DONALD HAROMUNTHE

For Those Whom I Can't Talk With

Category: Thoughts (Page 2 of 6)

Nasihat kepada Orang Tua (versi Batak)

Bila kita tua,

Kalau anak-anak sudah berkeluarga dan meninggalkan kita, giliran kita untuk kembali memikirkan diri kita sendiri.

Bila kita tua,

Luangkanlah waktu bersama pasangan kita karena salah seorang dari kita akan pergi terlbih dahulu dan yang masih hidup hanya mampu menyimpan dan mengenang kenangan. Pastikan kenangan itu adalah kenangan yang indah, bukan yang buruk.

Bila kita tua,

Akan tiba masanya mau berjalan ke pintu saja susah. Sementara masih mampu, jalan-jalanlah ke beberapa tempat untuk mengingatkan kita tentang kebesaran Sang Pencipta, mengagumi keindahan ciptaan-Nya.

Bila kita tua,

Jangan menyusahkan diri memikirkan anak-anak secara berlebihan. Mereka akan mampu berusaha sendiri. Memanjakan anak dengan menyediakan apa saja yang mereka minta itu beda tipis dengan ungkapan Batak “holong na mamboan hasesega” (sayang yang merusak).

Bila kita tua,

Luangkan waktu bersama rekan-rekan lama karena peluang untuk bersama mereka akan berkurang dari waktu ke waktu.

Bila kita tua,

Terimalah penyakit apa adanya. Semua sama, kaya atau miskin, akan melalui proses yang sama: lahir, bayi, kanak-kanak, dewasa, tua, sakit dan meninggal. Jika mungkin, seperti Santo Fransiskus, terimalah juga penyakit tua yang kita derita seakan-akan penyakit itu adalah Saudara kita juga, sama seperti Saudara Maut.

Bila kita tua,

Kita akan menyadari bahwa akan lebih baik jika seandainya di masa muda kita menghabiskan waktu lebih banyak dengan kawan yang seperti cermin. Kita gembira dia gembira, kita sedih dia juga ikut bersedih. Jangan mencari kawan yang seperti duit logam, depan lain belakang lain. Seperti ungkapan yang kita kerap dengar dari para sesepuh: Ai dongan mekkel do godang, dongan tangis so ada.

Bila kita tua,

Kita akan menyadari bahwa romantisnya kita sebagai pasangan adalah teladan yang jauh lebih efektif dibandingkan ribuan nasihat yang kita paksakan kepada mereka dengan wajah marah dan raut muka serius. Percayalah, anak-anak lebih suka melihat orangtua bermesraan di depan mereka dibandingkan menonton drama Korea penuh gimmick a la manusia plastik itu.

Bila kita tua,

Anak-anak kita akan tetap menaruh hormat kepada kita. Mereka tidak lupa patik atau uhum yang mengajarkan mereka bahwa “natua-tua i do Debata na Mangolu”, entah mereka pernah mendengar turiturian Debata Idup atau tidak. Jadilah meniru karakter “Debata” seperti yang mereka harapkan.

Presiden Jokowi tentang Universalitas Alquran

 

Presiden Joko Widodo pada Peringatan Nuzulul Qur'an 1438 H di Istana Negara

Kesalehan Sosial

Menarik mendengar pidato yang disampaikan oleh Presiden Joko Widodo pada Peringatan Nuzulul Qur’an 1438 H di Istana Negara, terutama karena beliau (oleh usulan dari si penulis teks pidato, tentu saja) memulai sambutannya dengan berani menyebut “kesalehan sosial”.

Apa itu kesalehan sosial?

Nadirsyah Hosen, Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School, dalam sebuah tulisan di laman NU mengulas secara singkat dan menarik tentang hal ini. Meminjam otoritas Gus Mus sebagai tokoh senior di NU, Hosen secara jujur mengakui adanya dilema yang dihadapi oleh kebanyakan umat Islam di negeri ini dalam diskresi dan penentuan skala prioritas, antara kesalehan sosial dan kesalehan ritual pada saat bersamaan.

Berikut kutipannya:

Gus Mus tentu tidak bermaksud membenturkan kedua jenis kesalehan ini, karena sesungguhnya Islam mengajarkan keduanya. Bahkan lebih hebat lagi; dalam ritual sesungguhnya juga ada aspek sosial. Misalnya shalat berjamaah, pembayaran zakat, ataupun ibadah puasa, juga merangkum dimensi ritual dan sosial sekaligus. Jadi, jelas bahwa yang terbaik itu adalah kesalehan total, bukan salah satunya atau malah tidak dua-duanya. Kalau tidak menjalankan keduanya, itu namanya kesalahan, bukan kesalehan. Tapi jangan lupa, orang salah pun masih bisa untuk menjadi orang saleh. Dan orang saleh bukan berarti tidak punya kesalahan.

Pada saat yang sama, kita harus akui seringkali terjadi dilema dalam memilih skala prioritas. Mana yang harus kita utamakan antara ibadah atau amalan sosial. Pernah di Bandara seorang kawan mengalami persoalan dengan tiketnya karena perubahan jadual. Saya membantu prosesnya sehingga harus bolak balik dari satu meja ke meja lainnya. Waktu maghrib hampir habis. Kawan yang ketiga, yang dari tadi diam saja melihat kami kerepotan, kemudian marah-marah karena kami belum menunaikan shalat maghrib. Bahkan ia mengancam, “Saya tidak akan mau terbang kalau saya tidak shalat dulu”.

Saya tenangkan dia, bahwa sehabis check in nanti kita masih bisa shalat di dekat gate, akan tetapi kalau urusan check in kawan kita ini terhambat maka kita terpaksa meninggalkan dia di negeri asing ini dengan segala kerumitannya. Lagi pula, sebagai musafir kita diberi rukhsah untuk menjamak shalat maghrib dan isya’ nantinya. Kita pun masih bisa shalat di atas pesawat. Kawan tersebut tidak mau terima: baginya urusan dengan Allah lebih utama ketimbang membantu urusan tiket kawan yang lain. Saya harus membantu satu kawan soal tiketnya dan pada saat yang bersamaan saya harus adu dalil dengan kawan yang satu lagi. Tiba-tiba di depan saya dilema antara kesalehan ritual dan kesalehan sosial menjadi nyata.

Syekh Yusuf al-Qaradhawi mencoba menjelaskan dilema ini dalam bukunya Fiqh al-Awlawiyat. Beliau berpendapat kewajiban yang berkaitan dengan hak orang ramai atau umat harus lebih diutamakan daripada kewajiban yang berkaitan dengan hak individu. Beliau juga menekankan untuk prioritas terhadap amalan yang langgeng (istiqamah) daripada amalan yang banyak tapi terputus-putus. Lebih jauh beliau berpendapat:

Fardhu ain yang berkaitan dengan hak Allah semata-mata mungkin dapat diberi toleransi, dan berbeda dengan fardhu ain yang berkaitan dengan hak hamba-hamba-Nya. Ada seorang ulama yang berkata, “Sesungguhnya hak Allah dibangun di atas toleransi sedangkan hak hamba-hamba-Nya dibangun di atas aturan yang sangat ketat.” Oleh sebab itu, ibadah haji misalnya, yang hukumnya wajib, dan membayar utang yang hukumnya juga wajib; maka yang harus didahulukan ialah kewajiban membayar utang.” Ini artinya, untuk ulama kita ini, dalam kondisi tertentu kita harus mendahulukan kesalehan sosial daripada kesalehan ritual.

Kita juga dianjurkan untuk mendahulukan amalan yang mendesak daripada amalan yang lebih longar waktunya. Misalnya, antara menghilangkan najis di masjid yang bisa mengganggu jamaah yang belakangan hadir, dengan melakukan shalat pada awal waktunya. Atau antara menolong orang yang mengalami kecelakaan dengan pergi mengerjakan shalat Jum’at. Pilihlah menghilangkan najis dan menolong orang yang kecelakaan dengan membawanya ke Rumah Sakit. Sebagai petugas kelurahan, mana yang kita utamakan: shalat di awal waktu atau melayani rakyat yang mengurus KTP terlebih dahulu?

Diskresi semacam ini pula yang dituntut dari seorang Kristen seperti disindir dengan sangat keras oleh penulis Injil Lukas (Lukas 10: 25-37). Nilai universal serupa, jika kita dalami pada ajaran agama lain, entah itu agama yang diakui resmi di Indonesia ataupun ratusan aliran kepercayaan (yang entah mengapa hingga saat ini belum mendapatkan perlakuan setara engan agama-agama resmi), bahwa secara umum, di lubuk hati paling dalam dari manusia rasional dan humanis (versi Imanuel Kant), manusia sebenarnya tahu bahwa berbuat baik kepada sesama adalah sejajar dengan ketaatan ritual. Bahkan dalam banyak kasus, sepanjang tidak menodai akidah dan esensi iman dari umat beragama, ritual dan segala tetek-bengeknya mesti ditempatkan di bawah hukum universal itu.

Projecta remota (tujuan akhir) dari kristalisasi nilai semacam ini sangat sesuai dengan tujuan hidup bernegara berdasarkan Pancasila, yakni mencipatakan kebaikan umum (bonum commune). Seperti umat Islam yang mengabaikan kenajisan dan mementingkan untuk membawa orang yang sakit ke pusat layanan kesehatan terdekat; orang Samaria yang baik hati dan rela menolong orang yang sedang terbaring kesakitan di tengah jalan meski ia sadar bahwa tetap saja kaum ahli agama Yahudi menganggapnya sebagai orang kafir; atau siapapun yang mementingkan kasih kepada sesama dan ciptaan melebihi ketaatan ritual agama yang buta. Nilai ini sejatinya universal, terutama bagi mereka yang masih memiliki hati nurani yang baik dan terus menjaganya.

Kesalehan Ritual

Hosen melanjutkan kegalauannya secara jujur, menyingkap realitas banyaknya umat Islam yang masih belum terbiasa melatih diri untuk berdiskresi secara benar ketika berhadapan pada penentuan skala prioritas yang dilematis antara kesalehan sosial dan kesalehan ritual.

Mana yang harus kita prioritaskan di saat keterbatasan air dalam sebuah perjalanan: menggunakan air untuk memuaskan rasa haus atau untuk berwudhu’. Wudhu’ itu ada penggantinya, yaitu tayammum. Tapi memuaskan haus tidak bisa diganti dengan batu atau debu. Begitu juga kewajiban berpuasa masih bisa di-qadha atau dibayar dengan fidyah dalam kondisi secara medis dokter melarang kita untuk berpuasa. “Fatwa” dokter harus kita utamakan dalam situasi ini. Ini artinya shihatul abdan muqaddamun ‘ala shihatil adyan. Sehatnya badan diutamakan daripada sehatnya agama.

Dalam bahasa Abdul Muthalib, kakek Rasulullah, di depan pasukan Abrahah yang mengambil kambing dan untanya serta hendak menyerang Ka’bah: “Kembalikan ternakku, karena akulah pemiliknya. Sementara soal Ka’bah, Allah pemiliknya dan Dia yang akan menjaganya!” Sepintas terkesan hewan ternak didahulukan daripada menjaga Ka’bah; atau dalam kasus tiket di atas seolah urusan shalat ditunda gara-gara urusan pesawat; atau keterangan medis diutamakan daripada kewajiban berpuasa. Inilah fiqh prioritas!

Syekh Yusuf al-Qaradhawi juga menganjurkan untuk prioritas pada amalan hati ketimbang amalan fisik. Beliau menulis:

“…Kami sangat heran terhadap konsentrasi yang diberikan oleh sebagian pemeluk agama, khususnya para dai yang menganjurkan amalan dan adab sopan santun yang berkaitan dengan perkara-perkara lahiriah lebih banyak daripada perkara-perkara batiniah; yang memperhatikan bentuk luar lebih banyak daripada intinya; misalnya memendekkan pakaian, memotong kumis dan memanjangkan jenggot, bentuk hijab wanita, hitungan anak tangga mimbar, cara meletakkan kedua tangan atau kaki ketika shalat, dan perkara-perkara lain yang berkaitan dengan bentuk luar lebih banyak daripada yang berkaitan dengan inti dan ruhnya. Perkara-perkara ini, bagaimanapun, tidak begitu diberi prioritas dalam agama ini.”

Dengan tegas beliau menyatakan:

“Saya sendiri memperhatikan – dengan amat menyayangkan –  bahwa banyak sekali orang-orang yang menekankan kepada bentuk lahiriah ini dan hal-hal yang serupa dengannya – Saya tidak berkata mereka semuanya – mereka begitu mementingkan hal tersebut dan melupakan hal-hal lain yang jauh lebih penting dan lebih dahsyat pengaruhnya. Seperti berbuat baik kepada kedua orangtua, silaturahim, menyampaikan amanat, memelihara hak orang lain, bekerja yang baik, dan memberikan hak kepada orang yang harus memilikinya, kasih-sayang terhadap makhluk Allah, apalagi terhadap yang lemah, menjauhi hal-hal yang jelas diharamkan, dan lain-lain sebagaimana dijelaskan oleh Allah SWT kepada orang-orang yang beriman di dalam kitab-Nya, di awal surah al-Anfal, awal surah al-Mu’minun, akhir surah al-Furqan, dan lain-lain.”

Kesalehan ritual itu ternyata bertingkat-tingkat. Kesalehan sosial juga berlapis-lapis. Dan kita dianjurkan dapat memilah mana yang kita harus prioritaskan sesuai dengan kondisi dan kemampuan kita menjalankannya.

Bersandar pada tuntutan universalitas Alquran, Presiden Jokowi menyampaikan pesan serupa dengan artikulasi yang lebih kuat. Kata Jokowi:

Kita akan termasuk golongan pendusta agama jika kita membentak anak yatim,

Kita akan termasuk golongan pendusta agama jika kita tidak perduli dengan saudara-saudara kita fakir miskin,

Kita akan termasuk golongan pendusta agama jika kita berbuat kerusakan di muka bumi ini.

