatap layar”, bukan lagi “masyarakat yang tegak dan tersenyum menatap wajah”. Jika saja Max Scheler atau Edmund Husserl masih hidup di zaman sekarang, mungkin mereka akan memaki-maki kita, manusia-manusia yang tak lagi efektif berkomunikasi interpersonal.

Tapi, benarkah orang memang semakin menghindari perjumpaan personal?

Ataukah memang perjumpaan antarpribadi sekarang semakin menurun kualitasnya?

Bahkan jika kita mengalah pada relasi transaksional, apakah perjumpaan secara personal tidak lagi mendatangkan keuntungan (profit) dan manfaat (benefit) bagi masing-masing pribadi?

Jika demikian, solusi yang sangat realistis perlu dicari untuk menyembuhkan penyakit “kekurangcakapan” ini adalah:

Bagaimana mencari profit bagi diri sendiri setiap kali bertemu dengan orang baru atau berada di tengah perkumpulan yang baru?

Masalah-masalah komunikasi interpersonal (yang kerap tak menyeruak keluar secara eksplisit tetapi agaknya diderita oleh masing-masing kita di zaman digital ini) saya coba inventarisir dari contoh-contoh konkret yang kita alami sehari-hari. Berikut beberapa hasilnya.

  • Kalau nanti pada pertemuan satu almamater, Saya bukan pembicara atau Pemrasaran, adakah untungnya buat saya?

 

  • Jika saya hanya menjadi pendengar budiman, layakkah saya menembus macet dan meninggalkan jadwal facebook-an saya hanya untuk melihat orang-orang baru di kopdar (“kopi darat” = meet up) yang akan datang ini, yang bentuk wajahnya saja tampaknya bukan tampang orang berduit?

 

  • Gimana ya caranya supaya saya bisa jualan produk-produk online atau dapet referral kalau saya hanya peserta biasa?

  • Saya maunya usaha kecil-kecilan yang saya mulai ini bisa dikenal oleh sebanyak mungkin teman pada acara reuni nanti. Tetapi, kalau sumbangan dana partisipasi Saya ke panitia acara hanya kecil saja, apakah teman-teman saya itu masih mau meladeni ajakan saya untuk bertemu mereka dan melakukan prospecting

  • Lama-kelamaan rasanya setiap kali Saya membuka sedikit tentang gagasan saya, atau menyinggung sedikit tentang unit usaha yang sekarang saya kembangkan, kok tatapan teman-teman yang tadinya hangat ke Saya tiba-tiba menatap Saya seperti mereka baru saja ditodong oleh seorang agen asuransi yang frustrasi demi mengejar target capaian premi sehingga tak sadar melakukan jual paksa?

  • Dengan segala kemudahan untuk mengakses informasi sekarang dari internet, masih perlukah saya membuang uang, energi dan waktu untuk datang ke live event, seminar atau workshop?

  • Kalau Saya datang ke suatu pelatihan atau seminar, masih perlukan saya membawa setumpuk kartu nama untuk Saya bagi-bagikan ke setiap orang disana? Apa saja yang sebaiknya Saya tampilkan di kartu nama tersebut, dan apa yang sebaiknya tidak?

  • Dengan puluhan atau ratusan kartu nama yang saya dapat hasil dari tukar kartu nama, artinya mereka adalah potential client atau prospect Saya, bagaimana cara follow up yang baik sehingga mereka tidak merasakan kehadiran sebagai sebagai penguntit?


 

Adakah teknik atau gaya komunikasi yang mesti Saya batinkan sehingga Saya bisa menyajikan hidangan enchilada penuh guna memuaskan selera mitra atau calon mitra Saya?

Saya mau supaya potongan tortilla jagung ini bisa saya tawarkan dan disukai oleh segala macam selera dan konteks situasi. Artinya, kalau si A suka daging, dia menemukannya pada saya. Untuk si B yang suka keju, dia melihatnya ada pada saya. Bagi si C yang suka kentang, juga didapatnya dari Saya.

Is there reallly a thing such whole thing that corresponds to every situation and style of interpersonal communications?

If it is somewhere there, where to find that specific whole enchilada?


 

Konon, dulu Dale Carnegie sudah menasihati ribuan kali:

Ketika bertemu dengan orang, perbanyaklah MENDENGARKAN.

So, the whole enchilada really exists. You just need to listen, understand every need, respond to it, and voila, you have just made another succesfull selling.

Entah barang atau jasa apapun yang Anda sedang jual.

