Penulisan Skenario: Metode 8 Sequence (Act II)

Setelah memiliki rancangan Act I (sekuens 1 dan sekuens 2), sekarang kita lanjutkan ke Act II, yakni terlebih dahulu mengulas Sekuens 3 dan 4 dari metode 8 sequence.


ACT II

Sekuens 3

Pada sekuens ini, karakter kita bersiap-siap untuk melakukan “perjalanan” atau usaha setelah mereka tersadar atas suatu hal. Dalam bagian kali ini, karakter kita akan berusaha sekuat tenaga untuk bertindak – sesuai pilihan (decision) yang diambilnya setelah sempat mengalami keraguan (doubt) di Act I.

Fokus di sekuens 3 adalah ditemukannya Tantangan Pertama (first obstacle) dan  menguatkan kesadaran karakter utama atas masalah yang dihadapi (raising the stakes), dia tidak bisa lagi lari dari kenyataan yang terjadi.

Sekuens 4

Pada sekuens ini, masing-masing karakter telah hampir berhasil mendapatkan apa yang mereka inginkan. Para tokoh seolah-olah hampir berhasil, dan semuanya terlihat benar-benar bahagia. Namun, cerita juga mempersiapkan konflik untuk maju ke sekuens berikutnya ke arah klimaks.

Fokus di sekuens 4 adalah munculnya titik kulminasi pertama (first culmination/midpoint), yang umumnya paralel dengan Resolusi  atas konflik di akhir cerita. Sebagai contoh, jika cerita yang kita tulis berupa tragedi dan hero/sang karakter utama meninggal,  maka di sekuens 4 inilah kita menguraikan titik terendah yang dialami si karakter utama. Sebaliknya, jika hero kita menang di akhir cerita/film yang sedang kita tulis, maka kita sebaiknya mengakhiri sekuens 4 ini dengan menggambarkan “kemenangan kecil” sebelum kemenangan final di akhir cerita.

Facebook Comments

Published by

Donald

Penyanyi dan para pemusik itu tampil memukau di hadapan raja dan tamu undangan. Suguhan lagu mereka melengkapi jamuan makan dan minuman, omong kosong serta sopan santun sebagaimana layaknya perjamuan manusia. Raja puas. Ia tidak jadi memenggal kepala para seniman itu. Malah, ia menepati janjinya dan membayar mereka dengan upah yang lebih dari sekedar ongkos pulang dan dengan sumringah menemui istri dan anak yang menunggu di rumah. Demikianlah seniman melengkapi gizi rohani bagi para penguasa dan pekerja, yang seharian lelah dengan pekerjaan manusia. Kerap, seniman memang lain dari manusia biasa.

Komentar