Jokowi Mulai dari Lingkungannya Sendiri

Usai menyampaikan pesan yang begitu mendalam kepada segenap umat Islam di Indonesia ini, Jokowi kembali melakukan hal yang sama kepada dirinya sendiri, lingkungannya yakni pemerintahan yang berkuasa saat ini.

Entah menyadari benar tujuan dari pesannya kepada pemerintah dan segenap aparat (sebab masih saja ada yang terkantuk-kantuk mendengarkan Presiden sedang berpidato dengan intensi sepenting itu), tujuan dari pesan berikutnya adalah kepada segenap aparat pemerintah:

Karena itu pemerintah bertekad untuk terus meningkatkan pemeretaan ekonomi yang berkeadilan bagi seluruh masyarakat, memberantas radikalisme dan terorisme dan menggebuk komunisme

Presiden mengatakan pemerintah juga mengeluarkan kebijakan pemerataan ekonomi melalui pembagian aset untuk umat agar mempunyai lahan, kemudahan akses permodalan dan pendidikan advokasi yang masif.

“Pemerintah juga berencana mengembangkan perekonomian umat melalui pengembangan ekonomi keuangan syariah yang berdasarkan sistem wakaf, tapi ini masih dalam proses untuk kita selesaikan,” jelas Presiden.

Dalam kesempatan ini, Presiden juga berpesan bahwa dengan panduan Al-Quran bahwa sudah menjadi kodrat bangsa Indonesia untuk hidup dalam kebhinekaan, keberagaman suku, keberagaman agama, keberagaman ras dan keberagaman golongan.

“Ini merupakan anugerah Allah yang diberikan kepada kita. Dan kita wajib merawat apa yang telah menjadi anugerah Allah. Kita wajib merawat Bhinneka Tunggal Ika,” kata Presiden.

Pesannya telah tersimpulkan ketika Jokowi kemudian mengajak segenap warga Indonesia bahwa:

“Al-Quran mengajarkan kita taawud, bekerja keras, dan bekerja sama untuk mengubah nasib kita, mengubah nasib bangsa kita, bangsa Indonesia. Karena itu pemerinah bekerja keras membangun infrastruktur, membangun hubungan konektivitas di tanah air agar biaya logistik turun, biaya transportasi turun, sehingga perbedaan harga antar wilayah tidak ada perbedaan, tidak terlalu jauh, artinya merata”

Men-darat-kan Universalitas Quran

Presiden Joko Widodo mengatakan Indonesia dalam mengejar kemajuan dan kesejahteraan rakyat harus bersandar pada tuntutan universalitas Al-Quran.

Jika dicermati, seruan yang serupa juga adalah pesan dari setiap kali kutbah dibawakan oleh seorang kyai yang benar-benar mendalami Kajian Quran. Sebab ada juga yang menyebut diri pemuka agama atau kyai, ustadz atau ustazah tetapi sangat jauh dari amanah mulia yang melekat pada tugas yang diembannya. Saban hari ini misalnya, kerap kita mendengarkan bahwa seruan “jangan mengkriminalkan ulama” sudah dikoreksi menjadi “jangan meng-ulama-kan kriminal”.

Pada konteks lain, juga oleh para pastor, pendeta, malim, bhiku, bhikuni, pandita – apapun sebutan bagi para pemuka agama – bahwa masing-masing kitab suci mereka, sama seperti Qur’an, mengandung nilai-nilai kebaikan universal. Begitu teorinya.

Tetapi jemaat, rakyat, ummat, umat dan warga sipil biasa tidak lagi bisa dinina-bobokan oleh seruan, pidato dan kampanye yang wah dan sensasional, cetar membahana. (Sebab kita tahu bahwa ada ratusan pakar ahli komunikasi dan propaganda politik berkontribusi pada penyusunan dan pengkondisian acara-acara kenegaraan sehingga terlihat elegan). Jemaat, rakyat, ummat, umat membutuhkan wacana teoretis yang SEJALAN dengan kenyataan praktek penyenggaraan pemerintahan dalam hidup sehari-hari mereka.

Jika benar bahwa “Al Quran adalah rahmat, bukan saja untuk Bangsa Arab, tetapi untuk seluruh umat manusia di dunia, termasuk Indonesia”, maka para penghayat universalitas Quran tersebut harus memperlihatkannya dalam hidup sehari-hari.

Ngomong-ngomong, pidato universalitas Quran juga sebelumnya disampaikan oleh Suryadharma Ali ketika masih menjabat sebagai Menteri Agama, sebelum dirinya divonis 6 tahun penjara gara-gara tersangkut kasus dana haji. Suryadharma Ali hanya salah satu contoh saja dari sekian banyak orator yang berteriak menyebutkan universalitas Quran, tetapi dirinya sendiri justru menunjukkan PRAKSIS yang sangat bertentangan dengan TEORI yang dia kumandangkan. Masih banyak lagi lainnya termasuk dalam pemerintahan, yang suaranya tidak didengar lagi, dianggap sepi bahkan akan dicatat sejarah sebagai tokoh dengan reputasi yang buruk.

Jika benar bahwa universalitas itu juga terlihat pada “keteladanan Rasulullah pada gerakan yang memakai nilai universalitas Al-Quran untuk mentransformasikan Bangsa Arab menjadi yang beradab, menjadi bangsa maju”, mestinya para penghayat dan pembaca Quran juga bahu-membahu mentransformasikan bangsa Indonesia, bangsanya sendiri, menjadi bangsa yang beradab, bangsa yang maju. Merusak, demo tanpa aturan, persekusi massal maupun individual, kompromi dengan gerakan teroris, atau mengusik ajaran agama lain, tent saja bukan contoh umat yang melaksanakan nilai universalitas Quran itu.

Begitulah. Universalitas Quran ini begitu luhur (dengan asumsi bahwa tafsirnya benar demikian), sebab konon katanya memang diturunkan dari langit. Supaya dimengerti oleh penduduk yang tinggal di bumi Indonesia ini, ia harus di-darat-kan.


Ketika mendengarkan teori atau kampanye yang luar biasa soal wacana kebaikan dari suatu ajaran agama, teman saya biasanya bilang: “Asal ma toho”. 

Ketika ternyata teorinya tidak mendarat, kotbah membahana dan pidato berapi-api tidak nyata dalam praktek, bahkan bertentangan, teman saya ini akan mengatakan: “Holan hata do hape nanidokmi, kedan”

Muslim dan Kristen, “Ambil dan Bacalah”

Ateis, Agnostik dan Teis Dikaruniai Akal

Kalau Anda punya waktu untuk browsinng di internet, cobalah iseng mengetik keywords Dawkins’ Scale, Nietszche, religious people less intelligent,  mudah-mudahan Anda akan memperoleh sekilas gambaran betapa wacana religiositas mempengaruhi keterbukaan kaum beragama terhadap ilmu pengetahuan dan informasi ilmiah yang terbaru secara jujur.

Harapan dari tulisan singkat Saya ini semoga bisa bermuara pada penyadaran sederhana bahwa sebagai satu spesies homo sapiens sesuai evolusi Charles Darwins (either you accept Darwinism or not) dan taksonomi Carolus Linnaeus, situasi dianugerahkannnya akal budi kepada semua manusia itu berlaku umum, entah Anda kaum (yang menyebut diri beragama), agnostik (para peragu kritis akan benar-tidaknya eksistensi Tuhan) dan ateis (teman-teman yang tidak meyakini adanya Tuhan berangkat dari lack of evidence) sesuai nomenklatur Dawkins’ Scale.

Sebagai golongan teis paling peraih dua statistik terbesar di KTP menurut data pemerintah Republik Indonesia, layak rasanya jika teman-teman Muslim dan Kristen merenungkan dan mengevaluasi kembali sejauhmana pencerapan kita terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan informasi. Tidak perlu rumit-rumit, pakai saja empat indikator utama literasi dalam mengukurnya, yakni reading, writing, listening and speaking. Jadi, alih-alih berbalik menyerang (seringkali tanpa sadar kita bumbui dengan berbagai logical fallacies yang sulit kita hilangkan) rekan ateis yang kerap melakukan bully seakan-akan fakta keberagamaan kita berbanding lurus dengan tingkat ignoransi, jadilah well-prepared “membela” rasionalitas dari iman yang dimiliki dengan memperkaya diri dengan segala pengetahuan dan sikap terbuka yang perlu untuk itu.

Teman Muslim, Warnailah Dunia dengan Menulis

Kemarin, pada hari ke-17 Ramadhan, pada malam Nuzulul Qur’an seorang teman online Saya di aplikasi Line mengirim pesan terusan dari M. Anwar Djaelani, penulis buku “Warnai Dunia dengan Menulis” kepada Saya. Berikut isi pesannya:

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu-lah yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran Qalam (tulis-baca). Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya” (QS [96]: 1-5).

Modal Sukses

Di negeri ini, di tiap17 Ramadhan, umat Islam banyak yang mengadakan Peringatan Nuzulul Qur’an. Di acara ini, hampir pasti lima ayat Al-Qur’an yang kali pertama diwahyukan kepada Nabi Muhammad Saw dan yang terjemahnya menjadi paragraf pembuka tulisan ini akan dibacakan. Akibatnya, nyaris tak ada umat Islam yang tak tahu perintah ini: Iqra’ (Bacalah).

Acara itu secara umum diniati untuk menjadi media agar kita lebih mencintai Al-Qur’an (dalam makna, lebih bersemangat untuk mengamalkan semua ajaran di dalamnya). Dalam kaitan ini, mestinya kita harus lebih mencermati perintah membaca dan menulis. Jika itu yang kita kerjakan, sungguh kita akan punya gambaran bahwa di depan Islam, aktivitas membaca dan menulis mendapat nilai yang sangat tinggi dan akan menjadi katalisator tegaknya sebuah peradaban mulia.

Di ayat pertama sangat jelas meminta kita untuk membaca. Apa yang harus dibaca? Semua ayat Allah, baik yang tertulis ataupun yang tak tertulis. Ayat yang tertulis adalah Al-Qur’an. Ayat tak tertulis adalah alam semesta dan seisinya yang merupakan ciptaan Allah.

Di antara ayat-ayat itu, sangat banyak yang harus dijelaskan lebih lanjut. Misal, kita diminta ‘menerangkan’ bagaimana unta diciptakan, langit ditinggikan, gunung-gunung ditegakkan, dan bumi dihamparkan?” (baca QS [88]: 17).

Jika demikian, apakah Al-Qur’an tak sempurna seperti yang digambarkan antara lain di QS [2]: 2? Sama sekali tidak! Lewat ayat yang membutuhkan penjelasan lebih dalam itu Allah justru memberi sarana kepada manusia agar memanfaatkan akal yang dipunyainya. “Hai jamaah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah. Kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan”(QS [55]: 33).

Kekuatan apa? Kekuatan akal! Maka, di Al-Qur’an banyak ayat yang berupa rangsangan Allah agar kita terus memikirkan ciptaan-Nya. “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal” (QS [3]:190).

Di titik ini, agar pembacaan kita atas ayat-ayat Allah lebih bisa dirasakan manfaatnya oleh kaum yang lebih luas, maka perlulah kesemuanya ditulis. Di sinilah makna penting ayat ke-4 dari QS Al ‘Alaq, bahwa Allah yang mengajar (manusia) dengan perantaran qalam (tulis-baca).

Aktivitas membaca dan menulis itu saling terkait. Pertama,kita diminta untuk membaca. Terkait ini, tentu diperlukan bahan bacaan. Bagi Muslim, bacaan utama adalah Al-Qur’an (bahkan, Al-Qur’an menurut bahasa maknanya adalah bacaan atau yang dibaca). Setelah itu, Al-Qur’an (plus ayat Allah yang tak tertulis) perlu dijelaskan oleh “kaum yang berakal”. Di titik ini, kita memerlukan penulis dari kalangan ulama dan cendekiawan Muslim, yang bisa menyediakan bahan bacaan yang baik.

Kedua, untuk membuat tulisan yang baik, penulis butuh ilmu atau wawasan. Untuk itu, penulis harus banyak membaca. Bukankah –kita tahu- bahwa tulisan yang baik itu hanya akan lahir dari pembaca yang tekun?

Tampak, bahwa aktivitas membaca dan menulis seperti dua sisi mata uang yang satu dan lainnya tak boleh tiada. Keduanya harus ada, karena saling bergantung.

Terkait hasil beraktivitas membaca dan menulis, tercatat bahwa sejarah umat Islam di tujuh abad pertamanya adalah rangkaian kisah gemilang sebuah peradaban. Kala itu, ilmu –yang diperoleh lewat membaca dan menulis- berkembang pesat. Ilmu menopang penemuan berbagai teknologi yang membuat hidup manusia lebih nyaman. Tak hanya itu –dan bahkan ini yang paling penting- ilmu ketika itu bisa membuat manusia lebih mengenal siapa Tuhannya.

Bangun, Bangkit!

Sekarang, kita tengok sebuah negeri berpenduduk Muslim terbesar di dunia. Pertama, di antara cita-cita dari pendiri negeri ini adalah “Mencerdaskan kehidupan bangsa”. Usaha itu, tak dapat tidak, harus dilakukan lewat peningkatan aktivitas membaca dan menulis. Masalahnya, sudah seperti itukah kita?

Lihatlah, di segi minat baca! Ternyata, menurut UNESCO, pada 2012 indeks minat membaca masyarakat Indonesia 0,001. Artinya, dari setiap 1.000 orang hanya seorang yang punya minat baca (www.linggapos.com 28/09/2013).

Lalu, bagaimana dengan minat menulis? Kita pakai logika saja. Aktifitas membaca diperlukan untuk menjadi modal menulis. Maka, bisa dipastikan, bahwa minat menulis kita akan lebih rendah jika dibandingkan dengan minat membaca. Asumsinya, bagaimana mungkin seseorang akan suka menulis jika dia tidak senang membaca?

Kini, tak usah meratap, tapi – sebaliknya – mari bangkit!