 

Facebook Comments

Tirani Pelajaran Memperbudak Pembelajar

Apa itu Tirani Pelajaran

Hampir semua nilai-nilai modern –  terutama yang ditanamkan melalui sistem pendidikan kita – jika ditelusuri, merupakan ancaman serius terhadap kebebasan dan keagungan manusia, menghambat kita menjadi pribadi seperti yang diinginkan oleh Tuhan (atau Supernatural Being dalam sebutan apapun yang menjadi awal da pelabuhan terakhir kita). Bentuknya bisa beragam. Mulai dari imoralitas, filsafat atau pola pikir yang buruk, ketergantungan kimiawi dan teknologis; semuanya adalah bentuk-bentuk penjajahan atau perbudakan.

Pseudo-values (nilai-nilai semu) itu kita yakini sebagai nilai yang luhur, tetapi ternyata menjadi tirani yang membelenggu kita, lebih kerap malah semakin mengkonfirmasi alienasi diri terhadap diri sendiri.

Institusi pendidikan kita merasa diri sudah selesai dengan pemikiran klasik. Kurikulum dibuat dengan mengesampingkan Kebenaran, Keindahan dan Kebaikan, dan menggantinya dengan Relativisme, Kebodohan, dan Penyiksaan Diri sendiri. Para siswa tidak lagi dididik untuk memahami pelajaran sejati dari Sejarah, tidak dibina untuk berjuang meng-aku-kan keutamaan, dan tidak lagi menghormati Tuhan. Mereka belajar banyak “seni”, tetapi tidak belajar seni berfikir. Alhasil, tidak sedikit gagasan buruk tereksekusi di tingkat akademi dan kemudian memaksa kita untuk memberi tempat baginya dalam kesenian, hiburan dan media.

Maka tidak heran bahwa sebenarnya kita telah menciptakan masyarakat dimana para warganya tidak mampu berfikir untuk diri sendiri, tidak mampu menghibur diri sendiri, tidak mampu membela diri sendiri, benar-benar tidak mampu untuk menyediakan support bagi diri sendiri. Kita telah menciptakan masyarakat budak. Orang-orang menjadi cepat marah dan bingung, bahkan dalam situasi dimana mereka tidak tahu apa sebetulnya yang membuat mereka marah, apalagi mengungkapkan kemarahannya dengan cara yang tepat.

Anak muda tidak lagi belajar arti seni, literatur dan bahasa yang benar. Mereka sadar bahwa mereka tidak puas. Ada kehausan untuk mencari nilai-nilai yang sejatinya melekat dengan kodrat manusiawi mereka yang agung. Tetapi mereka tidak menemukannya. Alhasil, gerombolan dari orang-orang yang tidak puas ini kaget menghadapi conundrum mengerikan dimana mereka bahkan tidak mampu mengungkapkan ketidakpuasan mereka secara tepat.

Learn how to use brake, accelerator and pedal, and use them properly!
Learn how to use brake, accelerator and           pedal, and use them properly!

 


 

Catatan:

Tulisan ini saya buat tepat sesudah tayang berita bom panci meledak di Kampung Melayu dan sekelompok ABG yang tergabung dalam kelompok yang menyebut diri Gangster melakukan aksi brutal.

 

Facebook Comments

Andung ni Boru Siappudan

Nunga be hampir dua pulu taon lelengna au dang pajuppang dohot Amonghu. Di tikki dakdanak au pittor tibu do Inong pangitubu i lao. Sandok dang pola hutanda songon dia do tutu bohi ni Inong na manubuhon au on. Holan barita dohot turiturian sian halak nama binege.

Inna nasida:

“Jolma na burju jala na uli do inongmu”

Molo dang sala marumur lima taon ma au tikki toppu ro sahit ni Inong. Tung i ma berngit ni sitaononna alani sahit i, alai tong do dipaboan-boan songon i, asal ma boi husan-huson parmudumuda hami. Nunga songon i pe, so pittor diboan Among ibana marubat. Jempek ma i hutariashon, ala dang tartahan au manetek ilukku tikki manggurat on, dang piga leleng, marujung ngolu ma Inong.

Tading ma hami gellengna. Adong hami lima halak toropna. Opat hami boru, sada ma itokku. Ia kakak siakkangan kalas tolu SMA ma tikki i (Kalas XII molo di zaman saonari). Toho ma tutu. Dung mate Inong dang adong be iatturehon Among hami akka gellengna. Marserak ma hami na lima. Adong ma on na karejo di pabrik i Tangerang. Adong ma on na lanjut sikkola, alai alani ni hapogoson na toppu manoro (na uju i soppat do marmobil hami tikki akka dongan mar-tipi pe boi bilangon dope), godanganma hami putus sikkola.

