“Hidung Godfather” – Fiksi dengan Ending Psikologis oleh Femi Khirana (1)

Dia, bertubuh gempal, berkumis tipis.

Dia, yang sepuluh tahun lalu hanya seorang petugas keamanan di perumahan elit kawasan Pondok Indah. Dia yang semula hanya nebeng di rumah kampung mertua indah, lalu mencoba sewa rumah gubuk derita bawah jembatan tol yang akhirnya digusur. Namun seiring naiknya pamor sebagai satpam, ia dapat mengontrak rumah bedeng. Lalu tiga tahun terakhir ini sudah mampu ngontrak rumah sederhana di kawasan Kebayoran.

Dia, bertubuh gempal, berkumis tipis.

Orang memanggilnya sebagai Mas Wawan. Terlalu panjang bila dipanggil Kurniawan, nama aslinya. Nama itu pun baru mencuat di kawasan perumahan Pondok Indah setelah kemenangannya memukul maling di perumahan itu.

Ya, sejak itu dia mulai disegani.

Dulu? Boro-boro! Selalu senior-senior yang dapat jatah istirahat yang banyak. Tetua satpam selalu dapat seseran yang menggiurkan. Ia hanya sesekali dapat uang rokok bila ia sedang sendirian menjaga portal tatkala matahari baru akan menyembul.

Mas Wawan, yang dulu bertubuh gempal mulai terlihat sembulan perut di tubuhnya. Hanya kumis tipis saja yang tetap dipertahankannya. Karena dia tidak mampu menahan gatal seputar bibir dan khususnya hidung. Tetapi ada satu alasan lagi kenapa ia tidak membiarkan wajahnya sangar. Ia tetap membiarkan wajahnya klimis.

Ya, penyebabnya hanyalah karena hidung besarnya yang harus terlihat jelas! Itu hidung keberuntungan katanya.

Sebenarnya ia percaya tidak percaya dengan hidung keberuntungan. Tetapi karena orang-orang keturunan Cina yang tinggal di perumahan itu selalu memuji hidung besarnya, ia jadi percaya dan selalu mengembang-kempiskan tanpa sadar jika sedang senang hati.

Katanya, berkat hidung besarnya itu ia mampu menjadi orang yang disegani sesama satpam. Sejak dipercaya untuk ikut serta mendapat seseran dari warga, ia juga mulai ngobyek sana-sini. Bila ada warga perumahan yang sedang ada hajatan, ia pun terkena bagian uang tambahan. Bila ada warga yang minta tolong dipanggilkan taxi, ia pun dapat giliran untuk mencari. Bila ada penjaja makanan masuk ke perumahan, ia harus dapat jatah uang masuk.

Ia mulai percaya bila hidung yang diberi Tuhan itu mampu menolongnya memperbaiki nasibnya. Ia mulai yakin bila dulu sang maling yang digasaknya memang ditakdirkan untuk bertemu dengannya agar ia dikenal warga sebagai satpam yang mampu diandalkan! Sejak itu uang yang dapat dipajak dari warga mulai masuk ke kantong silih berganti, bahkan terkadang tumpang tindih.

Jadwalnya untuk membantu warga jadi padat karena orang lebih percaya padanya untuk mengantisipasi masalah keamanan warga Pondok Indah. Uang rokoknya yang dulu hanya receh sekarang sudah harus berbentuk puluhan ribu jika ingin meminta pertolongannya.

Berkat hidung pula, Satpam Wawan tidak sempat menyicipi jabatan koordinator satpam. Belum sempat ia mengiyakan untuk menjadi koordinator satpam, ia sudah didatangi seorang berpangkat tinggi di ranah militer. Itulah saat-saat terakhir ia tinggal di rumah kontrak kawasan Kebayoran. Sejak direkrut oleh seorang yang berasal dari kemiliteran yang tinggal di kawasan perumahan itu, ia mulai jarang terlihat.

Orang hanya menebak-nebak keberadaannya. Ia menjadi gosip di kalangan karyawan perumahan Pondok Indah. Ada yang pernah melihatnya di pasar Senen, tetapi ada juga yang pernah melihatnya di terminal Pulo Gadung. Tidak jelas. Kabarnya, ia sudah jadi kepala preman pasar dan terminal. Tetapi yang jelas gosip yang paling betul dari antara mereka adalah Mas Wawan sekarang sudah enak, sudah jadi orang kaya dan ditakuti.