Pertama, kepada para Ulama, jadilah seperti Nabi SAW yang sangat menomorsatukan akivitas membaca dan menulis. Apa yang terjadi pasca-Perang Badar cukup memberi pelajaran kepada kita. Kala itu, atas tawanan perang dari pihak musuh yang ingin bebas, Nabi Saw hanya memberikan syarat ‘sederhana’ yaitu si tawanan memberikan pelajaran baca-tulis terlebih dulu kepada umat Islam. Lihat, Nabi Saw tak meminta tebusan harta tapi sebuah ‘modal sukses’ yaitu kecakapan membaca dan menulis. Dalam konteks ini, duhai ulama, gairahkan umat Islam untuk gemar membaca dan menulis.

Kedua, kepada pemerintah. Amanah yang Anda pikul cukup berat. Sudahkah Anda menyediakan strategi yang bagus sedemikian rupa membaca dan menulis (sebagai bagian paling pokok dari usaha “Mencerdaskan kehidupan bangsa”) dapat menjadi keseharian dari semua murid / mahasiswa dan warga pada umumnya?

Mari bangkit, songsong peradaban mulia dengan menjadikan aktivitas membaca dan menulis sebagai keseharian kita. Hanya dengan cara demikian, peringatan Nuzulul Qu’an yang kita selenggarakan tiap tahun tak sia-sia.

Teman Kristen, Ambil dan Bacalah!

Entah Anda Katolik atau pengikut salah satu dari ribuan denominasi Protestantisme, sebagai orang yang gemar membaca dan mengikuti perkembangan sejarah literatur Gereja, nama Aurelius Agustinus dari Hippo tentu bukan nama yang asing lagi. Khusus untuk Gereja Katolik, penulis dari zaman Gereja sebelum abad Pertengahan ini, Santo Agustinus dari Hippo (Afrika Utara) ini dinobatkan sebagai salah satu dari beberapa Pujangga Gereja dengan buah-buah pemikiran yang masih relevan dan karenanya menjadi referensi dari berbagai dokumen doktrinal Gereja hingga hari ini.

Salah satu anjuran Santo Agustinus yang banyak dijadikan inspirational quote adalah “tolle et lege” (Lat., artinya: ambillah dan bacalah). Seorang teman blogger menyuguhkan review singkatnya sebagai parafrase yang cukup apik terhadap anjuran tersebut. Berikut isi review-nya (tanya teman atau gunakan Google Translate, Tradukka atau tools penterjemah lain jika Anda kesulitan memahami teks berbahasa Inggris):

“But when a deep consideration had from the secret bottom of my soul drawn together and heaped up all my misery in the sight of my heart; there arose a mighty storm, bringing a mighty shower of tears. Which that I might pour forth wholly, in its natural expressions, I rose from Alypius: solitude was suggested to me as fitter for the business of weeping; so I retired so far that even his presence could not be a burden to me. Thus was it then with me, and he perceived something of it; for something I suppose I had spoken, wherein the tones of my voice appeared choked with weeping, and so had risen up.

He then remained where we were sitting, most extremely astonished. I cast myself down I know not how, under a certain fig-tree, giving full vent to my tears; and the floods of mine eyes gushed out an acceptable sacrifice to Thee. And, not indeed in these words, yet to this purpose, spake I much unto Thee: and Thou, O Lord, how long? how long, Lord, wilt Thou be angry, for ever? Remember not our former iniquities, for I felt that I was held by them. I sent up these sorrowful words: How long, how long, “tomorrow, and tomorrow?” Why not now? why not is there this hour an end to my uncleanness?

So was I speaking and weeping in the most bitter contrition of my heart, when, lo! I heard from a neighbouring house a voice, as of boy or girl, I know not, chanting, and oft repeating. ‘Take up and read; Take up and read.’ [’Tolle, lege! Tolle, lege!’] Instantly, my countenance altered, I began to think most intently whether children were wont in any kind of play to sing such words: nor could I remember ever to have heard the like. So checking the torrent of my tears, I arose; interpreting it to be no other than a command from God to open the book, and read the first chapter I should find.

Eagerly then I returned to the place where Alypius was sitting; for there had I laid the volume of the Apostle when I arose thence. I seized, opened, and in silence read that section on which my eyes first fell: ‘Not in rioting and drunkenness, not in chambering and wantonness, not in strife and envying; but put ye on the Lord Jesus Christ, and make not provision for the flesh, in concupiscence.’ [Romans 13:14-15] No further would I read; nor needed I: for instantly at the end of this sentence, by a light as it were of serenity infused into my heart, all the darkness of doubt vanished away.”

Jika ingin membaca secara penuh karya Agustinus yang memuat quote tadi, silahkan mencari di perpustakaan yang ada, entah offline atau online. Berikut ini detail dari referensi yang Saya maksud:

Aurelius Augustine, The Confessions of St. Augustine, translated by Edward Pusey. Vol. VII, Part 1. The Harvard Classics. New York: P.F. Collier & Son, 1909–14.

Fides et Ratio (Iman dan Akal Budi)

Mencari titik temu (interseksi) antara iman (yang doktrin dan penjelasannya pertama-tama tidak harus melalui standar metode ilmiah) dan ratio (akal budi) adalah tugas bagi setiap akademisi, pemuka jemaat (pastor, pendeta, bijbelvrouw, katekis, penceramah, kyai, ustadz dan ustazah) termasuk seluruh umat beragama. Sekali lagi, secara khusus, seruan ini dialamatkan kepada teman-teman Muslim dan Kristen, golongan teis Indonesia paling peraih dua statistik terbesar di KTP menurut data pemerintah.

Anda bisa mulai dengan memperbanyak frekuensi membaca dua jenis buku sekaligus. Satu, Kitab Suci Anda dan ribuan tafsir-tafsirnya. Dua, buku ilmiah yang berbicara tentang topik terkait di perikop atau ayat yang sedang Anda perdalam. Mudah-mudahan, dengan konsisten melakukan rutinitas membaca dengan cara itu, perlahan Anda bisa berdamai dengan realitas keberagaman sumber literasi terhadap topik atau bahasan yang ingin Anda perdalam. Contoh sederhana, jika selama ini Anda hanya tahu tradisi pengetahuan tentang sosok Tuhan monoteistik yang Anda puja, Anda akan segera menemukan bahwa nama dari Tuhan yang Anda puja hanyalah salah satu dari ribuan (nama) Tuhan yang dipuja umat manusia sepanjang sejarah manusia. Ternyata, ada banyak sekali (nama) Tuhan dan tradisi yang menyertainya. Tradisi yang Anda lakukan hingga hari ini hanyalah salah satu diantaranya.

Atau, jika Anda merasa bahwa terlalu konyol jika masih mempercayai bahwa setiap manusia tercipta secara literer dari tanah, padahal Anda tahu bahwa Anda sendiri adalah hasil dari senggama antara Ayah dan Ibu Anda, tidak ada salahnya Anda membaca teks Kitab Suci Anda lalu mulai membandingkannya dengan literatur ilmiah terkait. Ada banyak sekali sumber yang bisa dibaca.

Membaca secara konsisten dan berdamai dengan situasi (bahwa menemukan interseksi yang dimaksud ternyata tidak mudah) ilmu keagamaan dan kemajuan sains teraktual yang tidak serta-merta sejalan, memang bukan hal yang mudah dan nyaman. Tapi, seperti kita pada awalnya susah payah memadukan huruf-demi huruf dan akhirnya kita bisa mengeja nama kita sendiri dengan benar, toh akhirnya kita berhasil melewati situasi itu. Tidak ada salahnya, kita kembali “belajar membaca”.

Saya sendiri masih berusaha membaca dengan metode membaca semacam itu. Kegelisahan intelektual ini sedikit bisa saya redam setelah membaca ensiklik dari Paus Yohanes Paulus II yang langsung mengusung judul “Iman dan Akal Budi”.  Jika tertarik, Anda bisa juga mencoba hal serupa.

Untuk mengetahui isi lengkap dari Ensiklik Fides et Ratio yang ditulis oleh (Alm.) Paus Paulus Yohannes II yang kini sudah dibeatifikasi menjadi Santo Yohannes Paulus II, silahkan klik disini:

Ensiklik Fides et Ratio by Vatican.Va


Anda bisa memulainya sekarang. Selain Anda punya Alkitab, tentu Anda juga punya buku-buku sains yang membahas tema terkait. Selain Anda punya Alquran, tentu Anda juga punya buku-buku sains yang berbicara tentang topik sejenis. Tidak harus mulai dengan tulisan yang sulit seperti Confessiones-nya Agustinus, atau puisi-puisi sofistik Jalaluddin Rumi, atau Kitab Kuning-nya Islam Nusantara. Anda bisa mulai dengan memanfaatkan akses internet yang Anda miliki.

Anda bisa mulai dengan membaca lebih banyak informasi dari sumber terpercaya. Jika Anda selama ini lebih banyak menikmati sumber bacaan yang sifatnya satu arah (dari tokoh atau media tertentu yang begitu mempengaruhi Anda sampai Anda tidak ngeh bahwa mereka juga adalah manusia yang tidak mustahil menyertakan unsur subjektifitas dalam penyampaian informasi atau ilmu, sekalipun mereka menyebut atau meminjam otoritas dari agama tertentu atau Tuhan sekalipun), saatnya Anda memperbanyak frekuensi untuk membuka diri pada diskusi dengan anggota yang beragam latar belakang keagamaan.

Jika Anda cukup konsisten dengan sikap ilmiah dan rasional yang sejatinya sudah Anda miliki, berdiskusi dengan anggota dari masing-masing Dawkins’ scale yang berbeda, kelak bukan lagi masalah buat Anda. Anda tidak perlu lagi bertegang urat leher dengan rekan diskusi yang kelihatan seolah menyerang doktrin atau akidah yang selama ini Anda pegang teguh mati-matian. Malahan, Anda akan belajar lebih banyak.

Konon, Tuhan menitipkan ilmu dan pengetahuan dimana-mana, termasuk pengetahuan dan pengenalan tentang Diri-Nya sendiri. Wallahualam.

So, whenever you can afford any book, “tolle et lege”, ambil dan bacalah.

 

Insta-Famous

Insta-Famous

Apa itu Insta-Famous?

Insta-famous atau Selebgram bukanlah aktor, aktris, musikus(i), atau anak dari tokoh partai politik atau penguasa di pemerintahan. Mereka adalah remaja pengguna Instagram yang menangkap peluang untuk menjadi “famous” (terkenal), punya tempat tersendiri (fame) di hati para follower-nya.

Selain dari akun-akun Instagram yang nyerempet-nyerempet ke pertunjukan keindahan atau kejelekan tubuh dan aksi visual ekstrem (yang entah mengapa masih menjadi pemeringkat atas di antara akun-akun yang ada), akun-akun Insta-famous ini menyadari bahwa selain TV, Radio atau Suratkabar, media sosial terutama Instagram telah menyediakan panggung baru bagi mereka. Panggung yang selama ini hanya bisa dimiliki oleh para artis atau selebritis papan atas yang didapatkan dengan susah payah dan dedikasi bertahun-tahun.

Bahkan jebolan kontes seperti Indonesian Idol, Akademi Fantasi Indonesia, atau comic lulusan Stand Up Comedy saja belum tentu sampai di panggung serupa dan memperoleh fans loyal. Ratusan alumni dari tiga kontes TV terbesar tadi, coba saja cek sendiri, berapa persen yang hari ini masih mendapat tawaran untuk nongol di layar TV.

Tanyalah @dijjah_yelloww yang entah mendapat ilham dari mana, foto dan video singkatnya telah berhasil menjadikannya salah satu akun “dari tak dikenal menjadi tenar” di hati 182 ribu lebih pengguna Instagram Indonesia. Lebih dari separuh jumlah follower di akun Ahmad Dhani, bos Republic Cinta Management yang dulu musiknya mengisi masa-masa SMP dan SMA saya, tetapi kini harus berjuang menanggung konsekuensi dari lirik lagunya ” … Atas nama cinta saja, jangan bawa nama Tuhan …“. Akun dari sebuah band musik indie  barangkali memerlukan kampanye konsisten bertahun-tahun untuk mendapatkan jumlah follower serupa.

Camera dan Aplikasi Instagram – Dua Sejoli Tak Terpisahkan

Lantas apa yang didapat dari banyaknya jumlah follower itu? Jika Anda orang advertising (periklanan) atau setidaknya memahami prinsip dasar marketing, Anda akan segera tau bahwa jumlah follower itu berbanding lurus dengan kesempatan untuk mendapatkan tawaran iklan, endorsement, jual-beli akun, kampanye politik, brand campaign,  dan sejenisnya. Pundi-pundi uang pun mengalir sederas jumlah pesanan ke akun mereka.

Penting dicatat, kesempatan loh ya. Sebab kesempatan dan hoki (luck atau keberuntungan) adalah resep dasar dari kesuksesan menurut ukuran yang berlaku umum. Praktisnya, jika Anda punya teman yang mempunyai puluhan ribu pengikut di media sosial, dengan segmentasi yang baik, meminjam akun tersebut untuk memasarkan produk terbaru usaha Anda jauh lebih efektif dan hemat dibandingkan mencetak selebaran yang hanya akan dibuang di jalan raya begitu orang melihatnya sekejap, menimbulkan sampah di sepanjang jalan pula.

Insta-famous = Instant fame?