Haccit situtu do di tikki i molo nipaingotingot. Maniak ateate.

“Boasa ikkon songonon taononnami?”

Au ma na unggelleng tikki i. Tikki mangolu Inong, sai jojot do Amonghon lalu tangan. Dang holan tu Inong, tu kakak dohot ito pe songon i do rimasna. Molo nungga jumpang borngin pittor mabiar ma hami sude. Ai di tikki songoni do parroni sahit rimasna i, olo ma berengon hira parkambuh ni sahit na so tarubatan i. Hape nian so na marsahit pamatangna, minar do nang bohina. Lumobi ma molo tikki minum, dang holan minar, nunga be marrara. Mabuk, i ma nian karejona tiap bodari on.

Molo nungga borngin minum ma. Tenggen ma. Sipata lungun sappur geok do nian molo niingot. Dang hinata tutu, sagalas pe diinum nungga mabuk, alai tong didatdati. Molo nunga tenggen hira Raja Padoha ma idaon bohina on (hea do tahe dibereng hamu Raja Padoha?). Molo di partenggenna i attong, so adong be dibereng on jolma na humaliang ibana, tarmasuk ma i parsinondukna dohot hami ianakkonna, anak dohot boru dipatiptip do sude. Holan hurang sikkap iba mangalean tes na, tor disampathon ma. Jotjot ma on hona tu bohi niba disampathon. Tamba ni i, disipak do muse. “Ue tahe, sibaran ni iba na maramong on”, inna roha molo tikki di sihabunian i. Sahat tu na marujung Among, dang muba pangalahona. Holan tikki di parsahitan si na piga-piga minggu i do.

Mulak ma satokkin tu pudi. Dang leleng dope dunghon marujung Inong, pittor tibu do attong Among marmeammeam boru-boru. “Main perempuan”, molo istilah zaman saonari. Ra adong dope saotik lungun ni rohana, dang tarpaberengberengsa akka peninggalan ni Inong, gabe tibu ma ditutungi sude. Pahean, sipatu, dohot lan lan asing. Adong roha lao mangingil nian asa adong kenangkenangan sian Inong, alai dang adong be tinggal manang aha pe, nunga hona tutung sude. Diambolokkon akka na so tartutungna. Goarna pe dakdaknak, maramonghon Among parrimas, dang adong sada pe hami na barani mangalo. Sip ma hami sude, songon anak ni manuk na teokteok, naing nian manginsugut tu abarana, alai dipasombu do ngalian so marbulusan. Sandok, aha pe pinandokna, boha pe pangalahona, sitau sip ma hami. Hohom hira bangso na talu di parporangan.

Pola do pigapiga lelengna lam songon na kumat rumas ni Among dung parlao ni Inong. Gabe hami ma panombosanna. Tiap ari on ikkon hona pastap do hami. Hona tunjang. Jotjotan ma i dang alani bonsir manang aha pe. Gabe hira hasomalan ma i di Among.

(Situan Panjaha na huparsangapi, paima hamu satokkin da. Husesap jo ilukkon. Nunga martektekan sian nakkingan)

Lam marroha ma hami. Tung pe di parhassitan, hona gosagosa alani rimas ni Among, martumbur do hami sude ianakkona. Marsipapuasan ma sesama hami attong. Sian i, tubu ma habaranion laho borhat tu huta sada, tudia pe taho. Alana dang be jabu na mardongan dame bagas na huingani hami saonari on. Nunga be i, dang tartaon be na tiap ari hona tangan ni Among i.

Jei, hea do adong di sada tikki, naeng ma mangoli ma sakkap ni Among on. Dipasahat ma sakkap nai tu hami. Nunga mulai marroha attong hami disi. Dang setuju hami, ima jompokna. So sae dope ilu-ilu di partading ni Inong, so suda dope andung di panggosagosa ni Among, ikkon jaloon muse inna marina panoroni? Parlistip na tobal dohot parrok mini muse do gombarni boruboru ipatudu tu hami. Muruk ma muse attong Among. Suda ma hami muse dipastapi so pola marboa-boa, ditunjangi so marhasoan dang jolo mardongan aba-aba, ala so huoloi hami pangidoanna i. Ai nunga tahe di-lissoi-hon Among piga-piga galas bir dohot tuak andorang dipasahat sakkapna i tu hami, i ma na lao ma mangalap pangganti ni Inong naung mardame sonang di Surgo i.

