Aku

Orang yg belum kenal aku (atau hanya baru kenal di online) mungkin menganggap aku ini nyeleneh. Ada yg bilang aku ini subversif, kontroversial, kritis, bidah, bahkan sesat. Terakhir, para ulama dan katekis gereja yang berteman denganku di laman Facebook, akhirnya memutuskan pertemanan denganku. Kata mereka aku ini sinkretis, masih ada sisa -sisa animis dan dinamis dalam kepercayaanku. Yo wis, sambil ngopi di kala hujan aku cerita sedikit deh.

Kalau tiba masanya Hari Raya Haji, kami pun ikut menikmati hidangan yang disediakan oleh bibiku yang beberapa tahun ini ikut dengan suami yang beragama Islam. Favoritku ialah sop sapinya. Nggak amis. Nikmat rasanya ketika sumsumnya merongsok masuk ke kerongkonganku. Sebenarnya sih, aku nggak begitu yakin apakah mereka tahu bahwa aku juga menikmati saksang babi yang juga selalu menggoda seleraku itu. Jadi, buat amannya, aku tidak pernah memberitahu bibi soal itu. Sebenarnya bukan tanpa alasan sih. Sebelumnya aku pernah melihat bibi membersihkan seluruh perabotan masak ketika dulu ada berita bahwa penyedap masakan yang biasanya bibi pakai itu ternyata mengandung zat kimia yang terbuat dari daging babi. Sampai-sampai si mukenah si bibi belepotan cairan pembersih waktu itu. Sejak itu, aku tahu bahwa si bibi tidak terlalu bersahabat dengan hewan yang satu ini.

Ketika aku tinggal beberapa tahun dengan Oppung di Huta Sibabiat, kampung tempat lahirnya ayah, aku selalu menikmati acara Margondang dan Manortor yang pasti ada dalam setiap apacara adat. Entah kenapa, aku merasa ikut menjadi bagian dari luapan ekpresi emosianal massal lautan manusia itu, kendatipun aku selalu ditertawakan oleh sepupuku karena sudah bisa bertahun-tahun pun tinggal di huta, kosakata Toba yang aku tahu hanya empat, yaitu: Olo, Daong, Mauliate, dan Horas.

Kakakku

Kakakku yang paling sulung menikah dengan pemuda dari suku Dayak Manyaan. Kini mereka tinggal di sebuah perkampungan dekat perkebunan sawit di pinggiran Sungai Lamandau, Kalimantan Tengah. Sempat iri dengan kakakku yang satu ini karena dalam setahun saja, kulihat ia sudah lancar menggunakan bahasa Dayak Manyaan. Padahal, dulu aku lebih unggul soal pelajaran bahasa dari dia, terbukti kosakata bahasa Inggris-ku jauh lebih banyak dari dia. Tak pernah sekalipun dia menang melawanku kalau kami bermain Scrabble. Dasar aku orangnya gampang jatuh hati dengan alam yang asri, sempat pula aku terfikir untuk tinggal di kampung yang sejuk ini, jauh dari kebisingan ibukota Jakarta na balau ini. Apa daya, saat ini aku mesti berdamai dengan situasi hiruk-pikuk tanpa hentinya kota megapolitan ini. Jadilah aku mulai belajar berhitung dalam bahasa Manyaan.

  1. Isa
  2. Rueh
  3. Telu
  4. Epat
  5. Dime
  6. Enem
  7. Pitu
  8. Walu
  9. Suey
  10. Sapuluh
  11. Sawalas
  12. Dua Walas
  13. Tiga Walas
  14. Epat Balas
  15. Lima Walas
  16. Enem Walas
  17. Pitu Walas
  18. Walu Walas
  19. Suey Walas
  20. Ruam Pulu
  21. Ruam Pulu Isa
  22. Ruam Pulu Rueh
  23. Ruam Pulu Telu
  24. Ruam Pulu Epat
  25. Ruam Pulu Dime
  26. Ruam Pulu Enem
  27. Ruam Pulu Pitu
  28. Ruam Pulu Walu
  29. Ruam Pulu Suey
  30. Telu Pulu
  31. Telupulu Isa

Oppung-ku

Konon, oppung-ku punya koleksi buku-buku Dialektika karangan Hegel, Feuerbach, Marx, Habermas. Pantas saja, kalau habis menunaikan tugasnya sebagai guru honor di sekolah dasar yang pelosok itu, dia jarang tidur siang. Waktunya dihabiskan membaca. Bukan hanya itu, Oppung tidak hanya punya Bibel terbitan Lembaga Biblika Indonesia, tapi ia juga rela merogoh uang sakunya untuk membeli Alkitab terbitan Lembaga Alkitab Indonesia. Aku selalu heran mengapa mesti ada dua Kitab Suci di rumah Oppung. Belakangan, kata oppung boru, selain membeli Terjemahan Alquran, Oppung mulai menggunakan komputer bekas di rumah untuk mengakses internet. Sempat aku mengecek data di storage komputernya, aku menemukan file-file PDF tentang Talmud, Zarathustra, Weda dan Teknik Perang Sun Tzu. Entah buat apa oppung mengoleksi semua ini, pikirku.