Smartphone, Creativity, Leisure Time, Extreme Selfie Mood adalah paduan sempurna bahan mentah bagi para wannabe-insta-famous ini.  Sempurna karena para penggila Instagram ini memiliki atau bisa mengusahakan keempatnya. Dengan bermodalkan kocek 700 ribu mereka sudah bisa membawa pulang sebuah Evercross baru yang sudah berteknologi android. Dengan beragam trik dan tips yang bisa mereka browsing dari Google dan Youtube, mereka bisa belajar menjepret foto atau merekam video berdurasi singkat yang bakal menarik mata orang. Dengan kesibukan mereka yang tergolong lebih ringan dibanding angkatan pekerja (umumnya mereka adalah para pelajar sekolah lanjutan atau sedang kuliah). Soal mood untuk ber-selfie-ria, rasanya tak perlu ditanya lagi. Bahkan saat berbuka puasa pun, durasi waktu untuk berswafoto lebih besar ketimbang silaturahmi yang umum dimengerti orang

Orangtua atau kaum dewasa yang masuk Generasi X (baby boomer) dan Y (millenial) awal barangkali adalah kaum yang paling jengkel dengan begitu banyaknya adegan selfie dan sesi fotografi tanpa henti yang dilakukan oleh kaum muda sekarang dengan konsistensi tanpa henti. Remaja usia belasan dan dua puluhan tahun yang lebih khawatir kalau foto terakhir acara makan bersama mereka tidak diposting di Instagram ketimbang tugas sekolah atau kuliah yang tidak sempat mereka kerjakan.

Jika demikian, benarkah nasihat lama “Instant Result isn’t the same as you play in ‘normal’ way” tidak berlaku lagi? Apakah “hasil tidak pernah menghianati proses” tidak relevan lagi? Singkatnya, apakah Insta-famous (selebgram) sama dengan Instant-famous (mendadak terkenal, tetapi cepat pula dilupakan)?

Tidak.

Insta-famous pada hemat Saya ada dua jenis.

Pertama, Insta-famous sejati. Mereka adalah pengguna Instagram yang justru melewati proses, meski tanpa dahi berkerut dan argumentasi panjang dan tumpukan kertas kerja di tong sampah. Ingat.

Mereka bukanlah aktor dan selebritis yang saban hari wajahnya nongol di layar televisi. Tanpa promosi yang konsisten baik secara online maupun dengan WoM (word of mouth), semenarik apapun postingan mereka tidak akan dilirik atau dikenal orang jika mereka tidak bergerak mencari follower. Mereka juga bukan anak konglomerat atau penguasa yang dengan uang dan pengaruh yang mereka miliki bisa saja “membeli” sejumah follower.

Mereka berlatih menjepret wajah yang fotogenik. Mereka mencoba berbagai sensasi gaya dalam berpose (sampai ada yang bela-belain berfoto di tepi jurang atau di depan mulut buaya yang menganga menunggu mangsa, oh mai goat). Tidak sedikit yang melatih kepekaan mata mereka terhadap estetika dari visualitas benda-benda di sekitar mereka, entah asli entah dengan editan, melalui proses yang juga tidak semudah dan secepat membalikkan telapak tangan.

Mereka juga ramah dan tidak pelit untuk singgah di akun sesama mereka.  Mereka belajar caranya memilih angle foto dan lighting yang benar. (Yang terakhir ini saya baru tahu sedikit-sedikit setelah ngopi bareng dengan @adi.belek, @elleanor,dan @thebridestory).

Pengguna akun dengan konsistensi seperti ini memang layak mendapatkan puluhan ribu follower setia, fans yang loyal. Mereka menjelma menjadi leader-leader baru. Lewat tulisan, foto dan video mereka menjadi influencer yang ampuh, penyampai nilai (value) dan opinionator yang suaranya (voice) pantas didengarkan.

Insta-famous “Parhuta-huta”

Ada lagi insta-famous jenis yang kedua. Saya menyebutnya Insta-famous “parhuta-huta” (kampungan). Golongan ini umumnya pemilik akun instagram yang memperoleh ribuan follower dalam sehari tetapi esoknya bisa di-unfollow oleh ribuan orang juga. Betapa tidak. Mereka ini menggunakan dan menghalalkan segala cara “hanya” demi meraup angka follower. Tentu saja dengan harapan mendapatkan kesempatan seperti di atas. Norak, kampungan, tidak punya etika dan etiket.

Akun-akun ini, selain menyerempet dengan visualitas seksualitas yang melampai norma yang berlaku umum, tidak segan pula mengedit tulisan, foto atau video dari figur publik dengan sengaja memelintir maksud asli dari tulisan, foto atau video tersebut. Tak jarang mereka mengadu domba para pengunjung Instagram yang iseng melihat apa yang baru. Selain gosip terhadap kaum celebrity, diskriminasi SARA (suku, agama, ras dan antargolongan) adalah favorit mereka. Mereka tahu benar bagaimana caranya menyulut kebencian tetapi tidak meredam amarah. Mereka sangat mengerti bagaimana caranya melebih-lebihkan kekurangan dari seorang figur publik, kadang bahkan teman dekat atau keluarga sendiri.

Memang tidak sedikit di antara mereka yang berhasil dari jerat kontrol sosial dari masyarakat pengguna media sosial Instagram yang meskipun tanpa rambu-rambu yang jelas tetapi toh tetap ada, “mengadili seseorang berdasarkan perilakunya”, akhirnya juga meraup rupiah dari sana.

Pengguna akun jenis ini sebenarnya tidak layak mendapatkan puluhan ribu follower. Tak heran, para follower mereka juga lama-kelamaan sadar bahwa mereka mencari display picture yang menarik, bukan disgusting picture yang membuat mereka muak.  Pada titik ini, perlahan tidak ada lagi yang mengikuti dan mengkonsumsi konten yang mereka suguhkan. Sebab sesungguhnya mereka bukanlah leader-leader, melainkan para oportunis rakus yang dengan licik mengeksploitasi para follower mereka secara pikologis. Mereka bukan influencer yang baik, mungkin masih opinionator yang didengarkan untuk sementara waktu, tetapi akan ditinggalkan orang, cepat atau lambat, karena hanya mengejar traffic, dan menimbulkan kebisingan (noise) saja.

Sick people post sick content on their Instagtam

Tak heran, tetapi tidak sedikit pula yang karena serakahnya, tetap nekat menggunakan cara kampungan (semacam black hat SEO untuk kalau di promosi website), mengunggah konten yang jelas-jelas bertentangan dengan hukum dan kesusilaan, akhirnya harus berhadapan dengan aparat penegak hukum. Mereka memang masih famous (terkenal), tetapi tidak dengan cara seperti yang mereka inginkan.

So, tidak perlu khawatir. Entah di Instagram atau media sosial lainnya, entah di dunia maya atau dunia nyata, stay calm saja: Hasil tidak pernah menghianati proses.


Oh iya. Bagi para pembaca yang juga wannabe-insta-famous seperti saya, tidak kalah pentingnya, tidak perlu malu untuk follow Instagram saya di @donaldharomunthe. Kalau mood saya lagi baik, yang sudah follow akan saya follow back. Hahaha.

Remaja Katolik yang Kesepian

John yang Linglung

John membolak-balik diary lamanya, tempat dia menumpahkan pengalaman harian dan curahan hati yang tidak berani dia sampaikan ke siapapun. Sebagian besar karena  dia tidak yakin bahwa orang yang akan menjadi teman bicaranya bisa mengerti kompleksitas pergulatan batin yang dia alami. Sebagian lagi karena dia juga tidak yakin bahwa masih ada teman yang cukup arif dan bijaksana untuk tidak menyalahgunakan informasi personal yang begitu sensitif yang ia sampaikan.

Umumnya ketika ada temannya yang mengatakan “tenang bro, gua nggak bakal ngasih tau hal ini ke siapapun kok“, instingnya mengatakan bahwa itu pasti bohong.

Masuk akal, John belajar dari pengalaman sebelumnya.  Ia pernah memberitahu temannya bahwa ia masih belum mengerti bagaimana Tuhan-nya umat Katolik bisa begitu tega membiarkan anak-anak Afrika kelaparan sementara Ia menjanjikan “negeri berlimpah susu dan madu” kepada umat-Nya. Esoknya ia dipanggil oleh guru agama untuk bimbingan pribadi dan diberi PR untuk menulis 5 pasal dari Kitab Keluaran dengan tulisan tangan.

Belakangan John tau bahwa Tuhan yang sama adalah Allah bagi umat Yahudi, Katolik, Kristen dan Muslim.

Hanya diary lusuh inilah yang menjadi tempatnya mengungkapkan pergulatan batinnya dengan aman, dengan resiko yang sangat kecil. Tak heran ia selalu menyembunyikan buku hariannya di bawah tempat tidur dan tak pernah lupa membawanya kemanapun dia pergi.

John memang seorang kutu buku sejati. Ia juga tak pernah bosan menghabiskan waktu dengan membaca bacaan yang bagus di internet. Semakin banyak bacaan yang dia lahap, semakin rajin pula dia menulis. Sikapnya yang perfeksionis membuat situasi semakin sulit. Lingkungannya bergaul semakin sempit.

John pernah tertarik masuk ke Seminari Menengah di kota terdekat kampung halamannya. Konon mutu pendidikan di Seminari adalah yang terbaik di kota. Waktu itu, sebagai murid yang menonjol di sekolah dan anak asrama yang baik di bawah bimbingan para biarawati yang keibuan dan perhatian, John adalah satu dari segelintir murid yang selalu disodorkan namanya oleh kepala sekolah setiap kali pastor paroki datang mengunjungi sekolah tersebut untuk mencari anak-anak yang berminat untuk dididik sebagai calon imam Katolik di Seminari.

Tapi niatnya kandas. Sebagai murid yang gemar membaca, John segera tahu bahwa imam dan biarawan-i terikat pola hidup selibat. John tidak mau. Ia belum pernah mengungkapkan perasannya pada Clarissa, tetapi dari lubuk hatinya yang paling dalam ia tidak pernah lupa getaran aneh yang dia rasakan ketika duduk sebangku dengan Clarissa. Ia jatuh cinta dengan gadis belia berlesung pipit itu.

Kala itu jemari Clarissa yang lembut menyentuh lengannya, menyadarkannya bahwa gejolak ini bukan hanya karena gejolak pubertas yang meninggi seiring dengan tumbuhnya bulu-bulu halus di beberapa bagian tubuhnya. Bagi John, jelas bahwa ini misi yang harus diembannya: Ia harus berhasil menjadi pemuda yang sukses supaya kelak Clarissa jatuh hati padanya, lalu bersedia menjadi isterinya. John harus memperistri Clarissa.

Di antara teman seusianya, John merasakan bahwa ia memiliki frekuensi pemikiran yang berbeda. Ketika teman-temannya menghabiskan waktu dengan video game, klub sepakbola, atau kenakalan-kenakalan remaja yang pernah mereka lakukan untuk diceritakan dengan bangga, John senang melakukan survey kecil-kecilan untuk membandingkan seberapa lurus perbandingan antara teori yang dia baca di buku dengan kenyataan yang ia temui di lapangan.

Berkat “hobi” uniknya itu, John jadi tahu bahwa foto-foto selfie Instagram teman-temannya yang berpose di depan mobil pribadi adalah palsu. Atau bahwa foto-foto teman-temannya sedang makan di restoran mewah dan banjir caption dan tagar #romantic #happy #beautiful #sweet yang berseliweran di timeline-nya tidak lain dari upaya pamer kekayaan orangtua mereka, bukan hasil keringat sendiri.

John sempat depresi cukup lama ketika tahu bahwa Clarissa ternyata tidak sebaik yang dia bayangkan. Belum sempat ia menyatakan perasaannya pada gadis pujaan hatinya itu, ia mendengar kabar bahwa Clarissa sudah menikah dengan seorang pemuda lantaran sudah terlanjur hamil duluan. Kasian John. Berharap bahwa suatu saat ia bakal bisa bercerita apapun dengan Clarissa, ternyata tidak. Ternyata, tetap hanya diary ini yang bisa menjadi tempat curahan hatinya.

Lonely boy via HuffingtonPost.Com

John tidak putus asa. Hobinya membaca menjadi pelarian yang sempurna. Dengan daya bacanya yang luar biasa, ia tidak pernah ketinggalan di kelas, kendatipun selain buku pelajaran ia masih sempat melahap habis serial novel Sydney Sheldon, Musashi, Harry Potter dan Sherlock Holmes. Ia juga sudah membaca “Sejarah Tuhan” karangan Karen Armstrong di tingkat dua masa kuliahnya, buku yang judulnya saja tidak pernah didengar oleh teman sekampusnya. Ia tidak begitu menikmati roman karangan novelis Indonesia, kecuali tulisan Pramoedya Ananta Toer yang membuatnya semakin bangga menjadi orang Indonesia sekaligus Katolik. Bagi John, pola pikir Gereja Katolik terhadap ajaran sosial masih yang lebih baik di tengah tarik-menarik antara kapitalisme dan sosialisme utopian Karl Marx.

Sesekali ia mencoba keluar. Ia mencari kelompok kategorial OMK, dimana ia mungkin bisa menemukan teman yang sefrekuensi pemikiran dengannya.

John pernah mencoba bergabung di kelompok koor tapi lalu mual karena ternyata pelatih koor yang awalnya tampak kharismatik di matanya, tidak jauh berbeda dengan lelaki yang telah menghamili Clarissa. Dua bulan kemudian ia mendengar pengumuman di gereja bahwa pelatih koor tersebut akan menikah dengan salah satu anggota koornya yang masih baru saja menyelesaikan Ujian Akhir SMA. Alih-alih melanjutkan ke perguruan tinggi bergengsi, wanita itu harus menggendong bayi beberapa bulan kemudian di usia yang masih sangat belia. Si pelatih koor tidak pernah terlihat lagi di paduan suara mingguan gereja.

Pernah juga ia mencoba mengikuti persekutuan doa karismatik. Tapi lalu John merasa aneh melihat para peserta menangis meraung-raung dan meneriakkan kata-kata aneh. Seaneh-anehnya mantra-mantra yang diciptakan J.R. Tolkien dan JK Rowling di buku-buku fiksi kesukaannya, masih lebih aneh kosakata yang keluar dari mulut kelompok para pendoa itu. Sulit bagi John untuk menerima bahwa cara berdoa demikian, yang disebut “glossolalia” atau bahasa Roh oleh pemandu doanya, sebagai tanda orang dikaruniai Roh Kudus. Alhasil, John tidak pernah lagi mengikuti persekutuan itu untuk kali kedua.