“Inong, unang sai tangis ho mamereng hami sian ginjang i, mardame sonang ma ho da Inong di ampuan ni Tondi Porbadia i.  Hahomion do nuaeng na hudaopi hami on”, ima tangianghu na sai tong huboan molo tikki sasadasa au, masuk tu bilikku na sompit on.

Tep ma i. Dang huingot be tanggal piga, di sada manogot, rap ma hami marsakkap asa kabur dang mulak tu jabu sidung sikkola. Soppat do disusun kakak dohot ito strategi lao mamboan au kabur, alana lima taon dope au disi. Ale i ma, dang adong nanggo lipper bola pitu huboan hami tikki i. Sandok, dokdok hian ma. Mardongan hata elek, gabe boi ma hami dijalo tinggal di kontrakan ni namboru, apala iboto takkas ni Among on. Asa diboto Situan Panjaha, tu itona on pe, dang sahali be Among patuduhon rimasna. Modom ma hami borngin i disi.

Di naso panagaman, manogotna i tikki lao kakak dohot ito marsikkola, ro ma attong na gogo i, i ma Among. Tor disoro do attong tu kalas. Guru na mangajar disi pe sip ala ni biarna, dang iatturehon. Dijolo ni akka donganna, ditopari Among ma kakakku siakkangan (nuaeng nunga lima anak tinubuhonna, sai hipas ma ho tongtong, da Kakak hasian), dang tarberengbereng ni akka donganna, ai masa do hape anakboru naung bajarbajar hona topartopar ni amang parsianuanna, di jolo ni akka donganna. Hira sinetron ma, talu dope drama melankolis mengharu-biru ni Korean Film zaman saonari.  Marmudari do tikki i igung dohot pamanganna. Pola do durus mudar, gok ma di bohina i.

“Tudia dibaen ho kabur akka adekmu, hurang ajar?”, inna Amanta i ma gogo di kalas i, mangoga kakakhi. Nuaeng hupikkiri, ise do situtu na hurang ajar, inna rohakku.

Alai i pe, tong ma ho mardame sonang dohot Inong da Among. Dang boi be songgakonmu Inong di Banua Ginjang i, ai nunga adong Jesus mangampini. Dang tolapmu molo tusi“, ima tangianghu apala gomos hudokkon molo sai binege jamita ni Pastor manang Pandita di gareja.

Lanjut ma muse.

(Mangido tikki satokkin ate, Situan Panjaha, husesap ma jo muse ilukku da. Songon na dokdok hian huhilala, pojjot di roha manggurathon turiturian ni keluargakkon).

Mulak sikkola, tor hatop ma attong kakak on sahat di jabu ni namboru. Marsap mudar dope bohina i. Dang pola godang makkatai, tor dihaol namboru na burju i ma attong kakakhi. Diusap ma simanjujungna. Alai, dang so dope hape parmaraan i. Satokkin dope menak satokkin di jabu ni namboru i, tor ro ma attong Among marmboil, diboan ma donganna. Naing tutungonna inna jabu ni namborukki, jabu ni itona manakkas i. Ala dietong i gabe jabu partabunian nami.

“Tutung ma tutung, ito. Andorang so tioponmu akka maen dohot paramanhon, au ma parjolo”, inna namborukki tikki i. Dang adong biar ni namborukki hubereng tikki i alani holongna ma tu hami. Ikkon hatidanghononna do tutu na manghaholongi hami ianakkonni edana. Hape parbohi na lambok do nian namborukkon molo siganup ari, parroha na serep. Ra alani marnida habaranion ni namborukki, dang jadi dipasaut Among ogapogap na i. Salpu ma i holan hata. Mauliate ma di Debata.

Sabotulna, donganna binoan ni Among i pe dipatuduhon do alo ni rohana dung diboto na jabu ni ibtona manakkas do na naing situtungonni Among. Alai, goarna ma mardongan, huroha naung parjolo do digarari Among minumna di lapo, jadi alangalang ma donganna nai patuduhon alo ni rohana.

Salpu ma ari, jumpang ma bulan, digogohon kakak dohot ito ma rohana laho mangalualuhon sude na masa i tu keluarga. Sandok dipatolhas ma sude parmaraan i, boha pangalaho ni Amongnami on maradophon hami, tarmasuk ma ito sijujung baringinna. Pate ma i, dang na uhum be hape na binahen ni Among i tu hami, i ma unokna na sahat tu keluarga. Dang pola ganjang disulikkiti akka keluarga holan mambege sude holso dohot alu-alu i, huroha nasida pe otik godang ditanda do Amongnami on.

Dilului ma jalan keluar.