Ya, aku mengiyakan jika gosip jadi orang kaya itu adalah benar.

Sejak Ayahku, yang dipanggil Mas Wawan itu bergabung dengan organisasi preman, kami sekarang tidak perlu ngontrak rumah. Sekarang rumah ini mau diisi barang apapun tidak akan penuh. Ayah juga tidak perlu pusing-pusing mencari angkutan untuk pindahan lagi. Semua sudah permanen. Barang baru masuk dan keluar. Masuk untuk dinikmati, keluar untuk dibagikan kepada anak buah Ayah jika sudah tidak dinikmati lagi.

“Ini semua berkat hidung Ayah, Jun,” kata ayah berkali-kali sampai aku muak mendengarnya.

“Dan kamu juga orang yang sangat beruntung! Lihat hidungmu! Mirip Ayah, makanya kamu tidak pernah susah,” lagi-lagi kata-kata itu selalu membuat jengah.

Berulang kali kupandang wajahku, rasanya ingin kucopot hidung itu agar Ayah tidak membangga-banggakan keberuntungannya terus. Ingin kulakukan operasi plastik agar Ayah tidak menganggap aku anak yang ingin mengikutinya jejaknya. Tetapi setelah kutanya-tanya harga operasi plastik ternyata mahal! Kalau aku minta uang sebanyak itu ke Ayah pasti curiga juga.

Entahlah, aku tidak pernah suka dianggap penerus keberuntungan Ayah. Bagaimanapun aku merasa usaha Ayah tidak halal. Aku merasa Ayah hanya mengandalkan keberuntungan terus tanpa kerja keras. Bahkan aku merasa sebal bila melihat banyak anak buah Ayah yang nunduk-nunduk di depannya.

Sepertinya Ayah adalah juragan kejam yang bakal mencopot bola mata orang bila melawannya. Ya, aku tidak mau sama dengannya! Aku juga lelaki! Aku punya sikap, dan aku merasa, aku tidak seperti itu! Aku, bukan ayah! Hidungku ini pun bukan nasib dari Ayah! Aku harus berjuang untuk nasibku sendiri. Tidak seperti Ayah yang kudengar disegani, ditakuti, dan juga kejam itu.

Maka, sengaja aku memilih untuk kuliah agak jauh dari rumah. Aku ingin kos sendirian. Sebenarnya aku ingin ke luar kota, tetapi lagi-lagi Ayah bilang,

“Jangan! Kamu boleh ngekos, tapi tidak boleh keluar dari Jakarta!”

“Ayah! Aku mau belajar mandiri!” protesku.

“Kau tidak usah belajar mandiri! Dari sifatmu, Ayah tahu kalau kamu bukan orang yang suka bikin orang susah! Gak ada alasan kuliah di luar kota buat mandiri!” begitu alibi Ayah yang lagi-lagi tak dapat kulawan. Aku sama ciutnya dengan anak buahnya yang biasa hanya nurut.

“Tapi, Ayah!” aku coba usaha lagi untuk meyakinkannya.

“Hei, Jun! Pilihan hanya dua, boleh kos dan kuliah di Jakarta. Atau kau keluar dari Jakarta tetapi kau sudah bukan anakku lagi!” kata Ayah semakin tegas.

Lagi-lagi, aku memilih untuk tidak menjadi durhaka.

“Tetapi aku mohon satu lagi, Ayah…”

“Apa?!”

“Aku tidak mau pakai mobil Ayah, aku mau bayar kos dengan uangku sendiri. Aku mau cari kerja,” pintaku.

“Itu terserah! Kamu lihat saja nanti, Jun! Di manapun kamu bekerja, pada akhirnya kamu akan kembali kepada keberuntunganmu sendiri. Kamu akan bernasib seperti Ayah, suka tidak suka,” dan lagi-lagi aku yang mendengarnya menjadi mual.


Sejak itu aku merasa bebas. Aku tidak perlu dibebani dengan pandangan hormat dari orang-orang yang tak kukenal jika mengendarai mobil. Aku tidak perlu memberitahu satpam di rumahku sendiri bila hendak jalan-jalan seputar perumahan saja! Aku menikmati kehidupan dan aktifitas kampus.