Meja Makan yang Sunyi

John tidak pernah bosan dengan Gereja Katolik. Lebih tepatnya, John penasaran. Terutama demi melihat sang ibu. Ibunya yang selalu rajin ke gereja dan berdoa rosario setiap kali ada permasalahan serius di keluarga mereka, menjadi insipirasi bagi John.

John kerap takjub melihat betapa sabar ibunya bertahun-tahun menghadapi ayahnya yang kerap mabuk-mabukan dan gemar bermain wanita itu. Sepeninggal almarhum ayahnya yang meninggal karena ketergantungan akut dan kronis pada alkohol, John tak pernah sekalipun mendengar ibunya mengutuki Gereja atau mengeluh betapa tidak adilnya Tuhan. Ibunya tak pernah absen mengikuti misa.

Sebaliknya, John yang merasa menderita karena harus menemani ibu mendengarkan homili dari pastor yang seolah tidak dipersiapkan dengan baik. Kadang John merasa, jika sepanjang waktu si pastor hanya membaca teks  saja sepanjang homili, ditambah lagi dengan rambut awut-awutan dan wajah kurang tidur itu, lebih baik umat dibagikan saja teks homilinya untuk dibaca masing-masing di rumah.

Makan malam adalah momen yang paling ditunggu John. Selain koki yang baik, ibunya adalah sosok yang selalu punya alasan bagi mereka berdua untuk berbicara panjang lebar di meja makan yang sepi itu. Praktis hanya John dan ibunya yang tinggal di rumah itu sejak kakak John satu-satunya jarang mengunjungi mereka setelah menikah dan mempunyai keluarga sendiri. Ibu selalu berhasil mengajak John untuk bercerita tentang kuliahnya di kampus, gadis mana yang sekarang John taksir, atau kegiatan John lainnya.

Hal yang juga tetap berlanjut setelah John lulus kuliah dan menemukan pekerjaan yang lumayan di kantornya yang sekarang. John kadang berusaha membagikan pengalaman dan pergumulan hariannya. Hanya saja, belakangan John merasa ibunya tidak lagi tahan berlama-lama mendengarkan celoteh dan cerita John tentang prestasinya, tekanan kerja dan persaingan yang sangat ketat di kantornya, atau tentang update terbaru di perusahaannya.

Apalagi setelah sang ibu kini semakin rajin melakukan doa devosi kepada santo-santa. Ada-ada saja devosi baru yang diperkenalkan oleh pastor parokinya. Anehnya sang ibu selalu antusias untuk mempraktekkan devosi-devosi itu. Tahun kemarin Devosi kepada Santo Johannes, tahun ini kepada Kerahiman Illahi. Ada devosi kepada Maria dari Guadalupe, ada doa kepada Maria dari Fatima, entah apa bedanya. Belakangan John sadar bahwa ada ribuan santo-santa jumlahnya di Gereja Katolik. Tidak masalah buat John. Setidaknya, John melihat ibunya sangat menikmati devosi-devosi itu.

Rapat-rapat di kantor dan target yang semakin tinggi di kantor membuat John semakin sering pulang larut malam. Semakin sering pula ia menemukan ibunya sudah tertidur begitu ia tiba di rumah dan menyantap makanan yang sudah disediakan ibunya. Merasa tidak enak, John kerap berpesan bahwa ia sudah makan di kantor dan ibunya tak perlu memasak lagi khusus untuk makan malam.

Romansa yang Kering

John yang perfeksionis kadang merasakan bahwa sudah saatnya ia membuka hati pada wanita lain. Tapi tak satupun wanita yang menarik perhatiannya. Kerap juga John merasa jangan-jangan dia menaruh kriteria yang terlalu tinggi untuk seorang karyawan biasa di kantornya. Ia sudah lama melupakan Clarissa dan debar pubertas yang dirasanya terlalu kekanak-kanakan itu. Di lubuk hatinya, John ingin mencari seorang gadis yang memiliki sifat keibuan dan sesabar ibunya. John tidak naif bahwa pasangan seiman adalah prioritas pertama dalam pencariannya. Belum lagi, karena UU Perkawinan di Indonesia yang masih belum berpihak banyak pada perkawinan pasangan beda agama. Masalahnya, dari antara wanita di kantornya hanya sedikit yang seiman dengannya.

Ia sempat PDKT dengan Ursula, staf admin yang tampak ramah pada pertemuan-pertemuan pertama mereka. Tetapi sekali waktu ia melihat foto Ursula di Instagram. Gadis itu tampak bergelayut mesra di pangkuan seorang pemuda di pantai, ia menghentikan PDKT-nya.

Couple in the beach via Dusk-TV.Com

Dengan Margareth sempat pula John berniat untuk mengajaknya kencan. Tetapi John segera minder begitu tahu bahwa Margareth menolak halus ajakannya menonton di bioskop ketika managernya menjemput Margareth dengan mobil Lamborghini yang tampak mengkilat. Malam itu John pulang mengendarai sepeda motor bututnya dengan keadaan lesu.

Sebetulnya ada juga Priscilla, teman sekerjanya yang selalu tersenyum ramah menyapa selamat pagi. Tapi dalam beberapa kali pembicaraan dengan Priscilla, wanita itu tak henti-hentinya berbicara tentang pastor ini atau frater itu yang menurutnya sangat baik dan rajin mengunjungi rumah keluarganya.

Entah mengapa, John ill feel ketika ia iseng mengecek timeline Facebook si Priscilla yang hampir setiap hari berisi kutipan ayat-ayat Kitab Suci. Bukan apa, John juga tahu bahwa Priscilla termasuk satu diantara kelompok wanita yang senang menggosipi rekan-rekan kerja lain di kantor. Apa saja yang terjadi pada seorang karyawan di kantor, Priscilla seolah punya pemikiran yang aneh dan menjadikannya bahan untuk dijadikan gosip. John mengurangi frekuensi pertemuan dengan Priscilla ketika setengah tersenyum ia mengulik profil Facebook Priscilla, tertulis “Pelayan di Ladang Anggur Tuhan”. “Fine, I am not into you, dear“, batin John.

Tak sedikit teman John yang menganjurkannya untuk mencoba mencari teman wanita lewat berbagai media sosial yang ada. “Come on, John. Lot of lonely girls are online, looking for cool guy like you. They are everywhere. Di Facebook, Instagram, Snapchat, Twitter, Path, Line, Skout, you mention it“, kata Chris teman dekatnya suatu waktu.

John tidak tertarik. Bagi John, dalam hal relationship, jargon “fake it until you make it” tidak berlaku.

Bangku Gereja yang Kosong

John masih setia mengikuti Misa di gereja parokinya. Selain menemani ibunya, John juga ingin mencari siapa tahu ada gadis yang sendirian seperti dirinya, yang juga sedang mencari pasangan yang seide dengannya. Pasangan yang bakal menjadi pendampingya. Gadis yang menjadi partnernya dalam khayalan romantis John: “We will discuss for hours, cook together, argue endlessly, make love along the night, and then both sleep like a baby

Tapi survey kecil-kecilan yang kerap dilakukan John memperlihatkan keanehan lain. Dari tahun ke tahun tampaknya bangku di gereja itu semakin banyak yang kosong. Opa, oma dan para jompo masih setia duduk di bangku depan menemani para prodiakon. Selain itu, hanya ada pasangan keluarga yang usia perkawinanannya sudah lama. Pasangan keluarga muda semakin sedikit disana. Teman-teman sebaya John ketika Sekolah Minggu dan ketika masih aktif menjadi misdinar semakin jarang kelihatan. Padahal, setahu John teman-temannya adalah orang-orang yang terbilang sukses, bahkan banyak yang jauh lebih sukses darinya.

John juga memperhatikan keanehan lain. Tidak hanya anak anak remaja, ibu-ibu muda juga banyak yang tidak bisa lepas dari smartphone mereka selama Misa berlangsung, bahkan ketika Doa Syukur Agung dan Konsekrasi. Padahal, sebelum masuk ke gereja dan seusai Misa, mereka juga masih asyik membungkuk menatap layar gadget mereka, seakan-akan mereka adalah para stock trader yang tidak ingin melewatkan sedetikpun turun-naiknya pergerakan saham di bursa online.

Chris dan “Spotlight” yang Mengguncangnya

Bahkan, Chris teman dekatnya, mantan seminaris yang cerdas dan kritis itu seperti tidak pernah lagi kelihatan batang hidungnya di ibadat dan Misa di gereja. Padahal, Chris termasuk seorang anggota OMK yang menurutnya cukup militan dan punya karakter, tidak ikut-ikutan tren seperti kebanyakan temannya yang lain. Terakhir, ia dan Chris terlibat diskusi serius soal pandangan mereka terhadap kehidupan menggereja Katolik sebagai orang muda.

Ia masih ingat betapa kesalnya Chris terhadap mantan pastor paroki mereka yang membawa kabur seorang janda muda kaya yang umat paroki itu juga. Konon sebagian uang paroki juga dibawa kabur oleh pria malang yang tentu saja tidak akan berani menunjukkan mukanya lagi di depan umatnya.

Sorry bro. I can’t stand this. I’ve read a lot, seen a lot. I know about Spotlight that brings Boston Arcdiocese to financial bankruptcy. I know about corruption in Catholic Church Life, both clerics and lays. Sementara gue belum bisa aja. Mungkin butuh waktu cukup lama baru gue akan ke gereja lagi”, kata Chris jengkel mengakhiri diskusi mereka yang setengah serius itu.

Just google it“, pinta Chris.

Tim yang disebut "Spotlight" adalah sekelompok jurnalis dari Boston Globe yang melakukan investigasi mendalam terhadap sejumlah kasus pedofilia yang dilakukan olah beberapa pastor dari Gereja Katolik Roma. Kasus ini berhasil mengguncang Keuskupan Agung Boston secara kewibawaan dan finansial secara khusus dan keuskupan-keuskupan lain di seluruh dunia, setelah laporan itu diterbitkan di surat kabar dan dibaca oleh jutaan warga Amerika Serikat. 

Kisah ini difilmkan pada 2015, disutradarai Tom McCarthy dan mendapatkan penghargaaan antara lain dari 72nd Venice International Film Festival, Telluride Film Festival, Academy Award for Best Picture dan Best Original Screenplay. Laporan investigasi itu sendiri mendapatkan penghargaan The Globe the 2003 Pulitzer Prize for Public Service.

 

John hanya bisa menyimak, kagum sekaligus heran dengan apa saja yang didengarnya dari penjelasan Chris, terutama sikap Chris kemudian dan pandangannya yang sinis terhadap Gereja Katolik, seolah Chris lupa betapa semangatnya mereka berdua pada tahun-tahun pertama setelah menerima Komuni Pertama.

“Makanya gue salut ama loe. Gue tau lo membaca banyak dan juga banyak ikut diskusi. Elo bisa berdiskusi dengan teman-teman Katolik, yang Protestan, yang muslim, agnostik bahkan ateis, and after knowing all these stuffs, you still attend the Church, I salute you bro. I just can’t. Sorry” , ujar Chris dengan gaya bicaranya yang susah lepas dari kebiasaannya ber-English ria itu.

Just be yourself, because pretending is painful“, lanjut Chris. John setuju dengan kalimat terakhir ini. Seolah kalimat itu keluar dari mulut John sendiri, bukan dari Chris.

Still, John yang Kesepian

John tersadar dari lamunannya. Ibunya pun sudah usai berdoa pribadi di tengah kerumunan orang yang bergegas meninggalkan gereja seusai Misa. Gadis yang tadi bertugas menyanyikan Mazmur Tanggapan masih terlihat khusyuk berdoa di depan patung Bunda Maria. Di pelataran gereja, John berpapasan lagi dengan gadis itu. Gadis itu tersenyum manis padanya.

Ia ingin bercerita banyak di diary-nya. Tapi John sudah terlalu lelah hingga sesampainya di rumah, John tertidur di sofa ruang tamu mereka. Ibunya yang baru selesai berdoa devosi menatap anaknya yang terlelap, tersenyum seperti sedang bermimpi.


Cerita ini fiksi. Kesamaan nama dan tempat adalah kebetulan belaka.

Enchilada

Encounter“-nya Schillebeeckx menjadi semakin jarang dirasakan pentingnya oleh generasi zaman sekarang. Perjumpaan personal secara face-to-face dirasakan banyak orang sebagai sesuatu yang tidak lagi begitu produktif, digantikan oleh komunikasi haha hihi dan chat tak berujung penuh emoticon dan sandiwara penuh humor basi di group-group Whatsapp, Blackberry Messenger, Facebook, Telegram, Line dan sebagainya, you name it. Tak jauh beda situasinya dengan japri alias jaringan pribadi (private channel).

Banyak psikolog menengarai gejala ketakutan dan kekurangcakapan generasi sekarang untuk membina relasi yang “material” (material dalam arti tangible, sensible dan personal sebagai antitesis dari yang digital) sebagai bentuk baru alienasi manusia terhadap dirinya. Orang tahan berjam-jam, bahkan melebihi durasi jam kerja sesuai UU Ketenagakerjaan (8 jam sehari, 5 hari seminggu) dengan jari-jemari tak henti-hentinya mengetak-ketuk atau mengusap layar sentuh di handphone atau gadget-ya, tetapi tidak lagi mampu berbicara secara sungguh-sungguh dengan mitranya dalam perjumpaan tersebut. Entah mengapa.

Begitulah kini kita pelan-pelan menciptakan dan menjadi bagian dari “masyarakat yang bungkuk menatap layar”, bukan lagi “masyarakat yang tegak dan tersenyum menatap wajah”. Jika saja Max Scheler atau Edmund Husserl masih hidup di zaman sekarang, mungkin mereka akan memaki-maki kita, manusia-manusia yang tak lagi efektif berkomunikasi interpersonal.

Tapi, benarkah orang memang semakin menghindari perjumpaan personal?

Ataukah memang perjumpaan antarpribadi sekarang semakin menurun kualitasnya?

Bahkan jika kita mengalah pada relasi transaksional, apakah perjumpaan secara personal tidak lagi mendatangkan keuntungan (profit) dan manfaat (benefit) bagi masing-masing pribadi?