Aku selalu kagum dengan sosok Oppung yang tak pernah bosan untuk memberi nasihat soal pentingnya kebersamaan dalam keluarga besar kami. Nasihat yang selalu dia ulang baik ketika Natal, ketika Tahun Baru, Hari Raya Haji, dan pada setiap kesempatan berkumpul setiap kali ada anak dan cucunya yang melangsungkan pernikahan. Nasihat panjangnya selalu ditutup dengan umpama: “Pantun Hangoluan, Tois Hamagoan”. Kira-kira artinya: Sikap Hormat Itu Mendatangkan Kehidupan, Sikap Tak Perduli Itu Mendatangkan Kehancuran.

Aku baru menyadari bahwa nasihat yang kadang membosankan itu ternyata obat paling mujarab yang hingga saat ini ampuh menjaga kesatuan keluarga besar kami. Bagaimana tidak, pamanku adalah seorang kader partai banteng yang sangat aktif di berbagai lembaga kemasyarakatan. Amang boruku adalah seorang wartawan senior yang beberapa kali dipanggil bukan  hanya oleh pemimpin redaksinya, tetapi juga Menkominfo karena pemberitaannya yang dituding terlalu berani. Dua tahun sebelumnya dia pernah menulis dugaan korupsi terhadap kepala di badan eksekutif, tak ada yang menggubris beritanya saat itu. Belakangan, oknum yang diberitakannya itu diberitakan rajin beribadah di dalam selnya di sebuah Lembaga Pemasyarakatan. Kakak iparku adalah kepala desa yang terpilih ketika diusung oleh partai pohon beringin. Abangku yang baru lulus dari kuliahnya di Depok itu malah menyatakan sudah mendaftarkan diri sebagai kader partai burung garuda. Melihat konstelasi dunia politik saat ini, aku sangat senang ketika acara keluarga, mereka selalu mau mendengarkan satu sama lain. Tak jarang pula mereka sedikit-sedikit membocorkan agenda dari partai masing-masing. Amangboru-ku yang wartawan itu biasanya langsung mengambil peran sebagai moderator. Kadang aku bingung, ini acara keluarga atau sedang Sidang Dengar Pendapat a la Senayan sana. Hmmmm ….

Agamaku

Aku ini gak masalah orang lain mau nyembah bola, kubus, tiang, pohon, tuhan, hantu, siluman, dll.. mau ibadah sambil jongkok, nungging, jungkir, koprol, dan lain-lain. Selama ritual ibadahnya itu tidak mengganggu orang lain ya monggo, silakan saja. Selama dia orangnya baik, ya kita juga harus baik. Konon sejak zaman Zarathustra hingga Yeshua dari Yehuda, golden rule-nya ya itu-itu juga.

Terus banyak yang penasaran nanya aku ini penganut keyakinan apa. Sebetulnya yang namanya keyakinan dan spiritual itu privasi. Tapi berhubung orang Indonesia itu doyan kepo (Knowing Every Particular Object: Serba ingin tahu dari detail sesuatu, kalau ada yang terlintas dibenaknya dia tanya terus) tapi kalau sudah tahu pun tidak mau membersihkan perspektifnya yang sudah diracuni berbagai asumsi, selalu mencampurkan urusan personal ke ranah sosial, yo wis aku cerita lagi.

 

When Buddha and Jesus living as roommates

Yang namanya agama itu khan ngakunya mengajarkan kebaikan. Baik itu Hindu, Buddha, Konghucu, Islam, Katolik, Lutheran, Yahudi, Parmalim, Pemena dan ribuan aliran kepercayaan lainnya, semuanya mengaku mengajarkan kebaikan. Iya kan??

Nah, aku ini termasuk yang meyakini ajaran kebaikan seperti itu. Ajaran kebaikan yang lebih luas dan universal tanpa membedakan cara ibadah atau objek yg disembah. Apalagi kalau sampai mengklaim bahwa sembahan dan agamanya saja yang benar, punya orang lain tidak. Aku juga meyakini bahwa ibadah tertinggi manusia itu adalah berbuat baik kepada sesama manusia dan lingkungannya.

Makanya kalau aku sering posting yang nyeleneh jangan salah paham dulu. Yang aku kritik itu bukan ajaran yang damai dan penuh rahmat. Yang aku kritik itu adalah para oknum yg penuh diskriminasi dan intoleransi. Maka, sekali lagi, jangan salah paham, jangan tersinggung, kecuali kalau kamu adalah oknum.

(Terinspirasi dari tulisan Chalisa Nita)

Facebook Comments