Aku aktif di senat mahasiswa sebagai bentuk partisipasiku bila ada acara-acara turun ke jalan untuk memberantas penindasan kepada orang miskin. Kuanggap semangat melindungi mereka yang tertindas ini dapat membuang sebagian dosa-dosa Ayahku yang kabarnya boss preman.

Keberpihakanku kepada mereka yang tertekan di jurang kemiskinan kuharap dapat menebus segala keberuntunganku yang ingin kubagikan kepada mereka. Ya, lama-lama kusadari tindakanku seakan-akan berlawanan dengan tindakan Ayah. Ya, biarlah Ayah menjadi penjahat kelas elit, tapi aku justru ingin membela orang-orang yang biasa dipalak Ayahku dan komplotannya.

Entahlah, makin lama aku turun ke jalan melihat kenyataan hidup, hatiku semakin pahit dan kesal dengan Ayah. Apakah Ayah tidak punya hati kepada pedagang pasar yang sudah susah payah jualan tapi harus diminta uang keamanan terus? Apakah Ayah tidak kasihan dengan supir angkot yang akhirnya berekses jadi tindakan kurang ajar karena selalu ditekan setoran dan rasa was-was dirazia polisi? Jadi bila dulu aku menikmati semua hasil perasan Ayah, kini aku ingin menghapusnya pelan-pelan dari darahku.

Aneh, padahal kata Ayah aku menuruni hidungnya. Darahnya mengalir dalam tubuhku. Tetapi kok aku sama sekali tidak seperti Ayah yang bisa keras dengan lingkungannya? Aku tidak pernah bisa mengajak Ayah untuk terbuka pikirannya agar mencari pekerjaan yang normal-normal saja. Mengapa Ayah memilih pekerjaan yang kejam dan membiarkan dirinya menjadi kejam?

Bila aku membahas pekerjaannya, Ayah selalu menganggap aku belum tahu apa-apa soal kerjaan. Dan untuk hal yang terakhir itu rasanya ada benarnya.

Setahun aku ngekos, hingga kini aku memang masih tidak mendapatkan pekerjaan! Sering kusamarkan bila Ayah menelepon ke ponselku,

“Gimana? Udah dapat kerjaan?”

“Lagi tunggu panggilan, sudah wawancara, Ayah,” jawabku. Padahal tak ada satu pun wawancara yang menjanjikan aku akan mendapatkan kerjaan.

“Oh ya? Semoga berhasil. Kalau habis uang, bilang saja,” ujar Ayah.

“Aku tidak apa-apa, Ayah. Aku hemat-hemat, uangku masih cukup,” jawabku.

“Ya sudah, bagus! Semoga sukses!”

Dan aku jadi masygul setelahnya. Kuhibur diriku sendiri,

“Ya, tak apalah! Sementara belum dapat kerjaan, berarti aku masih bisa aktif di senat dan turun ke jalan untuk bantu-bantu orang.”


Siang itu di Terminal Kampung Melayu …

Aku sudah bersiap-siap dengan teman-teman kampus yang ingin turun ke jalan. Tujuan demonstrasi kali ini adalah tuntutan agar pihak aparat keamanan resmi terminal dapat menumpas preman berkedok keamanan di terminal Kampung Melayu. Ya, sepertinya ini adalah hari di mana aku melawan Ayah. Mahasiswa yang bernama Junaedhi melawan preman keamanan yang identik dengan profesi ayahnya, Kurniawan.

Situasi mulai ramai dengan mahasiswa-mahasiswa berjaket kuning, biru, dan hijau. Aku pun sudah siap berkoar-koar untuk melawan segala bentuk premanisme terminal. Aku juga bersiap-siap bila dipanggil untuk membacakan beberapa kalimat tuntutan untuk keamanan resmi di terminal agar menumpas preman yang menindas supir-supir terminal.

Udara makin memanas, suasana di terminal pun makin panas. Pendemo yang jumlahnya tidak terlalu banyak mulai dihampiri oleh sekawanan orang berpakaian preman. Aku dan pendemo lain semakin memanas untuk memaki-maki kekejaman mereka. Pendemo lainnya semakin gemas melihat aparat keamanan resmi terminal hanya diam-diam di depan kantor mereka.