Jika demikian, solusi yang sangat realistis perlu dicari untuk menyembuhkan penyakit “kekurangcakapan” ini adalah:

Bagaimana mencari profit bagi diri sendiri setiap kali bertemu dengan orang baru atau berada di tengah perkumpulan yang baru?

Masalah-masalah komunikasi interpersonal (yang kerap tak menyeruak keluar secara eksplisit tetapi agaknya diderita oleh masing-masing kita di zaman digital ini) saya coba inventarisir dari contoh-contoh konkret yang kita alami sehari-hari. Berikut beberapa hasilnya.

  • Kalau nanti pada pertemuan satu almamater, Saya bukan pembicara atau Pemrasaran, adakah untungnya buat saya?

 

  • Jika saya hanya menjadi pendengar budiman, layakkah saya menembus macet dan meninggalkan jadwal facebook-an saya hanya untuk melihat orang-orang baru di kopdar (“kopi darat” = meet up) yang akan datang ini, yang bentuk wajahnya saja tampaknya bukan tampang orang berduit?

 

  • Gimana ya caranya supaya saya bisa jualan produk-produk online atau dapet referral kalau saya hanya peserta biasa?

  • Saya maunya usaha kecil-kecilan yang saya mulai ini bisa dikenal oleh sebanyak mungkin teman pada acara reuni nanti. Tetapi, kalau sumbangan dana partisipasi Saya ke panitia acara hanya kecil saja, apakah teman-teman saya itu masih mau meladeni ajakan saya untuk bertemu mereka dan melakukan prospecting

  • Lama-kelamaan rasanya setiap kali Saya membuka sedikit tentang gagasan saya, atau menyinggung sedikit tentang unit usaha yang sekarang saya kembangkan, kok tatapan teman-teman yang tadinya hangat ke Saya tiba-tiba menatap Saya seperti mereka baru saja ditodong oleh seorang agen asuransi yang frustrasi demi mengejar target capaian premi sehingga tak sadar melakukan jual paksa?

  • Dengan segala kemudahan untuk mengakses informasi sekarang dari internet, masih perlukah saya membuang uang, energi dan waktu untuk datang ke live event, seminar atau workshop?

  • Kalau Saya datang ke suatu pelatihan atau seminar, masih perlukan saya membawa setumpuk kartu nama untuk Saya bagi-bagikan ke setiap orang disana? Apa saja yang sebaiknya Saya tampilkan di kartu nama tersebut, dan apa yang sebaiknya tidak?

  • Dengan puluhan atau ratusan kartu nama yang saya dapat hasil dari tukar kartu nama, artinya mereka adalah potential client atau prospect Saya, bagaimana cara follow up yang baik sehingga mereka tidak merasakan kehadiran sebagai sebagai penguntit?


 

Adakah teknik atau gaya komunikasi yang mesti Saya batinkan sehingga Saya bisa menyajikan hidangan enchilada penuh guna memuaskan selera mitra atau calon mitra Saya?

Saya mau supaya potongan tortilla jagung ini bisa saya tawarkan dan disukai oleh segala macam selera dan konteks situasi. Artinya, kalau si A suka daging, dia menemukannya pada saya. Untuk si B yang suka keju, dia melihatnya ada pada saya. Bagi si C yang suka kentang, juga didapatnya dari Saya.

Is there reallly a thing such whole thing that corresponds to every situation and style of interpersonal communications?

If it is somewhere there, where to find that specific whole enchilada?


 

Konon, dulu Dale Carnegie sudah menasihati ribuan kali:

Ketika bertemu dengan orang, perbanyaklah MENDENGARKAN.

So, the whole enchilada really exists. You just need to listen, understand every need, respond to it, and voila, you have just made another succesfull selling.

Entah barang atau jasa apapun yang Anda sedang jual.

 

Tirani Pelajaran Memperbudak Pembelajar

Apa itu Tirani Pelajaran

Hampir semua nilai-nilai modern –  terutama yang ditanamkan melalui sistem pendidikan kita – jika ditelusuri, merupakan ancaman serius terhadap kebebasan dan keagungan manusia, menghambat kita menjadi pribadi seperti yang diinginkan oleh Tuhan (atau Supernatural Being dalam sebutan apapun yang menjadi awal da pelabuhan terakhir kita). Bentuknya bisa beragam. Mulai dari imoralitas, filsafat atau pola pikir yang buruk, ketergantungan kimiawi dan teknologis; semuanya adalah bentuk-bentuk penjajahan atau perbudakan.

Pseudo-values (nilai-nilai semu) itu kita yakini sebagai nilai yang luhur, tetapi ternyata menjadi tirani yang membelenggu kita, lebih kerap malah semakin mengkonfirmasi alienasi diri terhadap diri sendiri.

Institusi pendidikan kita merasa diri sudah selesai dengan pemikiran klasik. Kurikulum dibuat dengan mengesampingkan Kebenaran, Keindahan dan Kebaikan, dan menggantinya dengan Relativisme, Kebodohan, dan Penyiksaan Diri sendiri. Para siswa tidak lagi dididik untuk memahami pelajaran sejati dari Sejarah, tidak dibina untuk berjuang meng-aku-kan keutamaan, dan tidak lagi menghormati Tuhan. Mereka belajar banyak “seni”, tetapi tidak belajar seni berfikir. Alhasil, tidak sedikit gagasan buruk tereksekusi di tingkat akademi dan kemudian memaksa kita untuk memberi tempat baginya dalam kesenian, hiburan dan media.

Maka tidak heran bahwa sebenarnya kita telah menciptakan masyarakat dimana para warganya tidak mampu berfikir untuk diri sendiri, tidak mampu menghibur diri sendiri, tidak mampu membela diri sendiri, benar-benar tidak mampu untuk menyediakan support bagi diri sendiri. Kita telah menciptakan masyarakat budak. Orang-orang menjadi cepat marah dan bingung, bahkan dalam situasi dimana mereka tidak tahu apa sebetulnya yang membuat mereka marah, apalagi mengungkapkan kemarahannya dengan cara yang tepat.

Anak muda tidak lagi belajar arti seni, literatur dan bahasa yang benar. Mereka sadar bahwa mereka tidak puas. Ada kehausan untuk mencari nilai-nilai yang sejatinya melekat dengan kodrat manusiawi mereka yang agung. Tetapi mereka tidak menemukannya. Alhasil, gerombolan dari orang-orang yang tidak puas ini kaget menghadapi conundrum mengerikan dimana mereka bahkan tidak mampu mengungkapkan ketidakpuasan mereka secara tepat.

Learn how to use brake, accelerator and pedal, and use them properly!

Learn how to use brake, accelerator and           pedal, and use them properly!

 


 

Catatan:

Tulisan ini saya buat tepat sesudah tayang berita bom panci meledak di Kampung Melayu dan sekelompok ABG yang tergabung dalam kelompok yang menyebut diri Gangster melakukan aksi brutal.

 

Andung ni Boru Siappudan

Nunga be hampir dua pulu taon lelengna au dang pajuppang dohot Amonghu. Di tikki dakdanak au pittor tibu do Inong pangitubu i lao. Sandok dang pola hutanda songon dia do tutu bohi ni Inong na manubuhon au on. Holan barita dohot turiturian sian halak nama binege.

Inna nasida:

“Jolma na burju jala na uli do inongmu”

Molo dang sala marumur lima taon ma au tikki toppu ro sahit ni Inong. Tung i ma berngit ni sitaononna alani sahit i, alai tong do dipaboan-boan songon i, asal ma boi husan-huson parmudumuda hami. Nunga songon i pe, so pittor diboan Among ibana marubat. Jempek ma i hutariashon, ala dang tartahan au manetek ilukku tikki manggurat on, dang piga leleng, marujung ngolu ma Inong.

Tading ma hami gellengna. Adong hami lima halak toropna. Opat hami boru, sada ma itokku. Ia kakak siakkangan kalas tolu SMA ma tikki i (Kalas XII molo di zaman saonari). Toho ma tutu. Dung mate Inong dang adong be iatturehon Among hami akka gellengna. Marserak ma hami na lima. Adong ma on na karejo di pabrik i Tangerang. Adong ma on na lanjut sikkola, alai alani ni hapogoson na toppu manoro (na uju i soppat do marmobil hami tikki akka dongan mar-tipi pe boi bilangon dope), godanganma hami putus sikkola.

Haccit situtu do di tikki i molo nipaingotingot. Maniak ateate.

“Boasa ikkon songonon taononnami?”

Au ma na unggelleng tikki i. Tikki mangolu Inong, sai jojot do Amonghon lalu tangan. Dang holan tu Inong, tu kakak dohot ito pe songon i do rimasna. Molo nungga jumpang borngin pittor mabiar ma hami sude. Ai di tikki songoni do parroni sahit rimasna i, olo ma berengon hira parkambuh ni sahit na so tarubatan i. Hape nian so na marsahit pamatangna, minar do nang bohina. Lumobi ma molo tikki minum, dang holan minar, nunga be marrara. Mabuk, i ma nian karejona tiap bodari on.

Molo nungga borngin minum ma. Tenggen ma. Sipata lungun sappur geok do nian molo niingot. Dang hinata tutu, sagalas pe diinum nungga mabuk, alai tong didatdati. Molo nunga tenggen hira Raja Padoha ma idaon bohina on (hea do tahe dibereng hamu Raja Padoha?). Molo di partenggenna i attong, so adong be dibereng on jolma na humaliang ibana, tarmasuk ma i parsinondukna dohot hami ianakkonna, anak dohot boru dipatiptip do sude. Holan hurang sikkap iba mangalean tes na, tor disampathon ma. Jotjot ma on hona tu bohi niba disampathon. Tamba ni i, disipak do muse. “Ue tahe, sibaran ni iba na maramong on”, inna roha molo tikki di sihabunian i. Sahat tu na marujung Among, dang muba pangalahona. Holan tikki di parsahitan si na piga-piga minggu i do.

Mulak ma satokkin tu pudi. Dang leleng dope dunghon marujung Inong, pittor tibu do attong Among marmeammeam boru-boru. “Main perempuan”, molo istilah zaman saonari. Ra adong dope saotik lungun ni rohana, dang tarpaberengberengsa akka peninggalan ni Inong, gabe tibu ma ditutungi sude. Pahean, sipatu, dohot lan lan asing. Adong roha lao mangingil nian asa adong kenangkenangan sian Inong, alai dang adong be tinggal manang aha pe, nunga hona tutung sude. Diambolokkon akka na so tartutungna. Goarna pe dakdaknak, maramonghon Among parrimas, dang adong sada pe hami na barani mangalo. Sip ma hami sude, songon anak ni manuk na teokteok, naing nian manginsugut tu abarana, alai dipasombu do ngalian so marbulusan. Sandok, aha pe pinandokna, boha pe pangalahona, sitau sip ma hami. Hohom hira bangso na talu di parporangan.

Pola do pigapiga lelengna lam songon na kumat rumas ni Among dung parlao ni Inong. Gabe hami ma panombosanna. Tiap ari on ikkon hona pastap do hami. Hona tunjang. Jotjotan ma i dang alani bonsir manang aha pe. Gabe hira hasomalan ma i di Among.

(Situan Panjaha na huparsangapi, paima hamu satokkin da. Husesap jo ilukkon. Nunga martektekan sian nakkingan)

Lam marroha ma hami. Tung pe di parhassitan, hona gosagosa alani rimas ni Among, martumbur do hami sude ianakkona. Marsipapuasan ma sesama hami attong. Sian i, tubu ma habaranion laho borhat tu huta sada, tudia pe taho. Alana dang be jabu na mardongan dame bagas na huingani hami saonari on. Nunga be i, dang tartaon be na tiap ari hona tangan ni Among i.

Jei, hea do adong di sada tikki, naeng ma mangoli ma sakkap ni Among on. Dipasahat ma sakkap nai tu hami. Nunga mulai marroha attong hami disi. Dang setuju hami, ima jompokna. So sae dope ilu-ilu di partading ni Inong, so suda dope andung di panggosagosa ni Among, ikkon jaloon muse inna marina panoroni? Parlistip na tobal dohot parrok mini muse do gombarni boruboru ipatudu tu hami. Muruk ma muse attong Among. Suda ma hami muse dipastapi so pola marboa-boa, ditunjangi so marhasoan dang jolo mardongan aba-aba, ala so huoloi hami pangidoanna i. Ai nunga tahe di-lissoi-hon Among piga-piga galas bir dohot tuak andorang dipasahat sakkapna i tu hami, i ma na lao ma mangalap pangganti ni Inong naung mardame sonang di Surgo i.

“Inong, unang sai tangis ho mamereng hami sian ginjang i, mardame sonang ma ho da Inong di ampuan ni Tondi Porbadia i.  Hahomion do nuaeng na hudaopi hami on”, ima tangianghu na sai tong huboan molo tikki sasadasa au, masuk tu bilikku na sompit on.

Tep ma i. Dang huingot be tanggal piga, di sada manogot, rap ma hami marsakkap asa kabur dang mulak tu jabu sidung sikkola. Soppat do disusun kakak dohot ito strategi lao mamboan au kabur, alana lima taon dope au disi. Ale i ma, dang adong nanggo lipper bola pitu huboan hami tikki i. Sandok, dokdok hian ma. Mardongan hata elek, gabe boi ma hami dijalo tinggal di kontrakan ni namboru, apala iboto takkas ni Among on. Asa diboto Situan Panjaha, tu itona on pe, dang sahali be Among patuduhon rimasna. Modom ma hami borngin i disi.

Di naso panagaman, manogotna i tikki lao kakak dohot ito marsikkola, ro ma attong na gogo i, i ma Among. Tor disoro do attong tu kalas. Guru na mangajar disi pe sip ala ni biarna, dang iatturehon. Dijolo ni akka donganna, ditopari Among ma kakakku siakkangan (nuaeng nunga lima anak tinubuhonna, sai hipas ma ho tongtong, da Kakak hasian), dang tarberengbereng ni akka donganna, ai masa do hape anakboru naung bajarbajar hona topartopar ni amang parsianuanna, di jolo ni akka donganna. Hira sinetron ma, talu dope drama melankolis mengharu-biru ni Korean Film zaman saonari.  Marmudari do tikki i igung dohot pamanganna. Pola do durus mudar, gok ma di bohina i.