Dapot ma hasil ni runggu i: Ikkon penjarahonon do Amongnami on. Soppat do nian lao mulak roha, alai dung manimbang sude, ditolopi hami ma rencana i. Disusun ma laporan tu polisi. Dang pola huingot hona piga pasal, alai na takkas hubege inna sahalak sian keluarga na kebetulan pengacara haruar do hata “Penganiayaan”. Polisi pe dang pola leleng mamareso laporan i, ditangkup ma Among, diboan tu penjara. Pigapiga ari ditahan, pittor naik ma kasus i tu pengadilan, diattuk hakim ma tokkokna i: Vonis 5 tahun penjara. Alana metmet dope au tikki i, dang dipaloas au mamereng proses pengadilanna. Na hubege, soppat do inna tangis Among tikki mambege vonis i, alai alani dokdok ni parmaraan na ihilalahonni kakak tu ibana sandiri dohot tu hami akka anggi-ibotona, soppat do didok kakak tikki i tu natorop na ro tu pengadilan i: “Air mata buaya itu!!!” Hohom do inna Among umbege hata i, ai sude i na binahenna do, dang adong na tinambaan manang nihurangan.

Alai goarna ma mudar, sipata lao do kakak dohot ito mandulo Among di penjara, alai molo au dohot kakak na pas di ginjanhu dua taon, dang hea dipaloas dohot. Au sandiri pe trauma do. Gabe tarboan do i tu siganup ari. Holan hubereng ama-ama na marjambang (alana marjambang do tikki i Among), tor hira na mamereng begeu manang pamangus sitakko dakdanak do au. Tor hatop do au manginsugut, tor sikkop do muse oppung na pabalgahon au  muse di jolona manghaol au. Jotjot do au manghitiri, olo sappe hir hodokhu alani biarhu. Goarna ma dakdanak boruoru, lima taon dope.

Godang ma na masa di si lima taon i. Boi hami marhosa manorushon ngolunami be. Dang marna sukkup hata mauliate dohononhu tu sude keluarga, tu Oppung Doli dohot Oppung Boru (hugoari do on mesra “Oi, boru Purba”, nikku), tu Tulang, Amanguda, sandok sude ma i naung hugoari. Mauliate. Ditambai Tuhan Debata ma pasupasuna di hamu sude.

Atik pe dang adong hepeng tikki i, alana lao Ujian Nasional kalas 3 SMA nama kakak siakkangan, marhoihoi ma hami boha ma asa sae sikkolana i. Ia itokku, ima sipaidua, kakak nomor tolu dohot kakak nomor opat, gotap ma sikkolana. Molo au tikki i dang dope sikola ai gelleng dope. Monmonon dope, olo do sipata ikkon diurupi molo lao martapian.

Ala nunga be sikkop sude akka urusan na menyangkut Among on, ro ma Oppung Doli sian huta Maranthi (Dolok Sanggul) mandulo hami. Holan dibereng hami mangan so mangan di Jakarta on, nunga marniang be sude on, pahean pe sipata so boi margatti tiap ari, dang tardokna be mangida dokdokni parngoluannami akka pahoppuna on. Hea do hubereng satokkin tangis Oppung Doli on, alai dang dipataridahon i di jolo nami. Na topet do nasopamotoanna tikki i, hubereng mangangguki ibana sasahalakna di dapur nami na 1 x 1 meter i.

Dipangidohon ma asa au dohot kakakku si nomor opat i olo mulak tu huta, asa pasikkolahonn. Soppat do nian dang olo au maninggalhon kakak dohot ito sinomor dua dohot kakak si nomor tolu, alai molo naing rap dohot nasida ikkon pamasukonna ma inna tu panti asuhan. Alai, dang huboto alani aha, biar do au tu Suster Pembina Panti Asuhan tikki i (adong dope sahat tu sadari on jongjong panti asuhan on, di Tangerang an). Alani i, huoloi ma. Mulak ma hami natolu tutu. Di huta ma au dohot kakak si nomor opat i marsikkola, goar ni sikkola i: SD Negeri 1 Sibuntuon.

Songoni ma jo. Molo adong tikki, hugorathon pe muse. Sattabi ma jolo di hamu Situan Panjaha na pinarsangapan, hubuat jolo sabukkus nai tissu. Nunga suda hupakke holan manggurathon turiturian na jempek on.

Papa, I Love You

Molo adong hamu na manjaha on partenggen, ingot hamu, asi rohamuna tu akka ito dohot edaniba i, unang pola nian taonon ni nasida na dokdok songon na hutaon on.

(Pinadenggan sian guratgurat ni Si Presta Simamora, sian kisah nyata pribadi)

Facebook Comments