Tidak tanggapnya aparat keamanan membuat kami meringsek ke kantor mereka. Beberapa pendemo mulai membalik-balikan meja dan kursi kantor terminal karena merasa dilecehkan. Sebagian pendemo masih tetap berkoar-koar agar aparat keamanan dapat menumpas premanisme.

Anehnya, kami yang awalnya hanya berupaya agar supir-supir tidak tertindas oleh preman malah merasa dilawan oleh dua pihak. Ya, pihak aparat keamanan yang menganggap kami sok pintar. Dan juga jelas dari kelompok preman yang tidak suka kami ikut campur dalam usaha mereka memalak.

Kami mulai didesak oleh dua musuh besar sekaligus! Aparat keamanan yang tersinggung mulai mendorong-dorong sahabat-sahabat kami yang berusaha masuk kantor terminal. Para preman juga mulai melesak ke arah kami agar kami bubar secepatnya. Kami marah! Dan kami tidak terima! Kami yang bertindak atas nama kemanusiaan ternyata hanya dianggap sampah!

Melihat pendemo mulai melawan, aparat pun tak segan bermain tangan. Mahasiswa pun tak segan melawan dengan batu sekadarnya yang terambil di tangan. Preman-preman pasar mulai menarik-narik mahasiswa agar segera keluar dari area terminal. Ketiga pihak bergelut! Ketiga pihak di terminal kampung melayu ini berperang! Ribut! Adu mulut, adu jotos, adu lempar, dan adu dorong terjadi! Rusuh!

Dan aku?

Aku dengan cepat berusaha menyelamatkan diri untuk dapat melapor ke polisi. Secepat kilat aku mengelak semua bentuk jotosan. Untung sejak kecil Ayah membekali aku dengan ilmu bela diri, setidaknya untuk urusan tangkis menangkis pukulan lawan, aku sudah tak takut. Dengan sekelebat aku berlari cepat. Melihat aku yang dapat lolos tanpa luka berarti, ternyata menarik perhatian beberapa preman terminal. Mereka berusaha mengejarku. Ya, jelas aku jadi sasaran! Sedari demo tadi, sepertinya mulutku paling pedas, membuat telinga mereka terbakar jelas!

Nafasku memburu, jantungku bergemuruh.

“Aku harus cepat sampai ke jalan besar itu! Kalau tidak bisa gawat dikeroyok!” jerit batinku untuk menyemangati tenagaku yang sudah ngos-ngosan.

Preman-preman di belakangku tetap berteriak menyuruhku berhenti sementara aku berlari dan semakin melambat dan lambat dan benar-benar pelan karena kehabisan nafas. Jarak mereka semakin dekat, aku berusaha tetap lari walaupun sebenarnya sudah berjalan tertatih-tatih.

“Sudah nyaris sampai jalan besar! Ayooo!” aku menyemangati diriku lagi.

“Woiii!!! Berhenti kamu!!!” teriakan gerombolan itu makin dekat. Aku makin kalut.

Kali ini betulan aku merasa takut, tetapi nafasku sudah habis, langkahku makin pendek. Batu-batu besar dan tajam itu mulai sedikit-sedikit membentur-bentur tubuhku sehingga aku harus berusaha melindungi tubuhku dan berkelit.

“Gila! Aku mati konyol hanya karena melawan anak buah ayahku!!!” aku marah dalam hati.

Kemarahan itu membuat aku membalikkan tubuh. Aku tidak berlari menghindari mereka lagi, kali ini aku menghadapi wajah mereka. Aku tidak boleh mati!

Aku berjalan menghampiri mereka dengan suaraku yang menggertak,

“Ayo! Siapa berani! Aku, Junaedhi! Kalian berani melawan anak boss kalian, Kurniawan??!! Heh??! Ayo! Kalau berani, maju!”

Tantanganku membuat mereka agak ciut. Sekilas ada yang percaya, ada yang tidak percaya. Tetapi jika mereka melihat hidungku, mereka seharusnya percaya! Bukankah ini hidung cetakan Ayahku, persis!

“Bohong!” Wah, ada juga yang ngotot tidak percaya bila aku anak seorang preman besar.

“Kurang ajar kamu! Kamu gak bisa lihat mukaku ini persis boss kamu itu??!” aku masih menggertak. Ini jalan satu-satunya agar tidak mati konyol.

“Bohonggg! Bohonggg!!” kali ini beberapa orang mulai memekik, tetapi mereka masih tidak berani maju. Seakan-akan mereka masih mengidentifikasi hidung besarku ini. Sembari mereka dalam aksi terpaku melihat diriku yang nekat, tiba-tiba mobil yang kukenal persis itu menghampiriku. Nafasku kembali membara, tetapi kali ini aku merasa sedikit tenang.

“Juned! Masuk!!!” perintah Ayahku. Ya, Ayahku ternyata ada di sini.

“Ayah! Aku… pulang…,”

“Masuk!!!” kali ini Ayah membentak lebih kencang. Segerombolan preman yang tadi mengejarku pun ikut mendengar dan mulai beringsut menjauh dariku. Mereka akhirnya sadar bila aku memang anak boss besar, Kurniawan.
Dengan berat hati, aku masuk ke mobil Ayah. Dan kami hanya berdiam-diam diri di dalam mobil. Entahlah apakah ia membenci anaknya yang melawan kawanannya, karena aku sendiri juga bingung apakah aku benci dengan Ayah atau tidak.


Sore Itu di Perumahan Pondok Indah …

Ayah berhenti di taman perumahan Pondok Indah, tempat dulu ia pernah menjadi satpam. Kami tetap di mobil, dan ia tetap diam. Lalu, ayah mengajakku keluar dengan cara membuka central lock pintu mobil. Kami berdua menuju taman itu. Tiba-tiba… plakkk!!! Ayah menampar pipiku. Aku sangat terkejut. Dan mukaku memerah, mataku pun memerah! Aku tahu sekarang, bila aku benci ayahku! Sungguh benci!

“Aku tidak pernah memukulmu, tapi kali ini harus!” kata Ayah.

Aku yang masih terkejut hanya diam. Seperti biasa, aku selalu kalah dengan kharisma Ayah bila ia sudah melontarkan kata-kata. Tetapi Ayah tak kunjung menjelaskan alasan mengapa ia menamparku. Akhirnya aku yang menjadi spaneng sendiri dan mulai membuka mulut,

“Aku ingin belajar hidup dengan normal, Ayah! Aku ingin punya pekerjaan yang tidak menindas orang! Aku tidak mau hidup enak sementara orang tertekan! Itu sebabnya aku tidak suka melihat orang susah dijadikan sasaran ketidakadilan! Hatiku selalu melawan semua pekerjaan Ayah! Aku malu!” Kulihat mata Ayahku dengan sinar kebencian, tetapi herannya kali ini Ayah tak terlihat murka dengan aksiku.

“Jun, apa cita-citamu? Kau ingin jadi tokoh masyarakat yang membantu orang susah?” tanya Ayah sambil memandang rumput-rumput rapih di sekeliling.

“Ya, jika memang harus… Pokoknya aku tak mau senang di atas penderitaan orang,” jawabku.

“Kau memang persis Ayah. Bukan hanya hidung… tapi semua…”

“Halahhh… Ayah! Jangan bahas itu terus! Aku bosan! Jelas-jelas aku tidak mirip Ayah! Ayah dikenal orang sebagai boss preman! Sedangkan aku ingin dikenal sebagai orang yang berbelas kasihan! Itu beda!” protesku.

“Hah! Itulah kenapa aku menamparmu!” seru Ayah. Dan aku bingung.

“Kau bingung?! Aku menamparmu karena kau sendiri tidak mengenal sifat Ayah. Kalau kau tahu sifat Ayah, kau akan paham mengapa aku setuju waktu orang merekrut aku untuk merintis organisasi keamanan untuk pedagang pasar dan supir terminal.”

“Yang aku tahu, Ayah adalah berandalan! Ayah kejam!” kataku. Ayah lalu memandangku dengan tajam.

“Memangnya kamu pikir tokoh masyarakat yang ada di tivi-tivi itu bukan orang kejam, Jun??! Kamu mau seperti mereka?! Silakan!!! Kamu kuliah saja sampai tamat, jadi wakil rakyat sana!! Ayah mau lihat, apakah kamu masih bisa berbagi untuk orang-orang miskin atau malah menimbun uang dari orang miskin!” sergah Ayah.

“Aku berusaha agar tidak seperti itu!” protesku.

“Kamu berusaha untuk tidak seperti itu berarti kamu tidak cocok untuk bekerja di sana! Di meja-meja kantor yang kamu harapkan jadi tempat dudukmu itu sudah sarat dengan uang darah rakyat, Jun!! Kamu sekolah, masak kamu tidak tahu itu??! Kamu tidak mau pun, kamu sudah terlibat jadi penindas!”

Kali ini tampaknya Ayah setengah benar lagi. Aku kembali lagi terdiam.

“Kamu kira Ayahmu ini berhati batu? Ayah tetap berhati lembek melihat teman-teman Ayah yang bekerja susah payah, tetapi uangnya selalu harus membayar uang keamanan pasar dan terminal dengan pungli yang gila-gilaan! Kau kira Ayah tega melihat teman-teman Ayah yang supir bis, supir truk, supir angkot dipalak habis-habisan oleh rampok? Dan kau tahu siapa yang merampok mereka, Jun?”

Aku menggeleng-gelengkan kepala.

“Kamu bisa lihat tadi waktu demo. Siapa yang marah saat kamu demo? Merekalah yang perampok! Posisi mereka membuat mereka bisa berbuat seenaknya kepada pedagang pasar, supir angkot, supir truk, supir angkutan. Dan Ayah adalah teman-teman supir yang dapat menjaga mereka dari rampok itu. Uang yang disetor supir kepada kami tidak sebesar yang ditagih petugas keamanan resmi. Mereka cukup membayar setengahnya, dan sebagai imbalan, kami melindungi mereka dari rampok. Uang setoran mereka kami bayar ke aparat keamanan resmi yang kami buat tidak berkutik harus menerima uang dari kami. Mereka tahu, jika mereka menolak, Ayah dapat melapor kepada organisasi yang membayar Ayah untuk memecat mereka,” penjelasan itu membuat mulutku menganga.

“Memangnya Ayah kerja sama siapaaa??!” tanyaku bingung.

“Rahasia dong!!” kali ini Ayah seakan guyon denganku.

“Sudahlah! Kau tidak perlu tahu! Kau juga bukan bagian dari kami, dan selalu menolak kami. Jadi Ayah tidak bisa terbuka untuk itu,” kata Ayah yang suaranya mulai melunak.

“Arrhhh!!! Siapa?” desakku. Ayah memandangku ragu-ragu.

“Ah…! Kamu itu kalau sudah maunya!!! Ya anggaplah aku bekerja dengan orang yang ingin menghapus dosa karena sudah menyicipi uang darah rakyat! Menghapus dosa dengan berbagi kepada rakyat tanpa diketahui orang dengan membuat peraturan tidak baku yang justru melindungi rakyat! Sudah jangan tanya lagi!” jawab Ayah.

“Apa aku harus ikut organisasi Ayah supaya bisa membantu Ayah?” tanyaku. Kali ini profesi Ayah mulai membius rasa keadilanku.

“Hahaha… Jangannn! Bukannya kamu mau jadi tokoh masyarakat tadi???” pancing Ayah.

“Hmmm… Kalau bisa tidak terlibat dengan uang darah rakyat, mengapa harus? Lebih baik terlihat jahat tetapi kenyataannya baik,” aku mulai berfilosofi di depan Ayah.

“Halah!!! Kamu! Sudah! Jangan ngaco! Kamu tidak boleh jadi preman!” larang Ayah.

“Loh kenapa??!”

“Ayah jadi preman untuk membantu orang karena Ayah bukan anak kuliahan kayak kamu! Kalau Ayah sekolah, ya Ayah juga gak mau, Jun! Ah… kamu itu! Sudah Ayah sekolahkan, tetap saja bego seperti Ayah!” kali ini aku jadi malu.

“Jun…”

“Ya?”

“Ayah menunggu kamu sampai kamu bisa kuliah dan jadi orang pintar. Ayah mau kamu terus bisa besar dengan selamat, karena Ayah tahu banyak musuh Ayah juga mengincar kamu. Itu sebabnya Ayah melarang kamu kuliah di luar Jakarta. Semua agar Ayah dapat memantau kamu, dan tidak kehilangan kamu,”
“Hmmm… “ aku bergumam, sedikit terharu tetapi juga merasa dianggap anak kecil. Dan sepertinya Ayah mengerti jalan pikiranku,

“Memang kamu sudah besar, kamu pasti tidak mau dikuntit seperti anak kecil. Tetapi Ayah belum tenang sebelum menceritakan alasan ini. Sekarang kamu sudah tahu, dan mudah-mudahan kamu bisa menjaga diri. Sejak kecil Ayah minta kamu untuk belajar bela diri adalah untuk melindungi kamu sendiri. Ayah sudah tua, tidak bisa berbuat apa-apa,”

“Ah… Ayah masih muda! Dan aku masih bisa teruskan pekerjaan Ayah,” aku menawarkan diri.

“Lagi-lagi kamu!! Kamu itu jangan bodoh seperti Ayah kenapa??!” Ayah kesal.
Aku tergelak-gelak kali ini dan Ayah pun ikut tertawa geli sekarang melihat kegilaan anaknya yang justru ingin mengikuti jejaknya sebagai preman.

“Ayah sudah menabung lama, Jun! Sejak jadi satpam dulu. Nasib Ayah yang cuman sekolah SMP ini kalau tidak mulai dengan memberanikan diri menjadi satpam jagoan dan preman, mana bisa dapat uang? Kadang ada rasa takut, tetapi demi menyambung nyawa kalian, Ayah lawan. Dan menumpuk kekayaan begini sebenarnya buat kamu,” ujar Ayah di sela-sela meredanya tawa kami.

“Hah?” tanyaku bingung.

“Pakailah uang kita untuk cita-citamu menolong orang miskin. Kamu anak kuliahan, kamu lebih pintar dari Ayah. Kamu mau bikin usaha, silakan. Yang jelas kamu bisa bantu orang-orang yang tidak punya pekerjaan, jadi punya kerja. Kamu mau bikin yayasan, silakan. Kamu bisa bantu orang-orang susah, dan kalau uang mulai berkurang, bisa dibantu donatur. Ayah kenal kamu dengan baik, seperti kenal Ayah sendiri. Kita sama-sama tidak tega lihat orang susah,” jelas Ayah. Aku jadi terharu.

“Yang jelas, kamu tidak boleh bikin partai!” seru Ayah lagi dan membuat kami kembali tergelak-gelak.

“Ayah…”

“Ya?”

“Rasanya, memang aku orang yang beruntung,” kataku.

“Oh ya? Kamu sudah merasakan hal itu rupanya?” tanya Ayahku tak percaya.

“Hmmm, ya! Menjadi orang kaya yang tidak tega melihat orang susah. Akhirnya kita memberi terus tetapi kita selalu tidak pernah jadi miskin. Itu keberuntungan,” jelasku.

“Nahhh!!! Tamparanku ternyata berhasil membuka otakmu!” kata Ayah bangga.

“Bukaaannn Ayah!” protesku.

“Loh??? Lalu??? Kenapa kamu tiba-tiba bilang kamu beruntung?” tanya Ayah bingung.

Kutunjuk hidung besarku pada Ayah.

“Ahhh… ya ya…” Ayah pun menunjuk hidungnya dengan bangga.

Facebook Comments

Published by

Donald

Penyanyi dan para pemusik itu tampil memukau di hadapan raja dan tamu undangan. Suguhan lagu mereka melengkapi jamuan makan dan minuman, omong kosong serta sopan santun sebagaimana layaknya perjamuan manusia. Raja puas. Ia tidak jadi memenggal kepala para seniman itu. Malah, ia menepati janjinya dan membayar mereka dengan upah yang lebih dari sekedar ongkos pulang dan dengan sumringah menemui istri dan anak yang menunggu di rumah. Demikianlah seniman melengkapi gizi rohani bagi para penguasa dan pekerja, yang seharian lelah dengan pekerjaan manusia. Kerap, seniman memang lain dari manusia biasa.

Komentar