“Tudia dibaen ho kabur akka adekmu, hurang ajar?”, inna Amanta i ma gogo di kalas i, mangoga kakakhi. Nuaeng hupikkiri, ise do situtu na hurang ajar, inna rohakku.

Alai i pe, tong ma ho mardame sonang dohot Inong da Among. Dang boi be songgakonmu Inong di Banua Ginjang i, ai nunga adong Jesus mangampini. Dang tolapmu molo tusi“, ima tangianghu apala gomos hudokkon molo sai binege jamita ni Pastor manang Pandita di gareja.

Lanjut ma muse.

(Mangido tikki satokkin ate, Situan Panjaha, husesap ma jo muse ilukku da. Songon na dokdok hian huhilala, pojjot di roha manggurathon turiturian ni keluargakkon).

Mulak sikkola, tor hatop ma attong kakak on sahat di jabu ni namboru. Marsap mudar dope bohina i. Dang pola godang makkatai, tor dihaol namboru na burju i ma attong kakakhi. Diusap ma simanjujungna. Alai, dang so dope hape parmaraan i. Satokkin dope menak satokkin di jabu ni namboru i, tor ro ma attong Among marmboil, diboan ma donganna. Naing tutungonna inna jabu ni namborukki, jabu ni itona manakkas i. Ala dietong i gabe jabu partabunian nami.

“Tutung ma tutung, ito. Andorang so tioponmu akka maen dohot paramanhon, au ma parjolo”, inna namborukki tikki i. Dang adong biar ni namborukki hubereng tikki i alani holongna ma tu hami. Ikkon hatidanghononna do tutu na manghaholongi hami ianakkonni edana. Hape parbohi na lambok do nian namborukkon molo siganup ari, parroha na serep. Ra alani marnida habaranion ni namborukki, dang jadi dipasaut Among ogapogap na i. Salpu ma i holan hata. Mauliate ma di Debata.

Sabotulna, donganna binoan ni Among i pe dipatuduhon do alo ni rohana dung diboto na jabu ni ibtona manakkas do na naing situtungonni Among. Alai, goarna ma mardongan, huroha naung parjolo do digarari Among minumna di lapo, jadi alangalang ma donganna nai patuduhon alo ni rohana.

Salpu ma ari, jumpang ma bulan, digogohon kakak dohot ito ma rohana laho mangalualuhon sude na masa i tu keluarga. Sandok dipatolhas ma sude parmaraan i, boha pangalaho ni Amongnami on maradophon hami, tarmasuk ma ito sijujung baringinna. Pate ma i, dang na uhum be hape na binahen ni Among i tu hami, i ma unokna na sahat tu keluarga. Dang pola ganjang disulikkiti akka keluarga holan mambege sude holso dohot alu-alu i, huroha nasida pe otik godang ditanda do Amongnami on.

Dilului ma jalan keluar.

Dapot ma hasil ni runggu i: Ikkon penjarahonon do Amongnami on. Soppat do nian lao mulak roha, alai dung manimbang sude, ditolopi hami ma rencana i. Disusun ma laporan tu polisi. Dang pola huingot hona piga pasal, alai na takkas hubege inna sahalak sian keluarga na kebetulan pengacara haruar do hata “Penganiayaan”. Polisi pe dang pola leleng mamareso laporan i, ditangkup ma Among, diboan tu penjara. Pigapiga ari ditahan, pittor naik ma kasus i tu pengadilan, diattuk hakim ma tokkokna i: Vonis 5 tahun penjara. Alana metmet dope au tikki i, dang dipaloas au mamereng proses pengadilanna. Na hubege, soppat do inna tangis Among tikki mambege vonis i, alai alani dokdok ni parmaraan na ihilalahonni kakak tu ibana sandiri dohot tu hami akka anggi-ibotona, soppat do didok kakak tikki i tu natorop na ro tu pengadilan i: “Air mata buaya itu!!!” Hohom do inna Among umbege hata i, ai sude i na binahenna do, dang adong na tinambaan manang nihurangan.

Alai goarna ma mudar, sipata lao do kakak dohot ito mandulo Among di penjara, alai molo au dohot kakak na pas di ginjanhu dua taon, dang hea dipaloas dohot. Au sandiri pe trauma do. Gabe tarboan do i tu siganup ari. Holan hubereng ama-ama na marjambang (alana marjambang do tikki i Among), tor hira na mamereng begeu manang pamangus sitakko dakdanak do au. Tor hatop do au manginsugut, tor sikkop do muse oppung na pabalgahon au  muse di jolona manghaol au. Jotjot do au manghitiri, olo sappe hir hodokhu alani biarhu. Goarna ma dakdanak boruoru, lima taon dope.

Godang ma na masa di si lima taon i. Boi hami marhosa manorushon ngolunami be. Dang marna sukkup hata mauliate dohononhu tu sude keluarga, tu Oppung Doli dohot Oppung Boru (hugoari do on mesra “Oi, boru Purba”, nikku), tu Tulang, Amanguda, sandok sude ma i naung hugoari. Mauliate. Ditambai Tuhan Debata ma pasupasuna di hamu sude.

Atik pe dang adong hepeng tikki i, alana lao Ujian Nasional kalas 3 SMA nama kakak siakkangan, marhoihoi ma hami boha ma asa sae sikkolana i. Ia itokku, ima sipaidua, kakak nomor tolu dohot kakak nomor opat, gotap ma sikkolana. Molo au tikki i dang dope sikola ai gelleng dope. Monmonon dope, olo do sipata ikkon diurupi molo lao martapian.

Ala nunga be sikkop sude akka urusan na menyangkut Among on, ro ma Oppung Doli sian huta Maranthi (Dolok Sanggul) mandulo hami. Holan dibereng hami mangan so mangan di Jakarta on, nunga marniang be sude on, pahean pe sipata so boi margatti tiap ari, dang tardokna be mangida dokdokni parngoluannami akka pahoppuna on. Hea do hubereng satokkin tangis Oppung Doli on, alai dang dipataridahon i di jolo nami. Na topet do nasopamotoanna tikki i, hubereng mangangguki ibana sasahalakna di dapur nami na 1 x 1 meter i.

Dipangidohon ma asa au dohot kakakku si nomor opat i olo mulak tu huta, asa pasikkolahonn. Soppat do nian dang olo au maninggalhon kakak dohot ito sinomor dua dohot kakak si nomor tolu, alai molo naing rap dohot nasida ikkon pamasukonna ma inna tu panti asuhan. Alai, dang huboto alani aha, biar do au tu Suster Pembina Panti Asuhan tikki i (adong dope sahat tu sadari on jongjong panti asuhan on, di Tangerang an). Alani i, huoloi ma. Mulak ma hami natolu tutu. Di huta ma au dohot kakak si nomor opat i marsikkola, goar ni sikkola i: SD Negeri 1 Sibuntuon.

Songoni ma jo. Molo adong tikki, hugorathon pe muse. Sattabi ma jolo di hamu Situan Panjaha na pinarsangapan, hubuat jolo sabukkus nai tissu. Nunga suda hupakke holan manggurathon turiturian na jempek on.

Papa, I Love You

Molo adong hamu na manjaha on partenggen, ingot hamu, asi rohamuna tu akka ito dohot edaniba i, unang pola nian taonon ni nasida na dokdok songon na hutaon on.

(Pinadenggan sian guratgurat ni Si Presta Simamora, sian kisah nyata pribadi)

“Wahai Kaum Pengangguran, Nyanyikan Balada-mu”

Setiap Orang Berhak Menyanyikan Balada-nya Sendiri

Tadi malam saya mendengar lagu “The Boxer” besutan duo Amerika lawas Simon & Garfunkel. Tetiba saja, seperti mendengar bisikan dari angin semilir yang tak berhasil membuat rumput bergoyang, rasanya saya ingin memekikkan “Manifesto Hak Berbalada” ini:

Bahwa sesungguhnya menyanyikan balada itu adalah hak setiap orang, tak terkecuali kaum pengangguran. Oleh sebab itu setiap upaya pelarangan terhadap nyanyian balada baik oleh orang yang sedang bahagia ataupun oleh orang kaya, harus dihentikan, karena tidak sesuai dengan perikesenian dan perikeberperasaan.

Para pembaca harap jangan panik, saya tidak bertapa di Gua Hira atau Taman Zaitun. Well, saya tidak bertapa. Hanya inhale-exhale a la Yogi yang tak lulus-lulus belajar, kadang beraturan kadang tidak, di kamar saya yang tidak begitu luas, ditemani lampu temaram.

Frequently Asked Questions (FAQ)

  1. Apakah setiap orang berhak mengekspresikan rasa seninya? Yes. Sepanjang tidak mengusik orang lain.
  2. Lalu, apakah setiap orang berhak mengungkapkan rasa seninya lewat nyanyian? Yes. Sepanjang metrik desibel-nya tidak menimbulkan polusi suara.  (Yang suaranya cempreng boleh meletakkan standar desibel yang lebih rendah, hihihi …).
  3. Lantas, apakah setiap orang berhak mengungkapkan kenyataan hidupnya dalam balada, dan menyanyikannya? A greater yes. Dijamin tidak mengusik orang lain. Karena sesungguhnya setiap orang bersatu dalam kodrat kesedihan yang sama. Berikut penjelasannya.

Setiap Orang Memiliki Alasan untuk Bersedih

Sejak peperangan dikenal oleh peradaban manusia, entah karena sex ataupun kekuasaan, sejak itu pula serangkaian litani kesedihan yang panjang selalu ada di balik setiap gelak tawa dan pekik kejayaan. Selalu ada lantunan ratapan kesedihan di balik setiap penaklukan oleh conquistadores, entah demi alasan agama (many times in this case it redirected us to Gospel), perebutan wilayah (gold), ekspansi kekuasaan (glory) ataupun sekedar show off kekuasaan misoginis oleh seorang pria gallant yang baru saja berhasil merebut seorang wanita idaman nan rupawan bak Princess dari seorang pria lemah nan memble.

Terhadap setiap kekalahan itu, bersama Sheila on 7  yang memilih “Berhenti berharap”, kita boleh menyanyi kecil atau teriak kencang di kamar mandi sambil bernyanyi: “Aku pulang …. Kuterima kekalahanku …”

(Disclaimer: Jika di antara pembaca ada yang jomblo atau baru diputusin kekasih karena Anda tidak punya belis atau sinamot yang cukup, atau gelar akademis anda tidak cukup mentereng di mata sang calon mertua, penulis tidak bertanggungjawab seandainya terjadi kesedihan dan kegalauan kronis tingkat Olympus).

Singkatnya, sebagai sajak sederhana yang mengisahkan cerita rakyat yang mengharukan, kadang-kadang dinyanyikan, kadang-kadang berupa dialog; balada dan menyanyikan balada adalah hak setiap orang. Sekali lagi, terutama bagi kaum pengangguran.

Bahkan … Roh (Kudus) pun bersedih

Satu perikop Alkitab yang parafrase-nya masih saya ingat ketika dididik oleh Romo Alex, SJ yakni Roma Pasal 8, terutama pada bagian ini.

Sebab kita tahu, bahwa sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh  dan sama-sama merasa sakit bersalin. Dan bukan hanya mereka saja, tetapi kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita.

Konon, di ajaran lain juga dikenal dengan istilah tumimbal kahir, term yang katanya lebih pas untuk menyebut reinkarnasi, yakni proses kelahiran dan kematian berulang kali yang mesti dilalui oleh manusia, dengan serangkaian penderitaan di dalamnya sampai manusia mencapai pencerahan sejati, mencapai dhamma dan menyelesaikan tugasnya setelah kehidupan yang kesekian ratus kalinya, dan berhasil mencapai akhir dalam peziarahan tak kunjung henti itu dalam ketiadaan kehendak dan hawa nafsu di nir-ana (nirwana) masing-masing.

Baiklah, sebelum saya lebih lanjut ditengarai sebagai sinkretis, jika Anda berminat untuk mengetahui hermeneutika yang lebih kredibel, ada baiknya Anda bertanya ke para ahli (baca: Siboto Surat, Kaum Farisi, dan sejenisnya) atau mengunjungi website hermenutika semacam Biblehub.com.

Balada Sedih Si Pengangguran yang Menjadi “Boxer” – Jakarta dan New York

Ada ribuan review analisis terhadap lagu Boxer yang dinyanyikan Simon dan Garfunkel ini bisa kita temukan, baik di internet maupun dari sumber-sumber lisan. Bagi yang pernah mendengarnya, Anda pun mungkin punya analisis sendiri, entah Anda suka dengan lagunya atau tidak; entah Anda punya latar belakang musik yang mumpuni atau sekedar penikmat kelas teri yang bahkan tidak mau membeli video atau audio-nya lewat aplikasi berbayar, hanya mau jika itu dari situs gratis, persis seperti Saya. Konon lagu ini ditujukan sebagai tribute untuk Bob Dylan, yang memang pernah menjadi petinjua amatir sebelum beralih menjadi musikus.

“The Boxer” adalah sebuah lagu metafor. Meskipun telah mengalami serangkaian kekalahan, kemunduran, hinaan, cemoohan bahkan direndahkan serendah-rendahnya, si penulis lagu memilih untuk tetap bertahan ((“carries the reminder of every glove that laid him down or cut him til he cried out”) dan meneruskan cita-cita dan impiannya (“the fighter still remains”).

Di tempat lain, seorang pria berputeri tiga dan berputra satu yang tinggal di daerah Sawangan - Depok,  mem-parafrase-kan dinamika roda hidupnya dan memilih bertahan dengan mottonya:

I have died once.

I fear no more defeat.

Hey, life, try me!

Semboyan hidup yang agak kontras dengan keluhan manja Mario Ballotelli, si striker badung kesebelasan AC Milan dan timnas Italia: "Why Always Me?"

Kembali ke “Sang Petinju”.

Konon si pria merasakan gemuruh kesedihan di dadanya yang sesak setiap kali ia mengingat masa lalunya sebagai pria yang meninggalkan kampung halaman “left his home“), keluarga dan sanak-saudara “and family” ketika dia sejatinya masih seorang bocah ingusan “when he was no more than a boy” yang masih ingin bereksperimen seberapa ampuhnya dia tease and flirt gadis-gadis kampung, mana saja yang masih mau digandengnya hanya dengan rayuan gombal kata-kata.

Lucunya, hidup memang kerap sebengis itu, ketika di kemudian hari dia alami sendiri di perantauan bahwa ternyata kata-kata dan janji manis tidak lebih mengenyangkan perutnya dibanding buah semangka yang membantunya bertahan hidup di fase awal perantauannya, kala ia bahkan tidak tahu bus Metromini yang menuju ke mana (doing so under some vague pretense that life on his own would be better than wherever he came from a pocketful of mumbles, such are promises).

Sang (calon) petinju itu mengalami dan merenungkan sekelebat kisah hidupnya yang diisi oleh kesepian, rindu pulang ke kampung halaman, dan pengucilan oleh warga ibukota (“where the New York City winters aren’t bleeding me, leading me, to going home”).  Ia yang begitu polos dan jujur, dituntut untuk mengakui kenyataan hidupnya yang ambiqu, saat dia mesti menghabiskan rezeki pertamanya yang tidak seberapa itu dengan melanggar normal moral yang tak pernah ia bayangkan akan ia langgar, jika mengingat pengalamannya di kampung bahkan sekedar bermain kartu domino atau poker pun ia diusir oleh ayahnya dari rumah. Maka, pergilah dia, “just a come on from the whores on 7th Avenue. I do declare there were times when I was so lonesome, I took some comfort there“. Kegelisahan dan keputusasaannya menjadi gambaran atas jutaan umat manusia lainnya yang mengalami skenario dan pilihan hidup yang sama.

Kenyataan hidup, terutama di perantauan, yang diisi oleh serangkaian tantangan dan emosi yang campur-baur, semakin jelas baginya ketika dia, si anak kecil berkulit hitam dari Selatan itu, mencoba menyusuri jalanan di kota New York yang gemerlap untuk mencari pekerjaan, tetapi tidak menemukan satupun yang mau mempekerjakannya, meski hanya dengan upah minimum.

Roda hidupnya mulai diputar ketika dia melihat cermin dirinya sendiri lewat seorang petinju yang berkali-kali kena kalah dan kena pukulan bertubi-tubi, darah berceceran tak terhitung hingga sudah berapa kali, yang tergoda untuk meninggalkan pekerjaannya itu dan pulang saja ke kampung halaman, tetapi karena rasa malu pulang dengan tangan hampa, dia memilih untuk tetap bertahan. Again, the fighter still remains. Seolah tak gentar dengan pahitnya kenyataan hidup, ia memilih untuk meneruskan peziarahan hidupnya. Kegetiran hidup dilihatnya bukan sebagai cacat bekas luka, tetapi sebuah luka yang masih menganga dengan darah bercucuran. Sejatinya dia ingin menyerah saja. Dia ingin berhenti, tetapi kata menyerah tidak ada dalam dalam kamusnya. Mental pecundang tidak hidup di aliran darahnya. Bahkan, tidak ada pilihan untuk menyerah. Di usia senjanya kelak, ia menemukan inner peace layaknya si Po yang berdamai dengan kenyataan “dibuang” oleh orangtuanya sendiri di Kungfu Panda, bahwa:

Tak perduli seberapa keras Anda mencoba, Anda akan tetap dipukuli dan dihantam bertubi-tubi itu oleh sang hidup, bahkan menyerah tidak tersedia sebagai pilihan. Seiring dengan dentak drum yang mengiringi setiap pertandingan tinju, setiap kali Anda harus bertahan menerima pukulan itu. Anda bahkan mesti bernyanyi “Lai La La”

Simon dan Garfunkel juga Bersedih

Tema umum yang ditawarkan oleh Simon & Garfunkel dalam lagu-lagu baladanya adalah bagaimana menemukan kekuatan untuk tetap bertahan terutama pada saat Anda berada pada titik terendah hidup Anda, ketika seisi dunia tampaknya memusuhi Anda. Tema sejenis terasa dalam hits mereka lainnya, misalnya “I am a Rock” dan “Bridge Over Troubled Water”.

The Boxer” muncul di album studio kelima mereka Bridge over Troubled Water (1970). Diproduksi secara kolaborasi antara duo Simon & Garfunkel dan Roy Halee, lagu ini menjadi lead single album yang dirilis pada 21 Maret 1969. Penulisnya, Paul Simon, adalah seorang musikus (gitaris dan vokalis) beraliran folk rock ballad yang banyak menimba inspirasi lagunya dari kisah hidup personal seorang tokoh, dan banyak juga terinsipirasi dari kisah-kisah di Alkitab.

“The Boxer” sendiri merupakan follow-up dari single sukses mereka sebelumnya, “Mrs. Robinson“, yang meraih peringkat ketujuh di Billboard Hot 100 dan dipanggungkan secara internasional di berbagai belahan dunia. Mengikuti single pendahulunya, “The Boxer” nangkring di jajaran lagu Top 10 di sembilan negara, tertinggi di Netherlands, Austria, South Africa, dan Canada. Rolling Stone sendiri mencatatkan “The Boxer” masuk dalam daftar the 500 Greatest Songs of All Time, di nomor ranked the song No. 106.

Saat konser pada 3 Juni 2016 di Berkeley, California, Paul Simon berhenti di pertengahan lagu, dan mengumumkan ke penonton:  “I’m sorry to tell you this in this way, but Muhammad Ali passed away.” Lalu ia melanjutkan lagu itu dan mengakhirinya dengan lirik: “In the clearing stands a boxer and a fighter by his trade…”

Sejatinya, “The Boxer” ditulis dalam versi yang tak semuanya muncul di versi album Bridge over Troubled Water. Lirik yang tak muncul itu ialah sebagai berikut.

Now the years are rolling by me—
They are rockin’ evenly.
I am older than I once was,
And younger than I’ll be.
That’s not unusual;
No, it isn’t strange:
After changes upon changes
We are more or less the same;
After changes we are more or less the same.

 

Prekonlusi

Sang Petinju (The Boxer) bukan hanya Simon Paul. Pada dasarnya, kita semua adalah seperti Sang Petinju. Kita lelah dengan semua pertempuran, pertandingan dan perkelahian hidup ini. Dan, sementara kita memilih untuk tetap bertahan, tidak berarti bahwa kita sudah mencapai kemenangan, baik dalam arti moral, maupun dalam arti lain.

Suara merdu dari duo ini masih berhasil membuat suasana sendu hingga hari ini. Setidaknya, bagi saya. Mungkin, juga bagi teman-teman lain yang pernah atau masih menjadi pengangguran.

 

Pertanyaan berikutnya: Apakah setiap orang berhak bahagia dan menari Cha-cha atau berlenggok Lenso?

Kita tunggu tulisan berikutnya.


 

Disadur dari berbagai sumber

Lagu “Poda” versi English

“Poda”

Kental dengan nuansa melankolis tidak membuat kebanyakan lirik lagu Batak kehilangan makna filosofisnya. Endapan kearifan lokal (local genius) dan nilai-nilai hidup (local values), jika kita cermat, merupakan “jiwa” (soul) yang membuat kebanyakan lagu lawas (tidak semua) Batak tetap dinyanyikan hingga hari ini. Lagu “Poda” adalah salah satunya.

 

Tagor Tampubolon – Diskografi

Lagu “Poda” adalah satu dari beberapa lagu yang diciptakan Tagor Tampubolon, seorang komposer Batak kelahiran 1960. Seperti dilansir dari BatakPride.com, ayah dari 4 anak dari isterinya boru Sitohang mengajak setiap orang Batak untuk tidak puas dalam berkarya dan mempunyai mimpi dalam hidup.

Tagor sendiri merantau pada 1976 ke Jakarta dari kampung halaman di desa Parlanggean. Remaja Tagor yang masih polos dan ilmu musiknya masih sangat terbatas kala itu. Lalu ia pun berguru dengan Johanes Purba. Tagor memberikan segala waktu dan tenaga belajar instrumen musik dan nada.

“Musik itu jangan dibuat susah. Mantapkan dulu mengenal nada doreminya”, kata Tagor.

Setelah 3(tiga) tahun konsisten belajar musik, Tagor menulis lagu pertamanya pada 1979. Apakah langsung diterima pasar? Tidak sama sekali. Great things take time. 16 tahun kemudian di tahun (tahun 1995), barulah karyanya semakin banyak dan dan diterima masyarakat luas. Lalu, selama 16 tahun lama itu pendengar musik terarah kemana sehingga karyanya begitu lama dikenal luas? Menurut Tagor, periode itu diisi oleh banyak lagu Batak bertema sedih dan memberi kesan “menangisi jaman dulu.” Misinya pada saat itu “merubah selera masyarakat.” Ia ingin membuat lagu yang penuh petuah, nasihat, dan harapan. Lahirlah lagu “Poda” yang secara literer memang berarti ‘petuah’ atau ‘nasihat’.

Lagu “Poda” membuat namanya dikenal dan lagu-lagu berjenis “poda“-lah yang selanjutnya dikembangkan. Lirik lagu “Poda” menggambarkan ciri khas orang Batak khususnya hubungan antara bapak dan anak. Banyaknya generasi muda Batak yang pergi merantau demi masa depan menuntut orang tua melepaskan anak dengan berat hati. Seperti masyarakat perantauan lainnya, tergali kearifan hidup yang kaya disini, tidak melulu soal suasana mengharu-biru, bahwa: A great change needs great sacrifice. Tanpa bermaksud mengkonfrontir dengan kearifan masyarakat di tempat lain (karena setiap masyarakat memang memiliki dinamika sosialogis dengan konteksnya sendiri-sendiri), orang Batak kebanyakan menolak falsafah hidup “Mangan ora mangan pokoke ngumpul” (makan tidak makan, yang penting kumpul).

Karya Tagor lain yang juga masuk jajaran evergreeen Bataknese songs yakni “Tangiang Ni Dainang” (artinya: doa sang ibu), “Boru Panggoaran” (artinya: putri sulung), “Inang ni Gellengku” (Ibu dari anak-anakku).

Selain mencipta lagu, Tagor  juga terlibat di soundtrack dokumentasi film Nommensen. Tak tanggung-tanggung, belum lama ini Tagor pun mendapat penghargaan dari Ephorus HKBP (pemimpin tertinggi denominasi Kristen tersebut) karena keterlibatannya di lagu-lagu gereja.

Salah satu filosofi hidupnya adalah “Jangan lupa tanah asalmu”. Ajaran ini dipraktekannya dengan membangun gereja di Parlanggean, kecamatan Panombean, Sumatera Utara tempat kelahirannya. Ia berpesan agar generasi muda Batak menjadi saluran berkat dan selalu mengutamakan kerjasama demi menghasilkan perubahan besar. “Manusia harus punya marwah dan memiliki tongkat sendiri”, ucap Tagor.

 

BODT Voice

Empat pemuda satu almamater yang tergabung dalam kelompok BODT Voice (yang beranggotakan Budi Marbun, Ovi Hamubaon Samosir, Donald Haromunthe dan Tison Sihotang) menyadari benar hal ini. Terlebih setelah mengetahui bagaimana lagu “Poda” sendiri lahir dari perjuangan dan dedikasi tanpa henti dari seorang musisi Batak yang cukup diakui diantara para komposer Batak yang pernah ada.

Seperti dimuat MusikLib.Org, berikut lirik asli lagu “Poda”.

Angur do goarmi anakhonhu
Songon bunga bunga i na hussus i
Molo marparange na denggan do ho
Di luat na dao i
Ipe ikkon benget ma ho
Jala pattun maradophon natuatua
Ai ido arta na ummarga i
Di ngolumi da tondikhu

Unang sai mian jat ni roha i
Dibagasan rohami
Ai ido mulani sikka mabarbar
Da hasian
Ipe ikkon ingot ma maho
Tangiang mi do parhitean mi
Di ngolumi oh tondikku

(Reff) :

Ai damang do sijujung baringin
Di au amangmon ….
Jala ho nama silehon dalan
Di anggi ibotomi
Ipe ingot maho amang
Di hata podakki
Asa taruli ho amang di luat
Sihadaoani

(Coda):

Molo dung sahat ho tu tano parjalanganmi
Marbarita ho amang
Asa tung pos rohani damang nang dainangmon
Di tano hatubuanmi

 

“Advice”

BODT Voice mengartikulasikan pesan kuat lagu “Poda” tersebut dalam versi berbahasa Inggris, “Advice”. Berikut ini lirik dan link videonya.

Just like the flower blossoms majesticly

So will be your name, I hope

Me, Dad and your Mom

and it will come true when you are trying to do

Being good in every where

Still being humble and nice to every body
Keep being respectful person as you are
That is the most precious in this life
Now and henceforth

And never keep bad ideas in your mind
In your vision at all things
Coz that’s the evil things are coming from
Everybody knows the truth
Now please remember all those words you heard
in silent prayer
in your silent romm
and give to Him
space in your heart

(Refrain):

All these great things that I suggest you
The pursuit of my soul
And I wish that you will seek the same, too
Coz’ we share the same source
I ain’t borrow His name
(It’s) my love that tells you this
So that you may share all the sweetness
Like everybody dreams

(Coda):

So when walk and brething in wherever you are
Keep in mind you are in my heart
Know that’s the way you leave me peace of mind and silent soul
Here in this place that you were born

Untuk tahu lebih banyak tentang BODT Voice, silahkan kontak mereka di channel Youtube mereka atau tweet @bodtparende.

Page 2 of 6

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén